Anda di halaman 1dari 8

Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler

dari genus Plasmodium. Malaria pada manusia dapat disebabkan Plasmodium malaria
(Laaveran, 1888), Plasmodium vivax (Grosi dan Felati, 1890), Plasmodium Falciparum
(welch, 1897) dan Plasmodium ovale (Stephens, 1922). Penularan malaria dilakukan oleh
nyamuk betina dari tribus Anopheles (Ross, 1897) (P. N. Harijanto, 2000).
Proses masuknya Plamodium ke dalam tubuh yaitu nyamuk muda mula-mula
menelan parasit malaria dari makanan manusia yang telah terkontaminasi dan nyamuk
Anopheles yang dijangkiti membawa sporozoid Plasmodium dalam kelenjar liur mereka .
Nyamuk dijangkiti apabila ia menghisap darah dari manusia yang telah terinfeksi, apabila
ditelan parasit (gametocytes)yang dihisap dalam darah akan berubah menjadi gamet
jantan dan betina dan kemudian bersatu dengan perut nyamuk. Nyamuk kemudian
menghasilkan ookinete yang menembus lapisan perut dan menghasilkan oocyst pada
dinding perut. Apabila oocyst pecah, nyamuk membebaskan sporozoite yang bergerak
melalui tubuh nyamuk kepada kelenjar liur, dimana nyamuk bersedia untuk menjangkiti
manusia baru. Penyebaran ini kenali sebagi pemindahan stesyen anterior. Sporozoid
ditusuk masuk ke dalam kulitbersama-sama air liur, apabila nyamuk menghisap darah
yang berikutnya (Widoyono, 2008).
Apabila seseorang telah terinfeksi Plasmodium gejalanya mulai timbul dalam
waktu 10-35 hari setelah parasit masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk.
Gejala awalnya berupa demam ringan yang hilang-timbul, sakit kepala, sakit otot dan
menggigil, bersamaan dengan perasaan tidak enak badan (malaise). Kadang gejalanya
diawali dengan menggigil yang diikuti demam (Riyanto, PN. 2000).
Dengan adanya tanda dan gejala yang dikeluhkan serta tampak oleh tim kesehatan,
maka segera dilakukan pemeriksaan laboratorium khususnya pemeriksaan darah untuk
memastikan penyebabnya dan diagnosa yang akan diberikan kepada penderita.
Pemeriksaan yang sering dilakukan adalah pemeriksaan dengan menggunakan sediaan
darah.
Pemeriksaan malaria yang menggunakan sediaan darah maka perlu
pengambilan sampel darah. Tempat pengambilan darah dapat dilakukan di bagian
kapiler dan vena. Darah kapiler pada orang dewasa dipakai ujung jari atau pada anak –
anak dipakai daun telinga, pada bayi dan anak kecil boleh juga pada tumit atau ibu jari
kaki. Sedangkan pada darah vena pada orang dewasa dipakai salah satu vena dalam
fossa cubiti, pada bayi vena jugularis superficialis dapat dipakai juga darah dari sinus
sagittalis superoir (R. Gandasoebrata, 2007).
Sampel yang ideal adalah darah yang diambil dengan menusuk ujung jari atau
daun telinga karena kepadatan tropozoit yang lebih besar (Moody A, 2002).
Persiapan pengumpulan sampel yang akan diperiksa laboratorium harus
memenuhi persyaratan yaitu alat-alat bersih, kering, tidak mengandung deterjen dan
sekali pakai dibuang (disposable), pengambilan sampel pada waktu yang tepat, volume
mencukupi, kondisi baik, tidak lisis, segar/ tidak kadaluwarsa, tidak berwarna, tidak
berubah bentuk, steril, pemakaian antikoagulan atau pengawaet yang tepat, dan
ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat (Kuncoro, dkk 1997).
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler
atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan tertentu dapat pula
digunakan darah EDTA (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Sedian darah malaria dapat dibuat 2 bentuk, yaitu sedian apus darah dan
sediaan darah tebal ( Hiswani, 2004).
Kriteria sediaan apus darahyang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut,
lebar dan panjangnya tidak memenuhi seluruh kaca benda sehingga masih ada tempat
untuk pemberian label, secara granula penebalannya tampak berangsur-angsur menipis
dari kepala kearah ekor, ujung atau ekornya tidak berbentuk bendera robek, tidak
berlubang-lubang karena bekas lemak masih ada di atas kaca benda, tidak terputus-
putus karena gerakan gesekan yang ragu-ragu, tidak terlalu tebal (karena sudut
penggeseran yang sangat kecil) atau tidak terlalu tipis (karena sudut penggeserannya
sangat besar) (Imam Budiwiyono, 1995).
Sediaan apus kering dan telah dipulas memungkinkan untuk mempelajari
morfologi parasit dan keadaan sel darah. Sediaan ini memberikan suatu kemungkinan
untuk membedakan morfologi parasit Protozoa dan hubungannya dengan sel darah dan
lebih dapat dipercaya daripada sediaan yang tebal. Teknik pembuatan sediaan apus
baik pada kaca tutup maupun pada kaca beda, sama seperti penelitian hematologi
(Harold W. Brown, 1982).

