Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ILMU PENGETAHUAN ALAM

PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING)

Disusun Oleh :

Adib Albar
Dimas Akbar Nugroho
Anggit Ramadhan
Nala Mufhti
Loi Sandro

PEMERINTAH KABUPATEN TANGERANG


UPT PENDIDIKAN SMP NEGERI 2 PASARKEMIS
TANGERANG
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah Ilmu Pengetahuan Alam dengan judul Pemanasan Global (Global
Warming) dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun
berdasarkan hasil studi literatur dan informasi dari internet tentang pencemaran
lingkungan. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pengertian pemanasan
global, proses terjadinya pemanasan global, faktor-faktor penyebab pemanasan
globa, dampak pemanasan global, upaya mengatasi pemanasan global, dan respon
Indonesia terhadap pemanasan global.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak kekurangan, baik dalam penulisan maupun tata
bahasa. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
menyempurnakan makalah ini. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini
dapat membantu dalam menambah wawasan serta pengetahuan yang bermanfaat
bagi pembaca.

Tangerang, April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

ISI HALAMAN

KATA PENGANTAR…..…………………………...………….……………..ii
DAFTAR ISI………………………………...…………………..…….….…...iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang…….….…………………………..……..……..……..1
1.2. Rumusan Masalah………………………………………………….…1
1.3. Tujuan………………………………………………….…............…..1
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pemanasan Global...…..…………..……...........…….…....2
2.2. Proses Terjadinya Pemanasan Global...........................…….….....…..3
2.3. Faktor-faktor Penyebab Pemanasan Global...........…….........….........4
2.4. Dampak Pemanasan Global …….…..…………....……………..……8
2.5. Upaya Mengatasi Pemanasan Global ……....…….…………...……..13
2.6. Respon Indonesia terhadap Pemanasan Global …....………..….......15
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan………..……...………..……..………..……..………...17
3.2. Saran…………………....…………………..…..……..........…....…17
DAFTAR PUSTAKA.……..…………..…..…….......……..……..….……..…..18

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Aktivitas kehidupan manusia melibatkan banyak kegiatan yang ternyata
memberi dampak pada lingkungan. Pengaruh aktivitas manusia tersebut terhadap
fenomena alam yang terjadi belum banyak yang dikenal karena masih begitu
asing dan masih ada silang pendapat dari banyak ahli. Pengetahuan ini tidak
begitu nyata karena tidak terlihat secara kasat mata dan dampaknya tidak langsung
dirasakan oleh manusia pada saat ini. Pemanasan global adalah meningkatnya
temperatur akibat peningkatan jumlah emisi gas efek rumah kaca di bumi secara
keseluruhan, meliputi peningkatan atmosfer, temperatur laut, maupun daratan
yang berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap masa depan
dan eksistensi bumi termasuk manusia dan seluruh makhluk hidup di dalamnya.
Dampak pemanasan global dan timbulnya lubang ozon akan dirasakan
manusiabeberapa tahun kemudian dalam jangka panjang. Pemanasan global dan
timbulnya lubang ozon merupakan isu global yang selama ini didengung-
dengungkan oleh berbagai pihak, baik lembaga peduli lingkungan, pemerintah,
instansi pendidikan, maupun para pelaku industri. Fenomena tersebut hanya
merupakan mitos selama beberapa dekade belakangan, karena manusia pada saat
itu belum merasakan pengaruh yang signifikan terhadap dampak yang
ditimbulkan. Fenomena ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu
penulis memilih pemanasan global sebagai topik dalam makalah ini selain
berdasarkan tugas yang diberikan, juga ingin mendalami tentang pengertian,
penyebab, dampak, dan solusi dari pemanasan global yang terjadi di bumi kita ini.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan, maka dapat dibuat
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan pemanasan global?
2. Bagaimana proses terjadinya pemanasan global?
3. Apa saja faktor penyebab terjadinya pemanasan global?
4. Apa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi pemanasan global?

1.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui pengertian dan proses terjadinya pemanasan global.
2. Mengetahui dan memahami faktor penyebab terjadinya pemanasan global.
3. Mengetahui upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi pemanasan global.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pemanasan Global


