Anda di halaman 1dari 4

Kedalaman Silabus

Kedalaman silabus menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di dalamnya


yang harus dipelajari oleh peserta didik. Sebagai contoh, besaran pokok dan turunan dapat
diajarkan SMP dan SMA, juga di perguruan tinggi, namun kedalaman pada setiap jenjang
pendidikan tersebut akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin
luas cakupan aspek yang dipelajari dan semakin detail pula setiap aspek yang dipelajari. Di
SMP aspek turunannya disinggung sedikit tanpa menunjukkan proses penurunannya. Di
SMA proses penurunannya mulai dipelajari dan di perguruan tinggi semakin diperdalam.

 Langkah-Langkah Penentuan Kedalaman Suatu Silabus

1.   Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar

Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu di identifikasi aspek-


aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai peserta
didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan
kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.
Harus ditentukan apakah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik termasuk ranah kognitif, psikomotor ataukah afektif.

2.    Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran


Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran dengan
tingkatan aktivitas /ranah pembelajarannya.

Materi yang akan dibelajarkan perlu diidentifikasi secara tepat agar pencapaian
kompetensinya dapat diukur. Disamping itu, dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang
akan dibelajarkan, maka guru akan mendapatkan ketepatan dalam metode pembelajarannya.
Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, metode, media, dan sistem
evaluasi yang berbeda-beda. Misalnya metode pembelajaran materi fakta atau hafalan bisa
menggunakan “jembatan keledai”, “jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode
pembelajaran materi prosedur dengan cara “demonstrasi”.

Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan
dibelajarkan adalah dengan cara mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang
harus dikuasai peserta didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui
apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap,
atau ketrampilan motorik. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk
mengidentifikasi jenis materi pembelajaran:

a. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa mengingat nama suatu
objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya “ya” maka materi pembelajaran
yang harus diajarkan adalah “fakta”. Contoh: Nama-nama tata surya.

b. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa kemampuan untuk
menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau
mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau jawabannya
“ya” berarti materi yang harus diajarkan adalah “konsep”. Contoh : Seorang guru Fisika
menunjukkan beberapa benda kemudian peserta didik diminta untuk mengklasifikasikan
atau mengelompokkan mana yang termasuk wujud gas, padat dan cair.

c. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa menjelaskan atau
melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat sesuatu? Bila “ya”
maka materi yang harus diajarkan adalah “prosedur”. Contoh: Seorang guru Fisika
mengajarkan bagaimana membuat magnet buatan.

d.  Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa menentukan hubungan
antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antara berbagai macam konsep? Bila
jawabannya “ya”, berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam
kategori “prinsip”. Contoh: Seorang guru Fisika menerangkan cara menghitung gaya.
Rumus gaya adalah massa benda dikalikan percepatan.

e. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa memilih berbuat atau
tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka tidak suka, indah tidak indah? Jika
jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek sikap atau
nilai. Contoh: Budi memilih mentaati aturan di dalam laboratorium setelah di sekolah
diajarkan keselamatan kerja laboratorium.

Keluasan Silabus

Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak materi-materi


yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran. Cakupan atau ruang lingkup materi
perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang akan diajarkan terlalu banyak, terlalu
sedikit, atau telah memadai sehingga terjadi kesesuaian dengan kompetensi dasar yang ingin
dicapai.
Dengan demikian, materi yang dipilih untuk diajarkan tentunya memang yang benar-
benar diperlukan oleh siswa. Pemilihan materi pembelajaran hendaknya didasarkan atas
prinsip-prinsip berikut ini.

 Pertama, kebenaran materi. Sangatlah penting bagi para guru untuk membekali anak-
anak dengan materi pembelajaran yang benar dilihat segala aspeknya. Guru hendaknya
senantiasa berupaya menjauhkan aspek-aspek kekeliruan dari materi pembelajaran.
Beberapa kajian psikologis menegaskan bahwa sangatlah sulit melepaskan kekeliruan
yang tertanam dalam diri siswa melalui kegiatan pembelajaran.
 Kedua, kesesuaian materi dengan tingkat intelektual siswa. Materi tidak boleh berada
di atas jangkauan penalaran siswa, sehingga menyulitkan mereka dalam memahaminya,
dan jangan pula terlampau mudah, sehingga tidak menarik perhatian siswa. Para siswa,
misalnya, mengalami kesulitan untuk memahami konsep waktu dalam verba bahasa Arab.
Karenanya, hal itu tidak sepatutnya disajikan kepada mereka pada kelas-kelas permulaan.
 Ketiga, hendaknya materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan siswa dan
dengan lingkungan di mana dia hidup. Siswa yang duduk di kelas permulaan, tidak perlu
disuguhi bacaan tentang proses penurunan suatu rumus, tetapi sebaiknya disuguhi topik
tentang kegunaan dari rumus tersebut.
 Keempat, pemilihan materi juga harus diselaraskan dengan alokasi waktu. Materi
jangan terlalu panjang, sehingga membosankan siswa dan menyulitkan mereka.
Sebaliknya, materi jangan pula terlampau pendek, sehingga mereka dapat memahaminya
dalam waktu singkat dan waktu tersisa digunakan secara tidak produktif.
 Kelima, hendaknya materi disusun dalam urutan yang logis. Setiap bagian materi
harus benar-benar berkaitan dengan materi sebelumnya. Unit-unit materi hendaknya saling
berkaitan dan bertaut serta terlihat jelas benang merahnya.
 Keenam, materi hendaknya terbagi ke dalam unit-unit utama. Setiap unit merupakan
kumpulan dari unit-unit yang lebih kecil daripada unit utamanya. Tujuan dari pembagian
materi ke dalam beberapa unit ini ialah agar pertama-tama guru dapat merancang
kegiatannya, dan agar guru dapat membagi materi dari kurikulum ke dalam satuan-satuan
alamiah yang logis sebagai kegiatan harian, mingguan, atau semesteran. Ini bukan berarti
urutan materi itu harus sesuai dengan urutan dalam buku teks, sebab buku disusun selaras
dengan tuntutan percetakan, penulisan, dan penyusunan yang belum tentu sesuai dengan
kegiatan mengajar.
 Ketujuh,  materi pelajaran yang baru hendaknya dikaitkan dengan pelajaran yang
lama. Hal ini menuntut guru untuk menghubungkan materi baru dengan materi lama.
Sebaiknya guru menjadikan kesulitan pada pelajaran yang lalu sebagai bahan bagi
penyampaian pelajaran yang baru.