Anda di halaman 1dari 23

EKONOMI TEKNIK

Analisis Investasi

Disusun Oleh : Kelompok 2

 Larasati Okka Widhanny 12.2017.022


 Wilda Ardanella 12.2017.027
 Lolita Safitri 12.2017.046

Kelas : VA

Dosen Pembimbing : Ir. Legiso, M.si

Fakultas Teknik

Prodi Teknik Kimia

Universitas Muhammadiyah Palembang

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur tercurah kepada Allah SWT atas taufik, hidayah, berkat dan rahmat-
Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita
Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya serta para pengikutnya hingga akhir
zaman.

EKONOMI TEKNIK ini adalah mata kuliah dengan bobot 2 SKS yang terdapat
pada mata kuliah Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah
Palembang.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih kepada :

1. Dosen pembimbing

2. Semua pihak

Palembang,28 September 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

Cover...................................................................................................................... 1
Kata Pengantar......................................................................................................2
Daftar Isi.................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................4
1.1.Latar Belakang...................................................................................................4
1.2.Rumusan Masalah..............................................................................................5
1.3.Tujuan Masalah..................................................................................................6

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................6
2.1.Pengertian...........................................................................................................7
2.2.Fungsi Investasi..................................................................................................8
2.3.Kriteria Investasi..............................................................................................10
2.4.Aspek Kelayakan Investasi..............................................................................11
2.5.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi.................................................12
2.6.Teknik Dasar Penilaian Investasi Publik..........................................................14

BAB III PENUTUP..............................................................................................21


A. Kesimpulan........................................................................................................21
B. Saran..................................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................23

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1970-an, sebagian besar developing countries menyiapkan rencana


pembangunan empat sampai enam tahun untuk menentukan dan melaksanakan
tujuan ekonomi dan sosial jangka menengah. Namun, rencana dengan sebuah
pandangan yang kaku dan membangun secara episodik sering tidak realistis, “need”
based, dan kurang fleksibel untuk membuktikan perubahan dalam lingkungan
ekonomi. Di beberapa negara, fixed plans semula dirancang dalam periode
tingginya harga komoditas atau banyak bantuan eksternal yang dikontribusikan ke
penstabilan keuangan publik, dan tanpa dampak yang cukup pada pertumbuhan
ekonomi. Seperti perencanaan jangka menengah yang kaku kurang tersebar luas
hari ini, tetapi beberapa negara di Asia masih mempersiapkan rencana jangka
menengah.

Dalam melakukan fungsi pelayanan masyarakat, pemerintah dihadapkan pada


masalah pengambilan keputusan investasi publik. Keputusan investasi publik
diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program, kegiatan dan fungsi yang
menjadi prioritas kebijakan. Pengeluaran untuk investasi publik harus mendapat
perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran rutin, karena
pengeluaran rutin lebih berdampak jangka pendek, sedangkan pengeluaran
investasi mempunyai efek jangka panjang. Kesalahan dalam melakukan investasi
pengambilan keputusan investasi tidak saja akan berdampak pada anggaran tahun
berjalan, namun juga akan membebani anggaran tahun-tahun berikutnya.

Analisa investasi berhubungan erat dengan penganggaran fungsional, alokasi


sumberdaya dan praktek manajemen keuangan di sektor publik. Selain itu, program
investasi publik merupakan bentuk dari dual budgeting, yaitu pemisahan anggaran
modal/investasi dari anggaran rutin. Penentuan kebutuhan investasi publik

4
berkaitan dengan jumlah anggaran yang akan ditetapkan bagi masing-masing unit
organisasi. Analisis yang mendalam sebelum dilakukannya investasi sangat penting
dilakukan karena investasi publik berkaitan erat dengan masalah transparansi dan
kewajaran anggaran.

Dalam rangka mencapai kondisi masyarakat yang sejahtera, maka pemerintah di


berbagai negara berusaha untuk meningkatkan GNP maupun pendapatan per kapita
dari penduduknya. Untuk tujuan tersebut maka pemerintah menjalankan berbagai
program pembangunan ekonomi. Persyaratan fundamental untuk pembangunan
ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan
pertambahan penduduk. Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara
luas sehingga mencakup pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas.
Menurut Syahrir (1995), pada dasarnya besar dana pembangunan yang dibutuhkan
sangat tergantung pada tiga hal utama yaitu :

1. Target pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai.

2. Efisiensi penggunaan dana, dan

3. Kemampuan menggali dana baik domestik maupun luar negri.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam penulisan makalah ini adalah :

1. Apakah pengertian analisis investasi publik?

2. Apa sajakah program investasi publik?

3. Bagaimanakah penentuan kebutuhan investasi?

4. Apa sajakah aspek-aspek kelayakan investasi?

5. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi investasi?

6. Seperti apakah teknik dasar penilaian investasi publik?

5
1.3 Tujuan Makalah

Tujuan penelitian makalah ini adalah untuk :

1. Mengetahui pengertian analisis investasi publik.

2. Mengetahui program investasi publik.

3. Mengetahui apa saja yang menjadi penentuan dalam kebutuhan investasi.

4. Mengetahui aspek-aspek yang menjadi kelayakan dalam investasi.

5. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi investasi.

6. Mengetahui teknik dasar penilaian investasi publik.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian investasi

Investasi adalah suatu aktivitas menempatkan dana pada satu periode tertentu
dengan harapan penggunaan dana tersebut bisa menghasilkan keuntungan dana atau
peningkatan investasi.

Pada hakikatnya tabungan yang terdapat di masyarakat ada yang merupakan


simpanan sementara, yaitu sebelum digunakan untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi, ada jiga merupakan tambahan modal yang sering disebut investasi.

a. Investasi Di bedakan menjadi dua macam, yakni :


i. Investasi nyata (Real Investmen)

melibatkan asset berwujud, pembelian asset produktif, pendirian pabrik,


pembukaan pertambangan, dsb.

ii. Investasi keuangan (deposito, Commercial paper, dan surat berharga pasar
uang)dan pasar modal (saham, obligasi, opsi dsb).

b. Investasi menurut penggunaannya terdiri dari tiga macam yaitu :

i. Konstruksi

ii. Rehabilitasi

iii. Perluasan

c. Investasi menurut jenisnya

i. Investasi otonomi

ii. Investasi terimbas

7
iii. Investasi public

Investasi, yang lazim disebut juga dengan istilah penanaman modal atau
pembentukan modal merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat
pengeluaran agregat. Dengan demikian istilah investasi dapat diartikan sebagai
pengeluaran atau perbelanjaan penanam-penanaman modal atau perusahaan untuk
membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan untuk menambah
kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam
perekonomian. Pertambahan jumlah barang modal ini memungkinkan
perekonomian tersebut menghasikan lebih banyak barang dan jasa di masa yang
akan datang. Adakalanya penanaman modal dilakukan untuk menggantikan barang
barang modal yang lama Yang telah haus dan perlu didepresiasikan Dalam
prakteknya, dalam usaha untuk mencatat nilai penanaman modal yang dilakukan
dalam suatu tahun tertentu, yang digolongkan sebagai investasi (atau pembentukan
modal atau penanaman modal) meliputi pengeluaran/perbelanjaan yang berikut
:

1. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan


peralatanproduksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan.

2. Perbelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, bangunan kantor,


bangunan pabrik dan bangunan-bangunan lainnya.

3. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan
barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun penghitungan
pendapatan nasional.

Jumlah dari ketiga-tiga jenis komponen investasi tersebut dinamakan investasi


bruto, yaitu ia meliputi investasi untuk menambah kemampuan memproduksi
dalam perekonomian dan mengganti barang modal yang sudah didepresiasikan.
Apabila investasi bruto dikurangi oleh nilai apresiasi maka akan didapat investasi
neto. Dalam teori ekonomi makro yang dibahas adalah investasi fisik. Dengan
pembatasan tersebut maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai

8
pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan stok barang modal. Stok barang
modal adalah jumlah barang modal dalam suatu perekonomian pada saat tertentu.

a. Investasi Dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan

tercakup dalam investasi barang modal dan bangunan adalah


pengeluaranpengeluaran untuk pembelian pabrik, mesin, peralatan produksi,
bangunan/gedung yang baru. Karena daya tahan madal dan bangunan umumnya
lebih dari setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk
harta tetap (fixedinvestment). Di Indonesia, istilah yang setara dengan fixed
investment adalah pembentukan modal tetap domestic bruto (PMTDB). Supaya
lebih akurat, jumlah investasi yang perlu diperhatikan adalah investasi bersih yaitu
PMTDB dikurangi penyusutan.

b. Investasi Persediaan

Perusahaan seringkali memproduksi barang lebih banyak daripada target penjualan.


Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Tentu saja investasi
persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan/keuntungan. Persediaan barang
tersebut dikatakan sebagai investasi yang direncanakan atau investasi yang
diinginkan karena telah direncanakan. Selain barang jadi, investasi dapat juga
dilakukuan dalam bentuk persediaan barang baku dan setengah jadi.

2.2 Fungsi Investasi

Kurva yang menunjukkan perkaitan di antara tingkat investasi dan tingkat


pendapatan nasional dinamakan fungsi investasi. Bentuk fungsi investasi dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu ia sejajar dengan sumbu datar, atau bentuknya naik
ke atas ke sebelah kanan (yang berarti makin tinggi pendapatan nasional, makin
tinggi investasi). Fungsi atau kurva investasi yang sejajar dengan sumbu datar
dinamakan investasi otonomi dan fungsi investasi yang semakin tinggi apabila
pendapatan nasional meningkat dinamakan investasi terpengaruh. Dalam analisis
makroekonomi biasanya dimisalkan bahwa investasi perusahaan bersifat investasi
otonomi.

9
Menurut Joseph Allois Schumpeter investasi otonom (autonomous investment,)
dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan yang terjadi di dalam jangka
panjang seperti :

 Tingkat keuntungan investasi yang diramalkan akan diperoleh.


 Tingkat bunga.
 Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan.
 Kemajuan teknologi.
 Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.
 Keuntungan yang diperoleh perusahaan-perusahaan.

2.3 Kriteria Investasi

a. Payback Period.

Payback period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan
dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika
waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik.
Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan kriteria payback period
ini. Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (> 5
tahun).

b. Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio).

B/C ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding hasil
(output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan dengan C (cost).
Output yang dihasilkan dinotasikan dengan B (benefit). Keputusan menerima atau
menolak proposal investasi dapat dilakukan dengan melihat nilai B/C. Umumnya,
proposal investasi baru diterima jika B/C > 1, sebab berarti output yang dihasilkan
lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

c. Net Present Value (NPV).

Perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesatkan, sebab tidak


memperhitungkan nilai waktu dari uang. Untuk membuat hasil lebih akurat, maka

10
nilai sekarang didiskontokan. Keuntungan dari menggunakan metode diskonto
adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan
penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu
proposal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan
total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya

total.

d. Internal Rate of Return (IRR).

Internal rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada
saat NPV sama dengan nol. Keputusan menerima/menolak rencana investasi
dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian
investasi yang diinginkan (r).

2.4 Aspek Kelayakan Investasi

Dalam perencanaan dan analisis investasi harus dipertimbangkan beberapa aspek


yang sama-sama menunjukan keuntungan atau manfaat yang diperoleh akibat
adanya suatu investasi trtntu. Seluruh aspek harus dipertimbangkan dan dievaluasi
dalam setiap tahap perencanaan anggaran dan siklus pelaksanaan, karena aspek-
aspek tersebut satu sama lainsaling berhubungan dan saling mempengaruhi.

a. Aspek Teknis

Aspek teknis merupaka bagian penting dari analisis investasi yang harus
dipertimbangkan.Jika suatu usulan investasi sudah tidak layak dilihatdari aspek
teknisnya, maka usulan tersebut menduduki prioritas pertama untuk ditolak.

