Anda di halaman 1dari 13

MANAJEMEN RESIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN

KERJA
DI PABRIK TAHU

Dosen Pengampu :
Oleh kelompok :
Fauziah 1814201060
Azzikah Rohimah 1814201062
Intan Sahira 1814201080
Hauzan Jiyad Adli 1814201050

S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KESEHATAN


UNIVERSITAS FORT DE KOCK BUKITTINGGI
TAHUN 2019
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah tentang “Manajemen Resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja” ini.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi
Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran
agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.

Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah. Disamping itu, kami
mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kamu selama
pembuatan makalan ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanlah makalah ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Kami mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya dapat kami perbaiki.
Karena kami sadar, makalah yang kami buat ini masih banyak terdapat kekurangannya.

Bukittinggi, 11 Desember 2019


 

Penyusun

A.Latar Belakang
Perkembangan dunia industry khususnya industry informal yang sedang berkembang di
Indonesia sangat berpengaruh untuk perekonomian Indonesia, dengan menciptakan
lapangan kerja untuk pengangguran yang ada di Indonesia dan menambah penghasilan
pekerja tersebut, akan tetapi industry informal jarang sekali untuk mengikuti peraturan
yang berlaku di Indonesia dan juga pemerintah yang tidak melakukan pengawasan serta
pelatihan untuk para pekerja sehingga menimbulkan berbagai masalah baru yang terkait
dengan keselamatan kerja dan juga kesehatan kerja. Sector informal memiliki
karakteristik seperti jumlah unit usaha yang banyak dalam skala kecil, kepemilikan oleh
individu atau keluarga, teknologi yang sederhana dan padat tenaga kerja, tingkat
pendidikan dan keterampilan yang rendah, produktifitas tenaga kerja yang rendah dan
tingkat upah dan juga relative lebih rendah dibanding sector formal. Keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) sebagai salah satu unsure perlindungan tenaga kerja bertujuan untuk
menjamin para pekerja dan orang lain yang berada disekitar tempat kerja selalu dalam
keadaan selamat dan sehat dan menjaga agar sumber-sumber produksi dapat digunakan
secara aman dan efisien, serta menjamin kelancaran proses produksi yang merupakan
factor penting dalam meningkatkan produktifitas industry.
Salah satu usaha yang banyak berkembang disektor informal adalah industry tahu
rumahan, dimana terdapat pekerja beraktifitas dalam proses produksinya. Pada umumnya,
pekerja tempat pembuatan tahu belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja atau
jaminan kesehatan apabila terjadi penyakit akibat kerja dalam proses nya sendiri terdapat
banyak bahaya yang mungkin dapat mempengaruhi tingkat kesehatan pekerja. Industry
tahu ini mengolah bahan dasar kedelai sampai meghasilkan tahu.

B.Masalah Utama
Resiko terbesar pada proses penggilingan kedelai,penyaringan sari dan ampas tahu, dan
mencetak tahu dengan nilai resiko sebesar disini belum dilakukan pengendalian oleh pabrik
tahu.

Pengendalian yang sudah dilakukan oleh pabrik tahu adalah hanya memakai sandal ketika
sedang bekerja, selebihnya pekerja belum pengendalian apapun.

C.Pengertian Hazard
Pengertian Bahaya (hazard) adalah faktor intrinsik yang melekat pada sesuatu (bisa pada barang
ataupun suatu kegiatan maupun kondisi), misalnya pestisida yang ada pada sayuran ataupun
panas yang keluar dari mesin pesawat. Bahaya ini akan tetap menjadi bahaya tanpa
menimbulkan dampak/ konsekuensi ataupun berkembang menjadi accident bila tidak ada kontak
(exposure) dengan manusia. Sebagai contoh, panas yang keluar dari mesin pesawat tidak akan
menimbulkan kecelakaan jika kita tidak menyentuhnya. Proses kontak antara bahaya dengan
manusia ini dapat terjadi melalui tiga mekanisme, yaitu:
1. Manusia yang menghampiri bahaya.
2. Bahaya yang menghampiri manusia melalui proses alamiah.
3. Manusia dan bahaya saling menghampiri.
Berdasarkan jenisnya Primary Hazards, bahaya dapat diklasifikasikan atas
1. Bahaya fisik, misalnya yang berkaitan dengan peralatan seperti bahaya listrik.
2. Bahaya kimia, misalnya yang berkaitan dengan material/ bahan seperti antiseptik,
aerosol, insektisida, dan lain-lain.
3. Bahaya biologi, misalnya yang berkaitan dengan mahluk hidup yang berada
di lingkungan kerja seperti virus dan bakteri.
4. Bahaya psikososial, misalnya yang berkaitan aspek sosial psikologis
maupun organisasi pada pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat memberi dampak pada
aspek fisik dan mental pekrja. Seperti misalnya pola kerja yang tak beraturan, waktu kerja
yang diluar waktu normal, beban kerja yang melebihi kapasitas mental, tugas yang tidak
berfariasi, suasana lingkungan kerja yang terpisah atau terlalu ramai dll sebagainya
5.Bahaya ergonomi, misalnya yang disebabkan karena ketidaksesuaian antara peralatan
kerja dengan pekerja. Pada bagian cutting di konveksi ibu Nunung potensi bahaya ergonomi
berupa posisi kerja yang selalu duduk membungkuk dan sesekali berdiri.

