Anda di halaman 1dari 32

MODUL 1

LANDASAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1
Landasan Filosofis, Psikologis-Pedagogis, dan Sosiologis-Antropologis
Pendidikan Sekolah Dasar

A.    Landasan Filosofis, Psikologis-Pedagogis Pendidikan Sekolah Dasar


Pandangan filosofis adalah cara melihat pendidikan dasar dari hakikat
pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertanyaan filosofis yang akan kita
bahas adalah untuk apa pendidikan Sekolah Dasar dikembangkan.
Pandangan psikologis-pedagogis atau psiko-pedadogis adalah cara
melihat  pendidikan dasar dari fungsi proses pendidikan dasar dalam
pengembangan potensi individu sesuai dengan karakteristik psikologis peserta
didik. Pertanyaan psiko-pedadogis yang relevan dengan fungsi proses itu
adalah bagaimana pendidikan dasar dikembangkan sesuai dengan
karakteristik peserta didiknya.
 Pandangan sosiologis-antropologis atau sosio-antropologis adalah cara
melihat pendidikan dasar dari fungsi proses pendidikan dasardalam sosialisai
atau pendewasaan peserta didik dalam konteks kehiduoan masyarakat, dan
proses ankulturasi atau pewarisan nilai dari generasi tua kepada peserta didik
yang sedang mendewasa dalam konteks pembudayaan.
 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) merupakan salah satu
bentuk pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dalam jalur pendidikan
formal di Indonesia pada saat ini. Bentuk pendidikan ini secara operasional
dilaksanakan sebagai satuan pendidikan masing-masing sekolah.

1. Landasan Filosofis dan Psikologis-Pedagogis


Ada beberapa argumen tentang keniscayaan pendidikan untuk usia
sekolah 6-13 tahun.
a. Pelembagaan proses pendidikan untuk usia dalam system
pendidikan persekolahan atau scooling system, diyakini sangat
strategis artinya sangat tepat dilakukan, untuk mempengaruhi,
mengondisikan, dan mengarahkan perkembangan mental, fisik, dan
sosial anak dalam mencapai pendewasaannya secara sistematik dan
sistemik
b. Proses pendewasaan yang sistematik dan sistemik itu diyakini lebih
efektif dan bermakna, artinya lebih memberikan hasil yang baik
dan menguntungkan, daripada proses pendewasaan yang dilepas
secara alami dan kontekstual melalui proses sosialisasi atau
pergaulan dalam keluarga budaya semata-mata.
c. Berbagai teori psikologi khususnya teori belajar yang menjadi
landasan konseptual teori pembelajaran, seperti teori behaviorisme,
kognitisfisme, humanisme, dan sosial.
Terkait pada berbagai pandangan pakar tersebut di atas yang sangat
relevan untuk menggali landasan filosofis dan psikologis-pedagogis
pendidikan di SD/MI.
a) Teori Kognifisme
Pieget menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah duplikat dari
objek, dan bukan pula sebagai tampilan kesadaran dari bentuk yang ada
dengan sendirinya dalam diri individu. Pengetahuan sesungguhnya
merupakan konstruksi pikiran yang terbentuk, karena secara biologis
adanya interaksi antara organisme dengan lingkungan, dan secara
kognitif adanya interaksi antara organisme dengan lingkungan, dan
secara kognitif adanya interaksi antara pikiran dengan objek.
Secara teoritik perkembangan kognitif mencakup tiga proses
mental yakni:
1) Assimilation atau asimilasi
Assimilation atau asimilasi adalah integrasi data baru dangan
struktur kognitif yang sudah ada dalam pikiran
2) Accommodation atau akomodasi
Accommodation atau akomodasi menunjuk pada proses penyesuaian
struktur kognitif dengan situasi baru
3) Equilibration atau ekuibrasi
Equilibration atau ekuibrasi adalah proses penyesuaian yang
sinambung antara asimilasi dan akomodasi.
Anak usia SD/MI berada dalam tahap perkembangan kognitif
Praoperasional sampai Konkret. Pada usia ini anak memerlukan bimbingan
sistematis atau sistemik guna membangun pengetahuannya. Oleh karena itu,
peran pendidikan di SD/MI sangatlah strategis bagi pengembangan
kecerdasan dan kepribadian anak.
b) Teori Historis-Kultural (Cultural Historical Theories)
Secara sosial-kultural aktivitas mental merupakan sesuatu hal yang
unik hanya pada manusia. Hal ini merupakan produk dari belajar sosial
atau social learning, yakni penyadaran simbol-simbol sosial dan
internalisasi kebudayaan dan hubungan sosial. Kebudayaan
diinternalisasi dalam bentuk system neuropsikis yang merupakan bagian
dari bentuk aktivitas fisiologis dari otak manusia. Aktivitas mental yang
tinggi memungkinkan pembentukan dan perkembangan proses mental
manusia yang lebih tinggi.
Dengan menggunakan teori sosial kultural, proses pendidikan di
SD/MI seyogianya diperlukan sebagai proses pertumbuhan kemampuan
dalam diri individu sebagai produk interaksi antara kemampuan
intramental dan intermental individu dalam konteks sosial-kultural,
lingkungan sosial-kultural.
c) Teori Humanistik
Pendekatan humanistic memiliki karakteristik : (a) menjadikan
peserta didik sendiri sebagai isi, yakni mereka sendiri belajar tentang
perasaannya dari perilakunya; (b) mengenal bahwa imajinasi peserta
didik seperti dicerminkan dalam seni, impian, cerita, dan fantasi sebagai
hal yang penting dalam kehidupan yang dapat dibahas bersama dengan
teman sekelasnya; (c) memberikan perhatian khusus terhadap ekspresi
non-verbal seperti isyarat dan nada karena diyakini hal itu sebagai
ungkapan perasaan dan sikap yang dikomunikasikan; (d) menggunakan
pemainan, improvisasi, dan bermain peran sebagai wahana simulasi
perilaku yang dapat dikaji dan diubah.

B. Landasan Sosiologis-Antropologis Pendidikan Sekolah Dasar


Cara pandang sosiologis-antropologis atau sosio-antropologis adalah
cara melihat pendidikan dasar dari fungsi proses pendidikan dasar dalam
proses sosialisasi atau pendewasaan peserta didik dalam konteks kehidupan
bermasyarakat, dan proses enkulturasi atau pewarisan nilai dari generasi tua
kepada peserta didik yang sedang mendewasa dalam konteks pembudayaan.
Pertanyaan dalam kedua proses tersebut adalah bagaimana pendidikan dasar
meletakkan dasar dan mengembangan secara kontekstual sikap sosial dan
nilai-nilai kebudayaan untuk kepentingan peserta didik dalam hidup
bermasyarakat dan berkebudayaan.
Dilihat secara sosiologis dan antropologis masyarakat dan bangsa
Indonesia sangatlah heterogen dalam segala aspeknya. Oleh karena itu,
walaupun kita secara konstitusional menganut satu system pendidikan
nasional, instrumental atau pengelolaan system pendidikan itu tidaklah
mungkin dilakukan secara homogen penuh.
Keseluruhan prinsip tersebut memberi implikasi terhadap kandungan,
proses dan manajemen pendidikan nasional. Untuk itulah dalam system
pendidikan kita saat ini diupayakan berbagai pembaharuan seperti kurikulum
nasional yang bersifat sentralistik menjadi kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang bersifat desentralistik, penerapan kurikulum yang
berdiversifikasi untuk melayani keberagaman, dan pengembangan standar
nasional pendidikan sebagai baku mutu pendidikan secara nasional.

