Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH KENYAMANAN PEJALAN KAKI AKIBAT


PEDAGANG KAKI LIMA PADA JALUR PEDESTRIAN DI
KAWASAN JATINEGARA

NAMA : MUHAMAD WIRA ABI.P


NPM : 4117210089

JURUSAN ARSITEKTUR
UNIVERSITAS PANCASILA
2019 / 2020
BAB I
PENDAHULUAN

Lokasi yang dijadikan tempat penelitian berada di Indonesia, kota Jakarta bagian timur
pada Kawasan jatinegara, lebih tepatnya pada jalur pedestrian di Kawasan stasiun jatinegara.
Dengan Batasan Gedung parkir stasiun jatinegara dibagian timur, sampai dengan halte busway
di sebelah barat, dengan Panjang jalur pedestrian yang akan diteliti sepanjang 3 km.

Peta Indonesia (Sumber : https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/)

Skala batang

Peta Jakarta (Sumber :


https://www.romadecade.org/)
Halte
Gedung
St jatneg busway
prakir

Skala 1 : 1500

Peta Kawasan Jatinegara


Alasan pemilihan lokasi penelitian :
1. Karena Kawasan jatinegara merupakan pusat perekonomian di Jakarta timur.
2. Stasiun jatinegara merupakan salah satu tempat angkutan umum untuk melakukan transit.
3. Jalur pedestrian pada Kawasan st jatinegara merupakan yang teramai dari seluruh stasiun
regional jabodetabek.
4. Jalur stasiun jatinegara merupakan jalur protocol di dalam Kawasan jatinegara.

A. Latar Belakang Masalah


Kawasan jatinegara merupakan pusat perekonomian di Jakarta timur yang menjadikan
Kawasan ini menjadi padat akibat banyaknya manusia yang beraktivitas di Kawasan ini.
masalah
Yang timbul akibat padatnya manusia yang beraktivitas mengakibatkan ruang pejalan kaki yang
menjadi perhatian besar pada Kawasan jatinegara, akibat banyaknya pejalan kaki yang melintas
pada Kawasan ini mejadikan ruang pejalan kaki dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima untuk
berjualan. Masalah yang timbul akibat disalah gunakannya jalur pedestrian menjadi bahan
penelitian saya pada kasus di jalur pedestrian Kawasan jatinegara.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang tampak pada jalur pedestrian di Kawasan jatinegara, antara lain :
 Penggunaan badan jalur pedestrian sebagai lahan untuk berjualan.
 Sampah yang berserakan di sekitar jalur pedestrian.
 Kenyamanan yang terganggu akibat badan jalur pedestrian yang menyempit.
 Keuntungan dari kebaradaan pedagang kaki lima di jalur pedestrian
Dari permasalahan tersebut, muncul perumusan yang menjadi pertanyaan utama
dalam penelitian ini, yaitu :
 Apakah keberadaan pedagang kaki lima mengganggu kenyamanan pada jalur
pedestrian?
 Apa faktor yang menyebabkan banyaknya sampah yang berserakan pada jalur
pedestrian?
 Bagaimana solusi terhadap pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalur
pedestrian?

C. Waktu Penelitian
November Desember
NO PENGERJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8
1. LITERATUR
2. OBSERVASI
3. WAWANCARA
4. ANALISIS & DISKUSI
5. PEMBUATAN LAPORAN
Keterangan :
JANGKA WAKTU LITERATUR JANGKA WAKTU ANALISIS & DISKUSI

JANGKA WAKRU OBSERVASI JANGKA WAKTU PEMBUATAN LAPORAN

JANGKA WAKTU WAWANCARA

DESKRIPSI : Total jangka waktu melakukan penelitian adalah 2 bulan, dengan 1-4 minggu
pertama melakukan studi literatur, lalu mulai melakukan observasi bersamaan dengan studi
literatur pada minggu ke 4 -minggu ke 5, melakukan wawancara bersamaan dengan melalukan
observasi, analisis dan diskusi dimulai bersamaan dengan melakukan observasi dan wawancara
sampai pada minggu ke 6, pembuatan hasil laporan dilakukan pada saat minggu ke 3 sampai
dengan minggu ke 8.

