Anda di halaman 1dari 38

firman s p

Berbagi itu indah

Minggu, 18 Oktober 2015


laporan praktikum analgetik

Brebes, Jawa Tengah

PERCOBAAN III
ANALGETIKA

A.  Tujuan
Mengenal, mempraktikan dn membandingkan daya analgetika antalgin dan
parasetamol menggunakan metode rangsangan kimia.
B.  Dasar teori
Obat analgesik adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita. Nyeri adalah perasaan
sensoris dan emosional yang tidak nyaman,berkaitan dengan ancaman kerusakan jaringan. Rasa
nyeri dalam kebanyakan halhanya merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai isyarat bahaya
tentangadanya gangguan di jaringan seperti peradangan, rematik, encok atau kejang otot (Tjay,
2007).
Reseptor nyeri (nociceptor) merupakan ujung saraf bebas, yang tersebar di kulit, otot,
tulang, dan sendi. Impuls nyeri disalurkan ke susunan saraf pusat melalui dua jaras, yaitu
jaras nyeri cepat dengan neurotransmiternya glutamat dan jaras nyeri lambat dengan
neurotransmiternya substansi P (Guyton & Hall, 1997;Ganong, 2003).
Semua senyawa nyeri (mediator nyeri) seperti histamine, bradikin, leukotriendan
prostaglandin merangsang reseptor nyeri (nociceptor )di ujung-ujung saraf bebasdi kulit,
mukosa serta jaringan lain dan demikian menimbulkan antara lain reaksiradang dan kejang-
kejang. Nociceptor ini juga terdapat di seluruh jaringan dan organtubuh, terkecuali di SSP.
Dari tempat ini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron
dengan sangat banyak sinaps via sumsum- belakang, sumsum-lanjutan dan otak-tengah. Dari
thalamus impuls kemudianditeruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan
sebagai nyeri (Tjaydan Rahardja, 2007).
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi
melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya tentang adanya ganguan di
jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad renik, atau kejang otot. Nyeri yang disebabkan
oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan.
Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri.
Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang
mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit, mukosa dan jaringan lain.
Nocireseptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di SSP. Dari sini
rangsangan di salurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan amat
benyak sinaps via sumsumtulang belakang, sumsum lanjutan, dan otak tengah. Dari thalamus
impuls kemudian diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai
nyeri (Tjay, 2007).
Demam pada umumnya adalah suatu gejala dan bukan merupakan penyakit. Para ahli
berpendapat demam adalah suatu reaksi yang berguna bagi tubuh terhadap suhu, pasca suhu
di atas 37oC. Limfosit akan menjadi lebih aktif pada suhu melampaui 45 oC, barulah terjadi
situasi kritis yang bisa berakibat fatal, tidak terkendali lagi oleh tubuh. (Tjay Hoan Tan,
2007)
Demam terjadi jika “ set point “ pada pusat pengatur panas di hipotalamus anterior
meningkat. Hal ini dapat di sebabkan oleh sintesis PEG yang di rangsang bila suatu zat
penghasil demam endogen (pirogen) seperti sitokinin di lepaskan dari sel darah putih yang di
aktivasi oleh infeksi, hipersensitifitas, keganasan atau inflamasi. Salisilat  menurunkan suhu
tubuh si penderita demam dengan jalan menghalangi sintesis dan pelepasan PEG. (Mycek J.
Mary, 2001)
Medicetator nyeri yang penting adalah mista yang bertanggung jawab untuk
kebanyakan reaksi. Akerasi perkembangan mukosa dan nyeri adalah polipeption (rangkaian
asam amino) yang dibentuk dari protein plasma. Prosagilandin mirip strukturnya dengan
asam lemak dan terbentuk dari asam-asam anhidrat. Menurut perkiraan zat-zat bertubesiset
vasodilatasi kuat dan meningkat permeabilitas kapiler yang mengakibatkan radang dan nyeri
yang cara kerjanya serta waktunya pesat dan bersifat local. (Tjay Hoan Tan, 2007)
Prostgilandin di duga mensintesis ujung saraf terhadap efek kradilamin, histamine dan
medikator kimia lainnya yang dilepaskan secara local oleh proses inflamasi. Jadi, dengan
menurunkan sekresi PEG, aspirin dan AIN lainnya menekan sensasi rasa sakit. (Mycek J.
Mary, 2001)

Berdasarkan aksinya, obat-abat analgetik dibagi menjadi 2 golongan yaitu :


a.       Analgesik Nonopioid/Perifer (Non-Opioid Analgesics)
Secara farmakologis praktis dibedakan atas kelompok salisilat (asetosal, diflunisal)
dan non salisilat. Sebagian besar sediaan–sediaan golongan non salisilat ternmasuk derivat as.
Arylalkanoat (Gilang, 2010).
b.      Analgesik Opioid/Analgesik Narkotika
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium
atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan
rasa nyeri. Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan.

Ada 3 golongan obat ini yaitu(Medicastore,2006) :


1)      Obat yang berasal dari opium-morfin
2)      Senyawa semisintetik morfin
3)      Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

Mekanisme Kerja Obat Analgesik

a.       Analgesik Nonopioid/Perifer (Non-Opioid Analgesics)


Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim
siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah
prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan
prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan
demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan
NSAID dan COX-2 inhibitors. Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini
adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi
di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan
dosis besar.

b.      Analgesik Opioid/Analgesik Narkotika


Mekanisme kerja utamanya ialah dalam menghambat enzim sikloogsigenase dalam
pembentukan prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja analgesiknya dan efek sampingnya.
Kebanyakan analgesik OAINS diduga bekerja diperifer . Efek  analgesiknya telah kelihatan
dalam waktu satu jam setelah pemberian per-oral. Sementara efek antiinflamasi OAINS telah
tampak dalam waktu satu-dua minggu pemberian, sedangkan efek maksimalnya timbul
berpariasi dari 1-4 minggu. Setelah pemberiannya peroral, kadar puncaknya NSAID didalam
darah dicapai dalam waktu 1-3 jam setelah pemberian, penyerapannya umumnya tidak
dipengaruhi oleh adanya makanan. Volume distribusinya relatif kecil (< 0.2 L/kg) dan
mempunyai ikatan dengan protein plasma yang tinggi biasanya (>95%). Waktu paruh
eliminasinya untuk golongan derivat arylalkanot sekitar 2-5 jam, sementara waktu paruh
indometasin sangat berpariasi diantara individu yang menggunakannya, sedangkan
piroksikam mempunyai waktu paruh paling panjang (45 jam).

Mekanisme kerja antalgin :


Antalgin termasuk derivat metasulfonat dari amidopiryn yang mudah larut dalam air
dan cepat diserap ke dalam tubuh. Bekerja secara sentral pada otak untuk menghilangkan
nyeri, menurunkan demam dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin merupakan inhibitor
selektif dari prostaglandin F2α yaitu: suatu mediator inflamasi yang menyebabkan reaksi
radang seperti panas, merah, nyeri, bengkak, dan gangguan fungsi yang biasa terlihat pada
penderita demam rheumatik dan rheumatik arthritis. Antalgin mempengaruhi hipotalamus
dalam menurunkan sensifitas reseptor rasa sakit dan thermostat yang mengatur suhu tubuh
(Lukmanto, 1986).

MONOGRAFI
Pemerian :Serbuk hablur putih atau putih kekuningan
Kelarutan : Larut dalam air dan HCl 0,02 N
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik ( Anonim, 1995 )
Khasiat : Analgetik
Dosis : 500 mg ( Anonim, 1979 )

Mekanisme kerja Paracetamol :


Parasetamol menghambat siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase secara berbeda
(Wilmana, 1995). Parasetamol menghambat siklooksigenase pusat lebih kuat dari pada
aspirin, inilah yang menyebabkan parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat melalui
efek pada pusat pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada
siklooksigenase perifer (Dipalma, 1986). Inilah yang menyebabkan parasetamol hanya
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol tidak
mempengaruhi nyeri yang ditimbulkan efek langsung prostaglandin, ini menunjukkan bahwa
parasetamol menghambat sintesa prostaglandin dan bukan blokade langsung prostaglandin.
(Wilmana, 1995).
MONOGRAFI
Pemerian : serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit
Kelarutan : Larut dalam air mendidih , mudah larut dalam etanol.
nyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat tidak tembus cahaya (Anonim,1995).
Khasiat : Analgetik, antipiretik.
Dosis             : 500 – 2000 mg per hari (Anonim, 1979).

