Anda di halaman 1dari 37

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang diatur dalam Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur
bahwa Pemerintahan Daerah ditujukan untuk mendorong lebih terciptanya
daya guna dan hasil guna penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam
menyejahterakan masyarakat, baik melalui peningkatan pelayanan publik
maupun melalui peningkatan daya saing Daerah. Perubahan ini bertujuan
untuk memacu sinergi dalam berbagai aspek dalam penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah dengan Pemerintah Pusat. Sinergi Pemerintah Pusat
dan Daerah akan sulit tercapai tanpa adanya dukungan personel yang
memadai baik dalam jumlah maupun standar kompetensi yang diperlukan
untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah. Dengan cara tersebut Pemerintah Daerah akan mempunyai
birokrasi karir yang kuat dan memadai dalam aspek jumlah dan
kompetensinya.
Kaitannya dengan peningkatan kompetensi, tentunya perlu didukung
dengan kualitas dari aparatur perangkat daerah itu sendiri. Adapun
kualitasnya dapat dilihat dari bagaimana aparatur itu sendiri menjalalankan
tugas, fungsi dan perannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Fungsi
sebagai ASN sebagaimana dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) mengatur bahwa Pegawai
ASN sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik dan perekat dan
pemersatu bangsa, perlu mengaplikasikan nilai-nilai dasar ASN dalam
setiap kegiatan kerjanya. Pegawai Negeri Sipil atau disingkat PNS
merupakan bagian dari ASN sebagaimana diatur dalam UU ASN.
Pasal 1 angka 3 UU ASN mengatur bahwa PNS merupakan warga
negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai
ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki
jabatan pemerintahan. Dilaksanakan pembinaan melalui jalur pelatihan

1
untuk menanamkan nilai-nilai dasar ASN bagi PNS. Untuk dapat
membentuk sosok PNS yang mampu mengerti tugas pokok dan fungsi yang
sesuai kode etik, nilai dasar, dan kode perilaku PNS yang diaktualisasikan
kedalam tindakan sehari hari maka perlu dilaksanakan pembinaan melalui
jalur pendidikan dan pelatihan (diklat). Sesuai dengan UU ASN sebelum
diangkat sebagai PNS setiap CPNS wajib mengikuti pendidikan dan
pelatihan prajabatan (Diklat prajabatan).
Tujuan dari diklat prajabatan ini yaitu untuk membangun integritas
moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan,
karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab dan memperkuat
profesionalisme serta kompetensi bidang. Tugas pelayanan publik
dilakukan dengan memberikan pelayanan atas barang, jasa, dan/atau
pelayanan administratif yang disediakan Pegawai ASN. Adapun tugas
pemerintahan dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan fungsi umum
pemerintahan yang meliputi pendayagunaan kelembagaan, kepegawaian,
dan ketatalaksanaan. Sedangkan dalam rangka pelaksanaan tugas
pembangunan tertentu dilakukan melalui pembangunan bangsa (cultural
and political development) serta melalui pembangunan ekonomi dan sosial
(economic and social development) yang diarahkan meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran seluruh masyarakat.
Kemudian lebih lanjut nomenkatur Diklat Prajabatan diubah
menjadi Pelatihan Dasar CPNS, sebagai salah satu jenis pelatihan yang
strategis pasca UU ASN dalam rangka pembentukan karakter PNS dan
membentuk kemampuan bersikap dan bertindak profesional mengelola
tantangan dan masalah keragaman sosial kultural dengan menggunakan
perspektif whole of government atau one government yang didasari nilai-
nilai dasar PNS berdasarkan kedudukan dan peran PNS dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada setiap pelaksanaan tugas
jabatannya sebagai pelayan masyarakat.

Sejalan dengan semangat untuk menerapkan kelima nilai dasar ASN


tersebut diatas maka ditetapkannya UU ASN dan merujuk pada Pasal 63

2
ayat (3) dan ayat (4); CPNS wajib menjalani masa percobaan yang
dilaksanakan melalui proses diklat terintegritasi untuk membangun
integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi, nasionalisme dan
kebangsan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan
memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. Diperlukan sebuah
penyelenggaraan Pelatihan yang inovatif dan terintegrasi, yaitu
penyelenggaraan pelatihan yang memadukan pembelajaran klasikal dan
nonklasikal di tempat Pelatihan dan di tempat kerja sehingga
memungkinkan peserta mampu menginternalisasi, menerapkan, dan
mengaktualisasikan, serta membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi) dan
merasakan manfaatnya, sehingga terpatri dalam dirinya sebagai karakter
PNS yang profesional. Melalui pembaharuan Pelatihan tersebut, diharapkan
dapat menghasilkan PNS profesional yang berkarakter dalam melaksanakan
tugas.

Pelatihan Dasar Calon PNS Golongan III diselenggarakan untuk


membentuk PNS profesional yang berkarakter, yaitu karakter yang dibentuk
oleh sikap dan perilaku displin PNS, nilai- nilai dasar PNS, dan
pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dalam NKRI, serta
menguasai bidang tugasnya sehingga mampu melaksanakan tugas dan
perannya secara professional. Nilai- nilai dasar PNS yang dimaksud ialah
meliputi lima materi pokok yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA). Sedangkan kedudukan dan
peran PNS dalam NKRI yaitu dalam materi Pelayanan Publik, Manajemen
ASN, dan Whole of Goverment.

Untuk dapat menjalankan tugas pelayanan publik, tugas


pemerintahan, dan tugas pembangunan tertentu, Pegawai ASN harus
memiliki profesi dan Manajemen ASN yang berdasarkan pada Sistem Merit
atau perbandingan antara kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang
dibutuhkan oleh jabatan dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang
dimiliki oleh calon dalam rekrutmen, pengangkatan, penempatan, dan

3
promosi pada jabatan yang dilaksanakan secara terbuka dan kompetitif,
sejalan dengan tata kelola pemerintahan yang baik.

Dengan adanya pelatihan dan pendidikan pembentukan PNS


Profesional, maka penyelenggaraan negara dapat berjalan dengan baik
khususnya di bidang pembangunan kesehatan baik di seluruh sektor fasilitas
kesehatan, dalam hal ini fasilitas kesehatan pertama yaitu, Puskesmas yang
diatur dalam Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang
fungsi dan wewenang Puskesmas dalam penyelenggaraan pembangunan
Puskesmas.

1.2 Tujuan dan Manfaat Aktualisasi


1.2.2 Tujuan Aktualisasi
Adapun tujuan aktualisasi pada kegiatan pelatihan dasar CPNS
Golongan III adalah mengimplementasikan rancangan kegiatan yang
dikaitkan dengan nilai- nilai dasar profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
mencakup Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitemen Mutu dan
Anti Korupsi. Mengidentifikasikan Nilai-nilai Dasar Profesi PNS, Peran
dan Kedudukan PNS dalam NKRI serta mengaktualisasikannya.

