Anda di halaman 1dari 6

KONSEP BEGINNING OF LIFE DAN END OF LIFE

A. Konsep Beginning of Life


Kita mengenal beberapa hipotesis tentang asal usul kehidupan. Perlu
diketahui bahwa hipotesis yang di kemukakkan para ahli tidak terlepas
dari cara penalaran seorang dari zaman ke zaman. Oleh karena itu ada
beberapa hipotesis yang janggal kedengarannya. Sebaliknya ada yang
benar ditinjau dari segi logika. Terlepas dari janggal tidaknya hipotesis
itu, yang terpenting adalah bagaimana mereka sampai pada hipotesis itu
dan adakah fakta yang mendukungnya. menunjukkan bahwa jazad hidup
sebagian besar terdiri dari protein (zat putih telur) yang terurai menjadi
unit yang lebih sederhana ialah asam-asam amino yaitu suatu senyawa
yang mengandung nitrogen; dan bila asam-asam amino dipecah lagi
Sesungguhnya, sebagian besar hipotesis telah ditunjukkan dengan
berbagai contoh pembuktin tentang awal mula kehidupan. Pada tahun
1936, Stanley L. Miller berpaling kembali pada paham generatio
spontanea. Ia menganggap bahwa tidak mustahil hidup ini pernah
berkembang dari zat mati. Kenyataan yang, maka akan dihasilkan CH 4
(metanah), H2O (air), H2 (Hidrogen), dan NH3 (Amonia). Demikian pula
bila senyawa-senaywa sederhana diuraika maka akhirnya diperoleh
unsur-unsur C,H,O, dan N sebagai unsur dasar.

Teori (hipotesis) Tentang Awal Mula Kehidupan di Bumi


1. Hidup berasal dari Tuhan
Pandangan semacam ini kita kenal dengan paham “Penciptaan
Khusus” atau special creation yang mengandung pengertian bahwa
Tuhan langsung turun tangan kemudian menyebabkan atau
menciptakan hidup diatas bumi. Ilmuwan tidak menolak anggapan ini,
akan tetapi sayang, keterangan semacam itu diluar taraf dan batas
ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus berusaha mencari
keterangan dalam taraf dan `lingkungannya sendiri. Karena itu, ilmu
biologi harus mencari jawaban mengenai persoalan bagaimana
kehidupan itu terjadi. Dengan demikian, harus dihindarkan suatu
gambaran tentang “Pekerjaan” “Tuhan yang agak anthopomorfistis”
yang mengibaratkan Tuhan sebagai manusia atau “Tukang”. Karena
itu, perlu dicari suatu penyelesaian yang termasuk taraf ilmu
pengetahuan.

2. Hidup berasal dari planet lain.


Demikian pernah ditemukanoleh ahli tertentu. Ada pemikiran
bahwa ada makhluk tertentu (cosmozoa) yang berasal dari planet lain
masuk ke bumi. Selanjutnya hidup dan berkembang biak. Hipotesis
semacam ini belum dapat didukung oleh bukti-bulti yang jelas. Oleh
karena itu pernyataan tersebut belum merupakan jawaban terhadap
persoalan kita. Nampak bahwa jawaban tersebut sekedar
memindahkan persoalan kita ke planet yang lain. Kalau hidup itu
berasal dari planet lain, maka diplanet lain itu darimana datangnya.
Demikian tak aka nada habis-habisnya kita bertanya.
3. Hidup terjadinya secara tiba-tiba atau spontan.
Suatu pandangan yang dikemukakan oleh filsuf terkenal sebelum
masehi, Aristoteles. Akibat kharismanya, paham ini dapat bertahan
berabad-abad lamanya. Ia mengemukakan bahwa hidup ini bermula
dari benda mati yang secara menjadi jasad hidup. Karenanya faham
ini disama artikan dengan abiogenesis yang berarti hidup berasal dari
benda mati. Hipotesis ini artinya tenggelam setelah munculnya para
ilmuan dengan pola pikir yang lebih rasional.
4. Hidup berasal dari telur.
Francesco Redi tahun 1625-1697 demikian nama ilmuan yang
berhasil menumbangkan hipotesis aristoteles. Ia mengamati bahwa
hadirnya larva atau ulat yang ada di dalam sepotong daging karena
memang di dalamnya telah mendapat sejumlah telur lalat. Apabila
lalat-lalat tak meletakkan telur disitu, nisvaya daging tadi tidak akan
tumbuh ulatnya. Akhirnya, sampailah ia pada kesimpulan bahwa
hidup berasal dari telur, lahirlah paham omne vivum ex ovo.