  

C.    Alat dan Bahan


1.  Alat
a.)    Jarum berujung tumpul ( jarum per Oral )
b.)    Sarung tangan.
c.)    Stop watch.
d.)   Keranjang.
e.)    Lap / Serbet.
f.)     Baker glas.
2.  Bahan
a.)    Mencit
b.)    Suspensi antalgin 1 % dalam tilosa 1%
c.)    Suspensi paracetamol 1% dalam tilosa 1%
d.)   Larutan steril asam asetat 1%
e.)    alkohol
D.    Cara Kerja
Hewan Uji/ Mencit
 

-       Diambilmasing masing- masng 2 ekor mencit yang sudah ditandai untuk perlakuan oral obat
antalgin dan paracetamol
-       Amati reaksi obat antalgin dan parasetamol dengan metode jentik ekor pada mencit setelah
pemberian obat.
-       Ditunggu waktu mencit mengangkat ekor dari air panas sebagai waktu respon
-       Dicatat waktu lamanya mencit menerima respon
-       Dibuat table hasil pengamatan lengkap
-      
Hasil
Dibandingkan hasilnya dengan menggunakn uji statistik analisa varian pola searah
taravkeprcayaan 95 %.

E.  Hasil

1.      Tabel . Hasil perhitungan onset dan durasi


M Onset
MO M1 M2 M3
Parasetamol 25 18 8

Antalgin 30 31 18

Perhitungan ANOVA
Perlakuan X1 X2 X3 X12 X22 X32
Parasetamol 25 18 8 625 324 64

Antalgin 30 31 18 900 961 324


Tc 55 49 26 (∑X) 130
Nc 2 2 2 N 6
Jml kuadrat 1525 1285 388 ∑(X)2 3198

      Jumlah kuadrat perlakuan (SST)


SST = = S –
=–

= – 2816.6
= 3051 – 2816.6
= 234.4
      Jumlah kuadrat kesalahan
SSE =
= 3198 – 3051
= 147
      Keseragaman total (SS TOTAL)
SS Total = SST + SSE
= 234.4 + 147 = 381.4

Masukan kedalam table ANOVA


Derajat Kuadrat tengah (1)/
Sumber keragaman Jumlah kuadrat
bebas (2)
Antar perlakuan SST= 234.4 Dk1= K-1 MSTR = SST/dk 1
= 2-1 =
=1 = 234.4
Kesalahan SSE= 147 Dk2= N-K MSE = SSE/dk2
(dalam perlakuan) = 6-2 =
=4 = 36.75
SS TOTAL 381.4

      F hitung = = = 6.37


      F Tabel = 7.708
      F tabel pada α = 0,05 dk 1 = 2 dan dk 2 = 6 adalah 7.708
      F hitung (6.37) < F Tabel (7.708)
Kesimpulan : Ho diterima,
Tidak ada perbedaan yang nyata antara rata-rata hitung dari berbagai cara pemberian obat.
F.     PEMBAHASAN

Mahasiswa melakukan praktikum farmakologi dengan materi analgetik. Tujuan dari


praktikum ini adalah mengenal, mempraktikan dn membandingkan daya analgetika antalgin
dan parasetamol menggunakan metode rangsangan kimia pada hewan uji mencit sehingga
kita dapat membandingkan daya analgetika dari obat- obat tersebut.
Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau
melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (berbeda dengan anastesi umum).
Percobaan ini menggunakan metode Witkin ( Writhing Tes / Metode Geliat ), dengan
prinsip yaitu menimbulkan geliat ( Writhing ), sehingga dapat diamati respon mencit ketika
menahan nyeri pada perut dengan cara menelupkan ujung ekor mencit pada air panas.
Dengan pemberian obat analgetik (paracetamol dan antalgin)  akan mengurangi respon
tersebut.
Larutan stok dibuat dengan mensuspensikaan tablet paracetamol dan antalgin, karena
bahan obat sukar larut di dalam air dengan suspending agent CMC Na. Digunakan
konsentrasi CMC Na yang rendah 0,5% agar suspensi tidak terlalu kental sehingga mudah
untuk mengambil suspensi dengan spuit oral dan mudah masuk ke dalam esofagus
mencit.Pemberian obat-obat analgetik pada mencit dilakukan secara peroral,setiap mencit
diberikan suspensi obat yang berbeda, sebagai kontrol negatif diberikan CMC Na, setelah
obat diberikan mencit didiamkan selama 30 menit.
Percobaan ini dibagi 2 kelompok yaitu kelompok 1 menggunakan obat analgetik
parasetamol dan kelompok II antalgin, setiap kelompok menggunakan 3 mencit untuk
diperlakukan sama memberikan obat secara peroral, lalu tunggu selama 30 menit kira kira
sampai obat terabsorbsi secara penuh.
Kelompok 1 mendapatkan hasil pada mencit1 25 kali jentikn ekor, mencit 2 18 kali
jentikan ekor, mencit3 8 kali jentikan dan pada kelompok II mencit1 30 kali, mencit2 31 kali,
mencit3 18 kali
Setelah dilakukan percobaan didapatkan hasil bahwa urutan obat yang memiliki daya
analgetik paling tinggi atau kuat adalah parasetamol lalu antalgin. Hasil yang didapat setelah
diuji dengan menggunakan tabel ANOVA yang kemudian didapat hasil “Ho diterima”,
artinya pemberian obat analgetik yang berbeda pada hewan uji mencit tidak
akan mempengaruhi frekuensi geliat mencit, sesuai dengan efektivitas obat sebagai analgetik,
yaitu antalgin dan parasetamol.
Hasil ini juga kurang sesuai dengan teori, karena yang seharusnya memiliki efek
analgetik yang lebih kuat adalah antalgin, karena  absorbsinya lebih cepat di lambung,
sementara indikator nyeri juga diberikan pada lambung. Kemudian diikuti oleh parasetamol,
karena hanya mempunyai efek ringan pada siklooksigenase perifer.
Antalgin termasuk derivat metasulfonat dari amidopiryn yang mudah larut dalam air
dan cepat diserap ke dalam tubuh. Bekerja secara sentral pada otak untuk menghilangkan
nyeri, menurunkan demam dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin merupakan inhibitor
selektif dari prostaglandin F2α yaitu: suatu mediator inflamasi yang menyebabkan reaksi
radang seperti panas, merah, nyeri, bengkak, dan gangguan fungsi yang biasa terlihat pada
penderita demam rheumatik dan rheumatik arthritis. Antalgin mempengaruhi hipotalamus
dalam menurunkan sensifitas reseptor rasa sakit dan thermostat yang mengatur suhu tubuh.
Parasetamol menghambat siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase secara berbeda.
Parasetamol menghambat siklooksigenase pusat lebih kuat dari pada aspirin, inilah yang
menyebabkan parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat
pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada siklooksigenase perifer.
Inilah yang menyebabkan parasetamol hanya menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri
ringan sampai sedang. Parasetamol tidak mempengaruhi nyeri yang ditimbulkan efek
langsung prostaglandin, ini menunjukkan bahwa parasetamol menghambat sintesa
prostaglandin dan bukan blokade langsung prostaglandin.
Mekanisme kerja nyeri, yaitu perangsang rasa nyeri baik mekanik maupun kimiawi,
panas maupun listrik akan menimbulkan kerusakan pada jaringan sel sehingga sel-sel tersebut
melepaskan suatu zat yang disebut mediator nyeri yang akan merangsang reseptor nyeri.
Rangsangan mekanik yaitu nyeri yang disebabkan karena pengaruh mekanik seperti
tekanan, tusukan jarum, insan pisau, dll. Rangsangan termal, yaitu nyeri yang disebabkan
karena pengaruh suhu rata-rata manusia akam merasakan nyeri jika menerima panas diatas
45oC, dimana pada suhu tersebut jaringan akan mengalami kerusakan.   Rangsangan kimia
yaitu jaringan yang akanmengalami kerusakan aka membebaskan zat yang disebu mediator
yang dapat berkaitan dengan reseptor nyeri antara lain, biokonin, serokinin, dan
prostaglandin. Mediator nyeri penting adalah histamin karen yang bertanggung jawab atas
kebanyakan reasi alergi. Biokonin adalah rangkaian asam amino yang disebut protein plasma.
Nyeri merupakan suatu mekanisme pelindung tubuh mekanik untuk melandasi dan
memberikan tanda bahaya tentang daya gangguan ditubuh. Mekanisme adalah rangsangan
diterima oleh reseptor nyeri diubah dalam bentuk impuls yang dihantarkan kepusat nyeri ke
korteks otak. Setelah diproses dipusat nyeri, impuls dikembalikan ke perifer dalam bentuk
persepsi nyeri.
Penyimpangan ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu ketika pemberian oral
tidak menggunakan spuit jarum oral sehingga obat tidak mudah masuk dalam esophagus saat
disemprotkan sehingga mengurangi dosis obat analgetik yang diberikan, faktor fisiologis dari
mencit, yang mengalami beberapa kali percobaan sehingga kemungkinan mencit stress, ,
pengambilan larutaan stock yang tidak dikocok dahulu, sehingga dosis yang diambil tiap
spuit berbeda, karena larutan stock yang dibuat adalah bentuk sediaan suspensi, seharusnya
dalam pengambilan dikocok terlebih dahulu, agar bahan obat yang diambil, bukan hanya
larutannya dan yang terakhir tidak di puasakan mencit yang akan di uji, Sebelum perlakuan
mencit (Mus musculus) terlebih dahulu dipuasakan untuk menghilangkan faktor makanan
karena interaksi makanan bisa mempengaruhi pemberian obat kepada hewan perlakuan
hewan uji mencit (Mus musculus). Walaupun demikian faktor variasi biologisnya dari hewan
tidak dapat dihilangkan sehingga faktor ini relative dapat memengaruhi hasil praktikum yang
dilakukan di laboratorium.

G. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan, sebagai berikut :

1.    Analgetik adalah senyawa yang dalam dosis terapeutik dan meringankan atau menekan rasa
nyeri, tanpa memiliki kerja anastesi umum.
2.    Pada pemberian obat antalgin, dan paracetamol secara oral, dapat memberikan efek atau
dampak analgetikum dengan di tandainya adanya pengangkatan ekor pada mencit (Mus
musculus) pada saat ekor dicelupkan dalam air panas diatas pada suhu 55oC.
3.    Daya analgetik yang paling tinggi diantara obat uji adalah antalgin.
4.    Faktor yang mempengaruhi efek terapeutik analgetik antara lain rute pemberia, kondisi fisik
dan puasa atau tidaknya mencit
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia edisi 3, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.

Anief, Moh, 1995, Perjalanan Dan Nasib Obat Dalam Badan, Gadjah Mada Univ Press.
Anonim, 1999, Majalah Farmasi Indonesia Vol 10 No 04, Mandiri Jaya Offset, Yogyakarata.
Ganiswara, Sulistia G (Ed), 2008, Farmakologi dan Terapi, Edisi Revisi V, Balai Penerbit Falkultas,
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Gibson, G.Gordon Dan Paul Skett, 1991, Pengantar Metabolisme Obat, UI Presss, Jakarta.
Katzung, Bertram G., Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta.
La Du, BR, Mandel, H.G. dan Way, E.L,1971, Fundamentals of drug Metabolism and
drugDispositin. The Williamns & Wilkins company, Baltimore, pp 149-578.
Tjay Hoan Tan, 2007 .“Obat-obat penting”. PT Alex media ; Jakarta

Diposkan oleh firman sid di 10/18/2015 06:40:00 AM


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Reaksi: 
UJI ANALGETIKA PADA MENCIT

I.   TUJUAN

Mengenal,mempraktekan dan membandingkan daya analgetik asetosal dengan paracetamol


menggunakan metode rangsang kimia.

II. DASAR TEORI

Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Tan hoan,1964, hal.295).

Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering.Walaupun sering berfungsi
untuk mengingatkan, melindungi dan sering memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai
hal yang tak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dankarena itu berusaha untuk bebas darinya.
Seluruh kulit luar mukosa yang membatasi jaringan dan juga banyak organ dalam bagian luar tubuh
peka terhadap rasa nyeri,tetapi ternyata terdapat juga organ yang tak mempunyai reseptor nyeri,
seperti misalnya otak.Nyeri timbul jika rangsang mekanik, termal, kimia atau listrik melampaui suatu
nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri)dan karena itumenyebabkan kerusakan jaringan dengan
pembebasan yang disebut senyawa nyeri (Mutschler,1999).

Semua senyawa nyeri (mediator nyeri) seperti histamine, bradikin, leukotriendan


prostaglandin merangsang reseptor nyeri (nociceptor )di ujung-ujung saraf bebasdi kulit, mukosa
serta jaringan lain dan demikian menimbulkan antara lain reaksiradang dan kejang-kejang.
Nociceptor ini juga terdapat di seluruh jaringan dan organtubuh, terkecuali di SSP. Dari tempat ini
rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sangat banyak
sinaps via sumsum- belakang, sumsum-lanjutan dan otak-tengah. Dari thalamus impuls
kemudianditeruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri (Tjaydan
Rahardja, 2007).

Mediator nyeri penting adalah amin histamine yang bertanggungjawab untuk kebanyakan
reaksi alergi (bronchokonstriksi, pengembangan mukosa, pruritus) dan nyeri. Bradikinin adalah
polipeptida (rangkaian asam amino)yang dibentuk dari protein plasma. Prostaglandin mirip
strukturnya dengan asam lemak dan terbentuk dari asam arachidonat. Menurut perkiraan zat-zat ini
meningkatkan kepekaan ujung-saraf sensoris bagi rangsangan nyeri yang diakibatkan oleh mediator
lainnya. Zat-zat ini berkhasiat vasodilatasi kuat dan meningkatkan permeabilitas kapiler yang
mengakibatkan radang dan udema. Berhubung kerjanya serta inaktivasinya pesat dan bersifat local,
maka juga dinamakan hormon lokal. Mungkin sekali zat-zat ini juga bekerja sebagai mediator
demam (Collins,et.al., 2000).

Terkadang, nyeri dapat berarti perasaan emosional yang tidak nyaman dan berkaitan dengan
ancaman seperti kerusakan pada jaringan karena pada dasarnya rasanyeri merupakan suatu gejala,
serta isyarat bahaya tentang adanya gangguan pada tubuh umumnya dan jaringan khususnya.
Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada
pemakai. Untuk mengurangi atau meredakan rasa sakit atau nyeri tersebut maka banyak digunakan
obat-obat analgetik (seperti parasetamol, asam mefenamat dan antalgin) yang bekerja dengan
memblokir pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak menerima rangsang nyeri
(Green, 2009).

Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak yang berkaitandengan
(ancaman) kerusakan jaringan. Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dan ambang toleransi nyeri
berbeda-beda bagi setiap orang. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan yakni pada 44-45ºC. Rasa
nyeri dalam kebanyakan hal hanya meruapakan suatu gejala, yang berfungsi melindungi tubuh.
Nyeri harus dianggap sebagai suatu isyarat bahaya tentang adanya ganggguan di jaringan, seperti
peradangan (rema,encok ), infeksi jasad renik, atau kejang otot. Nyeri yang disebabkan oleh
rangsangan mekanis, kimiawi, atau fisis(kalor, listrik ), dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan.

Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentuyang disebut mediator nyeri.


Mediator nyeri antara lain mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi
reseptor nyeri di ujung-ujung saraf bebas dikulit, mukosa, dan jarigan lainnya. Nociceptor ini
terdapat diseluruh jaringan danorgan tubuh, kecuali di system saraf pusat. Dari sini rangsangan
disalurkan ke otak melalui jaringan yang hebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sinaps yang amat
banyak melalui sum-sum tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus
impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri (Tan
Hoan,1964, hal.296).

Mediator nyeri yang lain, disebut juga sebagai autakoid antara lain serotonin,histamine,
bradikinin, leukotrien dan prostaglandin 2. Bradikinin merupakan polipeptida (rangkaian asam
amino) yang diberikan dari protein plasma. Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkatan (level)
dimana nyeri dirasakan untuk yang pertama kali. Jadi, intesitas rangsangan yang terendah saat
seseorang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang nyerinya adalah konstan (Medicafarma,
2008).

