Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN LAPANGAN

Kampung Naga merupakan kampung adat yang bertempat di Desa Neglasari


Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Daerah ini menjadi unik karena berada tidak
jauh dari kehidupan modern tetapi masih memelihara dan mempertahankan adat-istiadat dan
kebudayaan leluhurnya serta letaknya yang berada pada jalur regional antara Garut-
Tasikmalaya, tepatnya pada 33 Km kearah barat Tasikmalaya dengan ketinggian 488 m dari
permukaan laut dengan luas area pemukiman Kampung Naga seluas 1,5 ha. Batas-batas
daerah kampung Naga yaitu sebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan dan
sebelah barat dan selatan dibatasi oleh perbukitan.

Dan keadaan kampungnya cukup bersih dan terpelihara dengan baik. Luas Kp Naga
1,5 Ha. Terdiri dari 112 bangunan, 102 kepala keluarga, 298 Jiwa. Menuju Kp Naga harus
menuruni 444 tangga. Jumlah bangunan dan KK tdk boleh bertambah. Tiap rmh hanya dihuni
1 KK tdk boleh lebih. Bentuk bangunan di Kp naga harus sama. Mata pencaharian bertani
untuk konsumsi keluaga, dijual keluar jika ada nilai tambah.

1. Keadaan Masyarakat

Masyarakat Kampung Naga berjumlah 298 jiwa dengan 102 KK. Keadaan
masyarakat Kp. Naga sama halnya dengan masyarakat biasa. Mata pencaharian utama
penduduk Kampung Naga adalah bertani sistem tadah hujan atau irigasi dari air
pegunungan. Lahan pertanian masih diolah dengan cara dan peralatan tradisional,
dicangkul, diguru, diwaluku, dan lain-lain. Sebagai penyubur, umumnya digunakan
pupuk kandang.Selain bertani padi, sekarang ini sebagian besar penduduk juga lebih
menekuni produksi barang handicrafts, terutama karena semakin tingginya arus
wisatawan mancanegara yang berkunjung ke perkampungan mereka. Barang-barang
tersebut antara lain anyaman udang-udangan, tas tangan dan barang-barang kebutuhan
lokal lainnya, seperti bakul (boboko), kukusan (aseupan), kipas, tampah (nyiru), dan lain-
lain. Dalam menjalani kehidupannya masyarakat di Kampung Naga di pimpin oleh
Lembaga adat, yaitu:
Kuncen : Pemangku adat

Lebe : Bidang keagamaan utamanya mengurus jenazah dari awal hingga akhir

Punduh : Bidang kemasyarakatan

2. Agama

Masyarakat Kp.naga memeluk kepercayaan agama islam, sama halnya degan


masyarakat biasa mereka mempunyai tradisi upacara – upacara keagaamaan yang rutin
dilaksanakan dalam satu tahun sekali sejumlah 6 jenis upacara yaitu :

a) Upacara bulan Muharam untuk mamperingati tahun baru Islam


b) Upacara Maulid untuk mamperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW
c) Upacara Jumadil Akhir untuk mamperingati tahun Islam
d) Upacara 1 Syawal untuk memperingati hari raya Idul Fitri
e) Upacara Rayagung

3. Bahasa
Masyarakat kp.naga dalam pergaulan dan sehari – hari biasanya menggunakan bahasa
sunda, tetapi bukan masyarakat tidak mengusai bahasa lain selain sunda tmereka juga
mampu menggunakan bahasa indonesia dengan baik.

4. Kesenian
Masyarakat kp.naga memiliki kesenian yang sangat kental dengan kegiatan upacara –
upacara adat seperti alat tabuh yang terpajang di balai kp.naga yang digunakan apabila
ada kegiatan upacara. Kesenian kp.naga bisa diliat dari bilik – bilik yang digunakan
untuk membuat rumah, bilik untuk ruang dapur dan ruang depan. Belum lagi mereka
menjual hasil seni mereka untuk tambahan pemasukan biasanya mereka membuat
gayung, kipas, tas, bahkan gantungan kunci.

5. Pola Pemukiman dan Bangunan

Pola pemukiman Kampung Naga merupakan pola mengelompok yang disesuaikan


dengan keadaan tanah yang ada dengan sebuah lahan kosong (lapang) di tengah-tengah
kampung. Pola perkampungan seperti Kampung Naga bisa jadi merupakan prototype dari
pola perkampungan masyarakat Sunda, walaupun di sana sini terjadi perubahan. Adanya
kolam, leuit, pancuran, saung lisung, rumah kuncen, bale, rumah suci, dan sebagainya,
menunjukkan ciri-ciri pola perkampungan Sunda.

Jenis bangunan yang dibangun di Kmpung Naga ada tiga macam Yaitu :
1) Bangunan umum yang terdiri dari : Balai Pertemuan ; Masjid ; dan Bumi Ageung
(tempat menyimpan benda pusaka)
2) Bangunan perumahan yang terdiri dari : Rumah tinggal biasa ; Papambon (rumah
milik orang luar kampung Naga); Leuit (lumbung padi)
3) Bangunan fasslitas lainnya seperti MCK, Lesung dan tampian (tempat menumbuk
padi), kandang ternak.

