Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM BIOFISIKA
Aliran Fluida dalam Transfusi Darah atau Infus ke Dalam Pembuluh Darah

Disusun oleh:
Nama : Dita Mey Rahmah
NIM : 17312244002
Kelompok : 4

JURUSAN PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2020
A. Judul
“Aliran Fluida dalam Transfusi Darah Atau Infus ke dalam Pembuluh Darah”

B. Tujuan
1. Menghitung massa jenis, laju volume, dan koefisien viskositas dalam transfusi darah
atau infus.

C. Dasar Teori
Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan
ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk
menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Pada peristiwa
pemberian cairan infus terdapat prinsip fluida yang bekerja. Fuida adalah zat yang dapat
mengalir , fluida digunakan untuk jenis zat gas dan cair. Lebih spesifik lagi system yang
bekerja pada infus merupakan prinsip fluida dinamis. Fluida dinamis merupakan fluida
yang bergerak (Susiati,2008).
Pada prinsipnya besar aliran fluida dapat diukur melalui :
a) Tekanan
Menurut Halliday, Resnick and Walker (2010 : 468), water pressure increases
with depth. Likewise, atmospheric pressure decreases with increasing altitude; it is for
this reason that aircraft flying at high altitudes must have pressurized cabins. Tekanan
pada fluida ketika masuk jarum sebanding dengan ketinggian permukaan fluida di atas
jarum.
Bila tekanan yangdisebabkan oleh fluida ketika masuk jarum tersebut sebanding
dengan ketinggian permukaan fluida di atas jarum. Lintasan selang, A atau B, tidak
relevan, karena tekanan hanya tergantung pada posisi kantong atau fluida dan posisi
jarum yang masuk dalam pembuluh darah. Tekanan akan bertambah jika posisi
kantong atau botol fluida tersebut dinaikkan.
Tekanan fluida dapat diperoleh melalui rumus
P = ρgh
Dimana :
P = tekanan fluida (N/m2)
ρ = massa jenis fluida (kg/m3)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)
h = ketinggian (m)
b) Massa Jenis
Densitas (massa jenis) adalah massa per satuan volume , jika sebuah massa m dari
material homogeny memiliki volume V, densitasnya (ρ) adalah

m
ρ=
V

Dimana :
ρ = massa jenis fluida (kg/m3)
m = massa fluida (kg)
V = volume fluida (m3)
(Halliday, Resnick and Walker, 2010: 468)

b) Viskositas
Kekentalan (viscosity) didefinisikan sebagai gesekan internal atau gesekan fluida
terhadap wadah dimana fluida itu mengalir. Ini ada dalam cairan atau gas, dan pada
dasarnya adalah gesekan antar lapisan fluida yang berdekatan ketika bergerak melintasi
satu sama lain atau gesekan antara fluida dengan wadah tempat ia mengalir. Dalam cairan,
kekentalan disebabkan oleh gaya kohesif antara molekul-molekulnya sedangkan gas,
berasal tumbukan diantara molekul-molekul tersebut (Roshima, 2010:10).
Berikut ini tabel viskositas beberapa larutan.

Tabel 1. Viskositas beberapa larutan.


(Davidovits, 2008 : 104)
c) Aliran dalam tabung
Jika fluida tidak mempunyai kekentalan, ia dapat mengalir melalui tabung atau pipa
mendatar tanpa memerlukan gaya. Oleh karena itu adanya kekentalan, perbedaan tekanan
antara kedua ujung tabung diperlukan untuk aliran setiap fluida, misalnya air atau minyak
di dalam pipa. Laju alir dalam tabung bulat bergantung pada kekentalan fluida, perbedaan
tekanan, dan dimensi tabung. Seorang ilmuan Perancis J.L Poiseuille (1977-1869), yang
tertarik pada fisika sirkulasi darah (yang menamakan “poise”), menentukan bagaimana
variabel yang mempengaruhi laju aliran fluida yang tak dapat mampat yang menjalani
aliran laminar dalam sebuah tabung silinder. Hasilnya dikenal sebagai persamaan
Poiseuille sebagai berikut :