Adapun jenis nyeri beserta terapinya, yaitu (Medicafarma,2008):

a.    Nyeri ringan

Contohnya: sakit gigi, sakit kepala, sakit otot karena infeksi virus, nyeri haid,keseleo. Pada nyeri
dapat digunakan analgetik perifer seperti parasetamol, asetosaldan glafenin.

b.    Rasa nyeri menahun

Contohnya: rheumatic dan arthritis. Pada nyeri ini dapat digunakan analgetik anti-inflamasi,
seperti:asetosal, ibuprofendan indometasin.

c.    Nyeri hebat

Contoh: nyeri organ dalam, lambung, usus, batu ginjal, batu empedu. Pada nyeri ini dapat digunakan
analgetik sentral berupa atropine, butilskopolamin(bustopan), camylofen ( ascavan).

d.   Nyeri hebat menahun

Contoh: kanker, rheumatic, neuralgia berat. Pada nyeri ini digunakan analgetik narkotik, seperti
fentanil, dekstromoramida, bezitramida.

Penanganan rasa nyeri Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat dilawan dengan
beberapacara,yakni (Tan Hoan,1964, hal.296):

 Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri pada perifer dengan analgetika
perifer .
 Merintangi penyaluran rangsangan di saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika local.
 Blockade pusat nyeri di ssp dengan analgetika sentral (narkotika) atau dengan anestetika
umum.

Atas dasar kerja farmakologinya, analgetika dibagi dalam dua kelompok yaitu(Tan Hoan,1964,
hal.296):
1. Analgetika perifer (non-narkotik ), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak
bekerja sentral, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti
paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dll.

2. Analgetik narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti padafractura dan
kanker .Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang
memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk
meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.

Tetapi semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk


mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan
analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi (Medicastore,2006).

Ada 3 golongan obat ini yaitu(Medicastore,2006):

 Obat yang berasal dari opium-morfin

 Senyawa semisintetik morfin

 Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

Mekanisme kerja obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAIDs) merupakan
suatu kelompok obat yang heterogen, dan beberapa obat memiliki perbedaan secara kimia. Namun,
obat-obat NSAID mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi dan efek sampingnya.

Prototipe obat golongan ini adalah aspirin,sehingga sering disebut juga sebagai aspirin like
drugs. Efek terapi dan efek sampingdari obat golongan NSAIDs sebagian besar tergantung dari
penghambatan biosintesis prostaglandin. Namun, obat golongan NSAIDs secara umum tidak
menghambat biosintesis leukotrien yang berperan dalam peradangan. Golongan obat NSAIDs
bekerja dengan menghambat enzim siklo-oksigenase, sehingga dapat mengganggu perubahan asam
arakhidonat menjadi prostaglandin. Setiap obat menghambat enzimsiklo-oksigenase dengan cara
yang berbeda(Ian Tanu,1972, hal.231).

Parasetamol dapat menghambat biosintesis prostaglandin apabila lingkungannya mempunyai


kadar peroksida yang rendah seperti di hipotalamus, sehingga parasetamol mempunyai efek anti-
inflamasi yang rendah karena lokasi peradangan biasanya mengandung banyak peroksida yang
dihasilkan oleh leukosit(Ian Tanu,1972, hal.231).

Aspirin dapat menghambat biosintesis prostaglandin dengan cara mengasetilasi gugus aktif
serin dari enzim siklo-oksigenase. Thrombosit sangat rentan terhadap penghambatan enzim siklo-
oksigenase karena thrombosit tidak mampu mengadakan regenerasi enzim siklo-oksigenase(Ian
Tanu,1972, hal.231).

Semua obat golongan NSAIDs bersifat antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Efek samping
obat golongan NSAIDs didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis prostaglandin. Selain itu,
sebagian besar obat bersifat asam sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yang bersifat asam
seperti di lambung, ginjal, dan jaringan inflamasi. Efek samping lain diantaranya adalah gangguan
fungsi thrombosit akibat penghambatan biosintesis tromboksan A2 dengan akibat terjadinya
perpanjangan waktu perdarahan. Namun, efek ini telah dimanfaatkan untuk terapi terhadap
thrombo-emboli(Gunawan, 2009).

Selain itu, efek samping lain diantaranya adalah ulkuslambung dan perdarahan saluran cerna,
hal ini disebabkan oleh adanya iritasi akibat hambatan biosintesis prostaglandin PGE2 dan
prostacyclin. PGE2 dan PGI2 banyak ditemukan di mukosa lambung dengan fungsi untuk
menghambat sekresi asam lambung dan merangsang sekresi mukus usus halus yang bersifat
sitoprotektan (IanTanu,1972,hal.231).

Contoh obat analgesic dan antipiretik(Junaidi, 2009, hal.270-277).:

1.    Aspirin/asam asetil salisilat

Indikasi:meringankan sakit kepala, pusing, sakit gigi, nyeri otot, menurunkan demam.Dosis: dewasa
500-600 mg/4jam. Sehari maksimum 4 gram. Anak-anak 2-3 tahun 80-90 mg, 4-5 tahun160-240
mg,6-8 tahun 240-320 mg, 9-10 tahun 320-400 mg, >11tahun 400-480 mg. Semua diberikan tiap 4
jam setelah makan. Kontraindikasi: ulkus peptikum, kelainan perdarahan, asma. Efek samping:
gangguan gastrointestinal, pusing, reaksi hipersensitif .

2. Asam mefenamat sebagai analgetik, obat ini adalah satu-satunya yang mempunyai kerja yang baik
pada pusat sakit dan saraf perifer. Asam mefenamat cepat diserapdan konsentrasi puncak dalam
darah dicapai dalam 2 jam setelah pemberian, dan diekskresikan melalui urin. Indikasi: untuk
mengatasi rasa sakit dan nyeri yang ditimbulkan dari rematik akutdan kronis,luka pada jaringan
lunak, pegal pada otot dansendi,dismonore, sakit kepala, sakit gigi, setelah operasi dll. Dosis:
sebaiknya diberikan sewaktu makan, dan pemakaian tidak boleh lebih dari 7 hari.Anak-anak >6
bulan: 3-6,5mg/kgBB tiap 6 jam atau 4 kali perhari. Dewasa dan anak >14tahun:dosisi awal 500
mg,kemudian 250mg setiap 6 jam. Kontraindikasi: kepekaan terhadap asam mefenamat, radang atau
tukak padasaluran pencernaan. Efek samping: dapat mengiritasi system pencernaan,dan
mengakibatkan konstipasiatau diare.

3. Parasetamol diserap dengan cepat dan tanpa menimbulkan iritasi disaluran pencernaan,
methemoglobin, atau konstipasi. Indikasi: menghilangkan demam dan rasa nyeri pada otot/sendi
yang menyertai influenza, vaksinasi dan akibat infelsi lain, sakit kepala, sakitgigi, dismonere, artritis,
dan rematik . Dosis: tablet =anak-anak :0,5-1tab 3-4kali perhari,dewasa:1-2tab 3-4kali perhari
Sirup=bayi 0,25-0,5sdt 3-4kali perhari,anak-anak :2-5tahun,1sdt 3-4kali perhari.6-12 tahun, 2sdt 3-
4kali perhari. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah
menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan
terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik .Jika dosis terapi tidak memberi
manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan
cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya
(Medicastore,2006).

III. ALAT DAN BAHAN

1.      Alat :

         Spuit injeksi 0.1 – 1 ml 2 buah

         Jarum sonde 1 buah

         Beaker Glass 500 ml 3 buah

         Stop watch 1 buah

         Masker 10 buah

         Handscoon 10 pasang

2.      Bahan

         Steril Asam Asetat 1% 5 ml

         Larutan CMC 1% 2.5 ml

         Larutan Paracetamol dalam CMC 2 ml

         Tissue secukupnya

         Mencit 5 ekor

IV. HASIL

Mencit Menit pengamatan Jumlah


I(5’) II(10’) III(15’) IV(20’) V VI

1 1 15 15 19 10 12 72

2 0 7 7 4 3 1 22

3 0 0 5 9 2 2 18

4 0 1 2 5 2 1 11

5 0 0 3 5 2 0 10

Berat Badan tikus

I = 46 g + CMC 0,5 ml + SAA 1 ml

II = 44,8 g + PCT 0,5 ml + SAA 1 ml

III = 45,6 g + PCT 0,5 ml + SAA 1 ml

IV = 41,2 g + PCT 1 ml + SAA 1 ml

V = 38,6 g + PCT 1 ml + SAA 1 ml

Perhitungan dosis SAA

Tikus I = 300 mg x 0,046 = 13,8 ml/10mg/ml = 1,38 mg

Tikus II = 300 mg x 0,0448 = 13,44 ml/10mg/ml = 1,344 mg

Tikus III = 300 mg x 0,0456 = 13,68 ml/10mg/ml = 1,368 mg

Tikus IV = 300 mg x 0,0412 = 12,36 ml/10mg/ml = 1,236 mg

Tikus V = 300 mg x 0,0386 = 11,58 ml/10mg/ml = 1,158 mg

catatan :  dosis parasetamol yang diberikan disetarakan yaitu sebanyak 1 ml.