1.2.2 Manfaat Aktualisasi


a. Bagi peserta latsar
1. Mampu menginternalisasikan dan mengimplementasikan nilai-
nilai dasar ASN kepada diri sendiri maupun dalam pekerjaan
yang dilakukan.

2. Mampu melaksanakan tugas dan perintah sesuai


peraturan perundnag-undangan yang berlaku.
3. Mampu menambah kompetensi diri dan keahlian yang berdaya
guna, dinamis dan bermanfaat bagi diri sendiri.
b. Bagi unit kerja

1. Meningkatnya kesadaran perawat tentang pentingnya


penggunaan alat steri pada alat kesehatan

4
2. Meningkatkan pengetahuan perawat tentang alat steril
3. meningkatkan pelyanan kesehatan yang lebih optimal
c. Bagi organisasi

1. Sebagai bahan evaluasi kebijakan yang dilakukan oleh unit kerja

2. Sebagai stimulus dalam penyelenggaraan pelayanan publik.


1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegaitan ini meliputi aktualisasi mata pelatihan untuk
pembelajaran agenda Sikap Perilaku Bela Negara, aktualisasi Mata
Pelatihan untuk pembelajaran agenda Nilai-Nilai Dasar PNS, aktualisasi
mata pelatihan untuk pembelajaran agenda Kedudukan dan Peran PNS
dalam NKRI. Nilai-nilai dasar profesi PNS hanya terbatas pada lima nilai
dasar yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan
anti korupsi serta mata pelatihan untuk agenda Habituasi yang dilaksanakan
di UPT Puskesmas Mangarabombang sejak tanggal 09 Maret 2020.

5
BAB II
DESKRIPSI ORGANISASI DAN DASAR NILAI – NILAI
DASAR APARATUR SIPIL NEGARA
2.1 Gambaran Umum Organisasi
2.1.1 Letak Geografis
UPTD Puskesmas Mangarabombang terletak di kecamatan
Mangarabombang dan merupakan pintu gerbang sisi sebelah selatan
yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Je’neponto. Lokasi UPT
Puskesmas Mangarabombang berada di jalan poros Takalar Je’neponto.
Wilayah kerja UPT Puskesmas Mangarabombang sebagain besar
merupakan dataran rendah dan sebagaian kecil merupakan daerah
perairan. Adapun batas-batas wilayah kerja sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan Desa Pa’bundukang
- Sebelah timur berbatasan dengan Desa Panynyangkalang
- Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Makassar
- Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Polongbangkeng
selatan.
Luas wilayah kerja Puskesmas Mangarabombang sekitar 32,9 km2.
Terdiri dari 6 desa dan 26 dusun.

Gambar 2.1 Peta wilayah kerja Puskesmas


Mangarabombang

6
2.1.2 Kependudukan
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mangarabombang
sebesar 21.074 jiwa. Di mana jumlah penduduk perempuan 10.915 dan
Laki-laki sebesar 10.159 , yang dibagi dalam beberapa kelompok yaitu:
a. Bayi : 374 orang
b. Balita : 1.851 orang
c. WUS : 4.768 orang
d. Bumil : 412 orang
e. Bulin : 393 orang
f. PUS : 3.524 orang
Rata-rata jumlah anggota Rumah Tangga dalam satu KK berjumlah
4 orang. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Desa Bontomanai dan
terendah di desa Lakatong. Adapun distribusi penduduk menurut jenis
kelamin dapat di lihat pada tabel 2.1 di bawah.
Tabel 2.1 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Wilayah Kerja
Puskesmas Mangarabombang Tahun 2018
Nama Desa Jenis Kelamin
NO. /Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah KK
1 Bontomanai 1857 1956 3813 997
2 Lengkese 1774 1974 3748 948
3 Lakatong 1213 1442 2655 693
4 Mangadu 1808 1681 3489 902
5 Topejawa 1791 2013 3804 975
6 Banggae 1716 1849 3565 908
Jumlah 10159 10915 21.074 5423

2.1.3 Sosial Ekonomi


Salah satu faktor yang menunjang dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat adalah faktor sosial ekonomi sebab merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang berperilaku hidup
bersih dan sehat. Faktor yang dimaksud adalah :
a. Mata Pencaharian

7
Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mangarabombang sebahagian
mata pencarian penduduk adalah bertani, nelayan dan wirausaha.
b. Pendidikan
Pendidikan memegang peranan yang penting dalam dalam
kemajuan suatu bangsa. Partisipasi pendidikan yang tinggi dapat
menjadi motivator dalam peningkatakan tingkat pendidikan di
wilayah Kerja PKM Mangarabombang, Kecamatan
Mangarabombang, kabupaten Takalar.
Betapa berartinya nilai suatu pendidikan bagi kehidupan
masyarakat terlebih lagi orang tua sehingga masyarakat yang sudah
sadar akan pentingnya pendidikan tentu lebih terpacu untuk
menyekolahkan anaknya sampai selesai, sehingga tidak didapati lagi
adanya putus sekolah.
Meskipun disadari bahwa begitu berharganya pendidikan bagi
setiap orang tetapi masih juga dijumpai adanya anak-anak yang putus
sekolah, baik karena alasan ekonomi maupun karena alasan-alasan
yang lain, yang pasti bahwa putus sekolah merupakan suatu tindakan
yang sangat merugikan.
Rendahnya partisipasi pendidikan merupakan suatu pemicu
tingginya angka putus sekolah. Peranan pemerintah terutama dalam
hal pemberian bantuan beasiswa bagi anak berprestasi lebih
tingkatkan, disamping peranan kelurga dalam membangkitkan
semangat belajar pada anak-anak, sehingga jumlah anak yang putus
sekolah dapat diperkecil. Adapun sarana pendidikan yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Mangarabombang adalah :

Tabel 2.2
(Sasaran Pendidikan Di Wilayah Kerja Puskesmas

8
Mangarabombang)
No Kelurahan/Desa SD SMP SMA

1 Banggae 4

2 Lengkese 5

3 Mangadu 2

4 Bontomanai 3 1

5 Topejawa 2

6 Lakatong 3

Jumlah 19 1

Tabel 2.3
(Distribusi Sarana Peribadatan di Wilayah Kerja Puskesmas Mangarabombang
Tahun 2020)
c. Agama dan Adat Istiadat
No. Kelurahan/Desa Mesjid

1 Banggae 4

2 Lengkese 7

3 Mangadu 4

4 Bontomanai 10

5 Topejawa 5

6 Lakatong 6

JUMLAH 36

Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mangarabombang sebagian


besar adalah suku makassar yang hamper sebagian besar penganut

9
agama Islam. Sedangkan bahasa pengantar dalam pergaulan sehari-
hari adalah bahasa makassar.
2.1.4 Sarana Penunjang Kesehatan
1) Fasilitas
Puskesmas Mangarabombang memberikan pelayanan Kesehatan
Dasar dan Rawat Inap. Dalam melaksanakan kegiatanya ditunjang
oleh beberapa fasilitas yang dapat dilihat pada tabel.
Tabel 2.4
(Distribusi Fasilitas Kesehatan dan kendaraan dinas di Wilayah Kerja
Puskesmas Mangarabombang)

No. Sarana Jumlah Keadaan

1 Gedung Puskesmas Rawat 1 Permanen, baik


Jalan
2 Gedung Rawat Inap 1 Permanen, Baik

3 Poskesdes 6

4 Pustu 3
5 Posyandu 31

2) Ketenagaan
Dalam hal peningkatan dan jangkauan pelayana kesehatan, maka semua
tenaga kesehatan di Puskesmas Mangarabombang diberikan tugas dan
tanggung jawab.

Tabel 2.5 Tenaga Kesehatan di Puskesmas Mangarabombang

10
KEKURAN
KEBUTUHAN JUMLAH KETENAGAAN GAN
BERDASARKAN
MAGANG
NO JENIS TENAGA PERMENKES
/
No.75 TAHUN PNS JUMLA
KONTRA
2014 H
K
1 Dokter atau dokter 2 2 0 2 0
layanan primer
2 Dokter Gigi/SKG 1 0 1 1 0
3 Bidan 7 9 18 27 0
4 Perawat 8 9 9 18 0
5 Perawat Gigi 1 1 1 2 0
6 Tenaga Kesehatan 1 1 0 1 0
Masyarakat
7 Tenaga Kesehatan 1 1 0 1 0
Lingkungan
8 Tenaga Gizi 2 2 0 2 0
9 Ahli teknologi 1 1 1 2 0
laboratorium medik
10 Tenaga Kefarmasian 1 1 3 4 0
11 Tenaga administrasi 2 2 23 25 0
12 Cleaning Servis 1 0 2 2 0

13 Sopir 1 0 1 1 0

14 Pengamanan 1 0 1 1 0

Jumlah 29 30 60 90 0

3) Peran serta masyarakat


Peran serta masyarakat dalam proses pembangunan hanya dapat berjalan
apabila masyarakat berperan sebagai subyek dan juga obyek pembangunan
itu sendiri. Keterlibatan masyarakat memegang peranan penting dalam
mencapai tujuan pembangunan itu sendiri, tanpa partisipasi masyarakat

11
mustahil dapat dicapai. Keberhasilan suatu pembangunan bukan hanya
ditentukan oleh peranan pemerintah tetapi juga partisipasi dari segenap
lapisan masyarakat.

12
13
14
2.1.5 Visi, Misi, dan Motto
UPTD Puskesmas Mangarabombang Kabupaten Takalar memiliki visi
dan misi serta tata nilai sebagai berikut :
1. Visi
Visi merupakan pandangan jauh kedepan, kemana dan bagaimana
Instansi Pemerintahan harus dibawa dan berkarya. Visi UPTD
Puskesmas Mangarabombang
“Terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu menuju
masyarakat yang sehat dan mandiri 2023”
2. Misi
1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia;
2. Meningkatkan kualitas layanan kesehatan;
3. Meningkatkan akses dan keterjangkaun masyarakat terhadap
pelayanan;
4. Meningkatkan peran serta dan kemandirian masyarakat;
5. Mengembangkan kerja sama dengan pihak pengusaha
3. Motto
“SIKATUTUI”
(Saling Asah, Saling Asih, Saling Asuh)
2.1.6 Tata Nilai
Tata nilai UPT Puskesmas Mangarabombang adalah “IKHLAS” artinya
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat senantiasa didahului
denagn “Niat Yang Tulus”
I : Inovatif, yaitu mengerahkan semua kemampuan dan keahlian yang
dimiliki untuk menghasilkan karya baru, produk baru dalam bidang
pelayanan kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
K : Kompetitif, yaitu selalu dalam semangat berlomba-lomba memberikan
atau melakukan yang terbaik
H : Humanis, yaitu dalam segala sikap dan tindakannya senantiasa berdasar
asas kemanusiaan, mendahulukan kepentingan sesama manusia.
L : Luwes, dalam arti, tidak kaku, tidak canggung, serta mudah

15
menyesuaikan diri denga kondisi lingkungan kerja.
A : Akuntabel, yaitu bertanggung jawab; daat bertanggung jawabkan, semua
perilaku atau tindakan senantiasa sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku
S : Survive, yaitu mudah beradaptasi dengan segala kondisi; senantiasa
berupaya untuk mempertahankan kehidupan sekalipun dalam kondisi
yang tidak menguntungkan.
2.2 Nilai-Nilai Dasar Profesi ASN
Untuk menghasilkan Aparatur Sipil Negara yang profesional sebagai
pelayan publik, maka perlu untuk menanamkan nilai-nilai dasar profesi ASN sejak
masih menjadi CPNS, sehingga nantinya akan terbentuk ASN yang menerapkan
nilai-nilai tersebut dalam melaksanakan fungsinya sebagai ASN. Adapun nilai-nilai
dasar CPNS yang akan diaktualisasikan dalam kegiatan pelatihan dasar ini yaitu
Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi.
2.2.1 Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi
untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Amanah seorang
PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai dasar
akuntabilitas meliputi :
1. Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah dimana pimpinan
memainkan peranan yang penting dalam menciptakan lingkungannya.
2. Transparansi
Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang dilakukan oleh
individu maupun kelompok/instansi.
3. Integritas
Integritas adalah adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan
dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan
4. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung jawab
juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.

16
5. Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal,
baik menyangkut benda atau orang.
6. Kepercayaan
Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan. Kepercayaan ini
yang akan melahirkan akuntabilitas.
7. Keseimbangan
Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka diperlukan
keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan dan
kapasitas.
8. Kejelasan
Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus memiliki gambaran yang
jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang diharapkan.
9. Konsistensi
Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu
sampai pada tercapai tujuan akhir.
2.2.2 Nasionalisme
Nasionalisme adalah pondasi bagi aparatur sipil Negara untuk
mengaktualisasikan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya dengan orientasi
mementingkan kepentingan publik, bangsa dan Negara. Nilai-nilai dasar
Nasionalisme meliputi:
1. Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa
Menyatakan keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan sesuai dengan
keimanan dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang
adil dan beradab.
2. Nilai-nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, gemar dengan kegiatan kemanusiaan,
dan berani membela kebenaran dan keadilan. Sadar bahwa manusia itu semua
sederajat, maka dikembangkan sikap saling manghormati dan bekerjasama
dengan bangsa lain.
3. Nilai-nilai Persatuan Indonesia
Bangsa Indonesia menempatkan persatuan dan kesatuan, serta kepentingan
dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Persaatuan dikembangkan atas dasar Bhineka Tunggal Ika.

17
4. Nilai-nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Manusia Indonesia menjunjung tinggi dan menghayati hasil dari keputusan
musyawarah, karena itu semua pihak harus mau untuk menerima dan
melaksanakan hasil musyawarah dengan penuh tangung jawab. Kepentingan
bersama lebih utama daripada kepentingan pribadi atau golongan. Keputusan
yang diambil harus menjunjung tinggi nilai keadilan serta dapat dipertanggung
jawabkan.
5. Nilai-nilai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
6. Hak dan kewajiban itu sama kedudukannya dalam menciptakan keadilan
dalam masyarakat. Perlu dikembangkan perbuatan yang luhur dan sikap
kegotong royongan dan kekeluargaan, maka perlu kesinambungan antara hak
dan kewajiban untuk menjaga keadilan terhadap sesama.
2.2.3 Etika Pubik
Etika publik merupakan refleksi atas standar norma yang menentukan baik
atau buruk, benar atau salah tindakan keputusan, perilaku untuk mengarahkan
kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.
Pada prinsipnya ada 3 dimensi etika publik yaitu:
1. Dimensi Kualitas Pelayanan Publik
Etika publik menekankan pada aspek nilai dan norma, serta prinsip moral,
sehingga etika publik membentuk integritas pelayanan publik.
2. Dimensi Modalitas
Unsur-unsur modalitas dalam etika publik yakni akuntabilitas, transparansi,
dan netralitas.
3. Dimensi Tindakan Integritas Publik
4. Integritas publik adalah kualitas dari pejabat publik yang sesuai nilai, standar,
aturan moral yang diterima masyarakat.
Nilai-nilai dasar etika publik:
1. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
2. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan
Republik Indonesia 1945.
3. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.

18
6. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.
8. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah.
9. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat,
berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
10.Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11.Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12.Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
13.Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14.Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai
perangkat sistem karir.
2.2.4 Komitmen Mutu
Komitmen mutu merupakan pelaksanaan pelayanan publik dengan
berorientasi pada kualitas hasil. Adapun nilai-nilai komitmen mutu antara lain
mengedepankan komitmen terhadap kepuasan dan memberikan layanan yang
menyentuh hati, untuk menjaga dan memelihara. Berikut adalah nilai-nilai yang
perlu diperhatikan dalam komitmen mutu antara lain:
1. Bekerja dengan berorientasi pada mutu
2. Inovatif
3. Selalu melakukan perbaikan mutu
4. Membangun komitmen pegawai untuk jangka panjang
5. Membangun kerjasama kolegial antar pegawai yang dilandasi kepercayaan dan
kejujuran
6. Memfokuskan kegiatan pada kepuasan pelanggan, baik internal maupun
eksternal
7. Menampilkan kinerja tanpa cacat (zerodefect) dan tanpa pemborosan
(zerowastey), sejak memulai setiap pekerjaan
8. Efektif dan efisien dalam bekerja
2.2.5 Antikorupsi
Korupsi merupakan perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap,
tidak bermoral, meyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama,
material, mental dan umum. Kesadaran antikorupsi yang telah mencapai puncak
tertinggi akan menyentuh spiritual accountability yang akan selalu ingat akan
perjanjian dengan Tuhannya, dan ingat bahwa antikorupsi adalah tujuan hidup dan

19
sadar bahwa setiap langkah kehidupan harus dipertanggungjawabkan. Di
Indonesia, terdapat 7 tindak pidana korupsi menurut UU No. 31/1999 jo. UU
20/2001 yaitu :
1. Kerugian
2. keuangan negara
3. Suap-menyuap
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Penggelapan dalam jabatan
7. Benturan kepentingan dalam pengadaan
8. Gratifikasi
Dalam pemberantasan korupsi perlu didukung tunas integritas yang
berprinsip bahwa manusia sebagai faktor kunci perubahan, dan pendekatan yang
seutuhnya terkait manusia sebagai makhluk dengan aspek jasmani dan rohani serta
makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. Adapun untuk
mendukung pemberantasan korupsi, KPK bersama para pakar tela mengidentifikasi
nilai-nilai dasar antikorupsi dan dihasilkan sebanyak 9 nilai anti korupsi yaitu
jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani,
dan adil.

2.3 Peran dan Kedudukan ASN dalam NKRI


Pengetahuan tentang kedudukan dan peran ASN dalam NKRI yaitu Whole Of
Government, Managemen ASN, dan Pelayanan Publik.
2.3.1 Whole of Government (WOG)
WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor
dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan
pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik.
Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari
sisi penataan institusi formal maupun informal, yaitu :
1. Penguatan koordinasi antar lembaga
2. Membentuk lembaga koordinasi khusus
3. Membentuk gugus tugas
4. Koalisi sosial

20
Di sisi lain, terdapat beberapa tantangan yang akan dihadapi dalam
penerapan WoG di tataran praktek antara lain adalah:
a. Kapasitas SDM dan institusi
b. Nilai dan budaya organisasi
c. Kepemimpinan
Praktek WoG dalam pelayanan publik terdiri dari :
a. Pelayanan yang bersifat administratif
b. Pelayanan jasa
c. Pelayanan barang
d. Pelayanan regulatif
Berdasarkan pola pelayanan publik dapat dibedakan menjadi 5 macam
pola pelayanan yaitu:
a. Pola pelayanan teknis fungsional
b. Pola pelayanan satu atap
c. Pola pelayanan satu pintu
d. Pola pelayanan terpusat
e. Pola pelayanan elektronik
2.3.2 Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan ASN yang
profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih
dari prakik korupsi, kolusi, dan nepotisme. ASN memiliki fungsi sebagai :
1. Pelaksana kebijakan publik;
2. Pelayan publik; dan
3. Perekat dan pemersatu bangsa
Selanjutnya ASN bertugas :
a. Melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Pejabat Pembina sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan
b. Memberikan pelayanan public yang professional dan berkualitas,
c. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kewajiban ASN yang disebutkan dalam UU ASN adalah :
a. Setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pemerintah
yang sah;
b. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;

21
c. Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang
berwenang;
d. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab;
f. Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan, dan
tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan;
g. Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.3.3 Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah “Sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum
yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di
lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan/atau jasa, baik dalam
pemenuhan kebutuhan masyarakat”. (Lembaga Administrasi Negara: 1998).
Berbagai literatur administrasi publik menyebut bahwa prinsip pelayanan publik
yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah:
1. Partisipatif
2. Transparan
3. Responsif
4. Tidak diskriminatif
5. Mudah dan murah
6. Efektif dan efisien
7. Aksesibel
8. Akuntabel, dan
9. Berkeadilan
Sedangkan sikap pelayanan dapat digambarkan melalui 7P sebagai berikut:
1. Passionate (Sangat bergairah = Bersemangat, Antusias)
2. Progressive (Memakai cara yang terbaik = termaju)
3. Proactive (Antisipatif, proaktif dan tidak menunggu)
4. Prompt (Positif = tanpa curiga dan kekhawatiran)
5. Patience (Penuh rasa kesabaran)
6. Proporsional (Tidak mengada-ada)
7. Punctional (Tepat waktu)

22
BAB 3
RANCANGAN AKTUALISASI

3.1 Unit Kerja


UPT Puskesmas Mangarabombang Kabupaten Takalar.
3.2 Identifikasi Isu
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, isu adalah masalah yang
dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya); kabar yang tidak jelas asal
usulnya dan tidak terjamin kebenarannya; kabar angin; desas-desus. Menurut
W. Howard Chase dan Barry Jones, isu didefinisikan sebagai suatu hal yang
terjadi, baik di dalam maupun di luar organisasi yang apabila tidak ditangani
secara baik akan memberikan efek negatif terhadap organisasi dan berlanjut
pada tahap krisis. Isu merupakan masalah yang dikedepankan dan harus segera
ditanggapi.
Berdasarkan hasil pengamatan ASN saat mulai bekerja di UPT
Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten dari tanggal 19 Agustus 2019 serta
hasil diskusi dengan Mentor, maka ASN mengidentifikasi 3 (Tiga) isu yang
terjadi saat ini, yaitu:
1. Minimnya kesadaran perawat akan pentingnya penggunaan alat steril pada
alat kesehatan di ruang UGD UPT Puskesmas Mangarabombang,
Kabupaten Takalar
2. Kurangnya edukasi pasien maupun keluarga pasien tentang tata tertib
untuk pengurangan penularan penyakit di ruang Rawat Inap UPT
Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
3. Lamanya antrian khususnya pada pasien dengan resiko tinggi di Loket
Pendaftaran UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar.
3.3 Deskripsi Isu
3.3.1 Minimnya kesadaran perawat akan pentingnya penggunaan alat steril
pada alat kesehatan di ruang UGD UPT Puskesmas
Mangarabombang, Kabupaten Takalar
Pengertian sterilisasi adalah proses yang bertujuan untuk

23
menghilangkan semua jenis organisme hidup, dalam hal ini bias berarti
untuk menghilangkan mikroorganisme (protozoa, fungi, bakteri,
mycoplasma, virus) yang  ada pada suatu benda. Dalam proses
Sterilisasi desain untuk bisa membunuh atau menghilangkan
mikroorganisme yang fungsinya untuk menjaga kebersihan suatu benda
atau objek yang akan di pakai oleh manusia.
Seperti yang kita ketahui, Peralatan medis, atau alat - alat
kesehatan yang harus dijaga dalam keadaan steril adalah alat - alat yang
digunakan secara terus - menerus. Artinya bukan alat kesehatan yang
sekali pakai. Dengan demikian, ketika alat digunakan secara bergantian
haruslah dalam keadaan steril. Oleh karena itu, sterilisasi alat kesehatan
merupakan satu prosedur yang wajib dilakukan oleh petugas medis.
Maka dari itu, saya menekankan pentingnya penggunaan alat
sterilisator untuk kesterilan alat kesehatan, karena alat kesehatan sangat
penting di sterilkan untuk mencegah terjadinya
3.3.2 Kurangnya edukasi pasien maupun keluarga pasien tentang tata tertib
untuk pengurangan penularan penyakit di ruang Rawat Inap UPT
Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
Pentingnya adanya tata tertib untuk pasien maupun keluarga agar
pasien dapat memahami bagaimana penularan penyakit dapat terjadi
sehingga pasien dapat mematuhi tata tertib tersebut. Dengan
dipatuhinya tata tertib tersebut, maka dapat mengurangi terjadinya
penularan penyakit.
3.3.3 Lamanya antrian khususnya pada pasien dengan resiko tinggi di Loket
Pendaftaran UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar.
Jumlah kunjungan pasien di UPT Puskesmas Mangarabombang
kurang lebih 70 pasien per harinya, hal ini menyebabkan terjadinya
penumpukan pasien sehingga pasien dengan resiko tinggi seperti lansia,
bayi, balita dan ibu hamil menunggu terlalu lama untuk dilayani.

24
3.4 dampak Dari Isu
3.4.1 Minimnya kesadaran perawat akan pentingnya penggunaan alat steril
pada alat kesehatan di ruang UGD UPT Puskesmas
Mangarabombang, Kabupaten Takalar.
1. Kurangnya kesadaran perawat untuk mensterilkan alat kesehatan
2. Meningkatnya angka pasien infeksi post bersihkan luka
3.4.2 Kurangnya edukasi pasien maupun keluarga pasien tentang tata tertib
untuk pengurangan penularan penyakit di ruang Rawat Inap UPT
Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
1. Tidak terkendalinya keluarga pasien yang berkunjung ke puskesmas
2. Banyaknya anak dan balita ke ruang rawat inap
3. Tidak adanya tata tertib pasien dan keluarga pasien
3.4.3 Lamanya antrian khususnya pada pasien dengan resiko tinggi di Loket
Pendaftaran UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
1. Lamanya antrian pada pasien resti
2. Pasien bosan dan pulang karena lamanya antrian
3.5 Analisis Isu Yang Diangkat
Untuk mengangkat beberapa isu maka dibuatlah core isu dengan analisis. Alat
analisis kriteria isu yang digunakan dalam ASNan rancangan aktualisasi ini
menggunakan komponen kriteria USG:
U (Urgency) : Seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan
waktu yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu tersebut
untuk memecahkan masalah yang menyebabkan isu tadi.
S (Seriousness) : Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan
akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang
menimbulkan isu tersebut atau akibat yang menimbulkan
masalah-masalah lain kalau masalah penyebab isu tidak
dipecahkan. Perlu dimengerti bahwa dalam keadaan yang sama,
suatu masalah yang dapat menimbulkan masalah lain adalah
lebih serius bila dibandingkan dengan suatu masalah lain yang
berdiri sendiri.

25
G (Growth) : Seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut menjadi
berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan
makin memburuk kalau dibiarkan.
Adapun bobot nilai atau skor yang digunakan untuk mentukan
ranking isu adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1. Bobot USG

Bobot Urgent Seriously Growth

5 Sangat Penting Sangat Serius Sangat berkembang


4 Penting Penting Berkembang
3 Cukup Penting Cukup Serius Cukup Berkembang
2 Kurang Penting Kurang Serius Kurang Berkembang
1 Tidak Penting Tidak Serius Tidak Berkembang

Tabel 3.2. Bobot Penetapan Kriteria Kualiatas ISU USG

Kriteria APKL
No Identifikasi Isu U S G JML RANK
(1-5) (1-5) (1-5)
Minimnya kesadaran perawat akan
pentingnya penggunaan alat steril
1. pada alat kesehatan di ruang UGD 5 5 4 14 1
UPT Puskesmas Mangarabombang,
Kabupaten Takalar.
Kurangnya edukasi pasien maupun
keluarga pasien tentang tata tertib
2. untuk pengurangan penularan penyakit 4 4 3 11 2
di ruang Rawat Inap UPT Puskesmas
Mangarabombang, Kabupaten Takalar
3. Lamanya antrian khususnya pada 4 3 3 10 3
pasien dengan resiko tinggi di Loket

26
Pendaftaran UPT Puskesmas
Mangarabombang, Kabupaten
Takalar.

Dari Analisis Kriteria Isu dengan alat analisis USG tersebut diatas
diperoleh 3 (tiga) nilai tertinggi yaitu:
1. Minimnya kesadaran perawat akan pentingnya penggunaan alat steril
pada alat kesehatan di ruang UGD UPT Puskesmas Mangarabombang,
Kabupaten Takalar
2. Kurangnya edukasi pasien maupun keluarga pasien tentang tata tertib
untuk pengurangan penularan penyakit di ruang Rawat Inap UPT
Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
3. Lamanya antrian khususnya pada pasien dengan resiko tinggi di Loket
Pendaftaran UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar.
Setelah didapatkan peringkat 3 (tiga) besar sesuai metode analisis
APKL, selanjutnya isu tersebut di analisis dengan metode analisis kualitas
USG guna memperoleh isu yang sangat urgent untuk dicarikan solusinya.
Dengan pertimbangan sebagai berikut; Urgency adalah seberapa mendesak
isu tersebut harus dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti. Seriousness adalah
seberapa serius isu tersebut harus dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti.
Sedangkan Growth adalah seberapa besar kemungkinan memburuknya isu
tersebut jika tidak ditangani segera.
Berdasarkan analisis isu menggunakan APKL dan USG maka dapat
di peroleh core isu yaitu “Minimnya kesadaran perawat akan pentingnya
penggunaan alat steril pada alat kesehatan di ruang UGD UPT Puskesmas
Mangarabombang, Kabupaten Takalar” menegakkan peraturan daerah
dengan alasan sebagai berikut:
1. Core Isu dikatakan Urgent karena pentingnya penggunaan alat steril
pada alat kesehatan untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri
agar pasien tidak mengalami infeksi.
2. Core isu dikatakan Seriously karena jika alat kesehatan tidak disterilkan

27
maka bakteri akan mengontaminasi alat.
3. Core isu dikatakan Growth karena tingginya angka pasien infeksi post
cuci luka
3.6 Gagasan Pemecahan Isu
Dari analisis Isu dirumuskan gagasan pemecahan isu yaitu:
Meningkatkan Kesadaran Perawat akan Pentingnya Penggunaan
Alat Steril Pada Alat Kesehatan Di Ruang UGD Puskesmas
Mangarabombang Kabupaten Takalar.
Berdasarkan analisis isu yang telah dilakukan, maka berikut adalah kegiatan
yang dirancang dalam rangka pemecahan masalah pada isu tersebut, yaitu:
1. Melapor Kepada Pimpinan / Mentor perihal telah selesai.
2. elaksanakan latihan dasar On Campus
3. Melakukan Koordinasi dan Konsultasi ke Koordinator Unit
Gawat Darurat Terkait
4. Merancang dan membuat pre dan post test serta bahan sosialisasi
5. Melakukan Pre Test
6. Melakukan Sosialisasi dalam bentuk demonstrasi dan pemaparan
materi dan Melakukan Post Test
7. Melapor dan melakukan kepada mentor/pimpinan perihal selesai
melaksanakan seluruh rancangan aktualisasi
8. Rencana Tindak Lanjut
3.7 Rancangan Kegiatan
1. Identifikasi Isu :
a. Minimnya kesadaran perawat akan pentingnya penggunaan alat steril
pada alat kesehatan di ruang UGD UPT Puskesmas
Mangarabombang, Kabupaten Takalar
b. Kurangnya edukasi pasien maupun keluarga pasien tentang tata
tertib untuk pengurangan penularan penyakit di ruang Rawat Inap
UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
c. Lamanya antrian khususnya pada pasien dengan resiko tinggi di
Loket Pendaftaran UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten

28
Takalar.
2. Isu yang diangkat : Minimnya kesadaran perawat akan pentingnya
penggunaan alat steril pada alat kesehatan di ruang UGD UPT
Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
3. Gagasan Pemecahan Isu : Meningkatkan kesadaran perawat akan
pentingnya penggunaan alat steril pada alat kesehatan di ruang UGD
UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
4. Tujuan gagasan pemecahan isu : meningkatnya kesadaran perawat akan
pentingnya penggunaan alat steril pada alat kesehatan di ruang UGD
UPT Puskesmas Mangarabombang, Kabupaten Takalar
5. Manfaat gagasan pemecahan masalah : untuk menyelesaikan isu yang
diangkat, sehingga isu ini selesai setelah dilakukan peningkatan
pengetahuan perawat akan pentingnya penggunaan alat steril pada alat
kesehatan di ruang UGD

Kontribusi
Tahapan Keterkaitan Substansi Mata Peng
Kegiatan Ouput / Hasil Terhadap Visi/Misi
Kegiatan Pelatihan Or
Organisasi

29
elapor Whole of Government Dengan I : Inov
pada Dalam sebuah kegiatan konsultasi terlaksananya men
mpinan/me dengan mentor perlu melakukan konsultasi dengan sem
or perihal komunikasi dalam merumuskan mentor tentang kem
lah selesai strategi, perencanaan dan rancangan keah
elaksanaka kerjasama antara peserta dan aktualisasi maka dim
latihan mentor dalam kegiatan pelaksanaan akan terbentuk men
sar on akutualisasi kegiatan pembuatan pertanggungja kary
mpus SOP. Sehingga, konsultasi dengan waban kerja secara prod
mentor dapat terarah dengan baik. akuntabel dan dala
Manajemen ASN transparan sehingga pela
Profesionalitas dan mendukung kese
tanggungajwab dalam peran dan pencapaian Misi berm
kedudukan ASN dimana ASN “Meningkatkan mas
melaporkan kegiatan kepada kualitas sumber ling
Mentor guna melakukan daya manusia”
tahapan kegiatan penyusunan SOP
Datang ke Catatan hasil Akuntabilitas
puskesmas konsultasi dari ASN Bertanggungjawab dan
menemui kepala mentor dan adanya jujur dalam menyiapkan bahan
puskesmas Surat Persetujuan konsultasi berupa hasil
untuk melapor rancangan aktualisasi yang
diri telah diseminarkan sebelumnya
untuk diperhadapkan mentor
Konsultasi Mendapatkan Etika Publik
dengan mentor masukan dan saran ASN dalam melakukan
menyampaikan dari mentor koordinasi dengan Mentor
tujuan mengenai rancangan harus mengunakan bahasa yang
aktualisasi aktualisasi baik, bersikap sopan dan santun
dalam mengutarakan maksud
dan tujuan. Sehingga, akan
terjalin komunikasi yang baik
dengan mentor.
Akuntabilitas
ASN bertanggungjawab, jujur,
konsisten dan transparan dalam
melakukan kegiatan konsultasi
dengan mentor. Sehingga
terwujud konsultasi yang terarah
dengan Mentor.

30
Melaporkan Dokumentasi foto Akuntabilitas
hasil latihan kegiatan Kegiatan mencatat hasil
dasar serta konsultasi dengan Mentor
konsultasi merupakan bentuk
mengenai pertanggungjawaban ASN
rancangan yang dibuat secara jujur dan
kegiatan transparan sehingga tercapai
aktualisasi kejelasan target kegiatan.
elakukan Manajemen ASN Dengan Inovatif
oordinasi Melakukan konsultasi dengan terlaksananya menger
n menyampaikan rancangan konsultasi dengan kemam
onsultasi aktualisasi merupakan suatu mentor tentang keahlia
perencanaan yang baik agar rancangan dimilik
oordinator segala kegiatan aktualisasi dapat aktualisasi maka mengha
nit Gawat berjalan dengan baik. akan terbentuk baru, pr
arurat Whole of Government pertanggungja dalam b
erkait Dalam sebuah kegiatan konsultasi waban kerja secara pelayan
dengan mentor perlu melakukan akuntabel dan yang be
komunikasi dalam merumuskan transparan sehingga bagi ma
strategi, perencanaan dan mendukung lingkun
kerjasama antara peserta dan pencapaian Misi
mentor dalam kegiatan a. Meningkatkan
pelaksanaan akutualisasi kegiatan kualitas sumber
pembuatan SOP. Sehingga, daya manusia;
konsultasi dengan mentor dapat b. Meningkatkan
terarah dengan baik. kualitas layanan
kesehatan.
Datang ke Catatan hasil Akuntabilitas
puskesmas konsultasi dari ASN Bertanggungjawab dan jujur
menemui kepala mentor dan adanya dalam menyiapkan bahan
puskesmas Surat Persetujuan konsultasi berupa hasil rancangan
untuk melapor aktualisasi yang telah
diri diseminarkan sebelumnya untuk
diperhadapkan mentor
Konsultasi Mendapatkan Etika Publik
dengan masukan dan saran ASN dalam melakukan
Koordinator dari Koordinator koordinasi dengan Mentor
UGD dan UGD mengenai harus mengunakan bahasa yang
menyampaikan rancangan baik, bersikap sopan dan santun
penelitian / aktualisasi dalam mengutarakan maksud

31
aktualisasi yang dan tujuan. Sehingga, akan
akan dilakukan terjalin komunikasi yang baik
dengan mentor.
Akuntabilitas
ASN bertanggungjawab, jujur,
konsisten dan transparan
dalam melakukan kegiatan
konsultasi dengan mentor.
Sehingga terwujud konsultasi
yang terarah dengan Mentor.
Melaporkan Dokumentasi foto Akuntabilitas
hasil latihan kegiatan Kegiatan mencatat hasil
dasar serta konsultasi dengan Mentor
konsultasi merupakan bentuk
mengenai pertanggungjawaban ASN yang
rancangan dibuat secara jujur dan transparan
kegiatan sehingga tercapai kejelasan target
aktualisasi kegiatan.
erancang Manajemen ASN Dengan selesainya Inovatif
n membuat Dalam membuat bahan sosialisasi rancangan kuesioner mengera
e dan post dan kuesioner penelitian, harus dan bahan kemamp
st serta sesuai dengan SOP dan standar sosialisasi, dengan keahlian
untuk m
han manajemen ASN ini mendukung
karya ba
sialisasi Pelayanan Publik pencapaian Misi
baru dal
Sebagai pelayan publik, harusnya 1. Meningkatkan pelayana
kita memberikan pelayanan yang kualitas sumber yang be
optimal dengan membuat bahan daya manusia; masyara
sosialisasi dalam peningkatan 2. Meningkatkan lingkung
mutu pelayanan kualitas layanan Kompe
Mendiskusikan Didapatkannya Akuntabilitas kesehatan selalu
dengan pihak materi yang cocok Dalam membuat suatu rencana semang
terkait tentang untuk dilakukan sosialisasi yang akan diberikan, lomba
rencana sosialisasi harus menjunjung tinggi nilai atau me
sosialisasi kejujuran dan integritas terbaik
yang diberikan Akunta
Membuat Kuesioner Akuntabilitas bertang
kuesioner Dalam membuat kuesioner, harus daat
untuk pre test didasari nilai-nilai tanggungjawab jawabk
dan post test dan kejelasan perilaku
Membuat Adanya materi dan Komitmen Mutu tindaka
materi media informasi Pembuatan materi sosialisasi dan
32
sosialisasi dan prosedur alat steril media informasi prosedur alat sesuai
membuat steril harus sesuai dengan SOP peratura
media Akuntabilitas perunda
informasi Sebagai ASN, kita harus yang be
prosedur memberikan edukasi tentang
sterilisasi alat. materi sosialisasi dan media
informasi prosedur alat steril yang
jelas dan dapat dipertanggung
jawabkan
Nasionalisme
Membuat mater mewujudkan nilai
kemanusiaan karena dibuat untuk
kepentingan masyarakat banyak.
Kegiatan membuat materi
sosialisasi dilakukan secara
mandiri.
Melakukan Adanya persetujuan Etika Publik
koordinasi dengan koordinator Sebagai ASN, Sikap harus saling
dengan UGD menghormati dengan menjalin
koordinator komunikasi dengan atasan.
UGD untuk Manajemen ASN
mengumpulkan Melakukan koordinasi dengan
mengkoordinasi mengumpulkan dan
kan ke mengkoordinir anggotanya agar
anggotanya ikut dalam sosialisasi tersebut
elakukan Pelayanan public Dengan Inovatif
e Test Untuk peningkatan pengetahuan, terlaksananya pre mengera
diharapkan para pelayan publik test yang bersih dan kemamp
untuk meningkatkan pengetahuan transparan sehingga keahlian
untuk m
untuk peningkatan mutu mendukung
karya ba
pelayanan pencapaian Misi
baru dal
Whole of Government 1. Meningkatkan pelayana
Dalam melaksanakan pre test, kualitas sumber yang be
diharapkan adanya hubungan baik daya manusia masyara
antara pemateri dan responden 2. Meningkatkan lingkung
Mengundang Undangan, Daftar Etika Publik kualitas layanan Akunta
petugas terkait Hadir Peserta Pembuatan undangan harus kesehatan bertang
dengan menggunakan bahasa daat
yang santun. jawabk
Menjelaskan Agar responden Nasionalisme perilaku
tujuan pre test mengetahui tuuan Menjelaskan tujuan pre test
33
dilakukannya pre dengan tidak memandang status tindaka
test sosialnya. sesuai
peratura
Melakukan pre Mengukur Akuntabilitas perunda
test untuk pengetahuan perawat Sebagai seorang ASN, kita harus yang be
mengukur sebelum sosialisasi memberikan contoh kepada
pengetahuan responden untuk Melakukan pre
perawat test harus sesuai dengan nilai
kejujuran dan penuh tanggung
jawab
elakukan Pelayanan public Dengan Inovatif
osialisasi Memberikan pelayanan edukasi terlaksananya mengera
lam bentuk kepada responden dengan sosialisasi dan kemamp
maparan semestinya dan tanpa membeda- pemaparan materi keahlian
untuk m
ateri dan bedakan antara perawat yang satu dan demonstrasi
karya ba
monstrasi dan lainnya. sehingga mendukung
baru dal
rta post test Whole of Government pencapaian Misi ke 1 pelayana
Dalam melaksanakan sosialisasi, dan 2 yaitu yang be
diharapkan adanya hubungan baik masyara
antara pemateri dan responden Meningkatkan lingkung
Mengundang Undangan, daftar Etika Publik kualitas sumber Humani
petugas terkait hadir peserta Pembuatan undangan harus daya manusia segala s
dengan menggunakan bahasa Meningkatkan tindakan
yang santun. kualitas layanan berdasar
Menjelaskan Agar peserta Nasionalisme kesehatan kemanu
tujuan mengetahui tujuan Menjelaskan tujuan sosialisasi mendah
sosialisasi dilakukannya dengan tidak memandang status kepentin
manusia
sosialisasi sosialnya.
Melakukan Sosialisasi berjalan Akuntabilitas
sosialisasi dalam dan Dokumentasikan Sebagai seorang ASN, kita harus
bentuk melalui foto dan memberikan contoh kepada
presentase video responden untuk Melakukan
sosialisasi harus sesuai dengan
nilai kejujuran dan penuh
tanggung jawab
Peragaan dan Peragaan dan Akuntabilitas
demonstrasi demonstrasi berjalan Sebagai seorang ASN, kita harus
penggunaan alat dan Dokumentasikan memberikan contoh kepada
melalui foto dan responden untuk Melakukan
video sosialisasi harus sesuai dengan
nilai kejujuran dan penuh

34
tanggung jawab
Melakukan Post Mengukur Akuntabilitas
Test pengetahuan perawat Tersedianya kuesioner untuk
setalah dilakukan mengukur tingkat pengetahuan
sosialisasi perawat dengan jujur dan
bertanggung jawab
Nasionalisme
Pre test ini mewujudkan nilai
kemanusiaan karena dibuat untuk
kepentingan masyarakat.
Antikorupsi
Pre test yang dilakukan ini
dikerakan dengan penuh kejujuran
dan sesuai dengan pemikiran
masing-masing
elapor dan Manajemen ASN Dengan Humani
elakukan Melakukan konsultasi dengan terlaksananya segala s
pada menyampaikan hasil kegiatan melapor ke mentor tindakan
entor/pimpi aktualisasi yang nantinya akan tentang selesainya berdasar
kemanu
n perihal dievaluasi sehingga menghasilkan semua rangkaian
mendah
lesai suatu perencanaan yang baik agar sehingga mendukung
kepentin
elaksanaka segala kegiatan yang nantinya pencapaian Misi manusia
seluruh akan menjadi habituasi dapat Meningkatkan Luwes,
ncangan berjalan dengan baik dan tidak kualitas sumber daya tidak ka
tualisasi terputus. manusia canggun
Whole of Government Meningkatkan menyesu
Dalam penyelesaian kegiatan kualitas layanan denga k
membutuhkan konsultasi dengan kesehatan lingkung
mentor. sehingga terwujud Akuntab
kolaborasi dan konsultasi yang bertangg
daat ber
efektif.
jawabka
Melapor dan Mendapatkan catatan Etika Publik
perilaku
berkonsultasi hasil evaluasi hasil Selalu bertutur kata santun dan
senantia
kepada mentor rancangan menunjukkan sikap yang sopan dengan
bahwa telah aktualisasi ketika berkomunikasi khususnya perunda
melaksanakan kepada atasan. yang be
seluruh
rancangan
aktualisasi.
Mendapatkan Mendapatkan saran Akuntabilitas
saran dan dan masukan dari Membuat laporan pertanggung-
35
masukan dari mentor jawaban dengan jujur, tanpa
mentor. tekanan, mematuhi aturan dan
cermat untuk memenuhi tanggung
jawab sebagai selaku pelaksana
rancangan aktualisasi.
encana Manajemen ASN Dengan Survive
ndak ASN dalam membuat rencana terlaksananya mudah
anjut tindak lanjut bertanggungjawab melapor ke mentor dengan
dan bertintegritas dan sesuai tentang selesainya kondisi
dengan etilka profesi. semua rangkaian berupay
Whole of Government sehingga mendukung mempe
Dalam penyelesaian rencana pencapaian Misi 1 kehidup
tindak lanjut membutuhkan dan 2 dalam
konsultasi dengan mentor. Meningkatkan tidak
sehingga terwujud kolaborasi dan kualitas sumber mengun
konsultasi yang efektif. daya manusia Akuntab
Meningkatkan bertangg
Penyusunan Tersedianya Akuntabilitas kualitas layanan daat ber
Rencana Tindak dokumen Tanggung jawab dalam kesehatan jawabka
Lanjut penyusunan rencana menyelesaikan rencana tindak perilaku
senantia
tindak lanjut lanjut
dengan
Konsultasikan Dokumentasi Foto Etika Publik
perunda
ke mentor Dalam melakukan konsultasi
yang be
terkait rencana menggunakan bahasa yang baik
tindak lanjut dan dapat dipahami
Membuat buku Rencana Tindak Komitmen Mutu
kontrol alat Lanjut Inovasi, efektif dan efisien dalam
steril membuat rencana Tindak Lanjut

36
JADWAL KEGIATAN

A. Matrix Rancangan Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi

MARET APRIL
No Kegiatan

II III IV I II
1 Melapor Kepada Pimpinan /
Mentor perihal telah selesai
melaksanakan latihan dasar On
Campus
2 Melakukan Koordinasi dan
Konsultasi ke Koordinator Unit
Gawat Darurat Terkait
3 Merancang dan membuat pre
dan post test serta bahan
sosialisasi
4 Melakukan Pre Test

5 Melakukan Sosialisasi dalam


bentuk demonstrasi dan
pemaparan materi
6 Melakukan Post Test

7 Melapor dan melakukan kepada


mentor/pimpinan perihal selesai
melaksanakan seluruh rancangan
aktualisasi

37