Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

“SOSIALISASI PADA LANSIA : RANGE OF MOTION (ROM) EXCERCISE”

Di Susun Oleh :

1. Antika Nisa Sifa


2. Meliawati
3. Titik Suyanti

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JAYAKARTA

TAHUN 2020
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

“SOSIALISASI PADA LANSIA : RANGE OF MOTION (ROM) EXCERCISE”

1. Topik : Latihan Rentang Gerak Aktif- Pasif (ROM Excercise)

2. Tujuan Pelaksanaan

- Tujuan umum :

Setelah mengikuti TAK WBS dapat meningkatkan kemampuan dalam melatih


rentang gerak dan melaksanakan secara rutin latihan yang sudah diberikan.

- Tujuan khusus :

 WBS mampu mengikuti latihan rentang gerak

 WBS mampu memberikan umpan balik yang positif

 WBS mampu mengidentifikasi manfaat kegiatan yang dilakukan

3. Metode :

Metode yang digunakan dalam TAK ini adalah sosial theurapeutic model
interpersonal yang didasari pada kognitif, afektif dan psikomotor.

4. Media :

- Tape Recorder

5. Sasaran :

Warga binaan sosial di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulya I Cipayung :

a. Ny. Titin

b. Ny. Aisyah

c. Ny. Tinah

d. Ny. Sri
e. Ny. Supatmi

f. Ny. Margaret

g. Ny. Satem

6. Kriteria evaluasi :

100% peserta dapat hadir mencapai tujuan khusus yang telah ditetapkan

7. Waktu dan tempat :

Hari/tanggal : Senin, 16 Maret 2020

Waktu : 14.00 – 15.00

Tempat : Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulya I Cipayung, Ruang Dahlia

8. Uraian struktur kelompok :

Pengorganisasiaan dan uraian tugas :

a. Leader

Tugas :

 Merencanakan, mengontrol dan mengatur jalannya TAK

 Membuka acara

 Memimpin jalannya TAK

 Menjelaskan tujuan TAK

 Memperkenalkan anggota TAK

 Mengatur jalannya TAK

 Menetapkan jalannya tata tertib

 Dapat mengambil keputusan dengan tepat dan dapat menyimpulkan hasil TAK

 Menutup jalannya TAK


b. Co Leader

Tugas :

 Membantu tugas leader

 Mengambil alih posisi leader jika terjadi bloking

 Menjadi motivator

 Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader

 Mengingatkan leader bila diskusi menyimpang

 Mengingatkan lamanya waktu pelaksanaan

 Bersama leader memberi contoh keja sama yang baik

c. Fasilitator

Tugas :

 Membantu meluruskan dan menjelaskan tugas yang harus dilakukan WBS


sebagai peserta TAK

 Mendampingi WBS diskusi

 Memotivasi peserta supaya aktif dalam TAK

 Menjadi contoh bagi WBS selama kegiatan

d. Observer

Tugas :

 Mengamati dan mencatat respon WBS selama kegiatan

 Mencatat hasil dari diskusi

 Memberikan tanggapan terhadap jalannya kegiatan


9. Tata tertib

a. Peserta bersedia mengikuti TAK

b. Peserta wajib hadir 5 menit sebelum TAK dimulai

c. Anggota wajib memberitahu leader jika tidak hadir

d. Peserta berpakaian rapih

e. Jika ada peserta yang ingin meninggalkan kelompok harus meminta izin kepada
therapis

f. Lama kegiatan

g. Setiap peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir

h. Peserta tidak boleh makan dan minum selama kegiatan

i. Jika ada peserta yang mengacaukan jalannya TAK maka peserta tersebut
dikeluarkan dari TAK

10. Strategi pelaksanaan

a. Fase perkenalan 5 menit

 Therapis mempersiapkan lingkungan dan selanjutnya mengatur posisi

 Mengucapkan salam

 Memperkenalkan anggota yang hadir

 Therapis menjelaskan tujuan TAK

 Menjelaskan topik yang akan dibahas

 Membuat kontrak waktu

 Membacakan tata tertib


b. Fase kerja 45 menit

Season 1 :

Menjelaskan materi tentang Latihan Rentang Gerak (Pengertian, tujuan dan


manfaat)

Season 2 :

 Hidupkan tape recorder (music)

 Memberikan contoh gerakan-gerakan latihan rentang gerak aktif-pasif


sebagai berikut :

1) Abduksi : gerakkan menjauhi garis tubuh

2) Aduksi : gerakkan mendekati garis tubuh

3) Fleksi : membengkokkan sendi sehingga sudut dari sendi tidak ada


lagi

4) Ekstensi : gerakkan membalik atau menggerakkan suatu bagian


pada porossnya.

5) Dorsofleksi : gerakkan yang memfleksikan/ membengkokkan


lengan kearah belakang tubuh/ kaki kearah tungkai

6) Fleksi palmar : gerakkan yang membengkokkan lengan dalam


kearah telapak tangan

7) Fleksi plantar : gerakan yang membengkokkan kaki dalam kearah


telapak kaki

8) Pronasi : rotasi lengan atas sehingga telapak tangan kebawah

9) Supinasi : rotasi lengan atas sehingga telapak tangan keatas

10) Oposisi : mempertemukkan ujung jari pada lengan yang sama

11) Inverse : gerakkan memutar telapak kaki kedalam


12) Eversi : gerakkan memutar telapak kaki kearah luar

 Bersama-sama melakukkan gerakan latihan rentang gerak aktif – pasif

 Peserta melakukan latihan gerak aktif- pasif tanpa diberikan contoh

 Berikkan reward berupa tepuk tangan kepada semua peserta

c. Fase terminasi 10 menit

 Leader memberikan kesempatan kepada WBS untuk beristirahat sejenak

 Leader meminta tanggapan kepada WBS terhadap kegiatan yang telah


dilakukkan

 Therapis menanyakan perasaan WBS setelah mengikuti kegiatan TAK

 Menyimpulkkan kegiatan yang telah dilakukkan dan memotivasi anggota


kelompok untuk mengikuti kegiatan lainnya yang positif

 Observer memberikan tanggapan terhadap jalannya TAK

 Menutup acara

11. Setting tempat

a. WBS dan therapis duduk bersama dan membentuk setengah lingkaran

b. Ruangan nyaman dan tenang

CL
L

K K
1 7
F1 F4

K2 K
6
K K
3 F3 5
F2 K
4
OB
Keterangan :

L : Leader

CL : Co Leader

F1- F4 : Fasilitator

K1- K7 : Warga binaan sosial/ Peserta

OB : Observer

12. Landasan teori

a. Konsep dasar lansia

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menua
bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur
mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan
tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh, seperti didalam
Undang-Undang No13 tahun 1998 yang isinya menyatakan bahwa pelaksanaan
pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, telah menghasilkan
kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin
meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah (Kholifah, 2016)
b. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia

Adapun perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menurut Kholifah, (2016)


yaitu :

1) Perubahan Fisik

a) Sistem Indra

Sistem pendengaran; Prebiakusis (gangguan pada pendengaran) oleh karena


hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas,
sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun.
b) Sistem Intergumen

Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis kering dan
berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan
berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atropi glandula sebasea dan
glandula sudoritera, timbul pigmen berwarna coklat pada kulit dikenal
dengan liver spot.

c) Sistem Muskuloskeletal

Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia: Jaringan penghubung


(kolagen dan elastin), kartilago, tulang, otot dan sendi.. Kolagen sebagai
pendukung utama kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat
mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak teratur. Kartilago:
jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami granulasi,
sehingga permukaan sendi menjadi rata. Kemampuan kartilago untuk
regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung kearah
progresif, konsekuensinya kartilago pada persendiaan menjadi rentan
terhadap gesekan. Tulang: berkurangnya kepadatan tulang setelah diamati
adalah bagian dari penuaan fisiologi, sehingga akan mengakibatkan
osteoporosis dan lebih lanjut akan mengakibatkan nyeri, deformitas dan
fraktur. Otot: perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi,
penurunan jumlah dan ukuran serabut otot, peningkatan jaringan
penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek negatif.
Sendi; pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligament dan
fasia mengalami penuaan elastisitas.

d) Sistem kardiovaskuler

Perubahan pada sistem kardiovaskuler pada lansia adalah massa jantung


bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertropi sehingga peregangan
jantung berkurang, kondisi ini terjadi karena perubahan jaringan ikat.
Perubahan ini disebabkan oleh penumpukan lipofusin, klasifikasi SA Node
dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat.

e) Sistem respirasi

Pada proses penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru, kapasitas total
paru tetap tetapi volume cadangan paru bertambah untuk mengkompensasi
kenaikan ruang paru, udara yang mengalir ke paru berkurang. Perubahan
pada otot, kartilago dan sendi torak mengakibatkan gerakan pernapasan
terganggu dan kemampuan peregangan toraks berkurang.

f) Pencernaan dan Metabolisme

Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan produksi


sebagai kemunduran fungsi yang nyata karena kehilangan gigi, indra
pengecap menurun, rasa lapar menurun (kepekaan rasa lapar menurun),
liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, dan
berkurangnya aliran darah.

g) Sistem perkemihan

Pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang signifikan. Banyak fungsi


yang mengalami kemunduran, contohnya laju filtrasi, ekskresi, dan
reabsorpsi oleh ginjal.

h) Sistem saraf

Sistem susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atropi yang


progresif pada serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan koordinasi
dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

i) Sistem reproduksi

Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan menciutnya ovary dan


uterus. Terjadi atropi payudara. Pada laki-laki testis masih dapat
memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-
angsur.
2) Perubahan Kognitif
a) Memory (Daya ingat, Ingatan)
b) IQ (Intellegent Quotient)
c) Kemampuan Belajar (Learning)
d) Kemampuan Pemahaman (Comprehension)
e) Pemecahan Masalah (Problem Solving)
f) Pengambilan Keputusan (Decision Making)
g) Kebijaksanaan (Wisdom)
h) Kinerja (Performance)
i) Motivasi
3) Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
a) Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
b) Kesehatan umum
c) Tingkat pendidikan
d) Keturunan (hereditas)
e) Lingkungan
f) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.
g) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.
h) Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan
famili.
i) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran
diri, perubahan konsep diri
4) Perubahan spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya. Lansia
semakin matang (mature) dalam kehidupan keagamaan, hal ini terlihat dalam
berfikir dan bertindak sehari-hari.
5) Perubahan Psikososial
a) Kesepian
Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal terutama
jika lansia mengalami penurunan kesehatan, seperti menderita penyakit
fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama
pendengaran.
b) Duka cita (Bereavement)
Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan
kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada
lansia. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan
kesehatan.
c) Depresi
Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong, lalu diikuti
dengan keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu episode
depresi. Depresi juga dapat disebabkan karena stres lingkungan dan
menurunnya kemampuan adaptasi.
d) Gangguan cemas
Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik, gangguan cemas umum,
gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif,
gangguan-gangguan tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan
berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis, depresi, efek
samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat.
e) Parafrenia
Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham (curiga),
lansia sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau berniat
membunuhnya. Biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi/diisolasi atau
menarik diri dari kegiatan sosial.
f) Sindroma Diogenes
Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku sangat
mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia bermain-
main dengan feses dan urin nya, sering menumpuk barang dengan tidak
teratur. Walaupun telah dibersihkan, keadaan tersebut dapat terulang
kembali.
c. Konsep ROM

1) Pengertian ROM

ROM adalah latihan gerakkan sendi yang memungkinkan terjadinya


kontraksi dan pergerakan otot. Dimana klien menggerakan masing-masing
persendian sesuai gerakkan normal baik secara aktif maupun pasif.
Menurut Suratun. Dkk. (2008). ROM adalah gerakkan dalam keadaan
normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan. Latihan ROM
adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki
tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan persendian secara
normal dan lengkap untuk meningkatkan masa otot dan tonus otot (Potter
& Perry, 2005).

2) Tujuan ROM

Tujuan dilakukan latihan ROM:

 Memelihara dan mempertahankan kekuatan otot

 Memelihara mobilitas persendian

 Menstimulasi persendian

 Mencegah kontraktur dan kekakuan sendi

 Memperbaiki tonus otot

 Meningkatkan massaotot

 Memperlancar sirkulasi darah

3) Prinsip dasar latihan ROM

 ROM diulang 8 kali gerakan dan latihan setiap 2 kali sehari.

 Dilakukan perlahan dan hati-hati sehingga pasien tidak kelelahan.

 Perhatikan umur pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah


baring.

 ROM dapat dilakukan pada leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki,
danpergelangan kaki

 ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-
bagian yang di curigai mengalami proses penyakit.
 Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau
perawatan rutin telah di lakukan.

 Mulailah latih ROM dari ekstremitas yang sehat

 Terapi latihan gerak yang diberikan adalah gerak fungsional (meraih,


memegang)

4) Manfaat ROM

 Memperbaiki tonus otot

 Meningkatkan mobilitas sendi

 Memperbaiki toleransi otot untuk latihan

 Meningkatkan masa otot

13. Penutup

Demikian proposal ini kami susun atas perhtiannya dan dukungannya kami ucapkan
terima kasih. Mudah-mudahan proposal ini bermanfaat bagi yang membaca.
DAFTAR PUSTAKA

Kholifah, Siti Nur. (2016). Keperawatan Gerontik. Jakarta. Pusdik SDM


Kesehatan
Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
dan Praktik. Jakarta: EGC
Suratun dkk. (2008). Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal. Jakarta: EGC