Pemanasan global (global warming) adalah suatu kondisi yang
menunjukkan terjadinya peningkatan suhu di permukaan bumi yang bisa
mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Pemanasan global yang terjadi
dikarenakan peningkatan kadar gas rumah kaca seperti (CO2, CH4, NOx, SOx,
dan CFC) yang umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia (Karyono, 2010).
Secara garis besar, pemanasan global adalah suatu proses meningkatnya suhu
rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Gejala naiknya suhu permukaan bumi
karena naiknya intensitas efek rumah kaca. Menurut Natural Resources Defense
Council (NRDC), global warming adalah proses peningkatan suhu udara karena
terperangkapnya panas di atmosfir oleh gas karbondioksida yang bisa mengancam
perubahan iklim dan dapat menimbulkan bencana di permukaan bumi. Menurut
National Wildlife Federation, global warming adalah peningkatan suhu udara di
bumi yang mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam, misalnya badai,
kekeringan, banjir, dan lain-lain.
Pemanasaan global (global warming) atau sekarang lebih dikenal sebagai
perubahan iklim global (climate change) adalah memanasnya iklim bumi secara
umum. Selain bertambah panas dari tahun ke tahun, di beberapa wilayah di bumi
mengalami perubahan cuaca yang ekstrim. Oleh karena itulah fenomena ini
disebut juga sebagai perubahan iklim global (climate change). Pemanasan global
sangat erat kaitannya dengan pencemaran udara di seluruh dunia. Meningkatnya
jumlah karbon dioksida, efek rumah kaca, gas akibat pembakaran bahan bakar
fosil, dan aktivitas manusia lainnya merupakan sumber utama terjadinya
pemanasan global selama bertahun-tahun. Berdasarkan hasil penelitian para ahli
menyebutkan bahwa suhu bumi mengalami peningkatan drastis selama satu abad
terakhir, yaitu mencapai 0,6°C. Mungkin terlihat kecil, namun dampak pemanasan
global tersebut sangat besar bagi kehidupan di bumi.
Isu pemanasan global muncul karena mempunyai dampak yang sangat besar
bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup, yaitu perubahan iklim dunia dan
kenaikan permukaan laut. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim
disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama yang berhubungan dengan
penggunaan bahanbakar fosil (minyak bumi dan batu bara, serta kegiatan
lain yang berhubungan dengan hutan, pertanian, dan peternakan. Aktivitas
manusia dengan kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung menyebabkan
perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu meningkatnya jumlah gas rumah kaca
secara global.

2
2.2. Proses Terjadinya Pemanasan Global
Proses terjadinya pemanasan global dimulai dari cahaya matahari yang
menyinari bumi, sebagian panas diserap oleh bumi sebagian dikembalikan ke
angkasa (atmosfer). Sinar matahari yang dikembalikan ke angkasa terperangkap
oleh gas-gas yang ada di atmosfer seperti gas karbon dioksida, sulfur dioksida,
metana, uap air dan lain sebagainya yang mana peristiwa ini dinamakan efek
rumah kaca. Radiasi sinar matahari atmosfer bumi menyebabkan lapisan ozon
semakin menipis dan ini membuat sinar matahari yang menyinari bumi semakin
panas. Efek rumah kaca juga menyebabkan sinar matahari yang menyinari bumi
semakin panas. Efek rumah kaca juga menyebabkan sinar matahari yang kembali
ke angkasa dipantulkan ke bumi.

Gambar 1. Proses Terjadinya Pemanasan Global

Seperti yang telah kita ketahui segala sumber energi yang terdapat di bumi
berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi
gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai
permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan
bumi. Permukaan bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan
kembali sisanya sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar.
Namun, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat
menumpuknya jumlah gas rumah kaca yang menjadi perangkap gelombang
radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang
yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di
permukaan bumi. Oleh karena itu suhu di permukaan bumi akan meningkat, dan
terjadilah efek rumah kaca (ERK). Peningkatan kadar gas rumah kaca
menyebabkan meningkatnya intensitas efek rumah kaca, sehingga menyebabkan
pemanasan global.
Aktifitas kehidupan manusia melibatkan banyak kegiatan dari kegiatan kecil
seperti merokok, merebus air untuk kopi, pergi bekerja naik kendaraan,
penggunakaan energi untuk melihat TV sampai dengan proses yang lebih besar
yaitu industri ternyata memberi dampak pada lingkungan. Pengaruh aktifitas
manusia tersebut terhadap fenomena alam yang terjadi belum banyak yang

3
dikenal karena masih begitu asing dan masih ada silang pendapat dari beberapa
ahli. Dampak pemanasan global ini tidak langsung dirasakan oleh manusia saat
ini, namun akan dirasakan beberapa tahun mendatang dalam jangka waktu yang
panjang. Terjadinya pemanasan global di bumi dimulai dari kenyataan bahwa
energi panas yang dipancarkan berasal dari matahari yang masuk ke bumi
menciptakan cuaca dan iklim serta panas pada permukaan bumi secara global.

2.3. Faktor-faktor Penyebab Pemanasan Global


Penyebab pemanasan global secara langsung berkaitan dengan efek rumah
kaca. Jika gas-gas rumah kaca makin meningkat jumlahnya di atmosfer, maka
efek pemanasan global akan semakin signifikan. Sejak revolusi industri, gas-gas
rumah kaca seperti karbon dioksida, methana, dan gas berbahaya lainnya menjadi
semakin bertambah di atmosfer sehingga konsentrasinya makin meningkat akibat
ulah manusia. Ditinjau dari kejadiannya, pemanasan global merupakan kejadian
yang diakibatkan oleh :
A. Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian
besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya
tampak. Ketika energi ini tiba di permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi
panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian
panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud
radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas
tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah
kaca, antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap
gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi
gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan
di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan
suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi
seagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan demikian meningkatnya konsentrasi
gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824.
Efek rumah kaca merupakan proses pemanasan dari permukaan suatu benda langit
atau benda angkasa yang disebabkan oleh komposisi serta keadaan atmosfernya.
Beda-benda langit yang dimaksudkan terutama adalah planet maupun satelit.
Sebenarnya efek rumah kaca hampir ada di berbagai planet di tata surya seperti
Mars, Venus, dan benda-benda langit lainnya. Efek rumah kaca tentu saja
mempunyai kaitan yang sangat erat dengan gas rumah kaca. Hal ini lantaran gas
rumah kaca itu merupakan sekumpulan gas-gas pada atmosfer yang menjadi
sebuah adanya efek rumah kaca. Gas-gas yang disebut gas rumah kaca bisa
muncul secara alami di lingkungan bumi, namun bisa juga timbul akibat aktifitas
manusia. Gas rumah kaca yang memberikan dampak pemantulan sinar matahari
ialah gas H2O dari air laut, CO2, N2O, CH4, SF6 dan lain-lain.

4
Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang
berbeda-beda. Kelompok gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar tetap
hangat dikenal dengan istilah “Gas Rumah Kaca”. Sistem kerja Gas Rumah Kaca
tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi
menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap
hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik
karena memperoleh panas matahari yang cukup. Efek rumah kaca dapat diamati
pada gambar berikut ini:

Gambar 2. Efek rumah kaca

Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga


kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan Gas Rumah Kaca, bumi akan menjadi
terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas
matahari. Sebagai perbandingan, Planet Mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis
dan tidak memiliki Gas Rumah Kaca memiliki temperatur rata-rata -30ºC.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah karbondioksida (CO2),
metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem
pencernaan hewan-hewan ternak), nitrogen oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas
yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (chlorofluorocarbons/CFC).
Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2
juga semakin memperparah keadaan tersebut karena pohon-pohon yang mati akan
melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap Gas
Rumah Kaca memiliki efek pemanasan global yang berbeda-beda. Beberapa gas
menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Efek rumah kaca ini sangat
dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet
ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15oC (59oF),
bumi sebenarnya telah lebih panas 33oC (59oF) dari temperaturnya semula, jika
tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18oC sehingga es akan menutupi
seluruh permukaan bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah
berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

5
B. Efek Umpan Balik
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan
balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus
pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan
pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer,
karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut
dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan
konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila
dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri.
Umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban
relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi
menghangat. Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2
memiliki usia yang panjang di atmosfer. Efek umpan balik karena pengaruh awan
sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan
memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan
meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut
akan memantulkan sinar matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga
meningkatkan efek pendinginan.

Gambar 3. Umpan Balik

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan


cahaya oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat
kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan
melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan
maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila
dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi
Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi
es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah
beku adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain
itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik

6
positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia
menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona
mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang
merupakan penyerap karbon yang rendah.

C. Industri
Pembakaran bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan energi telah
meningkatkan gas-gas rumah kaca. Pembangkit-pembangkit listrik berbahan
bakar minyak bumi dan batu bara, serta mesin-mesin kendaraan bermotor banyak
melepaskan sejumlah gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), sulfur
dioksida (SO2), dan nitrogen oksida (NOx) ke atmosfer. Penggunaan
Chlorofluorocarbon (CFC) pada penyejuk udara (air conditioner) dan lemari es
(refrigerator) menjadikan gas CFC ikut dilepaskan ke atmosfer. Gas CFC juga
dilepaskan ke udara pada saat lemari es dan air conditioner rusak dan ditumpuk
sebagai sampah. Lebih jauh, pemanasan global ini mengakibatkan penipisan
lapisan ozon.
Bertambahnya gas-gas rumah kaca di atmosfer yang menyebabkan
terjadinya efek rumah kaca secara global; setiap penyebab bertambahnya efek
rumah kaca juga berkontribusi langsung terhadap pemanasan global seperti:
 Energi; karena hampir sebagian besar pembangkit listrik di dunia
menggunakan minyak bumi dan batu bara, maka tentu saja aspek ini
berpengaruh sangat besar terhadap pemanasan global karena
permintaan listrik sangatlah tinggi dan makin meninggi setiap tahun yang
pada saat ini, konstribusi terhadap pemanasan global sekitar seperempatnya.
 Transportasi; karena hampir seluruh sistem transportasi menggunakan bahan
bakar fosil, maka semakin banyak orang yang memakai kendaraan pribadi
akan berdampak pada peningkatan gas karbon dioksida di atmosfer yang saat
ini berkonstribusi sebesar 20% terhadap pemanasan global.

Gambar 4. Kontribusi Transportasi Terhadap Pemanasan Global

7
 Industri peternakan sapi; industri peternakan sapi menghasilkan gas methana
yang sangat besar ke atmosfer. Gas-gas ini dihasilkan dari kentut sapi dan
kotoran sapi yang diproduksi oleh bakteri pengurai selulosa di perut sapi.
Hampir setengah dari penyebab pemanasan global disebabkan oleh hal ini
karena masifnya industri ini di seluruh dunia karena konsumsi susu dan
daging sapi oleh manusia yang begitu besar. Sapi menghasilkan methana
dalam jumlah yang sangat besar.
 Industri pertanian; pupuk yang digunakan dalam pertanian melepaskan gas
nitrous oxide ke atmosfer yang merupakan gas rumah kaca.
 Limbah industri dan tambang industri seperti pabrik semen, pabrik pupuk,
dan penambangan batu baru serta minyak bumi memproduksi gas rumah kaca
seperti karbon dioksida.
 Limbah rumah tangga; limbah rumah tangga menghasilkan gas methana dan
karbon dioksida yang dihasilkan dari bakteri-bakteri pengurai sampah.
 Pencemaran laut; lautan dapat menyerap karbon dioksida dalam jumlah yang
besar, akan tetapi akibat pencemaran laut oleh limbah industri dan sampah,
laut menjadi tercemar sehingga banyak ekosistem di dalamnya yang musnah,
yang menyebabkan laut tidak dapat menyerap karbon dioksida lagi.
 Penebangan dan pembakaran hutan; penebangan dan pembakaran hutan
sangat berdampak buruk karena hutan dapat menyerap karbon dioksida di
atmosfer.

2.4. Dampak Pemanasan Global


Pemanasan global bukanlah teori belaka namun sudah terjadi dan
dampaknya akan terus bertambah buruk dari tahun ke tahun. Berikut ini
dipaparkan dampak pemanasan global baik secara langsung maupun tidak
langsung secara lebih detail :
1. Perubahan iklim/cuaca yang semakin ekstrem
NASA menyatakan bahwa pemanasan global berimbas pada semakin
ekstremnya perubahan cuaca dan iklim bumi. Pola curah hujan berubah-ubah
tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di suatu tempat, tetapi saat
bersamaan terjadi kekeringan di daerah lain. Topan dan badai baru akan
bermunculan dengan kecenderungan semakin lama semakin kuat. Tidak ada satu
benua pun di dunia ini yang luput dari perubahan iklim yang ekstrem ini. Telah
diperkirakan oleh para ilmuwan, daerah bagian utara dari belahan bumi Utara
akan memanas lebih dari daerah-daerah lainnya di bumi. Hal ini berakibat akan
mencairnya gunung-gunung es dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es
yang terapung di perairan tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami
salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah
subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat
mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada
musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

8
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang
menguap dari lautan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan,
secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. Badai
akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah.
Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin
akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai
(hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi
lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang
sangat dingin mungkin akan terjadi.
Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim. Apabila daerah di
bagian utara bumi (kutub utara) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di
bumi, dengan kondisi demikian maka akan berakibat antara lain gunung-gunung
es akan mencair, daratan akan mengecil, daerah-daerah yang sebelumya
mengalami salju ringan mungkin tidak akan mengalaminya lagi, di daerah
subtropis angin pegunungan yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta salju
akan lebih cepat mencair, musim tanam akan menjadi lebih panjang di beberapa
area, temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat,
serta daerah tropis akan menjadi lembab karena lebih banyak air yang menguap
dari lautan.
Dampak pemanasan global bagi perubahan iklim di Indonesia berupa
peningkatan temperatur bumi dan curah hujan yang lebih lebat. Perubahan iklim
global karena tingkat kesadaran lingkungan yang rendah akan memberikan
dampak yang sangat parah. Dalam wilayah negara ini muncul musim-musim yang
saling berlawanan dan bersifat ekstrem, di satu wilayah terjadi kekeringan dan
kekurangan air, di wilayah lain terjadi banjir. Musibah angin kencang dan
gelombang pasang bisa terjadi setiap waktu dan sulit diprediksi jauh hari
sebelumnya.

2. Mencairnya Es di Kutub Utara dan Selatan


Pemanasan global berdampak langsung pada mencairnya es di daerah Kutub
Utara dan Kutub Selatan. Es di Greenland telah mencair hampir mencapai 19 juta
ton. Volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang
ada 4 tahun sebelumnya (Agus R. dan Rudy R. 2008). Peristiwa mencairnya es
saat ini berjalan jauh lebih cepat daripada model-model prediksi yang pernah
diciptakan oleh para ilmuwan. Dengan menggunakan data es terbaru serta model
prediksi yang lebih akurat, Dr. H. J. Zwally, seorang ahli iklim NAZA, membuat
prediksi baru yang mencengangkan: Hampir Arah Reformasi Indonesia 10 semua
es di Kutub Utara akan lenyap pada akhir musim panas 2012 (Agus R. dan Rudy
R. 2008). Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 km2
(hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh. Padahal bongkahan es
tersebut sudah berada di barat daya Semenanjung Amerika Selatan sejak 1500
tahun yang lalu. Menurut ketua peneliti NSIDC, hal itu terjadi sebagai akibat dari

9
pemanasan global. Sebagian besar area kutub utara dan selatan tertutup oleh es
yang dapat memantulkan cahaya matahari. Global warming akan membuat es di
kutub utara dan selatan mencair. Jika es di kutub utara dan selatan terus mencair
maka panas matahari akan semakin banyak terserap dan menimbulkan panas.
Selain itu, percepatan mencairnya es akan membuat berbagai binatang di kutub
utara dan selatan kehilangan habitatnya.

3. Peningkatan permukaan air laut


Mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan berdampak langsung pada
naiknya level permukaan air laut. Para ahli memperkirakan apabila selur uh
Greenland mencair, level permukaan air laut akan naik hingga 7 meter. Hal itu
bisa menenggelamkan seluruh pantai, pelabuhan, dan dataran rendah di seluruh
dunia. Saat atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan
menghangat, hal ini menyebabkan volumenya akan membesar dan menaikkan
tinggi permukaan laut. Pemanasan juga mengakibatkan mencairnya es di kutub,
terutama sekitar Greenland. Pengingkatan tinggi muka air aut 30% berasal dari
pencairan es dan sisanya berasal dari pemuaian air akibat peningkatan temperatur.
Apabila separuh es di Greenland dan antartika meleleh maka terjadi kenaikan
permukaan air lait di dunia rata-rata setinggi 6-7 meter (Susanta,2007).
Meningkatnya ketinggian air laut diakibatkan karena es kutub yang mencair yang
menyebabkan kota-kota besar di dunia akan lumpuh karena sebagian besar
terletak di sepanjang garis pantai. Berikut ini merupakan gambar meningkatnya
ketinggian laut mengancam kehidupan di seluruh garis pantai.

Gambar 5. Peningkatan Permukaan Laut

Jika tidak ada upaya serius untuk merespons pemanasan global, maka kita
akan kehilangan 2.000 pulau karena air laut akan naik sebanyak 90 cm. Tadinya
kita memiliki 17.504 pulau tapi kini tinggal 17.480 pulau oleh karena naiknya air
laut dan usaha penambangan. Kehilangan aset 2.000 pulau akan luar biasa
dampaknya yang berujung pada penyempitan wilayah kedaulatan RI. Arah

10
Reformasi Indonesia 14 Kenaikan air laut juga akan menurunkan pH air laut;
setiap kenaikan 14–43 cm maka pH air laut akan turun dari 8,2 menjadi 7,8–
akibat seriusnya akan menghambat pertumbuhan dan akhirnya akan mematikan
biota dan terumbu karang. Hal ini menimbulkan dampak ekonomis akibat dari
terjadinya perubahan pola habitat, migrasi dan populasi ikan serta hasil laut
lainnya. Lebih lanjut terjadi ancaman serius bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta,
Semarang dan Surabaya. Banyak wilayah pesisir perkotaan akan terendam dan
akan terjadi pergeseran wilayah pantai. Karena setiap kenaikan 10 cm air laut
akan menggenangi 10m2 wilayah pesisir. Hal ini tentu akan berimplikasi pada
masalah sosial ekonomi masyarakat.

4. Gelombang panas menjadi semakin ganas


Pemanasan mengakibatkan gelombang panas menjadi semakin sering terjadi
dan semakin kuat. Tahun 2007 adalah tahun pemecahan rekor baru untuk suhu
yang dicapai oleh gelombang panas yang biasa melkita Amerika Serikat. Di
daerah St. George, Utah memegang suhu tertinggi mencapai 48oC. Sebagai
perbandingan, suhu kota Surabaya yang terkenal panas hanya berkisar antara 30o -
37oC. Daerah Death Valley di California malah sempat mencatat suhu 53oC. Di
negara bagian Amerika Serikat, serangan gelombang panas itu memakan korban
bebarapa orang meninggal karena kepanasan, merusak hasil pertanian, memicu
kebakaran hutan yang hebat, dan membunuh hewan ternak.

5. Habisnya gletser sumber air bersih dunia


Mencairnya gletser-gletser dunia mengancam ketersediaan air bersih dan
dalam jangka panjang turut berkontribusi terhadap peningkatan permukaan air
laut di dunia. NASA mencatat bahwa sejak tahun 1960 hingga 2005, jumlah
gletser-gletser di berbagai belahan dunia yang hilang tidak kurang dari 8.000
meter. Mencairnya gletser ini menjadi salah satu bukti bahwa suhu panas bumi
terus meningkat.

6. Terjadi Hujan Asam


Asap hasil pembakaran batubara dan minyak akan menghasilkan emisi SO
dan nitrogen oksida. Ketika kedua gas tersebut bereaksi di udara maka akan
menghasilkan asam nitrat, asam sulfat. Inilah yang kemudian mengakibatkan
terjadinya hujan asam. Hujan asam ini dapat mengakibatkan kerusakan pada
benda-benda logam, merusak tanaman, mengakibatkan kesulitan bernafas, dan
lain sebagainya.

7. Lapisan Ozon Menipis


Lapisan ozon merupakan lapisan yang menyelimuti bumi sehingga tidak
terkena radiasi langsung dari sinar matahari. Global warming mengakibatkan
lapisan ozon ini semakin menipis bahkan rusak. Dampak dari kerusakan lapisan

11
ozon ini adalah sinar matahari yang langsung mengenai kulit manusia. Sinar
ultraviolet yang langsung mengenai kulit dapat mengakibatkan penyakit kulit
hingga kanker kulit.

8. Pengaruh terhadap hewan dan tumbuhan


Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari
efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam
pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas
pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah
baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan
manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke
Utara atau Selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian
mungkin akan mati.
Hewan dan tumuhan tentu akan mengalai kesulitan juga untuk berpindah
atau beradaptasi karena sebagian besar lahan telah dikuasai oleh manusia. Dalam
menghadapi pemanasan global, hewan akan berpindah mencari tempat sesuai
habitatnya. Adapun tumbuhan yang tidak bisa bergerak sendiri akan
menyesuaikan dengan iklim dalam hal pertumbuhannya. Tumbuhan yang bsa
menyesuaikan tentu terus berkembang, tetapi tumbuhan yang tidak dapat
menyesuaikan tentuakan punah. Kepunahan hewan dan tumbuhan terjadi apabila
hewan dan tumbuhan tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.

9. Pengaruh terhadap kesehatan manusia


Adapun pengaruh pemanasan global dan timbulnya ubang ozon bagi
kesehatan manusia, antara lain :
 Mempengaruhi kesehatan tubuh manusia terhadap penyakit-penyakit vektor,
seperti demam berdarah dan malaria.
 Lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress
panas.
 Meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang
hangat akan memperbanak polutan.
 Meningkatnya penyakit-penyakit tropis lainnya, seperti demam kuning dan
encepalitis.
 Timbulnya kanker kulit, katarak, penurunan kekebalan tubuh, melemahnya
sistem kekebalan tubuh, dan lain sebagainya.

10. Pengaruh terhadap pertanian


Dampak pemanasan global bagi pertanian berupa perubahan pola
presipitasi, penguapan, air limpasan, dan kelembaban tanah, berisiko
menyebabkan terjadinya ledakan hama dan penyakit tanaman serta mengancam
ketahanan pangan. Produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, menjadi

12
semakin sulit dan menimbulkan kerawanan pangan. Pengaruh pemanasan global
tidaklah sama di beberapa tempat, misalnya ada negara yang mendapatkan
keuntungan lebih dari tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam,
seperti di kanada. Namun, masyarakat di daerah pertanian gurun akan
menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika
kumpulan salju akan mencair sebelum bulan masa tanam. Dengan kondisi ini,
tanaman tidak akan tumbuh, misalnya di daerah Afrika. Adapun dampak
pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim terhadap ketahanan
pangan di daerah asia, seperti di Indonesia antara lain sebagai berikut :
 Menurunnya produktivitas pertanian, khususnya pada wilayah pantai akibat
naiknya temperatur bumi.
 Terjadinya iklim ekstrim yang meningkat, sehingga sektor pertanan akan
kehilangan produksi akibat bencana kekeringan dan banjir yang silih
berganti.
 Kerawanan pangan akan meningkat di wilayah yang rawan bencana kering
dan banjir

2.5. Upaya Mengatasi Pemanasan Global


Pemanasan global dapat diatasi dengan tindakan nyata oleh semua umat
manusia di berbagai penjuru dunia. Eksploitasi alam yang selama ini dilakukan
harus dikendalikan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa upaya sederhana
untuk mengatasinya :
1. Mengurangi Penggunaan Kendaraan Bermotor
Kendaraan bermotor sudah menjadi kebutuhan manusia saat ini sebagai alat
transportasi. Namun, kita sering lupa bahwa asap kendaraan bermotor
menyumbang CO2 yang mengakibatkan pemanasan global. Untuk mencegah
global warming, kita bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan
menggunakan angkutan massal. Dengan begitu, polusi udara akan berkurang dan
dapat membantu mengatasi global warming.

2. Menjaga Kelestarian Alam


Eksploitasi hasil alam yang berlebihan lebih banyak merugikan ketimbang
menguntungkan untuk jangka panjang. Penebangan dan pembakaran hutan untuk
membuka lahan sudah seharusnya dikendalikan atau dihentikan. Menanam
kembali pohon di lahan yang dibakar/ ditebang merupakan langkah konkrit yang
bisa dilakukan untuk mengatasi pemanasan global.

3. Menanam lebih banyak pohon


Tanaman pohon menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam
jaringannya, tetapi setelah mati, tanaman akan melepaskan kembali CO2.
Lingkungan dengan banyak tanaman akan mengikat CO2 dengan baik, dan harus

13
dipertahankan oleh generasi selanjutnya. Peneliti dari Louisiana Tech University
menemukan bahwa setiap acre pepohonan hijau dapat menangkap karbon dalam
jumlah yang cukup untuk mengimbangi emisi yang dihasilkan oleh sebuah mobil
yang dikendarai selama setahun.

4. Mengontrol Pemakaian Listrik


Penggunaan listrik yang berlebihan juga dapat menimbulkan pemanasan
global. Hal ini terkesan sangat sepele namun dampaknya sangat besar. Lampu-
lampu dan peralatan listrik dapat mengeluarkan panas. Bayangkan berapa besar
panas yang dikeluarkan bila seluruh manusia di bumi menggunakan listrik secara
berlebihan. Selain membantu mengatasi pemanasan global, dengan mengontrol
pemakaian listrik maka kita akan lebih hemat energi dan hemat biaya.

5. Menggunakan alat transportasi alternatif


Penelitian yang dilakukan Universitas Chicago menunjukkan bahwa dengan
beralih dari mobil konvensional ke mobil hibrida seperti Toyota Prius dapat
menghemat 1 ton emisi per tahun. Selain itu, kegiatan mengonsumsi makanan
produk lokal akan mengurangi emisi dalam jumlah yang cukup signifikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Iowa State University pada tahun 2003
menemukan bahwa makanan non-lokal rata-rata menempuh 1.494 mil sebelum
dikonsumsi, bandingkan dengan makanan lokal yang hanya menempuh 56 mil.
Bayangkan betapa banyak emisi karbon yang dihemat dengan perbedaan 1.438
mil tersebut.
Gunakan sepeda sebanyak mungkin bisa sebagai alat transportasi. Selain
menghemat banyak energi, bersepeda juga merupakan olah raga yang
menyehatkan. Satu hal lain yang sangat penting di samping lima hal yang dapat
kita lakukan di atas adalah keinginan dan motivasi diri untuk berubah. Kita harus
benar-benar mulai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak
perlu mengambil langkah ekstrem untuk langsung berubah hanya dalam semalam
bila hal tersebut terlalu berat bagi kita. Lakukanlah secara bertahap tetapi
konsisten dengan komitmen. Jadilah contoh nyata bagi lingkungan dan orang-
orang di sekitar kita.

6. Mencari energi aternatif


Bila memungkinkan, carilah sumber-sumber energi alternatif yang tidak
menghasilkan emisi CO2. Energi alternatif tersebut misalnya tenaga matahari, air,
angin, nuklir, dan lain-lain. Bila terpaksa harus menggunakan bahan bakar fosil
(yang menghasilkan emisi CO2), gunakanlah dengan bijak dan efisien. Hal ini
dapat dilakukan dengan menghemat listrik dan penggunaan kendaraan yang
menggunakan bahan bakar minyak dan batubara. Sebagian besar pembangit listrik
menggunakan bahan bakar fosil : minyak bumi, batu bara, gas alam. Ketiganya
mengeluarkan CO2. Jadi semakin kita boros menggunakan listrik, semakin banyak

14
CO2 yang dikeluarkan. Daripada terus boros listrik dan pemerintah harus
membangun pembangkit listrik berbahan bakar fosil baru untuk memenuhi
kebutuhan aktivitas manusia, lebih baik melakukan hemat listrik. Adapun solusi
alternatif dalam mencari energi alternatif antara lain membangun pembangkit
listrik dengan energi bersih, seperti energi matahari, air , angin, panas bumi, dan
lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak terjadinya
pemanasan global dan lubang ozon akibat penggunaan gas yang mengeluarkan
CO2.

2.6. Respon Indonesia terhadap Pemanasan Global


Pemanasan global adalah nyata adanya dan sedang terjadi saat ini. Sebagai
salah satu negara yang terkena dampak pemanasan global, Indonesia harus
bergerak menanggulangi bahaya dari dampak tersebut. Tantangan bagi Indonesia
saat ini adalah membentuk mekanisme yang responsif untuk mengatasi masalah
perubahan iklim secara tepat dan efektif. Tindakan pencegahan di level nasional
dan lokal perlu dilaksanakan segera secara bersama-sama dengan inisiatif
internasional. Sebagai negara yang meratifikasi Konvensi Perubahan Iklim
(UNFCCC) pada tahun 1994 dan Protokol Kyoto pada tahun 2004 yang diadopsi
oleh UU Nomor 17/2004, Indonesia telah menetapkan beberapa langkah dalam
mengatasi masalah perubahan iklim ini.
Sebuah contoh penting adalah dibentuknya institusi nasional untuk
mengatur Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB). MPB dapat mengurangi emisi
negara ini sampai 23-24 ton per tahun jika difungsikan secara efektif dan
fungsional. Hal ini berdasarkan studi strategi nasional 2001/02 untuk menganalisis
pengurangan emisi Gas Rumah Kaca dari sektor energi dan sektor kehutanan
(Ardiansyah, 2009). Namun bagi Indonesia masih diperlukan strategi yang
implementatif dan tindakan yang nyata di beberapa sektor penting karena
kenyataannya sekarang belum ada koordinasi antarsektor yang komprehensif
untuk selaras dengan Konvensi Perubahan Iklim dalam mengatasi masalah
tersebut. Sebagai salah satu negara yang rentan akan perubahan iklim ekstrem,
Indonesia perlu melakukan pengkajian dan pemetaan tingkat kerentanan dan
adaptasi dari perubahan iklim agar tercipta penanganan yang efektif untuk
masalah tersebut.
Ada kebutuhan mendesak untuk memprioritaskan strategi adaptasi bagi
strategi pembangunan dan perencanaan pembangunan di sektor lokal maupun
nasional. Tanpa perencanaan ini Indonesia akan mengalami kegagalan dalam
pembangunan yang diakibatkan oleh bencana lingkungan. Di bagian mitigasi,
Indonesia perlu mendesak negara-negara maju untuk memangkas emisi Gas
Rumah Kaca mereka jika masyarakat global ingin tetap berada di bawah level
kenaikan 2ºC, sebagai ambang batas kemampuan bumi beradaptasi dengan
kenaikan temperatur tersebut. Kelompok Kerja III dari IPCC menyatakan bahwa
PDB (Pendapatan Domestik Bruto) perlu dipotong 0,12% agar level CO2 dunia

15
dapat bertahan di bawah level paling rendah sampai tahun 2030 sedangkan
diperkirakan total keseluruhannya sekitar 3% sampai tahun 2030. Sir Nicholas
Stern mengingatkan kembali bahwa dunia akan mengeluarkan 5-20% dari PDB-
nya jika tidak ada tindakan yang dilakukan dari sekarang untuk mencegah
perubahan iklim ekstrem (Ardiansyah, 2009).
Untuk Indonesia, „sumbangsih‟ emisi Gas Rumah Kaca dalam negeri
semakin besar, terutama emisi dari sektor deforestasi termasuk konversi lahan
gambut dan hutan serta kebakaran hutan jika semuanya dimasukkan hitungan.
Oleh karena itu beberapa organisasi di Indonesia meyakini bahwa kita adalah
penyumbang emisi Gas Rumah Kaca ketiga terbesar di dunia. Namun demikian
terbuka lebar kesempatan bagi Indonesia dan negara-negara pemilik hutan lainnya
untuk berkontribusi secara positif dalam mengurangi emisi di sektor kehutanan.
Konvensi Perubahan Iklim yang digelar di Bali Desember 2007 membahas
mekanisme insentif REDD (Reducing Emission from Deforestation in Developing
Countries) yang akan diberikan kepada negara-negara Non-Annex I yang menjaga
hutannya.
Indonesia memiliki kesempatan baik untuk membawa posisi yang kuat bagi
mekanisme insentif REDD dengan menciptakan pengukuran dan kebijakan untuk
mengurangi dan memonitor laju deforestasi. Indonesia juga perlu mendesak
negosiasi dengan kelompok-kelompok negara lain agar mendapatkan dukungan di
sisi REDD. Jika langkah-langkah adaptasi dan pengurangan emisi dari sektor
kehutanan dapat Arah Reformasi Indonesia dipersiapkan dan diimplementasikan
dengan serius maka dapat menjadi sinyal positif bagi masyarakat bahwa bangsa
Indonesia siap menghadapi kemungkinan terburuk dari perubahan iklim.

16
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Pemanasan global (global warming) adalah suatu kondisi yang
menunjukkan terjadinya peningkatan suhu di permukaan bumi yang bisa
mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Pemanasan global yang terjadi
dikarenakan peningkatan kadar gas rumah kaca. Dampak pemanasan global baik
secara langsung maupun tidak langsung yaitu iklim mulai tidak stabil, perubahan
tinggi permukaan air laut, terjadi hujan asam, mencairnya es kutub utara dan
selatan, menipisnya lapisan ozon, kepunahan hewan dan tumbuhan,
mempengaruhi kesehatan manusia, dan menurunnya produktivitas pertanian.
upaya sederhana untuk mengatasi mengurangi penggunaan kendaraan bermotor,
menjaga kelestarian alam, mengontrol pemakaian listrik, dan mencari energi
aternatif.

3.2. SARAN
Adapun saran yang dapat kami ajukan antara lain:
1. Kepada masyarakat
Hendaknya masyarakat menjaga dan merawat lingkungan di sekitarnya.
Selain tu masyarakat hendaknya memiliki kesadaran dalam mengantisipasi
adanya dampak pemanasan global.
2. Kepada pemerintah
Hendaknya pemerintah bersama masyarakat maupun bersama instansi-
instansi yang terkait mampu memberikan kontribusi dalam mencegah dan
menghadapi dampak pemanasan global. Pemerintah juga harus memberikan
solusi yang terbaik dalam masalah ini, seperti mencari solusi agar
penggunaan bahan bakar fosil bisa dicarikan alternatif dengan bahan bakar
lainnya yang ramah lingkungan misalnya dengan menggunakan minyak
kelapa, dengan menggunakan sinar matahari, dan lain sebagainya.
3. Kepada lembaga-lembaga terkait
Hendaknya lembaga-lembaga terkait seperti Walhi dan aktivis-aktivis
lingkungan bersama komponen masyarakat dan pemerintah hendaknya
bersama-sama dalam menjaga lingkungan sekitarnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Agus, F. and M. van Noordwijk. 2007. CO2 Emissions Depend on Two Letters.
The Jakarta Post, November 15, 2007.

Herdiman, Ver y. 2007. Indonesia Deklarasikan Negara Donor Lingkungan


Global. Jurnal Nasional, 8 November 2007.

Muhi, A. Hanipah. 2011. Pemanasan Global (Global Warming). Bandung (ID) :


Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Santoso, H. dan Forner C. 2007. Climate Change Projections for Indonesia.


TroFCCA

Subejo, Supriyanto, dkk. 2007. Isu dan Kecenderungan Global Serta


Perkembangan Sistem Pengajaran Penyuluhan Pertanian. Bandung (ID) :
Institut Teknologi Bandung.

Utina, R. (2008). Pemanasan Global : Dampak dan Upaya Meminimalisasinya.


Gorontalo (ID) : Universitas Negeri Gorontalo.

Winarso, Paulus Agus. 2008. Pemanasan/Perubahan Iklim Global dan


Dampaknya di Indonesia. (Makalah Seminar).

18