Anda di halaman 1dari 30

TUGAS MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

“KASUS KERJASAMA TIM DAN KOLABORASI ANTAR PROFESI ”

OLEH :

KELOMPOK IV

Ni Wayan Yamini P07124217 006


Ni Komang Kumari Misel Aida P07124217 012
I Gusti Ayu Bitha Maha Anjela P07124217 016
Nikita Crhoasita Mba’u P07124217 020
Putu Nanda Kartika Sari P07124217 023
Kade Liska Putraning Ayu P07124217 044
Ni Putu Sri Supitadewi P07124217 048
Theresia Rambu Melani M. P. P07124217 049
Ni Luh Sarinadi P07124217 055
Ni Made Nia Lusyawati P07124217 064

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN
PRODI SARJANA TERAPAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat-NYAlah kami dapat menyelesaikan Tugas Makalah Mata Kuliah
asuhan Kebidanan Komunitas “Kasus Kerjasama Tim dan Kolaborasi Antar
Profesi”.

Dalam penyusunan dan penulisan tugas atau makalah ini,tidak sedikit


hambatan yang penulis hadapi. Sehingga dalam penulisan makalah ini penulis
merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik dalam penulisan maupun
materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi menyempurnakan
pembuatan makalah ini.

Dalam pembuatan makalah ini penulis juga menyampaikan ucapan


terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam
memberikan informasi tentang materi yang terkait.

Semoga materi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan dan menjadi
motifasi,khususnya bagi penulis.

Denpasar, Februari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

halaman

Kata Pengantar ................................................................................................... i

Daftar Isi.............................................................................................................. ii

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 3
C. Tujuan...................................................................................................... 3
D. Manfaat................................................................................................... 3

BAB II Kajian Teori........................................................................................ 3


A. Definisi.................................................................................................. 4
B. Komponen yang Dibutuhkan untuk Tercapainya Suatu Kerjasama Rim
yang Efektif ............................................................................................ 6
C. Model-Model / Jenis Kolaborasi Tim Kesehatan ................................... 6
D. Prinsip-Prinsip Kolaborasi Tim Kesehatan............................................. 7
E. Pentingnya Kolaborasi Tim Kesehatan dan Patient safety...................... 8
F. Manfaat Kolaborasi Tim Kesehatan........................................................ 8
G. Cara Membangun dan Mempertahankan Kolaborasi Tim Kesehatanyang
Efektif...................................................................................................... 9
H. Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia dan Subsistem Upaya Kesehatan
................................................................................................................. 9

BAB III Kasus dan Pembahasan


A. Kasus Materi Kerjasama Tim dan Kolaborasi Antar Profesi ................. 12
B. Penerapan Nilai/Etik, Peran Dan Tanggung Jawab, Komunikasi Serta
Kerjasama Antar Profesi Kesehatan Dengan Melibatkan Lintas Sektor. 12
C. Penanganan Kasus Disimulasikan Melalui Role Play Oleh Kelompok. . 17

ii
BAB IV Penutup
A. Kesimpulan............................................................................................25
B. Saran.......................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Praktik kolaborasi yang efektif merupakan prinsip kunci dalam pelayanan


kesehatan. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan akan terjadi jika profesi
kesehatan interdisiplin saling bekerjasama/berkolaborasi dalam tim.
Keterampilan Kerjasama tim merupakan komponen penting dari kolaborasi
interprofessional yang efektif. Kegagalan komunikasi dan perpecahan di
fungsi tim telah dikaitkan dengan kesalahan medis. Kerjasama tim dan
komunikasi yang efektif merupakan komponen penting untuk pelayanan yang
berkualitas tinggi dan perawatan pasien yang aman. Enam asosiasi sekolah
profesi kesehatan nasional di Kanada dan Amerika Serikat membentuk
kolaborasi untuk mempromosikan pendidikan interprofessional, yang
dinamakan the Interprofessional Education Collaborative (IPEC). Kerangka
kompetensi interprofessional yang dikembangkan IPEC memasukkan
keterampilan kerja sama tim sebagai kompetensi dasar untuk kolaborasi
interprofessional yang sukses
Masalah kesehatan dan tantangan yang dihadapipun semakin kompleks
sehingga butuh penyelesaian yang melibatkan lebih dari satu profesi melalui
praktik kolaborasi. Praktik kolaborasi di dunia kesehatan terjadi ketika petugas
kesehatan dari berbagai latar belakang profesional memberikan pelayanan
yang komprehensif dengan bekerjasama untuk memberikan pelayanan
kesehatan. Tim pelayanan kesehatan yang terdiri dari berbagai ahli yang
bekerjasama secara sinergis, terstruktur, dan sistematis sesuai peran dan
fungsinya masing-masing mampu memberikan pelayanan kesehatan yang
optimal.
World Health Organization (WHO) menyajikan hasil penelitian di 42
negara tentang dampak dari penerapan collaborative practice dalam dunia
kesehatan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa
collaborative practice dapat meningkatkan keterjangkauan serta koordinasi

1
layanan kesehatan, penggunaan sumber daya klinis spesifik yang sesuai,
outcome kesehatan bagi penyakit kronis, dan pelayanan serta keselamatan
pasien. WHO juga menjelaskan collaborative practice dapat menurunkan total
komplikasi yang dialami pasien, jangka waktu rawat inap, ketegangan dan
konflik di antara pemberi layanan (caregivers), dan biaya rumah sakit, rata-
rata clinical error, dan rata-rata jumlah kematian pasien
Salah satu upaya dalam mewujudkan kolaborasi yang efektif antar profesi
adalah dengan diadakannya praktik kolaborasi sejak dini melalui proses
pembelajaran. Kemampuan bekerjasama secara interprofesi (interprofessional
teamwork) tidak muncul begitu saja, melainkan harus ditemukan dan dilatih
sejak dini mulai dari tahap perkuliahan agar mahasiswa mempunyai bekal
pengetahuan dan pengalaman mengenai cara bekerjasama secara tim yang
baik dengan profesi lain sebelum mereka terjun ke dunia kerja. World Health
Organization (WHO) mencetuskan model pembelajaran interprofesi atau
Interprofesional Education sebagai sistem pendidikan yang terintegrasi untuk
menyiapkan praktek kolaborasi. Model pembelajaran pendidikan interprofesi
atau Interprofessional Education yang selanjutnya disebut IPE.
IPE terjadi ketika dua atau lebih mahasiswa profesi kesehatan belajar
dengan dari dan tentang satu sama lain untuk meningkatkan kemampuan
kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan sebagai anggota tim
interprofessional masa depan. IPE merupakan proses di mana sekelompok
mahasiswa dengan latar belakang berbeda belajar bersama dalam jangka
waktu tertentu pada masa pendidikan, untuk berkolaborasi dalam
menyediakan pelayanan preventif, promotif, rehabilitatif, dan pelayanan
kesehatan lainnya. IPE dalam dunia kesehatan merupakan bentuk perawatan
kesehatan dari berbagai profesi kesehatan yang memiliki tujuan bersama
dengan sumber daya dan tanggung jawab untuk pasien.
Mahasiswa akan terlatih untuk mengambil bagian di dalam sebuah tim,
bagaimana bisa berkontribusi, mendengarkan pendapat, berdiskusi demi
sebuah tujuan, menumbuhkan rasa saling percaya, bukan hanya dengan
mahasiswa jurusan yang sama tetapi juga dengan mahasiswa program

2
kesehatan yang lain melalui IPE. IPE juga dapat mengubah sikap mahasiswa
kesehatan untuk menurunkan stereotip antar profesi.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara kelompok dalam menerapkan IPE pada kasus


kerjasama tim dan kolaborasi antar profesi dengan
mempertimbangkan nilai/etik, peran dan tanggungjawab, komunikasi,
serta kerjasama antar profesi kesehatan dengan melibatkan lintas
sektor.

C. Tujuan

Untuk mengetahui penerapan IPE dalam kerjasama tim dan kolaborasi


antar profesi dengan mempertimbangkan nilai/etik, peran dan
tanggungjawab, komunikasi, serta kerjasama antar profesi kesehatan
dengan melibatkan lintas sektor.

D. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa

Agar mahasiswa mampu menerapkan IPE dalam kerjasama tim dan


kolaborasi antar profesi dengan mempertimbangkan nilai/etik, peran dan
tanggungjawab, komunikasi, serta kerjasama antar profesi kesehatan
dengan melibatkan lintas sektor.

2. Bagi pembaca

Untuk mengetahui cara penerapan IPE dalam kerjasama tim dan


kolaborasi antar profesi dengan mempertimbangkan nilai/etik, peran dan
tanggungjawab, komunikasi, serta kerjasama antar profesi kesehatan
dengan melibatkan lintas sektor.

3
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Definisi
Tim menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu
perkumpulan dari beberapa orang yang membentuk suatu kelompok.
Sebuah literatur organisasi mendefinisikan sebuah tim merupakan
kumpulan individu yang saling ketergantungan pada tugas, tujuan, setelan,
campuran profesi di tim (CanadianHealth Services ResearchFoundation.,
2006).  Dalam suatu tim, terdapat suatu hubungan kerjasama dari masing-
masing anggota dan memiliki tanggung jawab untuk mencapai suatu
keberhasilan atau suatu tujuan yang telah diciptakan dan disetujui
bersama.
Kolaborasi adalah suatu inisiasi atau kegiatan yang bertujuan untuk
memperkuat hubungan antar pekerja yang memiliki profesi berbeda yang
saling bekerja sama dalam kemitraan yang ditandai dengan adanya tujuan
yang hendak dicapai bersama; pengakuan dan penghormatan terhadap
kekuatan dan perbedaan masing-masing; adil dan efektif dalam
pengambilan keputusan; terjalinnya komunikasi yang jelas dan
teratur. Berdasarkan kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah
bekerja bersama khususnya dalam usaha penggambungkan pemikiran.
Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk
menggambarkan suatu hubungan kerjasama yang dilakukan pihak tertentu.
Kolaborasi didasari prinsip mengenai kebersamaan, kesetaraan, tanggung
jawab, dan tanggung gugat. Kolaborasi menurut ANA di dalam Novita
adalah sebagai hubungan rekan sejati dimana masing-masing pihak
menghargai kekuasaan pihak lain, dengan mengenal dan menerima
lingkup kegiatan dan tanggung jawab masing-masing yang terpisah
maupun bersama, saling melindungi kepentingan masing-masing dan
adanya tujuan bersama yang diketahui kedua belah pihak. Kolaborasi di
dalam pelayanan kesehatan didefinisikan sebagai asumsi peran yang

4
melengkapi profesionalitas pelayanan kesehatan dan bekerja bersama-
sama dengan kooperatif, berbagi tanggung jawab untuk memecahkan
masalah dan membuat keputusan untuk formulasi dan perencanaan
pelayanan pasien.
Kerjasama Tim (teamwork) adalah interaksi atau hubungan dari dua
atau lebih profesional kesehatan yang bekerja saling bergantung untuk
memberikan perawatan untuk pasien (Canadian Health Services Research
Foundation, 2006). Tujuan dari kerjasama ini untuk memberikan
perawatan kepada pasien, berbagi informasi untuk mengambil keputusan
bersama, dan mengetahui waktu yang optimal untuk melakukan kerjasama
dalam perawatan pasien. Kerjasama tim adalah interaksi atau hubungan
dua atau lebih tenaga kesehatan yang bekerja secara ketergantungan untuk
menyediakan pelayanan kepada pasien. Kerjasama tim mengartikan bahwa
anggota tim saling bergantung, melihat diri sendiri sebagai pekerjaan
kolaborasi untuk pelayanan pasien, mengambil keuntungan dari pekerjaan
kolaboratif untuk menyediakan pelayanan pasien, membagi informasi
mengenai pembagian tugas dalam pembuatan keputusan, dan mengetahui
kapan kerjasama harus digunakan untuk mengoptimalkan pelayanan
kepada pasien.
Kolaborasi tim kesehatan adalah hubungan kerja yang memiliki
tanggung jawab bersama dengan penyedia layanan kesehatan lain dalam
pemberian (penyediaan) asuhan pasien (ANA, 1992 dalam Kozier,
Fundamental Keperawatan). Kolaborasi kesehatan merupakan aktivitas
yang bertujuan untuk memperkuat hubungan diantara profesi kesehatan
yang berbeda.  Kolaborasi tim kesehatan terdiri dari berbagai profesi
kesehatan seperti dokter, perawat, psikiater, ahli gizi, farmasi, pendidik di
bidang kesehatan, dan pekerja sosial. Tujuan utama dari kolaborasi tim
kesehatan adalah memberikan pelayanan yang tepat, oleh tim kesehatan
yang tepat, di waktu yang tepat, serta di tempat yang tepat.

5
B. Komponen yang Dibutuhkan untuk Tercapainya Suatu Kerjasama
Tim yang Efektif
Elemen penting dalam kolaborasi tim kesehatan yaitu keterampilan
komunikasi yang efektif, saling menghargai, rasa percaya, dan proses
pembuatan keputusan (Kozier, 2010). Konsep kolaborasi tim kesehatan itu
sendiri merupakan konsep hubungan kerjasama yang kompleks dan
membutuhkan pertukaran pengetahuan yang berorientasi pada pelayanan
kesehatan untuk pasien.
Menurut O’Daniel, komponen kerjasama tim yang efektif, yaitu
komunikasi terbuka, lingkungan yang leluasa, memiliki tujuan yang jelas,
peran dan tugas yang jelas bagi angota-anggota tim, saling menghormati,
berbagi tanggung jawab demi kesuksesan tim, keseimbangan patisipasi
setiap anggota dalam mengemban tugas, pengakuan dan pengolahan
konflik, spesifikasi yang jelas mengenai wewenang dan akuntabilitas,
mengetahui secara jelas prosedur pengambilan keputusan, berkomunikasi
dan berbagi informasi secara teratur dan rutin, lingkungan yang
mendukung (termasuk akses ke sumber daya yang dibutuhkan), dan
mekanisme untuk mengevaluasi hasil dan menyesuaikan sesuai peraturan
yang berlaku.

C. Model-model/ Jenis Kolaborasi Tim Kesehatan


Berikut merupakan bentuk/jenis kolaborasi tim kesehatan,
diantaranya:
1. Fully Integrated Major
Bentuk kolaborasi yang setiap bagian dari tim memiliki tanggung
jawab dan kontribusi yang sama untuk tujuan yang sama.
2. Partially Integrated Major
Bentuk kolaborasi yang setiap anggota dari tim memiliki tanggung
jawab yang berbeda tetapi tetap memiliki tujuan bersama
3.  Joint Program Office
Bentuk kolaborasi yang tidak memiliki tujuan bersama tetapi memiliki
hubungan pekerjaan yang menguntungkan bila dikerjakan bersama.

6
4. Joint Partnership with Affiliated Programming
Kerja sama untuk memberikan jasa dan umumnya tidak mencari
keuntungan antara satu dan lainnya.
5.  Joint Partnership for Issue Advocacy
Bentuk kolaborasi yang memiliki misi jangka panjang tapi dengan
tujuan jangka pendek, namun tidak harus membentuk tim yang baru.

Menurut Family Health Teams (2005), terdapat 12 jenis kolaborasi


tim, yaitu perawatan reproduktif primer (misalnya, pre-natal, kebidanan,
pasca persalinan, dan perawatan bayi baru lahir); perawatan kesehatan
mental primer, perawatan paliatif primer; in-home/fasilitas penggunaan
yang mendukung pelayanan; pelayanan koordinasi/carenavigation;
pendidikan pasien dan pencegahan; pre-natal, kebidanan, pasca
melahirkan, dan perawatan bayi baru lahir; program penanganan penyakit
kronis – diabetes, penyakit jantung, obesitas, arthritis, asma, dan depresi;
promosi kesehatan dan pencegahan penyakit; kesehatan ibu/anak;
kesehatan kerja; kesehatan lansia; pengobatan kecanduan; pelayanan
rehabilitas; dan pengasuhan.

D. Prinsip-prinsip Kolaborasi Tim Kesehatan


1. Patient-centered Care
Prinsip ini lebih mengutamakan kepentingan dan kebutuhan pasien.
Pasien dan keluarga merupakan pemberi keputusan dalam masalah
kesehatannya.
2. Recognition of patient-physician relationship
Kepercayaan dan berperilaku sesuai dengan kode etik dan menghargai
satu sama lain.
3. Physician as theclinical leader
Pemimpin yang baik dalam pengambilan keputusan terutama dalam
kasus yang bersifat darurat.
4. Mutual respect and trust
Saling percaya dengan memahami pembagian tugas dan
kompetensinya masing-masing.

7
E. Pentingnya Kolaborasi Tim Kesehatan dan Patient Safety
Kolaborasi tim kesehatan sangatlah penting karena masing-masing
tenaga kesehatan memiliki pengetahuan, keterampilan, kemampuan,
keahlian, dan pengalaman yang berbeda. Dalam kolaborasi tim kesehatan,
mempunyai tujuan yang sama yaitu sebuah keselamatan untuk pasien.
Selain itu, kolaborasi tim kesehatan ini dapat meningkatkan performa di
berbagai aspek yang berkaitan dengan sistem pelayanan kesehatan. Semua
tenaga kesehatan dituntut untuk memiliki kualifikasi baik pada bidangnya
masing-masing sehingga dapat mengurangi faktor kesalahan manusia
dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Kolaborasi penting bagi terlaksananya patients afety, seperti:
1. Pelayanan Kesehatan Tidak Mungkin Dilakukan oleh 1 Tenaga Medis
2. Meningkatnya Kesadaran Pasien akan Kesehatan
3. Dapat Mengevaluasi Kesalahan yang Pernah Dilakukan agar Tidak
Terulang
4. Dapat Meminimalisir Kesalahan
5. Pasien akan Dapat Berdiskusi dan Berkomunikasi dengan Baik untuk
Dapat Menyampaikan Keinginannya

F. Manfaat Kolaborasi Tim Kesehatan


Manfaat dari kolaborasi tim kesehatan, yaitu
1. Kemampuan dari pelayanan kesehatan yang berbeda dapat
terintegrasikan sehingga terbentuk tim yang fungsional.
2. Kualitas pelayanan kesehatan dan jumlah penawaran pelayanan
meningkat sehingga masyarakat mudah menjangkau pelayanan
kesehatan.
3. Bagi tim medis dapat saling berbagi pengetahuan dari profesi kesehatan
lainnya dan menciptakan kerjasama tim yang kompak.
4. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan
manggabungkan keahlian unik profesional.

8
5. Memaksimalkan produktivitas serta efektivitas dan efisiensi sumber
daya.
6. Meningkatkan kepuasan profesionalisme, loyalitas, dan kepuasan kerja.
7. Peningkatan akses ke berbagai pelayanan kesehatan.
8. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan kesehatan.
9. Memberikan kejelasan peran dalam berinteraksi antar tenaga kesehatan
profesional sehingga dapat saling menghormati dan bekerja sama.
10. Untuk tim kesehatan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman.

G. Cara Membangun dan Mempertahankan Kolaborasi Tim Kesehatan


yang Efektif
Membangun dan mempertahankan kolaborasi tim kesehatan sangat
diperlukan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien
dengan optimal. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
membangun dan mempertahankan kolaborasi tim kesehatan yaitu :
1. Pastikan semua anggota tim dapat bertemu secara berkala untuk
mendiskusikan agenda kedepan.
2. Pastikan semua tim kesehatan terlibat dalam setiap rencana.
3. Saling mengenal antar anggota tim agar dapat berkontribusi dengan
baik.
4. Komunikasi harus terjalin dengan baik dan rutin dilakukan.
5. Saling percaya, mendukung, dan menghormati.
6. Melakukan evaluasi secara berkala untuk memperbaiki keadaan dimasa
yang akan datang.
7. Menghargai setiap pendapat dan kontribusi semua anggota tim.

H. Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia dan Subsistem Upaya


Kesehatan
Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia ialah suatu tatanan yang
menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling
mendukung guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-

9
tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti yang dimaksud
dalam pembukaan UUD 1945. Dalam system pelayanan kesehatan dapat
mencakup pelayanan dokter, pelayanan keperawatan dan pelayanan
kesehatan masyarakat.Dokter merupakan subsistem dari pelayanan
kesehatan.Subsistem pelayanan kesehatan tersebut memiliki tujuan
masing-masing dengan tidak meninggalkan tujuan umum dari pelayanan
kesehatan.
Dalam pelayanan kesehatan terdapat tiga bentuk
yaitu, primaryhealthcare, (pelayanan kesehatan tingkat
pertama),secondaryhealthcare (pelayanan kesehatan tingkat kedua),
dan tertiar yhealthcare (pelayanan kesehatan tingkat ketiga).
1. Primary Health Care (Pelayanan kesehatan tingkat pertama)
Pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat dasar
dan dilakukan bersama masyarakat dan dimotori oleh Dokter Umum
(Tenaga Medis), Perawat Mantri (Tenaga Paramedis).Pelayanan primer
ini merupakan pelayanan yang pertama kali diperlukan masyarakat pada
saat mereka mengalami ganggunan kesehatan atau
kecelakaan. Contohnya: Puskesmas, Puskesmas keliling, klinik.
2. Secondary Health Care (Pelayanan kesehatan tingkat kedua)
Pelayanan yang lebih bersifat spesialis dan bahkan kadang kala
pelayanan subspesialis, tetapi masih terbatas.Diperlukan untuk
kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap, yang sudah
tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer.Pelayanan
kesehatan dilakukan oleh Dokter Spesialis dan Dokter
Subspesialisterbatas.Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe
D.
3. Tertiary Health Care (Pelayanan kesehatan tingkat ketiga)
Pelayanan Kesehatan yang lebih mengutamakan pelayanan
subspesialis serta subspesialisluas.Diperlukan untuk kelompok
masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh
pelayanan kesehatan sekunder.Pelayanan kesehatan dilakukan oleh

10
Dokter Subspesialis dan Dokter Subspesialis Luas. Contohnya: Rumah
Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.

Contoh kolaborasi tim kesehatan pada tingkat primer atau strata satu
adalah kolaborasi tim kesehatan pada sebuah PUSKESMAS yang terdiri
atas dokter umum, dokter gigi, perawat, dan bidan. Suatu ketika saat ada
seorang pasien yang akan melahirkan, terdapat kolaborasi tim kesehatan
antara bidan dan perawat dalam menangani kasus tersebut.

11
BAB III

KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Kasus Materi Kerjasama Tim dan Kolaborasi Antar Profesi


Tuan A, usia 30 tahun, sudah berkeluarga sejak 6 tahun yang lalu, istri
bernama Ny C, usia 28 tahun. Keluarga memiliki 2 anak, anak laki-laki
bernama Ax, usia 5 tahun dan yang perempuan bernama Ay, usia 3 tahun.
Sementara ny C dalam kondisi hamil 4 bulan , istri tidak bekerja (sebagai ibu
rumah tangga). Tn A bekerja sebagai karyawan swasta dengan penghasilan Rp
1.300.000,-per bulan. Ax saat ini sekolah di TK kelas nol besar. Anak ke dua
berat badannya 11 kg. Tuan A menderita batuk-batuk, jugaperokok sejak usia
17 tahun. Rumah ukuran 36 meter persegi dengan kondisi rumah kotor, di
dalam rumah gelap dan ventilasi tidak lancar. Sekelompok mahasiswa
(keperawatan, kebidanan, gizi, kesling dan keperawatan gigi) yang sedang
praktik terpadu di masyarakat. Diarahkan oleh puskesmas untuk melakukan
pembinaan terhadap keluarga Tuan A.

B. Penerapan nilai/etik, peran dan tanggung jawab, komunikasi serta


kerjasama antar profesi kesehatan dengan melibatkan lintas sektor
a. Tanggung jawab
Dalam kasus ini setiap profesi memiliki tanggung jawabnya masing-
masing yaitu:
1) Bidan
Dalam kasus ini, bidan memiliki tanggung jawab untuk menanyakan
kondisi Ny “C” apakah ada keluhan yang dialami selama kehamilan yang
sudah memasuki TW II, selain itu bidan juga melakukan pemeriksaan
ANC pada Ny “C” untuk memastikan kondisi ibu dan janin dalam
keadaan baik. Selain itu bidan juga memberikan KIE pada ibu mengenai
tanda bahaya TW II seperti preeklamsia, perdarahan pervaginam,
ketuban pecah dini, dan lain sebagainya. Dan bidan juga menyarankan
ibu untuk rutin melakukan pemeriksaan ANC terpadu minimal 4x selama

12
kehamilan yaitu satu kali pada trimester I, satu kali pada trimester II, dan
dua kali pada trimester III, dan menyarankan ibu untuk rutin minum
penambah darah (Fe) selama kehamilan untuk mencegah ibu terkena
anemia dan tablet kalsium untuk tulang dan gigi serta mencegah
terjadinya preeklamsia pada ibu hamil. Bidan juga bertanggung jawab
untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Ny “C”
apakah sudah sesuai dengan usianya dan apakah status imunisasinya
sudah lengkap. Selain itu bidan juga memberikan KIE kepada suami
untuk tidak merokok dekat ibu dan anak-anak, apabila merokok
diharapkan di luar ruangan dan mengganti pakaian serta menggosok gigi
setelah merokok sebelum dekat dengan ibu dan anak.
2) Keperawatan
Dalam kasus ini, perawat memiliki tanggung jawab untuk memberikan
edukasi mengenai bahaya rokok bagi kesehatan dan informasi mengenai
zat bahaya yang terkandung dalam rokok. Selain itu perawat juga
mengkaji penyebab batuk yang diderita Tn. “A” dan menyarankan untuk
memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapat terapi lebih
lanjut.
3) Kesehatan Lingkungan
Dalam kasus ini, profesi kesehatan lingkungan bertanggung jawab
melakukan pengkajian kondisi lingkungan rumah pasien dan memberikan
pengetahuan mengenai pentingnya hidup bersih dan sehat. Selain itu
profesi kesling juga dapat memberikan KIE mengenai kriteria rumah
sehat dimana rumah harus memiliki yang pertama ventilasi udara,
ventilasi udara yang cukup perlu agar kadar oksigen di dalam rumah
tetap terjaga dan kelembapan rumah terjaga. Ventilasi udara dapat dari
jendela dan meletakkan tumbuhan di dekat jendela. Yang kedua
pencahayaan, rumah sehat harus memiliki pencahayaan yang cukup.
Rumah yang kekurangan cahaya akan menjadi lembab dan tidak nyaman
serta rawan terhadap bibit penyakit. Pencahayaan dapat diperoleh dari
jendela dan genteng kaca. Yang ketiga lantai, lantai kedap air juga
merupakan salah satu kriteria rumah sehat. Bahannya dapat berupa ubin,

13
semen, keramik. Yang keempat atap dan langit-langit, ketinggian langit-
langit juga harus diperhatikan. Apabila langit-langit terlalu pendek bisa
menyebabkan ruangan terasa panas dan untuk atap sebaiknya
menghindari penggunaan seng atau asbes karena dapat menyebabkan
hawa ruangan menjadi panas. Kelima, pembuangan limbah. Setiap rumah
harus memiliki septic tank dan pembuangan limbah air yang tidak
mencemarkan tanah dan air tanah serta tidak berbau busuk. Setiap rumah
juga harus memiliki tempat pembuangan sampah yang tertutup agar tidak
mencemari lingkungan sekitarnya. Keenam air bersih, rumah sehat harus
memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan minum, mandi, mecuci,
dll. Ketujuh yaitu polusi dan kontaminasi, polusi yang paling banyak
dihasilkan rumah berasal dari dapur. Maka dari itu sebaiknya memiliki
pembuangan asap agar tidak mencemari ruangan dan hindari cat dari
bahan berbahaya dan berpotensi mengganggu pernafasan penghuninya.
Selain itu profesi kesling juga menyarankan keluarga Tn “A” untuk
menerapkan gaya hidup aktif dengan berolahraga secara teratur untuk
menjaga tubuh tetap sehat.
4) Gizi
Dalam kasus ini, profesi gizi memiliki tanggung jawab memberikan
pengetahuan kepada ibu dan keluarga mengenai pemenuhan nutrisi yang
baik yaitu dengan gizi seimbang. Dimana asupan gizi seimbang berperan
penting dalam menunjang kesehatan ibu hamil dan keluarga. Untuk
meperoleh gizi seimbang, Ny “C” dan keluarga perlu mengonsumsi
berbagai kelompok makanan yang berbeda dimana makanan tersebut
idealnya terdiri dari beragam jenis nutrisi termasuk protein, karbohidrat,
lemak, serat, mineral dan vitamin.
Panduan piring makan untuk memenuhi gizi seimbang dapat seperti
setengah dari piring makan terdiri dari sayur dan buah-buahan dengan
beragam jenis dan warna. Seperempat dari piring makan diisi dengan
protein seperti ikan, ayam atau kacang-kacangan. Seperempat dari piring
makan dipenuhi dengan karbohidrat dari biji-bijian utuh seperti nasi,
gandum, jagung. Konsumsi air putih yang cukup, konsumsi susu hanya

14
1-2 gelas perhari, jus satu gelas perhari dan hindari minuman dengan
kandungan gula dan soda yang tinggi.
5) Keperawatan gigi
Dalam kasus ini, perawat gigi memiliki tanggung jawab untuk
memeriksa kondisi kesehatan gigi dan mulut Ny. “C” serta keluarga.
Dimana kesehatan gigi dan mulut sangat penting karena gigi dan gusi
yang rusak dan tidak dirawat akan menyebabkan sakit, gangguan
pengunyahan dan dapat mengganggu kesehatan tubuh lainnya. Kesehatan
gigi dan mulut pada ibu hamil sangat penting dimana bila ibu hamil
mengalami masalah pada gigi dan gusi akan berpengaruh pada
kehamilannya dan dapat menyebabkan berbagai masalah seperti
kekurangan gizi karena ibu susah mengunyah makanan, abortus/bayi
premature karena gigi yang rusak parah dapat merangsang keluarnya
hormon prostaglandin yang akan merangsang timbulnya kontraksi uterus.
Maka dari itu perawat gigi menyarankan Ny “C” untuk menjaga
kesehatan gigi dan mulut dengan cara rutin menggosok gigi.
6) Lintas Sektor
Dalam kasus ini, peranan lintas sektor sangat penting dimana lintas
sektor perlu membantu dalam pemenuhan kriteria rumah sehat. Dimana
perlu adanya bantuan dari pemerintah setempat untuk memberikan rumah
yang lebih layak untuk keluarga Tn “A” karena dilihat dari penghasilan
Tn “A” yang hanya Rp. 1.300.000 per bulan tidak cukup jika harus
membangun rumah yang lebih layak.

b. Keadilan
Dalam kasus ini, seluruh profesi kesehatan harus bersikap adil dalam
memberikan pelayanan. Tidak membeda-bedakan pelayanan yang diberikan
kepada pasien yang memiliki ekonomi rendah dan kurang mampu. Petugas
kesehatan harus bersikap profesional dalam mengemban tugas yang
diberikan dan memberikan pelayanan yang terbaik.

15
c. Otonomi
Merupakan kewenangan atau batasan – batasan penganganan yang
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan. Dalam kasus ini, antar tenaga kesehatan, baik bidan, perawat,
perawat gigi, gizi dan kesling bekerja sesuai kewenangan dan tugas utama
mereka. Sehingga dalam kasus tersebut terdapat kolaborasi antar profesi
yang menyesuaikan kasus serta wewenang yang dapat dilakukan.

d. Kejujuran
Merupakan kesesuaian antara apa yang diucap dengan apa yang
dilakukan. Dalam kasus ini, bidan jujur dalam menyampaikan hasil
pemeriksaan ANC pada Ny. “C” dan profesi lainnya memberikan
pengetahuan yang seharusnya diketahui pasien tanpa melebih-lebihkan.

e. Menjaga kerahasiaan
Dalam kasus ini, baik bidan, perawat, perawat gigi, gizi, serta kesling
harus menjaga identitas dan kerahasiaan pasien dengan tidak
membeberkan kasus dan identitas pasien dan keluarga.

f. Profesional dan beretika


Dalam kasus ini, semua profesi kesehatan melakukan penanganan
pada pasien secara optimal dengan memanfaatkan pengetahuan, skill,
waktu serta strategi dalam memberikan pembinaan pada keluarga Tn. “A”.
Pada kasus ini, pengetahuan dan kemampuan kolaborasi yang baik dari
kemampuan untuk saling menghargai antarprofesi kesehatan sangat
terjaga. Sehingga dapat memberikan suatu pelayanan kesehatan yang
berkualitas.

16
C. Penanganan kasus diatas disimulasikan melalui Role Play oleh
kelompok.
Berikut naskah role play kasus diatas:
Pemeran
Bapak : Adenia
Ibu hamil : Liska
Anak 1 : Yamini
Anak 2 : Misel
Bidan : Bitha
Perawat : Nanda
Perawat gigi : Nikita
Gizi : Sarinadi
Kesling : Supita
Lintas Sektor : Esy

Di sebuah desa tinggallah satu keluarga yang terbilang dari


keluarga kurang mampu yaitu keluarga Bapak Andi. Keluarga tersebut
terdiri dari ayah, ibu yang sedang hamil dan 2 orang anak. Bapak Andi
dan Ibu Citra masing-masing berumur 30 tahun dan 28 tahun. Ibu Citra
memiliki 2 orang anak yaitu anak pertama bernama Alex berusia 5
tahun dan anak kedua bernama Ayu berusia 3 tahun. Bapak Andi
bekerja sebagai karyawan swasta dengan penghasilan Rp. 1.300.000
per bulan. Bapak Andi memiliki kebiasaan merokok dan menderita
batuk-batuk. Sedangkan ibu Citra seorang ibu rumah tangga.
Keseharian ibu Citra mengurus rumah tangga dan kedua orang
anaknya.
Keluarga bapak Andi tinggal di rumah yang hanya berukuran 36
meter persegi, kondisi rumah keluarga ini sangat gelap karena tidak
ada ventilasi yang cukup serta rumah keluarga ini sangat kotor,
sampah berserakan dimana-mana karena tidak ada tempat pembuangan
sampah. Suatu hari puskesmas mengarahkan sekelompok mahasiswa

17
IPE dari kampus Poltekkes Kemenkes Denpasar untuk melakukan
pembinaan kepada keluarga bapak Andi terkait kesehatan keluarganya.

Setelah mendapat pengarahan dari Puskesmas mahasiswa langsung


menemui kepala desa terkait pembinaan yang akan diberikan kepada
keluarga bapak Andi.

Mahasiswa : Selamat pagi bapak, perkenalkan kami dari mahasiswa


IPE.
Kepala Desa : Selamat pagi, baik ada yang bisa saya bantu?
Mahasiswa : Kami mendapatkan pengarahan dari pihak Puskesmas
untuk memberikan pembinaan terhdapat keluarga bapak
Andi yang tinggal di desa ini. Kami mohon izin untuk
memberikan pembinaan tersebut bapak.
Kepala Desa : Oh ada pembinaan keluarga ya ? apakah adik-adik
sudah tahu lokasi tempat tinggal bapak Andi ?
Mahasiswa : belum bapak, dimana ya alamat tempat tinggal pak Andi
tersebut ?
Kepala desa : baik kalau begitu akan saya antar ke rumah bapak Andi.
Mahasiswa : baik terimakasih bapak.

Setelah disetujui oleh kepala desa mahasiswa lalu diantar ke rumah


bapak Andi setelah sampai mahasiswa lalu diarahkan langsung untuk
masuk ke rumah bapak Andi

Mahasiswa : Permisi... Om swastyastu....


Ibu Citra : Ehh siapa itu pak rame-rame di depan rumah?
Bapak Andi : Mana bu?? Oh iyaa, biar bapak yang sapa mereka
(sambil menuju ke arah mahasiswa dan petugas
lintas sektor) Ada apa ya rame-rame begini?

18
Kepala desa : Selamat pagi bapak, ini ada mahasiswa IPE
ditugaskan dari puskesmas untuk melakukan
pemeriksaan status kesehatan keluarga bapak
Mahasiswa kebidanan: Selamat pagi bapak, perkenalkan saya Bitha.
Kami mahasiswa IPE yang ditugaskan puskesmas
untuk memeriksa status kesehatan keluarga
bapak, apakah bapak bersedia?
Bapak Andi : Oh kalau begitu silahkan masuk. (Bapak Andi
masuk ke dalam rumah untuk memanggil
istrinya) Perkenalkan ini istri saya namanya Citra
Bitha : (Melihat istri bapak andi yang sedang hamil,
bitha pun langsung menyapa istrinya) Selamat
pagi ibu citra, perkenalkan saya bitha. Kalau
boleh saya tau apakah ibu saat ini tengah
mengandung?
Ibu Citra : Iya dik saya sedang hamil
Bitha : wahh selamat ya ibu, kalau boleh tau ini
kehamilan yang keberapa ibu? Apakah
sebelumnya ibu sudah punya anak?
Ibu Citra : Ini kehamilan saya yang ketiga, saya sudah
punya 2 orang anak. Anak yang pertama laki-laki
sudah umur 5 tahun dan anak kedua saya
perempuan umur 3 tahun.
Bitha : Oh begitu, kalau boleh saya tau kapan hari
pertama haid terakhirnya bu?
Ibu Citra : Hari pertama haid terakhir saya itu tanggal 10
Oktober 2019 kemarin
Bitha : Tanggal 10 Oktober ya ibu? Berarti kehamilan
ibu baru memasuki usia 4 bulan ya ibu. Apakah
sebelumnya ibu sudah pernah memeriksakan
kehamilan ibu ke fasilitas kesehatan?

19
Ibu citra : Iya saya hamil baru 4 bulan, sebelumnya saya
sudah sempat memeriksakan diri ke puskesmas
pada saat saya mengalami telat haid selama 2
minggu dan bidan disana mengatakan saya positif
hamil.
Bitha : wah bagus sekali ibu, apa yang ibu lakukan
sudah benar dengan memeriksakan diri ke
puskesmas. Boleh saya lihat buku KIA nya bu?
Bu Citra : Oh iya, tunggu sebentar saya ambilkan dulu (Ibu
citra bergegas mengambil buku KIA miliknya
dan memberikannya kepada Bitha) Ini bukunya
Bitha : (mengambil buku KIA dari ibu citra dan melihat
hasil pemeriksaan ANC yang pernah dilakukan)
Baik ibu, setelah saya lihat ternyata ibu dan janin
masih dalam keadaan normal ya bu, disini juga
hasil lab yang dilakukan kadar Hb ibu masih
bagus yaitu 11,5 gr %. Apakah ibu bersedia untuk
saya periksa lagi keadaan ibu untuk memastikan
kondisi ibu dan bayi dalam keadaan sehat?
Bu citra : Iya boleh boleh, saya juga belum sempat ke
puskesmas untuk melakukan pemeriksaan karena
sibuk mengurus anak
Bitha : Baiklah kalau begitu ayo ibu kita melakukan
pemeriksaan di kamar ibu saja
Bu citra : ayo mari (Bu citra dan bitha menuju ke kamar
untuk melakukan pemeriksaan ANC)
Bitha : (Setelah melakukan pemeriksaan ANC) ibu
setelah saya melakukan pemeriksaan tadi kondisi
ibu saat ini sehat ya ibu, janin yang ibu kandung
juga sehat, tadi sudah dengarkan kan denyut
jantung anak ibu, nah denyut jantung anak ibu

20
juga sudah bagus ya. Untuk obat yang diberikan
dari puskesmas apakah masih ibu?
Bu citra : Iya saya senang sekali bisa mendengar denyut
jantung anak saya, semoga tetap sehat ya nak
(sambil mengelus perutnya). Obatnya masih sisa
untuk hari ini saja, untuk besok sudah habis
Bitha : iya ibu semoga tetap sehat ya, ibu juga harus
banyak istirahat jangan melakukan aktivitas yang
berat ya bu. Karna obat ibu sudah habis ada
baiknya besok ibu datang memeriksakan diri ke
puskesmas untuk mendapat pemeriksaan dan
terapi penambah darah dan kalsium. Karna ibu
hamil rentan terkena anemia jadi ibu harus rutin
mengonsumsi penambah darah yang diberikan
Bu citra : Oh begitu.. iya besok saya akan periksa ke
puskesmas

(Sarinadi dan Nikita menuju ke kamar bu citra untuk ikut melakukan


pemeriksaan pada ibu citra)

Sarinadi dan nikita : Permisi...


Bu citra : iya silahkan masuk
Nikita : gimana bit sudah selesai melakukan
pemeriksaan ANC?
Bitha : iya ini baru saja selesai
Nikita : kalau begitu saya juga ingin melakukan
pemeriksaan gigi dan mulut pada ibu citra untuk
memastikan apakah kondisi mulut dan gigi bu
citra dalam keadaan sehat agar tidak ada
penyebaran penyakit melalui gigi dan gusi.
Bu Citra : Ohh iya-iya, silahkan

21
Nikita : (melakukan pemeriksaan gigi dan mulut pada
ibu citra) ibu setelah saya periksa ternyata gigi
dan gusi ibu sehat yaa, gigi ibu bersih dan tidak
ada lubang. Tetap jaga kesehatan giginya bu ya,
minimal gosok gigi sehari 2 kali
Ibu citra : Iya terimakasih dik nikita
Sarinadi : Tetap jaga kesehatannya ya bu, jangan sampai
sakit. Ibu bisa menjaga kesehatan ibu dengan cara
mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang ya
bu. Ibu harus rajin makan sayur, kalau makan
sayur harus lebih banyak dari nasi dan lauk pauk
yang ibu makan. Makannya juga harus beragam
ya bu, seperti daging, ikan, kacang-kacangan dan
berbagai jenis sayur-sayuran dan buah.
Ibu citra : iya dik, terimakasih ya atas sarannya. Nanti saya
akan lakukan semua yang adik-adik katakan

(Bu citra, bitha , nikita, dan sarinadi kembali menuju ruang tamu untuk
berkumpul dengan yang lainnya)

Sembari menunggu ibu Citra yang sedang diperiksa, Nanda melihat


bapak Andi yang kerap batuk-batuk saat menghisap rokok. Nanda pun
memberikan penjelasan kepada bapak Andi terkait batuk-batuk yang
dideritanya dan kebiasaan merokok yang dilakukan bapak Andi

Nanda : Bapak kalau boleh saya tau sudah berapa lama


merokok? Saya liat bapak sedang batuk-batuk
tetapi tetap merokok.
Pak Andi : Saya merokok sejak saya berumur 17 tahun.
Nanda : Apakah bapak sudah pernah memeriksakan
kondisi bapak saat ini?
Pak Andi : Saya belum pernah memeriksakan kondisi saya.

22
Nanda : Sebaiknya bapak periksakan kondisi bapak ke
tempat pelayanan kesehatan pak agar dapat
diberikan penanganan lebih lanjut.
Pak Andi : Baik bu perawat, nanti saya akan periksakan
kondisi saya ke tempat pelayanan kesehatan.

Saat Nanda dan Pak Andi sedang berbicara datanglah seorang tenaga
kesehatan lingkungan yaitu Supita. Saat Supita melihat Nanda dan Pak
Andi sedang berbicara Supita ikut bertanya kepada Nanda dan Pak
Andi

Supita : Ada apa ini?


Nanda : Ini Supita tadi saya melihat bapak ini sedang
batuk-batuk sembari merokok.
Supita : Benar begitu pak?
Pak Andi : Iya benar dik
Supita : Apakah ditempat tinggal bapak atau di rumah
bapak ada yang merokok selain bapak?
Pak Andi : Tidak ada dik, hanya saya saja
Supita : Apakah bapak sering merokok di dalam rumah
atau didalam ruangan pak?
Pak Andi : Terkadang saya juga merokok didalam ruangan
Supita : Apakah dalam ruangan tempat bapak meroko
ada ventilasinya?
Pak Andi : Tidak ada dik
Supita : Pak sebaiknya rumah bapak diberikan ventilasi
agar pertukan udara dapat terjadi diruangan
tersebut selain itu ventilasi udara yang cukup
perlu agar kadar oksigen di dalam rumah tetap
terjaga dan kelembapan rumah terjaga.
Pak Andi : Tapi saya orang tidak mampu dik.

23
Saat Pak Andi mengucapkan hal itu didengar oleh Kepala Desa
setempat. Lalu Kepala Desa memberikan solusi

Esy : Untuk masalah biaya tidak usah khawatir pak,


anggaran desa ada yang memang digunakan
melakukan renovasi atau bedah rumah. Nanti
saya akan mencarikan dana untuk merenovasi
rumah bapak agar dapat memenuhi kriteria rumah
sehat
Pak Andi : Baik bu kepala desa terimakasih atas
bantuannya.
Esy : Semoga setelah rumah bapak direnovasi bapak
dan keluarga dapat hidup lebih sehat lagi ya.
Pak Andi : Baik bu.

24
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kolaborasi tim kesehatan adalah hubungan kerja yang memiliki tanggung
jawab bersama dengan penyedia layanan kesehatan lain dalam pemberian
(penyediaan) asuhan pasien (ANA, 1992 dalam Kozier, Fundamental
Keperawatan). Kolaborasi tim kesehatan terdiri dari berbagai profesi kesehatan
seperti dokter, perawat, psikiater, ahli gizi, farmasi, pendidik di bidang
kesehatan, dan pekerja sosial. Tujuan utama dari kolaborasi tim kesehatan
adalah memberikan pelayanan yang tepat, oleh tim kesehatan yang tepat, di
waktu yang tepat, serta di tempat yang tepat. Salah satu contoh kolaborasi tim
kesehatan yaitu pada kolaborasi tim tingkat primer atau strata satu adalah
kolaborasi tim kesehatan pada sebuah PUSKESMAS yang terdiri atas dokter
umum, dokter gigi, perawat, dan bidan. Suatu ketika saat ada seorang pasien
yang akan melahirkan, terdapat kolaborasi tim kesehatan antara bidan dan
perawat dalam menangani kasus tersebut. Elemen-element dalam kolaborasi
tidak berfokus pada satu keahlian saja tetapi juga masing-masing elemen
mempunyai keahliannya masing-masing sehingga dalam melakukan pelayanan
tidak hanya terfokus pada satu asuhan tetapi juga melakukan asuhan seca
menyeluruh bagi semua pasien.

B. Saran
Pendidikan mengenai kolaborasi antar tim diharapkan dapat memberikan
pondasi bagi tenaga kesehatan untuk bertugas sesuai dengan keahlian masing-
masing dan dapat melatih serta mengembangkan jiwa kerjasama diantara
sesama Tim. Disamping itu semoga melalui pendidikan dan pengetahuan yang
didapat oleh mahasiswa kebidanan mengenai kolaborasi antar tim kesehatan,
dapat menambah wawasan dan keterampilan dalam melayani masyarakat
dilahan praktek.

25
DAFTAR PUSTAKA

Achadi,Anhari. (2009). Sekilas tentang Sistem Kesehatan Indonesia. Tersedia


pada: https://staff.blog.ui.ac.id/rsuti/files/2012/04/sik2_skn.pdf 
diakses : 10 Februari 2020

Bentuk-bentuk Pelayanan Kesehatan. [online] Tersedia :


http://mhs.blog.ui.ac.id/putu01/2011/12/27/bentuk-bentuk
pelayanan-kesehatan/ diakses : 10 Februari 2020

Kbbi.web.id. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online - definisi kata


kolaborasi. [Online] Tersediav: http://kbbi.web.id/kolaborasi .
diakses : 10 Februari 2020

Kozier, Erb, Berman, Snyder. (2010). Buka Ajar Fundamental Keperawatan :


Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 7. Jakarta: EGC