Anda di halaman 1dari 2

Rachel Aprilia Tumiwa

1706071756
Filsafat Hukum B – Paralel

SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE AND SOCIOLOGY LAW

Perkembangan konsep Sociology of Law dan Sociological Jurisprudence adalah pada


pemikiran bahwa hukum pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kondisi social sebuah
masyarakat. Masyarakat dan hukum adalah saling mengisi satu sama lain, sehingga perlu
dicari hubungan antara hukum perbedaan.
Pada intinya konsep sociological jurisprudence dan sociology of law melihat konsep
yang sama, namun tetap saja ada perbedaan diantara kedua ilmu hukum ini. Sogiological
jurisprudence melihat permasalah dari konteks hukum ke masyarakat, sedangkan sociology
of law melihat dari masyarakat ke hukum.
Sociological Jurisprudence pada awal keberadaannya banyak dipengaruhi oleh teori
Charles Darwin mengenai teori evolusi. Pertama-tama Herbert Spencer yang berkontribusi
untuk menerapkan teori evolusi kedalam ilmu sosial, ia percaya bahwa evolusi menjadi kunci
bagi kehidupan manusia, karena itu sebaiknya proses yang perkembangan sosial dan hukum
berjalan sesuai dengan hukum evolusi yang akan berjalan pararel dengan perkembangan
evolusi biologis.
Teori laissez faire berada dalam tataran pemahaman ekonomis dan pemahaman
filosofis mengenai sikap tindak. Teori ini muncul sebagai reaksi dari merkantilisme yang
menganggap bahwa Negara mempunyai kewajiban untuk mengembangkan kesejahteraan
ekonomi Negara dengan mengatur perdagangan antar Negara dan perdagangan di daerah
jajahan. Adam Smith mengatakan bahwa campur tangan Negara justru akan menimbulkan
kerugian bagi perekonomian Negara, dan kesejahteraan tertinggi serta keuntungan bagi
manusia pada umumnya dapat tercapai apabila perekonomian diserahkan pada mekanisme
alami ekonomi manusia. Sejalan dengan teori Adam Smith, Maltus dan Ricardo mengatakan
bahwa tidak ada gunanya untuk memperbaiki tingkat hidup rakyat miskin dengan peraturan
perundang-undangan yang sifatnya mengobati karena justru akan menambah situasi mereka
menjadi semakin buruk.
Ahli hukum lain yang pandangannya berpengaruh besar terhadap perkembangan
sociology of law dan sociological jurisprudence lainnya adalah Max Webber. Webber
melihat bahwa hukum adalah sesuatu yang tidak hanya berdimensi normatif namun juga
bernuansa politik, sosial, ekonomi dan budaya. Norma hukum yang ada juga bukan hanya
sebatas peraturan akan tetapi juga konvensi (perjanjian antar masyarakat). Konvensi akan
lebih menimbulkan reaksi masyarakat karena berasal dari masyarakat sendiri sehingga tidak
memerlukan lembaga khusus untuk memberikan sanksi apabila terjadi pelanggaran norma
dalam masyarakat. Berlainan dengan peraturan yang abila terjadi pelanggaran maka
diperlukan aparat untuk dapat memberikan sanksi bagi si pelanggar.
Istilah sociological jurisprudence jarang digunakan saat ini. Sekarang cenderung
dianut oleh “studi social-hukum”. Advokasi studi sosial-hukum menekankan pentingnya
menempatkan hukum dalam konteks sosialnya, menggunakan metode penelitian, mengakui
bahwa banyak pertanyaan yurisprudensi tradisional bersifat empiris dan tidak murni
konseptual. Tema yang meresap adalah kesenjangan antara hukum dalam buku dan hukum
dalam tindakan.
Menurut P. Zelnick, pada dasarnya ada tiga tahapan dalam proses perkembangan
sociological jurisprudence, yaitu:
1. Tahap ketika Pound merintis sociological jurisprudence untuk pertama kalinya.
Dalam tahap pertama ini dirumuskan bahwa tugas lawyer adalah sebagai engineer
masyarakat (social engineer), dan program aksi mereka adalah mencoba untuk
menyelaraskan kepentingan-kepentingan individu dan kebutuhan sosial pada nilai-
nilai demokrasi yang dimiliki masyarakat barat
2. Ketertarikan dengan metodologi. Pada masa ini keahlian para lawyer dan para
sosiolog disintesiskan, para yuris akhirnya melatih diri mereka dengan metodologi
dan metode penelitian sosiologi, seperti tentang survey dan statistika.