Q = πr4 ( P1 – P2 )

8ηL

dimana : r = jari-jari dalam tabung ( m )


L = panjang tabung ( m )
P1-P2 = perbedaan tekanan pada kedua ujung (atm)
η = kekentalan (P.s/m2)
Q = laju aliran volume (m3/s)
Tranfusi darah adalah penginjeksian darah darah dari seseorang (yang disebut
donor) kedalam sistem peredaran darah seseorag yang lain (disebut resipien) (Ebrahim,
2001 : 55). Darah atau cairan (fluida) dalam proses transfuse darah ditempatkan kedalam
kantong darah atau botol. Pada proses tranfusi atau infus, kantong yang berisi darah atau
cairan infus akan digantungkan pada suatu penyangga dan kemudian dialirkan melalui
selang dan jarum hingga masuk pembuluh darah. Tujuan dari penggantungan ini agar
cairan bisa masuk kedalam pembuluh darah.
D. Metodologi Percobaan
1. Waktu dan Tempat
a. Waktu : 11.20 – 12.50 WIB
b. Hari, tanggal : Rabu, 4 Maret 2020
c. Tempat : Laboratorium IPA FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
a. Selang
b. Jarum
c. Kantong infus
d. Gelas beaker
e. Gelas ukur
f. Neraca
g. Statif
h. Penggaris
i. Stopwatch
3. Prosedur

Menyiapkan alat dan bahan

memasang jarum pada selang dan memasang selang pada kantong infus

menggantungkan kantong infus pada ketinggian tertentu

Menimbang gelas ukur kosong yang akan digunakan untuk menampung fluida

Mengukur panjang jarum dan diameter lubangnya. dalam percobaan ini lubang
jarum adalah 0,5 mm

Memasukkan jarum dalam gelas ukur kosong

Mencatat ketinggian permukaan fluida dalam kantong infus terhadap pangkal


lubang jarum

Membuka penjepit dengan perlahan-lahan agar fluida keluar dari lubang jarum.

Mencatat volume yang terukur tiap menit selama 5 menit.

Menimbang gelas ukur yang berisi fluida, sehingga massa fluida dapat dihitung.

E. Data Hasil
Tabel 1. Variasi Konsentrasi
h = 0,04 m ; L = 0,036 m
Massa Jenis Volume Menetes (m3)
Konsentrasi (%)
(kg/m3) 1’ 2’ 3’ 4’ 5’
0 970 12 x 10-6 25 x 10 -6
40 x 10 -6
48 x 10-6 53 x 10-6
10 1000 10 x 10-6 20 x 10-6 30 x 10-6 37 x 10-6 46 x 10-6
20 1070 9 x 10-6 19 x 10-6 25 x 10-6 32 x 10-6 40 x 10-6

Tabel 2. Variasi Ketinggian


L = 0,03 m
Massa Jenis Volume Menetes (m3)
Ketinggian (m)
(kg/m3) 1’ 2’ 3’ 4’ 5’
0,30 970 3 x 10-6 7 x 10 -6
10 x 10 -6
13 x 10-6 17 x 10-6
0,40 970 4 x 10-6 9 x 10-6 14 x 10-6 18 x 10-6 23 x 10-6
0,50 970 6 x 10-6 12 x 10-6 17 x 10-6 22 x 10-6 28 x 10-6

F. Analisis Data
m
ρ=
V
P= ρ. g . h
V
Q=
t
∏ r 4 ( p 1−p 2)
Q=
8 ɳL

1. Variasi Konsentrasi
a. Larutan Garam 0%
m 0,097
ρ= = =970 kg/m3
V 0,0001
P= ρ. g . h=3880 N/m2
V 5,3 x 10−5
=1,77 x 10 m3/s
−7
Q= =
t 300
∏ r 4 ( p 1−p 2)
Q=
8 ɳL
4,76 x 10−11 2
ɳ= −8 Ns/m
5,08 x 10
ɳ=¿ 9,35 x 10-4 Ns/m2
b. Larutan Garam 10%
m 0,1000
ρ= = =1000 kg/m3
V 0,0001
P= ρ. g . h=4000 N/m2
V 4,6 x 10−5
=1,53 x 10 m3/s
−7
Q= =
t 300
∏ r 4 ( p 1−p 2)
Q=
8 ɳL
4,91 x 10−11
ɳ= Ns/m2
4,41 x 10−8
ɳ=¿ 11,11 x 10-4 Ns/m2

c. Larutan Garam 20%


m 0,1070
ρ= = =1070 kg/m3
V 0,0001
P= ρ. g . h=4280 N/m2
V 4 x 10−5
=1,33 x 10 m3/s
−7
Q= =
t 300
∏ r 4 ( p 1−p 2)
Q=
8 ɳL
5,25 x 10−11 2
ɳ= −8 Ns/m
3,84 x 10
ɳ=¿ 13,67 x 10-4 Ns/m2

2. Variasi Ketinggian
a. Ketinggian 0,30 m
m 97
ρ= = = 0,97 g/ml = 970 kg/m3
v 100
P = ρgh = 970 x 10 x 30x10-2 = 2910 N/m2
V 17
Q= = = 0,056666667 ml/s = 5,67x10-8 m3/s
t 300
∏r 4 ( p 1− p 2)
Q=
8 ɳL

5,67x10-8 =
∏ (¿ 25 x 10−5 )4 (2910) ¿
8 ɳ 3 x 10−2

ɳ=
∏ (25 x 10−5 ¿)4 ( 2910 ) ¿
8 x 3 x 10−2 x 5,67 x 10−8
ɳ = 2,62 x 10-3 Ns/m2

b. Ketinggian 0,40 cm
m 97
ρ= = = 0,97 g/ml = 970 kg/m3
v 100
P = ρgh = 970 x 10 x 40x10-2 = 3880 N/m2
V 23
Q= = = 0,076666667 ml/s = 7,67x10-8 m3/s
t 300
∏r 4 ( p 1− p 2)
Q=
8 ɳL

7,67x10-8 =
∏ (¿ 25 x 10−5 )4 (3880) ¿
−2
8 ɳ 3 x 10

ɳ=
∏ (25 x 10−5 ¿ )4 (3880 ) ¿
8 x 3 x 10−2 x 7,67 x 10−8
ɳ = 2,59 x 10-3 Ns/m2

c. Ketinggian 0,50 m
m 97
ρ= = = 0,97 g/ml = 970 kg/m3
v 100
P = ρgh = 970 x 10 x 50x10-2 = 4850 N/m2
V 28
Q= = = 0,093333333 ml/s = 9,33x10-8 m3/s
t 300
∏r 4 ( p 1− p 2)
Q=
8 ɳL

9,3x10-8 =
∏ (¿ 25 x 10−5 )4 (4850) ¿
8 ɳ 3 x 10−2
4
∏ (25 x 10−5 ¿ ) ( 4850 )
ɳ= ¿
8 x 3 x 10−2 x 9,3 x 10−8
ɳ = 2,66 x 10-3 Ns/m2

G. Pembahasan
Praktikum yang berjudul “Aliran Fluida dalam Transfusi Darah Atau Infus ke dalam
Pembuluh Darah” dilaksanakan di Laboratorium IPA FMIPA UNY pada hari Rabu, 4 Maret
2020 bertujuan untuk menghitung massa jenis, laju volume, dan koefisien viskositas dalam
transfusi darah atau infus.
Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah selang, jarum, kantong
infus, gelas beaker, gelas ukur, neraca, statif, penggaris, dan stopwatch. Selang, jarum dan
kantong infus merupakan seperangkat alat infus untuk mengalirkan cairan dari kantong infus
menuju lubang jarum melalui selang. Gelas beaker berfungsi untuk menampung fluida yang
menetes dari lubang jarum. Gelas ukur berfungsi untuk mengukur volume cairan yang
ditampung dalam gelas beaker. Neraca berfungsi untuk mengukur massa gelas dan air. Statif
berfungsi untuk menggantungkan kantong infus. Penggaris berfungsi untuk mengukur
ketinggian kantong infus dari lubang jarum. Stopwatch berfungsi untuk mengukur waktu
selama air menetes dari lubang jarum.
Pada percobaan 1, praktikan mengukur aliran fluida dengan memavirasi konsentrasi
larutan yang terdapat pada kantong infus. Praktikan menggunakan 3 macam variabel yaitu
air biasa atau konsentrasi garam 0%, air garam dengan konsentrasi 10% dan air garam
dengan konsentrasi 20%. Pada air biasa atau konsentrasi garam 0% selama 5 menit diperoleh
air sebanyak 53 x 10-6 m3 , sedangkan pada konsentrasi garam 20% diperoleh air sebanyak
46 x 10-6 m3, dan pada konsentrasi garam 20% diperoleh air sebanyak 40 x 10-6 m3
Setelah dianalisis datanya, didapatkan hasil sebagai berikut.