D.Hazard yang ada di Pabrik Tahu

1. Hazard mekanik : terjepit, tergiling, lantai tempat kerja licin, terkena api yang ada di
dalam drum
2. Hazard ergonomic: postur janggal
3. Hazard biologi: serangga dan jamur
No. Proses Tahapan kegiatan Hazard Skenario kejadian Dampak
1. Proses Menggiling kedelai setelah 4. Hazard 1. Postur janggal 1. Nyeri
penggilingan di diamkan selama 30 mekanik : ketika akan padatanga
kedelai menit kedalam mesin giling terjepit, mengangkat n
5. Hazard ember berisi 2. Sakit DBD
ergonomic: kedelai untuk atau
postur janggal dimasukkan jamuran
6. Hazard biologi: kedalam 3. Cedera
serangga dan mesin giling pada
jamur 2. Pekerja yang pinggang
7. Bahaya idgigit nyamuk ketika
prilaku: dan serangga terjatuh
pekerja tidak dan juga 4. Terpeleset
menggunakan bakteri serta dan jatuh
sandal atau jamur yang
alas kaki dan berada
juga tidak dilingkkungan
menggunkan kerja
APD ketika 3. Pekerja tidak
kerja. menggunakan
8. Hazard APD ketika
mekanik: bekerja
lantai tempat 4. Ketika sedang
kerja licin bekerja
pekerja bias
terjatuh
dikarenakan
lantai tempat
bekerja licin.
9. Hazard fisika: uap panas dan juga hasil perebusan yang bersih ukurangl ebih 80℃-100

10. Hazard kimia :debu yang berada di sekitar pabrik dan di dalam pabrik.

Tabel Hazard
No. Proses Tahapan kegiatan Hazard Skenario kejadian Dampak
2. Proses Merebus hasil dari 1. Hazard 1. Pekerja dapat 1.luka sangat serius
perebusanha penggilingan selama mekanik: terkena api 2. luka bakar
silgilingan kurang lebih 45 menit terkena api yang berada di 3. nyeri pada
dengan menggunakan uap yang ada di dalam drum tangan
panas dan pekerja satunya dalam drum dan juga 4. sakit dbd atau
memonitoring drum yang 2. Hazard terkena penyakit jamuran
berisi uap panas. ergonomic: percikan dari 5. terpeleset
postur janggal hasil ,terjatuh
3. Hazard perebusan
biologis: 2. Postur janggal
nyamuk, ketika akan
serangga dan mengangkat
jamur ember berisi
4. Hazard kedelai untuk
mekanik: dimasuk kan
lantai tempat kedalam
kerja licin. mesin giling
3. Pekerja yang
digigit nyamuk
dan serangga
dan juga
bakteri serta
jamur yang
berada
dilingkungan
pekerja.
4. Ketika sedang
bekerja
pekerja bias
terjatuh
dikarenakan
lantai tempat
bekerja licin
No. Proses Tahapan kegiatan Hazard Skenariokejadian Dampak
3. Proses Merebus hasil dari 1. Hazard fisika: 1. Panas yang 1. Luka yang
perebusan penggilingan selama lebih uap panas dan dihasilkan serius
hasil gilingan kurang 45 menit dengan juga hasil perebusan 2. Luka bakar
menggunakan uap panas perebusan tahu yang 3. Gangguan
dan pekerja satunya yang bersih bersuhu pernafasan
memonitoring drum yang ukurangl ebih kurang lebih dan sesak
berisi uap panas 80℃ -100℃ 80℃ -100℃ nafas
2. Hazard 2. Debu yang 4. Pekerja
kimia :debu berada mengalami
yang berada di dilingkungan batuk-
sekitar pabrik pabrik dan batuk
dan di dalam fentilasi yang
pabrik. kurang bagus
di pabrik
tersebut
INTERVENSI KEPERAWATAN
Data Diagnosa keperawatan NIC NOC
Dari hasil wawancara Perilaku kesehatan (18005) Pengetahuan Prevensi primer :
yang dilakukan cenderung berisiko tentang kesehatan
kelompok didapatkan (1621) Perilaku diet yang Modifikasi prilaku
data : sehat -tentukan motivasi pasien
Para pekerja mengatakan (1633) Partisipasi dalam terhadap perlunya perubahan
selama bekerja belum latiham perilaku
pernah ada yang (1625) Gaya hidup sehat - dukung untuk mengganti
mengalami masalah prilaku kebiasaan yang tidak
kesehatan yang parah. (1603) Prilaku pencarian diinginkan dengan kebiasaan
Para pekerja hanya kesehatan yang diinginkan
mengalami pegal-pegal -bantu untuk berhenti
saja. merokok dengan cara
mengurangi jumlah rokok
Dari hasil observasi -fasilitasi dari keterlibatan
didapatkan data : keluarga dalam proses
 Dalam bekerja modifikasi dengan cara yang
terlihat para tepat
pekerja hanya -berikan penguatan positif
menggunakan pada jadwal yang ditentukan
pakaian seadanya untuk perilaku yang
dengan sandal diinginkan
jepit. Tidak
terlihat Manajemen prilaku
penggunaan APD -berikan pasien tanggung
yang sesuai saat jawab terhadap perilakunya
bekerja. Pekerja sendiri
merasa - komunikasi harapan bahwa
penggunaan APD pasien tetap dapat mengontrol
saat bekerja perilakunya
menghambat dan -batasi rutinitas
ribet. -gunakan kesehatan rutin
 Perilaku para yang konsisten sebagai alat
pekerja yang untuk menetapkan rutinitas
merokok saat tersebut
bekerja -tingkatkan aktivitas fisik
 Saat observasi dengan cara yang tepat
ditemukan adanya -hindari mendebat pasien
hazard biologi
seperti nyamuk, Bantuan menghentikan rokok
lalat, ataupun -catat status merokok saat ini
tikus di dalam dan riwayat merokok
pabrik. Terdapat -tentukan kesiapan pasien
jamur hamper untuk belajar
diseluruh area -berikan saran yang konsisten
tembok ruangan. dan jelas untuk berhenti
 Tidak ada tempat merokok
khusus memotong -pantau kesiapan pasien untuk
tahu sehingga mencoba berhenti merokok
posisi karyawan - ajarkan pasien mengenai
cara kerja gejala fisik pemutusan kafein
menjadi (sakit kepala, pusing, mual,
membungkukkan iribilitas dan insomnia)
badan saat -yakinkan pasien bahwa
memeras reaching gejala fisik pemutusan nikotin
(saat meraih adalah bersifat sementara
sesuatu diluar -informasikan pasien
jangkauan mengenai produk pengganti
tangan) saat nikotin (permen karet,
memindahkan semprotan hidung, inhaler)
tahu twisting - bantu pasien untuk
(memutar badan) mengidentifikasi aspek
psikososial (perasaan positif
dan negative terkait dengan
merokok)
-bantu pasien untuk
mengembangkan metode
praktis untuk menolak
keinginan merokok
(menghabiskan waktu dengan
teman yang tidak merokok,
sering berada di tempat
dimana merokok tidak
diperbolehkan, latihan
relaksasi)
- berikan dorongan untuk
mempertahan kan gaya hidup
bebas asap rokok

Peningkatan kesadaran diri


-bantu pasien untuk
menyadari bahwa setiap
orang adalah unik
-berbagi observasi atau
pemikiran tentang perilaku
atau respon pasien
-fasilitasi pasien untuk
mengidentifikasi pola respon
yang bisa dilakukan untuk
situasi yang bervariasi
-bantu pasien untuk
mengidentifikasi prioritas
hidup

