Anda di halaman 1dari 1

Keduanya berjalan bergandengan tangan. Andi, enggan memulai percakapan.

Ia sengaja
menunggu Ratih yang memulai. Bukankah Ratih yang harus menjelaskan? “Begini Andi sayang,
my lope lope ku!,” Ratih memulai topik baru, mungkin merasa tak enak sendiri membiarkan
kekosongan terlalu lama di antara mereka. “Tadi itu Antonio hanya minta tolong agar aku jadi mak
comblang. Cuma itu aja kok. Kamu tahu kan anak pindahan yang baru masuk di kelas tiga B? Si
Amelia. Itu yang rambutnya selalu dikepang dua!”

Andi terbelalak mendengar cerita Ratih. Gila! Bagaimana si buaya Antonio bisa naksir seorang
murid yang kelihatan sangat alim dan kabarnya murid pindahan dari sebuah sekolah di pinggiran
kota. Dari penampilannya, Amelia terlihat biasa-biasa saja. Berbeda dengan berapa teman sekolah
mereka yang kabarnya berhasil ditaklukan Antonio dan jatuh ke dalam pelukan buaya itu.
Menarik. Jika benar Antonio naksir Amelia, ini sebuah berita besar. Tapi mengapa selera Antonia
berubah sedrastis ini. Bukankah Antonia suka kepada para siswi yang sudah teremansipasi. Dan
tidak beranggapan bahwa seks pra nikah adalah suatu hal yang tabu? Berpikir sampai di sini, Andi
lantas curiga kepada Ratih. Jangan-jangan gadis ini berbohong.

“Ngarang! Kamu pikir gue semudah itu percaya sama cerita loe? Jangan-jangan kamu yang tadi
ditembak Antonia!” desak Andi sambil melepaskan genggaman tangan Ratih dari pergelangan
tangan kirinya.
“Pleasee deh Andi. Jangan konyol gitu dong. Masa sama pacar sendiri kamu gak bisa percaya! Ntar
kalo aku sudah resmi jadi istri kamu, kalo kamu masih suka kayak gini, gue tinggali loe, biar
kedinginan!” ujar Ratih tak kehilangan akal meledek Andi.
“Siapa juga yang mau nikah dengan wanita pembohong dan suka maen belakang!”
“Siapa yang pembohong? Siapa yang suka maen belakang! Itu kan, gak bisa percaya ma pacar
sendiri! Tapi gue suka lho kalo kamu cemburu gini, itu artinya kamu benar-benar cinta kepadaku!
Benar begitu kan Andi, ngomong dong I Love U, ngomong aja gak usah pake bunga Ndi juga gak
usah pake ngasih hadiah kayak di sinetron, gue tahu tanggal gini kamu lagi tongpes kan, cukup
ngomong aja gue udah puas kok!” ujar Ratih sambil bergayut manja. Andi yang tak menyangka
Ratih bakal bersikap seperti itu, hampir terjatuh lantaran tak bisa menahan beratnya Ratih. Tak
urung Andi jadi terpingkal-pingkal sendiri. Seketika, amarahnya hilang. Menghadapi tingkah Ratih
yang kadang kekanak-kanakan Andi memang tak pernah keluar sebagai juara bertahan.

Sebenarnya Andi paham, Ratih bukanlah tipe wanita gampangan. Wanita yang mudah dikibulin
seorang buaya kayak Antoni. Tapi sebagai lelaki, dan pacar dari Ratih, dan juga ia tak terlalu
akrab dengan Antoni, pemandangan di belakang sekolah tadi benar-benar membuat dirinya
terbakar api cemburu. Harga dirinya sebagai seorang lelaki dan kekasih dari wanita yang diajak si
buaya itu untuk berbicara di belakang kelas sudah tersinggung. Jika tadi Ratih tidak melerai
mereka, Andi sudah nekat menghajar Antoni, tak peduli si buaya itu memiliki banyak centeng
setia.

“Benar kan kamu gak bohong Rat? Benarkan kamu masih sayang kepadaku?” Andi bertanya
sambil memperhatikan wajah kekasihnya.
“Ihhhhh lebay loe, tumben kamu lebay kayak gini say!” ujar Ratih sambil melekatkan punggung
tanganya ke arah jidat Andi. “Tidak ada tanda-tanda kamu terserang demam! Semua normal,
Cuma lebaymu yang naik lima puluh derajat celcius. Cieee cieee!” ujar Ratih sambil tertawa.
“Heran, diajak ngomong serius, gak pernah nyambung, dasar cewek telmi!”
“Siapa yang telmi?” ujar Ratih cemberut. Hanya kata ini yang mampu membuat Ratih jadi uring-
uringan. Telmi? Masa seorang jago mate-matika di kelas dibilang telmi? Jika bukan andi yang
berkata, Ratih bakal menantang siapa saja untuk menyelesaikan soal-soal mate-matika yang
rumit rumit sebanyak sepuluh soal untuk membutikan dirinya tidak telmi alias telat mikir.

Beri Nilai