Anda di halaman 1dari 5

Ummul Hikmahtia

40030317060014
Kelompok 9 Samarinda

MAHASISWA BERMENTAL JUARA


Mahasiswa merupakan masa transisi dari siswa dimana sebelumnya menduduki
bangku Sekolah Menengah Atas menjadi Perguruan Tinggi. Menyandang gelar mahasiswa
menjadi kebanggaan tersendiri bagi siswa yang baru saja mendapatkannya, namun menjadi
mahasiswa juga merupakan tantangan. Bagaimana tidak, menjadi seorang mahasiswa
faktanya tidak hanya terbebas dari aturan-aturan semasa sekolah yang mengikat seperti
harus memakai seragam dan lain sebagainya. Namun, menyandang status sebagai
mahasiswa banyak beban yang harus diemban karena mahasiswa merupakan agen
perubahan bagi pembangunan bangsa ini. Menjadi mahasiswa tidak hanya sekedar kuliah-
pulang kuliah-pulang, namun harus ada kesadaran yang muncul untuk membuat perubahan
yang lebih baik lagi kedepannya.
Mahasiswa harus mempunyai karakter, etika dan moral yang baik serta mental yang
kuat dan tahan banting. Maksudnya, pada masa peralihan yang sebelumnya berstatus siswa
menjadi mahasiswa harus menyiapkan mental yang lebih matang lagi karena tantangan
yang akan dihadapi lebih banyak lagi. Pada umumnya masa awal menjadi mahasiswa akan
muncul perasaan shok akan kehidupan yang berbeda pada saat sekolah dulu, sehingga
menjadi mahasiswa tidak semudah yang dibayangkan. Saat menjadi mahasiswa target
hidup harus mulai disusun secara jelas dengan membuat pencapaian-pencapaian dalam
lingkup kecil hingga besar, misalnya ingin mendapatkan IPK yang cumlaude harus belajar
dengan sungguh-sungguh dan lain sebagainya. Sehingga tujuan hidup untuk masa
depanpun mulai tertata.
Kehidupan mahasiswa tidak hanya sekedar belajar mendengarkan dosen di dalam
ruang kelas, bukan zamannya lagi mahasiswa untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau
menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi tetapi mahasiswa
harus menjadi aktor utama perubahan tersebut dengan jiwa masyarakat yang akan dituju
dari perubahan tersebut yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Mahasiswa harus menjadi
agen pemberdayaan setelah perubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non
fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya
yaitu social control, kontrol sosial, yang mengawasi dan mengawal jalannya perubahan
bangsa sehingga menutup celah-celah adanya ketimpangan. Mahasiswa bukan sebagai
pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai aktor dalam
masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa juga merupakan bagian
masyarakat. Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan
dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku
disekitarnya, dan pola berpikirnya. Oleh karena itu, mahasiswa harus memiliki mental
juara guna untuk menempatkan diri menjadi seorang pemimpin yang mampu menjadi agen
perubahan ke arah yang lebih baik lagi.
Memiliki keinginan untuk menjadi juara adalah hal wajar yang dimiliki setiap
orang. Namun hanya akan menjadi keinginan bila seorang mahasiswa tidak segera
melakukan pergerakan. Menjadi juara tidaklah mudah, akan menemui banyak halang
rintang untuk berada diatas dan ketika diatas,tidak terlepas juga dari hambatan yang siap
menjatuhkan. Membangun mental juara harus dilakukan sedini mungkin, agar mampu
mengurangi resiko kalah dalam hidup. Mahasiswa wajib memiliki mental juara di dalam
dirinya, agar seorang mahasiswa mampu mengambil tindakan yang terbaik di dalam hidup,
mampu memiliki jiwa saing yang sehat untuk menentukan pilihan hidup kedepannya dan
mampu menjadi pemimpin yang berorientasi pada kesuksesan. Banyak cara yang dapat
dilakukan untuk membentuk mental juara di dalam diri mahasiswa, diantaranya :
1. Memiliki Wawasan yang Luas
Pola pikir akan mempengaruhi hasil yang akan didapatkan. Bila seseorang berkutat
dalam pikiran yang sempit maka perkembangan yang terjadi juga lamban. Dalam
menghadapi permasalahan misalnya, seorang mahasiswa tidak boleh hanya
mengedepankan ego maupun membiarkan begitu saja permasalahan yang ada.
Mahasiswa yang memiliki mental juara akan mampu mencari jalan keluar akan
permasalahan tersebut dengan berfikir kritis sehingga masalah akan terpecahkan.
Begitu pula dalam hal belajar, mahasiswa hendaknya mampu berfikiran dan
berwawasan luas sehingga terjadi proses timbal balik antara dosen dan mahasiswa
dalam proses belajar mengajar.
2. Hindari Pemikiran Buruk
Lelah adalah faktor utama yang akan membuat hati berpikiran buruk. Seorang
mahasiswa perlu mengontrolnya agar tidak merugikan. Cobalah untuk segera
melupakannya atau mencari hal untuk menjauhkan pikiran tersebut. Bila hal ini
terus dijalani akan menyia-nyiakan usaha yang telah dilakukan. Misalnya dalam
melakukan sesuatu, jika sekiranya hal itu adalah sesuatu yang baik dan akan
mendatangkan manfaat berusahalah untuk melakukannya dan jangan berorientasi
akan kegagalan, yakini hati bahwa diri sendiri mampu untuk melakukannya.
3. Tidak Menjadi Mahasiswa Gila Pujian
Gila pujian hanya akan membuat seseorang semakin sombong. Ingat, diatas langit
masih ada langit. Jika dengan sebuah pujian saja sudah merasa paling baik, maka
dapat dikatakan mental yang dimiliki adalah mental orang lemah.
4. Selalu Meningkatkan Kualitas Hidup
Hidup pastinya akan terus berlanjut selama nyawa masih dikandung badan, untuk
itu hidup harus ada perubahan yang lebih baik dari wakty ke waktu. Ingatlah hari
ini akan lebih baik dari hari esok.
5. Menyiapkan Visi, Misi dan Tujuan Hidup
Hidup pastinya memiliki tujuan kedepannya, ingin menjadi apa kedepannya harus
sudah dipikirkan oleh mahasiswa. Untuk merealisasikan tujuan hidup tersebut
hendaknya memiliki visi dan misi di dalam hidup, sehingga seorang mahasiswa
dapat mengukur sejauh mana perkembangan dirinya sesuai dengan visi dan misi
yang telah dibuat.
6. Memiliki Rasa Bertanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri
Bertanggung jawab harus dimiliki oleh setiap orang. Apa yang telah dilakukan,
harus ada pertanggung jawabannya sehingga tidak lepas tangan begitu saja akan
sesuatu yang terjadi di kemudian hari atas apa yang telah dilakukan. Selain itu,
tidak menyalahkan orang lain juga merupakan bentuk pengaplikasian dari sikap
memiliki rasa tanggung jawab.
7. Tidak Menunda Pekerjaan
Sebagai seorang mahasiswa, hendaknya mampu memanajemen waktu sebaik
mungkin, sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik dan tidak ada yang
terbengkalai. Salah satunya dalam pengerjaan tugas dan sejenisnya, hendaknya
jangan menunda apapun itu karena waktu adalah uang yang artinya waktu sangatlah
berharga. Jika menunda pekerjaan, sama saja akan kehilangan banyak waktu untuk
menata diri guna meraih masa depan yang lebih baik lagi.
8. Keluar dari Zona Nyaman
Berdiam diri dalam kenyamanan hanya akan memperlambat langkah menuju juara.
Ketahuilah bahwa karakter yang kuat dibentuk dalam badai bukan dalam
ketenangan. Jika seorang mahasiswa hanya berdiam diri dilingkungan kampus
dengan mendengarkan pembelajaran dari dosen saja, menjadi mahasiswa yang
hanya kuliah-pulang kuliah-pulang yakinlah kehidupan mahasiswa akan
terbelenggu dan terikat dalam situasi yang sama. Sehingga tidak akan muncul
mental juara melainkan mental orang lemahlah yang akan muncul.
Membangun mental juara tidak dapat dilakukan secara instan dan tanpa ada usaha,
mental juara akan terbentuk jika adanya kesadaran yang muncul dari dalam diri mahasiswa
untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang mampu mengayomi, pribadi yang
mau menjadi agen perubahan yang lebih baik untuk dirinya sendiri, lingkungannya bahkan
negara Indonesia ini. Untuk itu, mulailah tanamkan dalam diri apa tujuan hidup ini, untuk
apa kedepannya diri ini dan akan jadi apakah bangsa ini ditangan kita, seorang mahasiswa
sang agen perubahan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Michaela, Carolina. 2016. “Rahasia Membangun Mental Juara,” dalam
http://www.tommcifle.com. Diunduh Kamis, 02 Januari 2017.
Winasis, Yoga. 2016. “Mahasiswa Sebagai Sosok Perubahan,” dalam
http://yogawinasis.web.ugm.ac.id. Diunduh Kamis, 02 Januari 2017.