Kegiatan Belajar 2. Landasan Historis, Ideologis, dan Yuridis Pendidikan


Sekolah Dasar

A. Landasan Historis dan Ideologis Pendidikan Sekolah Dasar (SD)


Landasan historis dan ideologis adalah dasar pemikiran yang diangkat
dari fakta sejarah yang relevan tentang pertumbuhan dan perkembangan
pendidikan Sekolah Dasar beserta ide-ide atau pertimbangan yang
melatarbelakangi sejak pada masa Hindia Belanda sampai saat ini.
Secara historis atau kesejahteraan, pendidikan Sekolah Dasar di
Indonesia merupakan kelanjutan dari system pendidikan pada masa Hindia
Belanda yang memang dibangun lebih banyak untuk kepentingan penjajahan
Belanda di Indonesia. Pada dasarnya system pendidikan pada masa itu
ditekankan pada upaya memperoleh tenaga terampil yang menegrti nilai
budaya penjajah sehingga menguntungkan mereka dalam mempertahankan
dan melangsungkan penjajahannya.
Sistem pendidikan Indonesia dalam perspektif sejarah perjuangan
bangsa berkembnag secara dinamis pada lingkungan masyarakat yang juga
berkembang dalam dimensi ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial
budaya.
Dari fakta sejarah pendidikan Sekolah Dasar pada zaman Hindia
Belanda, kita dapat menangkap bahwa makna segregasi sosial dan
diskriminasi secara sengaja dilakukan terhadap anak penduduk bumi putera
dalam memperoleh kesempatan belajar di Sekolah Dasar, tergantung pada
latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya.
Hal lain yang sangat penting adalah tumbuhnya berbagai gerakan
pendidikan pada masa perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh seluruh
komponen bangsa, telah mendorong tumbuh dan berkembang pula konsep
dan dasar ideology pendidikan yang walaupun berbeda dalam
nomenklatuurnya dan konteks perwujudannya, tetapi semuanya pada satu
tujuan adanya system pendidikan yang inheren dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan benegara Indonesia. Salah satunya adalah
filsafat dan ideology pendidikan Taman Siswa Ing madya mangun karsa, Ing
Ngarsa sung Tuladha, Tut Wuri Handayani.

B. Landasan Historis-Ideologis dan Yuridis Pendidikan SD


Landasan historis-ideologis dan yuridis pendidikan pada dasarnya
merupakan komitmen politik Negara Republik Indonesia yang diwujudkan
dalam berbagai ketentuan normatif konstitusional yang mencerminkan
bagaimana system pendidikan nasional dibangun dan diselenggarakan untuk
mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
Secara ideologis dan yuridis ditetapkan bahwa Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan dasar atau
fondasi pendidikan nasional. Hal ini mengandung makna bahwa pendidikan
nasional, termasuk di dalamnya pendidikan di SD/MI harus sepenuhnya
didasarkan pada cita-cita, nilai, konsep dan moral yang terkandung dalam
bagian dari alenia keempat Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan
kehidupan bangsa yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan
yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pendidikan SD mengemban dua fungsi, yakni fungsi pengembangan
potensi peserta didik secara psikologis dan pemberian landasan yang kuat
untuk pendidikan SMP dan seterusnya. Sedangkan tujuan secara substantif
merujuk pada tujuan pendidikan nasional.
Peserta didik SD/MI berkewajiban menjaga norma-norma pendidikan
dengan cara sebagai berikut :
1) Menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya
2) Menghormati pendidik dan tenaga kependidikan
3) Mengikuti proses pembelajaran dengan dengan menjunjung tinggi
kejujuran akademik dan mematuhi semua peraturan yang berlaku
4) Memeliha kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial
diantara teman
5) Mencintai keluarga, masyarakat dan menyayangi sesame
6) Mencintai lingkungan, bangsa dan Negara
7) Ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana, kebersihan.,
ketertiban, dan keamanan sekolah.

Bila seluruh ketentuan perundang-undangan tentang wajib belajar 9


tahun dapat dilaksanakan dengan baik, maka program Wajar tersebut akan
memberi dampak yang luas bagi pencerdasan kehidupan bangsa secara
bertahap. Oleh karena itu, sinergi seluruh unsur pemerintahan pusat dan
daerah sangatlah penting.
MODUL 2
KARAKTERISTIK PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1. Fungsi, Tujuan, dan Ciri-Ciri Pendidikan Sekolah Dasar

A. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Sekolah Dasar


Fungsi dan tujuan pendidikan SD bersumber dari fungsi dan pendidikan
nasional yang tercantum dalam Pasal 23 Undang-Undang Nomor  20 Tahun
2003 tentang system pendidikan Nasional. Dalam Pasal 3 UU  tentang
Sisdiknas tersebut ditetapkan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negarav yang demokratis
serta bertanggung jawab”.
Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan sejalan dengan tujuan
pendidikan dasar, maka tujuan pendidikan SD adalah memebrikan bekal
kemampuan dsar baca-tulis-hitung,  pengetahuan dan ketrampilan dasar yang
bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya, serta
mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan SMP.
1. Kemampuan dasar baca-tulis-hitung merupakan kemampuan yang
dibutuhkan oelh setiap orang yang ingin hidup secara wajar dalam era
globalisasi. Oleh karena itu, mata pelajaran yang mendukung
pembentukan kemampuan ini mendapat porsi yang cukup besar di SD.
2. Pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk hidup berkaitan dengan “life
skills”, yang meliputi ketrampilan akademik (baca-tulis-hitung),
ketrampilan personal, ketrampilan sosial, dan ketrampilan vokasional.
3. Persiapan untuk melanjutkan di SMP untuk menuntut SD membekali
para siswanya dengan ketrampilan belajar lebih lanjut, khususnya
diberikan di kelas 6.

B. Karakteristik Pendidikan Sekolah Dasar


1. Karakteristik Umum Pendidikan SD
Pendidikan SD mempunyai ciri khas yang membedakannya dari
satuan pendidikan lainnya. Paling tidak, ada empat sasaran utama dalam
pendidikan SD, yaitu sebagai berikut. (Ditjen Dikti, 2006)
a. Kemelekwacaan (literacy). Pendidikan SD diarahkan pada
pembentukan kemelekwacaan, bukan pada pembentukan
kemampuan akademik. Kemelekwacaan merujuk pada pemahaman
siswa tetang berbagai fonemena/gagasan dilingkungannya dalam
rangka menyesuaikan perilaku dengan kehidupan.
b. Kemampuan berkomunikasi. Pendidikan SD diarahkan untuk
pembentukan kemampuan komunikasi, yaitu mampu
mengomunikasikan sesuatu, baik buah pikiran sendiri maupun
informasi yang didapat dari berbagai sumber, kepada orang lain
dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
c. Kemampuan memecahkan masalah (problem solving) mencakup
merasakan adanya masalah, mengidentifikasi masalah, mencari
informasi untuk memecahkan masalah, mengekspoitasi alternative
pemecahan masalah, dan memilih alternatif yang paling layak.
d. Kemampuan bernalar (reasoning), yaitu menggunakan logika dan
bukti-bukti secara sistematis dan konsisten untuk sampai pada
simpulan. Pendidikan SD diarahkan untuk mengembangkan
kemampuan siswa berfikir logis sehingga kemampuan bernalarnya
berkembang.

2. Karakteristik Khusus Pendidikan SD


Siswa, guru, kurikulum, pembelajaran, serta gedung dan fasilitas
SD memang mempunyai ciri khas yang membedakannya dari satuan
pendidikan lainnya.
a. Siswa SD berada dalam tahap perkembangan pra-operasional dan
operasi konkret, yang ditandai oleh pandangan yang bersifat holistic.
b. Guru SD adalah guru kelas yang wajib mengajarkan lima mata
pelajaran SD, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan
PKn.
c. Kurikulum SD dikembangkan berdasarkan standar nasional oleh
satuan pendidikan (SD) bersama dengan Komite Sekolah, di bawah
koordinasi Dinas Kabupaten/Kota. Pendidikan SD berlangsung
selama enam tahun, yang dibagi menjadi enam tingkat kelas.
d. Pembelajaran di SD menekankan pada keterpaduan, bersifat holistk,
pengalaman langsung, dan menggunakan contoh-contoh konkret,
sesuai dengan karakteristik siswa SD dan tujuan pendidikan Dasar.
e. Gedung dan fasilitas SD bervariasi dari yang paling sederhana
sampai yang cukup mewah. Pada umumnya, terdapat enam ruang
kelas dan ruang kepala sekolah, tanpa ruang guru dan juga tanpa
ruang administrasi.

Kegiatan Belajar 2. Tatanan Organisasi dan Bentuk-Bentuk


Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Dasar

A. Tatanan Organisasi Sekolah Dasar


Pada dasarnya, penyelenggaraan SD menjadi tanggung jawab bersama
antara pemerintah pusat, dalam hal ini Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan
pemerintah daerah, baik tingkat provinsi  (Dinas Pendidikan Provinsi),
Kabupaten/Kota (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota), maupun tingkat
kecamatan (Ranting Dinas). Pengelolaan SD juga melibatkan Komite Sekolah
sebagai lembaga mandiri, yang berperan dalam peningkatan mutu pelayanan
pendidikan dan pengawasan pendidikan.
Pemerintah puasat dalam hal ni Depdiknas menentukan standar nasional
pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan, sedangkan pemerintah provinsi
bertugas melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan,
pengembangan tenaga kependidikan, dan penyediaan fasilitas pendidikan
lintas daerah Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan menengah.
Pengelolaan SD dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal
dengan prinsip kemandirian dan manajemen berbasis sekolah/madrasah.
Dengan demikian, tanggung jawab utama pengelolaan SD berada di tangan
SD sendiri.

B. Bentuk-Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan SD


Untuk memenuhi kebutuhan belajar pada jenjang sekolah dasar,
pendidikan SD dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, yang dapat dipilah
menjadi pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal mencakup
SD/MI, SDLB, SD Unggulan atau Sekolah Nasional Plus, dan SD Inklusi,
sedangkan pendidikan non formal mencakup Paket A dan Sekolah Rumah.
SDLB diperuntukkan bagi anak yang memiliki kebutuha khusus dalam
belajar karena kelaninan fisik atau mental yang dialaminya, sedangkan SD
Inklusi adalah SD biasa yang juga menerima anak-anak yang mempunyai
kelainan, sehingga terjadi perbauran antara anak normal dengan anak
berkelainan. Sementara itu, SD Unggulan atau Sekolah Nasional Plus, adalah
SD yang mempunyai keunggulan dalam aspek tertentu, seperti penggunaan
bahasa asing atau menggunakan Kurikulum ernasional.
Paket A adalah pendidikan non formal jenjang SD yang diperuntukkan
bagi warga negara yang berusia 14-45 tahun yang belum menyelesaikan
pendidikan SD. Sekolah rumah  atau home schooling adalah sekolah yang
diselenggarakan di rumah, melalui layanan pendidikan yang secara sadar,
teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau tempat-
tempat lain, dengan proses belajar yang kondusif, sehingga potensi anak yang
unik dapat berkembang secara optimal.
MODUL 3
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

A. Perkembangan Pendidikan Sekolah Dasar di Era Orde Baru


Era orde baru berawal dari pemerintahan orde lama dibawah
kepemimpinan Ir.Soekarno (1945-1965), yang kemudian dilanjutkan pada
pemerintahan Soeharto (1967-1998) atau lebih dikenal dengan era orde baru.
Era orde baru berakhir pada masa kepemimpinan BJ Habibie (21 Mei 1998)
yang merupakan simbol dari reformasi. Tiga hal penting dalam
perkembangan pendidikan sekolah dasar pada era orde baru yaitu:

1. Perundang-undangan
Semua ketentuan perundang-undangan berdasar pada pasal 31
UUD 1945, jadi Pendidikan Nasional merupakan produk sejarah dalam
pemikiran bangsa Indonesia untuk mewujudkan salah satu tujuan
pemerintahan negara Indonesia, seperti yang tertuang dalam Pembukaan
UUD 1945 alenia keempat.

2. Kebijakan Strategis
Yaitu dengan pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang I, dengan
jangka waktu 25 tahun mulai Repelita I hingga Repelita V. hal ini
diarahkan pada perwujudan komitmen nasional terhadap Pancasila dan
UUD 1945 sebagai landasan dan tujuan akhir pendidikan.

3. Isi dan proses


a. Kurikulum dan perangkat pendidikan
Isi pendidikan dasar diterapkan sekurang-kurangnya 13 bidang
kajian, yaitu ; Pendidikan Pancasila,Agama, Kewarganegaraan,
bahasa Indonesia,Membaca dan Menulis, Matematika,Pengantar
Sains dan Teknologi, Ilmu Bumi, SNSU, KTK, PenJaskes,
Menggambar, dan Bahasa Inggris.
b. Pengolahan
Dengan melaksanakan program perluasan dan pemerataan
kesempatan belajar yang kita kenal Wajib Belajar SD ,yaitu :
 Untuk daerah terpencil, dikembangkan SD Kecil dengan
menerapkanpembelajaran kelas rangkap.
 Untuk daerah penduduk padat,dengan pembangunan 6 ruangan
untuk 6 kelas.
 Untuk daerah normal, melalui SD Tradisional ( Konvensional),
SD Pamong, Program Kejar Paket A, SLB, SDLB, Sekolah
Terpadu.
B. Perkembangan Pendidikan Sekolah dasar di Era Reformasi
Hal- hal penting dalam perkembangan pendidikan SD di era reformasi,
Yaitu:
1. Perundang-undangan
Ketentuan Perundang-undangan yaitu Pasal 31 UUD 1945, yang
terjabar atas:
a. UU No.2 Thn.1989 tentang SISDIKNAS
b. UU No.20 Thn.2003 tentang SISDIKNAS
c. PPRI No.19 Thn.2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
d. PP No.32 Thn.2013 tentang SNP
Selain itu, dengan diterapkannya Paradigma desentralisasi
pendidikan yang menekankan pada otonomi daerah, melalui peran
pemerintah daerah.

2. Kebijakan Strategis
Pembaharuan sistem pendidikan meliputi penghapusan
diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah dan pendidikan
yang dikelola masyarakat, sera pembedaan antara pendidikan agama dan
pendidikan umum.
Ditandai dengan lahirnya Standar Nasional Pendidikan, yang terdiri
atas:
a. Standar isi
b. Standar Proses
c. Standar Kelulusan
d. Standar Pendidik dan Tenaga Pendidik
e. Standar Sarana dan Prasarana
f. Standar Pengelolaan
g. Standar Pembiayaan
h. Standar Penilaian
SNP merupakan sarana penjamin mutu pendidikan nasional yang
pengembangan dan pemantauan dilakukan oleh Badab Standarisasi
Nasional Pendidikan ( BNSP).
Selain itu berkembangnya tahapan atau go;ongan pendidikan, yaitu:
a. In formal, contohnya pendidikan didalam keluarga
b. Formal, contohnya pendidikan di sekolah
c. Non Formal, contohnya pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat, seperti kursus.

3. Isi dan proses


a. Kurikulum dan perangkat pendidikan
Menggunakan kurikulum KTSP, dengan ketentuan sebagai berikut:
 Menggunakan pendekatan tematik untuk kelas I,II dan III, dan
pendekatan mata pelajaran untuk kelas IV,V dan VI
 Silabus dan RPP dikembangkan oleh lembaga sekolah atau guru
disesuaikan dengan kondisi tingkat satuan pendidikan.
 Mewajibkan ekstra kurikuler pramuka

b. Stuktur kurkulum terdiri atas:


1. Mata pelajaran, yaitu: Pendidikan Agama, PKN, Bahasa
Indonesia, Matematika, IPA, IPS, SBK, PENJASKES.
2. Muatan Lokal, Yaitu Bahasa Daerah, Bahasa Inggris
3. Pengembangan Diri

c. Jam mengajar terdiri atas:


1) Kelas I : 26 jam + 4 jam = 30 jam
2) Kelas II : 27 jam + 4 jam = 31 jam
3) Kelas III : 28 jam + 4 jam = 32 jam
4) Kelas IV : 32 jam + 4 jam = 36 jam
5) Kelas V : 32 jam + 4 jam = 36 jam
6) Kelas VI : 32 jam + 4 jam = 36 jam

c. Pengolahan
Pengelolaan pendidikan, pengembangan dan penerapan MBS
diterapkan secara bertahap untuk mewadahi konsep si otonomi
pendidkan pada tingkat satuan pendidikan.
MOUDL 5
KARAKTERISTIK BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1 : Bentuk-bentuk Kegiatan Belajar yang Biasa