Perhitungan daya analgetik :

% Daya analgetik = 100 – (P/K x 100)


Keterangan :

P = jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi obat analgetik

K = jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi CMC (kontrol)

% Daya analgetik = 100 – (61/72 x 100)

100 – (84,72) = 15,28 %

V. PEMBAHASAN

Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi atau
menghalau rasa sakit atau nyeri. Tujuan dari percobaan kali ini adalah mengenal,
mempraktekkan, dan membandingkan daya analgetika dari obat parasetamol berdasarkan
perbedaan jumlah dosis pemberian menggunakan metode rangsang kimia. Percobaan ini
dilakukan terhadap hewan percobaan, yaitu mencit (Mus muscullus). Metode rangsang kimia
digunakan berdasarkan atas rangsang nyeri yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia yang digunakan
untuk penetapan daya analgetika.

Percobaan menggunakan metode rangsangan kimia yang ditujukan untuk melihat respon
mencit terhadap Steril Asam Asetat (SSA) 1% yang dapat menimbulkan respon menggeliat dan
menarik kaki ke belakang dari mencit ketika menahan nyeri pada perut. Pada percobaan kali ini
menggunakan SSA yang berfungsi sebagai induksi nyeri dan mencit yang digunakan dalam
percobaan sebanyak 5 ekor.

Langkah pertama yang dilakukan adalah pemberian obat-obat analgetik pada tiap mencit.
Mencit pertama berlaku sebagai control yang diberikan larutan CMC 1% secara per oral sebanyak 0.5
ml. Mencit kedua dan ketiga diberikan larutan parasetamol dalam CMC 1% sebanyak 0.5 ml serta
mencit keempat dan kelima diberikan larutan parasetamol dalam CMC 1% sebanyak 1 ml. Setelah 5
menit masing-masing mencit diinjeksi secara intraperitoneal dengan larutan induksi Steril Asam
Asetat 1 % sebanyak 1 ml. Pemberian dilakukan secara intraperitoneal karena untuk mencegah
penguraian steril asam asetat saat melewati jaringan fisiologik pada organ tertentu. Dan
laruran steril asam asetat dikhawatirkan dapat merusak jaringan tubuh jika diberikan melalui
rute lain, misalnya per oral, karena sifat kerongkongan cenderung bersifat tidak tahan terhadap
pengaruh asam.

Larutan steril asam asetat diberikan setelah 5 menit karena diketahui bahwa obat yang
telah diberikan sebelumnya sudah mengalami fase absorbsi untuk meredakan rasa nyeri.
Selama beberapa menit kemudian, setelah diberi larutan steril asam asetat 1 % mencit akan
menggeliat dengan ditandai dengan kejang perut dan kaki ditarik ke belakang. Jumlah geliat
mencit dihitung setiap selang waktu 5 menit selama 30 menit. Pengamatan yang dilakukan agak
rumit karena praktikan sulit membedakan antara geliatan yang diakibatkan oleh rasa nyeri dari
obat atau karena mencit merasa kesakitan akibat penyuntikan intraperitoneal pada perut mencit.
Parasetamol adalah obat analgetik yang memiliki daya analgetik dengan presentasi yang
tidak terlalu tinggi yaitu sebesar 15.28 %, dimana Parasetamol yang merupakan derivat-
asetanilida adalah metabolit dari fenasetin. Parasetamol berkhasiat sebagai analgetik dan
antipiretik. Umumnya parasetamol dianggap sebagai zat anti nyeri yang paling aman, juga
untuk swamedikasi (pengobatan mandiri).

Pada mencit yang diperlakukan sebagai control, tercatat jumlah akumulasi geliat selama 30
menit adalah sebanyak 72 kali. Pada mencit kedua dan ketiga yang diberikan larutan parasetamol
dengan dosis 0.5 ml terhitung jumlah akumulasi geliat adalah sebanyak 40 kali. Dan pada mencit
keempat dan kelima yang diberikan larutan parasetamol dengan dosis 1 ml terhitung jumlah
akumulasi geliat adalah sebanyak 21 kali.

Dari data percobaan tersebut, diketahui bahwa pada pemberian parasetamol dengan dosis 0.5
ml menghasilkan lebih banyak geliat pada mencit daripada dosis 1 ml. Hal ini berarti pada dosis yang
lebih tinggi, parasetamol dapat lebih efektif dalam mengatasi nyeri yang diakibatkan oleh
rangsangan kimia.

Dalam praktikum kali ini, ada kemungkinan data yang didapatkan kurang valid. Hal ini dapat
terjadi karena beberapa faktor, antara lain faktor penyuntikan yang salah atau kurang tepat
sehingga volume obat yang disuntikan tidak tepat. Dapat juga dikarenakan faktor fisiologis dari
mencit, mengingat hewan percobaan ini telah mengalami percobaan sebelumnya sehingga
dapat terjadi kemungkinan hewan percobaan yang stress dan juga kelelahan. Penyimpangan
pengambilan data juga dapat terjadi karena pengamatan praktikan yang kurang seksama sehingga
ada data geliat mencit yang mungkin terlewat tidak diamati. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi
hasil dan perhitungan yang dibuat.

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :

         Analgetik merupakan obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran.

         Pada praktikum kali ini digunakan analgetik parasetamol yang mempunyai daya analgetik sebesar
15,28 %

         Dari hasil percobaan, diketahui bahwa pemberian dosis parasetamol yang lebih tinggi yaitu 1 ml,
dapat meningkatkan daya analgetik dilihat dari jumlah geliat mencit yang lebih sedikit daripada
pemberian dengan dosis 0.5 ml

DAFTAR PUSTAKA

Collins, S.L, et.al. 2000. Antidepressants and Anticonvulsants. PharmWkbl. hal.449-454.


Green.2009.Analgetika.Available online at: http://greenhati.blogspot.com/2009/05/obat-
analgetik dan farmakodinamikanya.html

(diakses 23 Maret 2012).

Gunawan, Aris. 2009. Perbandingan Efek Analgesik antara Parasetamol dengan Kombinasi
Parasetamol dan Kafein pada Mencit. Jurnal Biomedika, Volume 1, Nomor 1. Diakses 23 Maret 2012.

Ian Tanu. 1976. Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Junaidi, Iskandar. 2009. Pedoman Praktis Obat Indonesia. Jakarta: Buana Ilmu Populer.

Medicafarma. 2008. AnalgesikAntipiretikdanNSAID. http://medicafarma.


blogspot.com/2008/04/analgesik-antipiretik-dan-antiinflamasi. html(diakses pada tanggal 23 Maret
2012).

Medicastore. 2006. Obat Analgesik Antipiretik


http://medicastore.com/apotik_online/obat_saraf_otot/obat_nyeri.htm

(diakses pada tanggal 23 Maret 2012).

Mutschler, E. 1999. Dinamika Obat. Bandung : ITB

Tan Hoan, dan Kirana Rahardja. 1964. Obat-Obat Penting Edisi Kelima. Jakarta: PT.
Gramedia.

Tjay dan K .Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting . Jakarta; PT Elex Media Komputindo hal.312-
318.
Sabtu, 28 Maret 2015
AKTIVITAS ANTELMINTIK

LAPORAN PRAKTIKUM
FARMAKOLOGI II
AKTIVITAS ANTELMINTIK

A.    Tujuan
1.      Dapat merancang dan melakukan eksperimen sederhana untuk menguji aktivitas antelmintik (anti
cacing) suatu bahan uji secara in vitro.
2.      Dapat menjelaskan perbedaan paralisis spastic dan flasid yang terjadi pada cacing setelah kontak
dengan antelmintik (anti cacing)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Antelmintika atau obat cacing (Yunani anti = lawan, helmintes = cacing) adalah obat yang dapat
memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah ini termasuk semua zat yang
bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obat-obat sistemik yang membasmi
cacing serta larvanya, yang menghinggapi organ dan jaringan tubuh (Tjay, 2007)

Kebanyakan antelmintik efektif terhadap satu macam cacing, sehingga diperlukan diagnosis
tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Kebanyakan antelmintik diberikan secara oral, pada saat
makan atau sesudah makan. Beberapa senyawa antelmintik  yang lama, sudah tergeser oleh obat
baru seperti Mebendazole, Piperazin, Levamisol, Albendazole, Tiabendazole, dan sebagainya. Karena
obat tersebut kurang dimanfaatkan. (Gunawan, 2009)

Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar dan menjangkiti lebih
dari 2 miliar manusia diseluruh dunia. Walaupun tersedia obat-obat baru yang lebih spesifik dangan
kerja lebih efektif, pembasmian penyakit ini masih tetap merupakan salah satu masalah antara lain
disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi di beberapa bagian dunia. Jumlah manusia yang
dihinggapinya juga semakin bertambah akibat migrasi, lalu-lintas dan kepariwisataan udara dapat
menyebabkan perluasan kemungkinan infeksi. (Tjay, 2007)

Terdapat tiga golongan cacing yang menyerang manusia yaitu matoda, trematoda, dan cestoda.
Sebagaimana penggunaan antibiotika, antelmintik ditujukan pada target metabolic yang terdapat
dalam parasite tetapi tidak mempengaruhi atau berfungsi lain untuk pejamu. (Mycek,2001)

B. Obat Antelmintik yang Lazim Digunakan


1.      Piperazin

Efektif terhadap A.lumbricoides dan E.vermicularis. Mekanisme kerjanya menyebabkan blokade


respon otot cacing terhadap asetilkolin _ paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik
usus. Absorpsi melalui saluran cerna, ekskresi melalui urine. (Anonim.2010)

Piperazin pertama kali digunakan sebagai antelmintik oleh Fayard (1949). Pengalaman klinik
menunjukkan bahwa piperazin efektif sekali terhadap A. lumbricoides dan E. vermicularis
sebelumnya pernah dipakai untuk penyakit pirai. Piperazin juga terdapat sebagai heksahidrat yang
mengandung 44% basa. Juga didapat sebagai garam sitrat, kalsium edetat dan tartrat. Garam-garam
ini bersifat stabil non higroskopis, berupa kristal putih yang sangat larut dalam air, larutannnya
bersifat sedikit asam. (Anonim.A)

a.      Efek antelmintik


Piperazin menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin sehinggga terjadi
paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus. Cacing biasanya keluar 1-3 hari setelah
pengobatan dan tidak diperlukan pencahar untuk mengeluarkan cacing itu. Cacing yang telah
terkena obat dapat menjadi normal kembali bila ditaruh dalam larutan garam faal pada suhu 37°C.
(Anonim.A)
Diduga cara kerja piperazin pada otot cacing dengan mengganggu permeabilitas membran
sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan potensial istirahat, sehingga
menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan, disertai paralisis. (Anonim.A)
Pada suatu studi yang dilakukan terhadap sukarelawan yang diberi piperazin ternyata dalam
urin dan lambungnya ditemukan suatu derivat nitrosamine yakni N-monistrosopiperazine dan arti
klinis dari penemuan ini belum diketahui. (Anonim.A)

b.      Farmakokinetik
Penyerapan piperazin melalui saluran cerna, baik. Sebagian obat yang diserap mengalami
metabolisme, sisanya diekskresi melalui urin. Menurut, Rogers (1958) tidak ada perbedaan yang
berarti antara garam sitrat, fosfat dan adipat dalam kecepatan ekskresinya melalui urin. Tetapi
ditemukan variasi yang besar pada kecepatan ekskresi antar individu. Yang diekskresi lewat urin
sebanyak 20% dan dalam bentuk utuh. Obat yang diekskresi lewat urin ini berlangsung selama 24
jam. (Anonim.A)

c.       Efek nonterapi dan kontraindikasi


Piperazin memiliki batas keamanan yang lebar. Pada dosis terapi umumnya tidak
menyebabkan efek samping, kecuali kadang-kadang nausea, vomitus, diare, dan alergi. Pemberian
i.v menyebabkan penurunan tekanan darah selintas. Dosis letal menyebabkan konvulsi dan depresi
pernapasan. Pada takar lajak atau pada akumulasi obat karena gangguan faal ginjal dapat terjadi
inkoordinasi otot, atau kelemahan otot, vertigo, kesulitan bicara, bingung yang akan hilang setelah
pengobatan dihentikan. Piperazin dapat memperkuat efek kejang pada penderita epilepsi. Karena itu
piperazin tidak boleh diberikan pada penderita epilepsi dan gangguan hati dan ginjal. Pemberian
obat ini pada penderita malnutrisi dan anemia berat, perlu mendapatkan pengawasan ekstra.
Karena piperazin menghasilkan nitrosamin, penggunaannya untuk wanita hamil hanya kalau benar-
benar perlu atau kalau tak tersedia obat alternatif. (Anonim.A)

d.      Sediaan dan posologi


Piperazin sitrat tersedia dalam bentuk tablet 250 mg dan sirop 500 mg/ml, sedangkan
piperazin tartrat dalam tablet 250 mg dan 500 mg. Dosis dewasa pada askariasis adalah 3,5 g sekali
sehari. Dosis pada anak 75 mg/kgBB (maksimum 3,5 g) sekali sehari. Obat diberikan 2 hari berturut-
turut. Untuk cacing kremi (enterobiasis) dosis dewasa dan anak adalah 65 mg/kgBB (maksimum 2,5
g) sekali sehari selama 7 hari. Terapi hendaknya diulangi sesudah 1-2 minggu. (Anonim.A)
2.      Pirantel Pamoat

Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Mekanisme kerjanya
menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi imfuls, menghambat enzim
kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat
urine. (Anonim.2010)

Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing tambang, tetapi
tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan penerusan impuls
neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak
peristaltik usus. Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari
tubuh, cacing akan segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. . (Tjay
dan Rhardja, 2002:193)

Resorpsinya dari usus ringan kira – kira 50% diekskresikan dalam keadaan utuh
bersamaan dengan tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui urin. Efek sampingnya cukup
ringan yaitu berupa mual, muntah, gangguan saluran cerna dan kadang sakit kepala. (Tjay dan
Rhardja, 2002:193). Dosis terhadap cacing kremi dan cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg,
anak-anak ½ 2 tablet sesuai usia (10mg/kg). (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis tunggal pirantel
pamoat 10mg/kg Bb (ISO, 2009 : 81).

C.   Macam-Macam Cacing


         CACING TAMBANG

Adalah cacing parasit (nematoda) yang hidup pada usus kecil inang(korban sebagai tempat
makan)nya, dalam hal ini adalah manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing
Tambang didefinisikan sebagai cacing parasit pengisap darah yang mempunyai pengait yang kuat
pada rongga mulut atau pipi untuk menyerang usus.

         CACING GELANG/ ASCARIS (CACING PERUT)

Cacing ini termasuk dalam kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang(invertebrata) yang
termasuk dalam filum Nemathelminthes Ascaris lumbricoides.Untuk definisi lengkap dari cacing
gelang ini, saya belum menemukannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI)pun Cacing
Gelang berada dalam sub pengertian cacing sebagai cacing yang hidup dalam usus halus manusia.
Hanya itu saja yang saya temukan, sayang sekali.
         CACING CAMBUK

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing Cambuk tidak terdapat definisinya. Namun
dari berbagai sumber yang ada Trichuris trichiura ini disebut cambuk adalah karena pada bagian
anteriornya berbebtuk langsing memanjang seperti cambuk, yang panjangnya kira-kira mencapai 3/5
dari panjang seluruh tubuhnya.

         CACING JANTUNG

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing Jantung atau Dirofilaria immitis didefinisikan
sebagai cacing nematoda yang terdapat dalam jantung karnivora, betinanya dapat mencapai panjang
30 cm. Cacing ini kebanyakan menyerang pada hewan, seperti anjing dan kucing. Dapat
menyebabkan kematian pada hewan inangnya apabila tidak dirawat.

