Anda di halaman 1dari 10

22

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 5 Pekanbaru pada semester genap

tahun pelajaran 2011/2012.

B. Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yaitu suatu

penelitian untuk memperbaiki proses belajar mengajar siswa yang bertujuan untuk

memperbaiki mutu. Menurut Susilo (2009), penelitian tindakan kelas adalah

penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar,

dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses

dalam pembelajaran. Suyanto (dalam Muslish,2009) mengemukakan bahwa

penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk

memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran di kelas dengan cara

melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan

praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Menurut Arikunto, dkk

(2006) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas penelitian yang dilakukan di

kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran.

Dalam merencanakan tindakan dan merefleksi hasil tindakan, peneliti dan guru,

kepala sekolah maupun pihak luar dalam satu tim secara serentak berkolaborasi

dengan tujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran, sehingga bentuk

penelitian ini tergolong penelitian tindakan kelas kolaboratif.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan

kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas untuk

memperbaiki proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa meningkat.dimana


23

peneliti dan guru akan berkolaborasi dalam merencanakan tindakan, melakukan

tindakan, melakukan pengamatan dan refleksi hasil tindakan. Peneliti sebagai guru

dan guru mata pelajaran sebagai pengamat selama proses pembelajaran.

Sedangkan tindakan kelas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penerapan

pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square.

C. Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas X 3 SMA Negeri 5 Pekanbaru

semester genap tahun pelajaran 2011/2012 sebanyak 32 orang siswa terdiri dari 13

orang siswa laki-laki dan 19 orang siswa perempuan dengan kemampuan

akademis yang heterogen.

D. Rancangan Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terdiri dari dua siklus.

Menurut Hopkins(1993) dalam Muslish (2009), model siklus dalam penelitian

tindakan kelas yang akan dilakukan terlihat pada gambar berikut : Penelitian ini

terdiri dari dua siklus, pada siklus pertama dilakukan tindakan yang mengacu pada

langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Square

selanjutnya pada siklus kedua, tindakan yang dilakukan adalah berdasarkan hasil

refleksi dari siklus pertama. Menurut Arikunto (2006), daur siklus penelitian

tindakan kelas mempunyai empat komponen, yaitu perencanaan, pelaksanaan

tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap adalah sebagai berikut:

1. Refleksi Awal

Pada tahap refleksi awal ini peneliti telah menentukan beberapa

masalah yang dihadapi. Adapun masalah yang dihadapi tersebut guru


24

kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, guru kurang

memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pengetahuan,

pemikiran, dan pendapat dalam proses pembelajaran, serta guru belum dapat

menciptakan interaksi sesama siswa dalam proses pembelajaran. Beberapa

siswa kurang aktif dan cenderung menunggu penjelasan dari guru, dan guru

jarang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam

kelompok. Berdasarkan masalah tersebut peneliti ingin menerapkan

pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square dimana pada model

pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja

sendiri serta bekerjasama dengan orang lain dan pada model pembelajaran

ini bisa mengoptimalisasikan partisipasi siswa.

2. Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini peneliti menyusun perangkat

pembelajaran yang terdiri dari.

- Mempersiapkan materi yang disajikan dalam pembelajaran.

- Mempersiapkan alat dan sarana maupun perangkat pembelajaran yang

terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar

Kerja Siswa (LKS) dan Lembar Pengamatan.

- Menentukan skor dasar individu yang diperoleh dari hasil tes akhir

sebelum tindakan dilakukan (sebelum penerapan pembelajaran kooperatif

tipe think pair square). Skor dasar siswa pada siklus I diperoleh dari skor

ulangan harian pada materi Logika Matematika. Skor dasar ini digunakan

untuk menyusun kelompok kooperatif pada siklus I.

- Membagi siswa dalam kelompok kooperatif tipe Think Pair Square

terdiri dari 4 orang siswa yang dipilih secara heterogen. Kelompok


25

dibentuk berdasarkan kelompok tinggi 25%, kemampuan rendah 25%,

dan kemampuan sedang 50% (Trianto, 2009).

3. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan merupakan implementasi dari perencanaan.

Kegiatan yang dilakukan oleh guru atau peneliti adalah dalam upaya

memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran ke arah yang

diinginkan. Pelaksanaan tindakan dilakukan pada proses pembelajaran

secara terstruktur sesuai dengan Silabus, Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan

menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square.

4. Pengamatan (Observasi)

Dalam tahap ini yang bertindak sebagai pengamat utama adalah

guru, dan tidak tertutup kemungkinan peneliti juga sekaligus mengamati

jalannya tindakan. Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas, interaksi dan

kemajuan belajar siswa selama pembelajaran berlangsung. Pengamatan atau

observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Pengamatan

bertujuan untuk mengamati apakah ada hal-hal yang harus segera diperbaiki

agar tindakan yang dilakukan mencapai tujuan yang diinginkan.

5. Refleksi

Refleksi dilakukan setelah tindakan berakhir yang merupakan

perenungan bagi guru atau peneliti atas dampak dari proses pembelajaran

yang dilakukan. Kegiatan refleksi akan menimbulkan pertanyaan yang bisa

dijadikan sebagai acuan keberhasilan, misalnya apakah hasil belajar siswa

sudah menunjukkan ketuntasan secara individual serta bagaimana respon


26

siswa terhadap metode pembelajaran yang dilakukan. Hasil dari refleksi ini

dapat dijadikan sebagai langkah untuk merencanakan tindakan baru pada

pelaksanaan pembelajaran selanjutnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka rancangan penelitian ini dapat

digambarkan sebagai berikut :

Refleksi awal

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Gambar 1: siklus PTK


Sumber : Arikunto (2009)

E. Instrumen Penelitian

Agar penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik maka perlu

dipersiapkan instrumen penelitian. Adapun instrumen penelitian yang perlu

dipersiapkan adalah:

1. Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran yang digunakan adalah sebagai berikut:

a) Silabus

Silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi

dasar yang bertujuan agar peneliti mempunyai acuan yang jelas dalam
27

melakukan tindakan dan disusun berdasarkan prinsip yang berorientasi

pada kompetensi. Silabus meliputi identifikasi sekolah, standar

kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran,

indikator, penilaian yang terdiri dari teknik, bentuk instrumen dan contoh

instrumen, serta alokasi waktu dan sumber belajar.

b) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP memuat komponen-komponen; standar kompetensi, kompetensi

dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, model dan

metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang

meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir,

alat/bahan/sumber belajar, penilaian yang meliputi jenis tagihan, bentuk

instrumen, instrumen, dan alternatif jawaban.

c) Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar kerja siswa merupakan langkah kerja dalam mengkonstruksi

konsep dengan prosedur yang dibuat sedemikian rupa sehingga siswa

mampu menyelesaikan suatu permasalahan baik secara individu maupun

berkelompok. Lembar kerja siswa pada penelitian ini disesuaikan dengan

penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square.

1. Instrumen Pengumpul Data

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data kualitatif

dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa data tentang aktivitas siswa dan

guru selama proses pembelajaran. Data kuantitatif berupa data tentang tes

hasil belajar matematika siswa setelah proses pembelajaran. Data ini

diperoleh dari hasil tes matematika siswa. Data tersebut dikumpulkan

melalui :
28

a. Lembar pengamatan

Lembar pengamatan yang digunakan berupa lembar pengamatan terfokus.

Sukarno (2009) mengemukakan bahwa pengamatan terfokus adalah

pengamatan yang secara khusus diarahkan pada aktifitas guru atau siswa

dalam proses pembelajaran. Pada lembar pengamatan terdapat kolom-

kolom yang berisikan indikator pengamatan, deskriptor, keterlaksanaan

indikator dan deskriptor (dilaksanakan atau tidak) dan hasil pengamatan.

Kolom deskriptor bertujuan untuk lebih menjelaskan hal-hal yang akan

diamati dari suatu indikator pengamatan.

b. Tes hasil belajar siswa

Data tentang hasil belajar matematika siswa diperoleh setelah proses

pembelajaran berlangsung dengan menggunakan tes hasil belajar

matematika pada materi Trigonometri, perangkat tes hasil belajar tersebut

berupa kisi-kisi penulisan soal, naskah soal, kunci jawaban. Kisi-kisi

penulisan soal memuat kompetensi dasar, materi pokok, uraian materi

pokok, indikator soal, nomor soal serta skor dari masing-masing soal.

Ulangan harian terdiri dari ulangan harian I dan ulangan harian II.

F. Teknik Pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan langsung oleh peneliti

yang diperoleh dari lembar pengamatan dan tes hasil belajar matematika. Lembar

pengamatan diisi oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung yang

berguna untuk menilai setiap aktivitas dan interaksi belajar siswa dan guru.

Data tentang hasil belajar matematika diperoleh melalui tes hasil belajar

matematika yang diberikan pada akhir pembelajaran disetiap siklusnya. Diajarkan


29

kepada siswa dengan menerapkan model pembelajaran tipe Think Pair Square.

Tes ini dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti.

G. Teknik Analisis Data.

Data yang diperoleh baik melalui lembar pengamatan maupun tes hasil

belajar matematika kemudian dianalisis sebagai panduan untuk menjawab

hipotesis tindakan yang telah diajukan sebelumnya. Teknik analisis data yang

digunakan yaitu analisis data statistik deskriptif.

Sugiyono (2007) mengemukakan bahwa statistik deskriptif adalah statistik

yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau

menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud

membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

1. Analisis Data Aktivitas dan Interaksi Belajar Siswa dan Guru

Analisis data tentang aktivitas siswa dan guru didasarkan dari hasil lembar

pengamatan selama proses pembelajaran. Pada lembar pengamatan akan tampak

kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh peneliti pada saat menerapkan

pembelajaran. Kekurangan-kekurangan tersebut akan direfleksi oleh pengamat

dan peneliti. Hasil dari refleksi ini dapat dijadikan sebagai langkah untuk

memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus pertama dan merencanakan

tindakan baru pada siklus II.

2. Analisis Data hasil Belajar Matematika

a. Analisis Data Nilai Perkembangan Individu siswa dan penghargaan

kelompok

Nilai perkembangan individu siswa pada siklus I diperoleh dari selisih nilai

pada skor dasar dan nilai ulangan harian I. Nilai perkembangan individu
30

pada siklus II diperoleh siswa dari selisih nilai ulangan harian I dan ulangan

harian II. Penghargaan kelompok diperoleh dari nilai perkembangan

kelompok yaitu rata-rata nilai perkembangan yang diperoleh anggota

kelompok.

b. Anilisis kesalahan siswa

Analisis kesalahan siswa dilakukan terhadap jawaban siswa dalam

menyelesaikan soal ulangan harian I dan ulangan harian II. Analisis

dilakukan dengan melihat langkah-langkah penyelesaian soal. Analisis ini

berguna untuk melihat kesalahan yang sering dilakukan siswa. Kesalahan

dikelompokkan menjadi 3 yaitu kesalahan konsep, prinsip, operasi atau

prosedur. Menurut Edward Begle dalam Susda (2008), objek matematika

adalah fakta, konsep, operasi dan prinsip yang semuanya adalah abstrak.

Menurut Frederick H Bell mengklasifikasikan objek matematika sebagai

objek langsung dan objek tidak langsung. Objek langsung dalam

matematika terdiri dari fakta, konsep, operasi dan prinsip. Fakta matematika

adalah suatu konvensi dalam matematika, suatu ide matematika yang

disajikan baik dalam bentuk kata-kata maupun symbol atau lambang.

Konsep menurut Frederick H Bell (1981) konsep matematika adalah suatu

ide abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek-objek

atau kejadian itu merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak.

Operasi merupakan gabungan antara fakta dengan konsep, sedangkan

prinsip adalah suatu hubungan antara dua lebih objek-objek matematika


31

c. Analisis Ketercapaian Ketuntasan Indikator

Analisis data tentang ketercapaian kriteria ketuntasan indikator pada materi

pokok Trigonometri dilakukan dengan melihat hasil belajar siswa secara

individual yang diperoleh dari ulangan harian I dan ulangan harian II. Skor

ulangan harian siswa untuk setiap indikator dihitung dengan menggunakan

rumus berikut.

SP
= ×100
Skor SM

Dimana: SP = skor yang diperoleh siswa

SM = skor maksimal

Pada penelitian ini siswa dikatakan telah mencapai kriteria ketuntasan untuk

setiap indikator apabila siswa mencapai skor ¿ 75 pada setiap indikator.

d. Analisis Keberhasilan Tindakan

Pada penelitian ini cara yang digunakan untuk menganalisis keberhasilan

tindakan yaitu dengan analisis pada tabel distribusi frekuensi. Menurut

Suyanto (1997), apabila skor hasil belajar siswa setelah tindakan lebih baik

dari pada sebelum tindakan maka dapat dikatakan tindakan berhasil. Dengan

kata lain, tindakan dikatakan berhasil jika hasil belajar siswa meningkat.

Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari perkembangan skor dasar,

ulangan harian I dan ulangan harian II dianalisis setiap indikatornya untuk

mengetahui ketercapaian KKM yang telah ditetepkan, kemudian

dibandingkan dengan skor dasar.