Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Komponen panca indra pada manusia sangat penting dalam kelangsungan


hidup manusia itu sendiri, termasuk telinga dengan fungsi pendengaran dan
keseimbangan. Pendengaran yang baik merupakan salah satu kebutuhan hidup
yang sangat penting bagi kita. Jika kita mengalami gangguan pendengaran maka
hal itu akan sangat berdampak buruk dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas hidup
adalah hal penting yang sangat dikompromikan bagi orang yang mengalami
gangguan pendengaran dan keluarganya. Gangguan pendengaran dapat dikatakan
memiliki kategori berat, dimana suara yang cukup keras tidak dapat terdengar atau
yang biasanya terjadi orang tersebut sangat sulit mengerti kata-kata yang
diucapkan. Dalam kasus-kasus tersebut beberapa jenis suara atau percakapan sulit
untuk didengar, terutama di lingkungan suara yang bising 1,2 .
Saat ini sudah tersedia teknik penanganan gangguan pendengaran yang baru
dan lebih baik. Penanganan gangguan pendengaran yang efektif telah terbukti
menghasilkan efek positif terhadap kualitas hidup 1 .
Pemasangan alat bantu dengar (ABD) merupakan upaya pertama dalam
habilitasi pendengaran yang akan dikombinasikan dengan terapi wicara atau terapi
audio verbal. Sebelum proses belajar harus dilakukan penilaian tingkat kecerdasan
oleh Psikolog untuk melihat kemampuan belajar anak. Anak usia 2 tahun dapat
memulai pendidikan khusus di Taman Latihan dan Observasi (TLO), dan
melanjutkan pendidikannya di SLB-B atau SLB-C bila disertai dengan retardasi
mental. Proses habilitasi pasien tunarungu membutuhkan kerjasama dari beberapa
disiplin, antara lain dokter spesialis THT, audiologist, ahli madya audiologi, ahli
terapi wicara, psikolog anak, guru khusus untuk tuna rungu dan keluarga
penderita3.

BAB II

1
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA


Anatomi
1. Telinga Luar
Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius
eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang
dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi
kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan
tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada
lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan
perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus 1,2 .

Gambar 1. Pembagian telinga(1)

Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal


mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di
meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis
auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral
mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua
pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius
eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung
kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin
yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit
tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat
antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit 2 .

2. Telinga Tengah

2
Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah
lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara
kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan
menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis
normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan
rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah)
dihubungan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa
sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal 1,2 .

Gambar : Membran Timpani

Gambar : Tulang-tulang Pendengaran, Kanal semisirkularis, dan Potongan


Koklea

3
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus
stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen,
yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding
medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam.
Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga
tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi
oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis,
atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah
mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami
kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe 2 .
Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm,
menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun
dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva
atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan
menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer 1,2 .

3. Telinga Dalam
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk
pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga
kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya
merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis
bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan
lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ
yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh
perubahan kecepatan arah dan gerakan seseorang 1,2 .
Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan
dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran,
dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna

4
mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan
perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak
melalui aquaduktus koklearis 1,2 .
Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis
semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa
memegang cairan yang dina¬makan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang
sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan
telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular
menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-
sang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terja¬di aktivitas elektris yang
berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak 1,3.
Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut
utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak
oleh nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis
(akus-dk), yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis, yang
muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus
koklearis (nervus kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di dalam
kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis
auditorius internus membawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak 1,4 .
Fisiologi fungsional jendela oval dan bulat memegang peran yang penting.
Jendela oval dibatasi olehj anulare fieksibel dari stapes dan membran yang sangat
lentur, memungkinkan gerakan penting,dan berlawanan selama stimulasi bunyi,
getaran stapes menerima impuls dari membrana timpani bulat yang membuka
pada sisi berlawanan duktus koklearis dilindungi dari gelombang bunyi oleh
menbran timpani yang utuh, jadi memungkinkan gerakan cairan telinga dalam
oleh stimulasi gelombang suara. pada membran timpani utuh yang normal, suara
merangsang jendela oval dulu, dan terjadi jedai sebelum efek terminal stimulasi
mencapai jendela bulat. namun waktu jeda akan berubah bila ada perforasi pada
membran timpani yang cukup besar yang memungkinkan gelombang bunyi
merangsang kedua jendela oval dan bulat bersamaan. Ini mengakibatkan
hilangnya jeda dan menghambat gerakan maksimal motilitas cairan telinga dalam

5
dan rangsangan terhadap sel-sel rambut pada organ Corti. Akibatnya terjadi
penurunan kemampuan pendengaran 1,4 .
Gelombang bunyi dihantarkan oleh membrana timpani ke osikuius telinga
tengah yang akan dipindahkan ke koklea, organ pendengaran, yang terletak dalam
labirin di telinga dalam. Osikel yang penting, stapes, yang menggo dan memulai
getaran (gelombang) dalam cairan yang berada dalam telinga dalam. Gelombang
cairan ini, pada gilirannya, mengakibatkan terjadinya gerakan membrana basilaris
yang akan merangsang sel-sel rambut organ Corti, dalam koklea, bergerak seperti
gelombang. Gerakan membrana akan menimbulkan arus listrik yang akan
merangsang berbagai daerah koklea. Sel rambut akan memulai impuls saraf yang
telah dikode dan kemudian dihantarkan ke korteks auditorius dalam otak, dan
kernudian didekode menjadi pesan bunyi 2 .

Gambar : Organ Corti

6
Pendengaran dapat terjadi dalam dua cara. Bunyi yang dihantarkan melalui
telinga luar dan tengah yang terisi udara berjalan melalui konduksi udara. Suara
yang dihantararkan melalui tulang secara langsung ke telinga dalam dengan cara
konduksi tulang. Normalnya, konduksi udara merupakan jalur yang lebih efisien;
namun adanya defek pada membrana timpani atau terputusnya rantai osikulus
akan memutuskan konduksi udara normal dan mengakibatkan hilangnya rasio
tekanan-suara dan kehilangan pendengaran konduktif 1,2 .

Fisiologi
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun
telinga (pinna) dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang
ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga
tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran
melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas
membran timpani dan oval window. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan
diteruskan ke stapes yang menggerakkan oval window sehingga perilimf pada
skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimf, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran
basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang
menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion
terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan
neurotransmitter ke dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada
saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks
pendengaran (area broadmann 39-40) di lobus temporalis 1,2 .

Gangguan Pendengaran
Tuli dibagi atas tuli konduktif, tuli sensorineural serta tuli campur (mixed
deafness). Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara, disebabkan oleh
kelainan atau penyakit di telinga luar atau telinga tengah. Pada tuli sensorineural

7
kelainan terdapat pada koklea karena sedikitnya jumlah hair cell, nervus VIII atau
di pusat pendengaran, sedangkan tuli campur disebabkan oleh kombinasi tuli
konduktif dan tuli saraf. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit, misalnya
tumor nervus VIII (tuli saraf) dengan radang telinga tengah (tuli konduktif) 2 .
Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli konduktif,
sedangkan gangguan telinga dalam menyebabkan tuli sensorineural, yang terbagi
atas tuli koklea dan tuli retrokoklea. Sumbatan tuba eustachius menyebabkan
gangguan telinga tengah dan akan terdapat tuli konduktif. Gangguan pada vena
jugulare berupa aneurisma akan menyebaban telinga berbunyi sesuai dengan
dunyut jantung 1 .
Antara inkus dan maleus berjalan cabang n. fasialisis yang disebut korda
timpani berfungsi untuk menghantarkan impuls dari taste bud menuju ke otak.
Bila terdapat radang di telinga tengah atau trauma mungkin korda timpani terjepit,
sehingga timbul gangguan pengecap. Di dalam telinga dalam terdapat alat
keseimbangan dan alat pendengaran. Obat-obat dapat merusak stria vaskularis,
sehingga saraf pendengaran rusak, dan terjadi tuli saraf. Setelah pemakaian obat
ototoksik seperti streptomisin, akan terdapat gejala gangguan pendengaran berupa
tuli saraf dan gangguan keseimbangan. Jadi jenis ketulian sesuai dengan letak
kelainan. Jenis ketulian yang dapat dibantu dengan alat bantu dengar adalah tipe
sensorineural 1,2 .
Derajat Gangguan Pendengaran / Ketulian Menurut ISO 1
Derajat Pendengaran Kehilangan Pendengaran
Normal 0-25 dB
Ringan 26 – 40 dB
Sedang 41 – 55 dB
Sedang Berat 56 – 70 dB
Berat 71 – 90 dB
Sangat berat >90 dB

II. 2 ALAT BANTU DENGAR (HEARING AID)

8
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan
dengan batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga
komunikasi bisa berjalan dengan lancar 4 .
Alat bantu dengar terdiri dari 6 :
 Microphone, bagian yang berperan menerima suara dari luar dan
mengubah sinyal suara menjadi energi listrik, kemudian
meneruskannya ke amplifier.
 Amplifier, berfungsi memperkeras suara dengan cara memperbesar energi
listrik yang selanjutnya mengirimkannya ke receiver.
 Receiver atau loudspeaker, mengubah energi listrik yang telah diperbesar
amplifier menjadi energi bunyi kembali dan meneruskannya ke liang
telinga
 Batere, sebagai sumber tenaga.

Gambar : Komponen Alat Bantu Dengar

Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa


menentukan apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum
(audiologis adalah seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan
menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran) 6 .

9
Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman
percakapan pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural.
Dalam menentukan suatu alat bantu dengar, seorang audiologis biasanya akan
mempertimbangkan hal-hal berikut 7 :
 Kemampuan mendengar penderita
 Aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja
 Keterbatasan fisik
 Keadaan medis
 Penampilan
 Harga.

Pemrosesan Suara Pada Alat Bantu Dengar


Saat ini sebagian besar alat bantu dengar sudah memakai teknologi digital,
artinya sinyal suara yang ditangkap oleh mikrofon dirubah (konversi) menjadi
kode-kode digital, yang kemudian diproses menggunakan perhitungan matematis1.
Pemrosesan suara secara digital memungkinkan untuk melakukan “teknik
memanipulasi sinyal” contohnya : memisahkan sinyal suara percakapan dengan
sinyal bising. Sebagian besar alat bantu dengar saat ini memiliki kemampuan
(dalam memproses) lebih baik dibanding komputer desktop, tidak seperti alat
bantu dengar yang ada di beberapa tahun lalu yang tidak lebih dari sekedar
amplifier 1 .
Algoritma yang kompleks dapat memisahkan suara/bunyi ke beberapa
frekuensi dan mengamplifikasi tergantung dari settingan/program yang
diberlakukan pada alat bantu dengar yang sesuai dengan kondisi gangguan
pendengaran klien. Dengan metode algoritma juga memungkinkan untuk
membedakan jumlah amplifikasi antara suara yang pelan,sedang dan
keras. Dengan cara tersebut diharapkan suara yang pelan dapat terdengar, namun
suara yang keras tidak terasa menyakitkan telinga (over amplifikasi). Dan

10
pemrosesan digital memastikan replika sinyal asal secara presisi dengan distorsi
yang minimal agar menghasilkam kualitas suara yang bagus 7 .

II.3 KLASIFIKASI
 Menurut sistim kerjanya
Secara umum sistim kerja ABD dibedakan menjadi :
a. Analog
Prinsip sistem analog adalah memperkeras suara yang masuk telinga melalui
komponen mekanik dasar yang sederhana. Sirkuit ABD ini telah diatur dari pabrik
sehingga kemampuan pengaturan yang lebih individual sangat terbatas atau
kurang fleksibel. Sistim ini mudah mengalami distorsi, terjadi noise (bising) pada
rangkaian komponen dan rentan terhadap bising di sekitarnya 4,8 .

b. Digital
Sistem analog merupakan ABD yang menggunakan chip komputer yang
menganalisa suara yang masuk. Setelah suara diamplifikasi, teknologi digital akan
memilih suara yang perlu diteruskan ke dalam telinga dan menyingkirkan suara
yang tidak diharapkan (noise). ABD Sistim digital bisa menerima program
komputer tertentu yang dapat memilih frekuensi syang spesifik sesuai dengan
kebutuhan. ABD Sistim digital menjadi sangat fleksibel karena secara otomatis
dapat beradaptasi dengan suara yang keras atau halus, sehingga tidak terjadi
perkerasan yang berlebihan 4,8.

Gambar : Alat Bantu Dengar Analog dan Digital

 Menurut hantarannya
Berdasarkan jenis hantaran suaranya, ABD dapat dibedakan menjadi 2 macam:
a. ABD Jenis hantaran tulang

11
Bone conduction aid digunakan pada gangguan pendengaran jenis hantaran
(konduktif). Biasanya dimanfaatkan pada kasus atresia liang telinga. Selain itu,
jenis ini juga digunakan pada kasus dimana sewaktu-waktu liang telinga terisi
cairan yang berasal dari infeksi telinga tengah. ABD jenis hantaran tulang
dibedakan menjadi 4 :

1. ABD hantaran tulang konvensional


Suara dari luar akan yang ditangkap akan mengaktifkan bone vibrator.
Getaran tulang dihasilkan oleh bone vibrator yang ditempelkan pada tulang
mastoid dengan bantuan ikat kepala khsus, kaca mata, atau plastik mirip
bando. Kerugian ABD jenis ini adalah tidak praktis, penampulan kurang
menarik (kosmetik), butuh amplifikasi besar dan timbul lecet pada kulit
yang menempel dengan bone vibrator. Pilihan model ABD pada sistim ini
adalah jenis saku atau BTE 4 .
2. ABD jenis BAHA (Bone Anchored Hearing AID)
ABD yang mirip jenis saku dihubungkan melalui kabel dengan
penggetar tulang (bone vibrator) yang dapat dipasang dan dilepas melalui
sistim sekrup-baut dengan lempengan logam dari bahan titanium yang telah
ditanam ke dalam tulang mastoid melalui tindakan operasi. Hantaran tulang
lebih efektif dibandingkan ABD jenis hantaran tulang 4 .

b. ABD Jenis hantaran udara


ABD jenis hantaran udara merupakan ABD yang lebih lazim ditemukan dan
tersedia dalam berbagai bentuk. ABD jenis ini bekerja dengan prinsip mengurangi
jarak dari sumber suara dengan cara meletakkan loudspeaker di telinga penderita 7.

 Menurut bentuknya
Setiap bentuk ABD memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing.
Berikut adalah pembahasan beberapa jenis ABD yang ada saat ini 4,7 :
a. ABD Jenis Saku (Pocket / Body Worn Type)
ABD jenis ini dapat dianggap sebagai ABD jenis terbesar. Mikrofon dan
amplifier berada dalam satu unit berbentuk kotak; sedangkan receiver terpisah dan

12
berada di liang telinga. Antara kotak (mikrofon, amplifier, dan baterai) dengan
receiver dihubungkan melalui kabel. Biasanya kotak ditempatkan pada saku baju
atau kantung khusus yang digantungkan pada dada 4,7 .
Pada ABD jenis saku penempatan terpisah ini dimaksudkan agar pengguna
dapat leluasa memperbesar output tanpa khawatir timbulnya bunyi feedback. Jadi
ABD jenis saku ini diperlukan oleh penderita tuli berat atau sangat berat yang
membutuhkan perkerasan bunyi atau output yang besar. Hal ini dianggap sebagai
faktor yang menguntungkan untuk ABD jenis saku. Keuntungan lain adalah dapat
menggunakan baterai silinder biasa (ukuran AAA) yang selain murah juga mudah
didapat. Selain itu, tombol pengatur juga mudah disesuaikan 4,7 .

Faktor yang merugikan dari ABD jenis saku 4 :


 Penampilan kosmetik kurang baik
 Kemampuan mikrofon melokalisir bunyi dari belakang terhalang
oleh tubuh
 Tidak praktis karena ukuran relatif besar
 Kabel dapat putus
 Dapat timbul bunyi gesekan antara ABD dengan kain saku

b. ABD jenis Belakang Telinga (BT) / Behind The Ear (BTE)


ABD ini dipasang pada lekukan daun telinga bagian belakang, dengan
mikrofon mengarah ke depan. Posisi ini cukup baik karena selain selalu mengikuti
gerakan kepala juga menghadap lawan bicara. Suara yang telah diperkeras
(output) disalurkan melalui pipa plastik (tubing) yang terhubung dengan ear
mould di concha daun telinga, untuk selanjutnya diteruskan ke liang telinga 4 .
Kemampuan amplifikasinya cukup besar, juga tersedia jenis super power.
Dalam hal mencegah bunyi feedback masih sedikit dibawah jenis saku. Sumber
tenaga berupa batere yang bentuknya pipih dan tipis (disc). Penyetelan tombol
pengatur juga relatif lebih mudah dibandingkan ABD jenis lain yang lebih kecil 7 .

c. Open-fit mini BTE

13
ABD jenis ini merupakan abd yang paling baru dikembangkan. ABD jenis
ini mengkombinasikan keelebihan akustik dari ABD berukuran besar dan
kelebihan kosmetik dari ABD berukuran kecil. Open-fit mini BTE terdiri dari alat
BTE yang kecil, tuba kurus tersembunyi yang berfungsi sebagai pengait daun
telinga, dan receiver yang halus dan tidak sampai menutupi liang telinga.
Hasilnya, efek oklusi yang dialami pasien berkurang, baterai dan amplifier yang
lebih baik dibandingkan tipe yang lebih kecil, tampilan kosmetik yang lebih baik
dibanding ABD tipe besar lainnya, dan pemakaian yang lebih singkat karena tidak
memerlukan cetakan personal yang presisi sebagaimana ABD tipe BTE dan ITE
butuhkan 4,7 .

d. ABD Jenis Dalam Telinga (DT) / In The Ear (ITE)


ABD jenis ITE ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan BTE. Dipasang
pada bagian concha daun telinga. Komponen ABD menyatu dengan ear mould.
Karena ukurannya yang relatif kecil berarti jarak antara mikrofon dengan receiver
juga lebih pendek, akibatnya kemampuan amplifikasinya terbatas sehingga hanya
cocok untuk ketulian derajat sedang 4 .

e. ABD tipe kanalis / In The Canal (ITC) & Completely In Canal (CIC)
ABD jenis ini dibedakan menjadi dua macam: ITC dan CIC. ABD jenis ITC
ukurannya lebih kecil lagi daripada jenis ITE. Pemasangan sampai setengah
bagian luar liang telinga. Amplifikasi suara baik untuk frekuensi tinggi, karena
dipasang cukup dalam pada liang telinga. Akan tetapi karena keterbatasan ukuran,
hanya bermanfaat untuk tuli derajat sedang. Selain itu juga terdapat jenis CIC
yang merupakan ABD terkecil dan dipasang pada sisi dalam liang telinga, jadi
lebih dekat dengan gendang telinga. Permukaan luar dilengkapi dengan tangkai
plastik untuk mempermudah memasang dan melepaskan ABD. Sebagaimana
halnya dengan jenis ITC, pengaturan secara manual lebih sulit. Namun hal ini
dapat diatasi pada model terbaru yang telah dilengkapi dengan remote control 4,7 .

f. ABD jenis kacamata / Spectacle Aid

14
ABD ditempatkan pada tangkai kaca mata bagian belakang. Umumnya jenis
BTE, namun dapat juga jenis bone conduction, meskipun emanfaatan cara ini
untuk ABD jenis hantaran tulang kurang efektif karena tekanan bone vibrator
tidak stabil 4 .

Gambar : Tipe Alat Bantu Dengar.

15
Gambar : Tipe Alat Bantu Dengar.

II.4 PEMAKAIAN ALAT BANTU DENGAR


Kandidat pemakai alat bantu dengar
Setiap orang dengan kesulitan mendengar atau memahami pembicaraan
harus mempertimbangkan penggunaan alat amplifikasi pendengaran. Hal ini
terutama sangat dianjurkan untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran,
dimana intervensi harus dianjurkan sedini mungkin. Gangguan pendengaran dapat
secara umum dikelompokkan menjadi 1 :
1. Mild Hearing Loss (20-40 dB)
Penggunaan alat bantu dengar dapat membantu kemampuan komunikasi
pasien. Beberapa pasien dapat mempertimbangkan pemakaian alat bantu dengar
paruh waktu / pada kondisi-kondisi tertentu saja 1 .
2. Moderate Hearing Loss (45-65 dB)
Penggunaan alat bantu dengar sudah menjadi kebutuhan bagi pasien dalam
kategori ini. Pada umumnya alat bantu dengar memberikan hasil yang baik bila
dipakai dengan strategi pemakaian yang sesuai 1 .

16
3. Severe Hearing Loss (70-85 dB)
Alat bantu dengar harus digunakan bila pasien masih ingin berkomunikasi
dengan suara sebagai media penerimaan primernya. Pada beberapa kasus pasien
dengan tingkat gangguan pendengaran ini membutuhkan implantasi koklea 1 .

4. Profound Hearing Loss (>85 dB)


Keberhasilan penggunaan alat bantu dengar pada pasien ini berbeda-beda
tergantung umur dan berbagai faktor lainnya. Pada kasus yang baik, kemampuan
komunikasi pasien dapat membaik, dan pada kasus terburuk pun, setidaknya alat
bantu dengar masih dapat membantu sebagai warning device. Pasien dengan
gangguan pendengaran jenis ini merupakan kandidat kuat untuk implantasi
koklea1 .
Selain tipe dan derajat ketulian, ada beberapa faktor lainnya yang perlu
diperhitungkan mengenai apakah seorang pasien membutuhkan alat bantu dengar,
antara lain 1 :
1. Umur dan kondisi kesehatan mental dan fisik pasien secara umum
2. Motivasi pasien (Bukan keluarga atau pihak lain)
3. Kondisi keuangan pasien
4. Pertimbangan kosmetis
5. Kebutuhan pasien akan komunikasi, terutama dalam kehidupan dan pekerjaan

Pemilihan alat bantu dengar


Setelah ditentukan bahwa kandidat akan sangat tertolong dengan pemakaian
alat bantu dengar, maka harus diseleksi spesifikasi alat tersebut. Untuk tujuan ini
telah dikembangkan sejumlah metode dan rumusan. Umumnya tiap prosedur
pemilihan membutuhkan informasi audiometrik berupa 8 :
1) Ambang pendengaran / Threshold (T)
2) Tingkat Pendengaran paling nyaman / Most Comfortable Level (MCL)
3) Tingkat kekerasan yang mengganggu / Loudness Discomfort Level (LDL)

17
Setelah itu, klinisi harus menentukan apakah pasien membutuhkan alat
bantu pendengaran pada satu atau kedua telinga. Bilamana mungkin sangat
dianjurkan menggunakan alat bantu pada kedua telinga (binaural)
Keuntungan amplifikasi binaural antara lain 8 :
1. Minimalisasi / Eliminasi efek bayangan kepala (Head Shadow)
Efek bayangan kepala adalah berkurangnya intensitas sinyal dari sisi kepala
yang berlawanan dari lokasi pemakaian alat bantu dengar. Dengan pemakaian
binaural, hal ini dapat membaik atau bahkan hilang seluruhnya 8 .

2. Peningkatan kemampuan lokalisasi


Dengan perbedaan intensitas dan waktu masuknya sinyal ke alat bantu
dengar binaural, penderita dapat dengan lebih mudah menentukan lokasi sumber
suara (lokalisasi)

3. “Efek peredam” atau penekanan bising latar belakang (Binaural squelch)


Binaural squelch adalah kemampuan otak untuk memisahkan suara dengan
bising. Hal ini disebut juga sebagai central masking dan dapat bekerja dengan
lebih baik dengan membandingkan suara dari dua telinga 8 .

4. Sumasi binaural (Binaural loudness summation)


Sumasi binaural adalah kemampuan otak untuk memproses suara dengan
lebih baik melalui informasi yang repetitif, dalam hal ini melalui sinyal suara
yang serupa dari kedua telinga 8 .
Paham yang dianut sekarang adalah bilamana mungkin sangat dianjurkan
menggunakan pendengaran binaural. Akan tetapi, untuk alasan pribadi ataupun
audiologik, pada beberapa pasien tidak dapat dilakukan amplifikasi binaural.
Dengan demikian perlu dilakukan pemilihan salah satu telinga yang paling
diuntungkan dengan teknik amplifikasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa
telinga yang terpilih adalah telinga dengan diskriminasi bicara yang lebih baik dan
dengan rentang dinamik yang lebih luas. Rentang dinamik adalah perbedaan

18
antara tingkat ambang pendengaran dengan ambang ketidaknyamanan
pendengaran 8 .

Gangguan pendengaran unilateral


Untuk pasien dengan gangguan pendengaran unilateral, diberlakukan
penanganan yang berbeda. Bila ketulian unilateral tidak melampaui kehilangan
sebesar 60-70 dB, atau bila diskriminasi bicara relatif baik dan jika bunyi yang
diperbesar ditoleransi dengan baik, maka dapat dilakukan amplifikasi pada telinga
yang terganggu. Akan tetapi bila telinga yang terganggu tidak memenuhi kriteria
diatas, dapat digunakan alat bantu dengar CROS (Contralateral Routing Of
Signals = Pengalihan sinyal kontralateral). Mikrofon diletakkan pada satu alat
bantu sementara amplifier dan penerima ditempatkan pada alat bantu kedua.
Penataan seperti ini dapat pula diterapkan pada kacamata. Maka sinyal akan
dihantarkan dari telinga yang terganggu ke telinga dengan pendengaran normal.
Suatu sirkuit frekuensi radio dapat digunakan untuk menghantarkan bunyi dari
satu sisi ke sisi lainnya. Meskipun alat bantu dengar CROS hanya sedikit
membantu dalam memperbaiki lokalisasi, namun alat ini kadang-kadang terbukti
bermanfaat pada beberapa kondisi mendengar suara bising dan juga
meminimalkan efek bayangan kepala 1,9 .
Berbagai variasi CROS yang disebut Bi-CROS atau Multi-CROS dapat
digunakan bila terdapat gangguan pendengaran yang cukup bermakna pada telinga
yang lebih baik, sedangkan telinga yang lebih buruk tidak sesuai untuk teknik
amplifikasi. Tipe Bi-CROS memiliki mikrofo pada masing-masing alat bantu dan
suatu pemasok bunyi amplifier pada telinga yang lebih baik 1 .
Setelah itu, klinisi menentukan jenis alat bantu pendengaran yang sesuai
dengan jenis gangguan pendengaran pasien dan mempertimbangkan keuntungan
dan kerugian dari berbagai jenis alat bantu pendengaran, baik dari aspek medis
maupun pribadi pasien 1 .

Berikut tabel ringkas keuntungan dan kerugian macam-macam ABD 9 :

Jenis alat bantu Keuntungan Kerugian

19
pendengaran
Harga murah Bentuk besar
Baterai tahan lama dan Ada kabel
mudah didapat Bunyi gesekan dengan
Feedback tidak ada kain
Body Worn Type
Amplifikasi lebih kuat Selit menangkap suara
Pengaturan manual dari belakang
mudah Dapat rusak oleh sekret
telinga pasien
Amplifikasi kuat Membutuhkan ear mould
Feedback minimal Memberikan efek oklusi
Behind-the-ear type
Pengaturan manual relatif Dapat rusak oleh sekresi
telinga pasien
Sulit terlihat Amplifikasi terbatas
In-the-ear type
Membutuhkan ear mould
Sulit terlihat Rentan terhadap feedback
Amplifikasi cukup baik Pengaturan manual sulit
In-the-canal type
karena terpasang dalam

Tidak terlihat kecuali Pengaturan manual sulit


melihat langsung ke liang Rentan feedback
Completely-in-canal
telinga pemakai Fitur tertentu tidak dapat
digunakan
Secara kosmetik lebih Letak receiver menjadi
Spectacle aid
dapat diterima relatif tidak stabil
Open-fit mini BTE Baterai relatif lebih tahan Harga mahal
Amplifikasi kuat Ketersediaan masih
Feedback minimal terbatas karena
Pengaturan mudah merupakan teknologi
Sulit terlihat baru
Tidak perlu ear mould
Tidak menimbulkan efek
oklusi

20
Memungkinkan keluarnya
sekret telinga pasien

BAB III
KESIMPULAN

Alat Bantu Dengar (ABD) adalah Alat suatu perangkat elektronik yang
berguna untuk memperkeras (mengamplifikasi) suara yang masuk ke dalam
telinga, sehingga si pemakai dapat mendengar lebih jelas suara yang ada di
sekitarnya
Pada umumnya, mekanisme kerja ABD berupa: masuknya suara melalui
mikrofon, pengerasan suara oleh amplifier, dan penyampaian ulang suara oleh
receiver / loudspeaker yang mana keseluruhan sistemnya diperdayai oleh suatu
komponen baterai
Terdapat berbagai macam jenis ABD: Menurut sistem kerjanya, Menurut
jenis hantarannya, dan Menurut bentuknya yang memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing.
Untuk pemakaian alat bantu pendengaran, pertama-tama klinisi harus
mengidentifikasi derajat ketulian penderita, mengenali jenis ketuliannya,
menentukan TL, MCL, dan LDL, menentukan jumlah alat bantu dengar yang
sebaiknya digunakan oleh pasien, baru kemudian bersama pasien
mempertimbangkan bentuk ABD yang akan digunakan beserta kelebihan,
kekurangan, dan faktor-faktor lain dari diri pasien.
Seringkali ABD sendiri tidak cukup untuk mengembalikan kualitas hidup
pasien secara sempurna. Karenanya dibutuhkan pelengkap dari ABD yang bisa

21
berupa: ALD, baik ALD yang dihubungkan ke ABD maupun tidak; Fitur-fitur
tambahan; dan Implantasi koklea bila ABD tidak dapat memberikan hasil yang
memuaskan
Setelah Pemakaian ABD, perlu dilakukan penilaian ulang untuk menentukan
keberhasilan pemakaian ABD dengan beberapa tes, seperti Assessment of Word
Recognition & Sound Quality, Probe Tube Measure, dan Subjective Scaling

DAFTAR PUSTAKA

1. Arsyad, Efiaty S. dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2. Moller, Aage R. 2006. Hearing: Anatomy, Physiology, and Disorders of the
Auditory System Second Edition. California: Academic Press.
3. Yetter, Carol J. A Hearing Aid Primer. WROCC Outreach Site. Western Oregon
University.
4. Menner, Albert L. 2003. A Pocket Guide to the Ear. New York: Thieme Medical
Publishers.
5. Snow, James B Jr. 2002. Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck
Surgery. London: BC Decker.
6. Peng, Shu-Chen. 2012. Hearing Aids: The Basic Information You Need to Know pada
Scientific Reviewer in Audiology Center for Device and Radiological Health.
7. Gwinner, Nanette. 2006. Your Veteran Affairs Hearing Aid. Denver: Department of
Veterans Affairs Denver Distribution Center.
8. American Academy of Audiology. 2001. Hearing Aids. Mclean VA: NIH Publication.
9. FDA Consumer Health Information. 2009. A New Online Guide to Hearing Aids.
Kochkin, Sergei. 2005. Your Guide to Hearing Aids. Alexandria: Better Hearing
Institute

22
23