Dilakukan Siswa Sekolah Dasar

A. Belajar Menemukan
Menurut Jerome S. Bruner menyatakan bahwa inti belajar adalah
bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan
informasi secara aktif. Menurut Bruner, selama kegiatan belajar berlangsung
hendaknya siswa dibiarkan untuk menemukan sendiri makna segala sesuatu
yang dipelajari ( discovery learning ). Dalam hal ini siswa diberikan
kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam memecahkan
masalah.Dengan cara tersebut di harapkan mereka mampu memahami
konsep-konsep dalam bahasa mereka sendiri. Dengan kata lain metode
discovery learning mendorong siswa untuk bertanya dan merumuskan
jawaban sementara mereka, serta menarik kesimpulan terhadap prinsip umum
dari contoh praktik atau pengalaman yang dilakukannya.
Bagus Takwin dalam tulisannya “Belajar Menemukan Kesalahan “
mengatakan bahwa anak dapat diajarkan untuk menemukan kesalahan-
kesalahan dari kejadian sehari-hari dengan menggunakan gambar. Untuk
stimulus yang lebih kompleks dapat digunakan rangkaian gambar yang
memuat beberapa kesalahan , lalu anak diminta menemukan kesalahan dalam
rangkaian gambar tersebut. Contoh: tunjukkan serangkaian gambar yang
memuat dua atau lebih anak yang sedang berkelahi, lalu ajukan pertanyaan
kepada mereka apa yang salah dari perilaku anak-anak dalam rangkaian
gambar itu. Jawaban-jawaban anak dapat menjadi bahan diskusi yang dapat
merangsang anak untuk berpikir kritis.
Selain itu guru juga dapat menerapkan metode percobaan (
Experimental method ), yaitu metode pengajaran yang mendorong dan
memberi kesempatan anak melakukan percobaan sendiri. Terdapat tiga
tahapan yang dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasi ,yaitu
mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan
sendiri. Misalnya, mengajak anak ke kebun pisang untuk menjelaskan tentang
pisang. Dengan belajar dari alam, anak dapat mengamati sesuatu secara
konkret.

B. Belajar Menyimak
Contoh kegiatan belajar menyimak siswa adalah sebagai berikut;
1. Bermain dengan kata seperti bercerita, membaca serta menulis. Hal ini
dapat membantu siswa mengingat nama, tempat, tanggal dan hal-hal lain
dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.
2. Bermain dengan pertanyaan dengan cara guru memancing keingintahuan
dengan berbagai pertanyaan.
3. Bermain dengan gambar.
4. Bermain dengan music.

C. Belajar Meniru
Anak akan banyak sekali belajar melalui melihat, mengamati,
menginternalisasi hingga meniru dalam bentuk perilaku, bahkan hingga
perilaku hasil meniru menetap sebagai suatu kebiasaan. Oleh karena itu, guru
hendaknya selalu memberi contoh yang baik , sehingga siswa akan
berperilaku sesuai dengan apa yang biasa dilihatnya.

D. Belajar Menghafal
Kecenderungan siswa belajar dengan metode menghafal ini disebabkan
oleh budaya yang terjadi disekolah, yang pada umumnya didominasi oleh
komunikasi satu arah , yaitu guru ke siswa dan kurang merangsang rasa ingin
tahu, prakarsa maupun individualisasi. Siswa menjadi penerima yang pasif.
Metode menghafal juga mengandung akibat buruk pada perkembangan
mental siswa. Metode menghafal merupakan aktivitas yang tidak terlalu
banyak menuntut aktivitas berpikir. Hal ini akan berpola dalam banyak
bentuk kebiasaan belajar, sehingga siswa kehilanhan sense of learning atau
kepekaan untuk belajar. Oleh karena itu sebagai guru harus dapat membenahi
metode belajar siswa dan member bekal keterampilan belajar serta berusaha
membiasakan siswa menggunakan metode berpikir logis dan sistematis.

E. Belajar Merangkai
Untuk mengembangkan kemampuan belajar merangkai dapat dilakukan
dengan permainan aneka jenis binatang.Melalui permainan ini, siswa yang
dibagi ke dalam beberapa kelompok binatang diharuskan untuk membuat
karakteristik dari binatang yang menjadi kelompoknya. Kemudian menyuruh
siswa untuk merangkai pertanyaan mengenai cirri-cirin yang sudah dibuat
oleh teman di kelompok lain. Misalnya;
1. Keluarga kambing
a. Hidupnya di darat
b. Makanannya rumput
c. Kegunaanya; sebagai hewan ternak, bulunya dapat dibuat untuk
kerajinan tangan,dapat menjadi hewan kurban
d. Cirri-cirinya; mempunyai 4 kaki, berbulu lembut,mempunyai
kepala , berkembang biak dengan melahirkan, tidak punya cakar.
Setelah itu masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya dan selama presentasi, kelompok lain boleh bertanya atau
menambahkan hal-hal lain tentang binatang yang sedang dipresentasikan.

F. Belajar Mengamalkan
Metode belajar mengamalkan erat kaitannya dengan mata pelajaran
PPKn dan Agama,karena dengan mata pelajaran tersebut anak diajarkan nilai-
nilai moral dan perilaku yang hendaknya ditampilkan pada saat mereka
bersosialisasi di masyarakat.
G. Belajar Menganalisis
Kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan
kemampuan belajar menganalisis pada siswa SD adalah dengan
menggunakan permainan teka-teki atau tebak-tebakan, sehingga anak terbiasa
menganalisis suatu permasalahan berdasarkan informasi yang tersedia dan
mencari jawabannya.
Manfaat dari permainan teka-teki adalah;
1. Mengasah daya ingat
2. Belajar klasifikasi
3. Mengembangkan kemampuan analisis
4. Menghibur

H. Belajar Merespon
Respon merupakan suatu tanggapan yang diberikan oleh seseorang
sebagai reaksi dari suatu tertentu. Contoh kegiatan yang dapat
mengembangkan kemampuan merespon bagi siswa SD adalah dengan
memberikan pertanyaan seputar peristiwa yang terjadi di sekitarnya, misalnya
bagaimana respon/tanggapan siswa apabila temannya sedang ditimpa
musibah banjir, gempa bumi atau tanah longsor.

I. Belajar Mengorganisasikan
Menurut Carl Rogers yang penting dalam proses pembelajaran adalah
pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu;
1. Manusia memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus
belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
3. Pengorganisasian bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi
siswa.
Contoh belajar mengorganisasikan mata pelajaran IPS SD, ketika anak
diberikan pengetahuan tentang sejarah proklamasi kemerdekaan RI, guru
dapat membuat skema sebagai berikut.

J. Belajar Mengambil Keputusan


Pada situs http://www.tabloidnova.com , ditampilkan contoh bahwa
sebenarnya anak sudah belajar secara alami bagaimana mereka harus
menentukan pilihan. Pengembangan kemampuan untuk mengambil keputusan
dapat dilakukan dengan metode problem solving atau pemecahan masalah.

K. Berlatih
Untuk mengembangkan kemampuan berlatih, guru dapat menggunakan
metode bermain peran dengan cara mengajak siswa untuk praktek jual beli
diwarung sekolah.
L. Belajar Menghayati
Kemampuan menghayati dapat dikembangkan melalui mata pelajaran
kesenian, yaitu dengan cara menghayati suatu peran / tokoh dalam cerita atau
menghayati makna yang terkandung pada sebuah lagu.