1. Massa Jenis Fluida

Setelah konsentrasi pada ketiga larutan sudah diketahui, kemudian praktikan


menghitung massa jenis larutan yang digunakan. Massa jenis adalah pengukuran massa
setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin
besar pula massa setiap volumenya. Menghitung massa jenis pada analisis data
menggunakan rumus berikut ini :

m
ρ=
V
Pada hasil perhitungan bagian analisis data menunjukkan bahwa massa jenis air yang
digunakan oleh praktikan sebesar 970 kg/m3. Kemudian untuk massa jenis air garam 10%
sebesar 1000 kg/m3 dan untuk massa jenis pada air garam 20% yaitu sebesar 1070 kg/m3.
2. Laju Volume Fluida

Kemudian praktikan menghitung laju volume atau debit dari ketiga larutan
tersebut. laju volume atau debit dianalisis dengan menggunakan rumus berikut

Volume
Q=
Waktu

Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan laju volume dari masing-masing


larutan yaitu untuk larutan air sebesar 1,77 × 10-7 m3/s, untuk air garam 10% sebesar 1,53
× 10-7 m3/s dan untuk air garam 20% sebesar 1,33 × 10 -7 m3/s .Dilihat dari hasil
perhitungan tersebut, terjadinya perbedaan laju volume antara air biasa (garam 0%), air
garam 10% dan air garam 20%. Hal ini disebabkan oleh perbedaan konsentrasi
garamnya. Air yang tidak memiliki komponen terlarut menyebabkan laju volumenya
besar. Larutan garam memiliki zat terlarut yang berupa garam menyebabkan laju
volumenya lebih kecil daripada air. Hal ini sesuai dengan teori bahwa fluida pada
berbagai bagian dapat mengalir dengan laju atau kecepatan yang berbeda, tetapi fluida
pada satu lokasi selalu mengalir dengan laju atau kecepatan yang tetap. Dalam percobaan
ini air dikategorikan sebagai fluida yang dapat mengalir dengan mudah, sedangkan
larutan garam merupakan fluida viskos atau fluida yang tidak mengalir dengan mudah.
Air garam 10% dan air garam 20 % memiliki laju volume yang berbeda juga disebabkan
karena air garam 20 % tersebut memiliki zat terlarut lebih besar dibandingkan air garam
10% .

3. Tekanan Fluida
Praktikum ini menjelaskan mengenai cara kerja dari infus. Cara kerja dari infus
merupakan salah satu apilkasi dari tekanan zat cair. Tekanan adalah gaya normal per
satuan luas. Satuan SI untuk tekananan adalah pascal (Pa): 1 Pa= 1 N/m 2. Dimana massa
jenis fluida adalah ρ, ketinggian permukaan fluida dalam kantong atau botol adalah h di
atas posisi jarum dan g merupakan percepatan gravitasi maka tekanan fluida dapat
dirumuskan:
P=ρ.g.h

Berdasarkan rumus tersebut pada ketiggian yang sama didapatkan hasil tekanan
terhadap fluida yang digunakan berturut-turut (3880 ; 4000 ; 4280) N/m 2. Dari perolehan
data tersebut terlihat bahwa tekanan zat cair pada ketiga larutan tersebut berbeda-beda
yang dikarenakan massa jenis dari ketiga larutan tersebut juga berbeda. Massa jenis yang
besar menyebabkan tekanan zat fluida juga besar. Berdasarkan data massa jenis maka
percobaan ini telah sesuai bahwa dengan massa jenis yang lebih besar maka tekanannya
juga akan lebih besar.

