Anda di halaman 1dari 4

Azyumardi Azra: "Mereka Menganggap Berpolitik Dengan

Kekerasan Lebih Efektif"

(TEMPO Interaktif, 20 Desember 2002)

Tulisan dan Azyumardi Azra tampaknya suatu yang tak


terpisahkan. Menjelang akhir Ramadan lalu, ia pun
meluncurkan enam buah buku di Bentara Budaya Jakarta.
Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan yang
disunting oleh Idris Thaha, staf pengajar Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sebagai pakar sejarah, rektor Universitas Islam Negeri


(UIN) Jakarta ini memang tak bisa melepaskan disiplin
ilmunya untuk meneropong aneka peristiwa. Ia tak
tanggung-tanggung menampungnya dalam enam buku.
Peluncuran buku ini tentunya bukan yang pertama. Sejak
tiga tahun lalu, dua kali ini meluncurkan kumpulan
tulisannya. Semua dilakukan di luar kampus. "Agar
tidak menimbulkan persepsi saya memanfaatkan fasilitas
kampus," kata ayah empat orang anak ini.

Ia sadar peluncuran buku tersebut atas inisiatif


pribadi. Karena itu ia tak ingin memanfaatkan kampus
yang dipimpinnya. Salah satu buku yang diterbitkan
menjelang Idul Fitri lalu, mengulas sejarah
radikalisme berlabel agama. Apa kata Azyumardi tentang
radikalisme kelompok atas nama agama ini? Simak
petikan wawancara bersama Arif Firmansyah dari Koran
Tempo di kantor UIN Jakarta akhir Ramadhan lalu.

Sejak kapan radikalisme atas nama agama muncul di


Indonesia?

Kalau kita lihat dalam konteks itu sebenarnya ya ...


pasca kemerdekaan dengan munculnya DI/TII. Sebuah
gerakan politik atau memiliki agenda politik yang
memakai agama, justifikasi agama, dan sebagainya.
Sejarah mencatat DI/TII gagal. Kemudian masa Soeharto
muncul lagi. Tapi sebagian kelompok radikal di masa
Soeharto itu ada yang direkayasa oleh militer atau
intelijen melalui Ali Moertopo dengan Opsusnya.

Ada pula Bakin yang merekayasa bekas anggota DI/TII.


Sebagian direkrut kemudian disuruh bikin berbagai aksi
seperti Komando Jihad dalam rangka mendiskreditkan
Islam. Ada pula kasus Haji Ismail Pranoto atau
Hispran. Itu yang kita baca dalam laporan-laporan yang
sudah dipublikasikan atau laporan pengadilan dan
sebagainya. Nah sekarang ini muncul lagi. Sejak
jatuhnya Soeharto ada era demokratisasi, liberalisasi,
dan masa kebebasan. Maka kelompok radikal ini muncul
lebih visible, lebih militan, dan vokal juga. Apalagi
kemudian media massa, khususnya media elektronik
sepetti TV, banyak meliput. Akhirnya mereka lebih
visible.
Artinya, pada era keterbukaan ini mereka mendapat
tempat yang lebih leluasa?

Ya. Paling tidak untuk menyampaikan visi mereka tampil


di depan publik itu lebih banyak. Tidak seperti zaman
Soeharto dulu, sekarang mereka bisa demo atau
menampilkan diri dalam isu-isu yang terkait dengan isu
nasional. Misalnya, ketika mau Sidang Tahunan MPR.
Artinya dimungkinkan oleh perkembangan politik kita
yang lebih liberal dan demokratis.

Apakah dalam aksi periode sekarang, gerakan ini cuma


faktor agama saja atau ada muatan politiknya?

Kalau agenda politik itu jelas ada. Tapi bisa juga


kedua-duanya. Ini bisa bertitik tolak dari pemahaman
keagamaan tertentu kemudian diisi oleh muatan politik.
Atau sebaliknya muatan politik lebih dulu baru
diberikan justifikasi agama. Mereka punya agenda
politik tertentu kemudian diberikan justifikasi
ayat-ayat Al Quran atau hadis atau pandangan ulama
tertentu. Atau bisa jadi dua-duanya.

Kenapa mereka menggunakan agama sebagai justifikasi


terhadap muatan politik mereka?

Pertama, ada orang-orang yang memang pemahaman


keagamaannya sangat literer atau harfiah. Kemudian
dengan pemahaman agamanya yang literer itu kemudian
mendorong mereka untuk melakukan tindakan politik
tertentu, termasuk tindakan kekerasan. Atau memang
semula dia gerakan politik tapi kemudian diberikan
justifikasi keagamaan.

Lalu kenapa mereka sering menggunakan pola kekerasan?

Begini, mereka ini semula adalah kelompok politik.


Untuk mendapatkan dukungan publik, di mana penduduk
Indonesia mayoritas orang Islam, kemudian mereka
membawa-bawa agama. Tujuannya agar sikap politik
mereka, termasuk kekerasan tadi, seolah-olah
dibenarkan agama. Cara seperti itu sebenarnya karena
melihat ajaran agama secara sepotong-sepotong.
Misalnya, memahami jihad itu hanya perang. Siapa saja
diperangi, tidak hanya orang non-muslim. Orang Islam
yang berbeda pendapat dengan mereka bisa diperangi
juga. Jadi orang Islam sendiri menjadi sasaran jihad
versi mereka.

Bisa Anda jelaskan tahapan yang biasa mereka gunakan


untuk sampai pada tahap pemahaman jihad seperti tadi?

