Anda di halaman 1dari 619

RENCANA KERJA

DAN SYARAT

PENATAAN KEBUN RAYA PURWODADI


KABUPATEN PASURUAN
PROVINSI JAWA TIMUR

TAHUN ANGGARAN 2019

Direktorat Jendral Cipta Karya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia


Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
DAFTAR ISI RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT TAMAN LOKAL

Bab 1 Spesifikasi Teknis


Bab 2 Sarat-Sarat Umum Pekerjaan
Bab 3 Pekerjaan Persiapan
Bab 4 Pekerjaan Hardscape
1. Pekerjaan Beton
2. Pekerjaan Pasangan

Bab 5 Pekerjaan Aksesoris Pelengkap

1. Pekerjaan Kosntruksi Atap


2. Pekerjaan Penutup Atap Membran
3. Pekerjaan Tempat Duduk BSP

Bab 6 Pekerjaan Perkerasan Aspal

1. Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat


2. Laston (Lapis Aspal Beton)
Bab 1
SPESIFIKASI TEKNIS

NAMA PEKERJAAN : PEKEJAAN TAMAN TANAMAN LOKAL

LOKASI : KEBON RAYA PURWODADI

No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan


PEKERJAAN UMUM
Semen Semen / Portland
Holcim, Gresik, Tiga Roda
Cement ( PC )
Semen Instan
MU, Prime Mortar, Bostik
(Mortar)
Pasir Lokal yang disetujui
Pasir Pasangan
Konsultan Pengawas
Pasir Cor Ex. Lumajang
Sirtu Tanah Urugan Gempol, Porong
bekisting Multipleks 12mm lapis Untuk beton expose
film satu sisi
Multiplek 9 mm Untuk beton non expose
Rangka kayu meranti
2 PEKERJAAN BETON
Pekerjaan Beton
2.1
Struktur
Beton Ready Mutu beton K-225 fc’ Holcim, Indosipa, Merak,
mix = 18,68 MPa Jaya, Varia, Jatim Readymix
Mutu beton K-225 fc’ Harus didahului mix design
Beton site mix
= 18,68 MPa dan uji bahan
Krakatau Steel, Hanil Jaya
Besi beton yang
Besi beton Steel, Master Steel,
berstandart SNI
Bhirawa, Jatim.
Pekerjaan Beton Non
2.2
Struktur (lantai Kerja)
Beton Campuran 1
Beton site mix
3:5
3 PEKERJAAN BESI & BAJA
Krakatau Steel, Gunung
Garuda, Hanil Jaya Steel
Pekerjaan Baja yang standar atau local yang berstandart
3.1
Konstruksi Baja SNI SNI. Hubungan sayap
(flange) dan badan (Web)
harus tidak ada las.
Krakatau Steel, Hanil Jaya
Besi beton yang
3.2 Besi beton Steel, Master Steel,
berstandart SNI
Bhirawa, Jatim.
4 PEKERJAAN PASANGAN
Pekerjaan
4.1 pasangan bata
merah
Bata merah Ex. Lokal
Pekerjaan
4.2 plesteran dan
acian semen
Semen / Portland Ex. Holcim, Semen Gresik,
Cement ( PC ) Tiga roda
Ex.Lokal yang disetujui oleh
Pasir Pasangan
pengawas

Pekerjaan Pas
Mutu K300 Conbloc, Focon
kanstin
Pasangan Batu
Batu Kewel Ex lokal
Alam
5 PEKERJAAN PENGECATAN
Eksterior
Water based, kilap
5.1 (pedestrian Ex. Propan, Sika, Afatex
matte
taman)
6 PEKERJAAN ATAP MEMBRAN
6.1 Membrane Ag Tex 950 Gsm Ex Ateja Lisensi Italy
6.2 Baja Seling Galvanis 8mm Pengikat Atap membrane
Plat Stenlis tebal
6.3 Camplate Plat tarikan ujung membrane
2mm
6.4 Mur Baut Stenlis dia 8mm Baut Plat
6.5 Long drat 14-16 mm, Galvanis Tarikan membrane
Besi pipa
6.6 6”, medium Tiang
Galvanis
4”, medium/3,2mm Tiang
3”, medium/2,5mm Palang Atas
2”, medium/2,3mm Palang Atas
Plat Baja 30x30 Base Plate
Plat Baja 15x7,5
Tebal 8mm Sirip
(0,5)
7 PEKERJAAN MEKANIKAL, DRAINASE DAN PERPIPAAN
7.1 Pekerjaan sanitasi, drainase dan perpipaan
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air bersih
12.5) Maspion
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air bekas
12.5) Maspion
Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air kotor PVC Class AW (S 16)
Maspion
Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air hujan PVC Class AW
Maspion
Sambungan Lebih kecil dia 50 Wavin, Rucika, Pralon,
pipa menggunakan Maspion
Solevent Cement
Lebih besar dia 50 Wavin, Rucika, Pralon,
menggunakan Maspion
Rubber-ring and
Spigot
Valve Cast iron, Broze Toyo, Kitazawa
Booster pump Jenis Pompa Booster
Sanyo, Grundfos
package Pump
Pompa Transfer Lihat Gambar Sanyo, Grundfos
Bahan Plastik PE
Roof Tank atau Stainless Steel Induro, Profil Tank
Anti Lumut
Septic Tank Bio Filter atau Lokal. Toya, BioFit, BioSeven
Pekerjaan instalasi
7.2
listrik
MDP, SDP, ( Panel Tegangan
Simetri, Panelindo Mas
LOAD PANEL Rendah)
Seluruh
Perlengkapan MCB, MCCB MG, ABB
Panel
Shot Circuit, Eath
Foult o/u voltage SEG, MG
protecyion
Fuse Socomec, Telemecanique
Selector Switch A-O-
K&N
M
Kwh Meter Fuji, Siemen
Conductor, Push
Telemecanique
Button, Pilot
Amper, Volt, Fr, Watt GAE, Siemen
Kabel NYY, Supreme, Kabelindo, Kabel
NYM, NYFGBY Metal Voksel
Com, Vektor, AROS, Eaton
UPS Ni Cadnium
Powerware, YPS, ICA
Kabel Tray Finish Galvanis Inter Rack, Lion Tray, Citra
Conduit, Tee
Doos, Cross Hight Impact Clipsal, EGA, Elpro
Doos, dll
Pekerjaan tata
7.3
cahaya
Lampu taman
tiangcOutdoor Besi tempa Warna Merah temaga
Cabang 2 seri
Bab 2
SYARAT-SYARAT UMUM PEKERJAAN

1. Umum
• Tanah dan halaman untuk pembangunan akan diserahkan kepada
Kontraktor dalam keadaan seperti pada waktu peninjauan lapangan /
observasi lapangan.
• Pekerjaan harus diserahkan oleh Kontraktor dalam keadaan selesai
keseluruhan sesuai dengan lingkup pekerjaan yang diborongkan, dalam
mana termasuk juga pembetulan kerusakan yang mungkin timbul / terjadi
dalam menyingkirkan segala bahan-bahan sisa atau bongkaran lainnya.

2. Alat, Perlengkapan Pekerjaan dan Tenaga Lapangan


• Kontraktor, sub-sub Kontraktor dan bagian-bagian lainnya yang
mengerjakan pekerjaan pelaksanaan didalam proyek ini, harus
menyediakan alat-alat dan perlengkapan-perlengkapan pekerjaan sesuai
dengan bidangnya masing-masing.
• Disamping itu harus menyediakan juga :
- Buku-buku laporan (harian, mingguan, dan bulanan)
- Rencana kerja dan menempatkan tenaga-tenaga lapangan yang
bertanggung jawab penuh untuk memutuskan segala sesuatu di
lapangan dan bertindak atas nama Kontraktor dan sub-Kontraktor
yang bersangkutan, serta berpengalaman.
- Perlengkapan pengaman / keselamatan kerja sesuai peraturan K3
Depnaker R.I.

3. Barang Contoh (SAMPLE)


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan barang-barang
contoh (sample) dari material yang akan dipakai/dipasang, untuk
mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi / Pemberi
Tugas.
• Barang-barang contoh (sample) tertentu harus dilampiri dengan tanda
bukti sertifikat pengujian dan spesifikasi teknis dari barang-
barang/material-material tersebut.
• Untuk barang-barang dan material yang akan didatangkan ke site, maka
Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan :
- Brochure
- Katalogue
- Gambar kerja atau shop drawing
- Sample.
yang dianggap perlu oleh Tim Teknis / Konsultan Supervisi dan harus
mendapat persetujuan Tim Teknis / Konsultan Supervisi/Pemberi
Tugas.

4. Pengujian Atas Mutu Pekerjaan


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan mengadakan pengujian atas
mutu bahan dan mutu pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing.
• Semua biaya-biaya untuk kebutuhan tersebut di atas,
ditanggung oleh Kontraktor dan sub-sub Kontraktor yang
bersangkutan.

5. Gambar-Gambar “AS BUILT DRAWING”

Kontraktor atau sub-sub kontraktor diwajibkan untuk membuat gambar-


gambar “As Built Drawing” untuk Arsitektur, Struktur dan M/E sesuai dengan
pekerjaan yang telah dilakukan di lapangan secara kenyataannya, untuk
kebutuhan pemeriksaan dan maintenance dikemudian hari. Gambar-gambar
tersebut diserahkan kepada Pemilik setelah disetujui oleh Tim Teknis /
Konsultan Supervisi diserahkan sebelum serah terima pertama.

6. Shop Drawing

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat gambar-gambar “Shop


Drawing” setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi, gambar-
gambar tersebut harus diserahkan minimum 15 hari sebelum pekerjaan
tersebut akan dilaksanakan.

7. Material Delivery Schedule

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat material delivery


schedule untuk setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi,
material delivery schedule harus diserahkan minimum 15 hari sebelum
pekerjaan tersebut akan dilaksanakan.
Bab 3
PEKERJAAN PERSIAPAN
1.1 PEKERJAAN PERSIAPAN
1.1.1 Direksi Keet (Bangunan Sementara).
1. Direksi keet walau tidak disebutkan dalam penawaran sudah menjadi
kewajiban bagi kontraktor untuk menyediakannya.
2. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan ini,Kontraktor diharuskan
menyediakan dan menyiapkan ruang atau bangunan sementara berukuran
3,00 x 7,00 m untuk ruang rapat dan 3,00 x 4,00 m untuk ruang Direksi.
Bangunan Sementara ini harus dilengkapi dengan Toilet/ WC dan kamar
mandi (dilengkapi dengan bak air, closet, Septictank & Sumur peresap) yang
khusus dimanfaatkan oleh Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
3. Kelengkapan Direksi Keet. Sebagai kelengkapan Direksi Keet guna
penyelesaian Administrasi dilapangan, maka sebelum pelaksanaan
pekerjaan ini dimulai Kontraktor harus terlebih dahulu melengkapi peralatan
peralatan antara lain :
a. 1 (satu) soft board menempel didinding 2x1,20x2,40 m2
b. 1 (satu) buah meja rapat (sederhana) ukuran 1,20x4,80 m2
c. 12 (dua belas) buah kursi duduk ruang rapat
d. 1 (satu) white board (1,20 x 2,40 m2) dan peralatannya
e. 1(satu) rak/almari buku (sederhana)
f. 1 (satu) meja kerja/tulis dan kursi
g. 1 (satu) set kelengkapan PPPK (P3K)
h. 1 (satu) tabung Pemadam Api
i. 5 (lima) buah helm
j. Sarana dan prasarana listrik, telepon dan komunikasi.
4. Alat-alat yang harus senantiasa tersedia di proyek untuk setiap saat dapat
digunakan oleh Direksi Lapangan adalah :
a. 1 (satu) buah kamera (Camera Digital)
b. 1 (satu) buah alat ukur Schuitmaat
c. 1 (satu) buah alat ukur optik (theodolith/ waterpass)
d. 1 (satu) buah personal computer dan printer Inkjet A4
5. Di dalam direksi keet minimal harus dilengkapi dengan :
a. Gambar kerja baik itu gambar perencanaan ataupun shop drawing
b. Buku direksi yang berisi laporan atau catatan atau permintaan dari pihak
Direksi ataupun Kontraktor
c. Kotak P3K sebagai sarana untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Selesai pelaksanaan proyek ini (Serah Terima ke I) semua Peralatan/ kelengkapan
tersebut dalam ayat ini menjadi milik Kontraktor
1.1.2 Sarana Kerja.
1. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua
pekerjaan yang dilakukan diluar lapangan sebelum pemasangan peralatan
yang dimiliki serta jadwal kerja.
2. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan memenuhi
persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan kerja
dilapangan.
3. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/ material dilapangan harus aman
dari segala kerusakan hilang dan hal-hal dasar yang mengganggu
pekerjaan lain yang sedang berjalan.
4. Untuk menghindari kemacetan dan gangguan lain terhadap akses jalan yang
timbul akibat operasional pekerjaan, Kontraktor diharuskan menyediakan
lahan untuk penyimpanan bahan/ material selama pelaksanaan pekerjaan.
1.1.3 Pengaturan Jam Kerja dan Pengerahan Tenaga Kerja.
1. Kontraktor harus dapat mengatur sedemikian rupa dalam hal pengerahan
tenaga kerja, pengaturan jam kerja maupun penempatan bahan hendaknya
di konsultasikan terlebih dahulu dengan Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas lapangan. Khususnya dalam pengerahan tenaga kerja
dan pengaturan jam kerja dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan
peraturan perburuhan yang berlaku.
2. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan akomodasi dan
fasilitas-fasilitas lain yang dianggap perlu misalnya (air minum, toilet yang
memenuhi syarat-syarat kesehatan dan fasilitas kesehatan lainnya seperti
penyediaan perlengkapan PPPK yang cukup serta pencegahan penyakit
menular.)
3. Kontraktor harus membatasi daerah operasinya disekitar tempat pekerjaan
dan harus mencegah sedemikian rupa supaya para pekerjanya tidak
melanggar wilayah bangunan-bangunan lain yang berdekatan, dan
Kontraktor harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan
memasuki tempat pekerjaan.
4. Kontraktor diwajibkan memberi tahu tentang identitas pekerja yang
melakukan aktivitas di lokasi tersebut kepada user yang bersangkutan.
1.1.4 Perlindungan Terhadap Bangunan/Sarana Yang Ada.
1. Segala kerusakan yang timbul pada bangunan/konstruksi dan peralatan
sekitarnya menjadi tanggung jawab Kontraktor untuk memperbaikinya, bila
kerusakan tersebut jelas akibat pelaksanaan pekerjaan.
2. Kontraktor diwajibkan mengidentifikasikan keadaan bangunan ataupun
prasarana lain di sekitar lokasi sebelum memulai pekerjaan.
3. Selama pekerjaan berlangsung Kontraktor harus selalu menjaga kondisi
jalan dan sarana prasarana disekitar lokasi pekerjaan, hal tersebut menjadi
tanggung jawab Kontraktor terhadap kerusakan-kerusakan yang terjadi
akibat pelaksanaan pekerjaan ini.
4. Kontraktor wajib mengamankan sekaligus melaporkan/ menyerahkan
kepada pihak yang berwenang bila nantinya menemukan benda-benda
bersejarah
1.1.5 Pembersihan dan Penebangan Pohon-Pohonan.
1. Lapangan terlebih dahulu harus dibersihkan dari rumput, semak, akar-akar
pohon.
2. Sebelum pekerjaan lain dimulai, lapangan harus selalu dijaga, tetap bersih
dan rata.
3. Kontraktor tidak boleh membasmi, menebang atau merusak pohon-pohon
atau pagar, kecuali bila telah ditentukan lain atau sebelumnya diberi tanda
pada gambar-gambar yang menandakan bahwa pohon-pohon dan pagar
harus disingkirkan. Jika ada sesuatu hal yang mengharuskan Kontraktor
untuk melakukan penebangan, maka ia harus mendapat ijin dari Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.6 Penjagaan, Pemagaran Sementara, dan Papan Nama.
1. Kontraktor bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan
perlindungan terhadap pekerjaannya yang dianggap penting selama
pelaksanaan, dan sekaligus menempatkan petugas keamanan untuk
mengatur sirkulasi/ arus kendaraan keluar/ masuk proyek.
2. Sebelum Kontraktor mulai melaksanakan pekerjaannya, maka Kontraktor
diwajibkan terlebih dahulu memberi pagar pengaman pada sekeliling site
pekerjaaan yang akan dilakukan.
3. Pembuatan pagar pengaman dibuat jauh dari lokasi pekerjaan, sehingga
tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilakukan, serta
tempat penimbunan bahan-bahan dan dibuat sedemikian rupa, sehingga
dapat bertahan/kuat sampai pekerjaan selesai dan tampak dari luar dapat
menunjang estetika atas kawasan yang ada.
4. Syarat pagar pengaman :
a. Pagar dari seng gelombang finish cat berpola sesuai dengan
pengarahan Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas
dengan ketinggian minimal 180 cm.
b. Tiang dolken minimum berdiameter 10 cm, jarak pemasangan minimal
180 cm, bagian yang masuk pondasi minimum 40 cm.
c. Rangka kayu Borneo ukuran 4 x 6 cm, dengan pemasangan 4 jalur
menurut tinggi pagar.
d. Pondasi cor beton setempat minimum penampang diameter 30cm
dalam 50cm dari permukaan tanah setempat. Beton dengan adukan
1:3:5.
e. Pada pagar pengaman hendaknya diberi tanda atau petunjuk mengenai
keberadaan pekerjaan tersebut
f. Pagar diengkapi dengan pembuatan pintu akses dari bahan yang sama.
5. Selesai proyek semua bahan pagar adalah milik Kontraktor, untuk hal
tersebut didalam penyusunan penawaran hendaknya telah
dipertimbangkan.
6. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan memasang papan
nama Proyek yang dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan gambar
rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan atas beban Kontraktor.
1.1.7 Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja
1. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan menggunakan/
menyambung pipa air yang telah ada dengan meteran air tersendiri (guna
perhitungan pembayaran pemakaian air oleh Kontraktor) atau air sumur
yang bersih/jernih dan tawar dengan membuat sumur pompa di tapak
proyek atau disuplai dari luar lokasi pekerjaan. Air harus bersih, bebas dari
debu, bebas dari lumpur, minyak dan bahan-bahan kimia lainnya yang
merusak.Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
2. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari
sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan, atau
penggunaan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan
untuk penggunaan sementara atas persetujuan Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas. Daya listrik juga disediakan untuk
suplai kantor Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas
Lapangan.
3. Segala biaya yang ditimbulkan atas pemakaian daya listrik dan air di atas
adalah beban Kontraktor.
1.1.8 Drainase Tapak.
1. Dengan mempertimbangkan keadaan topografi/kontur tanah yang ada di
tapak, Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk
pembuangan air yang ada.
2. Arah aliran ditujukan ke daerah/permukaan yang terendah yang ada di
tapak atau ke saluran yang sudah ada di lingkungan daerah pembangunan.

3. Pembuatan saluran sementara harus sesuai petunjuk dan persetujuan


Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.9 Mengadakan Pengukuran dan Pemasangan Bowplank.
1. Pengukuran Tapak Kembali.
a. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran
kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-
keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-
batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.
b. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan
lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk dimintakan
keputusannya.
c. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan
alat-alat waterpass/Theodolite yang ketepatannya dapat dipertanggung
jawabkan.
d. Kontraktor harus menyediakan Theodolith/waterpass beserta petugas
yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas pelaksanaan proyek.
e. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas
Segitiga Phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil
yang disetujui oleh Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
f. Segala pekerjaan pengukuran dan persiapan termasuk tanggungan
Kontraktor.

2. Tugu Patokan Dasar (Bench Mark)


a. Letak dan jumlah tugu patokan dasar ditentukan oleh Direksi.
b. Tugu patokan dasar dibuat dari beton berpenampang sekurang-
kurangnya 20 x 20 cm, tertancap kuat kedalam tanah sedalam 1 meter
dengan bagian yang menonjol diatas muka tanah secukupnya untuk
memudahkan pengukuran selanjutnya dan sekurang-kurangnya
setinggi 40 cm diatas tanah. Tugu patokan dasar harus dilengkapi
dengan titik ukur dari bahan logam dan diangkurkan ke beton.
c. Tugu patokan dasar dibuat permanen, tidak bisa diubah, diberi tanda
yang jelas dan dijaga keutuhannya sampai ada instruksi tertulis dari
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk
membongkarnya.
d. Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan termasuk tanggungan
kontraktor
e. Pada setiap tugu patok dasar harus tertera dengan jelas kode koordinat
dan ketinggian (elevasi) nya.

3. Pengukuran dan Titik Peil (0.00) Bangunan.


Kontraktor harus mengadakan pengukuran yang tepat berkenaan dengan
letak/kedudukan bangunan terhadap titik patok/pedoman yang telah
ditentukan, siku bangunan maupun datar (waterpas) dan tegak lurus
bangunan harus ditentukan dengan memakai alat waterpas
instrument/ theodolith. Hal tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan tegel,
langit-langit dan sebagainya dengan hasil yang baik dan siku.
Untuk mendapatkan titik peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi yang
tercantum pada gambar rencana (Lay Out), dan bila terjadi penyimpangan
atau tidak sesuainya antara kondisi lapangan dan gambar Lay Out,
Kontraktor harus melapor pada Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.

4. Pemasangan Bouplank.
a. Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran
persiapan bouplank/ pengukuran pekerjaan sesuai dengan referensi
ketinggian, dan benchmark yang diberikan Direksi secara tertulis, serta
bertanggung jawab atau ketinggian, posisi, dimensi, serta kelurusan
seluruh bagian pekerjaan serta pengadaan peralatan, tenaga kerja
yang diperlukan.
b. Bilamana suatu waktu dalam proses pembangunan ternyata ada
kesalahan dalam hal tersebut diatas, maka hal tersebut merupakan
tanggung jawab Kontraktor serta wajib memperbaiki kesalahan tersebut
dan akibat-akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut disebabkan
terdapat referensi tertulis dari Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas.
c. Pengecekan pengukuran atau lainnya oleh Direksi atau wakilnya tidak
menyebabkan tanggung jawab Kontraktor menjadi
berkurang.Kontraktor wajib melindungi semua benchmark, dan lain-
lain atau seluruh referensi dan realisasi yang perlu pada pengukuran
pekerjaan ini.

5. Bahan dan Pelaksanaan Bouplank


a. Tiang bowplank menggunakan kayu kruing ukuran 5/7 dipasang setiap
jarak 2,00 m', sedangkan papan bouplank ukuran 2/20 cm dari kayu
meranti diketam halus dan lurus bagian atasnya dan dipasang datar
(waterpas).
b. Pemasangan bowplank harus sekeliling bangunan dengan jarak 2,00
m1 dari as tepi bangunan dengan patok-patok yang kuat, bouplank tidak
boleh dilepas/dibongkar dan harus tetap berdiri tegak pada tempatnya
sehingga dapat dimanfaatkan hingga pekerjaan mencapai tahapan
trasram tembok bawah.
1.2 HEALTH AND SAFETY ENVIRONTMENT (HSE)
1.2.1 Lingkup Pekerjaan
1. Menyediakan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan alat alat bantu lainnya
untuk melaksanakan pekerjaan seperti dinyatakan dalam RKS ini dengan hasil
yang baik dan sempurna.
2. Harga pekerjaan ini termasuk dalam skope pekerjaan persiapan, bilamana tidak
tercantum pada item pekerjaan maka pekerjaan ini tetap merupakan kewajiban
yang harus dilaksanakan.
3. Indikator keberhasilan adalah Pelaksanaan proyek berjalan dengan tertib, aman
dan tidak ada kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan proyek.
1.2.2 Standard dan Persyaratan.
Standard dan persyaratan yang berlaku mengikuti:
1. Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/ KPTS/1998 tentang
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per. 01/MEN/1980 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan;
4. Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum
No. Kep. 174/MEN/1986, dan No. 104/KPTS/1986 tentang K3 Pada Tempat
Kegiatan Konstruksi;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2008 tentang Pedoman
SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum;

1.2.3 Akses, Pagar Pengaman Proyek, Barrier, Perlindungan pada bangunan yang
sudah ada dan lingkungan sekitar.
1.2.3.1 Akses Keluar Masuk Proyek
a. Akses kerja adalah area kantor proyek, area pabrikasi, area yang dikerjakan dan
akses/jalur yang menghubungkan ketiga-tiganya. Direncanakan dan disiapkan
terlebih dulu sebelum digunakan.
b. Tersedia pintu masuk dan pintu keluar, baik untuk rutin dan darurat di kantor
proyek serta terjaga dengan baik.
c. Ada batas atau tanda peringatan atau pagar yang memberi tanda area kerja
kantor proyek, pabrikasi area kerja lapangan dan jalur/akses penghubung
terhadap area umum masyarakat
d. Jalan dan jalur lintas pekerja diberi batas dan pengaman serta tanda peringatan
yang jelas, terutama yang bersinggungan dengan Pekerja Konstruksi dan atau
masyarakat umum

1.2.3.2 Perlindungan Pada Bangunan Sudah Ada dan Lingkungan Sekitar.


Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan perlindungan terhadap Pihak
Ketiga dan pengawasan keamanan dalam hubungannya dengan pekerjaan.
Kontraktor akan menyediakan perlindungan seperlunya untuk mencegah
terjadinya kerusakan atau kehilangan dari :
a. Semua pekerjaan dan orang yang mungkin berkepentingan dalam pekerjaan.
b. Semua pekerjaan dan bahan-bahan serta alat perlengkapan yang harus
ditempatkan dengan aman dibawah pengawasan Kontraktor atau salah satu
Sub Kontraktor.
c. Harta benda ditapak pekerjaan atau yang berbatasan dengan pekerjaan.
d. Semua harta benda milik orang lain atau Pihak ketiga disekitar lokasi pekerjaan.

Kontraktor harus mematuhi semua hukum, peraturan dan ketentuan-ketentuan


yang berlaku mengenai keamanan orang, harta benda dan melindungi dari
kerusakan, cidera atau kehilangan.
Kontraktor diharuskan memperbaiki dan mengganti kerugian, apabila ternyata
lalai terhadap kewajiban yang disebutkan diatas.

1.2.4 Kebersihan harian, Pembersihan lokasi proyek, pembuangan sisa material keluar
lokasi Proyek.
Kontraktor harus, menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh
terhadap kebersihan proyek dari hari kehari, pengendalian kebersihan lingkungan
dan pengaruhnya lingkungan dan bahwa semua penyediaan sarana dan
prasarana untuk pencegahan yang berhubungan dengan polusi lingkungan dan
perlindungan lahan serta lintasan air disekitarnya dengan memperhatikan:
a. Bahan, material yang berserakan harus dirapihkan baik sebelum, selama kerja
dan setelah jam kerja.
b. Alat kerja, perkakas lainnya yang digunakan tidak boleh merintangi dan
membahayakan akses kerja dan disimpan setelah selesai jam kerja.
c. Tempat sampah sesuai jenis sampah dan volume yang terjadi, selalu
dibersihkan dan dikumpulkan serta siap diangkut keluar proyek.
d. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk, harus ada jadual dan pembersihan
yang rutin
e. Tempat Kerja yang licin karena air, minyak, atau zat lainnya harus segera
dibersihkan
f. Semua orang wajib menyingkirkan paku yang berserakan, kawat/besi menonjol,
potongan logam yang tajam, semuanya yang dapat membahayakan.
g. Untuk mencegah polusi debu selama musim kering, Kontraktor harus
melakukan penyiraman secara teratur kepada jalan angkutan tanah atau jalan
angkutan kerilkil dan harus menutupi truk angkutan dengan terpal.
h. Jumlah bahan/material yang tersedia di lapangan untuk digunakan hari ini tidak
berlebihan, agar tidak mengganggu dan membahayakan akses kerja
(selebihnya dikembalikan ke gudang umum).
i. Material sisa, bahan bongkaran dan sampah secara rutin dibawa keluar lokasi
proyek dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
1.2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
1.2.5.1 Pengendalian Resiko
Potensi Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi untuk terjadinya insiden yang
berakibat pada kerugian.
Risiko adalah kombinasi dan konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan
peluang terjadinya kejadian tersebut.
Jenis- jenis kecelakaan yang sering terjadi pada proyek konstruksi adalah
sebagai berikut :
a. Jatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Menginjak, terantuk, dan terbentur
d. Terjepit dan terperangkap
e. Kontak suhu tinggi/terbakar
f. Kontak aliran listrik
Untuk itu Kontraktor wajib melakukan Rencana Pemantauan Keselamatan
dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Mempersiapkan rencana kerja dengan metode kerja dan rencana cara berkerja
yang memperhatikan :
• Resiko-resiko yang mungkin timbul dari setiap jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
• Perhatikan jenis-jenis kecelakaan yang sering terjadi pada kegiatan
tersebut.
• Adanya alat-alat konstruksi yang bergerak.
• Untuk lokasi-lokasi kritis atau tindakan yang akan menimbulkan bahaya bagi
pekerja maka Kontraktor wajib menyediakan seorang petugas yang
membantu mengingatkan Pekerja saat melakukan pekerjaannya.
b. Kontraktor wajib menyediakan peralatan safety yang sesuai dengan jenis dan
lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan.
c. Form Rencana Pematauan Keselamatan wajib diserahkan dan ditanda tangani
oleh Konsultan Pengawas sebelum pekerjaan yang bersangkutan
dilaksanakan.
Pekerjaan yang memerlukan Rencana Pemantauan Keselamatan dan ijin kerja
dari Konsultan Pengawas:
a. Bekerja terkait dengan pemeliharaan, pembersihan
b. Menggunakan bahan mudah terbakar
c. Bekerja berhubungan dengan listrik
d. Pasang, bongkar, pindah perancah (scaffolding)
e. Memindahkan barang/benda berat
f. Pekerjaan pembongkaran
g. Bekerja diluar jam kerja normal tanpa pengawas
h. Penggalian lebih dari 2 (dua) meter
i. Bekerja di ketinggian

1.2.5.2 Fasilitas Pekerja


a. Air minum
Tersedia air minum untuk pekerja yang memenuhi standard kesehatan.
b. Air bersih
Ada tersedia bak air bersih dengan ukuran cukup untuk cuci tangan demi
menjaga kebersihan dan sejumlah Toilet yang memadai bagi jumlah pekerja
yang ada.
c. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Setiap aktivitas/ proses pekerjaan yang dilakukan di tempat kerja
mengandung resiko untuk terjadinya kecelakaan kerja (ringan sampai
dengan berat), berbagai upaya pencegahan dilakukan supaya kecelakaan
tidak terjadi. Selain itu, keterampilan melakukan tindakan pertolongan
pertama tetap diperlukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya
kecelakaan. Oleh karena itu di setiap tempat kerja harus memiliki petugas
P3K (First Aid), atau setidaknya setiap karyawan memiliki keterampilan
dalam melakukan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan kerja
maupun kegawatan medic.
1.2.5.3 Alat Pelindung Diri
Kontraktor wajib menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para Pekerja
maupun Tamu yang dating ke lokasi proyek dengan menyediakan Peralatan
keselamatan kerja yang berfungsi untuk mencegah dan melindungi Pekerja
maupun pengunjung proyek dari kemungkinan mendapatkan kecelakaan kerja.
APD utama yang wajib disediakan adalah Helm pelindung dan Safety shoes
sedangkan APD lain disediakan sesuai jenis pekerjaan yang dilaksanakan.
Macam-macam dan jenis APD dapat berupa:
a. Helmet: Topi/Pelindung kepala Melindungi dari kejatuhan benda, benturan
benda keras, diterpa panas dan hujan
b. Safety Shoes: Pelindung kaki Melindungi kaki dari benda tajam, tersandung
benda keras, tekanan dan pukulan, lantai yang basah, lincir dan berlumpur,
disesuaikan dengan jenis bahayanya
c. Safety Glasses: Kaca mata/Kedok Las Melindungi dari sinar las, silau, partikel
beterbangan, serbuk terpental, radiasi, cipratan cairan berbahaya
d. Earplug: Pelindung telinga/Earmuff Melindungi dari suara yang menyakitkan
terlalu lama, dengan batas kebisingan diatas 85 db.
e. Sarung Tangan/karet/kulit/kain/plastic : Melindungi tangan dari bahan kimia
yang korosif, benda tajam/kasar, menjaga kebersihan bahan, tersengat listrik.
f. Safety belt/ harness : Melindungi dari bahaya jatuh dari ketinggian kerja diatas
2 meter dan sekeliling bangunan.

Seluruh peralatan APD yang digunakan memenuhi standard SNI.


Selama bekerja Pekerja wajib menggunakan baju kerja yang sesuai, baju dengan
lengan dan celana panjang.
1.2.5.4 Rambu-rambu dan Tanda bahaya
Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah sebuah media visual
berupa gambar piktogram untuk ditempatkan di area pabrik yang memuat pesan-
pesan agar setiap Pekerja selalu memperhatikan aspek-aspek kesehatan dan
keselamatan kerja.
Fungsi Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah.
a. Untuk mengetahui larangan atau memenuhi perintah/ permintaan, peringatan
atau untuk memberi informasi
b. Mencegah kecelakaan (mengisyaratkan terhadap suatu bahaya)
c. Mengindikasikan lokasi perlengkapan keselamatan dan pemadam kebakaran
d. Memberi arahan dan petunjuk tentang prosedur keadaan darurat.
Kontraktor wajib menyediakan Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3
secukupnya untuk hal-hal tersebut diatas.
1.2.5.5 Pencegahan Kebakaran
Kebakaran merupakan kejadian yang dapat menimbulkan kerugian pada jiwa,
peralatan produksi, proses produksi dan pencemaran lingkungan kerja.
Khususnya pada kejadian kebakaran yang besar dapat melumpuhkan bahkan
menghentikan proses konstruksi, sehingga ini memberikan kerugian yang sangat
besar.
Untuk mencegah hal ini Kontraktor wajib melakukan upaya-upaya
penanggulangan kebakaran.
a. Pengendalian setiap bentuk energi;
b. Penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi
c. Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas;
d. Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
e. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara
berkala;
f. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi
tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga kerja
dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat.
Kontraktor wajib melatih pekerjanya dalam upaya yang pengendalian setiap
bentuk energi :
a. Melakukan identifikasi semua sumber energi yang ada di tempat kerja/
perusahaan baik berupa peralatan, bahan, proses, cara kerja dan lingkungan
yang dapat menimbulkan timbulnya proses kebakaran (pemanasan, percikan
api, nyala api atau ledakan);
b. Melakukan penilaian dan pengendalian resiko bahaya kebakaran
berdasarkan peraturan perundangan atau standar teknis yang berlaku.
Pada Lokasi proyek tidak diijinkan sama sekali untuk Merokok.
1.2.5.6 Asuransi
Asuransi Pekerja Konstruksi
Kontraktor diwajibkan untuk mengansuransikan personil lapangan termasuk
personil Sub Kontraktor terhadap bahaya kecelakaan dan keehatan yang
mungkin terjadi selama waktu pelaksanaan Konstruksi.
Asuransi untuk personil Kontraktor harus dapat digabung dalam satu paket polis asuransi
ASTEK/ BPJS/ Atau jenis asuransi lainnya.
Bab 4
PEKERJAAN HARDSCAPE

1. PEKERJAAN BETON

1.1. Umum
Semua beton untuk struktur bemutu fc’ = 18.75 MPa (K-225) untuk struktur, dan
fc’ = 14.52 MPa (K-175) atau campuran 1:3:5 untuk lantai kerja.

1.2. Persyaratan Bahan

1. Semen
Semen yng boleh digunakan untuk pembuatan beton harus dari jenis semen
yang telah ditentukan dalam SII 0013-81 dan harus memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan dalam standart tersebut. Semua yang akan diapaki harus dari
satu merk yang sama dan dalam keadaan baru. Semen nyang dikirim semen
harus terlindung dari hujan dan air. Semen harus terbungkus dalam sak
(kantong) asli dari pabriknya dan dalam keadaan tertutup rapat. Semen harus
disimpan di gudang dengan ventilasi yang baik, tidak lembab dan diletakkan pada
tempat yang tinggi, sehingga aman dari kemungkinan yang tidak diinginkan.
Semen tersebut tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 zak. Sistim penyimpanan
semen harus diatur sedemikian rupa, sehingga semen tersebut tidak tersimpan
terlalu lama. Semen yang diragukan mutunya dan rusak akibat salah
penyimpanan, seperti membantu, tidak diizinkan untuk dipakai. Bahan yang telah
ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2
(dua) hari atas biaya Kontraktor.
2. Agregat
Pada pembuatan beton, ada dua ukuran agregat yang digunakan, yaitu agregat
kasar / batu pecah dan agregat halus / pasir beton. Kedua jenis agregat ini
disyaratkan berikut ini :
1. Agregat Kasar, Ukuran besar ukuran nominal maksimum agregat kasar (batu
pecah mesin) harus tidak melebihi 1/5 jarak terkecil antara bidang samping
dari cetakan, atau 1/3 dari tebal pelat, atau ¾ jarak bersihminimum antar
batang tulangan , berkas batang tulangan atau tendon pratekan atau 30 mm.
Gradasi dari agregat tersebut secara keseluruhan harus sesuai dengan yang
disyaratkan oleh ASTM agar tidak terjadinya sarang kerikil atau riongga
dengan ketentuan sebagai berikut :

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 31.50 mm 0
Ayakan 4.00 mm 90-98
Selisih antar 2 ayakan
01-10
berikutnya

2. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas dari
bahan-bahan organik, lumpur dan kotoran lainnya. Kadar lumpur harus lebih
kecil dari 4 % berat. Sagregat halus harus terdiri dari butir-butir beraneka
ragam besarnya dan apabila diayak harus memenuhi syarat sbb :

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 4.00 mm >02
Ayakan 1.00 mm > 10
Ayakan 0,25 mm 80-95

Kontraktor harus mengadakan pengujian sesuai dengan persyaratan dalam


spesifikasi ini. Jika sumber agregat berubah karena sesuatu hal, maka
kontraktor wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada Direksi
Pengawas. Agregat harus disimpan ditempat yang bersih, yang keras
permukaannya dan harus dicegah supaya tidak terjadi pencampuran dengan
tanah.
3. Air Untuk Campuran Beton
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam alkali, garam, zat organis atau bahan lain yang
dapat merusak beton atau besi beton. Air tawar yang dapat diminum
umumnya dapat digunakan. Air tersebut harus diperiksa pada laboratorium
yang disetujui oleh Direksi. Jika air pada lokasi pekerjaan tidak memenuhi
syarat untuk digunakan, maka Kontraktor harus mencari air yang memadai
untuk itu.
4. Besi Beton
Besi beton berdiameter lebih besar 12 mm harus selalu menggunakan besi
beton ulir (deformad bars/ U40) untuk tulangan utama, sedang besi beton
berdiameter sama atau lebih kecil 12 mm menggunakan besi beton polos,
U24 atau dapat disesuaikan dengan notasi dalam gambar, Agar dipeoleh
hasil pekerjaan yang baik, maka besi beton harus memenuhi syarat-syarat :
1. Baru, bebas dari kotoran , lapisan minyak ,karat dan tidak cacat
2. Mutu sesuai dengan yang ditentukan
3. Mempunyai penampang yang rata dan seragam sesuai dengan
toleransi
4. Merk Krakatau Steel, Bhirawa, Hanil, Master Steel

Pemakaian besi beton dari jenis yang tidak sesuai dengan ketentuan diatas,
harus mendapat persetujuan dari Direksi.
5. Admixtures Material Tambahan
Dalam keadaan tertentu boleh dipakai bahan campuran tambahan untuk
memperbaiki sifat suatu campuran beton. Jenis, jumlah bahan yang
ditambahkan dan cara penggunaan bahan tambahan harus dapat dibuktikan
melalui hasil hasil uji dengan dengan menggunakan jenis semen dan agregat
yang akan dipakai pada proyek ini. Bahan campuran tambahan yang
berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur, memperlambat atau
mempercepat penguatan dan/ atau pengerasan beton harus memenuhi
“Specifikation for Chemical Admixtures for Concrete” (ASTM C494) atau
memenuhi standar Umum Bahan Bangunan Indonesia.
6. Kualitas Beton
a. Kualitas beton yang digunakan tercantum dalam gambar rencana yang
harus dibuktikan dengan pengujian seperti disyaratkan dalam spesifikasi
teknis ini.
b. Untuk memastikan bahwa kualitas beton rencana dapat tercapai,
Kontraktor harus melakukan percobaan sesuai dengan yang disyaratkan
oleh peraturan yang berlaku dengan mengadakan trialmix di laboratorium
yang disetujui oleh Direksi.
c. Jika tidak ditentukan secara khusus, maka untuk lantai kerja, kolom
praktis, ring balk, lantai kerja dan beton non struktur lainnya harus
menggunakan beton Mutu K 2255, sedangkan untuk beton struktural
menggunakan beton Mutu K 250.
d. Disain Adukan Beton
Proporsi campuran bahan dasar beton harus ditentukan agar beton yang
dihasilkan memberikan kelecakan (workability) dan konsistensi yang
baik, sehingga beton mudah dituangkan kedalam acuan dan kesekitar
besi beton, tanpa menimbulkan segregasi agregat dan terpisahnya air
(bleeding) secara kelebihan. Campuran beton harus dirancang sesuai
dengan mutu beton yang ingin dicapai, dengan batasan dibawah ini :

MUTU BETON K225 K250


Kuat tekan minimum 7 hari
158 175
(kg/cm2)
Jumlah semen minimum (kg/m3) 300 300
Jumlah semen
550 550
maksimum(kg/m3)
W/C faktor, maksimum 0.55 0.55
Untuk beton kedap air atau beton pada kondisi lingkungan khusus ,
maka harus dipenuhi syarat pada Pedoman Beton Indonesia.

Ketentuan minimum untuk beton kedap air


Kondisi Faktor air Jumlah semen
lingkungan semen Minimum (kg/m3)
Jenis Struktur
Berhubungan Maksimum
dengan
Air tawar/ payau 0.50 290
Beton Bertulang
Air laut 0.45 360

Kontraktor harus menyerahkan mix-design yang diusulkan kepada


Direksi untuk mendapatkan persetujuannya. Khusus untuk beton kedap
air , maka jumlah semen minimum harus sesuai dengan yang
disyaratkan oleh pemasok waterproofing.

1.3. Pengujian Bahan


1. Umum
a. Kontraktor harus bertaggung jawab untuk melaksanakan segala pengujian
termasuk mempersiapkan contoh benda uji dengan jumlah sesuai yang
disyaratkan. Kontraktor harusmenyerahkan hasil pengujiannya setelah hasil
uji diperoleh untuk persetujuan oleh Direksi.
b. Jika pengujian dan pelaksanaan tidak memenuhi syarat, maka kontraktor
harus melaksanakan pengujian ulang dengan campuran yang lain dan
selanjutnya mengevaluasi kembali hasil uji tersebut hingga diperoleh hasil
yang diinginkan.
c. Semua pengujian dan pemeriksaan di lapangan harus dilakukan sesuai
dengan pengarahan Direksi Pengawas.
d. Untuk semua bahan semen dan besi beton yang dikirim ke lapangan,
Kontraktor harus mendapatkan salinan sertifikat pengujian dari pabrik,
dimana pengujian dilakukan secara berkala, dengan cara pengujian sesuai
dengan spesifikasi ini. (optional)

2. Laboratorium Penguji.
a. Sebelum pekerjaan beton dilakukan, Kontraktor wajib mengusulkan suatu
laboratorium penguji untuk melaksanakan pengujian material yang akan
digunakan pada proyek ini. Laboratorium ini bertanggung jawab untuk
melakukan semua pengujian dengan spesifikasi ini.
b. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan peralatan penguji di
lapangan seperti tersebut berikut ini seperti pada poin 3, beserta tenaga ahli
yang menguasai bidangnya.
c. Alat penguji agregat kasar dan agregat halus
1) Alat pengukur kadar air (moisture countent) dari agregat
2) Alat pengukur kekentalan beton (slump)
3) Alat pembuat benda uji, termasuk bak penyimpan untuk merawat benda
uji pada temperatur yang normal dan terhindar dari sengatan matahari.
d. Jika menggunakan beton readymix, maka peralatan yang disebut a) dan b)
diatas harus disiapkan pada pabrik beton readymix.

3. Pengujian Agregat
a. Pengujian Pendahuluan Agregat
Kontraktor harusmelakukan pengujian pendahuluan agregat sebagai berikut
:
1) Sieve analysis
2) Pengujian kadar lumpur dan kotoran lain
3) Pengujian unsur organis
4) Pengujian kadar clorida dan sulfat.
Hasil pengujian tersebut harus diserahkan kepada Direksi/ manajemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan a) dan b) dengan pengujian
kadar air dari setiap jenis agregat harus dilakukan terhadap contoh untuk
setiap trial mix.
b. Benda Uji Agregat
Kontraktor harus melaksanakan pengujian atas agregat yang akan
digunakan untuk menghasilkan beton seperti yang disyaratkan. jumlah
minimum untuk pengujian agregat yang dipakai untuk pekerjaan beton
adalah sebagai berikut :

Tipe Pengujian Minimum satu contoh


Sieve analysis Setiap minggu
Moistur content Setiap minggu
Clay,silt dan kotoran Setiap hari
Kadar organis Setiap minggu
Kadar clorida dan Setiap 500 m3 beton
sulfat

Jika hasil pembuatan beton yang dilakukan oleh Kontraktor tidak


memuaskan, maka Direksi Pengawas berhak untuk meminta pengujian
tambahan dengan beban biaya Kontraktor. Dan sebaliknya mungkin jumlah
pengujian dapat dikurangi jika hasil diperoleh ternyata memuaskan.

1.4. Pengujian Beton


1. Benda Uji Beton
Benda uji harus diberi kode/tanda yang menunjukkan tanggal pengecoran,
lokasi pengecoran dari bagian struktur yang bersangkutan. Benda uji harus
diambil dari mixer, atau dalam hal menggunakan beton readymix, maka benda
uji harus diambil sebelum beton dituang ke lokasi pengecoran sesuai dengan
yang disyaratkan oleh Direksi Pengawas.
2. Jumlah Benda Uji Beton
Pada awal pelaksanaan , harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,50 m3 beton
dan jenis peruntukan beton hingga dengan cepat dapat diperoleh 30 benda uji
yang pertama . Benda uji harus berbentuk kubus berukuran 15 cm x 15 cm x
15 cm . Benda uji bentuk lainnya dapat digunakan jika disetujui oleh Direksi
Pengawas. Selanjutnya pengambilan benda uji sebanyak 2 (dua) buah
dilakukan setiap 5 m3 beton. Benda uji tersebut ditentukan secara acak oleh
Direksi dan harus dirawat sesuai dengan persyaratan.
a. Jumlah benda uji beton untuk uji kuat tekan dari setiap mutu beton yang
dituang pada satu hari harus diambil minimal satu kali. Pada setiap satu kali
pengambilan contoh beton harus dibuat dua buah spesimen kubus. Satu
data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua spesimen
ini yang diuji pada umur beton yang ditentukan, yaitu umur 7 haris dan 28
hari.
b. Jika hasil uji beton kurang memuaskan, maka Direksi dapat meminta jumlah
benda uji yang lebih besar dari ketentuan diatas, dengan beban biaya
ditanggung oleh Kontraktor.
c. Jumlah minimum benda uji yang harus dipersiapkan untuk setiap mutu
beton adalah :

Jumlah Waktu Perawatan


Jenis Struktur Minimum (hari)
Benda Uji 3 7 28
Beton Bertulang 4 - 2 2
Beton Pratekan 6 2 2 2

3. Laporan Hasil Uji Beton


Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas uji beton dari laboratorium
penguji untuk disahkan oleh Direksi. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan
perhitungan tekanan beton karakteristik.
4. Evaluasi Kualitas Beton Berdasarkan Hasil Uji Beton.
a. Deviasi Standar – S
Deviasi standar produksi beton ditetapkan berdarakan jumlah 30 buah hasil
tes kubus. Deviasi yang dihitung dari jumlah contoh kubus yang kurang dari
30 buah harus dikoreksi dengan faktor pengali seperti tercantum dalam tabel
berikut :
 ( fc − fcr)
2

S=
N −1
Jumlah Benda Uji (N)-buah Faktor Pengali - S
<15 1.16
20 1.08
25 1.03
>30 1.00

b. Kuat Tekan Rata-rata – fcr


Target fcr yang digunakan sebagai dasar dalam menetukan proporsi
campran beton harus diambil sebagai nilai yang terbesar dari formula berikut
ini :
Fcr = fc’ + 1.64 S atau fcr – fc’ + 2.64 S – 40 kg/cm2
c. Kuat Tekan Sesungguhnya
Tingkat kekuatan suatubeton dikatakan tercapai dengan memuaskan, jika
kedua syarat berikut dipenuhi :
1) Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yangmasing-masing
terdiri dari 4 hasil uji kuat tekan tidak kurang (fc’ + 0.82 N)
2) Tidak satupun dari hasil uji tekan (rata-rata dari 2 benda uji)
mempunyai nilai ibawah 0.85 fc’
Bila salah satu dari kedua syarat diatas tidak dipenuhi, maka harus diambi l
langkah untuk meningkatkan rata-rata hasil uji kuat tekan berikutnya atas
rekomondasi KP

1.5. Pengujian Tidak Merusak


Jika hasil evaluasi terhadap mutu beton yang disyaratkan ternyata tidak dapat
dipenuhi, maka jika diminta oleh Direksi/ Pengawas. Kontraktor harus
melaksanakan pengujian yang tidak merusak yang dapat terdiri dari hammer
test, pengujian beban dan lain-lain. Semua biaya pengujian ini menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
Lokasi dan banyaknya pengujian akan ditentukan secara khusus dengan
melihat kasus perkasus.

1.6. Pengujian Besi Beton


1. Benda Uji Besi Uji Beton
a. Sebelum besi beton dipesan, Kontraktor wajib mengambil benda uji besi
beton masaing-masing 2 buah dengan ukuran panjang 100 cm sesuai
diameter dan mutu yang akan digunakan. Selanjunya benda uji besi beton
harus diambil dengan disaksikan oleh Direksi Pengawas sebanyak 2 buah
untuk setiap 20 ton untuk masing-masing diameter besi beton. Uji besi beton
terdiri dari uji tarik dan ulir lentur.
b. Pengujian mutu besi beton juga akan dilakuakn setiap saat bilamana
dipandang perlu oleh Direksi. Contoh besi beton yang diambil untuk
pengujian tanpa disaksikan Direksi tidak diperkenankan dan hasil uji
dianggap tidak sah. Semua biaya uji tersebut sepenuhnya menjadi
tanggung Kontraktor.
c. Benda uji harus diberi tanda dengan kode yang menunjukkan tanggal
pengiriman, lokasi terpasang bagian struktur yang bersangkutan dan lain-
lain data yang perlu dicatat.
d. Jika akibat suatu alasan, seperti hasil uji yang kurang memuaskan, maka
Direksi berhak untuk meminta pengambilan contoh benda uji lebih besar dari
yang ditentukan diatas, dengan beban biaya ditanggung oleh Kontraktor.
e. Laporan Hasil Uji Besi Beton
Kontraktor harus membuat dan menyusun hasil uji besi beton dari laboratorium
penguji untuk diserahkan kepada Direksi dan laporan tersebut harus
dilengkapai dengan kesimpulan apakah kualitas besi beton tertsebut
memenuhi syarat yang telah ditentukan.

1.7. Syarat- Syarat Pelaksanaan


Kontraktor harus membuat beton dengan kualitas sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang disyaratkan, antara lain, mutu dan penggunannya selama
pelaksanaan. Semua pekerjaan beton harus dilakukan oleh tenaga ahli yang
berpengalaman, termasuk tenaga ahli untuk acuan/ bekisting, sehingga
sehingga dapat mengantisipasi segala kemungkina yang terjadi. Selain itu,
Kontraktor wajib menggunakan tukang yang berpengalaman, sehing sudah
paham dengan pekerjaan yang sedang dilaksanakan utamanya pada saat dan
setelah pengecoran berlangsung. Semua tenaga ahli dan tukang tersebut
harus mengawasi pekerjaan sampai pekerjaan perawatan beton selesai
dilakukan. Untuk itu paling lambat 10 hari sebelum pekerjaan dimulai
Kontraktor harus mengusulkan metode kerja dan harus disetujui Direksi. Jika
dipandang perlu, maka Direksi/ Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli
diluar yang ditunjuk Kontraktor untuk membantu mengevaluasi semua usulan
Kontraktor dan semua biaya yang timbul menjadi beban Kontraktor.
a. Slump
Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, yang jika tidak ditentukan
secara khusus adalah antara 5 – 12 cm untuk beton umumnya, sedang tiang
bor slump beton adalah 16 – 18 cm lebih besar dari 12cm (disesuaikan dengan
bab pengecoran bored piled, Pondasi).Cara uji slump sebagai berikut, Beton
diambil sebelum dituangkan kedalam cetakan beton (begisting). Cetakan
slump dibasahkan dan ditempatkan diatas permukaan yang rata. Cetakan diisi
sampai kurang lebih sepertiganya.Kemudian beton tersebut ditusuk- tusuk 25
kali dengan besi beton diameter 16 mm, panjang 30 cm dengan ujung yang
bulat. Pengisian dilakukan dengan cara serupa untuk dua lapisan berikutnya.
Setiap lapisan ditusuk-tusuk 25 kali dan setiap tusukan harus masuk sampai
dengan satu lapisan dibawahnya. Setelah bagian atas diratakan, segera
cetakan diangkat perlahan-lahan dan diukur penurunnannya.
b. Persetujuan Direksi/ Tim Teknis
Sebelum semua tahap pelaksanaan berikutnya dilaksanakan. Kontraktor harus
mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas.Laparan harus
diberikan kepada Direksi paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan dilaksanakan.
Hal-hal khusus akan didiskusikan secara lebih mendalam antara semua pihak
yang berkepentingan. Semua tahapan pelaksanaan tersebut harus dicatat
secara baik dan jelas sehingga mudah untuk ditelusuri jika suatu saat data
tersebut dibutuhkan untuk pemeriksaan.
c. Persiapan dan Pemeriksaan
Kontraktor tidak diizinkan untuk melakukan pengecoran beton tanpa izin
tertulis dari Direksi. Kontraktor harus melaporkan kepada Direksi tentang
kesiapannya untuk melakukan pengecoran dan laporan tersebut harus
disampaikan minimal satu hari sebelum waktu pengecoran, sesuai dengan
kesepakatan dilapangan, untuk memungkinkan Direksi melakukan
pemeriksaan sebelum pengecoran dilaksanakan. Kontraktor harus
menyediakan fasilitas yang memadai seperti tangga ataupun fasilitas lain yang
dibutuhkan agar Direksi dapat memeriksa pekerjaan secara aman dan mudah.
Tanpa fasilitas tersebut, Kontraktor tidak akan diizinkan untuk melakukan
pengecoran. Semua koreksi yang terjadi akibat pemeriksaan tersebut harus
segera diperbaiki dalam waktu 1 x 24 jam dan selanjutnya Kontraktor harus
mengajukan ijin lagi untuk dapat melaksanakan pengecoran. Tidak dibenarkan
adanya penambahan waktu akibat koreksi yang timbul, kecuali ditentukan lain
oleh Direksi/ Pengawas, Persetujuan untuk melaksanakan pengecoran tidak
berarti membebaskan Kontraktor dari tanggung jawabb sepenuhnya atas
ketidak sempurnaan ataupun kesalahan yang timbul. Sebelum pengecoran
dilakukan harus dipastikan bahwa semua peralatan yang akan tertanam
didalam beton sudah terletak pada tempatnya dan semua kotoran sudah
dibersihkan ndari lokasi pengecoran. Demikian pula untuk siar pelaksanaan
harus dilakukan sesuai dengan persyaratan.
d. Siar Pelaksanaan
Kontraktor harus mengusulkan lokasi siar pelaksanaan dalam gambar
kerjanya. Siar pelaksanaan harus diusahakan seminimum mungkin, agar
perlemahan struktur dapat dikurangi. Siar pelaksanaan tidak diizinkan untuk
melalui daerah yang diperkirakan sebagai daerah basah, seperti toilet,
seservoir dll. Jika tidak ditentukan lain, maka lokasi siar pelaksanaan harus
terletak pada daerah dimana gaaya geser adalah minimal, umumnya terletak
pada sepertiga bentang tengah dari panjangg efektif elemen struktur .Pada
pengecoran beton yang tebal dan volume yang besar, lokasi siar pelaksanaan
harus dipertimbangkan sedemikian rupa, sehingga tidak menyebabkan
perbedaan temperatur yang besarpada beton yang tersebut, yang berakibat
retaknya beton, disamping adanya tegangan residu yang tidak diinginkan. Siar
pelaksanaan dapat dibuat secara horizontaldan pengecoran dapat dibagi
menjadi berlapis-lapis. Lokasi siar pelaksanaan tersebut harus disetujui oleh
Direksi. Kontraktor harus sudah mempertimbangkan didalam penawarannya,
segala hal yang berhubungan dengan siar pelaksanaan sepertierstop, perekat
beton, dowel dsb, maupun pembersih permukaan beton agar dapat dijamin
lekatan antara beton lama dan baru. Siar pelaksanaan harus bersih dari semua
kotoran dan bekas beton yang tidak melekat dengan baik, dan sebelum
pengecoran dilanjutkan, harus dikasarkan sedemikian rupa sehingga agregat
besar menjadi terlihat tetapi tetap melekat dengan baik.
e. Pengangkutan dan Pengecoran Beton.
Beton harus diangkut dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat tiba
dilokasi proyek dalam keadaan yang masih memenuhi spesifikasi teknis. Jika
lokasi pembuatan cukup jauh dari proyek, maka harus digunakan admixtures
yang dapat memperlambat proses pengerasan dari beton. Pada saat beton
diangkut ke lokasi pengecoran juga harus diperhatikan, agar tidak terjadi
pemisahan antara bahan-bahan dasar pembuat beton. Pada saat pengecoran
tinggi jatuh dari beton segar harus kurang dari 1.50 metert. Hal ini sangat
penting agar tidak terjadi pemisahan antara batu pecah yang berat dengan
pasta beton sehingga mengakibatkan kualitas beton menjadi menurun. Untuk
itu harus disiapkan alat bantu seperti pipa tremi sehingga syarat ini dapat
dipenuhi. Sebelum pengecoran beton harus dijaga agar tetap dalam kondisi
plastis dalam waktu yang cukup, sehingga pengecoran beton dapat dilakukan
dengan baik. Kontraktor harus mengajukan jumlah alat dan personil yang akan
mendukung pengecoran beton, yang dianalisa berdasarkan besarnya volume
pengecoran yang akan dilakukan. Sebagai gambaran setiap alat pemadat
mampu memadatkan sekitar 5 – 8 m3 beton segar perjam. Beton segar
dicampurkan harus ditempatkan sedekat mungkin dengan lokasi akhir,
sehingga masalah segregasi dan pengerasan beton dapat dihindarkan dan
selam pemadatan beton masih bersifat plastis.

1.8. Pemadatan Beton


1. Alat Pemadat Beton
Beton yang akan dicor harus segera dipadatkan dengan alat pemadat
(vibrator) dengan tipe yang disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Pemadatan
tersebut bertujuan untuk \mengurangi udara pada beton yang akan
mengurangi kualitas beton. Pemadatan tersebut berkaitan dengan kelecakan
(workability) beton. Pada cuaca panas kelecakan beton menjadi sangat
singkat, sehingga slump yang rendah biasanya merupakan masalah. Untuk itu
harus disediakan vibrator dalam jumlah yang memadai, sesuai dengan
besarnya pengecoran yang akan dilakukan. Minimal harus dipersiapkan satu
vibrator cadangan yang akan dipakai, jika ada vibrtor yang rusak pada saat
pemadatan sedang berlangsung. Alat pemadat harus ditempatkan sedemikian
rupa sehingga tidak menyentuh besi beton.
2. Lokasi Pemadatan yang Sulit
Pada lokasi yang diperkirakan sulit untuk dipadatkan seperti pada pertemuan
balok-kolom, dinding beton yang tipis dan pada lokasi pembesian yang rapat
dan rumit, maka kontraktor harus mempersiapkan metode khusus untuk
pemadatan beton yang disampaikan kepada Direksi paling lambat 3 hari
sebelum pengecoran dilaksanakan, agar tidak terjadi keropos pada beton ,
sehingga secara kualitas tidak akan disetujui.
3. Pemadatan Kembali
Jika permukaan beton mengalami keretakan dalam kondisi masih plastis,
maka beton tersebut harus dipadatkan kembali sesuai dengan rekomondasi
Direksi agar retak tersebut dapat dihilangkan.
4. Metode Pemadatan Lain
Jika dipandang perlu Kontraktor dapat mengusulkan cara pemadatan lain yang
dipandang dapat menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara
permukaan dan inti beton. Hal ini dapat menyebabkan keretakan struktur dan
terjadinya tegangan menetap pada beton, tanpa adanya beban yang bekerja.
5. Temperatur Beton Segar
Dalam waktu 2 menit setelah contoh diambil, sebuah termometer yang
mempunyai skala 5 s/d 100 derajat C, harus dimasukkan kedalam contoh
tersebut sedalam 100 mm. Jika temperatur sudah stabil selama 1 menit, maka
temperatur tersebut harus dicatat dengan ketelitian 1 derajat C.

1.9. Perawatan Beton


1. Tujuan Perawatan
Perawatan beton bertujuan antara lain untuk menjaga agar tidak terjadi
kehilangan zat cair pada saat pengikatan awal terjadi dan mencegah
penguapan air dari beton pada umur beton awal dan juga mencegah
perbedaan temperatur dalam beton yang dapat menyebabkan terjadinya
keretakan dan penurunan kualitas beton. Perawatan beton harus dilakukan
begitu pekerjaan pemadatan beton selesai dilakukan . Untuk itu harus
dilakukan perawatan beton sedemikian sehingga tidak terjadi penguapan yang
cepat terutama pada permukaan beton yang baru dipadatkan.
2. Lama Perawatan
Permukaan beton harus dirawat secara baik dan terus menerus dibasahi
dengan air bersih selama minimal 7 hari segera setelah pengecoran selesai.
Untuk elemen vertikal seperti kolom dan dinding beton, maka beton tersebut
harus diselimuti dengan karung yang dibasahi terus menerus selama 7 hari.
3. Perlindungan Beton Tebal
Untuk pengecoran beton dengan ketebalan lebih dari 600 mm, maka
permukaan beton harus dilindungi dengan material (antara lain stirofoam) yang
disetujui oleh Direksi, agar dapat memantulkan radiasi akibat panas. Material
tersebut harus dibuat kedap, agar kelembaban permukaan beton dapat
dipertahankan.
4. Acuan Metal
Setiap acuan yang terbuat dari metal, beton ataupun material lain yang sejenis,
harus didinginkan dengan air sebelum pengecoran dilakuakan. Acuan tersebut
dihindari dari terik matahari langsung, karena sifatnya yang mudah menyerap
dan mengantarkan panas. Perlakuan yang kuarang baik akan menyebabkan
retak-retak yang parah pada permukaan beton.
5. Curing
Seluruh permukaan beton harus dilindungi selama proses pengerasan
terhadap sinar matahari dan hembusan angin kering.
Semua permukaan beton yang terlihat hams diambil tindakan sebagai berikut:
- Sebelum beton mulai mengeras, maka beton setelah pengecoran pada hari
pertama harus disirami, ditutupi dengan karung basah atau digenangi
dengan air selama paling sedikit 2 minggu secara terus menerus.
Tidak diperkenankan menaruh bahan-bahan diatas konstruksi beton yang baru
dicor (dalam tahap pengeringan) atau mempergunakannya sebagai jalan
mengangkut bahan-bahan.
1.10. Cara Menghindari Keretakan Pada Beton
1. Alat Monitoring.
Untuk pekerjaan beton dengan tebal lebih dari 600 mm. Kontraktor harus
menyediakan perlatan yang dibutuhkan untuk mengukur dan memonitor
segala kejadian yang mungkin terjadi selama pekerjaan beton berlangsung.
Monitoring dilakukan minimal selama 7 hari sejak pengecoran selesai.;
Kontraktor wajib menyediakan alat pengukur temperatur yang akan diletakkan
pada dasar beton, didalam beton dan dipermukaan beton dengan jarak vertikal
antara alat ditetapkan maksimal 50 cm. Sedangkan jarak horisontal antara titik
satu dengan lainnya maksimal 10 meter. Lokasi alat pengukur dan metode
pengukur suhu tersebut harus diusulkan kepada Direksi/ Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan.
2. Perbedaan Temperatur.
Umumnya permukaan beton harus didinginkan secara mendadak, yang
terpenting adalah tidak terjadi perbedaan temperatur yanng besar (> 20o C)
antara permukaan dan inti beton dan beton harus dihindarkan dari sinar
matahari langsung atapun tiupan angin.
3. Material Bantu.
Disamping peralatan juga dibutuhkan material pembantu yang mungkin dapat
dicampur kedalam beton maupun yang akan digunakan pada saat perawatan
beton untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu cepat.
4. Lebar Retak
Suatu struktur beton pasti akan mengalami suatu retakan dan lebar retak yang
dizinkan maksimal sebesar 0,004 kali tebal selimut beton.
5. Antisipasi Perbedaan Temperatur.
Kontraktor harus menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengatasi jika
perbedaan temperatur menjadi lebih dari 20 derajat C, misalnya dengan
mempertebal isolasi yang sudah digunakan atau membuat isolasi menjadi
benar-benar kedap terhadap angin dan udara. Hal ini harus segera dilakukan
agar perbedaan temperatur tidak menjadi besar, Untuk itu harus disiapkan
material isilosi lebih dari kebutuhan sebelum pengecoran dilakukan.
6. Hal-hal Lain.
Beberapa hal yang harus diperhatikan baik sebelum, selama maupun sesudah
pengecoran beton adalah :
1) Usahakan agar semua material dasar yang digunakan tetap dalam kondisi
terlindung dari sinar matahari, sehingga temperatur tidak tinggi pada saat
pencampuaran dimulai.
2) Air yang akan digunakan harus didinginkan, misalnya dengan mengganti
sebagian air dengan es, sehingga temperatur menjadi lebih besar.
3) Semen yang digunakan mempunyai hidrasi rendah.
4) Jika mungkin, tambahkan nitrogen cair kedalam campuarn beton.
5) Waktu antara pengadukan beton dan pengecoran harus dibatasi maksimal
2 jam
6) Lakukan pengecoran bertahap sedemikan rupa, misalnya dengan membuat
siar pelaksanaan secara horizontal pada beton yang tebal, sehingga tebal
satu lapis pengecoran penjadi kurang lebih 1 meter dan perbedaan
temperatur dapat dikontrol.
7) Jika mungkin diusulkan pengecoran dilakukan pada malam hari dimana
temperatur lapangan sudah lebih rendah dari dibandingkan dari siang hari.
8) Harus disiapkan isolasi panas yang merata pada seluruh permukaan beton
yang terbuka untuk mencegah tiupan angin dan menjaga agar temperatur
tidak terlalu berbeda pada seluruh penampang beton.
9) Lakukan perawatan awal segera setelah pemadatan selesai dan harus
diteruskan sampai sistim isolasi terpasang seluruhnya
10) Sediakan pelindung sehingga permukaan beton terlindung dari sinar
matahari dan angin. Hal ini dapat dilakukan membuat dinding pada
sekeliling daerah pengecoran dengan plastik atau material sejenis, demikian
juga pada bagian atasnya.
7. Retak di Luar Batas yang Disyaratkan.
Jika setelah pemadatan selesai masih terjadi keretakan diluar batas yang
diizinkan , maka Kontraktor harus melaporkan hal tersebut secara tertulis yang
berisi antara lain metode kerja danperalatan yang digunakan berikut komposisi
campuran yang digunakan, Kepada Direksi untuk dievaluasi lebih lanjut.
Kontraktor tidak diijinkan untuk memperbaikai keretakan tersebut sebelum
mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi.
1.11. Adukan Beton Dibuat Ditempat (Site Mix)
Untuk mendapatkan kualitas beton yang baik, maka untuk beton yang dibuat
dilapangan harus memenuhi syarat-syarat :
1. Semen diukur menurut berat
2. Agregat kasar diukur menurut berat
3. Pasir diukur menurut berat
4. Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin (concrete
batching plant)
5. Junlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin beton
6. Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada
dalam mesin pengaduk
Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih
dahulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai
1.12. Pengujian Pekerjaan
1. Besi Beton
Digunakan mutu U-24 untuk Ø < 12 mm, U-40 untuk Ø > 10 mm. Besi harus
bersih dari lapisanminyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih.
Penampang besi harus bulat sertamemenuhi persyaratan NI-2 (PBI 1988). Bila
dipandang perlu Kontraktor diwajibkan untuk memeriksamutu besi beton ke
laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor.
Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
- Peraturan-peraturan/standard setempat yang biasa dipakai
- Peraturan-peraturan Beton Bertulang Indonesia 1988, NI-2
- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961, NI-5.
- Peraturan Semen Portland Indonesia 1972, NI-8
- Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat
- Ketentuan-ketentuan Umum untuk pelaksanaan Kontraktoran Pekerjaan
Umum (AV) No.9 tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara
No. 1457
- Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang
diberikan Direksi Pengawas.
- American Society for Testing and Material (ASTM) 9. American Concrete
Institute (ACI)

a. Kawat Pengikat
Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak disepuh
seng, diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat
pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syaratsyarat yang ditentukan
dalam NI-2 (PBI tahun 1988).
b. Merk Besi Beton
Sebelum pemesanan dilakukan, maka Kontraktor harus mengusulkan merk
besi beton dilengkapi dengan brosur dan data teknis dari pabrik yang akan
digunakan untuk disetujui Direksi.
c. Penyimpanan
Besi beton disimpan pada tempat yang bersih dan tumpu secara baik tidak
merusak kualitasnya. Tempat penyimpanan harus cukup terlindung
sehingga kemungkinan karat dapat dihindarkan
d. Gambar Kerja dan Bending Schedule
Pembengkokan besi beton harus dilakukan sesuai dengan gambar rencana
dan berdasarkan standar ditail yang ada. Pembengkokan tersebut harus
dilakukan dengan menggunakan alat-alat (bar bender) sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan cacat patah, retak-retak dan sebagainya.
Semua pembengkokan harus dilakukan dalam keadaan dingin dan
pemotongan harus dengan bar cutter. Pemotongan dan pembengkokan
dengan sistim panas sama sekali tidak diijinkan. .Untuk itu Kontraktor harus
membuat gambar kerja pembengkokan (bending schedule) dan diajukan
kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
e. Bebas Karat
Pemasangan dan penyetelan berdasarkan evaluasi yang sesuai dengan
gambar dan harus sudah diperhitungkan toleransi penurunannya. Sebelum
besi beton dipasang, permukaan besi beton harus bebas dari karat, minyak
dan lain-lain yang dapat mengurangi lekatan besi beton.
2. Selimut Beton
Besi beton harus dilindungi oleh selimut beton yang sesuai dengan gambar
stndar ditail. Sebagai catatan, pemasangan tulangan-tulangan utama tarik/
tekan penampang beton harus dipasang sejauh mungkin dari garis tengah
penampang, sehingga pemakaian selimut beton yang melebihi ketentuan -
ketentuan tersebut diatas harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi
Pengawas.
3. Penjangkaran
Pemasangan rangkaian besi beton yaitu kait-kait, panjang penjangkaran,
penyaluran, letak sambungan dan lain-lain harus sesuai dengan gambar
standar yang terdapat dalam gambar rencana. Apabila ada keraguan tentang
ini maka Kontraktor harus meminta klarifikasi kepada Direksi.
4. Kawat Beton dan Penunjang
Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada
kedudukan yang kokoh untuk menghindari pemindahan tempat, dengan
menggunakan kawat yang berukuran tidak kurang dari 16 gauge atau klip yang
sesuai pada setiap tiga pertemuan. Pembesian harus ditunjang dengan beton
tahu atau penunjang besi, spacers atau besi penggantung seperti yang
ditunjukkan pada gambar standar atau dicantumkan pada spesifikasi ini.
Penunjang-penunjang metal tidak boleh diletakkan berhubungan acuan. Ikatan
dari kawat harus dimasukkan kedalam penampang beton, sehingga tidak
menonjol permukaan beton.
5. Sengkang-sengkang
Untuk menjamin bahwa perilaku elemen struktur sesuai dengan rencana, maka
sengkang harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan
gambar. Akhiran/ kait sengkang harus dibuat seperti yang disyaratkan didalam
gambar standar agar sengkang dapat bekerja seperti yang diinginkan.
Demikian juga untuk besi pengikat yang digunakan untuk pengikat tulangan
utama.
6. Beton Tahu
Beton tahu harus digunakan untuk menahan jarak yang tepat pada tulangan,
dan minimum mempunyai kekuatan beton yang sama dengan beton yang akan
dicor. Jarak antara beton tahu ditentukan maksimal 100 cm dengan ketebalan
sesuai SNI
7. Penggantian Besi.
a. Kontraktor harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah sesuai
dengan apa yang tertera pada gambar
b. Dalam hal ini dimana berdasarkan pengalaman kontraktor atau
pendapatnya terdapat kekeliruan atau kekurangan atau perlu
penyempurnaan pembesian yang ada maka Kontraktor dapat menambah
ektra besi dengan tidak mengurangi pembesian yang tertera dalam
gambar.
c. Jika Kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai
dengan yang gditetapkan dalam gambar maka dapat dilakukan penukaran
diameter besi dengan diameter yang terdekat dengan catatan :
1) Harus ada persetujuan dari tertulis dari Direksi.
2) Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut
tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang
dimaksud adalah jumlah luas). Khusus untuk balok portal, jumlah luas
penampang besi pada tumpuan juga tidak boleh lebih besar jauh dari
pembesian aslinya.
3) Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan keruwetan
pembesian ditempat tersebut atau di daerah overlap yang dapat
menyulitkan pengecoran.
4) Tidak ada pekerjaan tambah dan tambahan waktu pelaksanaan.

8. Toleransi Besi
2. PEKERJAAN PASANGAN
2.1. Pekerjaan Psangan Batu Bata
2.1.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan
alat alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk
mendapatkan hasil yang baik.
Pekerjaan pemasangan batu bata ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk perencana.
2.1.2 Standard Dan Persyaratan Yang Berlaku
Pekerjaan wajib memenuhi standard:
• Batu bata harus memenuhi NI 10
• Semen Portland harus memenuhi NI 8.
• Pasir harus memenuhi NI 3 pasal 14 ayat 2.
• Air harus memenuhi PVBI 1983 pasal 9.
2.1.3 Persyaratan Bahan
1. Batu bata yang dikehendaki adalah batu bata merah lokal bakaran kayu
yang berkualitas baik yaitu dengan hasil pembakaran yang matang
berukuran sama kira-kira 5x11x22 cm tidak boleh terdapat pecah-pecah
(melebihi 20 %) dan tidak diperbolehkan memasang bata yang pernah
dipakai.

Bahan bata merah:


• Berat jenis kering (ρ) : 1500 kg/m3
• Berat jenis normal (ρ) : 2000 kg/m3
• Kuat tekan : 2,5 – 25 N/mm² (SII-0021,1978)
• Konduktifitas termis : 0,380 W/mK
• Tebal spesi : 20 – 30 mm
• Ketahanan terhadap api : 2 jam
• Jumlah per luasan per 1 m2 : 70 - 72 buah dengan construction waste

2. Sebagai Semen dan Pasir untuk pasangan batu bata ini harus sama
dengan kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.
2.1.4 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Dimana diperlukan menurut Direksi, pemborong harus membuat shop
drawing untuk pelaksanaan pembuatan adukan dan pasangan.
2. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam
gambar arsitektur terutama gambar detail dan gambar potongan mengenai
ukuran tebal/ tinggi/ peil dan bentuk profilnya.
3. Pasangan batu bata/batu merah, dengan menggunakan aduk campuran 1
PC : 4 pasir pasang. untuk semua dinding luar, semua dinding lantai dasar
dari permukaan sloof sampai ketinggian 30 cm diatas permukaan lantai
dasar, dinding didaerah basah setinggi 160 cm dari pemukaan lantai, serta
semua dinding yang pada gambar menggunakan simbol aduk
trasraam/kedap air digunakan aduk rapat air dengan campuran 1 PC : 2 pasir
pasang.
4. Perekat harus dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujuh atau
dicampur dengan tangan pada permukaan yang keras, dilarang memakai
perekat yang sudah mulai mengeras untuk dipakai lagi.
5. Batu bata merah yang digunakan batu bata merah ex MRH, Jatirogo dengan
kwalitas terbaik yang disetujui Perencana, siku dan sama ukurannya 5 x 11 x
23 cm.
6. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum
hingga penuh.
7. Setelah bata terpasang dengan aduk, nad/siar siar harus dikerok sedalam 1
cm dan dibersihkan dengan sapu lidi dan lemudian disiram air.
8. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air
terlebih dahulu dan siar siar telah dikerok serta dibersihkan.
9. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri
maksimum 24 lapis atau maksimum setinggi 1 m setiap harinya, diikuti
dengan cor kolom praktis.
10. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum
diaci/diplester)
11. Bidang dinding 1/2 batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 ditambahkan lok
penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12x12 cm, dengan tulangan pokok 4
diameter 10 mm, beugel diameter 6 mm jarak 20 cm.
12. Pembuatan lubang pada pasangan untuk perancah/scaffolding/stieger sama
sekali tidak diperkenankan.
13. Pembuatan lubang pada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap
bagian pekerjaan beton (kolom) harus diberi penguat stek stek besi beton
diameter 6 mm jarak 75 cm, yang terlebih dahulu ditanam dengan baik pada
bagian pekerjaan beton dan bagian yang ditanam dalam pasangan bata
sekurang kurangnya 30 cm kecuali ditentukan lain.
14. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari
5% Bata yang patah lebih dari 2 tidak boleh digunakan.
15. Pasang batu bata dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish setelah
15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan pasangan
harus cermat, rapi dan benar benar tegak lurus.

2.1.5 Syarat Syarat Kualitas Pekerjaan


1. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum
diaci/diplester)
2. Pasangan batu bata dapat diterima/ diserahkan apabila deviasi bidang pada
arah diagonal dinding seluas 12 m² tidak lebih dari 0.5 cm (sebelum
diaci/diplester).
3. Pasangan batu bata untuk dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding
finish setebal 15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm.
Pelaksanaan pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus.

2.2. Pekerjaan Plesteran dan Acian Semen


2.2.1. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan plesteran dinding ini adalah penyediaan tenaga
kerja, bahan-bahan, peralatan termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan plesteran, sehingga dapat dicapai
hasil pekerjaan yang bermutu baik.
2. Pekerjaan plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding bagian
dalam dan luar serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam
gambar.
2.2.2. Persyaratan Bahan
1. Semen Portland harus memenuhi NI-8 (dipilih dari satu produk untuk seluruh
pekerjaan).
2. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2.
3. Air harus memenuhi NI-3 pasal 10.
4. Penggunaan asukan plesteran :
5. Adukan 1 PC : 3 pasir dipakai untuk plesteran rapat air.
6. Adukan 1 PC : 5 dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
7. Seluruh permukaan plesteran difinish acian dari bahan PC.
2.2.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Plesteran dilaksanakan sesuai standard spesifikasi dari bahan yang
digunakan sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Perencana dan
persyaratan tertulis dalam Uraian dan Syarat Pekerjaan ini.
2. Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilaman pekerjaan bidang beton
atau pasangan dinding batu bata telah disetujui oleh Perencana sesuai
Uraian dan Syarat Pekerjaan yang tertulis dalam buku ini.
3. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam
gambar Arsitekur terutama pada gambar detail dan gambar potongan
mengenai ukuran tebal/tinggi/peil dan bentuk profilnya.
4. Campuran aduk perekat yang dimaksud adalah campuran dalam volume,
cara pembuatannya menggunakan mixer selama 3 menit dan memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. Untuk bidang kedap air, beton, pasangan dinding batu bata yang
berhubungan dengan udara luar, dan semua pasangan batu bata dibawah
permukaan tanah sampai ketinggian 30 cm dari permukaan lantai dan 150
cm dari permukaan lantai untuk kamar mandi, WC/toilet dan daerah basah
lainnya dipakai aduk plesteran 1 PC : 3 pasir.
b. Untuk aduk kedap air, harus ditambah dengan Daily bond, dengan
perbandingan 1 bagian PC : 1 bagian Daily bond.
c. Untuk bidang lainnya diperlukan plesteran 1 PC : 5 pasir.
d. Plesteran halus (acian) dipakai campuran PC dan air sampai mendapatkan
campuran yang homogen, acian dapat dikerjakan sesudah plesteran berumur
8 hari (kering benar), untuk adukan plesteran finishing harus ditambah
dengan additive plamix dengan dosis 200-250 gram plamix untuk setiap 40
Kg semen.
e. Semua jenis aduk perekat tersebut diatas harus disiapkan sedemikian rupa
sehingga selalu dalam keadaan baik dan belum mengering.
f. Diusahakan agar jarak waktu pencampuran aduk perekat tersebut dengan
pemasangannya tidak melebihi 30 menit terutama untuk adukan kedap air.
5. Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai
pemasangan instalasi pipa listrik dan plumbing untuk seluruh bangunan.
6. Khusus untuk permukaan beton yang akan diplester, maka :
a. Seluruh permukaan beton yang akan diplester harus dibuat kasar dengan
cara dipahat halus.
b. Sebelum plesteran dilakukan, seluruh permukaan beton yang akan diplester,
dibersihkan dari segala kotoran, debu dan minyak serta disiram / dibasahi
dengan air semen.
c. Plesteran beton dilakukan dengan aduk kedap air campuran 1 PC : 3 pasir.
a. Pasir pasang yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata
ayakan seperti yang disyaratkan.
7. Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan
difinish dengan cat dipakai plesteran halus (acian diatas permukaan
plesterannya).
8. Untuk dinding tertanam didalam tanah harus diberapen dengan memakai
spesi kedap air.
9. Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada permukaannya
diberi alur-alur garis horizontal atau diketrek (scrath) untuk memberi ikatan
yang lebih baik terhadap finishingnya, kecuali untuk yang menerima cat.
10. Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 M, dipasang tegak dan
menggunakan keping-keping plywood setebal 9 mm untuk patokan kerataan
bidang.
11. Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom
yang dinyatakan dalam gambar, atau sesuai peil-peil yang diminta gambar.
Tebal plesteran 2,5 cm, jika ketebalan melebihi 2,5 cm harus diberi kawat
ayam untuk membantu dan memperkuat daya lekat dari plesterannya pada
bagian pekerjaan yang diizinkan Perencana.
12. Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya yang bertemu dalam
satu bidang datar, harus diberi naat (tali air) dengan ukuran 0,7 cm dalamnya
0,5 cm, kecuali bila ada petunjuk lain didalam gambar.
13. Untuk permukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau
cembung bidang tidak melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi,
Kontraktor berkewajiban memperbaikinya dengan biaya atas tanggungan
Kontraktor.
14. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung
wajar tidak terlalu tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap
kali terlihat kering dan melindungi dari terik panas matahari langsung dengan
bahan-bahan penutup yang bisa mencegah penguapan air secara cepat.
15. Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, plesteran
harus dibongkar kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima
oleh Perencana dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
16. Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai Kontraktor harus selalu
menyiram dengan air, sampai jenuh sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari.
17. Selama pemasangan dinding batu bata/beton bertulang belum difinish,
Kontraktor wajib memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan yang
terjadi menjadi tanggung jawab Kontraktor dan wajib diperbaiki.
18. Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum
plesteran berumur lebih dari 2 (dua) minggu.
Bab 4
PEKERJAAN AKSESORIS PELENGKAP

1. PEKERJAAN KOSNTRUKSI ATAP

1.1. Lingkup Pekerjaan


Yang dimaksud pekerjaan konstruksi baja adalah semua pekerjaan konstruksi
baja dan pekerjaan baja lainnya yang tercantum dalam gambar rencana.
Termasuk didalam pekerjaan Konstruksi Baja ini antara lain adalah :
• Konstruksi rangka atap,dan konstruksi baja lainnya untuk Bangunan
Gedung.
• Konstruksi baja lainnya sesuai yang dimaksud gambar rencana

1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan dari semua bahan, tenaga, peralatan,


perlengkapan serta pemasangan dari semua pekerjaan baja dan logam
termasuk alat-alat atau benda-benda/ material pendukung lainnya.
2. Pekerjaan baja dan logam harus dilaksanakan sesuai dengan keterangan-
keterangan yang tertera pada gambar rencana/detail, lengkap dengan
penyangganya, alat untuk memasang dan menyambungnya, pelat-pelat
baja/ profil siku dan lain sebagainya.
3. Semua bagian harus mempunyai ukuran yang tepat, sehingga dalam
pemasangannya tidak memerlukan pengisi, kecuali kalau gambar detail
menunjuk hal tersebut.
4. Semua detail dan hubungan harus dibuat dengan teliti dan
diselesaikan dengan rapi, dan dalam pelaksanaannya tidak
hanya dari gambar-gambar kerja untuk memasang pada tempatnya tetapi
dimungkinkan untuk mengambil ukuran-ukuran sesungguhnya ditempat
pekerjaan terutama bagian-bagian yang terhalang oleh benda lain.
5. Pekerjaan harus bermutu kelas satu dalam segala hal, setiap bagian
pekerjaan yang buruk akan ditolak dan harus diganti
apabila perlu. Pekerjaan yang selesai harus bebas dari puntiran-
puntiran,bengkokan-bengkokan dan sambungan-sambungan yang
mengganggu.

1.2. Standar Yang Dipakai


Referensi Konstruksi Baja
• Peraturan Perencanaan Bangunan Baja (PPBBI-Mei 1984)
• American Institut of Steel Contruction (AISC)
- American Welding Society (AWS ) bahan-bahan las
- American Nastional Srandart Institut (ANSI)
- American Soceiety for Testing ang Material (ASTM) Spesificatin
• RKS dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan

1.3. Persyaratan Bahan


1. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan baja harus sudah
disetujui oleh Pengawas, tidak berkarat, bagian bagiannya dan lembaran-
lembarannya tidak bengkok dan cacat. Potongan-
potongan (profil) mempunyai ukuran yang tepat sesuai dengan dimensi
yang tertera dalam gambar rencana baik bentuknya, tebal, ukuran berat.
2. Bahan baja yang digunakan/ dipasang harus dari
jenis yang sama kualitasnya, dalam hal ini dipakai baja jenis ST-38,
3. Toleransi luas penampang bahan baja ditetapkan maksimum 5
% dari luas untuk rangka batang atau maksimum 5 % dari momen inersia (I)
4. Sebagai kawat las dipakai
setaraf produksi “KOBE” atau “NIPPON STEEL” Jenis kawat las yang
akan digunakan harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari pabrik
pembuat dan petunjuk-petunjuk Direksi. Elektroda-elektroda las
harus diambil dari GRADA-A (besi heavy coatee type) batang-batang
elektroda yang dipakai diameternya lebih besar atau sama dengan 6 mm
(1/4 inch), dan batang-batang elektroda harus dijaga agar selalu dalam
keadaan kering.
5. Baut-baut yang digunakan harus baut hitam ulir (HTB) tak penuh dengan
tegangan baut dan tegangan las minimum adalah 1.400 kg/cm² atau minimal
sama dengan mutu baja yang digunakan (A-325 ASTM).
6. Pada konstruksi atap bangunan gedung, sambungan gording tidak har
us menumpu pada kuda-kuda/jurai atau tumpuan lainnya. Untuk itu
sebelum pemasangan gording dilaksanakan
Kontraktor harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan Direksi/Pengawas.
7. Bahan baja ini kecuali ditunjuk atau dipersyaratan lain harus sesuai
dengan NI 3-1970

1.4. Syarat-Syarat Pelaksanaan

1.4.1. Perancangan
1. Penawaran baja dalam berat (kg), sudah termasuk “wastage” akibat
pemotongan dan lain-lain dan diperhitungkan pada analisa harga satuan.
2. Standard
Kontraktor bertanggung jawab untuk menjamin perancang baja untuk
pengerjaannya agar sesuai dengan persyaratan-persyaratan ini
sepenuhnya.
Kontraktor supaya menyiapkan salinan usulan standart yang akan dipakai,
sebagai pedoman bagi Direksi paling lambat 21 hari sebelum fabrikasi.
1.4.2. Perencanaan dan Pengawasan
1. Gambar Kerja.
Sebelum pekerjaan di pabrik dimulai,
Kontraktor harus menyiapkan gambar-gambar kerja (shop
drawing) yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua komponen,
panjang serta ukuran las, jumlah, ukuran serta tempat baut-baut serta detail-
detail lain yang lazimnya diperlukan untuk fabrikasi.
2. Ukuran-ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap
semua ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
3. Kelurusan
Toleransi dari keseluruhan tidak lebih dari L/1000 untuk semua komponen.
4. Pemeriksaan dan lain-lain
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan yang berkualitas
tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian
rupa sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat
di lapangan.
Direksi mempunyai hak untuk memeriksa pekerjaan di pabrik pada saat
yang dikehendaki,
dan tidak ada pekerjaan yang boleh dikirim ke lapangan sebelum
diperiksa dan disetujui Direksi/ Pengawas. Setiap pekerjaan yang kurang
baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan ditolak
dan bila terjadi demikian, harus diperbaiki dengan segera.

1.4.3. Pelaksanaan Dan Sistim Pemasangan.


1. Fabrikasi :
a. Sebelum memulai dengan
pemotongan, penyambungan, dan pemasangan Kontraktor harus
memberitahukan secara tertulis tentang tempat, sistim
pengerjaan dan pemasangan kepada Direksi untuk mendapat
persetujuannya.
b. Kontraktor harus terlebih dahulu menunjukkan kualitas
pengelasan dan penghalusan untuk dijadikan standart dalan pekerjaan
tersebut.
c. Pekerjaan pengelasan konstruksi baja harus sesuai dengan gambar
rencana dan harus mengikuti prosedur yang berlaku seperti AWS atau
AISC Spesification.
d. Kecuali ditunjuk sistim lain maka, dalam hal menghubungkan profil-
profil, plat-plat pengaku digunakan las listrik dengan alat pembakar yang
standart dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Batang las (bahan untuk las) harus dibuat dari bahan
yang campurannya sama dengan bahan yang akan disambung.
2) Kekuatan sambungan dengan las (hasil pengelasan) harus sama
kuat dengan batang yang disambung.
3) Pemeriksaan kekuatan las harus dilakukan dengan persetujuan
pengawas bila dianggap perlu dan dapat dilakukan di laboratorium.
4) Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus
menjamin situasi yang paling
aman bagi pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang
dilakukan.
5) Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan, baik
bekas lapisan pertama, maupun bidang- bidang benda kerja
harus dibersihkan dari keras (slag) dan kotoran lainnya.
6) Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka
lapisan yang terdahulu harus dibersihkan dari keras
(slag) dan percikan-percikan logam sebelum memulai
dengan lapisan las yang baru.
7) Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang
sama sekali.
8) Tempat pengelasan dan juga bidang konstruksi yang di las, harus
terlindung dari hujan/ angin kencang.
9) Cara pemotongan harus menggunakan mesin potong dilakukan
dengan membatasi sekecil mungkin .
10) Permukaan las terakhir harus digerinda sampai rata dan halus.
11) Kesalahan pemotongan maupun
lubang yang terlalu besar tidak diperkenankan
ditutup dengan las, karena itu batang yang bersangkutan harus
diganti dengan yang baru.
e. Lubang-lubang Baut
Pembuatan lubang baut harus dilaksanakan di pabrik dan harus
dikerjakan dengan alat bor.Lubang baut harus lebih besar 2.0 mm dari
pada diameter luar baut.
f. Sambungan
Untuk sambungan komponen konstruksi baja yang tidak dapat
dihindarkan berlaku ketentuan sebagai berikut :
1) Hanya diperkenankan satu sambungan.
2) Semua penyambung profil baja harus dilaksanakan dengan las
tumpul/full penetration butue weld.
g. Pemasangan Percobaan/Trial Erection
Bila dipandang perlu oleh Direksi/ Pengawas, Kontraktor
wajib melaksanakan pemasangan percobaan dari sebagian
atau seluruh pekerjaan konstruksi. Komponen yang tidak cocok atau
yang tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi dapat ditolak oleh
Direksi dan pemasangan percobaan tidak boleh dibongkar tanpa
persetujuan Direksi.

2. Pemasangan/ Erection.
Baja dipasangkan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi/ Manajemen
Konstruksi 2 (dua) hari setelah pengecoran.
a. Penguat Sementara.
Baja harus dipasang mati setelah sebagian besar struktur baja
terpasang dan disetujui ketepatan garis, vertikan dan horisontal.
Kontraktor supaya menyediakan penunjang-penunjang sementara
(pembautan-
pembautan) bilamana diperlukan sampai pemasangan mati
sesuai keputusan Direksi/ Pengawas.
b. Pembautan
Ulir harus bebas setidak-tidaknya dua setengah putaran dari muka mur
dalam keadaan terpasang mati.
Kontraktor supaya menggunakan setidak-tidaknya satu cincin pada
setiap mur dan menyiapkan daftar mur, baut, dan cincin.
Kontraktor supaya menggunakan cincin baja keras untuk baut tegangan
tinggi (HSB).
c. Adukan Pengisi (Grouting)
Kontraktor supaya memasang adukan pengisi dibawah pelat- pelat kolom
dll.tempat sesuai dengan gambar-gambar.
Penawaran harus sudah termasuk pekerjaan ini, bahan grouting yang
digunakan setaraf AM, Sika, Frosroksid.

3. Pengecatan
a. Semua bahan Konstruksi baja yang di expose / tampak harus di cat
sampai akhir, sedang baja yang tidak ditampakkan/expose cukup di cat
dasar.
b. Cat dasar adalah cat zink chromate buatan Dana Paint atau setara
sedangkan sebagai cat akhir adalah Enamel Paint produk ex Mowilex,
ICI, Kemton atau setara, dan pengecatan dilakukan satu kali di pabrik dan
satu kali di lapangan.
c. Baja yang akan ditanam dalam beton tidak boleh di cat.
d. Untuk lubang baut kekuatan tinggi/high strength bold permukaan
baja tidak boleh di cat.
e. Cat akhir adalah enamel paint buatan Mowilex, Kemton, ICI atau setaraf
dan pengecatan dilakukan 2
kali di lapangan, kecuali bila dinyatakan lain dalam gambar atau
spesifikasi arsitektur.
f. Dibagian bawah dari base plate dan/atau seperti yang tertera
pada gambar harus di grout dengan bahan setara “Master Flor 713
Grout”, dengan tebal minimum 2,5 cm.
g. Cara pemakaian harus sesuai spesifikasi pabrik.

4. Syarat-syarat Pengamanan Pekerjaan.


a. Bahan-bahan baja profil dihindarkan/dilindungi dari hujan dan lain-
lain.
b. Baja yang sudah terpasang dilindungi dari kemungkinan
cacat/rusak yang diakibatkan oleh pekerjaan-pekerjaan lain.
c. Bila terjadi kerusakan, Kontraktor diwajibkan untuk memperbaikinya
dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan.
Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
d. Penempatan pipa dan batang baja
di work shop maupun dilapangan tidak boleh langsung
diatas tanah atau lantai, tetapi harus diatas balok-balok kayu yang
berjarak maksimum 2 m. Tanah atau lantai tersebut harus datar, padat
merata dan bebas dari genangan air.

5. Pemasangan Akhir/ Final Erection.


a. Alat-alat untuk pemasangan harus sesuai untuk pekerjaannya
dan harus dalam keadaan baik. Bila dijumpai bagian-bagian konstruksi
yang tidak dapat dipasang atau ditempatkan sebagaimana mestinya
sebagai akibat dari kesalahanpabrikasi atau perubahan bentuk yang
disebabkan penanganan, maka keadaanitu harus segera dilaporkan
kepada Direksi disertai usulan cara perbaikannya
Cara perbaikan tersebut harus mendapat persetujuan dari Direksi
sebelum dimulainya pekerjaan tersebut.
Biaya tambahan yang timbul akibat pekerjaan perbaikan tersebut
adalah menjadi tanggungan Kontraktor.
Meluruskan pelat dan besi siku atau bentuk lainnya harus dilaksanakan
dengan persetujuan Direksi..
Pekerjaan baja harus kering sebagaimana mestinya, kantong air
pada konstruksi yang tidak terlindung dari cuaca harus diisi
dengan bahan “waterproofing” yang disetujui. Sabuk pengaman dan tali-
tali harus digunakan oleh para pekerja pada saat
bekerja ditempat yang tinggi, disamping pengaman yang berupa
“piatfrom” atau jaringan (“net”).
b. Setiap komponen diberi kode/ marking sesuai dengan gambar
pemasangan sedemikian rupa sehingga memudahkan pemasangan.
c. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan-ikatan
sementara harus digunakan untuk mencegah tegangan-tegangan yang
melewati tegangan ijin.
Ikatan-ikatan itu dibiarkan sampai konstruksi selesai.
Sambungan-sambungan sementara dari baut harus diberikan kepada
bagian konstruksi untuk menahan beban mati, angin dan tegangan-
tegangan selama pembangunan.
d. Baut-baut, baut angker, baut hitam, baut kekuatan tinggi dan lain-
lain harus disediakan dan harus dipasang sebagaimana mestinya
sesuai dengan gambar detail.
Baut kekuatan tinggi harus dikencangkan dengan kunci momen
(torque wrench).
e. Pelat dasar kolom untuk kolom penunjang dan pelat
perletakan untuk balok, balok penunjang dan sejenis
harus dipasang dengan luas perletakan penuh setelah bagian
pendukung ditempatkan secara baik dan tegak.
Daerah dibawah pelat harus diberi adukan
lembab/ kering yang tidak susut dan disetujui Direksi.
Penyimpangan kolom dari sumbu vertikal tidak boleh lebihdari 1/1500
dari tinggi vertikal kolom.

2. PEKERJAAN PENUTUP ATAP MEMBRANE


2.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan
dan pemasangan penutup atap, dan talang untuk bagian bangunan
tertentu seperti yang tertuang,
terlukis dan dijelaskan dalam gambar rencana termasuk
kelengkapan pendukung lainnya hingga fungsi masing-masing hasil
pekerjaan sempurna.
2.2. Standar yang Dipakai
- PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia 1982 (NI • 3).
- ASTM, A 370 • 74
- SII: Standart Industri Indonesia.
2.3. Persyaratan Bahan
Penutup atap yang digunakan adalah model Atap membrane dan sebelum
dipasang kontraktor diwajibkan mengajukan contoh genteng kepada Direksi
Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
PEKERJAAN ATAP MEMBRAN
Membrane Ag Tex 950 Gsm Ex Ateja Lisensi Italy
Baja Seling Galvanis 8mm Pengikat Atap membrane
Camplate Plat Stenlis tebal 2mm Plat tarikan ujung membrane
Mur Baut Stenlis dia 8mm Baut Plat
Long drat 14-16 mm, Galvanis Tarikan membrane
Besi pipa Galvanis 6”, medium Tiang
4”, medium/3,2mm Tiang
3”, medium/2,5mm Palang Atas
2”, medium/2,3mm Palang Atas
Plat Baja 30x30 Base Plate
Plat Baja 15x7,5 (0,5) Tebal 8mm Sirip

2.4. Syarat-Syarat Pelaksanaan


1. Contoh Bahan
Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan contoh tiap
jenis/type bahan penutup atap yang dipakai, lengkap dengan brosur dan
syarat pelaksanaan dari pabrik.
2. Shop Drawing
Kontraktor harus menyediakan shop drawing yang memperlihatkan
dengan jelas, bagian-bagian atas yang belum tergambar dengan jelas
pada gambar rencana.
3. Penutup atap yang dipasang rapat sedemikian rupa sehingga betul-betul
tersusun rapi dalam segala arah, kaitan dan saling menutupnya harus cocok
dan rapat sehingga tidak terjadi kebocoran apabila terkena hujan.
4. Teknik pemasangan dan penyelesaian detail-detail yang belum jelas dalam
gambar, harus diikuti ketentuan dari pabrik penutup tersebut dan harus
sesuai dengan gambar rencana

3. PEKERJAAN TEMPAT DUDUK PIPA BSP

3.1 Lingkup pekerjaan

1. Meliputi pengadaan bahan, peralatan dan tenaga kerja yang cukup ahli
dkoral pekerjaan halus dan presisi (besi ).
2. Kontraktor bertanggung jawab sejak persiapan bahan, pemasangan
sampai penyerahan dkoral kondisi finish sesuai gambar rencana.

3.2 Bahan

1. Pipa Besi BSP ukuran 2,5” medium A untuk tempat duduk.


2. Pipa Besi dengan ukuran sesuai dengan gambar rencana dengan finishing
Cat Minyak ex. ICI atau setara.

3.3 Pelaksanaan dan pemasangan

1. Pelaksanaan pekerjaan merupakan perakitan masing-masing bagian bahan


yang telah disiapkan sesuai gambar rencana.
2. Sebelum dirakit, maka dibuat terlebih dahulu gambar shop drawing yang
ukurannya menyesuaikan dengan ukuran lapangan. Gambar tersebut harus
mendapat persetujuan dari team supervisi.
3. Pipa besi disatukan dengan system di las antara pipa besi dengan pipa besi,
bekas las dihaluskan dengan cara di slep bagian yang kelebihan lasan
supaya kelihatan halus dan rapi, atar sambungan selanjutnya di dempul dan
dihaluskan kembali sebelum masuk kedkoral proses finising cat.
4. Pembuatan dan perakitan bahan-bahan tersebut sesuai gambar rencana
harus pada tempat khusus atau bengkel yang menjamin pekerjaan tersebut
rapih dan halus.
5. Pemasangan pipa tempat duduk pada tempat yang telah ditentukan
sedemikian rupa sehingga benar-benar presisi sebagaimana dkoral gambar
rencana.
Bab 5
PEKERJAAN ASPAL

1. LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT


1.1 UMUM
I ) Uraian
Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal
pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan
beraspal berikutnya. Lapis Resap Pengikat harus dihampar diatas permukaan
pondasi tanpa bahan pengikat Lapis Pondasi Agregat), sedangkan Lapis
Perekat harus dihampar di atas permukaan berbahan pengikat (seperti : Lapis
Penetrasi Macadam, Laston, Lataston dan diatas Semen Tanah, RCC, CTB,
Perkerasan Beton, d11).

2) Standar Rujukan
Standat Nasional Indonesia (SNI)
SNI 2432: 2011 : Cara Uji Daktilitas Aspal
SNI 2434: 2011 : Cara Uji Titik Lembek Aspal dengan Alat Cincin dan
Bola (Ring and Ball)
SNI 2488: 2011 : Cara Uji Penetrasi Aspal
SNI03-3642-1994 : Metode Pengujian Kadar Residu Aspal Emulsi
dengan Penyulingan.
SNI 03-3643-1994 : Aspal Emulsi Tertahan Saringan No.20
SNI 03-3644-1994 : Metode Pengujian Jenis Muatan Partikel Aspal
Emulsi
SNI 4798: 2011 : Spesifikasi Aspal Emulsi Kationik
SNI 03-4799-1998 : Spesifikasi Aspal Cair Tipe Penguapan Sedang
SNI03-6721-2002 : Metode Pengujian Kekentalan Aspal Cair dan
Aspal Emulsi dengan Alat Saybolt
SNI 6832: 2011 : Spesifikasi Aspal Emulsi Anionik
AASHTO M20-70 (2004) : Penetration Graded Asphalt Cement
AASHTO M140-03 : Emulsified Asphalt
AASHTO T44-03 : Solubility of Bituminous Materials
AASHTO T59-01 (2005) : Testing Emulsified Asphalts British Standards:
BS 3403 : Industrial Tachometers
4) Kondisi Cuaca Yang Diijinkan Untuk Bekerja
Lapisan Resap Pengikat harus disemprot hanya pada permukaan yang kering
atau mendekati kering, dan Lapis Perekat harus disemprot hanya pada
permukaan yang benar-benar kering. Penyemprotan Lapis Resap Pengikat atau
Lapis Perekat tidak boleh dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan
turun hujan.
5) Mutu Pekerjaan dan Perbaikan dari Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapisi
dan tampak merata, tanpa adanya bagian-bagian yang beralur atau kelebihan
aspal.
Untuk Lapis Perekat, harus melekat dengan cukup kuat di atas permukaan yang
disemprot. Untuk penampilan yang kelihatan berbintik-bintik, sebagai akibat dari
bahan aspal yang didistribusikan sebagai butir-butir tersendiri dapat diterima
asalkan penampilannya kelihatan rata dan keseluruhan takaran pemakaiannya
memenuhi ketentuan.
Untuk Lapis Resap Pengikat, setelah proses pengeringan, bahan aspal harus
sudah meresap ke dalam lapis pondasi, meninggalkan sebagian bahan aspal
yang dapat ditunjukkan dengan permukaan berwanla hitam yang merata dan
tidak berongga (porous). Tekstur untuk permukaan lapis pondasi agregat harus
rapi dan tidak boleh ada genangan atau lapisan tipis aspal atau aspal tercampur
agregat halus yang cukup tebal sehingga mudah dikupas dengan pisau.
Perbaikan dari Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat yang tidak memenuhi
ketentuan harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, termasuk
pembuangan bahan yang berlebihan, penggunaan bahan penyerap (blotter
material), atau penyemprotan tambahan seperlunya. Setiap kerusakan kecil
pada Lapis Resap Pengikat harus segera diperbaiki menurut Seksi 8.1 dan
Seksi 8.2 dari Spesifikasi ini. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar
lubang yang besar atau kerusakan lain yang terjadi dibongkar dan dipadatkan
kembali atau penggantian lapisan pondasi diikuti oleh pengerjaan kembali Lapis
Resap Pengikat.
6) Pengajuan Kesiapan Kerja
Penyedia Jasa harus mengajukan hal-hal berikut ini kepada Direksi Pekerjaan :
a) Lima liter contoh dari setiap bahan aspal yang diusulkan oleh Penyedia Jasa
untuk digunakan dalam pekerjasan dilengkapi sertifikat dari pabrik pembuat-
nya dan hasil pengujian seperti yang disyaratkan dalam Pasal 1.11.1.(3).(c),
diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai. Sertifikat tersebut harus menjelas-
kan bahwa bahan aspal tersebut memenuhi ketentuan dari Spesifikasi dan
jenis yang sesuai untuk bahan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat,
seperti yang ditentukan pada Pasa16.1.2 dari Spesifikasi ini.
b) Catatan kalibrasi dari semua instrumen dan meteran pengukur dan tongkat
celup ukur untuk distributor aspal, seperti diuraikan dalam Pasal 6.1.3.(3) dan
6.1.3.(4) dari Spesifikasi ini, yang harus diserahkan paling lambat 30 hari
sebelum pelaksanaan dimulai. Tongkat celup ukur, alat instrumen dan
meteran pengukur harus dikalibrasi sampai memenuhi akurasi, toleransi
ketelitian dan ketentuan seperti diuraikan dalam Pasal 6.1.3.(4) dari
Spesifikasi ini dan tanggal pelaksanaan kalibrasi harus tidak melebihi satu
tahun sebelum pelaksanaan dimulai.
c) Grafik penyemprotan harus memenuhi ketentuan Pasal 6.1.3.(5) dari
Spesifikasi ini dan diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai.
d) Contoh-contoh bahan yang dipakai pada setiap hari kerja harus dilaksanakan
sesuai dengan Pasal 6.1.6 dari Spesifikasi ini. Laporan harian untuk
pekerjaan pelaburan yang telah dilakukan dan takaran pemakaian bahan
harus memenuhi ketentuan Pasa16.1.6 dari Spesifikasi ini.

7) Kondisi Tempat Kerja


a) Pekerjaan harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga masih
memungkinkan lalu lintas satu lajur tanpa merusak pekerjaan yang sedang
dilaksanakan dan hanya menimbulkan gangguan yang minimal bagi lalu
lintas.
b) Bangunan-bangunan dan benda-benda lain di samping tempat kerja (struktur,
pepohonan dll.) harus dilindungi agar tidak menjadi kotor karena percikan
aspal.
c) Bahan aspal tidak boleh dibuang sembarangan kecuali ke tempat yang
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
d) Penyedia Jasa harus melengkapi tempat pemanasan dengan fasilitas
pencegahan dan pengendalian kebakaran yang memadai, juga pengadaan
dan sarana pertolongan pertama.
8) Pengendalian Lalu Lintas
a) Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan Seksi 1.8, Manajemen
dan Keselamatan Lalu Lintas dan Pasa16.1.5 dari Spesifikasi ini.
b) Penyedia Jasa harus bertanggung jawab terhadap dampak yang terjadi bila
lalu lintas yang dijinkan lewat di atas Lapis Resap Pengikat atau Lapis
Perekat yang baru dikerjakan,.

1.2 BAHAN
1) Bahan Lapis Resap Pegikat
a) Bahan aspal untuk Lapis Resap Pengikat haruslah salah satu dari berikut ini
:
i) Aspal emulsi reaksi sedang (medium setting) atau reaksi lambat (slow
setting) yang memenuhi SNI 03-4798-1998. Umumnya hanya aspal emulsi
yang dapat menunjukkan peresapan yang baik pada lapis pondasi tanpa
pengikat yang disetujui. Aspal emulsi harus mengandung residu hasil
penyulingan minyak bumi (aspal dan pelarut) tidak kurang dari 60 % dan
mempunyai penetrasi aspal tidak kurang dari 80/100. Direksi Pekerjaan
dapat mengijinkan penggunaan aspal emulsi yang diencerkan dengan
perbandingan 1 bagian air bersih dan 1 bagian aspal emulsi dengan syarat
tersedia alat pengaduk mekanik yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
ii) Aspal semen Pen.80/100 atau Pen.60/70, memenuhi AASHTO M20,
diencerkan dengan minyak tanah (kerosen). Proporsi minyak tanah yang
digunakan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, setelah
percobaan di atas lapis pondasi atas yang telah selesai sesuai dengan
Pasal 6.1.4.(2). Kecuali diperintah lain oleh Direksi Pekerjaan,
perbandingan pemakaian minyak tanah pada percobaan pertama harus
dari 80 - 85 bagian minyak per 100 bagian aspal semen (80 pph - 85 pph)
kurang lebih ekivalen dengan viskositas aspal cair hasil kilang jenis MC-
30.
b) Pemilihan jenis aspal emulsi yang digunakan, kationik atau anionik, harus
sesuai dengan muatan batuan lapis pondasi. Gunakan aspal emulsi kationik
bila agregat untuk lapis pondasi adalah agregat basa (bermuatan negatif) dan
gunakan aspal emulsi anionik bila agegat untuk lapis pondasi adalah agregat
asam (bermuatan positif). Bila ada keraguan atau bila aspal emulsi anionik
sulit didapatkan, Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan untuk
menggunakan aspal emulsi kationik.
c) Bilamana lalu lintas diijinkan lewat di atas Lapis Resap Pengikat maka harus,
digunakan bahan penyerap (blotter material) dari hasil pengayakan kerikil
atau batu pecah, terbebas dari butiran-butiran berminyak atau lunak, bahan
kohesif atau bahan organik. Tidak kurang dari 98 persen harus lolos ayakan
ASTM 3/8" (9,5 mm) dan tidak lebih dari 2 persen harus lolos ayakan ASTM
No.8 (2,36 mm).

2) Bahan Lapis Perekat


a) Aspal emulsi reaksi cepat (rapid setting) yang memenuhi ketentuan SNI 03-
6932-2002 atau SNI 03-4798-1998. Direksi Pekerjaan dapat mengijinkan
penggunaan aspal emulsi yang diencerkan dengan perbandingan 1 bagian
air bersih dan 1 bagisn aspal emulsi dengan syarat tersedia alat pengaduk
mekanik yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan..
b) Aspal semen Pen.60/70 atau Pen.80/100 yang memenuhi ketentuan
AASHTO M20, diencerkan dengan 25 - 30 bagian minyak tanah per 100
bagian aspal (25 pph - 30 pph).
c) Aspal emulsi modifikasi reaksi cepat (rapid setting) harus bahan styrene
butadiene rubber latex atau polycholoprene latex sesuai dengan AASHTO
M316-99 (2003) Table 1 CRS-2L dengan kandungan karet kering minimum
60%. Kadar bahan modifikasi (polymer padat) dalam aspal emulsi haruslah
min 2,5% terhadap berat residu aspal. Dalam kondisi apapun, aspal emulsi
modifikasi tidak boleh diencerkan di lapangan. Aspal emulsi modifikasi reaksi
cepat (rapid setting, CRS-1) yang digunakan harus memenuhi Tabel 6.1.2(1).

Tabel 61.2. (1). Persyaratan Aspal Emulsi Modifikasi untuk Tack Coat

No Sifat Standar Satuan Batasan


Pengujian pada Aspal Emulsi
1. Viskositas Saybolt Furol SNI 03-6721-2002 Detik 100 - 40
pada 50ºC
2. Stabilitas Penyimnanan AASHTO T59- %berat Maks. I
dalam 24 jam 01(2005)
3. Tertahan saringan No. 2 SNI 03-3643-1994 % berat Maks. 0,1
4. Muatan ion SNI 03-3644-1994 - Positif
5. Kemampuan mengemulsi AASHTO T59- % berat Min. 40
No Sifat Standar Satuan Batasan
kembali 01(2005)
6. Kadar residu dengan SNI 03-3642-1994 % berat Min. 65
destilasi
Pengujian pada Residu Hasil Penguapan
7. Penetrasi SNI 06-2456-1991 0,1 mm 100 – 175
8. Daktilitas 4ºC, 5cm/menit SNI 06-2432-1991 cm Min.30
9. Daktilitas 25ºC, 5 cm/menit SNI 06-2432-1991 cm Min.125
10. Kelarutan dalam AASTHTO T44-03 % berat Min.97.5*
Tricloroethylene

Catatan :
* : Jika kelanitan residu kurang dari 97,5%, aspal pengikat dasar untuk emulsi yang harus
diuji. Kelarutan aspal pengikat dasar harus lebih besar dari 99%.
d) Bila lapis perekat dipasang di atas lapis beraspal atau berbahan pengikat
aspal, gunakan aspal emulsi kationik. Bila lapis perekat dipasang di atas
perkerasan beton atau berbahan pengikat semen, gunakan aspal emulsi
anionik. Bila ada keraguan atau bila aspal emulsi anionik sulit didapatkan,
Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan untuk menggunakan aspal emulsi
kationik.

1.3 PERALATAN
1) Ketentuan Umum
Penyedia Jasa harus melengkapi peralatannya terdiri dari penyapu mekanis dan
atau kompresor, distributor aspal, peralatan untuk memanaskan bahan aspal
dan peralatan yang sesuai untuk menyebarkan kelebihan bahan aspal.
2) Distributor Asnal - Batang Semprot
a) Distributor aspal harus berupa kendaraan beroda ban angin yang bermesin
penggerak sendiri, memenuhi peraturan keamanan jalan. Bilamana dimuati
penuh maka tekanan ban pada pengoperasian dengan kecepatan penuh
tidak boleh melampaui tekanan yang direkomendasi pabrik pembuatnya.
b) Alat penyemprot, harus dirancang, diperlengkapi, dipelihara dan dioperasikan
sedemikian rupa sehingga bahan aspal dengan panas yang sudah merata
dapat disemprotkan secara merata dengan berbagai variasi lebar
permukaan, pada takaran yang ditentukan dalam rentang 0,15 sampai 2,4
liter per meter persegi.
c) Distributor aspal harus dilengkapi dengan batang semprot sehingga dapat
mensirkulasikan aspal secara penuh yang dapat diatur ke arah horisontal dan
vertikal. Batang semprot harus terpasang dengan jumlah minimum 24 nosel,
dipasang pada jarak yang sama yaitu 10 ± 1 cm. Distributor aspal juga harus
dilengkapi pipa semprot tangan.
3) Perlengkapan
Perlengkapan distributor aspal harus meliputi sebuah tachometer (pengukur
kecepatan putaran), meteran tekanan, tongkat celup yang telah dikalibrasi,
sebuah termometer untuk mengukur temperatur isi tangki, dan peralatan untuk
mengukur kecepatan lambat. Seluruh perlengkapan pengukur pada distributor
harus dikalibrasi untuk memenuhi toleransi yang ditentukan dalam Pasal
6.1.3.(4) dari Spesifikasi ini. Selanjutnya catatan kalibrasi yang teliti dan
memenuhi ketentuan tersebut harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.
4) Toleransi Peralatan Distributor Aspal
Toleransi ketelitian dan ketentuan jarum baca yang dipasang pada distributor
aspal dengan batang semprot harus memenuhi ketentuan berikut ini :
Ketentuan dan Toleransi Yang Dijinkan
Tachometer pengukur : + 1,5 persen dari skala putaran penuh sesuai
ketentuan kecepatan kendaraan BS 3403
Tachometer pengukur : + 1,5 persen dari skala putaran penuh sesuai
ketentuan kecepatan putaran pompa BS 3403
Pengukur suhu : + 5 °C, rentang 0 - 250 °C, minimum garis tengah
arloji 70 mm
Pengukur volume atau : + 2 persen dari total volume tangki, nilai
maksimum
Tongket celup tongkat celup garis skala Tongkat Celup 50 liter.
5) Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaaan
Distributor aspal harus dilengkapi dengan Grafik Penyemprotan dan Buku
Petunjuk Pelaksanaan yang harus disertakan pada alat semprot, dalam
keadaan baik, setiap saat. Buku petunjuk pelaksanaan harus menunjukkan
diagram aliran pipa dan semua petunjuk untuk cara kerja alat distributor.
Grafik Penyemprotan harus memperlihatkan hubungan antara kecepatan dan
jumlah takaran pemakaian aspal yang digunakan serta hubungan antara
kecepatan pompa dan jumlah nosel yang digunakan, berdasarkan pada
keluaran aspal dari nosel. Keluaran aspal pada nosel (liter per menit) dalam
keadaan konstan, beserta tekanan penyemprotanya harus diplot pada grafik
penyemprotan.

Graft Penyemprotan juga harus memperlihatkan tinggi batang semprot dari


permukaan jalan dan kedudukan sudut horisontal dari nosel semprot, untuk
menjamin adanya tumpang tindih (overlap) semprotan yang keluar dari tiga
nosel (yaitu setiap lebar permukaan disemprot oleh semburan tiga nosel).
6) Kinerja Distributor Asnal
a) Penyedia Jasa harus menyiapkan distributor lengkap dengan perlengkapan
dan operatornya untuk pengujian lapangan dan harus menyediakan tenaga-
tenaga pembantu yang dibutuhkan untuk tujuan tersebut sesuai perintah
Direksi Pekerjaan. Setiap distributor yang menurut pendapat Direksi
Pekerjaan kinerjanya tidak dapat diterima bila dioperasikan sesuai dengan
Grafik Takaran Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaan atau tidak
memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi dalam segala seginya, maka
peralatan tersebut tidak diperkenankan untuk dioperasikan dalam pekerjaan.
Setiap modifikasi atau penggantian distributor aspal harus diuji terlebih
dahulu sebelum digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.
b) Penyemprotan dalam arah melintang dari takaran pemakaian aspal yang
dihasilkan oleh distributor aspal harus diuji dengan cara melintaskan batang
semprot di atas bidang pengujian selebar 25 cm x 25 cm yang terbuat dari
lembaran resap yang bagian bawahnya kedap, yang beratnya harus
ditimbang sebelum dan sesudah disemprot. Perbedaan berat harus dipakai
dalam menentukan takaran aktual pada tiap lembar dan perbedaan tiap
lembar terhadap takaran rata-rata yang diukur melintang pada lebar penuh
yang telah disemprot tidak boleh melampaui 15 persen takaran rata-rata.
c) Ketelitian yang dapat dicapai distributor aspal terhadap suatu takaran
sasaran pemakaian alat semprot harus diuji dengan cara yang sama dengan
pengujian distribusi melintang pada butir (b) di atas. Lintasan penyemprotan
minimum sepanjang 200 meter harus dilaksanakan dan kendaraan harus
dijalankan dengan kecepatan tetap sehingga dapat mencapai takaran
sasaran pemakaian yang telah ditentukan lebih dahulu oleh Direksi
Pekerjaan. Dengan minimum 5 penampang melintang yang berjarak sama
harus dipasang 3 kertas resap yang berjarak sama, kertas tidak boleh
dipasang dalam jarak kurang dari 0,5 meter dari tepi bidang yang disemprot
atau dalam jarak 10 m dari titik awal penyemprotan. Takaran pemakaian,
yang diambil sebagai harga rata-rata dari semua kertas resap tidak boleh
berbeda lebih dari 5 persen dari takaran sasaran. Sebagai alternatif, takaran
pemakaian rata-rata dapat dihitung dari pembacaan tongkat ukur yang telah
dikalibrasi, seperti yang ditentukan dalam Pasal 6.1.4.(3).(g) dari Spesifikasi
ini. Untuk tujuan pengujian ini minimum 70 persen dari kapasitas distributor
aspal harus disemprotkan.
7) Peralatan Penyemprot Aspal Tangan (Hand Sprayer)
Bilamana diijinkan oleh Direksi Pekerjaan maka penggunaan perlatan
penyemprot aspal tangan dapat dipakai sebagai pengganti distributor aspal.
Perlengkapan utama peralatan penyemprot aspal tangan harus selalu dijaga
dalam kondisi baik, terdiri dari :
a) Tangki aspal dengan alat pemanas;
b) Pompa yang memberikan tekanan ke dalam tangki aspal sehingga aspal
dapat tersemprot keluar;
c) Batang semprot yang dilengkapi dengan lubang pengatur keluarnya aspal
(nosel).
Agar diperoleh hasil penyemprotan yang merata maka Penyedia Jasa harus
menyediakan tenaga operator yang terampil dan diuji coba dahulu
kemampuannya sebelum disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
1.4 PELAKSANAAN PEKERJAAN
1) Penyiapan Permukaan Yang Akan Disemprot Aspal
a) Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan
dilaksanakan pada permukaan perkerasan jalan yang ada atau bahu jalan
yang ada, semua kerusakan perkerasan maupun bahu jalan harus diperbaiki
menurut Seksi 8.1 dan Seksi 8.2 dari Spesifikasi ini.
b) Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan
dilaksanakan pada perkerasan jalan baru atau bahu jalan baru, perkerasan
atau bahu itu harus telah selesai dikerjakan sepenuhnya, menurut Seksi 4.1,
4.2, 5.1, 5.4, 6.3, 6.4, atau 6.6 dari Spesifikasi ini yang sesuai dengan lokasi
dan jenis permukaan yang baru tersebut.
c) Untuk lapis resap pengikat, jenis aspal emulsi yang digunakan harus
mengacu pada Pasal 6.1.2.(1). dan Untuk lapis perekat, jenis aspal emulsi
yang digunakan harus mengacu pada Pasa16.1.2.(2).
d) Permukaan yang akan disemprot itu harus dipelihara menurut standar butir
(a) dan butir (b) di atas sebelum pekerjaan pelaburan dilaksanakan.
e) Sebelum penyemprotan aspal dimulai, permukaan harus dibersihkan dengan
memakai sikat mekanis atau kompresor atau kombinasi keduanya. Bilamana
peralatan ini belum dapat memberikan permukaan yang benar-benar bersih,
penyapuan tambahan harus dikerjakan manual dengan sikat yang kaku.
f) Pembersihan harus dilaksanakan melebihi 20 cm dari tepi bidang yang akan
disemprot.
g) Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing lainnya harus
disingkirkan dari permukaan dengan memakai penggaru baja atau dengan
cara lainnya yang telah disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi
Pekerjaan dan bagian yang telah digaru tersebut harus dicuci dengan air dan
disapu.
h) Untuk pelaksanaan Lapis Resap Pengikat di atas Lapis Pondasi Agregat
Kelas A, permukaan akhir yang telah disapu hatus rata, rapat, bermosaik
agregat kasar dan halus, permukaan yang hanya mengandung agregat halus
tidak akan diterima.
i) Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah
disiapkan dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.
2) Takaran dan Temperatur Pemakaian Bahan As,pal
a) Penyedia Jasa harus melakukan percobaan lapangan di bawah pengawasan
Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan tingkat takaran yang tepat (liter per
meter persegi) dan percobaan tersebut akan diulangi, sebagaimana diperin-
tahkan oleh Direksi Pekerjaan, bila jenis dari permukaan yang akan disemprot
atau jenis dari bahan aspal berubah. Biasanya takaran pemakaian yang
didapatkan akan berada dalam batas-batas sebagai berikut :
Lapis Resap Pengikat : 0,4 sampai 1,3 liter per meter persegi untuk Lapis
Pondasi Agregat tanpa bahan pengikat
Lapis Perekat : Sesuai dengan jenis permukaan yang akan mene-
rima pelaburan dan jenis bahan aspal yang akan
dipakai. Lihat Tabel 6.1.4.(1) untuk jenis takaran
pemakaian lapis aspal.
b) Temperatur penyemprotan harus sesuai dengan Tabel 6.1.4.(1), kecuali
diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan. Temperatur penyemprotan untuk
aspal cair yang kandungan minyak tanahnya berbeda dari yang ditentukan
dalam daftar ini, temperaturnya dapat diperoleh dengan cara interpolasi.

Tabe16.1.4.(1) Takaran Pemakaian Lapis Perekat


Jenis Aspal Takaran (liter per meter persegi) pada
Permukaan Baru Permukaan Permukaan
atau Aspal atau Porous dan Berbahan
Beton Lama Terekpos Cuaca Pengikat Semen
Yang Licin
Aspal Cair 0,15 0,15 – 0,35 0,2 – 1,0
Aspal Emulsi 0,20 0,20 – 0,50 0,2 – 1,0
Aspal Emulsi 0,40 0,40 – 1,00 0,4 – 2,0
yang diencerkan
(1:1)
Aspal Emulsi 0,20 0,20 – 0,50 0,2 – 1,0
Modifikasi

Tabel 6.1.4. (2) Teperatur Penyemprotan


Jenis Aspal Rentang Suhu Penyemprotan
Aspal cair, 25-30 pph minyak tanah 110 + 10ºC
Aspal cair, 80-85 pph minyak tanah 45 + 10ºC
(MC-30)
Aspal emulsi, emulsi modifikasi atau Tidak dipanaskan
aspal emulsi yang diencerkan

c) Frekuensi pemanasan yang berlebihan atau pemanasan yang berulang-


ulang pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Setiap bahan yang menurut
pendapat Direksi Pekerjaan, telah rusak akibat pemanasan berlebihan harus
ditolak dan harus diganti atas biaya Penyedia Jasa.
3) Pelaksanaan Penyemprotan
a) Batas permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan penyemprotan
harus diukur dan ditandai. Khususnya untuk Lapis Resap Pengikat, batasbatas
lokasi yang disemprot harus ditandai dengan cat atau benang.
b) Agar bahan aspal dapat merata pada setiap titik maka bahan aspal harus
disemprotkan dengan batang penyemprot dengan kadar aspal yang
diperintahkan, kecuali jika penyemprotan dengan distributor tidaklah praktis
untuk lokasi yang sempit, Direksi Pekerjaan dapat menyetujui pemakaian
penyemprot aspal tangan (hand sprayer).
Alat penyemprot aspal harus dioperasikan sesuai grafik penyemprotan yang
telah disetujui. Kecepatan pompa, kecepatan kendaraan, ketinggian batang
semprot dan penempatan nosel harus disetel sesuai ketentuan grafik tersebut
sebelum dan selama peiaksanaan penyemprotan.
c) Bila diperintahkan, bahwa lintasan penyemprotan bahan aspal harus satu lajur
atau setengah lebar jalan dan harus ada bagian yang tumpang tindih (overlap)
selebar 20 cm sepanjang sisi-sisi lajur yang bersebelahan. Sambungan
memanjang selebar 20 cm ini harus dibiarkan terbuka dan tidak boleh ditutup
oleh lapisan berikutnya sampai lintasan penyemprotan di lajur yang
bersebelahan telah selesai dilaksanakan. Demikian pula lebar yang telah
disemprot harus lebih besar dari pada lebar yang ditetapkan, hal ini
dimaksudkan agar tepi permukaan yang ditetapkan tetap mendapat semprotan
dari tiga nosel, sama seperti permukaan yang lain.
d) Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi dengan bahan yang cukup
kedap. Penyemprotan harus dimulai dan dihentikan sampai seluruh batas bahan
pelindung tersemprot, dengan demikian seluruh nosel bekerja dengan benar
pada sepanjang bidang jalan yang akan disemprot.
Distributor aspal harus mulai bergerak kira-kira 5 meter sebelum daerah yang
akan disemprot dengan demikian kecepatan lajunya dapat dijaga konstan
sesuai ketentuan, agar batang semprot mencapai bahan pelindung tersebut dan
kecepatan ini harus tetap dipertahankan sampai melalui titik akhir.
e) Sisa aspal dalam tangki distributor harus dijaga tidak boleh kurang dati 10
persen dari kapasitas tangki untuk mencegah udara yang terperangkap (masuk
angin) dalam sistem penyemprotan.
f) Jumlah pemakaian bahan aspal pada setiap kali lintasan penyemprotan harus
segera diukur dari volume sisa dalam tangki dengan meteran tongkat celup.
g) Takaran pemakaian rata-rata bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan,
harus dihitung sebagai volume bahan aspal yang telah dipakai dibagi luas
bidang yang disemprot. Luas lintasan penyemprotan didefinisikan sebagai hasil
kali panjang lintasan penyemprotan dengan jumlah nosel yang digunakan dan
jarak antara nosel. Takaran pemakaian rata-rata yang dicapai harus sesuai
dengan yang diperintahkan Direksi Pekerjaan menurut Pasal 6.1.4.(2).(a) dari
Spesifikasi ini, dalam toleransi berikut ini :
Toleransi
1%dari volume tangki
takaran = ± (4 % dari takaran yg diperintahkan + )
Luas yang disemprot
pemakaian Luas yang disemprot

Takaran pemakaian yang dicapai harus telah dihitung sebelum lintasan


penyemprotan berikutnya dilaksanakan dan bila perlu diadakan penyesuaian
untuk penyemprotan berikutnya.
h) Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata ada ketidaksempurnaan
peralatan semprot pada saat beroperasi.
i) Setelah pelaksanaan penyemprotan, khususnya untuk Lapis Perekat, bahan
aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang telah disemprot
harus diratakan dengan menggunakan alat pemadat roda karet, sikat ijuk atau
alat penyapu dari karet.
j) Tempat-tempat yang disemprot dengan Lapis Resap Pengikat yang menun-
jukkan adanya bahan aspal berlebihan harus ditutup dengan bahan penyerap
(blotter material) yang memenuhi Pasal 6.1.2.(1).(b) dari Spesifikasi ini sebelum
penghamparan lapis berikutnya. Bahan penyerap (blotter material) hanya boleh
dihampar 4 jam setelah penyemprotan Lapis Resap Pengikat.
k) Tempat-tempat bekas kertas resap untuk pengujian kadar bahan aspal harus
dilabur kembali dengan bahan aspal yang sejenis secara manual dengan kadar
yang hampir sama dengan kadar di sekitarnya.

1.5 PEMELIHARAAN DAN PEMBUKAAN BAGI LALU LINTAS


1) Pemeliharaan Lapis Resap Pengikat
a) Penyedia Jasa harus tetap memelihara permukaan yang telah diberi Lapis
Resap Pengikat atau Lapis Perekat sesuai standar yang ditetapkan dalam Pasal
6.1.1.(5) dari Spesifikasi ini sampai lapisan berikutnya dihampar. Lapisan
berikutnya hanya dapat dihampar setelah bahan resap pengikat telah meresap
sepenuhnya ke dalam lapis pondasi dan telah mengeras.
Untuk Lapis Resap Pengikat yang akan dilapisi Burtu atau Burda, waktu
penundaan harus sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan minimum
dua hari dan tak boleh lebih dari empat belas hari, tergantung dari lalu lintas,
cuaca, bahan aspal dan bahan lapis pondasi yang digunakan.
b) Lalu lintas tidak diijinkan lewat sampai bahan aspal telah meresap dan
mengering serta tidak akan terkelupas akibat dilewati roda lalu lintas. Dalam
keadaan khusus, lalu lintas dapat diijinkan lewat sebelum waktu tersebut, tetapi
tidak boleh kurang dari empat jam setelah penghamparan Lapis Resap Pengikat
tersebut. Agregat penutup (blotter material) yang bersih, yang sesuai dengan
ketentuan Pasa16.1.2.(1).(b) dari Spesifikasi ini hatus dihampar sebelum lalu
lintas diijinkan lewat. Agregat penutup harus disebar dari truk sedemikian rupa
sehingga roda tidak melindas bahan aspal yang belum terhrtup agregat. Bila
penghamparan agregat penutup pada lajur yang sedang dikerjakan yang
bersebelahan dengan lajur yang belum dikerjakan, sebuah alur (strip) yang
lebarnya paling sedikit 20 cm sepanjang tepi sambungan harus dibiarkan tanpa
tertutup agregat, atau jika sampai tertutup harus dibuat tidak tertutup agregat
bila lajur kedua sedang dipersiapkan untuk ditangani, agar memungkinkan
tumpang tindih (overlap) bahan aspal sesuai dengan Pasal 6.1.4.(3).(d) dari
Spesifikasi ini. Pemakaian agregat penutup harus dilaksanakan seminimum
mungkin.
2) Pemeliharaan dari Lapis Perekat
Lapis Perekat harus disemprotkan hanya sebentar sebelum penghamparan
lapis aspal berikut di atasnya untuk memperoleh kondisi kelengketan yang tepat.
Pelapisan lapisan beraspal berikut tersebut harus dihampar sebelum lapis aspal
hilang kelengketannya melalui pengeringan yang berlebihan, oksidasi, debu
yang tertiup atau lainnya. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup,
Penyedia Jasa harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar
tidak berkontak dengan lalu lintas. Pemberian kembali lapis perekat
(retackcoating) harus dilakukan bila lapis perekat telah mengering sehingga
hilang atau berkurang kelengketannya.
Pengeringan lapis perekat yang basah akibat hujan turun dengan tiba-tiba
dengan menggunakan udara bertekanan (compressor) dapat dilakukan
sebelum lapis beraspal dihampar hanya bila lamanya durasi hujan kurang dari
4 jam. Pemberian kembali lapis perekat (retackcoating) harus dilakukan bila
lapis perekat terkena hujan lebih dari 4 jam.

1.6 PENGENDALIAN MUTU DAN PENGUJIAN DI LAPANGAN


a) Contoh aspal dan sertifikatnya, seperti disyaratkan dalam Pasal 6.1.1.(6).(a)
dari Spesifikasi ini harus disediakan pada setiap pengangkutan aspal ke
lapangan pekerjaan.
b) Dua liter contoh bahan aspal yang akan dihampar harus diambil dari distributor
aspal, masing-masing pada saat awal penyemprotan dan pada saat menjelang
akhir penyemprotan.
c) Distributor aspal harus diperiksa dan diuji, sesuai dengan ketentuan Pasal
6.1.3.(6) dari Spesifikasi ini sebagai berikut :
i) Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada Kontrak tersebut;
ii) Setiap 6 bulan atau setiap penyemprotan bahan aspal sebanyak 150.000
liter, dipilih yang lebih dulu tercapai;
iii) Apabila distributor mengalami kerusakan atau modifikasi, perlu dilakukan
pemeriksaan ulang terhadap distributor tersebut.
d) Gradasi agregat penutup (blotter material) harus diajukan kepada Direksi
Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan sebelum agregat tersebut
digunakan.

e) Catatan harian yang terinci mengenai pelaksanaan penyemprotan permukaan,


termasuk pemakaian bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan dan
takaran pemakaian yang dicapai, harus dibuat dalam formulir yang disetujui oleh
Direksi Pekerjaan.

1.7 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


1) Pengukuran Untuk Pembayaran
a) Kuantitas dari bahan aspal yang diukur untuk pembayaran adalah nilai
terkecil di antara berikut ini : jumlah liter residu pada I S °C menurut takaran
yang diperlukan sesuai dengan Spesifikasi dan ketentuan Direksi Pekerjaan,
atau jumlah liter residu aktual pada 15 °C yang terhampar dan diterima.
Gunakan Lampiran 6.1 untuk konversi suhu pelaksanaan di Iapangan ke
suhu standard 15 °C. Pengukuran berdasarkan volume harus diambil saat
bahan berada pada temperature keseluruhan yang merata dan bebas dari
gelembung udara. Air yang ditambahkan kedalam aspal emulsi atau
kandungan air yang sudah ada dalam aspal emulsi yang diencerkan (1:1)
Nomor Mata Uraian Satuan
Pembayaran Pengukuran
- Lapis Resap Pengikat – Aspal Cair Liter
- Lapis Perekat – Aspal cair Liter

tidak akan diukur setelah setiap lintasan penyemprotan untuk distributor aspal
atau setiap hari produksi untuk penyemprotan asapal tangan (hand sprayer)
b) Setiap agregat penutup (blotter material) yang digunakan harus dianggap
termasuk pekerjaan sementara untuk memperoleh Lapis Resap Pengikat
yang memenuhi ketentuan dan tidak akan diukur atau dibayar secara
terpisah.
c) Pekerjaan untuk penyiapan dan pemeliharaan formasi yang di atasnya diberi
Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat, sesuai dengan Pasal 6.1.4.(a) dan
6.1.4.(b) tidak akan diukur atau dibayar di bawah Seksi ini, tetapi harus diukur
dan dibayar sesuai dengan Seksi yang relevan yang disyaratkan untuk
pelakswiaan dan rehabilitasi, sebagai rujukan di dalam Pasal 6.1.4 dari
Spesifikasi ini.
d) Pembersihan dan persiapan akhir pada permukaan jalan sesuai dengan
Pasal 6.1.4.(3).(d) sampai 6.1.4.(3).(g) dari Spesifikasi ini dan pemeliharaan
permukaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang telah selesai
menurut Pasal 6.1.5 dari Spesifikasi ini harus dianggap merupakan satu
kesatuan dengan pekerjaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang
memenuhi ketentuan dan tidak boleh diukur atau dibayar secara terpisah.
2) Pengukuran Untuk Pekerjaan Yang Diperbaiki
Bila perbaikan pekerjaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang tidak
memenuhi ketentuan telah dilaksanakan sesuai perintah Direksi Pekerjaan
menurut Pasal 6.1.1.(5) di atas, maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran
haruslah merupakan pekerjaan yang seharusnya dibayar jika pekerjaan yang
semula diterima.
Tidak ada pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan
tambahan, kuantitas maupun pengujian yang diperlukan oleh perbaikan ini.
3) Dasar Pembayaran
Kuantitas yang sebagaimana ditetapkan di atas harus dibayar menurut Harga
Satuan Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang
tercantum di bawah ini dan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan
dan penyemprotan seluruh bahan, termasuk bahan penyerap (blotter material),
penyemprotan ulang, termasuk seluruh pekerja, peralatan, perlengkapan, dan
setiap kegiatan yang diperlukan untuk menyelesaikan dan memelihara
pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.
2. LASTON (LAPISAN ASPAL BETON)
2.1 UMUM
1) Uraian
Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet berupa lapis
perata, lapis pondasi atau lapis aus campuran beraspal panas yang terdiri dari
agregat dan bahan aspal yang dicampur secara panas di pusat instalasi
pencampuran, serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut di atas
pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan Spesifikasi
ini dan memenuhi garis, ketinggian dan potongan memanjang yang ditunjukkan
dalam Gambar Rencana.
Semua campuran dirancang dalam Spesifikasi ini untuk menjarnin bahwa
asumsi rancangan yang berkenaan dengan kadar aspal, rongga udara,
stabilitas, kelenturan dan keawetan sesuai dengan lalu-lintas rencana.
2) Jenis Campuran BerAspal
Jenis campuran dan ketebalan lapisan harus seperti yang ditentukan pada
Gambar Rencana.
a) Lapis Tipis Aspal Pasir (Sand Sheet. SS) KeIas A dan B
Lapis Tipis Aspal Pasir (Latasir) yang selanjumya disebut SS, terdiri dari dua
jenis campuran, SS-A dan SS -B. Pemilihan SS-A dan SS-B tergantung pada
tebal nominal minimum. Sand Sheet biasanya memerlukan penambahan filler
agar memenuhi kebutuhan sifat-sifat yang disyaratkan.
b) Lapis Tinis Aspal Beton Hot Rolled Sheet. HRS~
Lapis Tipis Aspal Beton (I,ataston) yang selanjutnya disebut HRS, terdiri dari
dua jenis campuran, HRS Pondasi (HRS - Base) dan HRS Lapis Aus
(HRSWearing Course, HRS-WC) dan ukuran maksimum agregat masing-
masing campuran adalah 19 mm. HRS-Base mempunyai proporsi fraksi
agregat kasar lebih besar darip$da HRS - WC.
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, maka campuran harus
dirancang sampai memenuhi semua ketentuan yang diberikan dalam
Spesifikasi. Dua kunci utama adalah :
i) Gradasi yang benar-benar senjang.
Agar diperoleh gradasi yang benar - benar senjang, maka selalu dilakukan
pencampuran pasir halus dengan agregat pecah mesin.
ii) Sisa rongga udara pada kepadatan membal (refusal density) harus
memenuhi ketentuan yang ditunjukkan dalam Spesifikasi ini.
c) Lapis Aspal Beton Asphalt Concrete, AC}
Lapis Aspal Beton (Laston) yang selanjutnya disebut AC, terdiri dari tiga jenis
campuran, AC Lapis Aus (AC-WC), AC Lapis Antara (AC-Binder Course, AC-
BC) dan AC Lapis Pondasi (AC-Base) dan ukuran maksimum agregat
masing-masing campuran adalah 19 mm, 25,4 mm, 37,5 mm. Setiap jenis
campuran AC yang menggunakan bahan Aspal Polimer atau Aspal
dimodifikasi dengan Aspal Alan atau Aspal Multigrade disebut masingmasing
sebagai AC-WC Modified, AC-BC Modified, dan AC-Base Modified.
4) Tebal Lapisan dan Toleransi
a) Tebal setiap lapisan campuran beraspal harus diperiksa dengan benda uji
"inti" (core) perkerasan yang diambil oleh Penyedia Jasa sesuai petunjuk
Direksi Pekerjaan.
b) Tebal aktual hamparan lapis beraspal di setiap segmen, didefinisikan sebagai
tebal rata-rata dari semua benda uji inti yang diambil dari segmen tersebut.
c) Segmen adalah panjang hamparan yang dilapis dalam satu hari produksi
AMP.
d) Tebal aktual hamparan lapis beraspal, harus sama atau lebih besar dari tebal
rancangan yang ditentukan dalam Gambar [untuk keperluan desain tebal
perkerasan]. Direksi Pekerjaan, menurut pendapatnya, dapat menyetujui dan
menerima tebal aktual hamparan lapis pertama yang kurang dari tebal
rancangan yang ditentukan dalam Gambar karena adanya perbaikan bentuk.
e) Toleransi tebal untuk tiap lapisan campuran beraspal :
• Latasir tidak lebih dari 2,0 mm,
• Lataston Lapis Aus tidak lebih dari 3,0 mm
• Lataston Lapis Pondasi tidak lebih dari 3,0 mm
• Laston Lapis Aus tidak lebih dari 3,0 mm
• Laston Lapis Antara tidak lebih dari 4,0 mm
• Laston Lapis Pondasi tidak lebih dari 5,0 mm

Tabel 6.3. 1.(1) Tebal Nominal Minimum Campuran Beraspal


Tebal Nominal
Jenis Campuran Simbol
Minimum (cm)
Latasir Kelas A SS-A 1,5
Latasir Kelas B B 2,0
Lataston Lapis AUS HRS-WC 3,0
Lapis HRS-Base 3,5
Pondasi
Laston Lapis AUS AC-WC 4,0
Lapis Antara AC-BC 6,0
Lapis AC-Base 7,5
Pondasi

g) Untuk semua jenis campuran, berat aktual campuran beraspal yang dihampar
harus dipantau dengan menimbang setiap muatan truk yang meninggalkan
pusat instalasi pencampur aspal. Untuk setiap ruas pekerjaan yang diukur
untuk pembayaran, bilamana berat aktual bahan terhampar yang dihitung dari
timbangan adalah kurang ataupun lebih lima persen dari berat yang dihitung
dari ketebalan rata-rata benda uji inti (core), maka Direksi Pekerjaan harus
mengambil tindakan untuk menyelidiki sebab terjadinya selisih berat ini
sebelum menyetujui pembayaran bahan yang telah dihampar. Investigasi
oleh Direksi Pekerjaan dapat meliputi, tetapi tidak terbatas pada hal-hal
berikut ini :
i) Memerintahkan Penyedia Jasa untuk lebih sering mengambil atau lebih
banyak mengambil atau mencari lokasi lain benda uji inti (core);
ii) Memeriksa peneraan dan ketepatan timbangan serta peralatan dan
prosedur pengujian di laboratorium
iii) Memperoleh hasil pengujian laboratorium yang independen dan
pemeriksaan kepadatan campuran beraspal yang dicapai di lapangan.
iv) Menetapkan suatu sistem perhitungan dan pencatatan truk secara terinci.
Biaya untuk setiap penambahan atau meningkatnya frekwensi pengambilan
benda uji inti (core), untuk survei geometrik tambahan ataupun pengujian
laboratorium, untuk pencatatan muatan truk, ataupun tindakan lainnya yang
dianggap perlu oleh Direksi Pekerjaan untuk mencari penyebab dilampauinya
toleransi berat harus ditanggung oleh Penyedia Jasa sendiri.
h) Perbedaan kerataan permukaan lapisan aus (HRS-WC dan AC-WC) yang
telah selesai dikerjakan, harus memenuhi berikut ini :
i) Kerataan Melintang
Bilamana diukur dengan mistar lurus sepanjang 3 m yang diletakkan tepat
di atas permukaan jalan tidak boleh melampaui 5 mm untuk lapis aus dan
lapis antara atau 10 mm untuk lapis pondasi. Perbedaan setiap dua titik
pada setiap penampang melintang tidak boleh melampaui 5 mm dari
elevasi yang dihitung dari penampang melintang yang ditunjukkan dalam
Gambar Rencana.
ii) Kerataan Memanjang
Setiap ketidakrataan individu bila diukur dengan Roll Profilometer tidak
boleh melampaui 5 mm.
i) Bilamana campuran beraspal dihamparkan sebagai lapis perata sekaligus
sebagai lapis perkuatan (strengthening) maka tebal lapisan tidak boleh
melebihi 2,5 kali tebal nominal yang diberikan dalam Tabe16.3.1.(1)
5) Standar Rujukan
Standar Nasional Indonesia:
SNI 03-1968-1990 : Metode Pengujian Tentang Analisis Saringan Agregat
Halus Dan Kasar
SNI 2432: 2011 : Cara Uji Daktilitas Aspal
SNI 2433 :2011 : Cara Uji Titik nyala dan Titik Bakar dengan alat
Cleveland Open Cup
SNI2434 : 2011 : Cara Uji Titik Lembek Aspal dengan Alat Cincin dan Bola
(Ring and Ball)
SNI2439 : 2011 : Cara Uji Penyelimutan dan Pengelupasan pada
Campuran Agregat-Aspal
SNI06-2440-1991 : Metoda Pengujian Kehilangan berat Minyak dan Aspal
dengan Cara A
SNI 2441 : 2011 : Cara Uji Berat Jenis Aspal Padat
SNI 2456: 2011 : Cara Uji Penetrasi Bahan-Bahan Bitumen
SNI-06-2489-1991 : Pengujian Campuran Beraspal Dengan Alat Marshall
SNI03-3426-1994 : Survai Kerataan Permukaan
Perkerasan Jalan Dengan Alat Ukur NAASRA
SNI03-3640-1994 : Metode Pengujian Kadar Aspal Dengan Cara Ekstraksi
Menggunakan Alat Soklet
SNI03-4141-1996 : Metode Pengujian Gumpalan Lempung Dan Butir-Butir
Mudah Pecah Dalam Agregat
SNI 03-4142-1996 : Metoda Pengujian Jumlah Bahan Dalam Agregat Yang
Lolos Saringan No. 200 (0,075 mm)
SNI03-4428-1997 : Metode Pengujian Agregat Halus Atau Pasir Yang
Mengandung Bahan Plastis Dengan Cara Setara Pasir
SNI03-6441-2000 : Metode Pengujian Viskositas Aspal Minyak dengan Alat
Brookfield Termosel
SNI 03-6721-2002 : Metode Pengujian Kekentalan Aspal Cair dan Aspal
Emulsi dengan alat Saybolt
SNI 03-6723-2002 : Spesifikasi Bahan Pengisi untuk Campuran Beraspal.
SNI03-6757-2002 : Metode Pengujian Berat Jenis Nyata Campuran Beraspal
dipadatkan Menggunakan Benda Uji Kering Permukaan
Jenuh
SNI03-68I9-2002 : Spesifikasi Agregat Halus Untuk Campuran Perkerasan
Beraspal\
SNI03-6835-2002 : Metode Pengujian Pengaruh Panas dan Udara terhadap
Lapisan Tipis Aspal yang Diputar
SNI 03-6868-2002 : Tata Cara Pengambilan contoh Uji Secara Acak untuk
Bahan Konstruksi
SNI 03-6877-2002 : Metode Pengujian Kadar Rongga Agregat Halus yang
tidak dipadatkan
SNI 06-6890-2002 : Tata Cara Pengambilan Contoh Aspal
SNI03-6893-2002 : Metode Pengujian Berat Jenis Maksimum Campuran
Beraspal
SNI 03-6894-2002 : Metode Pengujian Kadar Aspal Dan Campuran Beraspal
Cara Sentrifius
SNI 1969: 2008 : Cara Uji Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Kasar
SNI 1970: 2008 : Cara Uji Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Halus
SNI2417:2008 : Cara Uji Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los
Angeles
SNI 2490: 2008 : Cara Uji Kadar Air dalam Produk Minyak Bumi dan Bahan
mengandung Aspal dengan Cara Penyulingan
SNI 3407: 2008 : Cara Uji Sifat Kekekalan Bentuk batu dengan
menggunakan Larutan Natrium Sulfat atau Magnesium
Sulfat.
SNI 3423: 2008 : Cara Uji Analisis Ukuran Butir Tanah
AASHTO :
AASHTO T195-67 (2007) : Standard Method of Test for Determining
Degree of Particle Coating of Bituminous-
Aggregate Mixtures
AASHTO T283-07 : Resistance of Compacted Bituminous Mixture to
Moisture Induced Damaged
AASHTO T301-99 (2003) : Elastic Recovery Test Of Bituminous Materials
By Means of a Ductilometer

ASTM :
ASTM D4791 : Standard Test Method for Flat or Elongated
Particles in Coarse Aggregate
ASTM D5581-96 : Test Method for Resistance to Plastic Flow of
Bituminous Mixture using Marshall Apparatus (6
inchdiameter Spicement)
ASTM D5976 : Standard Specification for Type I Polymer Modified
Asphalt Cement for Use in Pavement Construction
Lainnya
BS 598 Part 104 (1989) : The Compaction Procedure Used in the
Percentage Refusal Density Test.
Pensylvania DoT Test Method, No.621 : Determining the Percentage of
Crushed Fragments in Gravel.
6) Pengajuan Kesiapan Kerja
Sebelum dan selama pekerjaan, Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada
Direksi Pekerjaan :
a) Contoh dari seluruh bahan yang disetujui untuk digunakan, yang disimpan
oleh Direksi Pekerjaan selama periode Kontrak untuk keperluan rujukan;
b) Setiap bahan aspal yang diusulkan Penyedia Jasa untuk digunakan, berikut
keterangan asal sumbemya bersama dengan data pengujian sifat-sifatnya,
baik sebelum maupun sesudah Pengujian penuaan aspal (RTFOT/TFOT
sesuai dengan SNI 03-6835-2002 atau TFOT sesuai dengan SNI 06-2440-
1991);
c) Laporan terlulis yang menjelaskan sifat-sifat hasil pengujian dari seluruh
bahan, seperti disyaratkan dalam Pasal 6.3.2;
d) Laporan tertulis setiap pemasokan aspal beserta sifat-sifat bahan seperti
yang . disyaratkan dalam Pasal 6.3.2.(6);
e) Hasil pemeriksaan kelaikan peralatan laboratorium dan pelaksanaan.
f) Rumusan campuran kerja (Job Mix Formula, JMF) dan data pengujian yang
mendukungnya; seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.3, dalam bentuk
laporan tertulis;
g) Pengukuran pengujian permukaan seperti disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(1)
dalam bentuk laporan tertulis;
h) Laporan tertulis mengenai kepadatan dari campuran yang dihampar, seperti
yang disyaratkan dalam Pasa16.3.7.(2);
i) Data pengujian laboratorium dan lapangan seperti yang disyaratkan dalam
Pasal 6.3.7.(4) untuk pengendalian harian terhadap takaran campuran dan
mutu campuran, dalam bentuk laporan tertulis;
j) Catatan harian dari seluruh muatan truk yang ditimbang di alat penimbang,
seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(5);

k) Catatan tertulis mengenai pengukuran tebal lapisan dan dimensi perkerasan


seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.8.
7) Kondisi Cuaca Yang Dijinkan Untuk Bekerja
Campuran hanya bisa dihampar bila penmukaan yang telah disiapkan keadaan
kering dan diperkirakan tidak akan turun hujan
8) Perbaikan Pada Campuran beraspa1 Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
Bilamana persyaratan kerataan hasil hamparan tidak terpenuhi atau bilamana
benda uji inti dari lapisan beraspal dalam satu segmen tidak memenuhi
persyaratan tebal atau kepadatan sebagaimana ditetapkan dalam spesifikasi ini,
maka panjang yang tidak memenuhi syarat harus dibongkar atau dilapis kembali
dengan tebal lapisan nominal minimum yang dipersyaratkan dalam Tabel
6.3.1.(1) dengan jenis campuran yang sama. Panjang yang tidak memenuhi
syarat ditentukan dengan benda uji tambahan sebegaimana diperintahkan oleh
Direksi pekerjaan dan selebar satu hamparan.
Bila perbaikan telah diperintahkan maka jumlah volume yang diukur untuk
pembayaran haruslah volume yang seharusnya dibayar bila pekerjaan aslinya
dapat diterima. Tidak ada waktu dan atau pembayaran tambahan yang akan
dilakukan untuk pekerjaan atau volume tambahan yang diperlukan untuk
perbaikan.
9) Pengembalian Bentuk Pekerjaan Setelah Penguujian
Seluruh lubang uji yang dibuat dengan mengambil benda uji inti (core) atau
lainnya harus segera ditutup kembali dengan bahan campuran beraspal oleh
Penyedia Jasa dan dipadatkan hingga kepadatan serta kerataan permukaan
sesuai dengan toleransi yang diperkenankan dalam Seksi ini.
10) Lapisan Perata
Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, maka setiap jenis campuran dapat
digunakan sebagai lapisan perata. Semua ketentuan dari Spesifikasi ini harus
berlaku kecuali : Bahan harus disebut HRS-WC(L), HRS-Base(L), AC-WC(L),
AC-BC(L) atau ACBase(L) dsb.

2.2 BAHAN
1) Agregat - Umum
a) Agregat yang akan digunakan dalam pekerjaan harus sedemikian rupa agar
campuran beraspal, yang proporsinya dibuat sesuai dengan rumusan
campuran kerja (lihat Pasal 6.3.3), memenuhi semua ketentuan yang
disyaratkan datam Tabel 6.3.3(1 a) sampai dengan Tabe16.3.3(1 d),
tergantung campuran mana yang dipilih.
b) Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui terlebih dahulu oleh Direksi
Pekerjaan. Bahan harus ditumpuk sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 1.11
dari Spesifikasi ini.
c) Sebelum memulai pekerjaan Penyedia Jasa harus sudah menumpuk setiap
fraksi agregat pecah dan pasir untuk campuran beraspal, paling sedikit untuk
kebutuhan satu bulan dan selanjutnya tumpukan persediaan harus
dipertahankan paling sedikit untuk kebutuhan campuran beraspal satu bulan
berikutnya.

d) Dalam pemilihan sumber agegat, Penyedia Jasa dianggap sudah


memperhitungkan penyerapan aspal oleh agegat. Variasi kadar aspal akibat
tingkat penyerapan aspal yang berbeda, tidak dapat diterima sebagai
alasan untuk negosiasi kembali harp satuan dari Campuran beraspal.
e) Penyerapan air oleh agregat maksimum 3 %.
Berat jenis (spesific gravity) agegat kasar dan halus tidak boleh berbeda lebih
dari 0,2.
2) Agregat Kasar
a) Fraksi agegat kasar untuk rancangan campuran adalah yang tertahan ayakan
No.4 (4,75 mm) yang dilakukan secara basah clan harus bersih, keras, awet
dan bebas dari iempung atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya dan
memenuhi ketentuan yang diberikan dalam Tabe16.3.2.(la).
b) Fraksi agregat kasar harus dari batu pecah mesin dan disiapkan dalam
ukuran nominal sesuai dengan jenis campuran yang direncanakan seperti
ditunjukkan pada Tabe16.3.2.(1 b).
c) Agregat kasar harus mempunyai angularitas seperti yang disyaratkan dalam
Tabel 6.3.2.(1 a). Angularitas agegat kasar didefinisikan sebagai persen
terhadap berat agegat yang lebih besar dari 4,75 mm dengan muka bidang
pecah satu atau lebih berdasarkan uji menurut Pennsylvania DoT's Test
Method No.621 dalam Lampiran 6.3.C.
d) Agregat kasar untuk Latasir kelas A dan B boleh dari kerikil yang bersih.
e)Fraksi agegat kasar harus ditumpuk terpisah clan harus dipasok ke instalasi
pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin (cold
bin feeds) sedemikian rupa sehingga gradasi gabungan agregat dapat
dikendalikan dengan baik.
Tabel 6.3.2. (1a) Ketentuan Agregat Kasar
Pengujian Standar Nilai
Kekekalan Maks.
bentuk natrium sulfat 12%
agregat
Maks.
terhadap SNI 3407 :
magnesium sulfat 2008 18%
larutan
100 Maks.
Campuran putaran 6%
AC
500 Maks.
Modifikasi
putaran 30%
Semua 100 SNI 2417 : Maks.
jenis putaran 2008 8%
campuran
aspal 500 Maks.
bergradasi putaran 40%
lainnya
SNI 2439 : Min.
Kelekatan agregat terhadap aspal 2011 95%
SNI 7619 :
Butir Pecah pada Agregat Kasar 2012 95/90 *)

ASTM D4791 Maks.


Partikel Pipih dan lonjong Perbandinagn 10%
1: 5
SNI 03-4142- Maks.
material lolos ayakan No. 200 1996 2%
Catatan :
*) 95/90 Menunjukan bahwa 95% agregat kasr mempunyai muka
bidang pecah satu atau lebih dan 90% agregat kasr mempunyai
muka bidang pecah dua atau lebih
Tabel 6.3.2.(1b) Ukuran Nominal Agregat Kasar Penampung
Dingin untuk Campuran Aspal

Jenis Campuran Ukuran nominal agregat kasar penampung


dingin (cold bin) minimum yang diperlukan
(mm)
5 – 10 10 – 14 14 – 22 22 – 30
Latoston Lapis Aus Ya Ya
Lataston Lapis Pondasi Ya Ya
Laston Lapis Aus Ya Ya
Laston Lapis Antara Ya Ya Ya
Laston Lapis Pondasi Ya Ya Ya Ya

3) Agregat Halus
a) Agregat halus dari sumber bahan manapun, harus terdiri dari pasir atau hasil
pengayakan batu pecah dan terdiri dari bahan yang lolos ayakan No.4 (4,75
mm).
b) Fraksi agregat halus pecah mesin dan pasir harus ditempatkan terpisah dari
agregat kasar.
c) Pasir alam dapat digunakan dalam campuran AC sampai suatu batas yang
tidak melampaui 15% terhadap berat total campuran.
d) Agregat halus harus merupakan bahan yang bersih, keras, bebas dari
lempung, atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Batu pecah halus harus
diperoleh dari batu yang memenuhi ketentuan mutu dalam Pasal b.3.2.(1).
Untuk memperoleh agregat halus yang memenuhi ketentuan diatas :
i) Bahan baku untuk agregat halus dicuci terlebih dahulu secara
mekanis sebelum dimasukkan kedalam mesin pemecah batu.
ii) Digunakan scalping screen dengan proses berikut ini :
- fraksi agregat halus yang diperoleh dari hasil pemecah
batu tahap pertama (primary crusher) tidak boleh langsung
digunakan,
- agregat yang diperoleh dari hasil pemecah batu tahap
pertama (primary crusher) harus dipisahkan dengan vibro
scalping screen yang dipasang ai antara primary crusher
dan secondary crusher.
- Material tertahan vibro scalping screen akan dipecah oleh
secondary crusher, hasil pengayakan dapat digunakan
sebagai agregat halus.
- Material lolos vibro scalping screen hanya boleh
digunakan sebagai komponen material Lapis Pondasi
Agregat.
e) Agregat halus harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditunjukkan pada
Tabel 6.3.2.(2a).
Tabel 6.3.2.(2a) Ketentuan Agregat Halus

Pengujian Standar Nilai


SNI 03-4428-
Nilai Setara Pasir 1997 Min. 60%
Angularitas dengan uji SNI 03-6877-
Kadar rongga 2002 Min. 45
Gumpalan Lempung dan
butir-butir Mudah Pecah SNI 03-4141-
dalam Agregat 1996 Maks. 1%
Angularitas (kedalaman
4) dari permukaan 10 SNI ASTM C117 Bahan
cm) : 2012 Maks. 10 % Pengisi
(Filler) Untuk Camnuran Beraspal
a) Bahan pengisi yang ditambahkan (filler added) terdiri atas debu batu kapur
(limestone dust, Calcium Carbonate, CaC03), atau debu kapur padam yang
sesuai dengan AASHTO M303-89 (2006), semen atau mineral yang berasal
dari Asbuton yang sumbernya disetujui oleh Direksi Pekerjaaan. Jika
digunakan Aspal Modifikasi dari jenis Asbuton yang diproses maka bahan
pengisi yang ditambahkan (filler added) haruslah berasal dari mineral yang
diperoleh dari Asbuton tersebut.
b) Bahan pengisi yang ditambahkan harus kering dan bebas dari gumpalan-
gumpalan dan bila diuji dengan pengayakan sesuai SNI 03-4142-1996 harus
mengandung bahan yang lolos ayakan No.200 (75 micron) tidak kurang dari
75 % terhadap beratnya kecuali untuk mineral Asbuton. Mineral Asbuton
hanrs mengandung bahan yang lolos ayakan No.100 (1S0 micron) tidak
kurang dari 95% terhadap beratnya.
c) Bilamana kapur tidak terhidrasi atau terhidrasi sebagian, digunakan sebagai
bahan pengisi yang ditambahkan maka proporsi maksimum yang diijinkan
adalah 1,0% dari berat total campuran beraspal. Kapur yang seluruhnya
terhidrasi yang dihasilkan dari pabrik yang disetujui dan memenuhi
persyaratan yang disebutkan pada Pasal 6.3.2.(2b) diatas, dapat digunakan
maksimum 2% terhadap berat total agregat.

d) Semua campuran beraspal harus mengandung bahan pengisi yang


ditambahkan (filler added) harus dalam rentang 1 - 2% dari berat total
agregat.
5) Gradasi Agregat Gabungan
Gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal, ditunjukkan dalam persen
terhadap berat agregat dan bahan pengisi, harus memenuhi batas-batas yang
diberikan dalam Tabel 6.3.2.(3). Rancangan dan Perbandingan Campuran
untuk gradasi agregat gabungan harus mempunyai jarak terhadap batas-batas
yang diberikan dalam Tabel 6.3.2.(3).
Tabel 6.3.2.(3) Amplop Gradasi Agregat Gabungan Untuk Campuran Aspal

% Berat Yang Lolos terhadap Total Agregat dalam Campuran


Ukur Latasir (SS) Lataston (HRS) Laston (AC)
an Gradasi
Gradasi
Ayak Semi Gradasi Halus Gradasi Kasar1
Senjang3 2
an Senjang
(mm) Kela Kela Bas Bas
WC WC WC BC Base WC BC Base
sA sB e e
37,5 100 100
90- 90-
25 100 100 100 100
90- 90-
19 100 100 100 100 100 100 100 100 73-90 100 100 73-90
90- 90- 87- 90- 90-
12,5 100 100 100 100 9-100 74-90 61-79 100 71-90 55-76
90- 75- 65- 55- 55-
9,5 100 85 90 88 70 72-90 64-82 47-67 72-90 58-80 45-66
39,5- 28-
4,75 54-69 47-64 50 43-63 37-56 39,5
75- 50- 35- 50- 32- 39,1- 34,6- 30,8- 28- 23- 19-
2,36 100 72 3 55 3 62 44 53 49 37 39,1 34,6 26,8
31,6- 28,3- 24,1- 19- 15- 12-
1,18 40 38 28 25,6 22,3 18,1
0,60 35- 15- 20- 15- 23,1- 20,7- 17,6- 13- 10- 7-
0 60 35 45 35 30 28 22 19,1 16,7 13,6
0,30 15- 15,5- 13,7- 11,4- 9- 7- 5-
5-35
0 35 22 20 16 15,5 13,7 11,4
0,15
0 9-15 4-13 4-10 6-13 5-11 4,5-9
0,07 10-
5 15 8-13 6-10 2-9 6-10 4-8 4-10 4-8 3-6 4-10 4-8 3-7

Catatan :
1. Untuk HRS-WC dan HRS-Base yang beanr-benar senjang, paling sedikit 80%
agregat lolos ayakan No.8 92,36 mm) harus lolos ayakan No. 30 (0,600 mm). Lihat
table 6.3.2.4 sebagai contoh batas-batas “Bahan-bahan Senjang” di mana bahan
yang lolos No.8 (2,36 mm) dan tertahan pada ayakan No.30 (0,600 mm).
2. Untuk semua jenis campuran, rujuk Tabel 6.3.2.(1).(b) untuk agregat nominal
maksimum pada tumpukan bahan pemasok dingin.
3. Apabila tidak ditetapkan dalam Gambar, penggunaan pemilihan gradasi sesusi
dengan petunjuk Direksi Pekerjaan dongan mengacu pada panduan Seksi 6.3 ini.
Tabel. 6.3.2.(4) : Contoh batas-batas “Bahan Bergradasi Senjang”

Ukuran Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 4


Ayakan
% lolos No. 8 40 50 60 70
% lolos No. 30 Paling sedikit Paling sedikit Paling sedikit Paling sedikit
32 40 48 56
% 8 atau kurang 10 atau 12 atau 14 atau
kesenjangan kurang kurang kurang

6) Bahan Aspal Untuk Campuran Beraspal)


a) Bahan aspal berikut yang sesuai dengan Tabe16.3.2.5dapat digunakan.
Bahan pengikat ini dicampur dengan agregat sehingga menghasilkan
campuran beraspal sebagaimana mestinya sesuai dengan yang disyaratkan
dalam Tabel 6.3.3.(1 a), 6.3.3.(1 b), 6.3.3.( lc) dan 6.3.3.(1 d) mana yang
relevan, sebagaimana yang disebutkan dalam Gambar atau diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan. Pengambilan contoh bahan aspal harus dilaksanakan
sesuai dengan SNI 06-6890-2002 dan pengujian semua sifat-sifat
(properties) yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.2.(5) harus dilakukan.
Pengujian penetrasi dan titik lembek harus dilakukan pada saat kedatangan
aspal curah Tipe I dan Tipe IIB dan TIC. Bilamana jenis aspal modifikasi tidak
disebutkan dalam Gambar maka Penyedia Jasa dapat memilih Aspal Tipe IT
dalam Tabel 6.3.2.(5) dibawah ini.
Tabel 6.3.2(5) Ketentuan-ketentuan untuk Aspal Keras

Tipe II Aspal yang


Tipe I Dimodifikasi
Aspal A (1) B
Metoda
No. Jenis Pengujian Pen.
Pengujian Asbuton
60- Elastomer
70 yg
sintetis
diproses
Penetrasi pada SNI 06-2456- 60-
1 1991 70 Min. 50 Min. 40
25ºC (0,1mm)
Viskositas
SNI 06-6441- 160-
2 Dinamis 60oC 240-360 320-480
2000 240
(Pa.s)
Viskositas 135ºC SNI 06-6441-  385- 
3
(cSt) 2000 2000
SNI 2434 :
4 Titik Lembek (ºC) 2011      

Daktilitas pada SNI 2432 :   


5
25ºC, (cm) 2011

SNI 2433 :
6 Titik Nyala (ºC)   
2011
Kelarutan dalam
AASHTO T44- 
7 Trichloroethylene   ()  
03
(%)
SNI 2441 :      
8 Berat Jenis
2011
Stabilitas
Penyimpanan : ASTM D 5976
9 -  
Perbedaan titik part 6.1
lembek (ºC)
Partikel yang lebih
Min.
10 halus dari 150 −
95(1)
micron ( m) (%)
Pengujian Residu hasil TFOT (SNI-06-2440-1991) atau RTFOT
(SNI-03-6835-2002) :

Berat yang Hilang SNI 06-2441-   


11
(%) 1991   
Viskositas
SNI 06-6441-    
12 Dinamis 60oC
2000
(Pa.s)
Penetrasi pada SNI 06-2456-
13      
25ºC (%) 1991

Penetrasi pada SNI 2432 :  


14 
25ºC (cm) 2011
Keelastisan
AASHTO T 
15 setelah - -
301-98
Pengembalian (%)

Catatan :
1. Hasil pengujian adalah untuk bahan pengikat (bitumen) yang diektraksi
dengan menggunakan metoda SNI 2490:2008. Sedangkan untuk pengujian
kelarutan dan gradasi mineral dilaksanakan pada seluruh bahan pengikat
termasuk kandungan mineralnya
2. Pabrik pembuat bahan pengikat Tipe II dapat mengajukan metoda pengujian
alternatif untuk viskositas bilamana sifat-sifat elastomerik atau lainnya
didapati berpengaruh terhadap akurasi pengujian penetrasi, titik lembek atau
standar lainnya.
3. Viscositas di uji juga pada temperatur 100°C clan 160°C untuk tipe I,
untuk tipe II pada temperatur 100 °C dan 170 °C.
4. Jika untuk pengujian viskositas tidak dilakukan sesuai dengan AASHTO
T201-03 maka hasil pengujian harus dikonversikan ke satuan cSt.
b) Contoh bahan aspal harus diekstraksi dari benda uji sesuai dengan cara
SNI 03-3640-1994 (metoda soklet) atau SNI 03-6894-2002 (metoda
sentrifus) atau AASHTO T 164 - 06 (metoda tungku pengapian). Jika
metoda sentrifitus digunakan, setelah konsentrasi larutan aspal yang
terekstraksi mencapai 200 mm, partikel mineral yang terkandung harus
dipindahkan ke dalam suatu alat sentrifugal. Pemindahan ini dianggap
memenuhi bilamana kadar abu dalam bahan aspal yang diperoleh kembali
tidak melebihi 1 % (dengan pengapian).
Jika bahan aspal diperlukan untuk pengujian lebih lanjut maka bahan aspal
itu haius diperoleh kembali dari larutan sesuai dengan prosedur SNI 03-
68942002.
c) Aspal harus diuji pada setiap kedatangan dan sebelum dituangkan ke
tangki penyimpan AMP untuk penetrasi pada 25 °C (SNI Ob-2456-1991)
dan Titik Lembek (SNI 06-2434-1991). Aspal yang dimodifikasi juga harus
diuji untuk stabilitas penyimpanan sesuai dengan ASTM D5976 part 6.1
dan dapat ditempatkan dalam tangki sementara sampai hasil pengujian
tersebut diketahui. Tidak ada aspal yang boleh digunakan sampai aspal
tersebut telah diuji dan disetujui.
7) Bahan Anti Pengelupasan
Bahan anti pengelupasan hanya digunakan jika stabilitas Marshall sisa
campuran beraspal sebelum ditambah bahan anti pengelupasan minimum 75%.
Bahan anti pengelupasan (anti striping agent) harus ditambahkan dalam bentuk
cairan di timbangan aspal AMP dengan mengunakan pompa penakar (dazing
pump) sesaat sebelum dilakukan proses pencampuran basah di pugmil.
Kuantitas pemakaian aditif anti striping dalam rentang 0,2% - 0,4% terhadap
berat aspal. Bahan anti pengelupasan harus digunakan untuk semua jenis aspai
tetapi tidak boleh digunakan pada aspal modifikasi yang bermuatan positif.
Persyaratn bahan anti pengelupasan haruslah memenuhi Tabel 6.3.2.(6) dan
kompabilitas dengan aspal disyaratkan dalam table 6.3.2(7)..
8) Aspal yang Dimodifikasi
Aspal yang dimodifikasi haruslah jenis Asbuton, dan elastomerik latex atau
sintetis memenuhi ketentuan-ketentuan Tabel 6.3.2.(5). Proses pembuatan
aspal modifikasi di lapangan tidak diperbolehkan kecuali ada lisensi dari pabrik
pembuat aspal modifikasi dan pabrik pembuatnya menyediakan instalasi
pencampur yang setara dengan yang digunakan di pabrik asalnya.
Aspal modifikasi harus dikirim dalam tangki yang dilengkapi dengan alat
pembakar gas atau minyak yang dikendalikan secara termostatis. Pembakaran
langsung dengan bahan bakar padat atau cair didalam tabung tangki tidak
diperkenankan dalam kondisi apapun. Pengiriman dalam tangki harus
dilengkapi dengan sistem segel yang disetujui untuk mencegah kontaminasi
yang terjadi apakah dari pabrik pembuatnya atau dari pengirimannya. Aspal
yang dimodifikasi harus disalutkan ke tangki penampung di lapangan dengan
sistem sirkulasi yang tertutup penuh. Penyaluran secara terbuka tidak
diperkenankan.
Setiap pengiriman harus disalurkan kedalam tangki yang diperuntukkan untuk
kedatangan aspal clan harus segera dilakukan pengujian penetrasi, titik lembek
dan stabilitas penyimpanan. Tidak ada aspal yang boleh digunakan sampai diuj
i dan disetujui.
Jangka waktu penyimpan untuk aspal modifikasi dengan bahan dasar latex tidak
boleh melebihi 3 hari kecuali jika jangka waktu penyimpanan yang lebih lama
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Persetujuan tersebut hanya dapat diberikan jika
sifat-sifat akhir yang ada memenuhi nilai-nilai yang diberikan dalam Tabe1
6.3.2.(5).
9) Sumber Pasokan
Sumber pemasokan agregat, aspal dan bahan pengisi (filler) harus disetujui
terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjan sebelum pengiriman bahan. Setiap jenis
bahan harus diserahkan, seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, paling
sedikit 60 hari sebelum usulan dimulainya pekerjaan pengaspalan.

2.3 CAMPURAN
1) Komposisi Umum Campuran
Campuran beraspal dapat terdiri dari agregat, bahan pengisi, bahan aditif, dan
aspal.
2) Kadar Aspal dalam Campuran
Persentase aspal yang aktual ditambahkan ke dalam campuran ditentukan
berdasarkan percobaan laboratorium dan lapangan sebagaimana tertuang
dalam Rencana Campuran Kerja (JMF) dengan memperhatikan penyerapan
agregat yang digunakan.
3) Prosedur Rancangan Campuran
a) Sebelum diperkenankan untuk menghampar setiap campuran beraspal
dalam Pekerjaan, Penyedia Jasa disyaratkan untuk menunjukkan semua
usulan metoda kerja, agregat, aspal, dan campuran yang memadai dengan
membuat dan menguji campuran percobaan di laboratorium dan juga dengan
penghamparan campuran percobaan yang dibuat di instalasi pencampur
aspal.
b) Pengujian yang diperlukan meliputi analisa ayakan, berat jenis dan
penyerapan air, dan semua jenis pengujian lainnya sebagaimana yang
dipersyaratkan pada seksi ini untuk semua agregat yang digunakan.
Pengujian pada campuran beraspal percobaan akan meliputi penentuan
Berat Jenis Maksimum campuran beraspa! (SNI 03-6893-2002), pengujian
sifat-sifat Marshall (SNI 06-2489-1990) dan Kepadatan Membal (Refusal
Density) campuran rancangan (BS 598 Part 104 - 1989).
c) Contoh $gregat untuk rancangan campuran harus diambil dari pemasok
dingin (cold bin) dan dari penampung panas (hot bin). Rumusan campuran
kerja yang ditentukan dari campuran di laboratorium harus dianggap berlaku
sementara sampai diperkuat oleh hasil percobaan pada instalasi pencampur
aspal dan percobaan penghamparan dan pemadatan lapangan.
d) Pengujian percobaan penghamparan dan pemadatan lapangan harus
dilaksanakan dalam tiga langkah dasar berikut ini :
i) Penentuan proporsi takaran agregat dari pemasok dingin untuk dapat
menghasilkan komposisi yang optimum. Perhitungan proporsi takaran
agregat dari bahan tumpukan yang optimum harus digunakan untuk
penentuan awal bukaan pemasok dingin. Contoh dari pemasok panas
harus diambil setelah penentuan besarnya bukaan pemasok dingin.
Selanjutnya proporsi takaran pada pemasok panas dapat ditentukan.
Suatu Rumusan Campuran Rancangan (Design Mix Formula, DMF)
kemudian akan ditentukan berdasarkan prosedur Marshall. Dalam segala
hal DMF harus memenuhi semua sifat-sifat bahan dalam Pasal 6.3.2 dan
sifat-sifat campuran sebagaimana disyaratkan dalam Tabel 6.3.3(1 a) s.d
6.3.3 (1 d), mana yang relevan.
ii) DMF, data dan grafik percobaan campuran di laboratorium harus
diserahkan pada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan. Direksi
Pekerjaan akan menyetujui atau menolak usulan DMF tersebut dalam waktu
tujuh hari. Percobaan produksi clan penghamparan tidak boleh
dilaksanakan sampai DMF disetujui.
iii) Percobaan produksi dan penghamparan serta persetujuan terhadap
Rumusan Campuran Kerja (Job Mix Formula, JMF). JMF adalah suatu
dokumen yang menyatakan bahwa rancangan campuran laboratorium yang
tertera dalam DMF dapat diproduksi dengan instalasi pencampur aspal
(Asphalt Mixing Plant, AMP), dihampar dan dipadatkan di lapangan
dengan peralatan yang telah ditetapkan dan memenuhi derajat kepadatan
lapangan terhadap kepadatan laboratorium hasil pengujian Marshall dari
benda uji yang campuran beraspalnya diambil dari AMP.
Tabel 6.3.3.(1a) Ketentuan Sifat-sifat Campuran Latasir

Sifat-sifat Campuran Latasir


Kelas A &
B
Penyerapan aspal (%) Maks. 2,0
Jumlah tumbukan per bidang 50
Rongga dalam campuran (%) (2) Min. 3,0
Maks. 6,0
Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Min. 20
Rongga terisi aspal (%) Min. 75
Stabilitas Marshall (kg) Min. 200
Pelelehan (mm) Min. 2
Maks. 3
Marshall Quotient (kg/mm) Min. 80
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah Min. 90
perendaman selama 24 jam, 60ºC (3)

Tabel 6.3.3.(1b) Ketentuan Sifat-sifat campuran Lataston


Lataston
Lapis Aus Lapis Pondasi
Sifat-sifat Campuran Semi Semi
Senjan Senjan
Senjan Senjan
g g
g g
Kadar aspal efektif (%) Min. 5,9 5,9 5,5 5,5
Penyerapan aspal (%) Maks. 1,7
Jumlah tumbukan per bidang 75
Rongga dalam campuran (%)(2) Min. 4,0
Maks. 6,0
Rongga dalam Agregat (VMA) Min. 18 17
(%)
Rongga terisi aspal (%) Min. 68
Stabilitas Marshall (kg) Min 600
Pelelehan (mm) Min. 3

Marshall Quotient (Kg/mm) Min. 250


Stabilitas Marshall Sisa (%) Min. 90
setelah perendaman selama 24
jam, 60ºC (3)
Rongga dalam campuran (%) Min. 3
pada Kepadatan membal
(refusal) (4)

Tabel 6.3.3.(1c) Ketentuan Sifat-sifat Campuran Laston (AC)

Sifat-sifat Campuran Laston


Lapis Aus Lapis Antara Pondasi
Halus Kasar Halus Kasar Halus Kasar
Kadar aspal (efektif (%) Min. 5,1 4,3 4,3 4,0 4,0 3,5
Penyerapan aspal (%) Maks. 1,2
Jumlah tumbukan per bidang 75 112(1)
Rongga dalam campuran Min. 3,0
(%)(2) Maks. 5,0
Rongga dalam Agregat Min. 15 14 13
(VMA) (%)
Rongga terisi aspal (%) Min. 65 63 60
Stabilitas Marshall (kg) Min 800 1800(1)
Pelelehan (mm) Min. 3 4,5(1)
Marshall Quotient (Kg/mm) Min. 250 300
Stabilitas Marshall Sisa (%) Min. 90
setelah perendaman selama
24 jam, 60ºC (3)
Rongga dalam campuran (%) Min. 2
pada Kepadatan membal
(refusal) (4)

Tabel 6.3.3.(1d) Ketentuan Sifat-sifat Campuran Laston yang Dimodifikasi


(AC Mod)
Sifat-sifat Campuran Laston(6)
Lapis Aus Lapis Antara Pondasi
Kadar aspal (efektif (%) Min. 4,3 4,0 3,5
Penyerapan aspal (%) Maks. 1,2
Jumlah tumbukan per bidang 75 112(1)
Rongga dalam campuran (%) (2) Min. 3,0
Maks. 5,0
Rongga dalam Agregat (VMA) Min. 15 14 13
(%)
Rongga terisi aspal (%) Min. 65 63 60
Stabilitas Marshall (kg) Min 1000 2250(1)
Pelelehan (mm) Min. 3 4,5(1)
Marshall Quotient (Kg/mm) Min. 300 350
Stabilitas Marshall Sisa (%) Min. 90
setelah perendaman selama 24
jam, 60ºC (3)
Rongga dalam campuran (%) Min. 2 2,5
pada Kepadatan membal
(refusal) (4)
Stabilitas Dinamis, Min. 2500
Lintasan/mm(5)

Catatan :
1) Modifikasi Marshall lihat Lampiran 6.3.13.
2) Rongga dalam campuran dihitung berdasarkan pengujian Berat Jenis
Maksimum Agregat (Gmm test, SNI 036893-2002).
3) Direksi Pekerjaan dapat atau menyetujui AASHTO T283-89 sebagai alternatif
pengujian kepekaan terhadap kadar air. Pengkondisian beku cair (freeze thaw
conditioning) tidak diperlukan. Nilai Indirect Tensile Strength Retained (ITSR)
minimum 80% pada VIM (Rongga dalarn Campuran) 8%.
4) Untuk menentukan kepadatan membal (refitsal), disranakan menggunakan
penumbuk bergetar (vibratory hammer) agar pecahnya butiran agregat dalarn
campuran dapat dihimdari. Jika digunakan penumbukan manual jumlah
tumbukan per bidang harus 6()D untuk cetakan berdiamater 6 inch dan 400
untuk cetakan berdiamater 4 inch
5) Pengujian Wheel Tracking Machine (WTM) harus dilakukan pada temperatur
60 °C. Prosedur pengujian harus mengikuti serti pada Manual untuk
Rancangan dan Pelaksanaan Perkerasan Aspal, JRA Japan Road Association
(1980).
4) Rumus Campuran Rancangan (Design Mix Formula)
Paling sedikit 30 hari sebelum dimulainya pekerjaan aspai, Penyedia Jasa harus
menyerahkan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan, usulan DMF untuk
campuran yang akan digunakan dalam pekerjaan. Rumus yang diserahkan
harus menentukan untuk campuran berikut ini:
a) Sumber-sumber agregat.
b) Ukuran nominal maksimum partikel.
c) Persentase setiap fraksi agregat yang cenderung akan digunakan Penyedia
Jasa, pada penampung dingin maupun penampung panas.
d) Gradasi agregat gabungan yang memenuhi gradasi yang disyaratkan dalam
Tabe16.3.2.(3).
e) Kadar aspal optimum dan efektif terhadap berat total campuran .
f) Rentang temperatur pencampuran aspal dengan agregat dan temperatur
saat campuran beraspal dikeluarkan dari alat pengaduk (mixer).
Penyedia Jasa harus menyediakan data dan grafik hubungan sifat-sifat
campuran beraspal terhadap variasi kadar aspal hasil percobaan laboratorium
untuk menunjukkan bahwa campuran memenuhi semua kriteria dalam Tabel
6.3.3.(la) sampai dengan Tabe16.3.3.(ld) tergantung campuran aspal mana
yang dipilih.
Dalam tujuh hari setalah DMF diterima, Direksi Pekerjaan harus :
a) Menyatakan bahwa usulan tersebut yang memenuhi Spesifikasi clan meng-
ijinkan Penyedia Jasa untuk menyiapkan instalasi pencampur aspal clan
penghamparan percobaan.
b) Menolak usulan tersebut jika tidak memenuhi Spesifikasi.
Bilamana DMF yang diusulkan ditolak oleh Direksi Pekerjaan, maka Penyedia
Jasa harus melakukan percobaan campuran tambahan dengan biaya sendiri
untuk memperoleh suatu campuran rancangan yang memenuhi Spesifikasi.
Direksi Pekerjaan, menurut pendapatnya, dapat menyarankan Penyedia
Jasa untuk memodifikasi sebagian rumusan rancangannya atau mencoba
agregat lainnya.
5) Rumusan Campuran Kerja (Job Mix Formula. JMF)
Percobaan campuran di instasi pencampur aspal (Asphalt M'i.xing Plant, AMP)
dan penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan akan menjadikan
DMF dapat disetujui sebagai JMF.
Segera seteiah DMF disetujui oleh Direski Pekerjaan, Penyedia Jasa harus
melakukan penghamparan percobaan paling sedikit 50 ton untuk setiap jenis
campuran yang diproduksi dengan AMP, dihampar dan dipadatkan dengan
peralatan dan prosedur yang diusulkan. Penyedia Jasa harus menunjukkan
bahwa setiap alat penghampar (paver) mampu menghampar bahan sesuai
dengan tebal yang disyaratkan tanpa segregasi, tergores, dsb. Kombinasi
penggilas yang diusulkan harus mampu mencapai kepadatan yang disyaratkan
dalam rentang temperatur pemadatan sebagaimana yang dipersyaratkan dalam
Tabe16.3.5.(1).(e).
Contoh campuran harus dibawa ke laboratorium clan digunakan untuk membuat
benda uji Marshall maupun untuk pemadatan membal (refusal). Hasil pengujian
ini harus dibandingkan dengan Tabel 6.3.3.(la) sampai dengan Tabel 6.3.3.(ld)
. Bilamana percobaan tersebut gagal memenuhi Spesifikasi pada salah satu
ketentuannya maka perlu dilakukan penyesuaian dan percobaan harus diutang
kembali. Direksi pekerjaan tidak akan menyetujui DMF sehagai JMF sebelum
penghamparan percobaan yang dilakukan memenuhi semua ketentuan dan
disetujui.
Pekerjaan pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai sebelum diperoleh
JMF yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana telah disetujui, JMF
menjadi definitif sampai Direksi Pekerjaan menyetujui JMF pengganti lainnya.
Mutu campuran harus dikendalikan, terutama dalam toleransi yang diijinkan,
seperti yang diuraikan pada Tabe16.3.3.(2) di bawah ini.
Dua belas benda uji Marshall harus dibuat dari setiap penghamparan
percobaan. Contoh campuran beraspal dapat diambil dari instalasi pencampur
aspal atau dari truk di AMP, dan dibawa ke laboratorium dalam kotak yang
terbungkus rapi. Benda uji Marshall harus dicetak dan dipadatkan pada
temperatur yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.5.(1) dan menggunakan jumlah
penumbukan yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(1 a) sampai dengan Tabel
b.3.3.( l d). Kepadatan rata-rata (Gmb) dari semua benda uji yang diambil dari
penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan harus menjadi Kepadatan
Standar Kerja (Job Standard Density), yang harus dibandingkan dengan
pemadatan campuran beraspal terhampar dalam pekerjaan.
6) Penerauan JMF dan Toleransi Yang Diijinkan
a) Seluruh campuran yang dihampar dalam pekerjaan harus sesuai dengan
JMF, dalam batas rentang toleransi yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(2)
di bawah ini.
b) Setiap hari Direksi Pekerjaan akan mengambil benda uji baik bahan maupun
campurannya seperti yang digariskan dalam Pasal b.3.7.(3) dan 6.3.7.(4) dari
Spesifikasi ini, atau benda uji tambahan yang dianggap perlu untuk
pemeriksaan keseragaman campuran. Setiap bahan yang gagal memenuhi
batas-batas yang diperoleh dari JMF dan Toleransi Yang Diijinkan harus
ditolak.
c) Bilamana setiap bahan pokok memenuhi batas-batas yang diperoleh dari
JMF dan Toleransi Yang Diijinkan, tetapi menunjukkan perubahan yang
konsisten dan sangat berarti atau perbedaan yang tidak dapat diterima atau
jika sumber setiap bahan berubah, maka suatu JMF baru harus diserahkan
dengan cam seperti yang disebut di atas dan atas biaya Penyedia Jasa
sendiri untuk disetujui, sebelum campuran beraspal baru dihampar di
lapangan.

Tabel 6.3.3.(2) Toleransi Komposisi Campuran :


Agregat Gabungan Toleransi Komposisi
Campuran
Sama atau lebih besar dari 2,36 mm ± 5% berat total agregat
Lolos ayakan 2,36 mm sampai No. 5 ± 3% berat total agregat
Lolos ayakan No. 100 dan tertahan No. ± 2% berat total agregat
200
Lolos ayakan No. 200 ± 1% berat total agregat
Kadar aspal Toleransi
Kadar aspal ± 0,3% berat total cam

Temperatur Campuran Toleransi


Bahan meninggalkan AMP dan dikirim - 10ºC dari temperatur
ke tempat penghamparan campuran beraspal di truk saat
keluar dari AMP

d) Internretasi Toleransi Yang Diijinkan


Batas-batas absolut yang ditentukan oleh JMF maupun Toleransi Yang
diijinkan menunjukkan bahawa Penyedia Jasa harus bekerja dalam batas-
batas yang digariskan pada setiap saat.

2.4 KETENTUAN INSTALASI PENCAMPUR ASPAL


1) Instalasi Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant. AMP)
a) Instalasi Pencampur Aspal harus mempunyai sertifikat "laik operasi" dan
sertifikat kalibrasi dari Metrologi untuk timbangan aspal, agregat dan bahan
pengisi (filler) tambahan, yang masih berlaku.
b) Berupa pusat pencampuran dengan sistem penakaran (batching) dan mampu
memasok mesin penghampar secara terus menerus bilamana menghampar
campuran pada kecepatan normal dan ketebalan yang dikehendaki;
c) Harus dirancangi dan dioperasikan sedemikian hingga dapat menghasilkan
campuran dalam rentang toleransi JMF;
d) Harus dipasang di lokasi yang jauh dari pemukiman dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan sehingga tidak mengganggu ataupun mengundang protes dari
penduduk di sekitarnya;

e) Harus dilengkapi dengan alat pengumpul debu (dust collector) yang lengkap
yaitu sistem pusaran kering (dry cyclone) dan pusaran basah (wet cyclone)
sehingga tidak menimbulkan pencemaran debu. Bilamana salah satu sistem
di atas rusak atau tidak berfungsi maka AMP tersebut tidak boleh
dioperasikan;
f) Mempunyai pengaduk (pug mill) dengan kapasitas minimum 800 kg dan
dilengkapi dengan sistem pemimbangan secara komputerisasi jika digunakan
untuk memproduksi AC bergradasi kasar atau AC-Base selain dari pekerjaan
minor.
g) Jika digunakan untuk pembuatan campuran aspal yang dimodifikasi harus
dilengkapi dengan pengendali temperatur tenmostatik otomatis yang mampu
mempertahankan temperatur campuran sebesar 175 °C. Jiak digunakan
bahan bakar gas maka pemanas (dryer0 harus dilengkapi dengan alat
pengendali temperature (regulator) untuk mempertahankan panas dengan
konstan.
h) Jika digunakan untuk pembuatan AC-Base, mempunyai pemasok dingin (cold
bin) yang jumlahnya tidak kurang dari lima buah dan untuk jenis campuran
beraspal lainnya minimal tersedia 4 pemasok dingin..
i) Dirancang sebagaimana mestinya, dilengkapi dengan semua perlengkapan
khusus yang diperlukan.
j) Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan agregat haruslah minyak
tanah atau gas. Batu bara yang digunakan dalam proses gasifikasi haruslah
min. 5.500 K.CaUkg. ketentuan lebih lanjut penggunaan aiat pencampur
aspal dengan bahan bakar batu bara dengan sistem tidak langsung (indirect),
mengacu pada Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/SE/M/2011
Tanggal 31 Oktober 2011, Perihal Pedoman Penggunaan batu bara untuk
pemanas agregat pada unit produksi campuran beraspal (AMP).
k) Agregat yang diambil dari pemasok panas (hot bin) atau pengering (dryer)
tidak boleh mengandung jelaga dan atau sisa minyak yang tidak habis
terbakar.
2) Tangki Penyimpan Aspal
Tangki penyimpan bahan aspal harus dilengkapi dengan pemanas yang dapat
dikendalikan dengan efektif dan handal sampai suatu temperatur dalam rentang
yang disyaratkan. Pemanasan harus dilakukan melalui kumparan uap (steam
coils), listrik, atau cara lainnya sehingga api tidak langsung memanasi tangki
aspal. Setiap tangki harus dilengkapi dengan sebuah termometer yang terletak
sedemikian hingga temperatur aspal dapat dengan mudah dilihat. Sebuah keran
harus dipasang pada pipa keluar dari setiap tangki untuk pengambilan benda
uji.
Sistem sirkulasi untuk bahan aspal harus mempunyai ukuran yang sesuai agar
dapat memastikan sirkulasi yang lancar dan terus menerus selama periode
pengoperasian. Perlengkapan yang sesuai harus disediakan, baik dengan
selimut uap (steam jacket) atau perlengkapan isolasi lainnya, untuk
mempertahankan temperatur yang disyaratkan dari seluruh bahan pengikat
aspal dalam sistem sirkulasi.
Daya tampung tangki penyimpanan minimum adalah paling sedikit untuk
kuantitas dua hari produksi. Paling sedikit harus disediakan dua tangki yang
berkapasitas sama. Tangki-tangki tersebut harus dihubungkan ke sistem
sirkulasi sedemikian rupa agar masing-masing tangki dapat diisolasi secara
terpisah tanpa mengganggu sirkulasi aspal ke alat pencarnpur.

Untuk campuran aspal yang dimodifikasi, sekurang-kurangnya sebuah tangki


penyimpan aspal tambahan dengan kapasitas yang tidak kurang dari 20 ton
harus disediakan, dipanaskan tidak langsung dengan kumparan minyak atau
pemanas listrik dan dilengkapi dengan pengendali temperatur termostatik yang
mampu mempertahankan temperatur sebesar 175 °C. Tangki ini harus
disediakan untuk penyimpanan aspal yang dimodifikasi selama periode dimana
aspal tersebut diperlukan untuk proyek.
Semua tangki penyimpan aspal untuk pencampuran aspal alam yang
mengandung bahan mineral dan untuk aspal yang dimodifikasi lainnya,
bilamana akan terjadi pemisahan, harus dilengkapi dengan pengaduk mekanis
yang dirancang sedemikian hingga setiap saat dapat mempertahankan bahan
mineral didalam bahan pengikat sebagai suspensi.
3) Tangki Penyimpan Aditif
Tangki penyimpanan aditif dengan kapasitas minimal dapat menyimpan bahan
aditif untuk satu hari produksi campuran beraspal dan harus dilengkapi dengan
dozing pump sehingga dapat memasok langsung aditif ke pugmil dengan
kuantitas dan tekanan tertentu.
4) Ayakan Panas
Ukuran saringan panas yang disediakan harus sesuai dengan ukuran agregat
untuk setiap jenis campuran yang akan diproduksi dengan merujuk ke Tabel
6.3.2.(1 b).
5) Pengendali Waktu Pencampuran
Instalasi harus dilengkapi dengan perlengkapan yang handal untuk mengendalikan
waktu pencampuran dan menjaga waktu pencampuran tetap konstan kecuali
kalau diubah atas perintah Direksi Pekerjaan.
6) Timbangan dan Rumah Timbang
Timbangan harus disediakan untuk menimbang agregat, aspal dan bahan pengisi.
Rumah timbang harus disediakan untuk menimbang truk bermuatan yang siap
dikirim ke tempat penghamparan. Timbangan tersebut harus memenuhi
ketentuan seperti yang dijelaskan di atas.
7) Penvimpanan dan Pemasokan Bahan Pengisi
Silo atau tempat penyimpanan yang tahan cuaca untuk menyimpan dan memasok
bahan pengisi dengan sistem penakaran berat harus disediakan.
8) Penyimpanan dan Pemasokan Aspal Alam
Jika Aspal Alam Berbutir digunakan untuk pekerjaan sebuah tempat penyimpanan
yang tahan cuaca dan elevator yang cocok untuk memasok yang dilengkapi
dengan sistem penakaran berat harus disediakan.
9) Ketentuan Keselamatan Kerja
a) Tangga yang memadai dan aman untuk naik ke landasan (platform) alat
pencampur dan landasan berpagar yang digunakan sebagaijalan antar unit
perlengkapan harus dipasang. Untuk mencapai puncak bak truk,
perlengkapan untuk landasan atau perangkat lain yang sesuai harus
disediakan sehingga Direksi Pekerjaan dapat mengambil benda uji maupun
memeriksa temperatur campuran.

Untuk memudahkan pelaksanaan kalibrasi timbangan, pengambilan benda


uji dan lain-lainnya, maka suatu sistem pengangkat atau katrol harus
disediakan untuk menaikkan peralatan dari tanah ke landasan (platform) atau
sebaliknya. Semua roda gigi, roda beralur (pulley), rantai, rantai gigi dan
bagian bergerak lainnya yang berbahaya harus seluruhnya dipagar dan
dilindungi.
b) Lorong yang cukup lebar dan tidak terhalang harus disediakan di dan sekitar
tempat pengisian muatan truk. Tempat ini harus selalu dijaga agar bebas dari
benda yang jatuh dari alat pencampur.
10) Peralatan Pengangkut
a) Truk untuk mengangkut campuran aspal harus mempunyai bak terbuat dari
logam yang rapat, bersih dan rata, yang telah disemprot dengan sedikit air
sabun, atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya campuran aspal pada
bak. Setiap genangan minyak pada lantai bak truk hasil penyemprotan
sebelumnya harus dibuang sebelum campuran aspal dimasukkan dalam truk.
b) Tiap muatan harus ditutup dengan kanvas/terpal atau bahan lainnya yang
cocok dengan ukuran yang sedemikian rupa agar dapat melindungi
campuran aspal terhadap cuaca. Bilamana dianggap perlu, bak truk
hendaknya diisolasi dan seluruh penutup harus diikat kencang agar
campuran aspal yang tiba di lapangan pada temperatur yang disyaratkan.
c) Truk yang menyebabkan segregasi yang berlebihan pada campuran aspal
akibat sistem pegas atau faktor penunjang lainnya, atau yang menunjukkan
kebocoran oli yang nyata, atau yang menyebabkan keterlambatan yang tidak
semestinya, atas perintah Direksi Pekerjaan harus dikeluarkan dari pekerjaan
sampai kondisinya diperbaiki.
d) Dump Truk yang mempunyai badan menjulur dan bukaan ke arah belakang
harus disetel agar seluruh campuran aspal dapat dituang ke dalam
penampung dari alat penghampar aspal tanpa mengganggu kerataan
pengoperasian alat penghampar dan truk harus tetap bersentuhan dengan
alat penghampar. Truk yang mempunyai lebar yang tidak sesuai dengan
lebar alat penghampar tidak diperkenankan untuk digunakan. Truk aspal
dengan muatan lebih tidak diperkenankan.
e) Jumlah truk untuk mengangkut campuran aspa! harus cukup dan dikelola
sedemikian rupa sehingga peralatan penghampar dapat beroperasi secara
menerus dengan kecepatan yang disetujui.
Penghampar yang sering berhenti dan berjalan lagi akan menghasilkan
permukaan yang tidak rata sehingga tidak memberikan kenyamanan bagi
pengendara serta mengurangi umur rencana akibat beban dinamis. Penyedia
Jasa tidak diijinkan memulai penghamparan sampai minimum terdapat tiga
truk di lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan
penghampar. Kecepatan peralatan penghampar harus dioperasikan
sedemikian rupa sehingga jumlah truk yang digunakan untuk mengangkut
campuran aspal setiap hari dapat menjamin berjalannya peralatan
penghampar secara menerus tanpa henti. Bilamana penghamparan terpaksa
harus dihentikan, maka Direksi Pekerjaan hanya akan mengijinkan
dilanjutkannya penghamparan bilamana minimum terdapat tiga truk di
lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan penghampar.
Ketentuan ini merupakan petunjuk pelaksanaan yang baik dan Penyedia Jasa
tidak diperbolehkan meAuntut tambahan biaya atau waktu atas
keterlambatan penghamparan yang diakibatkan oleh kegagalan Penyedia
Jasa untuk menjaga kesinambungan pemasokan campuran aspal ke
peralatan penghampar.

11) Peralatan Penghampar dan Pembentuk


a) Peralatan penghampar dan pembentuk harus penghampar mekanis
bermesin sendiri yang disetujui, yang mampu menghampar dan membentuk
campuran aspal sesuai dengan garis, kelandaian serta penampang melintang
yang diperlukan.
b) Alat penghampar harus dilengkapi dengan penampung dan dua ulir pembagi
dengan arah gerak yang berlawanan untuk menempatkan campuran aspal
secara merata di depan "screed" (sepatu) yang dapat disetel. Peralatan ini
harus dilengkapi dengan perangkat kemudi yang dapat digerakkan dengan
cepat dan efisien dan harus mempunyai kecepatan jalan mundur seperti
halnya maju. Penampung (hopper) harus mempunyai sayap-sayap yang
dapat dilipat pada saat setiap muatan campuran aspal hampir habis untuk
menghindari sisa bahan yang sudah mendingin di dalamnya.
c) Alat penghampar harus mempunyai perlengkapan elektronik dan/atau
mekanis pengendali kerataan seperti batang perata (leveling beams), kawat
dan sepatu pengarah kerataan (joint matching shoes) dan dan peralatan
bentuk penampang (cross fall devices) untuk mempertahankan ketepatan
kelandaian dan kelurusan garis tepi perkerasan tanpa perlu menggunakan
acuan tepi yang tetap (tidak bergerak).
d) Alat penghampar harus dilengkapi dengan "screed" (perata) baik dengan
jenis penumbuk (tamper) maupun jenis vibrasi dan perangkat untuk
memanasi "screed" (sepatu) pada temperatur yang diperlukan untuk
menghampar campuran aspal tanpa menggusur atau merusak permukaan
hasil hamparan.
e) Istilah "screed" (perata) mengacu pada pengambang mekanis standar
(standard floating mechanism) yang dihubungkan dengan lengan arah
samping (side arms) pada titik penambat yang dipasang pada unit pengerak
alat penghampar pada bagian belakang roda penggerak dan dirancang untuk
menghasilkan permukaan tektur lurus dan rata tanpa terbelah, tergeser atau
beralur.
Bilamana selama pelaksanaan, hasil hamparan peralatan penghampar dan
pembentuk meninggalkan bekas pada permukaan, segregasi atau cacat atau
ketidak-rataan permukaan lainnya yang tidak dapat diperbaiki dengan cara
modifikasi prosedur pelaksanaan, maka penggunaan peralatan tersebut
harus dihentikan dan peralatan penghampar dan pembentuk lainnya yang
memenuhi ketentuan harus disediakan oleh Penyedia Jasa.
12) Peralatan Pemadat
a) Setiap alat penghampar harus disertai paling sedikit satu alat pemadat roda
baja (steel wheel roller) dan satu alat pemadat roda karet (tyre roller). Paling
sedikit harus disediakan satu tambahan alat pemadat roda karet (tire roller)
untuk setiap kapasitas produksi yang melebihi 40 ton perjarn. Semua alat
pemadat harus mempunyai tenaga penggerak sendiri.
b) Alat pemadat roda karet harus dari jenis yang disetujui dan memiliki tidak
kurang dari sembilan roda yang permukaannya halus dengan ukuran yan~
sama dan mampu dioperasikan pada tekanan ban pompa (6,0 - 6,5) kg/cm
atau (85 - 90) psi pada jumlah lapis anyaman ban (ply) yang sama. Roda-
roda harus berjarak sama satu sama lain pada kedua sumbu dan diatur
sedemikian rupa sehingga tengah-tengah roda pada sumbu yang satu
terletak di antara roda-roda pada sumbu yang lainnya secara tumpang-tindih
(overlap). Setiap roda harus dipertahankan tekanan pompanya pada tekanan
operasi yang disyaratkan sehingga selisih tekanan pompa antara dua roda
tidak melebihi 0,35 kg/cm2 (5 psi). Suatu perangkat pengukur tekanan ban
harus disediakan untuk memeriksa dan menyetel tekanan ban pompa di
lapangan pada setiap saat. Untuk setiap ukuran dan jenis ban yang
digunakan, Penyedia Jasa harus memberikan kepada Direksi Pekerjaan
grafik atau tabel yang menunjukkan hubungan antara beban roda, tekanan
ban pompa, tekanan pada bidang kontak, lebar dan luas bidang kontak.
Setiap alat pemadat harus dilengkapi dengan suatu cara penyetelan berat
total dengan pengaturan beban (ballasting) sehingga beban per lebar roda
dapat diubah dalam rentang (300 - 600) kilogram per 0,1 meter. Tekanan dan
beban roda hanas disetel sesuai dengan permintaan Direksi Pekerjaan, agar
dapat memenuhi ketentuan setiap aplikasi khusus. Pada umumnya
pemadatan dengan alat pemadat roda karet pada setiap lapis campuran
aspal harus dengan tekanan yang setinggi mungkin yang masih dapat dipikul
bahan.
c) Alat pemadat roda baja yang bermesin sendiri dapat dibagi atas dua jenis:
* Alat pemadat tandem statis
* Alat pemadat vibrator ganda (twin drum vibratory)
Alat pemadat statis minimum harus mempunyai berat statis tidak kurang dari
8 ton. Alat pemadat vibrator ganda mempunyai berat statis tidak kurang dari
6 ton. Roda gilas harus bebas dari permukaan yang datar, penyok, robekrolek
atau tonjolan yang merusak permukaan perkerasan.
d) Dalam penghamparan percobaan, Penyedia Jasa harus dapat menunjukkan
kom- binasi jenis penggilas untuk memadatkan setiap jenis campuran sampai
dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan, sebelum JMF disetujui. Penyedia Jasa
harus melanjutkan untuk menyimpan dan menggunakan kombinasi penggilas
yang disetujui untuk setiap campuran. Tidak ada alternatif lain yang dapat
diperkenankan kecuali jika Penyedia Jasa dapat menunjukkan kepada
Direksi Pekerjaan bahwa kombinasi penggilas yang baru paling sedikit
seefektif yang sudah disetujui
12) Perlengkapan Lainnya
Semua perlengkapan lapangan yang harus disedikan termasuk tidak terbatas
pada :
• Mesin Penumbuk (Petrol Driven Vibrating Plate).
• Alat pemadat vibrator, 600 kg.
• Mistar perata 3 meter.
• Thermometer (jenis arloji) 200 ° C (minimum tiga unit).
• Kompresor dan jack hammer.
• Mistar perata 3 meter yang dilengkapi dengan waterpass dan dapat
disesuaikan untuk pembacaan 3% atau lereng melintang lainnya dan super-
elevasi antara 0 sampai 6%.
• Mesin potong dengan mata intan atau serat.
• Penyapu Mekanis Berputar.
• Pengukur kedalaman aspal yang telah dikalibrasi.
• Pengukur tekanan ban.
2.5 PEMBUATAN DAN PRODUKSI CAMPURAN BERASPAL
1) Kemajusn Pekerjaan
Kecuali untuk pekerjaan manual atau penambalan, campuran beraspal tidak
boleh diproduksi bilamana tidak cukup tersedia peralatan pengangkutan,
penghamparan atau pembentukan, atau pekerja, yang dapat menjamin
kemajuan pekerjaan dengan tingkat kecepatan minimum 60 % kapasitas
instalasi pencampuran.
2) Penyiapan Bahan Aspal
Bahan aspal harus dipanaskan dengan temperatur sampai dengan 160 °C di
dalam suatu tangki yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencegah
terjadinya pemanasan langsung setempat dan mampu mengalirkan bahan aspal
secara berkesinambungan ke alat pencampur secara terus menerus pada
temperatur yang merata setiap saat. Pada setiap had sebelum proses
pencampuran dimulai, kuantitas aspal minimum harus mencukupi untuk
perkerjaan yang direncanakan pada hari itu yang siap untuk dialirkan ke alat
pencampur.
3) Penyiapan Agegat
a) Setisp fraksi agregat harus disatwkan ke instalasi pencampw aspal melaiui
pemasok penampung dingin yang terpisah. Pra-pencampuran agregat dari
berbagai jenis atau dari sumber yang berbeda tidak diperkenankan. Agregat
untuk carnpuran beraspal harus dikeringkan dan dipanaskan pada alat
pengering sebelum dimasukkan ke dalam alat pencampur. Nyala api yang
terjadi dalam proses pengeringan dan pemanasan harus diatur secara tepat
agar dapat mencegah terbentuknya selaput jelaga pada agregat.
b) Bila agregat akan dicampur dengan bahan aspal, maka agregat harus kering
clan dipanaskan terlebih dahulu dengan temperatur dalam rentang yang
disyara.tkan untuk bahan aspal, tetapi tidak melampaui 10 °C di atas
temperatw bahan aspal.
c) Bahan pengisi (filler) tambahan harus ditakar secara terpisah dalam
penampung kecil yang dipasang tepat di atas alat pencampur. Bahan pengisi
tidak boleh ditabur di atas tumpukan agregat maupun dituang ke dalam
penampung instalasi pemecah batu. Hal ini dimaksudkan agar pengendalian
kadar filter dapat dijamin.
4) Penyiapan Pencampuran
a) Agregat kering yang telah disiapkan seperti yang dijelaskan di atas, harus
dicampur di instalasi pencampuran dengan proporsi tiap fraksi agregat yang
tepat agar memenuhi rumusan campuran kerja (JMF). Proporsi takaran ini
harus ditentukan dengan mencari gradasi secara bash dari contoh yang
diambil dari penampung panas (hot bin) segera sebelum produksi campuran
dimulai dan pada interval waktu tertentu sesudahnya, sebagaimana
ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan, untuk menjamin pengendalian penakaran.
Bahan aspal harus ditimbang atau diukw dan dimasukkan ke dalam alat
pencampur dengan jumlah yang ditetapkan sesuai dengan JIvg'. Bilamana
digunakan instalasi pencampur sistem penakaran, di dalam unit pengaduk
seluruh agregat harus dicampur kering terlebih dahulu, kemudian baru aspal
clan aditif dengan jumlah yang tepat disemprotkan langsung ke dalam unit
pengaduk dan diaduk dengan waktu sesingkat mungkin yang telah ditentukan
untuk menghasilkan campuran yang homogen dan semua butiran agregat
terselimuti aspal dengan merata. Waktu pencampuran total harus ditetapkan
oleh Direksi Pekerjaan dan diatw dengan perangkat pengendali waktu yang
handal. Lamanya waktu pencampuran harus ditentukan secara berkala atas
perintah Direksi Pekerjaan melalui "pengujian derajat penyelimutan aspal
terhadap butiran agregat kasar" sesuai dengan prosedw AASHTO T195-67
(2007) (biasanya sekitar 45 detik).
b) Temperatur campuran beraspal saat dikeluarkan dari alat pencampur harus
dalam rentang absolute seperti yang di.jelaskan dalam tabel 6.3.5.(1). Tidak
ada campuran bcraspal yang diterima dalam pekerjaan bilamana temperatur
pencampuran melampaui temperatur pencampuran maksimum yang
disyaratkan.
5) Temperatur Pembuatan dan Penghamparan Campuran
Viskositas aspal untukmasing-untukmasing prosedur pelaksanaan dan perkiraan
temperatur aspal umumnya seperti yang dicantumkan Tabel 6.3.5(1). Direksi
Pekerjaan dapat memerintahkan atau menyetujui rentang temperatur lain
berdasarkan pengujian viskositas aktual aspal atau aspal modifikasi yang
digunakan pada proyek tersebut, dalam rentang viskositas seperti diberikan pada
Tabel 6.3.5.(1) dengan melihat sifat-sifat campuran di lapangan saat
penghamparan, selama pemadatan dan hasil pengujian kepadatan pada ruas
percobaan. Campuran aspal yang tidak memenuhi batas temperatur yang
disyaratkan pada saat pencurahan dari AMP kedalam truk, atau pada saat
pengiriman ke alat penghampar, tidak boleh diterima untuk digunakan pada
pekerjaan yang permanen.

Tabel 6.3.5.(1) Ketentuan Viskositas & Temepratur Aspal untuk


Pencampuran & Pemadatan

No. Prosedur Pelaksanaan Viskositas Perkiraan Temperatur


Aspal Aspal (ºC)
(Pas) Tipe I Tipe IIB & C
1. Pencampuran benda uji 0,2 155 ± 1 165 ± 1
Marshall
2. Pemadatan benda uji Marshall 0,4 145 ± 1 155 ± 1
3. Pencampuran, rentang 0,2 – 0,5 145 – 155 – 165
temperatur sasaran 155
4. Menuangkan campuran aspal ± 0,5 135 – 145 – 160
dari alat pencampur ke dalam 150
truk
5. Pemasokan ke Alat 0,5 – 1,0 130 – 140 – 160
Penghampar 150
6. Pemadatan Awal (roda baja) 1-2 125 – 135 – 155
145
7. Pemadatan Antara (roda karet) 2-20 100 – 110 – 135
125
8. Pemadatan Akhir (roda baja) < 20 > 95 > 105
Catatan :
1 Pas = 100 cSt dimana :
Pas : Pascal Seconds
cSt : Centistokes

Penentuan temperatur pencampuran dan pemadatan aspal Tipe IIA harus


dilakukan berdasarkan nilai viskositas seperti yang tertera Tabel 6.3.5.(1).
Contoh grafik hubungan antara viskositas dan temperatur ditunjukkan pada
Gambar 6.33.5.(1).

2.6 PENGHAMPARAN CAMPURAN


1) Menyiapkan Penmukaan Yang Akan Dilapisi
a) Bilamana permukaan yang akan dilapisi termasuk perataan setempat dalam
kondisi rusak, menunjukkan ketidakstabilan, atau permukaan aspal lama
telah berubah bentuk secara berlebihan atau tidak melekat dengan baik
dengan tapisan di bawahnya, harus dibongkar atau dengan cara perataan
kembali lainnya, semua bahan yang lepas atau lunak harus dibuang, dan
permukaannya dibersihkan dan/atau diperbaiki dengan campuran beraspal
atau bahan lain yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana permukaan
yang akan dilapisi terdapat atau mengandung sejumlah bahan dengan
rongga dalarn campuran yang tidak memadai, sebagimana yang ditunjukkan
dengan adanya kelelehan plastis dan/atau kegemukan (bleeding), seluruh
lapisan dengan bahan plastis ini harus dibongkar. Pembongkaran semacam
ini harus diteruskan ke bawah sampai diperoleh bahan yang keras (sound).
Toleransi permukaan setelah diperbaiki harus sama dengan yang disyaratkan
untuk pelaksanaan lapis pondasi agregat.
b) Sesaat sebelum penghamparan, permukaan yang akan dihampar harus
dibersihkan dari bahan yang lepas dan yang tidak dikehendaki dengan sapu
mekanis yang dibantu dengan cara manual bila diperlukan. Lapis perekat
(tack coat) atau lapis resap pengikat (prime coat) harus diterapkan sesuai
dengan Seksi 6.1 dari Spesifikasi ini.

2) Acuan Tepi
Untuk menjamin sambungan memanjang vertikal maka harus digunakan besi profil
siku dengan ukuran tinggi 5 mm lebih kecil dari tebal rencana dan dipakukan
pada perkerasan dibawahnya.
3) Penghamparan Dan Pembentukan
a) Sebelum memulai penghamparan, sepatu (screed) alat penghampar harus
dipanaskan. Campuran beraspal harus dihampar dan diratakan sesuai
dengan kelandaian, elevasi, serta bentuk penampang melintang yang
disyaratkan.
b) Penghamparan harus dimulai dari lajur yang lebih rendah menuju lajur yang
lebih tinggi bilamana pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu lajur.
c) Mesin vibrasi pada screed alat penghampar harus dijalankan selama
penghamparan dan pembentukan.
d) Penampung alat pengharnpar (hopper) tidak boleh dikosongkan, sisa
campuran beraspal harus dijaga tidak kurang dari temperatur yang
disyaratkan dalam Tabel 6.3.5(1).
e) Alat penghampar harus dioperasikan dengan suatu kecepatan yang tidak
menyebabkan retak permukaan, koyakan, atau bentuk ketidakrataan lainnya
pada permukaan. Kecepatan penghamparan harus disetujui oleh Direksi
Pekerjaan dan ditaati.
f) Bilamana terjadi segregasi, koyakan atau alur pada permukaan, maka alat
penghampar harus dihentikan dan tidak boleh dijalankan lagi sampai
penyebabnya telah ditemukan dan diperbaiki.
g) Proses perbaikan lubang-lubang yang timbul karena terlalu kasar atau bahan
yang tersegregasi karena penaburan material yang halus sedapat mungkin
harus dihindari sebelum pemadatan. Butiran yang kasar tidak boleh
ditebarkan diatas permukan yang telah padat dan bergradasi rapat.
h) Harus diperhatikan agar campuran tidak terkumpul dan mendingin pada tepi-
tepi penampung alat penghampar atau tempat lainnya.
i) Bilamana jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya satu
lajur untuk setiap kali pengoperasian, maka urutan penghamparan harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara panjang
penghamparan lajur yang satu dengan yang bersebelahan pada setiap hari
produksi dibuat seminimal mungkin.
j) Selama pekerjaan penghamparan fungsi-fungsi berikut ini harus dipantau dan
dikendalikan secara elektronik atau secara manual sebagaimana yang
diperlukan untuk menjamin terpenuhinya elevasi rancangan dan toleransi
yang disyaratkan serta ketebalan dari lapisan beraspal:
i) Tebal hamparan aspal gembur sebelum dipadatkan, sebelum
dibolehkannya pemadatan (diperlukan pemeriksaan secara manual)
ii) Kelandaian sepatu (screed) alat penghampar untuk menjamin
terpenuhinya lereng melintang dan super elevasi yang diperlukan.
iii) Elevasi yang sesuai pada sambungan dengan aspal yang telah dihannpar
sebelumnya, sebelum dibolehkannya pemadatan.
iv) Perbaikan penampang memanjang dari permukaan aspal lama dengan
menggunakan batang perata, kawat baja atau hasil penandaan survei.
4) Pemadatan
a) Segera setelah campuran beraspal dihampar dan diratakan, permukaan
tersebut harus diperiksa dan setiap ketidaksempurnaan yang terjadi harus
diperbaiki. Temperatur campuran beraspal yang terhampar dalam keadaan
gembur harus dipantau dan penggilasan harus dimulai dalam rentang
viskositas aspal yang ditunjukkan pada Tabe16.3.5.(1)
b) Pemadatan campuran beraspal harus terdiri dari tiga operasi yang terpisah
berikut ini :
l. Pemadatan Awal
2. Pemadatan Antara
3. Pemadatan Akhir
c) Pemadatan awal atau breakdown rolling harus dilaksanakan baik dengan alat
pemadat roda baja. Pemadatan awal harus dioperasikan dengan roda
penggerak berada di dekat alat penghampar. Setiap titik perkerasan harus
menerima minimum dua lintasan pengilasan awal.
Pemadatan kedua atau utama harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda
karet sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. Pemadatan akhir atau
penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa
penggetar (vibrasi). Bila hamparan aspal tidak menunjukkan bekas jejak roda
pemadatan setelah pemadatan kedua, pemadatan akhir bisa tidak dilakukan.
d) Pertama-tama pemadatan harus dilakukan pada sambungan melintang yang
telah berpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan
pergerakan campuran beraspal akibat penggilasan. Bila sambungan
melintang dibuat untuk menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya,
maka lintasan awal harus dilakukan sepanjang sambungan memanjang untuk
suatu jarak yang pendek dengan posisi alat pemadat berada pada lajur yang
telah dipadatkan dengan tumpang tindih pada pekerjaan baru kira-kira 15 cm.
e) Pemadatan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian
dari tepi luar. Selanjutnya, penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan
berurutan menuju ke arah sumbu jalan, kecuali untuk supereievasi pada
tikungan harus dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak kearah yang
lebih tinggi. Lintasan yang berurutan harus saling tumpang tindih (overlap)
minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak boleh
berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya.
f) Bilamana menggilas sambungan memanjang, alat pemadat untuk
pemadatan awal harus terlebih dahulu memadatkan lajur yang telah
dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari lebar roda
pemadat yang memadatkan tepi sambungan yang belum dipadatkan.
Pemadatan dengan lintasan yang berurutan harus dilanjutkan dengan
menggeser posisi alat pemadat sedikit demi sedikit melewati sambungan,
sampai tercapainya sambungan yang dipadatkan dengan rapi.
g) Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan
10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak
mengakibatkan bergesemya campuran panas tersebut. Garis, kecepatan dan
arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan cara yang
menyebabkan terdorongnya campuran beraspal.
h) Semua jenis operasi penggilasan harus dilaksanakan secara menerus untuk
memperoleh pemadatan yang merata saat campuran beraspal masih dalam
kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan
ketidakrataan dapat dihilangkan.
i) Roda alat pemadat harus dibasahi dengan cara pengabutan secara terus
menerus untuk mencegah pelekatan campuran beraspal pada roda alat
pemadat, tetapi air yang berlebihan tidak diperkenankan. Roda karet boleh
sedikit diminyaki untuk menghindari lengketnya campuran beraspal pada
roda.
j) Peralatan berat atau alat pemadat tidak diijinkan berada di atas permukaan
yang baru selesai dikerjakan, sampai seluruh permukaan tersebut dingin.
k) Setiap produk minyak bumi yang tumpah atau tercecer dari kendaraan atau
perlengkapan yang digunakan oleh Penyedia Jasa di atas perkerasan yang
sedang dikerjakan, dapat menjadi alasan dilakukannya pembongkaran dan
perbaikan oleh Penyedia Jasa atas perkerasan yang terkontaminasi,
selanjutnya semua biaya pekerjaaan perbaikan ini menjadi beban Penyedia
Jasa.
1) Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng
melintang dan kelandaian yang memenuhi toleransi yang disyaratkan. Setiap
campuran beraspal padat yang menjadi lepas atau rusak, tercampur dengan
kotoran, atau rusak dalam bentuk apapun, harus dibongkar dan diganti
dengan campuran panas yang baru serta dipadatkan secepatnya agar sama
dengan lokasi sekitarnya. Pada tempat-tempat tertentu dari campuran
beraspal terhampar dengan luas 1000 cm 2 atau lebih yang menunjukkan
kelebihan atau kekurangan bahan aspal harus dibongkar dan diganti. Seluruh
tonjolan setempat, tonjolan sambungan, cekungan akibat ambles, dan
segregasi permukaan yang keropos harus diperbaiki sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
m)Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan, Penyedia Jasa
harus memangkas tepi perkerasan agar bergaris rapi. Setiap bahan yang
berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah pemadatan akhir, dan dibuang
oleh Penyedia Jasa di luar daerah milik jalan sehingga tidak kelihatan dari
jalan yang lokasinya disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
5) Sambungan
a) Sambungan memanjang maupun melintang pada lapisan yang berurutan
harus diatur sedemikian rupa agar sambungan pada lapis satu tidak terletak
segaris yang lainnya. Sambungan memanjang harus diatur sedemikian rupa
agar sambungan pada lapisan teratas berada di pemisah jalur atau pemisah
lajur lalu lintas.
b) Campuran beraspal tidak boleh dihampar di samping campuran beraspal
yang telah dipadatkan sebelurnnya kecuali bilamana tepinya telah tegak lurus
atau telah dipotong tegak lurus atau dipanaskan dengan menggunakan lidah
api (dengan menggunakan alat burner). Bila tidak ada pemanasan, maka
pada bidang vertikal sambungan harus lapis perekat.

2.7 PENGENDALIAN MUTU DAN PEMERIKSAAN DI LAPANGAN


1) Penguiian Permukaan Perkerasan
a) Pemukaan perkerasan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3 m,
yang disediakan oleh Penyedia Jasa, dan harus dilaksanakan tegak lurus dan
sejajar dengan sumbu jalan sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan untuk
memeriksa seluruh permukaan perkerasan. Toleransi harus sesuai dengan
ketentuan dalam Pasal 6.3.1.(4).(f).
b) Pengujian untuk memeriksa toleransi kerataan yang disyaratkan harus
dilaksanakan segera setelah pemadatan awal, penyimpangan yang terjadi
harus diperbaiki dengan membuang atau menambah bahan sebagaimana
diperlukan. Selanjutnya pemadatan dilanjutkan seperti yang dibutuhkan.
Setelah penggi-lasan akhir, kerataan lapisan ini harus diperiksa kembali dan
setiap ketidak-rataan penmukaan yang melampaui batas-batas yang
disyaratkan dan setiap lokasi yang cacat dalam tekstur, pemadatan atau
komposisi harus diperbaiki sebagaiamana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.
c) Kerataan permukaan perkerasan
i) Kerataan permukaan lapis perkerasan penutup atau lapis aus segera
setelah pekerjaan selesai harus diperiksa kerataannya dengan
menggunakan alat ukur kerataan NAASRA-Meter sesuai SNI 033426-
1994.
ii) Cara pengukuran/pembacaan kerataan harus dilakukan setiap interval 100
m.
2) Ketentuan Kepadatan
a) Kepadatan semua jenis campuran beraspal yang telah dipadatkan, seperti
yang ditentukan dalam SNI 03-6757-2002, tidak boleh kurang dari 97 %
Kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density) yang tertera dalam JMF
untuk Lataston (HRS) dan 98 % untuk semua campuran beraspal lainnya.
b) Benda uji inti untuk pengujian kepadatan harus sama dengan benda uji untuk
pengukuran tebal lapisan. Cara pengambilan benda uji campuran beraspal
dan pemadatan benda uji di laboratorium masing-masing harus sesuai
dengan SNI-06-2489-1991 untuk ukuran butir maksimum 25 mm atau ASTM
D558196 untuk ukuran maksimum 50 mm.
c) Benda uji inti paling sedikit harus diambil dua titk pengujian per penampang
melintang per lajur dengan jarak memanjang antar penampang melintang
yang diperiksa tidak lebih dari 100 m.
d) Penyedia Jasa dianggap telah memenuhi kewajibannya dalam memadatkan
cam-puran aspal bilamana kepadatan lapisan yang telah dipadatkan sama
atau lebih besar dari nilai-nilai yang diberikan Tabel 6.3.7.(1). Bilamana rasio
kepadatan maksimum dan minimum yang ditentukan dalam serangkaian
benda uji inti pertama yang mewakili setiap lokasi yang diukur untuk
pembayaran, lebih besar dari 1,08 maka benda uji inti tersebut harus dibuang
dan serangkaian benda uji inti baru harus diambil.

Tabel 6.3.7. (1) Ketentuan Kepadatan

Kepadatan yang Jumlah benda uji Kepadatan Nilai minimum


disyaratkan (% persegmen Minimum Rata- setiap pengujian
JSD) rata (% JSD) tunggal (% JSD)
3–4 98,1 95
98 5 98,3 94,9
>6 98,5 94,8
3–4 97,1 94
97 5 97,3 93,9
>6 97,5 93,8

3) Jumlah Pengmbilan Benda Uji Campuran beraspal


a) Pengambilan Benda Uji Campuran beraspal
Pengambilan benda uji umumnya dilakukan di instalasi pencampuran aspal,
tetapi Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan pengambilan benda uji di
lokasi penghamparan bilamana terjadi segregasi yang berlebihan selama
pengangkutan dan penghamparan campuran beraspal.
b) Pengendalian Proses
Frekwensi minimum pengujian yang diperlukan dari Penyedia Jasa untuk
maksud pengendalian proses harus seperti yang ditunjukkan dalam Tabel
6.3.7.(2) di bawah ini atau sampai dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.
Penyedia Jasa yang mengoperasikan rencana jaminan mutu produksi yang
disetujui, berdasarkan data statistik dan yang mencapai suatu tingkat tinggi
dari pemenuhan terhadap ketentuan-ketentuan spesifikasi dapat meminta
persetujuan dari Direksi Pekerjaan untuk pengurangan jumlah pengujian
yang dilaksanakan.
Contoh yang diambil dari penghamparan campuran beraspal setiap hari
hams dengan cara yang diuraikan di atas dan dengan frekuensi yang
diperintahkan dalam Pasal 6.3.7.(3) dan 6.3.7.(4). Enam cetakan Marshall
harus dibuat dari setiap contoh. Benda uji harus dipadatkan pada ternperatur
yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.5.(1) dan dalam jumlah tumbukan yang
disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(1). Kepadatan benda uj i rata-rata (Gmb) dari
semua cetakan Marshall yang dibuat setiap hari akan menjadi Kepadatan
Marshall Harian.
Direksi Pekerjaan harus memerintahkan Penyedia Jasa untuk mengulangi
proses campuran rancangan dengan biaya Penyedia Jasa sendiri bilamana
Kepadatan Marshall Harian rata-rata dari setiap produksi selama empat hari
berturut-turut berbeda lebih 1 % dari Kepadatan Standar Kerja (JSD).
Untuk mengurangi kuantitas bahan terhadap resiko dari setiap rangkaian
pengujian, Penyedia Jasa dapat memilih untuk mengambil contoh di atas
ruas yang lebih panjang (yaitu, pada suatu frekuensi yang lebih besar) dari
yang diperlukan dalam Tabe16.3.7.(2).

Tabel 6.3.7. (2) Pengendalian Mutu

Bahan dan Pengujian Frekwensi pengujian


Aspal :
Aspal berbentuk drum 3 dari jumlah drum
Aspal curah Setiap tangki aspal
Jenis pengujian aspal drum dan curah mencakup :
Penetrasi dan Titik Lembek
Asbuton butir / Aditif Asbuton 3 dari jumlah kemasan
- Kadar air
- Ekstraksi (kadar aspal)
- Ukuran butir maksimum
- Penetrasi aspal asbuton
Agregat :
- Abrasi dengan mesin Los Angeles Setiap 5.000 m3
- Gradasi agregat yang ditambahkan ke tumpukan Setiap 1.000 m3
- Gradasi agregat dari penampung panas (hot bin) Setiap 250 m3 (min. 2
pengujian per hari)
- Nilai setara pasir (sand equivalent) Setiap 250 m3

Campuran :
- Suhu di AMP dan suhu saat sampai di lapangan Setiap batch dan
pengiriman
- Gradasi dan kadar aspal Setiap 200 ton (min. 2
pengujian per hari)
- Kepadatan, stabilitas, kelelahan, Marshall Setiap 200 ton (min. 2
Quotient, rongga dalam campuran pd. 75 pengujian per hari)
tumbukan
- Rongga dalam campuran pd. Kepadatan Setiap 3.000 ton
Membal
- Campuran Rancangan (Mix Design) Marshall Setiap perubahan
agregat / rancangan
Lapisan yuang dihampar :
- Benda uji inti (core) berdiameter 4” untuk partikel 6 benda uji inti untuk
ukuran maksimum 1” dan 6” untuk partikel setiap kelipatan 200
ukuran di atas 1”, baik untuk pemeriksaan meter meter panjang
pemadatan maupun tebal lapisan : per lajur dan 3 panjang
dari “kelipatan terakhir
dari 200 meter ditambah
sisa panjang yang
kurang dari 200 meter”
per lajur
Toleransi Pelaksaan :
- Elevasi permukaan, untuk penampang Paling sedikit 3 titik
melintang dari setiap jalur lalu lintas yang diukur melintang
pada paling sedikit
setiap 12,5 meter
memanjang sepanjang
jalan tersebut.

c) Pemeriksaan dan Penguiian Rutin


Pemeriksaan dan pengujian rutin harus dilaksanakan oleh Penyedia Jasa di
bawah pengawasan Direksi Pekerjaan untuk rnenguji pekerjaan yang sudah
diselesaikan sesuai toleransi dimensi, mutu bahan, kepadatan pemadatan
dan setiap ketentuan lainnya yang disebutkan dalam Seksi ini.
Setiap bagian pekerjaan, yang menurut hasil pengujian tidak memenuhi
ketentuan yang disyaratkan harus diperbaiki sedemikian rupa sehingga
setelah diperbaiki, pekerjaan tersebut memenuhi semua ketentuan yang
disyaratkan, semua biaya pembongkaran, pembuangan, penggantian bahan
maupun perbaikan dan pengujian kembali menjadi beban Penyedia Jasa.
d) Pengambilan Benda Uji Inti dan Uji Ekstraksi Lapisan Beraspal
Penyedia Jasa harus menyediakan mesin bor pengambil benda uji inti (core)
yang mampu memotong benda uji inti berdiameter 4" maupun 6" pada lapisan
beraspal yang telah selesai dikerjakan. Benda uji inti tidak boleh digunakan
untuk pengujian ekstraksi. Uji ektraksi harus dilakukan menggunakan benda uji
campuran beraspal gembur yang ambil di belakang mesin penghampar.
4) Pengujian Pengendalian Mutu Campuran beraspal
a) Penyedia Jasa harus menyimpan catatan seluruh pengujian dan catatan
tersebut harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan tanpa keterlambatan.
b) Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan hasil dan
catatan pengujian berikut ini, yang dilaksanakan setiap hari produksi, beserta
lokasi penghamparan yang sesuai :
i) Analisa ayakan (cara basah), paling sedikit dua contoh agregat per hari
dari setiap penampung panas.
ii) Temperatur campuran saat pengambilan contoh di instalasi pencampur
aspal (AMP) maupun di lokasi penghamparan (satu per jam).
iii) Kepadatan Marshall Harian dengan detail dari semua benda uji yang
diperiksa.
iv) Kepadatan hasil pemadatan di lapangan dan persentase kepadatan
lapangan relatif terhadap Kepadatan Campuran Kerja (Job Mix Density)
untuk setiap benda uji inti (core).
v) Stabilitas, kelelehan, Marshall Quotient, paling sedikit dua contoh per
hari.
vi) Kadar bitumen aspal keras maupun aspal modifikasi dalam campuran
aspal dan gradasi agregat yang ditentukan dari hasil ekstraksi
campuran aspal paling sedikit dua contoh per hari. Bilamana cara
ekstraksi sentrifugal digunakan maka koreksi abu harus dilaksanakan
seperti yang disyaratkan SNI 03-3640-1994.
vii) Untuk bahan pengisi yang ditambahkan (filler added) dari Kapur,
Semen, Asbuton yang digunakan sebagai bahan pengisi tambahan
(filler added) ditentukan dengan mencatat kuantitas silo atau
penampung sebelum dan setelah produksi.
viii) Rongga dalam campuran pada kepadatan Marshall dan kepadatan
membal (refusal), yang dihitung berdasarkan Berat Jenis Maksimum
campuran perkerasan aspal (SNI 03-6893-2002).
ix) Kadar aspal yang terserap oleh agregat, yang dihitung berdasarkan
Berat jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (SNI 03-68932002).
x) Kadar bahan anti pengelupasan (anti stripping agent) ditentukan
dengan mencatat volume tanki sebelum dan sesudah produksi dan juga
diperiksa dengan pengujian Stabilitas Marshall sisa untuk setiap 200 ton
produksi.
5) Pengendalian Kuantitas dengan Menimbang Campuran beraspai
Dalam pemeriksaan terhadap pengukuran kuantitas untuk pembayaran,
campuran beraspal yang dihampar harus selalu dipantau dengan tiket
pengiriman campuran beraspal dari nunah timbang sesuai dengan
Pasa16.3.1.(4).(e) dari Spesifikasi ini.

2.8 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


1) Pengukuran Pekedaan
a) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran campuran beraspal haruslah
berdasarkan ketentuan di bawah ini :
i) Untuk lapisan bukan perata (misalnya HRS-WC, HRS-Base, AC-WC, AC-
WC Mod, AC-BC, AC-BC Mod. AC-Base, dan AC-Base Mod) adalah
jumlah tonase bersih dari campuran yang tetah dihampar dan diterima,
yang dihitung sebagai hasil perkalian luas lokasi yang diterima dan tebal
yang diterima dengan kepadatan campuran yang diperoleh dari pengujian
benda uji inti (core). Tonase bersih adalah selisih dari berat campuran
aspal dengan berat aspal, bahan anti pengelupasan (anti stripping agent).
ii) Untuk lapisan perata (misalnya HRS-WC(L), HRS-Base(L), ACWC(L), AC-
BC(L), dsb) adalah jumlah tonase bersih dari campuran yang telah
dihampar dan diterima sesuai dengan ketentuan pada Pasal 6.3.8 (l)(c).
Tonase bersih adalah selisih dari berat campuran aspal dengan berat
aspal bahan anti pengelupasan (anti stripping agent.
iii) Untuk bahan anti pengelupasan adalah jumlah kilogram bahan yang
digunakan dan diterima.

b) Kuantitas yang diterirna untuk pengukuran tidak boleh meliputi lokasi dengan
tebal hamparan kurang dari tebal minimum yang dapat diterima atau setiap
bagian yang terkelupas, terbelah, retak atau menipis (tapered) di sepanjang
tepi perkerasan atau di tempat lainnya. Lokasi dengan kadar aspal yang tidak
memenuhi kadar aspal optimum yang ditetapkan dalam JMF dan toleTansi
yang disyaratkan dalam Tabel b.3.3.(2), tidak akan diterima untuk
pembayaran.
c) Campuran beraspal yang dihampar langsung di atas permukaan aspal lama
yang dilaksanakan pada kontrak yang lalu, menurut pendapat Direksi
Pekerjaan memerlukan koreksi bentuk yang cukup besar, harus dihitung
berdasarkan nilai terkecil antara a) jumlah tonase dari bahan yang telah
dihampar dan diterima berdasarkan berat campuran beraspal yang diperoleh
dari penimbangan muatan di rumah timbang, dan b) hasil perkalian antara
tebal rata-rata yang diterima dengan luas penghamparan aktual yang diterima
dan dan kepadatan lapangan rata-rata. Bilamana tebal rata-rata campuran
beraspal melampaui yang perkiraan yang dibutuhkan (diperlukan untuk
perbaikan bentuk), maka tebal rata-rata yang digunakan dan diterima oleh
Direksi Pekerjaan yang diperhitungkan untuk pembayaran. Bagaimanapun
jug, jumlah tonase campuran beraspal yang telah terhampar dan diterima
tidak boleh melampaui berat campuran beraspal diperoleh dari penimbangan
muatan di rumah timbangan.
d) Kecuali yang disebutkan dalam (c) di atas, rnaka tebai campuran beraspal
yang diukur untuk pembayaran tidak boleh lebih besar dari tebal rancangan
yang ditentukan dalam Gambar Rencana.
Tidak ada penyesuaian kuantitas untuk ketebalan yang melebihi tebal
rancangan bila campuran beraspal tersebut dihampar di atas permukaan
yang juga dikerjakan dalam kontrak ini, kecuali jika diperintahkan lain oleh
Direksi Pekerjaan.
e) Lebar hamparan campuran beraspal yang akan dibayar harus seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar Rencana dan harus diukur dengan pita ukur oleh
Penyedia Jasa di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan. Pengukuran harus
dilakukan tegak lurus sumbu jalan per 25 meter atau lebih rapat sebagaimana
yang diperintahkan Direksi Pekerjaan dan tidak termasuk lokasi hamparan
yang tipis atau tidak memenuhi ketentuan sepanjang tepi hamparan. Interval
jarak pengukuran memanjang harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan tetapi harus selalu berjarak sama dan tidak lebih dari 25 meter.
Lebar yang akan digunakan dalam menghitung luas untuk pembayaran setiap
lokasi perkerasan yang diukur, harus merupakan lebar rata-rata yang diukur
dan disetujui.
f) Pelapisan campuran beraspal dalarn arah memanjang harus diukur
sepanjang sumbu jalan dengan menggunakan prosedur pengukuran standar
ilmu ukur tanah.
g) Bilamana Direksi Pekerjaan menerima setiap campuran beraspal dengan
kadar aspal rata-rata yang lebih rendah dari kadar aspal yang ditetapkan
dalam rumus campuran kerja. Pembayaran campuran aspal akan dihitung
berdasarkan tonase hamparan yang dikoreksi menuru dalam butir 9h) di
bawah dengan menggnakan factor koreksi berikut ini. Tidak ada penyesuaian
yang akan dibuat untuk kadar aspal yang melampaui nilai yang disyaratkan
dalam rumus Campuran Kerja.
Kadar Aspal rata-rata yang diperoleh dari hasil ekstraksi
Cb =
Kadar aspal yang ditetapkan dalam Rumus Campuran Kerja

h) Tonase yang diguanakan untuk pembayaran adalah :


Tonase seperti disebutkan pada butir (a) diatas x Cb
i) bilamana perbaikan pada campuran aspal yang tidak memenuhi ketentuan
telah diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan Pasal ketentuan
6.3.1.(8) dari spesifikasi ini, maka kuantitas yang diukur unutk pembayaran
haruslah kuantitas yang akan dibayar bila pekerjaan semula dapat diterima.
Tidak ada pembayaran tambahan unutk pekerjaan atau kuantitas tambahan
yang diperlakukan untuk perbaikan tersebut.
j) Kadar aspal actual (kadar aspal efektif + penyerapan aspal) yang digunakan
Penyedia Jasa dalam menghitung harga satuan untuk berbagai campuran
beraspal yang termasuk dalam penawarannya haruslah berdasarkan
perkiraannya sendiri. Tidak ada penyesuaian harga yang akan dibuat
sehubungan dengan perbedaan kadar aspal optimum yang ditetapkan dalam
JMF dan kadar aspal dalam analisa harga satuan dalam penawaran.
2) Dasar Pembayaran
Kuantitas yang sebagaimana ditentukan di atas harus dibayar menurut Harga
Kontrak per satuan pengukuran, untuk Mata Pembayaran yang ditunjukkan di
bawah ini dan dalam Daftar Kuantintas dan Harga, dimana harga dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk mengadakan
dan memproduksi dan menguji dan mencampur serta menghampar semua
bahan, termasuk semua pekerja, peralatan, pengujian, perkakas dan
pelengkapan lainnya yang diperlukan untuk percobaan penghamparan dan
menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran
- Laston Lapis Aus (AC-WC) (gradasi halus/kasar) M2
- lastonLapis Antara (AC-BC) M3
(gradasi halus/kasar)
DAFTAR ISI
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT TAMAN LABIRIN

Bab 1 Spesifikasi Teknis


Bab 2 Sarat-Sarat Umum Pekerjaan
Bab 3 Pekerjaan Tanah
Bab 4 Pekerjaan Hardscape
1. Pekerjaan Beton
2. Pekerjaan Pasangan
Bab 5 Pekerjaan Aksesoris Pelengkap
1. Pekerjaan Kosntruksi Atap
2. Pekerjaan Penutup Atap Membran
3. Pekerjaan Tempat Duduk BSP
4. Pekerjaan Tempat Duduk Beton
Bab 6 Pekerjaan Taman / Lanskap
- Lingkup Pekerjaan
- Persyaratan Bahan
- Bahan Untuk Pemaliharaan
- Persyaratan Pelaksanaaan
- Pekerjaan Penanaman
- Pemeliharaan tanaman
- Penyiraman Tanaman
- Penyiangan Tanaman
- Pemangkasan
- Pemupukan
- Pemberantasan Hama Penyakit
Bab 1
SPESIFIKASI TEKNIS

NAMA KEGIATAN : PENYUSUNAN DOKUMEN DED KEBON RAYA


PURWODADI
NAMA PEKERJAAN : PEKEJAAN TAMAN TANAMAN LOKAL
LOKASI : KEBON RAYA PURWODADI

No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan

PEKERJAAN UMUM

Semen Semen / Portland


Holcim, Gresik, Tiga Roda
Cement ( PC )

Semen Instan
MU, Prime Mortar, Bostik
(Mortar)

Pasir Lokal yang disetujui


Pasir Pasangan
Konsultan Pengawas

Pasir Cor Ex. Lumajang

Sirtu Tanah Urugan Gempol, Porong

bekisting Multipleks 12mm lapis Untuk beton expose


film satu sisi
Multiplek 9 mm Untuk beton non expose

Rangka kayu meranti

2 PEKERJAAN BETON

Pekerjaan Beton
2.1
Struktur

Beton Ready Mutu beton K-225 fc’ Holcim, Indosipa, Merak,


mix = 18,68 MPa Jaya, Varia, Jatim Readymix

Mutu beton K-225 fc’ Harus didahului mix design


Beton site mix
= 18,68 MPa dan uji bahan

Krakatau Steel, Hanil Jaya


Besi beton yang
Besi beton Steel, Master Steel,
berstandart SNI
Bhirawa, Jatim.
Pekerjaan Beton Non
2.2
Struktur (lantai Kerja)

Beton Campuran 1
Beton site mix
3:5

3 PEKERJAAN BESI & BAJA

Krakatau Steel, Gunung


Garuda, Hanil Jaya Steel
Pekerjaan Baja yang standar atau local yang berstandart
3.1
Konstruksi Baja SNI SNI. Hubungan sayap
(flange) dan badan (Web)
harus tidak ada las.

Krakatau Steel, Hanil Jaya


Besi beton yang
3.2 Besi beton Steel, Master Steel,
berstandart SNI
Bhirawa, Jatim.

4 PEKERJAAN PASANGAN

Pekerjaan
4.1 pasangan bata
merah

Bata merah Ex. Lokal

Pekerjaan
4.2 plesteran dan
acian semen

Semen / Portland Ex. Holcim, Semen Gresik,


Cement ( PC ) Tiga roda

Ex.Lokal yang disetujui oleh


Pasir Pasangan
pengawas

Pekerjaan Pas
Mutu K300 Conbloc, Focon
kanstin

Pasangan Batu
Batu Kewel Ex lokal
Alam

5 PEKERJAAN PENGECATAN
Eksterior
Water based, kilap
5.1 (pedestrian Ex. Propan, Sika, Afatex
matte
taman)

6 PEKERJAAN ATAP MEMBRAN

6.1 Membrane Ag Tex 950 Gsm Ex Ateja Lisensi Italy

6.2 Baja Seling Galvanis 8mm Pengikat Atap membrane

Plat Stenlis tebal


6.3 Camplate Plat tarikan ujung membrane
2mm

6.4 Mur Baut Stenlis dia 8mm Baut Plat

6.5 Long drat 14-16 mm, Galvanis Tarikan membrane

Besi pipa
6.6 6”, medium Tiang
Galvanis

4”, medium/3,2mm Tiang

3”, medium/2,5mm Palang Atas

2”, medium/2,3mm Palang Atas

Plat Baja 30x30 Base Plate

Plat Baja 15x7,5


Tebal 8mm Sirip
(0,5)
7 PEKERJAAN MEKANIKAL, DRAINASE DAN PERPIPAAN

7.1 Pekerjaan sanitasi, drainase dan perpipaan

PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,


pipa air bersih
12.5) Maspion

PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,


pipa air bekas
12.5) Maspion

Wavin, Rucika, Pralon,


pipa air kotor PVC Class AW (S 16)
Maspion

Wavin, Rucika, Pralon,


pipa air hujan PVC Class AW
Maspion

Sambungan Lebih kecil dia 50 Wavin, Rucika, Pralon,


pipa menggunakan Maspion
Solevent Cement
Lebih besar dia 50 Wavin, Rucika, Pralon,
menggunakan Maspion
Rubber-ring and
Spigot

Valve Cast iron, Broze Toyo, Kitazawa

Booster pump Jenis Pompa Booster


Sanyo, Grundfos
package Pump
Pompa Transfer Lihat Gambar Sanyo, Grundfos

Bahan Plastik PE
Roof Tank atau Stainless Steel Induro, Profil Tank
Anti Lumut

Septic Tank Bio Filter atau Lokal. Toya, BioFit, BioSeven

Pekerjaan instalasi
7.2
listrik

MDP, SDP, ( Panel Tegangan


Simetri, Panelindo Mas
LOAD PANEL Rendah)

Seluruh
Perlengkapan MCB, MCCB MG, ABB
Panel

Shot Circuit, Eath


Foult o/u voltage SEG, MG
protecyion

Fuse Socomec, Telemecanique

Selector Switch A-O-


K&N
M

Kwh Meter Fuji, Siemen

Conductor, Push
Telemecanique
Button, Pilot
Amper, Volt, Fr, Watt GAE, Siemen

Kabel NYY, Supreme, Kabelindo, Kabel


NYM, NYFGBY Metal Voksel

Com, Vektor, AROS, Eaton


UPS Ni Cadnium
Powerware, YPS, ICA
Kabel Tray Finish Galvanis Inter Rack, Lion Tray, Citra
Conduit, Tee
Doos, Cross Hight Impact Clipsal, EGA, Elpro
Doos, dll

Pekerjaan tata
7.3
cahaya

Lampu taman
tiangcOutdoor Besi tempa Warna Merah temaga
Cabang 2 seri
Bab 2
SYARAT-SYARAT UMUM PEKERJAAN

1. Umum
• Tanah dan halaman untuk pembangunan akan diserahkan kepada
Kontraktor dalam keadaan seperti pada waktu peninjauan lapangan /
observasi lapangan.
• Pekerjaan harus diserahkan oleh Kontraktor dalam keadaan selesai
keseluruhan sesuai dengan lingkup pekerjaan yang diborongkan,
dalam mana termasuk juga pembetulan kerusakan yang mungkin
timbul / terjadi dalam menyingkirkan segala bahan-bahan sisa atau
bongkaran lainnya.

2. Alat, Perlengkapan Pekerjaan dan Tenaga Lapangan


• Kontraktor, sub-sub Kontraktor dan bagian-bagian lainnya yang
mengerjakan pekerjaan pelaksanaan didalam proyek ini, harus
menyediakan alat-alat dan perlengkapan-perlengkapan pekerjaan
sesuai dengan bidangnya masing-masing.
• Disamping itu harus menyediakan juga :
- Buku-buku laporan (harian, mingguan, dan bulanan)
- Rencana kerja dan menempatkan tenaga-tenaga lapangan yang
bertanggung jawab penuh untuk memutuskan segala sesuatu di
lapangan dan bertindak atas nama Kontraktor dan sub-Kontraktor
yang bersangkutan, serta berpengalaman.
- Perlengkapan pengaman / keselamatan kerja sesuai peraturan K3
Depnaker R.I.

3. Barang Contoh (SAMPLE)


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan barang-
barang contoh (sample) dari material yang akan dipakai/dipasang,
untuk mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi /
Pemberi Tugas.
• Barang-barang contoh (sample) tertentu harus dilampiri dengan tanda
bukti sertifikat pengujian dan spesifikasi teknis dari barang-
barang/material-material tersebut.
• Untuk barang-barang dan material yang akan didatangkan ke site,
maka Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan :
- Brochure
- Katalogue
- Gambar kerja atau shop drawing
- Sample.yang dianggap perlu oleh Tim Teknis / Konsultan Supervisi dan
harus mendapat persetujuan Tim Teknis / Konsultan Supervisi/Pemberi
Tugas.

4. Pengujian Atas Mutu Pekerjaan


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan mengadakan pengujian atas
mutu bahan dan mutu pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai
dengan kebutuhannya masing-masing.
• Semua biaya-biaya untuk kebutuhan tersebut di atas, ditanggung oleh
Kontraktor dan sub-sub Kontraktor yang bersangkutan.

5. Gambar-Gambar “AS BUILT DRAWING”

Kontraktor atau sub-sub kontraktor diwajibkan untuk membuat gambar-


gambar “As Built Drawing” untuk Arsitektur, Struktur dan M/E sesuai
dengan pekerjaan yang telah dilakukan di lapangan secara kenyataannya,
untuk kebutuhan pemeriksaan dan maintenance dikemudian hari. Gambar-
gambar tersebut diserahkan kepada Pemilik setelah disetujui oleh Tim
Teknis / Konsultan Supervisi diserahkan sebelum serah terima pertama.

6. Shop Drawing

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat gambar-gambar


“Shop Drawing” setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan
Supervisi, gambar-gambar tersebut harus diserahkan minimum 15 hari
sebelum pekerjaan tersebut akan dilaksanakan.

7. Material Delivery Schedule

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat material delivery


schedule untuk setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan
Supervisi, material delivery schedule harus diserahkan minimum 15 hari
sebelum pekerjaan tersebut akan dilaksanakan.
Bab 3
PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1 PEKERJAAN PERSIAPAN


1.1.1 Direksi Keet (Bangunan Sementara).
1. Direksi keet walau tidak disebutkan dalam penawaran sudah menjadi
kewajiban bagi kontraktor untuk menyediakannya.
2. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan ini,Kontraktor diharuskan
menyediakan dan menyiapkan ruang atau bangunan sementara
berukuran 3,00 x 7,00 m untuk ruang rapat dan 3,00 x 4,00 m untuk ruang
Direksi. Bangunan Sementara ini harus dilengkapi dengan Toilet/ WC
dan kamar mandi (dilengkapi dengan bak air, closet, Septictank & Sumur
peresap) yang khusus dimanfaatkan oleh Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas.
3. Kelengkapan Direksi Keet. Sebagai kelengkapan Direksi Keet guna
penyelesaian Administrasi dilapangan, maka sebelum pelaksanaan
pekerjaan ini dimulai Kontraktor harus terlebih dahulu melengkapi
peralatan peralatan antara lain :
a. 1 (satu) soft board menempel didinding 2x1,20x2,40 m2
b. 1 (satu) buah meja rapat (sederhana) ukuran 1,20x4,80 m2
c. 12 (dua belas) buah kursi duduk ruang rapat
d. 1 (satu) white board (1,20 x 2,40 m2) dan peralatannya
e. 1(satu) rak/almari buku (sederhana)
f. 1 (satu) meja kerja/tulis dan kursi
g. 1 (satu) set kelengkapan PPPK (P3K)
h. 1 (satu) tabung Pemadam Api
i. 5 (lima) buah helm
j. Sarana dan prasarana listrik, telepon dan komunikasi.
4. Alat-alat yang harus senantiasa tersedia di proyek untuk setiap saat
dapat digunakan oleh Direksi Lapangan adalah :
a. 1 (satu) buah kamera (Camera Digital)
b. 1 (satu) buah alat ukur Schuitmaat
c. 1 (satu) buah alat ukur optik (theodolith/ waterpass)
d. 1 (satu) buah personal computer dan printer Inkjet A4
5. Di dalam direksi keet minimal harus dilengkapi dengan :
a. Gambar kerja baik itu gambar perencanaan ataupun shop drawing
b. Buku direksi yang berisi laporan atau catatan atau permintaan dari
pihak Direksi ataupun Kontraktor
c. Kotak P3K sebagai sarana untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Selesai pelaksanaan proyek ini (Serah Terima ke I) semua Peralatan/ kelengkapan
tersebut dalam ayat ini menjadi milik Kontraktor
1.1.2 Sarana Kerja.
1. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua
pekerjaan yang dilakukan diluar lapangan sebelum pemasangan
peralatan yang dimiliki serta jadwal kerja.
2. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan
memenuhi persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan
kerja dilapangan.
3. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/ material dilapangan harus
aman dari segala kerusakan hilang dan hal-hal dasar yang mengganggu
pekerjaan lain yang sedang berjalan.
4. Untuk menghindari kemacetan dan gangguan lain terhadap akses jalan
yang timbul akibat operasional pekerjaan, Kontraktor diharuskan
menyediakan lahan untuk penyimpanan bahan/ material selama
pelaksanaan pekerjaan.
1.1.3 Pengaturan Jam Kerja dan Pengerahan Tenaga Kerja.
1. Kontraktor harus dapat mengatur sedemikian rupa dalam hal pengerahan
tenaga kerja, pengaturan jam kerja maupun penempatan bahan
hendaknya di konsultasikan terlebih dahulu dengan Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas lapangan. Khususnya dalam
pengerahan tenaga kerja dan pengaturan jam kerja dalam
pelaksanaannya harus sesuai dengan peraturan perburuhan yang
berlaku.
2. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan akomodasi dan
fasilitas-fasilitas lain yang dianggap perlu misalnya (air minum, toilet
yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dan fasilitas kesehatan lainnya
seperti penyediaan perlengkapan PPPK yang cukup serta pencegahan
penyakit menular.)
3. Kontraktor harus membatasi daerah operasinya disekitar tempat
pekerjaan dan harus mencegah sedemikian rupa supaya para pekerjanya
tidak melanggar wilayah bangunan-bangunan lain yang berdekatan, dan
Kontraktor harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan
memasuki tempat pekerjaan.
4. Kontraktor diwajibkan memberi tahu tentang identitas pekerja yang
melakukan aktivitas di lokasi tersebut kepada user yang bersangkutan.
1.1.4 Perlindungan Terhadap Bangunan/Sarana Yang Ada.
1. Segala kerusakan yang timbul pada bangunan/konstruksi dan peralatan
sekitarnya menjadi tanggung jawab Kontraktor untuk memperbaikinya,
bila kerusakan tersebut jelas akibat pelaksanaan pekerjaan.
2. Kontraktor diwajibkan mengidentifikasikan keadaan bangunan ataupun
prasarana lain di sekitar lokasi sebelum memulai pekerjaan.
3. Selama pekerjaan berlangsung Kontraktor harus selalu menjaga kondisi
jalan dan sarana prasarana disekitar lokasi pekerjaan, hal tersebut
menjadi tanggung jawab Kontraktor terhadap kerusakan-kerusakan
yang terjadi akibat pelaksanaan pekerjaan ini.
4. Kontraktor wajib mengamankan sekaligus melaporkan/ menyerahkan
kepada pihak yang berwenang bila nantinya menemukan benda-benda
bersejarah
1.1.5 Pembersihan dan Penebangan Pohon-Pohonan.
1. Lapangan terlebih dahulu harus dibersihkan dari rumput, semak, akar-
akar pohon.
2. Sebelum pekerjaan lain dimulai, lapangan harus selalu dijaga, tetap
bersih dan rata.
3. Kontraktor tidak boleh membasmi, menebang atau merusak pohon-
pohon atau pagar, kecuali bila telah ditentukan lain atau sebelumnya
diberi tanda pada gambar-gambar yang menandakan bahwa pohon-
pohon dan pagar harus disingkirkan. Jika ada sesuatu hal yang
mengharuskan Kontraktor untuk melakukan penebangan, maka ia harus
mendapat ijin dari Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.6 Penjagaan, Pemagaran Sementara, dan Papan Nama.
1. Kontraktor bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan
perlindungan terhadap pekerjaannya yang dianggap penting selama
pelaksanaan, dan sekaligus menempatkan petugas keamanan untuk
mengatur sirkulasi/ arus kendaraan keluar/ masuk proyek.
2. Sebelum Kontraktor mulai melaksanakan pekerjaannya, maka
Kontraktor diwajibkan terlebih dahulu memberi pagar pengaman pada
sekeliling site pekerjaaan yang akan dilakukan.
3. Pembuatan pagar pengaman dibuat jauh dari lokasi pekerjaan, sehingga
tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilakukan, serta
tempat penimbunan bahan-bahan dan dibuat sedemikian rupa, sehingga
dapat bertahan/kuat sampai pekerjaan selesai dan tampak dari luar
dapat menunjang estetika atas kawasan yang ada.
4. Syarat pagar pengaman :
a. Pagar dari seng gelombang finish cat berpola sesuai dengan
pengarahan Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas
dengan ketinggian minimal 180 cm.
b. Tiang dolken minimum berdiameter 10 cm, jarak pemasangan
minimal 180 cm, bagian yang masuk pondasi minimum 40 cm.
c. Rangka kayu Borneo ukuran 4 x 6 cm, dengan pemasangan 4 jalur
menurut tinggi pagar.
d. Pondasi cor beton setempat minimum penampang diameter 30cm
dalam 50cm dari permukaan tanah setempat. Beton dengan
adukan 1:3:5.
e. Pada pagar pengaman hendaknya diberi tanda atau petunjuk
mengenai keberadaan pekerjaan tersebut
f. Pagar diengkapi dengan pembuatan pintu akses dari bahan yang
sama.
5. Selesai proyek semua bahan pagar adalah milik Kontraktor, untuk hal
tersebut didalam penyusunan penawaran hendaknya telah
dipertimbangkan.
6. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan memasang
papan nama Proyek yang dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan
gambar rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan atas beban
Kontraktor.
1.1.7 Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja
1. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan
menggunakan/ menyambung pipa air yang telah ada dengan meteran
air tersendiri (guna perhitungan pembayaran pemakaian air oleh
Kontraktor) atau air sumur yang bersih/jernih dan tawar dengan
membuat sumur pompa di tapak proyek atau disuplai dari luar lokasi
pekerjaan. Air harus bersih, bebas dari debu, bebas dari lumpur, minyak
dan bahan-bahan kimia lainnya yang merusak.Penyediaan air harus
sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas.
2. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari
sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan, atau
penggunaan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya
diperkenankan untuk penggunaan sementara atas persetujuan Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas. Daya listrik juga
disediakan untuk suplai kantor Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas Lapangan.
3. Segala biaya yang ditimbulkan atas pemakaian daya listrik dan air di atas
adalah beban Kontraktor.
1.1.8 Drainase Tapak.
1. Dengan mempertimbangkan keadaan topografi/kontur tanah yang ada
di tapak, Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi
untuk pembuangan air yang ada.
2. Arah aliran ditujukan ke daerah/permukaan yang terendah yang ada di
tapak atau ke saluran yang sudah ada di lingkungan daerah
pembangunan.
3. Pembuatan saluran sementara harus sesuai petunjuk dan persetujuan
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.9 Mengadakan Pengukuran dan Pemasangan Bowplank.
1. Pengukuran Tapak Kembali.
a. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran
kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-
keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-
batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.
b. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan
lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk dimintakan
keputusannya.
c. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan
alat-alat waterpass/Theodolite yang ketepatannya dapat
dipertanggung jawabkan.
d. Kontraktor harus menyediakan Theodolith/waterpass beserta
petugas yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas pelaksanaan proyek.
e. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas
Segitiga Phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian
kecil yang disetujui oleh Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
f. Segala pekerjaan pengukuran dan persiapan termasuk tanggungan
Kontraktor.

2. Tugu Patokan Dasar (Bench Mark)


a. Letak dan jumlah tugu patokan dasar ditentukan oleh Direksi.
b. Tugu patokan dasar dibuat dari beton berpenampang sekurang-
kurangnya 20 x 20 cm, tertancap kuat kedalam tanah sedalam 1
meter dengan bagian yang menonjol diatas muka tanah secukupnya
untuk memudahkan pengukuran selanjutnya dan sekurang-
kurangnya setinggi 40 cm diatas tanah. Tugu patokan dasar harus
dilengkapi dengan titik ukur dari bahan logam dan diangkurkan ke
beton.
c. Tugu patokan dasar dibuat permanen, tidak bisa diubah, diberi tanda
yang jelas dan dijaga keutuhannya sampai ada instruksi tertulis dari
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk
membongkarnya.
d. Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan termasuk
tanggungan kontraktor
e. Pada setiap tugu patok dasar harus tertera dengan jelas kode
koordinat dan ketinggian (elevasi) nya.

3. Pengukuran dan Titik Peil (0.00) Bangunan.


Kontraktor harus mengadakan pengukuran yang tepat berkenaan
dengan letak/kedudukan bangunan terhadap titik patok/pedoman yang
telah ditentukan, siku bangunan maupun datar (waterpas) dan tegak
lurus bangunan harus ditentukan dengan memakai alat waterpas
instrument/ theodolith. Hal tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan
tegel, langit-langit dan sebagainya dengan hasil yang baik dan siku.
Untuk mendapatkan titik peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi
yang tercantum pada gambar rencana (Lay Out), dan bila terjadi
penyimpangan atau tidak sesuainya antara kondisi lapangan dan
gambar Lay Out, Kontraktor harus melapor pada Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas.

4. Pemasangan Bouplank.
a. Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran
persiapan bouplank/ pengukuran pekerjaan sesuai dengan referensi
ketinggian, dan benchmark yang diberikan Direksi secara tertulis,
serta bertanggung jawab atau ketinggian, posisi, dimensi, serta
kelurusan seluruh bagian pekerjaan serta pengadaan peralatan,
tenaga kerja yang diperlukan.
b. Bilamana suatu waktu dalam proses pembangunan ternyata ada
kesalahan dalam hal tersebut diatas, maka hal tersebut merupakan
tanggung jawab Kontraktor serta wajib memperbaiki kesalahan
tersebut dan akibat-akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut
disebabkan terdapat referensi tertulis dari Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
c. Pengecekan pengukuran atau lainnya oleh Direksi atau wakilnya
tidak menyebabkan tanggung jawab Kontraktor menjadi
berkurang.Kontraktor wajib melindungi semua benchmark, dan lain-
lain atau seluruh referensi dan realisasi yang perlu pada
pengukuran pekerjaan ini.

5. Bahan dan Pelaksanaan Bouplank


a. Tiang bowplank menggunakan kayu kruing ukuran 5/7 dipasang
setiap jarak 2,00 m', sedangkan papan bouplank ukuran 2/20 cm
dari kayu meranti diketam halus dan lurus bagian atasnya dan
dipasang datar (waterpas).
b. Pemasangan bowplank harus sekeliling bangunan dengan jarak
2,00 m1 dari as tepi bangunan dengan patok-patok yang kuat,
bouplank tidak boleh dilepas/dibongkar dan harus tetap berdiri tegak
pada tempatnya sehingga dapat dimanfaatkan hingga pekerjaan
mencapai tahapan trasram tembok bawah.

1.2 HEALTH AND SAFETY ENVIRONTMENT (HSE)


1.2.1 Lingkup Pekerjaan
1. Menyediakan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan alat alat bantu
lainnya untuk melaksanakan pekerjaan seperti dinyatakan dalam RKS ini
dengan hasil yang baik dan sempurna.
2. Harga pekerjaan ini termasuk dalam skope pekerjaan persiapan, bilamana
tidak tercantum pada item pekerjaan maka pekerjaan ini tetap merupakan
kewajiban yang harus dilaksanakan.
3. Indikator keberhasilan adalah Pelaksanaan proyek berjalan dengan tertib,
aman dan tidak ada kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan proyek.
1.2.2 Standard dan Persyaratan.
Standard dan persyaratan yang berlaku mengikuti:
1. Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/ KPTS/1998 tentang
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per. 01/MEN/1980 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan;
4. Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan
Umum No. Kep. 174/MEN/1986, dan No. 104/KPTS/1986 tentang K3 Pada
Tempat Kegiatan Konstruksi;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2008 tentang Pedoman
SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum;

1.2.3 Akses, Pagar Pengaman Proyek, Barrier, Perlindungan pada bangunan yang
sudah ada dan lingkungan sekitar.
1.2.3.1 Akses Keluar Masuk Proyek
a. Akses kerja adalah area kantor proyek, area pabrikasi, area yang dikerjakan
dan akses/jalur yang menghubungkan ketiga-tiganya. Direncanakan dan
disiapkan terlebih dulu sebelum digunakan.
b. Tersedia pintu masuk dan pintu keluar, baik untuk rutin dan darurat di kantor
proyek serta terjaga dengan baik.
c. Ada batas atau tanda peringatan atau pagar yang memberi tanda area kerja
kantor proyek, pabrikasi area kerja lapangan dan jalur/akses penghubung
terhadap area umum masyarakat
d. Jalan dan jalur lintas pekerja diberi batas dan pengaman serta tanda
peringatan yang jelas, terutama yang bersinggungan dengan Pekerja
Konstruksi dan atau masyarakat umum

1.2.3.2 Perlindungan Pada Bangunan Sudah Ada dan Lingkungan Sekitar.


Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan perlindungan terhadap Pihak
Ketiga dan pengawasan keamanan dalam hubungannya dengan pekerjaan.
Kontraktor akan menyediakan perlindungan seperlunya untuk mencegah
terjadinya kerusakan atau kehilangan dari :
a. Semua pekerjaan dan orang yang mungkin berkepentingan dalam
pekerjaan.
b. Semua pekerjaan dan bahan-bahan serta alat perlengkapan yang harus
ditempatkan dengan aman dibawah pengawasan Kontraktor atau salah satu
Sub Kontraktor.
c. Harta benda ditapak pekerjaan atau yang berbatasan dengan pekerjaan.
d. Semua harta benda milik orang lain atau Pihak ketiga disekitar lokasi
pekerjaan.
Kontraktor harus mematuhi semua hukum, peraturan dan ketentuan-ketentuan
yang berlaku mengenai keamanan orang, harta benda dan melindungi dari
kerusakan, cidera atau kehilangan.
Kontraktor diharuskan memperbaiki dan mengganti kerugian, apabila ternyata
lalai terhadap kewajiban yang disebutkan diatas.
1.2.4 Kebersihan harian, Pembersihan lokasi proyek, pembuangan sisa material
keluar lokasi Proyek.
Kontraktor harus, menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh
terhadap kebersihan proyek dari hari kehari, pengendalian kebersihan
lingkungan dan pengaruhnya lingkungan dan bahwa semua penyediaan sarana
dan prasarana untuk pencegahan yang berhubungan dengan polusi lingkungan
dan perlindungan lahan serta lintasan air disekitarnya dengan memperhatikan:
a. Bahan, material yang berserakan harus dirapihkan baik sebelum, selama
kerja dan setelah jam kerja.
b. Alat kerja, perkakas lainnya yang digunakan tidak boleh merintangi dan
membahayakan akses kerja dan disimpan setelah selesai jam kerja.
c. Tempat sampah sesuai jenis sampah dan volume yang terjadi, selalu
dibersihkan dan dikumpulkan serta siap diangkut keluar proyek.
d. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk, harus ada jadual dan
pembersihan yang rutin
e. Tempat Kerja yang licin karena air, minyak, atau zat lainnya harus segera
dibersihkan
f. Semua orang wajib menyingkirkan paku yang berserakan, kawat/besi
menonjol, potongan logam yang tajam, semuanya yang dapat
membahayakan.
g. Untuk mencegah polusi debu selama musim kering, Kontraktor harus
melakukan penyiraman secara teratur kepada jalan angkutan tanah atau
jalan angkutan kerilkil dan harus menutupi truk angkutan dengan terpal.
h. Jumlah bahan/material yang tersedia di lapangan untuk digunakan hari ini
tidak berlebihan, agar tidak mengganggu dan membahayakan akses kerja
(selebihnya dikembalikan ke gudang umum).
i. Material sisa, bahan bongkaran dan sampah secara rutin dibawa keluar
lokasi proyek dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

1.2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1.2.5.1 Pengendalian Resiko
Potensi Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi untuk terjadinya insiden yang
berakibat pada kerugian.
Risiko adalah kombinasi dan konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan
peluang terjadinya kejadian tersebut.
Jenis- jenis kecelakaan yang sering terjadi pada proyek konstruksi adalah
sebagai berikut :
a. Jatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Menginjak, terantuk, dan terbentur
d. Terjepit dan terperangkap
e. Kontak suhu tinggi/terbakar
f. Kontak aliran listrik
Untuk itu Kontraktor wajib melakukan Rencana Pemantauan Keselamatan
dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Mempersiapkan rencana kerja dengan metode kerja dan rencana cara
berkerja yang memperhatikan :
• Resiko-resiko yang mungkin timbul dari setiap jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
• Perhatikan jenis-jenis kecelakaan yang sering terjadi pada kegiatan
tersebut.
• Adanya alat-alat konstruksi yang bergerak.
• Untuk lokasi-lokasi kritis atau tindakan yang akan menimbulkan bahaya
bagi pekerja maka Kontraktor wajib menyediakan seorang petugas yang
membantu mengingatkan Pekerja saat melakukan pekerjaannya.
b. Kontraktor wajib menyediakan peralatan safety yang sesuai dengan jenis
dan lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan.
c. Form Rencana Pematauan Keselamatan wajib diserahkan dan ditanda
tangani oleh Konsultan Pengawas sebelum pekerjaan yang bersangkutan
dilaksanakan.
Pekerjaan yang memerlukan Rencana Pemantauan Keselamatan dan ijin kerja
dari Konsultan Pengawas:
a. Bekerja terkait dengan pemeliharaan, pembersihan
b. Menggunakan bahan mudah terbakar
c. Bekerja berhubungan dengan listrik
d. Pasang, bongkar, pindah perancah (scaffolding)
e. Memindahkan barang/benda berat
f. Pekerjaan pembongkaran
g. Bekerja diluar jam kerja normal tanpa pengawas
h. Penggalian lebih dari 2 (dua) meter
i. Bekerja di ketinggian

1.2.5.2 Fasilitas Pekerja


a. Air minum
Tersedia air minum untuk pekerja yang memenuhi standard kesehatan.
b. Air bersih
Ada tersedia bak air bersih dengan ukuran cukup untuk cuci tangan demi
menjaga kebersihan dan sejumlah Toilet yang memadai bagi jumlah
pekerja yang ada.
c. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Setiap aktivitas/ proses pekerjaan yang dilakukan di tempat kerja
mengandung resiko untuk terjadinya kecelakaan kerja (ringan sampai
dengan berat), berbagai upaya pencegahan dilakukan supaya kecelakaan
tidak terjadi. Selain itu, keterampilan melakukan tindakan pertolongan
pertama tetap diperlukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya
kecelakaan. Oleh karena itu di setiap tempat kerja harus memiliki petugas
P3K (First Aid), atau setidaknya setiap karyawan memiliki keterampilan
dalam melakukan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan kerja
maupun kegawatan medic.

1.2.5.3 Alat Pelindung Diri


Kontraktor wajib menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para Pekerja
maupun Tamu yang dating ke lokasi proyek dengan menyediakan Peralatan
keselamatan kerja yang berfungsi untuk mencegah dan melindungi Pekerja
maupun pengunjung proyek dari kemungkinan mendapatkan kecelakaan kerja.
APD utama yang wajib disediakan adalah Helm pelindung dan Safety shoes
sedangkan APD lain disediakan sesuai jenis pekerjaan yang dilaksanakan.
Macam-macam dan jenis APD dapat berupa:
a. Helmet: Topi/Pelindung kepala Melindungi dari kejatuhan benda, benturan
benda keras, diterpa panas dan hujan
b. Safety Shoes: Pelindung kaki Melindungi kaki dari benda tajam, tersandung
benda keras, tekanan dan pukulan, lantai yang basah, lincir dan berlumpur,
disesuaikan dengan jenis bahayanya
c. Safety Glasses: Kaca mata/Kedok Las Melindungi dari sinar las, silau,
partikel beterbangan, serbuk terpental, radiasi, cipratan cairan berbahaya
d. Earplug: Pelindung telinga/Earmuff Melindungi dari suara yang
menyakitkan terlalu lama, dengan batas kebisingan diatas 85 db.
e. Sarung Tangan/karet/kulit/kain/plastic : Melindungi tangan dari bahan kimia
yang korosif, benda tajam/kasar, menjaga kebersihan bahan, tersengat
listrik.
f. Safety belt/ harness : Melindungi dari bahaya jatuh dari ketinggian kerja
diatas 2 meter dan sekeliling bangunan.

Seluruh peralatan APD yang digunakan memenuhi standard SNI.


Selama bekerja Pekerja wajib menggunakan baju kerja yang sesuai, baju
dengan lengan dan celana panjang.
1.2.5.4 Rambu-rambu dan Tanda bahaya
Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah sebuah media visual
berupa gambar piktogram untuk ditempatkan di area pabrik yang memuat
pesan-pesan agar setiap Pekerja selalu memperhatikan aspek-aspek
kesehatan dan keselamatan kerja.
Fungsi Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah.
a. Untuk mengetahui larangan atau memenuhi perintah/ permintaan,
peringatan atau untuk memberi informasi
b. Mencegah kecelakaan (mengisyaratkan terhadap suatu bahaya)
c. Mengindikasikan lokasi perlengkapan keselamatan dan pemadam
kebakaran
d. Memberi arahan dan petunjuk tentang prosedur keadaan darurat.
Kontraktor wajib menyediakan Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3
secukupnya untuk hal-hal tersebut diatas.
1.2.5.5 Pencegahan Kebakaran
Kebakaran merupakan kejadian yang dapat menimbulkan kerugian pada jiwa,
peralatan produksi, proses produksi dan pencemaran lingkungan kerja.
Khususnya pada kejadian kebakaran yang besar dapat melumpuhkan bahkan
menghentikan proses konstruksi, sehingga ini memberikan kerugian yang
sangat besar.
Untuk mencegah hal ini Kontraktor wajib melakukan upaya-upaya
penanggulangan kebakaran.
a. Pengendalian setiap bentuk energi;
b. Penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana
evakuasi
c. Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas;
d. Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
e. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara
berkala;
f. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi
tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga
kerja dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan
berat.
Kontraktor wajib melatih pekerjanya dalam upaya yang pengendalian setiap
bentuk energi :
a. Melakukan identifikasi semua sumber energi yang ada di tempat kerja/
perusahaan baik berupa peralatan, bahan, proses, cara kerja dan
lingkungan yang dapat menimbulkan timbulnya proses kebakaran
(pemanasan, percikan api, nyala api atau ledakan);
b. Melakukan penilaian dan pengendalian resiko bahaya kebakaran
berdasarkan peraturan perundangan atau standar teknis yang berlaku.
Pada Lokasi proyek tidak diijinkan sama sekali untuk Merokok.
1.2.5.6 Asuransi
Asuransi Pekerja Konstruksi
Kontraktor diwajibkan untuk mengansuransikan personil lapangan termasuk
personil Sub Kontraktor terhadap bahaya kecelakaan dan keehatan yang
mungkin terjadi selama waktu pelaksanaan Konstruksi.
Asuransi untuk personil Kontraktor harus dapat digabung dalam satu paket polis
asuransi ASTEK/ BPJS/ Atau jenis asuransi lainnya.
Bab 4
PEKERJAAN HARDSCAPE

1. PEKERJAAN BETON

1.1. Umum
Semua beton untuk struktur bemutu fc’ = 18.75 MPa (K-225) untuk struktur,
dan fc’ = 14.52 MPa (K-175) atau campuran 1:3:5 untuk lantai kerja.

1.2. Persyaratan Bahan


1. Semen
Semen yng boleh digunakan untuk pembuatan beton harus dari jenis semen
yang telah ditentukan dalam SII 0013-81 dan harus memenuhi persyaratan
yang telah ditetapkan dalam standart tersebut. Semua yang akan diapaki
harus dari satu merk yang sama dan dalam keadaan baru. Semen nyang
dikirim semen harus terlindung dari hujan dan air. Semen harus terbungkus
dalam sak (kantong) asli dari pabriknya dan dalam keadaan tertutup rapat.
Semen harus disimpan di gudang dengan ventilasi yang baik, tidak lembab
dan diletakkan pada tempat yang tinggi, sehingga aman dari kemungkinan
yang tidak diinginkan. Semen tersebut tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 zak.
Sistim penyimpanan semen harus diatur sedemikian rupa, sehingga semen
tersebut tidak tersimpan terlalu lama. Semen yang diragukan mutunya dan
rusak akibat salah penyimpanan, seperti membantu, tidak diizinkan untuk
dipakai. Bahan yang telah ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan
paling lambat dalam waktu 2 (dua) hari atas biaya Kontraktor.
2. Agregat
Pada pembuatan beton, ada dua ukuran agregat yang digunakan, yaitu
agregat kasar / batu pecah dan agregat halus / pasir beton. Kedua jenis
agregat ini disyaratkan berikut ini :
1. Agregat Kasar, Ukuran besar ukuran nominal maksimum agregat kasar
(batu pecah mesin) harus tidak melebihi 1/5 jarak terkecil antara bidang
samping dari cetakan, atau 1/3 dari tebal pelat, atau ¾ jarak
bersihminimum antar batang tulangan , berkas batang tulangan atau
tendon pratekan atau 30 mm. Gradasi dari agregat tersebut secara
keseluruhan harus sesuai dengan yang disyaratkan oleh ASTM agar tidak
terjadinya sarang kerikil atau riongga dengan ketentuan sebagai berikut :

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 31.50 mm 0
Ayakan 4.00 mm 90-98
Selisih antar 2 ayakan
01-10
berikutnya
2. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas
dari bahan-bahan organik, lumpur dan kotoran lainnya. Kadar lumpur
harus lebih kecil dari 4 % berat. Sagregat halus harus terdiri dari butir-butir
beraneka ragam besarnya dan apabila diayak harus memenuhi syarat sbb
:

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 4.00 mm >02
Ayakan 1.00 mm > 10
Ayakan 0,25 mm 80-95

Kontraktor harus mengadakan pengujian sesuai dengan persyaratan


dalam spesifikasi ini. Jika sumber agregat berubah karena sesuatu hal,
maka kontraktor wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada
Direksi Pengawas. Agregat harus disimpan ditempat yang bersih, yang
keras permukaannya dan harus dicegah supaya tidak terjadi
pencampuran dengan tanah.
3. Air Untuk Campuran Beton
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam alkali, garam, zat organis atau bahan lain
yang dapat merusak beton atau besi beton. Air tawar yang dapat diminum
umumnya dapat digunakan. Air tersebut harus diperiksa pada
laboratorium yang disetujui oleh Direksi. Jika air pada lokasi pekerjaan
tidak memenuhi syarat untuk digunakan, maka Kontraktor harus mencari
air yang memadai untuk itu.
4. Besi Beton
Besi beton berdiameter lebih besar 12 mm harus selalu menggunakan
besi beton ulir (deformad bars/ U40) untuk tulangan utama, sedang besi
beton berdiameter sama atau lebih kecil 12 mm menggunakan besi beton
polos, U24 atau dapat disesuaikan dengan notasi dalam gambar, Agar
dipeoleh hasil pekerjaan yang baik, maka besi beton harus memenuhi
syarat-syarat :
1. Baru, bebas dari kotoran , lapisan minyak ,karat dan tidak cacat
2. Mutu sesuai dengan yang ditentukan
3. Mempunyai penampang yang rata dan seragam sesuai dengan
toleransi
4. Merk Krakatau Steel, Bhirawa, Hanil, Master Steel

Pemakaian besi beton dari jenis yang tidak sesuai dengan ketentuan
diatas, harus mendapat persetujuan dari Direksi.
5. Admixtures Material Tambahan
Dalam keadaan tertentu boleh dipakai bahan campuran tambahan untuk
memperbaiki sifat suatu campuran beton. Jenis, jumlah bahan yang
ditambahkan dan cara penggunaan bahan tambahan harus dapat
dibuktikan melalui hasil hasil uji dengan dengan menggunakan jenis
semen dan agregat yang akan dipakai pada proyek ini. Bahan campuran
tambahan yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur,
memperlambat atau mempercepat penguatan dan/ atau pengerasan
beton harus memenuhi “Specifikation for Chemical Admixtures for
Concrete” (ASTM C494) atau memenuhi standar Umum Bahan Bangunan
Indonesia.
6. Kualitas Beton
a. Kualitas beton yang digunakan tercantum dalam gambar rencana
yang harus dibuktikan dengan pengujian seperti disyaratkan dalam
spesifikasi teknis ini.
b. Untuk memastikan bahwa kualitas beton rencana dapat tercapai,
Kontraktor harus melakukan percobaan sesuai dengan yang
disyaratkan oleh peraturan yang berlaku dengan mengadakan trialmix
di laboratorium yang disetujui oleh Direksi.
c. Jika tidak ditentukan secara khusus, maka untuk lantai kerja, kolom
praktis, ring balk, lantai kerja dan beton non struktur lainnya harus
menggunakan beton Mutu K 2255, sedangkan untuk beton struktural
menggunakan beton Mutu K 250.
d. Disain Adukan Beton
Proporsi campuran bahan dasar beton harus ditentukan agar beton
yang dihasilkan memberikan kelecakan (workability) dan konsistensi
yang baik, sehingga beton mudah dituangkan kedalam acuan dan
kesekitar besi beton, tanpa menimbulkan segregasi agregat dan
terpisahnya air (bleeding) secara kelebihan. Campuran beton harus
dirancang sesuai dengan mutu beton yang ingin dicapai, dengan
batasan dibawah ini :

MUTU BETON K225 K250


Kuat tekan minimum 7 hari
158 175
(kg/cm2)
Jumlah semen minimum (kg/m3) 300 300
Jumlah semen
550 550
maksimum(kg/m3)
W/C faktor, maksimum 0.55 0.55

Untuk beton kedap air atau beton pada kondisi lingkungan khusus ,
maka harus dipenuhi syarat pada Pedoman Beton Indonesia.

Ketentuan minimum untuk beton kedap air


Kondisi Faktor air Jumlah semen
lingkungan semen Minimum (kg/m3)
Jenis Struktur
Berhubungan Maksimum
dengan
Air tawar/ payau 0.50 290
Beton Bertulang
Air laut 0.45 360

Kontraktor harus menyerahkan mix-design yang diusulkan kepada


Direksi untuk mendapatkan persetujuannya. Khusus untuk beton
kedap air , maka jumlah semen minimum harus sesuai dengan yang
disyaratkan oleh pemasok waterproofing.

1.3. Pengujian Bahan


1. Umum
a. Kontraktor harus bertaggung jawab untuk melaksanakan segala
pengujian termasuk mempersiapkan contoh benda uji dengan jumlah
sesuai yang disyaratkan. Kontraktor harusmenyerahkan hasil
pengujiannya setelah hasil uji diperoleh untuk persetujuan oleh Direksi.
b. Jika pengujian dan pelaksanaan tidak memenuhi syarat, maka kontraktor
harus melaksanakan pengujian ulang dengan campuran yang lain dan
selanjutnya mengevaluasi kembali hasil uji tersebut hingga diperoleh
hasil yang diinginkan.
c. Semua pengujian dan pemeriksaan di lapangan harus dilakukan sesuai
dengan pengarahan Direksi Pengawas.
d. Untuk semua bahan semen dan besi beton yang dikirim ke lapangan,
Kontraktor harus mendapatkan salinan sertifikat pengujian dari pabrik,
dimana pengujian dilakukan secara berkala, dengan cara pengujian
sesuai dengan spesifikasi ini. (optional)

2. Laboratorium Penguji.
a. Sebelum pekerjaan beton dilakukan, Kontraktor wajib mengusulkan
suatu laboratorium penguji untuk melaksanakan pengujian material yang
akan digunakan pada proyek ini. Laboratorium ini bertanggung jawab
untuk melakukan semua pengujian dengan spesifikasi ini.
b. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan peralatan penguji
di lapangan seperti tersebut berikut ini seperti pada poin 3, beserta
tenaga ahli yang menguasai bidangnya.
c. Alat penguji agregat kasar dan agregat halus
1) Alat pengukur kadar air (moisture countent) dari agregat
2) Alat pengukur kekentalan beton (slump)
3) Alat pembuat benda uji, termasuk bak penyimpan untuk merawat
benda uji pada temperatur yang normal dan terhindar dari sengatan
matahari.
d. Jika menggunakan beton readymix, maka peralatan yang disebut a) dan
b) diatas harus disiapkan pada pabrik beton readymix.

3. Pengujian Agregat
a. Pengujian Pendahuluan Agregat
Kontraktor harusmelakukan pengujian pendahuluan agregat sebagai
berikut :
1) Sieve analysis
2) Pengujian kadar lumpur dan kotoran lain
3) Pengujian unsur organis
4) Pengujian kadar clorida dan sulfat.
Hasil pengujian tersebut harus diserahkan kepada Direksi/ manajemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan a) dan b) dengan pengujian
kadar air dari setiap jenis agregat harus dilakukan terhadap contoh untuk
setiap trial mix.
b. Benda Uji Agregat
Kontraktor harus melaksanakan pengujian atas agregat yang akan
digunakan untuk menghasilkan beton seperti yang disyaratkan. jumlah
minimum untuk pengujian agregat yang dipakai untuk pekerjaan beton
adalah sebagai berikut :

Tipe Pengujian Minimum satu contoh


Sieve analysis Setiap minggu
Moistur content Setiap minggu
Clay,silt dan kotoran Setiap hari
Kadar organis Setiap minggu
Kadar clorida dan Setiap 500 m3 beton
sulfat

Jika hasil pembuatan beton yang dilakukan oleh Kontraktor tidak


memuaskan, maka Direksi Pengawas berhak untuk meminta pengujian
tambahan dengan beban biaya Kontraktor. Dan sebaliknya mungkin
jumlah pengujian dapat dikurangi jika hasil diperoleh ternyata
memuaskan.

1.4. Pengujian Beton


1. Benda Uji Beton
Benda uji harus diberi kode/tanda yang menunjukkan tanggal pengecoran,
lokasi pengecoran dari bagian struktur yang bersangkutan. Benda uji harus
diambil dari mixer, atau dalam hal menggunakan beton readymix, maka
benda uji harus diambil sebelum beton dituang ke lokasi pengecoran sesuai
dengan yang disyaratkan oleh Direksi Pengawas.
2. Jumlah Benda Uji Beton
Pada awal pelaksanaan , harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,50 m3
beton dan jenis peruntukan beton hingga dengan cepat dapat diperoleh 30
benda uji yang pertama . Benda uji harus berbentuk kubus berukuran 15
cm x 15 cm x 15 cm . Benda uji bentuk lainnya dapat digunakan jika disetujui
oleh Direksi Pengawas. Selanjutnya pengambilan benda uji sebanyak 2
(dua) buah dilakukan setiap 5 m3 beton. Benda uji tersebut ditentukan
secara acak oleh Direksi dan harus dirawat sesuai dengan persyaratan.
a. Jumlah benda uji beton untuk uji kuat tekan dari setiap mutu beton yang
dituang pada satu hari harus diambil minimal satu kali. Pada setiap satu
kali pengambilan contoh beton harus dibuat dua buah spesimen kubus.
Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua
spesimen ini yang diuji pada umur beton yang ditentukan, yaitu umur 7
haris dan 28 hari.
b. Jika hasil uji beton kurang memuaskan, maka Direksi dapat meminta
jumlah benda uji yang lebih besar dari ketentuan diatas, dengan beban
biaya ditanggung oleh Kontraktor.
c. Jumlah minimum benda uji yang harus dipersiapkan untuk setiap mutu
beton adalah :

Jumlah Waktu Perawatan


Jenis Struktur Minimum (hari)
Benda Uji 3 7 28
Beton Bertulang 4 - 2 2
Beton Pratekan 6 2 2 2

3. Laporan Hasil Uji Beton


Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas uji beton dari laboratorium
penguji untuk disahkan oleh Direksi. Laporan tersebut harus dilengkapi
dengan perhitungan tekanan beton karakteristik.
4. Evaluasi Kualitas Beton Berdasarkan Hasil Uji Beton.
a. Deviasi Standar – S
Deviasi standar produksi beton ditetapkan berdarakan jumlah 30 buah
hasil tes kubus. Deviasi yang dihitung dari jumlah contoh kubus yang
kurang dari 30 buah harus dikoreksi dengan faktor pengali seperti
tercantum dalam tabel berikut :

 ( fc − fcr)
2

S=
N −1

Jumlah Benda Uji (N)-buah Faktor Pengali - S


<15 1.16
20 1.08
25 1.03
>30 1.00

b. Kuat Tekan Rata-rata – fcr


Target fcr yang digunakan sebagai dasar dalam menetukan proporsi
campran beton harus diambil sebagai nilai yang terbesar dari formula
berikut ini :
Fcr = fc’ + 1.64 S atau fcr – fc’ + 2.64 S – 40 kg/cm2
c. Kuat Tekan Sesungguhnya
Tingkat kekuatan suatubeton dikatakan tercapai dengan memuaskan,
jika kedua syarat berikut dipenuhi :
1) Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yangmasing-masing
terdiri dari 4 hasil uji kuat tekan tidak kurang (fc’ + 0.82 N)
2) Tidak satupun dari hasil uji tekan (rata-rata dari 2 benda uji)
mempunyai nilai ibawah 0.85 fc’
Bila salah satu dari kedua syarat diatas tidak dipenuhi, maka harus
diambi l langkah untuk meningkatkan rata-rata hasil uji kuat tekan
berikutnya atas rekomondasi KP

1.5. Pengujian Tidak Merusak


Jika hasil evaluasi terhadap mutu beton yang disyaratkan ternyata tidak
dapat dipenuhi, maka jika diminta oleh Direksi/ Pengawas. Kontraktor harus
melaksanakan pengujian yang tidak merusak yang dapat terdiri dari
hammer test, pengujian beban dan lain-lain. Semua biaya pengujian ini
menjadi tanggung jawab Kontraktor.
Lokasi dan banyaknya pengujian akan ditentukan secara khusus dengan
melihat kasus perkasus.

1.6. Pengujian Besi Beton


1. Benda Uji Besi Uji Beton
a. Sebelum besi beton dipesan, Kontraktor wajib mengambil benda uji besi
beton masaing-masing 2 buah dengan ukuran panjang 100 cm sesuai
diameter dan mutu yang akan digunakan. Selanjunya benda uji besi
beton harus diambil dengan disaksikan oleh Direksi Pengawas sebanyak
2 buah untuk setiap 20 ton untuk masing-masing diameter besi beton. Uji
besi beton terdiri dari uji tarik dan ulir lentur.
b. Pengujian mutu besi beton juga akan dilakuakn setiap saat bilamana
dipandang perlu oleh Direksi. Contoh besi beton yang diambil untuk
pengujian tanpa disaksikan Direksi tidak diperkenankan dan hasil uji
dianggap tidak sah. Semua biaya uji tersebut sepenuhnya menjadi
tanggung Kontraktor.
c. Benda uji harus diberi tanda dengan kode yang menunjukkan tanggal
pengiriman, lokasi terpasang bagian struktur yang bersangkutan dan
lain-lain data yang perlu dicatat.
d. Jika akibat suatu alasan, seperti hasil uji yang kurang memuaskan, maka
Direksi berhak untuk meminta pengambilan contoh benda uji lebih besar
dari yang ditentukan diatas, dengan beban biaya ditanggung oleh
Kontraktor.
e. Laporan Hasil Uji Besi Beton
Kontraktor harus membuat dan menyusun hasil uji besi beton dari
laboratorium penguji untuk diserahkan kepada Direksi dan laporan
tersebut harus dilengkapai dengan kesimpulan apakah kualitas besi
beton tertsebut memenuhi syarat yang telah ditentukan.

1.7. Syarat- Syarat Pelaksanaan


Kontraktor harus membuat beton dengan kualitas sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang disyaratkan, antara lain, mutu dan
penggunannya selama pelaksanaan. Semua pekerjaan beton harus
dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman, termasuk tenaga ahli
untuk acuan/ bekisting, sehingga sehingga dapat mengantisipasi segala
kemungkina yang terjadi. Selain itu, Kontraktor wajib menggunakan tukang
yang berpengalaman, sehing sudah paham dengan pekerjaan yang sedang
dilaksanakan utamanya pada saat dan setelah pengecoran berlangsung.
Semua tenaga ahli dan tukang tersebut harus mengawasi pekerjaan
sampai pekerjaan perawatan beton selesai dilakukan. Untuk itu paling
lambat 10 hari sebelum pekerjaan dimulai Kontraktor harus mengusulkan
metode kerja dan harus disetujui Direksi. Jika dipandang perlu, maka
Direksi/ Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli diluar yang ditunjuk
Kontraktor untuk membantu mengevaluasi semua usulan Kontraktor dan
semua biaya yang timbul menjadi beban Kontraktor.
a. Slump
Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, yang jika tidak ditentukan
secara khusus adalah antara 5 – 12 cm untuk beton umumnya, sedang
tiang bor slump beton adalah 16 – 18 cm lebih besar dari 12cm
(disesuaikan dengan bab pengecoran bored piled, Pondasi).Cara uji slump
sebagai berikut, Beton diambil sebelum dituangkan kedalam cetakan beton
(begisting). Cetakan slump dibasahkan dan ditempatkan diatas permukaan
yang rata. Cetakan diisi sampai kurang lebih sepertiganya.Kemudian beton
tersebut ditusuk- tusuk 25 kali dengan besi beton diameter 16 mm, panjang
30 cm dengan ujung yang bulat. Pengisian dilakukan dengan cara serupa
untuk dua lapisan berikutnya. Setiap lapisan ditusuk-tusuk 25 kali dan
setiap tusukan harus masuk sampai dengan satu lapisan dibawahnya.
Setelah bagian atas diratakan, segera cetakan diangkat perlahan-lahan dan
diukur penurunnannya.
b. Persetujuan Direksi/ Tim Teknis
Sebelum semua tahap pelaksanaan berikutnya dilaksanakan. Kontraktor
harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas.Laparan
harus diberikan kepada Direksi paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan
dilaksanakan. Hal-hal khusus akan didiskusikan secara lebih mendalam
antara semua pihak yang berkepentingan. Semua tahapan pelaksanaan
tersebut harus dicatat secara baik dan jelas sehingga mudah untuk
ditelusuri jika suatu saat data tersebut dibutuhkan untuk pemeriksaan.
c. Persiapan dan Pemeriksaan
Kontraktor tidak diizinkan untuk melakukan pengecoran beton tanpa izin
tertulis dari Direksi. Kontraktor harus melaporkan kepada Direksi tentang
kesiapannya untuk melakukan pengecoran dan laporan tersebut harus
disampaikan minimal satu hari sebelum waktu pengecoran, sesuai dengan
kesepakatan dilapangan, untuk memungkinkan Direksi melakukan
pemeriksaan sebelum pengecoran dilaksanakan. Kontraktor harus
menyediakan fasilitas yang memadai seperti tangga ataupun fasilitas lain
yang dibutuhkan agar Direksi dapat memeriksa pekerjaan secara aman dan
mudah. Tanpa fasilitas tersebut, Kontraktor tidak akan diizinkan untuk
melakukan pengecoran. Semua koreksi yang terjadi akibat pemeriksaan
tersebut harus segera diperbaiki dalam waktu 1 x 24 jam dan selanjutnya
Kontraktor harus mengajukan ijin lagi untuk dapat melaksanakan
pengecoran. Tidak dibenarkan adanya penambahan waktu akibat koreksi
yang timbul, kecuali ditentukan lain oleh Direksi/ Pengawas, Persetujuan
untuk melaksanakan pengecoran tidak berarti membebaskan Kontraktor
dari tanggung jawabb sepenuhnya atas ketidak sempurnaan ataupun
kesalahan yang timbul. Sebelum pengecoran dilakukan harus dipastikan
bahwa semua peralatan yang akan tertanam didalam beton sudah terletak
pada tempatnya dan semua kotoran sudah dibersihkan ndari lokasi
pengecoran. Demikian pula untuk siar pelaksanaan harus dilakukan sesuai
dengan persyaratan.
d. Siar Pelaksanaan
Kontraktor harus mengusulkan lokasi siar pelaksanaan dalam gambar
kerjanya. Siar pelaksanaan harus diusahakan seminimum mungkin, agar
perlemahan struktur dapat dikurangi. Siar pelaksanaan tidak diizinkan untuk
melalui daerah yang diperkirakan sebagai daerah basah, seperti toilet,
seservoir dll. Jika tidak ditentukan lain, maka lokasi siar pelaksanaan harus
terletak pada daerah dimana gaaya geser adalah minimal, umumnya
terletak pada sepertiga bentang tengah dari panjangg efektif elemen
struktur .Pada pengecoran beton yang tebal dan volume yang besar, lokasi
siar pelaksanaan harus dipertimbangkan sedemikian rupa, sehingga tidak
menyebabkan perbedaan temperatur yang besarpada beton yang tersebut,
yang berakibat retaknya beton, disamping adanya tegangan residu yang
tidak diinginkan. Siar pelaksanaan dapat dibuat secara horizontaldan
pengecoran dapat dibagi menjadi berlapis-lapis. Lokasi siar pelaksanaan
tersebut harus disetujui oleh Direksi. Kontraktor harus sudah
mempertimbangkan didalam penawarannya, segala hal yang berhubungan
dengan siar pelaksanaan sepertierstop, perekat beton, dowel dsb, maupun
pembersih permukaan beton agar dapat dijamin lekatan antara beton lama
dan baru. Siar pelaksanaan harus bersih dari semua kotoran dan bekas
beton yang tidak melekat dengan baik, dan sebelum pengecoran
dilanjutkan, harus dikasarkan sedemikian rupa sehingga agregat besar
menjadi terlihat tetapi tetap melekat dengan baik.
e. Pengangkutan dan Pengecoran Beton.
Beton harus diangkut dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat tiba
dilokasi proyek dalam keadaan yang masih memenuhi spesifikasi teknis.
Jika lokasi pembuatan cukup jauh dari proyek, maka harus digunakan
admixtures yang dapat memperlambat proses pengerasan dari beton. Pada
saat beton diangkut ke lokasi pengecoran juga harus diperhatikan, agar
tidak terjadi pemisahan antara bahan-bahan dasar pembuat beton. Pada
saat pengecoran tinggi jatuh dari beton segar harus kurang dari 1.50 metert.
Hal ini sangat penting agar tidak terjadi pemisahan antara batu pecah yang
berat dengan pasta beton sehingga mengakibatkan kualitas beton menjadi
menurun. Untuk itu harus disiapkan alat bantu seperti pipa tremi sehingga
syarat ini dapat dipenuhi. Sebelum pengecoran beton harus dijaga agar
tetap dalam kondisi plastis dalam waktu yang cukup, sehingga pengecoran
beton dapat dilakukan dengan baik. Kontraktor harus mengajukan jumlah
alat dan personil yang akan mendukung pengecoran beton, yang dianalisa
berdasarkan besarnya volume pengecoran yang akan dilakukan. Sebagai
gambaran setiap alat pemadat mampu memadatkan sekitar 5 – 8 m3 beton
segar perjam. Beton segar dicampurkan harus ditempatkan sedekat
mungkin dengan lokasi akhir, sehingga masalah segregasi dan pengerasan
beton dapat dihindarkan dan selam pemadatan beton masih bersifat plastis.

1.8. Pemadatan Beton


1. Alat Pemadat Beton
Beton yang akan dicor harus segera dipadatkan dengan alat pemadat
(vibrator) dengan tipe yang disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Pemadatan
tersebut bertujuan untuk \mengurangi udara pada beton yang akan
mengurangi kualitas beton. Pemadatan tersebut berkaitan dengan
kelecakan (workability) beton. Pada cuaca panas kelecakan beton menjadi
sangat singkat, sehingga slump yang rendah biasanya merupakan
masalah. Untuk itu harus disediakan vibrator dalam jumlah yang memadai,
sesuai dengan besarnya pengecoran yang akan dilakukan. Minimal harus
dipersiapkan satu vibrator cadangan yang akan dipakai, jika ada vibrtor
yang rusak pada saat pemadatan sedang berlangsung. Alat pemadat harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menyentuh besi beton.
2. Lokasi Pemadatan yang Sulit
Pada lokasi yang diperkirakan sulit untuk dipadatkan seperti pada
pertemuan balok-kolom, dinding beton yang tipis dan pada lokasi
pembesian yang rapat dan rumit, maka kontraktor harus mempersiapkan
metode khusus untuk pemadatan beton yang disampaikan kepada Direksi
paling lambat 3 hari sebelum pengecoran dilaksanakan, agar tidak terjadi
keropos pada beton , sehingga secara kualitas tidak akan disetujui.
3. Pemadatan Kembali
Jika permukaan beton mengalami keretakan dalam kondisi masih plastis,
maka beton tersebut harus dipadatkan kembali sesuai dengan rekomondasi
Direksi agar retak tersebut dapat dihilangkan.
4. Metode Pemadatan Lain
Jika dipandang perlu Kontraktor dapat mengusulkan cara pemadatan lain
yang dipandang dapat menyebabkan perbedaan temperatur yang besar
antara permukaan dan inti beton. Hal ini dapat menyebabkan keretakan
struktur dan terjadinya tegangan menetap pada beton, tanpa adanya beban
yang bekerja.
5. Temperatur Beton Segar
Dalam waktu 2 menit setelah contoh diambil, sebuah termometer yang
mempunyai skala 5 s/d 100 derajat C, harus dimasukkan kedalam contoh
tersebut sedalam 100 mm. Jika temperatur sudah stabil selama 1 menit,
maka temperatur tersebut harus dicatat dengan ketelitian 1 derajat C.

1.9. Perawatan Beton


1. Tujuan Perawatan
Perawatan beton bertujuan antara lain untuk menjaga agar tidak terjadi
kehilangan zat cair pada saat pengikatan awal terjadi dan mencegah
penguapan air dari beton pada umur beton awal dan juga mencegah
perbedaan temperatur dalam beton yang dapat menyebabkan terjadinya
keretakan dan penurunan kualitas beton. Perawatan beton harus dilakukan
begitu pekerjaan pemadatan beton selesai dilakukan . Untuk itu harus
dilakukan perawatan beton sedemikian sehingga tidak terjadi penguapan
yang cepat terutama pada permukaan beton yang baru dipadatkan.
2. Lama Perawatan
Permukaan beton harus dirawat secara baik dan terus menerus dibasahi
dengan air bersih selama minimal 7 hari segera setelah pengecoran
selesai. Untuk elemen vertikal seperti kolom dan dinding beton, maka beton
tersebut harus diselimuti dengan karung yang dibasahi terus menerus
selama 7 hari.
3. Perlindungan Beton Tebal
Untuk pengecoran beton dengan ketebalan lebih dari 600 mm, maka
permukaan beton harus dilindungi dengan material (antara lain stirofoam)
yang disetujui oleh Direksi, agar dapat memantulkan radiasi akibat panas.
Material tersebut harus dibuat kedap, agar kelembaban permukaan beton
dapat dipertahankan.
4. Acuan Metal
Setiap acuan yang terbuat dari metal, beton ataupun material lain yang
sejenis, harus didinginkan dengan air sebelum pengecoran dilakuakan.
Acuan tersebut dihindari dari terik matahari langsung, karena sifatnya yang
mudah menyerap dan mengantarkan panas. Perlakuan yang kuarang baik
akan menyebabkan retak-retak yang parah pada permukaan beton.
5. Curing
Seluruh permukaan beton harus dilindungi selama proses pengerasan
terhadap sinar matahari dan hembusan angin kering.
Semua permukaan beton yang terlihat hams diambil tindakan sebagai
berikut:
- Sebelum beton mulai mengeras, maka beton setelah pengecoran pada
hari pertama harus disirami, ditutupi dengan karung basah atau
digenangi dengan air selama paling sedikit 2 minggu secara terus
menerus.
Tidak diperkenankan menaruh bahan-bahan diatas konstruksi beton yang
baru dicor (dalam tahap pengeringan) atau mempergunakannya sebagai
jalan mengangkut bahan-bahan.
1.10. Cara Menghindari Keretakan Pada Beton
1. Alat Monitoring.
Untuk pekerjaan beton dengan tebal lebih dari 600 mm. Kontraktor harus
menyediakan perlatan yang dibutuhkan untuk mengukur dan memonitor
segala kejadian yang mungkin terjadi selama pekerjaan beton berlangsung.
Monitoring dilakukan minimal selama 7 hari sejak pengecoran selesai.;
Kontraktor wajib menyediakan alat pengukur temperatur yang akan
diletakkan pada dasar beton, didalam beton dan dipermukaan beton
dengan jarak vertikal antara alat ditetapkan maksimal 50 cm. Sedangkan
jarak horisontal antara titik satu dengan lainnya maksimal 10 meter. Lokasi
alat pengukur dan metode pengukur suhu tersebut harus diusulkan kepada
Direksi/ Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
2. Perbedaan Temperatur.
Umumnya permukaan beton harus didinginkan secara mendadak, yang
terpenting adalah tidak terjadi perbedaan temperatur yanng besar (> 20o C)
antara permukaan dan inti beton dan beton harus dihindarkan dari sinar
matahari langsung atapun tiupan angin.
3. Material Bantu.
Disamping peralatan juga dibutuhkan material pembantu yang mungkin
dapat dicampur kedalam beton maupun yang akan digunakan pada saat
perawatan beton untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu cepat.
4. Lebar Retak
Suatu struktur beton pasti akan mengalami suatu retakan dan lebar retak
yang dizinkan maksimal sebesar 0,004 kali tebal selimut beton.
5. Antisipasi Perbedaan Temperatur.
Kontraktor harus menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengatasi jika
perbedaan temperatur menjadi lebih dari 20 derajat C, misalnya dengan
mempertebal isolasi yang sudah digunakan atau membuat isolasi menjadi
benar-benar kedap terhadap angin dan udara. Hal ini harus segera
dilakukan agar perbedaan temperatur tidak menjadi besar, Untuk itu harus
disiapkan material isilosi lebih dari kebutuhan sebelum pengecoran
dilakukan.
6. Hal-hal Lain.
Beberapa hal yang harus diperhatikan baik sebelum, selama maupun
sesudah pengecoran beton adalah :
1) Usahakan agar semua material dasar yang digunakan tetap dalam
kondisi terlindung dari sinar matahari, sehingga temperatur tidak tinggi
pada saat pencampuaran dimulai.
2) Air yang akan digunakan harus didinginkan, misalnya dengan mengganti
sebagian air dengan es, sehingga temperatur menjadi lebih besar.
3) Semen yang digunakan mempunyai hidrasi rendah.
4) Jika mungkin, tambahkan nitrogen cair kedalam campuarn beton.
5) Waktu antara pengadukan beton dan pengecoran harus dibatasi
maksimal 2 jam
6) Lakukan pengecoran bertahap sedemikan rupa, misalnya dengan
membuat siar pelaksanaan secara horizontal pada beton yang tebal,
sehingga tebal satu lapis pengecoran penjadi kurang lebih 1 meter dan
perbedaan temperatur dapat dikontrol.
7) Jika mungkin diusulkan pengecoran dilakukan pada malam hari dimana
temperatur lapangan sudah lebih rendah dari dibandingkan dari siang
hari.
8) Harus disiapkan isolasi panas yang merata pada seluruh permukaan
beton yang terbuka untuk mencegah tiupan angin dan menjaga agar
temperatur tidak terlalu berbeda pada seluruh penampang beton.
9) Lakukan perawatan awal segera setelah pemadatan selesai dan harus
diteruskan sampai sistim isolasi terpasang seluruhnya
10) Sediakan pelindung sehingga permukaan beton terlindung dari
sinar matahari dan angin. Hal ini dapat dilakukan membuat dinding pada
sekeliling daerah pengecoran dengan plastik atau material sejenis,
demikian juga pada bagian atasnya.
7. Retak di Luar Batas yang Disyaratkan.
Jika setelah pemadatan selesai masih terjadi keretakan diluar batas yang
diizinkan , maka Kontraktor harus melaporkan hal tersebut secara tertulis
yang berisi antara lain metode kerja danperalatan yang digunakan berikut
komposisi campuran yang digunakan, Kepada Direksi untuk dievaluasi
lebih lanjut. Kontraktor tidak diijinkan untuk memperbaikai keretakan
tersebut sebelum mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi.
1.11. Adukan Beton Dibuat Ditempat (Site Mix)
Untuk mendapatkan kualitas beton yang baik, maka untuk beton yang
dibuat dilapangan harus memenuhi syarat-syarat :
1. Semen diukur menurut berat
2. Agregat kasar diukur menurut berat
3. Pasir diukur menurut berat
4. Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin (concrete
batching plant)
5. Junlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin beton
6. Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada
dalam mesin pengaduk
Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih
dahulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai
1.12. Pengujian Pekerjaan
1. Besi Beton
Digunakan mutu U-24 untuk Ø < 12 mm, U-40 untuk Ø > 10 mm. Besi harus
bersih dari lapisanminyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih.
Penampang besi harus bulat sertamemenuhi persyaratan NI-2 (PBI 1988).
Bila dipandang perlu Kontraktor diwajibkan untuk memeriksamutu besi
beton ke laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya
Kontraktor.
Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
- Peraturan-peraturan/standard setempat yang biasa dipakai
- Peraturan-peraturan Beton Bertulang Indonesia 1988, NI-2
- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961, NI-5.
- Peraturan Semen Portland Indonesia 1972, NI-8
- Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat
- Ketentuan-ketentuan Umum untuk pelaksanaan Kontraktoran Pekerjaan
Umum (AV) No.9 tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara
No. 1457
- Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang
diberikan Direksi Pengawas.
- American Society for Testing and Material (ASTM) 9. American Concrete
Institute (ACI)

a. Kawat Pengikat
Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak
disepuh seng, diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm.
Kawat pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syaratsyarat yang
ditentukan dalam NI-2 (PBI tahun 1988).
b. Merk Besi Beton
Sebelum pemesanan dilakukan, maka Kontraktor harus mengusulkan
merk besi beton dilengkapi dengan brosur dan data teknis dari pabrik
yang akan digunakan untuk disetujui Direksi.
c. Penyimpanan
Besi beton disimpan pada tempat yang bersih dan tumpu secara baik
tidak merusak kualitasnya. Tempat penyimpanan harus cukup terlindung
sehingga kemungkinan karat dapat dihindarkan

d. Gambar Kerja dan Bending Schedule


Pembengkokan besi beton harus dilakukan sesuai dengan gambar
rencana dan berdasarkan standar ditail yang ada. Pembengkokan
tersebut harus dilakukan dengan menggunakan alat-alat (bar bender)
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan cacat patah, retak-retak
dan sebagainya. Semua pembengkokan harus dilakukan dalam keadaan
dingin dan pemotongan harus dengan bar cutter. Pemotongan dan
pembengkokan dengan sistim panas sama sekali tidak diijinkan. .Untuk
itu Kontraktor harus membuat gambar kerja pembengkokan (bending
schedule) dan diajukan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
e. Bebas Karat
Pemasangan dan penyetelan berdasarkan evaluasi yang sesuai dengan
gambar dan harus sudah diperhitungkan toleransi penurunannya.
Sebelum besi beton dipasang, permukaan besi beton harus bebas dari
karat, minyak dan lain-lain yang dapat mengurangi lekatan besi beton.
2. Selimut Beton
Besi beton harus dilindungi oleh selimut beton yang sesuai dengan gambar
stndar ditail. Sebagai catatan, pemasangan tulangan-tulangan utama tarik/
tekan penampang beton harus dipasang sejauh mungkin dari garis tengah
penampang, sehingga pemakaian selimut beton yang melebihi ketentuan -
ketentuan tersebut diatas harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi
Pengawas.
3. Penjangkaran
Pemasangan rangkaian besi beton yaitu kait-kait, panjang penjangkaran,
penyaluran, letak sambungan dan lain-lain harus sesuai dengan gambar
standar yang terdapat dalam gambar rencana. Apabila ada keraguan
tentang ini maka Kontraktor harus meminta klarifikasi kepada Direksi.
4. Kawat Beton dan Penunjang
Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada
kedudukan yang kokoh untuk menghindari pemindahan tempat, dengan
menggunakan kawat yang berukuran tidak kurang dari 16 gauge atau klip
yang sesuai pada setiap tiga pertemuan. Pembesian harus ditunjang
dengan beton tahu atau penunjang besi, spacers atau besi penggantung
seperti yang ditunjukkan pada gambar standar atau dicantumkan pada
spesifikasi ini. Penunjang-penunjang metal tidak boleh diletakkan
berhubungan acuan. Ikatan dari kawat harus dimasukkan kedalam
penampang beton, sehingga tidak menonjol permukaan beton.
5. Sengkang-sengkang
Untuk menjamin bahwa perilaku elemen struktur sesuai dengan rencana,
maka sengkang harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus
sesuai dengan gambar. Akhiran/ kait sengkang harus dibuat seperti yang
disyaratkan didalam gambar standar agar sengkang dapat bekerja seperti
yang diinginkan. Demikian juga untuk besi pengikat yang digunakan untuk
pengikat tulangan utama.
6. Beton Tahu
Beton tahu harus digunakan untuk menahan jarak yang tepat pada
tulangan, dan minimum mempunyai kekuatan beton yang sama dengan
beton yang akan dicor. Jarak antara beton tahu ditentukan maksimal 100
cm dengan ketebalan sesuai SNI
7. Penggantian Besi.
a. Kontraktor harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah
sesuai dengan apa yang tertera pada gambar
b. Dalam hal ini dimana berdasarkan pengalaman kontraktor atau
pendapatnya terdapat kekeliruan atau kekurangan atau perlu
penyempurnaan pembesian yang ada maka Kontraktor dapat
menambah ektra besi dengan tidak mengurangi pembesian yang tertera
dalam gambar.
c. Jika Kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai
dengan yang gditetapkan dalam gambar maka dapat dilakukan
penukaran diameter besi dengan diameter yang terdekat dengan
catatan :
1) Harus ada persetujuan dari tertulis dari Direksi.
2) Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat
tersebut tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar
(dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas). Khusus untuk
balok portal, jumlah luas penampang besi pada tumpuan juga
tidak boleh lebih besar jauh dari pembesian aslinya.
3) Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan keruwetan
pembesian ditempat tersebut atau di daerah overlap yang dapat
menyulitkan pengecoran.
4) Tidak ada pekerjaan tambah dan tambahan waktu pelaksanaan.

8. Toleransi Besi
2. PEKERJAAN PASANGAN
2.1. Pekerjaan Psangan Batu Bata
2.1.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan
dan alat alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini
untuk mendapatkan hasil yang baik.
Pekerjaan pemasangan batu bata ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk perencana.

2.1.2 Standard Dan Persyaratan Yang Berlaku


Pekerjaan wajib memenuhi standard:

• Batu bata harus memenuhi NI 10


• Semen Portland harus memenuhi NI 8.
• Pasir harus memenuhi NI 3 pasal 14 ayat 2.
• Air harus memenuhi PVBI 1983 pasal 9.
2.1.3 Persyaratan Bahan
1. Batu bata yang dikehendaki adalah batu bata merah lokal bakaran kayu
yang berkualitas baik yaitu dengan hasil pembakaran yang matang
berukuran sama kira-kira 5x11x22 cm tidak boleh terdapat pecah-pecah
(melebihi 20 %) dan tidak diperbolehkan memasang bata yang pernah
dipakai.

Bahan bata merah:

• Berat jenis kering (ρ) : 1500 kg/m3


• Berat jenis normal (ρ) : 2000 kg/m3
• Kuat tekan : 2,5 – 25 N/mm² (SII-0021,1978)
• Konduktifitas termis : 0,380 W/mK
• Tebal spesi : 20 – 30 mm
• Ketahanan terhadap api : 2 jam
• Jumlah per luasan per 1 m2 : 70 - 72 buah dengan construction waste

2. Sebagai Semen dan Pasir untuk pasangan batu bata ini harus sama
dengan kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.
2.1.4 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Dimana diperlukan menurut Direksi, pemborong harus membuat shop
drawing untuk pelaksanaan pembuatan adukan dan pasangan.
2. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk
dalam gambar arsitektur terutama gambar detail dan gambar potongan
mengenai ukuran tebal/ tinggi/ peil dan bentuk profilnya.
3. Pasangan batu bata/batu merah, dengan menggunakan aduk campuran
1 PC : 4 pasir pasang. untuk semua dinding luar, semua dinding lantai
dasar dari permukaan sloof sampai ketinggian 30 cm diatas permukaan
lantai dasar, dinding didaerah basah setinggi 160 cm dari pemukaan
lantai, serta semua dinding yang pada gambar menggunakan simbol aduk
trasraam/kedap air digunakan aduk rapat air dengan campuran 1 PC : 2
pasir pasang.
4. Perekat harus dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujuh atau
dicampur dengan tangan pada permukaan yang keras, dilarang
memakai perekat yang sudah mulai mengeras untuk dipakai lagi.
5. Batu bata merah yang digunakan batu bata merah ex MRH, Jatirogo
dengan kwalitas terbaik yang disetujui Perencana, siku dan sama
ukurannya 5 x 11 x 23 cm.
6. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum
hingga penuh.
7. Setelah bata terpasang dengan aduk, nad/siar siar harus dikerok sedalam
1 cm dan dibersihkan dengan sapu lidi dan lemudian disiram air.
8. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air
terlebih dahulu dan siar siar telah dikerok serta dibersihkan.
9. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri
maksimum 24 lapis atau maksimum setinggi 1 m setiap harinya, diikuti
dengan cor kolom praktis.
10. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum
diaci/diplester)
11. Bidang dinding 1/2 batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 ditambahkan
lok penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12x12 cm, dengan tulangan
pokok 4 diameter 10 mm, beugel diameter 6 mm jarak 20 cm.
12. Pembuatan lubang pada pasangan untuk perancah/scaffolding/stieger
sama sekali tidak diperkenankan.
13. Pembuatan lubang pada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap
bagian pekerjaan beton (kolom) harus diberi penguat stek stek besi beton
diameter 6 mm jarak 75 cm, yang terlebih dahulu ditanam dengan baik
pada bagian pekerjaan beton dan bagian yang ditanam dalam pasangan
bata sekurang kurangnya 30 cm kecuali ditentukan lain.
14. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari
5% Bata yang patah lebih dari 2 tidak boleh digunakan.
15. Pasang batu bata dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish
setelah 15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan
pasangan harus cermat, rapi dan benar benar tegak lurus.

2.1.5 Syarat Syarat Kualitas Pekerjaan


1. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum
diaci/diplester)
2. Pasangan batu bata dapat diterima/ diserahkan apabila deviasi bidang
pada arah diagonal dinding seluas 12 m² tidak lebih dari 0.5 cm (sebelum
diaci/diplester).
3. Pasangan batu bata untuk dinding 1/2 batu harus menghasilkan
dinding finish setebal 15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25
cm. Pelaksanaan pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak
lurus.

2.2. Pekerjaan Plesteran dan Acian Semen


2.2.1. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan plesteran dinding ini adalah penyediaan
tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan termasuk alat-alat bantu dan alat
angkut yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan plesteran,
sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik.
2. Pekerjaan plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding bagian
dalam dan luar serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam
gambar.
2.2.2. Persyaratan Bahan
1. Semen Portland harus memenuhi NI-8 (dipilih dari satu produk untuk
seluruh pekerjaan).
2. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2.
3. Air harus memenuhi NI-3 pasal 10.
4. Penggunaan asukan plesteran :
5. Adukan 1 PC : 3 pasir dipakai untuk plesteran rapat air.
6. Adukan 1 PC : 5 dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
7. Seluruh permukaan plesteran difinish acian dari bahan PC.
2.2.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Plesteran dilaksanakan sesuai standard spesifikasi dari bahan yang
digunakan sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Perencana dan
persyaratan tertulis dalam Uraian dan Syarat Pekerjaan ini.
2. Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilaman pekerjaan bidang beton
atau pasangan dinding batu bata telah disetujui oleh Perencana sesuai
Uraian dan Syarat Pekerjaan yang tertulis dalam buku ini.
3. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk
dalam gambar Arsitekur terutama pada gambar detail dan gambar
potongan mengenai ukuran tebal/tinggi/peil dan bentuk profilnya.
4. Campuran aduk perekat yang dimaksud adalah campuran dalam volume,
cara pembuatannya menggunakan mixer selama 3 menit dan memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. Untuk bidang kedap air, beton, pasangan dinding batu bata yang
berhubungan dengan udara luar, dan semua pasangan batu bata dibawah
permukaan tanah sampai ketinggian 30 cm dari permukaan lantai dan 150
cm dari permukaan lantai untuk kamar mandi, WC/toilet dan daerah basah
lainnya dipakai aduk plesteran 1 PC : 3 pasir.
b. Untuk aduk kedap air, harus ditambah dengan Daily bond, dengan
perbandingan 1 bagian PC : 1 bagian Daily bond.
c. Untuk bidang lainnya diperlukan plesteran 1 PC : 5 pasir.
d. Plesteran halus (acian) dipakai campuran PC dan air sampai
mendapatkan campuran yang homogen, acian dapat dikerjakan sesudah
plesteran berumur 8 hari (kering benar), untuk adukan plesteran finishing
harus ditambah dengan additive plamix dengan dosis 200-250 gram
plamix untuk setiap 40 Kg semen.
e. Semua jenis aduk perekat tersebut diatas harus disiapkan sedemikian
rupa sehingga selalu dalam keadaan baik dan belum mengering.
f. Diusahakan agar jarak waktu pencampuran aduk perekat tersebut dengan
pemasangannya tidak melebihi 30 menit terutama untuk adukan kedap
air.
5. Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai
pemasangan instalasi pipa listrik dan plumbing untuk seluruh bangunan.
6. Khusus untuk permukaan beton yang akan diplester, maka :
a. Seluruh permukaan beton yang akan diplester harus dibuat kasar dengan
cara dipahat halus.
b. Sebelum plesteran dilakukan, seluruh permukaan beton yang akan
diplester, dibersihkan dari segala kotoran, debu dan minyak serta disiram
/ dibasahi dengan air semen.
c. Plesteran beton dilakukan dengan aduk kedap air campuran 1 PC : 3
pasir.
a. Pasir pasang yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata
ayakan seperti yang disyaratkan.
7. Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan
difinish dengan cat dipakai plesteran halus (acian diatas permukaan
plesterannya).
8. Untuk dinding tertanam didalam tanah harus diberapen dengan memakai
spesi kedap air.
9. Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada
permukaannya diberi alur-alur garis horizontal atau diketrek (scrath) untuk
memberi ikatan yang lebih baik terhadap finishingnya, kecuali untuk yang
menerima cat.
10. Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 M, dipasang tegak dan
menggunakan keping-keping plywood setebal 9 mm untuk patokan
kerataan bidang.
11. Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom
yang dinyatakan dalam gambar, atau sesuai peil-peil yang diminta
gambar. Tebal plesteran 2,5 cm, jika ketebalan melebihi 2,5 cm harus
diberi kawat ayam untuk membantu dan memperkuat daya lekat dari
plesterannya pada bagian pekerjaan yang diizinkan Perencana.
12. Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya yang bertemu
dalam satu bidang datar, harus diberi naat (tali air) dengan ukuran 0,7 cm
dalamnya 0,5 cm, kecuali bila ada petunjuk lain didalam gambar.
13. Untuk permukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau
cembung bidang tidak melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi,
Kontraktor berkewajiban memperbaikinya dengan biaya atas tanggungan
Kontraktor.
14. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung
wajar tidak terlalu tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran
setiap kali terlihat kering dan melindungi dari terik panas matahari
langsung dengan bahan-bahan penutup yang bisa mencegah penguapan
air secara cepat.
15. Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik,
plesteran harus dibongkar kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan
dapat diterima oleh Perencana dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
16. Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai Kontraktor harus selalu
menyiram dengan air, sampai jenuh sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari.
17. Selama pemasangan dinding batu bata/beton bertulang belum difinish,
Kontraktor wajib memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan yang
terjadi menjadi tanggung jawab Kontraktor dan wajib diperbaiki.
18. Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum
plesteran berumur lebih dari 2 (dua) minggu.
Bab 4
PEKERJAAN AKSESORIS PELENGKAP

1. PEKERJAAN KOSNTRUKSI ATAP

1.1. Lingkup Pekerjaan


Yang dimaksud pekerjaan konstruksi baja adalah semua
pekerjaan konstruksi baja dan pekerjaan baja lainnya yang tercantum dalam
gambar rencana.
Termasuk didalam pekerjaan Konstruksi Baja ini antara lain adalah :
• Konstruksi rangka atap,dan konstruksi baja lainnya untuk Bangunan
Gedung.
• Konstruksi baja lainnya sesuai yang dimaksud gambar rencana

1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan dari semua bahan, tenaga, peralatan,


perlengkapan serta pemasangan dari semua pekerjaan baja dan logam
termasuk alat-alat atau benda-benda/ material pendukung lainnya.
2. Pekerjaan baja dan logam harus dilaksanakan sesuai dengan
keterangan-keterangan yang tertera pada
gambar rencana/detail, lengkap dengan penyangganya, alat untuk
memasang dan menyambungnya, pelat-pelat baja/ profil siku dan lain
sebagainya.
3. Semua bagian harus mempunyai ukuran yang tepat, sehingga dalam
pemasangannya tidak memerlukan pengisi, kecuali kalau gambar detail
menunjuk hal tersebut.
4. Semua detail dan hubungan harus dibuat dengan teliti dan
diselesaikan dengan rapi, dan dalam pelaksanaannya tidak
hanya dari gambar-gambar kerja untuk memasang pada tempatnya
tetapi dimungkinkan untuk mengambil ukuran-ukuran sesungguhnya
ditempat pekerjaan terutama bagian-bagian yang terhalang oleh benda
lain.
5. Pekerjaan harus bermutu kelas satu dalam segala hal, setiap bagian
pekerjaan yang buruk akan ditolak dan harus diganti
apabila perlu. Pekerjaan yang selesai harus bebas dari puntiran-
puntiran,bengkokan-bengkokan dan sambungan-sambungan yang
mengganggu.

1.2. Standar Yang Dipakai


Referensi Konstruksi Baja
• Peraturan Perencanaan Bangunan Baja (PPBBI-Mei 1984)
• American Institut of Steel Contruction (AISC)
- American Welding Society (AWS ) bahan-bahan las
- American Nastional Srandart Institut (ANSI)
- American Soceiety for Testing ang Material (ASTM) Spesificatin
• RKS dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan

1.3. Persyaratan Bahan


1. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan baja harus
sudah disetujui oleh Pengawas, tidak berkarat, bagian bagiannya dan
lembaran-lembarannya tidak bengkok dan cacat. Potongan-
potongan (profil) mempunyai ukuran yang tepat sesuai dengan
dimensi yang tertera dalam gambar rencana baik bentuknya, tebal,
ukuran berat.
2. Bahan baja yang digunakan/ dipasang harus dari
jenis yang sama kualitasnya, dalam hal ini dipakai baja jenis ST-38,
3. Toleransi luas penampang bahan baja ditetapkan maksimum 5
% dari luas untuk rangka batang atau maksimum 5 % dari momen inersia
(I)
4. Sebagai kawat las dipakai
setaraf produksi “KOBE” atau “NIPPON STEEL” Jenis kawat las yang
akan digunakan harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari pabrik
pembuat dan petunjuk-petunjuk Direksi. Elektroda-elektroda las
harus diambil dari GRADA-A (besi heavy coatee type) batang-batang
elektroda yang dipakai diameternya lebih besar atau sama dengan 6 mm
(1/4 inch), dan batang-batang elektroda harus dijaga agar selalu dalam
keadaan kering.
5. Baut-baut yang digunakan harus baut hitam ulir (HTB)
tak penuh dengan tegangan baut dan tegangan las minimum
adalah 1.400 kg/cm² atau minimal sama dengan mutu baja yang
digunakan (A-325 ASTM).
6. Pada konstruksi atap bangunan gedung, sambungan gording tidak
harus menumpu pada kuda-
kuda/jurai atau tumpuan lainnya. Untuk itu sebelum
pemasangan gording dilaksanakan Kontraktor harus berkonsultasi
terlebih dahulu dengan Direksi/Pengawas.
7. Bahan baja ini kecuali ditunjuk atau dipersyaratan lain harus sesuai
dengan NI 3-1970

1.4. Syarat-Syarat Pelaksanaan

1.4.1. Perancangan
1. Penawaran baja dalam berat (kg), sudah termasuk “wastage” akib
at pemotongan dan lain-lain dan diperhitungkan pada analisa harga
satuan.
2. Standard
Kontraktor bertanggung jawab untuk menjamin perancang baja untuk
pengerjaannya agar sesuai dengan persyaratan-persyaratan ini
sepenuhnya.
Kontraktor supaya menyiapkan salinan usulan standart
yang akan dipakai, sebagai pedoman bagi Direksi paling lambat 21 hari
sebelum fabrikasi.

1.4.2. Perencanaan dan Pengawasan


1. Gambar Kerja.
Sebelum pekerjaan di pabrik dimulai,
Kontraktor harus menyiapkan gambar-gambar kerja (shop
drawing) yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua
komponen, panjang serta ukuran las, jumlah, ukuran serta tempat baut-
baut serta detail-detail lain yang lazimnya diperlukan untuk fabrikasi.
2. Ukuran-ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap
semua ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
3. Kelurusan
Toleransi dari keseluruhan tidak lebih dari L/1000 untuk semua
komponen.
4. Pemeriksaan dan lain-lain
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan
yang berkualitas tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan
ketepatan sedemikian rupa sehingga semua komponen
dapat dipasang dengan tepat di lapangan.
Direksi mempunyai hak untuk memeriksa pekerjaan di pabrik pada saat
yang dikehendaki,
dan tidak ada pekerjaan yang boleh dikirim ke lapangan sebelum
diperiksa dan disetujui Direksi/ Pengawas. Setiap pekerjaan yang
kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan
ditolak dan bila terjadi demikian, harus diperbaiki dengan segera.

1.4.3. Pelaksanaan Dan Sistim Pemasangan.


1. Fabrikasi :
a. Sebelum memulai dengan
pemotongan, penyambungan, dan pemasangan Kontraktor harus
memberitahukan secara tertulis tentang tempat, sistim
pengerjaan dan pemasangan kepada Direksi untuk mendapat
persetujuannya.
b. Kontraktor harus terlebih dahulu menunjukkan kualitas
pengelasan dan penghalusan untuk dijadikan standart dalan
pekerjaan tersebut.
c. Pekerjaan pengelasan konstruksi baja harus sesuai dengan gambar
rencana dan harus mengikuti prosedur yang berlaku seperti AWS
atau AISC Spesification.
d. Kecuali ditunjuk sistim lain maka, dalam hal menghubungkan profil-
profil, plat-plat pengaku digunakan las listrik dengan alat pembakar
yang standart dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Batang las (bahan untuk las) harus dibuat dari bahan
yang campurannya sama dengan bahan yang akan
disambung.
2) Kekuatan sambungan dengan las (hasil pengelasan) harus
sama kuat dengan batang yang disambung.
3) Pemeriksaan kekuatan las harus dilakukan dengan persetujuan
pengawas bila dianggap perlu dan dapat dilakukan di
laboratorium.
4) Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus
menjamin situasi yang paling
aman bagi pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang
dilakukan.
5) Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan,
baik bekas lapisan pertama, maupun bidang- bidang benda
kerja harus dibersihkan dari keras (slag) dan kotoran lainnya.
6) Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka
lapisan yang terdahulu harus dibersihkan dari keras
(slag) dan percikan-percikan logam sebelum memulai
dengan lapisan las yang baru.
7) Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang
sama sekali.
8) Tempat pengelasan dan juga bidang konstruksi yang di las,
harus terlindung dari hujan/ angin kencang.
9) Cara pemotongan harus menggunakan mesin potong dilakukan
dengan membatasi sekecil mungkin .
10) Permukaan las terakhir harus digerinda sampai rata dan halus.
11) Kesalahan pemotongan maupun
lubang yang terlalu besar tidak diperkenankan
ditutup dengan las, karena itu batang yang bersangkutan
harus diganti dengan yang baru.
e. Lubang-lubang Baut
Pembuatan lubang baut harus dilaksanakan di pabrik dan harus
dikerjakan dengan alat bor.Lubang baut harus lebih besar 2.0 mm dari
pada diameter luar baut.
f. Sambungan
Untuk sambungan komponen konstruksi baja yang tidak dapat
dihindarkan berlaku ketentuan sebagai berikut :
1) Hanya diperkenankan satu sambungan.
2) Semua penyambung profil baja harus dilaksanakan dengan
las tumpul/full penetration butue weld.
g. Pemasangan Percobaan/Trial Erection
Bila dipandang perlu oleh Direksi/ Pengawas, Kontraktor
wajib melaksanakan pemasangan percobaan dari sebagian
atau seluruh pekerjaan konstruksi. Komponen yang tidak cocok atau
yang tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi dapat ditolak oleh
Direksi dan pemasangan percobaan tidak boleh dibongkar tanpa
persetujuan Direksi.

2. Pemasangan/ Erection.
Baja dipasangkan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi/ Manajemen
Konstruksi 2 (dua) hari setelah pengecoran.
a. Penguat Sementara.
Baja harus dipasang mati setelah sebagian besar struktur baja
terpasang dan disetujui ketepatan garis, vertikan dan horisontal.
Kontraktor supaya menyediakan penunjang-penunjang sementara
(pembautan-
pembautan) bilamana diperlukan sampai pemasangan mati
sesuai keputusan Direksi/ Pengawas.
b. Pembautan
Ulir harus bebas setidak-tidaknya dua setengah putaran dari muka
mur dalam keadaan terpasang mati.
Kontraktor supaya menggunakan setidak-
tidaknya satu cincin pada setiap mur dan
menyiapkan daftar mur, baut, dan cincin.
Kontraktor supaya menggunakan cincin baja keras untuk baut
tegangan tinggi (HSB).
c. Adukan Pengisi (Grouting)
Kontraktor supaya memasang adukan pengisi dibawah pelat- pelat
kolom dll.tempat sesuai dengan gambar-gambar.
Penawaran harus sudah termasuk pekerjaan ini, bahan grouting
yang digunakan setaraf AM, Sika, Frosroksid.

3. Pengecatan
a. Semua bahan Konstruksi baja yang di expose / tampak harus di cat
sampai akhir, sedang baja yang tidak ditampakkan/expose cukup di
cat dasar.
b. Cat dasar adalah cat zink chromate buatan Dana Paint atau setara
sedangkan sebagai cat akhir adalah Enamel Paint produk ex
Mowilex, ICI, Kemton atau setara, dan pengecatan dilakukan satu kali
di pabrik dan satu kali di lapangan.
c. Baja yang akan ditanam dalam beton tidak boleh di cat.
d. Untuk lubang baut kekuatan tinggi/high strength bold permukaan
baja tidak boleh di cat.
e. Cat akhir adalah enamel paint buatan Mowilex, Kemton, ICI
atau setaraf dan pengecatan dilakukan 2
kali di lapangan, kecuali bila dinyatakan lain dalam gambar atau
spesifikasi arsitektur.
f. Dibagian bawah dari base plate dan/atau seperti yang tertera
pada gambar harus di grout dengan bahan setara “Master Flor
713 Grout”, dengan tebal minimum 2,5 cm.
g. Cara pemakaian harus sesuai spesifikasi pabrik.

4. Syarat-syarat Pengamanan Pekerjaan.


a. Bahan-bahan baja profil dihindarkan/dilindungi dari hujan dan lain-
lain.
b. Baja yang sudah terpasang dilindungi dari kemungkinan
cacat/rusak yang diakibatkan oleh pekerjaan-pekerjaan lain.
c. Bila terjadi kerusakan, Kontraktor diwajibkan untuk memperbaiki
nya dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan.
Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
d. Penempatan pipa dan batang baja
di work shop maupun dilapangan tidak boleh langsung
diatas tanah atau lantai, tetapi harus diatas balok-balok
kayu yang berjarak maksimum 2 m. Tanah atau lantai tersebut harus
datar, padat merata dan bebas dari genangan air.

5. Pemasangan Akhir/ Final Erection.


a. Alat-alat untuk pemasangan harus sesuai untuk pekerjaannya
dan harus dalam keadaan baik. Bila dijumpai bagian-bagian
konstruksi yang tidak dapat dipasang atau ditempatkan
sebagaimana mestinya sebagai akibat
dari kesalahanpabrikasi atau perubahan bentuk yang disebabkan
penanganan, maka keadaanitu harus segera dilaporkan kepada
Direksi disertai usulan cara perbaikannya
Cara perbaikan tersebut harus mendapat persetujuan dari Direksi
sebelum dimulainya pekerjaan tersebut.
Biaya tambahan yang timbul akibat pekerjaan perbaikan tersebut
adalah menjadi tanggungan Kontraktor.
Meluruskan pelat dan besi siku atau bentuk lainnya harus
dilaksanakan dengan persetujuan Direksi..
Pekerjaan baja harus kering sebagaimana mestinya, kantong air
pada konstruksi yang tidak terlindung dari cuaca harus diisi
dengan bahan “waterproofing” yang disetujui. Sabuk pengaman dan
tali-tali harus digunakan oleh para pekerja pada saat
bekerja ditempat yang tinggi, disamping pengaman yang berupa
“piatfrom” atau jaringan (“net”).
b. Setiap komponen diberi kode/ marking sesuai dengan gambar
pemasangan sedemikian rupa sehingga memudahkan pemasangan.
c. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan-ikatan
sementara harus digunakan untuk mencegah tegangan-tegangan
yang melewati tegangan ijin.
Ikatan-ikatan itu dibiarkan sampai konstruksi selesai.
Sambungan-sambungan sementara dari baut
harus diberikan kepada bagian konstruksi untuk menahan beban
mati, angin dan tegangan-tegangan selama pembangunan.
d. Baut-baut, baut angker, baut hitam, baut kekuatan tinggi dan lain-
lain harus disediakan dan harus dipasang sebagaimana mestinya
sesuai dengan gambar detail.
Baut kekuatan tinggi harus dikencangkan dengan kunci momen
(torque wrench).
e. Pelat dasar kolom untuk kolom penunjang dan pelat
perletakan untuk balok, balok penunjang dan sejenis
harus dipasang dengan luas perletakan penuh setelah bagian
pendukung ditempatkan secara baik dan tegak.
Daerah dibawah pelat harus diberi adukan
lembab/ kering yang tidak susut dan disetujui Direksi.
Penyimpangan kolom dari sumbu vertikal tidak boleh lebihdari 1/1500
dari tinggi vertikal kolom.

2. PEKERJAAN PENUTUP ATAP MEMBRANE


2.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan
dan pemasangan penutup atap, dan talang untuk bagian bangunan
tertentu seperti yang tertuang,
terlukis dan dijelaskan dalam gambar rencana termasuk
kelengkapan pendukung lainnya hingga fungsi masing-masing hasil
pekerjaan sempurna.
2.2. Standar yang Dipakai
- PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia 1982 (NI • 3).
- ASTM, A 370 • 74
- SII: Standart Industri Indonesia.
2.3. Persyaratan Bahan
Penutup atap yang digunakan adalah model Atap membrane dan sebelum
dipasang kontraktor diwajibkan mengajukan contoh genteng kepada Direksi
Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
PEKERJAAN ATAP MEMBRAN
Membrane Ag Tex 950 Gsm Ex Ateja Lisensi Italy

Baja Seling Galvanis 8mm Pengikat Atap membrane

Camplate Plat Stenlis tebal 2mm Plat tarikan ujung membrane

Mur Baut Stenlis dia 8mm Baut Plat

Long drat 14-16 mm, Galvanis Tarikan membrane

Besi pipa Galvanis 6”, medium Tiang

4”, medium/3,2mm Tiang

3”, medium/2,5mm Palang Atas

2”, medium/2,3mm Palang Atas

Plat Baja 30x30 Base Plate

Plat Baja 15x7,5 (0,5) Tebal 8mm Sirip

2.4. Syarat-Syarat Pelaksanaan


1. Contoh Bahan
Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan contoh tiap
jenis/type bahan penutup atap yang dipakai, lengkap dengan brosur dan
syarat pelaksanaan dari pabrik.
2. Shop Drawing
Kontraktor harus menyediakan shop drawing yang memperlihatkan
dengan jelas, bagian-bagian atas yang belum tergambar dengan jelas
pada gambar rencana.
3. Penutup atap yang dipasang rapat sedemikian rupa sehingga betul-betul
tersusun rapi dalam segala arah, kaitan dan saling menutupnya harus
cocok dan rapat sehingga tidak terjadi kebocoran apabila terkena hujan.
4. Teknik pemasangan dan penyelesaian detail-detail yang belum jelas dalam
gambar, harus diikuti ketentuan dari pabrik penutup tersebut dan harus
sesuai dengan gambar rencana

3. PEKERJAAN TEMPAT DUDUK PIPA BSP

3.1 Lingkup pekerjaan

1. Meliputi pengadaan bahan, peralatan dan tenaga kerja yang cukup ahli
dkoral pekerjaan halus dan presisi (besi ).
2. Kontraktor bertanggung jawab sejak persiapan bahan, pemasangan
sampai penyerahan dkoral kondisi finish sesuai gambar rencana.
3.2 Bahan

1. Pipa Besi BSP ukuran 2,5” medium A untuk tempat duduk.


2. Pipa Besi dengan ukuran sesuai dengan gambar rencana dengan
finishing Cat Minyak ex. ICI atau setara.

3.3 Pelaksanaan dan pemasangan

1. Pelaksanaan pekerjaan merupakan perakitan masing-masing bagian


bahan yang telah disiapkan sesuai gambar rencana.
2. Sebelum dirakit, maka dibuat terlebih dahulu gambar shop drawing yang
ukurannya menyesuaikan dengan ukuran lapangan. Gambar tersebut
harus mendapat persetujuan dari team supervisi.
3. Pipa besi disatukan dengan system di las antara pipa besi dengan pipa
besi, bekas las dihaluskan dengan cara di slep bagian yang kelebihan
lasan supaya kelihatan halus dan rapi, atar sambungan selanjutnya di
dempul dan dihaluskan kembali sebelum masuk kedkoral proses finising
cat.
4. Pembuatan dan perakitan bahan-bahan tersebut sesuai gambar rencana
harus pada tempat khusus atau bengkel yang menjamin pekerjaan
tersebut rapih dan halus.
5. Pemasangan pipa tempat duduk pada tempat yang telah ditentukan
sedemikian rupa sehingga benar-benar presisi sebagaimana dkoral
gambar rencana.
4. PEKERJAAN TEMPAT DUDUK BETON

4.1. LINGKUP PEKERJAAN


Yang termasuk lingkup pekerjaan beton adalah:
1. Semua pekerjaan beton tidak bertulang, seperti pengisi lubang, lantai
kerja, dan lain- lain.
2. Semua pekerjaan beton bertulang yang menurut sifat konstruksinya
merupakan struktur utama, seperti pondasi pelat, kolom, balok dan
konstruksi beton lainnya seperti dinding penahan tanah.
3. Semua pekerjaan yang harus dilakukan sebelum, selama dan sesudah
pengecoran termasuk pembuatan cetakan, perangkaian penulangan,
pembuatan dan pemasangan spacer, pengecoran, pembongkaran
cetakan, pembuatan benda uji serta pengetesan mutu beton, persiapan
dan pemasangan tulangan-tulangan stek untuk penyambungan.
4. Semua pekerjaan koordinasi dengan pekerjaan Kontraktor lain, misalnya
pembuatan lubang pipa, pipa yang tertanam dkoral beton, pemasangan
angkur dan lain-lain.

4.2. PERSYARATAN UMUM


1. Pedoman pelaksanaan pekerjaan beton
Kecuali ditentukan lain dkoral persyaratan-persyaratan selanjutnya,
maka sebagai dasar pelaksanaan digunakan peraturan sebagai berikut
:
- Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI
03-2487- 2002)
- Spesifikasi Beton Struktural (SNI 03-6880-2002)

- Spesifikasi Beton Siap Pakai (SNI 03-4433-1997)


- Spesifikasi Abu Terbang sebagai Bahan Tambahan untuk Campuran
Beton (SNI 03-2460-1991)
- Spesifikasi Bahan Tambahan untuk Beton (SNI 03-2495-1991)

- Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (SNI 03-6861.1-2002)

- Spesifikasi Anyaman Kawat Baja Polos yang Dilas Untuk Tulangan


Beton (SNI 03-6812-2002)
- Spesifikasi Toleransi Untuk Konstruksi dan Bahan Beton (SNI 03-6883-2002)
- Tata Cara Pengadukan Pengecoran Beton (SNI 03-3976-1995)
- Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal (SNI 03-2834-2000)

- Tata Cara Pendetailan Penulangan Beton (SNI 03-6816-2002)


- Metoda Pengujian Slump Beton (SNI 03-1972-1990)
- Metoda Pengujian Kuat Tekan Beton (SNI 03-1974-1990)

- Metoda Pengambilan Contoh untuk Campuran Beton Segar (SNI 03-2458-1991)


- Metoda Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Lapangan (SNI
03-4810- 1998)
- Metoda Pengujian Mutu Air untuk Digunakan dkoral Beton (SNI 03-
6817-2002) Peraturan-peraturan yang diperlukan supaya disediakan
Kontraktor dilokasi proyek.
2. Peraturan-peraturan lain dari luar negeri seperti ASTM (American Society
for Testing and Materials), ACI (American Concrete Institute), BS (British
Standard), AS (Australian Standard) dan lain-lain dapat digunakan
sepanjang hal -hal yang diatur tidak terdapat di dkoral peraturan Indonesia
dan peraturan-peraturan yang disebutkan di atas.
Kualitas campuran beton struktural minimum harus mempunyai mutu f c’= 30 MPa (K- 350
kg/cm2). Campuran beton struktural disyaratkan menggunakan ready mixed (siap pakai)
Bab 6

PEKERJAAN TANAMAN
1. Lingkup pekerjaan
Yang termasuk pada pekerjaan taman meliputi penyediaan tenaga kerja yang
cukup jumlah serta keahliannya, mengadakan bahan-bahan, peralatan dan alat
bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini secara
sempurna yang antara lain terdiri dari :
• Pekerjaan taman / lanskap, meliputi semua pakerjaan yang tertera dalam
gambar pelaksanaan dan sesuai petunjuk Direksi/MK, yaitu :
- Pekerjaan penanaman.

- Pekerjaan perawatan / pemeliharaan tanaman yang terdiri dari :


penyiraman, penyiangan, penggantian tanaman, pemangkasan,
pemupukan dan pemberantasan hama.

2. Persyaratan Bahan

• Bahan untuk pekerjaan landscape/taman.


Tanah yang dipakai adalah tanah merah untuk gundukan / bukit tanah dan
tanah subur yang dihamparkan dengan ketebalan minimum 20 cm.
• Persyaratan pohon dan tanaman hias :

1) Jenis Pohon : Pelindung/peneduh.

Nama : Johar, Tabebuya, Biola Cantik, ketapangKencana, Pulai,


Cemara Gimbal, Vemara Bentuk, Cemara Udang, Gardenia, Flamboyan
Ukuran : Diameter batang min 10 cm, diameter rimbun daun minimal 150
cm, tinggi dari ballroot ke pucuk daun minimal 3 m.
Lokasi : Sesuai gambar pelaksanaan..

2) Jenis Pohon : Perdu Hias


Nama : Acalypha Siamensis (Teh Tehan)

Ukuran : Tinggi dari Ballroot ke pucuk daun minimal 180 cm Lokasi :


Sesuai gambar pelaksanaan, 5 batang/m2
3) Rumput gajah dari jenis yang berdaun lebar.

4) Penanaman tanaman lain seperti yang tercantum dalam gambar


pelaksanaan.
5) Semua jenis Tanaman harus bebas dari segala penyakit dan hama,
daun/cabang jangan sampai cacat dan harus tumbuh sehat.
6) Pembungkusan ball root tanaman harus dengan karung goni dan diikat
erat untuk mencegah pecahnya akar dalam pengangkutan.
7) Untuk penyemaian di Lapangan dipilih tempat yang aman dari segala
kerusakan, teduh dan dekat daerah penanaman. Dibuatkan peneduh
dari anyaman bambu atau daun kelapa agar dapat menyesuaikan
dengan lingkungan sekitarnya. Tanaman dijaga agar mendapat panas
Matahari langsung 50 %. Waktu penyesuaian 2-4 minggu di tempat
penampungan dengan menanamkan dalam tanah setempat tanpa
melepas ball root untuk tanaman hias.
8) Semua jenis tanaman yang tertanam harus disetujui oleh Direksi/MK.

3. Bahan untuk pekerjaan pemeliharaan.

1) Jenis pupuk yang dipakai adalah pupuk kandang dan pupuk buatan.

2) Pupuk kandang dipilih dari kotoran sapi yang telah kering dan matang,
bersih dari gumpalan akar rumput dan tanaman liar serta sudah dalam
keadaan hancur (tak ada bongkahan).
3) Pupuk Buatan yang diberikan adalah yang mengandung unsur unsur
N,P,K yaitu NP Krustica Complete Yellow dengan perbandingan
(15:15:15).
4) Untuk tanaman rumput dipakai pupuk buatan ZA atau Urea sebanyak 15
gram/m2.

4. Persyaratan Pelaksanaan

1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk dan syarat-


syarat pekerjaan Landscape, standard spesifikasi dari bahan yang
dipergunakan dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Direksi/MK.

2. Sebelum melaksanakan pekerjaan, harus diperhatikan koordinasi kerja


dengan pekerjaan lain yang menyangkut pakerjaan Struktur, Arsitektur,
Mekanikal, Elektrikal dan Sanitasi. Terutama dalam melakukan pekerjaan
pembentukan, tanah dan penyelesaian tanah agar tidak terjadi kesalahan,
pembongkaran, perusakan yang tidak diinginkan terhadap pekerjaan lain
yang telah selesai maupun yang sedang dilaksanakan.

3. Pembentukan dan penyelesaian tanah harus mengikuti bentuk /


kemiringan / contour / peil yang tertera dalam gambar kerja. Kemiringan -
kemiringan yang dibuat harus cukup kuat untuk mengalirkan air hujan
menuju keselokan yang ada disekitarnya serta mengikuti persyaratan -
persyaratan yang tertera dalam gambar pelaksanaan. Adanya genangan
air di atas tanah tidak dibenarkan.

4. Untuk pekerjaan penanaman, diperlukan pengupasan tanah yang


mengandung bahan organis dengan kedalaman sampai mendapatkan
tanah subur, serta penyediaan tanah subur untuk urugan, bekas galian
tanah tersebut.
5. Tanah yang dipersiapkan untuk pekerjaan penanaman harus benar-benar
bersih dari batu, kerikil, aduk, kapur dan segala bekas bahan bangunan,
bahan plastik dan bahan-bahan organis. Tanah yang dipakai untuk urugan
dan pelapisan tanah (top soil) untuk rumput adalah tanah subur dan
gembur.

6. Tanah urug yang dipakai pada saat penanaman dicampur dengan pupuk
kandang dengan perbandingan jumlah yang sama (1:1) atau sesuai
persyaratan untuk jenis tanaman maupun rumput.

5. Pekerjaan Penanaman.

1. Pemasangan patok-patok berikut dengan keterangan koordinat, posisi,


perlu dilaksanakan terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis
tanaman. Patokan diambil berdasarkan pengukuran yang ditarilk dari as-
as bangunan yang terdekat / patokan-patokan yang ada dalam Tapak.
2. Perbedaan antara gambar dengan keadaan Lapangan harus dilaporkan
kepada Direksi/Penmgawas untuk diambil keputusan pemecahan perihal
perbedaan tersebut.

3. Peil permukaan rumput dan tanaman hias yang terpasang harus sesuai
dengan gambar pelaksanaan.

4. Jenis rumput gajah ditanam berupa rumpun-rumpun pada setiap jarak10


cm secara teratur dan lurus dengan pole zig zag, ditanam dengan cara
tandur.
5. Semua penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau setelah pukul
15.30 agar tidak banyak terjadi penguapan dan kekeringan yang
terlampau cepat bagi tumbuh–tumbuhan tersebut kecuai penanaman
yang dilakukan di tempat yang terlindung dari panas Matahari langsung
dapat dilakukan setiap saat.

6. Bila setiap kali pelaksanaan penanaman jenis rumput yang telah


disebutkan dan tanaman hias selesai dilaksanakan, harus segera
dilakukan penyiraman dengan air yang bebas dari bahan / zat yang dapat
mematikan tanaman. Penyiraman ini harus dilakukan secara teratur pagi
dan sore setiap hari agar dapat tumbuh cepat dan baik. Penyiraman
dilakukan pagi sebelum pukul 10.00 dan sore hari sesudah pukul 15.00.

6. Pemeliharaan Tanaman.

1. Pemeliharaan tanaman harus diperhatikan oleh Kontraktor setelah selesai


penanaman. Masa pemeliharaan ini berlangsung selama enam bulan dari
mesa selesainya penanaman.
2. Selama masa itu, Kontraktor diwajibkan secara teratur memelihara
tanaman dan mengganti setiap kali ada yang rusak atau mati. Semua
biaya penggantian tanaman menjadi tanggung jawab Kontraktor.

3. Pemeliharaan tanaman ini disesuaikan dengan sifat dan jenis tanaman


yang tertanam.

4. Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam setiap jenis pekerjaan


pemeliharaan ini harus benar-benar baik, memenuhi persyaratan kerja
yang dibutuhkan dan jangan sampail merusak tanaman.

7. Penyiraman Tanaman.

1. Penyiraman dilakukan dengan air bersih yang bebas dari segala bahan
organis / zat kimia / bahan lain yang dapat mengganggu dan merusak
pertumbuhan tanaman.

2. Cara Penyiraman.

• Memakai alat khusus untuk menyirami tanaman (Emrat) yang


berlubang banyak pada tempat ujung air keluar sehingga air keluar
dapat menyebar merata ke seluruh permukaan tanah yang disiram.
• Memakai slang air yang terbuat dari plastik dihubungkan dengan kran
/ sumber air yang terdekat. Penyiraman dilakukan dengan cara
memancarkan air melalui sprayer di ujung slang.

• Penyiraman dilakukan secara teratur terutama di Musim kemarau dan


bagi tanam-tanaman dan rumput yang baru ditanam dan juga bagi
tanam-tanaman dalam tempat penampungan. Hal ini harus benar
benar diperhatikan.

3. Penyiraman Tanaman dilakukan :

• Dua kali sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman dan rumput
yang baru ditanam dan semua jenis tanaman dalam penyimpanan
sementara sebelum pukul
10.00 dan sore hari sesudah pukul 15.30, sampai tanam tersebut
tumbuh sehat dan kuat.
• Untuk semua jenis tanaman dan rumput yang sudah terlihat tumbuh
baik dan kuat disiram satu kall sehari pada sore hari setelah pukul
15.30.
• Banyaknya air penyiraman harus cukup sampai membasahi bawah
permukaan tanah.
• Pada sore hari bagi tanaman yang masih terlihat cukup basah
tanahnya tidak perlu dilakukan penyiraman.
• Tidak diperkenankan tanah bekas siraman terlihat tergenang air. Air
harus dapat terserap baik oleh tanah di sekitar tanaman.

8. Penyiangan Tanaman.

1. Penyiangan ini harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali bagi
tanaman pohon dan rumput yang tertanam.
2. Untuk tanaman rumput, penyiangan perlu dilakukan untuk mencabut
segala tanaman liar dan jenis rumput yang berbeda dengan jenis rumput
yang ditanam. alat yang dipakai adalah pancong atau cangkul garpu kecil
3. Penggantian Tanaman dan Rumput.
4. Kontraktor wajib mengganti setiap kali ada tanaman & rumput yang rusak
atau mati. Semua penggantian tanaman & rumput baru, menjadi tanggung
jawab Kontraktor sampai masa pemeliharaan yang ditentukan berakhir.
5. Penggantian tanaman harus sesuai dengan jenis/bentuk/warna daun dan
burga dengan apa yang telah ditentukan dan tertanam.
6. Penggantian tanaman dan rumput harus dilaksanakan dengan sebaik
mungkin jangan sampai merusak tanaman dan rumput lain di sekitarnya
pada saat mencabut atau menanam yang baru.
7. Penggantian tanaman dan rumput dilaksanakan pada sore hari antara
pukul 15.00-18.00, dan sesudah dilakukan penanaman baru harus segera
disiram air.

9. Pemangkasan.

1. Pemangkasan dilakukan pada cabang / ranting yang tumbuh tidak taratur


/ liar, atau untuk mendapatkan / mempertahankan bentuk pertumbuhan
cabang yang diinginkan.
2. Membuang ranting dan cabang yang sakit dengan memotongnya.
3. Semua pekerjaan pemangkasan ini dilakukan dengan gunting pangkas
dengan memangkas cabang dan ranting arah miring dari bawah keatas
dengan sudut 30 – 40 derajat. Tidak dibenarkan pemangkasan dilakukan
dengan mematahkan ranting / cabang tanpa alat yang baik dan cukup
tajam, sehingga ranting/batang pecah atau rusak.
4. Bekas pemotongan ranting/cabang yang permukaannya terpotong lebar,
penampang yang terpotong tersebut harus ditutup ter.
5. Pemangkasan harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali.

10. Pemupukan.

1. Pupuk maupun Obat anti Hama yang dipergunakan harus sesuai dengan
persyaratan penggunaan pupuk bagi masing-masing jenis Tanaman.
2. Pupuk kandang dipakai pada saat penanaman sebagai pencampur tanah
urug yang diperlukan sesuai persyaratan untuk jenis tanaman maupun
rumput.
3. Pupuk buatan diberikan kepada tanaman setelah melampaui masa tanam
3 (tiga) bulan. Pupuk NPK diberikan sebanyak 25 gram per tanaman,
(unsur NPK ini mendorong pembentukan akar, pembungaan dan
pembuahan). Pemupukan dilakukan dengan menanamkannya di dalam
tanah sekitar batang tanaman sedalam 10 cm. Diameter lingkar alur
pemupukan selebar rimbun daun pohon yang bersangkutan. Pemupukan
ini diulang setiap (3) tiga bulan kemudian.
4. Untuk tanaman rumput dipakai pupuk buatan ZA atau Urea sebanyak 15
gram / m2. Pemupukan dilakukan sebulan sekali dengan cara pupuk
dilarutkan dengan air kemudian disemprotkan dengan Sprayer ke
permukaan rumput.

11. Pemberantasan Hama Penyakit.

1. Pemberantasan untuk hama (serangga dan ulat) dilakukan dengan cara


penyemprotan ke seluruh permukaan daun, batang dan cabang. Bahan
yang dipakai adalah Peptisida campuran antara Basudin dan Diazona 60
%EC (obat tersebut dicampur air, dengan perbandingan 2 cc Obat dan1
liter Air).
2. Untuk pemberantasan Jamur dan sejenisnya, dipakai fungisida Dithane
M-45 yang dicampur air (2 gr/liter Air). Pemberantasan dilakukan dengan
penyemprotan ke seluruh permukaan daun, batang dan cabang.
3. Untuk memberantas penggerek batang dipakai BHC. Untuk memberantas
Siput darat dipakai Metodex yang disebarkan di sekitar Pohon.
4. Penyemprotan Hama dan Jamur :
• Untuk rumput, dilakukan 2 bulan sekali.
• Untuk tanaman dilakukan satu 1 bulan sekali.
Penyemprotan hama dan jamur dilakukan secara bergantian. Untuk
penyemprotan dari jenis obat yang berbeda jangan dilakukan sekaligus
akan tetapi harus ada beda waktu yaitu selang 2 minggu.
DAFTAR ISI
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT PROMANEDE

Bab 1 SpesifikasTeknis
Bab 2 Sarat-Sarat Umum Pekerjaan
Bab 3 Peekerjaan Persiapan
Bab 4 Pekerjaan Tanah
1. Pekerjaan Galian Tanah
2. Pekerjaan Urugan Sirtu
3. Pekerjaan Urugan Pasir Padat
4. Pekerjaan Urugan dan Pemadatan
Bab 5 Pekerjaan Struktur
1. Pekerjaan Beton
2. Pekerjaan Besi dan Baja
Bab 6 Pekerjaan Arsitektur
1. Pekerjaan Pasangan Bata Merah
2. Pekerjaan Plesteran dan Acian
3. Pekerjaan Pengecatan
4. Pekerjaan Penutup Lantai Keramik
5. Pekerjaan Pasangan Batu Alam
Bab 7 Pekerjaan Saluran Drainase
1. Pekerjaan Saluran Uditch
Bab 8 Pekerjaan Tanaman
- Lingkup Pekerjaan
- Persyaratan Bahan
- Bahan Untuk Pemaliharaan
- Persyaratan Pelaksanaaan
- Pekerjaan Penanaman
- Pemeliharaan tanaman
- Penyiraman Tanaman
- Penyiangan Tanaman
- Pemangkasan
- Pemupukan
- Pemberantasan Hama Penyakit
Bab 1
SPESIFIKASI TEKNIS

NAMA KEGIATAN : PENYUSUNAN DOKUMEN DED KEBON RAYA


PURWODADI
NAMA PEKERJAAN : PEKEJAAN PROMANEDE
LOKASI : KEBON RAYA PURWODADI

No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan


PEKERJAAN
UMUM
Semen Semen / Portland
Holcim, Gresik, Tiga Roda
Cement ( PC )
Semen Instan
MU, Prime Mortar, Bostik
(Mortar)
Pasir Lokal yang disetujui
Pasir Pasangan
Konsultan Pengawas
Pasir Cor Ex. Lumajang
Sirtu Tanah Urugan Gempol, Porong
bekisting Multipleks 12mm Untuk beton expose
lapis film satu sisi
Multiplek 9 mm Untuk beton non expose
Rangka kayu meranti
PEKERJAAN
1
STRUKTUR
Pekerjaan beton
1.2
struktur
Beton Mutu beton K-225 fc’ Holcim, Indosipa, Merak,
Readymix = 18,68 MPa Jaya, Varia, Jatim Readymix
Mutu beton K-225 fc’ Harus didahului mix design
Beton site mix
= 18,68 MPa dan uji bahan
Krakatau Steel, Hanil Jaya
Besi beton yang
Besi beton Steel, Master Steel,
berstandart SNI
Bhirawa, Jatim.
1.3 Pekerjaan beton non
struktur
Mutu beton K-175 Harus didahului mix design
Beton site mix
atau f’c = 15 MPa dan uji bahan
1.4 Pekerjaan Konstruksi Baja yang standar Krakatau Steel, Gunung
Baja SNI Garuda, Hanil Jaya Steel
No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan
atau local yang berstandart
SNI. Hubungan sayap
(flange) dan badan (Web)
harus tidak ada las.
PEKERJAAN
2
ARSITEKTUR
Pekerjaan pasangan
2.1
bata merah
Bata merah Ex. MRH
2.2 Pekerjaan plesteran
dan acian semen
Semen / Portland Ex. Holcim, Semen Gresik,
Cement ( PC ) Tiga roda
Ex.Lokal yang disetujui oleh
Pasir Pasangan
pengawas
2.3 Pekerjaan Penutup
Lantai dan dinding
Pekerjaan
Keramik lantai Keramik lantai
Ex Roman, Platinum
Motif Kasar Uk.40x40, unpolished
/Warna
2.4 Pekerjaan
pengecatan
Ex. Nippon, Jotashield,
Cat Tembok Interior
Dulux
interior Ex. Nippon, Jotashield,
Cat plafond interior
Dulux, Jotun
Cat Epoxy Ex. Propan, Sika
Ex. Nippon Weatherbond,
Cat Tembok Eksterior
Jotun
eksterior Ex. Nippon Weatherbond,
Cat plafond eksterior
Jotun
Cat Epoxy Ex. Propan, Sika
Kusen, pintu , Cat plamir (dasar) Lihat RKS
jendela Cat warna Lihat RKS
2.5 Pekerjaan sanitair
Kran Air Standart Ex. Wasser, TOTO
Ex. TOTO, American
Wastafel Meja
standard
Ex. TOTO, American
Kran Wastafel
standard
No. Pekerjaan Spesifikasi MaterialKeterangan
Ex. TOTO, American
Hand Shower
standard
Ex. TOTO, American
Soap Holder
standard
Floor drain Ex. SAN EI, TOTO
Roof drain Ex. SAN EI, TOTO
Ex. TOTO, American
Grab bar steinless
standard
Ex. TOTO, American
Closet Duduk
standard
Ex. TOTO, American
Closet Jet Washer
standard
Ex. TOTO, American
Urinoir
standard
3 PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL DAN PLUMBING
3.1 Pekerjaan sanitasi,
drainase dan
perpipaan
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air hujan
12.5) Maspion
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air bersih
12.5) Maspion
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air bekas Maspion
12.5)
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air kotor
16) Maspion
Sambungan Lebih kecil dia 50
Wavin, Rucika, Pralon,
pipa menggunakan
Maspion
Solevent Cement
Lebih besar dia 50
menggunakan Wavin, Rucika, Pralon,
Rubber-ring and Maspion
Spigot
Valve Cast iron, Broze Toyo, Kitazawa
Pekerjaan
Kran Air Standart Ex. Wasser, TOTO
sanitair
Ex. TOTO, American
Wastafel Meja
standard
Ex. TOTO, American
Kran Wastafel
standard
No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan
Ex. TOTO, American
Hand Shower
standard
Ex. TOTO, American
Soap Holder
standard
Floor drain Ex. SAN EI, TOTO
Roof drain Ex. SAN EI, TOTO
Ex. TOTO, American
Grab bar steinless
standard
Ex. TOTO, American
Closet Duduk
standard
Ex. TOTO, American
Closet Jet Washer
standard
Ex. TOTO, American
Urinoir
standard
3.2 Pekerjaan instalasi
listrik
MDP, SDP, ( Panel Tegangan Siementri, Panelindo Mas,
LOAD PANEL Rendah) Lokal
Seluruh MCB, MCCB MG, ABB
Perlengkapan Shot Circuit, Eath
Panel Foult o/u voltage SEG, MG
protecyion
Fuse Socomec, Telemecanique
Selector Switch A-
K & N atau setara
O-M
Kwh Meter Fuji, Siemen
Conductor, Push
Telemecanique atau setara
Button, Pilot
Amper, Volt, Frex,
GAE, Siemen
Watt
Kabel NYY, Supreme, Kabelindo, Kabel
NYM, NYFGBY Metal, Voksel
Conduit, Tee
Doos, Cross Hight Impact Clipsal, EGA, Elpro
Doos, dll
3.3 Pekerjaan tata
cahaya
Kabel NYY, Supreme, Kabelindo, Kabel
NYM, NYFGBY Metal, Voksel
Bab 2
SYARAT-SYARAT UMUM PEKERJAAN

1. Umum
• Tanah dan halaman untuk pembangunan akan diserahkan kepada
Kontraktor dalam keadaan seperti pada waktu peninjauan lapangan /
observasi lapangan.
• Pekerjaan harus diserahkan oleh Kontraktor dalam keadaan selesai
keseluruhan sesuai dengan lingkup pekerjaan yang diborongkan,
dalam mana termasuk juga pembetulan kerusakan yang mungkin
timbul / terjadi dalam menyingkirkan segala bahan-bahan sisa atau
bongkaran lainnya.

2. Alat, Perlengkapan Pekerjaan dan Tenaga Lapangan


• Kontraktor, sub-sub Kontraktor dan bagian-bagian lainnya yang
mengerjakan pekerjaan pelaksanaan didalam proyek ini, harus
menyediakan alat-alat dan perlengkapan-perlengkapan pekerjaan
sesuai dengan bidangnya masing-masing.
• Disamping itu harus menyediakan juga :
- Buku-buku laporan (harian, mingguan, dan bulanan)
- Rencana kerja dan menempatkan tenaga-tenaga lapangan yang
bertanggung jawab penuh untuk memutuskan segala sesuatu di
lapangan dan bertindak atas nama Kontraktor dan sub-Kontraktor
yang bersangkutan, serta berpengalaman.
- Perlengkapan pengaman / keselamatan kerja sesuai peraturan K3
Depnaker R.I.

3. Barang Contoh (SAMPLE)


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan barang-
barang contoh (sample) dari material yang akan dipakai/dipasang,
untuk mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi /
Pemberi Tugas.
• Barang-barang contoh (sample) tertentu harus dilampiri dengan tanda
bukti sertifikat pengujian dan spesifikasi teknis dari barang-
barang/material-material tersebut.
• Untuk barang-barang dan material yang akan didatangkan ke site,
maka Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan :
- Brochure
- Katalogue
- Gambar kerja atau shop drawing
- Sample.
yang dianggap perlu oleh Tim Teknis / Konsultan Supervisi dan harus
mendapat persetujuan Tim Teknis / Konsultan Supervisi/Pemberi
Tugas.

4. Pengujian Atas Mutu Pekerjaan


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan mengadakan pengujian atas
mutu bahan dan mutu pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing.
• Semua biaya-biaya untuk kebutuhan tersebut di atas, ditanggung oleh
Kontraktor dan sub-sub Kontraktor yang bersangkutan.

5. Gambar-Gambar “AS BUILT DRAWING”

Kontraktor atau sub-sub kontraktor diwajibkan untuk membuat gambar-


gambar “As Built Drawing” untuk Arsitektur, Struktur dan M/E sesuai dengan
pekerjaan yang telah dilakukan di lapangan secara kenyataannya, untuk
kebutuhan pemeriksaan dan maintenance dikemudian hari. Gambar-gambar
tersebut diserahkan kepada Pemilik setelah disetujui oleh Tim Teknis /
Konsultan Supervisi diserahkan sebelum serah terima pertama.

6. Shop Drawing

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat gambar-gambar “Shop


Drawing” setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk terlebih dahulu
mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi, gambar-gambar
tersebut harus diserahkan minimum 15 hari sebelum pekerjaan tersebut akan
dilaksanakan.

7. Material Delivery Schedule

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat material delivery


schedule untuk setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi,
material delivery schedule harus diserahkan minimum 15 hari sebelum
pekerjaan tersebut akan dilaksanakan.
BAB 3
PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1 PEKERJAAN PERSIAPAN


1.1.1 Direksi Keet (Bangunan Sementara).
1. Direksi keet walau tidak disebutkan dalam penawaran sudah menjadi
kewajiban bagi kontraktor untuk menyediakannya.
2. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan ini,Kontraktor diharuskan
menyediakan dan menyiapkan ruang atau bangunan sementara berukuran
3,00 x 7,00 m untuk ruang rapat dan 3,00 x 4,00 m untuk ruang Direksi.
Bangunan Sementara ini harus dilengkapi dengan Toilet/ WC dan kamar
mandi (dilengkapi dengan bak air, closet, Septictank & Sumur peresap)
yang khusus dimanfaatkan oleh Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
3. Kelengkapan Direksi Keet. Sebagai kelengkapan Direksi Keet guna
penyelesaian Administrasi dilapangan, maka sebelum pelaksanaan
pekerjaan ini dimulai Kontraktor harus terlebih dahulu melengkapi peralatan
peralatan antara lain :
a. 1 (satu) soft board menempel didinding 2x1,20x2,40 m2
b. 1 (satu) buah meja rapat (sederhana) ukuran 1,20x4,80 m2
c. 12 (dua belas) buah kursi duduk ruang rapat
d. 1 (satu) white board (1,20 x 2,40 m2) dan peralatannya
e. 1(satu) rak/almari buku (sederhana)
f. 1 (satu) meja kerja/tulis dan kursi
g. 1 (satu) set kelengkapan PPPK (P3K)
h. 1 (satu) tabung Pemadam Api
i. 5 (lima) buah helm
j. Sarana dan prasarana listrik, telepon dan komunikasi.
4. Alat-alat yang harus senantiasa tersedia di proyek untuk setiap saat dapat
digunakan oleh Direksi Lapangan adalah :
a. 1 (satu) buah kamera (Camera Digital)
b. 1 (satu) buah alat ukur Schuitmaat
c. 1 (satu) buah alat ukur optik (theodolith/ waterpass)
d. 1 (satu) buah personal computer dan printer Inkjet A4
5. Di dalam direksi keet minimal harus dilengkapi dengan :
a. Gambar kerja baik itu gambar perencanaan ataupun shop drawing
b. Buku direksi yang berisi laporan atau catatan atau permintaan dari
pihak Direksi ataupun Kontraktor
c. Kotak P3K sebagai sarana untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Selesai pelaksanaan proyek ini (Serah Terima ke I) semua Peralatan/ kelengkapan
tersebut dalam ayat ini menjadi milik Kontraktor
1.1.2 Sarana Kerja.
1. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua
pekerjaan yang dilakukan diluar lapangan sebelum pemasangan peralatan
yang dimiliki serta jadwal kerja.
2. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan
memenuhi persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan
kerja dilapangan.
3. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/ material dilapangan harus aman
dari segala kerusakan hilang dan hal-hal dasar yang mengganggu
pekerjaan lain yang sedang berjalan.
4. Untuk menghindari kemacetan dan gangguan lain terhadap akses jalan yang
timbul akibat operasional pekerjaan, Kontraktor diharuskan menyediakan
lahan untuk penyimpanan bahan/ material selama pelaksanaan pekerjaan.
1.1.3 Pengaturan Jam Kerja dan Pengerahan Tenaga Kerja.
1. Kontraktor harus dapat mengatur sedemikian rupa dalam hal pengerahan
tenaga kerja, pengaturan jam kerja maupun penempatan bahan hendaknya
di konsultasikan terlebih dahulu dengan Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas lapangan. Khususnya dalam pengerahan tenaga
kerja dan pengaturan jam kerja dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan
peraturan perburuhan yang berlaku.
2. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan akomodasi dan
fasilitas-fasilitas lain yang dianggap perlu misalnya (air minum, toilet yang
memenuhi syarat-syarat kesehatan dan fasilitas kesehatan lainnya seperti
penyediaan perlengkapan PPPK yang cukup serta pencegahan penyakit
menular.)
3. Kontraktor harus membatasi daerah operasinya disekitar tempat pekerjaan
dan harus mencegah sedemikian rupa supaya para pekerjanya tidak
melanggar wilayah bangunan-bangunan lain yang berdekatan, dan
Kontraktor harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan
memasuki tempat pekerjaan.
4. Kontraktor diwajibkan memberi tahu tentang identitas pekerja yang
melakukan aktivitas di lokasi tersebut kepada user yang bersangkutan.
1.1.4 Perlindungan Terhadap Bangunan/Sarana Yang Ada.
1. Segala kerusakan yang timbul pada bangunan/konstruksi dan peralatan
sekitarnya menjadi tanggung jawab Kontraktor untuk memperbaikinya, bila
kerusakan tersebut jelas akibat pelaksanaan pekerjaan.
2. Kontraktor diwajibkan mengidentifikasikan keadaan bangunan ataupun
prasarana lain di sekitar lokasi sebelum memulai pekerjaan.
3. Selama pekerjaan berlangsung Kontraktor harus selalu menjaga kondisi
jalan dan sarana prasarana disekitar lokasi pekerjaan, hal tersebut menjadi
tanggung jawab Kontraktor terhadap kerusakan-kerusakan yang terjadi
akibat pelaksanaan pekerjaan ini.
4. Kontraktor wajib mengamankan sekaligus melaporkan/ menyerahkan
kepada pihak yang berwenang bila nantinya menemukan benda-benda
bersejarah
1.1.5 Pembersihan dan Penebangan Pohon-Pohonan.
1. Lapangan terlebih dahulu harus dibersihkan dari rumput, semak, akar-akar
pohon.
2. Sebelum pekerjaan lain dimulai, lapangan harus selalu dijaga, tetap bersih
dan rata.
3. Kontraktor tidak boleh membasmi, menebang atau merusak pohon-pohon
atau pagar, kecuali bila telah ditentukan lain atau sebelumnya diberi tanda
pada gambar-gambar yang menandakan bahwa pohon-pohon dan pagar
harus disingkirkan. Jika ada sesuatu hal yang mengharuskan Kontraktor
untuk melakukan penebangan, maka ia harus mendapat ijin dari Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.6 Penjagaan, Pemagaran Sementara, dan Papan Nama.
1. Kontraktor bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan
perlindungan terhadap pekerjaannya yang dianggap penting selama
pelaksanaan, dan sekaligus menempatkan petugas keamanan untuk
mengatur sirkulasi/ arus kendaraan keluar/ masuk proyek.
2. Sebelum Kontraktor mulai melaksanakan pekerjaannya, maka Kontraktor
diwajibkan terlebih dahulu memberi pagar pengaman pada sekeliling site
pekerjaaan yang akan dilakukan.
3. Pembuatan pagar pengaman dibuat jauh dari lokasi pekerjaan, sehingga
tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilakukan, serta
tempat penimbunan bahan-bahan dan dibuat sedemikian rupa, sehingga
dapat bertahan/kuat sampai pekerjaan selesai dan tampak dari luar dapat
menunjang estetika atas kawasan yang ada.
4. Syarat pagar pengaman :
a. Pagar dari seng gelombang finish cat berpola sesuai dengan
pengarahan Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas
dengan ketinggian minimal 180 cm.
b. Tiang dolken minimum berdiameter 10 cm, jarak pemasangan minimal
180 cm, bagian yang masuk pondasi minimum 40 cm.
c. Rangka kayu Borneo ukuran 4 x 6 cm, dengan pemasangan 4 jalur
menurut tinggi pagar.
d. Pondasi cor beton setempat minimum penampang diameter 30cm
dalam 50cm dari permukaan tanah setempat. Beton dengan adukan
1:3:5.
e. Pada pagar pengaman hendaknya diberi tanda atau petunjuk mengenai
keberadaan pekerjaan tersebut
f. Pagar diengkapi dengan pembuatan pintu akses dari bahan yang sama.
5. Selesai proyek semua bahan pagar adalah milik Kontraktor, untuk hal
tersebut didalam penyusunan penawaran hendaknya telah
dipertimbangkan.
6. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan memasang papan
nama Proyek yang dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan gambar
rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan atas beban Kontraktor.
1.1.7 Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja
1. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan menggunakan/
menyambung pipa air yang telah ada dengan meteran air tersendiri (guna
perhitungan pembayaran pemakaian air oleh Kontraktor) atau air sumur
yang bersih/jernih dan tawar dengan membuat sumur pompa di tapak
proyek atau disuplai dari luar lokasi pekerjaan. Air harus bersih, bebas dari
debu, bebas dari lumpur, minyak dan bahan-bahan kimia lainnya yang
merusak.Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
2. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari
sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan, atau
penggunaan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan
untuk penggunaan sementara atas persetujuan Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas. Daya listrik juga disediakan untuk
suplai kantor Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas
Lapangan.
3. Segala biaya yang ditimbulkan atas pemakaian daya listrik dan air di atas
adalah beban Kontraktor.
1.1.8 Drainase Tapak.
1. Dengan mempertimbangkan keadaan topografi/kontur tanah yang ada di
tapak, Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk
pembuangan air yang ada.
2. Arah aliran ditujukan ke daerah/permukaan yang terendah yang ada di
tapak atau ke saluran yang sudah ada di lingkungan daerah pembangunan.

3. Pembuatan saluran sementara harus sesuai petunjuk dan persetujuan


Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.9 Mengadakan Pengukuran dan Pemasangan Bowplank.
1. Pengukuran Tapak Kembali.
a. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran
kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-
keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-
batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.
b. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan
lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk dimintakan
keputusannya.
c. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan
alat-alat waterpass/Theodolite yang ketepatannya dapat
dipertanggung jawabkan.
d. Kontraktor harus menyediakan Theodolith/waterpass beserta petugas
yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas pelaksanaan proyek.
e. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas
Segitiga Phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil
yang disetujui oleh Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
f. Segala pekerjaan pengukuran dan persiapan termasuk tanggungan
Kontraktor.

2. Tugu Patokan Dasar (Bench Mark)


a. Letak dan jumlah tugu patokan dasar ditentukan oleh Direksi.
b. Tugu patokan dasar dibuat dari beton berpenampang sekurang-
kurangnya 20 x 20 cm, tertancap kuat kedalam tanah sedalam 1 meter
dengan bagian yang menonjol diatas muka tanah secukupnya untuk
memudahkan pengukuran selanjutnya dan sekurang-kurangnya
setinggi 40 cm diatas tanah. Tugu patokan dasar harus dilengkapi
dengan titik ukur dari bahan logam dan diangkurkan ke beton.
c. Tugu patokan dasar dibuat permanen, tidak bisa diubah, diberi tanda
yang jelas dan dijaga keutuhannya sampai ada instruksi tertulis dari
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk
membongkarnya.
d. Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan termasuk tanggungan
kontraktor
e. Pada setiap tugu patok dasar harus tertera dengan jelas kode koordinat
dan ketinggian (elevasi) nya.

3. Pengukuran dan Titik Peil (0.00) Bangunan.


Kontraktor harus mengadakan pengukuran yang tepat berkenaan dengan
letak/kedudukan bangunan terhadap titik patok/pedoman yang telah
ditentukan, siku bangunan maupun datar (waterpas) dan tegak lurus
bangunan harus ditentukan dengan memakai alat waterpas
instrument/ theodolith. Hal tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan tegel,
langit-langit dan sebagainya dengan hasil yang baik dan siku.
Untuk mendapatkan titik peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi yang
tercantum pada gambar rencana (Lay Out), dan bila terjadi penyimpangan
atau tidak sesuainya antara kondisi lapangan dan gambar Lay Out,
Kontraktor harus melapor pada Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.

4. Pemasangan Bouplank.
a. Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran
persiapan bouplank/ pengukuran pekerjaan sesuai dengan referensi
ketinggian, dan benchmark yang diberikan Direksi secara tertulis, serta
bertanggung jawab atau ketinggian, posisi, dimensi, serta kelurusan
seluruh bagian pekerjaan serta pengadaan peralatan, tenaga kerja
yang diperlukan.
b. Bilamana suatu waktu dalam proses pembangunan ternyata ada
kesalahan dalam hal tersebut diatas, maka hal tersebut merupakan
tanggung jawab Kontraktor serta wajib memperbaiki kesalahan tersebut
dan akibat-akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut disebabkan
terdapat referensi tertulis dari Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas.
c. Pengecekan pengukuran atau lainnya oleh Direksi atau wakilnya tidak
menyebabkan tanggung jawab Kontraktor menjadi
berkurang.Kontraktor wajib melindungi semua benchmark, dan lain-
lain atau seluruh referensi dan realisasi yang perlu pada pengukuran
pekerjaan ini.

5. Bahan dan Pelaksanaan Bouplank


a. Tiang bowplank menggunakan kayu kruing ukuran 5/7 dipasang setiap
jarak 2,00 m', sedangkan papan bouplank ukuran 2/20 cm dari kayu
meranti diketam halus dan lurus bagian atasnya dan dipasang datar
(waterpas).
b. Pemasangan bowplank harus sekeliling bangunan dengan jarak 2,00
m1 dari as tepi bangunan dengan patok-patok yang kuat, bouplank
tidak boleh dilepas/dibongkar dan harus tetap berdiri tegak pada
tempatnya sehingga dapat dimanfaatkan hingga pekerjaan mencapai
tahapan trasram tembok bawah.
1.2 HEALTH AND SAFETY ENVIRONTMENT (HSE)
1.2.1 Lingkup Pekerjaan
1. Menyediakan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan alat alat bantu lainnya
untuk melaksanakan pekerjaan seperti dinyatakan dalam RKS ini dengan hasil
yang baik dan sempurna.
2. Harga pekerjaan ini termasuk dalam skope pekerjaan persiapan, bilamana tidak
tercantum pada item pekerjaan maka pekerjaan ini tetap merupakan kewajiban
yang harus dilaksanakan.
3. Indikator keberhasilan adalah Pelaksanaan proyek berjalan dengan tertib,
aman dan tidak ada kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan proyek.
1.2.2 Standard dan Persyaratan.
Standard dan persyaratan yang berlaku mengikuti:
1. Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/ KPTS/1998 tentang
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per. 01/MEN/1980 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan;
4. Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum
No. Kep. 174/MEN/1986, dan No. 104/KPTS/1986 tentang K3 Pada Tempat
Kegiatan Konstruksi;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2008 tentang Pedoman
SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum;

1.2.3 Akses, Pagar Pengaman Proyek, Barrier, Perlindungan pada bangunan yang
sudah ada dan lingkungan sekitar.
1.2.3.1 Akses Keluar Masuk Proyek
a. Akses kerja adalah area kantor proyek, area pabrikasi, area yang dikerjakan
dan akses/jalur yang menghubungkan ketiga-tiganya. Direncanakan dan
disiapkan terlebih dulu sebelum digunakan.
b. Tersedia pintu masuk dan pintu keluar, baik untuk rutin dan darurat di kantor
proyek serta terjaga dengan baik.
c. Ada batas atau tanda peringatan atau pagar yang memberi tanda area kerja
kantor proyek, pabrikasi area kerja lapangan dan jalur/akses penghubung
terhadap area umum masyarakat
d. Jalan dan jalur lintas pekerja diberi batas dan pengaman serta tanda peringatan
yang jelas, terutama yang bersinggungan dengan Pekerja Konstruksi dan atau
masyarakat umum

1.2.3.2 Perlindungan Pada Bangunan Sudah Ada dan Lingkungan Sekitar.


Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan perlindungan terhadap Pihak
Ketiga dan pengawasan keamanan dalam hubungannya dengan pekerjaan.
Kontraktor akan menyediakan perlindungan seperlunya untuk mencegah
terjadinya kerusakan atau kehilangan dari :
a. Semua pekerjaan dan orang yang mungkin berkepentingan dalam pekerjaan.
b. Semua pekerjaan dan bahan-bahan serta alat perlengkapan yang harus
ditempatkan dengan aman dibawah pengawasan Kontraktor atau salah satu
Sub Kontraktor.
c. Harta benda ditapak pekerjaan atau yang berbatasan dengan pekerjaan.
d. Semua harta benda milik orang lain atau Pihak ketiga disekitar lokasi pekerjaan.

Kontraktor harus mematuhi semua hukum, peraturan dan ketentuan-ketentuan


yang berlaku mengenai keamanan orang, harta benda dan melindungi dari
kerusakan, cidera atau kehilangan.
Kontraktor diharuskan memperbaiki dan mengganti kerugian, apabila ternyata lalai
terhadap kewajiban yang disebutkan diatas.

1.2.4 Kebersihan harian, Pembersihan lokasi proyek, pembuangan sisa material keluar
lokasi Proyek.
Kontraktor harus, menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh terhadap
kebersihan proyek dari hari kehari, pengendalian kebersihan lingkungan dan
pengaruhnya lingkungan dan bahwa semua penyediaan sarana dan prasarana
untuk pencegahan yang berhubungan dengan polusi lingkungan dan perlindungan
lahan serta lintasan air disekitarnya dengan memperhatikan:
a. Bahan, material yang berserakan harus dirapihkan baik sebelum, selama kerja
dan setelah jam kerja.
b. Alat kerja, perkakas lainnya yang digunakan tidak boleh merintangi dan
membahayakan akses kerja dan disimpan setelah selesai jam kerja.
c. Tempat sampah sesuai jenis sampah dan volume yang terjadi, selalu
dibersihkan dan dikumpulkan serta siap diangkut keluar proyek.
d. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk, harus ada jadual dan pembersihan
yang rutin
e. Tempat Kerja yang licin karena air, minyak, atau zat lainnya harus segera
dibersihkan
f. Semua orang wajib menyingkirkan paku yang berserakan, kawat/besi menonjol,
potongan logam yang tajam, semuanya yang dapat membahayakan.
g. Untuk mencegah polusi debu selama musim kering, Kontraktor harus
melakukan penyiraman secara teratur kepada jalan angkutan tanah atau jalan
angkutan kerilkil dan harus menutupi truk angkutan dengan terpal.
h. Jumlah bahan/material yang tersedia di lapangan untuk digunakan hari ini tidak
berlebihan, agar tidak mengganggu dan membahayakan akses kerja
(selebihnya dikembalikan ke gudang umum).
i. Material sisa, bahan bongkaran dan sampah secara rutin dibawa keluar lokasi
proyek dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

1.2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1.2.5.1 Pengendalian Resiko
Potensi Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi untuk terjadinya insiden yang
berakibat pada kerugian.
Risiko adalah kombinasi dan konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan
peluang terjadinya kejadian tersebut.
Jenis- jenis kecelakaan yang sering terjadi pada proyek konstruksi adalah sebagai
berikut :
a. Jatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Menginjak, terantuk, dan terbentur
d. Terjepit dan terperangkap
e. Kontak suhu tinggi/terbakar
f. Kontak aliran listrik
Untuk itu Kontraktor wajib melakukan Rencana Pemantauan Keselamatan dengan
melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Mempersiapkan rencana kerja dengan metode kerja dan rencana cara
berkerja yang memperhatikan :
• Resiko-resiko yang mungkin timbul dari setiap jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
• Perhatikan jenis-jenis kecelakaan yang sering terjadi pada kegiatan
tersebut.
• Adanya alat-alat konstruksi yang bergerak.
• Untuk lokasi-lokasi kritis atau tindakan yang akan menimbulkan bahaya
bagi pekerja maka Kontraktor wajib menyediakan seorang petugas yang
membantu mengingatkan Pekerja saat melakukan pekerjaannya.
b. Kontraktor wajib menyediakan peralatan safety yang sesuai dengan jenis dan
lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan.
c. Form Rencana Pematauan Keselamatan wajib diserahkan dan ditanda
tangani oleh Konsultan Pengawas sebelum pekerjaan yang bersangkutan
dilaksanakan.
Pekerjaan yang memerlukan Rencana Pemantauan Keselamatan dan ijin kerja
dari Konsultan Pengawas:
a. Bekerja terkait dengan pemeliharaan, pembersihan
b. Menggunakan bahan mudah terbakar
c. Bekerja berhubungan dengan listrik
d. Pasang, bongkar, pindah perancah (scaffolding)
e. Memindahkan barang/benda berat
f. Pekerjaan pembongkaran
g. Bekerja diluar jam kerja normal tanpa pengawas
h. Penggalian lebih dari 2 (dua) meter
i. Bekerja di ketinggian

1.2.5.2 Fasilitas Pekerja


a. Air minum
Tersedia air minum untuk pekerja yang memenuhi standard kesehatan.
b. Air bersih
Ada tersedia bak air bersih dengan ukuran cukup untuk cuci tangan demi
menjaga kebersihan dan sejumlah Toilet yang memadai bagi jumlah pekerja
yang ada.
c. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Setiap aktivitas/ proses pekerjaan yang dilakukan di tempat kerja
mengandung resiko untuk terjadinya kecelakaan kerja (ringan sampai
dengan berat), berbagai upaya pencegahan dilakukan supaya kecelakaan
tidak terjadi. Selain itu, keterampilan melakukan tindakan pertolongan
pertama tetap diperlukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya
kecelakaan. Oleh karena itu di setiap tempat kerja harus memiliki petugas
P3K (First Aid), atau setidaknya setiap karyawan memiliki keterampilan
dalam melakukan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan kerja
maupun kegawatan medic.

1.2.5.3 Alat Pelindung Diri


Kontraktor wajib menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para Pekerja
maupun Tamu yang dating ke lokasi proyek dengan menyediakan Peralatan
keselamatan kerja yang berfungsi untuk mencegah dan melindungi Pekerja
maupun pengunjung proyek dari kemungkinan mendapatkan kecelakaan kerja.
APD utama yang wajib disediakan adalah Helm pelindung dan Safety shoes
sedangkan APD lain disediakan sesuai jenis pekerjaan yang dilaksanakan.
Macam-macam dan jenis APD dapat berupa:
a. Helmet: Topi/Pelindung kepala Melindungi dari kejatuhan benda, benturan
benda keras, diterpa panas dan hujan
b. Safety Shoes: Pelindung kaki Melindungi kaki dari benda tajam, tersandung
benda keras, tekanan dan pukulan, lantai yang basah, lincir dan berlumpur,
disesuaikan dengan jenis bahayanya
c. Safety Glasses: Kaca mata/Kedok Las Melindungi dari sinar las, silau, partikel
beterbangan, serbuk terpental, radiasi, cipratan cairan berbahaya
d. Earplug: Pelindung telinga/Earmuff Melindungi dari suara yang menyakitkan
terlalu lama, dengan batas kebisingan diatas 85 db.
e. Sarung Tangan/karet/kulit/kain/plastic : Melindungi tangan dari bahan kimia
yang korosif, benda tajam/kasar, menjaga kebersihan bahan, tersengat listrik.
f. Safety belt/ harness : Melindungi dari bahaya jatuh dari ketinggian kerja diatas
2 meter dan sekeliling bangunan.

Seluruh peralatan APD yang digunakan memenuhi standard SNI.


Selama bekerja Pekerja wajib menggunakan baju kerja yang sesuai, baju dengan
lengan dan celana panjang.
1.2.5.4 Rambu-rambu dan Tanda bahaya
Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah sebuah media visual berupa
gambar piktogram untuk ditempatkan di area pabrik yang memuat pesan-pesan
agar setiap Pekerja selalu memperhatikan aspek-aspek kesehatan dan
keselamatan kerja.
Fungsi Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah.
a. Untuk mengetahui larangan atau memenuhi perintah/ permintaan,
peringatan atau untuk memberi informasi
b. Mencegah kecelakaan (mengisyaratkan terhadap suatu bahaya)
c. Mengindikasikan lokasi perlengkapan keselamatan dan pemadam
kebakaran
d. Memberi arahan dan petunjuk tentang prosedur keadaan darurat.
Kontraktor wajib menyediakan Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3
secukupnya untuk hal-hal tersebut diatas.
1.2.5.5 Pencegahan Kebakaran
Kebakaran merupakan kejadian yang dapat menimbulkan kerugian pada jiwa,
peralatan produksi, proses produksi dan pencemaran lingkungan kerja.
Khususnya pada kejadian kebakaran yang besar dapat melumpuhkan bahkan
menghentikan proses konstruksi, sehingga ini memberikan kerugian yang sangat
besar.
Untuk mencegah hal ini Kontraktor wajib melakukan upaya-upaya
penanggulangan kebakaran.
a. Pengendalian setiap bentuk energi;
b. Penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi
c. Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas;
d. Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
e. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara
berkala;
f. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi
tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga
kerja dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan
berat.
Kontraktor wajib melatih pekerjanya dalam upaya yang pengendalian setiap
bentuk energi :
a. Melakukan identifikasi semua sumber energi yang ada di tempat kerja/
perusahaan baik berupa peralatan, bahan, proses, cara kerja dan lingkungan
yang dapat menimbulkan timbulnya proses kebakaran (pemanasan, percikan
api, nyala api atau ledakan);
b. Melakukan penilaian dan pengendalian resiko bahaya kebakaran
berdasarkan peraturan perundangan atau standar teknis yang berlaku.
Pada Lokasi proyek tidak diijinkan sama sekali untuk Merokok.
1.2.5.6 Asuransi
Asuransi Pekerja Konstruksi
Kontraktor diwajibkan untuk mengansuransikan personil lapangan termasuk
personil Sub Kontraktor terhadap bahaya kecelakaan dan keehatan yang mungkin
terjadi selama waktu pelaksanaan Konstruksi.
Asuransi untuk personil Kontraktor harus dapat digabung dalam satu paket polis
asuransi ASTEK/ BPJS/ Atau jenis asuransi lainnya.
BAB 4
PEKERJAAN TANAH

a. PEKERJAAN GALIAN TANAH


i. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja , Bahan dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat
bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini
dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi ini.
2. Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini meliputi galian tanah untuk pile cap, balok pondasi dan struktur
lainnya yang terletak didalam atau diatas tanah , seperti tercantum didalam
gambar rencana atau sesuai kebutuhan. Kontraktor agar pekerjaannya dapat
dilaksanakan dengan lancar, benar dan aman.
3. Pembersihan Akar Tanaman dan Bekas Akar Pohon.
Akar tanaman dan bekas akar pohon yang terdapat didalam tanah dapat
membusuk dan menjadi material organik yang dapat mempengaruhi kekuatan
tanah. Pada seluruh lokasi proyek dimana tanah berfungsi sebagai pendukung
bangunan khususnya pendukung lantai terbawah, maka akar tanaman dan
sisa akar pohon harus digali dan dibuang hingga bersih. Lubang bekas galian
tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
4. Pohon-Pohon Pada Lahan Proyek.
Sebagian pohon pada proyek ini harus dipertahankan. Kontraktor wajib
mempelajari hal ini dengan teliti sehingga tidak melakukan penebangan pohon
tanpa koordinasi dengan Direksi Pengawas. Pohon yang terletak pada
bangunan yang akan dibangun dapat ditebang.

ii. Syarat-Syarat Pelaksanaan


1. Level Galian
Galian tanah harus dilaksanakan sesuai dengan level yang tercantum didalam
gambar rencana. Kontraktor harus mengetahui dengan pasti hubungan antara
level bangunan terhadap level muka tanah asli dan jika hal tersebut belum
jelas harus segera didiskusikan hal ini dengan Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas sebelum galian dilaksanakan. Kesalahan yang
dilakukan akibat hal ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.
2. Jaringan Utilitas.
Apabila ternyata terdapat pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon dan
lain-lain, maka Kontraktor harus secepatnya memberitahukan hal ini kepada
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk mendapatkan
penyelesaian. Kontraktor bertanggung jawab atas segala kerusakan akibat
kelalaiannya dalam mengamankan jaringan utilitas ini. Jaringan utilitas aktif
yang ditemukan dibawah tanah dan terletak didalam lokasi pekerjaan harus
dipindahkan ke suatu tempat yang disetujui oleh Direksi Pengawas atas
tanggungan Kontraktor.
3. Galian Yang Tidak Sesuai
Jika galian dilakukan melebihi kedalaman yang telah ditentukan, maka
kontraktor harus mengisi/ mengurug kembali galian tersebut dengan bahan
urugan yang memenuhi syarat dan harus dipadatkan dengan cara yang
memenuhi sayarat, atau galian tersebut dapat diisi dengan material lain seperti
adukan beton.
4. Urugan Kembali
Pengurugan kembali bekas galian harus dilakukan sesuai dengan yang
disyaratkan pada bab mengenai pekerjaan urugan dan pemadatan. Pekerjaan
pengisian kembali ini hanya boleh dilakukan setelah diadakan pemeriksaan
dan mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
5. Pemadatan Dasar Galian
Dasar galian harus rata dan bebas dari akar-akar tanaman atau bahan-bahan
organis lainnya. Selanjutnya dasar galian harus dipadatkan sesuai dengan
persyaratan yang berlaku.
6. Air Pada Galian
Kontraktor harus mengantisipasi air yang terdapat pada dasar galian dan wajib
menyediakan pompa air atau pompa lumpur dengan kapasitas yang memadai
untuk menghindari genangan air dan lumpur pada dasar galian. Kontraktor
harus merencanakan secara benar, kemana air tanah harus dialirkan,
sehingga tidak terjadi genangan air/ banjir pada lokasi disekitar proyek.
Didalam lokasi galian harus dibuat drainase yang baik agar aliran air dapat
dikendalikan selama pekerjaan berlangsung.
7. Struktur Pengaman Galian dan Pelindung Galian
Jika galian yang harus dilakukan ternyata cukup dalam , maka kontraktor
harus membuat pengaman galian sedemikan rupa sehingga tidak terjadi
kelongsoran pada tepi galian. Galian terbuka hanya diijinkan jika diperoleh
kemiringan lebih besar 1:2 (vertikal : horisontal). Sisi galian harus dilindungi
dengan adukan beton terpasang., maka galian tersebut harus dilindungi
dengan material kedap air seperti lembaran terpal/ kanvas sehingga sisi galian
tersebut selalu terlindung dari hujan maupun sinar matahari.
8. Perlindungan Benda yang Dijumpai
Kontraktor harus melindungi atau menyelamatkan benda-benda yang yang
dilindungi selama pekerjaan galian terpasang. Kecuali disetujui untuk
dipindahkan, benda-benda tersebut harus tetap berada di tempatnya dan
kerusakan yang terjadi akibat kelalaian kontraktor harus diperbaiki/ diganti
oleh kontraktor.
9. Urutan Galian Pada Level Berbeda
Jika kedalaman galian berbeda satu dengan lainnya, maka galian harus
dimulai pada bagian yang lebih dalam dahulu dan seterusnya.

b. PEKERJAAN URUGAN SIRTU

i. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan,penghamparan dan
pemadatan tanah, sirtu atau bahan bebutir yang disetujui untuk pembuatan
urugan, untuk penimbunan kembali galian dan untuk urugan umum yang
diperlukan untuk membentuk dimensi urugan sesuai dengan garis
,kelandaian, dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau
disetujui.
2. Urugan yang dicakup dalam hal ini,yaitu urugan biasa dan urugan pilihan.
3. Urugan pilihan akan digunakan sebagai lapis perbaikan tanah dasar (improve
sub grade) untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar.
4. Pekerjaan ini juga mencakup urugan secara manual atau mekanis, dikerjakan
sesuai dengan Spesifikasi ini dan sangat mendekati garis dan ketinggian yang
ditujukan dalam gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi
Pengawas

ii. Persyaratan Bahan


Standard dan persyaratan perkerjaan urugan sirtu wajib memenuhi:
• Standar Nasional Indonesia (SNI)
• SNI 03-1742-1989 : Metoda Pengujian kepadatan ringan untuk tanah
• SNI 03-1744- 1989: Metoda Pengujian CBR Laboratorium
• SNI 03-Z828-1992 : Metoda pengujian kepadatan lapangan dengan alat konus
pasir.

iii. Persyaratan Bahan


1. Standard Bahan Sirtu
a. Agregat pasir memenuhi persyaratan di bawah ini :
• Agregat pasir harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras dengan
indikasi kekerasan
• Butir-butir agregat halus harus bersifat kekal
• Agregat pasir tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton,
seperti zat-zat yang reaktif alkali
b. Agregat lempung memenuhi persyaratan di bawah ini :
• Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu
banyak
• Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan
terhadap berat kering)
c. Agregat batuan memenuhi persyaratan di bawah ini :
• Ukuran maksimum, ft2 : 75 (ASTM C615-80)
− Densitas lbs/ ft2 : (ASTM C-97)
− Rendah 150
− Minimal diinginkan 160
− Tinggi 190
• Penyerapan air % berat :(ASTM C-121) (ASTM C-97)
− Rendah : 0,02
− Minimal diinginkan : 0,40
− Kuat tekan, ksi : (ASTM C-170)
− Minimal diinginkan 90
− Tinggi 52
• Kuat tarik, ksi : (ASTM C-99)
− Minimal diinginkan : 1,5
− Tinggi : 5,5
− Rendah 2
− Tinggi 10
− Ketahanan Abrasi : tidak diinginkan (ASTM C-241)

2. Sirtu Pilihan yang digunakan adalah Sirtu Pilihan yang itdak mengandung lumpur
dan ukuran butiran kerikil antara 1 cm s/d 4 cm.
3. Material yang digunakan harus memenuhi persyaratan sirtu kelas B.
4. Seluruh material harus bersih dari kotoran organic dan mineral.
5. Kontraktor wajib menjelaskan asal usul bahan sirtu.
6. Ketentuan Kepadatan untuk tanah,Sirtu
• Lapisan Tanah ,Sirtu yang lebih dari 30 cm dibawah elevasi permukaan harus
dipadatkan dalam dalam lapisan - lapisan urugan dengan ketebalan
maksimum 30 cm dan tidak boleh kurang dari 10 cm, kepadatan level terakhir
mencapai 60 % dari kepadatan kering maksimum atau sesuai yang di jelaskan
oleh Perencana.
• Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis urugan yang
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian
menunjukan kepadatan kurang yang disyaratkan , maka Kontraktor harus
memperbaiki pekerjaan ini. Pengujian harus dilakukan pada kedalaman penuh
pada lokasi yang diperintahkan oleh Direksi Pengawas, tetapi tidak boleh
berselang lebih dari 50 m untuk setiap lebar hamparan.

iv. Persyaratan Pelaksanaan


1. Persiapan
a. Paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan dimulai untuk setiap urugan awal yang
akan dilaksanakan, Kontraktor harus :
• Menyerahkan Gambar hasil penampang melintang dasar urugan yang
menunjukan permukaan yang telah dipersiapkan untuk penghamparan
urugan kepada Direksi Pengawas.
• Menyerahkan hasil pengujian kepadatan dasar urugan yang membuktikan
bahwa pemadatan pada permukaan yang telah memenuhi persyaratan.
b. Kontraktor harus menyerahkan hal – hal berikut ini kepada. Direksi Pengawas
paling lambat 14 hari sebelum tanggal yang diusulkan untuk penggunaan
pertama kalinya sebagai bahan urugan.
• Dua contoh masing-masing 50 kg untuk setiap jenis bahan,satu contoh
harus disimpan oleh Direksi Pengawas untuk rujukan selama perioda
kontrak.
• Pernyataan tentang asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan
untuk bahan urugan,bersama-sama dengan hasil pengujian laboratorium
yang menunjukan sifat sifat bahan tersebut memenuhi ketentuan yang
disyaratkan.
c. Kontraktor harus menjamin bahwa pekerjaan harus dijaga tetap kering segera
sebelum dan selama pekerjaan pekerjaan penghamparan dan
pemadatan,dan selama pelaksanaan urugan haurs mempunyai lereng
melintang yang cukup untuk membantu drainase badan jalan dari setiap
curahan air hujan dan juga harus menjamin pekerjaan akhir mempunyai
Metoda Kerja drainase yang baik. Bilamana memungkinkan air yang berasal
dari tempatkerja ,harus dibuang kedalam sistim drainase permanen.
d. Kontraktor harus selalu menyediakan pasokan air yang cukup untuk
pengendalian kadar air urugan selama noprasi penghaparan dan pemadatan.
e. Perbaikan Terhadap Urugan yang tidak memenuhi ketentuan /tidak stabil.
• Urugan akhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang
disyaratkan atau disetujui atau toleransi permukaan yang disyaratkan
harus diperbaiki dengan menggemburkan permukaanya dan membuang
atau menambah bahan sebagaimana yang diperlukan dan dilanjutkan
dengan pembentukan dan pemadatan kembali.
• Lapis hamparan urugan yang terlalu kering untuk dipadatkan,dalam hal
batas-batas kadar airnya yang disyratkan, harus diperbaiki dengan
menggaruk bahan tersebut,dilanjutkan dengan penyemprotan air
secukupnya,dan dicampur seluruhnya dengan mengunakan Motor
Ggreader atau peralatan lian yang disetujui.
• Urugan yang telah padat dan memenuhi ketentuan yang disyratkan dalam
Spesifikasi ini, menjadi jenuh akibat hujan atau banjir atau karena hal lain,
biasanya tidak memerlukan perkerjaan perbaikan asalkan sifat-sifat bahan
dan kerataan permukaan masih memenuhi ketentuan dalam spesifikasi
ini.
f. Pengembalian Bentuk Pekerjaan setelah Pengujian.
Semua lubang pada pekerjaan akhir yang timbul akaibat pengujian
Kepadatan atau lainya harus secepatnya ditutup kembali oleh Kontraktor
dan dipadatkan sampai mencapai kepadatan dan toleransi permukaan
yang disyaratkan oleh spesifikasi ini.
g. Cuaca Yang Dijinkan Untuk Bekerja.
Urugan tanah tidak boleh ditempatkan dihampar atau dipadatkan sewaktu
hujan, dan pemadatan tidak boleh dilahsanakan setelah hujan atau
bilamana kadar air bahan diluar rentang yang disyaratkan.
h. Untuk menghasilkan hamparan dengan tebal padat 30 cm atau yang
disyaratkan Kontraktor harus menyampaikan metoda kerja yang akan
dilakukan.
i. Pelaksanaan Urugan Badan Jalan harus dikerjakan setengah lebar jalan
sehingga setiap saat jalan tetap terbuka untuk lalu – lintas.
j. Sebelum penghamparan urugan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak
diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pengawas
sesuai dengan Spesifikasi ini.
k. Kontraktor harus memasang patok batas dasar urugan 3 hari sebelum
pekerjaan dimulai.
l. Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin
keselamatan pekerja yang melaksanakan pekerjaan galian serta penduduk
sekitar.
m. Pada setiap saat sewaktu pekerja atau yang lainya berada dalam galian yang
mengharuskan kepada mereka berada dipermukaan tanah, kontraktor harus
menempatkan pengawas keamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya
memonitor kemajuan dan keamanan. Pada setiap saat peralatan galian
cadangan(yang belum terpakai) serta perlengkapan P3K harus tersedia pada
tempat kerja galian.
n. Seluruh galian terbuka harus diberi penghalang yang cukup untuk mencegah
pekerja atau orang lain terjatuh kedalamnya, dan setiap galian terbuka pada
badan jalan atau bahu jalan harus ditambah dengan rambupada malam hari
dengan drunm dicat putih (atau yang serupa) ketentuan pengaturan dan
pengendalian lalu – lintas selama pelaksanaan kostrukasi harus diterapkan
pada seluruh galian dalam daerah milik jalan.
2. Penghamparan Urugan
a. Urugan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar
dalam lapisan yang merata yang setelah dipadatkan akan memenuhi toleransi
tebal lapisan yang disyaratkan. Bilamana urugan terakhir yang dipadatkan
lebih dari 30 cm dan kurang dari 60 cm maka dibagi 2 sama tebalnya.
b. Tanah /Sirtu urugan diangkut langsung dari luar sumber bahan ke permukaan
yang yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah. Penumpukan tanah di
lokasi sumber ataupun dilokasi urugan untuk persedian tidak diperkenankan,
terutama selama musim hujan kecuali dengan perlindungansehingga air hujan
tidak membasahi tumpukan Tanah / Sirtu.
c. Penimbunan dalam suatu lokasi(lot)dan pada satu lapis hanya boleh
digunakan bahan tanah yang berasal dari satu sumber galian dan yang
seragam.
d. Bilamana urugan badan jalan akan dipelebar, pelebaran urugan harus
dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar jalan
lama, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi
bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang
diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin,dengan
demikian pembangunan dapat dilanjutkan kesisi jalan lainya bilamana
diperlukan.
3. Pemadatan Urugan
a. Segera setelah penempatan dan penghamparan urugan, setiap lapis harus
dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Direksi
Pengawas sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan.
b. Pemadatan urugan tanah harus dilaksanakan hanya, bilamana kadar air
bahan berada dalam rentang 3% dibawah kadar air oftimum sampai 1% diatas
kadar air optimum.
c. Setiap lapisan urugan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang
dsyaratkan , diuyji kepadatanya dan harus diterima oleh Direksi Pengawas
sebelum lapisan berikutnya dihampar.
d. Urugan harus dipadatkan mulai dari tepi terendah dan bergerak menuju ke
arah elevasi tertinggi sumbu jalan, sehingga setiap titik akan menerima energi
pemadatan yang sama.
e. Urugan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin
gilas,harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih
dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis dengan berat
kurang lebih 70 kg atau timbris(tamper)manual dengan berat minimum 10 kg.
Pemadatan dibawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian Khusus
untuk mencegah timbulnya rongga-rongga , dan untuk menjamin bahwa pipa
terdukung sepenuhnya.
4. Pengendalian Mutu
a. Penerimaan Bahan
• Jumlah data pendukung hasil pengujian yang diperlukan untuk
persetujuan awal mutu bahan akan ditetapkan ditetapkan oleh Direksi
Pengawas , tetapi bagaimanapun juga harus mencakup seluruh pengujian
yang disyaratkan dengan satu rangkaian pengujian bahan yang lengkap,
untuk setiap jenis tanah dari setiap sumber bahan setelah setelah
persetujuan terhadap mutu bahan urugan yang diusulkan, Direksi
Pengawas dapat memintakan pengujian mutu bahan ulang untuk
mencegah terjadinya perubahan sifat bahan.
• Pengandalian mutu bahan harus rutin dilaksanakan untuk mengendalikan
setiap perubahan mutu bahan yang dibawa ke lapangan. Setiap
perubahan sumber bahan paling sedikit harus dilakukan satu pengujian
untuk menentukan bahan urugan ketentuan, seperti yang disyaratkan.
Direksi Pengawas setiap saat dapat memerintahkan dilakukanya uji ke
ekspansif an sesuai SNI 03-6795-2002.
b. Percobaan Pemadatan Lapangan
Kontraktor harus menyampaikan usulan percobaan pemadatan termasuk
memilh Metoda dan peralatan untuk mendapatkan ketebalan dan tingkat
kepadatan yang disyaratkan. Bilamana Kontraktor tidak dapat mencapai
kepadatan yang disyaratkan, prosedur pemadatan berikut ini harus diikuti:
• Mengganti alat pemadat yang lebih sesuai atau lebih berat.
• Percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan variasi jumlah lintasan
alat pemadat dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai,
sehingga dapat diterima oleh Direksi Pengawas
c. Hasil percobaan lapangan ini selanjutnya dapat digunakan Kontraktor sebagai
bahan untuk menetapkan pola lintasan pemadatan, jumlah lintasan, jenis jenis
alat pemadat dan kadar air untuk seluruh pemadatan berikutnya.
d. Ketentuan Kepadatan untuk tanah,Sirtu
Lapisan Tanah ,Sirtu yang lebih dari 30 cm dibawah elevasi permukaan harus
dipadatkan dalam dalam lapisan - lapisan urugan dengan ketebalan
maksimum 30 cm dan tidak boleh kurang dari 10 cm, kepadatan level terakhir
mencapai 60 % dari kepadatan kering maksimum atau sesuai yang di jelaskan
oleh Perencana.
e. Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis urugan yang
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian
menunjukan kepadatan kurang yang disyaratkan , maka Kontraktor harus
memperbaiki pekerjaan ini. Pengujian harus dilakukan pada setiap luas 500m2
atau 1000 m2 luas lokasi yang ditimbun (tergantung luas dan petunjuk
Perencana) pada lokasi yang diperintahkan oleh Direksi Pengawas.
f. Toleransi Dimensi
• Setelah pemadatan lapis dasar perkerasan (sub grade), toleransi elevasi
permukaan tidak boleh lebih dari 20 mm dan toleransi kerataan maksimum
10 mm yang diukur dengan mistar panjang 3 m arah memanjang dan
melintang.
• Seluruh permukaan akhir urugan yang terekpos harus cukup rata dan
harus memiliki memiliki kelandaian yang cukup untuk menjamin aliran air
permukaan yang bebas.
• Permukaan akhir lereng urugan tidak boleh bervariasi lebih dari 10 cm dari
garis profil yang ditentukan.
5. Pengukuran dan Pembayaran
a. Retribusi bahan galian untuk Urugan
Bilamana bahan galian tanah biasa atau bahan urugan pilihan atau lapis pondasi
agregat, atau bahan lainya dari galian sumber bahan di luar daerah milik jalan,
Kontraktor harus dilakukan pengaturan yang diperlukan dan membayar
kepemilikan bahan konsesi kepada pemilik tanah maupun retribusi dan ijin
pengangkutan kepada pihak yang bewenang.
b. Pengukuran Urugan (unit price contract)
Kontraktor wajib melakukan menyampaikan berkas delivery order dan meminta
Persetujuan Direksi Pengawas pada setiap pengiriman bahan nya.
Dari urugan lapis-perlapis Kontraktor wajib bersama-sama dengan Direksi
Pengawas untuk pemeriksaan ketinggian level yang mana hasil
pengukurannya di paparkan dalam berita acara pemeriksaan bersama.
c. Pengukuran Urugan (lumpsum contract fixed price).
Dari urugan lapis-perlapis Kontraktor wajib bersama-sama dengan Direksi
Pengawas untuk pemeriksaan ketinggian level yang mana hasil
pengukurannya di paparkan dalam berita acara pemeriksaan bersama.
d. Dasar Pembayaran (unit price contract)
Pembayaran dilakukan berdasarkan jumlah perhitungan delivery order dan hasil
berita acara pengukuran bersama antara Kontraktor dan Direksi Pengawas
yang menjelaskan level ketinggian urugan.
e. Dasar Pembayaran (lumpsum contract fixed price).
Pembayaran dilakukan berdasarkan hasil berita acara pengukuran bersama
antara Kontraktor dan Direksi Pengawas yang menjelaskan level ketinggian
urugan yang sudah dipenuhi sesuai dengan gambar Perencanaan.
Pada penyerahan hasil akhir semua kepadatan berdasarkan hasil test CBR telah
terpenuhi.

c. PEKERJAAN URUGAN PASIR PADAT

i. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat
bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini
dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi.
2. Lokasi Pekerjaan
Pekerjaan urugan pasir padat dilakukan diatas dasar galian tanah, dibawah
lapisan lantai kerja dan digunakan untuk semua struktur beton yang
berhubungan dengan tanah seperti pile cup, balok pondasi dan pekerjaan
beton lain yang berhubungan langsung dengan tanah.
3. Pembersihan Akar Tanaman dan Sisa Galian.
Jika dibawah dasar galian dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka
dasar galian tersebut harus dibersihkan dari hal tersebut diatas, dan bekas
galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.

ii. Persyaratan Bahan


1. Bahan Urugan Pasir Padat
Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras,
bebas dari lumpur, tanah lempung dan organis. Bahan ini harusmendapat
persetujuan tertulis dari Direksi Pengawas.
2. Air Kerja.
Air yang digunakan harus bersih dan tidak mengandung minyak , asam alkali
dan bahan-bahan organis lainnya, serta dapat diminum . Sebelum digunakan
air harus diperiksa di laboratorium pemeriksaan bahan yang sah. Jika hasil uji
ternyata tidak memenuhi syarat, maka kontraktor wajib mencari air kerja yang
memenuhi syarat.

iii. Syarat-Syarat Pelaksanaan


1. Tebal Pasir Urug.
Jika tidak tercantum dalam gambar kerja , maka dibawah lantai kerja harus
diberi lapisan pasir urug tebal 10 cm padat. Pemadatan harus dilaksanakan
sehingga dapat menerima beban yang bekerja.
2. Cara Pemadatan
Pemadatan dilakukan dengan disiram air dan selanjutnya dipadatkan dengan
alat pemadat yang disetujui Direksi Pengawas. Pemadatan dilakukan hingga
mencapai tidak kurang dari 98 % dari kepadatan optimum laboratorium .
Pemadatan harus dilakukan pada kondisi galian yang memadai agar dapat
menghasilkan kepadatan yang baik. Kondisi galian tersebut harus
dipertahankan sampai pekerjaan pemadatan selesai dilakukan. Pemadatan
harus diulang kembali jika keadaan tersebut diatas tidak terpenuhi.
3. Air Pada Lokasi Pemadatan
Jika air tanah ternyata menggenangi lokasi pemadatan, maka kontraktor wajib
menyediakan pompa dan dasar galian harus kering sebelum pasir urug
diletakkan . Kontraktor harus membuat rencana yang benar , agar air tanah
dapat dialirkan kelokasi yang lebih rendah dari dasar galian., misalnya dengan
membuat sumpit pada tempat tertentu.
4. Tanah di Sekitar Pasir Urug
Kontraktor harus menjaga agar tanah disekitar lokasi tidak tercampur dengan
pasir urug . Jika pasir urug tercampur dengan tanah lainnya , maka konttraktor
wajib mengganti pasir urug tersebut dengan bahan lainnya yang bersih.
5. Persetujuan
Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan, bilamana pekerjaan urugan tersebut
sudah mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
BAB 5
PEKERJAAN STRUKTUR

5.1. PEKERJAAN BETON STRUKTUR


5.1.1. Pekerjaan Bekisting / acuan
5.1.1.1. Umum
1. Kontraktor harus membuat acuan yang dapat dipertanggung jawabkan secara
struktur baik kekuatan, stabilitas maupun kekakuannya serta layak untuk
digunakan .Acuan merupakan suatu bagian pekerjaan struktur yang berguna
untuk membentuk struktur beton agar sesuai gambar rencana.
2. Jenis acuan harus sesuai dengan yang disyaratkan didalam spesifikasi ini.
Kontraktor dapat mengusulkan alternatif acuan dengan catatan bahwa harus
disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Didalam penawarannya Kontraktor wajib
menawarkan sesuai dengan yang ditentukan didalam spesifikasi.
3. Semua bagian acuan yang sudah selesai digunakan harus dibongkar dan
dikeluarkan dari lokasi pekerjaan. Tidak dibenarkan adanya bagian acuan yang
tertanam di dalam struktur beton.
4. Pada struktur beton kedap air, cara pemasangan acuan dan bukaan pada acuan
harus dibuat sedemikian rupa, sehingga bukaan tersebut harus dapat ditutup
dengan sempurna, sehingg bebas dari kebocoran. Semua pengikat. Semua
pengikat acuan (ties) harus dilengkapi denganmaterial tertentu seperti water
haffles, sehingga pada saat dicor akan menyatu dengan struktur beton.
5.1.1.2. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan dan Peralatan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan seperti release
agent, pengangkutan dan pelaksanaan untuk menyelesaikan semua pekerjaan
acuan sebagai cetakan beton sesuai dengan gambar-gambar konstruksi dan
gambar-gambar disiplin lain yang berhubungan seperti diuraikan dalam uraian dan
syarat-syarat pelaksanaan, secara aman dan benar.
2. Ditail – ditail Khusus
Pembuatan acuan khusus sesuai yang direncanakan harus termasuk yang
ditawarkan didalam penawaran Kontraktor. Termasuk juga jika menggunakan
material acuan yang khusus untuk menghasilkan ditail khusus
5.1.1.3. Standar Yang Dipakai
Kecuali ditentukan lain didalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar
pelaksanaan digunakan peraturan sebagai berikut :
1. Tata cara perhitungan Struktur Beton untuk bangunan gedung (SK SNI T-15-1991-
03)
2. Pedoman Beton 1989 (SKBI – 1.4.53.1988)
3. Peraturan perencanaan tahan gempa Indonesia untuk Gedung 1983
4. Pedoman perencanaan untuk struktur beton bertulang biasa dan struktur tembok
bertulang untuk gedung 1983
5. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982)/NI-3
6. Peraturan Portland Cement Indonesia 1972/NI-8
7. Mutu dan Cara Uji Sement Portland (SII 0013-81)
8. Mutu dan Cara Uji Sement Beton (SII 0052-80)
9. ASTM C-33 Standard Specification for concrete Agregates
10. Baja Tulangan Beton (SII 0136-84)’
11. Jaringan Kawat Baja Las untuk Tulangan Beton (SII 0784-83)
12. American Socicty for testing and Material setempat (ASTM)
13. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daserah setempat
14. Petunjuk Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran
pada bangunan Rumah dan Gedung (SKBI-2.3.5.3.1987 UDC:699.81:624.04)
15. Tata Cara Penghitungan Pembebanan Untuk Bangunan Rumah Dan Gedung SNI
03-1727-1989.
16. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-1729-
2002.
17. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-2847-
2002.
18. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-
1726-2002.
5.1.1.4. Persyaratan Bahan
1. Acuan dan Penyanggah
Bahan acuan yang dipergunakan dapat membentuk beton, baja, dan pasangan
bata yang diplester dengan Plywood dengan TegoFilm satu sisi yang dapat
dipertanggung jawabkan kualitasnya. Penggunanaan acuan siap pakai produksi
pabrik tertentu diizinkan untuk dipergunakan, selama dapat disetujui oleh Direksi
Pengawas.Pengaku harus dibuat dengan benar agar tidak terjadi perubahan
bentuk/ ukuran dari elemen beton yang dibuat. Penyanggah yang terbuat dari baja
lebih disukai, walau penggunaan material penyanggah dari kayu dapat diterima.
Bahan dan ukuran kayu yang digunakan harus mendapatkan persetujuan Direksi.
Sebagai acuan samping dari beton tersebut dapat menggunakan pasangan batu
kali, batu bata atau material lain yang disetujui Direksi. Untuk elemen beton
tertentu seperti kolom bulat disarankan menggunakan acuan baja.
2. Release Agent
Release agent harus merupakan material yang memenuhi ketentuan berikut ini :
- Cream emulsion
- Neat oil dengan ditambahkan surfactant
- Release agent kimiawi yang tidak merusak beton
Release agent disimpan dan digunakan sesuai dengan ketentuan pabrik
pembuatnya. Kontrktor harus memastikan bahwa release agent yang digunakan
cocok dengan bahan finish yang akan digunakan. Dan jika permukaan beton
merupakan finishing atau umum disebut beton exposed maka Kontraktor harus
memastikan bahwa permukaan beton yang dihasilkan sesuai dengan dokumen
perencanaan. Kontraktor harus memastikan bahwa release agent tersebut tidak
akan bersentuhan langsung dengan besi beton.
5.1.1.5. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Struktur Acuan
Acuan berikut elemen pendukungnya harus dianalisa sedemikian rupa, sehingga
mampu memikul beban kesemua arah yang mungkin terjadi (kuat), tanpa
mengalami deformasi yang berlebihan (kaku) dan harus memenuhi syarat
stabilitas. Deformasi dibatasi tidak lebih dari 1/360 bentang. Peninjauan terhadap
kemungkinan beban diluar beban beton juga harus dipertimbangkan, seperti
kemungkinan beban konstruksi, angin, hujan dan lain-lain. Semua analisa dan
perhitungan acuan berikut elemen pendukungnya harus diserahkan kepada
Direksi Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya, sebelum pekerjaan
dilakukan.
2. Dimensi Acuan
Semua ukuran-ukurann yang tercantum dalam gambar struktur adalah
ukuran bersih penampang beton, tidak termasuk plester/ finishing.
Tambahan elemen tertentu seperti bentuk / profil khusus yang tercantum didalam
gambar arsitektur juga harus dipertimbangkan baik sebagai beban maupun dalam
analisa biaya.
3. Gambar Kerja.
Kontraktor harusmembuat gambar kerja khusus acuan berdasarkan analisa yang
dilakukannya. Gambar kerja jtersebut harus lengkap disertai ukuran dan ditail-ditail
sambungan yang benar dan selanjutnya diserahkan kepada Direksi Pengawas
untuk persetujuannya. Tanpa persetujuan tersebut Kontraktor tidak dipernankan
untuk memulai pembuatan acuan dilapangan.
4. Tanggung Jawab
Walaupun sudah disetujui oleh Direksi, tanggung jawab sepenuhnya atas
kekuatan, kekakuan dan nstabilitas acuan sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor. Jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan perkiraan ataupun
kekeliruan yang mengakibatkan timbulnya biaya tambah, maka semua biaya
tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor. Acuan harus dibuat sesuai dengan
yang dibuat didalam gambar kerja. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan gambar
kerja harus segera dibongkar.
5. Stabilitas Acuan
Semua acuan harus diberi penguat datar dan silang sehingga kemungkinan
bergeraknya acuan selama pelaksanaan pekerjaan dapat dihindari. Direksi
Pengawas berhak untuk meminta Kontraktor untuk memperbaiki acuan yang
dianggap tidak/ kurang sempurna dengan beban biaya Kontraktor.
6. Inspeksi Direksi/ Tim Teknis.
Semua acuan dengan penunjang-penunjang harus diatur sedemikian rupa
sehingga memungkinkan dilakukannya inspeksi dengan mudah oleh Direksi.
7. Detail Acuan
Penyusunan acuan harus sedemikian rupa hingga pada waktu pembongkarannya
tidak menimbulkan kerusakan pada bagian beton yang bersangkutan.
8. Jumlah Pemakaian
Acuan hanya diperbolehkan dipakai maksimum 2 (dua) kali, kecuali ditentukan lain
oleh Direksi. Acuan yang akan digunakan berulang harus dipersiapkan sedemikian
rupa sehingga dapat dijamin permukaan acuan tetap rapih dan bersih.
9. Akurasi.
Acuan harus dapat menghasilkan bagian konstruksi yang ukuran kerataan/
kelurusan, elevasi dan posisinya sesuai dengan gambar-gambar konstruksi.
Toleransi ukuran dan posisi harus sesuai dengan yang tercantum dalam
spesifikasi ini.
10. Sistim Pengaliran Air.
Acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dahulu sebelum pengecoran. Harus
dipersiapkan sistim pengaliran air sedemikian, sehingga pada saat dibasahkan, air
dapat mengalir ketempat yang diinginkan dan acuan tidak tergenang oleh air.
Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga akan terjadi kebocoran atau
hilangnya air semen selama pengecoran, tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan
tidak tergoyang.
11. Ikatan Acuan di Dalam Beton.
Baut-baut dan tie rod yang diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus diatur
sedemikian dan mendapat persetujuan dari Direksi, sehingga bila acuan dibongkar
kembali, tidak akan merusak beton yang sudah dibuat.
12. Acuan Beton Exposed
Jika ada harus dilapisi dengan menggunakan release agent pada permukaan
acuan yang menempel pada permukaan beton. Berhubung release agent
berpengaruh pula pada warna permukaan beton, maka pemilihan jenis dan
penggunaannya harus dilakukan dengan seksama. Cara pengecoran beton harus
diperhitungkan sedemikian rupa sehingga siar-siar pelaksanaan tidak merusak
penampilan beton exposed tersebut. Merk dan jenis relesae agent yang telah
disetujui bersama. Tidak boleh diganti dengan merk jenis lain. Untuk itu Kontraktor
harus memberitahukan terlebih dahulu nama perdangan dari release agent
tersebut, data bahan-bahan bersangkutan, nama produsennya, jenis bahan-
bahan mentah utamanya, cara-cara pemakainnya, resiko-resiko dan keterangan
lain yang dianggap perlu untuk memperoleh persetujuan tertulis dari Direksi.
13. Bukaan Untuk Pembersihan
Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari acuan kolom atau
dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan pembersihan.
14. Scaffolding
Pada prinsipnya semua penunjang acuan harus mengggunakan steger besi
(scaffolding) . Scaffolding tersebut harus cukup kuat dan kaku dan diatur agar
mudah diperiksa oleh Direksi.
15. Persetujuan Direksi.
Setelah pekerjaan diatas selesai, Kontraktor harus meminta persetujuan dari
Direksi dan minimum 3 (tiga) hari sebelum pengecoran Kontraktor harus
mengajukan permohonan tertulis untuk izin pengecoran kepada Direksi.
16. Anti Lendut (Cambers)
Kecuali ditentukan lain dalam gambar, maka semua acuan untuk balok dan pelat,
harus dipersiapkan dengan memakai anti lendut dengan besar sbb :

Lokasi % Tehadap Bentang


Ditengah Bentang balok 0.3
Diujung balok kantilever 0.5

17. Pembongkaran Acuan


a. Pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati, dimana bagian konstruksi yang
dibongkar acuannya harus dapat memikul berat sendiri dan beban–beban
pelaksanaannya.
b. Pembongkaran acuan dapat dilakukan setelah mencapai waktu sbb:

Elemen Struktur Waktu Minimum


Sisi-sisi balok, kolom dan 3 hari
dinding
Balok dan plat beton 21 hari
(tiang penyangga tidak
dilepas)
Tiang-tiang penyangga 21 hari
plat
Tiang-tiang penyangga 21 hari
balok-balok

Waktu pembongkaran tersebut hanya merupakan kondisi normal dan harus


dipertimbangkan secara khusus jika pada lantai-lantai tersebut bekerja beban
rencana. Untuk mempercepat waktu pembongkaran. Kontraktor dapat
merencanakan dan mengusulkan metode dan perhitungan yang akan digunakan,
dan usulan tersebut harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas.
Tidak ada biaya tambah untuk hal tersebut. Semua akibat yang timbul akibat
usulan tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor.
c. Setiap rencana pekerjaan pembongkaran acuan harus diajukan terlebih dahulu
secara tertulis untuk disetujui Direksi/ Pengawas.

5.1.2. Pekerjaan Beton Bertulang


5.2.2.1. Umum
Semua beton untuk struktur bemutu fc’ = 18.75 MPa (K-225) untuk struktur, dan
fc’ = 14.52 MPa (K-175) atau campuran 1:3:5 untuk lantai kerja.

5.2.2.2. Persyaratan Bahan


1. Semen
Semen yng boleh digunakan untuk pembuatan beton harus dari jenis semen yang
telah ditentukan dalam SII 0013-81 dan harus memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan dalam standart tersebut. Semua yang akan diapaki harus dari satu
merk yang sama dan dalam keadaan baru. Semen nyang dikirim semen harus
terlindung dari hujan dan air. Semen harus terbungkus dalam sak (kantong) asli
dari pabriknya dan dalam keadaan tertutup rapat. Semen harus disimpan di
gudang dengan ventilasi yang baik, tidak lembab dan diletakkan pada tempat yang
tinggi, sehingga aman dari kemungkinan yang tidak diinginkan. Semen tersebut
tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 zak. Sistim penyimpanan semen harus diatur
sedemikian rupa, sehingga semen tersebut tidak tersimpan terlalu lama. Semen
yang diragukan mutunya dan rusak akibat salah penyimpanan, seperti membantu,
tidak diizinkan untuk dipakai. Bahan yang telah ditolak harus segera dikeluarkan
dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 (dua) hari atas biaya Kontraktor.
2. Agregat
Pada pembuatan beton, ada dua ukuran agregat yang digunakan, yaitu agregat
kasar / batu pecah dan agregat halus / pasir beton. Kedua jenis agregat ini
disyaratkan berikut ini :
1. Agregat Kasar, Ukuran besar ukuran nominal maksimum agregat kasar (batu
pecah mesin) harus tidak melebihi 1/5 jarak terkecil antara bidang samping dari
cetakan, atau 1/3 dari tebal pelat, atau ¾ jarak bersihminimum antar batang
tulangan , berkas batang tulangan atau tendon pratekan atau 30 mm. Gradasi dari
agregat tersebut secara keseluruhan harus sesuai dengan yang disyaratkan oleh
ASTM agar tidak terjadinya sarang kerikil atau riongga dengan ketentuan sebagai
berikut :

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 31.50 mm 0
Ayakan 4.00 mm 90-98
Selisih antar 2 ayakan
01-10
berikutnya
2. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas dari
bahan-bahan organik, lumpur dan kotoran lainnya. Kadar lumpur harus lebih kecil
dari 4 % berat. Sagregat halus harus terdiri dari butir-butir beraneka ragam
besarnya dan apabila diayak harus memenuhi syarat sbb :

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 4.00 mm >02
Ayakan 1.00 mm > 10
Ayakan 0,25 mm 80-95

Kontraktor harus mengadakan pengujian sesuai dengan persyaratan dalam


spesifikasi ini. Jika sumber agregat berubah karena sesuatu hal, maka kontraktor
wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada Direksi Pengawas. Agregat
harus disimpan ditempat yang bersih, yang keras permukaannya dan harus
dicegah supaya tidak terjadi pencampuran dengan tanah.
3. Air Untuk Campuran Beton
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh mengandung
minyak, asam alkali, garam, zat organis atau bahan lain yang dapat merusak beton
atau besi beton. Air tawar yang dapat diminum umumnya dapat digunakan. Air
tersebut harus diperiksa pada laboratorium yang disetujui oleh Direksi. Jika air
pada lokasi pekerjaan tidak memenuhi syarat untuk digunakan, maka Kontraktor
harus mencari air yang memadai untuk itu.
4. Besi Beton
Besi beton berdiameter lebih besar 12 mm harus selalu menggunakan besi beton
ulir (deformad bars/ U40) untuk tulangan utama, sedang besi beton berdiameter
sama atau lebih kecil 12 mm menggunakan besi beton polos, U24 atau dapat
disesuaikan dengan notasi dalam gambar, Agar dipeoleh hasil pekerjaan yang
baik, maka besi beton harus memenuhi syarat-syarat :
1. Baru, bebas dari kotoran , lapisan minyak ,karat dan tidak cacat
2. Mutu sesuai dengan yang ditentukan
3. Mempunyai penampang yang rata dan seragam sesuai dengan toleransi
4. Merk Krakatau Steel, Bhirawa, Hanil, Master Steel

Pemakaian besi beton dari jenis yang tidak sesuai dengan ketentuan diatas, harus
mendapat persetujuan dari Direksi.
5. Admixtures Material Tambahan
Dalam keadaan tertentu boleh dipakai bahan campuran tambahan untuk
memperbaiki sifat suatu campuran beton. Jenis, jumlah bahan yang ditambahkan
dan cara penggunaan bahan tambahan harus dapat dibuktikan melalui hasil hasil
uji dengan dengan menggunakan jenis semen dan agregat yang akan dipakai
pada proyek ini. Bahan campuran tambahan yang berfungsi untuk mengurangi
jumlah air pencampur, memperlambat atau mempercepat penguatan dan/ atau
pengerasan beton harus memenuhi “Specifikation for Chemical Admixtures for
Concrete” (ASTM C494) atau memenuhi standar Umum Bahan Bangunan
Indonesia.
6. Kualitas Beton
a. Kualitas beton yang digunakan tercantum dalam gambar rencana yang harus
dibuktikan dengan pengujian seperti disyaratkan dalam spesifikasi teknis ini.
b. Untuk memastikan bahwa kualitas beton rencana dapat tercapai, Kontraktor harus
melakukan percobaan sesuai dengan yang disyaratkan oleh peraturan yang
berlaku dengan mengadakan trialmix di laboratorium yang disetujui oleh Direksi.
c. Jika tidak ditentukan secara khusus, maka untuk lantai kerja, kolom praktis, ring
balk, lantai kerja dan beton non struktur lainnya harus menggunakan beton Mutu
K 2255, sedangkan untuk beton struktural menggunakan beton Mutu K 250.
d. Disain Adukan Beton
Proporsi campuran bahan dasar beton harus ditentukan agar beton yang
dihasilkan memberikan kelecakan (workability) dan konsistensi yang baik,
sehingga beton mudah dituangkan kedalam acuan dan kesekitar besi beton, tanpa
menimbulkan segregasi agregat dan terpisahnya air (bleeding) secara kelebihan.
Campuran beton harus dirancang sesuai dengan mutu beton yang ingin dicapai,
dengan batasan dibawah ini :

K K
MUTU BETON 22 25
5 0
Kuat tekan minimum 7 hari 15 17
(kg/cm2) 8 5
Jumlah semen minimum 30 30
(kg/m3) 0 0
Jumlah semen 55 55
maksimum(kg/m3) 0 0
0. 0.
W/C faktor, maksimum
55 55

Untuk beton kedap air atau beton pada kondisi lingkungan khusus , maka harus
dipenuhi syarat pada Pedoman Beton Indonesia.

Ketentuan minimum untuk beton kedap air


Kondisi Faktor Jumlah
lingkunga air semen
Jenis n semen Minimum
Struktur Berhubun Maksi (kg/m3)
gan mum
dengan
Beton Air tawar/ 0.50 290
Bertulan payau
g Air laut 0.45 360

Kontraktor harus menyerahkan mix-design yang diusulkan kepada Direksi untuk


mendapatkan persetujuannya. Khusus untuk beton kedap air , maka jumlah
semen minimum harus sesuai dengan yang disyaratkan oleh pemasok
waterproofing.

5.2.2.3. Pengujian Bahan


1. Umum
a. Kontraktor harus bertaggung jawab untuk melaksanakan segala pengujian
termasuk mempersiapkan contoh benda uji dengan jumlah sesuai yang
disyaratkan. Kontraktor harusmenyerahkan hasil pengujiannya setelah hasil uji
diperoleh untuk persetujuan oleh Direksi.
b. Jika pengujian dan pelaksanaan tidak memenuhi syarat, maka kontraktor harus
melaksanakan pengujian ulang dengan campuran yang lain dan selanjutnya
mengevaluasi kembali hasil uji tersebut hingga diperoleh hasil yang diinginkan.
c. Semua pengujian dan pemeriksaan di lapangan harus dilakukan sesuai dengan
pengarahan Direksi Pengawas.
d. Untuk semua bahan semen dan besi beton yang dikirim ke lapangan, Kontraktor
harus mendapatkan salinan sertifikat pengujian dari pabrik, dimana pengujian
dilakukan secara berkala, dengan cara pengujian sesuai dengan spesifikasi ini.
(optional)

2. Laboratorium Penguji.
a. Sebelum pekerjaan beton dilakukan, Kontraktor wajib mengusulkan suatu
laboratorium penguji untuk melaksanakan pengujian material yang akan
digunakan pada proyek ini. Laboratorium ini bertanggung jawab untuk melakukan
semua pengujian dengan spesifikasi ini.
b. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan peralatan penguji di
lapangan seperti tersebut berikut ini seperti pada poin 3, beserta tenaga ahli yang
menguasai bidangnya.
c. Alat penguji agregat kasar dan agregat halus
1) Alat pengukur kadar air (moisture countent) dari agregat
2) Alat pengukur kekentalan beton (slump)
3) Alat pembuat benda uji, termasuk bak penyimpan untuk merawat benda uji pada
temperatur yang normal dan terhindar dari sengatan matahari.
d. Jika menggunakan beton readymix, maka peralatan yang disebut a) dan b) diatas
harus disiapkan pada pabrik beton readymix.

3. Pengujian Agregat
a. Pengujian Pendahuluan Agregat
Kontraktor harusmelakukan pengujian pendahuluan agregat sebagai berikut :
1) Sieve analysis
2) Pengujian kadar lumpur dan kotoran lain
3) Pengujian unsur organis
4) Pengujian kadar clorida dan sulfat.
Hasil pengujian tersebut harus diserahkan kepada Direksi/ manajemen Konstruksi
untuk mendapatkan persetujuan a) dan b) dengan pengujian kadar air dari setiap
jenis agregat harus dilakukan terhadap contoh untuk setiap trial mix.
b. Benda Uji Agregat
Kontraktor harus melaksanakan pengujian atas agregat yang akan digunakan
untuk menghasilkan beton seperti yang disyaratkan. jumlah minimum untuk
pengujian agregat yang dipakai untuk pekerjaan beton adalah sebagai berikut :

Tipe Minimum satu


Pengujian contoh
Sieve analysis Setiap minggu
Moistur content Setiap minggu
Clay,silt dan Setiap hari
kotoran
Kadar organis Setiap minggu
Kadar clorida Setiap 500 m3
dan sulfat beton

Jika hasil pembuatan beton yang dilakukan oleh Kontraktor tidak memuaskan,
maka Direksi Pengawas berhak untuk meminta pengujian tambahan dengan
beban biaya Kontraktor. Dan sebaliknya mungkin jumlah pengujian dapat
dikurangi jika hasil diperoleh ternyata memuaskan.

5.2.2.4. Pengujian Beton


1. Benda Uji Beton
Benda uji harus diberi kode/tanda yang menunjukkan tanggal pengecoran, lokasi
pengecoran dari bagian struktur yang bersangkutan. Benda uji harus diambil dari
mixer, atau dalam hal menggunakan beton readymix, maka benda uji harus
diambil sebelum beton dituang ke lokasi pengecoran sesuai dengan yang
disyaratkan oleh Direksi Pengawas.
2. Jumlah Benda Uji Beton
Pada awal pelaksanaan , harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,50 m3 beton
dan jenis peruntukan beton hingga dengan cepat dapat diperoleh 30 benda uji
yang pertama . Benda uji harus berbentuk kubus berukuran 15 cm x 15 cm x 15
cm . Benda uji bentuk lainnya dapat digunakan jika disetujui oleh Direksi
Pengawas. Selanjutnya pengambilan benda uji sebanyak 2 (dua) buah dilakukan
setiap 5 m3 beton. Benda uji tersebut ditentukan secara acak oleh Direksi dan
harus dirawat sesuai dengan persyaratan.
a. Jumlah benda uji beton untuk uji kuat tekan dari setiap mutu beton yang dituang
pada satu hari harus diambil minimal satu kali. Pada setiap satu kali pengambilan
contoh beton harus dibuat dua buah spesimen kubus. Satu data hasil uji kuat tekan
adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua spesimen ini yang diuji pada umur beton
yang ditentukan, yaitu umur 7 haris dan 28 hari.
b. Jika hasil uji beton kurang memuaskan, maka Direksi dapat meminta jumlah benda
uji yang lebih besar dari ketentuan diatas, dengan beban biaya ditanggung oleh
Kontraktor.
c. Jumlah minimum benda uji yang harus dipersiapkan untuk setiap mutu beton
adalah :

Jumlah Waktu Perawatan


Minimu (hari)
Jenis
m 3 7 2
Struktur
Benda 8
Uji
Beton 4 - 2 2
Bertulan
g
Beton 6 2 2 2
Pratekan

3. Laporan Hasil Uji Beton


Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas uji beton dari laboratorium penguji
untuk disahkan oleh Direksi. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan
perhitungan tekanan beton karakteristik.
4. Evaluasi Kualitas Beton Berdasarkan Hasil Uji Beton.
a. Deviasi Standar – S
Deviasi standar produksi beton ditetapkan berdarakan jumlah 30 buah hasil tes
kubus. Deviasi yang dihitung dari jumlah contoh kubus yang kurang dari 30 buah
harus dikoreksi dengan faktor pengali seperti tercantum dalam tabel berikut :
 ( fc − fcr)
2

S=
N −1

Jumlah Benda Uji Faktor Pengali - S


(N)-buah
<15 1.16
20 1.08
25 1.03
>30 1.00

b. Kuat Tekan Rata-rata – fcr


Target fcr yang digunakan sebagai dasar dalam menetukan proporsi campran
beton harus diambil sebagai nilai yang terbesar dari formula berikut ini :
Fcr = fc’ + 1.64 S atau fcr – fc’ + 2.64 S – 40 kg/cm2
c. Kuat Tekan Sesungguhnya
Tingkat kekuatan suatubeton dikatakan tercapai dengan memuaskan, jika kedua
syarat berikut dipenuhi :
1) Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yangmasing-masing terdiri dari 4 hasil
uji kuat tekan tidak kurang (fc’ + 0.82 N)
2) Tidak satupun dari hasil uji tekan (rata-rata dari 2 benda uji) mempunyai nilai
ibawah 0.85 fc’
Bila salah satu dari kedua syarat diatas tidak dipenuhi, maka harus diambi l
langkah untuk meningkatkan rata-rata hasil uji kuat tekan berikutnya atas
rekomondasi KP

5.2.2.5. Pengujian Tidak Merusak (Non Destructive Test)


Jika hasil evaluasi terhadap mutu beton yang disyaratkan ternyata tidak dapat
dipenuhi, maka jika diminta oleh Direksi/ Pengawas. Kontraktor harus
melaksanakan pengujian yang tidak merusak yang dapat terdiri dari hammer test,
pengujian beban dan lain-lain. Semua biaya pengujian ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

Lokasi dan banyaknya pengujian akan ditentukan secara khusus dengan melihat
kasus perkasus.

5.2.2.6. Pengujian Besi Beton


1. Benda Uji Besi Uji Beton
a. Sebelum besi beton dipesan, Kontraktor wajib mengambil benda uji besi beton
masaing-masing 2 buah dengan ukuran panjang 100 cm sesuai diameter dan
mutu yang akan digunakan. Selanjunya benda uji besi beton harus diambil dengan
disaksikan oleh Direksi Pengawas sebanyak 2 buah untuk setiap 20 ton untuk
masing-masing diameter besi beton. Uji besi beton terdiri dari uji tarik dan ulir
lentur.
b. Pengujian mutu besi beton juga akan dilakuakn setiap saat bilamana dipandang
perlu oleh Direksi. Contoh besi beton yang diambil untuk pengujian tanpa
disaksikan Direksi tidak diperkenankan dan hasil uji dianggap tidak sah. Semua
biaya uji tersebut sepenuhnya menjadi tanggung Kontraktor.
c. Benda uji harus diberi tanda dengan kode yang menunjukkan tanggal pengiriman,
lokasi terpasang bagian struktur yang bersangkutan dan lain-lain data yang perlu
dicatat.
d. Jika akibat suatu alasan, seperti hasil uji yang kurang memuaskan, maka Direksi
berhak untuk meminta pengambilan contoh benda uji lebih besar dari yang
ditentukan diatas, dengan beban biaya ditanggung oleh Kontraktor.
e. Laporan Hasil Uji Besi Beton
Kontraktor harus membuat dan menyusun hasil uji besi beton dari laboratorium
penguji untuk diserahkan kepada Direksi dan laporan tersebut harus dilengkapai
dengan kesimpulan apakah kualitas besi beton tertsebut memenuhi syarat yang
telah ditentukan.
Syarat-Syarat Pelaksanaan
Kontraktor harus membuat beton dengan kualitas sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang disyaratkan, antara lain, mutu dan penggunannya selama
pelaksanaan. Semua pekerjaan beton harus dilakukan oleh tenaga ahli yang
berpengalaman, termasuk tenaga ahli untuk acuan/ bekisting, sehingga sehingga
dapat mengantisipasi segala kemungkina yang terjadi. Selain itu, Kontraktor wajib
menggunakan tukang yang berpengalaman, sehing sudah paham dengan
pekerjaan yang sedang dilaksanakan utamanya pada saat dan setelah
pengecoran berlangsung. Semua tenaga ahli dan tukang tersebut harus
mengawasi pekerjaan sampai pekerjaan perawatan beton selesai dilakukan.
Untuk itu paling lambat 10 hari sebelum pekerjaan dimulai Kontraktor harus
mengusulkan metode kerja dan harus disetujui Direksi. Jika dipandang perlu,
maka Direksi/ Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli diluar yang ditunjuk
Kontraktor untuk membantu mengevaluasi semua usulan Kontraktor dan semua
biaya yang timbul menjadi beban Kontraktor.
a. Slump
Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, yang jika tidak ditentukan secara
khusus adalah antara 5 – 12 cm untuk beton umumnya, sedang tiang bor slump
beton adalah 16 – 18 cm lebih besar dari 12cm (disesuaikan dengan bab
pengecoran bored piled, Pondasi).Cara uji slump sebagai berikut, Beton diambil
sebelum dituangkan kedalam cetakan beton (begisting). Cetakan slump
dibasahkan dan ditempatkan diatas permukaan yang rata. Cetakan diisi sampai
kurang lebih sepertiganya.Kemudian beton tersebut ditusuk- tusuk 25 kali dengan
besi beton diameter 16 mm, panjang 30 cm dengan ujung yang bulat. Pengisian
dilakukan dengan cara serupa untuk dua lapisan berikutnya. Setiap lapisan
ditusuk-tusuk 25 kali dan setiap tusukan harus masuk sampai dengan satu lapisan
dibawahnya. Setelah bagian atas diratakan, segera cetakan diangkat perlahan-
lahan dan diukur penurunnannya.
b. Persetujuan Direksi/ Tim Teknis
Sebelum semua tahap pelaksanaan berikutnya dilaksanakan. Kontraktor harus
mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas.Laparan harus diberikan
kepada Direksi paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan dilaksanakan. Hal-hal
khusus akan didiskusikan secara lebih mendalam antara semua pihak yang
berkepentingan. Semua tahapan pelaksanaan tersebut harus dicatat secara baik
dan jelas sehingga mudah untuk ditelusuri jika suatu saat data tersebut dibutuhkan
untuk pemeriksaan.
c. Persiapan dan Pemeriksaan
Kontraktor tidak diizinkan untuk melakukan pengecoran beton tanpa izin tertulis dari
Direksi. Kontraktor harus melaporkan kepada Direksi tentang kesiapannya untuk
melakukan pengecoran dan laporan tersebut harus disampaikan minimal satu hari
sebelum waktu pengecoran, sesuai dengan kesepakatan dilapangan, untuk
memungkinkan Direksi melakukan pemeriksaan sebelum pengecoran
dilaksanakan. Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang memadai seperti
tangga ataupun fasilitas lain yang dibutuhkan agar Direksi dapat memeriksa
pekerjaan secara aman dan mudah. Tanpa fasilitas tersebut, Kontraktor tidak akan
diizinkan untuk melakukan pengecoran. Semua koreksi yang terjadi akibat
pemeriksaan tersebut harus segera diperbaiki dalam waktu 1 x 24 jam dan
selanjutnya Kontraktor harus mengajukan ijin lagi untuk dapat melaksanakan
pengecoran. Tidak dibenarkan adanya penambahan waktu akibat koreksi yang
timbul, kecuali ditentukan lain oleh Direksi/ Pengawas, Persetujuan untuk
melaksanakan pengecoran tidak berarti membebaskan Kontraktor dari tanggung
jawabb sepenuhnya atas ketidak sempurnaan ataupun kesalahan yang timbul.
Sebelum pengecoran dilakukan harus dipastikan bahwa semua peralatan yang
akan tertanam didalam beton sudah terletak pada tempatnya dan semua kotoran
sudah dibersihkan ndari lokasi pengecoran. Demikian pula untuk siar pelaksanaan
harus dilakukan sesuai dengan persyaratan.
d. Siar Pelaksanaan
Kontraktor harus mengusulkan lokasi siar pelaksanaan dalam gambar kerjanya. Siar
pelaksanaan harus diusahakan seminimum mungkin, agar perlemahan struktur
dapat dikurangi. Siar pelaksanaan tidak diizinkan untuk melalui daerah yang
diperkirakan sebagai daerah basah, seperti toilet, seservoir dll. Jika tidak
ditentukan lain, maka lokasi siar pelaksanaan harus terletak pada daerah dimana
gaaya geser adalah minimal, umumnya terletak pada sepertiga bentang tengah
dari panjangg efektif elemen struktur .Pada pengecoran beton yang tebal dan
volume yang besar, lokasi siar pelaksanaan harus dipertimbangkan sedemikian
rupa, sehingga tidak menyebabkan perbedaan temperatur yang besarpada beton
yang tersebut, yang berakibat retaknya beton, disamping adanya tegangan residu
yang tidak diinginkan. Siar pelaksanaan dapat dibuat secara horizontaldan
pengecoran dapat dibagi menjadi berlapis-lapis. Lokasi siar pelaksanaan tersebut
harus disetujui oleh Direksi. Kontraktor harus sudah mempertimbangkan didalam
penawarannya, segala hal yang berhubungan dengan siar pelaksanaan
sepertierstop, perekat beton, dowel dsb, maupun pembersih permukaan beton
agar dapat dijamin lekatan antara beton lama dan baru. Siar pelaksanaan harus
bersih dari semua kotoran dan bekas beton yang tidak melekat dengan baik, dan
sebelum pengecoran dilanjutkan, harus dikasarkan sedemikian rupa sehingga
agregat besar menjadi terlihat tetapi tetap melekat dengan baik.
e. Pengangkutan dan Pengecoran Beton.
Beton harus diangkut dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat tiba dilokasi
proyek dalam keadaan yang masih memenuhi spesifikasi teknis. Jika lokasi
pembuatan cukup jauh dari proyek, maka harus digunakan admixtures yang dapat
memperlambat proses pengerasan dari beton. Pada saat beton diangkut ke lokasi
pengecoran juga harus diperhatikan, agar tidak terjadi pemisahan antara bahan-
bahan dasar pembuat beton. Pada saat pengecoran tinggi jatuh dari beton segar
harus kurang dari 1.50 metert. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi pemisahan
antara batu pecah yang berat dengan pasta beton sehingga mengakibatkan
kualitas beton menjadi menurun. Untuk itu harus disiapkan alat bantu seperti pipa
tremi sehingga syarat ini dapat dipenuhi. Sebelum pengecoran beton harus dijaga
agar tetap dalam kondisi plastis dalam waktu yang cukup, sehingga pengecoran
beton dapat dilakukan dengan baik. Kontraktor harus mengajukan jumlah alat dan
personil yang akan mendukung pengecoran beton, yang dianalisa berdasarkan
besarnya volume pengecoran yang akan dilakukan. Sebagai gambaran setiap alat
pemadat mampu memadatkan sekitar 5 – 8 m3 beton segar perjam. Beton segar
dicampurkan harus ditempatkan sedekat mungkin dengan lokasi akhir, sehingga
masalah segregasi dan pengerasan beton dapat dihindarkan dan selam
pemadatan beton masih bersifat plastis.

5.2.2.7. Pemadatan Beton


1. Alat Pemadat Beton
Beton yang akan dicor harus segera dipadatkan dengan alat pemadat (vibrator)
dengan tipe yang disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Pemadatan tersebut bertujuan
untuk \mengurangi udara pada beton yang akan mengurangi kualitas beton.
Pemadatan tersebut berkaitan dengan kelecakan (workability) beton. Pada cuaca
panas kelecakan beton menjadi sangat singkat, sehingga slump yang rendah
biasanya merupakan masalah. Untuk itu harus disediakan vibrator dalam jumlah
yang memadai, sesuai dengan besarnya pengecoran yang akan dilakukan.
Minimal harus dipersiapkan satu vibrator cadangan yang akan dipakai, jika ada
vibrtor yang rusak pada saat pemadatan sedang berlangsung. Alat pemadat harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menyentuh besi beton.
2. Lokasi Pemadatan yang Sulit
Pada lokasi yang diperkirakan sulit untuk dipadatkan seperti pada pertemuan
balok-kolom, dinding beton yang tipis dan pada lokasi pembesian yang rapat dan
rumit, maka kontraktor harus mempersiapkan metode khusus untuk pemadatan
beton yang disampaikan kepada Direksi paling lambat 3 hari sebelum pengecoran
dilaksanakan, agar tidak terjadi keropos pada beton , sehingga secara kualitas
tidak akan disetujui.
3. Pemadatan Kembali
Jika permukaan beton mengalami keretakan dalam kondisi masih plastis, maka
beton tersebut harus dipadatkan kembali sesuai dengan rekomondasi Direksi agar
retak tersebut dapat dihilangkan.
4. Metode Pemadatan Lain
Jika dipandang perlu Kontraktor dapat mengusulkan cara pemadatan lain yang
dipandang dapat menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara
permukaan dan inti beton. Hal ini dapat menyebabkan keretakan struktur dan
terjadinya tegangan menetap pada beton, tanpa adanya beban yang bekerja.
5. Temperatur Beton Segar
Dalam waktu 2 menit setelah contoh diambil, sebuah termometer yang mempunyai
skala 5 s/d 100 derajat C, harus dimasukkan kedalam contoh tersebut sedalam
100 mm. Jika temperatur sudah stabil selama 1 menit, maka temperatur tersebut
harus dicatat dengan ketelitian 1 derajat C.

5.2.2.8. Perawatan Beton


1. Tujuan Perawatan
Perawatan beton bertujuan antara lain untuk menjaga agar tidak terjadi kehilangan
zat cair pada saat pengikatan awal terjadi dan mencegah penguapan air dari beton
pada umur beton awal dan juga mencegah perbedaan temperatur dalam beton
yang dapat menyebabkan terjadinya keretakan dan penurunan kualitas beton.
Perawatan beton harus dilakukan begitu pekerjaan pemadatan beton selesai
dilakukan . Untuk itu harus dilakukan perawatan beton sedemikian sehingga tidak
terjadi penguapan yang cepat terutama pada permukaan beton yang baru
dipadatkan.
2. Lama Perawatan
Permukaan beton harus dirawat secara baik dan terus menerus dibasahi dengan
air bersih selama minimal 7 hari segera setelah pengecoran selesai. Untuk elemen
vertikal seperti kolom dan dinding beton, maka beton tersebut harus diselimuti
dengan karung yang dibasahi terus menerus selama 7 hari.
3. Perlindungan Beton Tebal
Untuk pengecoran beton dengan ketebalan lebih dari 600 mm, maka permukaan
beton harus dilindungi dengan material (antara lain stirofoam) yang disetujui oleh
Direksi, agar dapat memantulkan radiasi akibat panas. Material tersebut harus
dibuat kedap, agar kelembaban permukaan beton dapat dipertahankan.
4. Acuan Metal
Setiap acuan yang terbuat dari metal, beton ataupun material lain yang sejenis,
harus didinginkan dengan air sebelum pengecoran dilakuakan. Acuan tersebut
dihindari dari terik matahari langsung, karena sifatnya yang mudah menyerap dan
mengantarkan panas. Perlakuan yang kuarang baik akan menyebabkan retak-
retak yang parah pada permukaan beton.
5. Curing
Seluruh permukaan beton harus dilindungi selama proses pengerasan terhadap
sinar matahari dan hembusan angin kering.
Semua permukaan beton yang terlihat hams diambil tindakan sebagai berikut:
- Sebelum beton mulai mengeras, maka beton setelah pengecoran pada hari
pertama harus disirami, ditutupi dengan karung basah atau digenangi dengan air
selama paling sedikit 2 minggu secara terus menerus.
- Tidak diperkenankan menaruh bahan-bahan diatas konstruksi beton yang baru
dicor (dalam tahap pengeringan) atau mempergunakannya sebagai jalan
mengangkut bahan-bahan.

5.2.2.9. Cara Untuk Menghindari Keretakan Pada Beton.


1. Alat Monitoring.
Untuk pekerjaan beton dengan tebal lebih dari 600 mm. Kontraktor harus
menyediakan perlatan yang dibutuhkan untuk mengukur dan memonitor segala
kejadian yang mungkin terjadi selama pekerjaan beton berlangsung. Monitoring
dilakukan minimal selama 7 hari sejak pengecoran selesai.; Kontraktor wajib
menyediakan alat pengukur temperatur yang akan diletakkan pada dasar beton,
didalam beton dan dipermukaan beton dengan jarak vertikal antara alat ditetapkan
maksimal 50 cm. Sedangkan jarak horisontal antara titik satu dengan lainnya
maksimal 10 meter. Lokasi alat pengukur dan metode pengukur suhu tersebut
harus diusulkan kepada Direksi/ Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
2. Perbedaan Temperatur.
Umumnya permukaan beton harus didinginkan secara mendadak, yang terpenting
adalah tidak terjadi perbedaan temperatur yanng besar (> 20o C) antara
permukaan dan inti beton dan beton harus dihindarkan dari sinar matahari
langsung atapun tiupan angin.
3. Material Bantu.
Disamping peralatan juga dibutuhkan material pembantu yang mungkin dapat
dicampur kedalam beton maupun yang akan digunakan pada saat perawatan
beton untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu cepat.
4. Lebar Retak
Suatu struktur beton pasti akan mengalami suatu retakan dan lebar retak yang
dizinkan maksimal sebesar 0,004 kali tebal selimut beton.
5. Antisipasi Perbedaan Temperatur.
Kontraktor harus menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengatasi jika
perbedaan temperatur menjadi lebih dari 20 derajat C, misalnya dengan
mempertebal isolasi yang sudah digunakan atau membuat isolasi menjadi benar-
benar kedap terhadap angin dan udara. Hal ini harus segera dilakukan agar
perbedaan temperatur tidak menjadi besar, Untuk itu harus disiapkan material
isilosi lebih dari kebutuhan sebelum pengecoran dilakukan.
6. Hal-hal Lain.
Beberapa hal yang harus diperhatikan baik sebelum, selama maupun sesudah
pengecoran beton adalah :
1) Usahakan agar semua material dasar yang digunakan tetap dalam kondisi
terlindung dari sinar matahari, sehingga temperatur tidak tinggi pada saat
pencampuaran dimulai.
2) Air yang akan digunakan harus didinginkan, misalnya dengan mengganti sebagian
air dengan es, sehingga temperatur menjadi lebih besar.
3) Semen yang digunakan mempunyai hidrasi rendah.
4) Jika mungkin, tambahkan nitrogen cair kedalam campuarn beton.
5) Waktu antara pengadukan beton dan pengecoran harus dibatasi maksimal 2 jam
6) Lakukan pengecoran bertahap sedemikan rupa, misalnya dengan membuat siar
pelaksanaan secara horizontal pada beton yang tebal, sehingga tebal satu lapis
pengecoran penjadi kurang lebih 1 meter dan perbedaan temperatur dapat
dikontrol.
7) Jika mungkin diusulkan pengecoran dilakukan pada malam hari dimana
temperatur lapangan sudah lebih rendah dari dibandingkan dari siang hari.
8) Harus disiapkan isolasi panas yang merata pada seluruh permukaan beton yang
terbuka untuk mencegah tiupan angin dan menjaga agar temperatur tidak terlalu
berbeda pada seluruh penampang beton.
9) Lakukan perawatan awal segera setelah pemadatan selesai dan harus diteruskan
sampai sistim isolasi terpasang seluruhnya
10) Sediakan pelindung sehingga permukaan beton terlindung dari sinar
matahari dan angin. Hal ini dapat dilakukan membuat dinding pada sekeliling
daerah pengecoran dengan plastik atau material sejenis, demikian juga pada
bagian atasnya.
7. Retak di Luar Batas yang Disyaratkan.
Jika setelah pemadatan selesai masih terjadi keretakan diluar batas yang diizinkan
, maka Kontraktor harus melaporkan hal tersebut secara tertulis yang berisi antara
lain metode kerja danperalatan yang digunakan berikut komposisi campuran yang
digunakan, Kepada Direksi untuk dievaluasi lebih lanjut. Kontraktor tidak diijinkan
untuk memperbaikai keretakan tersebut sebelum mendapatkan persetujuan
tertulis dari Direksi.
Adukan Beton yang Dibuat Ditempat (Site Mixing)
Untuk mendapatkan kualitas beton yang baik, maka untuk beton yang dibuat
dilapangan harus memenuhi syarat-syarat :
1. Semen diukur menurut berat
2. Agregat kasar diukur menurut berat
3. Pasir diukur menurut berat
4. Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin (concrete
batching plant)
5. Junlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin beton
6. Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada dalam
mesin pengaduk
7. Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih
dahulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai

5.2.2.10. Pengujian Pekerjaan


1. Besi Beton
Digunakan mutu U-24 untuk Ø < 12 mm, U-40 untuk Ø > 10 mm. Besi harus bersih
dari lapisanminyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih. Penampang
besi harus bulat sertamemenuhi persyaratan NI-2 (PBI 1988). Bila dipandang perlu
Kontraktor diwajibkan untuk memeriksamutu besi beton ke laboratorium
pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor.
Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
- Peraturan-peraturan/standard setempat yang biasa dipakai
- Peraturan-peraturan Beton Bertulang Indonesia 1988, NI-2
- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961, NI-5.
- Peraturan Semen Portland Indonesia 1972, NI-8
- Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat
- Ketentuan-ketentuan Umum untuk pelaksanaan Kontraktoran Pekerjaan Umum
(AV) No.9 tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara No. 1457
- Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang diberikan
Direksi Pengawas.
- American Society for Testing and Material (ASTM) 9. American Concrete Institute
(ACI)

a. Kawat Pengikat
Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak disepuh seng,
diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi
beton/rangka harus memenuhi syaratsyarat yang ditentukan dalam NI-2 (PBI
tahun 1988).
b. Merk Besi Beton
Sebelum pemesanan dilakukan, maka Kontraktor harus mengusulkan merk besi
beton dilengkapi dengan brosur dan data teknis dari pabrik yang akan digunakan
untuk disetujui Direksi.
c. Penyimpanan
Besi beton disimpan pada tempat yang bersih dan tumpu secara baik tidak
merusak kualitasnya. Tempat penyimpanan harus cukup terlindung sehingga
kemungkinan karat dapat dihindarkan
d. Gambar Kerja dan Bending Schedule
Pembengkokan besi beton harus dilakukan sesuai dengan gambar rencana dan
berdasarkan standar ditail yang ada. Pembengkokan tersebut harus dilakukan
dengan menggunakan alat-alat (bar bender) sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan cacat patah, retak-retak dan sebagainya. Semua pembengkokan
harus dilakukan dalam keadaan dingin dan pemotongan harus dengan bar cutter.
Pemotongan dan pembengkokan dengan sistim panas sama sekali tidak diijinkan.
.Untuk itu Kontraktor harus membuat gambar kerja pembengkokan (bending
schedule) dan diajukan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
e. Bebas Karat
Pemasangan dan penyetelan berdasarkan evaluasi yang sesuai dengan gambar
dan harus sudah diperhitungkan toleransi penurunannya. Sebelum besi beton
dipasang, permukaan besi beton harus bebas dari karat, minyak dan lain-lain yang
dapat mengurangi lekatan besi beton.
2. Selimut Beton
Besi beton harus dilindungi oleh selimut beton yang sesuai dengan gambar stndar
ditail. Sebagai catatan, pemasangan tulangan-tulangan utama tarik/ tekan
penampang beton harus dipasang sejauh mungkin dari garis tengah penampang,
sehingga pemakaian selimut beton yang melebihi ketentuan - ketentuan tersebut
diatas harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi Pengawas.
3. Penjangkaran
Pemasangan rangkaian besi beton yaitu kait-kait, panjang penjangkaran,
penyaluran, letak sambungan dan lain-lain harus sesuai dengan gambar standar
yang terdapat dalam gambar rencana. Apabila ada keraguan tentang ini maka
Kontraktor harus meminta klarifikasi kepada Direksi.
4. Kawat Beton dan Penunjang
Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada kedudukan
yang kokoh untuk menghindari pemindahan tempat, dengan menggunakan kawat
yang berukuran tidak kurang dari 16 gauge atau klip yang sesuai pada setiap tiga
pertemuan. Pembesian harus ditunjang dengan beton tahu atau penunjang besi,
spacers atau besi penggantung seperti yang ditunjukkan pada gambar standar
atau dicantumkan pada spesifikasi ini. Penunjang-penunjang metal tidak boleh
diletakkan berhubungan acuan. Ikatan dari kawat harus dimasukkan kedalam
penampang beton, sehingga tidak menonjol permukaan beton.
5. Sengkang-sengkang
Untuk menjamin bahwa perilaku elemen struktur sesuai dengan rencana, maka
sengkang harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan
gambar. Akhiran/ kait sengkang harus dibuat seperti yang disyaratkan didalam
gambar standar agar sengkang dapat bekerja seperti yang diinginkan. Demikian
juga untuk besi pengikat yang digunakan untuk pengikat tulangan utama.
6. Beton Tahu
Beton tahu harus digunakan untuk menahan jarak yang tepat pada tulangan, dan
minimum mempunyai kekuatan beton yang sama dengan beton yang akan dicor.
Jarak antara beton tahu ditentukan maksimal 100 cm dengan ketebalan sesuai
SNI
7. Penggantian Besi.
a. Kontraktor harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah sesuai
dengan apa yang tertera pada gambar
b. Dalam hal ini dimana berdasarkan pengalaman kontraktor atau pendapatnya
terdapat kekeliruan atau kekurangan atau perlu penyempurnaan pembesian yang
ada maka Kontraktor dapat menambah ektra besi dengan tidak mengurangi
pembesian yang tertera dalam gambar.
c. Jika Kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan
yang gditetapkan dalam gambar maka dapat dilakukan penukaran diameter besi
dengan diameter yang terdekat dengan catatan :
1) Harus ada persetujuan dari tertulis dari Direksi.
2) Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh
kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah
jumlah luas). Khusus untuk balok portal, jumlah luas penampang besi pada
tumpuan juga tidak boleh lebih besar jauh dari pembesian aslinya.
3) Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan keruwetan pembesian ditempat
tersebut atau di daerah overlap yang dapat menyulitkan pengecoran.
4) Tidak ada pekerjaan tambah dan tambahan waktu pelaksanaan.

8. Toleransi Besi
5.2.2.11. Pemasangan alat-alat di Dalam Beton / Sparing
1. Kontraktor harus membuat gambar kerja yang menunjukkan secara tepat lokasi
sparing yang akan terdapat pada elemen struktur. Kontraktor wajib mempelajari
gambar M & E dan mendiskusikan dengan pihak terkait jika terdapat keraguan
tentang gambar tersebut . Kebutuhan sparing yang terjadi akibat perubahan disain
harus diinformasikan segera kepada Direksi untuk mendapatkan pemecahannya.
Pekerjaan membobok, membuat lubang atau memotong konstruksi beton yang
sudah jadi harus dihindarkan dan jika diperlukan harus mendapatkan ijin tertulis
dari Direksi.
2. Ukuran lubang, pemasangan alat-alat didalam beton, pemasangan dan
sebagainya, harus sesuai dengan gambar struktur maupun gambar lain yang
terkait atau menurut petunjuk-petunjuk Direksi.
3. Perkuatan pada lubang-lubang beton untuk keperluan pekerjaanM/E harus
mengikuti ketentuan yang terdapat didalam gambar standar. Jika tidak/ belum
tertera didalam gambar maka Kontraktor wajib mengiformasikan hal tersebut
kepada Tim Teknis / Direksi untuk mendapatkan penyelesainnya

5.2.2.12. Beton Kedap Air


1. Beton kedap air adalah beton yang dibuat agar tidak tembus air untuk jangka
waktu yang lama. Untuk itu Kontraktor wajib mengikuti segala ketentuan yang
disyaratkan oleh Pemasok bahan kedap air/ waterproofing, termasuk cara
pembuatan beton tersebut.
2. Pada siar pelaksanaan harus dipasang waterstop sesuai dengan spesifikasi
pabrik. Waterstop tersebut harus ditunjukkan di dalam gambar kerja/ shop
drawing, sehingga rencana pengecoran harus direncanakan dengan baik. Biaya
waterstop tersebut sudah termasuk didalam penawaran yang diajukan oleh
Kontraktor.
3. Apabila terjadi kebocoran selama masa garansi, maka kontraktor harus
mengadakan perbaikan-perbaikan dengan biaya Kontraktor. Prosedur perbaikan
tersebut harus diusulkan oleh Kontraktor dan disetujui oleh Direksi, sedemikian
rupa sehingga tidak merusak bagian-bagian lain yang sudah selesai.

5.2. PEKERJAAN KONSTRUKSI RANGKA ATAP BAJA

5.2.1. Lingkup Pekerjaan


Yang dimaksud pekerjaan konstruksi baja adalah semua
pekerjaan konstruksi baja dan pekerjaan baja lainnya yang tercantum dalam
gambar rencana.
Termasuk didalam pekerjaan Konstruksi Baja ini antara lain adalah :
• Konstruksi rangka atap,dan konstruksi baja lainnya untuk
Bangunan Gedung.
• Konstruksi baja lainnya sesuai yang dimaksud gambar rencana

1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan dari semua bahan, tenaga, peralatan,


perlengkapan serta pemasangan dari semua pekerjaan baja dan logam
termasuk alat-alat atau benda-benda/ material pendukung lainnya.
2. Pekerjaan baja dan logam harus dilaksanakan sesuai dengan keterangan-
keterangan yang tertera pada gambar rencana/detail, lengkap dengan
penyangganya, alat untuk memasang dan menyambungnya, pelat-pelat
baja/ profil siku dan lain sebagainya.
3. Semua bagian harus mempunyai ukuran yang tepat, sehingga dalam
pemasangannya tidak memerlukan pengisi, kecuali kalau gambar detail
menunjuk hal tersebut.
4. Semua detail dan hubungan harus dibuat dengan teliti dan
diselesaikan dengan rapi, dan dalam pelaksanaannya tidak
hanya dari gambar-gambar kerja untuk memasang pada tempatnya
tetapi dimungkinkan untuk mengambil ukuran-ukuran sesungguhnya
ditempat pekerjaan terutama bagian-bagian yang terhalang oleh benda lain.
5. Pekerjaan harus bermutu kelas satu dalam segala hal, setiap bagian
pekerjaan yang buruk akan ditolak dan harus diganti
apabila perlu. Pekerjaan yang selesai harus bebas dari puntiran-
puntiran,bengkokan-bengkokan dan sambungan-sambungan yang
mengganggu.
5.2.2. Standar Yang Dipakai
Referensi Konstruksi Baja
• Peraturan Perencanaan Bangunan Baja (PPBBI-Mei 1984)
• American Institut of Steel Contruction (AISC)
- American Welding Society (AWS ) bahan-bahan las
- American Nastional Srandart Institut (ANSI)
- American Soceiety for Testing ang Material (ASTM) Spesificatin
• RKS dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan

5.2.3. Persyaratan Bahan


1. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan baja harus sudah
disetujui oleh Pengawas, tidak berkarat, bagian bagiannya dan lembaran-
lembarannya tidak bengkok dan cacat. Potongan-
potongan (profil) mempunyai ukuran yang tepat sesuai dengan dimensi
yang tertera dalam gambar rencana baik bentuknya, tebal, ukuran berat.
2. Bahan baja yang digunakan/ dipasang harus dari
jenis yang sama kualitasnya, dalam hal ini dipakai baja jenis ST-38,
3. Toleransi luas penampang bahan baja ditetapkan maksimum 5
% dari luas untuk rangka batang atau maksimum 5 % dari momen inersia
(I)
4. Sebagai kawat las dipakai
setaraf produksi “KOBE” atau “NIPPON STEEL” Jenis kawat las yang
akan digunakan harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari pabrik
pembuat dan petunjuk-petunjuk Direksi. Elektroda-elektroda las
harus diambil dari GRADA-A (besi heavy coatee type) batang-batang
elektroda yang dipakai diameternya lebih besar atau sama dengan 6 mm
(1/4 inch), dan batang-batang elektroda harus dijaga agar selalu dalam
keadaan kering.
5. Baut-baut yang digunakan harus baut hitam ulir (HTB) tak penuh dengan
tegangan baut dan tegangan las minimum adalah 1.400 kg/cm² atau
minimal sama dengan mutu baja yang digunakan (A-325 ASTM).
6. Pada konstruksi atap bangunan gedung, sambungan gording tidak h
arus menumpu pada kuda-kuda/jurai atau tumpuan lainnya. Untuk itu
sebelum pemasangan gording dilaksanakan
Kontraktor harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan Direksi/Pengawas.
7. Bahan baja ini kecuali ditunjuk atau dipersyaratan lain harus sesuai
dengan NI 3-1970
5.2.4. Pengujian Bahan

5.2.5. Syarat-Syarat Pelaksanaan

5.2.5.1. Perancangan
1. Penawaran baja dalam berat (kg), sudah termasuk “wastage” aki
bat pemotongan dan lain-lain dan diperhitungkan pada analisa harga
satuan.
2. Standard
Kontraktor bertanggung jawab untuk menjamin perancang baja untuk
pengerjaannya agar sesuai dengan persyaratan-persyaratan ini
sepenuhnya.
Kontraktor supaya menyiapkan salinan usulan standart
yang akan dipakai, sebagai pedoman bagi Direksi paling lambat 21 hari
sebelum fabrikasi.

5.2.5.2. Perencanaan dan Pengawasan


1. Gambar Kerja.
Sebelum pekerjaan di pabrik dimulai,
Kontraktor harus menyiapkan gambar-gambar kerja (shop
drawing) yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua
komponen, panjang serta ukuran las, jumlah, ukuran serta tempat baut-
baut serta detail-detail lain yang lazimnya diperlukan untuk fabrikasi.
2. Ukuran-ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap
semua ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
3. Kelurusan
Toleransi dari keseluruhan tidak lebih dari L/1000 untuk semua
komponen.
4. Pemeriksaan dan lain-lain
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan yang berkualitas
tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian
rupa sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat
di lapangan.
Direksi mempunyai hak untuk memeriksa pekerjaan di pabrik pada saat
yang dikehendaki,
dan tidak ada pekerjaan yang boleh dikirim ke lapangan sebelum
diperiksa dan disetujui Direksi/ Pengawas. Setiap pekerjaan yang kurang
baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan ditolak
dan bila terjadi demikian, harus diperbaiki dengan segera.
5.2.5.3. Pelaksanaan Dan Sistim Pemasangan.
1. Fabrikasi :
a. Sebelum memulai dengan
pemotongan, penyambungan, dan pemasangan Kontraktor harus
memberitahukan secara tertulis tentang tempat, sistim
pengerjaan dan pemasangan kepada Direksi untuk mendapat
persetujuannya.
b. Kontraktor harus terlebih dahulu menunjukkan kualitas
pengelasan dan penghalusan untuk dijadikan standart dalan pekerjaan
tersebut.
c. Pekerjaan pengelasan konstruksi baja harus sesuai dengan gambar
rencana dan harus mengikuti prosedur yang berlaku seperti AWS atau
AISC Spesification.
d. Kecuali ditunjuk sistim lain maka, dalam hal menghubungkan profil-
profil, plat-plat pengaku digunakan las listrik dengan alat pembakar
yang standart dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Batang las (bahan untuk las) harus dibuat dari bahan
yang campurannya sama dengan bahan yang akan disambung.
2) Kekuatan sambungan dengan las (hasil pengelasan) harus sama
kuat dengan batang yang disambung.
3) Pemeriksaan kekuatan las harus dilakukan dengan persetujuan
pengawas bila dianggap perlu dan dapat dilakukan di laboratorium.
4) Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus
menjamin situasi yang paling aman bagi
pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang dilakukan.
5) Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan, baik
bekas lapisan pertama, maupun bidang-bidang benda kerja harus
dibersihkan dari keras (slag) dan kotoran lainnya.
6) Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka
lapisan yang terdahulu harus dibersihkan
dari keras (slag) dan percikan-percikan logam
sebelum memulai dengan lapisan las yang baru.
7) Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang sama
sekali.
8) Tempat pengelasan dan juga bidang konstruksi yang di las, harus
terlindung dari hujan/ angin kencang.
9) Cara pemotongan harus menggunakan mesin potong dilakukan
dengan membatasi sekecil mungkin .
10) Permukaan las terakhir harus digerinda sampai rata dan halus.
11) Kesalahan pemotongan maupun lubang yang terlalu besar tidak
diperkenankan ditutup dengan las, karena itu batang yang
bersangkutan harus diganti dengan yang baru.
e. Lubang-lubang Baut
Pembuatan lubang baut harus dilaksanakan di pabrik dan harus
dikerjakan dengan alat bor.Lubang baut harus lebih besar 2.0 mm dari
pada diameter luar baut.
f. Sambungan
Untuk sambungan komponen konstruksi baja yang tidak dapat
dihindarkan berlaku ketentuan sebagai berikut :
1) Hanya diperkenankan satu sambungan.
2) Semua penyambung profil baja harus dilaksanakan dengan las
tumpul/full penetration butue weld.
g. Pemasangan Percobaan/Trial Erection
Bila dipandang perlu oleh Direksi/ Pengawas, Kontraktor
wajib melaksanakan pemasangan percobaan dari sebagian
atau seluruh pekerjaan konstruksi. Komponen yang tidak cocok atau
yang tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi dapat ditolak oleh
Direksi dan pemasangan percobaan tidak boleh dibongkar tanpa
persetujuan Direksi.

2. Pemasangan/ Erection.
Baja dipasangkan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi/ Manajemen
Konstruksi 2 (dua) hari setelah pengecoran.
a. Penguat Sementara.
Baja harus dipasang mati setelah sebagian besar struktur baja
terpasang dan disetujui ketepatan garis, vertikan dan horisontal.
Kontraktor supaya menyediakan penunjang-penunjang sementara
(pembautan-
pembautan) bilamana diperlukan sampai pemasangan mati
sesuai keputusan Direksi/ Pengawas.
b. Pembautan
Ulir harus bebas setidak-tidaknya dua setengah putaran dari muka mur
dalam keadaan terpasang mati.
Kontraktor supaya menggunakan setidak-tidaknya satu cincin pada
setiap mur dan menyiapkan daftar mur, baut, dan cincin.
Kontraktor supaya menggunakan cincin baja keras untuk baut tegangan
tinggi (HSB).
c. Adukan Pengisi (Grouting)
Kontraktor supaya memasang adukan pengisi dibawah pelat- pelat
kolom dll.tempat sesuai dengan gambar-gambar.
Penawaran harus sudah termasuk pekerjaan ini, bahan grouting
yang digunakan setaraf AM, Sika, Frosroksid.

3. Pengecatan
a. Semua bahan Konstruksi baja yang di expose / tampak harus di cat
sampai akhir, sedang baja yang tidak ditampakkan/expose cukup di cat
dasar.
b. Cat dasar adalah cat zink chromate buatan Dana Paint atau setara
sedangkan sebagai cat akhir adalah Enamel Paint produk ex Mowilex,
ICI, Kemton atau setara, dan pengecatan dilakukan satu kali di pabrik
dan satu kali di lapangan.
c. Baja yang akan ditanam dalam beton tidak boleh di cat.
d. Untuk lubang baut kekuatan tinggi/high strength bold permukaan
baja tidak boleh di cat.
e. Cat akhir adalah enamel paint buatan Mowilex, Kemton, ICI atau
setaraf dan pengecatan dilakukan 2
kali di lapangan, kecuali bila dinyatakan lain dalam gambar atau
spesifikasi arsitektur.
f. Dibagian bawah dari base plate dan/atau seperti yang tertera
pada gambar harus di grout dengan bahan setara “Master Flor 713
Grout”, dengan tebal minimum 2,5 cm.
g. Cara pemakaian harus sesuai spesifikasi pabrik.

4. Syarat-syarat Pengamanan Pekerjaan.


a. Bahan-bahan baja profil dihindarkan/dilindungi dari hujan dan lain-
lain.
b. Baja yang sudah terpasang dilindungi dari kemungkinan
cacat/rusak yang diakibatkan oleh pekerjaan-pekerjaan lain.
c. 3.
Bila terjadi kerusakan, Kontraktor diwajibkan untuk
memperbaikinya dengan tidakmengurangi mutu pekerjaan.
Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
d. 4. Penempatan pipa dan batang baja
di work shop maupun dilapangan tidak boleh langsung
diatas tanah atau lantai, tetapi harus diatas balok-balok kayu yang
berjarak maksimum 2 m. Tanah atau lantai tersebut harus datar, padat
merata dan bebas dari genangan air.

5. Pemasangan Akhir/ Final Erection.


a. Alat-alat untuk pemasangan harus sesuai untuk pekerjaannya
dan harus dalam keadaan baik. Bila dijumpai bagian-bagian konstruksi
yang tidak dapat dipasang atau ditempatkan sebagaimana mestinya
sebagai akibat dari kesalahanpabrikasi atau perubahan bentuk yang
disebabkan penanganan, maka keadaanitu harus segera dilaporkan
kepada Direksi disertai usulan cara perbaikannya
Cara perbaikan tersebut harus mendapat persetujuan dari Direksi
sebelum dimulainya pekerjaan tersebut.
Biaya tambahan yang timbul akibat pekerjaan perbaikan tersebut
adalah menjadi tanggungan Kontraktor.
Meluruskan pelat dan besi siku atau bentuk lainnya harus dilaksanakan
dengan persetujuan Direksi..
Pekerjaan baja harus kering sebagaimana mestinya, kantong air
pada konstruksi yang tidak terlindung dari cuaca harus diisi
dengan bahan “waterproofing” yang disetujui. Sabuk pengaman dan
tali-tali harus digunakan oleh para pekerja pada saat
bekerja ditempat yang tinggi, disamping pengaman yang berupa
“piatfrom” atau jaringan (“net”).
b. Setiap komponen diberi kode/ marking sesuai dengan gambar
pemasangan sedemikian rupa sehingga memudahkan pemasangan.
c. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan-ikatan
sementara harus digunakan untuk mencegah tegangan-tegangan yang
melewati tegangan ijin.
Ikatan-ikatan itu dibiarkan sampai konstruksi selesai.
Sambungan-sambungan sementara dari baut harus diberikan kepada
bagian konstruksi untuk menahan beban mati, angin dan tegangan-
tegangan selama pembangunan.
d. Baut-baut, baut angker, baut hitam, baut kekuatan tinggi dan lain-
lain harus disediakan dan harus dipasang sebagaimana mestinya
sesuai dengan gambar detail.
Baut kekuatan tinggi harus dikencangkan dengan kunci momen
(torque wrench).
e. Pelat dasar kolom untuk kolom penunjang dan pelat
perletakan untuk balok, balok penunjang dan sejenis
harus dipasang dengan luas perletakan penuh setelah bagian
pendukung ditempatkan secara baik dan tegak.
Daerah dibawah pelat harus diberi adukan
lembab/ kering yang tidak susut dan disetujui Direksi.
Penyimpangan kolom dari sumbu vertikal tidak boleh lebihdari 1/1500 dari
tinggi vertikal kolom.
6. BAB 6
PEKERJAAN ARSITEKTUR

6.1 PEKERJAAN PASANGAN BATA MERAH


6.1.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan alat
alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan
hasil yang baik.
Pekerjaan pemasangan batu bata ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk perencana.

6.1.2 Standard Dan Persyaratan Yang Berlaku


Pekerjaan wajib memenuhi standard:
• Batu bata harus memenuhi NI 10
• Semen Portland harus memenuhi NI 8.
• Pasir harus memenuhi NI 3 pasal 14 ayat 2.
• Air harus memenuhi PVBI 1983 pasal 9.
6.1.3 Persyaratan Bahan
1. Batu bata yang dikehendaki adalah batu bata merah lokal bakaran kayu yang
berkualitas baik yaitu dengan hasil pembakaran yang matang berukuran sama
kira-kira 5x11x22 cm tidak boleh terdapat pecah-pecah (melebihi 20 %) dan tidak
diperbolehkan memasang bata yang pernah dipakai.

Bahan bata merah:


• Berat jenis kering (ρ) : 1500 kg/m3
• Berat jenis normal (ρ) : 2000 kg/m3
• Kuat tekan : 2,5 – 25 N/mm² (SII-0021,1978)
• Konduktifitas termis : 0,380 W/mK
• Tebal spesi : 20 – 30 mm
• Ketahanan terhadap api : 2 jam
• Jumlah per luasan per 1 m2 : 70 - 72 buah dengan construction waste

2. Sebagai Semen dan Pasir untuk pasangan batu bata ini harus sama dengan
kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.
6.1.4 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Dimana diperlukan menurut Direksi, pemborong harus membuat shop drawing
untuk pelaksanaan pembuatan adukan dan pasangan.
2. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam
gambar arsitektur terutama gambar detail dan gambar potongan mengenai
ukuran tebal/ tinggi/ peil dan bentuk profilnya.
3. Pasangan batu bata/batu merah, dengan menggunakan aduk campuran 1 PC : 4
pasir pasang. untuk semua dinding luar, semua dinding lantai dasar dari
permukaan sloof sampai ketinggian 30 cm diatas permukaan lantai dasar, dinding
didaerah basah setinggi 160 cm dari pemukaan lantai, serta semua dinding yang
pada gambar menggunakan simbol aduk trasraam/kedap air digunakan aduk
rapat air dengan campuran 1 PC : 2 pasir pasang.
4. Perekat harus dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujuh atau
dicampur dengan tangan pada permukaan yang keras, dilarang memakai
perekat yang sudah mulai mengeras untuk dipakai lagi.
5. Batu bata merah yang digunakan batu bata merah ex MRH, Jatirogo dengan
kwalitas terbaik yang disetujui Perencana, siku dan sama ukurannya 5 x 11 x 23
cm.
6. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum hingga
penuh.
7. Setelah bata terpasang dengan aduk, nad/siar siar harus dikerok sedalam 1 cm
dan dibersihkan dengan sapu lidi dan lemudian disiram air.
8. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih
dahulu dan siar siar telah dikerok serta dibersihkan.
9. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri maksimum
24 lapis atau maksimum setinggi 1 m setiap harinya, diikuti dengan cor kolom
praktis.
10. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum diaci/diplester)
11. Bidang dinding 1/2 batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 ditambahkan lok
penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12x12 cm, dengan tulangan pokok 4
diameter 10 mm, beugel diameter 6 mm jarak 20 cm.
12. Pembuatan lubang pada pasangan untuk perancah/scaffolding/stieger sama
sekali tidak diperkenankan.
13. Pembuatan lubang pada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian
pekerjaan beton (kolom) harus diberi penguat stek stek besi beton diameter 6 mm
jarak 75 cm, yang terlebih dahulu ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan
beton dan bagian yang ditanam dalam pasangan bata sekurang kurangnya 30 cm
kecuali ditentukan lain.
14. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari 5%
Bata yang patah lebih dari 2 tidak boleh digunakan.
15. Pasang batu bata dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish setelah 15
cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan pasangan harus
cermat, rapi dan benar benar tegak lurus.

6.1.5 Syarat Syarat Kualitas Pekerjaan


1. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum diaci/diplester)
2. Pasangan batu bata dapat diterima/ diserahkan apabila deviasi bidang pada arah
diagonal dinding seluas 12 m² tidak lebih dari 0.5 cm (sebelum diaci/diplester).
3. Pasangan batu bata untuk dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish
setebal 15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan
pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus.

6.2 PEKERJAAN PLESTERAN DAN ACIAN SEMEN


6.2.1 Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan plesteran dinding ini adalah penyediaan tenaga kerja,
bahan-bahan, peralatan termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang diperlukan
untuk melaksanakan pekerjaan plesteran, sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan
yang bermutu baik.
2. Pekerjaan plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding bagian dalam
dan luar serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.
6.2.2 Persyaratan Bahan
1. Semen Portland harus memenuhi NI-8 (dipilih dari satu produk untuk seluruh
pekerjaan).
2. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2.
3. Air harus memenuhi NI-3 pasal 10.
4. Penggunaan asukan plesteran :
5. Adukan 1 PC : 3 pasir dipakai untuk plesteran rapat air.
6. Adukan 1 PC : 5 dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
7. Seluruh permukaan plesteran difinish acian dari bahan PC.
6.2.3 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Plesteran dilaksanakan sesuai standard spesifikasi dari bahan yang digunakan
sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Perencana dan persyaratan tertulis
dalam Uraian dan Syarat Pekerjaan ini.
2. Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilaman pekerjaan bidang beton atau
pasangan dinding batu bata telah disetujui oleh Perencana sesuai Uraian dan
Syarat Pekerjaan yang tertulis dalam buku ini.
3. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam
gambar Arsitekur terutama pada gambar detail dan gambar potongan mengenai
ukuran tebal/tinggi/peil dan bentuk profilnya.
4. Campuran aduk perekat yang dimaksud adalah campuran dalam volume, cara
pembuatannya menggunakan mixer selama 3 menit dan memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a. Untuk bidang kedap air, beton, pasangan dinding batu bata yang berhubungan
dengan udara luar, dan semua pasangan batu bata dibawah permukaan tanah
sampai ketinggian 30 cm dari permukaan lantai dan 150 cm dari permukaan lantai
untuk kamar mandi, WC/toilet dan daerah basah lainnya dipakai aduk plesteran 1
PC : 3 pasir.
b. Untuk aduk kedap air, harus ditambah dengan Daily bond, dengan perbandingan
1 bagian PC : 1 bagian Daily bond.
c. Untuk bidang lainnya diperlukan plesteran 1 PC : 5 pasir.
d. Plesteran halus (acian) dipakai campuran PC dan air sampai mendapatkan
campuran yang homogen, acian dapat dikerjakan sesudah plesteran berumur 8
hari (kering benar), untuk adukan plesteran finishing harus ditambah dengan
additive plamix dengan dosis 200-250 gram plamix untuk setiap 40 Kg semen.
e. Semua jenis aduk perekat tersebut diatas harus disiapkan sedemikian rupa
sehingga selalu dalam keadaan baik dan belum mengering.
f. Diusahakan agar jarak waktu pencampuran aduk perekat tersebut dengan
pemasangannya tidak melebihi 30 menit terutama untuk adukan kedap air.
5. Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai pemasangan
instalasi pipa listrik dan plumbing untuk seluruh bangunan.
6. Khusus untuk permukaan beton yang akan diplester, maka :
a. Seluruh permukaan beton yang akan diplester harus dibuat kasar dengan cara
dipahat halus.
b. Sebelum plesteran dilakukan, seluruh permukaan beton yang akan diplester,
dibersihkan dari segala kotoran, debu dan minyak serta disiram / dibasahi dengan
air semen.
c. Plesteran beton dilakukan dengan aduk kedap air campuran 1 PC : 3 pasir.
a. Pasir pasang yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan
seperti yang disyaratkan.
7. Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan difinish
dengan cat dipakai plesteran halus (acian diatas permukaan plesterannya).
8. Untuk dinding tertanam didalam tanah harus diberapen dengan memakai spesi
kedap air.
9. Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada permukaannya diberi
alur-alur garis horizontal atau diketrek (scrath) untuk memberi ikatan yang lebih
baik terhadap finishingnya, kecuali untuk yang menerima cat.
10. Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 M, dipasang tegak dan
menggunakan keping-keping plywood setebal 9 mm untuk patokan kerataan
bidang.
11. Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom yang
dinyatakan dalam gambar, atau sesuai peil-peil yang diminta gambar. Tebal
plesteran 2,5 cm, jika ketebalan melebihi 2,5 cm harus diberi kawat ayam untuk
membantu dan memperkuat daya lekat dari plesterannya pada bagian pekerjaan
yang diizinkan Perencana.
12. Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya yang bertemu dalam satu
bidang datar, harus diberi naat (tali air) dengan ukuran 0,7 cm dalamnya 0,5 cm,
kecuali bila ada petunjuk lain didalam gambar.
13. Untuk permukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau cembung
bidang tidak melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi, Kontraktor
berkewajiban memperbaikinya dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
14. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar
tidak terlalu tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat
kering dan melindungi dari terik panas matahari langsung dengan bahan-bahan
penutup yang bisa mencegah penguapan air secara cepat.
15. Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, plesteran harus
dibongkar kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh
Perencana dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
16. Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai Kontraktor harus selalu menyiram
dengan air, sampai jenuh sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari.
17. Selama pemasangan dinding batu bata/beton bertulang belum difinish, Kontraktor wajib
memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan yang terjadi menjadi tanggung jawab
Kontraktor dan wajib diperbaiki.
18. Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum plesteran
berumur lebih dari 2 (dua) minggu.
6.3 PEKERJAAN PENGECATAN
6.3.1 Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan-bahan, peralatan, tenaga untuk
melaksanakan pekerjaan pengecatan pada seluruh permukaan plesteran bata,
beton, GRC, gypsum, baja / metal termasuk pipa-pipa serta permukaan-
permukaan lain yang ditentukan dalam gambar rencana maupun rincian anggaran
biaya.
2. Pengecatan semua permukaan dan area yang pada gambar tidak disebutkan
secara khusus, dengan warna dan bahan yang sesuai dengan petunjuk Direksi
Pengawas maupun penyempurnaan / pengulangan cat karena belum rata,
berubah warna & sebab-sebab lainnya menjadi tanggung jawab kontraktor.
3. Pengecatan semua permukaan dan area yang pada gambar tidak disebutkan
secara khusus, dengan warna dan bahan yang sesuai dengan petunjuk Direksi
Pengawasmaupun penyempurnaan / pengulangan cat karena belum rata, berubah
warna & sebab-sebab lainnya.
6.3.2 Standar Dan Persyaratan
1. Seluruh pekerjaan harus sesuai dengan standard sebagai berikut :
- NI – 3 – 1970
- NI – 4 – 1972
- ASTM D – 3363 (powder coating)
- A 153 (galvanizing)
2. Pemborong harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis pada
bidang bidang transparant ukuran 30x60 cm. Dan pada bidang bidang tersebut
harus dicantumkan dengan jelas warna, formula cat, jumlah lapisan dan jenis
lapisan (dari cat dasar s/d lapisan akhir).
3. Semua bidang contoh tersebut diperhatikan kepada Direksi Pengawas dan
Perencana. Jika contoh contoh tersebut telah disetujui secara tertulis oleh
Perencana dan Direksi Lapangan, barulah pemborong melanjutkan dengan
pembuatan mock up seperti tercantum diatas.
4. Sebelum pengecatan dimulai, Pemborong harus melakukan pengecatan pada
satu bidang untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang bidang
tersebut akan dijadikan contoh pilihan warna, texture, material dan cara
pengerjaan. Bidang bidang yang akan dipakai sebagai mock up ini akan
ditentukan oleh Direksi Pengawas.
5. Jika masing masing bidang tersebut telah disetujui oleh Direksi Pengawas dan
Perencana, bidang bidang ini akan dipakai sebagai standard minimal keseluruhan
pekerjaan pengecatan.

6.3.3 Pengecatan Dinding Dan Plafond


Persyaratan Bahan
a. Cat dinding dan plafond bagian luar bangunan (Exterior) dan ruang basah (toilet).
• Cat yang digunakan Vinyl Acrylic dengan kemampuan tahan cuaca dan jamur ex
Dulux / Jotun/ Mowilex/ Setara kualitas disetujui oleh Direksi Pengawas.
• Tanpa plamir
• Tahap 1: Alkali resistant primer, 1 Lapis.
• Tahap 2: Acrylic wall filler, 1 Lapis
• Tahap 3: Cat akhir : Wheather shied dengan minimal 2 kali pengecatan.
• Warna akan ditentuka Kemudian.
b. Cat dinding dan Plafond bagian dalam bangunan (Interior)
• Cat yang digunakan cat Maxillite/Jotun/ Mowilex/setara kualitas yang disetujui
Direksi Pengawas.
• Dilaksanakan pada permukaan tembok bagian dalam, dinding atau
plafond/plafond beton ekspose dengan urutan pengecatan sebagai berikut :
• Tahap 1: Alkali resistant primer, 1 Lapis
• Tahap 2: Undercoat : Acrylic wall filler, 1 Lapis
• Tahap 3: Cat akhir : Acrylic emulsion paint 2 kali pengecatan.
Persyaratan Pelaksanaan
a. Yang termasuk pekerjaan cat dinding/ plafond/ Beton expose adalah pengecatan
seluruh plesteran bangunan dan/atau bagian-bagian yang lain yang ditentukan
gambar.
b. Sebelum dinding plamur, plesteran sudah harus betul-betul kering, tidak ada
retak-retak dan pemborong meminta persetujuan kepada Perencana.
c. Pekerjaan plamur dilaksanakan dengan pisau plamur dari plat baja tipis dan
lapisan plamur dibuat setipis mungkin sampai membentuk bidang yang rata.
d. Sesudah 7 hari plamur terpasang kemudian dibersihkan dengan bulu ayam
sampai bersih betul. Selanjutnya dinding dicat dengan menggunakan roller.
e. Lapisan pengecatan untuk dinding luar adalah minimum 2 (dua) lapis dengan
kekentalan sama setiap jenisnya.
f. lapisan pengecatan dinding dalam terdiri dari 1 (satu) lapis alkali resistance sealer
yang dilanjutkan dengan 2 (dua) lapis dengan kekentalan cat sebagai berikut :
• Lapis I encer (tambahkan 20% air)
• Lapis II kental.
g. Untuk warna-warna yang jenis, kontraktor diharuskan menggunakan
kaleng-kaleng dengan nomor pencampuran (batch number) yang sama.
h. Setelah pekerjaan cat selesai, bidang dinding merupakan bidang yang utuh, rata,
licin, tidak ada bagian yang belang dan bidang dinding dijaga terhadap
pengotoran-pengotoran.

6.3.4 Pengecatan Kayu Dengan Melamine Lacquer


Persyaratan Bahan
a. Bahan material cat melamine lacquer ex. Impra/Lignalac/Setara kualitas yang
disetujui oleh Direksi Pengawas.
b. Wood Filler, Stain, Base Coat dan Top Coat : ex IMPRA atau produk lain yang
setara.
c. Thinner dengan kualitas no. 1 sesuai rekomendasi Produk
d. Warna dari melamic adalah ditentukan dalam Tabel/Skema Material yang
ditunjukkan oleh Perencana.
e. Tingkat kilap dari melamic adalah SEMI GLOSS (tidak terlalu mengkilap).
f. Kontraktor wajib membuat contoh/sample melamic di atas material yang akan
dipakai dalam proyek ini dan diajukan dan disetujui Direksi Pengawas, Perencana
dan Pemberi Tugas.
Persyaratan Pelaksanaan
a. Melamic harus dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang trampil dalam pekerjaan ini
dan pekerjaan ini harus dipimpin oleh seorang mandor yang betul-betul ahli dan
berpengalaman.
b. Sebelum pekerjaan finishing mellamic / polyurethane dimulai harus dipastikan
bahwatersedia ventilasi / sirkulasi udara bersih dalam ruangan yang akan dicat.
c. Permukaan kayu yang retak-retak, lubang-lubang atau bercelah harus digosok
dengan amplas kayu, dicat dasar di dempul kemudian diamplas kembali sehingga
benar-benar halus permukaannya.
d. Permukaan plywood veneer sebaiknya diamplas secukupnya agar serat kayu
pada lembaran veneer tidak habis dan serat masih terlihat baik.
e. Setiap mata kayu yang besarnya lebih dari 1 cm harus dipotong dan diganti
dengan kayu yang mulus, atau permukaannya diperbaiki dengan potongan kayu.
f. Mata kayu yang besarnya kurang dari 1 cm cukup diberi 2 lapis plamir yang tipis.
g. Setiap lubang paku dan lubang-lubang atau cacat-cacat lainnya harus didempul.
h. Semua permukaan kayu/plywood yang hendak di-melamic dibersihkan dari debu
minyakdan kotoran yang mungkin melekat disitu.
i. Sesudah betul-betul bersih, digosok dengan amplas kayu, agar supaya seluruh
permukaankayu rata dan licin, tidak lagi terdapat serat kayu yang tidak rata pada
permukaan kayutersebut.
j. Apabila seluruh permukaan kayu/plywood sudah licin, pori-pori kayu harus ditutup
dengan wood filler secukupnya dengan menggunakan kape, sampai pori-pori
tertutup sempurna.
k. Permukaan kayu yang telah diplamur dengan wood filler tersebut, dihaluskan
dengan amplas Duco yang halus, kemudian debu amplas tersebut dibersihkan.
l. Pembuatan wood filler dilakukan dengan mencampurkan 10 bagian sanding
sealerdengan talk secukupnya, wood filler diaplikasikan dengan kape sampai pori
pori tertutup sempurna dengan diamplas Duco yang halus untuk setiap lapisan.
m. Pewarna dipakai dngan daya sebar sesuai warna yang dikenhendaki perliter satu
lapis.
n. Sanding sealer sebagi cat dasar dicampur dengan hardener serta diencerkan
dengan thinner sesuai dengan rekomendasi produk
o. Perbandingan campuran asalah 10 bagian sanding sealer + 1 bagian hardener +
Thinner secukupnya. Dibutuhkan 2 3 lapis cat dasar setiap lapisan harus diamplas
sempurna sehingga siperoleh permukaan yang halus dan rata.
p. Cat akhir dipakai Melamic doff disemprot lapis 1 dengan rata dan sempurna dan
amplas sempurna kemudian semprot lapis ke 2 dan yang terakhir lapis 3 adalah
bagian finished tidak perlu diamplas. Warna akan ditentukan kemudian oleh
Perencana.

6.3.5 Pengecatan Besi Dan Kayu Dengan Semi Duco


Persyaratan Bahan
Produk cat menggunakan produk Nippe/Suzuki/Avian/Emco/Setara yang disetujui oleh
Direksi Pengawas.

Pengecatan untuk besi dengan urut-urutan sebagai berikut :


1. Cat dasar : Zinc chromate primer, ketebalan 40 mikron.
2. Cat akhir : High quality synthetic enamel gloss ketebalan 2x30 mikron.
Persyaratan Pelaksanaan
a. Yang termasuk pekerjaan ini adalah pengecatan seluruh bagian bagian besi pagar
beserta pintunya, pintu pintu besi talang talang dan pekerjaan besi lain ditentukan
dalam gambar.
b. Pekerjaan cat dilakukan setelah bidang yang akan dicat , selesai diamplas halus
dan bebas debu, oli dn lain lain.
c. Sebagai lapisan dasar anti karat dipakai sebagai cat dasar 1 kali. Sambungan las
dan ujung ujung yang tajam diberi "touch up" dengan dua lapis setelah itu lapisan
tebal 40 micron diulaskan.
d. Setelah kering sesudah 8 jam, dan diamplas kembali maka disemprot 1 lapis.
Setelah 16 jam mengering baru lapisan akhir disemprot 3 lapis.
e. Pengecatan dilakukan dengan menggunakan semprot dengan compressor 3
lampis.
f. Setelah pengecatan selesai, bidang cat harus licin, utuh, mengkilap, tidak ada
gelembung gelembung dan dijaga terhadap pengotoran pengotoran.

6.3.6 Persediaan Untuk Perawatan


1. Kontraktor wajib menyerahkan kepada Direksi Pengawas, untuk kemudian akan
diteruskan kepada Pemberi tugas, minimal 2kg untuk cat besi dan 2 galon uncuk
cat acrylic-vinyl acrylic emulsion dari tiap warna dan jenis cat yang dipakai.
Kaleng-kaleng cat tersebut harus tertutup rapat dan mencantumkan dengan
jelas identitas cat yang pada didalamnya. Cat ini akan dipakai sebagai
cadangan untuk perawatan, oleh pemberi tugas.

6.4. PEKERJAAN PASANGAN KERAMIK LANTAI DAN DINDING


6.4.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan
alat alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk
mendapatkan hasil yang baik.
Pekerjaan keramik dinding dan keramik lantai ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Perencana.

6.4.2. Pekerjaan Yang Berhubungan


Pekerjaan yang berhungungan dengan pekerjaan ini adalah:
a. Pekerjaan Plesteran dan Screeding
b. Pekerjaan Pasangan Bata
c. Pekerjaan Waterproofing

6.4.3. Standar Dan Persyaratan


Standard dan peryaratan yang dipakai peraturan peraturan Keramik Indonesia
• NI 19
• PVBB 1970
• PVBI 1982.

Semen Portland harus memenuhi NI 8, pasir dan air harus memenuhi syarat syarat
yang ditentukan dalam PVBB 1970 (NI 3) dan PBI 1971 (NI 2) dan ASTM.

6.4.4. Pekerjaan Pasangan Keramik Dinding

6.4.4.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan
alat-alat bantu yangdibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk
mendapatkan hasil yang baik.
Pekerjaan dinding keramik ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Perencana.

6.4.4.2. Persyaratan Bahan.


a. Bahan :
Keramik dinding :
1. Jenis : Glaze Keramik tile ex. Roman atau setara kualitas
yang disetujui oleh Direksi Pengawas.
2. Finishing Permukaan : Berglazuur.
3. Bahan pengisi siar : ex. MU/AM/Lemkra atau setara kualitas disetujui oleh
Direksi Pengawas.
4. Bahan perekat : mortar semen biasa.
5. Warna/texture : akan ditentukan kemudian
6. Ukuran : 30X60cm atau Sesuai yang tertera pada gambar.

Lis keramik dinding/Listello:


1. Jenis : Glaze Keramik tile ex. Roman atau setara
kualitas yang disetujui oleh Direksi Pengawas.
2. Finishing Permukaan : Berglazuur.
3. Bahan pengisi siar : ex. MU/AM atau setara kualitas disetujui oleh Direksi
Pengawas.
4. Bahan perekat : mortar semen biasa.
5. Warna/texture : akan ditentukan kemudian
6. Ukuran : 30x60, atau sesuai yang tertera pada gambar.
b. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan peraturan-peraturan
Keramik Indonesia (NI-19), PVBB 1970 dan PVBI 1982.
c. Warna akan ditentukan kemudian. Masing-masing warna harus seragam,
warna yang tidak seragam akan ditolak.
d. Bahan-bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus
diserahkan contoh-contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari
Perencana.
e. Kontraktor harus menyerahkan 2 copy ketentuan dan persyaratan teknis-
operatif dari pabrik sebagai informasi bagi Perencana.
f. Material lain yang tidak terdapat pada daftar tersebut tetapi dibutuhkan untuk
menyelesaikan/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus baru, kualitas
terbaik dari jenisnya dan harus disetujui Perencana.

6.4.4.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan.


1. Sebelum dimulai pekerjaan diwajibkan Kontraktor membuat shop drawing
mengenai pola keramik.
2. Pada permukaan dinding beton/bata merah yang ada keramik dapat langsung
diletakkan dengan menggunakan perekat spesi 1 PC : 3 pasir, diaduk baik
memakai larutan cement, jumlah pemakaian adalah 10% dari berat semen yang
dipakai dengan tebal adukan tidak lebih dari 1,5 cm atau bahan perekat khusus,
dengan memperhatikan sehingga mendapatkan ketebalan dinding seperti
tertera pada gambar. Penggunaan produk perekat siap pakai lebih disarankan.
3. Pemasangan dinding dan plint dilakukan setelah alas dari lantai Keramik sudah
selesai dengan baik dan sempurna serta disetujui Direksi (antara lain lantai
screed, kering dari lantai screed = min. 7 hari, waterproofing dan lain-lain) baru
pemasangan Keramik dilaksanakan. Kering sempurna dari lantai beton adalah
minimum berusia 28 hari.
4. Keramik yang dipasang adalah yang telah diseleksi dengan baik, warna. motip
tiap keramik harus sama tidak boleh retak, gompal atau cacat lainnya.
5. Pemotongan keramik harus menggunakan alat potong khusus untuk ini, sesuai
petunjuk pabrik.
6. Sebelum keramik dipasang, keramik terlebih dahulu harus diremdam air sampai
jenuh.
7. Pola keramik harus memperhatikan ukuran/letak dan semua peralatan yan akan
terpasang didinding : exhaust an, panel, stop kontak, lemari gantung dan lain-
lain yang tertera didalam gambar.
8. Ketinggian peil tepi atas pola keramik disesuaikan gambar.
9. Awal pemasangan keramik pada dinding dan kemana sisa ukuran harus
ditentukan, harus dibicarakan terlebih dahulu dengan Pengawas sebelum
pekerjaan pemasangan dimulai.
10. Bidang dinding keramik harus benar-benar rata, garis-garis siar harus benar-
benar lurus. Siar arah horizontal pada dinding yang berbeda ketinggian peil
lantainya harus merupakan satu garis lurus.
11. Keramik harus disusun menurut garis-garis lurus dengan siar sebesar 4-5 mm
setiap perpotongan siar harus membentuk dua garis tegak lurus. Siar-siar
keramik diisi dengan bahan pengisi siar sehingga membentuk setengah
lingkaran seperti yang disebutkan dalam persyaratan bahan dan warnanya
akan ditentukan kemudian.
12. Pembersihan permukaan ubin dari sisa-sisa adukan semen hanya boleh
dilakukan dengan menggunakan cairan pembersih khusus untuk keramik.
13. Naad-naad pada pemasangan keramik harus diisi dengan bahan grout.
14. Grouting
• Keramik diberi grout ketika Keramik sudah terpasang dengan tepat, setelah
naat dibersihkan dari kotoran / pencemaran dengan menggunakan
compresor (ditiup)
• Bersihkan grout yang berlebih dan buat bentuk naat sesuai yang diinginkan.
• Ketika grout sudah mengeras, basahi Keramik dengan air dan akhirnya
poles dengan kain.
6.4.5. Pekerjaan Pasangan Keramik Lantai

6.4.5.1. Lingkup Pekerjaan


a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat
bantu lainnya untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan yang bermutu baik.
b. Pasangan lantai keramik tiles ini dipasang pada seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar, berikut plint dan nosing tangga.
6.4.5.2. Persyaratan Bahan
a. Lantai keramik dan step nosing yang digunakan :
1. Jenis : Glaze Ceramic Tile ex. Roman atau setara kualitas
sesuai persetujuan Direksi Pengawas.
2. Daya serap : 1%
3. Kekerasan :Minimum 6 skala Mohs.
4. Kekuatan tekan : Minimum 900 kb per cm2.
5. Daya tanah lengkung: Minimum 350 kg/cm2.
6. Mutu : tingkat 1 (satu), extruded single firing, tahan asam
dan basa.
7. Chemical Resistance: Konsisten terhadap PVBB 1970(ni-3) pasal 33D
ayat 17-23
8. Bahan pengisi : AM/MU/Lemkra Grout
9. Bahan perekat : Adukan spesi 1PC:3 pasir pasang ditambah bahan
perkat/Carofix 2 atau produk AM
10. Warna : Akan ditentukan kemudian.
11. Ukuran : 40x40, atau sesuai yang tertera pada gambar.

b. Lantai keramik pada kamar mandi digunakan :


1. Jenis : Glaze Ceramic Tile ex. Roman atau setara kualitas
sesuai persetujuan Direksi Pengawas.
2. Daya serap : 1%
3. Kekerasan :Minimum 6 skala Mohs.
4. Kekuatan tekan : Minimum 900 kb per cm2.
5. Daya tanah lengkung : Minimum 350 kg/cm2.
6. Mutu : tingkat 1 (satu), extruded single firing, tahan asam
dan basa.
7. Chemical Resistance : Konsisten terhadap PVBB 1970(ni-3) pasal
33D ayat 17-23
8. Bahan pengisi : AM/MU/Lemkra Grout
9. Bahan perekat : Adukan spesi 1PC:3 pasir pasang ditambah bahan
perkat/Carofix 2 atau produk AM
10. Warna : Akan ditentukan kemudian.
11. Ukuran : 30x30, atau sesuai yang tertera pada gambar.

c. Lantai keramik step nosing yang digunakan :


1. Jenis : Glaze Ceramic Tile ex. Roman atau setara kualitas
sesuai persetujuan Direksi Pengawas.
2. Daya serap : 1%
3. Kekerasan :Minimum 6 skala Mohs.
4. Kekuatan tekan : Minimum 900 kb per cm2.
5. Daya tanah lengkung : Minimum 350 kg/cm2.
6. Mutu : tingkat 1 (satu), extruded single firing, tahan asam
dan basa.
7. Chemical Resistance : Konsisten terhadap PVBB 1970(ni-3) pasal
33D ayat 17-23
8. Bahan pengisi : AM/MU/Lemkra Grout
9. Bahan perekat : Adukan spesi 1PC:3 pasir pasang ditambah bahan
perkat/Carofix 2 atau produk AM
10. Warna : Akan ditentukan kemudian.
11. Ukuran : 10x40, atau sesuai yang tertera pada
gambar.

d. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan peraturan-peraturan


ASTM, peraturan keramik Indonesia (NI-19), PVBB 1970 dan PVBI 1982.
e. Semen Portland harus memenuhi NI-8, pasir dan air harus memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan dalam PVBB 1970 (NI-3) dan PBI 1971 (NI-2) dan
ASTM.
f. Warna akan ditentukan kemudian. Masing-masing warna harus seragam,
warna yang tidak seragam akan ditolak.
g. Bahan bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan
contoh contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari Perencana.
h. Kontraktor harus menyerahkan 2 copy ketentuan dan persyaratan teknis
operatif dari pabrik sebagai informasi bagi Perencana.
i. Material lain yang tidak terdapat pada daftar tersebut tetapi dibutuhkan untuk
menyelesaikan/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus baru, kualitas
terbaik dari jenisnya dan harus disetujui Perencana.

6.4.5.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan.


a. Sebelum dimulai pekerjaan diwajibkan Kontraktor membuat shop drawing
mengenai pola keramik.
b. Keramik yang terpasang harus dalam keadaan baik, tidak retak, cacat dan
ternoda.
c. Adukan pasangan/pengikat dengan aduk campuran 1PC : 3 pasir pasang dan
ditambah bahan perekat seperti yang disyaratkan atau dapat pula digunakan
acian PC murni dan ditambah bahan perekat.
d. Pemasangan Lantai dan plint dilakukan setelah alas dari lantai Keramik sudah
selesai dengan baik dan sempurna serta disetujui Direksi (antara lain lantai
screed, kering dari lantai screed = min. 7 hari, waterproofing dan lain-lain) baru
pemasangan Keramik dilaksanakan. Kering sempurna dari lantai beton adalah
minimum berusia 28 hari.
e. Bahan keramik sebelum dipasang harus direndam dalam air bersih (tidak
mengandung asam alkali) sampai jenuh,
f. Hasil pemasangan lantai keramik harus merupakan bidang permukaan yang
benar-benar rata, tidak bergelombang, dengan memperhatikan kemiringan
didaerah basah dan teras.
g. Pola, arah dan awal pemasangan lantai keramik harus sesuai gambar detail
atau sesuai petunjuk Perencana.
h. Jarak antara unit-unit pemasangan keramik satu sama lain (siar-siar) harus
sama lebarnya, maximum 3 mm, yang membentuk garis-garis sejajar dan lurus
yang sama lebar dan sama dalamnya, untuk siar-siar yang berpotongan
membentuk sudut siku yangsaling berpotongan tegak lurus sesamanya.
i. Siar-siar diisi dengan bahan pengisi siar yang bermutu baik, dari bahan seperti
yang telah disyaratkan diatas. Warna keramik yang dipasang.
j. Pemotongan untui-unit keramik tiles harus menggunakan alat pemotong
keramik khusus sesuai persyaratan dari pabrik.
k. Keramik yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala macam noda
pada permukaan keramik, hingga betul-betul bersih.
l. Keramik yang terpasang dihindarkan dari sentuhan/beban selama 3 x 24 jam
dan dilindungi dari kemungkinan cacat akibat dari pekerjaan itu.
m. Keramik plint terpasang siku terhadap lantai, dengan memperhatikan siar-
siarnya bertemu siku dengan siar lantai dan dengan ketebalan siar yang sama
pula.
n. Grouting
• Keramik diberi grout ketika Keramik sudah terpasang dengan tepat, setelah
naat dibersihkan dari kotoran / pencemaran dengan menggunakan
compresor (ditiup)
• Bersihkan grout yang berlebih dan buat bentuk naat sesuai yang diinginkan.
• Ketika grout sudah mengeras, basahi Keramik dengan air dan akhirnya poles
dengan kain.

