Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH PENAMBAHAN PENGGUNAAN AIR KELAPA TERHADAP

PERTUMBUHAN CABAI MERAH (Capsicum annuum L.)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cabai rawit (Capsicum annuum L.) termasuk tanaman yang memiliki potensi baik untuk
dikembangkan. Sebagian besar masyarakat Indonesia menjadikan cabai merah sebagai bahan
setiap olahan masakan. Secara umum cabai merah memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin.
Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C.
Cabai merah dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, industri bumbu masakan,
industri makanan dan industri obat-obatan atau jamu (Nurfalach, 2010). Namun harga cabai di
pasaran kian meningkat hal ini dikarenakan permintaan pasar tidak berbanding lurus dengan
hasil produksi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata tingkat konsumsi cabai merah per
kapita mencapai 1.4 kg per tahun dengan kisaran harga cabai Rp 30.000-, sampai Rp 40.000-,.
BPS memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 adalah 269,6 juta
jiwa. Dengan begitu memberi artian bahwa Indonesia membutuhkan cabai sebanyak ±252 ribu
ton per tahun. Dari data tersebut bisa dilihat bahwa kebutuhan konsumen cabai merah di
Indonesia akan terus meningkat tiap tahunnya seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Maka dari itu dibutuhkan peningkatan hasil produksi yang signifikan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut.

Dari paparan masalah tersebut maka dibutuhkan alternatif untuk meningkatkan hasil
produktivitas cabai merah supaya hasil produksi dan kebutuhan pasar berbanding stabil sehingga
tidak memicu kenaikan harga. Menurut Arjuna (2017), air kelapa memberikan pengaruh
terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot basah dan bobot kering umbi dan yang paling
berpengaruh besar yaitu umbi bawang merah yang diberi air kelapa dengan konsentrasi 30%
dalam media hidroponik. Sedangkan hasil penelitian Darlina, dkk (2016) penyiraman air kelapa
memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif lada. Penyiraman air kelapa 200
ml/l (P3) menghasilkan jumlah daun, berat basah, dan berat kering tertinggi. Berdasarkan
penelitian ini air kelapa memungkinkan mampu memberi pengaruh yang sama terhadap
pertumbuhan cabai merah dengan menggunakan media tanam tanah.

Air kelapa merupakan senyawa organik yang mengandung 1,3 diphenilurea, zeatin,
zeatin gluoksida, zeatin ribosida, kadar K dan Cl tinggi, sukrosa, fruktosa, glukosa, protein,
karbohidrat, mineral, vitamin, sedikit lemak, Ca dan P. Zeatin, zeatin gluoksida, dan zeatin
ribosida merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan pembelahan sel dan
perpanjangan sel. Asam amino, gula dan vitamin dapat meningkatkan metabolisme sel dan
berperan sebagai energi, enzim dan co-faktor (Yunita, 2011).

Banyak yang memanfaatkan kelapa di bidang industri namun tak sedikit yang membuang
sia-sia air kelapa, bahkan hal ini kerap menjadi masalah bagi kebersihan pasar tradisional
(Djajanegara, 2010). Dengan memanfaatkan air kelapa sebagai faktor peningkatan pertumbuhan
cabai merah juga mampu menjadikan daya guna air kelapa yang lebih baik. Salah satunya
dengan menjadikan air kelapa sebagai penambahan nutrisi tanaman cabai merah dengan
menggunakan media tanam tanah.

Tujuan

Mengetahui efektifitas penambahan air kelapa terhadap pertumbuhan bawang merah dari
berbagai konsentrasi.

