Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PASIEN DENGAN MIASTANIA GRAVIS

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Kritis

Dosen Pembimbing : Romadhani Tri Purnomo S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :

1. Ami Roh R ( 1702005 )


2. Ayu Melania R ( 1702007 )
3. Intan Sukmawati ( 1702019 )
4. Umi Qodriyati ( 1702037 )

Program Studi D III Keperawatan

STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN

2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat,
taufik, dan hidayah – Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kami dalam
membuat makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA PASIEN
MIASTENIA GRAVIS”. Dengan adanya makalah ini semoga dapat membantu dalam
pembelajaran kita dan bisa menyelsaikan masalah – masalah, yang khususnya dalam lingkup
asuhan keperawatan Kritis pada pasien dengan Miastenia Gravis. Disamping itu kami menyadari
bahwa mungkin terdapat banyak kesalahan baik dari penulisan ataupun dalam penyusunan yang
tidak saya ketahui.
Kami menyadari bahwa makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu
dengan adanya bantuan dari semua pihak yang terkait
Dalam penyusunan makalah ini kami sudah berusaha menyajikan semaksinal mungkin.
Namun, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini, maka kami
mengharapkan masukkan dari dosen pembimbing serta teman – teman lainnya dalam
menyempurnakan makalah ini agar dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Klaten, Oktober 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................2
DAFTAR ISI...................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................4
A. LATAR BELAKANG..........................................................................................................4
B. RUMUSAN MASALAH......................................................................................................5
C. TUJUAN...............................................................................................................................5
BAB II KONSEP TEORI................................................................................................................6
A. PENGERTIAN.....................................................................................................................6
B. ETIOLOGI............................................................................................................................6
C. PATOFISIOLOGI................................................................................................................7
D. MANIFESTASI KLINIS......................................................................................................8
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG.........................................................................................9
F. KOMPLIKASI....................................................................................................................10
G. PENATALAKSANAAN....................................................................................................11
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN........................................................................14
A. PENGKAJIAN...................................................................................................................14
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN........................................................................................16
C. INTERVENSI.....................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................20

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Miastenia Gravis (MG) adalah bentuk kelainan pada transmisi neuromuskuler
yang paling sering terjadi. Kelainan pada transmisi neuromuskuler yang dimaksud adalah
penyakit pada taut antara saraf dan serat otot. Pada miastenia gravis terjadi permasalahan
transmisi yang mana terjadi pemblokiran reseptor asetikolin di serat otot mengakibatkan
tidak sampainya impuls dari serat saraf ke serat otot (tidak terjadi kontraksi otot).
Miastenia gravis ditandai kelemahan otot yang kembali memulih setelah istirahat.
Miastenia dalam bahasa latin artinya kelemahan otot dan gravis yang artinya parah.
Departemen kesehatan Amerika Serikat mencatat jumlah pasien miastenia gravis
diestimasikan sebanyak 5 sampai 14 dari 100.000 orang populasi pada seluruh etnis
maupun jenis kelamin. Angka tersebut jauh berbeda dengan angka insidensi di wilayah
Eropa seperti Inggris, Italia, dan pulau Farou di Islandia yaitu sebesar 21-30 per
1.000.000 populasi. Di Indonesia sendiri belum ditemukan dan yang akurat terkait angka
kejadian miastenia gravis. Yayasan Miastenia Gravis Indonesia (YMGI) selaku support
groub utama sampai saat ini masih mengupayakan pendataan yang maksimal terkait
jumlah pasien miastenia gravis di Indonesia
Populasi miastenia gravis terbilang kecil apabila dibandingkan dengan jumlah
seluruh penduduk di Indonesia. Meskipun jumlah yang sedikit namun pasien tetap
merasakan berbagai dampak fisik maupun psikososial yang ditimbulkan oleh proses
penyakit.
Penelitian tentang karakteristik pasien miastenia gravis di pulau Jawa yang
melibatkan 75 pasien miastenia gravis menunjukkan sebagian besar responden berjenis
kelamin perempuan dengan presentase sebesar 73,3%, gejala fisik yang ditunjukkan oleh
responden terbanyak berada terbatas pada kelemahan otot mata dengan presentase
sebesar 36%, rerata usia responden yaitu 36 – 39 tahun dengan standar deviasi 11,574.