6.5. PEKERJAAN PASANGAN BATU ALAM

6.5.1. Lingkup Pekerjaan


Pasangan batu alam dilaksanakan untuk dinding/tembok gedung pada bagian-
bagian tertentu sesuai dengan gambar perencanaan.
6.5.2. Pekerjaan yang Berhubungan
Pekerjaan pasangan bata
6.5.3. Standard dan Persyaratan
Bahan yang dipakai :
• Batu alam andesit lurus bakar.
• Bilamana dikehendaki coating anti jamur dalam RAB maka akan ditambakan
coating anti jamur yang sesuai.
• Sebagai semen dan pasir untuk pasangan batu bata ini harus sama dengan
kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.
6.5.4. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Yang dibutuhkan adalah paku (biasanya paku beton) dan tali untuk acuan atau
istilahnya tarik benang, agar mudah dalam pemasangan batu alamnya nanti
sehingga hasilnya rapi serta siku. Semen dan pasir sebagai perekat,
pelapis/coating untuk menjaga penampilan permukaan batu alam agar tidak
berlumut dan kusam. Dan tidak lupa, batu alamnya itu sendiri. Keramik
disamping adalah acuannya ; Setelah diberi tanda, baru dipotong sisinya.
Hasilnya batu alam dengan sisi yang siku Karena batu alam bukan buatan
pabrik maka pada persiapannya harus dibuat siku terlebih dahulu sisi-sisinya.
Bisa memakai keramik yang siku sebagai acuannya.
2. Untuk tembok yang masih baru atau belum diaci, bisa langsung tarik benang
dan lanjut ke pemasangan. Tetapi untuk tembok yang sudah jadi dan dicat
seperti ini maka temboknya harus dibobok terlebih dahulu atau dirusak/dibuat
cacat. Tembok yang akan dipasang batu alam Maksudnya agar adukan semen
untuk untuk batu alam nanti bisa menempel / menyatu dengan baik dengan
lapisan semen sebelumnya. Karena sebenarnya sifat cat dan semen tidak
senyawa atau menempel dengan baik.
3. Paku acuan bagian atas. Paku acuan bagian bawah. Ambil salah satu sisi yang
siku untuk awal pemasangan, jadi batu alam yang utuh mulai dipasang dari
sana. Jangan lupa basahi dahulu tembok sebelumnya, agar lapisan semennya
agak lembab dan lunak sehingga bisa menyatu dengan lapisan semen yang
baru.
4. Awal pemasangan batu alam. Diberi pengganjal Untuk pemasangan maju
mundur maka pemasangan dimulai dari bawah ke atas, agar si batu alam tidak
merosot ke bawah maka dibutuhkan pengganjal.
5. Batu alam diberi adukan semen pasir. Disesuaikan tinggi permukaannya,
seberapa maju yang diinginkan. Diketuk-ketuk dengan palu agar sesuai tinggi
permukaannya. Cara pemasangannya kurang lebih sama dengan cara pasang
keramik. Setelah diberi lapisan semen pada bagian belakang, batu alam lalu
diletakkan pada posisinya dan diketuk-ketuk dengan palu agar lapisan
semennya menyebar dan menjadi padat/mengisi ruang kosong di belakang
batu alam tersebut.
6. Bersihkan sisa semen yang keluar. Agar cepat kering, diberi bubuk semen
untuk menyerap kadar air pada adukan.
7. Bersihkan permukaannya dari sisa semen. Jangan lupa bagian sisinya juga.
Pada proses ini biasanya ada semen yang berlebih dan keluar melalui sisi
samping keramik,cukup bersihkan kelebihan semen ini dengan menggunakan
kuas dan air. Batu alam lebih rentan daripada keramik karena pori-porinya lebih
besar.
6.5.5. Syarat Kualitas Pekerjaan
a. Kondisi batu alam tertempel rapi tidak mudah terlepas.
b. Seluruh batu alam bebas noda air semen.
Bab 7

PEKERJAAN SALURAN DRAINASE

PEKERJAAN SALURAN
Lingkup Pekerjaan :
Lingkup Pekerjaan yang termasuk dalam pekerjaan ini adalah Pekerjaan beton
bertulang untuk saluran dan gorong-gorong ;
1) Gorong-gorong atau saluran berbentuk U dan penutupnya haruslah beton
bertulang pracetak dengan mutu beton Pasir beton dan koral harus bermutu
baik, tidak mengandung bahan organis, lumpur dan sejenisnya. Koral yang
digunakan mempunyai gradasi 2-3 cm dan dapat memenuhi persyaratan SK
SNI-1991. Mutu Beton K-350 kg/cm2 gandar 10ton
2) Pasir beton dan koral harus bermutu baik, tidak mengandung bahan organis,
lumpur dan sejenisnya. Koral yang digunakan mempunyai gradasi 2-3 cm dan
dapat memenuhi persyaratan SK SNI-1991. Mutu Beton K-350 kg/cm2
3) Air yang dipakai harus air tawar dan bersih, bebas dari zat-zat kimia yang
merusak beton
4) Tulangan besi beton dipakai adalah baja mutu fc’=240 Mpa (U-24) dan fc’=400
Mpa ( U-40)
5) Semen yang dipergunakan sebagai bahan beton adalah Portland Cement (PC)
tipe I yang memenuhi SNI 15-2049-2004 tentang semen portland.
6) U-Gutter, U-Ditchharus merupakan produksi pabrik.

Pelaksanaan Pekerjaan:
1) Saluran beton bertulang U dan pelat penutup harus dibuat sesuai dengan garis
dan elevasi dan detail lainnya yang ditunjukkkan dalam gambar, atau seperti
yang diperintahkan oleh direksi pekerjaan, Bagian permukaan saluran terbuka
berbentuk U atau bagina permukaan plat penutup harus dilaksanakan dengan
profil yang rata , elevasi akhir lapangan harus sesuai dengan rencana serta
terhadap elevasi akhir dari permukaan paving atau permukaan dari kanstin
mempunyai toleransi +_ 1 cm. Saluran U gutter harus pracetak. Pelat penutup
harus dibuat sebagai unit pracetak dan dapat dipindahkan.
2) Sambungan antara ruas-ruas beton pracetak harus mempunyai lebar nominal
pemuaian 1 cm dan harus dibungkus dengan adukan semen yang rata dengan
permukaan dalam saluran.

Metode Pengukuran
1) U-Gutter, U-Ditch diukur dalam jumlah meter panjang yang terpasang dan
diterima dalam pekerjaan sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada
Gambar Rencana serta memenuhi mutu yang disyaratkan.

Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya terhadap penambahan semen,
bahan-bahan pembantu lainnya serta untuk pekerjaan finishing (penyelesaian).
Bab 7

PEKERJAAN TANAMAN
1. Lingkup pekerjaan
Yang termasuk pada pekerjaan taman meliputi penyediaan tenaga kerja yang
cukup jumlah serta keahliannya, mengadakan bahan-bahan, peralatan dan alat
bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini secara
sempurna yang antara lain terdiri dari :
• Pekerjaan taman / lanskap, meliputi semua pakerjaan yang tertera dalam
gambar pelaksanaan dan sesuai petunjuk Direksi/MK, yaitu :
- Pekerjaan penanaman.

- Pekerjaan perawatan / pemeliharaan tanaman yang terdiri dari :


penyiraman, penyiangan, penggantian tanaman, pemangkasan,
pemupukan dan pemberantasan hama.

2. Persyaratan Bahan

• Bahan untuk pekerjaan landscape/taman.


Tanah yang dipakai adalah tanah merah untuk gundukan / bukit tanah dan
tanah subur yang dihamparkan dengan ketebalan minimum 20 cm.
• Persyaratan pohon dan tanaman hias :

1) Jenis Pohon : Pelindung/peneduh.

Nama : Passiflora quadrangularis


Ukuran : 1 pergola tanaman berisi 25 tanaman rambat
Lokasi : Sesuai gambar pelaksanaan..

2) Jenis Pohon : Perdu Hias


Nama : Ammarylis paradisicola, canna sp, Codiaeum variegatum,
Heliconia,dll
Ukuran : Tinggi dari Ballroot ke pucuk daun minimal 70 cm Lokasi : pot
tanaman, 1 pot 200 tanaman atau jarak 10 cm antar tanaman.

3) Penanaman tanaman lain seperti yang tercantum dalam gambar


pelaksanaan.

4) Semua jenis Tanaman harus bebas dari segala penyakit dan hama,
daun/cabang jangan sampai cacat dan harus tumbuh sehat.
5) Pembungkusan ball root tanaman harus dengan karung goni dan diikat
erat untuk mencegah pecahnya akar dalam pengangkutan.
6) Untuk penyemaian di Lapangan dipilih tempat yang aman dari segala
kerusakan, teduh dan dekat daerah penanaman. Dibuatkan peneduh
dari anyaman bambu atau daun kelapa agar dapat menyesuaikan
dengan lingkungan sekitarnya. Tanaman dijaga agar mendapat panas
Matahari langsung 50 %. Waktu penyesuaian 2-4 minggu di tempat
penampungan dengan menanamkan dalam tanah setempat tanpa
melepas ball root untuk tanaman hias.
7) Semua jenis tanaman yang tertanam harus disetujui oleh Direksi/MK.

3. Bahan untuk pekerjaan pemeliharaan.

1) Jenis pupuk yang dipakai adalah pupuk kandang dan pupuk buatan.

2) Pupuk kandang dipilih dari kotoran sapi yang telah kering dan matang,
bersih dari gumpalan akar rumput dan tanaman liar serta sudah dalam
keadaan hancur (tak ada bongkahan).
3) Pupuk Buatan yang diberikan adalah yang mengandung unsur unsur
N,P,K yaitu NP Krustica Complete Yellow dengan perbandingan
(15:15:15).
4) Untuk tanaman rumput dipakai pupuk buatan ZA atau Urea sebanyak 15
gram/m2.

4. Persyaratan Pelaksanaan

1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk dan syarat-


syarat pekerjaan Landscape, standard spesifikasi dari bahan yang
dipergunakan dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Direksi/MK.

2. Sebelum melaksanakan pekerjaan, harus diperhatikan koordinasi kerja


dengan pekerjaan lain yang menyangkut pakerjaan Struktur, Arsitektur,
Mekanikal, Elektrikal dan Sanitasi. Terutama dalam melakukan pekerjaan
pembentukan, tanah dan penyelesaian tanah agar tidak terjadi kesalahan,
pembongkaran, perusakan yang tidak diinginkan terhadap pekerjaan lain
yang telah selesai maupun yang sedang dilaksanakan.
3. Pembentukan dan penyelesaian tanah harus mengikuti bentuk /
kemiringan / contour / peil yang tertera dalam gambar kerja. Kemiringan -
kemiringan yang dibuat harus cukup kuat untuk mengalirkan air hujan
menuju keselokan yang ada disekitarnya serta mengikuti persyaratan -
persyaratan yang tertera dalam gambar pelaksanaan. Adanya genangan
air di atas tanah tidak dibenarkan.

4. Untuk pekerjaan penanaman, diperlukan pengupasan tanah yang


mengandung bahan organis dengan kedalaman sampai mendapatkan
tanah subur, serta penyediaan tanah subur untuk urugan, bekas galian
tanah tersebut.
5. Tanah yang dipersiapkan untuk pekerjaan penanaman harus benar-benar
bersih dari batu, kerikil, aduk, kapur dan segala bekas bahan bangunan,
bahan plastik dan bahan-bahan organis. Tanah yang dipakai untuk urugan
dan pelapisan tanah (top soil) untuk rumput adalah tanah subur dan
gembur.

6. Tanah urug yang dipakai pada saat penanaman dicampur dengan pupuk
kandang dengan perbandingan jumlah yang sama (1:1) atau sesuai
persyaratan untuk jenis tanaman maupun rumput.

5. Pekerjaan Penanaman.

1. Pemasangan patok-patok berikut dengan keterangan koordinat, posisi,


perlu dilaksanakan terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis
tanaman. Patokan diambil berdasarkan pengukuran yang ditarilk dari as-
as bangunan yang terdekat / patokan-patokan yang ada dalam Tapak.
2. Perbedaan antara gambar dengan keadaan Lapangan harus dilaporkan
kepada Direksi/Penmgawas untuk diambil keputusan pemecahan perihal
perbedaan tersebut.

3. Peil permukaan rumput dan tanaman hias yang terpasang harus sesuai
dengan gambar pelaksanaan.

4. Jenis rumput gajah ditanam berupa rumpun-rumpun pada setiap jarak10


cm secara teratur dan lurus dengan pole zig zag, ditanam dengan cara
tandur.

5. Semua penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau setelah pukul
15.30 agar tidak banyak terjadi penguapan dan kekeringan yang
terlampau cepat bagi tumbuh–tumbuhan tersebut kecuai penanaman
yang dilakukan di tempat yang terlindung dari panas Matahari langsung
dapat dilakukan setiap saat.

6. Bila setiap kali pelaksanaan penanaman jenis rumput yang telah


disebutkan dan tanaman hias selesai dilaksanakan, harus segera
dilakukan penyiraman dengan air yang bebas dari bahan / zat yang dapat
mematikan tanaman. Penyiraman ini harus dilakukan secara teratur pagi
dan sore setiap hari agar dapat tumbuh cepat dan baik. Penyiraman
dilakukan pagi sebelum pukul 10.00 dan sore hari sesudah pukul 15.00.

6. Pemeliharaan Tanaman.

1. Pemeliharaan tanaman harus diperhatikan oleh Kontraktor setelah selesai


penanaman. Masa pemeliharaan ini berlangsung selama enam bulan dari
mesa selesainya penanaman.
2. Selama masa itu, Kontraktor diwajibkan secara teratur memelihara
tanaman dan mengganti setiap kali ada yang rusak atau mati. Semua
biaya penggantian tanaman menjadi tanggung jawab Kontraktor.

3. Pemeliharaan tanaman ini disesuaikan dengan sifat dan jenis tanaman


yang tertanam.

4. Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam setiap jenis pekerjaan


pemeliharaan ini harus benar-benar baik, memenuhi persyaratan kerja
yang dibutuhkan dan jangan sampail merusak tanaman.

7. Penyiraman Tanaman.

1. Penyiraman dilakukan dengan air bersih yang bebas dari segala bahan
organis / zat kimia / bahan lain yang dapat mengganggu dan merusak
pertumbuhan tanaman.

2. Cara Penyiraman.

• Memakai alat khusus untuk menyirami tanaman (Emrat) yang


berlubang banyak pada tempat ujung air keluar sehingga air keluar
dapat menyebar merata ke seluruh permukaan tanah yang disiram.
• Memakai slang air yang terbuat dari plastik dihubungkan dengan kran
/ sumber air yang terdekat. Penyiraman dilakukan dengan cara
memancarkan air melalui sprayer di ujung slang.

• Penyiraman dilakukan secara teratur terutama di Musim kemarau dan


bagi tanam-tanaman dan rumput yang baru ditanam dan juga bagi
tanam-tanaman dalam tempat penampungan. Hal ini harus benar
benar diperhatikan.

3. Penyiraman Tanaman dilakukan :

• Dua kali sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman dan rumput
yang baru ditanam dan semua jenis tanaman dalam penyimpanan
sementara sebelum pukul
10.00 dan sore hari sesudah pukul 15.30, sampai tanam tersebut
tumbuh sehat dan kuat.
• Untuk semua jenis tanaman dan rumput yang sudah terlihat tumbuh
baik dan kuat disiram satu kall sehari pada sore hari setelah pukul
15.30.
• Banyaknya air penyiraman harus cukup sampai membasahi bawah
permukaan tanah.
• Pada sore hari bagi tanaman yang masih terlihat cukup basah
tanahnya tidak perlu dilakukan penyiraman.
• Tidak diperkenankan tanah bekas siraman terlihat tergenang air. Air
harus dapat terserap baik oleh tanah di sekitar tanaman.

8. Penyiangan Tanaman.

1. Penyiangan ini harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali bagi
tanaman pohon dan rumput yang tertanam.
2. Untuk tanaman rumput, penyiangan perlu dilakukan untuk mencabut
segala tanaman liar dan jenis rumput yang berbeda dengan jenis rumput
yang ditanam. alat yang dipakai adalah pancong atau cangkul garpu kecil
3. Penggantian Tanaman dan Rumput.
4. Kontraktor wajib mengganti setiap kali ada tanaman & rumput yang rusak
atau mati. Semua penggantian tanaman & rumput baru, menjadi tanggung
jawab Kontraktor sampai masa pemeliharaan yang ditentukan berakhir.
5. Penggantian tanaman harus sesuai dengan jenis/bentuk/warna daun dan
burga dengan apa yang telah ditentukan dan tertanam.
6. Penggantian tanaman dan rumput harus dilaksanakan dengan sebaik
mungkin jangan sampai merusak tanaman dan rumput lain di sekitarnya
pada saat mencabut atau menanam yang baru.
7. Penggantian tanaman dan rumput dilaksanakan pada sore hari antara
pukul 15.00-18.00, dan sesudah dilakukan penanaman baru harus segera
disiram air.

9. Pemangkasan.

1. Pemangkasan dilakukan pada cabang / ranting yang tumbuh tidak taratur


/ liar, atau untuk mendapatkan / mempertahankan bentuk pertumbuhan
cabang yang diinginkan.
2. Membuang ranting dan cabang yang sakit dengan memotongnya.
3. Semua pekerjaan pemangkasan ini dilakukan dengan gunting pangkas
dengan memangkas cabang dan ranting arah miring dari bawah keatas
dengan sudut 30 – 40 derajat. Tidak dibenarkan pemangkasan dilakukan
dengan mematahkan ranting / cabang tanpa alat yang baik dan cukup
tajam, sehingga ranting/batang pecah atau rusak.
4. Bekas pemotongan ranting/cabang yang permukaannya terpotong lebar,
penampang yang terpotong tersebut harus ditutup ter.
5. Pemangkasan harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali.

10. Pemupukan.

1. Pupuk maupun Obat anti Hama yang dipergunakan harus sesuai dengan
persyaratan penggunaan pupuk bagi masing-masing jenis Tanaman.
2. Pupuk kandang dipakai pada saat penanaman sebagai pencampur tanah
urug yang diperlukan sesuai persyaratan untuk jenis tanaman maupun
rumput.
3. Pupuk buatan diberikan kepada tanaman setelah melampaui masa tanam
3 (tiga) bulan. Pupuk NPK diberikan sebanyak 25 gram per tanaman,
(unsur NPK ini mendorong pembentukan akar, pembungaan dan
pembuahan). Pemupukan dilakukan dengan menanamkannya di dalam
tanah sekitar batang tanaman sedalam 10 cm. Diameter lingkar alur
pemupukan selebar rimbun daun pohon yang bersangkutan. Pemupukan
ini diulang setiap (3) tiga bulan kemudian.
4. Untuk tanaman rumput dipakai pupuk buatan ZA atau Urea sebanyak 15
gram / m2. Pemupukan dilakukan sebulan sekali dengan cara pupuk
dilarutkan dengan air kemudian disemprotkan dengan Sprayer ke
permukaan rumput.
11. Pemberantasan Hama Penyakit.

1. Pemberantasan untuk hama (serangga dan ulat) dilakukan dengan cara


penyemprotan ke seluruh permukaan daun, batang dan cabang. Bahan
yang dipakai adalah Peptisida campuran antara Basudin dan Diazona 60
%EC (obat tersebut dicampur air, dengan perbandingan 2 cc Obat dan1
liter Air).
2. Untuk pemberantasan Jamur dan sejenisnya, dipakai fungisida Dithane
M-45 yang dicampur air (2 gr/liter Air). Pemberantasan dilakukan dengan
penyemprotan ke seluruh permukaan daun, batang dan cabang.
3. Untuk memberantas penggerek batang dipakai BHC. Untuk memberantas
Siput darat dipakai Metodex yang disebarkan di sekitar Pohon.
4. Penyemprotan Hama dan Jamur :
• Untuk rumput, dilakukan 2 bulan sekali.
• Untuk tanaman dilakukan satu 1 bulan sekali.
Penyemprotan hama dan jamur dilakukan secara bergantian. Untuk
penyemprotan dari jenis obat yang berbeda jangan dilakukan sekaligus
akan tetapi harus ada beda waktu yaitu selang 2 minggu.
DAFTAR ISI
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT TOILET

Bab 1 SpesifikasTeknis
Bab 2 Sarat-Sarat Umum Pekerjaan
Bab 3 Peekerjaan Persiapan
Bab 4 Pekerjaan Tanah
1. Pekerjaan Galian Tanah
2. Pekerjaan Urugan Sirtu
3. Pekerjaan Urugan Pasir Padat
4. Pekerjaan Urugan dan Pemadatan
Bab 5 Pekerjaan Struktur
1. Pekerjaan Batu Kali
2. Pekerjaan Beton
3. Pekerjaan Rangka Atap Baja Ringan
Bab 6 Pekerjaan Arsitektur
1. Pekerjaan Pasangan Bata Merah
2. Pekerjaan Plesteran dan Acian
3. Pekerjaan Kusen Aluminium, Daun pintu, dan Kaca
4. Pekerjaan Plafon Kalsiboard
5. Pekerjaan Penutup Atap Genteng
6. Pekerjaan Pengecatan
7. Pekerjaan Penutup Lantai
Bab 7 Pekerjaan Mekanikal, ELektrikal, dan Plumbing
1. Pekerjaan Sanitair
2. Pekerjaan Plumbing
3. Pekerjaan Instalasi Kelistrikan
Bab 8 Pekerjaan Pengaspalan
Bab 1
SPESIFIKASI TEKNIS

NAMA KEGIATAN : PENYUSUNAN DOKUMEN DED KEBON RAYA


PURWODADI
NAMA PEKERJAAN : PEKERJAAN AREA PARKIR
LOKASI : KEBON RAYA PURWODADI

No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan


PEKERJAAN UMUM
Semen Semen / Portland
Holcim, Gresik, Tiga Roda
Cement ( PC )
Semen Instan
MU, Prime Mortar, Bostik
(Mortar)
Pasir Lokal yang disetujui
Pasir Pasangan
Konsultan Pengawas
Pasir Cor Ex. Lumajang
Sirtu Tanah Urugan Gempol, Porong
bekisting Multipleks 12mm lapis Untuk beton expose
film satu sisi
Multiplek 9 mm Untuk beton non expose
Rangka kayu meranti
PEKERJAAN
1
STRUKTUR
Pekerjaan beton
1.2
struktur
Beton Readymix Mutu beton K-225 fc’ Holcim, Indosipa, Merak,
= 18,68 MPa Jaya, Varia, Jatim Readymix
Mutu beton K-225 fc’ Harus didahului mix design
Beton site mix
= 18,68 MPa dan uji bahan
Krakatau Steel, Hanil Jaya
Besi beton yang
Besi beton Steel, Master Steel,
berstandart SNI
Bhirawa, Jatim.
1.3 Pekerjaan beton non
struktur
Mutu beton K-175 Harus didahului mix design
Beton site mix
atau f’c = 15 MPa dan uji bahan
1.4 Krakatau Steel, Gunung
Garuda, Hanil Jaya Steel
Pekerjaan Konstruksi Baja yang standar atau local yang berstandart
Baja SNI SNI. Hubungan sayap
(flange) dan badan (Web)
harus tidak ada las.
No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan
1.5 Pekerjaan
waterproofing
Acrylic Polimer
Plat Atap Beton Gel+Fiber Masterguard, Aquaproof
Reinforcement
Acrylic Polimer
Kamar Mandi,
Gel+Fiber Masterguard, Aquaproof
Toilet
Reinforcement
PEKERJAAN
2
ARSITEKTUR
Pekerjaan pasangan
2.1
bata merah
Bata merah Ex. MRH
2.2 Pekerjaan plesteran
dan acian semen
Semen / Portland Ex. Holcim, Semen Gresik,
Cement ( PC ) Tiga roda
Ex.Lokal yang disetujui oleh
Pasir Pasangan
pengawas
2.3 Pekerjaan aluminium,
kusen, pintu, jendela
dan kaca
Uk 4" tebal 1,2 mm
Powder Coating
Frame
warna Putih profil
aluminium Pintu Ex Alexindo, Alkan, Indal
yang berspooning
& jendela
bukan list alumunium
yang di skrup
Daun pintu Pintu Spandreel
Ex. Lokal
daerah basah Aluminium
2.4 Pekerjaan kunci dan
penggantung
Engsel Pintu, Handle
+ Kunci, Grendel Ex. SES, Solid, Griff, KEND,
Hardware pintu Tanam,
Ex. Dorma, Griff, Geze
Door Closer
Rolland
2.5 Pekerjaan kaca
Kaca ES 5mm, 8mm Ex. Asahimas, Mulia
2.6 Pekerjaan Penutup
Lantai dan dinding
Pasangan
Keramik 30 x 60,
Keramik Dinding Ex Roman, Platinum
polished
motif/warna
No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan
Pekerjaan Homogenous Tile
Ex Nitro, IndoGres,
Keramik Lantai lantai Uk. 60x60,
Granito,Niro
motif/warna polished
Pekerjaan
Keramik lantai Keramik lantai
Ex Roman, Platinum
Motif Kasar Uk.30x30, unpolished
/Warna
Pekerjaan
Keramik lantai Uk.
Keramik Lantai Ex Roman, Platinum
10x40, unpolished
Step Nosing
2.7 Pekerjaan plafond
dan ornamen
Rangka Plafond
Ex.Jaya Board, Knauf,
Rangka Plafond sistem Metal Furing
Kalsiboard
tbl 0,4 mm
Plafond area Plafond Ex. Jaya Board, Knauf,
kering Gypsumboard 9 mm Kalsiboard
Plafond area Plafond Kalsiboard Ex. Kalsiboard, Knauf,
basah 4,5 mm, Kalsiboard
2.8 Pekerjaan dinding
praktis
Rangka Dinding Rangka Metal Stud, Ex. Jaya Board, Knauf,
Praktis U-Runer Kalsiboard
Plafond
Ex. Jaya Board, Knauf,
Dinding Gypsumboard 9 mm,
Kalsiboard
Kalsiboard
Pintu dan dinding
pembatas pvc 3,8 cm
Cubicle toilet Accesoris pintu (pvc) Ex.Lokal
Rangka aluminium
1x1 2/4” , 1x 2”
2.9 Pekerjaan
pengecatan
Ex. Nippon, Jotashield,
Cat Tembok Interior
Dulux
interior Ex. Nippon, Jotashield,
Cat plafond interior
Dulux, Jotun
Cat Epoxy Ex. Propan, Sika
Ex. Nippon Weatherbond,
Cat Tembok Eksterior
Jotun
eksterior Ex. Nippon Weatherbond,
Cat plafond eksterior
Jotun
Cat Epoxy Ex. Propan, Sika
Kusen, pintu , Cat plamir (dasar) Lihat RKS
jendela Cat warna Lihat RKS
No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan
Pekerjaan penutup
atap
2.10
Genteng Keramik
Ex. Goodyear, Wisma
karang pilang
Bubungan
Ex. Goodyear, Wisma
Karangpilang
Pekerjaan listplank
2.11
listplank Ex. Kalsiboard,
2.12 Pekerjaan sanitair
Kran Air Standart Ex. Wasser, TOTO
Ex. TOTO, American
Wastafel Meja
standard
Ex. TOTO, American
Kran Wastafel
standard
Ex. TOTO, American
Hand Shower
standard
Ex. TOTO, American
Soap Holder
standard
Floor drain Ex. SAN EI, TOTO
Roof drain Ex. SAN EI, TOTO
Ex. TOTO, American
Grab bar steinless
standard
Ex. TOTO, American
Closet Duduk
standard
Ex. TOTO, American
Closet Jet Washer
standard
Ex. TOTO, American
Urinoir
standard
PEKERJAAN
MEKANIKAL
3
ELEKTRIKAL DAN
PLUMBING
3.1 Pekerjaan sanitasi,
drainase dan
perpipaan
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air hujan
12.5) Maspion
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air bersih
12.5) Maspion
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air bekas Maspion
12.5)
PVC Class AW (S Wavin, Rucika, Pralon,
pipa air kotor
16) Maspion
No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan
Sambungan Lebih kecil dia 50
Wavin, Rucika, Pralon,
pipa menggunakan
Maspion
Solevent Cement
Lebih besar dia 50
menggunakan Wavin, Rucika, Pralon,
Rubber-ring and Maspion
Spigot
Valve Cast iron, Broze Toyo, Kitazawa
Pekerjaan
Kran Air Standart Ex. Wasser, TOTO
sanitair
Ex. TOTO, American
Wastafel Meja
standard
Ex. TOTO, American
Kran Wastafel
standard
Ex. TOTO, American
Hand Shower
standard
Ex. TOTO, American
Soap Holder
standard
Floor drain Ex. SAN EI, TOTO
Roof drain Ex. SAN EI, TOTO
Ex. TOTO, American
Grab bar steinless
standard
Ex. TOTO, American
Closet Duduk
standard
Ex. TOTO, American
Closet Jet Washer
standard
Ex. TOTO, American
Urinoir
standard
Stainlees Steel Profil tank, Maspion tank,
Roof Tank
1100L grandtank, Endurotank
3.2 Pekerjaan instalasi
listrik
MDP, SDP, ( Panel Tegangan Siementri, Panelindo Mas,
LOAD PANEL Rendah) Lokal
Seluruh MCB, MCCB MG, ABB
Perlengkapan Shot Circuit, Eath
Panel Foult o/u voltage SEG, MG
protecyion
Fuse Socomec, Telemecanique
Selector Switch A-
K & N atau setara
O-M
Kwh Meter Fuji, Siemen
Conductor, Push
Telemecanique atau setara
Button, Pilot
No. Pekerjaan Spesifikasi Material Keterangan
Amper, Volt, Frex,
GAE, Siemen
Watt
Kabel NYY, Supreme, Kabelindo, Kabel
NYM, NYFGBY Metal, Voksel
Conduit, Tee
Doos, Cross Hight Impact Clipsal, EGA, Elpro
Doos, dll
3.3 Pekerjaan tata
cahaya
Kabel NYY, Supreme, Kabelindo, Kabel
NYM, NYFGBY Metal, Voksel
Bab 2
SYARAT-SYARAT UMUM PEKERJAAN

1. Umum
• Tanah dan halaman untuk pembangunan akan diserahkan kepada
Kontraktor dalam keadaan seperti pada waktu peninjauan lapangan /
observasi lapangan.
• Pekerjaan harus diserahkan oleh Kontraktor dalam keadaan selesai
keseluruhan sesuai dengan lingkup pekerjaan yang diborongkan, dalam
mana termasuk juga pembetulan kerusakan yang mungkin timbul / terjadi
dalam menyingkirkan segala bahan-bahan sisa atau bongkaran lainnya.

2. Alat, Perlengkapan Pekerjaan dan Tenaga Lapangan


• Kontraktor, sub-sub Kontraktor dan bagian-bagian lainnya yang
mengerjakan pekerjaan pelaksanaan didalam proyek ini, harus
menyediakan alat-alat dan perlengkapan-perlengkapan pekerjaan sesuai
dengan bidangnya masing-masing.
• Disamping itu harus menyediakan juga :
- Buku-buku laporan (harian, mingguan, dan bulanan)
- Rencana kerja dan menempatkan tenaga-tenaga lapangan yang
bertanggung jawab penuh untuk memutuskan segala sesuatu di
lapangan dan bertindak atas nama Kontraktor dan sub-Kontraktor
yang bersangkutan, serta berpengalaman.
- Perlengkapan pengaman / keselamatan kerja sesuai peraturan K3
Depnaker R.I.

3. Barang Contoh (SAMPLE)


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan barang-barang
contoh (sample) dari material yang akan dipakai/dipasang, untuk
mendapat persetujuan dari Tim Teknis / Konsultan Supervisi / Pemberi
Tugas.
• Barang-barang contoh (sample) tertentu harus dilampiri dengan tanda
bukti sertifikat pengujian dan spesifikasi teknis dari barang-
barang/material-material tersebut.
• Untuk barang-barang dan material yang akan didatangkan ke site, maka
Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan menyerahkan :
- Brochure
- Katalogue
- Gambar kerja atau shop drawing
- Sample.
yang dianggap perlu oleh Tim Teknis / Konsultan Supervisi
dan harus mendapat persetujuan Tim Teknis / Konsultan
Supervisi/Pemberi Tugas.

4. Pengujian Atas Mutu Pekerjaan


• Kontraktor dan sub-Kontraktor diwajibkan mengadakan
pengujian atas mutu bahan dan mutu pekerjaan yang telah
diselesaikan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
• Semua biaya-biaya untuk kebutuhan tersebut di
atas, ditanggung oleh Kontraktor dan sub-sub
Kontraktor yang bersangkutan.

5. Gambar-Gambar “AS BUILT DRAWING”

Kontraktor atau sub-sub kontraktor diwajibkan untuk membuat


gambar-gambar “As Built Drawing” untuk Arsitektur, Struktur dan
M/E sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan di lapangan
secara kenyataannya, untuk kebutuhan pemeriksaan dan
maintenance dikemudian hari. Gambar-gambar tersebut
diserahkan kepada Pemilik setelah disetujui oleh Tim Teknis /
Konsultan Supervisi diserahkan sebelum serah terima pertama.

6. Shop Drawing

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat gambar-


gambar “Shop Drawing” setiap jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan untuk terlebih dahulu mendapat persetujuan dari
Tim Teknis / Konsultan Supervisi, gambar-gambar tersebut harus
diserahkan minimum 15 hari sebelum pekerjaan tersebut akan
dilaksanakan.

7. Material Delivery Schedule

Kontraktor atau Sub-Kontraktor diwajibkan membuat material


delivery schedule untuk setiap jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari
Tim Teknis / Konsultan Supervisi, material delivery schedule
harus diserahkan minimum 15 hari sebelum pekerjaan tersebut
akan dilaksanakan.
BAB 3
PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1 PEKERJAAN PERSIAPAN


1.1.1 Direksi Keet (Bangunan Sementara).
1. Direksi keet walau tidak disebutkan dalam penawaran sudah menjadi
kewajiban bagi kontraktor untuk menyediakannya.
2. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan ini,Kontraktor diharuskan
menyediakan dan menyiapkan ruang atau bangunan sementara berukuran
3,00 x 7,00 m untuk ruang rapat dan 3,00 x 4,00 m untuk ruang Direksi.
Bangunan Sementara ini harus dilengkapi dengan Toilet/ WC dan kamar
mandi (dilengkapi dengan bak air, closet, Septictank & Sumur peresap)
yang khusus dimanfaatkan oleh Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
3. Kelengkapan Direksi Keet. Sebagai kelengkapan Direksi Keet guna
penyelesaian Administrasi dilapangan, maka sebelum pelaksanaan
pekerjaan ini dimulai Kontraktor harus terlebih dahulu melengkapi peralatan
peralatan antara lain :
a. 1 (satu) soft board menempel didinding 2x1,20x2,40 m2
b. 1 (satu) buah meja rapat (sederhana) ukuran 1,20x4,80 m2
c. 12 (dua belas) buah kursi duduk ruang rapat
d. 1 (satu) white board (1,20 x 2,40 m2) dan peralatannya
e. 1(satu) rak/almari buku (sederhana)
f. 1 (satu) meja kerja/tulis dan kursi
g. 1 (satu) set kelengkapan PPPK (P3K)
h. 1 (satu) tabung Pemadam Api
i. 5 (lima) buah helm
j. Sarana dan prasarana listrik, telepon dan komunikasi.
4. Alat-alat yang harus senantiasa tersedia di proyek untuk setiap saat dapat
digunakan oleh Direksi Lapangan adalah :
a. 1 (satu) buah kamera (Camera Digital)
b. 1 (satu) buah alat ukur Schuitmaat
c. 1 (satu) buah alat ukur optik (theodolith/ waterpass)
d. 1 (satu) buah personal computer dan printer Inkjet A4
5. Di dalam direksi keet minimal harus dilengkapi dengan :
a. Gambar kerja baik itu gambar perencanaan ataupun shop drawing
b. Buku direksi yang berisi laporan atau catatan atau permintaan dari
pihak Direksi ataupun Kontraktor
c. Kotak P3K sebagai sarana untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Selesai pelaksanaan proyek ini (Serah Terima ke I) semua Peralatan/ kelengkapan
tersebut dalam ayat ini menjadi milik Kontraktor
1.1.2 Sarana Kerja.
1. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua
pekerjaan yang dilakukan diluar lapangan sebelum pemasangan peralatan
yang dimiliki serta jadwal kerja.
2. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan
memenuhi persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan
kerja dilapangan.
3. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/ material dilapangan harus aman
dari segala kerusakan hilang dan hal-hal dasar yang mengganggu
pekerjaan lain yang sedang berjalan.
4. Untuk menghindari kemacetan dan gangguan lain terhadap akses jalan yang
timbul akibat operasional pekerjaan, Kontraktor diharuskan menyediakan
lahan untuk penyimpanan bahan/ material selama pelaksanaan pekerjaan.
1.1.3 Pengaturan Jam Kerja dan Pengerahan Tenaga Kerja.
1. Kontraktor harus dapat mengatur sedemikian rupa dalam hal pengerahan
tenaga kerja, pengaturan jam kerja maupun penempatan bahan hendaknya
di konsultasikan terlebih dahulu dengan Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas lapangan. Khususnya dalam pengerahan tenaga
kerja dan pengaturan jam kerja dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan
peraturan perburuhan yang berlaku.
2. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan akomodasi dan
fasilitas-fasilitas lain yang dianggap perlu misalnya (air minum, toilet yang
memenuhi syarat-syarat kesehatan dan fasilitas kesehatan lainnya seperti
penyediaan perlengkapan PPPK yang cukup serta pencegahan penyakit
menular.)
3. Kontraktor harus membatasi daerah operasinya disekitar tempat pekerjaan
dan harus mencegah sedemikian rupa supaya para pekerjanya tidak
melanggar wilayah bangunan-bangunan lain yang berdekatan, dan
Kontraktor harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan
memasuki tempat pekerjaan.
4. Kontraktor diwajibkan memberi tahu tentang identitas pekerja yang
melakukan aktivitas di lokasi tersebut kepada user yang bersangkutan.
1.1.4 Perlindungan Terhadap Bangunan/Sarana Yang Ada.
1. Segala kerusakan yang timbul pada bangunan/konstruksi dan peralatan
sekitarnya menjadi tanggung jawab Kontraktor untuk memperbaikinya, bila
kerusakan tersebut jelas akibat pelaksanaan pekerjaan.
2. Kontraktor diwajibkan mengidentifikasikan keadaan bangunan ataupun
prasarana lain di sekitar lokasi sebelum memulai pekerjaan.
3. Selama pekerjaan berlangsung Kontraktor harus selalu menjaga kondisi
jalan dan sarana prasarana disekitar lokasi pekerjaan, hal tersebut menjadi
tanggung jawab Kontraktor terhadap kerusakan-kerusakan yang terjadi
akibat pelaksanaan pekerjaan ini.
4. Kontraktor wajib mengamankan sekaligus melaporkan/ menyerahkan
kepada pihak yang berwenang bila nantinya menemukan benda-benda
bersejarah
1.1.5 Pembersihan dan Penebangan Pohon-Pohonan.
1. Lapangan terlebih dahulu harus dibersihkan dari rumput, semak, akar-akar
pohon.
2. Sebelum pekerjaan lain dimulai, lapangan harus selalu dijaga, tetap bersih
dan rata.
3. Kontraktor tidak boleh membasmi, menebang atau merusak pohon-pohon
atau pagar, kecuali bila telah ditentukan lain atau sebelumnya diberi tanda
pada gambar-gambar yang menandakan bahwa pohon-pohon dan pagar
harus disingkirkan. Jika ada sesuatu hal yang mengharuskan Kontraktor
untuk melakukan penebangan, maka ia harus mendapat ijin dari Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.6 Penjagaan, Pemagaran Sementara, dan Papan Nama.
1. Kontraktor bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan
perlindungan terhadap pekerjaannya yang dianggap penting selama
pelaksanaan, dan sekaligus menempatkan petugas keamanan untuk
mengatur sirkulasi/ arus kendaraan keluar/ masuk proyek.
2. Sebelum Kontraktor mulai melaksanakan pekerjaannya, maka Kontraktor
diwajibkan terlebih dahulu memberi pagar pengaman pada sekeliling site
pekerjaaan yang akan dilakukan.
3. Pembuatan pagar pengaman dibuat jauh dari lokasi pekerjaan, sehingga
tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilakukan, serta
tempat penimbunan bahan-bahan dan dibuat sedemikian rupa, sehingga
dapat bertahan/kuat sampai pekerjaan selesai dan tampak dari luar dapat
menunjang estetika atas kawasan yang ada.
4. Syarat pagar pengaman :
a. Pagar dari seng gelombang finish cat berpola sesuai dengan
pengarahan Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas
dengan ketinggian minimal 180 cm.
b. Tiang dolken minimum berdiameter 10 cm, jarak pemasangan minimal
180 cm, bagian yang masuk pondasi minimum 40 cm.
c. Rangka kayu Borneo ukuran 4 x 6 cm, dengan pemasangan 4 jalur
menurut tinggi pagar.
d. Pondasi cor beton setempat minimum penampang diameter 30cm
dalam 50cm dari permukaan tanah setempat. Beton dengan adukan
1:3:5.
e. Pada pagar pengaman hendaknya diberi tanda atau petunjuk mengenai
keberadaan pekerjaan tersebut
f. Pagar diengkapi dengan pembuatan pintu akses dari bahan yang sama.
5. Selesai proyek semua bahan pagar adalah milik Kontraktor, untuk hal
tersebut didalam penyusunan penawaran hendaknya telah
dipertimbangkan.
6. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan memasang papan
nama Proyek yang dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan gambar
rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan atas beban Kontraktor.
1.1.7 Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja
1. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan menggunakan/
menyambung pipa air yang telah ada dengan meteran air tersendiri (guna
perhitungan pembayaran pemakaian air oleh Kontraktor) atau air sumur
yang bersih/jernih dan tawar dengan membuat sumur pompa di tapak
proyek atau disuplai dari luar lokasi pekerjaan. Air harus bersih, bebas dari
debu, bebas dari lumpur, minyak dan bahan-bahan kimia lainnya yang
merusak.Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
2. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari
sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan, atau
penggunaan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan
untuk penggunaan sementara atas persetujuan Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas. Daya listrik juga disediakan untuk
suplai kantor Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas
Lapangan.
3. Segala biaya yang ditimbulkan atas pemakaian daya listrik dan air di atas
adalah beban Kontraktor.
1.1.8 Drainase Tapak.
1. Dengan mempertimbangkan keadaan topografi/kontur tanah yang ada di
tapak, Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk
pembuangan air yang ada.
2. Arah aliran ditujukan ke daerah/permukaan yang terendah yang ada di
tapak atau ke saluran yang sudah ada di lingkungan daerah pembangunan.

3. Pembuatan saluran sementara harus sesuai petunjuk dan persetujuan


Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas.
1.1.9 Mengadakan Pengukuran dan Pemasangan Bowplank.
1. Pengukuran Tapak Kembali.
a. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran
kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-
keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-
batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.
b. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan
lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Direksi/
Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk dimintakan
keputusannya.
c. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan
alat-alat waterpass/Theodolite yang ketepatannya dapat
dipertanggung jawabkan.
d. Kontraktor harus menyediakan Theodolith/waterpass beserta petugas
yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Direksi/ Konsultan
Manajemen Konstruksi/ Pengawas pelaksanaan proyek.
e. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas
Segitiga Phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil
yang disetujui oleh Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
f. Segala pekerjaan pengukuran dan persiapan termasuk tanggungan
Kontraktor.

2. Tugu Patokan Dasar (Bench Mark)


a. Letak dan jumlah tugu patokan dasar ditentukan oleh Direksi.
b. Tugu patokan dasar dibuat dari beton berpenampang sekurang-
kurangnya 20 x 20 cm, tertancap kuat kedalam tanah sedalam 1 meter
dengan bagian yang menonjol diatas muka tanah secukupnya untuk
memudahkan pengukuran selanjutnya dan sekurang-kurangnya
setinggi 40 cm diatas tanah. Tugu patokan dasar harus dilengkapi
dengan titik ukur dari bahan logam dan diangkurkan ke beton.
c. Tugu patokan dasar dibuat permanen, tidak bisa diubah, diberi tanda
yang jelas dan dijaga keutuhannya sampai ada instruksi tertulis dari
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk
membongkarnya.
d. Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan termasuk tanggungan
kontraktor
e. Pada setiap tugu patok dasar harus tertera dengan jelas kode koordinat
dan ketinggian (elevasi) nya.

3. Pengukuran dan Titik Peil (0.00) Bangunan.


Kontraktor harus mengadakan pengukuran yang tepat berkenaan dengan
letak/kedudukan bangunan terhadap titik patok/pedoman yang telah
ditentukan, siku bangunan maupun datar (waterpas) dan tegak lurus
bangunan harus ditentukan dengan memakai alat waterpas
instrument/ theodolith. Hal tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan tegel,
langit-langit dan sebagainya dengan hasil yang baik dan siku.
Untuk mendapatkan titik peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi yang
tercantum pada gambar rencana (Lay Out), dan bila terjadi penyimpangan
atau tidak sesuainya antara kondisi lapangan dan gambar Lay Out,
Kontraktor harus melapor pada Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.

4. Pemasangan Bouplank.
a. Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran
persiapan bouplank/ pengukuran pekerjaan sesuai dengan referensi
ketinggian, dan benchmark yang diberikan Direksi secara tertulis, serta
bertanggung jawab atau ketinggian, posisi, dimensi, serta kelurusan
seluruh bagian pekerjaan serta pengadaan peralatan, tenaga kerja
yang diperlukan.
b. Bilamana suatu waktu dalam proses pembangunan ternyata ada
kesalahan dalam hal tersebut diatas, maka hal tersebut merupakan
tanggung jawab Kontraktor serta wajib memperbaiki kesalahan tersebut
dan akibat-akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut disebabkan
terdapat referensi tertulis dari Direksi/ Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas.
c. Pengecekan pengukuran atau lainnya oleh Direksi atau wakilnya tidak
menyebabkan tanggung jawab Kontraktor menjadi
berkurang.Kontraktor wajib melindungi semua benchmark, dan lain-
lain atau seluruh referensi dan realisasi yang perlu pada pengukuran
pekerjaan ini.

5. Bahan dan Pelaksanaan Bouplank


a. Tiang bowplank menggunakan kayu kruing ukuran 5/7 dipasang setiap
jarak 2,00 m', sedangkan papan bouplank ukuran 2/20 cm dari kayu
meranti diketam halus dan lurus bagian atasnya dan dipasang datar
(waterpas).
b. Pemasangan bowplank harus sekeliling bangunan dengan jarak 2,00
m1 dari as tepi bangunan dengan patok-patok yang kuat, bouplank
tidak boleh dilepas/dibongkar dan harus tetap berdiri tegak pada
tempatnya sehingga dapat dimanfaatkan hingga pekerjaan mencapai
tahapan trasram tembok bawah.

1.2 HEALTH AND SAFETY ENVIRONTMENT (HSE)


1.2.1 Lingkup Pekerjaan
1. Menyediakan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan alat alat bantu lainnya
untuk melaksanakan pekerjaan seperti dinyatakan dalam RKS ini dengan hasil
yang baik dan sempurna.
2. Harga pekerjaan ini termasuk dalam skope pekerjaan persiapan, bilamana tidak
tercantum pada item pekerjaan maka pekerjaan ini tetap merupakan kewajiban
yang harus dilaksanakan.
3. Indikator keberhasilan adalah Pelaksanaan proyek berjalan dengan tertib, aman
dan tidak ada kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan proyek.
1.2.2 Standard dan Persyaratan.
Standard dan persyaratan yang berlaku mengikuti:
1. Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/ KPTS/1998 tentang
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per. 01/MEN/1980 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan;
4. Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum
No. Kep. 174/MEN/1986, dan No. 104/KPTS/1986 tentang K3 Pada Tempat
Kegiatan Konstruksi;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2008 tentang Pedoman
SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum;

1.2.3 Akses, Pagar Pengaman Proyek, Barrier, Perlindungan pada bangunan yang
sudah ada dan lingkungan sekitar.
1.2.3.1 Akses Keluar Masuk Proyek
a. Akses kerja adalah area kantor proyek, area pabrikasi, area yang dikerjakan
dan akses/jalur yang menghubungkan ketiga-tiganya. Direncanakan dan
disiapkan terlebih dulu sebelum digunakan.
b. Tersedia pintu masuk dan pintu keluar, baik untuk rutin dan darurat di kantor
proyek serta terjaga dengan baik.
c. Ada batas atau tanda peringatan atau pagar yang memberi tanda area kerja
kantor proyek, pabrikasi area kerja lapangan dan jalur/akses penghubung
terhadap area umum masyarakat
d. Jalan dan jalur lintas pekerja diberi batas dan pengaman serta tanda peringatan
yang jelas, terutama yang bersinggungan dengan Pekerja Konstruksi dan atau
masyarakat umum
1.2.3.2 Perlindungan Pada Bangunan Sudah Ada dan Lingkungan Sekitar.
Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan perlindungan terhadap Pihak
Ketiga dan pengawasan keamanan dalam hubungannya dengan pekerjaan.
Kontraktor akan menyediakan perlindungan seperlunya untuk mencegah
terjadinya kerusakan atau kehilangan dari :
a. Semua pekerjaan dan orang yang mungkin berkepentingan dalam pekerjaan.
b. Semua pekerjaan dan bahan-bahan serta alat perlengkapan yang harus
ditempatkan dengan aman dibawah pengawasan Kontraktor atau salah satu
Sub Kontraktor.
c. Harta benda ditapak pekerjaan atau yang berbatasan dengan pekerjaan.
d. Semua harta benda milik orang lain atau Pihak ketiga disekitar lokasi pekerjaan.

Kontraktor harus mematuhi semua hukum, peraturan dan ketentuan-ketentuan


yang berlaku mengenai keamanan orang, harta benda dan melindungi dari
kerusakan, cidera atau kehilangan.
Kontraktor diharuskan memperbaiki dan mengganti kerugian, apabila ternyata lalai
terhadap kewajiban yang disebutkan diatas.

1.2.4 Kebersihan harian, Pembersihan lokasi proyek, pembuangan sisa material keluar
lokasi Proyek.
Kontraktor harus, menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh terhadap
kebersihan proyek dari hari kehari, pengendalian kebersihan lingkungan dan
pengaruhnya lingkungan dan bahwa semua penyediaan sarana dan prasarana
untuk pencegahan yang berhubungan dengan polusi lingkungan dan perlindungan
lahan serta lintasan air disekitarnya dengan memperhatikan:
a. Bahan, material yang berserakan harus dirapihkan baik sebelum, selama kerja
dan setelah jam kerja.
b. Alat kerja, perkakas lainnya yang digunakan tidak boleh merintangi dan
membahayakan akses kerja dan disimpan setelah selesai jam kerja.
c. Tempat sampah sesuai jenis sampah dan volume yang terjadi, selalu
dibersihkan dan dikumpulkan serta siap diangkut keluar proyek.
d. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk, harus ada jadual dan pembersihan
yang rutin
e. Tempat Kerja yang licin karena air, minyak, atau zat lainnya harus segera
dibersihkan
f. Semua orang wajib menyingkirkan paku yang berserakan, kawat/besi menonjol,
potongan logam yang tajam, semuanya yang dapat membahayakan.
g. Untuk mencegah polusi debu selama musim kering, Kontraktor harus
melakukan penyiraman secara teratur kepada jalan angkutan tanah atau jalan
angkutan kerilkil dan harus menutupi truk angkutan dengan terpal.
h. Jumlah bahan/material yang tersedia di lapangan untuk digunakan hari ini tidak
berlebihan, agar tidak mengganggu dan membahayakan akses kerja
(selebihnya dikembalikan ke gudang umum).
i. Material sisa, bahan bongkaran dan sampah secara rutin dibawa keluar lokasi
proyek dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

1.2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1.2.5.1 Pengendalian Resiko
Potensi Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi untuk terjadinya insiden yang
berakibat pada kerugian.
Risiko adalah kombinasi dan konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan
peluang terjadinya kejadian tersebut.
Jenis- jenis kecelakaan yang sering terjadi pada proyek konstruksi adalah sebagai
berikut :
a. Jatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Menginjak, terantuk, dan terbentur
d. Terjepit dan terperangkap
e. Kontak suhu tinggi/terbakar
f. Kontak aliran listrik
Untuk itu Kontraktor wajib melakukan Rencana Pemantauan Keselamatan dengan
melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Mempersiapkan rencana kerja dengan metode kerja dan rencana cara
berkerja yang memperhatikan :
• Resiko-resiko yang mungkin timbul dari setiap jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
• Perhatikan jenis-jenis kecelakaan yang sering terjadi pada kegiatan
tersebut.
• Adanya alat-alat konstruksi yang bergerak.
• Untuk lokasi-lokasi kritis atau tindakan yang akan menimbulkan bahaya
bagi pekerja maka Kontraktor wajib menyediakan seorang petugas yang
membantu mengingatkan Pekerja saat melakukan pekerjaannya.
b. Kontraktor wajib menyediakan peralatan safety yang sesuai dengan jenis dan
lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan.
c. Form Rencana Pematauan Keselamatan wajib diserahkan dan ditanda
tangani oleh Konsultan Pengawas sebelum pekerjaan yang bersangkutan
dilaksanakan.
Pekerjaan yang memerlukan Rencana Pemantauan Keselamatan dan ijin kerja
dari Konsultan Pengawas:
a. Bekerja terkait dengan pemeliharaan, pembersihan
b. Menggunakan bahan mudah terbakar
c. Bekerja berhubungan dengan listrik
d. Pasang, bongkar, pindah perancah (scaffolding)
e. Memindahkan barang/benda berat
f. Pekerjaan pembongkaran
g. Bekerja diluar jam kerja normal tanpa pengawas
h. Penggalian lebih dari 2 (dua) meter
i. Bekerja di ketinggian

1.2.5.2 Fasilitas Pekerja


a. Air minum
Tersedia air minum untuk pekerja yang memenuhi standard kesehatan.
b. Air bersih
Ada tersedia bak air bersih dengan ukuran cukup untuk cuci tangan demi
menjaga kebersihan dan sejumlah Toilet yang memadai bagi jumlah pekerja
yang ada.
c. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Setiap aktivitas/ proses pekerjaan yang dilakukan di tempat kerja
mengandung resiko untuk terjadinya kecelakaan kerja (ringan sampai
dengan berat), berbagai upaya pencegahan dilakukan supaya kecelakaan
tidak terjadi. Selain itu, keterampilan melakukan tindakan pertolongan
pertama tetap diperlukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya
kecelakaan. Oleh karena itu di setiap tempat kerja harus memiliki petugas
P3K (First Aid), atau setidaknya setiap karyawan memiliki keterampilan
dalam melakukan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan kerja
maupun kegawatan medic.

1.2.5.3 Alat Pelindung Diri


Kontraktor wajib menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para Pekerja
maupun Tamu yang dating ke lokasi proyek dengan menyediakan Peralatan
keselamatan kerja yang berfungsi untuk mencegah dan melindungi Pekerja
maupun pengunjung proyek dari kemungkinan mendapatkan kecelakaan kerja.
APD utama yang wajib disediakan adalah Helm pelindung dan Safety shoes
sedangkan APD lain disediakan sesuai jenis pekerjaan yang dilaksanakan.
Macam-macam dan jenis APD dapat berupa:
a. Helmet: Topi/Pelindung kepala Melindungi dari kejatuhan benda, benturan
benda keras, diterpa panas dan hujan
b. Safety Shoes: Pelindung kaki Melindungi kaki dari benda tajam, tersandung
benda keras, tekanan dan pukulan, lantai yang basah, lincir dan berlumpur,
disesuaikan dengan jenis bahayanya
c. Safety Glasses: Kaca mata/Kedok Las Melindungi dari sinar las, silau, partikel
beterbangan, serbuk terpental, radiasi, cipratan cairan berbahaya
d. Earplug: Pelindung telinga/Earmuff Melindungi dari suara yang menyakitkan
terlalu lama, dengan batas kebisingan diatas 85 db.
e. Sarung Tangan/karet/kulit/kain/plastic : Melindungi tangan dari bahan kimia
yang korosif, benda tajam/kasar, menjaga kebersihan bahan, tersengat listrik.
f. Safety belt/ harness : Melindungi dari bahaya jatuh dari ketinggian kerja diatas
2 meter dan sekeliling bangunan.

Seluruh peralatan APD yang digunakan memenuhi standard SNI.


Selama bekerja Pekerja wajib menggunakan baju kerja yang sesuai, baju dengan
lengan dan celana panjang.
1.2.5.4 Rambu-rambu dan Tanda bahaya
Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah sebuah media visual berupa
gambar piktogram untuk ditempatkan di area pabrik yang memuat pesan-pesan
agar setiap Pekerja selalu memperhatikan aspek-aspek kesehatan dan
keselamatan kerja.
Fungsi Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3 adalah.
a. Untuk mengetahui larangan atau memenuhi perintah/ permintaan,
peringatan atau untuk memberi informasi
b. Mencegah kecelakaan (mengisyaratkan terhadap suatu bahaya)
c. Mengindikasikan lokasi perlengkapan keselamatan dan pemadam
kebakaran
d. Memberi arahan dan petunjuk tentang prosedur keadaan darurat.
Kontraktor wajib menyediakan Safety Sign/ Rambu Keselamatan/ Rambu K3
secukupnya untuk hal-hal tersebut diatas.
1.2.5.5 Pencegahan Kebakaran
Kebakaran merupakan kejadian yang dapat menimbulkan kerugian pada jiwa,
peralatan produksi, proses produksi dan pencemaran lingkungan kerja.
Khususnya pada kejadian kebakaran yang besar dapat melumpuhkan bahkan
menghentikan proses konstruksi, sehingga ini memberikan kerugian yang sangat
besar.
Untuk mencegah hal ini Kontraktor wajib melakukan upaya-upaya
penanggulangan kebakaran.
a. Pengendalian setiap bentuk energi;
b. Penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi
c. Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas;
d. Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
e. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara
berkala;
f. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi
tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga
kerja dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan
berat.
Kontraktor wajib melatih pekerjanya dalam upaya yang pengendalian setiap
bentuk energi :
a. Melakukan identifikasi semua sumber energi yang ada di tempat kerja/
perusahaan baik berupa peralatan, bahan, proses, cara kerja dan lingkungan
yang dapat menimbulkan timbulnya proses kebakaran (pemanasan, percikan
api, nyala api atau ledakan);
b. Melakukan penilaian dan pengendalian resiko bahaya kebakaran
berdasarkan peraturan perundangan atau standar teknis yang berlaku.
Pada Lokasi proyek tidak diijinkan sama sekali untuk Merokok.
1.2.5.6 Asuransi
Asuransi Pekerja Konstruksi
Kontraktor diwajibkan untuk mengansuransikan personil lapangan termasuk
personil Sub Kontraktor terhadap bahaya kecelakaan dan keehatan yang mungkin
terjadi selama waktu pelaksanaan Konstruksi.
Asuransi untuk personil Kontraktor harus dapat digabung dalam satu paket polis
asuransi ASTEK/ BPJS/ Atau jenis asuransi lainnya.
BAB 4
PEKERJAAN TANAH

4.1. PEKERJAAN GALIAN TANAH


4.1.1 Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja , Bahan dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat
bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini
dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi ini.
2. Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini meliputi galian tanah untuk pile cap, balok pondasi dan struktur
lainnya yang terletak didalam atau diatas tanah , seperti tercantum didalam
gambar rencana atau sesuai kebutuhan. Kontraktor agar pekerjaannya dapat
dilaksanakan dengan lancar, benar dan aman.
3. Pembersihan Akar Tanaman dan Bekas Akar Pohon.
Akar tanaman dan bekas akar pohon yang terdapat didalam tanah dapat
membusuk dan menjadi material organik yang dapat mempengaruhi kekuatan
tanah. Pada seluruh lokasi proyek dimana tanah berfungsi sebagai pendukung
bangunan khususnya pendukung lantai terbawah, maka akar tanaman dan
sisa akar pohon harus digali dan dibuang hingga bersih. Lubang bekas galian
tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
4. Pohon-Pohon Pada Lahan Proyek.
Sebagian pohon pada proyek ini harus dipertahankan. Kontraktor wajib
mempelajari hal ini dengan teliti sehingga tidak melakukan penebangan pohon
tanpa koordinasi dengan Direksi Pengawas. Pohon yang terletak pada
bangunan yang akan dibangun dapat ditebang.

4.1.2 Syarat-Syarat Pelaksanaan


1. Level Galian
Galian tanah harus dilaksanakan sesuai dengan level yang tercantum didalam
gambar rencana. Kontraktor harus mengetahui dengan pasti hubungan antara
level bangunan terhadap level muka tanah asli dan jika hal tersebut belum
jelas harus segera didiskusikan hal ini dengan Konsultan Manajemen
Konstruksi/ Pengawas sebelum galian dilaksanakan. Kesalahan yang
dilakukan akibat hal ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.
2. Jaringan Utilitas.
Apabila ternyata terdapat pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon dan
lain-lain, maka Kontraktor harus secepatnya memberitahukan hal ini kepada
Direksi/ Konsultan Manajemen Konstruksi/ Pengawas untuk mendapatkan
penyelesaian. Kontraktor bertanggung jawab atas segala kerusakan akibat
kelalaiannya dalam mengamankan jaringan utilitas ini. Jaringan utilitas aktif
yang ditemukan dibawah tanah dan terletak didalam lokasi pekerjaan harus
dipindahkan ke suatu tempat yang disetujui oleh Direksi Pengawas atas
tanggungan Kontraktor.
3. Galian Yang Tidak Sesuai
Jika galian dilakukan melebihi kedalaman yang telah ditentukan, maka
kontraktor harus mengisi/ mengurug kembali galian tersebut dengan bahan
urugan yang memenuhi syarat dan harus dipadatkan dengan cara yang
memenuhi sayarat, atau galian tersebut dapat diisi dengan material lain seperti
adukan beton.
4. Urugan Kembali
Pengurugan kembali bekas galian harus dilakukan sesuai dengan yang
disyaratkan pada bab mengenai pekerjaan urugan dan pemadatan. Pekerjaan
pengisian kembali ini hanya boleh dilakukan setelah diadakan pemeriksaan
dan mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
5. Pemadatan Dasar Galian
Dasar galian harus rata dan bebas dari akar-akar tanaman atau bahan-bahan
organis lainnya. Selanjutnya dasar galian harus dipadatkan sesuai dengan
persyaratan yang berlaku.
6. Air Pada Galian
Kontraktor harus mengantisipasi air yang terdapat pada dasar galian dan wajib
menyediakan pompa air atau pompa lumpur dengan kapasitas yang memadai
untuk menghindari genangan air dan lumpur pada dasar galian. Kontraktor
harus merencanakan secara benar, kemana air tanah harus dialirkan,
sehingga tidak terjadi genangan air/ banjir pada lokasi disekitar proyek.
Didalam lokasi galian harus dibuat drainase yang baik agar aliran air dapat
dikendalikan selama pekerjaan berlangsung.
7. Struktur Pengaman Galian dan Pelindung Galian
Jika galian yang harus dilakukan ternyata cukup dalam , maka kontraktor
harus membuat pengaman galian sedemikan rupa sehingga tidak terjadi
kelongsoran pada tepi galian. Galian terbuka hanya diijinkan jika diperoleh
kemiringan lebih besar 1:2 (vertikal : horisontal). Sisi galian harus dilindungi
dengan adukan beton terpasang., maka galian tersebut harus dilindungi
dengan material kedap air seperti lembaran terpal/ kanvas sehingga sisi galian
tersebut selalu terlindung dari hujan maupun sinar matahari.
8. Perlindungan Benda yang Dijumpai
Kontraktor harus melindungi atau menyelamatkan benda-benda yang yang
dilindungi selama pekerjaan galian terpasang. Kecuali disetujui untuk
dipindahkan, benda-benda tersebut harus tetap berada di tempatnya dan
kerusakan yang terjadi akibat kelalaian kontraktor harus diperbaiki/ diganti
oleh kontraktor.
9. Urutan Galian Pada Level Berbeda
Jika kedalaman galian berbeda satu dengan lainnya, maka galian harus
dimulai pada bagian yang lebih dalam dahulu dan seterusnya.

4.2 PEKERJAAN URUGAN SIRTU

4.2.1 Lingkup Pekerjaan


1. Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan,penghamparan dan
pemadatan tanah, sirtu atau bahan bebutir yang disetujui untuk pembuatan
urugan, untuk penimbunan kembali galian dan untuk urugan umum yang
diperlukan untuk membentuk dimensi urugan sesuai dengan garis
,kelandaian, dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau
disetujui.
2. Urugan yang dicakup dalam hal ini,yaitu urugan biasa dan urugan pilihan.
3. Urugan pilihan akan digunakan sebagai lapis perbaikan tanah dasar (improve
sub grade) untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar.
4. Pekerjaan ini juga mencakup urugan secara manual atau mekanis, dikerjakan
sesuai dengan Spesifikasi ini dan sangat mendekati garis dan ketinggian yang
ditujukan dalam gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi
Pengawas

4.2.2 Persyaratan Bahan


Standard dan persyaratan perkerjaan urugan sirtu wajib memenuhi:
• Standar Nasional Indonesia (SNI)
• SNI 03-1742-1989 : Metoda Pengujian kepadatan ringan untuk tanah
• SNI 03-1744- 1989: Metoda Pengujian CBR Laboratorium
• SNI 03-Z828-1992 : Metoda pengujian kepadatan lapangan dengan alat konus
pasir.

4.2.3 Persyaratan Bahan


1. Standard Bahan Sirtu
a. Agregat pasir memenuhi persyaratan di bawah ini :
• Agregat pasir harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras dengan
indikasi kekerasan
• Butir-butir agregat halus harus bersifat kekal
• Agregat pasir tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton,
seperti zat-zat yang reaktif alkali
b. Agregat lempung memenuhi persyaratan di bawah ini :
• Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak
• Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan
terhadap berat kering)
c. Agregat batuan memenuhi persyaratan di bawah ini :
• Ukuran maksimum, ft2 : 75 (ASTM C615-80)
− Densitas lbs/ ft2 : (ASTM C-97)
− Rendah 150
− Minimal diinginkan 160
− Tinggi 190
• Penyerapan air % berat :(ASTM C-121) (ASTM C-97)
− Rendah : 0,02
− Minimal diinginkan : 0,40
− Kuat tekan, ksi : (ASTM C-170)
− Minimal diinginkan 90
− Tinggi 52
• Kuat tarik, ksi : (ASTM C-99)
− Minimal diinginkan : 1,5
− Tinggi : 5,5
− Rendah 2
− Tinggi 10
− Ketahanan Abrasi : tidak diinginkan (ASTM C-241)

2. Sirtu Pilihan yang digunakan adalah Sirtu Pilihan yang itdak mengandung lumpur
dan ukuran butiran kerikil antara 1 cm s/d 4 cm.
3. Material yang digunakan harus memenuhi persyaratan sirtu kelas B.
4. Seluruh material harus bersih dari kotoran organic dan mineral.
5. Kontraktor wajib menjelaskan asal usul bahan sirtu.
6. Ketentuan Kepadatan untuk tanah,Sirtu
• Lapisan Tanah ,Sirtu yang lebih dari 30 cm dibawah elevasi permukaan harus
dipadatkan dalam dalam lapisan - lapisan urugan dengan ketebalan
maksimum 30 cm dan tidak boleh kurang dari 10 cm, kepadatan level terakhir
mencapai 60 % dari kepadatan kering maksimum atau sesuai yang di jelaskan
oleh Perencana.
• Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis urugan yang
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian
menunjukan kepadatan kurang yang disyaratkan , maka Kontraktor harus
memperbaiki pekerjaan ini. Pengujian harus dilakukan pada kedalaman penuh
pada lokasi yang diperintahkan oleh Direksi Pengawas, tetapi tidak boleh
berselang lebih dari 50 m untuk setiap lebar hamparan.

4.2.4 Persyaratan Pelaksanaan


1. Persiapan
a. Paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan dimulai untuk setiap urugan awal yang
akan dilaksanakan, Kontraktor harus :
• Menyerahkan Gambar hasil penampang melintang dasar urugan yang
menunjukan permukaan yang telah dipersiapkan untuk penghamparan
urugan kepada Direksi Pengawas.
• Menyerahkan hasil pengujian kepadatan dasar urugan yang membuktikan
bahwa pemadatan pada permukaan yang telah memenuhi persyaratan.
b. Kontraktor harus menyerahkan hal – hal berikut ini kepada. Direksi Pengawas
paling lambat 14 hari sebelum tanggal yang diusulkan untuk penggunaan
pertama kalinya sebagai bahan urugan.
• Dua contoh masing-masing 50 kg untuk setiap jenis bahan,satu contoh
harus disimpan oleh Direksi Pengawas untuk rujukan selama perioda
kontrak.
• Pernyataan tentang asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan
untuk bahan urugan,bersama-sama dengan hasil pengujian laboratorium
yang menunjukan sifat sifat bahan tersebut memenuhi ketentuan yang
disyaratkan.
c. Kontraktor harus menjamin bahwa pekerjaan harus dijaga tetap kering segera
sebelum dan selama pekerjaan pekerjaan penghamparan dan pemadatan,dan
selama pelaksanaan urugan haurs mempunyai lereng melintang yang cukup
untuk membantu drainase badan jalan dari setiap curahan air hujan dan juga
harus menjamin pekerjaan akhir mempunyai Metoda Kerja drainase yang baik.
Bilamana memungkinkan air yang berasal dari tempatkerja ,harus dibuang
kedalam sistim drainase permanen.
d. Kontraktor harus selalu menyediakan pasokan air yang cukup untuk
pengendalian kadar air urugan selama noprasi penghaparan dan pemadatan.
e. Perbaikan Terhadap Urugan yang tidak memenuhi ketentuan /tidak stabil.
• Urugan akhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang
disyaratkan atau disetujui atau toleransi permukaan yang disyaratkan
harus diperbaiki dengan menggemburkan permukaanya dan membuang
atau menambah bahan sebagaimana yang diperlukan dan dilanjutkan
dengan pembentukan dan pemadatan kembali.
• Lapis hamparan urugan yang terlalu kering untuk dipadatkan,dalam hal
batas-batas kadar airnya yang disyratkan, harus diperbaiki dengan
menggaruk bahan tersebut,dilanjutkan dengan penyemprotan air
secukupnya,dan dicampur seluruhnya dengan mengunakan Motor
Ggreader atau peralatan lian yang disetujui.
• Urugan yang telah padat dan memenuhi ketentuan yang disyratkan dalam
Spesifikasi ini, menjadi jenuh akibat hujan atau banjir atau karena hal lain,
biasanya tidak memerlukan perkerjaan perbaikan asalkan sifat-sifat bahan
dan kerataan permukaan masih memenuhi ketentuan dalam spesifikasi
ini.
f. Pengembalian Bentuk Pekerjaan setelah Pengujian.
Semua lubang pada pekerjaan akhir yang timbul akaibat pengujian
Kepadatan atau lainya harus secepatnya ditutup kembali oleh Kontraktor
dan dipadatkan sampai mencapai kepadatan dan toleransi permukaan
yang disyaratkan oleh spesifikasi ini.
g. Cuaca Yang Dijinkan Untuk Bekerja.
Urugan tanah tidak boleh ditempatkan dihampar atau dipadatkan sewaktu
hujan, dan pemadatan tidak boleh dilahsanakan setelah hujan atau
bilamana kadar air bahan diluar rentang yang disyaratkan.
h. Untuk menghasilkan hamparan dengan tebal padat 30 cm atau yang
disyaratkan Kontraktor harus menyampaikan metoda kerja yang akan
dilakukan.
i. Pelaksanaan Urugan Badan Jalan harus dikerjakan setengah lebar jalan
sehingga setiap saat jalan tetap terbuka untuk lalu – lintas.
j. Sebelum penghamparan urugan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak
diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pengawas
sesuai dengan Spesifikasi ini.
k. Kontraktor harus memasang patok batas dasar urugan 3 hari sebelum
pekerjaan dimulai.
l. Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin
keselamatan pekerja yang melaksanakan pekerjaan galian serta penduduk
sekitar.
m. Pada setiap saat sewaktu pekerja atau yang lainya berada dalam galian yang
mengharuskan kepada mereka berada dipermukaan tanah, kontraktor harus
menempatkan pengawas keamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya
memonitor kemajuan dan keamanan. Pada setiap saat peralatan galian
cadangan(yang belum terpakai) serta perlengkapan P3K harus tersedia pada
tempat kerja galian.
n. Seluruh galian terbuka harus diberi penghalang yang cukup untuk mencegah
pekerja atau orang lain terjatuh kedalamnya, dan setiap galian terbuka pada
badan jalan atau bahu jalan harus ditambah dengan rambupada malam hari
dengan drunm dicat putih (atau yang serupa) ketentuan pengaturan dan
pengendalian lalu – lintas selama pelaksanaan kostrukasi harus diterapkan
pada seluruh galian dalam daerah milik jalan.
2. Penghamparan Urugan
a. Urugan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar
dalam lapisan yang merata yang setelah dipadatkan akan memenuhi toleransi
tebal lapisan yang disyaratkan. Bilamana urugan terakhir yang dipadatkan
lebih dari 30 cm dan kurang dari 60 cm maka dibagi 2 sama tebalnya.
b. Tanah /Sirtu urugan diangkut langsung dari luar sumber bahan ke permukaan
yang yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah. Penumpukan tanah di
lokasi sumber ataupun dilokasi urugan untuk persedian tidak diperkenankan,
terutama selama musim hujan kecuali dengan perlindungansehingga air hujan
tidak membasahi tumpukan Tanah / Sirtu.
c. Penimbunan dalam suatu lokasi(lot)dan pada satu lapis hanya boleh
digunakan bahan tanah yang berasal dari satu sumber galian dan yang
seragam.
d. Bilamana urugan badan jalan akan dipelebar, pelebaran urugan harus
dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar jalan
lama, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi
bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang
diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin,dengan
demikian pembangunan dapat dilanjutkan kesisi jalan lainya bilamana
diperlukan.
3. Pemadatan Urugan
a. Segera setelah penempatan dan penghamparan urugan, setiap lapis harus
dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Direksi
Pengawas sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan.
b. Pemadatan urugan tanah harus dilaksanakan hanya, bilamana kadar air
bahan berada dalam rentang 3% dibawah kadar air oftimum sampai 1% diatas
kadar air optimum.
c. Setiap lapisan urugan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang
dsyaratkan , diuyji kepadatanya dan harus diterima oleh Direksi Pengawas
sebelum lapisan berikutnya dihampar.
d. Urugan harus dipadatkan mulai dari tepi terendah dan bergerak menuju ke
arah elevasi tertinggi sumbu jalan, sehingga setiap titik akan menerima energi
pemadatan yang sama.
e. Urugan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin
gilas,harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih
dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis dengan berat
kurang lebih 70 kg atau timbris(tamper)manual dengan berat minimum 10 kg.
Pemadatan dibawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian Khusus
untuk mencegah timbulnya rongga-rongga , dan untuk menjamin bahwa pipa
terdukung sepenuhnya.
4. Pengendalian Mutu
a. Penerimaan Bahan
• Jumlah data pendukung hasil pengujian yang diperlukan untuk
persetujuan awal mutu bahan akan ditetapkan ditetapkan oleh Direksi
Pengawas , tetapi bagaimanapun juga harus mencakup seluruh pengujian
yang disyaratkan dengan satu rangkaian pengujian bahan yang lengkap,
untuk setiap jenis tanah dari setiap sumber bahan setelah setelah
persetujuan terhadap mutu bahan urugan yang diusulkan, Direksi
Pengawas dapat memintakan pengujian mutu bahan ulang untuk
mencegah terjadinya perubahan sifat bahan.
• Pengandalian mutu bahan harus rutin dilaksanakan untuk mengendalikan
setiap perubahan mutu bahan yang dibawa ke lapangan. Setiap
perubahan sumber bahan paling sedikit harus dilakukan satu pengujian
untuk menentukan bahan urugan ketentuan, seperti yang disyaratkan.
Direksi Pengawas setiap saat dapat memerintahkan dilakukanya uji ke
ekspansif an sesuai SNI 03-6795-2002.
b. Percobaan Pemadatan Lapangan
Kontraktor harus menyampaikan usulan percobaan pemadatan termasuk
memilh Metoda dan peralatan untuk mendapatkan ketebalan dan tingkat
kepadatan yang disyaratkan. Bilamana Kontraktor tidak dapat mencapai
kepadatan yang disyaratkan, prosedur pemadatan berikut ini harus diikuti:
• Mengganti alat pemadat yang lebih sesuai atau lebih berat.
• Percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan variasi jumlah lintasan
alat pemadat dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai,
sehingga dapat diterima oleh Direksi Pengawas
c. Hasil percobaan lapangan ini selanjutnya dapat digunakan Kontraktor sebagai
bahan untuk menetapkan pola lintasan pemadatan, jumlah lintasan, jenis jenis
alat pemadat dan kadar air untuk seluruh pemadatan berikutnya.
d. Ketentuan Kepadatan untuk tanah,Sirtu
Lapisan Tanah ,Sirtu yang lebih dari 30 cm dibawah elevasi permukaan harus
dipadatkan dalam dalam lapisan - lapisan urugan dengan ketebalan
maksimum 30 cm dan tidak boleh kurang dari 10 cm, kepadatan level terakhir
mencapai 60 % dari kepadatan kering maksimum atau sesuai yang di jelaskan
oleh Perencana.
e. Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis urugan yang
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian
menunjukan kepadatan kurang yang disyaratkan , maka Kontraktor harus
memperbaiki pekerjaan ini. Pengujian harus dilakukan pada setiap luas 500m2
atau 1000 m2 luas lokasi yang ditimbun (tergantung luas dan petunjuk
Perencana) pada lokasi yang diperintahkan oleh Direksi Pengawas.
f. Toleransi Dimensi
• Setelah pemadatan lapis dasar perkerasan (sub grade), toleransi elevasi
permukaan tidak boleh lebih dari 20 mm dan toleransi kerataan maksimum
10 mm yang diukur dengan mistar panjang 3 m arah memanjang dan
melintang.
• Seluruh permukaan akhir urugan yang terekpos harus cukup rata dan
harus memiliki memiliki kelandaian yang cukup untuk menjamin aliran air
permukaan yang bebas.
• Permukaan akhir lereng urugan tidak boleh bervariasi lebih dari 10 cm dari
garis profil yang ditentukan.
5. Pengukuran dan Pembayaran
a. Retribusi bahan galian untuk Urugan
Bilamana bahan galian tanah biasa atau bahan urugan pilihan atau lapis pondasi
agregat, atau bahan lainya dari galian sumber bahan di luar daerah milik jalan,
Kontraktor harus dilakukan pengaturan yang diperlukan dan membayar
kepemilikan bahan konsesi kepada pemilik tanah maupun retribusi dan ijin
pengangkutan kepada pihak yang bewenang.
b. Pengukuran Urugan (unit price contract)
Kontraktor wajib melakukan menyampaikan berkas delivery order dan meminta
Persetujuan Direksi Pengawas pada setiap pengiriman bahan nya.
Dari urugan lapis-perlapis Kontraktor wajib bersama-sama dengan Direksi
Pengawas untuk pemeriksaan ketinggian level yang mana hasil
pengukurannya di paparkan dalam berita acara pemeriksaan bersama.
c. Pengukuran Urugan (lumpsum contract fixed price).
Dari urugan lapis-perlapis Kontraktor wajib bersama-sama dengan Direksi
Pengawas untuk pemeriksaan ketinggian level yang mana hasil
pengukurannya di paparkan dalam berita acara pemeriksaan bersama.
d. Dasar Pembayaran (unit price contract)
Pembayaran dilakukan berdasarkan jumlah perhitungan delivery order dan hasil
berita acara pengukuran bersama antara Kontraktor dan Direksi Pengawas
yang menjelaskan level ketinggian urugan.
e. Dasar Pembayaran (lumpsum contract fixed price).
Pembayaran dilakukan berdasarkan hasil berita acara pengukuran bersama
antara Kontraktor dan Direksi Pengawas yang menjelaskan level ketinggian
urugan yang sudah dipenuhi sesuai dengan gambar Perencanaan.
Pada penyerahan hasil akhir semua kepadatan berdasarkan hasil test CBR telah
terpenuhi.

4.3 PEKERJAAN URUGAN PASIR PADAT

4.3.1 Lingkup Pekerjaan


1. Tenaga Kerja, Bahan dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat
bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini
dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi.
2. Lokasi Pekerjaan
Pekerjaan urugan pasir padat dilakukan diatas dasar galian tanah, dibawah
lapisan lantai kerja dan digunakan untuk semua struktur beton yang
berhubungan dengan tanah seperti pile cup, balok pondasi dan pekerjaan
beton lain yang berhubungan langsung dengan tanah.
3. Pembersihan Akar Tanaman dan Sisa Galian.
Jika dibawah dasar galian dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka
dasar galian tersebut harus dibersihkan dari hal tersebut diatas, dan bekas
galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.

4.3.2 Persyaratan Bahan


1. Bahan Urugan Pasir Padat
Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras,
bebas dari lumpur, tanah lempung dan organis. Bahan ini harusmendapat
persetujuan tertulis dari Direksi Pengawas.
2. Air Kerja.
Air yang digunakan harus bersih dan tidak mengandung minyak , asam alkali
dan bahan-bahan organis lainnya, serta dapat diminum . Sebelum digunakan
air harus diperiksa di laboratorium pemeriksaan bahan yang sah. Jika hasil uji
ternyata tidak memenuhi syarat, maka kontraktor wajib mencari air kerja yang
memenuhi syarat.

4.3.3 Syarat-Syarat Pelaksanaan


1. Tebal Pasir Urug.
Jika tidak tercantum dalam gambar kerja , maka dibawah lantai kerja harus
diberi lapisan pasir urug tebal 10 cm padat. Pemadatan harus dilaksanakan
sehingga dapat menerima beban yang bekerja.
2. Cara Pemadatan
Pemadatan dilakukan dengan disiram air dan selanjutnya dipadatkan dengan
alat pemadat yang disetujui Direksi Pengawas. Pemadatan dilakukan hingga
mencapai tidak kurang dari 98 % dari kepadatan optimum laboratorium .
Pemadatan harus dilakukan pada kondisi galian yang memadai agar dapat
menghasilkan kepadatan yang baik. Kondisi galian tersebut harus
dipertahankan sampai pekerjaan pemadatan selesai dilakukan. Pemadatan
harus diulang kembali jika keadaan tersebut diatas tidak terpenuhi.
3. Air Pada Lokasi Pemadatan
Jika air tanah ternyata menggenangi lokasi pemadatan, maka kontraktor wajib
menyediakan pompa dan dasar galian harus kering sebelum pasir urug
diletakkan . Kontraktor harus membuat rencana yang benar , agar air tanah
dapat dialirkan kelokasi yang lebih rendah dari dasar galian., misalnya dengan
membuat sumpit pada tempat tertentu.
4. Tanah di Sekitar Pasir Urug
Kontraktor harus menjaga agar tanah disekitar lokasi tidak tercampur dengan
pasir urug . Jika pasir urug tercampur dengan tanah lainnya , maka konttraktor
wajib mengganti pasir urug tersebut dengan bahan lainnya yang bersih.
5. Persetujuan
Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan, bilamana pekerjaan urugan tersebut
sudah mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Manajemen Konstruksi/
Pengawas.
BAB 5
PEKERJAAN STRUKTUR

5.1. PEKERJAAN PONDASI BATU KALI


5.1.1 Umum
1. Pekerjaan harus meliputi pengadaan seluruh material, galian, dan penyiapan
pondasi sesuai dengan spesifikasi teknik serta memenuhi garis, ketinggian,
potongan dan dimensi seperti yang ditunjukan pada gambar atau sebagaimana
diperlukan secara tertulis oleh Konsultan Pengawas.
2. Ukuran/dimensi pasangan, elevasi serta kelandaian sesuai dengan gambar
rencana.

5.1.2 Persyaratan Bahan


1. Batu Belah
• Batu yang dari alam atau batu galian yang telah dibelah, kasar, bersih, tahan
lama, keras, tahan terhadap pengaruh udara dan air dan cocok dalam segala
hal untuk fungsi yang dimaksud.
• Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling
mengunci bila dipasang bersama.

2. Semen PC
• Jenis Portland Cement (PC) produksi dalam negeri yang memenuhi
persyaratan yang berlaku di Indonesia.
• Semen tidak boleh disimpan terlalu lama dan yang telah menggumpal atau
membatu tidak boleh dipakai dan harus disingkirkan.
• Penyimpanan harus mengikuti spesifikasi serta diletakkan sedemikian rupa
sehingga mudah untuk diperiksa dan diambil

3. Pasir Pasang
• Pasir tersebut terdiri dari butir –butir yang bersih dari segala kotoran.
• Pasir tersebut tidak mengandung lempung atau unsur organik atau non organic
lainya.

4. Air Bersih
Air yang digunakan dalam campuran harus bersih, bebas dari benda – benda yang
mengganggu seperti minyak, garam, asam, basa, busa, gula atau organic lainnya.
Air yang diketahui dapat diminum juga dapat dipakai.
5.1.3 Syarat-Syarat Pelaksanaan
Penyiapan Adukan Campuran (Spesi 1 Pc : 5 Ps)
Adukan semen terdiri dari material Semen, Agregat, dan Air
a. Seluruh material tadi (kecuali air), harus dicampur, baik dalam kotak yang rapat
atau dalam alat pencampuradukan yang telah disetujui, hingga campuran telah
berwarna merata, baru sesudahnya air ditambahkan dan pencampuran
dilanjutkan selama lima sampai sepuluh menit. Jumlah air harus sedemikian
hingga guna menghasilkan adukan dengan konsistensi (kekentalan) yang
diperlukan tetapi tidak boleh melebihi 70 % dari berat semen yang digunakan.
b. Adukan dicampur hanya dalam kwantitas yang diperlukan untuk penggunaan
langsung. Jika perlu, adukan boleh diaduk kembali dengan air dalam waktu 30
menit dari proses pengadukan awal. Pengadukan kembali setelah waktu
tersebut tidak boleh dilakukan.
c. Adukan yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah air ditambahkan harus di
buang.
d. Untuk menghasilkan campuran yang homogen (merata), pengadukan harus
menggunakan Molen dengan kapasitas 0,3 l sampai 0,8 l.
Komposisi Campuran menggunakan 1 Pc : 5 Ps, yaitu 1 bagian semen dicampur
dengan 5 bagian Pasir Pasang, dalam pelaksanaan dilapangan kontraktor harus
membuat kotak takaran dari kayu dengan ukuran yang sama.
5.2 PEKERJAAN BETON STRUKTUR
5.2.1 Pekerjaan Bekisting / acuan
5.2.1.1 Umum
1. Kontraktor harus membuat acuan yang dapat dipertanggung jawabkan secara
struktur baik kekuatan, stabilitas maupun kekakuannya serta layak untuk
digunakan .Acuan merupakan suatu bagian pekerjaan struktur yang berguna
untuk membentuk struktur beton agar sesuai gambar rencana.
2. Jenis acuan harus sesuai dengan yang disyaratkan didalam spesifikasi ini.
Kontraktor dapat mengusulkan alternatif acuan dengan catatan bahwa harus
disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Didalam penawarannya Kontraktor wajib
menawarkan sesuai dengan yang ditentukan didalam spesifikasi.
3. Semua bagian acuan yang sudah selesai digunakan harus dibongkar dan
dikeluarkan dari lokasi pekerjaan. Tidak dibenarkan adanya bagian acuan yang
tertanam di dalam struktur beton.
4. Pada struktur beton kedap air, cara pemasangan acuan dan bukaan pada acuan
harus dibuat sedemikian rupa, sehingga bukaan tersebut harus dapat ditutup
dengan sempurna, sehingg bebas dari kebocoran. Semua pengikat. Semua
pengikat acuan (ties) harus dilengkapi denganmaterial tertentu seperti water
haffles, sehingga pada saat dicor akan menyatu dengan struktur beton.
5.2.1.2 Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan dan Peralatan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan seperti release
agent, pengangkutan dan pelaksanaan untuk menyelesaikan semua pekerjaan
acuan sebagai cetakan beton sesuai dengan gambar-gambar konstruksi dan
gambar-gambar disiplin lain yang berhubungan seperti diuraikan dalam uraian dan
syarat-syarat pelaksanaan, secara aman dan benar.
2. Ditail – ditail Khusus
Pembuatan acuan khusus sesuai yang direncanakan harus termasuk yang
ditawarkan didalam penawaran Kontraktor. Termasuk juga jika menggunakan
material acuan yang khusus untuk menghasilkan ditail khusus
5.2.1.3 Standar Yang Dipakai
Kecuali ditentukan lain didalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar
pelaksanaan digunakan peraturan sebagai berikut :
1. Tata cara perhitungan Struktur Beton untuk bangunan gedung (SK SNI T-15-1991-
03)
2. Pedoman Beton 1989 (SKBI – 1.4.53.1988)
3. Peraturan perencanaan tahan gempa Indonesia untuk Gedung 1983
4. Pedoman perencanaan untuk struktur beton bertulang biasa dan struktur tembok
bertulang untuk gedung 1983
5. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982)/NI-3
6. Peraturan Portland Cement Indonesia 1972/NI-8
7. Mutu dan Cara Uji Sement Portland (SII 0013-81)
8. Mutu dan Cara Uji Sement Beton (SII 0052-80)
9. ASTM C-33 Standard Specification for concrete Agregates
10. Baja Tulangan Beton (SII 0136-84)’
11. Jaringan Kawat Baja Las untuk Tulangan Beton (SII 0784-83)
12. American Socicty for testing and Material setempat (ASTM)
13. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daserah setempat
14. Petunjuk Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran
pada bangunan Rumah dan Gedung (SKBI-2.3.5.3.1987 UDC:699.81:624.04)
15. Tata Cara Penghitungan Pembebanan Untuk Bangunan Rumah Dan Gedung SNI
03-1727-1989.
16. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-1729-
2002.
17. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-2847-
2002.
18. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-
1726-2002.
5.2.1.4 Persyaratan Bahan
1. Acuan dan Penyanggah
Bahan acuan yang dipergunakan dapat membentuk beton, baja, dan pasangan
bata yang diplester dengan Plywood dengan TegoFilm satu sisi yang dapat
dipertanggung jawabkan kualitasnya. Penggunanaan acuan siap pakai produksi
pabrik tertentu diizinkan untuk dipergunakan, selama dapat disetujui oleh Direksi
Pengawas.Pengaku harus dibuat dengan benar agar tidak terjadi perubahan
bentuk/ ukuran dari elemen beton yang dibuat. Penyanggah yang terbuat dari baja
lebih disukai, walau penggunaan material penyanggah dari kayu dapat diterima.
Bahan dan ukuran kayu yang digunakan harus mendapatkan persetujuan Direksi.
Sebagai acuan samping dari beton tersebut dapat menggunakan pasangan batu
kali, batu bata atau material lain yang disetujui Direksi. Untuk elemen beton
tertentu seperti kolom bulat disarankan menggunakan acuan baja.
2. Release Agent
Release agent harus merupakan material yang memenuhi ketentuan berikut ini :
- Cream emulsion
- Neat oil dengan ditambahkan surfactant
- Release agent kimiawi yang tidak merusak beton
Release agent disimpan dan digunakan sesuai dengan ketentuan pabrik
pembuatnya. Kontrktor harus memastikan bahwa release agent yang digunakan
cocok dengan bahan finish yang akan digunakan. Dan jika permukaan beton
merupakan finishing atau umum disebut beton exposed maka Kontraktor harus
memastikan bahwa permukaan beton yang dihasilkan sesuai dengan dokumen
perencanaan. Kontraktor harus memastikan bahwa release agent tersebut tidak
akan bersentuhan langsung dengan besi beton.
5.2.1.5 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Struktur Acuan
Acuan berikut elemen pendukungnya harus dianalisa sedemikian rupa, sehingga
mampu memikul beban kesemua arah yang mungkin terjadi (kuat), tanpa
mengalami deformasi yang berlebihan (kaku) dan harus memenuhi syarat
stabilitas. Deformasi dibatasi tidak lebih dari 1/360 bentang. Peninjauan terhadap
kemungkinan beban diluar beban beton juga harus dipertimbangkan, seperti
kemungkinan beban konstruksi, angin, hujan dan lain-lain. Semua analisa dan
perhitungan acuan berikut elemen pendukungnya harus diserahkan kepada
Direksi Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya, sebelum pekerjaan
dilakukan.
2. Dimensi Acuan
Semua ukuran-ukurann yang tercantum dalam gambar struktur adalah
ukuran bersih penampang beton, tidak termasuk plester/ finishing.
Tambahan elemen tertentu seperti bentuk / profil khusus yang tercantum didalam
gambar arsitektur juga harus dipertimbangkan baik sebagai beban maupun dalam
analisa biaya.
3. Gambar Kerja.
Kontraktor harusmembuat gambar kerja khusus acuan berdasarkan analisa yang
dilakukannya. Gambar kerja jtersebut harus lengkap disertai ukuran dan ditail-ditail
sambungan yang benar dan selanjutnya diserahkan kepada Direksi Pengawas
untuk persetujuannya. Tanpa persetujuan tersebut Kontraktor tidak dipernankan
untuk memulai pembuatan acuan dilapangan.
4. Tanggung Jawab
Walaupun sudah disetujui oleh Direksi, tanggung jawab sepenuhnya atas
kekuatan, kekakuan dan nstabilitas acuan sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor. Jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan perkiraan ataupun
kekeliruan yang mengakibatkan timbulnya biaya tambah, maka semua biaya
tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor. Acuan harus dibuat sesuai dengan
yang dibuat didalam gambar kerja. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan gambar
kerja harus segera dibongkar.
5. Stabilitas Acuan
Semua acuan harus diberi penguat datar dan silang sehingga kemungkinan
bergeraknya acuan selama pelaksanaan pekerjaan dapat dihindari. Direksi
Pengawas berhak untuk meminta Kontraktor untuk memperbaiki acuan yang
dianggap tidak/ kurang sempurna dengan beban biaya Kontraktor.
6. Inspeksi Direksi/ Tim Teknis.
Semua acuan dengan penunjang-penunjang harus diatur sedemikian rupa
sehingga memungkinkan dilakukannya inspeksi dengan mudah oleh Direksi.
7. Detail Acuan
Penyusunan acuan harus sedemikian rupa hingga pada waktu pembongkarannya
tidak menimbulkan kerusakan pada bagian beton yang bersangkutan.
8. Jumlah Pemakaian
Acuan hanya diperbolehkan dipakai maksimum 2 (dua) kali, kecuali ditentukan lain
oleh Direksi. Acuan yang akan digunakan berulang harus dipersiapkan sedemikian
rupa sehingga dapat dijamin permukaan acuan tetap rapih dan bersih.
9. Akurasi.
Acuan harus dapat menghasilkan bagian konstruksi yang ukuran kerataan/
kelurusan, elevasi dan posisinya sesuai dengan gambar-gambar konstruksi.
Toleransi ukuran dan posisi harus sesuai dengan yang tercantum dalam
spesifikasi ini.
10. Sistim Pengaliran Air.
Acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dahulu sebelum pengecoran. Harus
dipersiapkan sistim pengaliran air sedemikian, sehingga pada saat dibasahkan, air
dapat mengalir ketempat yang diinginkan dan acuan tidak tergenang oleh air.
Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga akan terjadi kebocoran atau
hilangnya air semen selama pengecoran, tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan
tidak tergoyang.
11. Ikatan Acuan di Dalam Beton.
Baut-baut dan tie rod yang diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus diatur
sedemikian dan mendapat persetujuan dari Direksi, sehingga bila acuan dibongkar
kembali, tidak akan merusak beton yang sudah dibuat.
12. Acuan Beton Exposed
Jika ada harus dilapisi dengan menggunakan release agent pada permukaan
acuan yang menempel pada permukaan beton. Berhubung release agent
berpengaruh pula pada warna permukaan beton, maka pemilihan jenis dan
penggunaannya harus dilakukan dengan seksama. Cara pengecoran beton harus
diperhitungkan sedemikian rupa sehingga siar-siar pelaksanaan tidak merusak
penampilan beton exposed tersebut. Merk dan jenis relesae agent yang telah
disetujui bersama. Tidak boleh diganti dengan merk jenis lain. Untuk itu Kontraktor
harus memberitahukan terlebih dahulu nama perdangan dari release agent
tersebut, data bahan-bahan bersangkutan, nama produsennya, jenis bahan-bahan
mentah utamanya, cara-cara pemakainnya, resiko-resiko dan keterangan lain
yang dianggap perlu untuk memperoleh persetujuan tertulis dari Direksi.
13. Bukaan Untuk Pembersihan
Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari acuan kolom atau
dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan pembersihan.
14. Scaffolding
Pada prinsipnya semua penunjang acuan harus mengggunakan steger besi
(scaffolding) . Scaffolding tersebut harus cukup kuat dan kaku dan diatur agar
mudah diperiksa oleh Direksi.
15. Persetujuan Direksi.
Setelah pekerjaan diatas selesai, Kontraktor harus meminta persetujuan dari
Direksi dan minimum 3 (tiga) hari sebelum pengecoran Kontraktor harus
mengajukan permohonan tertulis untuk izin pengecoran kepada Direksi.
16. Anti Lendut (Cambers)
Kecuali ditentukan lain dalam gambar, maka semua acuan untuk balok dan pelat,
harus dipersiapkan dengan memakai anti lendut dengan besar sbb :

Lokasi % Tehadap Bentang


Ditengah Bentang balok 0.3
Diujung balok kantilever 0.5

17. Pembongkaran Acuan


a. Pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati, dimana bagian konstruksi yang
dibongkar acuannya harus dapat memikul berat sendiri dan beban–beban
pelaksanaannya.
b. Pembongkaran acuan dapat dilakukan setelah mencapai waktu sbb:

Elemen Struktur Waktu Minimum


Sisi-sisi balok, kolom dan 3 hari
dinding
Balok dan plat beton 21 hari
(tiang penyangga tidak
dilepas)
Tiang-tiang penyangga 21 hari
plat
Tiang-tiang penyangga 21 hari
balok-balok

Waktu pembongkaran tersebut hanya merupakan kondisi normal dan harus


dipertimbangkan secara khusus jika pada lantai-lantai tersebut bekerja beban
rencana. Untuk mempercepat waktu pembongkaran. Kontraktor dapat
merencanakan dan mengusulkan metode dan perhitungan yang akan digunakan,
dan usulan tersebut harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas.
Tidak ada biaya tambah untuk hal tersebut. Semua akibat yang timbul akibat
usulan tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor.
c. Setiap rencana pekerjaan pembongkaran acuan harus diajukan terlebih dahulu
secara tertulis untuk disetujui Direksi/ Pengawas.

5.2.2 Pekerjaan Beton Bertulang


5.2.2.1. Umum
Semua beton untuk struktur bemutu fc’ = 18.75 MPa (K-225) untuk struktur, dan
fc’ = 14.52 MPa (K-175) atau campuran 1:3:5 untuk lantai kerja.

5.2.2.2. Persyaratan Bahan


1. Semen
Semen yng boleh digunakan untuk pembuatan beton harus dari jenis semen yang
telah ditentukan dalam SII 0013-81 dan harus memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan dalam standart tersebut. Semua yang akan diapaki harus dari satu
merk yang sama dan dalam keadaan baru. Semen nyang dikirim semen harus
terlindung dari hujan dan air. Semen harus terbungkus dalam sak (kantong) asli
dari pabriknya dan dalam keadaan tertutup rapat. Semen harus disimpan di
gudang dengan ventilasi yang baik, tidak lembab dan diletakkan pada tempat yang
tinggi, sehingga aman dari kemungkinan yang tidak diinginkan. Semen tersebut
tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 zak. Sistim penyimpanan semen harus diatur
sedemikian rupa, sehingga semen tersebut tidak tersimpan terlalu lama. Semen
yang diragukan mutunya dan rusak akibat salah penyimpanan, seperti membantu,
tidak diizinkan untuk dipakai. Bahan yang telah ditolak harus segera dikeluarkan
dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 (dua) hari atas biaya Kontraktor.
2. Agregat
Pada pembuatan beton, ada dua ukuran agregat yang digunakan, yaitu agregat
kasar / batu pecah dan agregat halus / pasir beton. Kedua jenis agregat ini
disyaratkan berikut ini :
1. Agregat Kasar, Ukuran besar ukuran nominal maksimum agregat kasar (batu
pecah mesin) harus tidak melebihi 1/5 jarak terkecil antara bidang samping dari
cetakan, atau 1/3 dari tebal pelat, atau ¾ jarak bersihminimum antar batang
tulangan , berkas batang tulangan atau tendon pratekan atau 30 mm. Gradasi dari
agregat tersebut secara keseluruhan harus sesuai dengan yang disyaratkan oleh
ASTM agar tidak terjadinya sarang kerikil atau riongga dengan ketentuan sebagai
berikut :

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 31.50 mm 0
Ayakan 4.00 mm 90-98
Selisih antar 2 ayakan
01-10
berikutnya

2. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas dari
bahan-bahan organik, lumpur dan kotoran lainnya. Kadar lumpur harus lebih kecil
dari 4 % berat. Sagregat halus harus terdiri dari butir-butir beraneka ragam
besarnya dan apabila diayak harus memenuhi syarat sbb :

Sisa diatas (% berat)


Ayakan 4.00 mm >02
Ayakan 1.00 mm > 10
Ayakan 0,25 mm 80-95

Kontraktor harus mengadakan pengujian sesuai dengan persyaratan dalam


spesifikasi ini. Jika sumber agregat berubah karena sesuatu hal, maka kontraktor
wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada Direksi Pengawas. Agregat
harus disimpan ditempat yang bersih, yang keras permukaannya dan harus
dicegah supaya tidak terjadi pencampuran dengan tanah.
3. Air Untuk Campuran Beton
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh mengandung
minyak, asam alkali, garam, zat organis atau bahan lain yang dapat merusak beton
atau besi beton. Air tawar yang dapat diminum umumnya dapat digunakan. Air
tersebut harus diperiksa pada laboratorium yang disetujui oleh Direksi. Jika air
pada lokasi pekerjaan tidak memenuhi syarat untuk digunakan, maka Kontraktor
harus mencari air yang memadai untuk itu.
4. Besi Beton
Besi beton berdiameter lebih besar 12 mm harus selalu menggunakan besi beton
ulir (deformad bars/ U40) untuk tulangan utama, sedang besi beton berdiameter
sama atau lebih kecil 12 mm menggunakan besi beton polos, U24 atau dapat
disesuaikan dengan notasi dalam gambar, Agar dipeoleh hasil pekerjaan yang
baik, maka besi beton harus memenuhi syarat-syarat :
1. Baru, bebas dari kotoran , lapisan minyak ,karat dan tidak cacat
2. Mutu sesuai dengan yang ditentukan
3. Mempunyai penampang yang rata dan seragam sesuai dengan toleransi
4. Merk Krakatau Steel, Bhirawa, Hanil, Master Steel

Pemakaian besi beton dari jenis yang tidak sesuai dengan ketentuan diatas, harus
mendapat persetujuan dari Direksi.
5. Admixtures Material Tambahan
Dalam keadaan tertentu boleh dipakai bahan campuran tambahan untuk
memperbaiki sifat suatu campuran beton. Jenis, jumlah bahan yang ditambahkan
dan cara penggunaan bahan tambahan harus dapat dibuktikan melalui hasil hasil
uji dengan dengan menggunakan jenis semen dan agregat yang akan dipakai
pada proyek ini. Bahan campuran tambahan yang berfungsi untuk mengurangi
jumlah air pencampur, memperlambat atau mempercepat penguatan dan/ atau
pengerasan beton harus memenuhi “Specifikation for Chemical Admixtures for
Concrete” (ASTM C494) atau memenuhi standar Umum Bahan Bangunan
Indonesia.
6. Kualitas Beton
a. Kualitas beton yang digunakan tercantum dalam gambar rencana yang harus
dibuktikan dengan pengujian seperti disyaratkan dalam spesifikasi teknis ini.
b. Untuk memastikan bahwa kualitas beton rencana dapat tercapai, Kontraktor harus
melakukan percobaan sesuai dengan yang disyaratkan oleh peraturan yang
berlaku dengan mengadakan trialmix di laboratorium yang disetujui oleh Direksi.
c. Jika tidak ditentukan secara khusus, maka untuk lantai kerja, kolom praktis, ring
balk, lantai kerja dan beton non struktur lainnya harus menggunakan beton Mutu
K 2255, sedangkan untuk beton struktural menggunakan beton Mutu K 250.
d. Disain Adukan Beton
Proporsi campuran bahan dasar beton harus ditentukan agar beton yang
dihasilkan memberikan kelecakan (workability) dan konsistensi yang baik,
sehingga beton mudah dituangkan kedalam acuan dan kesekitar besi beton, tanpa
menimbulkan segregasi agregat dan terpisahnya air (bleeding) secara kelebihan.
Campuran beton harus dirancang sesuai dengan mutu beton yang ingin dicapai,
dengan batasan dibawah ini :
K2 K2
MUTU BETON
25 50
Kuat tekan minimum 7 hari 15 17
(kg/cm2) 8 5
Jumlah semen minimum 30 30
(kg/m3) 0 0
Jumlah semen 55 55
maksimum(kg/m3) 0 0
0.5 0.5
W/C faktor, maksimum
5 5

Untuk beton kedap air atau beton pada kondisi lingkungan khusus , maka harus
dipenuhi syarat pada Pedoman Beton Indonesia.

Ketentuan minimum untuk beton kedap air


Kondisi Faktor Jumlah
lingkunga air semen
Jenis n semen Minimum
Struktur Berhubun Maksi (kg/m3)
gan mum
dengan
Air tawar/ 0.50 290
Beton
payau
Bertulang
Air laut 0.45 360

Kontraktor harus menyerahkan mix-design yang diusulkan kepada Direksi untuk


mendapatkan persetujuannya. Khusus untuk beton kedap air , maka jumlah
semen minimum harus sesuai dengan yang disyaratkan oleh pemasok
waterproofing.

5.2.2.3. Pengujian Bahan


1. Umum
a. Kontraktor harus bertaggung jawab untuk melaksanakan segala pengujian
termasuk mempersiapkan contoh benda uji dengan jumlah sesuai yang
disyaratkan. Kontraktor harusmenyerahkan hasil pengujiannya setelah hasil uji
diperoleh untuk persetujuan oleh Direksi.
b. Jika pengujian dan pelaksanaan tidak memenuhi syarat, maka kontraktor harus
melaksanakan pengujian ulang dengan campuran yang lain dan selanjutnya
mengevaluasi kembali hasil uji tersebut hingga diperoleh hasil yang diinginkan.
c. Semua pengujian dan pemeriksaan di lapangan harus dilakukan sesuai dengan
pengarahan Direksi Pengawas.
d. Untuk semua bahan semen dan besi beton yang dikirim ke lapangan, Kontraktor
harus mendapatkan salinan sertifikat pengujian dari pabrik, dimana pengujian
dilakukan secara berkala, dengan cara pengujian sesuai dengan spesifikasi ini.
(optional)

2. Laboratorium Penguji.
a. Sebelum pekerjaan beton dilakukan, Kontraktor wajib mengusulkan suatu
laboratorium penguji untuk melaksanakan pengujian material yang akan
digunakan pada proyek ini. Laboratorium ini bertanggung jawab untuk melakukan
semua pengujian dengan spesifikasi ini.
b. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan peralatan penguji di
lapangan seperti tersebut berikut ini seperti pada poin 3, beserta tenaga ahli yang
menguasai bidangnya.
c. Alat penguji agregat kasar dan agregat halus
1) Alat pengukur kadar air (moisture countent) dari agregat
2) Alat pengukur kekentalan beton (slump)
3) Alat pembuat benda uji, termasuk bak penyimpan untuk merawat benda uji pada
temperatur yang normal dan terhindar dari sengatan matahari.
d. Jika menggunakan beton readymix, maka peralatan yang disebut a) dan b) diatas
harus disiapkan pada pabrik beton readymix.

3. Pengujian Agregat
a. Pengujian Pendahuluan Agregat
Kontraktor harusmelakukan pengujian pendahuluan agregat sebagai berikut :
1) Sieve analysis
2) Pengujian kadar lumpur dan kotoran lain
3) Pengujian unsur organis
4) Pengujian kadar clorida dan sulfat.
Hasil pengujian tersebut harus diserahkan kepada Direksi/ manajemen Konstruksi
untuk mendapatkan persetujuan a) dan b) dengan pengujian kadar air dari setiap
jenis agregat harus dilakukan terhadap contoh untuk setiap trial mix.
b. Benda Uji Agregat
Kontraktor harus melaksanakan pengujian atas agregat yang akan digunakan
untuk menghasilkan beton seperti yang disyaratkan. jumlah minimum untuk
pengujian agregat yang dipakai untuk pekerjaan beton adalah sebagai berikut :

Tipe Minimum satu


Pengujian contoh
Sieve analysis Setiap minggu
Moistur content Setiap minggu
Clay,silt dan Setiap hari
kotoran
Kadar organis Setiap minggu
Kadar clorida Setiap 500 m3
dan sulfat beton

Jika hasil pembuatan beton yang dilakukan oleh Kontraktor tidak memuaskan,
maka Direksi Pengawas berhak untuk meminta pengujian tambahan dengan
beban biaya Kontraktor. Dan sebaliknya mungkin jumlah pengujian dapat
dikurangi jika hasil diperoleh ternyata memuaskan.

5.2.2.4. Pengujian Beton


1. Benda Uji Beton
Benda uji harus diberi kode/tanda yang menunjukkan tanggal pengecoran, lokasi
pengecoran dari bagian struktur yang bersangkutan. Benda uji harus diambil dari
mixer, atau dalam hal menggunakan beton readymix, maka benda uji harus
diambil sebelum beton dituang ke lokasi pengecoran sesuai dengan yang
disyaratkan oleh Direksi Pengawas.
2. Jumlah Benda Uji Beton
Pada awal pelaksanaan , harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,50 m3 beton
dan jenis peruntukan beton hingga dengan cepat dapat diperoleh 30 benda uji
yang pertama . Benda uji harus berbentuk kubus berukuran 15 cm x 15 cm x 15
cm . Benda uji bentuk lainnya dapat digunakan jika disetujui oleh Direksi
Pengawas. Selanjutnya pengambilan benda uji sebanyak 2 (dua) buah dilakukan
setiap 5 m3 beton. Benda uji tersebut ditentukan secara acak oleh Direksi dan
harus dirawat sesuai dengan persyaratan.
a. Jumlah benda uji beton untuk uji kuat tekan dari setiap mutu beton yang dituang
pada satu hari harus diambil minimal satu kali. Pada setiap satu kali pengambilan
contoh beton harus dibuat dua buah spesimen kubus. Satu data hasil uji kuat tekan
adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua spesimen ini yang diuji pada umur beton
yang ditentukan, yaitu umur 7 haris dan 28 hari.
b. Jika hasil uji beton kurang memuaskan, maka Direksi dapat meminta jumlah benda
uji yang lebih besar dari ketentuan diatas, dengan beban biaya ditanggung oleh
Kontraktor.
c. Jumlah minimum benda uji yang harus dipersiapkan untuk setiap mutu beton
adalah :

Jenis Waktu Perawatan


Struktur (hari)
Jumlah 3 7 2
Minimu 8
m
Benda
Uji
Beton 4 - 2 2
Bertulang
Beton 6 2 2 2
Pratekan

3. Laporan Hasil Uji Beton


Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas uji beton dari laboratorium penguji
untuk disahkan oleh Direksi. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan
perhitungan tekanan beton karakteristik.
4. Evaluasi Kualitas Beton Berdasarkan Hasil Uji Beton.
a. Deviasi Standar – S
Deviasi standar produksi beton ditetapkan berdarakan jumlah 30 buah hasil tes
kubus. Deviasi yang dihitung dari jumlah contoh kubus yang kurang dari 30 buah
harus dikoreksi dengan faktor pengali seperti tercantum dalam tabel berikut :

 ( fc − fcr)
2

S=
N −1

Jumlah Benda Uji Faktor Pengali - S


(N)-buah
<15 1.16
20 1.08
25 1.03
>30 1.00

b. Kuat Tekan Rata-rata – fcr


Target fcr yang digunakan sebagai dasar dalam menetukan proporsi campran
beton harus diambil sebagai nilai yang terbesar dari formula berikut ini :
Fcr = fc’ + 1.64 S atau fcr – fc’ + 2.64 S – 40 kg/cm2
c. Kuat Tekan Sesungguhnya
Tingkat kekuatan suatubeton dikatakan tercapai dengan memuaskan, jika kedua
syarat berikut dipenuhi :
1) Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yangmasing-masing terdiri dari 4 hasil
uji kuat tekan tidak kurang (fc’ + 0.82 N)
2) Tidak satupun dari hasil uji tekan (rata-rata dari 2 benda uji) mempunyai nilai
ibawah 0.85 fc’
Bila salah satu dari kedua syarat diatas tidak dipenuhi, maka harus diambi l
langkah untuk meningkatkan rata-rata hasil uji kuat tekan berikutnya atas
rekomondasi KP

5.2.2.5. Pengujian Tidak Merusak (Non Destructive Test)


Jika hasil evaluasi terhadap mutu beton yang disyaratkan ternyata tidak dapat
dipenuhi, maka jika diminta oleh Direksi/ Pengawas. Kontraktor harus
melaksanakan pengujian yang tidak merusak yang dapat terdiri dari hammer test,
pengujian beban dan lain-lain. Semua biaya pengujian ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

Lokasi dan banyaknya pengujian akan ditentukan secara khusus dengan melihat
kasus perkasus.

5.2.2.6. Pengujian Besi Beton


1. Benda Uji Besi Uji Beton
a. Sebelum besi beton dipesan, Kontraktor wajib mengambil benda uji besi beton
masaing-masing 2 buah dengan ukuran panjang 100 cm sesuai diameter dan mutu
yang akan digunakan. Selanjunya benda uji besi beton harus diambil dengan
disaksikan oleh Direksi Pengawas sebanyak 2 buah untuk setiap 20 ton untuk
masing-masing diameter besi beton. Uji besi beton terdiri dari uji tarik dan ulir
lentur.
b. Pengujian mutu besi beton juga akan dilakuakn setiap saat bilamana dipandang
perlu oleh Direksi. Contoh besi beton yang diambil untuk pengujian tanpa
disaksikan Direksi tidak diperkenankan dan hasil uji dianggap tidak sah. Semua
biaya uji tersebut sepenuhnya menjadi tanggung Kontraktor.
c. Benda uji harus diberi tanda dengan kode yang menunjukkan tanggal pengiriman,
lokasi terpasang bagian struktur yang bersangkutan dan lain-lain data yang perlu
dicatat.
d. Jika akibat suatu alasan, seperti hasil uji yang kurang memuaskan, maka Direksi
berhak untuk meminta pengambilan contoh benda uji lebih besar dari yang
ditentukan diatas, dengan beban biaya ditanggung oleh Kontraktor.
e. Laporan Hasil Uji Besi Beton
Kontraktor harus membuat dan menyusun hasil uji besi beton dari laboratorium
penguji untuk diserahkan kepada Direksi dan laporan tersebut harus dilengkapai
dengan kesimpulan apakah kualitas besi beton tertsebut memenuhi syarat yang
telah ditentukan.
Syarat-Syarat Pelaksanaan
Kontraktor harus membuat beton dengan kualitas sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang disyaratkan, antara lain, mutu dan penggunannya selama
pelaksanaan. Semua pekerjaan beton harus dilakukan oleh tenaga ahli yang
berpengalaman, termasuk tenaga ahli untuk acuan/ bekisting, sehingga sehingga
dapat mengantisipasi segala kemungkina yang terjadi. Selain itu, Kontraktor wajib
menggunakan tukang yang berpengalaman, sehing sudah paham dengan
pekerjaan yang sedang dilaksanakan utamanya pada saat dan setelah
pengecoran berlangsung. Semua tenaga ahli dan tukang tersebut harus
mengawasi pekerjaan sampai pekerjaan perawatan beton selesai dilakukan.
Untuk itu paling lambat 10 hari sebelum pekerjaan dimulai Kontraktor harus
mengusulkan metode kerja dan harus disetujui Direksi. Jika dipandang perlu,
maka Direksi/ Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli diluar yang ditunjuk
Kontraktor untuk membantu mengevaluasi semua usulan Kontraktor dan semua
biaya yang timbul menjadi beban Kontraktor.
a. Slump
Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, yang jika tidak ditentukan secara
khusus adalah antara 5 – 12 cm untuk beton umumnya, sedang tiang bor slump
beton adalah 16 – 18 cm lebih besar dari 12cm (disesuaikan dengan bab
pengecoran bored piled, Pondasi).Cara uji slump sebagai berikut, Beton diambil
sebelum dituangkan kedalam cetakan beton (begisting). Cetakan slump
dibasahkan dan ditempatkan diatas permukaan yang rata. Cetakan diisi sampai
kurang lebih sepertiganya.Kemudian beton tersebut ditusuk- tusuk 25 kali dengan
besi beton diameter 16 mm, panjang 30 cm dengan ujung yang bulat. Pengisian
dilakukan dengan cara serupa untuk dua lapisan berikutnya. Setiap lapisan
ditusuk-tusuk 25 kali dan setiap tusukan harus masuk sampai dengan satu lapisan
dibawahnya. Setelah bagian atas diratakan, segera cetakan diangkat perlahan-
lahan dan diukur penurunnannya.
b. Persetujuan Direksi/ Tim Teknis
Sebelum semua tahap pelaksanaan berikutnya dilaksanakan. Kontraktor harus
mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas.Laparan harus diberikan
kepada Direksi paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan dilaksanakan. Hal-hal
khusus akan didiskusikan secara lebih mendalam antara semua pihak yang
berkepentingan. Semua tahapan pelaksanaan tersebut harus dicatat secara baik
dan jelas sehingga mudah untuk ditelusuri jika suatu saat data tersebut dibutuhkan
untuk pemeriksaan.
c. Persiapan dan Pemeriksaan
Kontraktor tidak diizinkan untuk melakukan pengecoran beton tanpa izin tertulis dari
Direksi. Kontraktor harus melaporkan kepada Direksi tentang kesiapannya untuk
melakukan pengecoran dan laporan tersebut harus disampaikan minimal satu hari
sebelum waktu pengecoran, sesuai dengan kesepakatan dilapangan, untuk
memungkinkan Direksi melakukan pemeriksaan sebelum pengecoran
dilaksanakan. Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang memadai seperti
tangga ataupun fasilitas lain yang dibutuhkan agar Direksi dapat memeriksa
pekerjaan secara aman dan mudah. Tanpa fasilitas tersebut, Kontraktor tidak akan
diizinkan untuk melakukan pengecoran. Semua koreksi yang terjadi akibat
pemeriksaan tersebut harus segera diperbaiki dalam waktu 1 x 24 jam dan
selanjutnya Kontraktor harus mengajukan ijin lagi untuk dapat melaksanakan
pengecoran. Tidak dibenarkan adanya penambahan waktu akibat koreksi yang
timbul, kecuali ditentukan lain oleh Direksi/ Pengawas, Persetujuan untuk
melaksanakan pengecoran tidak berarti membebaskan Kontraktor dari tanggung
jawabb sepenuhnya atas ketidak sempurnaan ataupun kesalahan yang timbul.
Sebelum pengecoran dilakukan harus dipastikan bahwa semua peralatan yang
akan tertanam didalam beton sudah terletak pada tempatnya dan semua kotoran
sudah dibersihkan ndari lokasi pengecoran. Demikian pula untuk siar pelaksanaan
harus dilakukan sesuai dengan persyaratan.
d. Siar Pelaksanaan
Kontraktor harus mengusulkan lokasi siar pelaksanaan dalam gambar kerjanya. Siar
pelaksanaan harus diusahakan seminimum mungkin, agar perlemahan struktur
dapat dikurangi. Siar pelaksanaan tidak diizinkan untuk melalui daerah yang
diperkirakan sebagai daerah basah, seperti toilet, seservoir dll. Jika tidak
ditentukan lain, maka lokasi siar pelaksanaan harus terletak pada daerah dimana
gaaya geser adalah minimal, umumnya terletak pada sepertiga bentang tengah
dari panjangg efektif elemen struktur .Pada pengecoran beton yang tebal dan
volume yang besar, lokasi siar pelaksanaan harus dipertimbangkan sedemikian
rupa, sehingga tidak menyebabkan perbedaan temperatur yang besarpada beton
yang tersebut, yang berakibat retaknya beton, disamping adanya tegangan residu
yang tidak diinginkan. Siar pelaksanaan dapat dibuat secara horizontaldan
pengecoran dapat dibagi menjadi berlapis-lapis. Lokasi siar pelaksanaan tersebut
harus disetujui oleh Direksi. Kontraktor harus sudah mempertimbangkan didalam
penawarannya, segala hal yang berhubungan dengan siar pelaksanaan
sepertierstop, perekat beton, dowel dsb, maupun pembersih permukaan beton
agar dapat dijamin lekatan antara beton lama dan baru. Siar pelaksanaan harus
bersih dari semua kotoran dan bekas beton yang tidak melekat dengan baik, dan
sebelum pengecoran dilanjutkan, harus dikasarkan sedemikian rupa sehingga
agregat besar menjadi terlihat tetapi tetap melekat dengan baik.
e. Pengangkutan dan Pengecoran Beton.
Beton harus diangkut dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat tiba dilokasi
proyek dalam keadaan yang masih memenuhi spesifikasi teknis. Jika lokasi
pembuatan cukup jauh dari proyek, maka harus digunakan admixtures yang dapat
memperlambat proses pengerasan dari beton. Pada saat beton diangkut ke lokasi
pengecoran juga harus diperhatikan, agar tidak terjadi pemisahan antara bahan-
bahan dasar pembuat beton. Pada saat pengecoran tinggi jatuh dari beton segar
harus kurang dari 1.50 metert. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi pemisahan
antara batu pecah yang berat dengan pasta beton sehingga mengakibatkan
kualitas beton menjadi menurun. Untuk itu harus disiapkan alat bantu seperti pipa
tremi sehingga syarat ini dapat dipenuhi. Sebelum pengecoran beton harus dijaga
agar tetap dalam kondisi plastis dalam waktu yang cukup, sehingga pengecoran
beton dapat dilakukan dengan baik. Kontraktor harus mengajukan jumlah alat dan
personil yang akan mendukung pengecoran beton, yang dianalisa berdasarkan
besarnya volume pengecoran yang akan dilakukan. Sebagai gambaran setiap alat
pemadat mampu memadatkan sekitar 5 – 8 m3 beton segar perjam. Beton segar
dicampurkan harus ditempatkan sedekat mungkin dengan lokasi akhir, sehingga
masalah segregasi dan pengerasan beton dapat dihindarkan dan selam
pemadatan beton masih bersifat plastis.

5.2.2.7. Pemadatan Beton


1. Alat Pemadat Beton
Beton yang akan dicor harus segera dipadatkan dengan alat pemadat (vibrator)
dengan tipe yang disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Pemadatan tersebut bertujuan
untuk \mengurangi udara pada beton yang akan mengurangi kualitas beton.
Pemadatan tersebut berkaitan dengan kelecakan (workability) beton. Pada cuaca
panas kelecakan beton menjadi sangat singkat, sehingga slump yang rendah
biasanya merupakan masalah. Untuk itu harus disediakan vibrator dalam jumlah
yang memadai, sesuai dengan besarnya pengecoran yang akan dilakukan.
Minimal harus dipersiapkan satu vibrator cadangan yang akan dipakai, jika ada
vibrtor yang rusak pada saat pemadatan sedang berlangsung. Alat pemadat harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menyentuh besi beton.
2. Lokasi Pemadatan yang Sulit
Pada lokasi yang diperkirakan sulit untuk dipadatkan seperti pada pertemuan
balok-kolom, dinding beton yang tipis dan pada lokasi pembesian yang rapat dan
rumit, maka kontraktor harus mempersiapkan metode khusus untuk pemadatan
beton yang disampaikan kepada Direksi paling lambat 3 hari sebelum pengecoran
dilaksanakan, agar tidak terjadi keropos pada beton , sehingga secara kualitas
tidak akan disetujui.
3. Pemadatan Kembali
Jika permukaan beton mengalami keretakan dalam kondisi masih plastis, maka
beton tersebut harus dipadatkan kembali sesuai dengan rekomondasi Direksi agar
retak tersebut dapat dihilangkan.
4. Metode Pemadatan Lain
Jika dipandang perlu Kontraktor dapat mengusulkan cara pemadatan lain yang
dipandang dapat menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara
permukaan dan inti beton. Hal ini dapat menyebabkan keretakan struktur dan
terjadinya tegangan menetap pada beton, tanpa adanya beban yang bekerja.
5. Temperatur Beton Segar
Dalam waktu 2 menit setelah contoh diambil, sebuah termometer yang mempunyai
skala 5 s/d 100 derajat C, harus dimasukkan kedalam contoh tersebut sedalam
100 mm. Jika temperatur sudah stabil selama 1 menit, maka temperatur tersebut
harus dicatat dengan ketelitian 1 derajat C.

5.2.2.8. Perawatan Beton


1. Tujuan Perawatan
Perawatan beton bertujuan antara lain untuk menjaga agar tidak terjadi kehilangan
zat cair pada saat pengikatan awal terjadi dan mencegah penguapan air dari beton
pada umur beton awal dan juga mencegah perbedaan temperatur dalam beton
yang dapat menyebabkan terjadinya keretakan dan penurunan kualitas beton.
Perawatan beton harus dilakukan begitu pekerjaan pemadatan beton selesai
dilakukan . Untuk itu harus dilakukan perawatan beton sedemikian sehingga tidak
terjadi penguapan yang cepat terutama pada permukaan beton yang baru
dipadatkan.
2. Lama Perawatan
Permukaan beton harus dirawat secara baik dan terus menerus dibasahi dengan
air bersih selama minimal 7 hari segera setelah pengecoran selesai. Untuk elemen
vertikal seperti kolom dan dinding beton, maka beton tersebut harus diselimuti
dengan karung yang dibasahi terus menerus selama 7 hari.
3. Perlindungan Beton Tebal
Untuk pengecoran beton dengan ketebalan lebih dari 600 mm, maka permukaan
beton harus dilindungi dengan material (antara lain stirofoam) yang disetujui oleh
Direksi, agar dapat memantulkan radiasi akibat panas. Material tersebut harus
dibuat kedap, agar kelembaban permukaan beton dapat dipertahankan.
4. Acuan Metal
Setiap acuan yang terbuat dari metal, beton ataupun material lain yang sejenis,
harus didinginkan dengan air sebelum pengecoran dilakuakan. Acuan tersebut
dihindari dari terik matahari langsung, karena sifatnya yang mudah menyerap dan
mengantarkan panas. Perlakuan yang kuarang baik akan menyebabkan retak-
retak yang parah pada permukaan beton.
5. Curing
Seluruh permukaan beton harus dilindungi selama proses pengerasan terhadap
sinar matahari dan hembusan angin kering.
Semua permukaan beton yang terlihat hams diambil tindakan sebagai berikut:
- Sebelum beton mulai mengeras, maka beton setelah pengecoran pada hari
pertama harus disirami, ditutupi dengan karung basah atau digenangi dengan air
selama paling sedikit 2 minggu secara terus menerus.
- Tidak diperkenankan menaruh bahan-bahan diatas konstruksi beton yang baru
dicor (dalam tahap pengeringan) atau mempergunakannya sebagai jalan
mengangkut bahan-bahan.

5.2.2.9. Cara Untuk Menghindari Keretakan Pada Beton.


1. Alat Monitoring.
Untuk pekerjaan beton dengan tebal lebih dari 600 mm. Kontraktor harus
menyediakan perlatan yang dibutuhkan untuk mengukur dan memonitor segala
kejadian yang mungkin terjadi selama pekerjaan beton berlangsung. Monitoring
dilakukan minimal selama 7 hari sejak pengecoran selesai.; Kontraktor wajib
menyediakan alat pengukur temperatur yang akan diletakkan pada dasar beton,
didalam beton dan dipermukaan beton dengan jarak vertikal antara alat ditetapkan
maksimal 50 cm. Sedangkan jarak horisontal antara titik satu dengan lainnya
maksimal 10 meter. Lokasi alat pengukur dan metode pengukur suhu tersebut
harus diusulkan kepada Direksi/ Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
2. Perbedaan Temperatur.
Umumnya permukaan beton harus didinginkan secara mendadak, yang terpenting
adalah tidak terjadi perbedaan temperatur yanng besar (> 20o C) antara
permukaan dan inti beton dan beton harus dihindarkan dari sinar matahari
langsung atapun tiupan angin.
3. Material Bantu.
Disamping peralatan juga dibutuhkan material pembantu yang mungkin dapat
dicampur kedalam beton maupun yang akan digunakan pada saat perawatan
beton untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu cepat.
4. Lebar Retak
Suatu struktur beton pasti akan mengalami suatu retakan dan lebar retak yang
dizinkan maksimal sebesar 0,004 kali tebal selimut beton.
5. Antisipasi Perbedaan Temperatur.
Kontraktor harus menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengatasi jika
perbedaan temperatur menjadi lebih dari 20 derajat C, misalnya dengan
mempertebal isolasi yang sudah digunakan atau membuat isolasi menjadi benar-
benar kedap terhadap angin dan udara. Hal ini harus segera dilakukan agar
perbedaan temperatur tidak menjadi besar, Untuk itu harus disiapkan material
isilosi lebih dari kebutuhan sebelum pengecoran dilakukan.
6. Hal-hal Lain.
Beberapa hal yang harus diperhatikan baik sebelum, selama maupun sesudah
pengecoran beton adalah :
1) Usahakan agar semua material dasar yang digunakan tetap dalam kondisi
terlindung dari sinar matahari, sehingga temperatur tidak tinggi pada saat
pencampuaran dimulai.
2) Air yang akan digunakan harus didinginkan, misalnya dengan mengganti sebagian
air dengan es, sehingga temperatur menjadi lebih besar.
3) Semen yang digunakan mempunyai hidrasi rendah.
4) Jika mungkin, tambahkan nitrogen cair kedalam campuarn beton.
5) Waktu antara pengadukan beton dan pengecoran harus dibatasi maksimal 2 jam
6) Lakukan pengecoran bertahap sedemikan rupa, misalnya dengan membuat siar
pelaksanaan secara horizontal pada beton yang tebal, sehingga tebal satu lapis
pengecoran penjadi kurang lebih 1 meter dan perbedaan temperatur dapat
dikontrol.
7) Jika mungkin diusulkan pengecoran dilakukan pada malam hari dimana
temperatur lapangan sudah lebih rendah dari dibandingkan dari siang hari.
8) Harus disiapkan isolasi panas yang merata pada seluruh permukaan beton yang
terbuka untuk mencegah tiupan angin dan menjaga agar temperatur tidak terlalu
berbeda pada seluruh penampang beton.
9) Lakukan perawatan awal segera setelah pemadatan selesai dan harus diteruskan
sampai sistim isolasi terpasang seluruhnya
10) Sediakan pelindung sehingga permukaan beton terlindung dari sinar
matahari dan angin. Hal ini dapat dilakukan membuat dinding pada sekeliling
daerah pengecoran dengan plastik atau material sejenis, demikian juga pada
bagian atasnya.
7. Retak di Luar Batas yang Disyaratkan.
Jika setelah pemadatan selesai masih terjadi keretakan diluar batas yang diizinkan
, maka Kontraktor harus melaporkan hal tersebut secara tertulis yang berisi antara
lain metode kerja danperalatan yang digunakan berikut komposisi campuran yang
digunakan, Kepada Direksi untuk dievaluasi lebih lanjut. Kontraktor tidak diijinkan
untuk memperbaikai keretakan tersebut sebelum mendapatkan persetujuan
tertulis dari Direksi.

Adukan Beton yang Dibuat Ditempat (Site Mixing)


Untuk mendapatkan kualitas beton yang baik, maka untuk beton yang dibuat
dilapangan harus memenuhi syarat-syarat :
1. Semen diukur menurut berat
2. Agregat kasar diukur menurut berat
3. Pasir diukur menurut berat
4. Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin (concrete
batching plant)
5. Junlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin beton
6. Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada dalam
mesin pengaduk
7. Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih
dahulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai

5.2.2.10. Pengujian Pekerjaan


1. Besi Beton
Digunakan mutu U-24 untuk Ø < 12 mm, U-40 untuk Ø > 10 mm. Besi harus bersih
dari lapisanminyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih. Penampang
besi harus bulat sertamemenuhi persyaratan NI-2 (PBI 1988). Bila dipandang perlu
Kontraktor diwajibkan untuk memeriksamutu besi beton ke laboratorium
pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor.
Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
- Peraturan-peraturan/standard setempat yang biasa dipakai
- Peraturan-peraturan Beton Bertulang Indonesia 1988, NI-2
- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961, NI-5.
- Peraturan Semen Portland Indonesia 1972, NI-8
- Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat
- Ketentuan-ketentuan Umum untuk pelaksanaan Kontraktoran Pekerjaan Umum
(AV) No.9 tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara No. 1457
- Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang diberikan
Direksi Pengawas.
- American Society for Testing and Material (ASTM) 9. American Concrete Institute
(ACI)

a. Kawat Pengikat
Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak disepuh seng,
diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi
beton/rangka harus memenuhi syaratsyarat yang ditentukan dalam NI-2 (PBI
tahun 1988).
b. Merk Besi Beton
Sebelum pemesanan dilakukan, maka Kontraktor harus mengusulkan merk besi
beton dilengkapi dengan brosur dan data teknis dari pabrik yang akan digunakan
untuk disetujui Direksi.
c. Penyimpanan
Besi beton disimpan pada tempat yang bersih dan tumpu secara baik tidak
merusak kualitasnya. Tempat penyimpanan harus cukup terlindung sehingga
kemungkinan karat dapat dihindarkan
d. Gambar Kerja dan Bending Schedule
Pembengkokan besi beton harus dilakukan sesuai dengan gambar rencana dan
berdasarkan standar ditail yang ada. Pembengkokan tersebut harus dilakukan
dengan menggunakan alat-alat (bar bender) sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan cacat patah, retak-retak dan sebagainya. Semua pembengkokan
harus dilakukan dalam keadaan dingin dan pemotongan harus dengan bar cutter.
Pemotongan dan pembengkokan dengan sistim panas sama sekali tidak diijinkan.
.Untuk itu Kontraktor harus membuat gambar kerja pembengkokan (bending
schedule) dan diajukan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
e. Bebas Karat
Pemasangan dan penyetelan berdasarkan evaluasi yang sesuai dengan gambar
dan harus sudah diperhitungkan toleransi penurunannya. Sebelum besi beton
dipasang, permukaan besi beton harus bebas dari karat, minyak dan lain-lain yang
dapat mengurangi lekatan besi beton.
2. Selimut Beton
Besi beton harus dilindungi oleh selimut beton yang sesuai dengan gambar stndar
ditail. Sebagai catatan, pemasangan tulangan-tulangan utama tarik/ tekan
penampang beton harus dipasang sejauh mungkin dari garis tengah penampang,
sehingga pemakaian selimut beton yang melebihi ketentuan - ketentuan tersebut
diatas harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi Pengawas.
3. Penjangkaran
Pemasangan rangkaian besi beton yaitu kait-kait, panjang penjangkaran,
penyaluran, letak sambungan dan lain-lain harus sesuai dengan gambar standar
yang terdapat dalam gambar rencana. Apabila ada keraguan tentang ini maka
Kontraktor harus meminta klarifikasi kepada Direksi.
4. Kawat Beton dan Penunjang
Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada kedudukan
yang kokoh untuk menghindari pemindahan tempat, dengan menggunakan kawat
yang berukuran tidak kurang dari 16 gauge atau klip yang sesuai pada setiap tiga
pertemuan. Pembesian harus ditunjang dengan beton tahu atau penunjang besi,
spacers atau besi penggantung seperti yang ditunjukkan pada gambar standar
atau dicantumkan pada spesifikasi ini. Penunjang-penunjang metal tidak boleh
diletakkan berhubungan acuan. Ikatan dari kawat harus dimasukkan kedalam
penampang beton, sehingga tidak menonjol permukaan beton.
5. Sengkang-sengkang
Untuk menjamin bahwa perilaku elemen struktur sesuai dengan rencana, maka
sengkang harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan
gambar. Akhiran/ kait sengkang harus dibuat seperti yang disyaratkan didalam
gambar standar agar sengkang dapat bekerja seperti yang diinginkan. Demikian
juga untuk besi pengikat yang digunakan untuk pengikat tulangan utama.
6. Beton Tahu
Beton tahu harus digunakan untuk menahan jarak yang tepat pada tulangan, dan
minimum mempunyai kekuatan beton yang sama dengan beton yang akan dicor.
Jarak antara beton tahu ditentukan maksimal 100 cm dengan ketebalan sesuai
SNI
7. Penggantian Besi.
a. Kontraktor harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah sesuai
dengan apa yang tertera pada gambar
b. Dalam hal ini dimana berdasarkan pengalaman kontraktor atau pendapatnya
terdapat kekeliruan atau kekurangan atau perlu penyempurnaan pembesian yang
ada maka Kontraktor dapat menambah ektra besi dengan tidak mengurangi
pembesian yang tertera dalam gambar.
c. Jika Kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan
yang gditetapkan dalam gambar maka dapat dilakukan penukaran diameter besi
dengan diameter yang terdekat dengan catatan :
1) Harus ada persetujuan dari tertulis dari Direksi.
2) Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh
kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah
jumlah luas). Khusus untuk balok portal, jumlah luas penampang besi pada
tumpuan juga tidak boleh lebih besar jauh dari pembesian aslinya.
3) Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan keruwetan pembesian ditempat
tersebut atau di daerah overlap yang dapat menyulitkan pengecoran.
4) Tidak ada pekerjaan tambah dan tambahan waktu pelaksanaan.
8. Toleransi Besi

5.2.2.11. Pemasangan alat-alat di Dalam Beton / Sparing


1. Kontraktor harus membuat gambar kerja yang menunjukkan secara tepat lokasi
sparing yang akan terdapat pada elemen struktur. Kontraktor wajib mempelajari
gambar M & E dan mendiskusikan dengan pihak terkait jika terdapat keraguan
tentang gambar tersebut . Kebutuhan sparing yang terjadi akibat perubahan disain
harus diinformasikan segera kepada Direksi untuk mendapatkan pemecahannya.
Pekerjaan membobok, membuat lubang atau memotong konstruksi beton yang
sudah jadi harus dihindarkan dan jika diperlukan harus mendapatkan ijin tertulis
dari Direksi.
2. Ukuran lubang, pemasangan alat-alat didalam beton, pemasangan dan
sebagainya, harus sesuai dengan gambar struktur maupun gambar lain yang
terkait atau menurut petunjuk-petunjuk Direksi.
3. Perkuatan pada lubang-lubang beton untuk keperluan pekerjaanM/E harus
mengikuti ketentuan yang terdapat didalam gambar standar. Jika tidak/ belum
tertera didalam gambar maka Kontraktor wajib mengiformasikan hal tersebut
kepada Tim Teknis / Direksi untuk mendapatkan penyelesainnya

5.2.2.12. Beton Kedap Air


1. Beton kedap air adalah beton yang dibuat agar tidak tembus air untuk jangka
waktu yang lama. Untuk itu Kontraktor wajib mengikuti segala ketentuan yang
disyaratkan oleh Pemasok bahan kedap air/ waterproofing, termasuk cara
pembuatan beton tersebut.
2. Pada siar pelaksanaan harus dipasang waterstop sesuai dengan spesifikasi
pabrik. Waterstop tersebut harus ditunjukkan di dalam gambar kerja/ shop
drawing, sehingga rencana pengecoran harus direncanakan dengan baik. Biaya
waterstop tersebut sudah termasuk didalam penawaran yang diajukan oleh
Kontraktor.
3. Apabila terjadi kebocoran selama masa garansi, maka kontraktor harus
mengadakan perbaikan-perbaikan dengan biaya Kontraktor. Prosedur perbaikan
tersebut harus diusulkan oleh Kontraktor dan disetujui oleh Direksi, sedemikian
rupa sehingga tidak merusak bagian-bagian lain yang sudah selesai.

5.3 PEKERJAAN KONSTRUKSI RANGKA ATAP BAJA

5.3.1 Lingkup Pekerjaan


Yang dimaksud pekerjaan konstruksi baja adalah semua
pekerjaan konstruksi baja dan pekerjaan baja lainnya yang tercantum dalam
gambar rencana.
Termasuk didalam pekerjaan Konstruksi Baja ini antara lain adalah :
• Konstruksi rangka atap,dan konstruksi baja lainnya untuk
Bangunan Gedung.
• Konstruksi baja lainnya sesuai yang dimaksud gambar rencana

1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan dari semua bahan, tenaga, peralatan,


perlengkapan serta pemasangan dari semua pekerjaan baja dan logam
termasuk alat-alat atau benda-benda/ material pendukung lainnya.
2. Pekerjaan baja dan logam harus dilaksanakan sesuai dengan keterangan-
keterangan yang tertera pada gambar rencana/detail, lengkap dengan
penyangganya, alat untuk memasang dan menyambungnya, pelat-pelat
baja/ profil siku dan lain sebagainya.
3. Semua bagian harus mempunyai ukuran yang tepat, sehingga dalam
pemasangannya tidak memerlukan pengisi, kecuali kalau gambar detail
menunjuk hal tersebut.
4. Semua detail dan hubungan harus dibuat dengan teliti dan
diselesaikan dengan rapi, dan dalam pelaksanaannya tidak
hanya dari gambar-gambar kerja untuk memasang pada tempatnya
tetapi dimungkinkan untuk mengambil ukuran-ukuran sesungguhnya
ditempat pekerjaan terutama bagian-bagian yang terhalang oleh benda lain.
5. Pekerjaan harus bermutu kelas satu dalam segala hal, setiap bagian
pekerjaan yang buruk akan ditolak dan harus diganti
apabila perlu. Pekerjaan yang selesai harus bebas dari puntiran-
puntiran,bengkokan-bengkokan dan sambungan-sambungan yang
mengganggu.
5.3.2 Standar Yang Dipakai
Referensi Konstruksi Baja
• Peraturan Perencanaan Bangunan Baja (PPBBI-Mei 1984)
• American Institut of Steel Contruction (AISC)
- American Welding Society (AWS ) bahan-bahan las
- American Nastional Srandart Institut (ANSI)
- American Soceiety for Testing ang Material (ASTM) Spesificatin
• RKS dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan

5.3.3 Persyaratan Bahan


1. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan baja harus sudah
disetujui oleh Pengawas, tidak berkarat, bagian bagiannya dan lembaran-
lembarannya tidak bengkok dan cacat. Potongan-
potongan (profil) mempunyai ukuran yang tepat sesuai dengan dimensi
yang tertera dalam gambar rencana baik bentuknya, tebal, ukuran berat.
2. Bahan baja yang digunakan/ dipasang harus dari
jenis yang sama kualitasnya, dalam hal ini dipakai baja jenis ST-38,
3. Toleransi luas penampang bahan baja ditetapkan maksimum 5
% dari luas untuk rangka batang atau maksimum 5 % dari momen inersia
(I)
4. Sebagai kawat las dipakai
setaraf produksi “KOBE” atau “NIPPON STEEL” Jenis kawat las yang
akan digunakan harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari pabrik
pembuat dan petunjuk-petunjuk Direksi. Elektroda-elektroda las
harus diambil dari GRADA-A (besi heavy coatee type) batang-batang
elektroda yang dipakai diameternya lebih besar atau sama dengan 6 mm
(1/4 inch), dan batang-batang elektroda harus dijaga agar selalu dalam
keadaan kering.
5. Baut-baut yang digunakan harus baut hitam ulir (HTB) tak penuh dengan
tegangan baut dan tegangan las minimum adalah 1.400 kg/cm² atau
minimal sama dengan mutu baja yang digunakan (A-325 ASTM).
6. Pada konstruksi atap bangunan gedung, sambungan gording tidak h
arus menumpu pada kuda-kuda/jurai atau tumpuan lainnya. Untuk itu
sebelum pemasangan gording dilaksanakan
Kontraktor harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan Direksi/Pengawas.
7. Bahan baja ini kecuali ditunjuk atau dipersyaratan lain harus sesuai
dengan NI 3-1970
5.3.4 Pengujian Bahan

5.3.5 Syarat-Syarat Pelaksanaan

5.3.5.1 Perancangan
1. Penawaran baja dalam berat (kg), sudah termasuk “wastage” aki
bat pemotongan dan lain-lain dan diperhitungkan pada analisa harga
satuan.
2. Standard
Kontraktor bertanggung jawab untuk menjamin perancang baja untuk
pengerjaannya agar sesuai dengan persyaratan-persyaratan ini
sepenuhnya.
Kontraktor supaya menyiapkan salinan usulan standart
yang akan dipakai, sebagai pedoman bagi Direksi paling lambat 21 hari
sebelum fabrikasi.

5.3.5.2 Perencanaan dan Pengawasan


1. Gambar Kerja.
Sebelum pekerjaan di pabrik dimulai,
Kontraktor harus menyiapkan gambar-gambar kerja (shop
drawing) yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua
komponen, panjang serta ukuran las, jumlah, ukuran serta tempat baut-
baut serta detail-detail lain yang lazimnya diperlukan untuk fabrikasi.
2. Ukuran-ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap
semua ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
3. Kelurusan
Toleransi dari keseluruhan tidak lebih dari L/1000 untuk semua
komponen.
4. Pemeriksaan dan lain-lain
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan yang berkualitas
tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian
rupa sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat
di lapangan.
Direksi mempunyai hak untuk memeriksa pekerjaan di pabrik pada saat
yang dikehendaki,
dan tidak ada pekerjaan yang boleh dikirim ke lapangan sebelum
diperiksa dan disetujui Direksi/ Pengawas. Setiap pekerjaan yang kurang
baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan ditolak
dan bila terjadi demikian, harus diperbaiki dengan segera.
5.3.5.3 Pelaksanaan Dan Sistim Pemasangan.
1. Fabrikasi :
a. Sebelum memulai dengan
pemotongan, penyambungan, dan pemasangan Kontraktor harus
memberitahukan secara tertulis tentang tempat, sistim
pengerjaan dan pemasangan kepada Direksi untuk mendapat
persetujuannya.
b. Kontraktor harus terlebih dahulu menunjukkan kualitas
pengelasan dan penghalusan untuk dijadikan standart dalan pekerjaan
tersebut.
c. Pekerjaan pengelasan konstruksi baja harus sesuai dengan gambar
rencana dan harus mengikuti prosedur yang berlaku seperti AWS atau
AISC Spesification.
d. Kecuali ditunjuk sistim lain maka, dalam hal menghubungkan profil-
profil, plat-plat pengaku digunakan las listrik dengan alat pembakar
yang standart dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Batang las (bahan untuk las) harus dibuat dari bahan
yang campurannya sama dengan bahan yang akan disambung.
2) Kekuatan sambungan dengan las (hasil pengelasan) harus sama
kuat dengan batang yang disambung.
3) Pemeriksaan kekuatan las harus dilakukan dengan persetujuan
pengawas bila dianggap perlu dan dapat dilakukan di laboratorium.
4) Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus
menjamin situasi yang paling aman bagi
pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang dilakukan.
5) Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan, baik
bekas lapisan pertama, maupun bidang-bidang benda kerja harus
dibersihkan dari keras (slag) dan kotoran lainnya.
6) Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka
lapisan yang terdahulu harus dibersihkan
dari keras (slag) dan percikan-percikan logam
sebelum memulai dengan lapisan las yang baru.
7) Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang sama
sekali.
8) Tempat pengelasan dan juga bidang konstruksi yang di las, harus
terlindung dari hujan/ angin kencang.
9) Cara pemotongan harus menggunakan mesin potong dilakukan
dengan membatasi sekecil mungkin .
10) Permukaan las terakhir harus digerinda sampai rata dan halus.
11) Kesalahan pemotongan maupun lubang yang terlalu besar tidak
diperkenankan ditutup dengan las, karena itu batang yang
bersangkutan harus diganti dengan yang baru.
e. Lubang-lubang Baut
Pembuatan lubang baut harus dilaksanakan di pabrik dan harus
dikerjakan dengan alat bor.Lubang baut harus lebih besar 2.0 mm dari
pada diameter luar baut.
f. Sambungan
Untuk sambungan komponen konstruksi baja yang tidak dapat
dihindarkan berlaku ketentuan sebagai berikut :
1) Hanya diperkenankan satu sambungan.
2) Semua penyambung profil baja harus dilaksanakan dengan las
tumpul/full penetration butue weld.
g. Pemasangan Percobaan/Trial Erection
Bila dipandang perlu oleh Direksi/ Pengawas, Kontraktor
wajib melaksanakan pemasangan percobaan dari sebagian
atau seluruh pekerjaan konstruksi. Komponen yang tidak cocok atau
yang tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi dapat ditolak oleh
Direksi dan pemasangan percobaan tidak boleh dibongkar tanpa
persetujuan Direksi.

2. Pemasangan/ Erection.
Baja dipasangkan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi/ Manajemen
Konstruksi 2 (dua) hari setelah pengecoran.
a. Penguat Sementara.
Baja harus dipasang mati setelah sebagian besar struktur baja
terpasang dan disetujui ketepatan garis, vertikan dan horisontal.
Kontraktor supaya menyediakan penunjang-penunjang sementara
(pembautan-
pembautan) bilamana diperlukan sampai pemasangan mati
sesuai keputusan Direksi/ Pengawas.
b. Pembautan
Ulir harus bebas setidak-tidaknya dua setengah putaran dari muka mur
dalam keadaan terpasang mati.
Kontraktor supaya menggunakan setidak-tidaknya satu cincin pada
setiap mur dan menyiapkan daftar mur, baut, dan cincin.
Kontraktor supaya menggunakan cincin baja keras untuk baut tegangan
tinggi (HSB).
c. Adukan Pengisi (Grouting)
Kontraktor supaya memasang adukan pengisi dibawah pelat- pelat
kolom dll.tempat sesuai dengan gambar-gambar.
Penawaran harus sudah termasuk pekerjaan ini, bahan grouting
yang digunakan setaraf AM, Sika, Frosroksid.

3. Pengecatan
a. Semua bahan Konstruksi baja yang di expose / tampak harus di cat
sampai akhir, sedang baja yang tidak ditampakkan/expose cukup di cat
dasar.
b. Cat dasar adalah cat zink chromate buatan Dana Paint atau setara
sedangkan sebagai cat akhir adalah Enamel Paint produk ex Mowilex,
ICI, Kemton atau setara, dan pengecatan dilakukan satu kali di pabrik
dan satu kali di lapangan.
c. Baja yang akan ditanam dalam beton tidak boleh di cat.
d. Untuk lubang baut kekuatan tinggi/high strength bold permukaan
baja tidak boleh di cat.
e. Cat akhir adalah enamel paint buatan Mowilex, Kemton, ICI atau setaraf
dan pengecatan dilakukan 2
kali di lapangan, kecuali bila dinyatakan lain dalam gambar atau
spesifikasi arsitektur.
f. Dibagian bawah dari base plate dan/atau seperti yang tertera
pada gambar harus di grout dengan bahan setara “Master Flor 713
Grout”, dengan tebal minimum 2,5 cm.
g. Cara pemakaian harus sesuai spesifikasi pabrik.

4. Syarat-syarat Pengamanan Pekerjaan.


a. Bahan-bahan baja profil dihindarkan/dilindungi dari hujan dan lain-
lain.
b. Baja yang sudah terpasang dilindungi dari kemungkinan
cacat/rusak yang diakibatkan oleh pekerjaan-pekerjaan lain.
c. 3.
Bila terjadi kerusakan, Kontraktor diwajibkan untuk memperbai
kinya dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan.
Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
d. 4. Penempatan pipa dan batang baja
di work shop maupun dilapangan tidak boleh langsung
diatas tanah atau lantai, tetapi harus diatas balok-balok kayu yang
berjarak maksimum 2 m. Tanah atau lantai tersebut harus datar, padat
merata dan bebas dari genangan air.

5. Pemasangan Akhir/ Final Erection.


a. Alat-alat untuk pemasangan harus sesuai untuk pekerjaannya
dan harus dalam keadaan baik. Bila dijumpai bagian-bagian konstruksi
yang tidak dapat dipasang atau ditempatkan sebagaimana mestinya
sebagai akibat dari kesalahanpabrikasi atau perubahan bentuk yang
disebabkan penanganan, maka keadaanitu harus segera dilaporkan
kepada Direksi disertai usulan cara perbaikannya
Cara perbaikan tersebut harus mendapat persetujuan dari Direksi
sebelum dimulainya pekerjaan tersebut.
Biaya tambahan yang timbul akibat pekerjaan perbaikan tersebut
adalah menjadi tanggungan Kontraktor.
Meluruskan pelat dan besi siku atau bentuk lainnya harus dilaksanakan
dengan persetujuan Direksi..
Pekerjaan baja harus kering sebagaimana mestinya, kantong air
pada konstruksi yang tidak terlindung dari cuaca harus diisi
dengan bahan “waterproofing” yang disetujui. Sabuk pengaman dan
tali-tali harus digunakan oleh para pekerja pada saat
bekerja ditempat yang tinggi, disamping pengaman yang berupa
“piatfrom” atau jaringan (“net”).
b. Setiap komponen diberi kode/ marking sesuai dengan gambar
pemasangan sedemikian rupa sehingga memudahkan pemasangan.
c. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan-ikatan
sementara harus digunakan untuk mencegah tegangan-tegangan yang
melewati tegangan ijin.
Ikatan-ikatan itu dibiarkan sampai konstruksi selesai.
Sambungan-sambungan sementara dari baut harus diberikan kepada
bagian konstruksi untuk menahan beban mati, angin dan tegangan-
tegangan selama pembangunan.
d. Baut-baut, baut angker, baut hitam, baut kekuatan tinggi dan lain-
lain harus disediakan dan harus dipasang sebagaimana mestinya
sesuai dengan gambar detail.
Baut kekuatan tinggi harus dikencangkan dengan kunci momen
(torque wrench).
e. Pelat dasar kolom untuk kolom penunjang dan pelat
perletakan untuk balok, balok penunjang dan sejenis
harus dipasang dengan luas perletakan penuh setelah bagian
pendukung ditempatkan secara baik dan tegak.
Daerah dibawah pelat harus diberi adukan
lembab/ kering yang tidak susut dan disetujui Direksi.
Penyimpangan kolom dari sumbu vertikal tidak boleh lebihdari 1/1500 dari
tinggi vertikal kolom.
5. BAB 6
PEKERJAAN ARSITEKTUR

5.1 PEKERJAAN PASANGAN BATA MERAH


5.1.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan alat
alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan
hasil yang baik.
Pekerjaan pemasangan batu bata ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk perencana.

5.1.2 Standard Dan Persyaratan Yang Berlaku


Pekerjaan wajib memenuhi standard:
• Batu bata harus memenuhi NI 10
• Semen Portland harus memenuhi NI 8.
• Pasir harus memenuhi NI 3 pasal 14 ayat 2.
• Air harus memenuhi PVBI 1983 pasal 9.
5.1.3 Persyaratan Bahan
1. Batu bata yang dikehendaki adalah batu bata merah lokal bakaran kayu yang
berkualitas baik yaitu dengan hasil pembakaran yang matang berukuran sama
kira-kira 5x11x22 cm tidak boleh terdapat pecah-pecah (melebihi 20 %) dan tidak
diperbolehkan memasang bata yang pernah dipakai.

Bahan bata merah:


• Berat jenis kering (ρ) : 1500 kg/m3
• Berat jenis normal (ρ) : 2000 kg/m3
• Kuat tekan : 2,5 – 25 N/mm² (SII-0021,1978)
• Konduktifitas termis : 0,380 W/mK
• Tebal spesi : 20 – 30 mm
• Ketahanan terhadap api : 2 jam
• Jumlah per luasan per 1 m2 : 70 - 72 buah dengan construction waste

2. Sebagai Semen dan Pasir untuk pasangan batu bata ini harus sama dengan
kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.
5.1.4 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Dimana diperlukan menurut Direksi, pemborong harus membuat shop drawing
untuk pelaksanaan pembuatan adukan dan pasangan.
2. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam
gambar arsitektur terutama gambar detail dan gambar potongan mengenai
ukuran tebal/ tinggi/ peil dan bentuk profilnya.
3. Pasangan batu bata/batu merah, dengan menggunakan aduk campuran 1 PC : 4
pasir pasang. untuk semua dinding luar, semua dinding lantai dasar dari
permukaan sloof sampai ketinggian 30 cm diatas permukaan lantai dasar, dinding
didaerah basah setinggi 160 cm dari pemukaan lantai, serta semua dinding yang
pada gambar menggunakan simbol aduk trasraam/kedap air digunakan aduk
rapat air dengan campuran 1 PC : 2 pasir pasang.
4. Perekat harus dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujuh atau
dicampur dengan tangan pada permukaan yang keras, dilarang memakai
perekat yang sudah mulai mengeras untuk dipakai lagi.
5. Batu bata merah yang digunakan batu bata merah ex MRH, Jatirogo dengan
kwalitas terbaik yang disetujui Perencana, siku dan sama ukurannya 5 x 11 x 23
cm.
6. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum hingga
penuh.
7. Setelah bata terpasang dengan aduk, nad/siar siar harus dikerok sedalam 1 cm
dan dibersihkan dengan sapu lidi dan lemudian disiram air.
8. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih
dahulu dan siar siar telah dikerok serta dibersihkan.
9. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri maksimum
24 lapis atau maksimum setinggi 1 m setiap harinya, diikuti dengan cor kolom
praktis.
10. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum diaci/diplester)
11. Bidang dinding 1/2 batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 ditambahkan lok
penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12x12 cm, dengan tulangan pokok 4
diameter 10 mm, beugel diameter 6 mm jarak 20 cm.
12. Pembuatan lubang pada pasangan untuk perancah/scaffolding/stieger sama
sekali tidak diperkenankan.
13. Pembuatan lubang pada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian
pekerjaan beton (kolom) harus diberi penguat stek stek besi beton diameter 6 mm
jarak 75 cm, yang terlebih dahulu ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan
beton dan bagian yang ditanam dalam pasangan bata sekurang kurangnya 30 cm
kecuali ditentukan lain.
14. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari 5%
Bata yang patah lebih dari 2 tidak boleh digunakan.
15. Pasang batu bata dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish setelah 15
cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan pasangan harus
cermat, rapi dan benar benar tegak lurus.

5.1.5 Syarat Syarat Kualitas Pekerjaan


1. Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum diaci/diplester)
2. Pasangan batu bata dapat diterima/ diserahkan apabila deviasi bidang pada arah
diagonal dinding seluas 12 m² tidak lebih dari 0.5 cm (sebelum diaci/diplester).
3. Pasangan batu bata untuk dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish
setebal 15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan
pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus.

5.2 PEKERJAAN PLESTERAN DAN ACIAN SEMEN


5.2.1 Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan plesteran dinding ini adalah penyediaan tenaga kerja,
bahan-bahan, peralatan termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang diperlukan
untuk melaksanakan pekerjaan plesteran, sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan
yang bermutu baik.
2. Pekerjaan plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding bagian dalam
dan luar serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.
5.2.2 Persyaratan Bahan
1. Semen Portland harus memenuhi NI-8 (dipilih dari satu produk untuk seluruh
pekerjaan).
2. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2.
3. Air harus memenuhi NI-3 pasal 10.
4. Penggunaan asukan plesteran :
5. Adukan 1 PC : 3 pasir dipakai untuk plesteran rapat air.
6. Adukan 1 PC : 5 dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
7. Seluruh permukaan plesteran difinish acian dari bahan PC.
5.2.3 Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Plesteran dilaksanakan sesuai standard spesifikasi dari bahan yang digunakan
sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Perencana dan persyaratan tertulis
dalam Uraian dan Syarat Pekerjaan ini.
2. Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilaman pekerjaan bidang beton atau
pasangan dinding batu bata telah disetujui oleh Perencana sesuai Uraian dan
Syarat Pekerjaan yang tertulis dalam buku ini.
3. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam
gambar Arsitekur terutama pada gambar detail dan gambar potongan mengenai
ukuran tebal/tinggi/peil dan bentuk profilnya.
4. Campuran aduk perekat yang dimaksud adalah campuran dalam volume, cara
pembuatannya menggunakan mixer selama 3 menit dan memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a. Untuk bidang kedap air, beton, pasangan dinding batu bata yang berhubungan
dengan udara luar, dan semua pasangan batu bata dibawah permukaan tanah
sampai ketinggian 30 cm dari permukaan lantai dan 150 cm dari permukaan lantai
untuk kamar mandi, WC/toilet dan daerah basah lainnya dipakai aduk plesteran 1
PC : 3 pasir.
b. Untuk aduk kedap air, harus ditambah dengan Daily bond, dengan perbandingan
1 bagian PC : 1 bagian Daily bond.
c. Untuk bidang lainnya diperlukan plesteran 1 PC : 5 pasir.
d. Plesteran halus (acian) dipakai campuran PC dan air sampai mendapatkan
campuran yang homogen, acian dapat dikerjakan sesudah plesteran berumur 8
hari (kering benar), untuk adukan plesteran finishing harus ditambah dengan
additive plamix dengan dosis 200-250 gram plamix untuk setiap 40 Kg semen.
e. Semua jenis aduk perekat tersebut diatas harus disiapkan sedemikian rupa
sehingga selalu dalam keadaan baik dan belum mengering.
f. Diusahakan agar jarak waktu pencampuran aduk perekat tersebut dengan
pemasangannya tidak melebihi 30 menit terutama untuk adukan kedap air.
5. Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai pemasangan
instalasi pipa listrik dan plumbing untuk seluruh bangunan.
6. Khusus untuk permukaan beton yang akan diplester, maka :
a. Seluruh permukaan beton yang akan diplester harus dibuat kasar dengan cara
dipahat halus.
b. Sebelum plesteran dilakukan, seluruh permukaan beton yang akan diplester,
dibersihkan dari segala kotoran, debu dan minyak serta disiram / dibasahi dengan
air semen.
c. Plesteran beton dilakukan dengan aduk kedap air campuran 1 PC : 3 pasir.
a. Pasir pasang yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan
seperti yang disyaratkan.
7. Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan difinish
dengan cat dipakai plesteran halus (acian diatas permukaan plesterannya).
8. Untuk dinding tertanam didalam tanah harus diberapen dengan memakai spesi
kedap air.
9. Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada permukaannya diberi
alur-alur garis horizontal atau diketrek (scrath) untuk memberi ikatan yang lebih
baik terhadap finishingnya, kecuali untuk yang menerima cat.
10. Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 M, dipasang tegak dan
menggunakan keping-keping plywood setebal 9 mm untuk patokan kerataan
bidang.
11. Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom yang
dinyatakan dalam gambar, atau sesuai peil-peil yang diminta gambar. Tebal
plesteran 2,5 cm, jika ketebalan melebihi 2,5 cm harus diberi kawat ayam untuk
membantu dan memperkuat daya lekat dari plesterannya pada bagian pekerjaan
yang diizinkan Perencana.
12. Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya yang bertemu dalam satu
bidang datar, harus diberi naat (tali air) dengan ukuran 0,7 cm dalamnya 0,5 cm,
kecuali bila ada petunjuk lain didalam gambar.
13. Untuk permukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau cembung
bidang tidak melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi, Kontraktor
berkewajiban memperbaikinya dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
14. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar
tidak terlalu tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat
kering dan melindungi dari terik panas matahari langsung dengan bahan-bahan
penutup yang bisa mencegah penguapan air secara cepat.
15. Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, plesteran harus
dibongkar kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh
Perencana dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
16. Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai Kontraktor harus selalu menyiram
dengan air, sampai jenuh sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari.
17. Selama pemasangan dinding batu bata/beton bertulang belum difinish, Kontraktor
wajib memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan yang terjadi menjadi
tanggung jawab Kontraktor dan wajib diperbaiki.
18. Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum plesteran
berumur lebih dari 2 (dua) minggu.
5.3 PEKERJAAN KUSEN ALUMINIUM, DAUN PINTU, JENDELA DAN KACA
5.3.1 Pekerjaan Kusen Aluminium
5.3.1.1 Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan dan
alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga dapat
tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh kusen pintu, dan jendela seperti yang dinyatakan /
ditunjukkan dalam gambar.
c. Pekerjaan ini dilakukan secara terpadu dengan pekerjaan kusen, pintu dan
jendela, pekerjaan kaca.
5.3.1.2 Persyaratan Bahan
a. Terbuat dari bahan Aluminium Framing System, dari produk dalam negeri ex.
Alexindo, berwarna yang memenuhi Aluminium extrusi sesuai SII extrusi 0695-82,
0649-82.
b. Bentuk ukuran profil kusen yang dipakai adalah 4” (4,4 x 10,2 cm) atau sesuai
dalam gambar, dengan terlebih dahulu dibuatkan gambar detail rinci dalam shop
drawing yang disetujui Direksi / Pengawas.
c. Warna profil :
Untuk Kusen Aluminium warna putih optional sesuai design putih lapis powder coating
d. Untuk keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna profil-
profil harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu fabrikasi unti-unit
jendela, pintu, partisi dan lain-lain, profil harus diseleksi lagi warnanya sehingga
dalam tiap unit didapatkan warna yang sama.
e. Bahan yang akan melalui proses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu dengan
seksama sesuai dengan bentuk toleransi, ukuran, ketebalan, kesikuan,
kelengkungan, pewarnaan yang disyaratkan Direksi.
f. Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi Rencana Kerja dan Syarat-
syarat dari pekerjaan aluminium serta memenuhi ketentuan-ketentuan dari pabrik
yang bersangkutan.
g. Konstruksi kusen yang dikerjakan harus seperti yang ditunjukkan dalam detail
gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
h. Kusen aluminium eksterior memiliki ketahanan terhadap tekanan angin 120 kg/m2,
untuk setiap type dan harus disertai hasil test.
i. Kusen aluminium eksterior memiliki ketahanan terhadap air/kebocoran air, tidak
terlihat kebocoran signifikasi (air masuk ke dalam interior bangunan sampai
tekanan 137 Pa (positif) dengan jangka waktu 15 menit, dengan jumlah air
minimum 3,4 L/m2 min.
j. Nilai deformasi diijinkan maksimum 2 mm.
k. Pekerjaan mesin potong, mesin punch, drill, dan lain-lain harus sedemikian rupa
sehingga diperoleh hasil rakitan untuk unit-unit jendela, pintu dan partisi yang
mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :
untuk tinggi dan lebar 1 mm.
untuk diagonal 2 mm.
l. Accessories :
Sekrup dari galvanized kepala tertanam, weather strip dari vinyl, pengikat alat
penggantung yang dihubungkan dengan aluminium harus ditutup caulking dan
sealant.
Sealant yang dipergunakan adalah ex. Dow Corning type 795 atau setara.
m. Angkur-angkur untuk rangka / kusen aluminium terbuat dari steel plate tebal 2-3
mm, dengan lapisan zink tidak kurang dari 13 mikron sehingga tidak dapat
bergerak / bergeser.
n. Handle, engsel, kunci maupun slot pintu dan jendela menggunakan kwalitas I
dengan merk : Solid. Untuk hak angin sikutan menggunakan casement.
5.3.1.3 Persyaratan Pelaksanaan
a. Sebelum memulai pelaksanaan Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-gambar
dan kondisi di lapangan, terutama ukuran dan peil lubang bukaan dinding.
Kontraktor diwajibkan membuat contoh jadi (mock-up) untuk semua detail
sambungan dan profil aluminium yang berhubungan dengan sistem konstruksi
bahan lain dan dimintakan persetujuan dari Direksi / Pengawas.
b. Kontraktor wajib mengajukan mockup profil untuk mendapatkan persetujuan dari
Direksi Pengawas.
c. Proses fabrikasi harus sudah berjalan dan siap lebih dulu sebelum pekerjaan
lapangan dimulai. Proses ini harus didahului dengan pembuatan shop drawing
atas petunjuk manajemen Konstruksi, meliputi gambar denah, lokasi, merk,
kualitas, bentuk, ukuran. Kontraktor juga diwajibkan untuk membuat perhitungan-
perhitungan yang mendasari sistem dan dimensi profil aluminium terpasang,
sehingga memenuhi persyaratan yang diminta/berlaku. Kontraktor bertanggung
jawab penuh atas kehandalan pekerjaan ini.
d. Semua frame / kosen baik untuk jendela, pintu dan dinding partisi, dikerjakan
secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan agar
hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
e. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Disarankan untuk
mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa menyebabkan
kerusakan pada permukaannya.
f. Pengelasan dibenarkan menggunakan non-activated gas (argon) dari arah bagian
dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata. Pengelasan harus rapi untuk
memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai dengan gambar.
g. Akhir bagian kosen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup, rivet,
stap dan harus cocok.
h. Angkur-angkur untuk rangka / kosen aluminium terbuat dari steel plate setebal 2-
3 mm dan ditempatkan pada interval 600 mm.
i. Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti karat,
sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap air dan
memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 kg/cm2. Celah antara kaca
dan sistem kosen aluminium harus ditutup oleh sealant.
j. Untuk fitting hardware dan reinforcing materials yang mana kosen aluminium akan
bertemu dengan besi, tembaga atau lainnya maka permukaan metal yang
bersangkutan harus diberi lapisan chromium untuk menghindari timbulnya korosi.
k. Toleransi pemasangan kosen aluminium disatu sisi dinding adalah 10-25 mm yang
kemudian diisi dengan beton ringan / grout.
l. Khusus untuk pekerjaan jendela geser aluminium, kehorizontalan rel mutlak
diperhatikan sebelum rangka kosen terpasang. Permukaan bidang dinding
horizontal yang melekat pada ambang bawah dan atas harus waterpass
(pelubangan dinding).
m. Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada ruang
yang dikondisikan, hendaknya ditempatkan mohair dan jika perlu dapat digunakan
synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin. Penggunaan ini dilakukan pada
swing door dan double door.
n. Sekeliling tepi kosen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi sealant
supaya kedap air dan suara.
o. Tepi bawah ambang kosen exterior agar dilengkapi flashing untuk penahan air
hujan.

5.3.2 Pekerjaan Daun Pintu


5.3.2.1 Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya
untuk melaksanakan pekerjaan seperti dinyatakan dalam gambar dengan hasil
yang baik dan sempurna.
b. Pekerjaan pemasangan daun fabrikan type SWP dan Spandreel Aluminium
dipasang pada seluruh detail sesuai yang dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.
5.3.2.2 Persyaratan Bahan
a. Daun pintu menggunakan produk fabrikan type SWP (Solid Wood Panel) dan
Spandreel Aluminium, dengan model Router + Kaca atau sesuai dengan gambar
detail kusen / daun pintu.
b. Merk: Tulus Tri Tunggal.
c. Finishing daun pintu menggunakan semi duco sesuai dengan pilihan Perencana.
5.3.2.3 Persyaratan Pelaksanaan
a. Sebelum pelaksanaan Kontraktor wajib menyerahkan contoh-contoh
bahan/material yang digunakan kepada Direksi untuk mendapatkan
persetujuannya.
b. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-
gambar yang ada dan kondisi dilapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk
mempelajari bentuk, pola, lay-out/penempatan, cara pemasangan, mekanisme
dan detail-detail sesuai gambar.
5.3.3 Pekerjaan Kaca
5.3.3.1 Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan dan
alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat
tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
b. Pekerjaan ini meliputi kaca daun pintu, kaca daun jendela, kaca mati.
c. Pekerjaan ini berkaitan dengan (Pekerjaan Kosen, Pintu dan Jendela).
5.3.3.2 Persyaratan Bahan
a. Umum
• Kaca adalah benda yang terbuat dari bahan glass yang pipih pada umumnya
mempunyai ketebalan yang sama, mempunyai sifat tembus cahaya, diperoleh dari
proses pengambangan (Float Glass). Kedua permukaannya rata, licin dan bening.

b. Khusus
• Digunakan lembaran kaca rayban (rayban float glass) produk ASAHIMAS. Kaca
tebal minimum 5 mm, atau sesuai perhitungan sedangkan dan untuk pintu kaca
frameless menggunakan kaca tempered dengan ketebalan 12 mm serta untuk
jendela menggunakan kaca tempered dengan ketebalan 8mm, digunakan untuk
pemasangan dinding kaca pada daerah Interior dan seluruh pintu kaca Frame,
kecuali hal khusus lain seperti dinyatakan dalam gambar.
c. Toleransi
• Panjang-Lebar; ukuran panjang dan lebar tidak boleh melampaui toleransi seperti
yang ditentukan oleh pabrik, yaitu toleransi panjang dan lebar kira-kira 2 mm.
• Kesikuan; kaca lembaran yang berbentuk segi empat harus mempunyai sudut siku
serta tepi potongan yang rata dan lurus. Toleransi kesikuan maksimum yang
diperkenankan adalah 1,5 mm per meter panjang.
• Ketebalan; ketebalan kaca lembaran yang digunakan tidak boleh melampaui
toleransi yang ditentukan pabrik, yaitu maksimum 0.3 mm.
d. Ketebalan semua kaca terpasang harus mengikuti standard perhitungan dari
pabrik bersangkutan, yang antara lain mempertimbangkan penggunaannya pada
bangunan, luas / ukuran bidang kaca (cutting size), maupun tekanan positif dan
negatif yang akan bekerja pada bidang kaca. Perhitungan ini harus disetujui
Direksi Pengawas.
e. Cacat-cacat yang diperbolehkan harus sesuai dengan ketentuan dari pabrik:
• Kaca yang digunakan harus bebas dari gelembung (ruang-ruang yang berisi gas
yang terdapat pada kaca).
• Kaca yang digunakan harus bebas dari komposisi kimia yang dapat mengganggu
pandangan.
• Kaca harus bebas dari keretakan (garis-garis pecah pada kaca baik sebagian atau
seluruh tebal kaca).
• Kaca harus bebas dari gumpilan tepi (tonjolan pada sisi panjang dan lebar kearah
luar/masuk).
• Harus bebas dari benang (string) dan gelombang (wave); benang adalah cacat
garis timbul yang tembus pandang, sedang gelombang adalah permukaan kaca
yang berobah dan mengganggu pandangan.
• Harus bebas dari bintik-bintik (spots), awan (cloud) dan goresan (scratch).
• Bebas awan (permukaan kaca yang mengalami kelainan kebeningan).
• Bebas goresan (luka garis pada permukaan kaca).
• Bebas lengkungan (lembaran kaca yang bengkok).
f. Mutu kaca lembaran yang digun