Anda di halaman 1dari 34

Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara kinetika

kimia. Cara ini memerlukan waktu yang ama sehingga praktis digunakan dalam bidang
farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu zat kinetika
kimia adalah:
1.      Kecepatan reaksi
Kecepatan atau laju suatu reaksi diberikan sebagai ± dC/dt. Artinya terjadi penambahan (+)
atau pengurangan (-) konsentrasi C dalam selang waktu dt. Menurut hokum aksi massa, laju
suatu reaksi kimia sebanding hasil kali dari konsentrasi molar reaktan yang masing-masing
dipangkatkan dengan angka yang menunjukkan jumlah molekul dari zat-zatyang ikut serta
dalam reaksi. Dalam reaksi :
            aA + bB + ….. = Produk
laju reaksinya adalah :
Laju = - 1/a d(A)/dt
         = -1/b d(B)/dt = …… = k(A)a(B)b……
k adalah konsentrasi laju. Laju berkurang masing-masing komponen reaksi diberikan dalam
bentuk jumlah mol ekuivalen masing-masing komponen yang ikut serta dalam reaksi.    

2.      Orde reaksi


Dari hukum aksi massa, suatu garis lurus di dapat bila laju reaksi diplot sebagai fungsi dari
konsentrasi reaktan dipangkatkan dengan bilangan tertentu. Orde reaksi keseluruhan adalah
jumlah pangkat konsentrasi-konsentrasi yang menghasilkan seluruh garis lurus. Orde bagi
tiap reaktan adalah pangkat dari tiap konsentrasi reaktan.

3.      Temperatur
Sejumlah faktor lain, selain konsentrasi dapat mempengaruhi kecepatan reaksi. Diantaranya
adalah temperature, pelarut, katalis dan sinar. Kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira
dua atau tiga kalinya tiap kenaikan 10°C. Pengaruh temperature terhadap laju ini diberikan
dengan persamaan yang pertama kali dikemukakan oleh Arrhineus.
                     k = Ae-Ea/RT
atau
log k = log A –       Ea      .   1 
                           2,303       RT

Dimana laju spesifik,  A adalah konstanta yang disebut factor frejuensi, Es asalah energi
aktifasi R adalah konstanta gas, 1,987 kalori/derajat mol, dan T adalah temperature absolute.
Konstanta itu dapat dicari dengan menentukan k pada berbagai temperature dan memplot 1/T
terhadap log k.

4.      Kekuatan ion


Pengaruh kekuatan ion terhadap kecepatan reaksi dapat dilihat dari persamaan berikut :
         Log K = log ko + 1,02 zAzB μ
Dimana :
 K  = Konstanta kecepatan penguraian pada kekuatan ion tertentu
ko   = Konatanta kecepatan penguraian pada kekuatan ion = 0
z    = Muatan ion
μ    = Kekuatan ion

5.      Pengaruh pH
Reaksi penguraian beberapa larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H +)
atau basa (OH-). Katalisator ini disebut katalisator asam basa khusus. Misalnya pada reaksi
hidrolisa ester (S) dalam air (R).
S + R               ----------         P
S + H+             ----------         SH+
SH+  + R          ======        P
Skema reaksi umum ini menganggap bahwa hasil reaksi P pada reaksi hidrolisis ini tidak
bergantung kembali membentuk ester.
Untuk reaksi ini pada umumnya, laju pembentukan hasil reaksi dinyatakan dengan :
 dP      = k (SH+)
 dt           (S)(H+)
      konsentrasi asam konjugat SH+ merupakan jumlah yang dapat diukur, karena pra-
kesetimbangan membutuhkan :
K =   (SH+)
        (S)(H+)
Sehingga :
(SH+) = K (S)(H+)
  Dan :
   dP  = kK(S)(H+)
   dt
                  ( Connors : 1994).
       II.2     Uraian bahan
1. Air suling (Ditjen POM, 1979: 96)
ama resmi        :  Aqua destillata
ama lain           :  Air suling
M/BM              :  H2O / 18,02
merian            : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
nyimpanan      :  Dalam wadah tertutup baik
gunaan           : Sebagai air pendingin

OH (Ditjen POM, 1979: 472)


ama resmi        :  Natrii hydroxydum
ama lain           :  Natrium hidroksida
M/BM              :  NaOH / 40,00
merian            : Bentuk batang, butiran, rasa halus, tau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukan susunan
hablur putih, mudah meleleh, basah, sangat alkalis dan korosit segera menyerap
karbondioksida
nyimpanan      :  Dalam wadah tertutup baik
arutan           :  Sngat mudah larut dalam air, dalam etanol 95%
gunaan           : Zat tambahan

3 . Parasetamol (Ditjen POM, 1979: 37)


ama resmi        :  Asetaminofen
ama lain           :  Parasetamol
M/BM              :  C8H9NO2 / 151,16
merian            : hablur atau serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit.
nyimpanan      :  Dalam wadah tertutup baik. Terlindung dari cahaya.
arutan           :  larut dalam 70 bagian etanol 95%P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida.
gunaan           : Sampel uji

BAB III
PROSEDUR  KERJA

III.1 Alat dan Bahan

        III.1.1 Alat                 


1. Batang pengaduk
2. Botol semprot   
3. Gelas kimia 100 ml
4. Gelas ukur 10 ml
5. Kuvet
6. Labu takar 10,50,dan 100ml
7. Oven
8. Penangas air
9. Pipet tetes panjang
10.  Pipet tetes pendek
11.  Pipet volum 5 ml
12.  Spekrtofotometer
13.  Stopwatch
14.  Spoit 5 ml
15.  Timbangan
16.  Vial

       III.1.2 Bahan


1.      Aquadest
2.      Parasetamol  dry sirup
3.      NaOH 0,1 N
4.      Tissue

III.2 Langkah Percobaan  

a.       Penentuan panjang gelombang maksimal


Sejumlah baku pembanding parasetamol ditimbang seksama dan diencerkan dengan
air suling hingga diperoleh konsentrasi 1000ppm. Sejumlah larutan ini dipipet kedalam labu
ukur dan diencerkan dengan aquades sampai tanda hingga konsentrasinya 50 ppm, kemudian
diukur serapannya pada rentang panjang gelombang 200-300. Selanjutnya dibuat kurva
antara serapan terhadap panjang gelombang.

b.      Penentuan kurva baku


Larutan paracetamol dibuat dengan konsentrasi bervariasi. Kemudian masing-masing
konsentrasi diukur serapannya pada panjang gelombang maksimal. Selanjutnya dibuat kurva
antara serapan terhadap konsentrasi.

c.       Penetapan kadar paracetamol


Penetapan kadar timbang saksama 1,5gr. Tambahkan 100ml air dan 20 ml natrium
hidroksida 0,1N, encerkan dengan air secukupnya hingga 200 ml pada 5ml, tambahkan 9,5ml
natrium hidroksida 0,1N, encerkan dengan air secukupnya higga 100ml. Ukur serapan.
Hitung bobot zat dalam mg.

d.      Penentuan umur simpan sirup parasetamol


Sirup parasetamol diasukkan kedalam 21 vial masing-masing sebanyak 5m.
Kemudian vial-vial tersebut dimasukkan kedalam oven dengan suhu 40 °C,50°C, dan 60°.
Pada jam ke 0,30,60,90, 120, dan 180 menit diambil 1 vial dan diukur kadar paracetamol.

e.       Penetapan kadar sirup paracetamol


Sirup paracetamol sebanyak 1 ml ditambahkan larutan natrium hidroksida 0,1 N,
hingga 10ml kemudian dipipet sebanyak 1 ml ditambahkan air hingga 50ml. Ukur
serapannya. Hitung bobot zat mg dalam sirup.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil percobaan dan perhitungan

a.       Kurva Baku

Kadar Absorban
PCT
5 0,29
6 0,378
7 0,464
8 0,359
9 0,632
10 0,702
11 0,788

b.      Data

Waktu(menit 400 500 600


)
0 0,327 0,4103 0,3267
30 0,32 0,4377 0,3327
60 0,3183 0,4303 0,3173
90 0,3123 0,425 0,313
120 0,2917 0,4181 0,3003
150 0,2843 0,4103 0,3437
180 0,298 0,4013 0,2903

c.       Perhitungan konsentrasi sirup PCT

Waktu 40 50       60
0 32,37382 38,432 32,352
30 31,86473 40,42473 32,78836
60 31,74109 39,88655 31,66836
90 31,30473 39,50109 31,35564
120 29,80655 38,99927 30,432
150 29,26836 38,432 33,58836
180 30,26473 37,77745 29,70473

d.      Perhitungan koefisien korelasi


1.      Untuk suhu 400 C

Waktu Konsentrasi Log C 1/C


0 32,37382 1,51019 0,03089
30 31,86473 1,50331 0,03138
60 31,74109 1,50162 0,03150
90 31,30473 1,49561 0,03194
120 29,80655 1,47431 0,03355
150 29,26836 1,46639 0,03417
180 30,26473 1,48094 0,03304

2.      Untuk suhu 500 C

Waktu Konsentrasi Log C 1/C


0 38,432 1,58469 0,02602
30 40,42473 1,60665 0,02474
60 39,88655 1,60083 0,02507
90 39,50109 1,59661 0,02532
120 38,99927 1,59106 0,02564
150 38,432 1,58469 0,02602
180 37,77745 1,57723 0,02647

3.      Untuk suhu 600 C

Waktu konsentrasi Log C 1/C


0 32,352 1,50990 0,03091
30 32,78836 1,51572 0,03049
60 31,66836 1,50063 0,03158
90 31,35564 1,49632 0,03189
120 30,432 1,48333 0,03286
150 33,58836 1,52619 0,02977
180 29,70473 1,47283 0,03366

e.       Penentuan orde reaksi

Orde Koefisien korelasi (r)


0
40 500 600
0 -          0,88683 0,56779 -          0,43410
1 -          0,88255 0,56869 -          0, 44816
2 -          0,87767 0,56960 -          0,46155

f.       Penentuan nilai K

Suhu b K
40 1,67619 x 10- 1,67619 x 10-5
5

50 5,33333 x 10- 5,33333 x 10-6


6

60 9,63095 x 10- 9,63095 x 10-6


6
g.      Penentuan nilak k pada suhu 25o C dan usia simpan

Suhu Suhu (oK) 1/T (x) K Log K


40 313 3,19489 x 10-3 1,67619 x 10-5 -4,77568
50 323 3,09598 x 10-3 5,33333 x 10-6 -5,27300
60 333 3,00300 x 10-3 9,63095 x 10-6 -5,01633
25 298 3,35570 x 10-3 2,15933 x 10-5 -4,66568

      =  0,21440

IV.2 Pembahasan
Untuk membuat suatu sediaan zat obat menjadi suatu bentuk sediaan akhir, bahan-
bahan farmasetik dibutuhkan. Sebagai contoh, dalam pebuatan larutan sediaan farmasi, satu
atau lebih pelarut digunakan untuk melarutkan bahan tersebut, pengawet dapat ditambahkan
untuk mencegah pertunbuhan mikroba, penstabil bisa digunakan untuk mencegah peruraian
obat, dan pemberi warna serta pemberi rasa ditambahkan untuk menambah penampilan
produk.
Salah satu aktivitas yang paling penting dalam kerja preformulasi adalah evaluasi
kestabilan fisika dan kimia dari zat obat murni. Adalah perlu bahwa pengkajian awal ini
dihubungkan dengan menggunakan sampel obat dengan kemurnian yang diketahui. Adanya
pengotoran dapat mengakibatkan kesimpulan yang salah dalam evaluasi tersebut. Pengkajian
kestablian yang dihubungkan dalam fase preformulasi termasuk kestabilan obat itu sendiri
dalam keadaan padat, kestabilan fase larutan, dan kestabilan dalam adanya zat penambah
yang diharapkan.

Ketidakstabilan kimia dari zat obat dapat mengambil banyak bentuk, karena obat-
obat yang digunakan sekarang adalah dari konstituen kimia yang beraneka ragam.

Ketidakstabilan formulsai obat dapat dideteksi dalam beberapa hal dengan suatu
perubahan penampilan fisik, warna, bau, rasa, dan tekstur dari formulasi tersebut, sedangkan
dalam hal lain perubahan kimia dapat terjadi yang tidak dibuktikan sendiri dan hanya dapat
dipastikan melalui analisis kimia. Data ilmiah yang menyinggung kestabilan dari suatu
formulasi menghasilkan ramalan shelf-life yang diharapkan dari produk yang diteliti tersebut
dan bila perlu, untuk merangsang kembali obat tersebut dan untuk formulasi kembali bentuk
sediaan tersebut. Jelaslah laju dan kecepatan terjadinya degradasi obat dalam suatu formulasi
merupakan hal yang sangat penting. Pengkajian laju perubahan kimia dan cara di mana zat
tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti konsentrasi obat atau reaktan, pelarut yang
digunakan, kondisi temperatur dan tekanan, dan adanya zat-zat kimia lain dalam formulasi
tersebut disebut reaksi kinetika.

Kestabilan suatu zat merupakan factor yang harus diperhatikan yaitu pembuatan
sediaan farmasi. Oleh karena itu hasil dari pembuatan sediaan farmasi  itu khususnya obat
dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil uaraian itu bersifat toksik sehingga
sangat atau dapat membahayakan pada konsumen. Oleh karena itu kita perlu mengtahui
factor-faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu zat atau obat sehingga dapat dipilih
suatu kondisi dimana kestabilan obat optimum. Faktro-faktor yang dapat mempengaruhi
kestabilan suatu obat antara lain yaitu panas, cahaya, kelembaban, oksigen, pH dan
mikroorganisme.
Stabilitas obat mencakup masalah kadar obat yang berkhasiat. Bila suatu obat stabil
artinya dalam waktu lama obat akan berada dalam keadaan semula, tidak mengalami
perubahan atau jika berubah masih dalam batas yang sesuai persyaratan.

Efek farmakokinetik dari sampel obat yaitu absorpsi parasetamol    cepat   dan  
sempurna   di    saluran pencernaan .Konsentrasi  tertinggi  dicapai dalam waktu  ½  jam  dan 
masa  paruh plasma antara 1-3 jam .Obat  ini  tersebar  ke  seluruh  cairan tubuh. Dalam 
plasma  25% parasetamol terikat di protein plasma .   Obat   ini   di   metabolism    oleh  
enzim mikrosom  di  hati .  Sebagian  asetaminofen (80%) dikonjugasi dengan asam
glukuronat dan sebagian kecil     lainnya     dengan     asam     sulfat . obat ini diekskresi    
di     ginjal  ,    sebagian    kecil sebagai parasetamol   dan   sebagian   besar  dalam bentuk
terkonjugasi.

Dalam percobaan ini kita akan menentukan energi aktivasi (Ea) dimana Ea yaitu
kemampuan suatu sediaan untuk dapat mengalami penguraian zat. Energi aktivasi (Ea) harus
ditentukkan dengan cara mengamati perubahan konsentrasi pada suhu tinggi, dengan
membadingkan dua harga konstanta penguraian zat pada temperatur  atau suhu yang berbeda
sehingga dapat ditentukkan energi aktivasinya. Dengan demikian batas kadaluarsa suatu
sediaan farmasi dapat diketahui dengan tepat.
Hasil percobaan adalah  diperoleh hasil untuk waktu paruh atau (t1/2) adalah
1,92961 dengan nilai t90 yaitu 0,21440.

Mekanisme kerja spektrofotometri, sinar dari sumber sinar adalah sinar


polikromatis maka dilewatkan terlebih dahulu melalui monokromator, kemudian sinar
monokromatis dilewatkan melalui kuvet yang berisi contoh maka akan menghasilkan sinar
yang ditransmisikan dan diterima oleh detektor untuk diubah menjadi energi listrik ang
kekuatannya dapat diamati oleh alat pembaca (satuan yang dihasilkan adalah absorban atau
transmitan).

Aplikasi stabilitas bahan obat dalam dunia farmasi yaitu untuk mengetahui profil
fisika kimia yang lengkap dari bahan obat yang tersedia, yaitu dengan diketahui stabilitas
suatu obat, maka kita dapat mengetahui sifat-sifat fisika dan kimia dari obat tersebut. sangat
penting dimana kita dapat mengetahui dan menetapkan massa kadaluarsa (data exp) dari
setiap sediaan obat atau makanan yang diproduksi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  V.1 KESIMPULAN

               Dari percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa :
1.  Nilai dari t1/2 adalah 1,929824
2.  Nilai dari t 90 adalah 0,21440
3.  Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan obat adalah suhu, cahaya, kelembaban, oksigen,
ph dan mikroorganisme.

V.2 Saran
Sebaiknya alat dan bahan dilaboratorium dilengkapi agar mempermudah proses
praktikum. Dan diharapkan kerjasama yang baik antara praktikan dan asisten.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2005. “Penuntun Praktikum Farmasi Fisika”. UMI. Makassar

Ansel, H..C, 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi IV. Diterjemahkan oleh Farida ibrahim, UI-
press, Jakarta, 993.

Martin, A.dkk, 1993. Farmasi Fisika Edisi III Volume II. Diterjemahkan oleh yoshito, UI press,
Jakarta. 1029, 1030,1143,1144.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen kesehatan Indonesia RI, Jakarta.

Gennaro, A. R., et all., (1990), “ Remingto’s Pharmaceutical Sciensces “, Edisi 18th, Marck Publishing
Company, Easton, Pensylvania, 591.

Dra. Susanti dan Dra. Yeanny wenas. Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif. Universitas Hasanuddin,
Makassar.

Tim Penyusun, 2006. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Fakultas Farmasi, UMI, Makassar,
24,25,26.
Stabilitas Obat

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat

formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu obat atau sediaan farmasi

biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang lama sampai

ketenangan pasien yang membutuhkannya. Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang

lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat

toksik sehingga dapat membahayakan dan dampak negatif bagi jiwa pasien. Oleh karena itu

perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu zat dapat sehingga

dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat optimum.

Penjelasan diatas menjelaskan kepada kita betapa pentingnya kita mengetahui pada

keadaan yang bagaiman suatu obat tersebut aman dapat tahan atau bertahan lama, sehingga

obat tersebut dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa menurunkan khasiat obat

tersebut.

Olah karena itu pada percobaan ini dilakukan atau dimaksudkan dalam salah satu

percobaan pada paraktikum farmasi fisika, sehingga setelah melakukan percobaan stabilitas

obat, praktikum dapat mengetahui bagaimana karateristik obat tersebut, atau pada keadaan

yang bagaimana suatu obat dapat bertahan lebih lama, serta mampu memperkirakan

kadaluarsa suatu obat.

B.     Rumusan masalah


Adapun rumusan masalah dari praktikum ini adalah bagaimana laju penguraian obat

terhadap suhu.

C.  Maksud dan Tujuan Praktikum

1.      Maksud dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap penguraian obat.

2.      Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan t1/2 dan t 90 dari obat terhadap pengaruh

suhu.

D.  Prinsip Praktikum

Penentuan laju penguraian obat terhadap perbedaan suhu yaitu 30’,40’,50’ yang

dibutuhkan dengan metode grafik

..

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Teori Umum

Stabilitas suatu obat adalah suatu pengertian yang mencakup masalah kadar obat yang

berkhasiat. Batas kadar obat yang masih bersisa 90% tidak dapat lagi disebut sub standar

waktu diperlukan hingga tinggal 90% disebut umur obat (Martin, Swarbrick, Cammarata,

1983).
Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan melalui perhitungan

kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu lama sehingga cukup praktis digunakan

dalam bidang farmasi. Hal-hal penting diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu obat

secara kinetika kimia adalah (Anonim, 2013):

1.      Kecepatan Disolusi

2.      Factor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi

3.      Tingkat reaksi dan cara penentuan

Ada beberapa pendekatan untuk kestabilan dari preparat-preparat farmasi yang

mengandung obat-obat yang cenderung mengurai dengan hidrolisis.Barangkali paling nyata

adalah reduksi atau eliminasi air dari sistem farmasi.Bahkan bentuk-bentuk sediaan padat

yang mengandung obat-obat labil air harus dilindungi dari kelembaban atmosfer. Ini dapat

dibantu dengan menggunakan suatu penyalut pelindung tahan air menyelimuti tablet atau

dengan menutup dan menjaga obat dalam wadah tertutup kuat (Martin et al, 1993).

Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pH, dimana reaksi penguraian

dari beberapa larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H†) atau basa (OHˉ)

dengan menggunakan katalisator yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan

tidak mempengaruhi dari hasil reaksi (Martin et al, 1993).

Penguraian bahan berkhasiat pada bentuk sediaan farmasi terjadi melalui berbagai

jalur, yaitu hidrolisis, oksidasi-reduksi, rasemisasi, dekarboksilasi,pemecahan cincin dan

fotolisis, yang paling sering dijumpai adalah hidrolisis dan oksidasi-reduksi (Lachman,

Lieberman, Kanig, 2008).

Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pH, dimana reaksi penguraian

dari larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H +) atau basa (OH-) dengan

menggunakan katalisator yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan tidak

mempengaruhi hasil dari reaksi (Ansel, 1989)


Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik dan trsendiri dengan bahan – bahan dari

formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk menentukan suatu stabilitas kimia

dan farmasi serta mempersatukannya sebelum memformulasikan menjadi bentuk-bentuk

sediaan (Ansel, 1989)

Untuk obat-obat tertentu 1 bentuk kristal atau polimorf mungkin lebih stabil dari pada

lainnya, hal ini penting supaya obat dipastikan murni sebelum diprakarsai percobaan uji

stabilitasnya dan suatu ketidakmurnian mungkin merupakan katalisator pada kerusakan obat

atau mungkin menjadikan dirinya tidak akan stabil dalam mengubah penampilan fisik bahan

obat (Parrot, 1968)

Kestabilan suatu sediaan farmasi dapat dievaluasi dengan test stabilitas dipercepat

dengan mengamati perubahan kosentrasi pada suhu yang tinggi (Lachman et al, 1994)

Perbedaan bahan obat karena susunan kimianya masing-masing memasukkan

pengaruhnya dalam sistem biologi. Beberapa bulan dihubungkan dengan lainnya secara

kimiawi dan memasukkan pengaruh yang sama. Modifikasi bahan obat yang ada secara kimia

dapat menghasilkan senyawa baru dengan kelebihan-kelebihan terapeutiknya dibandingkan

dengan senyawa-senyawa yang paten. Jadi suatu ciri senyawa mungkin diolah secara sintesis

dari suatu susunan aktifitas dasar farmakologi untuk mendapatkan bahan-bahan obat yang

lebih baik dalam satu kelompok senyawa . senyawa-senyawa yang mempunyai kelebihan

terhadap lainnya akan didahulukan pengembangan & pemakaian (Ansel, 1989).

B.     Uraian bahan

1.      Aquadest (Ditjen POM. 1979)

Nama resmi                       : Aqua destillata

Nama lain                          : Air suling

BM / RM                           : 18,02 / H2O

Pemerian                           : Cairan jrnih tidak berwarna dan tidak berasa


Penyimpanan                     : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan                          : Sebagai pelarut

2.      Ampicilin (Ditjen POM. 1979)

Nama resmi                       : Amoxilinum

Nama lain                          : Amoxilin

BM / RM                           : 349,41 / C16H19N3O4S

Pemerian                           : Serbuk hablur renik, putih, tidak berbau atau

                                            Hampir tidak berbau, rasa pahit.

Kelarutan                          : Larut dalam 170 bagian air dan praktis tidak

                                             Larut dalam etanol, dalam kloroform P.

Penyimpanan                     : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan                          : Sebagai sampel

C.    Prosedur Kerja

a.       Penentuan panjang gelombang maksimal

Sejumlah baku pembanding parasetaol ditimbnag seksama dan diencerkan denan air suling

hingga diperoleh konsentrasi 1000 ppm. Sejumlah larutan ini dipipet ke dalam labu uku dan

diencerkan dengan aquades sampai tanda hingga konsentrasinya 50 ppm, kemudian diukur

serapannya pada rentang panjang gelombang 200-300. Selanjutnya dibuat kurva antara

serapan terhadap panjang gelombang.

b.      Penentuan kurva baku

Larutan paracetamol dibuat dengan konsentrasi bervariasi. Kemudian masing-masin

konsentrasi diukur serapannya pada panjang gelombang maksimal. Selanjutna dibuat kurva

antara serapan terhadap konsentrasi.

c.       Penetapan kadar parasetamol


Penetapan kadar timbang seksama 1,5 g, tambahkan 100 ml air dan 20 ml  natrium hidroksida

0,1 N, encerkan engan air secukupnya hingga 200,0 ml pada 5,0 ml, tambahkan 9,5 ml

natrium hidroksida 0,1 N, encerkan dengan  serair secukupnya hingga 100,0 ml. ukur. Ukur

serapan. Hitung bobot zat dalam mg.

d.      Penentuan umur simpan sirup paracetamol

Sirup parasetamol dimasukkan ke dalam 2 vial masing-masing sebanyak 5 ml, kemudian

vial-vial tersebut dimasukkan ke daam oven dnn suhu 40 , 50  dn 60 , pada jam ke 0, 30, 60,

90, 120, 150 dan 180 menit diambil 1 vial dan diukur kadar paracetamol.

e.       Penetapan kadar sirup paracetmol

Sirup parasetamol sebanyak 1 ml ditambahkan larutan natrium hidroksida 0,1 N hingga 10 ml

kemudian dipipet sebanyak 1 ml ditambhakan air hingga 50 ml. ukur serapannya. Hitung

bobot zat dalam mg tiap sirup.


BAB III

METODE KEJA

A.    Alat yang Digunakan

Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas ukur, gelas kimia,

labu takar 10 ml, pipet tetes, pipet volume, batang pengaduk, kuvet, spektrofotometri dan

vial.

B.     Bahan yang Digunakan

Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah aquadest dan sirup

kering amoxicillin.

C.    Cara Kerja

1.      Disiapkan alat dan bahan

2.      Direkonsitusi Amoxlcilin Dry sirup dengan 51 ml aquadest

3.      Diambil 1 ml,lalu diencerkan menjadi 10 ml dalam labu takar 10 ml (untuk menit ke-0)

4.      Dimasukkan Amoxicilin Dry sirup pada suhu 300,400,500,600.

5.      Disaring,dimasukkan dalam vial

6.      Diukur serapan pada panjang gelombangnya menggunakan spektrofotometer

7.      Diukur serapan yang dihasilkan

8.      Dilakukan hal yang sama untuk menit ke- 15,30,45 dan 60 uuntuk masing-masing suhu.

9.      Dihitung t1/2 dan t90.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Data Pengamatan dan Perhitungan

A.    Data dan Perhitungan

1.      Kurva baku

Konsentrasi
Absorban (A)
(ppm)
75 0,24139
100 0,31486
125 0,38985
150 0,46347
175 0,53815
200 0,6422
225 0,7004
250 0,7969

a = -0,00352

b =  0,00316

r =  0,998

Persamaan garis lurusnya :

y = a + bx

y = 0,0032x – 0,0035
2.      Data absorban amoxicilin dry syrup

Waktu ABSORBAN
(menit) Suhu 30 C0
Suhu 400C Suhu 500C
0 0,309 0,275 0,311
15 0,303 0,244 0,256
30 0,272 0,243 0,341
45 0,243 0,236 0,344
60 0,273 0,236 0,318

3.      Data Perhitungan Konsentrasi Sirup Amoxicilin

Waktu Konsentrasi (ppm)


(menit) Suhu 300C Suhu 400C Suhu 500C
0 988,9873 881,3924 995,3165
15 970,0000 783,2911 818,10
30 871,8987 780,1266 1090,2532
45 780,1266 757,9747 1099,7468
60 875,0633 757,9747 1017,4684

Suhu 30˚

-          Menit ke 0

X =   x fp
    =   x
    =988,9873 ppm
-          Menit ke 15

X =   x fp
    =
    =970,0000ppm

-          Menit ke 30

X =   x fp
    =
    =871,8987 ppm
-          Menit ke 45
X =   x fp
    =
    =780,1266 ppm
-          Menit 60

X =   x fp
    =
    =875,0633 ppm
Suhu 40˚

-          Menit 0

X =   x fp
=
    =881,3924 ppm
-          Menit 15

X =   x fp
    =
    =783,2911 ppm
-          Menit 30

X =   x fp
    =
    =780,1266 ppm

-          Menit 45
X =   x fp
    =
    =757,9747 ppm
-          Menit 60

X =   x fp
    =
    =757,9747 ppm
Suhu 50˚

-          Menit 0
X =   x fp
 =
=995,3165 ppm
-          Menit 15
X =   x fp
 =
=818,10ppm
-          Menit 30
X =   x fp
 =
=1090,2532ppm
-          Menit 45
X =   x fp
 =
=1099,7468ppm
-          Menit 60
X =   x fp
 =
=1017,4684ppm
4.      Data log konsentrasi Amoxicilin 

Waktu LOG C
(menit) Suhu 30 C 0
Suhu 400C Suhu 500C
0 2,9952 2,9452 2,9980
15 2,9868 2,8939 0,4150
30 2,9405 2,8922 3,0375
45 2,8922 2,8797 3,0413
60 2,9420 2,8797 3,0075

Perhitungan :

         Suhu 300 C

Untuk menit 0  = log 998,9873 = 2,9952

                     15 = log 970,0000 = 2,9868


                     30 = log 871,8987 = 2,9405

                     45 = log 780,1266 = 2,8922

                     60 = log 875,0633 = 2,9420

         Suhu 400  C

Untuk menti 0 = log 881,3924 = 2,9452

                    15 = log 783,2911 = 2,8939

                   30 = log 780,1200 = 2,8992

                   45 = log 757,9747 = 2,8797

                   60 = log 757,9747 = 2,8797

         Suhu 500 C

Untuk  menit 0 = log 995,3165 = 2,9980

                   15 = log 2,6004      = 0,4150

                   30 = log 1090,2532 = 3,0375

                   45 = log 1099,7468 = 3,0413

                   60 = log 1017,4684 = 3,0075

5.      Data 1/C Amoxicilin

Waktu 1/C
(menit) Suhu 300C Suhu 400C Suhu 500C
0 0,00101 0,00113 0,00100
15 0,00103 0,00128 0,38456
30 0,00115 0,00128 0,00092
45 0,00128 0,00132 0,00091
60 0,00114 0,00132 0,00098
Perhitungan :

      Suhu 300  C

Untuk menit 0 =

        15 =

                   30 =

                   45 =

                   60 =

      Suhu 400 C

Untuk menit 0 =

                  15 =

30 =

45 =

             60 =

      Suhu 500 C

             Untuk menit 0 =

15 =

30 =

45 =

60 =

6.        Penentuan orde reaksi (Mengikuti orde 0 )

R
Orde
30 40 50
0 -0,7816263 -0,8389545 0,38327324
1 -0,7656972 -0,8461503 0,35884394
2 0,74855628 0,85337744 -0,3536345
7.      Penentuan tetapan laju reaksi (K)

Suhu B K
30 -2,7848101 2,78481013
40 2,7474 x10-06 2,7474 x10-06
50 7,60966821 7,60966821

Perhitungan :

            Orde 0 : k = b

      Untuk Suhu 300 C :

b  = 2,7848101 = k

      Untuk suhu 400 C :

b = 2,7474 x 10-06 = k

      Untuk suhu 500 C :

b = 7,60966821 = k

8.      Penentuan Nilai K pada suhu 25oC dan usia simpan

Suhu Suhu (K) T 1/T K LOG K


25 298 0,0033557  7,3824 x 10-3  13,8682
30 303 0,0033003 2,78481013 -3,520005
40 313 0,0031949 2,7474 x10-06 -3,125662
50 323 0,003096 7,60966821 -0,101293

Perhitungan :
Untuk mendapatkan nilai a,b,r makan regresikan antara 1/T dengan log K :

a.    =  7,662797 , b = 1849,25, r = 0,85695

y = a + bx
                                            Log k = y, log A = a,  = b,  = x

Log k = 7,662797 + 1849,25 (0,0033557)

Log k = 13,86832523

K = anti log k

 = 7,384570312 x 1013

 t1/2 =

 menit

( ket : 2500 adalah nilai konsentrasi dalam ppm)

t90               =            
            = 1802,669002 menit

            = 30,04 jam

            = 1,251 hari

B.     Pembahasan

Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau kosmetik untuk

bertahan dalam batas spesifikasi yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan

penggunaan untuk menjamin identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian produk tersebut.

Sediaan obat atau kosmetika yang stabil adalah suatu sediaan yang masih berada dalam batas
yang dapat diterima selama periode penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat dan

karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat.

Pada umumnya penetuan ketabilan suatu zat padat dilakukan dengan cara kinetia kimia.

Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama. Sehingga praktis digunakan dalam bidang

farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu zat dengan cara

kinetika kimia adalah kecepatan reaksi, faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi,

serta tingkat reaksi dan cara penentuannya.

Orde reaksi dapat ditentukan dengan beberapa metode yaitu:

1.    Metode substitusi

Data yang terkumpul dari hasil pengamatan jalannya suatu reaksi disubstitusikan ke

dalam bentuk integral dari persamaan berbagai orde reaksi.jika persamaan itu menghasilkan

harga K yang tetap konstan dalam batas-batas variasi percobaan, maka reaksi dianggap

berjalan sesuai dengan orde tersebut.

2.    Metode grafik

Plot data dalam bentuk grafik dapat digunakan untuk mengetahui orde reaksi

tersebut.Jika konsentrasi di plot terhadap t dan didapat garis lurus, reaksi adalah orde nol.

Reaksi dikatakan orde pertama bila log (a-x) terhadap t menghasilkan garis lurus. Suatu

reaksi orde kedua akan memberikan garis lurus bila 1/ (a-x) diplot terhadap t (jika konsentrasi

mula-mula sama). Jika plot 1 /(a-x)² terhadap t menghasilkan garis lurus dengan seluruh

reaktan sama konsentrasi mula-mulanya,reaksi adalah orde ketiga.

2.    Metode waktu paruh

Dalam reaksi orde nol, waktu paruh sebanding dengan konsentrasi awal, a. Waktu

paruh reaksi orde pertama tidak bergantung pada a; waktu paruh untuk reaksi orde kedua,

dimana a = b  sebanding dengan 1/a dari dalam reaksi orde ketiga, dimana a = b = c,
sebanding dengan 1/a². Umumnya berhubungan antar hasil di atas memperlihatkan waktu

paruh suatu reaksi dengan konsentrasi seluruh reaktan sama.

Menyatakan bahwa peningkatan suhu menghasilkan laju reaksi. Arrhenius menyatakan

hubungan suhu dan reaksi sebagai berikut :

K = Sexp ( -Ea/RT )

Molekul tidak bereaksi sampai mereka menjadi aktif. Ea adalah energi aktifitas yaitu jumlah

energy yang dibutuhkan untuk menempatkan molekul dalam keadaan diaktifkan dari mana

mereka bereaksi membentuk produk reaksi. Jika suhu meningkat, sebagian besar dari

molekul menjadi aktif dan reaksinya menjadi cepat.

   Waktu paruh (t1/2) merupakan waktu yang dibutuhkan untuk setengah dari jumlah

awal obat/ zat lain dihilangkan dari tubuh, atau bagi obat untuk mengurangi setengah

konsentrasi aslinya dalam darah. Hilangnya obat dapat karena berubah menjadi zat lain atau

dibuang melalui urin.Sedangkan T90 adalah waktu yang tertera yang menunjukkan batas

waktu diperbolehkannya obat tersebut dikonsumsi karena diharapkan masih memenuhi

spesifikasi yang ditetapkan.

 T10 merupakan Kandungan bahan aktif yang bersangkutan secara internasional

ditolerir suatu penurunan sebanyak 90% dari kandungan sebenarnya.

