Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI ANION SECARA BASAH

OLEH

Ayu Puji Dwi Lestari (1713031010)


I Gusti Ayu Agung Mas Rosmita (1713031013)
Yulia Hafsari (1713031020)

SENIN, 2 MARET 2020

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2020
I. JUDUL PRAKTIKUM
Identifikasi Anion Secara Basah
II. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengidentifikasi reaksi yang dialami beberapa anion serta mengenal bentuk dan warna
hasil reaksinya
III. DASAR TEORI
Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis cara kering dan
analisis cara basah. Dalam analisis kualitatif kebanyakan analisis dilakuakan dengan
cara basah. Reaksi secara basah adalah reaksi yang berlangsung dalam wujud cair
menggunakan pelarut air. Dalam analisis kualitatif dapat dilakukan pada bermacam-
macam skala yakni analisis makro, analisis semi mikro, dan analisis mikro. Analisis
makro kuantitas zat yang dikerjakan adalah 0,5-1 gram dan volume larutan yang
diambil untuk analisis sekitar 20 mL. Analisis semimikro kuantitas yang digunakan
sekitar 0,05 gram dan volume larutan sekitar 1 mL. Sedangkan untuk analisis mikro
kuantitas yang digunakan kurang dari 0,01 gram. Dalam analisis kualitatif suatu reaksi
diketahui berlangsung apabila terbentuk endapan, terbentuk gas, atau terjadi perubahan
warna larutan.
Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui jenis unsur atau ion yang terdapat
dalam suatu sampel. Analisis anion adalah analisis yang bertujuan untuk menganalisis
adanya ion yang bermuatan negatif dalam sampel. Jadi, analisis anion secara kualitatif
merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui adanya anion serta jenis anion
apa saja yang terdapat dalam suatu sampel. Hasil reaksi yang dialami oleh anion dapat
berupa endapan garam, asam-asam lemah, gas, dan dapat pula berupa ion kompleks.
Dalam teknik analisis kualitatif, pembentukan endapan meliputi proses
pengendapan, penyaringan endapan, penguapan pelarut, dan pengeringan endapan.
Suatu reaksi berlangsung dan terbentuknya endapan dipengaruhi oleh beberapa hal,
seperti konstanta kelarutan anion atau senyawa yang berhubungan dengan anion dan
kondisi dari larutan yang akan diuji (pH). Endapan dengan harga konstanta kelarutan
yang besar akan lebih mudah larut dibandingkan dengan yang mempunyai konstanta
kelarutan kecil, seperti halnya endapan AgSCN (peraktiosianat) yang tidak larut dalam
HNO3 encer dan endapan Ag2C2O4 akan larut dalam HNO3 encer.
AgSCN(s) + HNO3(aq) → tidak ada reaksi
(COOAg)2  + 2H+  Ag+ + (COO)22- + 2H+
Kelarutan juga dipengaruhi oleh pembentukan ion kompleks, dimana
pembentukan ion kompleks akan meningkatkan kelarutan yang dapat diukur dengan
konstanta pembentukan Kf atau kecenderungan ion logam untuk membentuk ion
komplek.
Identifikasi anion berdasarkan reaksi dalam larutan dibagi dua yaitu anion yang
diidentifikasi dengan reaksi pengendapan dan dengan reaksi redoks. Reaksi
pengendapan merupakan reaksi yang salah satu produknya berbentuk endapan.
Endapan terjadi karena zat yang terjadi tidak atau sukar larut didalam air atau
pelarutnya. Dalam reaksi ini tidak semua zat mengendap. Contoh reaksi pengendapan
sebagai berikut.
AgNO3(aq) + NaCl(aq) → AgCl(s) + NaNO3(aq)
Endapan yang terbentuk adalah endapan putih dari AgCl. Reaksi redoks
merupakan reaksi yang dikenal juga dengan reaksi transfer-elektron. Dalam reaksi
redoks ada yang bersifat sebagai reduktor dan oksidator. Contoh reaksi redoks sebagai
berikut.
Fe(SCN)3(s) + 3C2O42-(aq) → [Fe(C2O4)3]3-(aq) + 3 SCN-(aq)
Hasil reaksi yang dialami oleh anion dapat berupa endapan garam. Asam-asam
lemah, gas, dan dapat pula berupa ion kompleks. Misalnya, apabila sampel yang
digunakan mengandung ion CN-:
a. Pereaksi yang digunakan mengandung ion Ag+ dalam jumlah ekivalen, maka
reaksinya adalah Ag+ + CN- → AgCN
b. Pereaksi yang digunakan mengandung ion Fe3+ dalam jumlah yang tidak ekivalen
untuk membentuk endapan Fe(CN)3. Reaksinya adalah
Fe3+ + 2CN- → Fe(CN)2+ atau Fe3+ + 4CN- → Fe(CN)4-
Berturut-turut untuk jumlah Fe3+ yang ditambahkan lebih besar dan lebih kecil
dari yang diperlukan.
c. Pereaksi yang digunakan mengandung ion H3O+ dalam jumlah ekivalen untuk
membentuk senyawa asamnya. Reaksinya adalah
H+ + CN- → HCN(aq) → HCN (g)
Macam reaksi yang mungkin dialami oleh anion atau senyawanya adalah reaksi
redoks dan bukan redoks.
a. Reaksi redoks, misalnya antara MnO4- dengan Fe2+ dalam suasana asam
MnO4- + 5Fe2+ + 8H3O+ → Mn2+ + 5Fe3+ + 12H2O
b. Reaksi non redoks, misalnya reaksi antara ion CH3COO- dengan ion Ca2+
2CH3COO- + Ca2+ → Ca(CH3COO)2

IV. ALAT DAN BAHAN


Tabel 1. Daftar alat yang digunakan
No Nama Alat Spesifikasi Jumlah
1 Tabung Reaksi - 12 buah
2 Batang pengaduk - 1 buah
3 Rak tabung reaksi - 1 buah
4 Plat tetes - 1 buah
5 Gelas kimia 100 mL 3 buah
6 Spatula - 1 buah
7 Penangas air - 1 buah
8 Penjepit kayu - 1 buah
9 Pipet tetes - 3 buah
10 Corong - 1 buah
11 Kertas saring - secukupnya

Tabel 2. Daftar bahan yang digunakan


No Nama Bahan Jumlah No Nama Bahan Jumlah
1. Larutan NaCl Secukupnya 16. Larutan Na2C2O4 Secukupnya
2. Larutan AgNO3 Secukupnya 17. Larutan BaCl2 Secukupnya
3. Larutan HNO3 Secukupnya 18. Larutan HCl pekat Secukupnya
dan encer
4. Larutan NH3 Secukupnya 19. Larutan Na2S2O3 Secukupnya
5. Larutan KCN Secukupnya 20. Larutan H2CO3 Secukupnya
6. Larutan garam Secukupnya 21. Larutan KNO3 Secukupnya
ferri
(K3Fe(CN)6)
7. Larutan Secukupnya 22. Larutan Na2SO4 Secukupnya
K4Fe(CN)6
8. Larutan H2SO4 Secukupnya 23. Larutan Pb(NO3)2 Secukupnya
pekat dan encer
9. Larutan CuSO4 Secukupnya 24. Larutan Secukupnya
CH3COONa
10. Larutan KI Secukupnya 25. Larutan FeCl3 Secukupnya
11. Larutan NaNO2 Secukupnya 26. Larutan CH3COOH Secukupnya
encer
12. Larutan Secukupnya 27. Larutan Secukupnya
KMnO4 Pb(CH3COO)2
13. Larutan FeSO4 Secukupnya 28. Larutan Ba(OH)2 Secukupnya
14. Larutan NaBr Secukupnya 29. Larutan Na2S Secukupnya
15. Larutan Secukupnya 30. Larutan Na3PO4 Secukupnya
Ba(NO3)2