Sediaan tebal yang telah dihilangkan hemoglobinnya, yang menghasilkan suatu


konsentrasi parasit yang jauh lebih tinggi daripada sediaan apus, berguna apabila
jumlah parasit kecil atau sediaan tipisnya negatif, terutama berguna untuk menemukan
Plasmodium dalam penyelidikan malaria dan pada penderita dengan infeksi menahun
atau dalam pengobatan antimalaris, juga berguna dalam menemukan Trypanosoma,
Leishmania, dan mikrofilaria. Sediaan yang tebal bukanlah suatu tetesan yang tebal,
tetapi suatu usapan yang diratakan pada suatu ketebalan 50 mikron atau kurang,
sehingga cukup jernih untuk pemeriksaan dengan mikroskop apabila telah dihilangkan
hemoglobinnya (Harold W. Brown, 1982).
Dalam melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegaskan adanya
penyakit Malaria perlu memilih teknik yang tepat dan akurat. Adapun cara satu-
satunya menemukan parasit Plasmodium secara mikroskopis adalah dengan
pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis dan hal itu perlu didukung faktor-faktor
yang mempengaruhi pemeriksaan sebagai berikut :
1. Syarat sediaan Kaca
Kaca sediaan dipakai untuk menempelkan darah yang seringkali diambil
dari tempat yang jauh, sediaan darah ini kemudian diproses, diperiksa dan
kemudian di simpan atau di cuci kembali, maka penting sekali penggunaan
kaca sediaan yang baik dan bermutu. Syarat untuk kaca sediaan yang baik
adalah :
a. Bening atau jernih
b. Permukaan licin, tidak tergores-gores
c. Bersih (bebas dari lemak, debu, asam, atau alkalis)
d. Tebal antara 1,1 dan 1,3 mm
e. Ukurannya sama

2. Pengambilan Darah
Darah dari ujung jari manis atau tengah yang bersih, sedangkan untuk bayi
yang berumur 6 – 10 bulan diambil dari ujung jempol kaki dan yang
berumur kurang 6 bulan sebaiknya diambil dari tumit kaki.

3. Pembuatan Sediaan Darah dan Etiket


Dalam pembuatan sediaan darah tebal yang perlu diperhatikan adalah
tebalnya sediaan. Ketebalan dikatakan memenuhi syarat apabila disetiap
lapang pandang terdapat 10 – 20 sel darah putih.
Untuk pembuatan etiket, pada dasarnya dpat dilakukan melalui dua cara
yaitu :
a. Dengan menggunakan kertas putih biasa
b. Dengan sediaan darah hapus tipis, yang kemudian di fiksasi dengan
methanol. Untuk penulisan tanggal, tempat, dan nomor penderita
cukup dipakai pensil hitam biasa.
Pada pratikum kali ini yaitu membuat hapusan darah tipis dan tebal dengan
baik adapun cara membuatnya yang pertama cara membuat hapusan darah tebal yaitu
siapkan alat dan bahan selanjutnya tentukan jari yang akan diambil dengan teknik
pengambilan kapiler,kemudian preparasi jari yang akan diambil darah secara
kapiler,agar darah yang keluar dapat mengalir dengan baik dan lancar.Lalu bersihkan
jari menggunakan swab alkohol 70% dengan gerakan searah atau memutar dari dalam
keluar.kemudian biarkan mengering dengan sendiri,selanjutnya melakukan
pembendungan dengan jari yang akan ditusuk.lalu melakukan penusukan yang baik
dan benar dengan menggunakan lancet yang streril.Melakukan pembersihan pada
darah yang pertama keluar kemudian diteteskan 5-8 darah (10-20 µl ) selanjutnya
melakukan pelebaran pada tetes darah dengan gerakan memutar dari luar kedalam
(dengan diameter lingkaran 2 cm) dan yang terakhir biarkan sampai mengering
sempurna(dibiarkan pada suhu ruang ± 30 menit hindarkan dari debu dan kotoran.

Cara pembuatan hapusan tipis yaitu siapkan alat dan bahan selanjutnya
tentukan jari yang akan diambil dengan teknik pengambilan kapiler,kemudian
preparasi jari yang akan diambil darah secara kapiler,agar darah yang keluar dapat
mengalir dengan baik dan lancar.Lalu bersihkan jari menggunakan swab alkohol 70%
dengan gerakan searah atau memutar dari dalam keluar.kemudian biarkan mengering
dengan sendiri,selanjutnya melakukan pembendungan dengan jari yang akan
ditusuk.lalu melakukan penusukan yang baik dan benar dengan menggunakan lancet
yang streril.Kemudian diteteskan 2-4 darah (4-6 µ) pada obyek glass yang
bersih,melakukan pembuatan hapusan darah dengan menggunakan cover glass,dan
biarkan sampai mengering sempurna(dibiarkan pada suhu ruang ± 30 menit hindarkan
dari debu dan kotoran.Terakhir tambahkan metanol dan biarkan selama 30 menit dan
metanol ditiriskan.

Berdasarkan hasil pratikum yaitu dapat membuat hapusan darah tipis dan
hapusan darah tebal pada kaca object dengan baik,dari hasil pratikum hapusan yang
dibuat sudah memenuhi syarat maka adapun ciri-ciri jenis sediaan apusan:
Ciri- ciri apusan sediaan darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan darah untuk
pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal, morfologinya lebih jelas.
bentuk parasit plasmodium berada dalam eritrosit sehingga didapatkan bentuk parasit
yang utuh dan morfologinya sempurna. Serta lebih mudah untuk menentukan spesies
dan stadium parasit dan perubahan pada eritrosit yang dihinggapi parasit dapat dilihat
jelas.sedangkan Sediaan darah tebal Ciri- ciri apusan sediaan darah tebal yaitu
membutuhkan darah lebih banyak untuk pemeriksaan dibanding dengan apusan darah
tipis, sehingga jumlah parasit yang ditemukan lebih banyak dalam satu lapang
pandang, sehingga pada infeksi ringan lebih mudah ditemukan. Sediaan ini
mempunyai bentuk parasit yang kurang utuh dan kurang begitu lengkap morfologinya.
(Sandjaja, 2007).

Adapun Parasit yang ada dalam sediaan darah tebal


1. Plasmodium Vivax
Ciri khas dari Plasmodium vivax yaitu eritrosit yang dihinggapi membesar, bila
tropozoid tumbuh maka bentuknya tidak teratur, berpigmen halus. Tropozoid yang
sedang berkembang biak dari Plasmodium vivax berbeda-beda dan tidak beratur
bentuknya. Eritrosit yang terinfeksi oleh parasit ini mengalami pembesaran dan pucat
karena kekurangan hemoglobin.Tropozoit muda tampak sebagai cincin dengan inti
pada satu sisi.Tropozoit tua tampak sebagai cincin amuboid akibat penebalan
sitoplasma yang tidak merata. Dalam waktu 36 jam parasit akan mengisi lebih dari
setengah sel eritrosit yang membesar. Proses selanjutnya inti sel parasit akan
mengalami pembelahan dan menjadi bentuk schizont yang berisi merozoit berjumlah
antara 16 – 18 buah. Gametosit mengisi hampir seluruh eritrosit. Mikrogametosit
berinti besar dalam pewarnaan Giemsa akan berwarna merah muda sedangkan
sitoplasma berwarna biru. Makrogametosit berinti padat berwarna merah letaknya
biasanya di pinggir.Terdapat bintik-bintik merah yang disebut titik Schuffner pada
eritrosit yang terinfeksi parasit ini. ( Sungkar S, 1994 ).
2. Plasmodium Malariae
Plasmodium malariae ukurannya lebih kecil, berbentuk cincin apabila dicat dengan
giemsa mirip cincin Plasmodium vivax hanya sitoplasma lebih biru dan parasit lebih
kecil, teratur serta padat. Parasit ini juga dapat berbentuk pita yang melintang pada sel
darah merah bentuk kromatin seperti benang ( Sungkar S, 1994 ).
3. Plasmodium Falciparum
Pasmodium falciparum, dapat menyebabkan penyakit tertian malign ( malaria
tropica ), infeksi oleh spesies ini menyebabkan parasitemia yang meningkat jauh lebih
cepat dibandingkan spesies lain dan merozoitnya menginfesi sel darah merah dari
segala umur ( baik muda maupun tua ). Hanya ditemukan bentuk tropozoit dan
gametosit pada darah tepi, kecuali pada kasus infeksi yang berat. Schizogoni terjadi di
dalam kapiler organ dalam termasuk jantung. Sedikit schizont di darah tepi, terkait
berat ringannya infeksi. Schizont berisi merozoit berjumlah 16 – 20 buah. Eritrosit
yang terinfeksi tidak mengalami pembesaran. Bisa terjadi multiple infeksi dalam
eritrosit (ada lebih dari satu parasit dalam eritrosit), bentuk acolle (inti menempel
dinding eritrosit) dan spliting (inti parasit terpecah dua). Gametosit berbentuk pisang,
makrogametosit inti kompak (mengumpul) biasanya di tengah sedangkan
makrogametosit intinya menyebar. Sitoplasma eritrosit terdapat terdapat bercak-
bercak merah yang tidak teratur disebut titik Maurer.
4.Plasmodium Ovale Plasmodium ovale merupakan parasit yang jarang terdapat pada
manusia bentuknya mirip dengan plasmodium vivax sel darah merah yang dihinggapi
akan sedikit membesar, bentuknya lonjong dan bergerigi pada satu ujungnya adalah
khas plasmodium ovale. Plasmodium ovale menyerupai plasmodium malariae pada
bentuk skizon dan tropozoid yang sedang tumbuh. ( Sungkar S, 1994 ).

Kesalahan-Kesalahan pada pembuatan sediaan darah


1. Jumlah darah yang digunakan terlalu banyak,sehingga warna Sediaan tebal
menjadi gelap/terlalu biru.Parasit malaria pada sediaan tebal sulit dilihat karena
banyaknya sel darah putih.Demikian juga pada sediaan tipis bertumpuknya sel
darah merah menyebabkan parasit sulit dilihat.
2. Jumlah darah yang digunakan terlalu sedikit,tidak memenuhi syarat yang
diperlukan untuk menyatakan bahwa Sediaan tersebut negatif.
3. Sediaan darah yang berlemak atau kotor dapat menyulitkan pemeriksaan.Selain
itu pada proses pewarnaan,sebagian sediaaan tebal dapat terlepas.
4. Ujung object glass yang kedua yang bergerigi atau terlalu tajam akan
menyebabkan penyebaran sediaan tipis tidak rata dan ujungnya tidak berbentuk
lidah
5. Sediaan tebal yang terletak di ujung object glass,dapat menyulitkan
pemeriksaan karena posisi meja sediaan sudah maksimal(tidak dapat digeser).
Budiwiyono I. Prinsip pemeriksaan preparat hapus darah tepi, Di dalam: keganasan
hematologik pembacaan preparat darah hapus. Workshop hematologi III.
Semarang: Bagian Patologi Klinik Fakultas KedokteranUniversitas
Diponegoro Rumah Sakit Dr. Kariadi, 1995: 20-24.
Brown, Harold W. 1982. Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta : Gramedia.
DepKes RI. 1993. Pemeriksaan Parasit Malaria Secara Mikroskopis, Jakarta.
Gandasoebrata, R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat.
Ginting, Jenny. 2008. Uji Paracreen sebagai diagnotik altermatif malaria falciparum,
Sumatera Utara, Universitas Sumatera Utara, Tesis.
Hanafiah, Kemas Ali. 2008, Rancangan Percobaan Aplikatif: Aplikasi Kondisional
Bidang Pertamanan, Peternakan, Perikanan, Industri, dan Hayati, PT.
Rajagrafindo Persada: Jakarta.
Hadijaja, Pinardi. 1994. Penuntun Laboratorium ParasitologiKedokteran. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.
Harijanto P. N. 2000. Malaria: Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis, dan
Penangganan. Jakarta: ECG.
Hiswani, 2004. Gambaran Penyakit dan Vektor Malaria di Indonesia. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Ismid, Is Suhariah, dkk. 2008. Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat, Jakarta :
Balai Penerbitan FKUI.
Kuncoro, T, dkk. 1997, Manajemen Proses di Laboratorium Klinik Menuju Produk yang
Bermutu, Dalam : Sianipar, O. (ed), 1997, Prinsip-prinsip Manajemen Untuk
Peningkatan Mutu Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit,
Magister Manajemen Rumah Sakit, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Moody A. Rapid Diagnostic tests for malaria parasites. Clin Mikrobiol Rev 2002; 15:66-
78.
Onggowaluyo, Jangkung Samidjo. 2001. Parasitologi Medik I. Jakarta : EGC.
Riyanto, PN. 2000. Malaria Epidemiologi Pathogenesis Manifestasi Klinis dan
Penanganan. Jakarta : ECG.
Sandjaja, B. 2007. Parasitologi Kedokteran Buku I: Protozoologi Kedokteran, Prestasi
Pustaka Publisher, Jakarta.
Sungkar, S dan Pribadi, W. 1994. Malaria. 33-34. Jakarta : FKUI
Tjokronegoro, Arjatmo. 1996. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana. Edisi II Cetakan
Pertama. Jakarta: FKUI
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Penularan dan
Pemberantasannya. Erlangga: Jakarta.