Anda di halaman 1dari 9

Dafa Zenobia

1102019051
Sasbel
1. MM Demam
1.1 Definisi
1.2 Klasifikasi
1.3 Penyebab
1.4 Patofisiologi
1.5 Cara Mendiagnosis
1.5.1 Pendekatan diagnosis berdasarkan manifestasi klinis dan fisik
1.5.2 Pendekatan diagnosis berdasarkan laboratorium
1.6 Penanganan
1.6.1 Farmakologis
1.6.2 Non farmakologis
2. MM Pandangan islam bagi pasien yang mengalami demam

1. MM Demam
1.1 Definisi

demam1/de·mam/ a 1 panas badannya (suhu badan lebih tinggi daripada biasanya, umumnya


karena sakit); 2 sakit yang menyebabkan suhu badan menjadi lebih tinggi daripada biasanya
Suhu tubuh pasien biasanya di ukur dengan termometer air raksa dan tempat pengambilannya
dapat di aksila,oral,rektum.Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5 – 37,5°C.Suhu subnormal
dibawah 36°C.Dengan demam pada umumnya diartikan suhu tubuh diatas
37,2°C.Hiperpeireksia adalah suatu keadaan kenaikkan suhu tubuh sampai setinggi 41,2°C
atau lebih.Biasanya terdapat perbedaan antara pengukuran suhu di aksila dan oral maupun
rektal.Dalam keadaan biasa perbedaan ini berkisar antara 0,5°C;suhu rektal lebih tinggi
daripada suhu oral.
1.2 Klasifikasi
Demam Septik : Pada tipe demam septiik,suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali
pada malam hari dan turun kembali ke tingkat di atas normal pada pagi hari.Sering disertai keluhan
menggigil dan berkeringat.Bila demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal dinamakan
juga demam hektik
Demam Remiten : Pada tipe demam remiten,suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah
mencapai suhu badan normal.Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan
tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
Demam Intermiten : Pada tipe demam intermiten,suhu badan turun ke tingkat yang normal selama
beberapa jam dalam satu hari.Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut tersiana dan
bila terjadi dua hari bebas demam di antar dua serangan demam disebut kuartana.
Demam Kontinyu : Pada tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari
satu derajat.Pada tingkay demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
Demam Siklik : Pada tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang
diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuiti oleh kenaikan suhu
seperti semula.
1.3 Penyebab
Kausa demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia,karena keganasan atau
reaksi terhadap pemakaian obat.Juga gangguan pada pusat regulasi suhu sentarl dapat menyebabkan
peninggian temperatur seperti pada heat stroke,pendarahan otak,koma atau gangguan sentral
lainnya.Pada pendarahan internal pada saat terjadinya reabsorsi darah dapat pula menyebabkan
peningkatan temperatur
1.4 Patofisiologi
Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya terangsang oleh
pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi
imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi.Dewasa ini diduga bahwa pirogen adalah suatu
protein yang identik dengan interleukin-1.Di dalam hipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam
arakidonat serta mengakibatkan peningkatan sintesis prostaglandin E2 yang langsung dapat
menyebabkan pireksia.Pengaruh pengaturan autonom akan mengakibatkan terjadinya pengaturan
vasokontriksi perifer sehingga pengeluaran (dissipation) panas menurun dan pasien merasa
demam.Suhu badan dapat bertambah tinggi lagi karena kurang adekuat penyaluran ke permukaan
maka rasa demam bertambah pada seorang pasien.

Sebagai respons terhadap rangsangan pirogenik,maka monosit, makrofag, dan sel-sel Kupffer
mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (IL-1, TNFα, IL-6 dan
interferon) yang bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan patokan
termostat. Hipotalamus mempertahankan suhu di titik patokan yang baru dan bukan di suhu
tubuh normal. Sebagai contoh, pirogen endogen meningkatkan titik patokan menjadi 38,9 0C,
hipotalamus merasa bahwa suhu normal prademam sebesar 37 0C terlalu dingin, dan organ ini
memicu mekanisme- mekanisme respon dingin untuk meningkatkan suhu tubuh.

Berbagai laporan penelitian memperlihatkan bahwa peningkatan suhu tubuh berhubungan


langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang.
Rangsangan eksogen seperti eksotoksin dan endotoksin menginduksi leukosit untuk
mengeluarkan pirogen endogen, dan yang poten diantaranya adalah IL-1 dan TNFα, selain
IL-6 dan interferon (IFN). Pirogen endogen ini akan bekerja pada sistem syaraf pusat pada
tingkat Organum Vasculosum Laminae Terminalis (OVLT) yang dikelilingi oleh bagian
medial dan lateral nucleus preoptik, hipotalamus anterior, dan septum palusolum. Sebagai
respons terhadap sitokin tersebut maka pada OVLT terjadi sintesis prostaglandin, terutama
prostaglandin E2 melalui metabolisme asam arakidonat jalur siklooksigenase 2 (COX-2), dan
menimbulkan peningkatan suhu tubuh terutama demam.
1.5 Cara Mendiagnosis
1.5.1 Pendekatan diagnosis berdasarkan manifestasi klinis dan fisik
1.5.2 Pendekatan diagnosis berdasarkan laboratorium
1.6 Penanganan
1.6.1 Farmakologis
Demam pada anak merupakan suatu keadaan yang sering menimbulkan
kecemasan, stres, dan fobia tersendiri bagi orangtua. Oleh karena itu, ketika
anak demam orangtua seringkali melakukan upaya-upaya untuk menurunkan
demam anak. Salah satu upaya yang sering dilakukan orangtua untuk
menurunkan demam anak adalah dengan pemberian obat penurun
panas/antipiretik seperti parasetamol, ibuprofen, dan aspirin.7

Ada beberapa golongan antipiretik di Indonesia, yaitu 11:


 Golongan antipiretik murni. Termasuk dalam golongan ini adalah
asetaminofen (Parasetamol, Tempra, Termorex, Panadol®, dll), asetosal
(Bodrexin®, dll), dan ibuprofen (Proris®, dll)
 Golongan chlorpromazine
 Golongan aminopyrin dan fenacetin

Parasetamol (Asetaminofen)
Parasetamol merupakan obat pilihan pada anak-anak. Efek anti inflamasi parasetamol hampir
tidak ada. Di Indonesia, parasetamol tersedia sebagai obat bebas, misalnya Panadol, Bodrex ,
INZA, dan Termorex. Parasetamol memiliki sifat analgesik yang menghilangkan atau
mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menurunkan suhu tubuh dengan
mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral. Parasetamol merupakan penghambat
prostaglandin yang lemah. Efek iritasi, erosi, dan perdarahan lambung tidak terlihat pada obat
ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa. Dosis yang
dianjurkan adalah 10-15 mg/kg/kali setiap 4-6 jam (4 kali/hari). Parasetamol terbukti efektif
dan aman apabila diberikan sesuai dosis yang direkomendasikan. Efek samping yang
mungkin timbul adalah reaksi hipersensitivitas berupa eritema atau urtikaria dengan gejala
yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa (sindroma steven
johnson).Hepatotoksisitas dapat terjadi pada dosis toksis yaitu dosis tunggal 10-15 gram
parasetamol. Pemberian parasetamol secara bersamaan dengan ibuprofen dapat meningkatkan
resiko gangguan hati dan ginjal. NAPN juga menegaskan agar tidak memberi kombinasi
selang-seling parasetamol dan ibuprofen kecuali atas petunjuk dokter.
Ibuprofen
Ibuprofen merupakan golongan obat antiinflamasi non steroid (OAINS) yang sering
digunakan sebagai antipiretik pada anak. Obat ini bersifat analgesik dengan daya
antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin. Dosis yang
dianjurkan adalah 5-10 mg/kg/kali setiap 6 – 8 jam (3 – 4 kali/hari). Ibuprofen juga terbukti
efektif dan aman sebagai antipiretik, namun tidak dianjurkan pada anak usia dibawah 6 bulan
atau diberikan dalam jangka waktu lama. Efek antiinflamasinya terlihat pada dosis 1200-2400
mg sehari. Ibuprofen oral sering diresepkan dalam dosis yang lebih rendah (<2400mg/hari),
yang pada dosis ini mempunyai kemanjuran analgesik tetapi kurang bersifat antiinflamasi.
Ibuprofen relatif lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis
analgesik, maka ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas di berbagai negara antara lain
Amerika Serikat dan Inggris. Ibuprofen tersedia di toko obat dalam dosis lebih rendah dengan
berbagai merek, salah satunya ialah Proris.
Aspirin
Aspirin atau asam asetilsalisilat atau asetosal adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat
yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri), antipiretik (terhadap
demam) dan anti-inflamasi. Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam
dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. Beberapa contoh aspirin
yang beredar di Indonesia ialah Bodrexin, Inzana.
Aspirin merupakan obat yang efektif untuk mengurangi demam, namun tidak
direkomendasikan pada anak. Aspirin, karena efek sampingnya merangsang lambung dan
dapat mengakibatkan perdarahan usus maka tidak dianjurkan untuk demam ringan. Efek
samping seperti rasa tidak enak di perut, mual dan perdarahan saluran cerna biasanya dapat
dihindarkan bila dosis per hari tidak lebih dari 325 mg. Penggunaan bersama antasid atau
antagonis H2 dapat mengurangi efek tersebut. Aspirin juga dapat menghambat aktivitas
trombosit (berfungsi dalam pembekuan darah) dan dapat memicu risiko perdarahan sehingga
tidak dianjurkan untuk menurunkan suhu tubuh pada demam berdarah dengue. Pemberian
aspirin pada anak dengan infeksi virus terbukti meningkatkan risiko Sindroma Reye, sebuah
penyakit yang jarang yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu, tidak
dianjurkan untuk anak berusia < 16 tahun.
1.6.2 Non farmakologis

