Anda di halaman 1dari 20

Tugas

Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera, aman, selamat, dan tentram”. (Depdiknas, 2001:1011)

· “Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu
memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang /maha Esa,
memiliki hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan”. (BKKBN,1994:5)

Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut kemakmuran saja, melainkan juga harus secara
keseluruhan sesuai dengan ketentraman yang berarti dengan kemampuan itulah dapat menuju
keselamatan dan ketentraman hidup.

B. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEJAHTERAAN

1. Faktor intern keluarga

a. Jumlah anggota keluarga

Pada zaman seperti sekarang ini tuntutan keluarga semakin meningkat tidak hanya cukup dengan
kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, pendidikan, dan saran pendidikan) tetapi kebutuhan lainya
seperti hiburan, rekreasi, sarana ibadah, saran untuk transportasi dan lingkungan yang serasi.
Kebutuhan diatas akan lebih memungkinkan dapat terpenuhi jika jumlah anggota dalam keluarga
sejumlah kecil.

b. Tempat tinggal

Suasana tempat tinggal sangat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Keadaan tempat tinggal yang
diatur sesuai dengan selera keindahan penghuninya, akan lebih menimbulkan suasana yang tenang dan
mengembirakan serta menyejukan hati. Sebaliknya tempat tinggal yang tidak teratur, tidak jarang
meninbulkan kebosanan untuk menempati. Kadang-kadang sering terjadi ketegangan antara anggota
keluarga yang disebabkan kekacauan pikiran karena tidak memperoleh rasa nyaman dan tentram akibat
tidak teraturnya sasaran dan keadaan tempat tinggal.

c. Keadaan sosial ekonomi kelurga.

Untuk mendapatkan kesejahteraan kelurga alasan yang paling kuat adalah keadaan sosial dalam
keluarga. Keadaan sosial dalam keluarga dapat dikatakan baik atau harmonis, bilamana ada hubungan
yang baik dan benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa kasih sayang antara anggota
keluarga.manifestasi daripada hubungan yang benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa penuh kasih
sayang, nampak dengan adanya saling hormat, menghormati, toleransi, bantu-membantu dan saling
mempercayai.

d. Keadaan ekonomi keluarga.


Ekonomi dalam keluarga meliputi keuangan dan sumber-sumber yang dapat meningkatkan taraf hidup
anggota kelurga makin terang pula cahaya kehidupan keluarga. (BKKBN, 1994 : 18-21). Jadi semakin
banyak sumber-sumber keuangan/ pendapatan yang diterima, maka akan meningkatkan taraf hidup
keluarga. Adapun sumber-sumber keuangan/ pendapatan dapat diperoleh dari menyewakan tanah,
pekerjaan lain diluar berdagang, dsb.

2. Faktor ekstern

Kesejahteraan keluarga perlu dipelihara dan terus dikembangan terjadinya kegoncangan dan
ketegangan jiwa diantara anggota keluarga perlu di hindarkan, karena hal ini dapat menggagu
ketentraman dan kenyamanan kehidupan dan kesejahteraan keluarga.

Faktor yang dapat mengakibatkan kegoncangan jiwa dan ketentraman batin anggota keluarga yang
datangnya dari luar lingkungan keluarga antara lain:

· Faktor manusia: iri hati, dan fitnah, ancaman fisik, pelanggaran norma.

· Faktor alam: bahaya alam, kerusuhan dan berbagai macam virus penyakit.

· Faktor ekonomi negara: pendapatan tiap penduduk atau income perkapita rendah, inflasi. (BKKBN,
1994 : 18-21)

C. TAHAPAN-TAHAPAN KESEJAHTERAAN

1. Keluarga pra sejahtera

Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara minimal, seperti
kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB.

· Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga

· Pada umunya seluruh anggota keluarga, makan dua kali atau lebih dalam sehari.

· Seluruh anggota keluarga mempunyai pakaian berbeda di rumah, bekerja, sekolah atau
berpergian.

· Bagian yang terluas dari lantai bukan dari tanah.

· Bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sasaran kesehatan.

2. Keluarga Sejahtera I

Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhnan dasarnya secara minimal tetapi belum dapat
memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi lingkungan
tempat tinggal dan trasportasi. Pada keluarga sejahtera I kebutuhan dasar (a s/d e) telah terpenuhi
namun kebutuhan sosial psikologi belum terpenuhi yaitu:

· Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.


· Paling kurang sekali seminggu, keluarga menyadiakan daging, ikan atau telur.

· Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang 1 stel pakaian baru pertahun

· Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap pengguna rumah

· Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam kedaan sehat

· Paling kurang satu anggota 15 tahun keatas, penghasilan tetap.

· Seluruh anggota kelurga yang berumur 10-16 tahun bisa baca tulis huruf latin.

· Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini

· Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga pasang yang usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang
hamil)

3. Keluarga Sejahtera II

Yaitu keluarga disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasasrnya, juga telah dapat memenuhi
kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.

Pada keluarga sejahtera II kebutuhan fisik dan sosial psikologis telah terpenuhi (a s/d n telah terpenuhi)
namun kebutuhan pengembangan belum yaitu:

· Mempunyai upaya untuk meningkatkan agama.

· Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.

· Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan ini dapat dimanfaatkan
untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.

· Ikut serta dalam kegiatan masyarakat dilingkungan keluarga.

· Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1 kali perbulan.

· Dapat memperoleh berita dan surat kabar, radio, televisi atau majalah.

· Anggota keluarga mampu menggunakan sarana trasportasi sesuai kondisi daerah.

4. Keluarga Sejahtera III

Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan
perkembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat
seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
Pada keluarga sejahtera III kebutuhan fisik, sosial psikologis dan pengembangan telah terpenuhi (a s/d u)
telah terpenuhi) namun kepedulian belum yaitu:

· Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan
sosial/masyarakat dalam bentuk material.

· Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan atau yayasan atau
instansi masyarakat. (BKKBN,1994:21-23).

· Kesejahteraan pada hakekatnya dapat terpenuhinya kebutuhan (pangan, sandang, dan papan)
yang harus dipenuhi dengan kekayaan atau pendapatan yang dimiliki barulah dikatakan makmur dan
sejahtera

D. PERAN PERAWAT DALAM PEMBINAAN KELUARGA SEJAHTERA

Pembinaan keluarga terutama ditujukan pada keluarga prasejahtera dan sejahtera tahap I. Di dalam
pembinaan terhadap keluarga tersebut, perawat mempunyai beberapa peran antara lain :

1. Pemberi informasi

Dalam hal ini perawat memberitahukan kepada keluarga tentang segala sesuatu, khususnya yang
berkaitan dengan kesehatan.

2. Penyuluh

Agar keluarga yang dibinanya mengetahui lebih mendalam tentang kesehatan dan tertarik untuk
melaksanakan maka perawat harus memberikan penyuluhan baik kepada perorangan dalam keluarga
ataupun kelompok dalam masyarakat.

3. Pendidik

Tujuan utama dari pembangunan kesehatan adalah membantu individu, keluarga dan masyarakat untuk
berperilaku hidup sehat sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Untuk
mencapai tujuan tersebut perawat hares mendidik keluarga agar berperilaku sehat dan selalu
memberikan contoh yang positif tentang kesehatan.

4. Motivator

Apabila keluarga telah mengetahui, dan mencoba melaksanakan perilaku positif dalam kesehatan, harus
terus didorong agar konsisten dan lebih berkembang. Dalam hal inilah perawat berperan sebagai
motivator.

5. Penghubung keluarga dengan sarana pelayanan kesehatan adalah wajib bagi setiap perawat untuk
memperkenalkan sarana pelayanan kesehatan kepada keluarga khususnya untuk yang belum pernah
menggunakan sarana pelayanan kesehatan dan pada keadaan salah satu/lebih anggota keluarga perlu
dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan.
6. Penghubung keluarga dengan sektor terkait. Adakalanya masalah kesehatan yang ditemukan
bukanlah disebabkan oleh faktor penyebab yang murni dari kesehatan tetapi disebabkan oleh faktor
lain. Dalam hal ini perawat harus menghubungi sektor terkait.

7. Pemberi pelayanan kesehatan. Sesuai dengan tugas perawat yaitu memberi Asuhan Keperawatan
yang profesional kepada individu, keluarga dan masyarakat. Pelayanan yang diberikan karena adanya
kelemahan fisik dan mental, keterbataan pengetahuan, serta kurangnya keamanan menuju kemampuan
melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan bersifat "promotif',
`preventif', "curatif' serta "rehabilitatif' melalui proses keperawatan yaitu metodologi pendekatan
pemecahan masalah secara ilmiah dan terdiri dari langkah-langkah sebagai subproses. Kegiatan tersebut
dilaksanakan secara profesional, artinya tindakan, pelayanan, tingkah laku serta penampilan dilakukan
secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas pekerjaan, jabatan, bekerja keras dalam
penampilan dan mendemontrasikan "SENCE OF ETHICS ".

8. Membantu keluarga dengan mengenal kekuatan mereka dan menggunakan kekuatan mereka
untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya

9. Pengkaji data individu, keluarga dan masyarakat sehingga didapat data yang akurat dan dapat
dilakukan suatu intervensi yang tepat. Peran-peran tersebut di atas dapat dilaksanakan secara terpisah
atau bersama-sama tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi.