B. Konsep End of Life


Kematian adalah suatu pengalaman tersendiri, dimana setiap individu akan mengalami
atau menghadapinya seorang diri, sesuatu yang tidak dapat dihindari, dan merupakan suatu
kehilangan. Menurut Dadang Hawari (1977,53) “orang yang mengalami penyakit terminal
dan menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual,
dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang kematiannya
perlu mendapatkan perhatian khusus”

Pasien terminal biasanya mengalami rasa depresi yang berat, perasaan marah akibat
ketidakberdayaan dan keputusasaan. Dalam fase akhir kehidupannya ini, pasien tersebut
selalu berada di samping perawat.
Pandangan tentang kematian seiring waktu, pandangn masyarakat tentang kematian telah
mengalami perubahan. Dahulu kematian cenderung dianggap sebagai hal yang menakutkan
dan tabu. Kini,kematian telah dipandang sebagai hal yang wajar dan merupakan proses
normal kehidupan.

Macam-macam istilah dalam kematian


1. Mati somatis
Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan
saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan secara menetap
(ireversibel).Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak
teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerakan pernapasan dan suara
pernapasan tidak terdengar pada auskultasi.
2. Mati suri
Mati suri (near-death experience (NDE), suspend animation, apparent death) adalah
terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat kedokteran
sederhana.Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga
sistem tersebut masih berfungsi.Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat
tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.
3. Mati serebral
Adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel, kecuali batang otak dan
serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskuler
masih berfungsi dengan bantuan alat.
4. Mati otak (batang otak)
Adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel,
termasuk batang otak dan serebelum.Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak),
maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi,
sehingga alat bantu dapat dihentikan.

5. Mati seluler (mati molekuler)


Adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah
kematian somatis.Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda,
sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak
bersamaan.Pengertian ini penting dalam transplantasi organ.Sebagai gambaran dapat
dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam empat menit,
otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira dua jam pascamati dan mengalami
mati seluler setelah empat jam, dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0,1
persen atau penyuntikan sulfas atropin 1 persen kedalam kamera okuli anterior,
pemberian pilokarpin 1 persen atau fisostigmin 0,5 persen akan mengakibatkan miosis
hingga 20 jam pascamati.Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam
pascamati dengan cara menyuntikkan subkutan pilokarpin 2 persen atau asetil kolin 20
persen, spermatozoa masih dapat bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis, kornea
masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai
enam jam pasca-mati.

Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian


Ada 4 type dari perjalanan proses kematian, yaitu :
 Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya perubahan yang cepat
dari fase akut ke kronik.
 Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, baisanya terjadi pada kondisi
penyakit yang kronik.
 Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti, biasanya terjadi pada
pasien dengan operasi radikal karena adanya kanker
 Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu, terjadi pada pasien dengan sakit kronik
dan telah berjalan lama.

Tanda-tanda Klinis Menjelang Kematian


 Kehilangan Tonus Otot, ditandai :
 Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
 Kesulitan dalam berbicara, proses menelan dan hilangnya reflek menelan.
 Penurunan kegiatan traktus gastrointestinal, ditandai: nausea, muntah, perut
kembung, obstipasi dan sebagainya.
 Penurunan control spinkter urinari dan rectal.
 Gerakan tubuh yang terbatas.
 Kelambatan dalam Sirkulasi, ditandai :
 Kemunduran dalam sensasi.
 Cyanosis pada daerah ekstermitas.
 Kulit dingin, pertama kali pada daerah kaki, kemudian tangan, telinga dan hidung.
 Perubahan-perubahan dalam tanda-tanda vital :
 Nadi lambat dan lemah.
 Tekanan darah turun.
 Pernafasan cepat, cepat dangkal dan tidak teratur.
 Gangguan Sensoria : Penglihatan kabur.
 Gangguan penciuman dan perabaan.

Tanda-tanda Meninggal secara klinis


Secara tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui perubahan-
perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada tahun 1968, World Medical Assembly,
menetapkan beberapa petunjuk tentang indikasi kematian, yaitu :
a) Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
b) Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan.
c) Tidak ada reflek.
d) Gambaran mendatar pada EKG.