V. PROSEDUR KERJA
a. Identifikasi ion Klorida (Cl-) dengan Menggunakan Larutan Uji NaCl 0,1 M
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga terbentuk endapan
putih dari AgCl.
 Endapan AgCl dibagi menjadi dua bagian ke dalam tabung reaksi yang berbeda.
 Endapan AgCl tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan HNO3 ke
dalam tabung pertama (endapan melarut) dan larutan NH3 ke dalam tabung
kedua (endapan tidak melarut).
b. Identifikasi ion Bromida (Br-) dengan Menggunakan Larutan Uji NaBr 0,1 M
 Larutan H2SO4 pekat ditambahkan ke dalam larutan uji hingga akan terbentuk
HBr dan Br2 dan warna larutan menjadi coklat.
 Larutan uji yang telah ditambahkan larutan H2SO4 tersebut dipanaskan
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga terbentuk endapan
kuning dari AgBr.
 Endapan AgBr dibagi menjadi dua bagian ke dalam tabung reaksi yang berbeda.
 Endapan AgBr tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan NH3 ke
dalam tabung pertama dan larutan KCN berlebih ke dalam tabung kedua.
c. Identifikasi ion Iodida (I-) dengan Menggunakan Larutan Uji KI 0,1 M
 Larutan H2SO4 pekat ditambahkan ke dalam larutan uji hingga akan terbentuk
uap kuning atau violet dari I2 dan mungkin bersama gas HI, H2S atau endapan S
yang berwarna kuning.
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga akan terbentuk
endapan kuning dari AgI.
 Endapan AgI dibagi menjadi dua bagian ke dalam tabung reaksi yang berbeda.
 Endapan AgI tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan NH3 ke dalam
tabung pertama dan larutan KCN berlebih ke dalam tabung kedua.
d. Identifikasi ion Ferrosianida ([Fe(CN)6]4-) Menggunakan Larutan Uji
K4[Fe(CN)6] 0,2 M
 Larutan H2SO4 pekat ditambahkan ke dalam larutan uji hingga terbentuk gas CO
dan SO2 hasil oksidasi ferro menjadi ferri oleh asam.
 Larutan Pb(NO3)2 ditambahkan ke dalam larutan uji (maka akan terbentuk
endapan putih)
 Endapan putih tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan HNO3 encer
ke dalam endapan.
e. Identifikasi ion Ferrisianida ([Fe(CN)6]3-) Menggunakan Larutan Uji
K3Fe(CN)6 0,2 M
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (maka terbentuk endapan
merah orange dari Ag3Fe(CN)6)
 Endapan Ag3Fe(CN)6 dibagi menjadi dua bagian ke dalam tabung reaksi yang
berbeda.
 Endapan Ag3Fe(CN)6 diidentifikasi dengan menambahkan larutan NH3 ke dalam
tabung pertama dan larutan HNO3 encer ke dalam tabung kedua.
 Larutan CuSO4 ditambahkan ke dalam larutan uji (maka akan terbentuk endapan
berwarna hijau dari CuFe(SN)6)
f. Identifikasi ion Tiosianat (SCN-) dengan Menggunakan Larutan Uji KSCN 0,1
M
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga terbentuk endapan
putih AgSCN).
 Endapan AgSCN dibagi menjadi dua bagian ke dalam tabung reaksi yang
berbeda.
 Endapan AgSCN tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan NH3 ke
dalam tabung pertama dan larutan HNO3 encer ke dalam tabung kedua.
 Larutan garam ferri (K3Fe(CN)6) ditambahkan ke dalam larutan uji hingga
terbentuk endapan berwarna merah darah dari Fe(CNS)3.
 Endapan Fe(CNS)3 tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan
(NH4)2C2O4 ke dalam endapan.
g. Identifikasi ion Nitrit (NO2-) dengan Menggunakan Larutan Uji NaNO2
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga akan terbentuk
endapan putih bentuk kristalin dari AgNO2.
 Larutan KMnO4 ditambahkan dalam suasana asam (H2SO4 encer) ke dalam
larutan tersebut hingga menyebabkan warna permanganat hilang.
h. Identifikasi ion Sulfida (S2-) dengan Menggunakan Larutan Uji Na2S
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga terbentuk endapan
hitam dari Ag2S.
 Endapan Ag2S dibagi menjadi dua bagian ke dalam tabung reaksi yang berbeda.
 Endapan Ag2S tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan HNO3 encer
ke dalam tabung pertama dan larutan HNO3 panas ke dalam tabung kedua.
 Larutan HCl atau H2SO4 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga terbentuk gas
H2S yang tidak berwarna dengan bau khas.
i. Identifikasi ion Asetat (CH3COO-) dengan Menggunakan Larutan Uji
CH3COONa
 Larutan FeCl3 ditambahkan ke dalam larutan uji hingga terbentuk larutan merah
coklat dari [Fe3(OH)2(CH3COO)6]-)
 Larutan uji yang telah ditambahkan larutan FeCl3 tersebut dipanaskan hingga
terbentuk endapan merah coklat dari Fe(CH3COO)3).
 Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (maka akan terbentuk
endapan kristalin putih dari CH3COOAg).
 Endapan CH3COOAg dibagi menjadi dua bagian ke dalam tabung reaksi yang
berbeda.
 Endapan CH3COOAg tersebut diidentifikasi dengan menambahkan larutan
HNO3 encer ke dalam tabung pertama dan HNO 3 encer panas ke dalam tabung
kedua.
j. Identifikasi ion Karbonat (CO32-) dengan Menggunakan Larutan Uji Na2CO3
 Larutan H2SO4 encer ditambahkan ke dalam larutan uji (maka akan timbul gas).
 Larutan BaCl2 ditambahkan ke dalam larutan uji (maka akan terbentuk endapan
putih BaCO3).
 Endapan BaCO3 diidentifikasi tersebut dengan menambahkan larutan H2CO3 ke
dalam endapan.

VI. HASIL PENGAMATAN


Tabel 4. Hasil Pengamatan
No Identifikasi Larutan Uji Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Ion klorida NaCl a. Larutan uji  Larutan NaCl = bening
ditambahkan  Larutan AgNO3 =
larutan AgNO3 bening
Larutan berwarna putih dan
terbentuk endapan putih
(endapan AgCl).