E. MASALAH DAN TINDAK LANJUT

Kenyataan, dalam melaksanakan perannya sebagai pembina keluarga sejahtera masih banyak
ditemukan hambatan/masalah antara lain :

a. Faktor Keluarga :

· Keluarga menolak kehadiran perawat

· Ketidak-percayaan masyarakat terhadap perawat

· Adat istiadat

· Ekonomi

· Dan lain-lain.

b. Faktor Perawat

· Secara kuantitas jumlah perawat masih kurang

· Secara kualitas, belum optimal Hal ini terjadi karena "basic" pendidikan perawat yang berbeda-
beda, kemauan menambah ilmu pengetahuan masih kurang, kepercayaan diri yang kurang.

· Terlalu muda khususnya bagi perawat yang ada di desa (PKD) sehingga sering diabaikan oleh
masyaakat
· Kompensasi yang berlebihan dengan rasa sesama Corps ("ESPRIT DE CORPS") yang kurang.

· Masih ada perawat yang bekerja di luar wewenangnya sebagai perawat –

· Dan lain-lain.

Untuk menanggulangi masalah/hambatan di atas, khususnya ditujukan kepada diri sendiri (perawat)
antara lain :

1. Interospeksi, yaitu menilai, mengevaluasi diri sendiri, kelemahan dan kekuatan yang dimiliki,
kesempatan apa yang bisa diraih/diperoleh dan tantangan apa yang akan dihadapi.

2. Perubahan perilaku untuk maju dan berkembang dengan kemauan yang keras untuk menambah
ilmu pengetahuan

3. Menunjukkan "eksistensi" perawat sebagai "mitra dokter" Menyadari dan mencari upaya-upaya
koordinasi dan kolaborasi Meningkatkan rasa sesama Corps

4. Dan yang terpenting adalah "menghargai diri sendiri"

5. Perubahan pendidikan keperawatan

6. Mentaati kode etik keperawatan.

KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA


A. Pengertian keluarga dan pengertian keperawatan keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dan keadaan saling ketergantungan
(Departemen Kesehatan, 1988).

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan, ikatan emosional
dan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Marilynn M. Friedman, 1998).

Keluarga adalah dua orang atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi
satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan
(Salvicion G Balion dan Aracelis Maglaya, 1989).

Dari ketiga pengertisn diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah dua orang atau lebih yang
dipersatukan oleh ikatan perkawinan, ikatan darah yang tinggal dalam satu rumah dan saling
berinteraksi satu sama lain dalam perannya masing-masing untuk menciptakan atau mempertahankan
suatu budaya.

Keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan
dengan sasaran keluarga (Suprajitna, 2004).

B. Tipe atau jenis keluarga

Menurut Frieman (1998) tipe keluarga dari dua tipe yaitu keluarga tradisional dan keluarga non
tradisional.
1) Tipe keluarga tradisional terdiri dari :

a) Nuclear family atau keluarga inti adalah suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan anak
kandung atau anak adopsi.

b) Extended family atau keluarga besar adalah keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang
mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, bibi dan paman.

c) Dyad family adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang tinggal dalam satu rumah tanpa
anak.

d) Single parent family adalah suatu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dan anak (kandung atau
angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

e) Single adult adalah satu rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa.

f) Keluarga usia lanjut adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah lanjut usia.

2) Tipe keluarga non tradisional terdiri dari :

a) Keluarga communy yang terdiri dari satu keluarga tanpa pertalian darah, hidup dalam satu rumah.

b) Orang tua (ayah, ibbu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup bersama dalam satu
rumah tangga.

c) Homo seksual dan lesbian adalah dua individu sejenis yang hidup bersama dalam satu rumah dan
berpefilaku layaknya suami istri.
C. Struktur keluarga

Menurut Friedcman (1998), struktur keluarga terdiri dari :

1) Pola dan proses komunikasi dapat dikataan berfungsi apabila jujur, terbuka, melibatkan emosi,
dapat menyelesaikan konflik keluarga serta adanya hierarki kekuatan. Pola komunikasi dalam keluarga
dikatakan akan berhasil jika pengirim pesan (sender) yakin mengemukakan pesannya, isi pesan jelas dan
berkualitas, dapat menerima dan memberi umpan balik, tidak bersifat asumsi, berkomunikasi sesuai.
Sebaliknya, seseorang menerima pesan (receiver) dapat menerima pesan dengan baik jika dapt menjadi
pendengan yang baik, memberi umpan balik dan dapat memvalidasi pesan yang diterima.

2) Struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan baik
peran formal maupun informal.

3) Struktur kekuatan adalah kemampuan individu untuk mengontrol dan mempengaruhi atau
merubah perilaku orang lain yang terdiri dari legitimate power (hak), referen power (ditiru), expert
power (keahlian), reward power (hadiah), coercive power (paksaan) dan affektif power.

4) Nilai keluarga dan norma adalah sistem ide-ide, sikap dan keyakinan yang mengikat anggota
keluarga dalam budaya tertentu sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan
sosial tertentu.

D. Peran keluarga

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat dan kegiatan yang
berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu didasari dalam
keluarga dan kelompok masyarakat. Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai
berikut :
1) Peran ayah : ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, berperan dari pencari
nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman sebagai kepala keluarga, anggota dari kelompok
sosial serta dari anggota masyarakat dari lingkungannya.

2) Peran ibu : ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Ibu mempunyai peran mengurus rumah
tangga , sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari
peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu ibu juga dapat
berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga.

3) Peran anak : anak-anak melaksanakan peran psikososial sesuai engan tingkat perkembangan fisik,
mental, soaial dan spiritual.

E. Fungsi keluarga

Menurut Friedman (1998), terdapat lima fungsi keluarga, yaitu :

1) Fungsi afektif (the Affective Function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan
segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini
dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.

2) Fungsi sosialisasi yaitu proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu yang
menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosialnya. Sosialisasi dimulai sejak
lahir. Fungsi ini berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tinkah laku
sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

3) Fungsi reproduksi (the reproduction function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan
menjaga kelangsungan keluarga.
4) Fungsi ekonomi (the economic function) yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

5) Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the health care function) adalah untuk
mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.
Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga dibidang kesehatan.

Tetapi dengan berubahnya zaman, fungsi keluarga dikembangkan menjadi :

1) Fungsi ekonomi, yaitu keluarga diharapkan menjadi keluarga yang produktif yang mampu
menghasilkan nilai tambah ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya keluarga.

2) Fungsi mendapatkan status sosial, yaitu keluarga yang dapat dilihat dan dikategorikan strata
sosialnya oleh keluarga lain yang berbeda disekitarnya.

3) Fungsi pendidikan, yaitu keluarga mempunyai peran dan tanggungjawab yang besar terhadap
pendidikan anak-anaknya untuk menghadapi kehidupan dewasanya.

4) Fungsi sosialisasi bagi anaknya, yaitu orang tua atau keluarga diharapkan mampu menciptakan
kehidupan sosial yang mirip dengan luar rumah.

5) Fungsi pemenuhan kesehatan, yaitu keluarga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar
primer dalam rangka melindungi dan pencegahan terhadap penyakit yang mungkin dialami oleh
keluarga.

6) Fungsi reliugius, yaitu keluarga merupakan tempat belajar tentang agama dan mengamalkan
ajaran agama.
7) Fungsi rekreasi, yaitu keluarga merupakan tempat untuk melakukan kegiatan yang dapat
mengurangi ketegangan akibat berada di luar rumah.

8) Fungsi reproduksi, yaitu bukan hanya mengembangkan keturunan tetapi juga tempat untuk
mengembangkan fungsi reproduksi secara menyeluruh, diantaranya seks yang sehat dan berkualitas
serat pendidikan seks bagi anak-anak.

9) Fungsi afektif, yaitu keluarga merupakan tempat yang utama untuk pemenuhan kebutuhan
psikososial sebelum anggota keluarga berada di luar rumah.

Dari beberapa fungsi keluarga diatas, ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya,
antara lain asih, yaitu memberikan kasih sayang, perhatin dan rasa aman, kehangatan kepada anggota
keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbun dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
Sedangka asuh, yaitu menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu
terpelihara sehingga diharapkan mereka menjadi anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan
spiritual. Dan asah, yaitu memenuhi kebutuhan pendidikan anak sehingga siap menadi manusia dewasa
yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

F. Tahap-tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangan keluarga

Menurut friedman (1998), tahap perkembangan keluarga berdasarkan siklus kehidupan keluarga terbagi
atas 8 tahap :

1) Keluarga baru (beginning family), yaitu perkawinan dari sepasang insan yang menandakan
bermulanya keluarga baru. Keluarga pada tahap ini mempunyai tugas perkembangan, yaitu membina
hubungan dan kepuasan bersama, menetapkan tujuan bersam, membina hubungan dengan keluarga
lain, teman, kelompok sosial dan merencanakan anak atau KB.