4. Koefisien Viskositas

Viskositas (kekentalan) fluida menggambarkan ketahanan fluida terhadap


renggangan geser. Berdasarkan persamaan Poisseuille, untuk mencari nilai viskositas
dapat dituliskan sebagai berikut :

π r 4 ( P1−P2 )
η=
QL8

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan praktikan, nilai koefisien


viskositas ketiga larutan tersebut berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh tegangan geser
dan tegangan tarik yang keduanya merupakan tahanan fluida. Pada larutan air dengan
konsentrasi garam 0% nilai koefisien viskositas sebesar 9,35 x 10−4Ns/m2, pada air garam
10% sebesar11,11 x 10−4Ns/m 2, dan pada air garam 20% sebesar 13,67 x 10−4Ns/m2. Nilai
viskositas sebanding dengan konsentrasi larutan. Larutan yang memiliki konsentrasi
tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan
banyaknya  partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak  partikel yang
terlarut, gesekan antar partikel semakin tinggi sehingga nilai viskositas juga semakin
tinggi. Jika nilai viskositas tinggi maka kecepatan fluida dalam mengalir semakin kecil.
Hal ini dikarenakan molekul-molekul yang bergesekan akan sama besar sehingga
gesekan itu sangat menghambat laju aliran fluida.
Pada percobaan 2, praktikan mengukur aliran fluida dengan memvariasi ketinggian
botol infus. Pada percobaan ini praktikan menggunakan 3 variasi ketinggan yaitu 0,3 m;
0,4 m; dan 0,5 m. air yang digunakan sebagai cairan dalam infus adalah air keran dengan
massa jenis 970 kg/m3.
1. Tekanan

Tekanan yang disebabkan oleh fluida ketika jarum masuk tersebut sebanding
dengan ketinggian permukaan fluida di atas jarum. Pemasangan infus harus
memperhatikan tekanan darah pasien. Dimana tekanan infus harus lebih tinggi dari
tekanan darah pasien agar cairan infus mengalir ke dalam tubuh pasien. Jika tekanan
darah pasien lebih besar dari tekanan cairan infus maka yang terjadi darah pasien akan
mengalir melalui selang infus menuju kantong infus.

Pada ketinggian 0,3 m dihasilkan tekanan sebesar 2910 N/m2, pada ketinggian
0,40 m dihasilkan tekanan sebesar 3880 N/m2, dan pada ketinggian 0,5 m dihasilkan
tekanan sebesar 4850 N/m2. Tekanan fluida berbanding lurus dengan ketinggian,
sehingga tekanan yang dihasilkan akan semakin besar jika posisi peletakan botol infus
juga semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa semakin tinggi penempatan posisi
kantong infus, maka laju aliran volumenya juga akan semakin tinggi.

2. Laju Volume Fluida

Kemudian praktikan menghitung laju volume atau debit dari ketiga larutan
tersebut. laju volume atau debit dihitung dengan menggunakan rumus

Volume
Q=
Waktu

Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan laju volume dari masing-masing