         CACING PITA

Termasuk dalam Kerajaan Animalia, Filum Platyhelminthes, Kelas Cestoda, Bangsa


Cyclophyllidea, Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing Pita didefinisikan sebagai cacing
berkepala, beruas-ruas, panjang dan pipih seperti pita, hidup di dalam perut, biasanya dianggap
sebagai sumber penyakit. Anggota-anggotanya dikenal sebagai parasit vertebrata dan yang paling
penting cacing ini dapat menginfeksi manusia, babi, sapi, dan kerbau.

  CACING PIPIH

Tubuhnya memipih dan badan berbentuk pita adalah Filum Platyhelminthes yang terdapat
4 kelas didalamnya yaitu Turbellaria, Trematoda, Cestoda dan monogenea (cacing pita merupakan
bagian dari cestoda). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing Pipih didefinisikan sebagai
cacing berbadan pipih, yang mempunyai rongga tubuh.

         CACING KREMI ATAU ENTEROBIUS VERMICULARIS

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing Kremi definisinya adalah cacing kecil yang
hidup sebaga parasit dalam perut, terutama pada anak-anak.Penyakit ini sering disebut kremien di
kalangan orang jawa. Cacing ini tumbuh dan berkembangbiak di dalam usus manusia dan aktif pada
malam hari(bergerak ke anus untuk bertelur).

         CACING BENANG ATAU FILARIA(Wuchereria bancrofti)


Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka disebut cacing benang atau filaria. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing Benang definisinya adalah cacing yang menyebabkan
penyakit filariaris yang menyebabkan pembengkakan pada kaki.

         CACING TANAH

Cacing Tanah adalah nama yang paling umum digunakan untuk hewan dalam kelompok
Oligochaeta, yang nama kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya. Cacing ini tergolong
dalam filum Annelida. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Cacing Tanah didefinisikan
sebagai cacing yang hidup di dalam tanah yang lembap.

Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m.Contoh annelida yang panjangnya
3 m adalah cacing tanah Australia. Bentuk tubuhnya simetris bilateral dan bersegmen menyerupai
cincin. (Anonim.B)

Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu segmen dengan
segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf
di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh
Annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan
kontraksi otot. (Anonim.B)

Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Sistem
pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan
anus. Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup.
Darahnya mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari
esofagus berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. (Anonim.B)

Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak terletak di depan faring
pada anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan
nefrotor. Nefridia (tunggal–nefridium) merupakan organ ekskresi yang terdiri dari saluran.
Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupaka npori permukaan tubuh
tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya. (Anonim.B)

Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan
menempel pada vertebrata, termasuk manusia. Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan
perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembap. Annelida
hidup di berbagai tempat dengan membuat liang sendiri. (Anonim.B)
Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet. Namun ada
juga yang bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi. Organ seksual annelida
ada yang menjadi satu dengan individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu lain
(gonokoris). (Anonim.B)

Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta
(cacing berambut sedikit), dan Hirudinea. (Anonim.B)

BAB III

METODE PELAKSANAAN

I.                   Alat dan bahan

Alat Bahan

       Cawan petri        Cacing tanah


       Beaker glass        Combactrin tab
       Sarung tangan        Combactrin syr
       Serbet        Upixon syr
       Tabung Reaksi        NaCl 0.9% b/v
       Stopwatch

II.                Prosedur

1. Siap kan cacing tanah, masing – masing cawan berisi 2 ekor cacing.
2.      Di siapkan larutan uji Combactrin tab ,Combactrin syr, Upixon syr, dan NaCl 0.9% b/v. Masing –
masing larutan di tambah kan Nacl 5ml

3. Di tuangkan larutan uji masing-masing ke dalam tiap cawan petri dengan pola sebagai
berikut:
-          Cawan petri I : Combactrin tab ctrl1(+)
-          Cawan petri II : Combactrin syr ctrl2(+)
-          Cawan petri III : Upixon syr ctrl3(+)
-          Cawan petri IV : NaCl fisiologis ctrl1(-)

4. Kemudian amati selama 1 jam, lalu di catat waktunya

BAB IV

HASIL

Tabel Hasil Pengamatan

Nama Sediaan Cacing Flasid (F) Cacing Mati (M) 1 jam pengamatan
Uji

NaCl fisiologis N N N
ctrl1(-)
Combactrin 3 menit 43 detik 6 menit 35 detik M
tab ctrl1(+)

Combactrin 3 menit 25 detik 7 menit 44 detik M


syr ctrl2(+)

Upixon syr 2 menit 27 detik 7 menit 26 detik M


ctrl3(+)

Keterangan :

N = Normal/Tetap hidup

F= Diam/Pingsan

M= Mati

BAB V

PEMBAHASAN
Antelmintik atau obat cacing adalah obat-obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh
manusia dan hewan. Banyak antelmintik dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan cacing, jadi
tidak mematikannya. Guna mencegah jangan sampai parasit menjadi aktif lagi atau sisa–sisa cacing
mati dapat menimbulkan reaksi alergi, maka harus dikeluarkan secepat mungkin

Cacingan merupakan salah satu penyakit yang banyak dijumpai di masyarakat dan saat ini masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Cacingan dapat mengakibatkan
menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara
ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein
serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi cacingan di
Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang
mampu, mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakit ini.

Pada praktikum kali ini, yang menjadi bahan amatan pengamat adalah aktivitas pirantel
pamoat juga sebagai obat antelmintik yang bekerja dalam mempengaruhi sistem saraf dari cacing
yang akan diamati efeknya.
Pada prosedur awal, cacing yang digunakan adalah cacing tanah , hal ini dapat dilakukan karena
yang akan diamati oleh pengamat adalah aktivitas pirantel pamoat terhadap aktivitas sistem saraf
pusat, dan yang lebih memudahkannya adalah bila menggunakan cacing tanah tidak diperlukan dua
jenis cacing dari jenis kelamin yang berbeda, karena cacing tanah merupakan cacing berkelamin
ganda (hemaprodit).
Pada pratikum kali ini, sediaan uji yang digunakan adalah combactrin tablet ctrl 1(+);
combactrin sirup ctrl 2(+); upixon sirup ctrl 3(+) dan Nacl fisiologis 0,9% ctrl 1(-). Masing – masing
sediaan uji diambil 5ml, lalu ditambahkan 5ml Nacl untuk menambah volume sediaan dan kemudian
dimasukkan kedalam tabung reaksi.
Setiap cawan petri masing – masing berisikan cacing tanah 2 ekor yang masih hidup. Kemudian
langkah selanjutnya adalah memasukkan masing – masing sediaan uji secara bersamaan kedalam
cawan petri yang berisi cacing tanah. Cacing diamati dengan waktu maksimal 1 jam.
Cacing pingsan pada upixon sirup ctrl 3(+) saat 2 menit 27 detik , pada combactrin sirup ctrl 1(+)
cacing pingsan saat 3 menit 25 detik , lalu pada combactrin tablet ctrl 2(+) saat 3 menit 43 detik dan
sedangkan Nacl fisiologis 0,9% ctrl 1(-) cacing tidak pingsat bahkan tetap hidup normal.

Pengamatan selanjutnya cacing mengalami kematian pada menit ke 6 ini, karena


tidak memberikan aktivitas apapun, terlebih dahulu pada combactrin tablet ctrl 1(+) saat 6 menit 35
detik, lalu upixon sirup ctrl 3(+) saat 7 menit 26 detik, combactrin sirup ctrl 2(+) saat 7 menit 35 detik
dan Nacl fisiologis 0,9% ctrl 1(-) cacing tetap hidup. Larutan ini dipakai sebagai medium karena
larutan NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonis dan tidak merusak membran sel tubuh cacing,
oleh sebab itu standar batas kematian cacing sebagai kontrol negatif digunakan larutan NaCl 0,9%.

Penggunaan sediaan uji pyrantel pamoat, Pyrantel pamoat adalah suatu obat cacing
yang penggunaannya sangat praktis (dosis tunggal) dan efektif untuk mengobati penyakit cacingan.
Mekanisme kerja dari pyrantel pamoat  yaitu dengan mengganggu hubungan neuromuskuler. Hal ini
akan  menyebabkan spasmus dan pengerutan otot cacing, sehingga cacing mudah dikeluarkan oleh
gerakan usus. Pyrantel sangat sedikit diserap usus sehingga tidak menimbulkan bahaya keracunan.
Mekanisme lainnya dengan menghambat masuknya glukosa dan mempercepat penggunaan
(glikogen) pada cacing.

