Anda di halaman 1dari 5

GAMBARAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA ASMA SETELAH DILAKUKAN

TEHNIK INHALASI SEDERHANA DI PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI


TAHUN 2019

GAMBARAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA ASMA SETELAH DILAKUKAN


TEHNIK INHALASI SEDERHANA DI PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI
TAHUN 2019

Dini Suryani
Universitas Adiwangsa Jambi, Jl.Sersan Muslim RT.24, Thehok, Kec.Jambi Selatan, Kota
Jambi, Jambi, telp/fax: 0741-5915501, info@unaja.ac.id
Program Studi DIII Keperawatan, Universitas Adiwangsa Jambi, Jambi
e-mail: dinisuryani87@yahoo.com

ABSTRAK
Latar Belakang: Asma adalah keadaan yang menunjukkan respon abnormal saluran
napas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan napas yang
meluas. Untuk itu dikembangkan suatu metode inhalasi dengan cara menghirup uap air
panas yang diberi sedikit minyak atsiri guna memperkuat efeknya yang dikenal dengan
Inhalasi sederhana. Menurut WHO, penderita asma pada tahun 2025 diperkirakan mencapai
400 juta jiwa. Metode: deskriptif kuantitatif, sampel berjumlah 17 orang, diambil dengan
menggunakan purposive sampling. Hasil: frekuensi pernapasan setelah dilakukan tehnik
inhalasi adalah 21,88 dengan standar deviasi 2,47. Kesimpulan : terjadi penurunan
frekuensi pernapasan setelah dilakukan tehnik inhalasi sederhana terhadap penderita asma.
Diharapkan melakukan tehnik inhalasi sederhana secara teratur karena dapat merelaksasi
saluran pernapasan, dimana pernapasan yang terganggu akibat adanya lendir atau tengah
mengalami sesak napas menjadi kembali normal.

Kata kunci— Frekuensi, Pernapasan, Inhalasi Sederhana

Abstract

Background: Asthma is a condition that shows an abnormal response of the airways to


various stimuli that causes a narrowing of the airway that expands. For this reason, an
inhalation method was developed by inhalation of hot water vapor with a little essential oil to
strengthen its effect, known as simple inhalation. According to WHO, asthma sufferers in
2025 are estimated at 400 million. Method: quantitative descriptive, a sample of 17 people,
taken using accidental sampling. Results: respiratory frequency after inhalation technique
was 21.88 with a standard deviation of 2.47. Conclusion: a decrease in respiratory frequency
after a simple inhalation technique for asthma sufferers. It is expected to do a simple
inhalation technique regularly because it can relax the respiratory tract, where breathing is
disrupted due to mucus or is experiencing shortness of breath to return to normal.

Keywords— Frequency, Breathing, Simple Inhalation

Childhood pada tahun 2005


PENDAHULUAN menunjukkan, di Indonesia prevalensi
Hasil penelitian International gejala penyakit asma melonjak dari
Study on Asthma and Alergies in sebesar 4,2 % menjadi 5,4 %. Selama
GAMBARAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA ASMA SETELAH DILAKUKAN
TEHNIK INHALASI SEDERHANA DI PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI
TAHUN 2019

20 tahun terakhir, penyakit asma


cenderung meningkat dengan kasus emfisema paru, pneumotoraks,
kematian yang diprediksi akan pneumonitis hipersensitif, deformitas
meningkat sebesar 20 % hingga 10 toraks (Halim, 2017).
tahun mendatang (Faisal, 2008). METODE PENELITIAN
Menurut Badan Kesehatan Penelitian ini merupakan
Dunia (WHO), penderita asma pada penelitian kuantitatif menggunakan
tahun 2025 diperkirakan mencapai desain penelitian “deskriftif kuantitatif”.
400 juta jiwa. Prevalensi asma didunia Populasi dalam penelitian ini adalah
sangat bervariasi dan penelitian semua penderita asma di Wilayah
epidemiologi menunjukkan Kerja Puskesmas Olak kemang Kota
peningkatan kejadian asma, terutama Jambi tahun 2019 pada bulan Agustus
di negara-negara maju. Selain yang berjumlah 109 orang.
mengganggu aktivitas, asma tidak Teknik pengambilan sampel
dapat disembuhkan bahkan dapat yang digunakan dalam penelitian ini
menimbulkan kematian. Diperkirakan adalah teknik porposive sampling yaitu
diseluruh dunia terdapat 255.000 jiwa tehnik penentuan sampel dengan
meninggal karena asma (Sundaru, H. pertimbangan tertentu (Sugiyono,
2017). 2016). Besar sampel sebesar 17
Sistem penghantaran obat respoden.
melalui inhalasi merupakan salah satu Instrumen yang digunakan
cara untuk pengobatan pasien yang dalam penelitian ini adalah arloji yang
menderita penyakit saluran digunakan untuk mengobservasi
pernapasan, seperti bronkhitis kronis, frekuensi pernapasan pada responden
fibrosis sistitis dan asma. Pengobatan yang menderita asma sedangkan
melalui inhalasi efektif untuk saluran pada terapi inhalasi sederhana
pernapasan (Agoes, 2018). menggunakan handuk untuk menutup
Apabila tidak dilakukan kepala pasien agar uap tidak keluar
penanganan pada serangan asma dan pasien dapat menghirup secara
maka dapat berpengaruh buruk yaitu maksimal, sebuah bejana, air yang
komplikasi. Komplikasi asma yang hampir mendidih, terbuat dari 150 ml
terjadi yaitu infeksi akut saluran air dingin dan 450 ml air mendidih,
pernapasan, bronkitis kronis,
GAMBARAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA ASMA SETELAH DILAKUKAN
TEHNIK INHALASI SEDERHANA DI PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI
TAHUN 2019

sedikit minyak atsiri: 2 – 4 tetes yang dilakukan tehnik inhalasi sederhana


mengandung eucalyptus. adalah 21,88 kali/ menit dengan
Penelitian ini mengunakan standar deviasi 2.472 kali/menit.
analisis univariat, variabel penelitian PEMBAHASAN
dikategorikan menjadi (>12- Gejala yang dirasakan
20x/menit), (>20x/menit). Melalui rata- responden dengan tingkat serangan
rata frekuensi napas pada responden asma ringan berupa sesak jika bicara,
sehingga diperoleh gambaran posisi tubuh dapat berjalan, dapat
distribusi frekuensi dan populasi napas berbaring, responden hanya bisa
responden. berbicara beberapa kalimat dan
HASIL frekuensi pernafasan tidak normal
Gambaran Frekuensi Pernapasan lebih dari 20 kali/menit. Kisaran normal
Asma Setelah Dilakukan Tehnik frekuensi pernapasan adalah 12-20
Inhalasi Sederhana kali/menit (Perry & Potter, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian Gejala yang dirasakan
diketahui rata-rata frekuensi responden dapat disimpulkan bahwa
pernapasan pada penderita asma serangan asma sangat mempengaruhi
setelah dilakukan tehnik inhalasi aktivitas, mengganggu pernapasan
sederhana. Untuk lebih jelasnya dapat serta kenyamanan responden. Hal ini
dilihat pada tabel berikut : disebabkan karena para penderita
Tabel 1 asma belum mampu menghilangkan
Distribusi frekuensi dan proporsi
dan mengendalikan gejala asma
responden berdasarkan rata-rata
frekuensi pernapasan pada (Sudoyo, 2006).
penderita asma setelah dilakukan
Selama sesak muncul,
tehnik inhalasi sederhana di
wilayah kerja Puskesmas Olak responden mengatasi sesak hanya
Kemang Kota Jambi Tahun 2019.
melalui pengobatan farmakologi yaitu
Frekuensi Mean N Std. Std. dengan obat-obatan yang diperoleh
Pernapasa Deviation Error
n Mean dari pelayanan kesehatan seperti
Frekuensi 21,88 17 2.472 .600 Puskesmas serta tenaga kesehatan
Pernapasan
Sesudah lainnya seperti bidan. Responden
hanya mengunjungi pelayanan
Berdasarkan table 1 terlihat bahwa kesehatan tersebut jika responden
rata-rata frekuensi pernapasan setelah mengalami frekuensi pernapasan
GAMBARAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA ASMA SETELAH DILAKUKAN
TEHNIK INHALASI SEDERHANA DI PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI
TAHUN 2019

cepat tanpa adanya pengobatan frekuensi pernapasan cepat/sesak,


secara rutin. responden tidak dapat melakukan
Terapi inhalasi adalah aktivitas secara mandiri dikarenakan
penggunaan minyak atsiri yang mudah kondisi tubuh yang lemah.
menguap yang diisap untuk Dengan demikian hendaknya
melegahkan pernapasan adalah salah responden lebih protektif untuk
satu bentuk inhalasi yang digunakan menjaga kenormalan frekuensi
untuk mengatasi masalah asma, pernapasan dengan cara menjaga
dengan bau khas bermanfaat untuk lingkungan serta menghindari faktor
relaksasi, melebarkan saluran pencetus asma seperti debu, cuaca
pernapasan atau bronkodilator dingin maupun makanan yang
(Hadibroto, 2015). menyebabkan kekambuhan asma
Berdasarkan hal tersebut, yang mengakibatkan peningkatan
tehnik inhalasi sederhana dapat frekuensi pernapasan.
digunakan untuk mengurangi sesak KESIMPULAN
atau mengurangi frekuensi Setelah dilakukan tehnik inhalasi
pernasafan. Tehnik ini diketahui sederhana, responden memiliki rata-
penderita dari puskesmas melalui rata frekuensi pernapasan 21,88 kali/
proses penelitian yang dilakukan menit pada penderita asma di
peneliti. Untuk itu, sebaiknya pihak Puskesmas Olak kemang Kota Jambi
puskesmas menjadikan terapi inhalasi Tahun 2011.
sederhana SARAN
Jika peneliti lain ingin melanjutkan
sebagai salah satu pengobatan non penelitian ini, maka peneliti
farmakologi pada penderita asma menyarankan untuk menggunakan
sehingga terjadi penurunan frekuensi inhalasi lain pada
pernapasan.
Sebagian besar responden
mengatakan bahwa asma yang
diderita oleh responden merupakan
penyakit keturunan dan disebabkan penderita asma dapat menambah
oleh polusi udara serta cuaca dingin. referensi yang berkaitan dengan terapi
Selama serangan asma muncul inhalasi untuk penderita asma.
GAMBARAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA ASMA SETELAH DILAKUKAN
TEHNIK INHALASI SEDERHANA DI PUSKESMAS OLAK KEMANG KOTA JAMBI
TAHUN 2019

DAFTAR PUSTAKA
1. Agoes, Goeswin. (2008). Sistem
penghantaran obat pelepasan
rekendali. Bandung : Institut
Teknologi Bandung
2. Faisal. (2008). Penyakit asma 5
besar penyebab kematian di
dunia. http//www.balita-
anda.com/ensiklopedia-balita,
diakses tanggal 27 november
2015
3. Hadibroto & Syamsul. (2005).
Asma. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama
4. Halim. (2017). Ilmu penyakit paru.
Jakarta : hipokrates
5. Potter & Perry. (2005). Buku ajar
fundamental keperawatan :
konsep, proses, dan praktik.
Jakarta : EGC
6. Sudoyo, dkk. (2006). Ilmu
penyakit dalam. Jilid II. Ed. 4.
Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
7. Sugiyono. (2016). Metode
penelitian pendidikan. Bandung :
Alfabeta
8. Sundaru, H. (2017). Ed. 6. Asma
apa dan bagaimana
pengobatannya. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia