Anda di halaman 1dari 27

BAB II

PEMBAHASAN

1.1. Pembentukan Modal dan Pembangunan Ekonomi


1.1.1. Arti Pembentukan Modal
Hampir semua ahli ekonomi menekankan arti penting pembentukan modal
(capital information) sebagai penentu utama pertumbuhan ekonomi. ”Arti
‘pembentukan modal’ialah bahwa masyarakat tidak mempergunakan seluruh
aktivitas produktifnya untuk saat ini untuk kebutuhan dan keinginan konsumsi ,
tetapi menggunakan sebagian saja untuk pembuatan barang modal: perkakas dan
alat-alat, mesin dan fasilitas angkutan, pabrik dan perlengkapannya – segala macam
bentuk modal nyata yang dapat dengan cepat meningkatkan manfaat upaya
produktif. Inti proses itu kemudian ialah pengalihan sebagian sumberdaya yang
sekarang ada pada masyarakat ke tujuan untuk meningkatkan persediaan barang
modal begitu rupa sehingga memungkinkan perluasan output yang dapat dikonsumsi
pada masa depan”. Definisi Profesor Nurkse ini hanya menyangkut pemupukan
modal material dan mengabaikan modal manusia. Suatu definisi yang tepat harus
mencakup keduannya. Menurut Dr. Singer, pembentukan modal terdiri terdiri dari
barang yang nampak seperti pabrik, alat-alat dan mesin, maupun barang yang tidak
nampak seperti pendidikan bermutu tinggi, kesehatan, tradisi ilmiah dan penelitian.
Pendapat yang sama dinyatakan Kuznets dalam ungkapan berikut: “pembentukan
modal domestik tidak hanya mencakup biaya untuk kontruksi, peralatan dan
persediaan dalam negeri, tetapi juga pengeluaran lain, kecuali pengeluaran yang
diperlukan untuk mempertahankan output pada tingkat yang ada. Ia mencakup juga
pembiayaan untuk pendidikan, rekreasi dan barang mewah yang memberikan
kesejahteraan dan produktivitas lebih pada individu dan semua penggeluaran
masyarakat yang berfungsi untuk meningkatkan moral penduduk yang bekerja”. Jadi
istilah pembentukan modal meliputi modal material dan modal manusia.
1.1.2. Pentingnya Pembentukan Modal
Pembentukan atau pengumpulan modal dipandang sebagai salah satu faktor
utama di dalam pembangunan ekonomi. Menurut Nurkse, lingkaran setan
kemiskinan dinegara terbelakang dapat di gunting melalui pembentukan modal.
Sebagai akibat rendahnya tingkat pendapatan dinegara terbelakang dapat
digunting melalui pembentukan modal. Sebagai akibat rendahnya tingkat
pendapatan di Negara terbelakang maka permintaan, produksi dan investasi
menjadi rendah atau kurang. Hal ini menyebabkan kekurangan dibidang barang
modal yang dapat diatasi melalui pembentukan modal. Lewat itu persediaan
mesin, alat-alat dan perlengkapan meningkat. Skala produksi meluas. Overhead
ekonomi dan sosial tercipta. Pembentukan modal membawa kepada pemanfaatan
penuh sumber-sumber yang ada. Jadi pembentukan modal menghasikan kenaikan
besarnya output nasional, pendapatan dan pekerjaan, dengan demikian
memecahkan masalah inflasi dan neraca pembayaran, serta membuat
perekonomian bebas dari beban utang luar negri, kita bahas dibawah ini arti
penting pembentukan modal secara rinci.
Tujuan pokok pembangunan ekonomi ialah untuk membangun peralatan
modal dalam skala modal yang cukup untuk meningkatkan produktivitas di
bidang pertanian, rumah sakit, jalan raya, jalan kereta api, dan sebagainya.
Singkatnya, hakikat pembangunan ekonomi adalah penciptaan modal overhead
sosial dan ekonomi. Hal ini hanya mungkin jika laju pembentukan modal di
dalam negeri cukup cepat, yaitu jika bagian dari pendapatan atau output
masyarakat yang ada hanya sedikit saja yang dipergunakan untuk konsumsi dan
sisanya ditabung dan dalam teori pembangunan ekonomi adalah proses
peningkatan tabungan dan investasi nasional dari 4-5 persen menjadi 12-15 persen
dari pendapatan nasioanl.
Investasi dalam peralatan modal tidak saja meningkatkan produksi tetapi juga
tercapainya ekonomi produksi skala luas akan meningkatkan spesialisasi,
pembentukan modal memberikan mesin, alat dan perlengkapan bagi tenaga kerja
yang semakin meningkat. Jadi, pembentukan modal juga menguntungkan buruh.
Pembentukan modal menciptakan perluasan pasar. Dialah yang membantu
menyingkirkan ketidaksempurnaan pasar melalui penciptaan modal overhead
sosial dan ekonomi, jadi memotong lingkaran setan kemiskinan baik dari sisi
penawaran maupun dari sisi permintaan.
Lebih jauh, pembentukan modal membuat pembangunan menjadi mungkin,
kendati dengan penduduk yang meningkat. Di Negara terbelakang berpenduduk
padat kenaikan output per kapita berkaitan dengan rasio modal-buruh. Tetapi
negara-negara yang bermaksud meningkatkan rasio modal-buruh terpaksa
menghadapi dua masalah. Pertama, rosio modal-buruh jatuh akibat naiknya
penduduk shingga diperlukan investasi netto yang besar untuk mengatasi
kemerosotan terseebut. Kedua pada waktu penduduk meningkat pesat, menjadi
sulit mendapatkan tabungan yang cukup untuk memperoleh sejumlah investasi
yang diperlukan. Sebabnya ialah rendahnya pendapatan perkapita yang
memmbuat kecenderungan marginal menabung di Negara seperti itu tetap rendah.
Satu-satu pemecahan atau masalah tersebut ialah mempertinggi laju pembentukan
modal.
Negar terbelakang biasanya dihadapkan pada masalah neraca pembayaran
sebab kebanyakan mereka mengekspor barang primer seperti bahan mentah dan
hasil pertanian, dan mengimpor hampir semua jenis bahan manufaktur atau
setengah manufaktur dan barang modal. Pembentukan modal domesik merupakan
salah satu cara pemecah pokok kesulitan neraca pembayaran ini. Dengan
mendirikan industri pengganti impor, impor atas barang –barang seperti itu dapat
dikurangi. Pada pihak alin, dengan meningkatkan produksi segala macam barang
konsumsi dan barang modal modal, komposisi ekspor menjadi berubah. Bersama-
sama dengan hasil pertanian dan bahan mentah industri, ekspor barang
manufaktur juga bermula. Jadi pembentukan modal membantu memecahan
masalah neraca pembayaran.
Laju pembentukan modal yang cepat lambat laun mengurangi kebutuhan akan
modal asing. Pembentukan modal pada kenyataannya membantu tercapainya
swasembada suatu negara dan mengurangi beban utang luar negeri. Jika suatu
Negara meminjam dari negara asing untuk jangka panjang. Utang tersebut
merupakan beban berat kepada generasi mendatang. Pada setiap pinjaman, beban
hutang dari hari ke hari semakin membuat, dan hanya dapat dibayar kembali
dengan mengenakan pajak yang lebih tinggi, beban pajak meningkat dan uang
mengalir ke luar negeri dalam bentuk pembayaran utang. Oleh karena itu, hanya
pembentukam modal, negara dapat membebaskan negara dari bantuan luar negeri,
dan mengurangi beban utang terhadap luar negeri, dan menciptakan negara
swasembada.
Beban tekanan inflasioner pada negara yang sedang berkembang sejauh
tertentu dapat ditiadakan dengan meningkatkan pembentukan modal. Dengan
meningkatnya pembentukan modal output produk pertanian dan barang konsumsi
manufaktur cenderung untuk meningkat. Pada pihak lain, apabila dengan
pembetukan modal makan penadapatan akan naik, kenaikan ini akan menaikkan
permintaan barang. Dalam jangka pendek, tidak mungkin untuk memenuhi
permintaan yang meningkat ini dengan menambah penawaran dan ini berakibat
pada memberatnya tekanan inflasi pada perekonomian. Akan tetapi peningkatan
yang memperbesar penawaran barang-barang, mengendalikan inflasi dan
menciptakan kestabilan ekonomi.
Pembentukan modal juga mempengaruhi kesejahteraan ekonomi suatu bangsa.
Ia membantu memenuhi segala sesuatu yang diperlukan oleh penduduk yang
makin meningkat. Kalau pembentukan modal menyebabkan penggunaan sumber
daya alam secara tepat dan pendirian berbagai jenis industri, maka tingkat
pendapatan bertambah dan berbagai macam komoditif, standar hidup meningkat,
juga kesejahteraan ekonomi.
Akhirnya, kenaikan laju pertumbuhan modal menaikkan tingkat pendapatan
nasional. Proses pembentukan modal tersebut membantu menaikkan output yang
pada gilirannya menaikkan laju tingkat pendapatan nasional. Jadi kenaikan laju
dan tingkat pendapatan nasional tergantung pada kenaikan laju pembentukan
modal. Denngan demikian pembentukan modal merupakan jalan keluar utama
dari masalah rumit Negara terbelakang, dan kunci utama menuju pembangun
ekonomi.
1.1.3. SUMBER-SUMBER PEMBENTUKAN MODAL
Sumber domestik, sumber domestik pembentukan modal adalah sebagai berikut:
I. Kenaikan pendapatan nasional.
Langkah pertama yang penting ialah menaikkan keluaran atau pendapatan nasioanl
yang akan menaikkan pendapatan penduduk. Ini dapat dilakukan dengan
memanfaatkaan teknik yang ada dan memakai sumber secara lebih efisien,
memanfaatkan sumber yang belum terpakai, dan meningkatkan pembagian kerja.

