Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN PERILAKU BERESIKO : SEKS BEBAS

DAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DENGAN


KEJADIAN HIV/AIDS

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan


HIV/AIDS

Disusun oleh kelompok 6

SEMESTER VI

1. Arista Ratna Putri SK117006


2. Era Rismatika SK117011
3. Islahiyah Pratiwi SK117019
4. Putri Rahma Dani SK117025
5. Solikhatun SK117031
6. Nurul Faizah SK118059

Program Studi Sarjana Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat
Rahmat dan Karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul

“HUBUNGAN PERILAKU BERESIKO : SEKS BEBAS DAN


PENANGGUNAAN NAPZA DENGAN KEJADIAN HIV/AIDS”, makalah
ini merupakan makalah yang disiapkan untuk membantu kami dalam
pembelajaran.

Makalah ini disusun berdasarkan materi-materi yang kami cari dari


berbagai sumber. Ucapan terimakasihpun kami ucapkan kepada kelompok
kami yang telah bekerjasama untuk pembuatan makalah ini. Serta sumber-
sumber dari buku-buku yang ada diperpustakaan. Kami menyadari bahwa
makalah ini belum sempurna, masih banyak kekurangan yang harus kami
perbaiki, oleh karena itu kami meminta saran dan kritikannya yang
membangun dari pembaca semua untuk menyempurnakan makalah ini.

Kendal, 10 Maret 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman judul
Kata penngantar...........................................................................................ii
Daftar isi.......................................................................................................iii
Bab I (Pendahuluan)
A. Latar belakang.......................................................................................1
B. Tujuan umum........................................................................................2
C. Tujuan khusus ......................................................................................2
BAB II (Studi Pustaka)
A. Seks bebas.............................................................................................3
B. Penyalahgunaan napza..........................................................................5
C. Hubungan perilaku beresiko seks bebas dan penyalahgunaan
napza dengan kejadian HIV/Aids.........................................................7
D. Hubungan perilaku penyalahgunaan..................................................... 8
E. Napza dengan kejadian HIV/AID.........................................................9
BAB IV (penutup)
A. Kesimpulan ..........................................................................................10
B. Saran ....................................................................................................10
Daftar Pusataka...........................................................................................11

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peningkatan kasus baru Human Immuno deficiency Virus
(HIV) yang disebabkan oleh pengguna Napza suntik (penasun)
cukup besar. Penasun mendorong laju epidemi HIV dibeberapa
Negara di dunia. HIV dapat menyebar dengan cepat diantara
pengguna Napza suntik dan dapat meningkatkan prevalensi HIV dari
yang pada awalnya masih 0 menjadi meningkat hingga 2050%
(Emmanuel, 2009). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Mathers, et al pada tahun 2007 diperkirakan terdapat 15,9 juta
penasun di seluruh dunia, dan 3 juta diantaranya terinfeksi HIV
(Mathers,et al, 2007). Akhir tahun 2011 United Nations Office Drug
on Crime (UNODC) memperkirakan terdapat 14 juta orang penasun
di seluruh dunia, dari 14 juta penasun diperkirakan terdapat 1,6 juta
hidup dengan HIV, mewakili prevalensi global HIV sebesar 11,5%
diantara orangorang yang menyuntikkan Napza (UNODC, 2013).
Di Indonesia, epidemi HIV secara sangat mengejutkan
melonjak cepat sekali dengan infeksi baru di kalangan penasun pada
tahun 1998/1999. Sharing peralatan suntik yang terkontaminasi HIV
mendorong laju epidemi HIV di Indonesia. Berdasarkan hasil survei
sentinel pada penasun di sebuah program ketergantungan obat di
Jakarta mengindikasikan peningkatan prevalensi HIV dari yang
awalnya mendekati 0 pada tahun 1995 meningkat menjadi 50% pada
tahun 2002 (Kemenkes, 2007). Tahun 2006, Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia memperkirakan dari 220.000 penasun yang
hidup di Indonesia, sekitar 63% merupakan penyumbang dari semua
infeksi HIV, 55% diantaranya terinfeksi melalui praktik
penyuntikkan dan 8% penularan melalui seksual oleh penasun
(Kemenkes,2007).

