Anda di halaman 1dari 8

METODE & ANALISIS KEBUTUHAN

PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

Sub tema kuliah :


 Sarana persampahan
 Jenis sistem yang ada
 Penerepan sistem yang sesuai
 Perancangan Sistem
 Tinjauan Kasus

1. Analisis Kependudukan

 Jumlah dan Kepadatan Penduduk  Analisis Karakteristik Penduduk dengan Teknik


 Pertumbuhan penduduk Analisis Deskriptif Kualiatif
 Penduduk menurut mata
pencaharian  Analisis pertumbuhan penduduk, dengan metode
 Penduduk menurut tingkat proyeksi linier
pendidikan
 Penduduk menurut struktur usia Pt = Po + a.n
 Penduduk menurut struktur agama
 Penduduk menurut jenis kelamin Pt = Jumlah penduduk tahun proyeksi
 Penduduk menurut struktur Po = Jumlah penduduk tahun dasar
pendapatan a = Jumlah pertumbuhan rata-rata per tahun
 Jumlah kepala keluarga/rumah n = waktu proyeksi
tangga
 Angka kelahiran dan kematian
 Tingkat mobilitas penduduk  Analisis Pertumbuhan penduduk dengan metode
Proyeksi Eksponensial

Pt = Po (1 + r) n

Pt = Jumlah penduduk tahun proyeksi


Po = Jumlah penduduk tahun dasar
r = Laju pertumbuhan penduduk
n = Tahun proyeksi

 Analisis Aktivitas Utama Penduduk dengan Metode


Deskriptif Kualiatif

1
Tabel Klas Kota

No Klas Kota Jumlah Penduduk

(1) (2) (3)


1 Megapolitan Lebih 5.000.000
2 Metropolitan 1.000.000 – 5.000.000
3 Besar 500.000 – 1.000.000
4 Sedang 100.000 – 500.000
5 Kecil 20.000 - 100.000

Sumber : Time Standart For Urban Design (2001); Andika Drajat Murdani (2017)

2
3
4
5
6
Rencana Pengembangan Jaringan Prasarana Persampahan
(Studi Kasus Kota Wates)

Rencana Pengembangan Jaringan Persampahan di perkotaan Wates


dalam kondisi kepadatan perumahan berkembang semakin padat, sistem
pembuangan sampah sesuai konsep pengembangan kota yang berkelanjutan,
pengelolaan sampah dilakukan dengan sistem sampah nol (zero waste).
Pengelolaan sampah yang diproduksi oleh rumah tangga pada perumahan
dikumpulkan secara kolektif pada Tempat Penampungan Sementara (TPS)
dengan dipilah-pilahkan antara sampah organik dengan sampah non organik.
Sampah Organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah non organik dapat
dikembangkan untuk industri kreatif. Sisa sampah yang tidak bisa diolah akan
dibawa dengan kendaraan pengangkut sampah untuk diproses lebih lanjut di
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Produksi timbunan sampah sampai akhir tahun perencanaan dihitung
dengan menggunakan asumsi tiap orang menghasilkan sampah sebesar 3
liter/hari (sudah memasukkan perhitungan sampah non domestik). Pada tahun
2033 jumlah penduduk di kawasan perencanaan diproyeksikan sebesar 500.000
jiwa. Dengan menggunakan asumsi timbunan sampah per orang/hari sebesar 3
liter maka diperoleh perhitungan timbunan sampah sebesar 1.500.000 liter/hari
atau 150 m³/hari.

Tabel 1.
Perkiraan Jumlah Timbunan Sampah BWP Wates Tahun 2033

No Deskripsi Standar Satuan BWP Th


1 Jumlah Penduduk - Jiwa 2033
5000
2 Jumlah KK - KK 00
1359
3 Domestik/ permukiman 3 Liter/ Jiwa/ Hari I/hari 70
15000
20% timbunan 00
4 Non Domestik sampah Domesstik I/Hari 3000
Jumlah Total Timbulan sampah I/Hari 00
18000
Perkiraan kebutuhan peralatan pendukung 00

7
1 Gerobak sampah (Kapasitas
per gerobak 1m3) 1 Unit/ 200 KK Unit 680
2 Transfer Depo (Kapasitas 10 m3) 1 Unit/ 400 KK Unit 340
3 Truk sampah (6 m3) 1 Unit/ 700 KK Unit 194

Sumber: Analisis Studio, 2012

Untuk mengantisipasi jumlah timbunan sampah saat ini dan mendatang,


maka perlu direncanakan pola pengembangan prasarana persampahan, di
antaranya ialah:
a. Pengembangan pengelolaan persampahan perdesaan
• Kampanye konsep 3R (reduce, re-use, recycle)
• Pengembangan pengelolaan persampahan sistem setempat selaras
lingkungan, seperti intensifikasi pengembangan kompos dari sampah
organik rumah tangga dan limbah peternakan.

Sumber : RDTR Perkotaan Wates 2013