Gambar 1. Larutan
 Endapan NaCl+AgNO3
ditambahkan
larutan HNO3 Endapan tidak larut (tidak
terjadi perubahan).

Gambar 2. Endapan
 Endapan AgCl +HNO3
ditambahkan
larutan NH3 Endapan larut.

Gambar 3. Endapan
AgCl +NH3

2. Ion Bromida NaBr a. Larutan uji  Larutan NaBr = bening


ditambahkan  Larutan H2SO4 = bening
larutan H2SO4 Larutan menjadi coklat
pekat

Gambar 4. Larutan NaBr


+ H2SO4
Larutan yang Terbentuk uap yang
terbentuk dipanaskan berwarna kuning
kecoklatan.
Gambar 5. Larutan NaBr
+ H2SO4 dipanaskan

 Larutan NaBr = bening


b. Larutan uji
 Larutan AgNO3 =
ditambahkan
bening
AgNO3
Larutan berwarna putih dan
terbentuk endapan kuning
(endapan AgBr).

Gambar 6. Larutan NaBr


+ AgNO3

 Endapan
ditambahkan Endapan larut ketika
KCN berlebih ditambahkan KCN
berlebih.

Gambar 7. Endapan AgBr


+ KCN
 Endapan
ditambahkan
Endapan larut ketika
NH3
ditambahkan NH3.

Gambar 8. Endapan AgBr


+ NH3
3. Ion Iodida KI a. Larutan uji  Larutan KI = bening
ditambahkan  Larutan H2SO4 = bening
larutan H2SO4  Larutan berwarna
pekat kuning dan uap violet.
 Terbentuk endapan
kuning (endapan sulfur).

Gambar 9. Larutan KI +
H2SO4

b. Larutan uji  Larutan KI = bening


ditambahkan  Larutan AgNO3 =bening
larutan AgNO3
Larutan berwarna putih dan
terbentuk endapan kuning
(endapan AgI).

Gambar 10. Larutan KI +


AgNO3
4. Ion K4Fe(CN)6 a. Larutan uji  Larutan K4Fe(CN)6 =
Ferrosianida ditambahkan kuning
larutan H2SO4  Larutan H2SO4 = bening
pekat Larutan berwarna putih dan
terbentuk gas (gas CO dan
SO2).

Gambar 11. Larutan


K4Fe(CN)6 + H2SO4
 Larutan K4Fe(CN)6 =
b. Larutan uji kuning
ditambahkan  Larutan Pb(NO3)2 =
larutan Pb(NO3)2 bening
Larutan berwarna putih dan
terbentuk endapan
berwarna putih (endapan
Pb2[Fe(CN)6]).

Gambar 12. Larutan


K4Fe(CN)6 + Pb(NO3)2
 Endapan
ditambahkan Endapan tidak larut.
HNO3 encer

Gambar 13. Endapan


Pb2[Fe(CN)6 + HNO3

5. Ion K3Fe(CN)6 a. Larutan uji  Larutan K3Fe(CN)6 =


Ferrisianida ditambahkan hijau
larutan AgNO3  Larutan AgNO3 =
bening
Terbentuk endapan merah
oranye (Endapan
Ag[Fe(CN)6]).

Gambar 14. Larutan


K3Fe(CN)6+ AgNO3

Endapan tidak larut dalam


asam nitrat.
 Endapan
\
ditambahkan
HNO3 encer

Gambar 15. Endapan


Ag[Fe(CN)6]+ HNO3

Endapan larut dalam NH3


 Endapan
ditambah NH3
 Larutan K3Fe(CN)6 =
b. Larutan uji hijau
ditambahkan  Larutan CuSO4 = biru
larutan CuSO4 Terbentuk endapan
berwarna hijau (endapan
kupri ferrisianida).

Gambar 16. Larutan


K3Fe(CN)6+ CuSO4
6. Ion Tiosianat KCN a. Larutan uji  Larutan KCN = bening
ditambahkan  Larutan AgNO3 =
AgNO3 bening
Terbentuk endapan putih
b. Larutan uji (endapan peraktiosianat).
ditambahkan
larutan garam ferri
(FeCl3)

Gambar 17. Larutan


KCN+ AgNO3

 Larutan KCN = bening


 Larutan FeCl3 = coklat
Terbentuk endapan
berwarna merah darah
(endapan Fe(CNS)3).
Gambar 18. Larutan KCN
+ FeCl3
7. Ion Nitrit NaNO2 a. Larutan uji  Larutan NaNO2 = bening
ditambahkan  Larutan AgNO3 =
AgNO3 bening
Terbentuk endapan putih
kristalin (endapan AgNO2).

Gambar 19. Larutan


NaNO2 + AgNO3
 Menambahkan
KMnO4 dalam Warna ungu muda
suasana asam (permanganat) tidak
berubah. Uji yang
dihasilkan negatif.

Gambar 20. Larutan


(NaNO2 + AgNO3) +
KMnO4

8. Ion Sulfida Na2S a. Larutan uji  Larutan Na2S = bening


ditambahkan  Larutan AgNO3 =
AgNO3 bening
Terbentuk endapan hitam
(endapan Ag2S).
Gambar 21. Larutan Na2S
 Endapan
+ AgNO3
ditambah
HNO3 encer Endapan larut.
panas

Gambar 22. Endapan


Ag2S + HNO3 panas
 Endapan
ditambah
HNO3 encer Endapan tidak larut
dingin

b. Larutan uji
ditambahkan HCl
encer

Gambar 23. Endapan


Ag2S + HNO3 dingin

 Larutan Na2S = bening


 Larutan HCl = bening
Terbentuk gas dengan bau
yang khas. (gas H2S).

 Tabung reaksi
ditutup kertas Gambar 24. Larutan Na S
2
yang dibasahi + H2SO4
dengan timbal
asetat Terbentuk noda hitam pada
kertas.

Gambar 25. Noda hitam


pada kertas

9. Ion asetat CH3COONa a. Larutan uji  Larutan CH3COONa =


ditambahkan bening
larutan FeCl3  Larutan FeCl3 = coklat
Larutan berwarna merah
bata.

Gambar 26. Larutan


CH3COONa+FeCl3

10 Ion karbonat Na2CO3 Larutan uji  Larutan Na2CO3 =


ditambahkan H2SO4 bening
encer  Larutan H2SO4 = bening
dan terbentuk gas.

Gambar 27. Larutan


Na2CO3 + H2SO4

VII. PEMBAHASAN
a. Identifikasi ion Klorida (Cl-) dengan Menggunakan Larutan Uji NaCl 0,1 M
Pada tahap identifikasi ion klorida ini digunakan larutan uji NaCl serta larutan
pereaksi AgNO3. Larutan uji NaCl yang awalnya tidak berwarna dimasukkan ke
dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan AgNO3 yang
tidak berwarna. Berdasarkan hasil pengamatan, larutan mula-mula terlihat menjadi
keruh kemudian setelah beberapa saat terbentuk endapan putih AgCl. Endapan putih
ini terbentuk sesuai dengan reaksi yang terjadi sebagai berikut.
Cl-(aq) + Ag+(aq)→ AgCl(s)
Adanya endapan putih ini menandakan adanya ion Cl- yang terkandung dalam
larutan uji. Adapun identifikasi lebih lanjut dilakukan dengan membagi endapan
yang terbentuk menjadi dua dan diuji dalam tabung reaksi yang berbeda. Masing-
masing diidentifikasi dengan menggunakan HNO3 untuk endapan tabung pertama
dan NH3 untuk endapan pada tabung kedua. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap
endapan tersebut dapat diamati bahwa, endapan AgCl tidak larut dalam HNO 3.
Sedangkan ketika dimasukkan NH3 endapan AgCl tersebut larut. Adapun reaksi
yang terjadi sebagai berikut.
AgCl(s) + HNO3 → tidak ada reaksi
AgCl(s) + 2 NH3(aq) → [Ag(NH3)2]+(aq) + Cl-(aq)

b. Identifikasi ion Bromida (Br-) dengan Menggunakan Larutan Uji NaBr 0,1 M
Pada tahap identifikasi ion bromida digunakan larutan uji NaBr serta dua larutan
pereaksi yaitu H2SO4 dan AgNO3. Uji yang pertama dilakukan menggunakan H2SO4.
Larutan NaBr yang awalnya tidak berwarna dimasukkan ke dalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan H2SO4 pekat yang tidak berwarna.
Berdasarkan hasil pengamatan terlihat adanya perubahan warna larutan menjadi
coklat. Adanya warna coklat yang terjadi pada larutan diakibatkan terbentuknya gas
HBr dan Br dari reaksi kedua larutan tersebut.Kemudian ketika dipanaskan terbentuk
uap kuning kecoklatan. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.
NaBr(aq) + H2SO4(aq) → HBr(g)↑ + HSO4-(aq) + K+(aq)
2NaBr(aq) + 2H2SO4(aq) → Br2(g) + SO2(g) + SO42-(aq) + 2K+(aq) + 2H2O(l)
Selanjutnya pengujian kedua dilakukan menggunakan AgNO3. Larutan NaBr
yang awalnya tidak berwarna dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian
ditambahkan beberapa tetes larutan AgNO3 yang tidak berwarna. Berdasarkan hasil
pengamatan terlihat adanya endapan kuning dari AgBr. Adapun reaksinya sebagai
berikut.
Br -(aq) + Ag+(aq) → AgBr(s)↓
Adapun endapan kuning yang terbentuk menandakan adanya anion Br- yang
terkandung dalam larutan uji. Kemudian endapan ini dibagi menjadi dua dalam
tabung reaksi yang berbeda, yang mana untuk mengidentifikasi lebih lanjut dengan
menggunakan KCN berlebih untuk endapan pada tabung pertama dan menggunakan
NH3 untuk endapan pada tabung kedua. Berdasarkan identifikasi yang telah
dilaksanakan terhadap masing-masing endapan tersebut dapat diamati bahwa, endapan
AgBr larut dalam KCN dan NH3. Adapun reaksi yang terjadi ketika endapan
ditambahkan KCN adalah sebagai berikut.
AgBr(s)↓ + 2CN-(aq) → [Ag(CN)2]-(aq) + Br –(aq)
Pada penambahan KCN, endapan menjadi larut karena terbentuknya ion kompleks
[Ag(CN)2]-. Sedangkan reaksi yang terjadi ketika endapan AgBr ditambahkan NH 3
adalah sebagai berikut.
AgBr(s)↓ + 2NH3(aq) → [Ag(NH3)2]+(aq) + Br –(aq)
Pada penambahan NH3 ini juga terbentuknya ion kompleks [Ag(NH3)2]+ sehingga
endapan menjadi larut.
c. Identifikasi ion Iodida (I-) dengan Menggunakan Larutan Uji KI 0,1 M
Pada tahap identifikasi ion iodida ini digunakan larutan uji KI serta dua larutan
pereaksi yaitu H2SO4 pekat dan AgNO3. Uji yang pertama dilakukan menggunakan
H2SO4 pekat. Larutan uji KI yang awalnya tidak berwarna dimasukkan ke dalam
tabung reaksi kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan H2SO4 pekat yang tidak
berwarna. Berdasarkan hasil pengamatan, tabung reaksi menjadi panas, larutan
berubah dari bening menjadi kuning dan terbentuk uap violet. Adanya uap berwarna
violet ini disebabkan karena adanya I2 dan mungkin bersama gas HI, H2S. Adapun
reaksi yang terjadi antara KI dengan H2SO4 pekat sebagai berikut.
2I-(aq) + 2H2SO4(aq) → I2↑ + SO42-(aq) + 2H2O(l)
I-(aq) + H2SO4(aq) → HI(g)↑ + HSO4-(aq)
6I-(aq) + 4H2SO4(aq) → 3I2(g)↑ + S(s) ↓ + 2H2O(l) + 3SO42-(aq)
8I-(aq) + 5H2SO4(aq) → 4I2(g)↑ + 4SO42-(aq) + 4H2O(l) + H2S(g)↑

Selanjutnya dilakukan pengujian mneggunakan AgNO3 larutan KI yang awalnya


tidak berwarna dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan beberapa
tetes larutan AgNO3 yang tidak berwarna. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat
adanya endapan kuning dari AgI. Adapun reaksinya sebagai berikut.

I(aq)- + Ag+(aq) →AgI(s)


Adanya endapan kuning tersebut membuktikan bahwa terdapat kandungan
anion I- dalam larutan uji. Kemudian endapan yang telah diperoleh dibagi menjadi
dua bagian dan diuji di dalam tabung reaksi yang berbeda. Masing-masing
diidentifikasi lebih lanjut dengan menggunakan KCN berlebih untuk endapan tabung
pertama dan NH3 untuk endapan pada tabung kedua. Berdasarkan identifikasi yang
telah dilaksanakan, terhadap masing-masing endapan tersebut dapat diamati bahwa
endapan AgI larut dalam NH3 dan KCN berlebih. Adapun reaksi yang terjadi sebagai
berikut.
AgI(s) ↓ + 2CN-(aq) → Ag(CN)2-(aq) + I-(aq)
AgI(s) ↓ + 2NH3(aq) → Ag(NH3)2+ (aq) + I-(aq)
Kedua reaksi tersebut, endapan AgI membentuk ion kompleks Ag(CN)2- ketika
ditambahkan beberapa tetes KCN dan membentuk ion kompleks Ag(NH3)2+ ketika
ditambahkan beberapa tetes NH3. Terbentuknya ion kompleks tersebut yang
menyebabkan endapan AgI menjadi larut.
d. Identifikasi ion Ferrosianida ([Fe(CN)6]4-) Menggunakan Larutan Uji
K4[Fe(CN)6] 0,2 M
Pada tahap identifikasi ion ferrosianida ini digunakan larutan uji K 4[Fe(CN)6]
serta dua larutan pereaksi yaitu H2SO4 pekat dan Pb(CH3COO)2 pekat. Uji tahap
pertama digunakan H2SO4 pekat. Larutan K4[Fe(CN)6] yang awalnya berwarna
kuning dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan beberapa tetes
larutan H2SO4 pekat yang tidak berwarna ke dalamnya. Berdasarkan hasil
pengamatan, terbentuk gelembung gas. Namun tidak dilakukan identifikasi terhadap
gas tersebut. Secara teoritis, gas yang dihasilkan tersebut merupakan gas CO dan
SO2 hasil oksidasi ferro menjadi ferri oleh asam sesuai dengan reaksi berikut.
[Fe(CN)6]4-(aq) + 6H2SO4(aq) + 6H2O(aq) → Fe2+(aq) + 6NH4+(aq)
+ 6CO(g)↑+ 6SO2-(g)
2Fe2+(aq) + 2H2SO4(aq) → 2Fe3+(aq) + SO2(g) ↑ + SO42-(aq) + 2H2O(l)
Selanjutnya identifikasi kedua menggunakan Pb(CH3COO)2, larutan K4[Fe(CN)6]
yang awalnya berwarna kuning dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian
ditambahkan beberapa tetes larutan garam timbal Pb(CH3COO)2 ke dalamnya.
Berdasarkan hasil pengamatan terbentuknya endapan putih yang merupakan
endapan dari Pb2[Fe(CN)6]. Adapun reaksinya sebagai berikut.
Pb2+(aq) + [Fe(CN)6]4-(aq) → Pb2[Fe(CN)6](s)
Terbentuknya endapan putih dari Pb2[Fe(CN)6] ini membuktikan bahwa terdapat
ion [Fe(CN)6]4- dalam larutan uji. Endapan yang terbentuk ditambahkan asam
nitrat encer. Berdasarkan pengamatan endapan tidak melarut karena tidak terjadi
reaksi.
Pb2[Fe(CN)6](s) + HNO3 →
e. Identifikasi ion Ferrisianida ([Fe(CN)6]3-) Menggunakan Larutan Uji
K3Fe(CN)6 0,2 M
Pada tahap identifikasi ion ferrisianida ini digunakan larutan uji K3[Fe(CN)6]
serta dua larutan pereaksi yaitu AgNO 3 dan CuSO4. Uji tahap pertama digunakan
larutan AgNO3. Larutan K3[Fe(CN)6] dimasukkan ke dalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan AgNO3 yang tidak berwarna.
Setelah direaksikan dengan AgNO3, terbentuk endapan berwarna merah oranye
dari Ag3Fe(CN)6 sesuai dengan reaksi sebagai berikut.

Fe(CN)63-(aq) + 3Ag+(aq) → Ag3[Fe(CN)6](s) ↓

Adanya endapan merah oranye dari Ag3[Fe(CN)6] ini membuktikan bahwa


terdapat ion [Fe(CN)6]3- dalam larutan uji. Endapan yang terbentuk kemudian
dibagi menjadi dua dalam tabung reaksi yang berbeda. Masing-masing
diidentifikasi lebih lanjut dengan menggunakan HNO3 untuk endapan tabung
pertama dan NH3 untuk endapan pada tabung kedua. Berdasarkan identifikasi
terhadap masing-masing endapan tersebut dapat diamati bahwa endapan
Ag3Fe(CN)6 larut dalam NH3. Sedangkan ketika ditambahkan HNO3, endapan
tidak larut.
Selanjutnya identifikasi ion ferrisianida dari larutan uji K3[Fe(CN)6]
menggunakan CuSO4. Identifikasi ion Fe(CN)63- menggunakan larutan uji
K3Fe(CN)6 menggunakan CuSO4 dilakukan dengan memasukkan larutan
K3[Fe(CN)6] yang awalnya jingga ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan
beberapa tetes larutan CuSO4 yang berwarna biru ke dalamnya. Berdasarkan hasil
pengamatan terlihat adanya endapan berwarna hijau yang merupakan endapan
Cu3[Fe(CN)6]2 (kupri ferrisianida). Adapun reaksinya sebagai berikut.

2 Fe(CN)6
3-
(aq) + 3 Cu2+(aq) → Cu3[Fe(CN)6]2(s) ↓

Terbentuknya endapan Cu3[Fe(CN)6]2 membuktikan bahwa dalam larutan uji


terdapat ion Fe(CN)63-
f. Identifikasi ion Tiosianat (SCN-) dengan Menggunakan Larutan Uji KSCN
0,1 M
Pada tahap identifikasi ion tiosianat ini digunakan larutan uji KSCN serta dua
larutan pereaksi yaitu AgNO3 dan FeCl3. Uji tahap pertama digunakan larutan
AgNO3. Larutan KSCN dimasukkan secukupnya ke dalam tabung reaksi kemudian
ditambahkan beberapa tetes larutan AgNO3 yang tidak berwarna ke dalamnya.
Berdasarkan hasil pengamatan terlihat adanya endapan berwarna putih yang
merupakan endapan AgSCN (perak tiosianat). Adapun reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut.

SCN-(aq) + Ag+(aq) → AgSCN(s) ↓


Selanjutnya dilakukan Identifikasi ion tiosianat dari larutan uji KSCN menggunakan
FeCl3. Larutan KSCN dimasukkan secukupnya ke dalam tabung reaksi kemudian
ditambahkan beberapa tetes larutan garam ferri K3[Fe(CN)6] yang ke dalamnya.
Berdasarkan hasil pengamatan terlihat adanya endapan berwarna merah darah yang
merupakan endapan Fe(SCN)3. Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Dengan terbentuknya endapan merah darah maka dapat dikatakn bahwa dalam
larutan uji terkandung ion SCN-.

SCN-(aq) + Fe3+ (aq)  Fe(SCN)3(s)

g. Identifikasi ion Nitrit (NO2-) dengan Menggunakan Larutan Uji NaNO2


Pada tahap identifikasi ion nitrit (NO2-) ini digunakan larutan uji NaNO2 serta dua
larutan pereaksi yaitu AgNO3 dan KMnO4 dalam suasana asam. Uji pertama
dilakukan dengan menambahkan larutan AgNO3. Identifikasi ini dilakukan dengan
menambahkan tetes demi tetes larutan AgNO3 yang tidak berwarna ke dalam larutan
uji NaNO2 yang tidak berwarna pula. Penambahan pereaksi tersebut mengakibatkan
terbentuknya endapan putih kristalin dari (AgNO2). Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut:

NO2- + Ag+ → AgNO2 ↓


Endapan kristalin tersebut dapat terlihat setelah larutan tersebut didiamkan beberapa
saat. Terbentuknya endapan putih kristalin dari (AgNO2) ini menandakan adanya
ion nitrit (NO2-) dalam larutan uji.
Selanjutnya identifikasi ion nitrit (NO2-) dengan menambahkan larutan KMnO4
dalam suasana asam Larutan KMnO4 yang berwarna ungu ditambahkan tetes demi
tetes ke dalam larutan uji NaNO2 yang tidak berwarna sehingga larutan uji NaNO3
berubah warna menjadi ungu muda Selanjutnya ke dalam larutan tersebut
ditambahkan asam klorida tetes demi tetes sehingga menyebabkan warna ungu dari
permanganat (KMnO4) menghilang. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

5NO2- + 2MnO4- + 6H+ → 5NO3- + 2Mn2+ + 3H2O


Warna ungu dari permanganat hilang karena KMnO4 merupakan oksidator kuat.
Namun pada percobaan yang dilakukan, tidak ditambahkan asam sehingga warna
dari KMnO4 tetap berwarna ungu. Sehingga hasil uji yang didapatkan negatif.

h. Identifikasi ion Sulfida (S2-) dengan Menggunakan Larutan Uji Na2S


Pada tahap identifikasi ion sulfida digunakan larutan uji Na2S dan pereaksi yaitu
larutan AgNO3 dan larutan HCl. Adapun uji pertama yakni dilakukan dengan
menambahkan beberapa tetes larutan AgNO3 yang bening tak berwarna ke dalam
larutan uji Na2S yang bening tak berwarna, sehingga terbentuk endapan berwarna
hitam yang menandakan adanya ion sulfida. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut.
Na2S(aq) + AgNO3(aq) → NaNO3(aq) + Ag2S(s)↓
S2-(aq) + Ag+(aq) → Ag2S(s)↓
Kemudian dilakukan identifikasi endapan Ag2S dengan penambahan HNO3 encer
panas dan HNO3 encer dingin, yang mana endapan Ag2S larut dalam HNO3 encer
panas dan tidak larut dalam HNO3 encer dingin. Adapun reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut.
Ag2S(s)↓ + HNO3(aq )(panas) → AgNO3(aq) + H2S(g)
Ag2S(s)↓ + HNO3(aq )(dingin) → tidak ada reaksi
Selanjutnya, uji yang kedua dilakukan dengan menambahkan beberapa tetes larutan
HCl yang bening tak berwarna ke dalam larutan uji Na2S yang bening tak berwarna,
sehingga terbentuk larutan bening tak berwarna. Ketika larutan tersebut di uji
dengan kertas yang dibasahi oleh timbal asetat Pb(CH3COO)2, memberikan noda
hitam pada kertas. Hal tersebut disebabkan karena terbentuknya endapan PbS.
Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
H2S(s) + Pb2+(aq) → PbS(s)

i. Identifikasi ion Asetat (CH3COO-) dengan Menggunakan Larutan Uji


CH3COONa
Pada tahap identifikasi ion asetat (CH3COO-) ini digunakan larutan uji
CH3COONa serta dua larutan pereaksi yaitu larutan FeCl 3 dan AgNO3. Adapun
pengujian pertama yakni dilakukan dengan menggunakan pereaksi berupa larutan
FeCl3. Identifikasi ini dilakukan dengan menambahkan beberapa tetes larutan FeCl 3
yang berwarna kuning kunyit ke dalam larutan uji CH3COONa yang tidak berwarna
sehingga larutan tersebut berubah menjadi berwarna merah bata, yang mana larutan
merah bata ini merupakan hasil dari ion kompleks [Fe 3(OH)2(CH3COO)6]+ yang
terbentuk. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
6CH3COO- + 3Fe3+ + 2H2O(l)→ [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+ + 2H+
Larutan tersebut kemudian dipanaskan, maka akan menghasilkan endapan merah
bata yang berasal dari besi (III) asetat. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

[Fe3(OH)2(CH3COO)6]+ + 2H2O → 3Fe(OH)2CH3COO ↓ + 3CH3COOH +


H+

j. Identifikasi ion Karbonat (CO32-) dengan Menggunakan Larutan Uji


Na2CO3
Pada tahap praktikum identifikasi ion karbonat (CO 32-) digunakan larutan uji
Na2CO3 serta larutan pereaksi yaitu H2SO4 encer. Adapun identifikasi ini dilakukan
dengan menambahkan beberapa tetes larutan asam sulfat encer ke dalam larutan uji
Na2CO3 yang tidak berwarna. Setelah penambahan tersebut larutan tetap tidak
berwarna dan terbentuk gelembung gas. Secara teori, melalui penambahan pereaksi
tersebut akan dihasilkan gas CO2 yang tidak berwarna dan berbau. Utuk gas yang
dihasilkan pada percobaan ini tidak diuji lebih lanjut, namun dari ciri-ciri gas yang
terbentuk mengindikasikan bahwa gas tersebut adalah gas CO 2. Adapun reaksi yang
terjadi adalah sebagi berikut.
Na2CO3(aq) + H2SO4(aq) → NaSO4(aq) + H2CO3(aq)
H2CO3(aq) → H2O(l) + CO2(g)

k. Sampel 3 unknown
Pada tahap identifikasi ini sampel 3 bening tak berwarna diuji menggunakan
berbagai larutan yaitu AgNO3, H2SO4, Pb(CH3COO)2, CuSO4, FeCl3, KMnO4, dan
HCl. Berdasrkan hasil pengamatan dan secara teori yang menunjukkan hasil positif
yaitu uji menggunakan larutan AgNO3, karena pada saat larutan uji ditambahkan
larutan AgNO3 menghasilkan endapan berwarna kuning. Hal tersebut terjadi
disebabkan karena terbentuknya endapan AgBr berwarna kuning. Sehingga dapat
dikatakan bahwa dalam larutan uji terdapat kandungan ion Br - (bromida). Berikut ini
persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Ag+(aq) + Br-(aq)  AgBr(s)
l. Sampel 8 unknown
Pada tahap identifikasi ini sampel 3 bening tak berwarna diuji menggunakan
berbagai larutan yaitu AgNO3, H2SO4, Pb(CH3COO)2, CuSO4, FeCl3, KMnO4, dan
HCl. Berdasrkan hasil pengamatan dan secara teori yang menunjukkan hasil positif
yaitu uji menggunakan larutan AgNO3, karena pada saat larutan uji ditambahkan
larutan AgNO3 menghasilkan larutan cokelat dan endapan kehitaman. Hal tersebut
disebabkan karena terbentuknya endapan Ag2S berwarna hitam. Sehingga dapat
dikatakan bahwa dalam larutan uji terdapat kandungan ion S2- (sulfida). Berikut ini
persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Ag+(aq) + S2(aq)-  Ag2S(s)
VIII. SIMPULAN
Berdasrkan hasil pengamatan dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan
untuk sampel unknown 3 mengandung ion bromida (Br -) yang terbukti dari
terbentuknya endapan berwarna kuning ketika direaksikan dengan AgNO3.
Sedangkan sampel unknow 8 mengandung ion sulfide (S2-) yang terbukti dari
terbentuknya endapan berwarna hitam ketika direaksikan dengan AgNO3.

IX. JAWABAN PERTANYAAN


1. Dalam beberapa reaksi (misalnya pada identifikasi ion sulfat, pada penambahkan
larutan Pb(NO3)2 ke dalam larutan uji lalu menambahkan larutan H2SO4 pekat
panas ke dalam endapan PbSO4), endapan yang terbentuk dapat larut kembali.
Jelaskan fenomena ini, mengapa demikian?
Jawaban:
Pada prosedur 4.14.b, endapan putih dari timbal sulfat dapat larut kembali dalam
asam sulfat pekat panas dan dalam amonium asetat. Hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut.
a. Endapan timbal asetat dapat larut dalam asam sulfat pekat panas karena
terbentuknya timbal hidrogen sulfat. Adapun reaksinya adalah:
PbSO4 ↓ + H2SO4 → Pb2+ + 2HSO4-
b. Endapan timbal sulfat larut dalam larutan amonium asetat yang agak pekat
karena terbentuknya ion-ion tetraasetatoplumbat (II) dan ditartratoplumbat
(II). Adapun reaksinya adalah:
PbSO4 ↓ + 4CH3COO- → [Pb(CH3COO)4]2- + SO42-
Ion tetraasetatoplumbat (II)

PbSO4 ↓ + 2C2H4O62- → [Pb(C4H4O6)2]2- + SO42-


Ion ditartratoplumbat (II)
2. Tuliskan beberapa reaksi yang terjadi dalam prosedur di atas!
Jawaban:
Secara teoritis reaksi-reaksi yang terjadi pada prosedur identifikasi anion diatas
adalah sebagai berikut.
a. Identifikasi ion klorida (Cl-)
Penambahan ion klorida ke dalam anion dari larutan AgNO3
Cl-(aq) + Ag+(aq)→ AgCl(s) ↓
Identifikasi endapan AgCl dengan larutan HNO3 dan NH3
AgCl(s) ↓ + 2NH3(aq) → [Ag(NH)2]+(aq) + Cl-(aq)
[Ag(NH)2]+(aq) + Cl-(aq) + H+(aq) → AgCl(s) ↓ + NH4+(aq)
AgCl(s) ↓ + HNO3 → tidak ada reaksi
b. Identifikasi ion bromida (Br-)
Penambahan larutan kalium bromida dengan menambahkan larutan H2SO4
KBr(aq) + H2SO4(aq) → HBr(g) ↑ + HSO4-(aq) + K+(aq)
2KBr(aq) + 2H2SO4(aq) → Br2(g) ↑ + SO2(g) ↑ + SO42-(aq) + 2Na(aq) + 2H2O(l)
Penambahan ion bromida dengan anion dari larutan AgNO3
Br -(aq) + Ag+(aq) →AgBr(s)↓
Identifikasi endapan AgBr dengan larutan KCN dan NH3
AgBr(s)↓ + 2CN-(aq) →[Ag(CN)2]-(aq) + Br –(aq)
AgBr(s)↓ + 2NH3(aq) →[Ag(NH3)2]+(aq) + Br –(aq)
c. Identifikasi ion iodida (I-)
Penambahan larutan KI dengan menambahkan larutan H2SO4
2I-(aq) + 2H2SO4(aq) → I2 ↑ + SO42-(aq) + 2H2O(l)
I-(aq) + H2SO4(aq) → HI(g)↑ + HSO4-(aq)
6I-(aq) + 4H2SO4(aq) → 3I2(g)↑ + S(s) ↓ + 2H2O(l) + 3SO42-(aq)
8I-(aq) + 5H2SO4(aq) → 4I2(g)↑ + 4SO42-(aq) + 4H2O(l) + H2S(g)↑
Penambahan ion iodida dengan anion dari larutan AgNO3
I(aq)- + Ag+(aq) →AgI(s)
Identifikasi endapan AgI dengan larutan KCN dan NH3
AgI(s) ↓ + 2CN-(aq) →Ag(CN)2-(aq) + I-(aq)
AgI(s) ↓ + 2NH3(aq) → Ag(NH3)2+ (aq) + I-(aq)
d. Identifikasi Ion Ferrosianida ([Fe(CN)6]4-)
Penambahan larutan asam sulfat ke dalam anion dari larutan K4[Fe(CN)6]
K4[Fe(CN)6]4(aq) + 6H2SO4(aq) + 6H2O(l) → Fe2+(aq) + 6NH4+(aq) + 6CO(g) ↑ +
2H2O(l)
Penambaan larutan garam timbal pekat ke dalam anion dari larutan
K4[Fe(CN)6]
Pb2+(aq) + [Fe(CN)6]4-(aq) → Pb2[Fe(CN)6](s) ↓
e. Identifikasi Ion Ferrisianida ([Fe(CN)6]3-)
Penambahan larutan AgNO3 ke dalam anion dari larutan K3[Fe(CN)6]
Fe(CN)63-(aq) + 3Ag+(aq) → Ag3[Fe(CN)6] (g) ↓

penambahan larutan CuSO4 yang berwarna biru ke dalam larutan


K3Fe(CN)6
Fe(CN)63-(aq) + 3Cu2+(aq) → Cu3[Fe(CN)6]2(s) ↓

f. Identifikasi Ion Tiosianat (SCN-)


Penambahan larutan AgNO3 ke dalam anion dari larutan KSCN
SCN-(aq) + Ag+(aq) → AgSCN(s) ↓
Identifikais endapan AgSCN dengan larutan NH3 dan HNO3 encer
AgSCN (s) + 2 NH3(aq) → [Ag(NH)2]+(aq) + SCN-(aq)

AgSCN(s) + HNO3(aq) → tidak ada reaksi

Penambahan FeCl3 ke dalam anion dari larutan KSCN


SCN-(aq) + Fe3+ (aq)  Fe(SCN)3(s) ↓

Identifikais endapan Fe(SCN)3 dengan anion dari larutan Na2C2O4


Fe(SCN)3(s) + 3 C2O42-(aq) → [Fe(C2O4)3]3-(aq) + 3 SCN-(aq)

g. Identifikasi Ion Nitrit (NO2-)


Penambahan AgNO3 ke dalam anion dari larutan NaNO2
- +
NO2 (aq) + Ag (aq) → AgNO2(s) ↓
Identifikais endapan AgNO2 dengan anion dari larutan KMnO4 dalam
suasana asam dan larutan FeSO4 25% yang berwarna kuning dan H2SO4
encer
5NO2-(aq) + 2MnO4-(aq) + 6H+(aq) → 5NO3-(aq) + 2Mn2+(aq) + 3H2O(l)
2 NO2-(aq) + H2SO4(aq) → 2 HNO2(g) ↑ + SO42-(aq)
HNO2 merupakan senyawa hipotetik
3HNO2(g) ↑ → H2O(l) + NO2(g) ↑ + NO(g) ↑
Gas NO yang terbentuk bereaksi dengan besi (II) sulfat menghasilkan
Fe2+(aq) + SO42-(aq) + NO(g) → [Fe.NO]SO4

h. Identifikasi Ion Sulfida (S2-)


Penambahan larutan AgNO3 ke dalam ke dalam anion dari larutan Na2S
S2-(aq) + Ag+(aq) → Ag2S(s)↓
Identifikasi endapan Ag2S dengan penambahan HNO3 encer panas dan
HNO3 encer dingin
Ag2S(s)↓ + HNO3(aq )(panas) → AgNO3(aq) + H2S(g)
Ag2S(s)↓ + HNO3(aq )(dingin) → tidak ada reaksi
i. Identifikasi Ion Asetat (CH3COO-)
Penambahan larutan FeCl3 ke dalam anion dari larutan CH3COONa
6CH3COO-(aq) + 3Fe3+(aq) + 2H2O(l)→ [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+(aq) + 2H+(aq)
Identifikasi larutan dengan pemanasan
[Fe3(OH)2(CH3COO)6]+(aq) + 2H2O(l) → 3Fe(OH)2CH3COO(s) ↓ + 3CH3COOH(aq) + H+(aq)

Penambahan larutan AgNO3 ke dalam anion dari larutan CH3COONa


- +
CH3COO (aq) + Ag (aq)  CH3COOAg(s) ↓
Identifikasi endapan CH3COOAg dengan penambahan HNO3 encer
CH3COOAg(s) ↓ + HNO3(aq) → AgNO3(aq) + CH3COOH(aq)

j. Identifikasi Ion Karbonat (CO3-)

Penambahan asam sulfat encer ke dalam larutan uji NaCO3


Na2CO3(aq) + H2SO4(aq) → NaSO4(aq) + H2CO3(aq)
Larutan H2CO3 yang terbentuk ini dapat mengalami reaksi lebih lanjut
H2CO3(aq) → H2O(l) + CO2(g) ↑
Identifiksai gas CO2 dengan Ca(OH)2
CO2(g) + Ca(OH)2(aq) → CaCO3(s)(putih) ↓ + H2O(l)

Penambahan larutan barium klorida ke dalam anion dari larutan uji Na2CO3
2+
Ba (aq) + CO32-(aq) → BaCO3(s) ↓

Identifikasi endapan BaCO3 dengan asam mineral encer dan asam karbonat
BaCO3(s) + 2H+(aq) → Ba2+(aq) + CO2(g) ↑ + H2O(l)
BaCO3(s) + CO2(g) ↑ + H2O (l) → Ba2+(aq) + 2HCO3-(aq)
k. Identifikasi Ion Oksalat (C2O42-)
Penambahan larutan AgNO3 ke dalam anion dari larutan uji Na2C2O4
C2O42-(aq) + 2Ag+(aq) → Ag2C2O4(s) ↓
Identifikasi endapan Ag2C2O4 dengan larutan amonia dan asam nitrat encer
Ag2C2O4(s) + 4NH3(aq) → 2[Ag(NH3)2]+(aq) + C2O42-(aq)
Ag2C2O4(s) + 2H+(aq) → 2Ag+(aq) + C2O42-(aq) + 2H+(aq)
Penambahan larutan barium klorida ke dalam anion dari larutan uji
Na2C2O4
C2O42-(aq) + Ba2+(aq) → Ba2C2O4(s) ↓
Identifikasi endapan Ba2C2O4 denan larutan asam nitrat encer dan asam
klorida encer
Mereaksikan larutan kalium permanganat (KMnO4) dengan larutan natrium
oksalat
C2O42-(aq) + 2MnO4-(aq) + 16H+ (aq) → 10 CO2(aq) ↑ + 2Mn2+(aq) + 8H2O(l)
l. Identifikasi Ion Pospat (PO43-)
Penambahan larutan BaCl2 ke dalam anion dari larutan uji K2HPO4
K2HPO4(aq) → 2K+(aq) + HPO42-(aq)
HPO2-(aq)  H+(aq) + PO43-(aq)
PO43-(aq) + Ba2+(aq) → Ba3(PO4)2(s)↓
Penambahan larutan FeCl3 ke dalam anion dari larutan uji K2HPO4
HPO42-(aq) + Fe3+(aq) → FePO4(s) ↓ + H+(aq)
m. Identifiasi Ion Tiosulfat (S2O32-)
Penambahan larutan asam sulfat encer ke dalam anion dari larutan uji
Na2S2O3
S2O32-(aq) + 2H+ (aq) → S(s)↓ + SO2(g) ↑ + H2O(l)
Penambahan larutan perak nitrat ke dalam anion dari larutan uji Na2S2O3
S2O32-(aq) + 2Ag+(aq) → Ag2S2O3(s) ↓
S2O32-(aq) + 2Ag+(aq) → [Ag(S2O3)2]3-(aq) ↓
Ag2S2O3(s) ↓ + H2O(l) → Ag2S(s) ↓ + 2H+(aq) + SO42-(aq)
n. Identifikasi Ion Sulfat (SO42-)

Penambahan larutan barium klorida ke dalam anion dari larutan uji Na2SO4
SO42-(aq) + Ba2+(aq) → BaSO4(s) ↓
Penambahan larutan Pb(NO3)2 ke dalam anion dari larutan uji Na2SO4
SO42-(aq) + Pb2+(aq) → PbSO4(s) ↓
o. Identifikasi Ion Nitrat (NO3-)
Penambahan larutan asam sulfat pekat ke dalam anion dari larutan uji
KNO3
4NO3(aq)- + 2H2SO4(aq) → 4NO2(g) ↑ + O2(g) ↑ + 2SO42-(aq) + H2O(l)
Mereaksi Al kedalam anion dari larutan uji KNO3
3NO3-(aq) + 8Al(s) + 5OH-(aq) + 18H2O(l)  3NH3(g) ↑ + 8[Al(OH)4]-(aq)
3. Jika dalam prosedur kerja di atas dihasilkan gas yang tidak berwarna, apa langkah
yang ditempuh untuk lebih meyakinkan identifikasi yang dilakukan?
Jawaban:
Jika dalam prosedur dihasilkan gas yang tidak berwarna maka langkah yang dapat
dilakukan untuk mengidentifikasinya adalah dengan menangkap gas yang
dihasilkan dengan indikator-indikator yang sesuai. Beberapa contoh indikator yang
dapat digunakan unutk identifikasi gas yang tidak berwarna adalah:
a. Batang kaca yang dibasahi dengan amonia untuk menguji gas tidak
berwarna (HCl) dari klorida
b. Dialirkan ke dalam air kapur untuk menguji gas tidak berwarna (CO dan
CO2) yang dihasilkan dari oksalat, karbonat atau bikarbonat.
c. Ditangkap dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan K 2Cr2O7 untuk
menguji gas tidak berwarna (SO2) dari sulfit.

DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Sodig, dkk. 2004. Common Text Book Kimia Analitik I. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Sastrawidana, I Dewa Ketut., I Nyoman Selamat., dan I Gusti Lanang Wiratma. 2001.
Buku Penuntun Belajar Kimia Analitik Kualitatif. Singaraja: Jurusan Pendidikan
Kimia Fakultas Pendidikan MIPA IKIP Negeri Singaraja
Selamat, I Nyoman, dan I Gusti Lanang Wiratma. 2004. Penuntun Praktikum Kimia
Analitik. Singaraja: Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan MIPA IKIP
Negeri Singaraja
Svehla, E. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi
Kelima. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai