Anda di halaman 1dari 37

SEMINAR PERPAJAKAN

REKONSILIASI FISKAL DAN PPH BADAN

Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Seminar Perpajakan

oleh :

Clairine Fedora 1551020

Shelinawaty Esmeralda S 1551064

Elisabet Olivia Saraswati 1551075

Kelas : AK – C

Dosen : Dr. Ita Salsalina Lingga, S.E., M.Si., Ak., CA

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

BANDUNG

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga paper
ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terima kasih
atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikirannya.

Harapan penulis semoga paper ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
paper agar menjadi lebih baik lagi.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat
memperbaiki paper ini.

Akhir kata penulis berharap semoga paper Mata Kuliah Seminar Perpajakan tentang
Rekonsiliasi Fiskal dan PPh Badan ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap
pembaca.

Bandung, September 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1

1.1 Latar Belakang..........................................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................................................2

1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................................................2

BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................................3

2.1 Pengertian Rekonsiliasi Fiskal..................................................................................................3

2.1.1 Biaya yang Boleh Mengurangi Penghasilan.............................................................................4

2.1.2 Biaya yang Tidak Diperbolehkan Mengurangi Penghasilan.....................................................5

2.2 Penyebab terjadinya Rekonsiliasi Fiskal...................................................................................7

2.3 Jenis Koreksi Fiskal..................................................................................................................7

2.3.1 Koreksi Fiskal Positif...............................................................................................................7

2.3.2 Koreksi Fiskal Negatif..............................................................................................................9

2.4 Teknik Rekonsiliasi Fiskal......................................................................................................11

2.5 Laporan Keuangan Fiskal.......................................................................................................12

2.6 Kredit Pajak............................................................................................................................12

2.6.1 Jenis-jenis Kredit Pajak..........................................................................................................13

2.6.2 Dasar Hukum Kredit Pajak.....................................................................................................14

2.6.3 Perlakuan Kredit Pajak dalam Praktek....................................................................................14

2.7 PPh Badan..............................................................................................................................15

BAB III PEMBAHASAN......................................................................................................16

3.1 Studi Kasus.............................................................................................................................16

3.1.1 Contoh Soal............................................................................................................................16

3.1.2 Kasus......................................................................................................................................21
3.2 Kesimpulan.............................................................................................................................25

3.3 Saran.......................................................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................26

LAMPIRAN.............................................................................................................................28
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rekonsiliasi fiskal adalah koreksi atau penyesuaian yang dilakukan oleh
Wajib Pajak sebelum menghitung Pajak Penghasilan (PPh) bagi Wajib Pajak Badan
dan Wajib Pajak Orang Pribadi (yang menggunakan pembukuan dalam menghitung
penghasilan kena pajak).
Akibat koreksi fiskal dari laporan keuangan komersial menjadi laporan
keuangan fiskal menyebabkan perbedaan perhitungan, khususnya antara laba
komersial dengan laba fiskal. Beberapa penyebab utama perbedaan laba komersial
dengan laba fiskal yang banyak ditemui adalah sebagai berikut:
1. Adanya penghasilan yang bukan objek pajak menurut fiskal (non-taxable income)
2. Adanya penghasilan yang dikenakan PPh Final sehingga tidak perlu lagi dihitung
dalam SPT Tahunan
3. Adanya biaya-biaya yang menurut ketentuan fiskal tidak boleh dikurangkan (non-
decutible expenses)
4. Adanya perbedaan waktu pengakuan biaya seperti biaya penyusutan dan
amortisasi
Di dalam koreksi fiskal terdapat dua perbedaan, yaitu perbedaan tetap dan
perbedaan waktu. Untuk perbedaan tetap biasanya disebut sebagai penghasilan
(sumbangan dan penghasilan bunga deposito) dan biaya (biaya sumbangan, biaya
sanksi perpajakan) yang diakui dalam perhitungan laba neto untuk akuntansi
komersial, tetapi tidak diakui dalam perhitungan akuntansi pajak. Sedangkan untuk
perbedaan waktu yaitu penghasilan (pendapatan laba selisih kurs) dan biaya (biaya
penyusutan dan biaya sewa) yang dapat diakui oleh akuntansi komersial, tetapi tidak
dapat diakui sekaligus oleh akuntansi pajak, biasanya karena ada perbedaan metode
pengakuan.
Jika Wajib Pajak harus menyusun dua laporan keuangan yang berbeda, maka
disamping terdapat pemborosan waktu, tenaga, dan uang juga akan terjadi tidak
tercapainya tujuan untuk menghindari menipulasi pajak.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan rumusan
masalahnya sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari rekonsiliasi fiskal?
2. Apa penyebab rekonsiliasi fiskal?
3. Apa saja jenis-jenis koreksi fiskal?
4. Apa saja teknik dalam koreksi fiskal?
5. Apa itu PPh Badan?

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitiannya sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari rekonsiliasi fiskal
2. Untuk mengetahui apa penyebab rekonsiliasi fiskal
3. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis dalam koreksi fiskal
4. Untuk mengetahui teknik apa saja dalam koreksi fiskal
5. Untuk mengetahui apa itu PPh Badan
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Rekonsiliasi Fiskal


Pengertian koreksi fiskal menurut Agoes dan Trisnawati, “Rekonsiliasi
(koreksi) fiskal adalah proses penyesuaian atas laba komersial yang berbeda dengan
ketentuan fiskal untuk menghasilkan penghasilan neto/laba yang sesuai dengan
ketentuan pajak.” Sedangkan menurut Setiawan dan Musri, “Rekonsiliasi fiskal
adalah penyesuaian ketentuan menurut pembukuan secara komersial atau akuntansi
yang harus disesuaikan menurut ketentuan pajak.”
Jadi dapat disimpulkan bahwa rekonsiliasi fiskal adalah proses untuk
menyesuaikan laba antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan
fiskal sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku.
Rekonsiliasi fiskal yang dilakukan oleh Wajib Pajak (WP) biasanya terdapat
perbedaan laba antara perhitungan komersial dengan perpajakan. Perbedaan tersebut
terbagi menjadi 2 yaitu adanya perbedaan tetap (Permanent Difference) dan
perbedaan waktu (Time Difference). Perbedaan tetap merupakan penghasilan dan
biaya yang diakui dalam perhitungan laba neto untuk akuntansi komersial tetapi tidak
diakui dalam perhitungan akuntansi pajak. Contoh penghasilan yaitu dari sumbangan
dan penghasilan bunga deposito sedangkan contoh dari biaya yaitu biaya sumbangan
dan biaya sanksi perpajakan. Perbedaan waktu merupakan penghasilan dan biaya
yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi komersial, tetapi tidak dapat diakui sekaligus
oleh akuntansi pajak, biasanya karena adanya perbedaan metode pengakuan. Contoh
dari penghasilan adalah pendapatan laba selisih kurs, sedangkan contoh dari biaya
merupakan biaya penyusutan dan biaya sewa.
Untuk melakukan rekonsiliasi (koreksi) fiskal terdapat 4 langkah yang perlu
diperhatikan. Pertama, mengenal terlebih dahulu penyesuaian fiskal yang diperlukan.
Kedua, menganalisa elemen-elemen penyesuaian guna menentukan pengaruhnya
terhadap laba usaha kena pajak. Ketiga, menyesuaikan atau mengoreksi fiskal dengan
melakukan koreksi fiskal positif dan negatif. Terakhir, menyusun laporan keuangan
secara fiskal sebagai lampiran SPT Tahunan pajak penghasilan.

2.1.1 Biaya yang Boleh Mengurangi Penghasilan


Berikut merupakan biaya-biaya yang boleh mengurangi penghasilan adalah:
1. Biaya-biaya yang boleh dikurangkan (deductible expense) dan penghasilan bruto
Wajib ajak Orang Pribadi dalam rangka menghitung PPh terutang (Pasal 6 UU
PPh) adalah
a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk:
1) Biaya pembelian bahan
2) Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa, termasuk upah, gaji,
honorarium, bonus, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang
3) Bunga, Sewa, dan Royalti
4) Biaya perjalanan
5) Biaya pengolahan limbah
6) Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan
7) Premi asuransi
8) Biaya administrasi
9) Pajak, kecuali Pajak Penghasilan
b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan
amortisasi atas Dengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang
mempunyai masa anfaat lebih dan satu tahun. (akan dibahas dalam Modul PPh
Badan)
c. luran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri
Keuangan.
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan
dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan.
e. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing
f. Biaya penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia.
g. Biaya beasiswa, magang dan pelatihan
h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:
1) Telah dibebankan sebagai biaya dalam aporan rugi laba komersial
2) Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengedilan Negeri atau
Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) atau adanya
perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan hutang
antara kreditur dan debitur yang bersangkutan.
3) Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum dan khusus
4) Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jenderal Pajak.
i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang
ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemenntah
j. Sumbangan dalam rangka peneiltian dan pengembangan yang dHakukan c
Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah
k. Biaya Pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah
l. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah; dan
m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur
dalam Peraturan Pemerintah
2. Kompensasi kerugian yang diperhitungkan mulai tahun pajak berikutnya berturut-
turut sampai dengan 5 tahun
3. Penghasilan Tidak Kena Pajak
4. Penyusutan dan amortisasi

2.1.2 Biaya yang Tidak Diperbolehkan Mengurangi Penghasilan


Untuk menentukan, besarnya penghasilan kena pajak bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi dalam negeri, Pasal 9 UU PPh mengatur tentang biaya-biaya yang tidak boleh
dikurangkan dari pengahasilan bruto (Non-Deductible Expense), yaitu:
a. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali:
1) Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutàng
2) Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
3) Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;
4) Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
5) Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
6) Cadangan biaya penutupan dan pemeiharaan tempat pembuangan limbah
industri untuk usaha pengolahan limbah industri,
b. Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, beasiswa yang dibayar oeh
Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi
tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan
c. Penggantian atau imbalan yang sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura atau kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan
minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk
natura atau kenikmatan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
d. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saharn atau
kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan yang dilakukan
e. Harta yang dihibahkan, bantuan, sumbangan, dan warisan, jika memenuhi
ketentuan bahwa bagi yang menerimanya bukan objek pajak sesuai Pasat 4 Ayat
(3) huruf a dan b UU PPh, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6 ayat (1) huruf I, J, K, I, dan huruf M serta zakat yang diterima oleh badan amil
cacat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di
Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan
oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan.
f. Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak yang bersangkutan
g. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak
atau orang yang menjadi tanggungannya
h. Sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan, serta sanksi pidana berupa
denda yang berkenaan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di
bidang perpajakan
i. Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
mernpunyai masa manfaat lebih dan 1 tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan
sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A

2.2 Penyebab terjadinya Rekonsiliasi Fiskal


Terdapat 4 Penyebab terjadinya rekonsiliasi fiskal yaitu :
1. Adanya perbedaan antara SAK dengan peraturan perpajakan (beda konsep, beda
pengukuran, dan beda metode pengalokasian/ saat pengakuan biaya)
2. Adanya penghasilan tertentu yang bukan merupakan objek pajak, atau telah
dikenakan PPh bersifat final
3. Adanya kompensasi kerugian fiskal
4. Adanya harga yang tidak wajar karena hubungan istimewa

2.3 Jenis Koreksi Fiskal


Dalam rekonsiliasi fiskal terdapat 2 jenis koreksi fiskal yaitu koreksi fiskal
positif dan koreksi fiskal negatif.

2.3.1 Koreksi Fiskal Positif


Koreksi fiskal positif yaitu koreksi fiskal yang mengakibatkan laba fiskal
bertambah sehingga laba fiskal lebih besar dari laba komersial. Koreksi positif
biasanya dilakukan akibat adanya beban yang tidak diakui oleh pajak (non-deductible
expense), penyusutan komersial lebih besar dari penyusutan fiskal, amortisasi
komersial lebih besar dari amortisasi fiskal dan penyesuaian fiskal positif lainnya.
Koreksi fiskal positif sendiri juga ada beberapa jenis (berdasarkan UU No. 36 Pasal 4,
Pasal 6 dan Pasal 9 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan/ PPh) yaitu :
a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk
dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan
pembagian sisa hasil usaha koperasi
b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu, atau anggota
c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali:
1. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang
2. Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
3. Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan
4. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan
5. Cadangan biaya dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk
usaha pengolahan limbah industri
6. Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan
d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna,
dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika
dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi
Wajib Pajak yang bersangkutan
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman
bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan
kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau
kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan yang dilakukan
g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan b, kecuali sumbangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m serta zakat yang
diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterime oleh lembaga keagamaan
yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Pemerintah
h. Pajak penghasilan
i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak
atau orang yang menjadi tanggungannya
j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham
k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa
denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang
perpajakan
l. Persediaan yang jumlahnya melebihi jumlah berdasarkan metode penghitungan
yang sudah ditetapkan dalam UU No. 36 Pasal 10 Tahun 2008 tentang PPh
m. Penyusutan yang jumlahnya melebihi jumlah berdasarkan metode penghitungan
yang sudah ditetapkan dalam UU No. 36 Pasal 10 Tahun 2008 tentang PPh
n. Biaya yang ditangguhkan pengakuannya
2.3.2 Koreksi Fiskal Negatif
Koreksi fiskal negatif yaitu koreksi fiskal yang mengakibatkan laba fiskal
berkurang sehingga laba fiskal lebih kecil dari laba komersial. Koreksi negatif ini juga
dilakukan karena adanya penghasilan yang tidak termasuk objek pajak, penghasilan
yang dikenakan PPh Final, penghasilan yang ditangguhkan pengakuannya, dan juga
penyesuaian fiskal negatif lainnya. Jenis koreksi fiskal negatif (berdasarkan UU No.
36 Pasal 4 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan/ PPh) antara lain:
a. Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final
1. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan
surat utang Negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi
kepada anggota koperasi orang pribadi
2. Penghasilan berupa hadiah undian
3. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif
yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh
perusahaan modal ventura
4. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan,
usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau
bangunan
b. Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat
atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan
yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan
yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang
diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah sepanjang
tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di
antara pihak-pihak yang bersangkutan
2. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk
yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan
kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan
3. Warisan
4. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau sebagai pengganti penyertaan modal
5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib
Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib
Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan
norma penghitungan khusus (deemed profit)
6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi beasiswa
7. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau
badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat : dividen
berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan bagi perseroan terbatas, badan
usaha milik Negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen,
kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25%
dari jumlah modal yang disetor
8. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun
pegawai
9. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana
dimaksud pada huruf h, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan
10. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan,
firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi
kolektif
11. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa
bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha
atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :
merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan
kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan; dan sahamnya tidak diperdagangkan di BEI
12. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih
lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
13. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang
ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan
dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4
(empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
14. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
15. Persediaan yang jumlahnya kurang jumlah berdasarkan metode penghitungan
yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008 tentang PPh
16. Penyusutan yang jumlahnya kurang jumlah berdasarkan metode penghitungan
yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008 tentang PPh