1
Hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun
2007, prevalensi rata-rata HIV pada penasun di Bandung, Surabaya,
Medan dan Jakarta yaitu 43%-56%. Hasil STBP tahun 2011,
prevalensi HIV di kalangan penasun telah menurun menjadi 41%,
namun prevalensi HIV pada kelompok penasun masih menempati
posisi tertinggi diantara kelompok berisiko lainnya (Kemenkes,
2012).

B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui dan memahami
tentang hubungan perilaku beresiko seks bebas dan
penyalahgunaan napza dalam kejadian HIV/AIDS
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan seks bebas
b. Mengetahui apa yang dimaksud dengan penyalahgunaan
napza
c. Mengetahui tentang hubungan perilaku beresiko seks bebas
dan penyalahgunaan napza dengan kejadian HIV/AIDS

2
BAB II

STUDI PUSTAKA

A. Perilaku beresiko : Seks bebas


Menurut Desmita (2012) pengertian perilaku seks bebas
adalah segala cara mengekspresikan dan melepaskan
dorongan seksual yang berasal dari kematangan organ
seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai
melakukan kontak seksual yang dinilai tidak sesuai dengan
norma.
Berdasarkan temuan penelitian dapat disimpulkan
bahwa risiko penularan HIV dari perilaku seks pada penasun
cenderung lebih tinggi dibandingkan penularan melalui
perilaku penggunaan jarum suntik. Dari hasil temuan
penelitian diketahui sebanyak 25,0% responden tidak
melakukan hubungan seks selama setahun terakhir, dari75%
responden yang melakukan hubungan seks, sebagian besar
melakukan seks dengan pasangan tetap (istri/suami/pacar).
Saat hubungan seks yang terakhir mayoritas dari mereka
yaitu sebesar 75,2% tidak menggunakan kondom pada saat
berhubungan seks. Hal in menyebabkan risiko pasangan
seksual
untuk tertular HIV dari penasun semakin tinggi, karena
sebagian besar responden juga melakukan hubungan seks
setiap minggu. Penyebab responden tidak menggunakan
kondom sebagian besar karena mereka merasa melakukan
seks yang aman karena melakukan dengan pasangan tetap
mereka. Hal lain yang menyebabkan mereka tidak memakai
kondom adalah mereka merasa tidak nyaman saat
berhubungan seks ketika harus memakai kondom, hal ini

3
disebabkan karena penis tidak bersentuhan langsung dengan
vagina.
Selain berhubungan seks dengan pasangan tetap,
sebagian dari mereka juga melakukan hubungan seks dengan
pasangan tidak tetap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase
penggunaan kondom pada saat hubungan seks terakhir
dengan pasangan tidak tetap lebih tinggi dibandingkan
penggunaan kondom pada saat seks yang terakhir dengan
pasangan tetap. Sebagian besar responden menggunakan
kondom (51,9%) pada saat hubungan seks yang terakhir
dengan pasangan tidak tetap. Meskipun sebagian besar
menggunakan kondom pada saat berhubungan seks dengan
pasangan tidak tetap, namun temuan dalam penelitian ini
tidak bisa menjadi tolak ukur untuk menilai konsistensi
penggunaan kondom dikarenakan dalam penelitian ini hanya
ditanyakan penggunaan kondom pada saat berhubungan seks
yang terakhir.
Hal tersebut masih menimbulkan kemungkinan pada saat
berhubungan seks pada saat sebelum seks yang terakhir
mereka tidak menggunakan kondom dan hal ini tentu akan
meningkatkan risiko penularan HIV baik dari pasangan tidak
tetap kepada penasun maupun sebaliknya.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar
responden (37,2%) memiliki satu pasangan dan tidak
memakai kondom pada hubungan seks yang terakhir.
Namun, masih terdapat responden yang memiliki lebih dari
satu pasangan dan tidak memakai kondom pada hubungan
seks yang terakhir yaitu sebesar 20,3%. Meskipun presentase
responden yang memiliki lebih dari satu pasangan dan tidak
memakai kondom pada hubungan seks yang terakhir relatif