4
Rata-rata lama menderita miastenia gravis pada responden yakni 6,8 tahun dengan
standar deviasi sebesar 4,986.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah beberapa pasien miastenia gravis
mengalami masalah pada hidupnya, hampir seluruh dari aspek kehidupannya berubah
sejak menderita miastenia gravis. Pasien harus bertahan dengan kondisi sekarang ini dan
sebisa mungkin tetap beraktivitas. Hal ini menjadi mata perhatian khusus karena
miastenia gravis seperti yang sudah disampaikan diatas dapat berujung pada kelemahan
otot pernafasan yang mengakibatkan penderitanya harus mendapatkan ventilasi mekanik
agar dapat bertahan hidup.

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana tinjauan teori dan konsep asuhan keperawatan kritis pada pasien dengan
Miastenia gravis?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan gambaran tentang tinjauan teori dan konsep asuhan keperawatan
kritis pada pasien Miastenia Gravis
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mendiskripsikan Konsep Teori Miastenia Gravis
b. Untuk mendiskripsikan Pengkajian Keperawatan Kritis Miastenia Gravis
c. Untuk merumuskan Diagnosa Keperawatan Kritis Miastenia Gravis
d. Untuk merencanakan tindakan keperawatan pada Miastenia Gravis
e. Untuk mendeskripsikan evaluasi pada pasien Miastenia Gravis

5
BAB II

KONSEP TEORI

A. PENGERTIAN
Menurut Istiantoro, 2012 menjelaskan bahwa krisis miastenia didefinisikan
sebagai setiap miastenia gravis yang diidentifikasi mengalami eksaserbasi. Diagnosis
krisis miastenia harus dicurigai pada semua pasien dengan gagal pernafasan, terutama
mereka dengan etiologi tidak jelas. Miastenia gravis merupakan penyakit autoimun
kronik yang ditandai oleh bermacam-macam tingkat kelemahan dari otot skelet (volunter)
tubuh. Kata miastenia gravis berasal dari bahasa Latin dan Yunani yang secara harafiah
berarti kelemahan otot yang berat atau gawat (grave muscle weakness).

Abdullah, 2016 menjelaskan bahwa Miastenia gravis adalah kelemahan otot yang
cukup berat di mana terjadi kelelahan otot-otot secara cepat dengan lambatnya pemulihan
(dapat memakan waktu 10 hingga 20 kali lebih lama dari normal). Miastenia gravis
mempengaruhi sekitar 400 per 1 juta orang. Usia awitan dari miastenia gravis adalah 20-
30 tahun untuk wanita dan 40-60 tahun untuk pria.

Menurut Perdosi, 2016 bahwa kematian dari penyakit miastenia gravis biasanya
disebabkan oleh insufisiensi pernafasan, tetapi dapat dilakukannya perbaikan dalam
perawatan intensif sehingga komplikasi yang timbul dapat ditangani dengan lebih baik.
Pengelolaan akut krisis miastenia memerlukan terapi suportif umum dan ventilasi serta
langkah-langkah untuk meningkatkan blokade neuromuskuler yang mencakup pertukaran
plasma atau immunoglobulin intravena, serta penghapusan pemicu

B. ETIOLOGI
Penyebab pasti masih belum diketahui. Akan tetapi, penyakit ini diyakini karena;
1. Respon autoimun.
2. Pelepasan asetilkolin yang tidak efektif.

6
3. Respon serabut otot yang tidak adekuat terhadap asetilkolin.

Menurut Yudistira, 2014 Myasthenia gravis disebabkan oleh gangguan transimisi


impuls saraf ke otot. Hal ini terjadi ketika komunikasi normal antara saraf dan otot
terganggu di persimpangan neuromuskuler dimana sel-sel saraf terhubung dengan otot-
otot yang dikontrol. Biasanya bila impuls menuju saraf, ujung saraf akan melepaskan zat
neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Asetilkolin berjalan dari sambungan
neuromuskuler dan mengikat reseptor asetilkolin yang diaktifkan dan menghasilkan
kontraksi otot. Pada myasthenia gravis antibodi blok mengubah atau menghancurkan
reseptor untuk asetilkolin pada sambungan neuromuskuler yang mencegah terjadinya
kontraksi otot. Antibodi ini diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh

Sedangkan menurut Abdullah (2016) Krisis miastenik biasanya dicetuskan oleh


kontrol yang buruk pada penyakit, pengobatan miastenia bulbar (steroid dan
antikolinesterase) yang tidak adekuat, obat-obatan, infeksi sistemik yang melibatkan
saluran pernafasan, aspirasi, dan pembedahan. Pencetus lain yang diketahui pada krisis
miastenia refraktori adalah stres emosional, lingkungan yang panas, peningkatan yang
mendadak dari suhu tubuh, dan hipertioridism, dengan penyakit tiroid autoimun sering
dikaitkan dengan miastenia gravis.

C. PATOFISIOLOGI
Abdullah tahun 2016 menjelaskan bahwa Mekanisme imunogenik memegang
peranan yang sangat penting pada patofisiologi miastenia gravis. Obsevasi klinik yang
mendukung hal ini mencakup timbulnya kelainan autoimun yang terkait dengan pasien
yang menderita miastenia gravis, misalnya autoimun tiroiditis, sistemik lupus
eritematosus, arthritis rheumatoid, dan lain-lain. Antibodi pada reseptor nikotinik
aseltikolin merupakan penyebab utama kelemahan otot pasien dengan miastenia gravis.
Autoantobodi terhadap aseltikolin reseptor (anti-AChRs), telah dideteksi pada serum 90%
pasien yang menderita miastenia gravis generalisata
Mekanisme pasti tentang hilangnya toleransi imunologik terhadap reseptor
asetilkolin pada penderita miastenia gravis belum sepenuhnya dapat dimengerti.
Miastenia gravis dapat dikatakan sebagai “penyakit terkait sel B,” di mana antibodi yang
merupakan produk dari sel B justru melawan reseptor asetilkolin. Peranan sel T pada

7
pathogenesis miastenia gravis mulai semakin menonjol. Timus merupakan organ sentral
terhadap imunitas yang terkait dengan sel T. Kelainan kelenjar timus terjadi pada
miastenia gravis. Pada 80% penderita miastenia didapati kelenjar timus yang abnormal.
Kira-kira 10% dari mereka memperlihatkan struktur timoma dan pada penderita-
penderita lainnya terdapat infiltrat limfositer pada pusat germinativa kelenjar timus tanpa
perubahan di jaringan limfoster lainnya.
Pada miastenia gravis, konduksi neuromuskular terganggu. Abnormalitas dalam
penyakit miastenia gravis terjadi pada end plate motorik dan bukan pada membran
presinaps. Membran postsinaptiknya rusak akibat reaksi imunologi. Karena kerusakan itu
maka jarak antara membran presinaps dan postsinaps menjadi besar sehingga lebih
banyak asetilkolin dalam perjalanannya ke arah motor end plate dapat dipecahkan oleh
kolinesterase. Selain itu, jumlah asetilkolin yang dapat ditampung oleh lipatan-lipatan
membran postsinaps motor end plate menjadi lebih kecil. Karena dua faktor tersebut,
maka kontraksi otot tidak dapat berlangsung lama.
Pada pasien miastenia gravis, antibodi IgG dikomposisikan dalam berbagai
subklas yang berbeda, di mana satu antibodi secara langsung melawan area imunogenik
utama pada subunit alfa. Subunit alfa juga merupakan binding site dari aseltikolin. Ikatan
antibodi reseptor aseltikolin pada reseptor aseltikolin akan mengakibatkan terhalangnya
transmisi neuromuskular melalui beberapa cara, antara lain: ikatan silang reseptor
aseltikolin terhadap antibodi antireseptor aseltikolin dan mengurangi jumlah reseptor
aseltikolin pada neuromuscular junction dengan cara menghancurkan sambungan ikatan
pada membran post sinaptik, sehingga mengurangi area permukaan yang dapat digunakan
untuk insersi reseptor-reseptor aseltikolin yang baru disintesis.

D. MANIFESTASI KLINIS
Yudistira, 2014 mengatakan Miasthenia Gravis dapat terjadi secara berangsur atau
mendadak. Tanda dan gejala :
1. Pengatupan kelopak mata yang lemah, ptosis, dan diplopia akibat kerusakan transmisi
neuromuskuler pada nervus kranialis yang mempersarafi otot-otot bola mata
(mungkin menjadi satu-satunya gejala yang ada).

8
2. Kelemahan otot skeletal dan keluhan mudah lelah yang akan bertambah ketika hari
semakin siang, tetapi akan berkurang setelah pasien beristirahat (pada stadium awal
MG dapat terjadi keadaan mudah lelah pada otot-otot tertentu tanpa ada gejala lain.
Kemudian, keadaan ini bisa menjadi cukup berat dan menyebabkan paralisis).
3. Kelemahan otot yang progresif dan kehilangan fungsi yang menyertai menurut
kelompok otot yang terkena; keadaan ini menjadi semakin parah pada saat haid dan
sesudah mengalami stress emosi, terkena cahaya matahari dalam waktu lama, serta
pada saat menderita demam atau infeksi
4. Tampilan wajah yang kosong serta tanpa ekspresi dan nada vocal hidung, yang semua
terjadi sekunder karena kerusakan transmisi pada nervus kranialis yang mempersarafi
otot-otot wajah.
5. Regurgitasi cairan yang sering ke dalam hidung dan kesulitan mengunyah serta
menelan akibat terkenanya nervus kranialis.
6. Kelopak mata yang jatuh akibat kelemahan otot-otot wajah dan ekstraokuler.
7. Kelemahan otot-otot leher dengan kepala yang miring ke belakang untuk melihat
(otot-otot leher terlalu lemah untuk menyangga kepala tanpa gerakan menyentak).
8. Kelemahan otot-otot pernapasan, penurunan volume tidal serta kapasitas vital akibat
kerusakan transmisi pada diafragma yang menimbulkan kesulitan bernapas. Keadaan
ini merupakan faktor predisposisi pneumonia dan infeksi saluran napas lain pada
pasien myasthenia gravis.
9. Kelemahan otot pernapasan (krisis miastenik) mungkin cukup berat sehingga
diperlukan penanganan kedaruratan jalan napas dan pemasangan ventilator mekanis.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Abdullah, 2016 menjelaskan bahwa Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu
menegakkan diagnosa miastenia gravis antara lain;
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Antibodi reseptor anti-asetilkolin. Hasil dari pemeriksaan ini dapat digunakan
untuk mendiagnosis suatu miastenia gravis, di mana terdapat hasil yang postitif
pada 74% pasien. Sekitar 80% penderita miastenia gravis generalisata dan 50%
penderita dengan miastenia okular murni menunjukkan hasil tes anti-asetilkolin

9
reseptor antibodi yang positif. Titer antibodi lebih tinggi pada penderita miastenia
gravis dalam kondisi yang parah, walaupun titer tersebut tidak dapat digunakan
untuk memprediksikan derajat penyakit miastenia gravis.
b. Antibodi anti striated muscle (anti-SM). Merupakan salah satu tes yang penting
pada penderita miastenia gravis. Tes ini menunjukkan hasil positif pada sekitar
84% pasien yang menderita thymoma dalam usia kurang dari 40 tahun. Pada
pasien tanpa thymoma dengan usia lebih dari 40 tahun, antibodi anti-SM dapat
menunjukkan hasil positif.
c. Antibodi anti-muscle-specific kinase (MuSK). Hampir 50% penderita miastenia
gravis yang menunjukkan hasil antibodi anti-AChR Ab negatif (miastenia gravis
seronegarif), menunjukkan hasil yang positif untuk antibodi anti-MuSK.
d. Antibodi antistriational. Dalam serum beberapa pasien dengan miastenia gravis
menunjukkan adanya antibodi yang berikatan dalam pola cross-striational pada
otot rangka dan otot jantung penderita. Antibodi ini bereaksi dengan epitop pada
reseptor protein titin dan ryanodine (RyR). Antibodi ini selalu dikaitkan pada
pasien thymoma usia muda dengan miastenia gravis. Terdeteksinya titin/RyR
antibody merupakan suatu kecurigaaan yang kuat akan adanya thymoma pada
pasien muda dengan miastenia gravis.
2. Elektrodiagnostik
a. Repetitive Nerve Stimulation (RNS)
Pada penderita miastenia gravis terdapat penurunan jumlah reseptor asetilkolin,
sehingga pada RNS tidak terdapat adanya suatu potensial aksi.
b. Single-fiber Electromyography (SFEMG)
Metode ini menggunakan jarum single-fiber yang memiliki permukaan kecil
untuk merekam serat otot penderita. SFEMG dapat mendeteksi suatu jitter
(variabilitas pada interval interpotensial di antara 2 atau lebih serat otot tunggal
pada motor unit yang sama) dan densitas fiber (jumlah potensial aksi dari serat
otot tunggal yang dapat direkam oleh jarum perekam). SFEMG mendeteksi
adanya defek transmisi pada fiber neuromuskular berupa peningkatan jitter dan
densitas fiber yang normal.

10
F. KOMPLIKASI
Krisis miastenia, yang ditandai dengan perburukan berat fungsi otot rangka yang
memncak pada gawat napas dan kematian karena diafragma dan otot interkostal menjadi
lumpuh, dapat terjadi setelah pengalaman yang menimbulkan stress seperti penyakit,
gangguan emosiaonal, pembedahan, atau selama kehamilan. Krisis kolinergik adalah
respon toksisk yang kadang dijumpai pada penggunaan obat antikolinesterase yang
terlalu banyak. Status hiperkolinergik dapat terjadi yang ditandai dengan peningkatan
motilitas usus, kontrisksi pupil, dan bradikardi. Individu dapat mengalami mual muntah,
berkeringat, dan diare. Gawat napas dapat terjadi:
1. Gagal nafas
2. Disfagia
3. Krisis miastenik
4. Krisis cholinergic
5. Komplikasi sekunder dari terapi obat

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan myasthenia gravis ditentukan dengan meningkatkan fungsi
pengobatan pada obat antikolinesterase dan menurunkan serta mengeluarkan sirkulasi
antibodi. Terapi mencakup agen-agen antikolinesterase dan terapi imunosupresif, yang
terdiri dari plasmeferesis dan timektomi.
1. Agen-agen antikolinesterase
Obat ini beraksi dengan meningkatkan konsentrasi asetilkolin yang relative tersedia
pada persimpangan neuromuscular. Mereka diberikan untuk meningkatkan respon
otot-otot terhadap impuls saraf dan meningkatkan kekuatan otot. Kadang-kadang
mereka diberikan hanya mengurangi simtomatik.
2. Obat-obatan
Dalam pengobatan digunakan piridostigmin bromide (Mestinon), ambenonium
khlorida (Mytelase), dan neostigmin (Prostigmine). Banyak pasien lebih suka pada
piridostigmin karena obat ini menghasilkan efrk samping yang sedikit. Dosis
ditingkatkan berangsur-angsur sampai tercapai hasil maksimal yang diinginkan
(bertambahnya kekuatan, berkurangnya kelelahan), walaupun kekuatan otot normal

11
tidak tercapai dan pasien akan mempunyai kekuatan beradaptasi terhadap beberapa
ketidakmampuan.
3. Obat-obat antikolenesterase diberikan dengan susu, krekers, atau substansi penyangga
makanan lainnya. Efek samping mencakup kram abdominal, mual, muntah dan diare.
Dosis kecil atrofin, diberikan satu atau dua kali sehari, dapat menurunkan atau
mencegah efek samping. Efek samping lain dari terapi antikolenesterase mencakup
efek samping pada otot-otot skelet, seperti adanya fasikulasi (kedutan halus), spasme
otot dan kelemahan. Pengaruh terhadap system saraf terdiri dari pasien cepat marah,
cemas, insomnia (tidak dapat tidur), sakit kepala, disartria (gangguan pengucapan),
sinkope, atau pusing, kejang dan koma. Peningkatan eksresi saliva dan keringat,
meningkatnya sekresi bronchial dan kulit lembab, dan gejala-gejala ini sebaiknya
juga dicatat.
4. Perawat (dan pasien) memprioritaskan untuk member obat-obat yang ditentukan
menururt jadwal waktu pemberian, hal ini untuk mengontrol gejala-gejala pasien.
Penundaan pemberian obat-obatan dapat menyebabkan pasien tidak mampu untuk
menelan obat-obat oral dan ini menjadi masalah. Meningkatnya kekuatan otot dalam
satu jam setelah pemberian obat antikolinesterase merupakan hasil yang diharapkan.
5. Setelah dosis medikasi telah ditetapkan, pasien mempelajari untuk mengambil obat
sesuai dengan kebutuhan individu dan rencana waktu yang ditetapkan. Penyesuaian
lebih lanjut diperlukan dalam stress fisik atau emosionla dan terhadap infeksi baru
yang muncul sepanjang perjalanan penyakit.

Terapi imunosupresif

1. Ditentukan untuk tujuan menurunkan produksi antibodi anti reseptor atau


mengeluarkan langsung melalui perubahan plasma (digambarkan di bawah ini).
Terapi imunosupresif mencakup kortikosteroid, plasmaferesis dan timektomi. Terapi
kortikosteroid dapat menguntungkan pasien dengan myasthenia yang pada umumnya
berat. Kortikosteroid digunakan dengan efek terjadinya penekanan respon imun
pasien, sehingga menurunkan jumlah penghambatan antibodi. Dosis antikolinesterase
diturunkan sambil kemampuam pasien untuk mempertahankan respirasi efektif dan

12
kemampuan menelan dipantau. Dosis steroid berangsur-angsur ditingkatkan dan obat
antikolinesterasae diturunkan dengan lambat.
2. Prednisone. Digunakan dalam beberapa hari untuk menurnkan insiden efek samping,
dan terlihat dengan sukses adanya penekanan penyakit. Kadang-kadang pasien
memperlihatkan adanya penurunan kekuatan otot setelah terapi dimulai, tetapi ini
biasanya hanya sementara.
3. Obat Sitotoksik. Obat sitotoksikjuga diberikan. Walaupun mekanisme aksi yang
sepenuhnya muncul tidak dimengerti, namun obat-obat seperti azatioprin (imuran)
dan siklofosfamid (Cytoxan) menurunkan titer sirkulasi asetilkolin pada reseptor
antibodi. Efek samping yang muncul kadang-kadang terjadi dan hanya pasien dengan
penyakit berat saja yang diobati dengan obat-obatan ini.
4. Pertukaran plasma (plasmaferesis). Plasmaferesis adalah teknik yang memungkinkan
pembuangan selektif plasma dan komponen plasma pasien. Sel-sel yang sisa kembali
dimasukkan. Penukaran plasma menghasilkan reduksi sementara dalam titer sirkulasi
antibodi. Proses ini mempunyai pengaruh yang hebat pada pasien tetapi tidak
mengobati keadaan abnormal (meghasilkan antireseptor antibodi) sampai waktu yang
panjang

13
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Nama (X), umur (th), alamat, pekerjaan, jenis kelamin (laki-laki)
2. Keluhan utama
Sesak, kelopak mata kiri sulit terbuka, kedua kaki terasa lemah saat berjalan jauh.
3. Riwayat penyakit saat ini
Myasthenia garvis menyerang otot-otot wajah dalam hal ini di daerah mata sehingga
kelopak mata kiri sulit terbuka. Penyakit ini menyerang otot-otot pernapasan yang
ditandai dengan dispnea yang dialami pasien. Kemudian terjadi serangan pada otot
ekstremitas bawah yang mengakibatkan kedua ekstremitas bawah sulit untuk
digerakkan.
4. Riwayat penyakit dahulu
Mengkaji faktor yang memperberat myasthenia gravis seperti hipertensi dan diabetes
mellitus.
5. Riwayat penyakit keluarga
Mengkaji adanya riwayat myasthenia gravis pada keluarga pasien.
6. Sosio psikospiritual
Klien dengan penyakit myasthenia gravis sering mengalami gangguan emosi dan
kelemahan otot apabila berada dalam situasi tegang. Adanya kelemahan pada kelopak
mata (ptosis), dilopia, dan kesulitan dalam komunikasi verbal menyebabkan klien
sering mengalami gangguan citra diri.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Review of system:
1) B1 (Breathing) : Sesak napas, takipnea
2) B2 (Blood) : Hipertensi ringan

14
3) B3 (Brain) : Kelemahan otot ekstraokuler yang menyebabkan mata sebelah
kiri klien sulit terbuka
4) B4 (Bladder) : Penurunan fungsi kandung kemih, retensi urin, dan hilangnya
sensasi saat berkemih
5) B5 (Bowel) : Kesulitan mengunyah, menelan, disfagia, penurunan peristaltic
usus, hipersalivasi dan hipersekresi.
6) B6 (Bone) : Gangguan aktivitas/mobilitas fisik dan kelemahan otot yang
berlebih kedua extremitas bawah semakin sulit digerakkan
b. Tingkat kesadaran
c. Fungsi serebral: Aktivitas motorik mengalami perubahan yaitu kedua ekstremitas
sulit digerakkan.
d. Pemeriksaan saraf cranial:
1) Saraf I: tidak ada kelainan
2) Saraf II: penurunan pada tes tajam penglihatan dan sering megeluh adanya
penglihatan ganda
3) Saraf III, IV dan VI: adanya ptosis. Adanya oftalmoplegia, mimic dari
pseudointernuklear oftalmoplegia akibat gangguan motoirik pada saraf VI.
4) Saraf V: didapatkan adanya paralisis pada otot wajah akibat kelumpuhan pada
otot-otot wajah
5) Saraf VII: persepsi pengecapan terganggu akibat adanya gangguan motorik
lidah
6) Saraf VII: persepsi pengecapa ternganggu
7) Saraf VIII: tidak ditemukan tuli konduksi dan tuli persepsi
8) Saraf IX dan X: ketidakmampuan menelan
9) Saraf XI: tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius
10) Saraf XII: lidah tidak simetris, adanya deviasi pada satu sisi akibat kelemahan
otot motorik pada lidah.
e. System motorik : Adanya kelemahan pada otot rangka yaitu otot ekstremitas
bawah yang memberikan manifestasi pada hembatan mobilitas (berjalan).

15
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan.
3. Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan kontrol tersedak
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan menelan makanan..
5. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan pelemahan sistem
musculoskeletal.

C. INTERVENSI
1. Diagnosa : Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
Tujuan : terjadi peningkatan kekuatan dan ketahanan anggota gerak, dengan
criteria hasil:
a. Klien mampu menggunakan alat-alat adaktif untuk menunjang mobilitas
b. Mampu menggunakan tindakan keamanan untuk meminimalkan kemungkinan
cidera
c. Menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

Intervensi :

a. Ajarkan untuk melakukan latihan rentang gerak aktif pada anggota gerak yang
sehat
b. Posisi dalam kesejajaran tubuh untuk mencegah komplikasi
c. Beri mobilisasi progresif
d. Ajarkan kewaspadaan keamanan
e. Menjaga ketahanan dan kekuatan anggota gerak sehat
f. Posisi sejajar akan meninbulkan titik berat tepat berpusat di tengah sehingga
diharapkan tidak terjadi komplikasi berkelanjutan
g. Tingkatkan mobilisasi klien secara bertahab agar klien mampu melakukan
aktifitas minimmal, bila perlu ajarkan klien menggunakan alat bantu gerak

16
2. Diagnosa : Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelemahan otot
pernafasan
Tujuan : klien menunjukkan frekuensi pernapasan yang efektif dan mengalami
perbaikan pertukaran gas pada paru, dengan kriteria hasil :
a. Irama, frekuensi dan kedalaman pernapasan dalam batas normal
b. Bunyi napas terdengar dengan jelas
c. Respiratori terpasang dengan optimal

Intervensi :

a. Kaji kemampuan ventilasi


b. Kaji kualitas, frekuensi, dan kedalaman pernapasan, laporkan setiap perubahan
yang terjadi
c. Baringkan klien dalam posisi yang nyaman atau dalam posisi fowler
d. Observasi TTV
e. Beri alat bantu napas mekanik
f. Edukasi pada pasien Dengan bantuan alat bantu napas diharapkan suplay oksigen
akan membaik
g. Kolaborasi dalam pemberian obat pernafasan

3. Diagnosa : Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan kontrol tersedak


Tujuan : Diharapkan tidak terjadi aspirasi, dengan kriteria hasil:
a. Klien tidak mengalami aspirasi
b. Klien menunjukkan sikap mengerti pada instruksi untuk menghindari aspirasi

Intervensi :

a. Pertahankan posisi miring jika tidak ada kontra indikasi


b. Kaji posisi lidah
c. Bersihkan sekresi dari mulut dan tenggorokan dengan tissue atau penghisap
secara perlahan
d. Edukasikan klien untuk memposisikan tubuhnya secara miring otomatis akan
mencegah masuknya benda asing dari mulut ke tenggorokan

17
e. Memastikan jika lidah tidak jatuh ke belakang menyumbat jalan nafas
f. Sekresi air liur yang berlebih bisa masuk ke tenggorokan dan menyebabkan
aspirasi akibat menurunnya reflek epiglottis

4. Diagnosa : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidakmampuan menelan makanan.
Tujuan : Masukan kalori akan adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolic
dengan criteria hasil:
a. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
b. Klien tidak mengalami penurunan berat badan signifikan
c. Klien kooperatif dengan pemberian makanan melalui NGT

Intervensi :

a. Kaji reflek gangguan menelan dan refek batuk sebelum pemberian peroral
b. Hentikan pemberian makan per oral jika pasien tidak dapat mengatasi sekresi oral
atau jika reflek gangguan menelan atau batuk tertekan
c. Pasang selang makan kecil dan berikan makan per-selang jika terdapat dysfagia
d. Catat intake dan output
e. Kolaborasi dengan konsultasi gizi untuk mengevaluasi kalori
f. Timbang pasien setiap hari.
g. Memberikan nutrisi yang adekuat sesuai jumlah kebutuhan pasien

5. Diagnose : Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan pelemahan sistem


musculoskeletal
Tujuan : klien dapat menunjukkan pengertian terhadap masalah komunikasi untuk
mengungkapkan perasaannya menggunakan bahasa isyarat
Intervensi :
a. Kaji Kemampuan komunikasi klien
b. Lakukan metode komunikasi yang ideal sesuai dengan kondisi klien
c. Beri peringatan bahwa klien di ruang ini mengalami gangguan berbicara, sediakan
bel bila perlu

18
d. Antisipasi dan bantu kebutuhan klien
e. Kolaborasikan konsultasi ke ahli terapi bicara
f. Edukasi pada klien dan keluarga bahwa kelemahan otot-otot bicara pada klien
krisis miastenia gravis dapat berakibat pada komunikasi

19
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Rozi. 2016. Tatalaksana Pasien Krisis Miastenia Gravis Dengan Syok Septik.
Farmakologi Klinik Stase Departemen Anestesiologi Fakultas Kedokteran UI

Istiantoro. 2012. Farmakologi dan Terapi Edisi V Tuberkulostatik dan Leprostatik. Jakarta :
Balai FKUI

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdosi). 2016. Konsensus Nasional


Penanganan Trauma Kapitalis dan Trauma Spinal. Jakarta : CV. Prikarsa Utama

Yudistira, Erlan. 2014. Myastenia Gravis Refarat. Sekolah Tinggo Ilmu Kesehatan Dharma
Husada. Bandung

20