2.4 Teknik Rekonsiliasi Fiskal


Teknik rekonsiliasi fiskal dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
 Jika suatu penghasilan diakui menurut akuntansi tetapi tidak diakui menurut
fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan mengurangkan sejumlah penghasilan
tersebut dari penghasilan menurut akuntansi, yang berarti mengurangi laba
menurut akuntansi
 Jika suatu penghasilan tidak diakui menurut akuntansi tetapi diakui menurut
fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan menambahkan sejumlah penghasilan tersebut
pada penghasilan menurut akuntansi, yang berarti menambahkan laba menurut
akuntansi
 Jika suatu biaya/ pengeluaran diakui menurut akuntansi tetapi tidak diakui sebagai
pengurang penghasilan bruto menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan
mengurangkan sejumlah biaya/ pengeluaran tersebut dari biaya menurut
akuntansi, yang berarti menambah laba menurut akuntansi
 Jika suatu biaya/ pengeluaran tidak diakui menurut akuntansi tetapi diakui sebagai
pengurang penghasilan bruto menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan
menambahkan sejumlah biaya/ pengeluaran tersebut pada biaya menurut
akuntansi yang berarti mengurangi laba menurut akuntansi

2.5 Laporan Keuangan Fiskal


Laporan keuangan fiskal adalah laporan keuangan yang disusun sesuai dengan
peraturan perpajakan dan digunakan untuk keperluan perhitungan pajak. Laporan
keuangan fiskal disusun berdasarkan Undang-Undang dan Peraturan Perpajakan.
Pendekatan penyusunan laporan keuangan fiskal sebagai solusi antara ketentuan
akuntansi dan pajak yaitu :
1. Ketentuan pajak secara dominan mewarnai praktek akuntansi. Dalam pendekatan
ini laporan keuangan fiskal murni disusun atas dasar perpajakan. Dengan
demikian dalam melakukan pembukuan perusahaan menyusun laporan harus
menurut ketentuan perpajakan dan menurut praktek pembukuan
2. Ketentuan pajak untuk tujuan penyusunan laporan keuangan merupakan standar
independensi dari prinsip akuntansi, dalam pendekatan ini perusahaan bebas untuk
menyelenggarakan pembukuan berdasarkan prinsip dan metode akuntansi
3. Ketentuan pajak merupakan sisipan terhadap standar akuntansi atas dasar standar
akuntansi. Tetapi preferensi diberikan kepada ketentuan pajak apaila tidak sesuai
dan sejalan dengan standar akuntansi

2.6 Kredit Pajak


Kredit pajak adalah memperhitungkan pajak penghasilan yang telah dibayar
atau dipungut dimuka dengan jumlah pajak yang terutang pada akhir tahun pajak.
Sebagaimana telah diketahui, bahwa wajib pajak dalam negeri dikenakan pajak pada
saat penghasilan diperoleh atau diterima dan bersifat tidak final (dapat sebagai kredit
pajak), terkait dengan PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 23.
Sedangkan segala bentuk penghasilan yang sudah dikenakan pajak yang
bersifat final, tidak boleh diperlakukan sebagai kredit pajak. Demikian pula untuk
pajak penghasilan yang dipungut atau dibayar di luar negeri oleh wajib pajak dalam
negeri. Pajak penghasilan yang telah dipungut di luar negeri dapat dikurangkan
dengan pajak penghasilan yang terhutang di Indonesia, bila telah ada perjanjian
kerjasama timbal balik di bidang perpajakan antara Indonesia dengan negara lain. Bila
belum ada perjanjian pajak, maka wajib pajak tidak dapat melakukan kredit pajak.
Perhitungan besarnya pajak yang dapat dikreditkan terhadap pajak terutang atas
seluruh penghasilan yang telah dipungut di luar negeri diatur dalam pasal 24.
Kredit Pajak untuk pajak penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh
wajib pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam surat tagihan pajak
karena pajak penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah
dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan
yang dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.
Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat
dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau
setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompesasikan yang dikurangkan dari
pajak yang terutang.

2.6.1 Jenis-jenis Kredit Pajak


Kredit Pajak Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan BUT :
 Pasal 22 : Pemungutan PPh dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di
bidang lain
 Pasal 23 : Pemotongan PPh dari dividen, bunga , royalti, sewa, hadiah dan
penghargaan, dan imbalan lain
 Pasal 24 : Pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang
boleh dikreditkan
 Pasal 25 : Pembayaran yang dilakukan oleh wajib pajak sendiri

2.6.2 Dasar Hukum Kredit Pajak


Berikut adalah dasar hukum dalam kredit pajak :
 UU No. 7 / 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 36 / 2008 (UU PPh)
 Keputusan Menteri Keuangan No. 164 / KMK.03 / 2002 tentang Kredit Pajak
Luar Negeri

2.6.3 Perlakuan Kredit Pajak dalam Praktek


Perlakuan kredit pajak dalam praktek berdasarkan pasal 24 ayat (1) dan ayat
(2) UU PPh menerangkan bahwa :
a. Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri
yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri boleh dikreditkan terhadap
pajak yang terutang berdasarkan Undang-Undang ini dalam tahun pajak yang
sama.
b. Besarnya Kredit Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah sebesar pajak
penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi
perhitungan pajak yang terutang berdasarkan Undang-Undang ini.
Agar dapat melakukan Kredit Pajak dengan baik, perlu memperhatikan dasar
pengakuan penghasilan. Penjelasan mengenai UU PPh Pasal 24 ayat (1) dan (2)
menyatakan bahwa :
a) Penghasilan yang “diterima” mengindikasikan bahwa penghasilan diakui pada
saat dibayar (cash basis), sedangkan penghasilan “diperoleh” menunjukkan
penghasilan diakui pada saat terjadinya walaupun uang belum diterima (accrual
basis). Pajak penghasilan di luar negeri ini bisa jadi telah dibayar (cash basis) atau
belum dibayar atau terutang (accrual basis) oleh Wajib Pajak
b) Pajak yang telah dibayar atau terutang di luar negeri dapat digunakan sebagai
pengurang (Kredit Pajak) pajak yang terutang atas seluruh penghasilan pada tahun
pajak yang sama
c) Batas kredit ditentukan menurut undang-undang
d) Besarnya kredit pajak tidak boleh melebihi jumlah batas kredit pajak.
2.7 PPh Badan
Menurut UU Pajak Penghasilan Pasal 1, Pajak Penghasilan adalah pajak yang
dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya
dalam tahun pajak. Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) adalah pajak yang
dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh Badan seperti yang
dimaksud dalam UU KUP.
Menurut Pasal 4 (1), penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Badan baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan wajib pajak badan yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apapun.
Kewajiban Wajib Pajak Badan dalam perpajakan untuk mendaftarkan diri
untuk memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan apabila Wajib Pajak Badan
melakukan kegiatan penyerahan barang kena pajak dan atau jasa kena pajak atau
ekspor barang kena pajak yang terutang PPN berdasarkan UU PPN 1984, maka Wajib
Pajak Badan tersebut memiliki kewajiban untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena
Pajak (PKP). Untuk Wajib Pajak Badan atau pengusaha kecil yaitu selama satu tahun
buku melakukan penyerahan BKP dan atau JKP dengan jumlah peredaran bruto tidak
lebih dari Rp 4.800.000.000,- (empat milyar delapan ratus juta rupiah) maka tidak
diwajibkan untuk dikukuhkan sebagai PKP, kecuali pengusaha kecil tersebut memilih
untuk dikukuhkan sebagai PKP. Jadi, apabila peredaran brutonya lebih dari 4,8M
maka lebih mengukuhkan diri menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP).

13
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Studi Kasus


3.1.1 Contoh Soal
INFORMASI
1) Persediaan per 31/12/2014 menurut metode LIFO Rp. 800.000.000,- sedangkan
menurut FIFO Rp. 900.000.000,-
2) Beban gaji dan upah termasuk biaya pembayaran asuransi mobil dan rumah
pribadi milik pemegang saham sebesar Rp. 30.000.00,-
3) Penjualan tersebut belum termasuk penjualan ke Kemdiknas sebesar Rp.
500.000.000,- yang belum dibukukan oleh wajib pajak. (Bukti potong nomor
003/Diknas/14 tanggal 15 Juli 2015 dengan nilai PPh 22 sebesar Rp. 7.500.000,-)
4) Beban representative yang terdapat daftar nominatifnya adalah sebesar Rp.
200.000.000,-
5) Beban penyusutan apabila dihitung menurut fiscal adalah sebesar Rp,
119,479,167,-
6) Pendapatan deviden sebesar Rp. 100.000.000,- 40%-nya merupakan deviden dari
penyertaan pada PT. ABC (30%) dan sisanya sebesar 60% pada merupakan
deviden dari PT. DEF dengan penyertaan 20%
7) Sumbangan tersebut 40% merupakan sumbangan ke KONI (terdapat bukti yang
syah) dan sisanya sumbangan infrastruktur pendirian tempat ibadah dalam bentuk
uang tunai.
8) Beban perbaikan kendaraan sedan sebesar 30% merupakan perbaikan mobil
direksi yang dibawa pulang.
9) Dalam pembayaran bonus termasuk Rp. 5.000.000,- merupakan bantuan ke
panitia 17 Agustus dilingkungan perusahaan dan tidak terdapat bukti yang syah
atas sumbangan tersebut.
10) Dalam beban ATK termasuk pemberian hadiah ke karyawan sebesar Rp.
10.000.000,-
11) Beban kerugian piutang yang di bebankan belum dilakukan upaya yang
disyaratkan sesuai ketentuan perpajakan.
12) Selama tahun 2014 wajib pajak telah membayar PPh 25 sebesar Rp. 340.000.000,-
3.1.1.1 Hasil Perhitungan
PT. AGUNG BANGUN PERSADA
REKONSILIASI FISKAL
Rekonsiliasi/Koreksi Fiskal
Uraian Komersil Fiskal Catatan
Positif Negatif
PENJUALAN        
Penjualan Rp 9.500.000.000 Rp 500.000.000   Rp 10.000.000.000 3
Retur & Potogan penjualan Rp 1.000.000.000     Rp 1.000.000.000
  Penjualan Bersih Rp 8.500.000.000     Rp 8.500.000.000
         
HPP        
Persediaan awal        
pembelian Rp 3.000.000.000     Rp 3.000.000.000
Ongkos angkut Rp 700.000.000     Rp 700.000.000
Retur & Potongan pembelian Rp 500.000.000     Rp 500.000.000
Persediaan akhir Rp 1.500.000.000   Rp 600.000.000 Rp 900.000.000 1
  Harga pokok penjualan Rp 1.700.000.000     Rp 2.300.000.000
  Laba kotor Rp 6.800.000.000     Rp 6.700.000.000
         
BIAYA        
Gaji dan upah Rp 700.000.000 Rp 30.000.000   Rp 670.000.000 2
Bonus Rp 400.000.000 Rp 5.000.000   Rp 395.000.000 9
Promosi Rp 700.000.000     Rp 700.000.000
Representasi Rp 300.000.000 Rp 100.000.000   Rp 200.000.000 4
Penyusutan Rp 150.000.000 Rp 30.520.833   Rp 119.479.167 5
Sumbangan Rp 250.000.000 Rp 150.000.000   Rp 100.000.000 7
Beban kerugian piutang tak tertagih Rp 150.000.000 Rp 150.000.000   Rp - 11
Reparasi mesin Rp 200.000.000     Rp 200.000.000
Perbaikan kendaraan Rp 50.000.000 Rp 7.500.000   Rp 42.500.000 8
ATK Rp 50.000.000 Rp 10.000.000   Rp 40.000.000 10
Listrik, PAM, telepon Rp 65.000.000     Rp 65.000.000
Seragam karyawan Rp 10.000.000     Rp 10.000.000
Keamanan dan kebersihan Rp 5.000.000     Rp 5.000.000
Fiskal luar negeri Rp 10.000.000 Rp 10.000.000   Rp -
Beban ulang tahun karyawan Rp 15.000.000 Rp 15.000.000   Rp -
Beban rekreasi karyawan Rp 13.000.000 Rp 13.000.000   Rp -
Cadangan piutang tak tertagih Rp 50.000.000 Rp 50.000.000   Rp -
Beban bunga pinjaman Rp 75.000.000     Rp 75.000.000
Beban lain-lain (ada bukti
syah) Jumlah biaya Rp 10.000.000     Rp 10.000.000
  Rp 3.203.000.000     Rp 2.631.979.167
  Laba Bersih  Rp 3.597.000.000      Rp 4.068.020.833
PENDAPATAN DAN BEBAN LAIN-LAIN        
Pendapatan deviden Rp 100.000.000   Rp 40.000.000 Rp 60.000.000 6
Pendapayan sewa mobil bruto PT. Y Rp 98.500.000     Rp 98.500.000  
Pendapatan swa gedung PT. NM Rp 100.000.000   Rp 100.000.000 Rp -  
Perhitungan selisih kurs Rp 50.000.000     Rp 50.000.000  
Pendapatan komisi bruto Rp 50.000.000     Rp 50.000.000  
Pendapatan jasa giro Rp 25.000.000   Rp 25.000.000 Rp -  
  Jumlah Rp 423.500.000     Rp 258.500.000  
           
Laba Neto   Rp 4.020.500.000 Rp 1.071.020.833 Rp 765.000.000 Rp 4.326.520.833  
3.1.2 Kasus
Sengketa Pajak Toyota Motor Menanti Palu Hakim

JAKARTA. Sidang sengketa pajak antara PT. Toyota Motor Manufacturing


Indonesia (TMMIN) dengan Direktor Jenderal (Ditjen) Pajak berakhir Senin sore
kemarin (25/3). Majelis hakim yang diketuai Sukma Alam itu menutup sidang kedua
belas kali sejak tahun lalu. Sengketa pajak dengan perusahaan otomotif asal Jepang
itu melibatkan nilai pajak yang besar dan prosesnya cukup alot. Dalam sidang terakhir
yang sebenarnya dimaksudkan forum penutup bagi kedua pihak, malah terjadi debat
sengit kedua belah pihak untuk menarik perhatian majelis hakim.
Sengketa dengan TMMIN ini terjadi karena koreksi yang dilakukan oleh
Ditjen Pajak terhadap nilai penjualan dan pembayaran royalti TMMIN. Sengketa ini
seputar laporan pajak tahun 2008. Saat itu, pemegang saham TMMIN ialah Toyota
Motor Corporation sebesar 95% dan sisanya 5% dimiliki PT. Astra International Tbk.
Dalam laporan pajaknya, TMMIN menyatakan nilai penjualan mencapai Rp
32,9 triliun, namun Ditjen Pajak mengoreksi nilainya menjadi Rp 34,5 triliun atau ada
koreksi sebesar Rp 1,5 triliun. Dengan nilai koreksi sebesar Rp 1,5 triliun, TMMIN
harus menambah pembayaran pajak sebesar  Rp 500 miliar.
Mengapa Ditjen Pajak mencurigai laporan pajak TMMIN? Menurut
Muhammad Amin, aparat pajak yang mewakili Ditjen Pajak di pengadilan pajak,
Ditjen Pajak mengoreksi hitungan bisnis TMMIN setelah membandingkan bisnis
TMMIN sebelum 2003 dengan sesudah 2003.
Sebelum 2003, perakitan mobil (manufacturing) Toyota Astra masih digabung
dengan bagian distribusi di bawah bendera Toyota Astra Motor (TAM). Namun
sesudah 2003, bagian perakitan dipisah dengan bendera TMMIN sedangkan bagian
distribusi dan pemasaran di bawah bendera TAM. Mobil-mobil yang diproduksi oleh
TMMIN dijual dulu ke TAM, lalu dari TAM dijual ke Auto 2000. Dari Auto 2000,
mobil-mobil itu dijual ke konsumen. 
Sebelum dipisah, margin laba sebelum pajak (gross margin) TAM mengalami
peningkatan 11% hingga 14% per tahun. Namun setelah dipisah, gross margin
TMMIN hanya sekitar 1,8% hingga 3% per tahun. Sedangkan di TAM, gross margin
mencapai 3,8% hingga 5%. Jika gross margin TAM digabung dengan TMMIN,
prosentasenya masih sebesar 7%. Artinya lebih rendah 7% dibandingkan saat masih
bergabung  yang mencapai 14%. “Kemana larinya 7%?,” begitu tanya Muhammad
Amin, aparat pajak yang mewakili Ditjen Pajak di pengadilan pajak, Senin (26/3).
Aparat pajak menduga, laba sebelum pajak TMMIN berkurang setelah 2003
karena pembayaran royalti dan pembelian bahan baku yang tidak wajar.  Penyebab
lainnya penjualan mobil kepada pihak terafiliasi seperti TAM (Indonesia) dan TMAP
(Singapura) di bawah harga pokok produksi sehingga mengurangi peredaran usaha.
Dalam pemeriksaan itu, aparat Ditjen Pajak menyoroti penjualan mobil Toyota
Fortuner, Kijang Innova, dan Toyota Dyna. Pada 2008, Fortuner type G dijual ke
TAM sebesar Rp 166 juta per unit atau 4% dibawah harga pokok produksi.
Sedangkan dari TAM ke Auto 2000 sebesar Rp 252 juta atau dengan margin
keuntungan 50%. Harga ini belum merupakan harga yang berlaku kepada konsumen.
Begitupula dengan produk Kijang Innova G matic dijual dari TMMIN ke
TAM Rp 108 juta atau 4%-5% dibawah harga pokok,s edangkan TAM menjual ke
Auto 2000 Rp 141 juta atau memiliki margin 30%. “Harga juga yang rendah dari
TMMIN ini mengurangi penerimaan negara melalui Pajak Penjualan atas Barang
Mewah,” tutur Amin.
Menurut Edward Hamonangan Sianipar, aparat pajak, pemisahan kedua
perusahaan ini seharusnya tidak berdampak pada berkurangnya keuntungan kotor
(gross margin) maupun nett margin. Seharusnya saling menguntungkan. “Yang
terjadi, TMMIN dibebani rugi sedangkan TAM untung besar, kami berkesimpulan
terjadi transfer pricing yang tidak wajar,” kata Edward, di pengadilan pajak.
Sebagai jurus pamungkas, di sidang kemarin, parat pajak menyerahkan satu
perusahaan pembanding yang sama persis dengan TMMIN. Pada tahun yang sama,
perusahaan yang namanya dirahasiakan itu mengalami laba 7,14% pada 2008 atau 10
kali lebih besar dari laba TMMIN.
Dan jika dilihat kinerja laba tahun 2004-2010, kinerja laba TMMIN pun masih
jauh lebih kecil dari competitor tersebut, dimana TMMIN hanya dapat mencapai laba
2,09% sementara kompetitornya 10,28%. “Jika kami buka identitas perusahaan
itu kami melanggar rahasia jabatan, kami akhirnya mengeluarkan satu data
perbandingan ini, namun hanya untuk majelis hakim,” kata Edward.
Konsultan pajak TMMIN berusaha memberikan penjelasan di sidang.
Penurunan peredaran usaha TMMIN pada 2008 terjadi karena adanya kenaikan biaya
akibat penambahan produksi yang besar. Penurunan dari sisi harga jual terjadi karena
ada kebijakan untuk meningkatkan volume penjualan dengan menahan kenaikan
harga jual. “Saat itu Nissan Livina naik menjadi Rp 150 juta, sedangkan harga jual
dari TMMIN ditahan agar volumenya besar,” kata Rusmini, konsultan pajak TMMIN
dari kantor RSA Consult.
Konsultan Pajak TMMIN menambahkan penilaian Ditjen Pajak terhadap
usaha bukan hanya dari nilai penjualan unit mobil atau invoice tetapi melihat seluruh
biaya, termasuk pembayaran PPnBM dari TMMIN. “Itu biaya yang harus dilihat juga
sehingga mempengaruhi laba,” kata Rusmini.
Catatan lainnya adalah perusahaan yang menjadi perbandingan aparat pajak
berstutus merugi. Yakni Hindustan Motor, Force Motor, Shenyang Jinbei, Dongan
Heibao, dan Yulon Motor Company.  Sedangkan TMMIN pada 2008 masih untung
sehingga tidak bisa dibandingkan.
Setelah sidang ini ditutup kemarin, keputusan atas sengketa ini kini berada di
tangan majelis hakim pengadilan pajak. Selain Sukma Alam, dua anggota majelis
hakim lainnya ialah Seno SB Hendra dan Krosbin Siahaan. Ironisnya, meski sidang
telah usai, namun kasus ini belum ada kejelasan kapan akan diputus. Sekadar
informasi, sengketa pajak antara Ditjen Pajak dengan produsen mobil asal Jepang ini
juga terjadi untuk tahun pajak 2005 dan 2007 hingga kini belum juga diputus,
walaupun sidangnya telah lama berakhir.

3.1.2.1 Hasil Analisis


Menurut kelompok kami, hasil analisis dari kasus mengenai Sengketa Pajak
Toyota Motor Menanti Palu Hakim sebagai berikut :
Direktorat Jenderal Pajak mengganggap PT. Toyota Motor Manufacturing
Indonesia melakukan transfer pricing untuk melakukan penghindaran pajak dengan
nilai mencapai 1,7 miliar setara dengan pajak senilai 500 miliar. Modus dari PT.
Toyota Motor Manufacturing Indonesia melakukan transfer pricing diluar prinsip
kewajaran dan kelaziman usaha dengan perusahaan afiliasinya di Singapura.
Transfer pricing sendiri merupakan harga penjualan barang atau jasa yang
terjadi di dalam internal suatu perusahaan. Di Indonesia sesungguhnya transfer
pricing boleh dilaksanakan tetapi tetap sesuai dengan prinsip kewajaran dan
kelaziman usaha. Harga atau laba dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak
yang mempunyai hubungan istimewa harus sama dengan atau berada di dalam
rentang harga atau laba dalam transaksi yang dilakukan antara pihak yang tidak
mempunyai hubungan istimewa yang menjadi pembanding.
Ditelusuri dari tahun 2003 PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia
melakukan restrukturisasi. Pada awalnya produksi dan distribusi dilakukan dibawah
satu naungan bendera yaitu PT. Toyota Astra Motor yang sahamnya dimiliki oleh dua
perusahaan yaitu, PT. Astra International sebesar 51% dan PT. Toyota Motor
Corporation Jepang sebesar 49%. Tetapi pada pertengahan 2013, PT. Astra
International menjual kepemilikan saham atas PT. Toyota Astra Motor kepada PT.
Toyota Motor Corporation Jepang dikarenakan mempunyai utang jatuh tempo yang
tidak dapat ditangguhkan sehingga PT. Toyota Motor Corporation Jepang memiliki
saham sebesar 95% dan menjadi pemilik saham terbesar. Pt. Toyota Astra Motor
berganti nama menjadi PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan menjalankan
fungsi produksi di Indonesia. Di satu sisi PT. Toyota Motor Corporation Jepang juga
mendirikan PT. Toyota Astra Motor untuk menjalankan fungsi distribusi domestik.
Kasus ini mulai tercium oleh Direktorat Jendral Pajak pada saat meminta
restitusi untuk tahun pajak 2005, 2007 dan tahun 2008. Karena permintaan ini
Direktorat Jendral Pajak melakukan pemeriksaan. Berdasarkan hasil pemeriksaan,
Direktorat Jenderal pajak menemukan penurunan margin dikarenakan adanya transfer
pricing yang ilegal atau melanggar prinsip kewajaran dan kelaziman.
Direktorat Jenderal pajak menemukan laporan pada SPT tahun pajak 2007
bahwa PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia mengekspor 17.181 unit fortuner
dengan harga pokok produksi sebesar Rp 166 juta per unit kepada Toyota Motor Asia
Pasific Pte. Tetapi semua dokumen menunjukkan bahwa fortuner dijual lebih murah
4% dari harga pokok penjualan sehingga PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia
malah merugi.
Untuk penjualan ekspor PT. Toyota Motor Manufactoring Indonesia harus
menjual produknya kepada perusahaan afiliasinya di Singapura yaitu Toyota Motor
Asia Pasific Pte. Baru setelah itu akan di jual ke Negara-negara lain. PT. Toyota
Motor Manufacturing Indonesia menjual ke Singapura dikarenakan tarif pajak di
Singapura lebih rendah yaitu sebesar 17%, sedangkan di Indonesia berlaku tarif pajak
progresif, 15%, 25%, 30%.
Skema tersebut sebenarnya legal untuk dilakukan karena masih dalam lingkup
undang-undang yang berlaku tetapi menjadi tidak lazim karena transfer pricing tidak
berdasarkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha dan digunakan untuk
penghindaran pajak oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia.
3.2 Kesimpulan
Menurut kelompok kami, kesimpulan dari makalah ini sebagai berikut:
1) Rekonsiliasi fiskal adalah penyesuaian ketentuan menurut pembukuan secara
komersial atau akuntansi yang harus disesuaikan menurut ketentuan pajak.
2) Penyebab rekonsiliasi fiskal dikarenakan adanya perbedaan diantara laporan
keuangan komersil dengan laporan keuangan fiskal.
3) Jenis koreksi fiskal ada 2 yaitu koreksi positif (mengakibatkan laba bertambah)
dan koreksi negatif (mengakibatkan penurunan dalam laba).
4) Teknik rekonsiliasi fiskal adalah dengan menyesuaikan apa yang diakui di laporan
keuangan komersial dan apa yang diakui di laporan keuangan fiskal.
5) Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) adalah pajak yang dikenakan atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh Badan seperti yang dimaksud
dalam UU KUP.