ketinggian 0,3 m; 0,4 m; dan 0,5 m berturut-turut yaitu sebesar 5,67x10-8 m3/s, 7,67x10-8
m3/s, dan 9,33x10-8 m3/s. Laju volume fluida juga berbanding lurus dengan ketinggian
botol infus. Berdasarkan literature yang ada dikatakan laju aliran volume akan semakin
tinggi jika peletakan botol infus semakin tinggi. Semakin tinggi zat cair dalam wadah,
maka akan semakin besar juga tekanan zat cair itu, sehingga makin besar juga tekanan zat
cair pada dasar wadahnya.
3. Koefisien Viskositas
Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan nilai koefisien viskositas pada
ketinggian 0,3 m; 0,4 m’ dan 0,5 m berturut-turut adalah 2,62 x 10-3 Ns/m2; 2,59 x 10-3
Ns/m2; dan 2,66 x 10-3 Ns/m2. Pada ketiga variasi ketinggian menunjukkan nilai koefisien
viskositas yang hampir sama yaitu sekitar 2,6 x 10-3 Ns/m2. Berdasarkan teori, harga
koefisien viskositas untuk 1 zat yang sama memiliki nilai yang sama pula. Pada
percobaan ini, praktikan menggunakan air dengan konsentrasi yang sama, sehingga hasil
sudah sesuai.
Secara kontekstual, pada tubuh manusia semakin kental kandungan dalam darah
maka aliran darah akan menjadi lambat, dan tekanan darahnya akan semakin tinggi.
Tekanan dalam darah menunjukan kerja jantung yang semakin berat yang bertugas untuk
memompa darah. Darah yang kental ini dalam artian memiliki kandungan zat terlarut
yang lebih banyak seperti lemak, koresterol dan zat-zat lain yang berbahaya.
H. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
Konsentrasi mempengaruhi massa jenis, laju volume, tekanan, dan koefisien viskositas.
Hasil perhitungan massa jenis, laju volume, tekanan dan koefisien viskositas pada
kegiatan 1 ditunjukan pada tabel berikut ini :

Konsentrasi Massa Jenis Laju Volume Tekanan Koefisien


(%garam) (kg/m3 ) (m3/s) (N/m2) Viskositas (Ns/m2)
0 970 1,77 x 10−7 3880 9,35 x 10−4
10 1000 1,53 × 10-7 4000 11,11 x 10-4
20 1070 1,33 × 10-7 4280 13,67 x 10-4

Ketinggian fluida (infus) mempengaruhi laju volume dan tekanan fluida tetapi tidak
mempengaruhi koefisien viskositas fluida karena digunakan konsentrasi yang sama.
Hasil perhitungan massa jenis, laju volume, tekanan dan koefisien viskositas pada
kegiatan kedua ditunjukan pada tabel berikut ini :
Ketinggian Massa Jenis Laju Volume Tekanan Koefisien
(m) (kg/m3 ) (m3/s) (N/m2) Viskositas (Ns/m2)
0,30 970 5,67x10-8 2910 2,62 x 10-3
0,40 970 7,67x10-8 3880 2,59 x 10-3
0,50 970 9,33x10-8 4850 2,66 x 10-6
DAFTAR PUSTAKA

Davidovits, Paul. 2008. Physics in Biology and Medicine Third Edition. USA : Academic
Press.
Ebrahim, Abul Fadl Mohsin. 2001. Kloning, Eutanasia, Transfusi Darah, Transplantasi
Organ, dan Eksperimen pada Hewan. Terjemahan Mujiburohman. Jakarta : PT
Serambi Ilmu Semesta.
Erizal. 2010. web.ipb.ac.id/erizal/mefklud/modul.ipb. diakses pada tanggal 9 Maret 2020,
pada pukul 21.00 WIB
Ghozian. 2008. http://www.geofacts.co.cc/2008/10/ viskositas.html. diakses pada tanggal
10 Maret 2020, pada pukul 20.00 WIB
Halliday, David, Robert Resnick and Jearl Walker. 2010. Fundamentals of Physics.
USA : John Wiley & Sons Inc.
Roshima. 2010. http://resuvrces.unpud.ac.id/uapod-content/karakteristik kritin.pdf/
diunduh pada tanggal 10 Maret 2020, pada pukul 14.55 WIB
TUGAS

Massa Jenis Volume Menetes (m3)


Konsentrasi (%)
(kg/m3) 1’ 2’ 3’ 4’ 5’
0 970 12 x 10-6 25 x 10 -6
40 x 10 -6
48 x 10-6 53 x 10-6
10 1000 10 x 10-6 20 x 10-6 30 x 10-6 37 x 10-6 46 x 10-6
20 1070 9 x 10-6 19 x 10-6 25 x 10-6 32 x 10-6 40 x 10-6