 Meningkatkan asupan cairan. Memperbanyak minum dapat mencegah


dehidrasi. Pemberian minum dapat berupa air, susu, ASI, kuah sup, atau
jus buah.
 Mengompres anak dengan air hangat. Mengompres juga dapat dilakukan
dengan merendam anak di air hangat sambil membasuh badan anak.
Mengompres/merendam anak dengan air hangat dapat membantu
menurunkan suhu terutama apabila dilakukan setelah pemberian
antipiretik. Namun apa bila anak menggigil atau semakin tidak nyaman,
jangan melakukan pengompresan. Pengompresan dengan air dingin
hanya dilakukan jika panas pada anak disebabkan oleh suhu lingkungan
yang tinggi (heat stroke). Pengompresan dengan alkohol harus dihindari
karena alkohol akan diserap oleh kulit dan dihirup pernapasan, dapat
menyebabkan koma.
2. MM Pandangan islam bagi pasien yang mengalami demam

Saat sakit demam, anak cenderung menjadi rewel, sering menangis dan susah untuk makan.
Hal tersebut tentu membuat orang tua menjadi sedih dan resah. Tak jarang, bahkan ada orang
tua yang mencela penyakit demam yang diderita oleh anaknya. Padahal sebenarnya dalam
Islam penyakit demam tidak diperbolehkan untuk dicela.

Pada dasarnya demam merupakan bagian dari panasnya api neraka. Sebagaimana Rasulullah
SAW bersabda, “Sesungguhnya penyakit demam (panas) adalah berasal dari panas neraka
jahannam.” (HR. Imam Bukhari) Tak hanya itu, hampir semua manusia pasti pernah
mengalami penyakit demam. Bahkan demam tersebut merupakan jatah dari neraka bagi
setiap umat Islam. Dari Munad Ibnu Syihab dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul
Bari, Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Demam adalah bagian jatah seorang
mukmin dari neraka.”
Tak hanya orang biasa, Rasulullah SAW sendiri juga pernah mengalami sakit demam.
Bahkan sakit demam yang dialami oleh Rasulullah SAW sangatlah menyakitkan.
Sebab demam tersebut panasnya dua kali lipat dari panas demam yang dialami oleh
manusia.
Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata, “Aku pernah mengunjungi Rasulullah SAW yang saat itu
sedang sakit. Kemudian Aku letakkan tanganku di atas selimut Nabi SAW, aku dapati
panasnya (sangat panas karena yang disentuh adalah selimutnya, bukan badannya). Aku
berkata, “wahai Rasulullah, betapa beratnya demam ini!” Lalu Nabi  shallallahu ‘alaihi wa
sallam  bersabda, “Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga
pahala kami dilipat gandakan.”

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/10/01/mb7otv-tuntunan-islam-
dalam-mengobati-demam-4habis