2) Keluarga sedang mengasuh anak (child bearing family), yaitu dimulai dengan kelahiran anak
pertama hingga bayi berusia 30 bulan. Mempunyai tugas perkembangan seperti persiapan bayi,
membagi peran dan tanggungjawab, adaptasi pola hubungan seksual, pengetahuan tentang kehamilan,
persalinan dan menjadi orang tua.

3) Keluarga dengan usia anak pra sekolah, yaitu kelurga dengan anak pertama yang berumur 30 bulan
sampai dengan 6 tahun. Mempunyai tugas perkembangan, yaitu membagi waktu, pengaturan keuangan,
merencanakan kelahiran yang berikutnya dan membagi tanggungjawab dengan anggota keluarga yang
lain.

4) Keluarga dengan anak usia sekolah, yaitu dengan anak pertama berusia 13 tahun. Adapun tugas
perkembangan keluarga ini, yaitu menyediakan aktivitas untuk anak, pengaturan keuangan, kerjasama
dalkam memnyelesaikan masalah, memperhatikan kepuasan anggota keluarga dan sistem komunikasi
keluarga.

5) Keluarga dengan anak remaja, yaitu dengan usia anak pertam 13 tahun sampai dengan 20 tahun.
Tugas pekembangan keluarga ini adalah menyediakan fasilitas kebutuhan keluarga yang berbeda,
menyertakan keluarga dalam bertanggungjawab dan mempertahankan filosofi hidup.

6) Keluarga denagn anak dewasa, yaitu keluarga dengan anak pertama, meninggalkan rumah dengan
tugas perkembangan keluarga, yaitu menata kembali sumber dan fasilitas, penataan yanggungjawab
antar anak, mempertahankan komunikasi terbuka, melepaskan anak dan mendapatkan menantu.

7) Keluarga usia pertengahan, yaitu dimulai ketika anak terakhir meninggalakan rumah dan berakhir
pada saat pensiun. Adapaun tugas perkembangan, yaitu mempertahankan suasana yang
menyenangkan, bertanggungjawab pada semua tugas rumah tangga, membina keakraban dengan
pasangan, mempertahankan kontak dengan anak dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial.

8) Keluarga usia lanjut, tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dari salah satu pasangan
memasuki masa pensiun, terus berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal dunia. Adapun tugas
perkembangan keluarga ini, yaitu menghadapi pensiun, saling rawat, memberi arti hidup,
mempertahankan kontak dengan anak, cucu dan masyarakat.

TREND DAN ISSUE KEPERAWATAN KELUARGA

A. Beberapa Tren dan Issu dalam Keperawatan keluarga

1. Perubahan Bidang Profesi Keperawatan

a. Perubahan ekonomi

Perubahan ekonomi membawa dampak terhadap pengurangan berbagai anggaran untuk pelayanan
kesehatan, sehingga berdampak terhadap orientasi manajemen kesehatan atau keperawatan dari
lembaga sosial ke orientasi bisnis.

b. Kependudukan
Sedangkan perubahan kependudukan dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia dan
bertambahnya umur harapan hidup, maka akan membawa dampak terhadap lingkup dari praktik
keperawatan. Pergeseran tersebut terjadi yang dulunya lebih menekankan pada pemberian pelayanan
kesehatan atau perawatan pada “hospital-based” ke “comunity based”.

c. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan Atau Keperawatan

Era kesejagatan identik dengan era komputerisasi, sehingga perawat di tuntut untuk menguasai teknolgi
komputer di daam melaksanakan MIS (Manajemen Information System) baik di tatanan pelayanan
maupun pendidikan keperawatan

d. Tuntutan Profesi Keperawatan

Karakteristik Profesi yaitu:

1. Memiliki dan memperkaya tubuh pengetehuan (body of knowledge) melalui penelitian

2. Memiliki kemampuan memberikan pelayanan yang unik kepada orang lain

3. Pendidikan yang memenuhi standar

4. Terdapat pengendalian terhadap praktik

5. Bertanggungjawab dan bertanggung gugat(Accounttable) terhadap tindakan keperawatan yang


dilakukan gabung

6. Merupakan karier seumur hidup

7. Mempunyai fungsi mandiri dan kolaborasi

2. Dampak Perubahan

1. Praktik keperawatan

a. Pengurangan anggaran

Perawat indonesia saat ini di hadapkan pada suatu dilema,di satu sisi dia harus terus mengupayakan
peningkatan kualitas layanan kesehatan, dilain pihak pemerintah memotong alokasi anggaran untuk
pelayan keperawatan. Keadaan ini dipicu dengan menjadikan rumah sakit swadan dimana juga
berdampak terhadap kinerja perawat. Dalam melaksanakn tugasnya perawat sering jarang mengadakan
hubungan interpersonal yang baik karena mereka harus melayani pasien lainnya dan dikejar oleh waktu.

b. Otonomi dan akuntabilitas

Dengan melibatkan perawat dalam pengambilan suatu keputusan di pemerintahan, merupakan hal yang
sangat positif dalam meningkatkan otonomi dan akuntabilitas perawat indonesia. Peran serta tesebut
perlu di tingkatkan terus dan di pertahankan. Kemandirian perawat dalam melaksanakan perannya
sebagai suatu tantangan. Semakin meningkatnya otonomi perawat semakin tingginya tuntutan
kemampuan yang harus di persiapkan.

c. Teknologi

Penguasaan dan keterlibatan dalam perkembangan IPTEK dalam praktek keperawatan bagi perawat
Indonesia merupakan suatu keharusan.

d. Tempat praktik

Tempat praktik keperawatan di masa depan meliputi pada tatanan klinik(RS);komunitas;dan praktik
mandiri di rumah/berkelompok (sesuai SK MENKES R.I.647/2000 tentang registrasi dan praktik
keperawatan).

e. Perbedaan batas kewenangan praktik

Belum jelasnya batas kewenangan praktik keperawatan pada setiap jenjang pendidikan, sebagai suatu
tantangan bagi profesi keperawatan.

2. Tantangan Pendidikan Keperawatan

Di masa depan pendidikan keperawatan dihadapkan pada suatu tantangan dalam meningkatkan kualitas
lulusannya dituntut menguasai kompetensi-kompetensi profesional. Isi kurikulum program pendidikan
ke depan, juga harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

3. Tantangan Perubahan Iptek

Riset keperawatan akan menjadi suatu kebutuhan dasar yang harus dilaksanakan oleh perawat di era
global. Meningkatnya kualitas layanan, sangat ditentukan oleh hasil kajian-kajian dan pembaharuan
yang dilaksanakan berdasarkan hasil penelitian.

(Kuntoro, 2010, hal. 149-150)

B. Isu Terbaru Dalam Keperawatan Keluarga

Menurut Friedman dkk (2013,hal. 41-42), berdasarkan kajian kami terhadap literatur dan diskusi
profesional dengan kolega di bidang keperawatan keluarga, 8 isu penting dalam keperawatan keluarga
saat ini:

1. Isu Praktik:

a. Kesenjangan bermakna antara teori dan penelitian serta praktik klinis.

Kesenjangan antara pengetahuan yang ada dan penerapan pengetahuan ini jelas merupakan masalah di
semua bidang dan spesialisasi di keperawatan, meskipun kesenjangan ini lebih tinggi dikeperawatan
keluarga. Keperawatan yang berpusat pada keluarga juga masih dinyatakan ideal dibanding praktik yang
umum dilakukan. Wright dan Leahey mengatakan bahwa faktor terpenting yang menciptkan
kesenjangan ini adalah “ cara perawat menjabarkan konsep masalah sehat dan sakit. Hal ini merupakan
kemampuan “berfikir saling memengaruhi”: dari tingkat individu menjadi tingkat keluarga (saling
memengaruhi)”. Penulis lain yaitu Bowden dkk menyoroti bahwa kecenderungan teknologi dan ekonomi
seperti pengurangan layanan dan staf, keragaman dalam populasi klien yang lebih besar. Sedangkan
menurut Hanson kurangnya alat pengkajian keluarga yang komperehensif dan strategi intervensi yang
baik, perawat terikat dengan model kedokteran (berorientasi pada individu dan penyakit), dan sistem
pemetaan yang kita lakukan serta sistem diagnostik keperawatan menyebabkan penerapan perawatan
yang berfokus pada keluarga sulit diwujudkan.

b. Kebutuhan untuk membuat perawatan keluarga menjadi lebih mudah untuk di integrasikan dalam
praktik.

Dalam beberapa tahun ini, terjadi restrukturisasi pelayanan kesehatan besar-besaran, yang mencakup
perkembangan pesat sistem pengelolaan perawatan berupa sistem pemberian layanan kesehatan yang
kompleks, multi unit, dan multi level sedang dibentuk. Sebagian dari restruturisasi ini juga termasuk
kecenderungan pasien dipulangkan dalam “keadaan kurang sehat dan lebih cepat” dan pengurangan
jumlah rumah sakit, pelayanan dan staf, serta pertumbuhan pelayanan berbasis komunitas. Perubahan
ini me nyebabkan peningkatan tekanan kerja dan kelebihan beban kerja dalam profesi keperawatan.
Waktu kerja perawat dengan klien individu dan klien keluarga menjadi berkurang. Oleh karena itu,
mengembangkan cara yang bijak dan efektif untuk mengintegrasikan keluarga ke dalam asuhan
keperawatan merupakan kewajiban perawat keluarga. Menurut Wright dan Leahey, mengatasi
kebutuhan ini dengan menyusun wawancara keluarga selama 15 menit atau kurang. Pencetusan
gagasan dan strategi penghematan waktu yang realistik guna mempraktikan keperawatan keluarga
adalah isu utama praktik dewasa ini.

c. Peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan kesehatan kepada keluarga.

Berdasarkan pembincangan dengan perawat dan tulisan yang disusun oleh perawat keluarga, terdapat
kesepakatan umum bahwa peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan kesehatan ke
pasien atau keluarga perlu dilakukan. Kami percaya hal ini masih menjadi sebuah isu penting pada
pelayanan kesehatan saat ini. Menurut Wright dan Leahey dalam Robinson, mengingatkan kita bahwa
terdapat kebutuhan akan kesetaraan yang lebih besar dalam hubungan antara perawat dan keluarg,
hubungan kolaboratif yang lebih baik, dan pemahaman yang lebih baik akan keahlian keluarga.
Perkembangan penggunaan Internet dan email telah memberikan banyak keluarga informasi yang
dibutuhkan untuk belajar mengenai masalah kesehatan dan pilihan terapi mereka. Gerakan konsumen
telah memengaruhi pasien dan keluarga untuk melihat diri mereka sebagai konsumen, yang membeli
dan mendaptkan layanan kesehatan seperti layanan lain yang mereka beli. Dilihat dari kecenderungan
ini, anggota keluarga sebaiknya diberikan kebebasan untuk memutuskan apa yang baik bagi mereka dan
apa yang mereka lakukan demi kepentingan mereka sendiri.
d. Bagaimana bekerja lebih efektif dengan keluarga yang kebudayaannya beragam.

Kemungkinan, isu ini lebih banyak mendapatkan perhatian dikalangan penyedia pelayanan kesehatan,
termasuk perawat, dibandingkan isu lainnya pada saat ini. Kita tinggal di masyarakat yang beragam,
yang memiliki banyak cara untuk menerima dan merasakan dunia, khusunya keadaan sehat dan sakit.
Dalam pengertian yang lebuh luas, budaya (termasuk etnisitas, latarbelakang agama, kelas sosial, afiliasi
regional dan politis, orientasi seksual, jenis kelamin, perbedaan generasi) membentuk persepsi kita,
nilai, kepercayaan, dan praktik. Faktor lainnya, seperti pengalaman sehat dan sakit, membentuk cara
kita memandang sesuatu. Meskipun terdapat semua upaya tersebut guna dapat bekerja lebih efektif
dengan keluarga yang beragam, memberikan perawatan yang kompeten secara budaya tetap menjadi
tantangan yang terus dihadapi.

e. Globalisasi keperawatan keluarga menyuguhkan kesempatan baru yang menarik bagi perawat
keluarga.

Dengan makin kecilnya dunia akibat proses yang dikenal sebagai globalisasi, perawat keluarga
disuguhkan dengan kesempatan baru dan menarik utnuk belajar mengenai intervensi serta program
yang telah diterapkan oleh negara lain guna memberikan perawatan yang lebih baik bagi keluarga.
Globalisasi adalah proses bersatunya individu dan keluarga karena ikatan ekonomi, politis, dan
profesional. Globalisasi mempunyai dampak negatif yang bermakna bagi kesehatan yaitu ancaman
epidemi diseluruh dunia seperti HIV/AIDS menjadi jauh lebih besar. Akan tetapi sisi positifnya,
pembelajaran yang diperoleh perawat amerika dari perawat diseluruh dunia melalui konferensi
internasional, perjalanan, dan membaca literatur kesehatan internasional memberikan pemahaman
yang bermanfaat. Sebagai contoh, di Jepang, pertumbuhan keperawatan keluarga sangat mengesankan.
Disana, perawat telah mengembangkan kurikulum keperawatan keluarga disekolah keperawatan dan
telah menghasilkan teori keperawatan yang berfokus pada keluarga dan sesuai dengan nilai dan konteks
Jepang. Menurut Sugishita Keperawatan keluarga mengalami pertumbuhan yang pesat di Jepang, yang
ditandai dengan publikasi dan upaya penelitian yang dilakukan di Jepang. Negara lain, seperti Denmark,
Swedia, Israel, Korea, Chili, Meksiko, Skotlandia, dan Inggris juga mengalami kemajuan bermakna di
bidang kesehatan keluarga dan keperawatan keluarga. Kita harus banyak berbagi dan belajar dari
perawat dibeberapa negara ini.

2. Isu Pendidikan:

Muatan apa yang harus diajarkan dalam kurikulum keperawatan keluarga dan bagaimana cara
menyajikannya?

Menurut Hanson dan Heims, yang melaporkan sebuah survei pada sekolah keperawatan di Amerika
Serikat yang mereka lakukan terkait cakupan keperawatan keluarga di sekolah tersebut, terdapat
perkembangan pemaduan muatan keperawatan keluarga dan ketrampilan klinis kedalam program
keperawatan pascasarjana dan sarjana. Masih belum jelas muatan apa yang tepat diberikan untuk
program sarjana dan pascasarjana dan bagaimana cara mengajarkan ketrampilan klinis. Tidak
kesepakatan mengenai fokus program sarjana dan pascasarjana terkait dengan keperawatan keluarga.
Akan tetapi, terdapat beberapa konsensus bahwa praktik keperawatan tingkat lanjut pada keperawatan
keluarga melibatkan pembelajaran muatan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan
seluruh keluarga dan individu anggota keluarga secara bersamaan. Perawat keluarga dengan praktik
tingkat lanjut dapat bekerja sebagai terapis keluarga pada keluarga yang bermasalah. Akan tetapi, masih
belum jelas muatan dan ketrampilan apa yang dibutuhkan dalam keperawatan keluarga untuk para
perawat yang dipersiapkan di program praktik tingkat lanjut lainnya (program perawat spesialis klinis
dan praktisi). Bahasa lebih lanjut mengenai cakupan dan level muatan dan ketrampilan klinis perlu
dilakukan.

3. Isu Penelitian:

Kebutuhan untuk meningkatkan penelitian terkait intervensi keperawatan keluarga.

Dibidang keperawatan keluarga, perawat peneliti telah membahas hasil kesehatan dan peralihan
keluarga yang terkait dengan kesehatan. Teori perkembangan, teori stres, koping, dan adaptasi, teori
terapi keluarga, dan teori sistem telah banyak memandu penilitian para perawat penilti keluarga.
Penelitian dilakukan lintas disiplin, yang menunjukkan bahwa “tidak ada satupun disiplin yang memiliki
keluarga” menurut Gillis dan Knafl dalam Friedman dkk (2013, hal.42). Kelangkaan penelitian
keperawatan yang nyata terletak dibidang studi interveni. Menurut Knafl dalam Friedman dkk (2013,
hal.42) kurangnya studi intervensi dalam keperawatan keluarga “mengejutkan.” Menurut Janice Bell
dalam editor journal of family nursing, dalam editorial “Wanted :Family Nursing Intervention,”
mengeluhkan mengenai kurangnya naskah penelitian intervensi keperawatan yang ia terima untu dikaji.
Dengan tidak memadainya jumlah studi intervensi,kita mengalami kekurangan bukti ilmiah yang
dibutuhkan untuk mendukung evikasi strategi dan program keperawatan keluarga. Selain itu,dibutuhkan
penelitian keperawatan keluarga yang sebenarnya: sebagian besar penelitian keperawatan keluarga
sebenarnya merupakan penelitian yang terkait dengan keluarga ( yang berfokus pada anggota
keluarga),bukan penelitian keluarga (yang berfokus pada seluruh keluarga sebagai sebuah unit).

4. Isu kebijakan:

Kebutuhan akan lebih terlibatnya perawat keluarga dalam membentuk kebijakan yang memengaruhi
keluarga.

Hanson, dalam bahasanya mengenai reformasi pelayanan kesehatan, mendesak perawat keluarga lebih
terlibat di tiap level sistem politis guna menyokong isu keluarga. Kami setuju dengan beliau. Praktisnya,
semua legislasi domestik yang dikeluarkan ditingkat lokal, negara bagian atau nasional mempunyai
dampak pada keluarga. Sebagai advokat keluarga, kita perlu baik secara sendiri-sendiri maupun bersama
menganalisis isu dan kebijakan yang tengah diusulkan dan membantu merumuskan dan
mengimplementasikan kebijakan dan regulasi yang positif. Mendukung calon dewan yang mendukung
calon keluarga dan menjadi relawan untuk melayani komisi kesehatan dan komisi yang terkait dengan
kesehatan dan dewan organisasi adalah jalan penting lain untuk “ membuat suatu perbedaan” kita perlu
mendukung keluarga agar mempunyai hak mendapatkan informasi, memahami hak dan pilihan mereka,
serta lebih cakap dalam membela kepentingan meraka sendiri