II. Penggalakan tabungan.


Penggalakan tabungan juga akan memecahkan masalah peningkatan tabungan.
Penggalakan tabungan memerlukan upaya bersama dalam bentuk penerangan dan
pendidikan sosial. Menerbitkan sertifikat tabungan dalam bentuk surat obligasi
pemerintah dan tunjangan pemerintah yang memberikan sukubunga tinggi
mungkin juga membantu di dalam menggalakan tabungan.

III. Pendirian lembaga keuangan.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa pendapatan yang tak terpakai oleh penduduk
di negara terbelakang disimpan dalam bentuk uang kontan, permata, emas, dan
lain-lain. Oleh karena itu yang diperlukan ialah mendirikan lembaga-lembaga
keuangan tempat para penabung kecil dapat mendepositokan uangnya dengan
aman.

IV. Tabungan desa.


Tindakan penting lain ialah mendorong tabungan pedesaan untuk keperluan-
keperluan local yang disetujui dan difahami oleh para penabung. Saham
pemerintah dapat diterbitkan untuk proyek-proyek pembanguunan tertentu
didaerah pedesaan. Sebagaimana diusulkan panitia penelitian kredit pedesaan
india, “surat-surat utang ini sejauh mungkin diperuntukkan bagi proyek
pembangunan tertentu yang diminati orang desa karena berbagai hal, baik karena
menguntungkan orang lain yang berkepentingan sejalan dengan mereka lantaran
menyangkut daerah, wilayah atau provinsi” arah kebijaksanaannya harus
mengaitkan tabungan desa dengan proyek-proyek pemerintah daerah.

V. Simpanan emas.
Cara lain ialah pengerahan simpanan emas. Cara ini bermanfaat kendati merupakan
cara yang sering dilupakan. Pemerintah harus mengeluarkan sertifikat emas yang
memberikan sukubunga tinggi sebagai ganti penyerahan emas oleh masyarakat.
Akan tetapi orang tidak ingin melepaskan emas dan permata, dan dengan demikian
enggan menanamkannya secar suka rela dalam bentuk serttifikat emas. Oleh
karena itu penting sekali adanya peraturan yang melarang penyimpanan emas
melampaui jumlah tertentu; mengatur perdagangan emas oleh swasta; melarang
penggunaan emas murni untuk pembuatan ornamen-ornamen, bersamaan dengan
tindakan ini penyelundupan harus dihentikan.

VI. Mempertahankan kepincangan pendapatan.


Hal ini juga dianggap sebagai salah satu tindakan untuk mencapai laju tinggi
tabungan dan investasi. Karena, bagian terbesar masyarakat dinegara terbelakang
mempunyai kecenderungan marginal menabung yang rendah. Hanya kelompok
berpendapatan lebih tinggi yang dapat menabung dan berinvestasi bagi
pembentukan modal.

VII. Tindakan fiskal.


Karena tabungan sukarela tidak dapat berfungsi sebagai sarana pembentukan
modal yang memadai, untuk mengerahkan tabungan melalui berbagai macam
ttindakan fiskal dan moneter. Tindakan ini mungkin berupa anggaran surplus
melalui penigkatan pajak, pengurangan pengeluran pemerintah, perluasan sektor
ekspor, meningkatkan uang dengan menyelenggarakan badan usaha milik Negara
dengan lebih efisien sehingga badan usaha ini memperoleh keuntungan lebih besar.

VIII. Inflasi.
Apabila dana yang perlu untuk pembentukan modal tidak terkumpul, inflasi
merupakan kebijakan yang paling potensial. Inflasi diangap sebagai pajak
tersembunyi atau tidak kelihatan. Ketika harga naik, kenaikan ini akan mengurangi
konsumsi dan dengan demikian mengalihkan sumber-sumber dari konsumsi uang
ke investasi.

IX. Keuangan badan usaha Negara.


Pemerintah juga dapat memobilisasi tabungan domestik bagi pembentukan modal
dengan mendirikan badan usaha publik. Badan usaha ini menerima dana dari pasar
bebas dalam bentuk modal bersih (equity capital) dan utang obligasi (bonded
debt). Badan usaha tersebut juga mendapaat pinjaman dari luar negri atau
berkolaborasi dengan perusahaan asing.

2. Sumber eksternal
I. Bantuan luar negri.
Dalam hal sumber domestik pembentukan modal tidak cukup, perlu
diimpor modal asing dalam bentuk pinjaman dan hibah dari negara-negara maju
tanpa “ikatan” apa pun. Akan tetapi jalan yang terbaik ialah memulai usaha
patungan (join uenture). Dengan cara ini para investor asing membawa serta
technical know-how bersama modal, dan mereka akan melatih buruh dan
perusahaan setempat. Modal dapat juga diimpor secara tidak langsung dengan
pembayaran melalui ekspor. Inilah kebijakan yang paling baik karena ekspor
impor. Akan tetapi suatu Negara terbelakang tidak mungkin menaikkan ekspornya
sampai tingkat impor modal yang dilakukan padaa tahap pembangunan
sebelumnya.

II. Pembatasan import.


Sumbeer eksternal penting lain bagi pembentukan modal ialah pembatasan
impor barang konsumsi. Semua impor barang mewah harus dibatasi dan devisa
yang terhemat harus dipergunakan untuk mengimpor barang modal. Langkah ini
hanya dapat berhasil apabila pendapatan nasioanal yang dipergunakan untuk
konsumsi barang mewah dan setengah mewah yang di buat didalam negeri. Jika
konsumen mulai berbelanja lebih pada barang konsumsi domestic, kenaikan
dalam impor barang modal itu akan diikuti oleh kemerosotan investasi domestic
karena sumber-sumber akan teralihakan dari produksi modal domestic ke
pengeluaran yang meningkat pada barang knsumsi

III. Terms of trade yang menguntungkan.


Begitu juga apabila Terms of trade bergerak ke arah yang menguntungkan
Suatu Negara terbelakang, Negara ini berada dalam posisi yang baik untuk
mengimpor barang-barang modal dalam jumlah besar.

Teori pembangunan dalam kaitan dengan investasi


1. Teori Dorongan Kuat (Big Push)
Teori big push ini didasarkan pada pemikiran Rosenstein-Rodan. Menurut tesis teori ini
untuk menanggulangi hambatan pembangunan ekonomi di Negara berkembang dan untuk
mendorong ekonomi tersebut kearah kemajuan diperlukan suatu “dorongan kuat” dari investasi
atau suatu program besar-besaran yang menyeluruh dalam bentuk suatu jumlah minimum
investasi tertentu.
Teori ini menyatakan bahwa cara kerja atau kegiatan investasi “sedikit demi sedikit”
tidak akan dapat mendorong ekonomi dengan berhasil pada lintasan pembangunan, tetapi suatu
jumlah minimum investasi yang besar-besaran merupakan syarat mutlak dalam hal ini. Ia
memerlukan terciptanya atau tercapainya ekonomi eksternal, yang timbul pada pembangunan
secara serentak atas industry-industri yang secara teknik saling berkaitan satu sama lainnya.
Dengan demikian syarat mutlak seperti itu dan terciptanya ekonomi eksternal yang dihasilkan
dari sejumlah minimum investasi tertentu tersebut  merupakan prasyarat untuk melancarkan
pembangunan ekonomi dengan berhasil.
            Menurut Rosenstein-Rodan pembangunan industry secara serentak dan besar-besaran ini
akan menciptakan tiga macam ekonomi eksternal, yaitu: (a) yang diakibatkan oleh perluasan
pasar, (b) karena industry yang sama letaknya dan (c) karena adanya industry lain dalam
perekonomian tersebut. Namun demikian, menurut Rosenstein-Rodan ekonomi eksternal yang
pertama adalah yang paling penting dibandingkan yang lainnya dalam mendukung pembangunan
tersebut.
            Di samping itu, Rosenstein-Rodan membedakan di antara tiga macam sifat skala dan
ekonomi eksternal tersebut yaitu: (a) sifat skala besar di dalam fungsi produksi, terutama dalam
hal suplai overhead capital, (b) sifat skala besar dalam kaitan dengan permintaan berupa
terciptanya permintaan yang komplementer dan (c) sifat skala besar dalam suplai tabungan.

a. Sifat Skala Besar Dalam Fungsi Produksi


Menurut Rosenstein-Rodan, skala besar dalam input, output atau proses produksi akan
membawa kepada penghasilan yang makin meningkat. Ia menganggap overhead capital sebagai
contoh paling penting dari sifat skala besar dan dari ekonomi eksternal pada sisi penawaran.
Jasa dari overhead capital yang terdiri dari industry dan modal dasar seperti prasarana
tenaga listrik, transport dan komunikasi adalah secara tidak langsung bersifat produktif dan
mmpunyai masa persiapan dan baru memberikan hasil dalam jangka yang lama. Instalasinya
tidak dapat diimpor, Pembangunannya membutuhkan investasi dengan modal awal yang besar.
Dengan demikian kelebihan kapasitas mungkin akan terjadi selama beberapa waktu yang cukup
panjang. Investasi ini juga mencakup paket investasi minimal untuk berbagai bidang pekerjaan
umum sedemikian rupa sehingga suatu Negara berkembang harus melakukan investasi pada
bidang-bidang ini sebesar 30%-40% dari total investasinya. Oleh karena itu, investasi pada
overhead capital ini harus mendahului investasi-investasi produktif yang secara langsung cepat
menghasilkan produksi.

b. Sifat Skala Besar Dalam Kaitan Dengan Permintaan


Skala besar dari permintaan atau saling melengkapi permintaan di Negara-negara
berkembang membutuhkan pendirian secara serentak industry-industri yang saling berkaitan.
Maksud pemikiran utamanya adalah karena proyek-proyek investasi secara sendiri-sendiri
mempunyai risiko tinggi akibat dari ketidakpastian mengenai apakah produknya akan
mendapatkan pasar. Maka keputusan tentang berbagai investasi harus bersifat saling berkaitan
dan melengkapi satu dengan lainnya.
Dengan demikian produksi-produksi baru yang dihasilkan itu akan saling menjadi
langganan satu dengan lain, sehingga dapat tercipta pasar antarsesamanya bagi barang-barang
yang dihasilkan mereka. Saling lengkap-melengkapi dalam permintaan mengurangi risiko dalam
mendapatkan pasar dan meningkatkan rangsangan untuk investasi. Dengan kata lain sifat skala
besar dan saling melengkapi pada permintaan inilah memerlukan adanya suatu minimum
investasi yang besar jumlahnya dalam industry yang saling berkaitan untuk mengatasi kecilnya
pasar dan rendahnya dorongan berinvestasi di Negara berkembang tersebut.

c. Sifat Skala Besar Pada Suplai Tabungan


Elastisitas pendapatan yang tinggi dalam hal menabung merupakan sifat skala besar
ketiga dari teori Rosenstein-Rodan. Suatu jumlah minimum yang besar dari investasi
memerlukan jumlah tabungan yang besar pula. Ini sangat sulit untuk dicapai di Negara-negara
berkembang yang miskin karena sangat rendahnya tingkat pendapatan yang berakibat kecilnya
tabungan dalam masyarakat.
Untuk mengatasi hal tersebut, jika pendapatan meningkat sebagai akibat dari peningkatan
investasi, maka tingkat tabungan marjinal harus jauh lebih besar dari pada tingkat rata-rata
tabungan nasional, hal mana mungkin sekali tidak dapat dicapai di Negara-negara berkembang.

Beberapa Kelemahan Teori “Big Push”


Di samping terdapatnya logika dan argumentasi yang dapat membenarkannya, maka
terdapat pula berbagai kelemahan teori “dorongan kuat” tersebut, yang penting di antaranya
adalah sebagai berikut:
a. Teori itu mengabaikan investasi di bidang ekspor dan impor pengganti
Dalam hal ini, ekonomi eksternal dari overhead capital relative tidak
seberapa pengaruhnya pada bidang ekspor dan impor pengganti yang besar peranannya dalam
proses pembangunan.
b. Mengabaikan ekonomis yang terjadi dari investasi mengurangi biaya produksi.
Dalam hubungan ini investasi pada bidang-bidang yang cukup inelastic lebih   bersifat
mengurangi biaya ketimbang yang memperluas output, padahal ini cukup penting.
c. Mengabaikan atau mengurangi perhatian atas investasi di sector pertanian.
Karena penekanan pada sejumlah minimal investasi bidang pertanian dan sektor primer
sering kali terabaikan pada pendekatan teori ini.
d. Menyebabkan timbulnya tekanan inflasioner dan inflasi.
Investasi besar di bidang overhead capital dan berbagai bidang industry tertentu sering
kali tidak tertampung dengan peningkatan produksi secara proporsional, yang berakibat
timbulnya inflasi.
e. Menyebabkan timbulnya kesulitan administrative dan institusional
Kelengkapan administrative dan kelembagaan untuk menunjang investasi besar-besaran
dan saling melengkapi itu sering kali lemah di Negara-negara berkembang.

Teori pembangunan seimbang dan tak seimbang


Teori Pembangunan Seimbang (Balanced Development)
            Dalam teori keseimbangan (teori ekonomi konvensional), eksternalitas ekonomi diartikan
sebagai penghematan atau perbaikan efisiensi yang terjadi pada suatu industry sebagai akibat
dari perbaikan teknologi dan kemajuan pada industry lain. Ekternalitas ekonomi seperti ini
disebut eksternalitas ekonomi dalam kaitan teknologis (technological external economics).
            Di samping itu hubungan kesalingtergantungan antara sebagai industry bisa pula
menciptakan eksternalitas ekonomi yang berkaitan dengan keuangan (pecuniary external
economies) yaitu ekonomis atau keuntungan keuangan yang diperoleh suatu perusahaan yang
disebabkan oleh tindakan perusahaan lain yang berdampak positif. Dengan kata lain keuntungan
suatu perusahaan bukan saja tergantung pada efisiensi penggunaan factor-faktor produksi dan
tingkat produksi pada perusahaan itu semata, tetapi juga tergantung kepada penggunaan factor-
faktor produksi dan tingkat produksi pada perusahaan-perusahaan lainnya terutama perusahaan-
perusahaan yang erat kaitannya dengan perusahaan yang pertama tadi.
            Mekanisme terciptanya eksternalitas ekonomi keuangan tersebut dijelaskan oleh
Scitovsky dengan contoh berikut. Jika investasi baru dilakukan untuk suatu industry, maka
kapasitasnya akan bertambah. Hal ini bisa menurunkan biaya produksi industry tersebut dan
akan menaikkan harga input yang digunakan. Penurunan biaya produksi industry-industri
tersebut akan menurunkan harga jual produknya dan ini berarti akan menguntungkan industry-
industri lain yang menggunakan produk yang dihasilkan industry tersebut. Sedangkan kenaikan
harga inputnya akan menguntungkan industry yang menghasilkan input yang dihasilkannya itu.
            Sementara itu analisi Lewis menunjukkan perlunya pembangunan seimbang yang
ditekankan pada keuntungan yang akan diperoleh dari adanya kesalingtergantungan yang efisien
antara berbagai sector, yaitu antara sector pertanian dan sector industry, serta antara sector dalam
negeri dan sector luar negeri. Tanpa adanya keseimbangan pembangunan antara berbagai sector
tersebut akan menimbulkan adanya ketidakstabilan dan gangguan terhadap kelancaran
perekonomian sehingga proses pembangunan akan terhambat.
            Lewis menunjukkan pentingnya upaya pembangunan yang menjamin adanya
keseimbangan antara sector industry dan sector pertanian. Misalkan di sector pertanian terjadi
inovasi-inovasi dalam teknologi produksi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan domestic,
maka akan timbul: (a) surplus di sector pertanian yang dapat dijual ke sector nonpertanian atau
(b) produksi tidak bertambah berarti tenaga kerja yang digunakan bertambah sedikit dan jumlah
pengangguran bertambah tinggi.
            Jika sector industry mengalami perkembangan yang pesat maka sector tersebut akan
dapat menyerap kelebihan produksi bahan pangan maupun kelebihan tenaga kerja dari sector
pertanian. Tetapi tanpa adanya perkembangan di sector pertanian maka nilai tukar perdagangan
(terms of trade) sector pertanian akan memburuk sebagai akibat dari kelebihan produksi dan
tenaga kerja, dan ini akan menimbulkan akibat yang depresif terhadap pendapatan di sekitar
pertanian oleh karena itu di sector pertanian tidak terdapat lagi perangsang untuk mengadakan
investasi baru dan melakukan inovasi.
            Dengan demikian jika sector pertanian tidak berkembang, maka sector industry juga tidak
akan berkembang, dan keuntungan sector industry hanya merupakan bagian yang kecil saja dari
pembentukan pendapatan nasional. Oleh karenanya tabungan maupun investasi tingkatnya akan
tetap saja rendah. Berdasarkan pada permasalahan dan kelemahan yang mungkin akan timbul
jika pembangunan hanya ditekankan pada salah satu sector saja yaitu pertanian atau industry,
maka lewis menyimpulkan bahwa, pembangunan haruslah dilakukan secara serentak dan
berbarengan di kedua sector tersebut.
            Lewis menunjukkan pula tentang pentingnya pembangunan yang seimbangan antara
sector produksi barang-barang untuk kebutuhan domestic dan untuk kebutuhan luar negeri
(ekspor). Peranan sector ekspor dalam pembangunan dapat ditunjukkan dengan melihat implikasi
dari adanya perkembangan yang tidak seimbang antara sector luar negeri dan sector domestic.
Untuk menggambarkan keadaan tersebut, perekonomian dibedakan menjadi 3 sektor yaitu sector
pertanian (P), sector industry (I), dan sector ekspor (X).
            Selanjutnya dikemukakan jika I berkembang, permintaan akan barang-barang P akan
meningkat jika kenaikan produksi I merupakan substitusi impor maka devisa yang dihemat akan
dapat digunakan untuk mengimpor barang-barang P. tetapi kalau bukan barang subsitusi impor,
sementara itu sector P tidak berkembang, maka harga P akan naik atau impor akan naik,
sehingga terjadi deficit dalam neraca pembayaran.
            Tetapi kalau sector X berkembang, defisit tersebut dapat dihindarkan karena adanya
kenaikan impor akan diimbangi oleh pertambahan dalam ekspor. Dengan demikian
perkembangan sector I tanpa diikuti oleh perkembangan sektor P akan berlangsung hanya
apabila sector X juga mengalami perkembangan.
            Dengan cara yang sama dapat pula ditunjukkan bahwa perkembangan sector P tanpa
diikuti perkembangan sector I akan terus berlangsung hanya jika sector X berkembang. Satu-
satunya yang dapat berkembang tanpa bantuan perkembangan sector lain adalah sector X.
perluasan sector X  memungkinkan suatu Negara untuk mengimpor barang-barang yang
dibutuhkannya, jika barang-barang tersebut tidak dapat dihasilkan atau disediakan oleh sector
dalam negeri.
            Disamping hal diatas, perkembangan ekspor akan merangsang perkembangan sector
domestic, karena ia akan menciptakan permintaan akan barang-barang yang dihasilkan oleh
sector domestic tersebut. Perkembangan ekspor ini akan mendorong perkembangan sector
domestic juga karena: (a) berbagai fasilitas yang digunakan untuk memperlancar kegiatan ekspor
(seperti system komunikasi, transportasi, dan sebagainya) dapat digunakan pula oleh sector
domestic, dan (b) dengan menarik tenaga kerja dari sector domestic, maka sector ekspor akan
mendorong sector domestic untuk menciptakan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan
produktivitas.

Kelemahan Teori Pembangunan Seimbang


Beberapa kelemahan atau kekurangan teori Pembangunan Seimbang di antaranya adalah sebagai
berikut:
a) Penerapan teori ini melebihi kemampuan Negara berkembang untuk melaksanakan karena
keterbatasan kemungkinan penyediaan sumber dana serta tenaga ahli dan terampil untuk
dapat merealisasikannya.
b) Membangun secara serempak berbagai macam industry akan dapat meningkatkan biaya dan
biaya riil dalam berproduksi, sehingga ini dapat mengakibatkan inefisiensi dan kurang
menguntungkan.
c) Dengan mendirikan industry dan perusahaan baru dalam rangka kegiatan skala besar akan
dapat menyebabkan berkurangnya permintaan dan kemunduran pada industry atau
perusahaan yang ada sebelumnya.
d) Tidaklah selalu perlu dilakukan skala besar investasi dalam prose pembangunan, karena
banyak pula produksi barang dan jasa dapat dihasilakn secara efisien oleh investasi berskala
kecil dalam jumlah banyak.
e) Konsep pembangunan seimbang terutama berkaitan dengan sector swasta yang kurang
membutuhkan perencanaan nasional secara menyeluruh bagi mereka, yang mengharapkan
lebih banyak agar kegiatan ekonomi diserahkan saja pada mekanisme pasar. Sedangkan
investasi serentak pada semua sector memerlukan perencanaan, pengarahan dan koordinat
secara menyeluruh oleh pemerintah

Teori Pembangunan Tidak Seimbang (Unbalanced Development)


Teori pembanguan tidak seimbang ini dikemukakan oleh Hirschman dan Streeten.
Menurut mereka, pembangunan tidak seimbang adalah pola dengan system pembangunan yang
lebih cocok untuk mempercepat proses pembangunan di Negara-negara berkembang.
Pola pembangunan tidak seimbang, menurut Hirschman, adalah berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan: (a) secara historis pembangunan ekonomi yang terjadi coraknya
memang tidak seimbang, (b) untuk mempertinggi terciptanya efisiensi penggunaan sumber-
sumber daya yang tersedia, dan (c) pembangunan tidak seimbang akan menimbulkan kemacetan-
kemacetan atau gangguan-gangguan dalam proses pembangunan namun akan dapat mejadi
pendorong (tantangan) bagi pembangunan tahap selanjutnya.
Pembangunan tidak seimbang ini juga dianggap lebih sesuai untuk dilaksanakan di
Negara berkembang karena Negara-negara tersebut mengahadapi masalah kekurangan sumber
dana dan daya. Dengan melaksanakan program pembangunan tidak seimbang maka usaha
pembangunan pada suatu periode waktu tertentu dipusatkan pada beberapa sector yang akan
mendorong penanaman modal yang terpengaruh (induced investment) di berbagai sector pada
period waktu berikutnya. Oleh karena itu, sumber-sumber dana dan daya yang sangat langka itu
akan dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien pada setiap tahap pembangunan.
Strategi yang digunakan dalam system pembangunan tidak seimbang adalah bagaimana
caranya untuk menentukan proyek yang harus didahulukan atau diprioritaskan pembangunannya,
di mana proyek-proyek tersebut memerlukan modal dan sumber daya lainnya melebihi modal
serta sumber dana dan daya yang tersedia agar penggunaan berbagai sumber dana dan daya yang
tersedia tersebut bisa lebih efisien dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal.
Cara pengalokasian sumber dana dan daya tersebut dibedakan menjadi dua, yaitu cara
pilihan pengganti (substitution choices) dan cara pilihan penundaan (postponement choices).
Cara yang pertama merupakan suatu cara pemilihan proyek yang bertujuan untuk menentukan
apakah proyek A atau diganti dengan proyek B yang harus diprogramkan dan harus
dilaksanakan. Sedangkan cara yang kedua merupakan suatu cara pemilihan yang menentukan
urutan proyek yang akan dilaksanakan yaitu menentukan apakah proyek A ataukah proyek B
yang harus didahulukan.
Menurut Hirschman, dalam sector produktif mekanisme dorongan pembangunan
(inducement mechanism) yang tercipta sebagai akibat dari adanya hubungan antara berbagai
industri dalam menyediakan barang-barang yang digunakan sebagai bahan mentah dalam
industri lainnya dibedakan menjadi dua macam yaitu pengaruh keterkaitan ke belakang
(backward linkage effects) dan pengaruh keterkaitan ke depan (forward linkage effect). Pengaruh
keterkaitan ke belakang maksudnya adalah tingkat rangsangan yang diciptakan oleh
pembangunan suatu industri terhadap perkembangan industri-industri yang menyediakan input
(bahan baku) bagi industri tersebut. Sedangkan pengaruh keterkaitan ke depan adalah tingkat
rangsangan yang diciptakan oleh pembangunan suatu industry tertentu terhadap perkembangan
industri-industri yang menggunakan produk industri yang pertama sebagai input (bahan baku)
bagi mereka.

Berdasarkan kepada besarnya tingkat keterkaitan antarindustri, berbagai industry


dikelompokkan oleh Hirschman ke dalam dua golongan yaitu industri satelit (satellite industry)
dan industri non-satelit (non-satellite industry). Contoh industri satelit adalah industri ban mobil
dan industri karoseri yang merupakan industri satelit dari industri mobil. Sedangkan industri
nonsatelit adalah industri mobil dalam kaitannya dengan industri minuman ringan.
Karateristik industri satelit adalah:
a. Lokasinya berdekatan dengan industri induk (utama) sehingga akan mempertinggi efisiensi
kegiatannya.
b. Industri-industri tersebut menggunakan input utamanya berasal dari produk industri induk
(utama) atau industri tersebut menghasilkan barang yang merupakan input dari industri
induk tetapi bukan merupakan input utama.
Besarnya skala industri tersebut tidak melebihi industri induknya. Kedua golongan
industri tersebut bisa dirangsang perkembangannya karena adanya keterkaitan ke belakang atau
ke depan yang disebabkan oleh pengembangan suatu industri utama. Sebagai ilustrasi, apabila
pembangunan industri mobil mendorong perkembangan industri ban mobil, hal ini merupakan
pengaruh keterkaitan ke belakang. Sedangkan jika industri mobil mendorong perkembangan
industri karoseri maka ini merupakan pengaruh keterkaitan ke depan.
Pembangunan suatu industri induk akan menciptakan dorongan bagi perkembangan
industri satelit maupun industri nonsatelit. Tetapi yang paling banyak memperoleh dorongan
adalah industri satelit. Pertumbuhan suatu industri utama pasti akan mendorong perkembangan
industri-industri satelitnya. Sedangkan industri non-satelit baru akan terdorong
perkembangannya jika beberapa industri yang menggunakan produknya berkembang secara
bersama-sama atau berbarengan sehingga menciptakan pasar yang cukup besar untuk hasil
industri nonsatelit tersebut.

Kelemahan Teori Pembangunan Tidak Seimbang


Beberapa kelemahan atau kekurangan teori Pembangunan Tidak Seimbang di antaranya
adalah sebagai berikut:
a) Teori ini kurang perhatiannya pada komposisi, arah dan saat berjalannya pembangunan tidak
seimbang, yang akan dapat mencapai ketidakseimbangan yang optimum dalam
perekonomian keseluruhannya.
b) Mengabaikan kemungkinan perlawanan atau reaksi dari berbagai kelembagaan masyarakat
dan pelaku bisnis yang medapat perlakuan yang dianggap mereka merugikan.
c) Kekurangan mobilitas berbagai factor dan sumber internal di Negara berkembang dalam
menunjang pembangunan, karena dalam pemindahannya sering kali ditemukan hambatan-
hambatan struktural, prasarana dan sosial-budaya.
d) Dampak keterkaitan yang diperkirakan sering kali kurang di dasarkan pada fakta yang
terdapat di Negara berkembang, karena penyediaan prasarana ekonomi dan social yang
tersedia (terbatas) tidak mampu mendukung program/proyek pembangunan yang dilakukan.
e) Teori ini terlalu banyak menekankan kepada keputusan investasi semata sedangkan di
negara-negara berkembang, keputusan-keputusan administratif, manajemen dan kebijakan sering
kali banyak pula menentukan keberhasilan pembangunan.

3. Ekonomi Pembangunan : Segi Penawaran


3.1 Pengertian
Penawaran modal (supply of capital) bertalian dengan kekuatan atau kemampuan
masyarakat untuk menabung, yang kemudian digunakan untuk investasi dan
pembentukan modal. Dari sudut penawaran modal terdapat masalah sebagai
berikut,kemampuan menabung adalah kecil oleh karena rendahnya pendapatan riil dalam
masyarakat. Pendapatan yang rendah ini adalah akibat dari rendahnya tingkat
produktivitas dalam masyarakat. Prouduktivitas yang rendah ini terutama adalah karena
kekurangan pemakaian modal dan ini disebabkan oleh kemampuan menabung
masyarakat adalah kecil. Jadi ini semuanya seolah olah merupakan suatu lingkaran sebab
akibat yang tak berujung pangkal (disebut vicious circle) dari segi penawaran modal.
Mengenai lingkaran tak berujung pangkal dari segi penawaran akan modal ini dapat
dikemukakan secara skematis sebagai berikut :

Kemampuan menabung
kecil (rendah)

Pendapatan riil
Kekurangan modal rendah

Keterangan : tanda panah berarti disebabkan oleh


Penawaran agregat (aggregate supply) merupakan penawaran barang atau jasa
Produktivitas rendah
yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dalam kegiatan perekonomian suatu
negara. Penawaran agregat juga dikenal sebagai output total, keseluruhan penawaran
barang dan jasa yang diproduksi pada tingkat harga tertentu dan dalam kurun waktu
tertentu. Besaran penawaran agregat dapat ditampilkan dengan kurva penawaran agregat
yang menunjukkan hubungan antara tingkat harga dan kuantitas output yang dihasilkan
perusahaan-perusahaan. Biasanya, hubungan antara penawaran agregat dengan tingkat
harga bersifat positif.
3.2 Kurva Penawaran Agregat
Kurva penawaran agregat dapat menunjukkan hubungan antara tingkat harga
barang dan jasa di suatu negara dengan kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan
perusahaan di negara tersebut. Bentuk kurvanya memanjang dari kiri bawah ke kanan
atas jika jangka waktunya pendek (short run) dan memanjang dari bawah ke atas secara
vertikal atau nyaris vertikal jika jangka waktunya panjang (long run).

Investasi bersih (net invesment), perkembangan teknologi yang memicu


produktifitas dan perubahan kebijakan yang positif dapat meningkatkan penawaran
agregat baik penawaran jangka pendek maupun jangka panjang. Perubahan kebijakan
seperti menetapkan harga barang umum menjadi rendah dapat meningkatkan efisiensi
ekonomi dan menggeser kurva penawaran agregat ke kanan.
Hal-hal lainnya yang dapat mempengaruhi kurva penawaran agregat baik kurva
penawaran agregat jangka pendek maupun jangka panjang adalah sebagai berikut:
1. Guncangan Penawaran (Supply Shock) – Guncangan penawaran adalah peristiwa
mendadak yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan dan penurunan jumlah output
dalam waktu sementara. Misalnya adalah kondisi cuaca yang mendadak buruk dan
mempengaruhi output perusahaan serta serangan militer yang menghambat output.
2. Perubahan Sumber Harga – Berubahnya sumber harga dapat mengubah penawaran
agregat jangka pendek.
3. Perubahan Perkiraan Terhadap Inflasi – Jika perusahaan memperkirakan di masa yang
akan datang harga berang akan melambung, maka mereka akan berfikir untuk tidak
menjual dulu barang mereka saat ini. Sehingga kurva penawaran agregat dapat bergeser
ke kiri.
Selain itu, variabel lain yang dapat menggeser kurva penawaran agregat yaitu
perubahan jumlah dan kualitas pekerja, inovasi teknologi, peningkatan upah, peningkatan
biaya produksi, perubahan terhadap kebijakan pajak dan subsidi perubahan karena inflasi.
Beberapa dapat meningkatkan penawaran agregat dan sisanya dapat mengurangi
penawaran agregat.
3.3 Penawaran Agregat Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam penawaran agregat jangka pendek, tingginya permintaan (dan harga) yang
disebabkan oleh pemanfaatan input dalam proses produksi berpengaruh terhadap
penawaran agregat. Tingkat modal dalam penawaran agregat jangka pendek tetap, dan
perusahaan tidak sempat meningkatkan produktifitasnya misalkan dengan cara
membangun pabrik baru ataupun menggunakan teknologi baru. Namun perusahaan tetap
dapat meningkatkan penawarannya dalam jangka waktu yang pendek ini misalnya
dengan cara mengoptimalkan faktor produksi, memberikan jam tambahan kepada
pekerjanya dan mengoptimalkan produksi yang sudah ada. Kurva penawaran agregat
jangka pendek dapat bergeser karena beberapa faktor, diantaranya adalah:
 Tingkat kekakuan pasar tenaga kerja.
 Perkiraan inflasi.
 Upaya perusahaan untuk mendorong upah riil pekerja
 Perubahan biaya produksi yang tidak berkaitan dengan upah pekerja, seperti misalnya
biaya energi.
Sebaliknya dalam penawaran agregat jangka panjang, penawaran agregat tidak
dipengaruhi oleh tingkat harga dan hanya dapat dikendalikan oleh peningkatan produksi
dan efisiensi. Peningkatan yang dimaksud meliputi peningkatan keahlian dan pendidikan
para pekerja, perkembangan teknologi dan peningkatan jumlah modal. Menurut
pandangan ekonomi tertentu seperti teori Keynesian, ditegaskan bahwa tingkat harga
dalam penawaran agregat jangka panjang tetap memiliki elastisitas pada titik tertentu.
Begitu titik ini tercapai, maka penawaran agregat menjadi tidak peka lagi terhadap
perubahan tingkat harga.
3.4 Hubungan Penawaran dengan Modal Pembangunan
Jika pemerintah suatu Negara ingin menaikkan taraf hidup rakyatnya, maka
kapasitas produksi nasional perekonomiannya harus diperbesar, stok capital juga harus
diperbesar. Untuk itu diperlukan investasi (bruto) yang besar.
Jadi kebijakan pembangunan ekonomi merupakan usaha untuk memperbesar
kapasitas produksi nasional, yaitu dengan melaksanakan investasi nasional yang cukup
besar.

4. Ekonomi Pembangunan : Segi Permintaan


4.1. Pengertian
Permintaan adalah keinginan yang disertai dengan kesediaan serta kemampuan untuk
membeli barang yang bersangkutan. Setiap orang boleh berkeinginan apa saja yang
diinginkannya, tetapi jika keinginannya itu tidak ditunjang oleh kesediaan serta kemampuan
untuk membeli, keinginannya itupun hanya akan tinggal keinginan saja. Dapat disimpulkan
bahwa keinginan memang tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap harga, sedangkan
permintaan berpengaruh. Permintaan dipengaruhi harga barang itu sendiri, harga barang
pengganti dan pelengkap, daya beli masyarakat, jumlah penduduk, tingkat pendepatan serta
selera masyarakat. Sedangkan permintaan agregat adalah jumlah barang dan jasa akhir
yang dihasilkan dalam kegiatan perekonomian yang diminta pada berbagai tingkat harga
tertentu.
Hukum permintaan menyatakan “jumlah barang dan/atau jasa dan tingkat harga memiliki
hubungan berbanding terbalik. Artinya, jika harga naik, jumlah barang dan/atau jasa yang
diminta berkurang. Jika harga turun, jumlah barang dan/atau jasa yang diminta akan
bertambah.” Hukum permintaan berlaku dengan asumsi faktor selain harga dianggap tetap
(cateris paribus).

4.2. Kurva Permintaan


Kurva Permintaan agregat sendiri ialah suatu kurva yang menjelaskan hubungan antara
jumlah output agregat yang diminta oleh suatu konsumen dengan tingkat harga tertentu
ketika semua variabel lainnya dianggap konstan.
 Ada dua cara yang digunakan untuk menurunkan kurva permintaaan agregat, yaitu
sebagai berikut :

1. Pendekatan teori jumlah uang


Pendekatan teori jumlah uang ini menerangkan bahwa permintaan agregat ditentukan
semata-mata oleh jumlah uang yang ada.
2. Pendekatan komponen permintaan agregat
Pendekatan yang kedua didasarkan pada pengujian perilaku bagian-bagian komponen
permintaan agregat seperti investasi, konsumsi, pengeluaran pemerintah  dan ekspor.
Pendekatan ini juga mempertimbangkan jumlah uang dalam menentukan permintaan
agregat, namun tidak secara langsung. Melainkan dengan cara mempertimbangkan
bagaimana perubahan jumlah uang tersebut mempengaruhi komponen permintaan agregat
tersebut.
Kenaikan di dalam faktor-faktor Yd, C, I, Ms/P, G, Yf, Pf, dan penurunan di i, T, dan ER
akan membawa kenaikan di dalam permintaan agregat (AD), atau menggeser kurva
permintaan agregat ke kanan. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan dalam faktor-faktor Yd,
I, C, Ms/P, G, Yf, Pf, dan kenaikan di dalam i, T, dan ER akan menurunkan AD atau
menggeserkan kurva AD ke kiri atas.
Pergeseran AD ke AD1 terjadi akibat adanya kenaikan di dalam Yd, C, I, G, Yf, Pf, dan
Ms/P, dan penurunan di dalam i, T, dan ER. Sebaliknya apabila pergeseran dari AD ke AD2
terjadi sebagai akibat dari penurunan di dalam Yd, I, C, G, Ms/P, Yf, dan Pf, dan kenaikan
dari i, T dan ER.

4.4. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Agregat dalan Suatu Kegiatan


Perekonomian adalah sebagai berikut :
 Pendapatan disposable (Yd) atau pengeluaran konsumsi (C)
 Tingkat bunga (i)
 Kepercayaan dunia bisnis (business confidence) atau investasi (I)
 Jumlah uang beredar riil (real money supply atau Ms/P)
 Pengeluaran pemerintah (G)
 Pajak (T)
 Pendapatan luar negeri (Yf)
 Harga luar negeri (Pf)
 Nilai tukar riil (exchange rate atau ER)
4.5. Faktor-faktor yang menyebabkan kurva permintaan agregat ber-slope negatif yaitu
sebagai berikut :
 Efek Kekayaan
Biaya yang digunakan oleh produsen tergantung pada kekayaan yang dimiliki. Keduanya
memiliki satu hubungan yang saling berkaitan satu sama lain. (Kekayaan mengacu pada
pemegangan uang, saham, obligasi, rumah serta asset fisik yang lain. Kekayaan yang
dimiliki dipengaruhi oleh tingkat harga).
 Dampak Harga Bunga
Efek harga bunga ditujukan karena perubahan tingkat harga mempengaruhi harga bunga.
Efek ini juga mempengaruhi produksi & investasi.
 Efek Pembelian Asing (Ekspor & Impor)
Jumlah ekspor & impor dalam suatu kegiatan perekonomian tergantung pada harga
Domestic asing dan Kurva permintaan agregat.
 Menurunkan Kurva Permintaan Agregat
 4 Komponen yang dapat menurunkan kurva permintaan agregat
1. Pengeluaran konsumen ( customer expenditure )
Pengeluaran konsumen yaitu jumlah permintaan yang diminta oleh konsumen akan barang
dan jasa.
2. Pengeluaran investasi yang direncanakan ( planned investment spending )
Pengeluaran investasi yang direncanakan yaitu jumlah pengeluaran yang direncanakan
oleh perusahaan atas mesin pabrik, dan barang modal lainnya yang baru ditambah
pengeluaran yang direncanakan atas  rumah baru.
3. Pengeluaran pemerintah ( goverment spending )
Pengeluaran pemerintah yaitu  pengeluaran  yang dikeluarkan oleh semua jajaran
pemerintah atas barag dan jasa yang dibeli.
4. Ekspor bersih ( net export )
Ekspor bersih yaitu pengeluaran luar negeri bersih atas barang dan jasa domestik, sama
dengan ekspor dikurangi impor.

KENDALA DALAM MODAL PEMBANGUNAN


Di Negara terbelakang tingkat pembentukan modal umumnya sangatlah rendah. Hal ini
terjadi sebab Negara tersebut kekurangan factor-faktor yang menentukan pembentukan modal.
Pembentukan modal tergantung pada tabungan, lembaga yang menggerakkan tabungan, dan pada
penginvestasian tabungan. Kegagalan tiga tahap inilah yang menyebabkan pembentukan modal
menjadi rendah. Tingkat pembentukan modal di Negara terbelakang hanya sekitar 5%, Amerika
15%, dan di Jerman Barat kurang lebih 25%. Alasan pokok rendahnya tingkat pembentukan
modal di Negara terbelakang adalah :
1. Pendapatan Rendah.
Tabungan yang nominalnya besar sangatlah penting untuk pembentukan modal. Besarnya
tabungan seseorang tergantung pada pendapatan yang diperoleh. Karena pertanian, industri, dan
sektor lain di Negara terbelakang masih belum maksimal, output nasional menjadi rendah begitu
pula dengan pendapatan nasionalnya. Hal ini menyebabkan pendapatan per kapita Negara
tersebut menjadi rendah. Di Negara lain yang kecenderungan konsumsinya tinggi, bahkan
mendekati angka satu yang berarti bahwa semua pendapatan yang diperoleh di habiskan untuk
kegiatan konsumsi. Sehingga, tidak ada pendapatan yang tersisa untuk di tabung dan tingkat
pembentukan modal menjadi rendah.
2. Produktivitas Rendah.
Ketika tingkat produktivitas rendah, laju pertumbuhan pendapatan nasional, tabungan, dan
pembentukan modal juga akan rendah. Sumber alam sering digunakan secara keliru atau malah
tidak digunakan, karena langkanya buruh yang efisien, pengetahuan tekhnologi,dan tidak
tersedianya modal yang cukup. Faktor-faktor tersebut dapat menghalangi kemungkinan
seseorang untuk meningkatkan pendapatannya, sehingga ia tidak mempunyai kemampuan untuk
menabung dan berinvestasi akibatnya laju pembentukan modal pun tidak meningkat.
3. Alasan Kependudukan.
Negara yang laju pertumbuhan penduduknya sangat tinggi juga menyebabkan tingkat
pembentukan modal menjadi rendah. Hal ini terjadi karena keseluruhan pendapatan yang
diperoleh digunakan untuk menghidupi tambahan penduduk dan hanya sedikit yang di tabung
untuk pembentukan modal. Di samping itu pertambahan jumlah penduduk juga memperberat
kelangkaan modal karena diperlukan investasi yang besar untuk membekali tenaga buruh yang
membengkak.
Di keluarga yang ekonominya menengah ke bawah jumlah anak yang terlalu banyak juga
merupakan beban berat bagi orang tua untuk membesarkannya dan karena itu mustahil untuk
menabung bagi pembentukan modal. Pada akhirnya masalah kependudukan juga menghambat
laju pembentukan modal.
4. Kekurangan Wiraswasta.
Dalam kenyataannya kewiraswastaan merupakan faktor penting dalam proses pembangunan
ekonomi. Tetapi, kecilnya pasar dan kurangnya modal, serta keinginan seseorang untuk
berwiraswasta yang sangat rendah dapat menyebabkan laju pembentukan modal suatu Negara
menjadi rendah.
5. Kekurangan Overhead Ekonomi.
Kehadiran overhead ekonomi sangatlah penting untuk menciptakan iklim usaha dan
membuat investasi berbuah, karena dalam batas tertentu pembentukan modal tergantung
padanya. Akan tetapi, overhead ekonomi seperti sumber tenaga, angkutan, perhubungan, air dan
sebagainya jarang tersedia di Negara terbelakang. Kekurangan ini dapat memperlambat usaha,
kegiatan investasi, dan tetntu saja laju pembentukan modal.
6. Kekurangan Peralatan Modal.
Keseluruhan investasi modal di Negara berkembang hanya sekitar 5-6% dari pendapatan
nasional, sedangkan di Negara maju 15-20%. Laju pertumbuhan modal suatu Negara akan
rendah saat peralatan modalnya kurang tidak hanya persediaan, tetapi juga modalnya kurang.
Ketika modal kurang tidak mungkin untuk mengganti peralatan modal yang ada dan bahkan
untuk menutup penyusutan pun Negara itu sudah tidak mampu.
7. Ketimpangan Dalam Distribusi Pendapatan.
Ada ketimpangan yang tajam di dalam distribusi pendapatan yang membuat laju
pembentukan modal tetap rendah. Tetapi, ketimpangan pendapat tidak mengandung arti bahwa
tabungan lebih besar. Kenyataannya hanya 3-5% penduduk yang menabung dan orang-orang ini
berada di puncak piramida. Akan tetapi, mereka menginvestasikan pendapatannya pada saluran
yang tidak produktif, seperti emas, perhiasan, batu permata, perumahan, dan uang asing. Hal ini
memperkecil investasi nyata dan laju pertumbuhan modal pun tetap rendah.
8. Pasar sempit.
Pasar yang sempit merupakan penghalang bagi tumbuhnya usaha dan inisiatif. Pada
masyarakat dengan perekonomian menengah ke bawah, harga barang yang terlalu mahal
menyebabkan mereka tidak mampu membelinya.
Akibatnya permintaan akan barang tersebut menjadi sedikit kerana pendapatan mereka rendah.
Dengan demikian pasar yang sempit ini menghalangi investasi karena pasar domestik
mempunyai kemampuan yang terbatas untuk menyerap penawaran suatu produk baru. Ini
membuat pembentukan modal tetap berada dalam laju yang rendah.
9. Kekurangan Lembaga Keuangan.
Alasan lain yang menyebabkan laju pembentukan modal menjadi rendah adalah kurangnya
lembaga keuangan untuk menyerap dana untuk investasi. Untuk tujuan-tujuan produktif
diperlukan pengeluaran modal yang cukup besar. Tetapi ini tidak memungkinkan karena kurang
berkembangnya pasar uang, pasar modal, lembaga kredit, dan bank. Sebagai akibatnya, tidak
dapat dilakukan pengerahan dana tabungan dalam jumlah yang cukup untuk tujuan investasi.
10. Keterbelakangan Ekonomi
Efisiensi buruh yang rendah, tidak adanya spesialisasi, aktivitas usaha yang terbatas,
ekonomi yang terbengkalai, nilai dan struktur yang masih tradisional dapat menjadi kendala
dalam melakukan tabungan dan investasi, serta mencegah naiknya laju pembentukan modal.

11. Keterbelakangan Tekhnologi.


Sebagai akibat dari teknik produksi yang kuno, produktivitas per unit buruh dan
produktivitas per unit modal tetap rendah. Situasi ini menyebabkan pendapatan nasional tetap
rendah dan laju pertumbuhan pembentukan modal tidak dapat meningkat.
12. Anggaran Defisit.
Salah satu sumber utama pembentukan modal adalah anggaran defisit. Namun, jika
defisitnya sudah melampaui batas keselamatan maka ia cenderung menurunkan laju
pertumbuhan pembentukan modal. Hal ini terjadi apabila anggaran defisit menjurus ke situasi
inflasioner. Ketika harga naik, barang-barang menjadi mahal. Akibatnya konsumen dipaksa
menggunakan pendapatannya lebih besar untuk belanja, dengan demikian ini mempersulit
dirinya untuk menabung.
13. Kenaikan Pajak.
Jika pemerintah menaikkan pajak dalam jumlah ataupun tingkatnya sebagai upaya tabungan
paksa, maka pendapatan konsumen akan berkurang. Hal ini terjadi baik pada pajak langsung
maupun pajak tidak langsung.
Pajak langsung mengurangi pendapatan secara langsung, sedangkan pajak tidak langsung
mengurangi pendapatan karena kenaikan harga barang. Karena hal tersebut, maka tabungan dan
laju pembentukan modal akan terhambat.
14. Demonstration effects.
Menurut Nurkse, salah satu alasan rendahnya laju pertumbuhan adalah demonstration effects.
Setiap orang terdorong untuk meniru gaya hidup tetangga yang makmur. Terdapat
kecenderungan pada sebagian penduduk untuk meniru standar konsumsi yang tinggi seperti di
Negara maju. Demonstration effects biasanya di sebabkan oleh film asing, majalah asing, atau
kunjungan ke luar negeri. Akibatnya, kenaikan pendapatan lebih besar di gunakan untuk
konsumsi barang-barang mewah dan dengan demikian tabungan menjadi tidak seberapa.
Akhirnya, laju pembentukan modal gagal meningkat.