M. Belajar Mengamati
Metode untuk membelajarkan anak tentang kemampuan mengamati
dapat dilakukan dengan kegiatan mengajak anak untuk mengenal ekosistem
perairan laut yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.
MODUL 6
LAYANAN PENDIDIKAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1 : Prinsip-Prinsip Bimbingan di Sekolah Dasar


A. Pengertian Bimbingan
Menurut Agus Taufik (2007), istilah bimbingan pada umumnya
dipahami sebagai upaya memberikan arahan, panduan, nasihat dan biasanya
mengandung nilai-nilai yang bersifat menuntun ke arah yang baik. Menurut
Agus Taufik (2005) bimbingan merupakan terjemahan dari suatu istilah
dalam bahasa Inggris, yaitu guidance yang akar katany adalah guide. Shertzer
dan Stone (1966) mengemukakan beberapa padanan dari kata guide yaitu: to
direct, pilot, manage or steer.
Bimbingan sering dipadankan dengan “konseling” yang diadopsi dari
bahasa Inggris yaitu Counseling yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi “penyuluhan”. Pada akhir tahun sembilan puluhan , istilah
penyuluhan dianggap tidak cocok lagi karena konotasinya lebih bersifat
pemberian informasi, sedangkan konotasi konselng lebih bersifat hubungan
antar dua pribadi, yaitu antara konselor dengan yang diberi bantuan.
Dari definisi yang ada dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah
sebagai suatu proses membantu individu siswa untuk dapat memahami
diri,mengenal lingkungan dan merencanakan masa depannya, sehingga
diharapkan dapat mencapai perkembangan yang optimal sebagai pribadi dan
sebagai anggota masyarakat yang demokratis.
B. Tujuan Bimbingan Di Sekolah dasar
Tujuan bimbingan dan konseling adalah memberi kemudahan belajar
pada siswa SD agar mereka dapat belajar dengan percaya diri, menyadari
kekurangan dan kelebihannya serta mampu berinteraksi secara baik dengan
lingkungannya.

C. Fungsi Bimbingan Di Sekolah Ada 6 fungsi bimbingan di sekolah yaitu:


1. Fungsi Pengungkapan
2. Fungsi Penyaluran
3. Fungsi Penyesuaian
4. Fungsi Pencegahan
5. Fungsi Perkembangan
6. Fungsi Perbaikan

D. Prinsip- prinsip Bimbingan di SD


Ada 8 prinsip dalam bimbingan di SD yaitu :
1. Bimbingan untuk semua
2. Bimbingan di SD dilaksanakan oleh guru semua kelas
3. Bimbingan diarahkan untuk perkembangan kognitif dan afektif
4. Bimbingan diberikan secara insidental dan informal
5. Bimbingan ditekankan pada tujuan belajar dan kebermaknaan belajar
6. Bimbingan difokuskan pada aset
7. Bimbingan terhadap proses pendewasaan
8. Program bimbingan dilaksanakan secara bersama

E. Peran Guru Dalam Program Bimbingan dan Konseling


Dalam Proses bimbingan guru memiliki peran penting, karena guru
mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan siswa, sehingga siswa lebih
terbuka terhadap guru. Bimbingan di SD dilaksanakan oleh guru kelas
bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.
MODUL 7
KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR

Kegiatan belajar 1. Profil Kompetensi Guru Sekolah Dasar


A. Landasan Pengembangan Kompetensi Guru SD
1. Apa yang dimaksud dengan kompetensi
Kompetensi dapat disamakan dengan suatu tindakan cerdas dan
bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh seseorang sebagai bukti
bahawa ia memang kompeten dalam bidang tersebut. Tindakan cerdas
dan bertanggung jawab tersebut hanya dapat ditunjukkan oleh seseorang
jika ia memiliki ilmu atau pengetahuan yang mantap, keterampilan yang
memadai serta sikap yang memungkinkan yang menunjukkan tidakan
tersebut secara cerdas.
2. Proses Pengembangan Standar Kompetensi
Dengan pesatnya perkembangan diberbagai bidang guru dituntut
untuk mampu menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan mampu
menghadapi berbagai tantangan. Sebagaimana halnya sdnegan standar
kompetensi dibidang profesi lainnya, standar kompetensi guru SD di
kembangkan dengan mengacu kepada hal-hal berikut.
1. Ketetapan perundang-undangan yang terkait dengan guru SD seperti
UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No.
14/2005 tentang Guru dan Dosen, dan PP No.15/2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan
2. Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) guru SD.
3. Berbagai asumsi dan landasan program berupa pernyataan-
pernyataan yang dianggap benar berdasarkan dugaan ahli, penelitian,
dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia
4. Kompetensi guru SD ynag sudah pernah ada seperti 10 kompetensi
guru lulusan SPG

B. Profil Kompetensi Guru SD


Dalam SKGK-SD/MI, Standar kompetensi dirumuskan dalam 4 rumpun
kompetensi yaitu:
1. Kemampuan mengenal peserta didik secara mendalam
2. Penguasaan bidang studi
3. Kemampuan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik
4. Kemampuan mengembangkan kemampuan professional secra
berkelanjutan
Sementara itu, dalam Permen No. 16/2007, Standar Kompetensi Guru
SD/MI dorumuskan menjadi 24 kompetensi inti yang dikelompokkan
berdasarkan kompetensi agen pemeblajaranyang terdapat dalam peraturan
Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PP
No.19/2005, tentang SNP). Kompetensi sebagai agen pembelajaran terdiri
dari:
1. Kompetensi Pedagogik
2. Kompetensi Kepribadian
3. Kompetensi Profesional
4. Kompetensi Sosial
Pengelompokan kompetensi dalam permen No. 16/2007 yang
mengambil PP No. 19/2005 tampaknya lebih mengacu pada teori bukan pada
tugas-tugas nyata seorag guru di  lapangan. Standar kompetensi guru SD/MI
terdapat dalan dua dokumen yaitu bukuStandar Kompetensi guru kelas
SD/MI lulusan S1 PGSD Tahun 2006 dan Peraturan Menteri Pendiidkan
Nasional No. 16/2007.
Dari dua dokumen tersebut dapat diidentifikasi standar kompetensi guru
kelas SD/MI lulusan S1 PGSD, yang terdiri dari 30 kompetensi. Ke 30
kompetensi itu yang merupakan integrasi dari kompetensi yang terdapat
dalam kedua dokumen tersebut.
Semua komopetensi guru SD tercermin secara integrative dalam kinerja
guru, baik ketika merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, mauoun
ketika menilai proses dan hasil belajar siswa. Kompetensi lulusan s1 PGSD
mempunyai kelebihan dibandingkan kompetensi lulusan D II PGSD.
Kelebihan tersebut antara lain terletak pada kemampuan memoerbaiki
pembelajaran melalui PTK, kemampuan berperan serta dalam kegiatan
pendidikan ditingkat lokal, regional, nasional, dan global, kemampuan
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi baik untuk kepentingan
pembelajaran maupun untutk mengembangkan wawasan.

C.    Indikator Penguasaan Kompetensi Guru SD


Penguasaan kompetensi harus diakses dengan prosedur dan instrument yang
sesuai dengan hakikat kompetensi. Penguasaan akademik yang merupakan
kawasan kognitif dapat diakses dengantes, baik tes objektif maupun tes uraian.
Ketrampilan dapat diakses melalui pengamatan unjuk kerja seperti pidato,
menunjukkan ketrampilan dasar mengajar, sedangka sikap dan nilai harus di akses
melalui pengamatan dalam kontek otentik akhirnya, unjuk kerja professional
seperti kemampuan mengajar diakses melalui pengamatan dengan menggunakan
instrument seperti APKG.
Contoh-contoh indicator penguasaan kompetensi dapat dijadikan acuan oleh
mahasiswa/Guru SD untuk menilai statusnya dalam penguasaan kompetensi
tertentu. Pengetahuan mengenai kompetensi, asesmen kompetensi, dan indicator
dapat dimanfaatkan oleh para guru SD ketika melaksanakan tugas sebagai seorang
guru ketika mengembangkan indicator keberhasilan dan melakukan asesmen
penguasaan kompetensi.

KEGIATAN BELAJAR 2. FORUM PENINGKATAN PROFESIONALITAS


GURU
A.    Peningkatan Profesionalitas Guru
Kompetensi pengingkatan profesionalitas secara berkelanjutan dapat
dijabarkan menjadi beberapa kompetensi, salah satu diantaranya adalah mampu
memperbaiki pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Berbagai kegiatan dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas dalam
hal ini, jabaran kompetensi dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan
pengalamn belajar atau kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru beberapa
diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Melakukan refleksi
2.      Berkolaborasi dengan teman sejawat
3.      Mengomunikasikan hasil-hasil PTK melalui berbagai media
4.      Mengikuti perkembangan dunia pendidikan
5.      Mengikuti berbagai kegiatan ilmiah
6.      Berperan serta dalam berbagai kegiatan pendidikan
7.      Mengikuti perkembangan ilmu dalam 5 mata pelajaran SD
8.      Mengikuti berbagai kegiatan guru

B.     Berbagai Wadah Profesionalitas Guru


Ada berbagai wadah atau forum yang meyediakan kesempatan bagi guru untuk
mengembangkan profesionalitas seperti KKG, LPMP, Klinik Pembelajaran,
LPTK, PGRI, Kursus-Kursus.

1.      Kelompok Kerja Guru (KKG)


Kelompok Kerja Guru merupakan forum bagi guru SD untuk mengikuti
berbagai kegiatan dan untuk meningkatkan profesionalitas guru. Kegiatan kkg
seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan yang berkaitan dengan
pengembangan perangkat pembelajarn, tetapi juga kegiatan yang berkaitan dengan
kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dan perluasan wawasan.
KKG bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru melalui arena bertukar
pikiran pengalaman dan informasi sehingga para guru dapat berkembang menjadi
guru yang profesional yang mampu meningkatkan kreativitas dan efektivitas
dalam mengelola pembelajaran sehingga mampu menemukan atau menciptakan
inovasi dalam pembelajaran.
2.      Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
lembaga penjaminan mutu pendidikan merupakan lembaga yang
berkedudukan di tingkat provinsi dan berfungsi untuk membantu Pemerintah
Daerah dalam bentuk supervisi bimbingan, arahan, saran dan bantuan teknis
kepada satuan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan nonformal dalam
berbagai upaya penjaminan mutu satuan pendidikan untuk mencapai standar
nasional pendidikan. dalam menjalankan fungsinya LPMP menyelenggarakan
berbagai kegiatan pengembangan dan pelatihan yang dapat dimanfaatkan oleh
guru SD untuk mengembangkan profesionalitas
3.      Klinik Pembelajaran (KP)
Klinik pembelajaran KB merupakan forum berbagi masalah gagasan
pengalaman antara para guru calon guru dan dosen lptk kegiatan berbagi
pengalaman ini dilakukan melalui komunikasi dijalan sebentar klinik
pembelajaran dan melalui komunikasi online yang terbuka bagi semua guru.
4.      Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)
lembaga pendidikan tenaga kependidikan LPTK menyediakan program
Sarjana (S1), Pascasarjana (S2), serta program Doktor (S3) bagi para guru untuk
meningkatkan kualifikasi akademik di samping itu LPTK juga mempunyai
fasilitas dan dosen yang dapat membantu guru SD meningkatkan
profesionalitasnya.
5.      Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi profesi
yang memperjuangkan hak kesejahteraan serta peningkatan profesionalitas para
anggotanya dalam hal ini berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh PGRI
dapat diikuti oleh para guru untuk meningkatkan profesionalitas.
6.      Kursus-Kursus

Sebagai seorang guru yang diharapkan mempunyai akses yang luas ke sekedar
informasi tentu Anda diharapkan menguasai teknologi informasi dan komunikasi
tersebut jika ada guru yang memang belum melek teknologi seyogyanya guru
tersebut mengikuti kursus computer, sehingga dapat menggunakan keterampilan
yang diperoleh untuk mengakses berbagai informasi dan mengkomunikasikannya.
Tidak diragukan lagi bahwa penguasaan keterampilan komputer akan membantu
guru untuk meningkatkan profesionalitas nya melalui informasi yang dapat
diakses dari internet.
BAB 8
KURIKULUM SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1 : HAKIKAT KURIKULUM SEKOLAH DASAR

A. Kedudukan Kurikulum Dalam Pendidikan


Kurikulum merupakan jantungnya pendidikan. Tanpa kurikulum, tidak
akan terjadi pendidikan. Kurikulum merupakan panduan atau acuan dalam
pendidikan yang berisi tentang kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta
didik, pengalaman belajar dan materi yang harus disediakan, serta cara untuk
mengases proses dan hasil pendidikan.
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. Prinsip-Prinsip Dasar Dalam Mengembangkan Kurikulum


Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan
kurikulum, yaitu:
1. Prinsip relevansi, berkenaan dengan kesesuaian kurikulum dengan
tuntutan serta perkembangan peserta didik dan masyarakat.
2. Prinsip efektivitas, mengacu pada keterlaksanaan dan ketercapaian
kurikulum.
3. Prinsip efisiensi, berkenaan dengan pertimbangan berbagai faktor
pendukung dan penghambat implementasi kurikulum.
4. Prinsip fleksibilitas, memungkinkan adanya penyesuaian dalam
implementasi kurikulum sesuai dengan situasi serta kondisi sekolah dan
peserta didik.
5. Prinsip berkesinambungan, menuntut adanya keberlanjutan kurikulum
anatara satu tingkatan kelas atau jenjang pendidikan dengan tingkatan
kelas atau jenjang pendidikan lainnya.

C. Standar Kompetensi Lulusan Dan Karakteristik Mata Pelajaran Di Sd


Standar kompetensi lulusan merupakan kemampuan minimal yang
diharapkan dikuasai peserta didik setelah menyelesaikan suatu jenjang
pendidikan tertentu. Sementara itu, karakteristik mata pelajaran yang
menggambarkan kekhususan suatu mata pelajaran, baik yang berkenaan
dengan konsep-konsep, keterampilan, nilai dan sikap yang dikembangkan
maupun cara yang digunakan unuk memperolehnya.
Dengan demikian, informasi tentang standar kompetensi lulusan dan
karakteristik mata pelajaran memberikan panduan bagi pengembang
kurikulum dalam merumuskan kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta
didik serta dalam merancang pengalaman belajar dan mengorganisasikan
materi yang harus disediakan untuk mencapai kemampuan yang telah
ditetapkan.

Kegiatan Belajar 2 : Karakteristik Mata Pelajaran Di SD

A. Hakikat KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum
yang bersifat desentralistik karena dikembangkan oleh satuan pendidikan.
Tetapi kurikulum tersebut harus mengacu pada standar kompetensi lulusan
dan standar isi yang telah ditetapkan secara nasional oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP). Hal ini berarti KTSP bersifat desentralistik
tetapi berorientasi nasional. Disamping itu, KTSP juga bersifat operasional
yang siap untuk langsung dilaksanakan oleh sekolah.
Pada prinsipnya, KTSP terdiri atas:
1. Tujuan pendidikan SD, yaitu meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2. Struktur dan muatan kurikulum SD, merupakan pola dan susunan
mata pelajaran yang harus ditempuh peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran. Aspek-aspek yang harus disajikan dalam struktur
dan muatan kurikulum, yaitu:
 Mata pelajaran
 Muatan local
 Kegiatan pengembangan diri
 Pengaturan beban belajar
 Ketuntasan belajar
 Kenaikan kelas dan kelulusan
 Pendidikan kecakapan hidup
 Pendidikan berbasis keunggulan local dan global
3. Kalender pendidikan SD, adalah pengaturan waktu untuk kegiatan
pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang
mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar,
waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
4. Silabus, adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau
kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar
kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan
sumber/bahan/alat belajar.

B. Latar Belakang KTSP


Pengembangan kurikulum oleh KTSP merupakan realisasi dari
kebijakan pemerintah dengan diberlakukannya UU No. 20/2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional yang berkenaan dengan wewenang
pengembangan, pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan. Pengembangan
KTSP didasari oleh landasan filosofis dan teoritis, yang menyatakan bahwa:
1. Kurikulum harus dimulai dari lingkungan terdekat.
2. Kurikulum harus mampu melayani pencapaian tujuan pendidikan
nasional dan satuan pendidikan.
3. Proses pengembangan kurikulum harus bersifat fleksibel.

C. Prosedur Pengembangan KTSP


Proses pengembangan kurikulum di Indonesia mengikuti dua langkah
besar yaitu proses pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah
pusat dan sekolah. Penyusunan KTSP dimulai dengan analisis konteks, yang
mencakup:
1. Mengidentifikasi standar isi dan standar kompetensi lulusan.
2. Menganalissi kondisi sekolah yang ada di satuan pendidikan .
3. Menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakatdan
lingkungan sekitar.
Langkah berikutnya adalah menyusun silabus. Silabus merupakan
rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompak mata pelajaran/tema
tertentu. Penyusunan silabus harus memperhatikan prinsip:
1. Ilmiah, artinya muatan dari masing-masing komponen silabus harus
benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan, artinya cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan
penyajian materi sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
3. Sistematis, artinya komponen dalam silabus saling berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten, artinya setiap komponen dalam silabus memiliki hubungan
yang konsisten (ajeg atau taat asas).
5. Memadai, artinya komponen dalam silabus cukup untuk menunjang
pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan kontekstual, artinya komponen dalam silabus hendaknya
disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
mutakhir.
7. Fleksibel, artinya komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman
peserta didik, pendidik dan perubahan yang terjadi di sekolah dan
masyarakat.
8. Menyeluruh, artinya silabus yang disusun mencakup proses pembelajaran
untuk semua ranah kompetensi.

D. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Pengembangan KTSP


Beberapa pihak yangeterkait dengan pengmabangan KTSP yaitu:
1. Tim penyusun, yang teridri atas guru, konselor, dan kepala sekolah.
2. Komite sekolah.
3. Nara sumber (ahli kurikulum dan pembelajaran).
4. Dinas pendidikan.
5. Pihak lain yang terkait.
BAB 9
BAHAN BELAJAR SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1: Potret Bahan Ajar


A. Bentuk Bahan Ajar
Bahan ajar berisi konten-tertulis, melalui media atau difasilitasi guru,
yang digunakan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi
yang diharapkan. Berbagai contoh bahan ajar adalah:
1. Buku teks, biasanya merupakan buku pegangan bagi guru dan siswa.
2. Media taktil (manupulatives), adalah bahan yang digunakan dalam
mempelajari suatu konsep, seperti pasir yang digunakan untuk
membuktikan rumus volume tabung.
3. Progam audio, adalah bahan ajar yang digunakan untuk mengembangkan
kemampuan mendengar para siswa.
4. Program video, adalah bahan ajar yang menyajikan demonstrasi atau
stimulasi dari suatu konsep.
5. Lembar kerja siswa, merupakan lembaran panduan yang digunakan oleh
siswa baik secara individual atau kelompok untuk mengerjakan suatu
tugas dari guru.
6. Handsout, adalah lembaran lepas yang berisi materi pelajaran yang
dibagikan kepada siswa. Contohnya bahan seminar yang berisi materi
yang ditayangkan kepada peserta seminar.
7. Surat kabar, majalah, internet, yaitu bahan ajar yang berupa artikel-artil.

B. Bahan Ajar Yang Digunakan Di Sekolah


Bahan ajar yang sering digunakan guru adalah buku teks dan LKS atau
buku kerja siswa. Secara umum, buku teks sebagai bahan ajar hendaknya
mengandung komponen-komponen tujuan pembelajaran, uraian materi dan
evaluasi. Sedangkan komponen yang ada dalam LKS, hendaknya berisi
komponen tujuan, materi/sumber, waktu, cara kerja, hasil yang diharapkan
dan tindak lanjut.
Sementara itu, ada kelemahan bahan ajar yang digunakan di SD,
diantaranya adalah salah konsep, tidak memadainya cakupan materi yang
disajikan, penggunaan ilustrasi yang kurang tepat, penyajian evaluasi yang
tidak sesuai dengan aturan pengembangan alat evaluasi, dan penggunaan
bahasa yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

Kegaiatan Belajar 2 : Pengembangan Bahan Ajar Di SD


Pengembangan bahan ajar dapat dilakukan melalui dua cara, yaiitu:
1. Penulisan sendiri. Dengan menulis sendiri, guru dapat menyediakan
bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik siswa yang dihadapainya
serta kondisi lingkungan. Tetapi guru dituntut untuk memiliki
keterampilan dan pengalaman dalalm menulis bahan ajar serta waktu
dan sumber belajar yang tersedia.
2. Penggunaan bahan ajar yang sudah tersedia. Dalam hal ini, guru tinggal
menggunakan bahan ajar yang ada. Tetapi tidak semua bahan ajar yang
ada sesuai dengan karakteristik siswa yang dihadapi guru serta kondisi
linbgkungan.

A. Penulisan Bahan Ajar


Langkah yang dapat dilakukan guru dalam menulis bahan ajar adalah:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran. Merupakan penjabaran dari standar
kompetensi dan kompetensi dasar.
2. Menyajikan materi pelajaran, Materinya berdasarkan tujuan
pembelajaran dan hendaknya sesuai dengan karakteristik dan
pengetahuan awal siswa, serta sarana dan prasarana yang ada.
Disamping itu, uraian materi juga mencakup ilustrasi (gambar, table,
grafik atau contoh) dan tugas atau kegiatan yang harus dilakukan
siswa.
3. Mengembangkan evaluasi. Komponen evaluasi dikembangkan untuk
mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah
disajikan.

B. Penggunaan Bahan Ajar Yang Sudah Tersedia


Ada beberapa kriteria yang dijadikan pedoman dalam memilih bahan
ajar, antara lain:
1. Menurut Depdiknas (2004)
 Kriteria filosofi, berkenaan dengan pencapaian tujuan pendidikan
 Kriteria psiko-pedagogis, berkenaan dengan teori dan asumsi tentang
proses terjadinya belajar pada seseorang.
2. Dick, Carey (2001)
 Kriteria yang berpusat pada tujuan, memusatkan perhatian pada isi
pembelajaran.
 Kriteria yang berkenan dengan siswa, kesesuaian bahan ajar dengan
kelompok target pengguna bahan ajar tersebut.
 Kriteria yang berpusat pada konteks, berkenaan dengan kesesuaian
bahan ajar yang dipilih dengan konteks pembelajaran.
 Kriteria yang berpusat pada proses belajar, berkenaan dengan
ketepatan penyajian isi bahan ajar.
3. Onrnstein (1990)
 Tujuan (objective)
 Keterbacaan (readability)
 Kegunaan (utility)
 Kognisi (cognition)
 Cakupan materi (content coverage)
 Audio-visual
 Teori belajar ( learning theory)
 Karakteristik fisik (physical characteristics)

MODUL 10
POTRET PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1 : Potret Pembelajaran Di Sekolah Dasar


A. Sarana Dan Prasarana Dan Keterjangkauan Daerah
Selain terbatasnya guru, kendala proses belajar mengajar yang selama
ini ditemukan adalah kurang memadainya sarana dan prasarana penunjang
yang ada. Beberapa indikator yang menjadi sumber terbatasnya sarana dan
prasarana bagi suatu sekolah, antara lain:
1) Letak geografis yang jauh sehingga untuk menjangkaunya diperlukan
waktu dan alat transportasi yang memadai.
2) Kurangsinkronan informasi antarintansi yang terkait.
3) Peristiwa bencana alam.
4) Sarana yang ada tidak mampu menampung banyaknya jumlah siswa.
5) Kurangnya motivasi usia produktif untuk bersekolah karena kombinasi
keterbatasan sarana, dukungan keluarga dan keramahan alam.

B. Metode Pembelajaran
Ada beberapa alasan banyak guru belum kompeten, antara lain: guru
belum menguasai bahan ketika belajar atau kuliah dan guru mengajarkan
yang bukan bidangnya. Selain kurang menguasai bidangnya, masih banyak
guru yang dalam mengajar hanya menggunakan model yang sama. Mereka
kurang menguasai berbagai model pembelajaran yang sesuai perkembangan
anak didik dan sesuai teori pendidikan yang baru.

C. Ketidakmerataan Jumlah Guru


Salah satu persoalan guru, selain kesejahteraan adalah ketidakmerataan
jumlah mereka. Perbandingan antara guru yang mengajar di daerah terpencil
dengan guru yang mengajar di kota sangat jauh. Dari segi kuantitas, jumlah
guru sebetulnya telah memadai, tetapi sisi pemerataan dan kualitasnya belum
sesuai.

Kegiatan Belajar 2 : Pembaharuan Pemebelajaran Yang Diterapkan Di SD

A. Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran secara kontekstual merupakan salah satu strategi
pembelajaran yang berhubungan dengan fenomena kehidupan sosial
masyarakat, fenomena dunia pengalaman dan pengetahuan murid dan kelas
sebagai fenomena sosial.
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungann antara pengatahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektif, yaitu konstruktivisme
(constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat
belajar (learning community), pemodelan (modeling) dan penilaian
sebenarnya (authentic assessment).
Dalam pembelajran kontekstual, program pembelajaran lebih
merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario
tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya
sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin
tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi
pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran dan authentic assessmennya.

B. Pakem
PAKEM merupakan salah satu strategi pembelajaran yang partisipatif,
aktif, kreatif, efektifdan menyenangkan. Dalam konteks ini, sebuah
pembelajaran semestinya membuat anak merasa nyaman, tidak takut untuk
bertanya, tidak tegang dalam menyimak guru dan tidak merasa kesulitan
untuk menyerap materi yang diajarkan. Fungsi pembelajaran yang ditekankan
adalah bagaimana menggali dan mengembangkan seluruh potensi yang ada
dalam diri siswa serta media yang digunakan untuk menggali pengetahuan
dan menanamkan nilai kehidupan sehari-hari.
PAKEM dalam perspektif guru adalah guru Aktif memantau kegiatan
belajar siswa, member umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang
dan mempertanyakan gagasan siswa, Kreatif mengmbangkan kegiatan yang
beragam dan membuat alat bantu belajar sederhana, Efektif sehingga
pembelajaran mencapai tujuan, Menyenangkan sehingga anak tidak takut
salah, tidak takut ditertawakan, dan tidak dianggap sepele.
Sementara PAKEM dalam perspektif siswa adalah siswa Aktif
bertanya, mengemukakan gagasan dan mempertanyakan gagasan orang lain
serta gagasannya, Kreatif merancang/membuat sesuatu dan
menulis/mengarang, Efektif menguasai keterampilan yang diperlukan,
Menyenangkan sehingga siswa berani mencoba/membuat, berani bertanya,
berani mengemukakan gagasan dan mempertanyakan gagasan orang lain.

C. Pembelajaran Kooperatif dan Kolaboratif


Pembelajaran ini merupakan suatu model pembelajaran yang
mengutamakan adanya kelompok-kelompok, mengutamakan kerjasama
dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan
keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam
pembelajaran ini, siswa diajak untuk mencoba menyelami karakteristik
kehidupan yang heterogen dengan berbagai macam perbedaan karakter yang
ada. Dalam melakukan pembelajaran ini, ada lima langkah yang dapat
dilakukan, yaitu:
1. Pembelajaran berbasis masalah
2. Pemanfaatan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
3. Pemberian aktifitas kelompok
4. Pembuatan aktifitas belajar mandiri
5. Penerapan penilaian autentik

MODUL 11
EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Kegaiatan Belajar 1 : Hakikat dan Potret Evaluasi Program Pembelajaran di


Sekolah Dasar
A. Hakikat Evaluasi Progaram dan Evaluasi Progam Pembelajaran
Tujuan evaluasi progaram pembelajaran antara lain adalah untuk mengetahui
apakah :
1. Lingungan sekolah menunjang terjadinya pembelajaran.
2. Rencana yang dibuat guru dapat dilaksanakan
3. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran
4. Guru menunjukan semangat dalam pembelajaran
5. Penilaian penilaian pembelajaran dilakukan secara sistematis
6. Hasil belajar siswa memenuhi harapan guru
Evaluasi progaram yang dilakukan guru harus diawali dengan keininan
untuk mengkaji ulang apa yang terjadi selama pembelajaran. Guru meningat
berbagai peristiwa yang terjadi, mempertanyakan mengapa itu terjadi, dan apa
dampak peritiwa tersebut bagi kelas.
B. Potret Evaluasi Pembelajaran di SD
Jika diperhatikan dari dokumen RP, maka dapat dikatakan evaluasi progaram
pembelajaran secara rutin sudah direncakan. Jika rencana tersebut benar-
benar dilaksanakan, berarti evaluasi pembelajaran secara rutin sudah
dilaksanakan.

Kegaiatan Belajar 2 : Langkah-langkah dan Tindak Lanjut Evaluasi


Progaram Pembelajaran
A. Langkah-langkah Evaluasi Progaram Pembelajaran di SD
1. Kapan Evaluasi Program dilakukan ?
Evaluasi progam dapat dilakukan pada akhir semester dan akhir tauhun
ajaran atau tahun akademik. Hal ini sesuai dengan Lampiran Peratuan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 (Permen
No.20/2007) tentang Standar Penilaian.
2. Bagaimana cara melakukan evaluasi program pembelajaran ?
Evaluasi, baik itu evaluasi hasil belajar maupun evaluasi program
pembelajaran dilakukan secara sistematis dengan mengikuti langkah-
langkah tertentu. Lampiran permen No. 20/2007 Tentang Standar
Pendidikan mencantumkan bahwa : “Penilaian hasil belajar oleh pendidik
dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses
dan kemajuan belajar peserta didika serta untuk meningkatakan
efektivitas kegiatan pembelajaran”.
Berikut ini disajikan langkah-langkah tersebut dengan ulasan singkat.
1. Pada awal semester, guru menginformasikan silabus mata pelajaran
yang memuat rancangan dan kriteria penilaian.
2. Mengembangkan indikator pencapaian kompetensi dasar dan memilih
teknik penilaian yang sesuai.
3. Mengembangkan instrumen dan pedoman peilain.
4. Melaksanakan penilaian.
5. Mengolah hasil penilaian utnuk mengetahi kemajuan dan kesulitan
belajar peserta didik.
6. Mengembalikan hasil pekerjaan siswa yang sudah diberi balikan atau
komentar.
7. Memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.
8. Melaporkan hasil pembelajaran kepada pimpinan satuan pendidikan
pada setiap akhir semester dalam bentuk milai prestasi belajar dan
deskripsi singkat.
3. Evaluasi progaram pemelajaran oleh sekolah
Langkah-langkah yang harus ditempus sekolah :
1. Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk setiap mata
pelajaran.
2. Mengkoordianasikan ulangan tengah semester.
3. Menentukan kriteria kenaikan kelas.
4. Melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok
mata pelajaran pada setiap akhir semester.
5. Melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada
dinas pendidikan Kabupaten/Kota.
Agar evaluasi program pembelajaran tingkat sekolah dapat dilakukan
secara sistematis, sejumlah langkah harus ditempuh, langkah-langkah
tersebut adalah :
1. Mengembangka disain evaluasi program
2. Mengembangkan instrumen
3. Mengumpulkan data atau melaksanakan evaluasi
4. Menganalisis data
5. Menyususn laporan

B. Tindak Lanjut Hasil Evalusi Program Pembelajaran


Tindak lanjut hasil evaluasi progaram yang dilakukan yaitu :
1. Kemampuan guru tentang KTSP.
2. Kemampuan guru mengembangkan rencana pembelajaran.
3. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran.

MODUL 12
SUMBER DAYA SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1 : Potret Sumber Daya di Sekolah Dasar


A. Potret Sarana dan Prasarana SD
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, Pasal 42 menetapkan bahwa sarana dan prasaran yang harus ada
pada setiap satuan pendidikan sebagai berikut :
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot,
peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya,
bahan habis pakai, serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran.
2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasaran yang meliputi lahan,
ruang kelas, ruang pimpinan satan pendidikan , ruang pendidik, ruang TU,
ruang perpustakaan, ruang laboratorium, raung bengkel kerja, ruang unit
produksi, raung kantin, instalasi daya dan jasa, termpat berolahraga,
termpat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang lain yang
diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran.

B. Potret Sumber Daya Manusia di SD


Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pnedidikan, Pasal 35 menetapkan bahwa : “tenaga pendidikan pada SD/MI
atau bentuk lain yang sederat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala
sekolah/madrasah, dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah”.

C. Potret Sumber Dana di SD


Standar Pembiayaan yang merupakan Pasal 62 Peraturan Pemerintah Nomor
19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mencantumkan ketentuan-
ketentuan berikut :
1. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan
biaya personal.
2. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber
daya manusia, dan modal kerja tetap.
3. Biaya personal sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya
pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa untuk
bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
4. Biaya operasional satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meluputi :
a. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta tunjangan yang
melekat pada gaji.
b. Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan
c. Biaya operasi pendidikan tidak langsung berupa biaya, air, jasa,
telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang
lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain
sebagainya.

Anda mungkin juga menyukai