Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap tahun diperkirakan 529.000 wanita di dunia meninggal sebagai


akibat komplikasi yang timbul dari kehamilan dan persalinan, sehingga
diperkirakan terdapat angka kematian maternal sebesar 400 per 100.000 kelahiran
hidup (WHO, 2000). World Health Organization (WHO) memperkirakan
sejumlah 150.000 wanita meninggal dunia setiap tahunnya karena perdarahan
postpartum.
Salah satu penyebab utama kematian ibu baik di dunia maupun Negara
berkembang adalah perdarahan postpartum (Homer et al., 2009). Hal ini dilihat
dari kasus perdarahan yang paling banyak ditemukkan yaitu perdarahan
postpartum sebesar 18,4%. Risiko kematian ibu semakin besar dengan adanya
anemia, kekurangan energi kronik (KEK), dan penyakit menular seperti malaria,
tuberkulosis (TB), hepatitis, serta HIV/AIDS. Pada tahun 1995, misalnya,
prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 51% dan ibu nifas 45%. Sementara
pada tahun 2002 terdapat 17,6% wanita usia subur yang menderita KEK.
Lombaard and Pattinson (2009), menyatakan bahwa perdarahan
postpartum merupakan faktor utama penyebab kematian dan kesakitan ibu di
seluruh dunia. Pada umumnya seorang ibu melahirkan akan mengeluarkan darah
secara fisiologis sampai jumlah 500 ml tanpa menyebabkan gangguan
homeostatis. WHO mendefinisikan perdarahan postpartum sebagai perdarahan
yang melebihi 500 ml dalam 24 jam setelah bayi lahir. Namun secara praktis hal
ini tidak dapat digunakan sebagai estándar penilaian karena sering pasien datang
dalam kondisi secara klinik presyok atau syok. Perdarahan dapat terjadi segera
setelah bayi lahir, selama pelepasan dan setelah plasenta lahir. Berdasarkan waktu
terjadinya perdarahan postpartum dapat dibedakan menjadi 2, yaitu perdarahan
postpartum primer (terjadi dalam 24 jam setelah bayi lahir) dan perdarahan
postpartum sekunder (terjadi setelah 24 jam setelah bayi lahir) (Saifudin et al.,
2007).
Di Indonesia, Sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit,
sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian mengalami perdarahan
postpartum dan terlambat sampai ke rumah sakit, saat datang keadaan
umum/hemodinamiknya sudah memburuk, akibatnya mortalitas tinggi.

1.2 Rumusan Masalah

Kematian ibu masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia.


Perdarahan postpartum merupakan penyebab utama kematian ibu. Penanganan
yang tepat dapat mengurangi terjadinya komplikasi akibat perdarahan postpartum
sehingga dapat mengurangi angka kematian ibu.

1
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan


response time dengan keberhasilan penanganan kasus perdarahan
postpartum.

1.3.2 Tujuan khusus


a. Mengetahui hubungan kadar Hb ibu terhadap keberhasilan penanganan
kasus perdarahan postpartum.
b. Mengetahui hubungan tempat melahirkan dan penolong pertama
terhadap keberhasilan penanganan kasus perdarahan postpartum.
c. Mengetahui hubungan waktu rujukan terhadap keberhasilan
penanganan kasus perdarahan postpartum.
d. Mengetahui hubungan kondisi penyerta terhadap keberhasilan
penanganan kasus perdarahan postpartum.
e. Mengetahui hubungan response time terhadap keberhasilan
penanganan kasus perdarahan postpartum.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Manfaat Teoritis

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran


dan informasi dalam bidang perawatan maternitas tentang asuhan
keperawatan pada pasien post partum spontan disertai retensio plasenta.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi struktur rumah sakit


Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperlukan dalam pelaksanaan
praktek pelayanan keperawatan khususnya pada pasien post partum
spontan disertai retensio plasenta.
b. Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan masukan dalam kegiatan proses belajar mengajar tentang
asuhan keperawatan post partum spontan disertai retensio plasenta yang
dapat digunakan acuan bagi praktek mahasiswa keperawatan.
c. Bagi Penulis
Sebagai sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman
khususnya di bidang maternitas pada pasien post partum spontan disertai
retensio plasenta.

2
BAB 2

TINAJUAN TEORITIS

2.1 Pengertian

2.1.1 Post Partum

Post partum adalah masa dimulai setelah partum selesai kira-kira 6 minggu
setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandung kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Dimana tubuh menyesuaikan baik fisik maupun
psikososial terhadap proses melahirkan. Perdarahan pasca persalinan adalah
kehilangan darah melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir, perdarahan
primer terjadi dalam 24 jam pertama, sedangkan perdarahan sekunder terjadi
setelah itu. Hemoragi pasca partum adalah kehilangan darah melebihi dari 500 ml
selama dan atau setelah kelahiran dapat terjadi dalam 24 jam pertama setelah
kelahiran, atau lambat sampai 28 hari pasca partum (akhir dari puerperium) .
Menurut Depkes RI (1999) post partum dibagi menjadi tiga periode yaitu :

a. Puerperium dini yaitu keadaan yang terjadi segera setelah persalinan


sampai 24 sesudah persalinan. Kepulihan dimana ibu telah diperbolahkan
berdiri dan berjalan –jalan.

b. Early Puerperium yaitu keadaan yang terjadi pada permulaan puerperium

c. Later Puerperium yaitu waktu satu minggu sesudah melahirkan sampai


enam

2.1.2. Perdarahan

Perdarahan adalah hilangnya volume darah dari pembuluh kapiler baik


mengucur maupun merembes dalam waktu yang cepat.. Hemoragi pasca partum
adalah kehilangan darah melebihi dari 500 ml selama dan atau setelah kelahiran
dapat terjadi dalam 24 jam pertama setelah kelahiran, atau lambat sampai 28 hari
pasca partum (akhir dari puerperium) . Perdarahan post partum adalah perdarahan
lebih 500 – 600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir, menurut waktu
terjadinya dibagi atas 2 bagian :

a. Perdarahan post partum primer (early post partum hemorrhage) yang terjadi
dalam 24 jam setelah anak lahir.

b. Perdarahan post partum sekunder (late post partum hemorrhage) yang


terjadi setelah 2 Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600
ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio
plasenta. Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari
500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir.

3
Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:

1) Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir

2) Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi

lahir. 4 jam biasanya antara hari ke 5 sampai 15

2.1.3. Perdarahan Post Partum

Perdarahan Post Partum adalah perdarahan dalam kala IV yang lebih dari
500 CC dalam 24 jam setelah bayi dan plasenta lahir. Nifas adalah masa pulihnya
kembali alat kandungan , dimulai dari persalinan selesai sampai alat-alat
kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas ini enam (6) minggu
.Nifas dimulai setelah partus selesai dan berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi
seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum kehamilan dalam waktu
3(tiga) bulan. Nifas atau pierinium,berasal dari kata puer yang artinya bayi dan
paraus berarti melahirkan. Jadi puerperium adalah masa setelah melahirkan bayi
yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali. Nifas dimulai
setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadan sebelum hamil,yang berlangsung kira kira 6 minggu.

2.2 Etiologi

Penyebab perdarahan post portum menurut Rustam 2000 antara lain


antonia uteri. Faktor presdisposisi terjadinya antonia uteri adalah:

1) Persalinan yang terlalu cepat (partus precipitatus).

Kontrak uterus yang terlalu kuat dan terus menerus selama kala I dan kala
II persalinan (kontraksi yang hiperernik), maka otot-otot uterus
akankekurangan kemampuannya untuk beretraksi setelah bayi lahir.

2) Umur telalu muda atau terlalu tua (kurang dari 20 tahun atau lebi dari
35 tahun)

3) Perietas sering terjadi atau dijumpai pada grande multipara dan


multipara

4) Partus lama. Dapat menyebabkan terjadinya inersia uteri karena


kelelahan pada otot otot uterus.

5) Uterus terlalu tegang dan besar misalnya pada (gemeli, hidramnion,


atau janin besar. Pada kondisi ini miometrium teregang dengan hebat
sehingga kontraksinya setelah kelahiran bayi menjadi tidak efisien.

4
6) Riwayat perdarahan post partum atau retensio plasenta pada persalinan
terdahulu. pada kondisi ini akan timbul resiko terjadinya hal yang sama
pada persalinan yang sekarang.

7) Stimulasi dengan oksitoksin atau protaklandin. Dapat menyebabkan


terjadinya inersia sekunder karena kelelahan pada otot-otot uterus.

8) Perut bekas seksio sesaria , miomektomi atau histerorafia. Keadaan


tersebut akan mengganggu kontraksi rahim

9) Anemia.

10)Wanita yang mengalami anemia dalam persalinan dengan kadar


hemoglobin 10g/dl,akan dengan cepat terganggu kondisinya bila terjadi
kehilangan darah meskipun hanya sedikit. Anemia dihubungkan dengan
kelemahan yang dapat dianggap sebagai penyebab langsung atonia uteri.

11)Sisa ketuban dan selaput ketuban

12)Jalan lahir seperti robekan perineum, robekan vagina, robekan serviks,


forniks dan rahim

13)Penyakit darah, kelainan pembekuan darah atau hipofibrinogenia dan


sering dijumpai pada :

a. Sclusio plasenta

b. Kematian janin yang lama dalam kandungan

c. Pre eklamasi dan eklamasi

d. Infeksi, hepatitis, dan septik syok.

2.3 Patofisiologi

Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk


meningkatkansirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan
kontraksi uterus menurun sehingga sehingga pembuluh darah pembuluh darah
yang melebar tadi tidak menutup sempura sehinga pedarahan terjadi terus
menerus. Trauma jalan terakhir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum,
dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh
darah, penyakit darah pada ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia
karena tidak ada kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga
merupakan penyabab dari perdarahan dari postpartum. Perdarahan yang sulit
dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock hemoragik.

5
2.4 Manifestasi Klinis

Gejala klinis yang mungkin terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah
banyak (500 ml), nadi lemah, haus, pucat, lochea warna merah, gelisah, letih,
tekanan darah rendah ekstremitas dingin, dapat pula terjadi syok hemorogik

1. Menurut Mochtar (2001) gejala klinik berdasarkan penyebab ada limayaitu :

a) Antonia Uteri

Uterus berkontraksi lembek , terjadi perdarahan segera setelah lahir

b) Robekan jalan lahir

Terjadi perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah bayi lahir,
konterksi uterus baik, plasenta baik. Gejala yang kadang-kadang timbul
pucat, lemah, menggigil.

c) Retensio plasenta

Plasenta belum lahir selama 30 menit, perdarahan segera, kontraksi uterus


baik.

d) Tertinggalnya sisa plasenta selaput yang mengandung pembuluh darah ada


yang tertinggal,perdarahan segera. Gejala yang kadang-kadang timbul uterus
berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.

e) Inversio uterus

Uterus tidak teraba, lumen vagina berisi massa, perdarahan segera, nyeri
berat.

2. Tanda dan Gejala

Terjadi perdarahan rembes atau mengucur, saat kontraksi uterus keras, darah
berwarna merah muda, bila perdarahan hebat timbul syok, pada pemeriksaan
inspekulo terdapat ronekan pada vagina, serviks atau varises pecah dan sisa
plasenta tertinggal.

6
2.5 Penatalaksanaan

Pada perdarahan akibat robekan jalan lahir penanganannya adalah :

1. Lakukan eksplorasi untul mengidentifikasilokasi laserasi dan sumber


perdarahan

2. Lakukan irigasi pada tempat luka dan berikan laruta antiseptik.

3. Jepit dengan klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang
dapat diserap.

4. Lakukan penjahitan

a. Pada ruptura perineal tingkat I (robekan pada mkosa vagina dankulit),


robekan dijahit dengan benang catgut dan memekai jarum bundar.

b. Pada roptura perineal tingkat II (ruptura perinei sub totalis) ikutrobek


pula dasar panggul seperti : luka jahit dua lapis dengan benang catguthalus
secara simpul atau jelujur dengan jarum bundar, kulit dijahit dengan
benang sutera dan memakai jarum yang tajam

c. Pada ruptur perineal tingkat III (ruptur perinei totalis) yang robekselain
spingter ani externa. Sebelum memulai menjahit harus ditemukan dulu
kedua pangkal m.stingter ani externa yang terpoting.Otot ini dijahit
dengan benang cromiksecara simpul, penjahitan harus dilakukan secara
cermat agar otot tersebut tersambung dengan baik.

Kemudian dijahit seperti menjahit ruptura perinei II. Bila mucosa rectum
ikut robek maka harus dijahit terlebih dahulu dengan benang catgut halus secara
simpul. Bila ada plasenta dilakukan sebagai berikut.

1) Memeriksa kelenhkapan plasenta setelah dilahirkan

2) Berikan antibiotika karena kemungkinan ada endometriosis

3) Lakukan eksplorasi digital atau bila servik terbuka dan mengeluarkan


bekuan darah atau jaringan

4) Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen, lakukan evakuasi sisa
plasenta dengan dilatasi dan kuret

5) Bila Hb 8 gr % berikan transfusi atau berikan sulfat ferosus

600 mg per hari selama 10 hari

7
2.6 Komplikasi

Komplikasi perdarahan post partum primer yang paling berat yaitu syok.
Bila terjadi syok yang berat dan pasien selamat, dapat terjadi komplikasi lanjutan
yaitu anemia dan infeksi dalam masa nifas. Infeksi dalam keadaan anemia bisa
berlangsung berat sampai sepsis. Pada perdarahan yang disertai oleh pembekuan
intravaskuler merata dapat terjadi kegagalan fungsi organ organ seperti gagal
ginjal mendadak.

2.7. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian fokus

Pengkajian fokus pada perdarahan post portum meurut Dongoes dan Marylin E,
(2001) sebagai berikut :

a. Alasan dan keluhan pertama masuk Rumah Sakit

Apa yang dirasakan saat itu ditujukan untuj mengenali tanda atau gajala yng
berkaitan dengan perdarahan post portum misalnya antonio uteri, retensio plasenta
robekan jalan lahir, vagina, perineum, adanya sisa selaput plsenta dan biasanya
ibu Nampak perdarahan banyak > 500 CC

b. Riwayat kesehatan sekarang

Dikaji untuk mengetahui apakah seorang ibu menderita penyakit yang bisa
menyebabkan perdarahan post portum seperti aspek fisiologis dan psikososialnya.

c. Riwayat kesehatan dahulu

Dikaji untuk mengrtahui apakah seorang ibu perah menderita penyakit yang lain
yang menyertai dan bisa memperburuk keadaan

tau mempersulit penyambuhan. Seperti penyakit diabetus melitus

dan jantung

d. Riwayat kesehatan keluarga

Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada yang
mempunyai

8
2. Diagnosa keperawatan

Rumusan diagnosa keperawatan menurut North American Nursing Dianosa


Association (2005) adalah sebagai berikut :

a. Defisit volume cairan b. d kehilangan aktif volume cairan

b. Nyeri akut b. d agen injuri fisik

c. Resiko onfeksi b. d prosedur invasif

d. Defisit perawatan diri b. d kelemahan fisik

e. Cemas atau ketakutan b. d krisis siuasional

3. Fokus intervensi dan rasional

Rencana keperawatan McCloskey, J.C, Buluechek, G.M (2000)Nursing


intervention Classification (NIC).

a.Defisit volume cairan b/d kehilangan aktif voluma cairan

Tujuan : Tidak terjadi perdarahan

Kriteria hasil :

1). Perdarahan berhenti

2). Hb diatas normal

3). Tanda vital diatas normal

Rencana tindakan keperawatan

1). Monitor jumlah pendarahan pasien

Rasional : kehilangan darah akibat perdarahan bisa berakibat syok.

2). Monitor hasil laboratorium pasien

Rasional : Anemi akibat kehilangan darah dapat terjadi. Terapi

pengantian darah mungkin diperlukan.

3). Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedang badanya

tetap terlentang.

Rasional : dengan kaki lebih tinggi akan meningkatan aliran darah

ke otak dan organ lain.

9
4). Monitor tanda vital

Rasional : perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin

berat

5). Monitor intake dan output setiap 1 jam

Rasional : Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan sirkulasi darah.

6). Lakukan message uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakkan
diatas simpisis.

Rasional : Message uterus merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan


plasenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri.

7). Batasi pemeriksaan vagina dan rektum

Rasional : Trauma yang terjadi di daerah vagina dan rectum meningkatkan

terjadinya perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks /
perineum

8). Berikan infus atau cairan intravana

Rasional : cairan intravana dapat meningkatkan volume intravasculer

9). Kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian anti perdarahan

Rasional : Anti perdarahan mencegah perdarahan yang lebih hebat dan


mengetahui intervensi selanjutnya

10). Berikan tranfusi whole blood (bila perlu)

Rasional : whole blood membentu menormalkan volume cairan tubuh akibat


perdarahan

b. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (luka jahitan perineum)

Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria hasil :

1). Skala nyeri berkurang atau hilang

2). Pasien tampak tenang

3.Rencana tindakan keperawatan

1) Kaji nyeri setiap 6 jam, baik skala, intensitas, lokasi, frekuensi.

10
Rasional : Untuk mengetahui derajat dan tingkat nyeri yang dialami dan untuk
dapat melakukan intervensi selanjutnya

2) Ajarkan teknik relaksasi.

Rasional : untuk mengalihkan perhatian pasien dari nyerinya.

3) Kaji tanda vital

Rasional : Mengetaui perubahan tanda vital dan untuk dapat melakukan intervensi
selanjutya

4) Pemberian dengan tim medis dengan pemberian analgetik

Rasional : mengurangi rasa nyeri

C. Resiko infeksi sehubungan dengan prosedur invasif

Tujuan : tidak terjadi infeksi

Kriteria hasil :

1) Lochea tidak berbau dan

2) Tanda vital dalam batas vital

Rencana tindakan keperawatan

1) Catat perubahan tanda vital

Rasional : Perubahan tanda vital (suhu) merupakan indikasi

terjadinya infeksi.

2) Obsevasi luka dan jahitan perineum tiap ganti balut.

Rasional : mengetahui seberapa besar resiko untuk infeksi dan menentuakan


intervensi selanjutnya.

3) Monitor involusi uterus dan pengeluaran lochea

Rasional : infeksi uterus menghambat involusi dan terjadi pengeluaran lochea


yang berkepanjangan

4) Perhatikan kemungkinan infeksi ditempat lain, misalnya infeksi di saluran


nafas, mastitis dan saluran kencing.

Rasional : Infeksi ditempat lain memperburuk keadaan

5) Berikan perawatan perineal, dan pertahankan agar pembalut

11
Jangan sampai terlalu basah

Rasional : pembalut yang terlalu basah bisa menyebabkan iritasi dan dapat
menjadi media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi

6) Kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian zat besi dan antibuotika.

Rasional : Anemi memperberat keadaan dan antibiotika yang tepat diperlukan


untuk keadaan infeksi

d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan : Kebutuhan akan aktifitas fisik pasie terpenuhi

Kriteria hasil :

1) Pasien dapat melakukan aktivitas dengan bantuan

2) Pasien menyatakan kenyamanan terhadap kemempuan melakukan aktivitas

3) Klien terbebasdari bau badan

4. Rencana tindakan keperawatan

1) Monitor kemampuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.

Rasional : Kemampuan pasien dalam perawatan diri fdan meningkatakan rasa


percaya diri

2) Mitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian
berhias, toileting dan makan.

Rasional : Membantu meningkakan kemampuan aktivitas pasien

3) Sediakan bantuan sampai klien mampu scara utuh untuk melakukan selfcare

Rasional : Meningkatakan kemampuan melakukan perawatan diri mandiri yang


optimal sesuai kemampuan.

4) Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya. Rasional : Kemampuan individu untuk meningkatkan rasa
percayadiri

5) Ajarkan klien atau keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan


bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.

Rasional : Memberikan dukungan kepada keluarga dan pasien dalam perawatan


diri yang mandiri

12
5. Cemas berhubungan dengan krisis situasional

Tujuan : Cemas hilang atau brkurang

Kriteria hasil :

1) Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya

2) Pasien mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang

Rencana tindakan keperawatan

1) Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan

Rasional : Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya

2) Kaji respon fisiologis klien (takikardia, takipnea, gemetar)

Rasional : Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan padarespon fisiologis

3) Perlakukan pasien secara empati serta sikap mendukung

Rasional : Memberikan dukungan emosi

4) Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan

Rasional : Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak
diketahui

5) Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya

Rasional : Ungkapan perasaan dapat mengurangi rasa cemas

6) Kaji mekanisme koping yang digunakan klien

Rasional : cemas yang berkepanjangan dapat dicagah dengan mekanisme koping


yang tepat

13
BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Perdarahan post partum adalah pendarahan yang terjadi sampai 24 jam


setelah kelahiran dan biasanya melibatkan kehilangan banyak darah melalui
saluran genital. Perdarahan postpartum dibagi menjadi dua yaitu perdarahan
postpartum primer, yang terjadi dalam 24 jam setelah bayi lahir dan perdarahan
postpartum sekunder yang terjadi lebih dari 24 jam sampai dengan 6 minggu
setelah kelahiran bayi.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan perdarahan post partum, antara


lain 4T (tone dimished, trauma, tissue, thrombin). Faktor resiko yang dapat
menyebabkan perdarahan post partum antara lain grande multipara, perpanjangan
persalinan, chorioamnionitis, hipertensi , kehamilan multiple, injeksi magnesium
sulfat, perpanjangan pemberian oxytocin.

Tanda dan gelaja perdarahan postpartum secara umum antara lain


perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat ibu dapat
jatuh kedalam keadaan syok. Pasien mengeluh lemah,limbung, berkeringat dingin,
menggigil. Pada perdarahan melebihi 20% volume total, timbul gejala penurunan
tekanan darah (sistolik <90 mmHg) nadi (>100x/menit) dan napas cepat, pucat
(Hb <8%), extremitas dingin, sampai terjadi syok.

Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus perdarahan postpartum adalah


anemia dan kematian akibat perdarahan yang tidak segera ditangani. Diagnosa
yang muncul antara lain kekurangan volume cairan berhubungan dengan
perdarahan pervaginam, gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan
perdarahan pervaginam, nyeri berhubungan dengan terputusnya inkontinuitas
jaringan, ansietas berhubungan dengan perubahan keadaan dan ancaman
kematian, resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan dan prosedur yang
kurang steril dan resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

Perdarahan pasca persalinan adalah suatu kejadian mendadak dan tidak


dapat diramalkan yang merupakan penyebab kematian ibu di seluruh dunia. Sebab
yang paling umum dari pendarahan pasca persalinan dini yang berat (yang terjadi
dalam 24 jam setelah melahirkan) adalah atonia uteri (kegagalan rahim untuk
berkontraksi sebagaimana mestinya setelah melahirkan). Plasenta yang tertinggal,
perlukaan jalan lahir dan inversio uteri, juga merupakan sebab dari pendarahan
pasca persalinan. Pendarahan pasca persalinan lanjut (terjadi lebih dari 24 jam
setelah kelahiran bayi) sering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang
tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.

14
DAFTAR PUSTAKA 

Chandraharan E, Arulkumaran S.(2008) : Surgical aspects of postpartum


haemorrhage. Best Pract Res Clin Obstet Gynecol ;22: 1089–1102

John M. Kirby, John R. Kachura, Dheeraj K. Rajan, Kenneth W. Sniderman,


Martin E. Simons, Rory C. Windrim, John C. Kingdom, (2009) : Arterial
embolization for primary postpartum hemorrhage, Journal of Vascular and
Interventional Radiology, Volume 20, Issue 8, Pages 1036-1045

Mukherjee S, Arulkumaran S, (2009): Post-partum haemorrhage; Obsterics,


Gynaecology and Reproductive medicine, vol 19:5, hal 122-126

15