Anda di halaman 1dari 5

INISIASI 2

LOKASI DAN LAYOUT FASILITAS PRODUKSI


Rori Achir

Banyak sekali perusahaan Indonesia yang memiliki anak usaha (trading arm) di Singapura.
Perusahaan yang terkait dengan tambang pada umumnya melakukannya. Juga perusahaan-
perusahaan yang memiliki jangkauan global.

Sebagai contoh, Semen Indonesia Group memiliki unit usaha SI International Trading Pte Ltd,
yang berfungsi sebagai penghubung group semen terbesar di Asia tersebut dengan dunia luar,
baik dalam memasarkan produk, maupun pembelian bahan baku.

Tidak sedikit dari perusahaan tersebut yang hanya memiliki virtual office di Singapura, dimana
operasional sehari-hari tetap dilakukan dari Jakarta. Dalam hal ini kantor di Singapura lebih
bersifat administratif saja dan sebagai alamat legalitas usaha.

Mandiri Group, institusi keuangan terbesar Indonesia, memiliki anak usaha dan jaringan kantor
cabang yang juga tersebar di berbagai negara. Di samping Singapura, Hongkong, Dilli, Kuala
Lumpur, Sanghai dan London, Bank Mandiri yang merupakan bagian dari Mandiri Group juga
memiliki kantor cabang di Cayman Island.

Di dalam negeri, Bank Rakyat Indonesia memiliki jaringan kantor cabang yang tersebar sampai
dengan pelosok. Sementara pada saat yang sama Citibank mulai menerapkan branchless
banking di Australia dan beberapa negara.

Contoh-contoh di atas merupakan implikasi dari strategi penetapan lokasi dan layout fasilitas
produksi.

Banyak kondisi yang memerlukan pengambilan keputusan penentuan lokasi, yakni pembukaan
lini usaha baru, kedekatan dengan pasar, adanya permintaan (demand), perubahan profuktifitas
tenaga kerja, kecenderungan pergerakan nilai mata uang, faktor biaya, perubahan kondisi lokal
dan perubahan demografi.
Terkait dengan pembukaan unit usaha di Singapura misalnya, sejumlah faktor di atas menjadi
penentu, antar alain:

Singapura menetapkan pajak perusahaan yang relatif lebih rendah dari Indonesia.
Disamping itu biaya operasional juga dapat ditekan dengan tetap menempatkan unit
operasional di Jakarta.

Singapura merupakan salah satu pusat keuangan di dunia sehingga lebih mudah untuk
menembus pasar.

Hukum di Singapura lebih dekat ke English law sehingga lebih mudah untuk mengadakan
perjanjian bisnis dengan berbagai perusahaan dari berbagai negara yang mengadopsi
hokum yang sama.

Secara teoritis disamping faktor-faktor kualitatif, penentuan lokasi juga dikuantifisir dengan
factor-faktor kuantitatif, antara lain:

1. The Factor Rating-Method, yakni penentuan faktor lokasi dengan mendefinisikan faktor-
faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi, kemudian memberikan bobot kepada masing-
masing faktor penentu tersebut. Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang memberikan nilai
keseluruhan paling besar.

2. Locational Break Event Analysis, yakni penentuan lokasi dengan menghitung volume break
event point, berdasar biaya tetap dan biaya variabel masing-masing alternative.

3. Center of Gravity Methods, yakni metode penentuan lokasi pusat distribusi yang dapat
meminimalkan biaya.

4. Transportation Models, yakni penentuan lokasi dengan perhitungan biaya transportasi yang
minimal dalam mengirimkan barang dan jasa.
Layout Fasilitas Produksi

Menurut Stevenson (2017), layout fasilitas produksi merupakan penyusunan unit-unit kerja,
pusat-pusat pemrosesan dan peralatan yang ditekankan kepada perpindahan-perpindahan
dalam pekerjaan (pelanggan dan material) melalui suatu system.

Disamping menfasilitasi kelancaran aliran proses , materi, informasi dan produk, perancangan
lay out yang baik juga penting untuk:
1. Menghasilkan kualitas produk dan jasa yang diinginkan
2. Menciptakan ruang kerja yang efisien
3. Menghindari terjadinya penumpukan aliran (bottle neck)
4. Mengurangi biaya penyimpanan material atau komponen
5. Mengurangi pergerakan tenaga kerja dan material
6. Mengurangi waktu produksi dan layanan konsumen
7. Meningkatkan keselamatan kerja.

Pada industri manufaktur, terdapat empat tipe layout yang lazim diterapkan, yakni:

1. Layout Produk.
Fasilitas produksi (mesin dan perangkat penunjang) disusun secara berurutan mengikuti
urutan proses operasi pembuatan produk. Layout ini pada umumnya digunakan pada
proses assembly (assembly-line production).
Salah satu kelebihan dari tata letak fasilitas yang mengikuti proses operasi adalah tingkat
output yang tinggi sehingga biaya per unit yang rendah. Keuntungan lain adalah layout ini
memiliki aliran bahan dengan pola lurus (straight line flow) ataupun pola melingkar (U turn
flow) sehingga sistem pemindahan bahan lebih efisien efisien.
Sedangkan kerugiannya adalah susunan ini membuat layout kurang fleksiel sehingga sulit
digunakan untuk menangani produk yang beragam.

2. Layout Proses
Fasilitas produksi dikelompokkan berdasarkan kesamaan fungsi. Produk dikerjakan secara
berpindah-pindah dari kelompok fsailitas yang satu ke kelompok fasilitas lain mengikuti
urutan proses operasi pengerjaan produk tersebut.
Keuntungan dari layout ini adalah adanya fleksibilitas proses namun menimbulkan kerugian
pada sistem pemindahan bahan yang kompleks dan mahal karena aliran bahan dapat
berpola zig-zag. Disamping itu juga diperlukan ruangan yang relative luas. Layout ini cukup
baik jika digunakan dalam batch production job shop.

3. Layout Posisi Tetap


Fasilitas produksi berpindah-pindah ke tempat di mana operasi mesin
dibutuhkan. Layout tipe ini hanya digunakan pada pembuatan produk-produk besar seperti
kapal laut, pesawat udara dan produk-produk berukuran besar lainnya. Layout ini
memberikan fleksibilitas yang sangat tinggi dan aliran bahan yang sangat rendah karena
fasilitas produksi ditempatkan dimana operasi dilakukan. Namun biaya pemindahan fasilitas
akan tinggi karena harus selalu berpindah-pindah ke tempat dimana fasilitas tersebut
dibutuhkan.

4. Layout Seluler
pada group layout, mesin-mesin dan fasilitas produksi dikelompokkan dan ditempatkan
dalam sebuah manufacturing cell. Tata letak tipe ini didasarkan pada pengelompokan
produk atau komponen yang dibuat. Produk-produk yang tidak identik dikelompokan
berdasarkan langkah-langkah pemrosesan, bentuk, mesin atau peralatan yang dipakai, dan
bukan berdasarkan pada kesamaan jenis produk akhir seperti halnya pada tipe layout
produk. Karena setiap kelompok produk akan memiliki urutan proses yang sama, maka akan
menghasilkan tingkat efisiensi yang tinggi dalam proses manufacturing.

Adapun pada prduk jasa, terdapat tiga tipe layout, yakni:


1. Layout Pegudangan
Sebagaimana namanya, layout ini ditujukan untuk penyimpanan. Faktor-faktor yang
menjadi perhatian antara lain adalah frekuensi pengambilan barang, kaitan antara barang
satu sama lain, luas Gudang, lebar Lorong, kendaraan, tinggi rak serta kemudahan untuk
melakukan penghitungan stok.
2. Layout Retail
Contoh layout retail adalah supermarket. Faktor yang menjadi perhatian adalah
penyusunan yang menarik, kenyamanan dan pergerakan konsumen.

3. Layout Kantor
Penyusunan layout kantor mempertimbangkan aliran kertas kerja/dokumen dan
penggunaan alat komunikasi elektronik. Tujuan utamanya adalah mengoptimalkan
pergerakan pegawai dan dokumen. Faktor-faktor lain juga dipertimbangkan, seperti
kenyamanan, pengelompokkan berdasarkan bidang tugas, serta interaksi yang positif dan
saling mendukung diantara pegawai.

Daftar Pustaka
1. Adi Djoko Guritno, Manajemen Operasi, Edisi 2 Universitas Terbuka, Tanggerang, 2015
2. Stevenson, William J, Operations Management, McGraw-Hill Education (Asia), 2017
3. Stevenson, William J and Chuong, Sum Chee, Operations Management, an Asian
Perspective, McGraw-Hill Education (Asia), 2014