Hewan uji yang digunakan adalah cacing tanah, selain itu cacing tanah memiliki banyak
manfaat di dunia kesehatan, Daging  cacing  tanah  merupakan  salah   satu  sebagai  alternative 
pengobatan  bagi kehidupan  manusia.  Banyak  khasiat daging  cacing  tanah bagi  kesehatan 
manusia.  Lumbricus  Rubellus  dapat  menjadi obat  yang  manjur  untuk  menyembuhkan  berbagai 
penyakit. Diantaranya  ialah  penyakit  tekanan darah rendah dan tekanan darah  tinggi, kencing
manis, tipus, rematik, disentri, maag, muntaber, asma dan penyakit  kronis  lainnya.
Hasil – hasil  penelitian  pun telah menguak  multi manfaat  cacing tanah. Hewan  ini mengandung 
berbagai enzim  penghasil  antibiotic  dan  asam  arhidonat  yang   berkhasiat  menurunkan  demam.
Sejak tahun  1990  di Amerika  Serikat  cacing  ini  dimanfaatkan  sebagai  penghambat 
pertumbuhdan  kanker.  Di Jepang  dan Australia,  cacing  tanah  dijadikan sebagai  bahan  baku 
kosmetika. Penelitian  laboratorium  mikrobiologi  fakultas  Matematika dan Ilmu  Pengetahuan 
Unpad Bandung  tahun 1996  menunjukkan  bahwa  ekstra  cacing  rubellus  mampu  menghambat 
pertumbuhan  bakteri  pathogen  penyakit  tipus  dan diare. Memang  tak  ada  informasi yang jelas, 
kapan  cacing  dianggap  berkhasiat. Tapi,  Lumbricus  rubellus  punya  manfaat  medis. Sudah diteliti 
para  ilmuwan Amerika.  Dari sana lah  ditemukan  bahwa  lumbricus  punya  kemampuan
mengubah  Omega – 6  menjadi Omega – 3. Omega  3  ini dapat  mencegah  terjadinya  pengerasan
pembuluh darah  yang diakibatkan  oleh  lemak.  Dalam penelitian  itu juga dilakukan percobaan 
dengan mengisolasi  bahan kimia  yang  ada  pada   tubuh  lumbricus  rubellus. Kemudian
menumbuhkannya  ke  sel  tubuh  manusia.  Ternyata bahan kimia  itu dapat  mengurangi  gangguan 
di pembuluh  arteri  yang dapat  mengakibatkan  serangan  jantung
Dari sini dapat disimpulkan bahwa pirantel pamoat memberikan efek paralisis flasid karena
mempunyai mekanisme kerja berdasarkan perintangan penerusan impuls neuromuskuler, hingga
cacing dilumpuhkan.

BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dari pratikum kali ini dapat disimpulkan bahwa pirantel pamoat memberikan efek paralisis
flasid karena mempunyai mekanisme kerja berdasarkan perintangan penerusan impuls
neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan.

B.     SARAN

Sebaiknya kita selalu menjaga kebersihan makanan dan selalu mencuci tangan agar
terhindar dari cacingan.

DAFTAR PUSTAKA
Katzung.1989.Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3.EGC: Jakarta

Mycek.2001.Farmakologi Ulasan Bergambar.Widya Medika : Jakarta

Anonim.2010. http://farmakologi.files.wordpress.com/2010/02/antelmintik.pdf

Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana, 2002, Obat – Obat Penting, PT. Elex Media Komputindo,
Jakarta

Kasim, Fauzi, dkk.,2009, ISO Indonesia, volume 44, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta

Katzung BG. Farmakologi dasar dan klinik. Buku 3. Edisi VIII. Jakarta: Salemba Medika; 2002; 280-81

VI. PEMBAHASAN
Sebagian besar obat cacing efektif terhadap satu macam kelompok cacing,
sehingga diperlukan diagnosis yang tepat sebelum menggunakan obat tertentu.
Pada praktikum ini, dilakukan pengamatan aktivitas antelmentik secara invitro
dengan berbagai konsentrasi. Percobaan ini dilakukan tidak menggunakan
organisme yang terinfeksi, melainkan hanya dibuat keadaan lingkungan yang
mirip dengan keadaan aslinya atau tubuh. Pengamatan aktivitas yang dilakukan
hanya dilihat dari segi perubahan kerja saraf dan otot pada cacing.
Cacing yang digunakan pada praktikum ini ialah Lumbricus sp yang
merupakan hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang
(invertebrata). Lumbricus sp diasumsikan sama seperti cacing gelang biasa
(Ascaris lumbricoides) yang menginfeksi usus halus manusia. Tidak ada
perbedaan aktivitas dan efek pada cacing jantan dan betina dalam jenis ini,
karena cacing ini merupakan hewan hemafrodit yang dapat memiliki dua
kelamin sekaligus. Larutan antelmintik yang dipergunakan adalah combantrin,
upixon dan piperazin sitrat.
Keadaan cacing yang digunakan oleh kelompok 3 awalnya sudah lemas,
tidak bergerak normal tetapi masih hidup. Setelah cacing dimasukkan kedalam
cawan petri, dimasukkan larutan upixon 2.5%, kemudian dilihat kembali
pergerakan cacing, bila cacing masih bergerak sama dengan keadaan awalnya
berarti cacing tersebut masih dalam keadaan normal, bila diam ada tiga
kemungkinan yaitu cacing tersebut masih normal, paralisis atau mati. Bila
cacing tersebut diam setelah diusik menggunakan batang pengaduk, masukkan
cacing kedalam air hangat 50
o
C. Air dengan suhu tersebut dapat meningkatkan
metabolisme cacing kembali sehingga cacing bergerak dan dapat diamati
keadaannya : normal, paralysis atau mati. Bila cacing mengalami paralysis atau
lumpuh, maka ditentukan apakah cacing tersebut paralysis spastic (kaku) atau
flasid (lemas).
Dari hasil pengamatan, keadaan cacing pada cawan petri kontrol tetap
sama (normal). Pada upixon 2,5 %, 5 menit pertama cacing sudah mengalami
paralisis flasid hingga menit 15 cacing sudah mati. Cacing pada upixon 1,25 %
5 menit pertama cacing sudah mengalami paralisis flasid pada menit ke 10
cacing sudah mati. Pada combantrin 20% didapatkan hasil pada menit ke 5
cacing mengalami paralisis flasid hingga menit ke 10 cacing sudah mati.
Seharusnya semakin kecil konsentrasi obat semakin dapat bertahan cacing
tersebut terhadap kerja obat. Hal ini mungkin dikarenakan keadaan awal cacing
lumbricus sp yang digunakan tidak normal seperti cacing kontrol.
Dari hasil pengamatan, didapatkan pergerakan cacing mengalami paralisis
splastik, yaitu keadaan dimana terjadinya kekejangan yang tidak dapat
dikendalikan, karena kontraksi otot yang berlebih. Pirantel merupakan derivat
pirimidin yang berkhasiat terhadap Ascaris, Oxyuris dan cacing tambang tetapi
tidak efektif terhadap Trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perlumpuhan
cacing dengan jalan menghambat penerusan impuls (depolarisasi)
neuromuscular pada cacing, menghambat enzim kolinesterase sehingga
asetilkolin menjadi banyak dan menduduki reseptor kemudian terjadi
depolarisasi yang menyebabkan kontraksi meningkat sehingga mengakibatkan
kejang. Parasit dikeluarkan oleh peristaltic usus tanpa memerlukan laksan.
Resorpsinya dari usus ringan; 50% zat diekskresikan dalam keadaan utuh
bersama metabolitnya melalui tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui air
seni. Sebaiknya hindarkan penggunaan Combantrin semasa hamil dan anak
dibawah usia 2 tahun karena keamanan penggunaannya belum diteliti/banyak
diketahui. Pemberian combantrin dengan piperazine dapat menyebabkan efek
antagonis serta menurunkan efek kerja dari pirantel pamoate.
Antelmintik lain yang digunakan pada praktikum ini ialah Upixon. Upixon
diproduksi oleh Bayer mengandung piperazin 1 gr/5 ml sirup. Tetapi pada
praktikum, kandungan dari Upixon sama dengan kandungan dari combantrin,
yaitu Pirantel pamoat. Piperazin merupakan antelmintik lain yang biasa
digunakan untuk mengatasi masalah penyakit ifeksi cacing.
of 14