Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Golongan penduduk yang telah mencapai usia lanjut disebut lanjut

usia. Mereka yang berumur 55 tahun ke atas adalah batasan untuk lanjut

usia dan menurut WHO batasan usia lanjut di atas 60 tahun (Depkes,

1991). Penduduk lanjut usia ini, sebagai mana manusia pada umumnya

memerlukan berbagai sarana untuk memenuhi kebutuhannya, diantara

berbagai kebutuhan tersebut, kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan makan

minum merupakan kebutuhan tingkat pertama yang harus dipenuhi.

Dengan demikian keadaan gizi yang baik diharapkan para lanjut usia

dapat tetap sehat, segar dan bersemangat dalam berkarya. Melalui gizi

yang baik, usia produksi mereka dapat ditingkatkan sehingga tetap dapat

ikut berperan dalam pembangunan (Direktorat Bina Gizi Masyarakat,

1991).

Umur harapan hidup yang meningkat menyebabkan jumlah lansia

juga semakin meningkat. Berdasarkan proyeksi, penduduk Indonesia dari

tahun 1980 sampai tahun 2000 yang ditetapkan oleh Biro Pusat Statistik,

menyatakan bahwa jumlah penduduk di atas 55 tahun berjumlah

11.410.800 jiwa (7,7 % dari jumlah penduduk). Pada tahun 1980

meningkat menjadi 13.342,600 jiwa (18,08 %) dan pada tahun 2000,


diperkirakan menjadi 22.281.400 jiwa atau 10 % dari total penduduk

(Depkes, 1991). Meningkatnya jumlah lansia dengan cepat dapat

menimbulkan permasalahan yang akan mempengaruhi kelompok

pendududk lainnya (Hardywinoto dan Setiabudi, 2005).

Kelompok lanjut usia rawan mengalami kekurangan gizi. Faktor

sosial dan ekonomi seperti kemiskinan, ketidakberdayaan, dan terisolasi

menyebabkan kebutuhan pangan dan gizi lansia tidak terpenuhi

(Wirakusumah, 2001). Makin melemahnya nilai kekerabatan, sehingga

anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan

dihormati merupakan permasalahan sosial yang berkaitan dengan

pencapaian kesejahteraan lanjut usia (Hardywinoto dan Setiabudi, 2005).

Permasalahan khusus yang berkaitan dengan kesejahteraan Lanjut Usia

adalah berkurangnya integrasi sosial Lanjut Usia akibat produktivitas dan

kegiatan yang menurun. Hal ini berpengaruh negatif pada kondisi sosial

psikologi mereka yang merasa sudah tidak diperlukan lagi oleh

masyarakat lingkungan sekitarnya(Hardywinoto dan Setiabudi, 2005).

Permasalahan tersebut merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya

depresi yang terkait dengan kebutuhan gizi lansia. Depresi hampir dialami

oleh 12-14 % populasi lansia yang menyebabkan selera makan terganggu

dan terjadinya penurunan berat badan. Kondisi mental yang tidak sehat

menyebabkan terjadinya status gizi buruk (Wirakusumah, 2001).


Depresi merupakan suatu gangguan keadaan tonus perasaan yang

secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apatis, pesimisme, dan

kesepian yang mengganggu aktivitas sosial dalam sehari-hari. Depresi

biasanya terjadi pada saat stress yang dialami oleh seseorang tidak

kunjung reda, sebagian besar diantara kita pernah merasa sedih atau

jengkel, kehidupan yang penuh masalah, kekecewaan, kehilangan dan

frustasi yang dengan mudah menimbulkan ketidakbahagiaan dan

keputusasaan. Namun secara umum perasaan demikian itu cukup normal

dan merupakan reaksi sehat yang berlangsung cukup singkat dan mudah

dihalau (Gred Wilkinson, 1995).

Depresi dan Lanjut Usia sebagai tahap akhir siklus perkembangan

manusia. Masa dimana semua orang berharap akan menjalani hidup

dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak dan

cucu tercinta dengan penuh kasih sayang. Pada kenyataanya tidak

semua lanjut usia mendapatkannya. Berbagai persoalan hidup yang

menimpa lanjut usia sepanjang hayatnya seperti : kemiskinan, kegagalan

yang beruntun, stress yang berkepanjangan, ataupun konflik dengan

keluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki keturunan

yang bisa merawatnya dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi hidup seperti

ini dapat memicu terjadinya depresi. Tidak adanya media bagi lanjut usia

untuk mencurahkan segala perasaan dan kegundahannya merupakan

kondisi yang akan mempertahankan depresinya, karena dia akan terus


menekan segala bentuk perasaan negatifnya ke alam bawah sadar (Rice

philip I, 1994).

Depresi lansia merupakan masalah psikogeriatri yang sering

dijumpai dan perlu perhatian khusus. Depresi lansia akan mempunyai

dampak yang cukup serius terhadap fisik dan kehidupan sosialnya.

(Jayanti, 2008)

Lansia yang tinggal di panti wredha mempunyai lingkungan

kehidupan yang berbeda dengan lansia yang tinggal di rumah sendiri atau

bersama keluarganya. Sikap masyarakat dan lingkungan sekitar terhadap

lansia serta pendekatan terhadap mereka banyak mempengaruhi harga

diri dan tingkat kesehatan mereka. (Yulianti, 2005)

Untuk meminimalkan resiko yang terjadi pada lanjut usia perlu

diciptakan suatu program agar usia lanjut tetap sehat, produktif dan tidak

tergantung pada orang lain. Salah satu aspek yang dapat membantu

tercapainya program tesebut adalah dengan menjaga kesehatan yang

menyangkut kondisi konsumsi pangannya. Oleh karena itu, dianggap

perlu untuk mengembangkan pedoman perilaku makan yang baik dan

sehat untuk usia lanjut melalui pengetahauan gizi seimbang menuju hidup

sehat bagi usia lanjut (Direktorat Gizi Masyarakat, 2000).

Program pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam

kesejahteraan lansia diselenggarakan panti-panti werdha salah satunya

adalah Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso Pakem Sleman. Tujuan Panti
Sosial Tresna Wredha Abiyoso Yogyakarta adalah untuk memenuhi

kebutuhan hidup bagi lanjut usia sehingga mendapatkan kesejahteraan

dan ketentraman lahir dan batin. Pelayanan kebutuhan makan dengan

pengaturan makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan

gizi lanjut usia.(Setyanigrum, 2009)

Akhirnya peneliti ingin melakukan penelitian tentang hubungan

antara asupan makanan dan status gizi dengan tingkat kejadian depresi

pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso Pakem Sleman

Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana tingkat kejadian depresi lansia pada panti Sosial Tresna

Wredha Abiyoso Pakem Sleman Yogyakarta?

2. Apakah ada hubungan antara asupan makanan dan status gizi dengan

tingkat kejadian depresi pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna

Wredha Abiyoso Pakem Sleman Yogyakarta.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan antara tingkat kejadian depresi dengan status

gizi Lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso Pakem, Sleman,

Yogyakarta.
2. Tujuan khusus

a. Mengetahui tigkat kejadian depresi lansia

b. Mengetahui asupan makanan lansia

c. Mengetahui status gizi lansia

d. Mengetahui hubungan tingkat kejadian depresi dengan asupan

makanan dan status gizi pada lansia

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang gizi masyarakat

E. Manfaat

1. Bagi Pengelola Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso

Sebagai bahan masukan atau informasi guna perencanaan dan

menentukan kebijakan program gizi lanjut usia yang lebih baik.

2. Bagi Peneliti lain

Sebagai sumber informasi bagi peneliti lain yang akan

melakukan penelitian sejenis.


Metode

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dan deskriptif kuantitatif

dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Panti Sosial

Tresna Werdha Abiyoso Pakem, Sleman, Yogyakarta. Subyek penelitian

berjumlah 55 orang. Instrumen penelitian untuk mengetahui tingkat depresi

adalah skala depresi geriatri, kuesioner karakteristik demografi, dan untuk

mengukur asupan makanan dan status gizi, data diperoleh dengan cara

pengukuran berat badan, tinggi badan, recall asupan makanan 24 jam. Data

dianalisis dengan uji Chi-Square.


BAB II

Tinjauan Pustaka

A. Batasan Lansia

Lanjut usia adalah seorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60

tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih berkemampuan (potensial)

maupun karena sesuatu hal tidak lagi mau berperan secara aktif dalam

pembangunan (tidak potensial) (Depkes, 2001). Menurut Hardywinoto dan

Setiabudi (2005) kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang

berusia 60 tahun keatas.

a. Menurut organisasi kesehatan dunia, WHO ada empat tahap,

yakni:

1) Usia pertengahan (middle age) (49- 59 tahun)

2) Lanjut usia (elderly) (60-74 tahun)

3) Lanjut usia tua (old) (75-90 tahun)

4) Usia setengah tua (very old) (diatas 90 tahun)

b. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998

Tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1

Ayat 2 meyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia

permulaan tua (Nugroho, 2008).


B. Depresi

1. Pengertian depresi

Hawari (1997) berpendapat bahwa depresi adalah salah

satu bentuk gangguan kejiawaan pada alam perasaan (afektif,

mood), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan

gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain

sebagainya. Maramis (1998) menganggap depresi sebagai

salah satu efek dan emosi yang sudah sedemikian keras

sehingga fungsi individu terganggu. Berbeda dengan pendapat

nugro (2000) depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis

yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa

serangan yang ditunjukan [ada diri sendiri atau perasaan marah

yang dalam.

Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan dan

perasaan yang berkepanjangan atau abnormal. Dapat

digunakan untuk menunjukan berbagai fenomena, seperti

tanda, gejala, sindrom, emosional, reaksi (stuart, 2006)

Depresi adalah gangguan efektif/ mood yang ditandai

dengan adanya kehilangan minat terhadap aktifitas yang

menyenangkan, efek distorik seperti rasa sedih, putus asa,


hilangnya semangat, hilangnya kemampuan berfikir dan adanya

pikiran untuk bunuh diri.(Maslim, 1998)

2. Gejala Depresi

Gejala depresi yang paling umum dan sering dijumpai menurut

Shreeve(1991) :

1) Rasa sedih, suasana hati depresi

2) Nafsu makan tidak baik, berat badan turun

3) Insomia pada awalnya tidak dapat tidur, tidak dapat tidur

lagi setelah bangun tengah malam dan pagi hari atau

penderita depresi tertentu muncul keinginan untuk tidur

terus menerus

4) Perubahan pada aktivitas menajdi mudah lelah

5) Kehilangan perhatian, rasa senang pada aktivitas-aktivitas

yang biasa dilakukan

6) Kehiangan tenaga, merasa kelelahan yang sangat dalam

7) Mempunyai konsep diri yang negatif, cenderung

menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga dan

berdosa
8) Tidak mampu berkonsentrasi, lamban dalam berfikir dan

memusatkan sesuatu.

9) Sering muncul keinginan mati atau melakukan bunuh diri

Sedangkan menurut Maslim (1998) : gejala depresi dibagi menjadi 2

(dua) yaitu :

1) Gejala utama depresi

) Afek depresi

) Kehilangan minat dan kegembiraan

c) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaam

mudah lelah (lelah yang nyata sesudah sedikit kerja) dan

menurunnya aktivitas.

2) Gejala lainnya antara lain : Konsentrasi dan perhatian berkurang,

harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa

bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram

dan pesimistik, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau

bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang.

3. Derajat Depresi

Derajat depresi dibagi menjadi 3 tingkatan (maslim, 2002)


1) Depresi ringan

a) Harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi

b) Ada 2 atau lebih gejala lain

c) Lamanya episode sekitar 2 minggu

2) Depresi Sedang

) Harus ada 2 atau 3 gejala utama

) Terdapat 2 atau 4 gejala lainnya

) Lamanya episode minimal 2 minggu

d) Menghadapi kesulitan yang nyata untuk meneruskan kegiatan

sosial, pekerjaan rumah tangga

3) Depresi berat

a) Semua 3 gejala depresi harus ada

b) Minimal 4 gejala lainnya

c) Bila ada gejala penting yang mencolok, maka penderita tidak

mampu untuk melapor secara rinci

d) Episode minimal 2 minggu


e) Penderita tidak mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan

atau urusan rumah tangga.