b. Aspek Sosial dan Budaya

Untuk melaksanakan suatu proyek maka perlu mempertimbangkan implikasi sosial


yang lebih luas dari investasi yang diusulkan.Aspek sosial budaya ini menyangkut
pertimbangan pendistribusian pelayanan secara adil dan merata, sehingga mampu
memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.Aspek sosial budaya mencakup

11
juga aspek legal dan lingkungan. Suatu proyek investasi yang akan dilakukan harus
mempertimbangkan aspek legalitas dan dampak lingkungan yang merugikan.

c. Aspek Ekonomi dan Finansial

Pertimbangan aspek ekonomi meliputi kegiatan menganalisis apakah suatu proyek


yang diusulkan akan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pembangunan
perekonomian secara kesuluruhan dan apakah kontribusinya cukup besar dalam
menentukan penggunaan sumber-sumber daya yang digunakan. Aspek finansial
menerangkan pengaruh-pengaruh finansial dari suatu proyek yang
diusulkan.Berdasarkan perencanaan anggaran, keputusan-keputusan mengenai
efisiensi proyek secara finansial, solvabilias, dan likuiditas perlu dipertimbangkan.

d. Aspek Distribusi

Keputusan investasi merupakan keputusan yang perlu dikaitkan dengan masalah


distribusi pelayanan public secara adil dan merata. Untuk itu perlu diketahui siapa
yang akan menerima manfaat atau keuntungan yang dihasilkan dari proyek
investasi; darimana mendapatkan modal untuk melaksankan proyek,apakah dari
public revenue atau oleh individu, apakah terdapat pajak penghasilan atau tidak;
apakah proyek dijalankan oleh public agencies atau oleh individu. Aspek distribusi
terkait dengan keadilan dan persamaan kesempatan untuk mendapatkan pelayanan
public (equity & equality)

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Investasi

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis investasi public adalah:

1. Tingkat Diskonto

Tingkat diskonto merefleksikan tingkat keuntungan (rate of return) yang diperoleh


dari suatu proyek dengan tingkat risiko tertentu.Jika suatu proyek tidak memberikan
keuntungan yang disyaratkan (required rate of return), maka proyek tersebut harus
ditolak.Perhitungan tingkat diskonto merupakan bagian yang cukup kompleks
dalam analisis investasi.

12
Antara biaya dan manfaat terjadi pada titik waktu yang berbeda, sehingga nilai
tersebut perlu didiskontokan untuk beberapa periode waktu sebelum berbagai
alternative investasi diperbandingkan untuk ditentukan investasi mana yang akan
dilakukan. Untuk tujuan analisis biaya manfaat, maka perlu digunakan tingkat
diskonto social (social discount rate).

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan menyatakan social discount
rate sebagai suatu tingkat yang merefleksiakn prefensi masyarakat terhadap
manfaat saat ini atas manfaat yang akan diterima dimasa yang akan datang, atau
disebut social time preferensi rate (STPR)

Penggunaan analisis berdasarkan SOCR (social opportunitycost rate) adalah


bahawa sumber daya yang digunakanuntuk melakukan investasi di sector public
terbatas dan sumber daya itu tidak tersedia untuk digunakan di tempat lain. Satu
pemecahan untuk membatasi discount rate adalah dengan menggunakan proses
pendiskontoan artinya biaya dan manfaat diharapkan berubah pada tingkat
kembalian investasi yang sama sebagai perubahan dalam kebutuhan tingkat harga-
harga umum (general price levels). Hal ini merupakamnpendekatan yang diadopsi
pemerintah yang menyarankan bahwa discount rate yang digunakan pada investasi
sector public harus dinilai dengan pengujian discount rate.

2. Tingkat Inflasi

Penilaian investasi harus memperhitungkanperkiraan tingkat inflasi. Semakin


tinggi tingkat inflasi,semakin rendah nilai riil keuntungan di masa depan yang
diharapkan (expected furure returns) sehingga semakin tinggi tingkat keuntungan
yang disyaratkan. Inflasi yang tinggi menyebabkan required rate of return semakin
dekat

3. Resiko dan Ketidakpastian

13
Required rate of return akan semakin tinggi jika resiko investasi naik.
Ketidakpastian ekonomi dan hokum kekacauan social-politik, tidak adanya jaminan
keamanan, dan kebijakan yang tidak konsisten dapat meningkat resiko
investasi.Faktor-faktor tersebut menyumbang resiko investasi suatu negara yang
jika sudah sangat parah dapat mengarah pada kategori default country. Terjaminnya
keamanan berinvestasi, penegakan hokum dan demokrasi, terjaminnya property
right dan contract right dapat menurunkan resiko investasi.

4. Capital Rationing

Capital rationing adalah keadaan ketika organisasi menghadapi masalah


ketersediaan dana untuk melakukan pengeluaran investasi.

2.6 Teknik Dasar Penilaian Investasi Publik

Pada dasarnya, prinsip penilaian investasi sangat sederhana. Terdapat empat


langkah utama untuk mengevaluasi suatu proyek investasi, yaitu

1. Identifikasi kebutuhan investasi yangmungkin dilakukan.

Organisasi sektor publik seringkali dihadapkan pada banyak altematif investasi


untuk mencapai tujuan organisasinya.Oleh karena itu perlu diidentifikasi alternatif-
alternatif yang memungkinkan untuk dianalisis lebih lanjut.

2. Menentukan semua manfaat dan biaya dari proyek yang akan dilaksanakan
(cost/benefit relationship).

Perhitungan manfaat dan biaya harus pula memasukkan analisis manfaat dan biaya
sosial (social cost/benefit) yang ditimbulkan dari investasi publik yang akan
dilakukan Pada organisasi sektor publik biaya dan manfaat seringkali tidak dapat
secara langsung diukur dengan satuan uang, sehingga teknik-teknik analisis biaya
manfaat sangat cocok untuk diterapkan.

3. Menghitung manfaat dan biaya dalam rupiah.

14
Langkah kedua adalah menghitung manfaat dan biaya investasi dalam satuan
rupiah.Terkadang terdapat kesulitan dalam langkah kedua ini.Kesulitan yang
dihadapi adalah apabila biaya dan manfaat dari suatu proyek tidak dapat diukur
dalam bentuk rupiah.

4. Memilih proyek yang memiliki manfaat terbesar dan efektivitas biaya yang
tinggi

Rasio biaya dan manfaat atau efektivitas biaya merupakan titik awal penentuan
penerimaan proyek, ada banyak ketidakpastian yang dapat mempengaruhi
perhitungan. Dapat menggunakan analisis moneter yang mungkin mengindikasikan
bahwa proyek akan memeberikan nilai uang terbaik, tetapi faktor-faktot politik,
respon pemerintah, serta tekanan-tekanan sosial menyebabkan pertimbangan biaya
manfaat diperlukan atas proyek tersebut.

Terdapat beberapa teknik untuk melakukan penilaian investasi, yang dibedakan


menjadi 2 metode:

1. Metode penilaian investasi tradisisonal.

2. Metode aliran kas yang diskontokan (discounted cah flow/DCF)

Metode tradisional yang sering digunakan adalah tingkat pengembalian modal yang
diinvestasikan (accounting rate of return on capital employed-ROCE) dan payback
period (PP), ROCE secara sederhana dirumuskan :

Imformasi mengenai laba akuntansi diperoleh dari laporan rugi/laba organisasi,


sedangkan informasi modal dapat diketahui dari neraca. Terdapat dua masalah
dalam menggunakan metode ROCE ini. Pertama, penghitungan angka akuntansi
didasarkan pada konsep akuntansi akrual dan memasukan item-ite bukan kas,
seperti depresiasi dan cadangan kerugian piutang. Kedua, ROCE hanya mengukur
periode tunggal tanpa memperhitungkan nilai waktu uang (time value of money).

Metode penilaian investasi dengan menggunakan discounted cash flow misalnya


adalah net present value (NPV) dan internal rate of return (IRR), NPV dihitung

15
dengan cara mendiskontokan aliran kas di masa datang (future cash flow) dengan
faktor diskonto tertentu yang merefleksikan biaya kesempatan modal (opportunity
costof capital). NPV diperoleh dengan cara mengurangkan pengeluaran investasi
awal dengan aliran kas di masa depan yang di present value kan. Proyek yang
memberikan nilai NPV positif adalah proyek yang memiliki prioritas unutk
diterima dan proyek yan gnilai NPV-nya negatif adalah proyek yang harus ditolak.

IRR mendiskontokan future cash flow pada tingkat NPV yang bernilai nol. Atau
dengan kata lain adalah yang menyetarakan aliran kas bersih di masa datang (fuutre
net cash flow) dengan pengeluaran investasi awal. IRR dinyatakan dalam
persentase, proyek yang memiliki nilai IRR yang besar adalah proyek yang
potensial untuk diterima.

Untuk menganalisis usulan investasi publik, manajer publik dapat menggunakan


alat analisis biasa digunakan untuk menilai kelayakan suatu proyek pada sektor
swasta, misalnya NPV, IRR, payback period, dsb.

a. Net Present Value

Net present value dapat dirumuskan sebagai berikut:

NPV =

Dalam hal ini:

i = tingkat diskonto

n = 1,……..,50 th. (umur proyek)

CF = cash flow

Dengan formulasi lain, NPV dinyatakan:

NPV = (Cash flow x Present value factor) – Investasi

=(CFxpvj)--1

(CFxpvj) disebut juga Gross Present Value.

16
b. Net Present Benefits (NPB)

Net Present Benefits (Manfaat Bersih Sekarang) merupakan nilai bersih suatu
proyek sete dikurangi seluruh biaya pada satu tahun tertentu dari keuntungan atau
manfaat yang diter pada tahun yang bersangkutan dan didiskontokan dengan tingkat
bunga yang berlaku.

c. Analisis Payback Period

Metode payback period digunakan untuk mengetahui jangka waktu pengembalian


investasi. Payback period dirumuskan sebagai berikut:

Payback Period =

Payback period merupakan teknik analisis investasi yang relatif mudah dan
sederhana.Se-hingga banyak digunakan. Namun demikian, Payback period
mengandung kelemahan, yaitu:

1. Metode ini mengabaikan penerimaan-penerimaan investasi atau proceeds yang


diperoleh setelah payback period tercapai.

2. Metode payback period mengabaikan nilai waktu uang.

3. Metode payback period tidak dapat digunakan untuk pengambilan keputusan


investasi yang bersifat mutually exclusive.

d. Analisis Biaya-Manfaat (Cost Benefit Analysis)

Metode cost benefit analysis (CBA) atau benefit cost ratio merupakan cara
mengevaluasi suatu proyek dengan membandingkan nilai sekarang (present value)
dari seluruh manfaat keuntungan yang diperoleh dengan nilai sekarang dari seluruh
biaya proyek tersebut.

Analisis Benefit-Cost Ratio dirumuskan sebagai berikut: lebih besar dari

M=

C=

17
Berdasarkan metode ini, suatu proye akan dilaksanakan bila (M/C) > 1. Metode ini
akan memberikan hasil yang konsisten dengan metode Net Present Benefit apabila
B/C > 1 berarti pula B-C lebih besar dari 0.

Benefit/Cost Ratiodapatjuga dirumuskan sebagai berikut :

Gross Present Value =

Kelemahan metode B-C ratio adalah tidak adanya pedoman yang jelas mengenai
hal-hal yang masuk sebagai perhitungan biaya dan manfaat. Di satu sisi dapat
dimasukkan sebagai biaya, namun di sisi lain dapat masuk sebagai manfaat,
sehingga kemungkinan terjadi mani-pulasi besar. Secara umum, kelemahan ini
disebabkan karena adanya kesulitan dalam peng-hitungan manfaat dan biaya.Biaya
dianggap sebagai manfaat negatif.Dengan demikian B-C ratio dapat berpeluang
memberikan hasil yang keliru dalam menentukan proyek.

e. Analisis Efektivitas Biaya (Cost-Effectiveness Analysis)

Analisis efektivitas biaya dilakukan karena terdapat kesulitan dalam menghitung


biaya dan manfaat sosial secara kuantitatif. Analisis cost-effectiveness meliputi
penilaian terhadap biaya dan manfaat yang dapat dikuantifikasi, baik di masa
sekarang maupun di masa yang akan dating atas suatu proyek dengan pengaruh atau
dampak yang tidak dapat dikuantifika-sikan, namun tidak dinilai.

Langkah-langkah dalam melakukan analisis efektivitas biaya adalah sebagai


berikut:

1) Menentukan jumlah dan waktu atas semua biaya modal. Hal tersebut meliputi
pula penentuan biaya bangunan, peralatan, dan tanah. Hal ini penting karena
sumber daya yang diperlukan oleh sebuah proyek harus dinilai pada opportunity
cost penuhnya.

2) Membuat estimasi biaya yang akan terjadi (running cost) selama umur yang
diharapkan dari suatu proyek.

18
3) Membuat estimasi output terukur selama umur yang diharapkan dari suatu
proyek.

4) Membuat estimasi pengaruh biaya dan pendapatan atas aktivitas yang


dilakukan.

5) Mendiskontokan biaya dan manfaat yang dapat diukur untuk memungkinkan


melakukan perbandingan.

6) Menjelaskan secara realistis mengenai kemungkinan adanya biaya-biaya dan


manfaat yang tidak dapat dikuantifikasi yang akan muncul dari proyek yang akan
dijalankan.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa kesulitan dalam melakukan analisis


efektivitas-biaya.Kesulitan tersebut terjadi pada waktu membuat estimasi atau
perkiraan mengenai waktu dan besarnya jumlah biaya dan manfaat di masa
datang.Kesulitan juga dialami pada saat pemilihan tingkat diskonto (discount rate)
yang tepat atau penyesuaian untuk tingkat risiko dan ketidakpastian, sebagai
gambaran dalam seksi pendahuluan pada analisa cost-benefit. Namun demikian,
mekanisme pendiskontoan pada dasarnya tidak berbeda dari yang biasa diterapkan
pada sektor swasta.

CONTOH SOAL

PT. Jaya Selalu Memiliki Neraca Dan Laporan Laba Rugi Sebagai Berikut :

PT. Jaya Selalu


Neraca
Per31 Desember 2009
(dalam ribuan rupiah)

19
Kas Rp. 461.548 Utang Dagang Rp.1.500.000
Piutang Dagang Rp.1.900.000 Utang Bank Rp. 312.500
Persediaan Rp.2.361.538 Utang Wesel Rp. 568.269
Total Aktiva Lancar Rp.4.661.538 Total Utang Lancar Rp.2.380.769

Aktiva Tetap Rp.10.463.462


Utang Jangka Panjang Rp.4.500.000
Modal Saham Rp.4.750.000
Total Aktiva Rp.15.125.000
Lada Ditahan Rp.3.494.231
Total Utang + Modal
Rp.15.125.000

PT. Jaya Selalu


Neraca
Per31 Desember 2009
(dalam ribuan rupiah)

Penjualan Rp 60.000.000
Harga pokok penjualan (Rp 41.400.000)
Laba kotor Rp 18.600.000
Biaya Administrasi dan Umum Rp 6.250.000
Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) Rp 12.350.000
Bunga Rp 3.750.000)
Laba sebelum pajak (EBT) Rp 8.600.000
Pajak penghasilan 30% (Rp 2.580.000)
Laba bersih setelah pajak Rp 6.020.000

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Dengan adanya sistem informasi yang lebih maju ini maka Analisis investasi sektor
publik lebih mengarah terhadap sistem pengawasan dan audit terhadap investasi
yang telah diterima karena investasi yang diterima biasanya berupa modal, dimana
investasi atau modal tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam
penggunaanya bagi masyarakat luas atau hanya akan malah merugikan berbagai
pihak yang terdapat didalamnya.

Keputusan Investasi publik diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program,


kegiatan, dan fungsi yang menjadi prioritas kebijakan.Investasi publik memiliki
kaitan erat dengan penganggaran modal/investasi. Penganggaran modal/investasi
merupakan proses untuk menganalisis proyek-proyek dan memutuskan apakah
proyek tersebut dapat diakomodasi oleh anggaran modal/investasi.

3.2 Saran

Dalam investasi publik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat


meningkatkan pembangunan manusia, mengatasi kemiskinan serta pelayanan
kesehatan. Untuk menaruh perhatian pada pengeluaran sosial tersebut, komponen
utamanya adalah pengeluaran unutk bidang pendidikan dan kesehatan dalam
pengeluaran pembangunan. Dari hasil estimasi diperoleh bukti bahwa investasi
sektor publik untuk bidang sosial membawa manfaat bagi pembangunan manusia
dan kesejahteraan penduduk, investasi bidang sosial tersebut menghasilkan manfaat
dalam peningkatan IPM dan menurunkan tingkat kemiskinan. Dalam melakukan
fungsi pelayanan masyarakat, Pemerintah dihadapkan pada masalah pengambilan
keputusan investasi publik, keputusan tersebut diperlukan untuk melaksanakan
program, kegiatan dan fungsi yang menjadi prioritas kebijakan.

Feasibility study adalah evaluasi ekonomi pabrik yang didesain, apakah pabrik
tersebut layak atau tidak untuk dioperasikan. Sebagai bahan peninjauan adalah dari

21
perbandingan antara Rate of Return dengan bunga atau interest bank pada saat
tersebut. Layak atau tidaknya suatu hasil desain pabrik untuk dilanjutkan ke
pendirian pabrik dilihat dari: laba, rate of return, minimum pay out period, break
even point dan shut-down rate. Penilaian tersebut dengan cara membandingkan
antara hasil desain pabrik dengan pabrik serta kapasitas produksi yang sama, baik
dari literature maupun yang sudah ada.

1-5 Analisis Investasi


Apabila suatu investasi akan dilakukan dengan jangka waktu yang panjang
maka ada beberapa istilah yang harus dipahami, antara lain:

a. Capital budgeting descion Capital budgeting descion adalah keputusan untuk


memilih alternatif investasi jangka panjang yang melibatkan sejumlah dan yang
besar.

b. Independent project Independent project adalah suatu proyek yang apabila dipilih
tidak mempengaruhi secara financial proyek-proyek lainnya, misalnya proyek
pengembangan produk baru.

c. Mutualy exclusive project Mutualy exclusive project adalah proyek yang jika
dipilih akan menyebabkan ditolaknya alternative proyek yang lain. Sebagai contoh
adalh, Apabila perusahaan akan mengganti sistim proses dari manual ke automatic,
jika ada 2 alternatif pilihan maka jika salah satu dipilih yang lainnya harus ditolak
karena tidak mungkin kedua-duanya akan dipilih.

Selain pemahaman beberapa istilah dalam penanaman modal, maka perlu dilakukan
analisis investasi dengan maksud untuk mengambil keputusan dalam
menginvestasikan suatu modal dengan alasan:

1. Apabila rate of return besar sekali maka penanaman modal dianggap sehat

2. Apabila rate of return tidak besar, maka perlu dilakukan analisis profitabilitas3.
Apabila penanaman modal harus berlangsung untuk beberapa tahun maka harus
dipertimbangkan value of money dengan menggunakan discounted cash flow.

22
DAFTAR PUSTAKA

Legiso.2017.BUKU AJAR EKONOMI TEKNIK.Noer Fikri,Palembang.

https://id.scribd.com/doc/203104877/Ekonomi-Teknik

https://www.scribd.com/document/382742618/Makala-h

https://id.scribd.com/doc/96156775/makalah-penggaran-modal

https://id.scribd.com/doc/298964884/Makalah-Biaya

https://id.scribd.com/doc/52981179/BAB-II

23