Jika dicermati dengan seksama, masyarakat Kampung Naga membagi peruntukan lahan
ke dalam tiga kawasan, yaitu:

1) Kawasan suci Kawasan suci adalah sebuah bukit kecil di sebelah barat pemukiman
yang disebut Bukit Naga serta areal hutan lindung (leuweung larangan) persis di
tikungan tapal kuda di timur dan barat Sungai Ciwulan. Sebagaimana hutan lindung,
Bukit Naga juga sebuah hutan, berupa semak belukar yang ditumbuhi pohon-pohon
kecil dan sedang, dan dianggap hutan tutupan (leuweung tutupan atau leuweung
karamat).
2) Kawasan bersih Kawasan bersih bisa diartikan sebagai kawasan bebas dari benda-
benda yang dapat mengotori kampung. Baik dari sampah rumah tangga maupun
kotoran hewan, seperti kambing, sapi atau kerbau, terutama anjing. Kawasan ini
berada dalam areal pagar kandang jaga. Di dalam kawasan bersih, selain rumah, juga
sebagai kawasan tempat berdirinya bumi ageung, masjid, leuit, dan patemon
3) Kawasan kotor Dimaksud kawasan kotor adalah kawasan yang peruntukkannya
sebagai kawasan kelengkapan hidup lainnya yang tidak perlu dibersihkan setiap saat.
Kawasan ini permukaan tanahnya lebih rendah dari kawasan pemukiman, terletak
bersebelahan dengan Sungai Ciwulan. Di dalam kawasan ini antara lain terdapat
pancuran dan sarana MCK, kandang ternak, saung lisung, dan kolam.
6. Ritual
1) Upacara Hajat Sasih
Upacara hajat sasih dilaksanakan enam kali dalam setahun, atau masing-
masing satu kali dalam enam bulan yang diagungkan dalam agama Islam. Upacara
ini merupakan upacara penghormatan terhadap arwah nenek moyang, yang
dilaksanakan dalam satu hari tanpa menghentikan jalannya upacara apabila turun
hujan, karena hujan dianggap karunia. Upacara dipimpin oleh kuncen, lebe dan
tetua kampung. Dimulai dengan pembacaan doa bersama, serta bebersih dan
ziarah ke makam keramat sebagai inti upacara yang hanya diikuti oleh kaum laki-
laki saja, sedangkan para wanitanya membuat makanan seperti tumpeng. Seluruh
peserta upacara mengenakan jubah berwarna putih dari kain belacu atau kaci,
sarung pelekat, ikat kepala dari batik (totopong), dan ikat pinggang (beubeulit)
dari kain berwarna putih pula. Pakaian upacara ini tidak dipadu dengan perhiasan
apapun ataupun alas kaki. Upacara Nyepi / Hari Larangan
Upacara nyepi atau hari larangan jatuh pada setiap hari Selasa, Rabu, dan
Sabtu. Penghormatan masyarakat Kampung Naga terhadap upacara ini sangat
tinggi dan dapat menggeser pelaksanaan upacara lainnya. Jika dilihat dari inti
kegiatan, sebenarnya upacara ini mungkin lebih tepat disebut berpantang, pantang
dalam artian benar-benar menghindari acara dan perbincangaan mengenai adat
istiadat serta asal usul masyarakat Kampung Naga, baik antar sesama anggota
masyarakat maupun pengunjung atau tamu asing lainnya.
2) Upacara Panen
Upacara panen merupakan upacara perorangan, artinya jika sebuah keluarga
akan memanen hasil sawahnya, maka keluarga tersebut melakukan upacara panen
guna menetapkan kapan hari pemanenan bisa dilaksanakan
3) Upacara Lingkaran hidup (life cycle)
Dalam masyarakat kita, setiap anak yang akan memasuki satu tahapan baru
dalam kehidupannya umumnya melewati pranata sosial atau dalam sebutan lain
upacara adat. Demikian pula dengan masyarakat Kampung Naga. Ada dua
upacara adat yang bertautan tahapan kehidupan yang hingga kini masih ditaati dan
dijalankan dari generasi ke generasi. Kedua upacara itu sebagai berikut:
a. Upacara Gusaran
Upacara Gusaran atau khitanan pada masyarakat Kampung Naga
dilakukan secara massal, artinya setiap anak laki-laki Sa Naga akan disunat
dalam waktu yang telah ditentukan, yaitu pada bulan Rayagung. Prosesi
upacara terdiri dari tiga inti rangkaian kegiatan, yaitu gusaran, lekasan, dan
wawarian. Rangkaian upacara tersebut (lekasan) melebur dalam upacara
gusaran, yaitu mendapatkan pasangan, bebersih, pemberian wejangan, diarak
keliling kampung, ngala beas, pemotongan rambut, berebut sawer, khitanan
dan wawarian
b. Upacara Perkawinan
Secara umum tradisi perkawinan masyarakat Kampung Naga sama
dengan tradisi perkawinan menurut adat Sunda. Namun demikian, dalam
pelaksanaannya masih dilengkapi dengan tradisi perkawinan Kampung Naga.
Sebelum akad nikah, calon pasangan pengantin terlebih dahulu harus
memenuhi beberapa persyaratan administrasi. Akad nikah dilakukan melalui
ijabkabul yang disebut dirapalan. Karena masyarakat Kampung Naga
beragama Islam, perkawinan dilakukan di depan penghulu dan dicatat di
Kantor Urusan Agama (KUA) setempat oleh petugas pencatat nikah (PPN).
Penyelenggaraan upacara perkawinan di Kampung Naga terkesan sederhana.
Selain karena pertimbangan ekonomi, lahan tempat penyelenggaraan juga
terbatas sehingga undangan hanya berkisar pada keluarga mempelai. Sebelum
melaksanakan upacara perkawinan, persiapan berupa tahapan yang tidak boleh
dilewatkan menurut adat adalah, yaitu menentukan hari baik, melakukan
upacara seserahan, melakukan upacara ngeuyeuk seureuh dan, upacara
perkawinan