Ada tiga tahap yang bisa mereka lalui. Pertama, yang


disebut dengan takfir yaitu mengkafirkan orang lain.
Bisa saja orang Islam yang tidak mau mengikuti
pandangan mereka dikafirkan. Kedua, hijrah. Bisa dalam
pengertian fisik, pindah dari satu tempat ke tempat
yang lain yang mereka anggap lebih Islami sesuai
dengan pandangan mereka. Atau dalam arti nilai, karena
mereka menganggap nilai-nilai yang ada di dalam
masyrakat itu sudah jahiliah. Jadi bukan lagi tidak
Islami tapi sudah jahiliah yang mereka sebut dngan
jahiliah modern. Misalnya, sistem demokrasi di mana
perempuan menjadi presiden. Oleh karena itu harus
pindah atau hijrah dari nilai-nilai seperti itu
kembali ke nilai-nilai Islam yang kafah. Tentunya
Islam kafah menurut pandangan mereka. Ketiga, jihad
yang merupakan kulminasi dari kedua tahap sebelumnya.
Jihad itu tidak hanya terhadap orang non-muslim, tapi
juga ke orang Islam yang tidak sepandangan.

Apakah model yang dipilih Muhammadiyah dan NU tidak


mampu mengakomodasi pola kelompok-kelompok radikal
itu, sehingga mereka membuat cara sendiri?

Mereka menganggap cara politik dengan kekerasan lebih


efektif. Kalau harus lewat pendidikan dakwah dinilai
terlalu lambat. Makanya mereka lebih suka jalan
pintas. Namun, bisa jadi radikalisme itu cermin rasa
frustasi dengan situasi yang ada dan tidak percaya
pada cara-cara damai. Jadi ada semacam rasa
eskatologisme yang menganggap dunia ini sudah bangkrut
dan jahiliah. Sehingga satu-satunya jalan harus
ditempuh dengan kekerasan. Sementara organisasi
seperti Muhammadiyah dan NU dinilai terlalu lambat dan
moderat serta kompromistis dengan sistem yang ada.
Artinya organisasi besar ini dianggap tidak serius
mengakomodasi kepentingan dan pandangan mereka.

Atau, adakah pilihan itu muncul akibat adanya


kekeliruan mereka dalam mengenalkan agama selama ini?

Sebetulnya tidak ada yang salah. Karena pesantren dan


madrasah kita sudah mengalami modernisasi sejak
1970-an. Itu sejak Menteri Agama Mukti Ali
menasionalisasi kurikulum pesantren dan madrasah.
Artinya mereka harus mengikuti kurikulum yang
dikeluarkan oleh Depdiknas dan Depag. Dan kalau
alumnus madrasah atau pesantren itu ingin melanjutkan
dari satu jenjang ke jenjang yang lain mereka harus
mengikuti standar nasional. Ini diperkuat lagi dengan
UU Pendidikan Nasional pada 1989. Nah, mungkin di
antara orang di pesantren ada yang memahami agama
secara literer tadi. Lalu mensosialisasikan
pemikirannya pada para santri.

Ketika mengubah status IAIN menjadi Universitas Islam


Negeri pada Mei 2002, apa yang Anda harapkan dari
perubahan itu?

Sebetulnya saya hanya melanjutkan ide rektor


terdahulu, khususnya almarhum Prof. Dr. Harun
Nasution. Beliau ingin lulusan IAIN itu adalah orang
yang berpikiran rasional, modern, demokratis, dan
toleran. Tidak memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum,
tidak memahami agama secara literer. Itu yang dimaksud
Pak Harun dengan Islam yang rasional dan bukan Islam
yang madzhabi. Islam yang tidak terikat pada satu
madzhab. Untuk sampai ke arah itu institusinya harus
dibenahi agar ilmu umum dan agama saling berinteraksi.
Itu hanya bisa dilakukan jika status institut
dikembangkan menjadi universitas. Karena itu kita
mengembangkan fakultas sains, ekonomi, teknologi,
MIPA, komunikasi, matematika, dan lain-lain.

Tidak khawatir terjadi kanibalisasi terhadap fakultas


agama seperti dikhawatirkan banyak orang?

Menurut saya sebagai rektor hal itu tidak akan


terjadi. Dan kita tidak mau terjadi. Kalau seorang
muslim tidak memasukkan anaknya ke UIN sekarang ini,
tentu bukan salah rektornya, kan. Kalau ada fakultas
yang "tidak laku" ya, jangan menyalahkan dekan atau
rektornya, ha..ha..ha...Lembaga ini didirikan oleh
umat Islam dan tentunya untuk umat Islam juga.

Kenapa anak-anak UIN dan IAIN umumnya kurang militan


dibanding aktivis masjid di kampus-kampus non-IAIN?

Wawasan keIslaman akademik yang ingin kita kembangkan


itu juga harus mempunyai wawasan keIndonesiaan karena
kita ini hidup di Indonesia. Jadi keislaman yang akan
kita kembangkan itu adalah keislaman yang konstektual
dengan Indonesia karena tantangan umat muslim di sini
adalah tantangan Indonesia. Karena itu pendekatan kita
terhadap agama adalah pendekatan yang tidak
bermadzhab. Kita tidak mengembangkan fanatisme madzhab
dan fanatisme terhadap pemahaman tertentu. Ini yang
membedakan dengan anak-anak yang memahami agama secara
literer yang cenderung hitam putih. Seperti yang bisa
kita lihat kajian-kajian yang di Timur Tengah
penelitian kelompok-kelompok radikal di Timur Tengah
sebagian besar anggota atau kepemimpinan kelompok
radikal itu adalah dari perguruan tinggi "sekuler"
atau perguruan tinggi yang non agama atau ilmu
eksakta.

*****

Catatan: Artikel yang sama sudah pernah diturunkan di


Koran Tempo edisi Minggu 15 Desember 2002.