Peningkatan kesadaran
kesehatan
-gunakan komunikasi yang
sesuai dan jelas
-gunakan bahasa yang
sederhana
-pertimbangkan pengalaman
pasien terkait dengan
perawatan kesehatan, promosi
kesehatan, perlindungan
kesehatan, pencegahan
penyakit, perawatan
kesehatan dan pemeliharaan
serta system navigasi
perawatan kesehatan
-pertimbangkan status
kesadaran kesehatan pasien
diawal kontak melalui
pengkajian informal atau
formal
- sediakan materi informasi
kesehatan yang tertulis yang
mudah dipahami
-evalusasi pemahaman pasien
dengan meminta pasien
mengulang kembali dengan
menggunakan kata
sendiri/memperagakan.
PENUTUP

Kesimpulan dan saran


Kesimpulan
1. Tahapan proses pembuatan tahu adalah pemilihan kedelai, penggilingan kedelai,
perebusan hasil gilingan, penyaring sari dan ampas tahu, pencetak tahu, merebus
tahu.
2. Secara umum pada proses pembuatan tahu ditemukan beberapa hazard di berbagai
aktivitas kegiatan masih banyak resiko yang masih belum dikelola dengan baik
3. Resiko terbesar pada proses pemilihan kedelai adalah prilaku pekerja yang tidak baik
dengan nilai resiko sebesar 500 (very high) disini belum dilakukan pengendalian oleh
pabrik tahu
4. Resiko terbesar pada proses penggilingan kedelai,penyaringan sari dan ampas tahu,
dan mencetak tahu dengan nilai resiko sebesar 900 (very high) disini belum dilakukan
pengendalian oleh pabrik tahu.
5. Pengendalian yang sudah dilakukan oleh pabrik tahu adalah hanya memakai sandal
ketika sedang bekerja, selebihnya pekerja belum pengendalian apapun.

Saran
secara umum,untuk mengelola resiko sampai pada level yang dapat di terima maka perlu
memperhatikan hal hal dibawah ini :

1. Manajemen
-komitmen pemilik tempat kerja terhadap keselamatan dan kesehatan kerja untuk
melingdungi pekerja dari penyakit dari akibat kerja maupun kecelakaan dan mencegah
berbagai keruigian lainnya
-berkoordinasi antara pemilik pabrik tahu dengan puskesmas teruma saat terjadi kecelakaan
maupun gangguan kesehatan pada pekerja

2. Engineering control
-pemeliharaan peralatan kerja seperti (drum untuk memasak tahu,serta pipa-pipa yang
berhubungan,mesin giling,dll)
-seluruh peralatan listrik di maintenance untuk mencegah terjadi kebakaran.

3. Administratif control
-membuat prosedur kerja aman untuk setiap kegiatan pekerjaan sesuai hasil penelitian ini
tentang manejemen resiko
-menempel prosedur kerja di setiap tempat proses agar dapat di lihat oleh para pekerja
-membuat prosedur kerja ketika merasakan sakit untuk berobat ke pukesmas

4. House kipping
-menjaga kebersihan pabrik yang baik
-membuat jadwal untuk membuang sampah supaya sampah di pebrik tidak menumpuk

5. Pengawasan
-pengawasan memastikan perkerja bekerja dengan aman dan menggunakan alat pelindung
diri yang telah disediakan
-melakukan infeksi tempat kerja dan peralatan sebelum mulai bekerja untuk memastikan
lingkungan kerja dan peralatan yang digunakan aman

6. Promosi K3
-melakukan penyuluhan pekerja di pabrik tahu
Melakukan komuniskasi bahaya terhadap pekerja agar pekerj tahu,sadar kemudian menjadi
peduli untuk keselamatan dan kesehatan perkerja
-pemberian training pada pekerja mengenai proses kerja
-memasang poster di setiap kegiatan
-memasang indikator urine untuk melihat perkerja dehidrasi atau tidak

7. Alat pelindung diri


-melengkapi pekerja dengan alat pelindung diri yang sesuai,seperti sarung tangan anti
api,sepatu boot,dan baju untuk bekerja atau naju pelindung
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, umar fahmi. (1993). Upaya kesehatan kerja sector informal di Indonesia.
Jakarta:Depkes RI.

Colling A. David, (1990), Industrial Safety Management and Technology.

Rahayu, S.Endang, dkk (2012) Teknologi Proses Produksi Tahu, Yogyakarta: Kanisius

Suma’mur P. K, (1981), Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan, PT. Toko Gunung
Agung, Jakarta
Muhammad qeis al ghifari (2018) Asuhan keperawatan K3 di home industry, Pabrik Tahu
NR Bandung.