D. Tujuan
Dengan mengetahui masalah yang tampak di jalur pedestrian pada Kawasan jatinegara,
maka tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya pengaruh tingkat kenyamanan
pejalan kaki akibat penyalah gunaan badan jalur pedestrian sebagai area berjualan oleh
pedagang kaki lima.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KENYAMANAN PADA JALUR


PEDESTRIAN

1. Pejalan kaki
Menurut Dirjen Perhubungan Darat (1999 : 205) menyatakan bahwa pejalan kaki adalah suatu
bentuk transportasi yang penting di daerah perkotaan. Pejalan kaki merupakan kegiatan yang
cukup esensial dari sistem angkutan dan harus mendapatkan tempat yang selayaknya. Pejalan
kaki, mereka terdiri dari anak-anak, orang tua, dan masyarakat yang berpenghasilan rata-rata
kecil. Perjalanan dengan angkutan umum selalu diawali dan diakhiri dengan berjalan kaki.
Apabila fasilitas pejalan kaki tidak disediakan dengan baik, maka masyarakat akan kurang
berminat menggunakan angkutan umum. Hal yang harus diingat bahwa para pejalan kaki bukan
warga masyarakat kelas dua. Menurut Dirjen Perhubungan Darat (1999 : 1) pejalan kaki terdiri
dari : Mereka yang keluar dari tempat parkir mobil menuju tempat tujuan. Mereka yang
menuju atau turun dari angkutan umum sebagian besar masih memerlukan berjalan kaki.
Mereka yang melakukan perjalan kurang dari 1 kilometer (km), sebagian besar dilakukan dengan
berjalan kaki.

2. Pedagang kaki lima


Menurut Retno Widjajanti (2000) Keberadaan pedagang kaki lima dapat memberikan
keuntungan kepada semua pihak yang bersangkutan jika pedagang kaki kima Tersebut
“dikendalikan” Daripada berusaha untuk menghapuskan keberadaan pedagang kaki lima, lebih
baik membuat suatu peraturan sebagai kepastian bagi pedagang kaki lima sehingga dapat
menjadi potensi yang baik. Keuntungan dari pedagang kaki lima yang telah “dikendalikan”
dengan cara menguntungkan
Keuntungan dari pedagang kaki lima yang telah “dikendalikan” adalah Keramahtamahan
pedagang kaki lima, keunikan dari gerobak dan aktivitas yang ditimbulkan, seperti duduk-duduk
sambil belajar, membaca, berbicara dengan teman, berdiskusi dan lain-lain dapat menciptakan
suatu suasana dengan karakter yang hidup.  Dengan pengembangan desain yang tidak mahal,
gerobak pedagang kaki lima dapat menjadi warnawarna yang menarik pada areal ruang basis
kegiatan dan ruang kegiatan umum.  pedagang kaki lima juga menarik karena menawarkan
pelayanan yang tidak diberikan pada toko-toko atau restoran besar, seperti harga yang lebih
murah dan suasana yang lebih terbuka.  Pedagang kaki lima dapat memelihara kawasan di
sekitar tempatnya berjualan, memungut sampah, dan melaporkan kerusakan fasilitas-fasilitas
umum.  Mereka memberikan petunjuk jalan bagi orang baru pertama kali datang dan
mengawasi keamanan di areal ia berjualan.  Keberadaan dapat menambah rasa aman bagi
pejalan kaki hingga malam hari.  pedagang kaki lima sering kali dapat membangkitkan
aktivitas positif pada suatu daerah yang tidak terpakai dengan baik di mana sering terdapat
aktivitas atau kegiatan ilegal.  pedagang kaki lima juga dapat memberikan kontribusi berupa
kutipan sebagai uang pemeliharaan dan berbagai program manajemen lainnya untuk
kesinambungan program penataan pedagang kaki lima.

3. Faktor kenyamanan

Menurut Rustam Hakim dan Hardi Utomo (2003 : 185) kenyamanan adalah segala sesuatu yang
memperlihatkan penggunaan ruang secara sesuai dan harmonis, baik dengan ruang itu sendiri
maupun dengan berbagai bentuk, tekstur, warna, simbol mapun tanda, suara dan bunyi kesan,
intensitas dan warna cahaya ataupun bau, atau lainnya.

Aroma atau Bau-bauan

Aroma atau bau-bauan yang tidak sedap bisa terjadi karena beberapa sebab, seperti bau yang
keluar dari asap knalpot kendaraan, atau bak-bak sampah yang kurang terurus yang tersedia di
sepanjang pinggir trotoar. Selain itu, kadang terdapat areal pembuangan sampah yang tidak jauh
dari daerah perlintasan jalan, maka bau yang tidak menyenangkan akan tercium oleh para
pengguna jalan, baik yang berjalan kaki maupun para pemakai kendaraan bermotor.

Bentuk

Bentuk elemen landscape furniture harus disesuaikan dengan ukuran standar manusia agar skala
yang dibentuk mempunyai rasa nyaman (Hakim dan Utomo, 2003 : 190). Seringkali ditemui
bahwa trotoar-trotoar yang telah disediakan tidak mempunyai pembatas yang jelas (kereb)
dengan jalur kendaraan bermotor. Jalur trotoar dan jalur kendaraan memiliki ketinggian
permukaan lantai (dasar) yang sama. Bentuk yang semacam itu akan mengakibatkan, jalur trotoar
menjadi dimanfaatkan untuk lahan parkir- parkir liar.

Keamanan

Pengertian dari keamanan dalam penelitian ini, bukan mencakup dari segi kriminal, tetapi tentang
kejelas-an fungsi sirkulasi, sehingga pejalan kaki terjamin keamanan atau keselamatannya.
Perencanaan keamanan antara pejalan kaki dengan kendaraan bermotor perlu diutamakan
sehingga harus disediakan fasilitas bagi pedestrian, yakni jalur trotoar jalan. Untuk keamanan
pejalan kaki maka trotoar hatus dibuat terpisah dari jalur lalu lintas kendaraan, oleh struktur fisik
berupa kereb. Pemanfaatan trotoar sebagaimana fungsinya menjadi sangat penting bagai
keamanan pejalan kaki. Banyak dari pengendara bermotor yang mengendarai dengan kecepat- an
tinggi atau di atas 50 km/jam. Hal ini sangat membahayakan keselamata n para pejalan kaki, jika
berjalan di bahu jalan jalur kendaraan bermotor. Hal ini terjadi karena fasilitas trotoar yang sudah
ada, ternyata beralih fungsi menjadi berbagai aktifitas lain (seperti transaksi pedagang kaki lima,
parkir) dan tempattempat bangunan permanen maupun non permanen yang sangat mengganggu
lalu lintas pejalan kaki, sehingga trotoar tidak bisa dimanfaatkan secara optimal, dan pejalan kaki
terpaksa berjalan di bahu jalan jalur kendaraan motor.

Kebersihan

Daerah yang terjaga kebersihannya akan menambah daya tarik khusus, selain menciptakan rasa
nyaman serta menyenangkan orang-orang yang melalui jalur trotoar. Untuk memenuhi
kebersihan suatu lingkungan perlu disediakan bak-bak sampah sebagai elemen lansekap dan
saluran air selokan yang terkonsep baik.

Keindahan

Keindahan mencakup persoalan kepuasan bathin dan panca indera manusia. Untuk memperoleh
kenyamanan yang optimal maka keindahan harus dirancang dengan memerhatikan dari berbagai
segi, baik itu segi bentuk, warna, komposisi susunan tanaman dan elemen perkerasan, serta
diperhati-kan juga faktor-faktor pendukung sirkulasi kegiatan manusia.
Kebisingan

Tingginya tingkat kebisingan suara kendaraan bermotor yang lalu lalang, juga menjadi masalah
vital yang dapat mengganggu kenyamanan bagi lingkungan sekitar dan pengguna jalan, terutama
pejalan kaki. Oleh sebab itu untuk mengurangi tingkat kebisingan yang terjadi, dipakai
tanaman.

