Anda di halaman 1dari 2

Konstitusi Universal Islam (Bag.

1)
Dipublikasi pada Saturday, 11 March 2006 oleh admin

Shoimuddin (asshiyami@yahoo.com)

Islam  lahir di tanah Hijaz, semenanjung Arabia, yang pada waktu  itu telah bercokol dua
kekuatan raksasa yang  memegang peranan penting dalam peradaban sosial masyarakat;
Bizantium (Romawi) di kawasan barat dan Sansaniyah (Persia) di kawasan timur. Dengan
kehadiran Islam yang pada saat bersamaan Romawi dan Persia di ambang keruntuhan
membawa angin perubahan budaya serta tradisi yang hanya mementingkan rasa kesukuan
dengan pertalian darah dan ego yang berkembang di masyarakat pada saat itu.

Islam adalah agama yang ajarannya berlandaskan dengan wahyu (al-Quran) yang diturunkan
melalui Nabi Muhammad saw, yang mempunyai tiga misi perubahan; perubahan Teologi
(Aqidah) perubahan Ritual (Ibadah) perubahan Sosial (Mu’amalah). Perubahan Teologi
mengajak beriman sesuai dengan tuntunan al-Quran, yaitu tauhid (mengesakan Allah);
Perubahan Ritual mengajak manusia mewujudkan iman yang benar dengan  peribadatan yang
benar pula, yaitu tidak menyekutukan dengan tuhan-tuhan lain seperti berhala yang mereka
sembah sebelum datangnya Islam; Perubahan Sosial mengembalikan kehidupan manusia
kepada hakikat kemanusiaan dengan berlaku adil, jujur, menghargai orang lain, dan menjaga
amanah. Kelaliman dan penipuan tidak dibenarkan dalam  Islam. Di sinilah keuniversalan Islam
sangat terasa. Sebuah agama (baca: ajaran) yang tidak hanya mengajarkan keyakinan (Aqidah)
namun juga tatanan sosial kehidupan masyarakat.

Dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat, ashadu an la ilaha illa Allah (dengan mengesakan
ketuhanan) wa ashadu anna Muhammadan rasul Allah (serta mengakui bahwa Muhammad
adalah seorang Nabi sekaligus utusan Allah di muka bumi), maka seorang hamba secara
langsung memproklamirkan dirinya sebagai seorang muslim (mukmin) yang siap melaksanakan
perintah-perintah-Nya yang termaktub dalam al-Quran dan hadis, serta menjauhi larangan-
larangan-Nya.

Di awal perkembangannya, Islam mengalami sedikit hambatan yang disebabkan perlawanan dari
kalangan suku di kota Mekah, yang menganggap kehadiran Islam membawa dampak buruk, baik
dari segi monopoli ekonomi mereka maupun politik pada saat itu. Islam yang mengajarkan prinsip
keadilan serta kejujuran dalam berniaga sangat bertentangan dengan tradisi yang mereka anut
selama ini, belum lagi Islam menganggap semua manusia yang hidup di bumi adalah sama
derajatnya, hanyalah kualitas ketaqwaanlah yang membedakan di sisi Tuhannya.

Islam yang mengajak manusia untuk mengesakan Allah serta tidak menyekutukannya mengalami
perkembangan yang sangat pesat setelah Nabi Muhammad saw. melaksanakan hijrah ke Yatsrib
(sekarang Madinah al-Munawwarah), sebuah kota kecil yang terletak sekitar 200 km dari utara
kota Mekah.

Hijrahnya Nabi ke Yatsrib dilatarbelakangi oleh perlawanan orang kuffar terhadap ajakan Nabi
yang ada di Mekah, berbagai macam penyiksaan serta ancaman yang diarahkan kepada Nabi
serta mereka orang-orang  yang memeluk Islam.

Pada tahun 621 M Nabi pun menjalin hubungan dengan pihak-pihak luar, terutama dengan
penduduk Yatsrib sehingga terucaplah sebuah pengakuan mereka terhadap kerasulan Nabi. Hal
ini terbukti dengan terjadinya Bai’atul Aqabah pertama. Dengan perjalanan waktu, simpati
masyarakat setempat terhadap Islam makin bertambah; sumpah janji kepada Nabi Muhammad
saw. serta dukungan terhadap ajarannya, Bai’atul Aqabah kedua pun terjadi.

Dengan hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah menuju Yatsrib (Madinah) pada tahun 622 —yang
merupakan titik awal sejarah perkembangan Islam yang sangat menentukan sehingga Islam
tersebar ke seantero pelosok dunia di masa-masa berikutnya— kemajuan Islam sangat cepat.
Semua ini tidak lepas dari adanya Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin tertinggi di Madinah
serta dibuatnya undang-undang yang mengatur segala aspek tatanan sosial kehidupan di
masyarakat. Undang-undang ini di kemudian hari lebih dikenal dengan “Piagam Madinah” atau
menurut kalangan sejarawan muslim disebut “Konstitusi Madinah”, sebuah aturan atau konstitusi
yang tidak hanya mengatur hubungan di kalangan kaum muslimin sendiri, namun juga mengatur
hubungan dengan non muslim yang berada di bawah naungan kepemerintahan Islam. Dalam 
Islam, peraturan yang dibuat tidak hanya berkisar dalam tatanan ibadah semata, namun juga
berkenaan dengan kebudayaan serta peradaban di tengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain,
Islam memberikan corak warna yang bervariatif serta mengarahkan budaya-budaya lokal yang
tidak sejalan dengan tuntunan syari’at.

Seorang hamba yang memilih dirinya sebagai mukmin adalah sebuah pilihan yang didasari atas
kesadaran (tanpa ada paksaan dari pihak lain). Konsekuensinya harus mengikuti apa yang telah
digariskan oleh al-Quran dan hadis. Di sinilah gelar seorang mukmin dipertanggungjawabkan;
melaksanakan dengan tanpa pamrih, kerelaan dan kepasrahan di kala melaksanakan semua
kewajiban, saling mengasihi atas sesama muslim serta tolong menolong atas dasar kesamaan
aqidah dan rasa persaudaraan. Karena menurut Imam Ghazali, persaudaraan adalah “lenyapnya
fanatisme kesukuan ala jahiliyah, tidak adanya semangat pengabdian selain kepada Islam,
runtuhnya semua bentuk perbedaan yang didasarkan pada asal keturunan, warna kulit, dan asal
usul kedaerahan atau kebangsaan. Dan, maju mundurnya seseorang hanya tergantung pada
kepribadiannya sendiri dan ketaqwaannya kepada Allah.”

Berkat perkembangan ini, Jazirah Arabia mengalami suatu kebangkitan penuh berkah yang
belum pernah dialaminya sejak adanya bangunan di atas Jazirah tersebut. Wallahu A’lam []