Anda di halaman 1dari 11

PENGAMATAN KAPANG KONTAMINAN PADA MAKANAN

LAPORAN PRAKTIKUM

Ddisusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Mikrobiologi yang dibina oleh:

Bpk. Agung Witjoro, S.Pd., M. Kes

Disusun oleh:
Kelompok 1/Offering I
1. Delaila Nafulani Em De Sundjie (180342618010)
2. Ika Nanda Febriana (180342616007)
3. Oktavia Jannati Qalbi (180342618038)
4. Sylvana Bilqis Labiba (180342618073)
5. Thania Ayu Pramesty (180342618029)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
Maret 2020
PENGAMATAN KAPANG KONTAMINAN PADA MAKANAN

A. Tujuan Praktikum
Mahasiswa diharapkan untuk:
1. Mengetahui dan mengenal beberapa macam jamur yang mengontaminasi makanan
2. Mengetahui karakteristik beberapa macam jamur yang mengontaminasi makanan

B. Waktu Pelaksanaan
Topik : Pengamatan Kapang Kontaminan pada Makanan
Hari/Tanggal : Selasa, 10 Maret 2020
Pukul : 07.00 s/d 09.35 WIB
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi Lantai III Jurusan Biologi Fakultas Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang

C. Dasar Teori
Mikroorganisme dalam bahan pangan dapat mengakibatkan perubahan fisik atau 
kimia  yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut menjadi tidak layak untuk
dikonsumsi. Penyebab kerusakan oleh mikroorganisme bermacam-macam contohnya
kapang, khamir dan bakteri. Cara perusakannya dengan menghidrolisis atau
mendegradasi makromolekul yang menyusun bahan tersebut menjadi fraksi-fraksi yang
lebih kecil. Kapang adalah mikroba yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutriennya
secara autotrof, sehingga hidup secara saprofit atau parasit pada organisme lain. Kapang
dapat tumbuh di berbagai substrat, terutama yang mengandung karbohidrat dan dapat
hidup pada kondisi asam (Hapsari, 2003).
Menurut Hassanah (2009), menyatakan bahwa jumlah spesies fungi yang telah
teridentifikasi hingga tahun 1994 mencapai 70.000 spesies, dengan perkiraan
penambahan 600 spesies setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 spesies
merupakan kapang. Sebagian besar spesies fungi terdapat di daerah tropis disebabkan
karena kondisi iklim daerah tropis yang hangat dan lembab yang mendukung
pertumbuhannya. Habitat kapang sangat beragam, namun pada umumnya kapang dapat
tumbuh pada substrat yang mengandung sumber karbon organik.
Kapang memiliki struktur eukariotik (memiliki selaput inti) serta memiliki
dinding sel yang kaku. Kapang merupakan mikroba yang berbentuk filamen, terdiri dari
benang-benang halus yang disebut hifa. Kumpulan hifa membentuk massa yang disebut
miselium sehingga kapang dapat dilihat oleh mata tanpa menggunakan mikroskop.
Kapang tumbuh dengan memperpanjang bagian ujung hifa yang dikenal sebagai
pertumbuhan apikal atau pada tengah hifa yang disebut pertumbuhan interkalar. Contoh:
miselium yang berwarna putih adalah kapang yang tumbuh pada tempe. Warna putih
yang biasa kita lihat tidak lain adalah miselium (Hassanah, 2009).
Tubuh atau talus kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian, yaitu miselium dan
spora (sel resisten, istirahat, atau dorman). Miselium merupakan kumpulan beberapa
filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 µm, dibandingkan dengan sel
bakteri yang biasanya berdiameter 1 µm. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma
bersama (Syamsuri, 2004).
Menurut fungsinya ada dua macam hifa, yaitu hifa fertil dan hifa vegetatif. Hifa
fertil dapat membentuk sel-sel reproduktif atau badan buah (spora). Biasanya arah
pertumbuhannya ke atas sebagai hifa udara. Hifa vegetatif berfungsi mencari makanan ke
dalam substrat. Sedangkan menurut morfologinya, ada 3 macam hifa: (1) Aseptat atau
senosit, hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat atau septum; (2) Septat dengan
sel-sel uninukleat, sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang atau sel-sel berisi nucleus
tunggal, pada setiap septum terdapat pori ditengah-tengah yang memungkinkan
perpindahan nucleus tunggal, pada setiap septum terdapat pori ditengah-tengah yang
memungkinkan perpindahan nucleus dan sitoplasma dari satu ruang keruang yang lain,
setiap ruang suatu hifa yang bersekat tidak terbatasi oleh suatu membran sebagaimana
halnya pada sel yang khas, setiap ruang itu biasanya dinamakan sel; (3) Septat dengan
sel-sel multinukleat, septum membagi hifa menjadi sel-sel dengan lebih dari satu nucleus
dalam setiap ruang (Syamsuri, 2004).
D. Prosedur Kerja
E. Hasil Pengamatan
No. Ciri Koloni 1 Koloni 2
1. Morfologi Koloni
a. Warna Koloni Ungu Biru Transparan
b. Miselium: Panjang Panjang
Panjang/pendek
c. Sifat Koloni Serbuk Serbuk
d. Jumlah koloni 1 3
e. Miselium : Ada/Tidak Ada Ada
f. Sekat hifa : Ada/Tidak Ada Ada
g. Spora : Ada/Tidak Tidak Ada
h. Bentuk Spora - Lonjong
2. Ciri Lainnya - -
3. Asal Jamur Roti Salak
4. Gambar Perbesaran 40×10 Perbesaran 40×10
Hasil Pengamatan

1
2
2
1

Gambar 1.1. Aspergillus Gambar 2.1. Penicillium


flavus. Sumber: Dokumen sp. Sumber: Dokumen
Pribadi (2020). Pribadi (2020).