BAB II
METODELOGI PENELTIAN
Metode yang digunakan menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu yang bersifat
deskriptif, Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

N METODE WAKTU ALAT PERTANYAAN


O
1. STUDI LITERATUR 4 MINGGU HP, LAPTOP, -
INTERNET, BUKU,
JOURNAL,
2. OBSERVASI DAN SURVEY 2 MINGGU MOTOR, KERETA, -
BUKU, HP,
INTERNET, KAMERA
3. WAWANCARA 1 MINGGU KUESIONER PERTANYAAN YANG
TERBUKA, MEMBUAT
NARASUMBER
MENJELASKAN
SECARA DETAIL
4. UJI COBA 1 MINGGU LOKASI
PERCOBAAN
5. ANALISIS 3 MINGGU ANALISIS -
KUALITATIF,
MENGAMBIL
KESIMPULAN DARI
HASIL
WAWANCARA
DESKRIPSI:

1. Studi literatur mengambil kutipan perkataan dari para ahli dibidangnya, menjadikan journal
dan buku sebagai tolak ukur teori, mencari teori tentang standar – standar ukuran ideal untuk
jalur pedestrian berdasarkan peraturan pemerintah setempat. Mencari teori tentang faktor –
faktor yang mempengaruhi kenyamanan pada jalur pedestrian.

2. Observasi Pengamatan secara langsung pada lokasi penelitian dan mencatat apa yang diperlukan
seperti pengukuran dan dokumentasi, juga akan dilakukan pengambilan data berkala untuk
mendapatkan pola yang diamati (pola sirkulasi, pola pengguna jalur pedestrian). Untuk
mengumpulkan data tersebut, dikumpulkan dengan cara membagi waktu pengumpulan data,
yaitu pada hari kerja dan hari libur karena pada hari kerja dan hari libur kepadatan pengguna
jalur pedestrian akan berbeda. Pada jam kerja dilakukan pada saat pagi, siang, dan sore hari
karena pada pagi hari merupakan waktu dimana pengguna jalur pedestrian melakukan kegiatan
yang cukup padat yaitu berangkat untuk melakukan kegiatannya, pada siang hari biasanya orang
cenderung melakukan kegiatan di dalam ruangan jadi kepadatan pada jalur pedestrian akan
merenggang, pada sore hari karena pada waktu ini jalur pedestrian akan padat karena banyak
pengguna jalur pedestrian yang berlalu-lalang untuk mengakhiri kegiatannya atau pulang.
Sedangkan pada hari libur dilakukan saat pagi dan malam hari karena kegiatan pengguna jalur
pedestrian pada hari libur tidak sepadat hari kerja maka dilakukan pagi dan malam hari karena
pada waktu itu yang padat dengan pengguna jalur pedestrian. Waktu yang dipilih dilakukan pagi
pukul 7.00 – 8.00 karena orang banyak yang berangkat untuk melakukan kegiatannya pada jam
ini dan jalur pedestrian padat. Siang dilakukan pukul 12.00 – 13.00 karena pada waktu ini tidak
begitu padat oleh pengguna jalur pedestrian. Sore dilakukan pukul 16.00 – 17.00 karena jam
pulang kerja ada pada waktu ini dan biasanya jalur pedestrian akan padat dengan orang yang
mengakhiri kegiatannya atau pulang. Dan malam hari dilakukan pada pukul 19.00 – 20.00 karena
untuk membandingkan kepadatan pedestrian pada siang dan malam hari. Pengumpulan data
tersebut diambil dua kali dalam seminggu, pada hari kerja dan hari libur menyesuaikan dengan
jadwal peneliti.

Survei Pengambilan informasi pada lokasi penelitian dengan cara wawancara terbuka dengan
target narasumber yang terpercaya berupa 2 oarang ahli dan 5 orang warga sipil yang sering
melintasi jalur pedestrian di kawasan jatinegara dengan wawancara terbuka yang menggunakan
pertanyaan mengacu pada 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How), dan dibantu alat
berupa foto & recorder sebagai dokumentasi.

3. Wawancara dengan wawancara terbuka dengan sejumlah pertanyaan yang sudah disiapkan,
dan dibantu alat berupa foto & recorder. Dengan daftar pertanyaan sebagai berikut:
 Apakah jalur pedestrian di sini sudah nyaman?
 Apa yang membuat jalur pedestrian di sini nyaman untuk di lewati?

 Apakah keberadaan pedagang kaki lima mengganggu sirkulasi di jalur pedestrian?

 Elemen apa yang menjadikan jalur pedestrian menjadi nyaman?

 Apa keuntungan dari keberadaan pedagang kaki lima di badan jalur pedestrian?

 Apa penyebab banyaknya sampah yang berserakan di sekitar jalur pedestrian?

 Bagaimana cara mengatasi sampah yang berserakan di jalur pedestrian?

 Apakah jalur pedestrian di sini sudah cukup nyaman untuk dilewati?