Orde reaksi berkaitan dengan pangkat dalam hukum laju reaksi, reaksi yang

berlangsung dengan konstan, tidak bergantung pada konsentrasi pereaksi disebut orde reaksi

nol. Reaksi orde pertama lebih sering menampakkan konsentrasi tunggal dalam hukum laju,

dan konsentrasi tersebut berpangkat satu. Rumusan yang paling umum dari hukum laju reaksi

orde dua adalah konsentrasi tunggal berpangkat dua atau dua konsentrasi masing-masing

berpangkat satu.

Praktikum kali ini bertujuan untuk menerangkan factor – factor yang mempengaruhi

kestabilan suatu zat, menentukan energi aktivasi dari reaksi suatu zat dan menentukan usia
simpan suatu zat, dimana zat atau bahan obat yang digunakan untuk diukur stablitasnya yaitu

amoksisilin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat antara lain, panas, cahaya,

kelembaban, O2, pH, mikroorganisme, dan bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam

formula sediaan obat. Suatu sediaan obat yang dipapar langsung oleh cahaya matahari bisa

mengalami kerusakan baik dari kemasan maupun sediaan. Sedian obat dapat mengalami

oksidasi dengan adanya O2. Sediaan dapat berjamur dengan adanya mikroorganisme. Suatu

sediaan obat ada yang hanya bekerja pada pH tertent.

Mekanisme kerja spektrofotometri, sinar dari sumber sinar adalah sinar polikromatis

maka dilewatkan terlebih dahulu melalui monokromator, kemudian sinar monokromatis

dilewatkan melalui kuvet yang berisi contoh maka akan menghasilkan sinar yang

ditransmisikan dan diterima oleh detektor untuk diubah menjadi energi listrik ang

kekuatannya dapat diamati oleh alat pembaca (satuan yang dihasilkan adalah absorban atau

transmitan).

Kestabilan dari suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi

suatu sediaan farmasi. Hal itu penting mengingat sediaannya bisa diproduksi dalam jumlah

yang besar dan juga memerlukan mutu yang lama untuk sampai ketangan pasien yang

membutuhkannya. Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang dapat mengalami

penguraian dan mengakibatkan hasil urai dan zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat

membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu, perludiketahui faktor-faktor apa saja yang

mempengaruhi kestabilan suatu zat hingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat

tersebut optimum.

Hal-hal yang penting dalam menentukan kestabilan suatu zat secara kinetika kimia

adalah:

        kecepatan reaksi


        faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi

        tingkat reaksi den cara penentuan

Pada percobaan ini digunakan berbagai variasi suhu dari 30 0, 400, dan 500 C, dengan

menggunakan obat amoxicilin sebagai sampelnya. Hal ini dimaksudkan guna untuk dapat

menentukan pengaruh suhu terhadap kestabilan suatu obat sehingga kita dapat mengetahui

pada suhu berapa obat dapat stabil dengan baik dan pada suhu berapa obat akan terurai lebih

cepat sera berapa lama ekspayernya.

Penggunaan metode dengan kenaikkan suhu, apabila disimpan pada suhu normal atau

suhu kamar, membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui tingkat kestabilan suatu

sediaan obat, makanya digunakan metode kenaikkan suhu.

Dan juga digunakan variasi waktu yaitu 0, 15, 30,45, 60 menit untuk mengetahui

dimana pada setiap waktu, kestabilan suatu sediaan atau obat makin berkurang atau batas

kadaluarsa suatu obat semakin cepat.

Dari praktikum ini diperoleh hasil waktu paruh amoxicillin dry syrup adalah 90,1336

menit dan t90 adalah 30,04 jam (obat akan terurai 10% setelah 30,04 jam).obat akan terurai.

Obat akan terurai 100% setelah 12 hari 11 jam.

Aplikasi stabilitas obat dalam bidang farmasi yakni kestabilan suatu zat merupakan

faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini

penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan

memerlukan waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang

diterima pasien berkurang. Adakalanya hasil urai tersebut bersifat toksis sehingga

membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor mempengaruhi

kestabilan suatu zat sehingga dapat dipilih kondisi pembuatan sediaan yang tepat sehingga

kestabilan obat terjaga.


BAB V

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:

1.    Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat antara lain, panas, cahaya,

kelembaban, O2, pH, mikroorganisme, dan bahan-bahan tambahan yang dipergunakan dalam

formula sediaan obat.


2.    Dari praktikum ini diperoleh hasil waktu paruh amoxcililm dyr syrup adalah 90,1336 menit

dan t90 adalah 30,04 jam (obat akan terurai 10% setelah 30,04 jam).

B.     Saran

Sebaiknya alat laboratorium lebih dilengkapi lagi agar praktikum berjalan dengan

lancer dan untuk mengifesiensikan waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. “Penuntun Praktikum Farmasi Fisika”.Universitas Muslim Indonesia, Makassar.

Ansel, H.C., 1989, “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi”, edisi IV, Terjemahan Farida Ibrahim, UI Press,

Jakarta.

Ditjen POM, 1979. ”Farmakope Indonesia Edisi III”. Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Lachman, dkk, 1994. ”Teori dan Praktek Farmasi Industri”, Universitas Indonesia, Jakarta

Martin, Alfred, 1993. ”Farmasi Kimia”, Universitas Indonesia, Jakarta