Anda di halaman 1dari 4

Nama: Andien Firsty Brylyandita Febriana

NIM: P07120219030

Prodi: STr Keperawatan + Profesi Ners

Kasus: Dana Rekonstruksi Gempa Padang Diduga Dikorupsi Ketua


Pokmas

Padang - Penyaluran dana gempa 2009 di Kota Padang masih


menyisakan beberapa permasalahan. Sedikitnya, 25 kepala keluarga di
Kampungjua, Kecamatan Lubukbegalung menjadi korban, mengeluhkan
besarnya “upeti” yang harus dibayarkan supaya bisa menerima dana
gempa tersebut, yakni berkisar Rp 1 juta – Rp 2 juta.

Dana itu dipungut Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Melati,


Mulyani, 31, yang juga Ketua RT04/RW01. Modus yang dilakukan Ketua
Pokmas Melati itu, dengan cara menakut-nakuti korban gempa, kalau
tidak membayar warga tidak akan menerima. Selain itu, warga yang tidak
membayar harus mengurus sendiri. Karena buta dengan prosedur, warga
terpaksa menyerahkan uang itu ke ketua Pokmas.

“Uang itu kami bayarkan dua kali. Pertama kami membayar Rp 1


juta pada Januari (tahap I), setelah itu Maret (tahap II) kami juga
diharuskan membayar ke ketua Pokmas Rp 1 juta lagi. Menurut Mulyani,
dana itu akan diserahkan kepada fasilitator dan kepada preman di wilayah
itu,” ujar salah seorang korban gempa di RT04/ RW 01 yang minta
namanya tidak disebutkan. Korban rumah rusak sedang itu, mengaku
dipaksa memberikan uang, setelah menerima dana gempa tahap I
sebesar Rp 5 juta dan tahap II Rp 5 juta. “Ketua Pokmas tersebut
memberikan dana gempa itu malam hari. Saat itu, ia langsung meminta
jatahnya Rp 1 juta. Karena dipaksa dan tidak ingin menimbulkan masalah,
uang tersebut saya berikan malam itu juga, sehingga saya hanya
menerima Rp 8 juta,” jelasnya.

Kebijakan itu dilakukan sepihak. Sebelum memotong uang itu,


ketua Pokmas pernah melakukan rapat, namun rapat itu tidak dihadiri oleh
fasilitator, Tim Pendamping Masyarakat (TPM), bahkan Lurah setempat.

Di tempat terpisah, warga lainnya dari RT05/ RW02, yang juga


tidak mau disebutkan namanya mengatakan, ia dikenai “upeti” sebesar Rp
2 juta. Tapi, ia hanya memberikan uang tersebut Rp 1 juta ke ketua
pokmas. Sementara untuk kedua kalinya, ia tak mau membayarkan lagi,
setelah ditanyakan kepada fasilitator, Sutomo, yang tidak mengakui dana
itu untuk dirinya.

“Saya dan keluarga ditakut-takuti ketua Pokmas. Kalau tidak


membayar, akan didatangi preman, karena sebagian uang itu akan
diberikan ke mereka. Namun gertakan tersebut tidak pernah terbukti
selama ini, dan saya hanya menerima uang Rp 9 juta,” ujarnya.

Menurutnya, uang Rp 2 juta disetorkan oleh 20 KK yang menjadi


korban gempa. Sementara yang hanya membayarkan uang Rp 1 juta
hanya berjumlah lima orang. Setelah dilakukan pengecekan dengan cara
menanyai kepada korban gempa lain yang berada di kelompok Melati
beberapa waktu lalu.

Ketua Pokmas Melati Mulyani saat ditemui wartawan kemarin


(28/3) mengatakan, dirinya tak pernah melakukan pemotongan dana
gempa ke warga. Namun ia mengakui, menerima uang pamrih yang
diberikan 25 warga korban gempa Rp 50 ribu-Rp 100 ribu. “Tidak benar
saya melakukan pemotongan dana gempa itu. Namun saat memberikan
uang kepada warga, warga memberikan saya uang pamrih atau uang
jasa, karena telah membantu warga mendapatkan dana tersebut,”
jelasnya.
Dilanjutkannya, ia tidak pernah mengatakan kepada warga seputar
pemotongan dana untuk preman. Ia juga membantah menyerahkan dana
gempa tersebut pada siang hari, bukan malam hari sesuai penuturan
warga. Adanya indikasi pemotongan dana gempa di tengah warga
Kampungjua Rp 1 juta sampai Rp 2 juta tersebut, menurut Dekan Fakultas
Hukum Universitas Eka Sakti, Adhi Wibowo, merupakan tindak pidana
intimidasi dan pengancaman pada warga sesuai Pasal 368 KUHPidana.

“Dalam pasal itu telah disebutkan, orang yang melanggar pasal


tersebut diancam hukuman maksimal sembilan tahun penjara. Namun,
kalau ketua Pokmas tersebut mengambil uang sebelum menyerahkannya
kepada warga, maka ia akan diganjar dengan UU No 20/ 2002, tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” ujarnya, yang dihubungi melalui
telepon.

Menyikapi indikasi itu, hari ini, Badan Penanggulangan Bencana


Daerah (BPBD) Kota Padang menurunkan tim menelusuri informasi
tersebut. “Kami akan langsung melakukan pengecekan terkait kasus
tersebut. Kalau nantinya terbukti, masyarakat setempat bersama BPBD
akan melaporkan kasus tersebut ke polisi. Ini perlu sebagai efek jera
terhadap orang-orang yang berniat mengambil keuntungan terhadap
korban gempa,” jelas Kepala BPBD Padang, Dedi Henidal. (kd)

Sumber: jpnn, Selasa, 29 Maret 2011

Sumber Foto: tempointeraktif.com

Analisa :

Menurut saya kasus ini merupakan suatu hal yang sangat


memalukan.Ketika warga sedang kesusahan skibat adanya bencana
gempa ketua Pokmas tersebut malah melakukan tindakan yang tidak
sepantasnya,walaupun ia tidak mengakuinya.sebagai ketua Pokmas ia
harusnya memperjuangkan nasib masyarakat,bukannya malah mengambil
keuntungan untuk diri sendiri.hal ini membuat masyarakat makin terbebani
dari segi ekonomi,mental mereka pun juga tertekan. Warga-warga sangat
membutuhkan tempat untuk tinggak akibat rumahnya hancur karena
gempa.keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan.padahal masyarakat
hanya mendapatkan bantuan sebesar Rp.5 juta dan itupun dilakukan 2
tahap.tetapi untuk mendapatkan bantuan tersebut masyarakat malah
dipungut biaya,padahal itu adalah hak mereka yang harusnya mereka
terima tanpa syarat apapun. Dengan dana bantuan yang tidak terlalu
besar tersebut,masyarakat bisa memulai hidup yang lebih baik.Harusnya
umpeti tidak lagi diterapkan kepada masyarakat masyarakat kecil.

Dalam kasus ini harusnya badan penanggulangan bencana


mengawasi kegiatan kegiatan yang dilaksanakan dilapangan agar tidak
terjadi ketimpangan ketimpangan seperti yang terjadi pada kasus
diatas.Badan badan pengawas harus menjalankan tugasnya dengan rasa
penuh tanggung jawab agar tidak ada miss communication antar instansi
instansi

Dan hal yang paling penting adalah seharusnya warga


Kampungjua, melaporkan hal itu ke polisi. Di ranah hukum, polisi pun
harus segera menindaklanjuti laporan warga supaya, kasus tersebut
jelas.Apalagi hal ini menyangkut hak hidup orang banyak. Ini masalah
antara hak dan tanggung jawab antara lembaga lembaga.