 Apa kebijakan pemerintah setempat terhadap para pedagang kaki lima?

 Apakah ukuran jalur pedestrian sudah nyaman untuk dilewati?

 Siapa saja yang melewati jalur pedestrian di sini?

 Kapan jalur pedestrian dipadati oleh para masyarakat yang melitas?

 Apakah pernah terjadi penertiban PKL yang berdagang di jalur pedestrian?

 Kapan para PKL mulai memadati area jalur pedestrian?

 Di titik mana saja para PKL biasanya berdagang?

 kalangan mana sajakah yang melintas di jalilr pedestrian di sini?


 Bagaimana pendapat anda tentang kebaradaan PKL di jalur pedestrian?

 Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menertibkan para PKL?

 Faktor apa yang menyebabkan para PKL berjualan di area pedestrian?

4. Uji Coba proses uji coba untuk dapat menghasilkan perbandingan hasil penelitian yang akan
dibuat dengan membuat beberapa kondisi yang berbeda dan diterapkan kepada para pengguna
pedestrian. Lokasi uji coba dilakukan di beberapa lokasi berbeda yaitu di jalur pedestrian
depan universitas Pancasila, jalur pedestrian di depan stasiun Bekasi, jalur pedestrian di depan
universitas gunadarma kelapa dua, dan jalur pedestrian di depan stasiun jatinegara. Beberapa
kondisi/sempel yang akan diterapkan memiliki perbedaan antaranya adalah sebagai
berikut :
N LOKASI WAKTU KONDISI FOTO
O
1 JALUR PEDESTRIAN 3 SET Tidak terdapat
DEPAN UNIV HARI PKL dengan
PANCASILA lebar pedestrian
2,5 m
2 JALUR PEDESTRIAN 3 SET Tidak terdapat
DEPAN ST BEKASI HARI PKL dengan
lebar jalur
pedestrian 1,5
m
3 JALUR PEDESTRIAN 3 SET Terdapat PKL
DEPAN GUNADARMA HARI dengan lebar
jalur pedestrian
1,5 m
4 JALUR PEDESTRIAN 3 SET Terdapat PKL
DEPAN ST HARI dengan lebar
JATINEGARA jalur pedestrian
2,5 m
5. Analisis Mengolah data sampai mendapatkan keyword yang berkaitan dengan pembahasan
dari penelitian dan menarik kesimpulan dari data yang sudah didapatkan dari observasi lalu
diolah dengan metode deduktif dan mengerucut menjadi induktif, lalu dijadikan landasan
untuk pembuatan pertanyaan – pertanyaan untuk kuesioner dengan indikator-indikator yang
sudah di dapat dari jawaban informan dan narasumber dan dibandingan dengan hasil studi
literatur yang sudah dipelajari dari pendapat para ahli sehingga dapat dilakukan pembuatan
laporan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Rustam, Hardi Utomo, (2003), Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, Bumi
Aksara, Jakarta.

Bentley, Ian, Alan Alcock, Murrain, Mc Glynn, Graham Smith, (1988), Lingkungan yang
Tanggap, Pedoman untuk Perancangan. Terjemahan Aris K, Abdi Widya, Jakarta.

Muchtar . C ., ST ., Identifikasi Tingkat Kenyamanan Pejalan Kaki ( Studi Kasus Jalan Kedoya
Raya-Arjuna Selatan,. USU , Jakarta,Jurnal.

Rendra,. D.G,. Evaluasi Keberadaan Trotoar Di Jalan Daya Nasional Kota Pontianak, Jurnal.

Dephub, ( 1993 ), Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 Tentang
Prasarana dan Lalu Lintas Jala, Departemen Perhubungan Darat, Jakarta.

Dirjen Bina Marga, ( 1970 ), Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya Nomor 113,Dirjen
Bina Marga, Jakarta.
ASHRAE. (1992). Thermal Environmental Conditions for Human Occupancy Standard 55-1992.
Atlanta, USA: American Society of Heating, Refrigerating, and AirConditioning Engineers.
Retno Widjajanti,2000,”Penataan Fisik Kegiatan Pedagang Kaki Lima Pa Program Magister
Perencanaan Wilayah Dan Kota Program Pasca Sarjana Institut Tekhnologi Bandung” ,
halaman 39-40.