KAJIAN PUSTAKA

Faktor Pertumbuhan cabai


Kandungan air kelapa yang dibutuhkan dalam pertumbuhan cabai

Air kelapa merupakan senyawa organik yang mengandung 1,3 diphenilurea, zeatin,
zeatin gluoksida, zeatin ribosida, kadar K dan Cl tinggi, sukrosa, fruktosa, glukosa, protein,
karbohidrat, mineral, vitamin, sedikit lemak, Ca dan P. Zeatin, zeatin gluoksida, dan zeatin
ribosida merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan pembelahan sel dan
perpanjangan sel. Asam amino, gula dan vitamin dapat meningkatkan metabolisme sel dan
berperan sebagai energi, enzim dan co-faktor (Yunita, 2011). Selain itu, air kelapa juga
mengandung hormon pertumuhan. Menurut Kristina dan Syahid (2012:126) air kelapa memiliki
hormon yaitu giberilin, sitokinin dan auksin. Giberelin adalah zat pengatur tumbuh yang
berperan merangsang perpanjangan ruas batang, terlibat dalam inisiasi pertumbuhan buah setelah
penyerbukan (terlebih jika auksin tidak berperan optimal), giberelin juga meningkatkan besaran
daun beberapa jenis tumbuhan. Respons terhadap giberelin meliputi peningkatan pembelahan sel
dan pembesaran sel (Ariani et.al.,2015). Sitokinin berperan dalam pembelahan dan pembesaran
sel, sehingga memacu pertumbuhan tanaman, sitokinin berfungsi untuk mematahkan dormansi
pada biji-bijian, sitokinin memacu pembentukan tunas baru, sitokinin berperan dalam penundaan
penuaan atau kerusakan pada tanaman, sitokinin meningkatkan tingkat mobilitas unsur-unsur
dalam tanaman, sitokinin meningkatkan sintesis pembentukan protein (Hidayati, Y., 2014).
Menurut Alpriyan, dkk (2018), Auksin dapat merangsang pemanjangan sel dan sel berkembang
membentuk dinding sel baru sehingga dapat menghasilkan pembentukan organ tumbuhan.
Berdasarkan analisis hormon yang dilakukan oleh Savitri (2005, dalam Darlina, 2016:1) air
kelapa mengandung hormon giberelin (0,460 ppm GA3, 0,255 ppm GA5, 0,053 ppm GA7),
sitokinin (0,441 ppm kinetin, 0,247 ppm zeatin), dan auksin (0,237 ppm IAA). Dalam suatu
penelitian, kandungan sitokinin dalam air kelapa ialah sebesar 5,8 mg/l, sedangkan auksin
sesebsar 0,07 mg/l (Aulia, dkk., 2018).
DAFTAR PUSTAKA

Arjuna, Syaiful, S. A., Ulfa, F. 2017. Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah
(Allium ascalonicum L.) Secara Hidroponik Pada Berbagai Media Dan Konsentrasi Air
Kelapa Sebagai Zat Pengatur Tumbuh. Jurnal Agrotan 3(2): 1 – 11.

Aulia, A. N., Ningsih, E. M. N., Sugiarti, U. 2018. Pengaruh Macam Dan Waktu Pemberian Air
Kelapa (Cocos Nucifera L.) Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Padi
(Oryza Sativa L.) Varietas Ciherang. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA”, 12 (1): 12
– 21.

Badan Pusat Statistik. 2015. Statitistik Harga Pangan di Tingkat Produsen. BPS: Medan,
Sumatera Utara

Darlina,Hasanuddin, Rahmatan H. 2016. Pengaruh Penyiraman Air Kelapa (Cocos nucifera L.)
Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Lada (PIPER NIGRUM L.). Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Pendidikan Biologi 1 (1): 20 – 28.

Djajanegara, I. 2010. Pemanfaatan Limbah Buah Pisang dan Air kelapa Sebagai Bahan Media
Kultur Jaringan Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) Tipe 229

Kristina, N. N., dan Syahid, S. F. 2012. Pengaruh Air Kelapa terhadap Muliplikasi Tunas In
Vitro, Produksi Rimpang, dan Kandungan Xanthorizol Temulawak di Lapangan. Jurnal
Littri, 18 (3): 125 – 134.

Nurfalach, Rizqi. 2010. Red Chili (Capsicum Annum L) Plant Cultivation In Horticulture Plant
Seeding Uptd Village Pakopen Subdistrict Bandungan Regency Semarang. Surakarta:
Fakultas Pertanian UNS.

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2015. Outlook Komoditas Pertanian Subsektor
Hortikultura. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Winarto, B. dkk. 2015. Use of Coconut Water and Fertilizer for In Vitro Proliferation and
Plantlet Production of Dendrobium ‘ Gradita 3’. In Vitro Cell Development Biology
Journal, 51: 303 – 314.
Yunita. 2011. Pengaruh Pemberian Urine Sapi, Air Kelapa, dan rootone f terhadap Pertumbuhan
Stek Tanaman Markisa (Passiflora edulis). Jurnal UNAND.

Alpriyan, D., Karyawati, A. S. 2018. Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman Hormon
Auksin Pada Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) Teknik Bud Chip. Jurnal Produksi
Tanaman, 6 (7): 1354 – 1362. ISSN: 2527 – 8452.

Hidayati, Yunin. 2014. Kadar Hormon Sitokinin Pada Tanaman Kenaf (Hibiscus Cannabinus L.)
Bercabang Dan Tidak Bercabang. Jurnal Pena Sains Vol. 1, No. 1, ISSN: 2407-2311.