Tabel 2. Variasi Ketinggian


L = 0,03 m
Ketinggian Massa Jenis Volume Menetes (m3)
(m) (kg/m3) 1’ 2’ 3’ 4’ 5’
0,30 970 3 x 10-6 7 x 10 -6
10 x 10 -6
13 x 10-6 17 x 10-6
0,40 970 4 x 10-6 9 x 10-6 14 x 10-6 18 x 10-6 23 x 10-6
28 1
0,50 970 6 x 10-6 12 x 10-6 17 x 10-6 22 x 10-6
0-6

1. Variasi Konsentrasi
a. Larutan Garam 0%
m 0,097
ρ= = =970 kg/m3
V 0,0001
P= ρ. g . h=3880 N/m2
V 5,3 x 10−5
=1,77 x 10 m3/s
−7
Q= =
t 300
∏ r 4 ( p 1−p 2)
Q=
8 ɳL
4,76 x 10−11
ɳ= Ns/m2
5,08 x 10−8
ɳ=¿ 9,35 x 10-4 Ns/m2
b. Larutan Garam 10%
m 0,1000
ρ= = =1000 kg/m3
V 0,0001
P= ρ. g . h=4000 N/m2
V 4,6 x 10−5
=1,53 x 10 m3/s
−7
Q= =
t 300
∏ r 4 ( p 1−p 2)
Q=
8 ɳL
4,91 x 10−11
ɳ= Ns/m2
4,41 x 10−8
ɳ=¿ 11,11 x 10-4 Ns/m2

c. Larutan Garam 20%


m 0,1070
ρ= = =1070 kg/m3
V 0,0001
P= ρ. g . h=4280 N/m2
V 4 x 10−5
=1,33 x 10 m3/s
−7
Q= =
t 300
∏ r 4 ( p 1−p 2)
Q=
8 ɳL
5,25 x 10−11 2
ɳ= −8 Ns/m
3,84 x 10
ɳ=¿ 13,67 x 10-4 Ns/m2

2. Variasi Ketinggian
a. Ketinggian 0,30 m
m 97
ρ= = = 0,97 g/ml = 970 kg/m3
v 100
P = ρgh = 970 x 10 x 30x10-2 = 2910 N/m2
V 17
Q= = = 0,056666667 ml/s = 5,67x10-8 m3/s
t 300
∏r 4 ( p 1− p 2)
Q=
8 ɳL

5,67x10-8 =
∏ (¿ 25 x 10−5 )4 (2910) ¿
−2
8 ɳ 3 x 10

ɳ=
∏ (25 x 10−5 ¿)4 ( 2910 ) ¿
8 x 3 x 10−2 x 5,67 x 10−8
ɳ = 2,62 x 10-3 Ns/m2

b. Ketinggian 0,40 cm
m 97
ρ= = = 0,97 g/ml = 970 kg/m3
v 100
P = ρgh = 970 x 10 x 40x10-2 = 3880 N/m2
V 23
Q= = = 0,076666667 ml/s = 7,67x10-8 m3/s
t 300
∏r 4 ( p 1− p 2)
Q=
8 ɳL

-8 ∏ (¿ 25 x 10−5 )4 (3880)
7,67x10 = ¿
8 ɳ 3 x 10−2
4
∏ (25 x 10−5 ¿ ) (3880 )
ɳ= ¿
8 x 3 x 10−2 x 7,67 x 10−8
ɳ = 2,59 x 10-3 Ns/m2

c. Ketinggian 0,50 m
m 97
ρ= = = 0,97 g/ml = 970 kg/m3
v 100
P = ρgh = 970 x 10 x 50x10-2 = 4850 N/m2
V 28
Q= = = 0,093333333 ml/s = 9,33x10-8 m3/s
t 300
∏r 4 ( p 1− p 2)
Q=
8 ɳL

-8 ∏ (¿ 25 x 10−5 )4 (4850)
9,3x10 = −2
¿
8 ɳ 3 x 10
4
∏ (25 x 10−5 ¿ ) ( 4850 )
ɳ= ¿
8 x 3 x 10−2 x 9,3 x 10−8
ɳ = 2,66 x 10-3 Ns/m2
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai