Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

BIOFISIKA
DAYA PISAH LENSA MATA

Disusun oleh:
Tia Rahman Islami (16312244003)

KELOMPOK 7
IPA I 2017

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
A. Judul
Daya Pisah Lensa Mata
B. Tujuan
1. Mengetahui kemampuan lensa mata membedakan batas dua sumber cahaya yang
terpisahkan.
2. Menentukan jarak maksimum sampai mata masih dapat membedakan sumber cahaya
terpisahkan.
C. Dasar Teori
Cahaya merupakan bentuk energi yang dikenal sebagai energi elektromagnetik,
yang juga disebut radiasi. Energi elektromagnetik bergerak dalam gelombang.
Gelombang elektromagnetik merupakan gangguan pada medan listrik dan medan
magnetik. Jarak antara puncak-puncak gelombang gelombang elektromagnetik disebut
panjang gelombang. Segmen yang paling penting dalam kehidupan ialah pita sempit yang
panjang gelombangnya berkisar 380 hingga 750 nm. Radiasi ini dikenal sebagai cahaya
tampak, karena terdeteksi oleh mata manusia sebagai bermacam-macam warna
(Campbell, N.A, dkk, 2002 : 186 ).
Visible light adalah cahaya yang terlihat oleh mata manusia/ dari semua spektrum
warna, mata manusia paling peka terhadap panjang gelombang 556 nanometer atau warna
kuning-hijau.

Gambar 1. Panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat mata manusia


Sumber : (Laela, Nur. 2015 : 189).
Gambar 2. Panjang Gelombang Eletromagnetik
Sumber : (Laela, Nur. 2015 : 189)
Mata merupakan alat indra yang terdapat pada manusia yang secara konstan
menyesuaikan pada jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek
yang dekat dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera di
hantarkan pada otak. Penglihatan pada manusia melibatkan deteksi gelombang cahaya
yang sangat sempit dengan panjang gelombang sekitar 400 sampai 750 nm. Panjang
gelombang terpendek dipersepsi sebagai warna biru, dan panjang gelombang
terpanjang dipersepsi sebagai warna merah. Mata memiliki fotoreseptor yang
mampu mendeteksi cahaya, tetapi, sebelum cahaya mengenai reseptor yang
bertanggung jawab untuk deteksi ini, cahaya harus difokuskan ke retina ( ketebalan
200 μm) oleh kornea dan lensa (Pearce E.C. 2006 : 120).
 Gangguan/Kelainan pada Sistem PenglihatanMata manusia dapat mengalami
kelainan. Beberapa kelainan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Mata miopi (rabun dekat)
Mata miopi adalah mata dengan lensa terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang.
Dengan demikian,objek yang dekat akan terlihat jelas karena bayangan jatuh
pada retina, sedangkan objek yang jauh akan terlihat kabur karena bayangan
didepan retina. Kelainan mata jenis ini dikoreksi dengan mata jenis cekung.
2. Hipermetropi (rabun jauh)
Bayangan yang Terbentuk pada Mata Heipermetropi dan Jenis Lensa yang di
Pakai. Mata hipermetropi adalah mata dengan lensa terlalu pipih atau bola mata
terlalu pendek. Objek yang dekat akan terlihat kabur karena bayangan jatuh didepan
retina, sedangkan objek yang jauh akan terlihat jelas karena bayangan jatuh
di retina. Kelainan mata jenis ini dikoreksi dengan lensa cembung.
3. Mata presbiopi
Mata presbiopi adalah suatu keadaan dimana lensa kehilangan elastisitasnya karena
betambahnya usia. Dengan demikian lensa mata tidak dapat berakomodasi
lagi dengan baik. Umumnya penderita akan melihat jelas bila objeknya jauh, tetapi
perlu kacamata cembung untuk melihat objek dekat.( lyas S, 2003 : 245).
Visus (ketajaman penglihatan) adalah nilai kebalikan sudut (dalam menit)
terkecil di mana sebuah benda masih kelihatan dan dapat dibedakan. Tajam
penglihatan adalah kemampuan untuk membedakan antara dua titik yang berbeda
padajarak tertentu. Visus (ketajaman penglihatan) adalah ukuran, berapa jauh, dan detail
suatu benda dapat tertangkap oleh mata sehingga visus dapat disebut sebagai fisiologi
matayang paling penting. Ketajaman penglihatan didasarkan pada prinsip tentang
adanyadaya pisah minimum yaitu jarak yang paling kecil antara 2 garis yang masih
mungkin dipisahkan dan dapat ditangkap sebagai 2 garis (Murtiati dkk, 2010).
Menurut Umar Erizon (2008 :35). Buku Pintar Fisika. Jakarta : Media Pusiando.
daya urai suatu alat optik didefinisikan sebagai jarak pisah minimum dari dua benda titik
sehingga bayangan yang dihasilkan masih dapat ditampilkan sebagai dua titik yang
terpisah. Jika suatu alat optik mempunyai daya urai yang makin kecil maka makin besar
resolusi alat optik tersebut. Untuk lensa daya urainya dapat dinyatakan sebagai berikut
1,22ℷ L
dm =
D
dm = daya urai
L = jarak benda dari lensa
D = diameter bukaan lensa
ℷ = Panjang gelombang cahaya
Resolusi lensa adalah kemampuan lensa untuk membebaskan bayangan dari dua
titik benda yang sangat dekat. Makin dekat kedua bayangan dan tetap dapat terpisah ,
makin tinggi resolusi.
Gambar 3. Bayangan yang dibentuk oleh lensa menunjukkan pola difraksi
bayangan untuk (a) benda titik tunggal; (b) benda dua titik yang bayangannya hampir
tidak terurai
Sumber : Giancoli (2001 : 250).

Gambar 4. Intensitas cahaya melintasi pola difraksi dari lubang lingkaran


Sumber : Giancoli (2001 : 250)

Sumber : Giancoli (2001 : 250).


D. Metodologi Percobaan
1. Waktu dan Tempat
Waktu : Rabu, 26 Februari 2020 Pukul 11.10-12.50 WIB
Tempat : Selasar Laboratorium IPA FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
a. 2 buah lampu LED berwarna merah dan 2 buah LED berwarna hijau
b. 4 buah baterai 1,5 volt
c. 2 dudukan baterai
d. Kabel penjepit buaya
e. 1 buah kardus
f. Rollmeter
3. Desain Percobaan

4. Prosedur Kerja
Menyiapkan alat bahan yang diperlukan. Lalu merangkai seperangkat
alat percobaan daya urai. Menyalakan kedua lampu LED merah dan
hijau dan mencatat jarak kedua LED

Lalu merangkai seperangkat alat percobaan daya urai. dengan


menghubungkan kedua lampu LED berwarna hijau pada baterai
menggunakan kabel penjepit buaya

Jika kedua lampu LED sudah menyala, maka mengatur posisi kedua
LED dengan posisi sejajar.

Lalu mengatur jarak kedua lampu LED berwarna hijau (d) yaitu sebesar
0.001 m

Mengamati LED sampai kedua LED terlihat menjadi satu, dengan cara
pengamat bergerak menjauh dari kedua lampu LED yang menyala.
posisi pengamat harus sejajar dengan LED

Mencatat jarak L (yang memakai kacamata, kacamatanya dilepas)


dengan menggunakan roll meter

Mengulangi percobaan untuk jarak d yang berbeda yaitu sebesar 0,003


m, dan 0,006 m dengan pengamat yang sama

Mengulangi percobaan untuk warna lampu yang berbeda yaitu LED


berwarna merah

Mengulangi pengamatan dengan praktikan yang lain.

E. Data Hasil
Lampu
No Praktikan Hijau Merah
d (m) L (m) d (m) L (m)
1. Indah 1 x 10-3 5, 570 1 x 10-3 5,803
3 x 10-3 8,015 3 x 10-3 8,70
6 x 10-3 8,845 6 x 10-3 10,175

2. Juan 1 x 10-3 5,408 1 x 10-3 6,67


3 x 10-3 7,99 3 x 10-3 8,575
6 x 10-3 9,95 6 x 10-3 11,365

3. Tia 1 x 10-3 4,9 1 x 10-3 2,97


3 x 10-3 5,68 3 x 10-3 4,87
6 x 10-3 7,19 6 x 10-3 7,25

F. Analisis Data
1. Lampu Hijau
1,22ℷ L dD
d= jadi L =
D 1,22ℷ
Keterangan :
ℷ = Panjang gelombang cahaya hijau 495-570 nm
D= Lebar diafragma lensa mata ± 2 mm = 2 x 10-3 m
L = jarak LED dengan lensa mata pengamat
d = jarak dua sumber cahaya LED
a. Diketahui d = 1 x 10-3
dD (1 x 10−3 )(2 x 10−3 )
L min = =
1,22ℷ 1,22(495 x 10−9 )
= 3,312 m
dD (1 x 10−3 )(2 x 10−3 )
L max = =
1,22ℷ 1,22(570 x 10−9)
= 2,876 m
L rata-rata = (L min + L max) 1/2
= (3,312 +2,876) ½
= 3,094 m
b. Diketahui d = 3 x 10-3
dD (3 x 10−3)(2 x 10−3)
L min = =
1,22ℷ 1,22( 495 x 10−9 )
= 9,935 m
dD (3 x 10−3)(2 x 10−3)
L max = =
1,22ℷ 1,22(570 x 10−9 )
= 8,628 m
L rata-rata = (L min + L max) 1/2

= (9,935 + 8,628) 1/2


= 9,281 m
c. Diketahui d = 6 x 10-3
dD (6 x 10−3)( 2 x 10−3)
L min = =
1,22ℷ 1,22( 495 x 10−9 )

= 19,87 m

dD (6 x 10−3)( 2 x 10−3)
L max = =
1,22ℷ 1,22(570 x 10−9 )

= 17,256 m

L rata-rata = (L min + L max) 1/2


= (19,87 +17,256) ½
= 18,563 m
2. Lampu Merah
1,22ℷ L dD
d= jadi L =
D 1,22ℷ
Keterangan :
ℷ = Panjang gelombang cahaya hijau 620-750 nm
D = Lebar diafragma lensa mata ± 2 mm = 2 x 10-3 m
L = jarak LED dengan lensa mata pengamat
d = jarak dua sumber cahaya LED
a. Diketahui d = 1 x 10-3
dD (1 x 10−3 )(2 x 10−3 )
L min = =
1,22ℷ 1,22(620 x 10−9)
= 2,644 m
dD (1 x 10−3 )(2 x 10−3 )
L max = =
1,22ℷ 1,22(750 x 10−9)
= 2,185 m
L rata-rata = (L min + L max) 1/2
= (2,644 +2,185) ½
= 2,415 m
b. Diketahui d = 3 x 10-3
dD (3 x 10−3)(2 x 10−3)
L min = =
1,22ℷ 1,22(620 x 10−9 )
= 7,933 m
dD (3 x 10−3)(2 x 10−3)
L max = =
1,22ℷ 1,22(750 x 10−9 )
= 6,557 m
L rata-rata = (L min + L max) 1/2
= (7,933 +6,557) ½
= 7,245 m
c. Diketahui d = 6 x 10-3
dD (6 x 10−3)( 2 x 10−3)
L min = =
1,22ℷ 1,22(620 x 10−9 )

= 15,864 m

dD (6 x 10−3)( 2 x 10−3)
L max = =
1,22ℷ 1,22(750 x 10−9 )

= 13,114 m

L rata-rata = (L min + L max) 1/2


= (15,864 + 13,114) ½
= 14,489 m
G. Pembahasan
Praktikum yang berjudul “Daya Pisah Lensa Mata” dilakukan pada Hari Rabu, 26
Februari 2020 Pukul 11.10-12.50 WIB di Selasar Laboratorium IPA FMIPA UNY
bertujuan untuk mengetahui kemampuan lensa mata membedakan batas dua sumber
cahaya yang terpisahkan dan menentukan jarak maksimum sampai mata masih dapat
membedakan sumber cahaya terpisahkan.
Alat dan bahan yang digunakan adalah 2 buah lampu LED berwarna merah dan 2
buah LED berwarna hijau yang berfungsi sebagai sumber cahaya; 4 buah baterai 1,5 volt
yang berfungsi sebagai sumber tegangan agar LED dapat menyala; 2 dudukan baterai;
Kabel penjepit buaya yang bergungsi sebagai pengubung antara LED dengan baterai; 1
buah kardus yang berfungsi sebagai tempat melatkkan rangkaian LED; Rollmeter yang
verfungsi untuk mengukur jarak antara lensa pengamat dengan LED. Prosedur yang
dilakukan yaitu pertama menyusun rangkaian lampu LED dan baterai dihubungkan
menggunakan jepit buaya. Kemudian mengatur jarak “d” yaitu atara LED pertama
dengan LED kedua pada posisi yang sejajar. Lalu naracoba mengamati cahaya lampu
LED sampai hanya terlihat satu cahaya, kemudian mengukur jarak “L” yaitu jarak ketika
naracoba hanya melihat satu cahaya lampu LED. Pada praktikum ini, praktikan membuat
dua variasi yaitu, variasi jarak “d” (0,001m; 0,003m; 0,006m) dan variasi lampu (hijau
dan merah). Sehingga diperoleh data hasil dan analisis sebagai berikut ini :
Lampu
Hijau Merah
d (m) L L rata2 d (m) L L rata2
No Pengamat
pengamat perhitungan pengamat perhitungan
(m) (m) (m) (m)
1. Indah 1 x 10-3 5, 570 3,094 1 x 10-3 5,803 2,415
3 x 10-3 8,015 9,281 3 x 10-3 8,70 7,245
6 x 10-3 8,845 18,563 6 x 10-3 10,175 14,489

2. Juan 1 x 10-3 5,408 3,094 1 x 10-3 6,67 2,415


3 x 10-3 7,99 9,281 3 x 10-3 8,575 7,245
6 x 10-3 9,95 18,563 6 x 10-3 11,365 14,489

3. Tia 1 x 10-3 4,9 3,094 1 x 10-3 2,97 2,415


3 x 10-3 5,68 9,281 3 x 10-3 4,87 7,245
6 x 10-3 7,19 18,563 6 x 10-3 7,25 14,489
Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan bahwa :
1. Variasi Jarak “d”
Pada variasi jarak “d” yaitu variasi jarak atara lampu LED pertama dan kedua.
Lampu LED yang digunakan yaitu berwarna hijau dan merah. Menurut Laela, Nur.
(2015 : 189) LED hijau memiliki panjang gelombang antara 495-570 nm dan LED
merah memiliki panjang gelombang antara 620-750 nm.
Variasi jarak “d” yang dipraktikkan yaitu sebesar 0,001 m; 0,003 m; dan 0,006 m.
Berdasarkan hasil percobaan pada LED hijau maupun LED merah menunjukkan
bahwa semakin jauh jarak “d” maka semakin jauh pula jarak “L” yaitu jarak lensa
mata praktikan untuk melihat kedua sumber cahaya LED mulai terlihat menyatu.

1,22ℷ L
Karena pada persamaan d= menunjukkan bahwa jarak daya urai “d” (jarak
D
antar LED) berbanding lurus dengan jarak lensa ke LED saat kedua bayangan LED
terlihat menyatu “L”. Berdasarkan teori menunjukkan bahwa jika dua benda terpisah
pada jarak tertentu, maka bayangan kedua benda bukanlah dua titik tetapi dua pola
difraksi. Jika jarak pisah kedua benda terlalu dekat maka pola difraksi kedua benda
saling menindih. Artinya, semakin dekan jarak kedua sumber cahaya maka bayangan
yang terbentuk akan terlihat semakin berhimpit. Sehingga daya urai adalah
kemampuan lensa atau sistem optik untuk memisahkan bayangan dari dua titik
sumber cahaya yang terpisah pada jarak minimum. Hal ini sesuai teori Umar Erizon
(2008 :35) bahwa daya urai suatu alat optik didefinisikan sebagai jarak pisah
minimum dari dua benda titik sehingga bayangan yang dihasilkan masih dapat
ditampilkan sebagai dua titik yang terpisah.
Pada saat kita melihat dua buah sumber cahaya LED dalam jarak yang dekat “L”
akan terlihat adanya dua sumber cahaya terpisah, namun jika dilihat dari kejauhan
maka akan tampak hanya ada satu sumber cahaya. Hal ini disebabkan pada pola
difraksi yang dibentuk oleh sebuah celah bulat terdiri atas bentuk terang pusat yang
dikelilingi cincin terang dan gelap. Salah seorang ilmuwan, Lord Rayleigh
menyimpulkan bahwa dua buah titik sumber yang terangnya sama akan terlihat
terpisah jika maksimum sentral atau pusat-pusat dari pola difraksi yang satu
bertepatan letaknya dengan minimum pertama dari pola difraksi titik yang lain.
Berikut ini adalah gambaran daya urai mata menurut Giancoli (2001 : 249-250).

Gambar bayangan yang dibentuk oleh lensa menunjukkan pola difraksi bayangan
untuk (a) benda titik tunggal; (b) benda dua titik yang bayangannya hampir tidak terurai.
Pada tabel di atas menunjukkan bahwa jarak “L” berdasarkan pengamatan

1,22ℷ L
naracoba dengan jarak “L” berdasarkan perhitungan dari persamaan d = terdapat
D
hasil yang kurang sinkron. Dimana d = daya urai; L = jarak benda dari lensa; D =
diameter bukaan lensa; ℷ = Panjang gelombang cahaya. Hal tersebut terjadi karena bisa
jadi asusmsi pengamat dalam memposisikan pengelihatannya belum tepat dalam
mengamati cahaya LED saat mulai menyatu. Kemudian jarak “L” pada masing-masing
naracoba berbeda. Naracoba Indah menderita miopi atau rabun jauh (minus 0,25),
Naracoba Juan (normal), dan naracoba Tia (minus 1,5). Pada saat melakukan percobaan,
penderita miopi diminta untuk melepas kacamata, agar dapat mengetahui kemampuan
daya pisah lensa matanya tanpa bantuan alat.
Berdasakan data hasil percobaan, bahwa naracoba yang menderita miopi dengan
minus paling tinggi jarak “L” semakin dekat. Karena penderita miopi yaitu mata dengan
lensa terlalu cembung. Dimana objek yang jauh akan terlihat kabur karena bayangan
jatuh di depan retina. Sehingga pada jarak yang tidak terlalu jauh, cahaya LED sudah
terlihat kabur/menyatu. Hal sesuai teori lyas S (2003 : 245) bahwa mata miopi adalah
mata dengan lensa terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang. Dengan
demikian,objek yang dekat akan terlihat jelas karena bayangan jatuh pada retina,
sedangkan objek yang jauh akan terlihat kabur karena bayangan didepan retina.
Sedangkan pada mata normal didapatkan jarak “L” yang lebih jauh. Karena mata pada
nomal bayangan yang terbentuk tepat jatuh di retina sehingga bayangan tidak nampak
kabur. Keterbatasan kemampuan Lensa mata untuk membedakan dua benda sebagai dua
benda disebabkan oleh faktor yaitu; jarak benda terhadap mata; jarak kedua benda itu
sendiri; panjang gelombang cahaya; dan lebar diafragma / bukaan lensa.
Jarak yang diperlukan mata untuk melihat bayangan cahaya LED agar terlihat
mulai menyatu pada jarak minimum juga dipengaruhi oleh faktor visus mata. Visus mata
adalah tingkat ketajaman mata dalam melihat suatu objek. Menurut Murtiati dkk, (2010)
bahwa ketajaman penglihatan didasarkan pada prinsip tentang adanya daya pisah
minimum yaitu jarak yang paling kecil antara 2 garis yang masih mungkin dipisahkan
dan dapat ditangkap sebagai 2 garis. Dikatakan lensa mata memiliki daya urai yang
terbatas.
2. Variasi warna LED
Variasi warna LED yang digunakan yaitu LED hijau dan LED merah.
Penggunaan variasi warna LED bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis warna lampu
terhadap kemampuan lensa mata dalam melihat objek pada saat cahaya lampu LED mulai
menyatu saat jarak minimum. Praktikan menggunakan LED merah dan hijau karena
warna tersebut merupakan warna cahaya tampak, yakni cahaya yang dapat dilihat oleh
mata manusia. Menurut Pearce (2006 : 120) bahwa penglihatan pada manusia
melibatkan deteksi gelombang cahaya yang sangat sempit dengan panjang gelombang
sekitar 400 sampai 750 nm.
Berdasarkan tabel data hasil percobaan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
pada cahaya LED hijau, jarak “L” naracoba yaitu jarak yang diperlukan oleh lensa
naracoba untuk melihat cahaya hijau nampak menyatu adalah lebih dekat dibandingkan
dengan cahaya LED merah. Tetapi jarak “L” perhitungan menunjukkan bahwa pada LED
hijau jarak “L” nya lebih besar daripada jarak ”L” pada LED merah. Sehingga nilai “L’
hasil pengamatan naracoba tidak sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa besar
panjang gelombang LED merah adalah 620-750 nm, besar panjang gelombang LED hijau
sebesar 495-570 nm, sehingga semakin besar panjang gelombang yang dimiliki sebuah
spektrum warna cahaya benda maka L (jarak objek dengan lensa mata) semakin kecil.
Adapun hubungannya dengan daya pisah adalah sebanding namun berbanding terbalik
dengan besarnya L (jarak objek dengan lensa mata).
Adanya ketidaksinkronan nilai “L” hasil pengamatan pada warna LED hijau dan
merah pada literatur karena asusmsi pengamat dalam memposisikan pengelihatannya
belum tepat dalam mengamati cahaya LED saat mulai menyatu.
Akibat adanya perbedaan panjang gelombang dan frekuensi dari sinar yang
sampai ke dalam mata, akan menimbulkan rangsangan yang berbeda-beda intensitasnya
terhadap sinar yang dapat ditangkap. Hal ini akan menyebabkan kesadaran melihat dan
membedakan warna. Dengan adanya perbedaan intesitas rangsangan pada bagian
belakang selaput mata yang disebabkan perbedaan kepadatan sinar dari permukaan
sumber cahaya akan menimbulkan kesan terangnya sumber cahaya.
H. Kesimpulan
1. Untuk mengetahui kemampuan lensa mata dalam membedakan batas dua sumber
cahaya yang terpisahkan adalah dengan menggunakan persamaan :
1,22ℷ L
dm =
D
dm = daya urai
L = jarak benda dari lensa
D = diameter bukaan lensa
ℷ = Panjang gelombang cahaya
2. Jarak maksimum sampai mata masih dapat membedakan sumber cahaya terpisahkan
pada setiap naracoba berbeda-beda . karena dipengaruhi oleh beberapa factor yakni
kesehatan mata, bagi orang yang bermata normal semakin sehat matanya maka daya
urai lensa mata akan lebih bagus dan jarak maksimum semakin besar, dibandingkan
dengan orang yang memiliki kelainan pada mata.
I. Lampiran
J.
K. Daftar Pustaka
Campbell, N.A, dkk, 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Pearce E.C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia.
lyas S. 2003. Ilmu Penyakit Mata Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Murtiati, Tri dkk. 2010. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta :
Universitas Negeri Jakarta.