Keterangan: Keterangan:
1. Kepala konidia 1. Konidia
2. Konidiofor 2. Konidiofor

5. Gambar Perbesaran 40×10 Perbesaran 40×10


Hasil Literatur
Gambar 2.2. Penicillium
Gambar 1.2. Aspergillus
sp.1: Konidiofor, 2: Fialid.
flavus. 1: Kepala Konidia, 2:
Konidia, 3: Konidiofor, 4:
Sumber: Mudjahidah
Fialid, 5: Vesikel.
(2013).

Sumber: Miranti (2015).

F. Analisis Data
Berdasarkan praktikum Pengamatan Kapang Kontaminan pada Makanan,
diperoleh kapang yang terdapat pada roti sisir dan kulit buah salak. Kapang yang
diperoleh dari roti sisir berbeda dengan kapang yang diperoleh dari kulit buah salak.
Koloni kapang yang pertama didapat pada roti sisir berwarna ungu, mempunyai miselium
yang berukuran panjang, sifat koloni berupa serbuk, jumlah koloni sebanyak satu, tidak
memiliki sekat hifa, dan tidak memiliki spora. Koloni kapang yang kedua didapat pada
kulit buah salak berwarna biru transparan, mempunyai miselium yang berukuran panjang,
sifat koloni berupa serbuk, jumlah koloni sebanyak tiga, memiliki sekat hifa, memiliki
spora dengan bentuk spora lonjong. Berdasarkan hasil pengamatan dibawah mikroskop
dan merujuk pada literatur, koloni yang pertama adalah Aspergillus flavus, sedangkan
untuk koloni yang kedua adalah Penicillium sp.
G. Pembahasan
Berdasarkan praktikum Pengamatan Kapang Kontaminan pada Makanan, larutan
yang dipakai diantaranya alkohol 95% dan larutan laktofenol. Larutan alkohol 95%
berperan untuk merentangkan biakan supaya tidak mengumpul menjadi satu sehingga
lebih mudah untuk diamati. Larutan laktofenol dapat digunakan dalam pewarnaan pada
kapang. Organisme yang tersuspensi ke dalam larutan tersebut akan mati akibat fenol
yang terdapat di dalamnya dan akan memberi efek transparan. Konsentrasi fenol yang
tinggi membuat enzim yang terdapat dalam sel terdeaktifasi tanpa menyebabkan
terjadinya lisis. Menurut Jutono (1980), laktofenol tidak mudah menguap seperti aquades
sehingga preparat tidak cepat kering dan sel kapang tidak cepat rusak. Laktofenol dapat
mencegah penguapan dan pengerutan sel, sehingga sel mudah diamati. Kapang
merupakan mikroba dalam kelompok fungi yang berbentuk filamen, memiliki struktur
yang terdiri dari benang-benang halus yang disebut hifa. Kumpulan dari banyak hifa
membentuk kumpulan massa yang disebut miselium dan lebih mudah dilihat oleh mata
tanpa menggunakan mikroskop (Hastuti, 2015). Kapang juga mempunyai struktur yang
disebut spora dimana pada umumnya terletak pada ujung-ujung dari hifa, dan merupakan
struktur yang sangat ringan serta mudah menyebar kemana-mana. Spora sebagai alat
perkembangbiakan kapang, karena pada kondisi substrat dan lingkungan yang baik spora
dapat bergerminasi dan tumbuh menjadi struktur kapang yang lengkap. Spora kapang
umumnya memiliki warna tertentu tergantung dari jenis kapangnya (Pleczar, 2008).
Berdasarkan praktikum tersebut, koloni kapang yang pertama didapat pada roti
sisir berwarna ungu, mempunyai miselium yang berukuran panjang, sifat koloni berupa
serbuk, jumlah koloni sebanyak satu, memiliki sekat hifa, dan tidak memiliki spora.
Berdasarkan hasil pengamatan dibawah mikroskop dan merujuk pada literatur, koloni
yang pertama adalah Aspergillus flavus. Aspergillus merupakan anggota dari ordo
Moniliales (spora tidak berasal dari sporangia). Menurut Pleczar (2008), koloni berupa
bulatan-bulatan kecil yang tersebar. Jamur ini mempunyai konidia satu sel yang tidak
terbentuk dari segmentasi hifa dan konidiofor dari jamur ini tidak bercabang. Hal tersebut
sesuai dengan teori yaitu menurut Hapsari (2003), secara mikroskopis Aspergillus sp.
mempunyai hifa bersekat dan bercabang. Pada vesikel terdapat batang pendek yang
disebut sterigmata. Stegmata atau fialida berwarna atau tidak berwarna dan tumbuh
konidia yang membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat, atau hitam (Hapsari, 2003).
Kapang Aspergillus sp. dapat memproduksi enzim hidrolitik misalnya amilase, pektinase,
proteinase, dan lipase, sehingga dapat tumbuh pada makanan yang mengandung pati,
protein, pectin, dan lipid seperti roti-rotian dan sereal (Yolan, 2014).
Koloni kapang yang kedua didapat pada kulit buah salak berwarna biru
transparan, mempunyai miselium yang berukuran panjang, sifat koloni berupa serbuk,
jumlah koloni sebanyak tiga, memiliki sekat hifa, memiliki spora dengan bentuk spora
lonjong. Berdasarkan hasil pengamatan dibawah mikroskop dan merujuk pada literatur,
untuk koloni yang kedua adalah Penicillium sp. Hal tersebut, sesuai dengan pernyataan
para ahli bahwa kapang Penicillium secara mikroskopis memiliki bentuk konidiofor yang
khas. Konidiofor muncul tegak dari miselium. Ujung konidiofor memiliki sekumpulan
fialid dengan konidia berbentuk globus atau avoid, tersusun membentuk rantai basipetal.
Semua sel diantara metula dan batang berpotensi menjadi cabang (Ilyas, 2006).
H. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di bawah mikroskop dan merujuk
pada literatur didapatkan bahwa koloni yang pertama adalah kapang Aspergillus
flavus, sedangkan untuk koloni yang kedua adalah Penicillium sp.
2. Koloni kapang yang pertama didapat pada roti sisir merupakan jenis kapang
Aspergillus flavus, dengan karakteristik berwarna ungu, mempunyai miselium yang
berukuran panjang, sifat koloni berupa serbuk, jumlah koloni sebanyak satu, tidak
memiliki sekat hifa, dan tidak memiliki spora.
3. Koloni kapang yang kedua didapat pada kulit buah salak merupakan jenis kapang
Penicillium sp, dengan karakteristik berwarna biru transparan, mempunyai miselium
yang berukuran panjang, sifat koloni berupa serbuk, jumlah koloni sebanyak tiga,
memiliki sekat hifa, memiliki spora dengan bentuk spora lonjong.

I. Jawaban Diskusi
1. Kerusakan apakah yang ditimbulkan oleh adanya jamur pada makanan yang tersedia?
Jawab:
Jamur yang menginfeksi pada makanan dapat menyebabkan kerusakan makanan atau
perubahan pada makanan menjadi berubah warna, berbau tidak sedap, dan mengalami
perubahan tekstur menjadi lembek atau basah.

2. Genus jamur apakah yang berhasil saudara identifikasi?


Jawab:

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di bawah mikroskop dan merujuk
pada literatur didapatkan bahwa koloni yang pertama adalah jamur dengan genus
Aspergillus, sedangkan untuk koloni yang kedua dari genus Penicillium.
Daftar Rujukan

Hapsari. 2003. Kajian Keragaman Jenis dan Pertumbuhan Kapang, (Online),


(http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/, diakses pada tanggal 14 Maret 2020.

Hassanah. 2009. Morfologi Kapang dan Khamir. Jakarta: Bina Persada.

Ilyas, M. Isolasi dan Identifikasi Kapang pada Relung Rizosfir Tanaman di Kawasan Cagar
Alam Gunung Mutis, Nusa Tenggara Timur, Jurnal Biodiversitas, Vol. 7, No. 3, Juli 2006,
h. 218.

Jutono, J., Soedarsono, S., hartadi, S. K., Suhadi, dan Susanto. 1980. Mikrobiologi Umum.
Yogyakarta: Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM.

Miranti. Keanekaragaman Kapang Aspergillus pada Serasah Daun Talok (Muntingia calabura L.)
di Kawasan Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura,
Seminar Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam, 2015.

Mudjahidah. Isolasi Jamur Mikroskopik Pendegradasi Lignin Dari Beberapa Substrat Alami,
Jurnal Alam dan Lingkungan, Vol.4 (7) Agustus 2013, h.23.

Pelczar, M. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.

Pranadi, B. 2011. Karakteristik Kapang dan Peranannya, (Online), (http://www.sehat


community.com/2011/05/karakteristik-kapang-dan-peranannya.html), diakses tanggal 16
Maret 2020.

Syamsuri, I. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Yolan, S. N., Feky, R. M., Trina, E. T., dan Febby, E. F. K. 2014. Identifikasi Genus Jamur
Aspergilus sp. yang Menginfeksi Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) di Danau Tondano.
Jurnal Ilmiah farmasi. 3 (3): 156-161.
Lampiran

Gambar 1. Koloni Pertama (Aspergillus flavus) dengan Perbesaran 40×10

Sumber: Dokumen Pribadi (2020)

Gambar 2. Koloni Kedua (Penicillium sp.) dengan Perbesaran 40×10

Sumber: Dokumen Pribadi (2020)