3.3 Saran
Menurut kelompok kami, ada beberapa saran yaitu :
1) Bagi perusahaan untuk melakukan rekonsiliasi fiskal sesuai dengan aturan yang
berlaku, sehingga tidak terjadi penggelapan pajak.
2) Bagi Direktorat Jenderal pajak agar lebih teliti pada saat pemeriksaan.
3) Direktorat Jenderal Pajak dihimbau agar melakukan pemeriksaan secara berkala
DAFTAR PUSTAKA

Aeny, S. N (2017). Memahami Definisi Kredit Pajak, 14 September 2017 diakses pada 4
September 2018 di https://news.ddtc.co.id/memahami-definisi-kredit-pajak-10936

Bedford, R (2016). Perlakuan Pajak atas Biaya Sumbangan Perusahaan. Newsletter


Manajemen Praktis, Edisi 1 Mei 2016.

Dian, R (2015). Pengertian dan Fungsi Rekonsiliasi Fiskal di Pelaporan Pajak, diakses pada 2
September 2018 di https://www.beecloud.id/pengertian-dan-fungsi-rekonsiliasi-fiskal-
di-pelaporan-pajak/

Ianwhoopee (2016). Akuntansi Perpajakan, 14 Oktober 2016 diakses pada 3 September 2018
di https://ianwhoopee99.wordpress.com/2016/10/14/akuntansi-perpajakan/

Idris, U (2013). Sengketa PajakToyota Motor Menanti Palu Hakim, 26 Maret 2013 diakses
pada 4 September 2018 di https://nasional.kontan.co.id/news/sengketa-pajak-toyota-
motor-menanti-palu-hakim

Lilium (2013). Nondeductible Expenses (Biaya-biaya yang tidak dapat dikurangkan), 15


April 2013 diakses pada 6 September 2018 di
https://perpajakan1.wordpress.com/2013/04/15/nondeductible-expenses-biaya-biaya-
yang-tidak-dapat-dikurangkan/

Ortax (2015). Mengapa Pajak Tidak Mengakui Metode LIFO?, 14 Januari 2015 diakses pada
2 September 2018 di http://www.ortax.org/ortax/?mod=studi&page=show&id=43

Resmi, Siti. 2009. Perpajakan: Teori dan Kasus. Jakarta: Salemba Empat

Subekti, W (2018). Penyebab Timbulnya atau Terjadinya Koreksi Fiskal, 13 Agustus 2018
diakses pada 4 September 2018 di http://www.wibowopajak.com/2012/06/penyebab-
timbulnya-atau-terjadinya.html?m=1

Suprianto, Edy. 2011. Akuntansi Perpajakan. Yogyakarta: Graha Ilmu


Warni, S (2016). Mengenal Laporan Keuangan Fiskal dan Komersial, 14 April 2016 diakses
pada 5 September 2018 di https://zahiraccounting.com/id/blog/mengenal-laporan-
keuangan-fiskal-dan-komersial/
LAMPIRAN
PERTANYAAN DAN JAWABAN

Kelompok 1 : Apabila metode berubah saat pertengahan tahun berjalan, apakah akan
mempengaruhi laporan keuangan dan labanya?
Boleh melakukan perubahan atas perhitungan tahun buku, asas maupun metode asalkan
dilaporkan kepada Direktorat Jenderal Pajak, setelah dilaporkan maka Direktorat Jenderal
Pajak akan melakukan pemeriksaan dengan memperhitungkan apakah dengan perpindahan
ini menyebabkan kerugian pada perusahaan atau tidak.
Setiap perubahan metode pasti akan mempengaruhi laporan keuangan dan perubahannya
berlaku surut (perlahan-lahan menyesuaikan).

Kelompok 3 : Jika koreksi fiskal dinyatakan salah, apakah dampak yang di dapat bagi
perusahaan?
Sebenarnya jika rekonsiliasi fiskal salah, maka akan berpengaruh terhadap laba dan pajak
perusahaan tersebut. Semuanya akan dilaporkan dalam SPT nanti. Jadi perusahaan akan
mengeluarkan hasil apakah perusahaan tersebut Lebih Bayar atau Kurang Bayar. Jika
perusahaan dinyatakan Lebih Bayar, maka perusahaan dapat mengajukan restitusi tetapi perlu
diperiksa kembali laporan keuangan perusahaan tersebut. Jika laporan keuangan perusahaan
dinyatakan Kurang Bayar, maka Direktorat Jendral Pajak akan mengeluarkan surat kepada
perusahaan yang nantinya perusahaan perlu membayar jumlah Kurang Bayar tersebut. Tetapi
semuanya juga perlu diperhatikan apakah perusahaan tersebut sengaja melakukan koreksi
fiskal yang salah atau tidak disengaja.

Kelompok 4 : Jika Wajib Pajak Badan menerima PPh 23 tetapi Wajib Pajak tersebut tidak
memiliki NPWP, apakah sanksi yang akan didapatkan?
Ada sanksi dan sanksi yang ditetapkan sebesar 200% dari tarif normal. Jadi ditetapkan 2x
lipatnya dari tarif biasa. Misalnya, jika mendapatkan royalti sebesar 15%, maka 15% x 2 =
30%. Jadi pembayaran royalti akan sebesar 30%.

Kelompok 5 : Jika omset perusahaan kurang dari 4,8M, apakah perlu dibuat pembukuan
perusahaan dan berapakah tarif PPh yang ditetapkan?
Jika omset perusahaan kurang dari 4,8M maka pengusaha dapat memilih untuk melakukan
pembukuan atau pencatatan. Jika melakukan pencatatan maka untuk perhitungan pajaknya
hanya menggunakan omset perusahaan, tidak melihat adanya pendapatan beban laba maupun
rugi dan perhitungannya menggunakan tariff 0,5% x omset.
Jika pengusaha menggunakan pembukuan, maka perusahaan harus membuat laporan
keuangan, Tarif pph badannya adalah sebagai berikut :
4,8M – 50M 25%x 50% x (4,8M/omset)xPKP
> 50 M 25% x PKP

Kelompok 6 : Mengapa pendapatan dan beban yang diakui harus berkoreksi positif?
Pendapatan dan beban tidak selalu berada di dalam koreksi positif. Tergantung hal tersebut
apakah mengurangi laba fiskal atau menambah laba fiskal. Jika hal itu mengurangi laba fiskal
maka akan menjadi koreksi negatif. Sebaliknya, jika hal itu menambah laba fiskal maka akan
menjadi koreksi positif. Misalnya dalam laporan komersial, penjualan senilai Rp 10M dan di
laporan fiskal harus senilai Rp 8M. Hal tersebut mengurangi laba fiskal sehingga ada koreksi
negatif senilai Rp 2M. Begitu pula halnya dengan beban.

Kelompok 7 : Bagaimana langkah-langkah sebelum menentukan koreksi positif dan negatif?


Langkah yang perlu diperhatikan sebelum menentukan koreksi positif dan negatif :
1. Mengenal terlebih dahulu penyesuaian fiskal yang diperlukan
2. Menganalisa elemen-elemen penyesuaian guna menentukan pengaruhnya terhadap laba
usaha kena pajak
3. Menyesuaikan atau mengoreksi fiskal dengan melakukan koreksi positif dan negatif
4. Menyusun laporan keuangan secara fiskal sebagai lampiran SPT Tahunan pajak
penghasilan

Kelompok 8 : Apa perbedaan waktu dan perbedaan tetap dalam laporan keuangan? Berikan
contoh penghasilan dan biaya dalam perbedaan waktu dan perbedaan tetap tersebut.
Perbedaan tetap merupakan penghasilan dan biaya yang diakui dalam perhitungan laba neto
untuk akuntansi komersial tetapi tidak diakui dalam akuntansi pajak. Singkatnya, perbedaan
tetap mengarah kepada aturan yang ada dan yang sudah ditetapkan. Contoh penghasilan yaitu
dari sumbangan dan penghasilan bunga deposito. Contoh biaya yaitu biaya sumbangan dan
biaya sanksi perpajakan.

Perbedaan waktu merupakan penghasilan dan biaya yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi
komersial, tetapi tidak dapat diakui sekaligus oleh akuntansi pajak, biasanya karena adanya
perbedaan metode pengakuan (contoh: metode penyusutan). Singkatnya, perbedaan waktu itu
terjadi karena adanya perbedaan metode pengakuan dalam laporan keuangan perusahaan.
Contoh dari penghasilan yaitu dari pendapatan laba bersih. Contoh dari biaya yaitu biaya
penyusutan dan biaya sewa.

Metode penyusutan dalam akuntansi (Garis Lurus)


Rumus :

Metode penyusutan dalam perpajakan (Garis Lurus)


Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat Tarif Penyusutan
1. Selain Bangunan
Kelompok 1 4 tahun 25% x HP
Kelompok 2 8 tahun 12,5% x HP
Kelompok 3 16 tahun 6,25% x HP
Kelompok 4 20 tahun 5% x HP
2. Bangunan Permanen
Permanen 20 tahun 5% x HP
Tidak permanen 10 tahun 10% x HP

Kelompok 9 : Apabila tidak ada daftar nominatif, apakah pajak masih bisa diakui atau tidak?
Tidak bisa diakui karena jika tidak ada daftar nominatif, perhitungan pajak tidak akan bisa
dihitung. Contoh dari biaya entertainment. Biaya entertainment yang terbesar yaitu dari
penjualan obat dan kita ingin mengeluarkan produk baru kemudian akan memasarkannya ke
rumah sakit. Maka kita memerlukan anggaran dalam setiap prosesnya. Tetapi kita tidak bisa
langsung mempromosikan/ mempresentasikan produk baru kita ke dokter di rumah sakit itu.
Jadi kita memerlukan biaya untuk makan sebagai jamuan sebelum kita melakukan presentasi
produk baru tersebut. Kalau daftar nominatif tersebut tidak ada, maka entertainment perlu di
koreksi.

Kelompok 10 : Bisakah semua beban dan semua penghasilan di koreksi semua dalam satu
laporan keuangan?
Sebenarnya tergantung apakah bisa di koreksi semua atau tidak karena semuanya sudah
diatur dalam UU, beban dan penghasilan manakah yang diperbolehkan atau tidak. Contohnya
seperti sumbangan, dapat di koreksi atau tidak perlu di koreksi.

Kelompok 11 : Mengapa metode LIFO dikatakan dapat merugikan pajak?


Dengan menggunakan metode LIFO perusahaan dapat meminimalkan laba sehingga
memperkecil biaya pajak penghasilan. Dikarenakan dari ketiga metode FIFO, LIFO dan
AVERAGE, LIFO menghasilkan hasil dibawah perhitungan FIFO dan AVERAGE, Seiring
dengan berjalannya waktu harga pembelian persediaan terus mengalami peningkatan yang
dapat disebabkan oleh inflasi, maka jika perusahaan menggunakan metode LIFO akan
mengakibatkan kerugian bagi negara karena setoran ke kas negara semakin sedikit. Oleh
karena itu, metode yang boleh digunakan berdasarkan ketentuan perpajakan di Indonesia
hanya metode Average atau FIFO.

1. Metode rata-rata (Average)
a. Total Pembelian :

Perhitungan:
Harga rata-rata perunit = Rp 785.000/ 900 unit = Rp 872,22
Harga Pokok Penjualan = 850 unit x Rp 872,22 = Rp 741.388
Persediaan Akhir = 50 unit x Rp 872,22 = Rp 43.612
Berdasarkan metode Average harga pokok penjualan dan persediaan akhir per 31 Desember 2014
dengan sistem periodik adalah sebesar Rp 741.388 dan Rp 43.612.
 

2. Metode masuk pertama keluar pertama (First In First Out – FIFO)


a. Total Pembelian :
b. Perhitungan Harga Pokok Penjualan :

c. Persediaan Akhir = 50 unit x Rp 950 = Rp 47.500


d. Berdasarkan metode FIFO, harga pokok penjualan dan persediaan akhir per 31 Desember
2014 dengan sistem periodik adalah sebesar Rp 737.500 dan Rp 47.500.
 
3. Metode masuk terakhir keluar terakhir (Last In First Out – LIFO)
a. Total Pembelian :

b. Perhitungan Harga Pokok Penjualan :

c. Persediaan Akhir = 50 unit x Rp 800 = Rp 40.000


d. Berdasarkan metode LIFO, harga pokok penjualan dan persediaan akhir per 31 Desember
2014 dengan sistem periodik adalah sebesar Rp 745.000 dan Rp 40.000.
 

Perbandingan Ketiga Metode Perhitungan Persediaan


Berdasarkan perhitungan diatas, berikut adalah hasil perbandingan perhitungan metode
Average, FIFO, dan LIFO. Pendapatan dan Tarif Pajak Penghasilan diasumsikan sebesar Rp
1.000.000,00 dan 25%.

 
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jika perusahaan menggunakan metode perhitungan
persediaan LIFO, maka perusahaan dapat memperkecil laba sebelum pajak atau laba kotor,
sehingga pembayaran pajak penghasilan menjadi lebih sedikit.