4
lebih kecil, namun kelompok responden tersebut merupakan
kelompok yang berpotensi tinggi untuk menularkan ataupun
mendapatkan HIV dari pasangan seks terlebih lagi jika
konsintensi penggunaan kondom masih rendah.
Seorang penasun yang telah terinfeksi HIV bisa
menularkan HIV kepada pasangan seks tetap dan tidak tetap
mereka. Penasun juga berpotensi terinfeksi HIV dari
pasangan seks khususnya dari pasangan seks tidak tetap
mereka. Hal tersebut akan semakin mengkhawatirkan ketika
seorang pasangan penasun (istri) terinfeksi HIV, hal tersebut
akan meningkatkan risiko penularan dari ibu ke anak ketika
pasangan tersebut mengalami kehamilan.
Berdasarkan uraian diatas dapat diperoleh gamabaran
bahwa perilaku seksual berisiko penasun dapat berpotensi
untuk menyebarkan HIV/AIDS ke masyarakat umum
sehingga perlu perhatian yang khusus terhadap perilaku
seksual.

B. Penyalahgunaan Napza
NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain)
adalah bahan/ zat/ obat yang bila masuk ke dalam tubuh
manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/ susunan
saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan
fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan,
ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi)
terhadap NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA adalah
penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara
berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga
menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psiki dan gangguan
fungsi sosial (Azmiyati, 2014).

5
Berdasarkan risiko penggunaan Napza suntik sebagian
besar responden berada pada tingkat risiko yang relatif
rendah. Dari 172 responden, 40,1% telah mengikuti terapi
methadon. Terapi methadon merupakan terapi substitusi yang
menggantikan narkotika jenis heroin atau putaw yang
menggunakan jarum suntik,menjadi methadon yang
berbentuk cair yang pemakainnya dilakukan secara diminum.
Penggunaan methadon bertujuanuntuk mengurangi
penggunaan narkoba yang disuntikkan, sehingga jumlah
penyebaran HIV dapat berkurang. Selain itu methadon juga
dapat meningkatkan fungsi psikologis dan sosial, mengurangi
risiko kematian dini, mengurangi tindak kriminal karena
tingkat kecanduan yang dapat menyebabkan seorang
pengguna menhalalkan berbagai macam cara untuk
mendapatkan narkoba.
1) Tahapan Pengguna Napza
Dalam hal pemakaian biasanya pemakai narkoba dapat
dibedakan dalam:
a) Pemakai Coba-coba, Biasanya untuk memenuhi rasa
ingin tahu atau agar diakui oleh kelompoknya
b) Pemakai Sosial/Rekreasi, Biasanya untuk bersenang-
senang, pada saat rekreasi atau santai, umumnya
dilakukan dalam kelompok.
c) Pemakai Situasional, Biasanya Untuk
menghilangkan perasaan ketegangan, kesedihan,
kekecewaan.
d) Pemakai Ketergantungan, Biasanya sudah tidak
dapat melalui hari tanpa mengkonsumsi napza, mau
melakukan apa saja untuk mendapatkannya.
e) Lebih banyak orang bukan pemakai, banyak
pemakai yang hanya sekedar mencoba-coba dan

6
berhenti, ada sejumlah orang hanya memakai pada
kesempatan-kesempatan tertentu untuk pergaulan
atau penerimaan sosial, sebagian adalah pemakai
yang berulang dan mencari NAPZA sebagai sebuah
kebutuhan, dan sejumlah kecil adalah para pemakai
yang sudah tidak lagi dapat melepaskan diri dari
NAPZA (tergantung , kecanduan).

C. Hubungan perilaku seks bebas dan penyalahgunaan


napza dengan kejadian HIV/AIDS
1. Hubungan perilaku seks bebas dengan kejadian
HIV/AID
Resiko tertular HIV akan lebih besar bila
melakukan seks dengan banyak pasangan. Penularan
HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara
sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang
dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa
mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa
pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual
insertif tanpa pelindung, dan resiko hubungan seks anal
lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks
oral. Kekerasan seksual secara umum meningkatkan
resiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak
digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap
rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV
(Niniek,2011)
D. Hubungan perilaku penyalahgunaan Napza dengan
kejadian HIV/AID
Konsumsi obat-obatan terlarang lebih berperan
penting dalam penularan HIV daripada penggunaan obat
melalui suntikan. Alasannya, seseorang yang berada di

7
bawah pengaruh obat tertentu lebih cenderung
melakukan perilaku berisiko, seperti melakukan seks
tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi dan berbagi
obat atau alat suntik dengan orang yang memiliki HIV.
Faktanya, darah yang terinfeksi HIV juga dapat masuk ke
larutan obat dengan berbagai cara. Di antaranya:
1. Menggunakan alat suntik yang terkontaminasi darah
2. Untuk menyiapkan obat
3. Menggunakan kembali air untuk melarutkan obat
4. Menggunakan kembali tutup botol, sendok, atau
wadah lainnya untuk melarutkan obat dalam air dan
untuk memanaskan larutan obat
5. Menggunakan kembali sebagian kecil kapas atau filter
rokok untuk menyaring partikel yang dapat
menyumbat jarum
6. Bandar narkoba dapat mengemas kembali alat suntik
bekas dan menjualnya sebagai alat suntik yang steril.
Untuk alasan ini, orang yang perlu menyuntikkan obat
harus mendapatkan alat suntik dari sumber terpercaya,
seperti apotek atau program resmi pertukaran jarum.

Penting diketahui bahwa berbagi jarum atau alat suntik


untuk keperluan apapun, seperti skin popping atau
menyuntikkan steroid, hormon atau silikon, dapat berisiko
terhadap HIV dan infeksi yang ditularkan melalui darah.

Selain itu, penyalahgunaan dan kecanduan obat juga


dapat memperburuk gejala HIV, seperti menyebabkan

8
cedera saraf dan kerusakan kognitif. Selain itu,
mengonsumsi alkohol atau obat-obatan lain dapat
mempengaruhi sistem imun dan mempercepat
perkembangan penyakit. (Niniek,2011)

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Seks bebas merupakan perilaku tidak terpuji yang melanggar
nilai-nilai spiritual semua ajaran agama mengajarkan nilai dan
norma dalam bergaul dan tentunya semua agama tidak setuju
adanya seks bebas. Faktor yang mendorong seks bebas pada
umumnya dilakukan oleh para remaja.Dampak dan bahayanya seks
bebas yaitu Seks bebas banyak sekali dampak negative yang di
timbulkan terutama bagi individu yang melakukannya dan
lingkungannya.
Penyalahgunaan NAPZA adalah pemakaian obat dan zat-zat
berbahaya lain dengan maksud bukan untuk tujuan pengobatan
dan/atau penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan serta
dosis yang benar.

10
DAFTAR PUSTAKA

Eni, Kusmiran. 2011. Kesehatan reproduksi remaja dan wanita. Jakarta :


SALEMBA

Nasranudin. 2007. HIV dan AIDS pendekatan biologi molekuler, klinis dan
sosial. Surabaya : Airlangga

Ninik dan Basuka. 2011. Hubungan Karakteristik Remaja Terkait Risiko


Penularan Hiv-Aids Dan Perilaku Seks Tidak Aman Di Indonesia.
Fakultas kesehatan masyarakat universitas erlangga.
Umarah dan kusumawati. 2017. Hubungan antara faktor internal dan
eksternal dengan perilaku seksual pra nikah remaja di Indonesia.
Jurnal kesehatan. Universitas Muhamadiyah Surakata

United Nations Office Drug on Crime (UNODC). 2013. World Drug Report
2013. United Nations publication: Vienna.

Desmita.2012 Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Rosda


Karya

Cahyani,Amalia Eka, Bagoes Widjanarko, dan Budi Laksono. 2015


Gambaran Perilaku Berisiko Hiv Pada Pengguna Napza Suntik Di
Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 10 (1),1-
16