Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEM KOMUNIKASI RADIO DAN LAB

Kelompok 1 Kelas JTD 2A

Anggota Kelompok:

1. AKHMAD MUKHIBUDDIN HARVINANDA 1741160054

2. DHEA VASTHI JINGGA TOMASILA 1741160027

3. DICKY WAHYU CAHYO ARTIKO 1741160043

4. MUHAMMAD FARRAS RAFI MUFLIH 1741160088

5. RAFIDATUS SABRINA 1741160089

6. ZUHAL RIFQI RAHMAN 1741160012

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2019

1
BAB I

MENENTUKAN LETAK TITIK KOORDINAT

Capaian Pembelajaran
Setelah melaksanakan praktikum Bab I, mahasiswa akan mampu
- Melakukan penitikan lokasi koordinat.
- Mengetahui alternative pemilihan lokasi
- Menggunakan perangkat survey radio

1.1 Tujuan
 Menentukan lokasi BTS baru di daerah seputar dari tower existing di
Polinema
 Menitik koordinat lokasi tower existing Polinema dan lokasi BTS baru
(New Site)

1.2 Alat dan bahan


 GPS
 Kompas
 Kamera
 Software google earth

1.3 Dasar teori


1.3.1 Global Positioning Sistem
GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan
penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini
didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi
mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa bergantung waktu
dan cuaca, bagi banyak orang secara simultan.
Saat ini GPS sudah banyak digunakan orang di seluruh dunia dalam
berbagai bidang aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi, kecepatan,
percepatan ataupun waktu yang teliti. GPS dapat memberikan informasi posisi
dengan ketelitian bervariasi dari beberapa millimeter (orde nol) sampai
dengan puluhan meter. GPS didesain untuk memberikan informasi posisi,
Kecepatan dan waktu.

2
Gambar 1.1. GPS

Pada dasarnya GPS terdiri atas 3 segmen utama, yaitu:


1. Segmen angkasa (space segment)
Terdiri dari 24 satelit yang terbagi dalam 6 orbit dengan inklinasi 55° dan
ketinggian 20200 km dan periode orbit 11 jam 58 menit.
2. Segmen sistem control (control system segment)
Mempunyai tanggung jawab untuk memantau satelit GPS supaya satelit
GPS dapat tetap berfungsi dengan tepat. Misalnya untuk sinkronisasi waktu,
prediksi orbit dan monitoring “kesehatan” satelit.
3. Segmen pemakai (user segment)
Segmen pemakai merupakan pengguna, baik di darat, laut maupun udara,
yang menggunakan receiver GPS untuk mendapatkan sinyal GPS sehingga dapat
menghitung posisi, kecepatan, waktu dan parameter lainnya.

Kemampuan GPS
Beberapa kemampuan GPS antara lain dapat memberikan informasi
tentang posisi, kecepatan, dan waktu secara cepat, akurat, murah, dimana saja di
bumi ini tanpa tergantung cuaca. Hal yang perlu dicatat bahwa GPS adalah satu-
satunya sistem navigasi ataupun sistem penentuan posisi dalam beberapa abad ini
yang memiliki kemampuan handal seperti itu. Ketelitian dari GPS dapat mencapai
beberapa mm untuk ketelitian posisinya, beberapa cm/s untuk ketelitian
kecepatannya dan beberapa nanodetik untuk ketelitian waktunya. Ketelitian posisi
yang diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode penentuan
posisi, geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya.

3
Metode Penentuan Posisi dengan GPS
Pada dasarnya konsep penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi
(pengikatan ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara
simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Posisi yang
diberikan oleh GPS adalah posisi 3 dimensi (x,y,z atau j,l,h) yang dinyatakan
dalam datum WGS (World Geodetic System) 1984, sedangkan inggi yang
diperoleh adalah tinggi ellipsoid.
Adapun pengelompokan metode penentuan posisi dengan GPS berdasarkan
mekanisme pengaplikasiannya dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel 1.1).
Tabel 1.1 Metode Penentuan Posisi dengan GPS

1.3.2 Kompas
Kompas adalah alat navigasi untuk menentukan arah berupa sebuah panah
penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi
secara akurat. Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat
membantu dalam bidang navigasi. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah utara,
selatan, timur, dan barat. Apabila digunakan bersama-sama dengan jam dan
sekstan, maka kompas akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Alat ini
membantu perkembangan perdagangan maritim dengan membuat perjalanan jauh

4
lebih aman dan efisien dibandingkan saat manusia masih berpedoman pada
kedudukan bintang untuk menentukan arah.
Penemuan bahwa jarum magnetik selalu mengarah ke utara dan selatan
terjadi di Cina dan diuraikan dalam buku Loven Heng. Di abad kesembilan, orang
Cina telah mengembangkan kompas berupa jarum yang mengambang dan jarum
yang berputar.Pelaut Persia memperoleh kompas dari orang Cina dan kemudian
memperdagangkannya. Tetapi baru pada tahun 1877 orang Inggris, William
Thomson, 1st Baron Kelvin(Lord Kelvin) membuat kompas yang dapat diterima
oleh semua negara. Dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang timbul dari
deviasi magnetik karena meningkatnya penggunaan besi dalam arsitektur kapal.
Alat apa pun yang memiliki batang atau jarum magnetis yang bebas bergerak
menunjuk arah utara magnetis dari magnetosfer sebuah planet sudah bisa dianggap
sebagai kompas. Kompas jam adalah kompas yang dilengkapi dengan jam
matahari. Kompas variasi adalah alat khusus berstruktur rapuh yang digunakan
dengan cara mengamati variasi pergerakan jarum. Girokompas digunakan untuk
menentukan utara sejati.
Lokasi magnet di Kutub Utara selalu bergeser dari masa ke masa. Penelitian
terakhir yang dilakukan oleh The Geological Survey of Canada melaporkan bahwa
posisi magnet ini bergerak kira-kira 40 km per tahun ke arah barat laut.

Gambar 1.2. Kompas


Jenis kompas
Kompas dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kompas analog dan kompas digital.
1.Kompas analog
Kompas analog adalah kompas yang biasa kita lihat dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya saja kompas yang dipakai ketika acara pramuka. Sedangkan

5
kompas digital merupakan kompas yang telah menggunakan proses digitalisasi.
Dengan kata lain cara kerja kompas ini menggunakan komputerisasi.

2. Kompas digital
Diciptakannya kompas digital bertujuan untuk melengkapi kebutuhan
robotika yang semakin canggih. Dunia robotika ini sangat membutuhkan alat
navigasi yang efektif dan efisien. Sementara itu alat sistem navigasi yang tersedia
di pasaran harganya mahal. Sedangkan kompas sendiri merupakan sebuah alat
sistem navigasi yang efektif dengan harga lebih murah. oleh karena itu kompas
digital diharapkan bisa mensubstitusi alat sistem navigasi pada robot.
Google Earth

Gambar 1.3. Tampilan Google Earth

Google Earth adalah sebuah aplikasi peta online yang dapat didownload
yang terdiri dari citra satelit dan peta yang memungkinkan kita untuk melihat
lokasi di seluruh dunia ini,selain itu memberikan kita kekuatan untuk menelusuri
semua lokasi dibumi ini langsung dari desktop.
Semua hal-hal yang luar biasa disajikan kepada pengguna dalam antarmuka
yang sederhana dan bersih, dengan bumi tepat di tengah.Pengguna dengan mudah
dapat memperbesar, memperkecil atau bergerak di sekitar hanya menggunakan
mouse, tapi juga dapat memasukkan lokasi tertentu di kotak pencarian di sebelah
kiri untuk melompat langsung ke sana. 
Ini hanya masalah waktu sampai kita terbiasa dengan Google Earth dan
semakin kita menemukan, semakin mudah untuk menikmati fungsi yang kuat dari
software ini. 

6
Selain citra ini mengesankan, aplikasi ini juga dilengkapi dengan video
Flash dalam balon tanda letak dan juga dengan alat-alat khusus untuk mencari
restoran, taman dan lainnya kepentingan cepat dan mudah. 
Kita selalu dapat menikmati pemandangan 3D yang besar dengan bantuan
terutama bangunan yang dibuat di beberapa kota yang paling populer di dunia,
sementara pada saat yang sama kita dapat menyimpan dan berbagi lokasi favorit
kita hanya dengan satu klik. Google Earth tetap menjadi salah satu aplikasi yang
paling menarik yang pernah dibuat.

1.4 Langkah Survey


1. Mencari nilai koordinat site lama/tower existing (Lab Telekomunikasi).
2. Menentukan arah lokasi BTS baru/new site menuju tower existing
3. Mencari lokasi yang berkembang sehingga membutuhkan catuan
telepon (berdasarkan kebutuhan demand) untuk masing-masing
kelompok dengan lokasi yang berbeda.
4. Tentukan titik dimana BTS baru akan dibangun dengan pertimbangan :
 Berdekatan dengan catu daya.
 Akses jalan ke lokasi tidak sulit
 Pilih tempat yang lebih tinggi
 Ada legalisasi tempat dan lingkungan
 Mengecek frekuensi yang ada di lokasi baru
 Space tower dan shelter
5. Ambil foto panorama pada BTS existing 3600 masing-masing per 300.
6. Menghitung jarak lokasi BTS existing ke lokasi BTS baru dan catat
koordinatnya.
7. Ambil foto paronama pada BTS baru (New Site).
8. Mendata antenna yang terpasang di lokasi existing/tower di Polinema
9. Menggambar guide map dan site map masing-masing lokasi.
10. Menentukan titik far end lokasi tujuan baik lokasi lama maupun lokasi
baru.
11. Menggambar sketsa penempatan kabel yang terdiri dari kabel feeder dan
kabel grounding.

7
12. Mengestimasi panjang kabel feeder dan grounding yang dibutihkan pada
proses instalasi alat.
13. Membuat sketsa penempatan alat di ruang telah ditentukan.
14. Jika terdapat tower existing di masing-masing tempat perlu didata
antenna yang telah terpasang di tower beserta frekuensi kerjanya.

1.5 Hasil Survey


1.5.1 Lokasi Existing

8
9
10
Analisa Hasil Survey:

Tampak Tower di POLINEMA dari lokasi SITE baru (far end)

Peta dari google earth

11
- Jarak antara Tower POLINEMA dan Site Baru adalah 2.4 km

- Azimuth A ke B : 334.48o

- Azimuth B ke A : 154.48o

Berdasarkan data antena pada tower POLINEMA antena yang mengarah ke site
baru space tersedia/tidak tersedia *) sehingga membutuhkan penambahan antena
baru mengarah ke Tower existing di POLINEMA

1.6. Kesimpulan

12
BAB II
PERHITUNGAN LINTASAN (PATH PROFILE)

Capaian Pembelajaran
Setelah melaksanakan praktikum Bab II, mahasiswa akan mampu
- Menjelaskan proses perhitungan lintasan.
- Menghitung besarnya daerah Fresnel zone
- Menghitung tinggi antenna yang terpasang di lokasi baru

2.1 Tujuan :
 Mengetahui halangan sepanjang LOS (Line Of Sight) dan mengetahui
tinggi tower serta antenna pada new site.
 Menghitung besaran Fresnel Zone.
 Menghitung tinggi antenna yang dibutuhkan di masing-masing lokasi.
 Menentukan tinggi tower yang diperlukan.

2.2 Alat dan Bahan :


 Software Google Earth
 Laptop
 Path Profile

2.3 Dasar Teori


Pada teknik gelombang mikro, suatu hubungan komunikasi disebut Line
of Sight (LOS), jika antara antena pengirim dan penerima dapat saling
“melihat” tanpa adanya penghalang pada lintasan pada batas-batas tertentu.
Parameter-parameter dalam propagasi line of sight antara lain: panjang
lintasan, faktor k, tinggi tonjolan bumi, daerah Fresnel, tinggi penghalang dan
tinggi penghalang tambahan.

13
Gambar 2.1 Komunikasi Line Of Sight (LOS)
Dimana:
Ta1      = tinggi antena stasiun pemancar (m)
Ta2      = tinggi antena stasiun penerima (m)
Ap1     = altitude stasiun pemancar (m)
Ap2     = altitude stasiun penerima (m)
C         = clearance (m)
P1        = tinggi penghalang (m)
k          = faktor kelengkungan bumi
d1        = jarak penghalang ke pemancar (m)
d2        = jarak penghalang ke penerima (m)

Panjang lintasan
Panjang lintasan merupakan jarak antara antenna pemancar dengan
antenna penerima yang dapat ditentukan dengan pengukuran pada peta
topografi.
Faktor ”k”
Dalam propagasi, sebuah sinyal dari pengirim ke penerima tidak
selamanya merupakan suatu lintasan yang lurus. Pada kondisi atmosfer
tertentu kurva sinyal dapat mengalami refraksi melengkung menjauhi atau
mendekati permukaan bumi yang terjadi karena adanya perubahan indeks bias
udara sesuai dengan ketinggiannya. Hal ini perlu diantisipasi dengan
mengunakan suatu faktor pengali jari-jari bumi yang disebut faktor “k’. Faktor
kelengkungan bumi dirumuskan dengan:

14
Dimana:
Reff = jari-jari kelengkungan bumi hasil transformasi
k = faktor kelengkungan bumi (dipengaruhi atmosfer)
R = jari-jari bumi sebenarnya
Untuk atmosfer standar, R = 6370 km dan ρ = 25.000 km sehingga
didapatkan:

Kemudian,

Kasus-kasus faktor kelengkungan bumi

Gambar 2.2 Penentuan factor k

15
A. Daerah Fresnel
Daerah Fresnel atau Fresnel zone adalah tempat kedudukan titik sinyal
tidak langsung yang berbentuk elips dalam lintasan propagasi gelombang
radio dimana daerah tersebut dibatasi oleh gelombang tak langsung (indirect
signal) dan memunyai beda panjang lintasan dengan sinyal langsung sebesar
kelipatan ½λ atau 2 kali ½λ. Jika sinyal langsung dan tak langsung berbeda
panjang lintasan sebesar ½λ, maka kedua sinyal tersebut akan berbeda fase
180º, artinya kedua sinyal tersebut akan saling melemahkan. Fresnel pertama
merupakan daerah yang memunyai fading multipath terbesar, sehingga
diusahakan untuk daerah Fresnel pertama dijaga agar tidak dihalangi oleh
obstacle. Secara matematis daerah Fresnel didekati dengan rumus sebagai
berikut:

dimana:
Fn      = jarak lintasan tertentu terhadap lintasan LOS (m)
n       = daerah Fresnel ke n
d1      = jarak ujung lintasan (pemancar/penerima) ke penghalang (km)
d2      = jarak ujung lintasan lain (pemancar.penerima ke penghalang (km)
f        = frekuensi (Ghz)
D      = d1 + d2 (km)
Rumus praktis untuk menghitung jari-jari Fresnel I (dalam meter)

R1              = jari-jari Fresnel I (meter)


d1, d2, d     = jarak (km)
f                 = frekuensi (GHz)
Rumus praktis untuk menghitung jari-jari Fresnel I (dalam feet)

16
R1              = jari-jari Fresnel I (feet)
d1, d2, d     = jarak (statute mile)
f           = frekuensi (GHz)

B. Jenis Tower yang digunakan , antara lain :


 Self supporting tower
Tower dengan rangka kaki 4 (empat) dengan kisaran ketinggian antara 20 –
100 meter dan cocok untuk digunakan di site Greenfield atau Roof Top.

Gambar 2.3 Self Supporting Tower

 Monopole Tower
Tower dengan tiang tunggal dengan ketinggian berkisar 6 – 36 meter. Jenis
tower ini umumnya digunakan di kota-kota yang memberlakukan aturan
batas tinggi maksimal tower atau karena keterbatasan lahan dan kondisi
lainnya seperti persyaratan estetika. 

Gambar 2.4 Monopole Tower

17
Apabila terdapat persyaratan estetika, maka kami dapat
mengimplementasikan solusi rancangan dengan teknik tower camouflage
(kamuflase).
 Minipole/Standard Tripod
Tower dengan tiang tunggal yang diterapkan di atas Roof Top dimana
kebutuhan tinggi tiang tidak lebih dari 6 meter.
 Tower Guyed Mast
Jenis tower yang berupa tiang pancang tunggal yang dikaitkan dengan tali-
tali baja yang membentang dari tower sampai tanah dengan jarak ± 0.5 m
dari tower dan sudut ± 600. Jenis tower ini memiliki ketinggian antara 50
m sampai dengan 70 m. Penggunaan guyed mast sebagai tower
telekomunikasi masih jarang di Indonesia. Biasanya tower jenis ini dipakai
untuk pemancar radio.
Guyed mast sering digunakan untuk tiang-tiang radio struktur vertikal tipis
tinggi . Tiang dapat mendukung antena ( untuk VHF dan UHF ) dipasang
di atasnya , atau seluruh struktur itu sendiri bisa berfungsi sebagai antena
(untuk VLF , LF , MF dan HF ) , ini disebut mast radiator . pada mast
radiator ini, harus terisolasi dari tanah . dan juga dapat digunakan untuk
mendukung semua jenis kawat antena (untuk VLF , LF , MF dan HF ) .
Tiang guyed kadang-kadang juga digunakan untuk pengukuran
meteorologi pada ketinggian tertentu di atas permukaan tanah .

Gambar 2.5 Guyed Mast

18
C. Perhitungan Tinggi Antenna
Diket ahui profil lintasan ( path profile) seperti pada Gambar 6-12. Jarak
antara Tx (pada titik A) dan Rx (pada titik B) adalah 50 Km. Pada jarak 20
Km dari A, terdapat bukit dengan ketinggian tertentu. Rancanglah ketinggian
antena pada Tx dan Rx, agar lintasan tersebut bisa digunakan untuk
mentransmisikan gelombang pada frekuensi 3 GHz secara line of sight .

Gambar 2.6 Path Profile


Penyelesaian: Evaluasi dari profil lintasan pada Gambar 6 -12, menunjukkan
bahwa halangan pandangan atau ( sight obstruction) harus kita antisipasi
adalah bukit yang berjarak 20 Km dari A atau 30 Km dari B. Perlu dicari
radius Fresnel pertama dari persamaan berikut :

Harga F1 ini merupakan daerah Fresnel pertama ini dipetakan di atas bukit
tersebut.

19
Setelah g aris line of sight geometris di atas F1 dibuat, maka ketinggian
antena di titik A dan B dapat ditentukan (Gambar 2.7). Dari profil lintasan
tersebut, ketinggian antena di titik A: hA = ± 75 m, dan di titik B: h B = ±
90 m.

Gambar 2.7 Hasil Perhitungan dari Path Profile


D. Menentukan Tinggi Antenna
Untuk menetapkan tinggi antenna kita dapat menentukannya
dengan menggunakan software PLW 40 dengan cara memasukkan data-
data yang didapatkan dari survey sebelumnya.

Untuk menghitung tinggi tower kita dapat melihat dari gambar diatas

20
Gambar 2.8 Hasil gambar path profile dengan PLW 40

dengan cara:
Angka pada Garis merah – sudut elevasi ( ditunjukkan dengan garis
orange )

2.4 Prosedur Kerja


a. Menentukan dua lokasi yang akan dihitung ketinggian tower masing-
masing.
b. Diketahui tinggi tower A = …… m, temukan pada mana space atau ruang
antenna bisa di install (gambar tower existing) pada contoh dilihat pada
kaki no 1 dan no 4.

4 1

3 2

c. Sehingga tinggi di A dapat diketahui.


d. Membuat tabel lintasan.
e. Menghitung Fresnel Zone dengan cara manual menggunakan gambar
profile k = 4/3.
f. Menghitung Fresnel Zone dengan menggunakan software PLW 40.
g. Menentukan tinggi antenna di lokasi B.
h. Menentukan tinggi tower di lokasi B.

21
2.5 Hasil Survey
2.5.1. Lokasi yang Akan Dihitung Ketinggian Tower

LOKASI A LOKASI B
Tempat : Gedung Lab Tempat : Jl.Sasando
Telekomunikasi RT.04/ RW 0.4,
Politeknik Negeri Dusun Ketangi,
Malang, Kota Kel. Tunggul
Malang, Jawa Wulung, Kec.
Timur. Lowokwaru,
Kab.Malang,
Jawa Timur.
Koordinat : 07 56 41.10 S Koordinat : 07 55 30 S

112 36 54.20 E 112 36 20 E

Elevasi : 518 m Elevasi : 431 m


Tinggi : 42 m Tinggi : 42 m
tower tower

2.5.2 Data Obstacle


No Jarak dari t MSL (m) t AGL (m) Jenis Keterangan
Polinema (m) Obstacle
1 120 434 Building Gedung Sipil
POLINEMA

2.5.3 Menentukan Space Antenna


Diketahui tower A 42 meter, jadi space di intall di pole 4.
4 1

2 3

22
2.5.4 Gambar lokasi yang akan ditentukan ketinggian Tower

2.6 Analisa Data


Pada lintasan terdapat 1 obstacle yang paling berpengaruh yaitu Gedung Sipil
POLINEMA dengan tinggi sebesar 25 meter dan dengan frekuensi center 5,8 GHz
dapat dihitung Fresnel Zone:
Dengan : d1 = 1 km, d2 = 1,43 km
Maka :

d 1.d 2
F 1=17 ,3
√ f (d 1+d2)

2.7 Kesimpulan

23
BAB III

PERHITUNGAN LEVEL DAYA PENERIMA

Capaian Pembelajaran
Setelah melaksanakan praktikum Bab III, mahasiswa akan mampu
- Menentukan rugi-rugi pada sisi pemancar.
- Menentukan rugi-rugi pada sisi penerima.
- Menghitung link budget pada transmisi radio.

3.1. Tujuan
 Dapat menentukan rugi-rugi transmisi di sisi pemancar dan penerima
 Dapat menghitung nilai EIRP, FSL, IRL dan RSL
 Menghitung Link Budget antara Lokasi A dan Lokasi B

3.2. Alat dan Bahan


 Software PLW 40
 Microwave Calculator Online
 Kompas
 GPS

3.3. Dasar Teori


3.3.1 Link Budget
Link budget merupakan sebuah cara untuk menghitung mengenai
semua parameter dalam transmisi sinyal, mulai dari gain dan losses dari Tx
sampai Rx melalui media transmisi. Dalam hal ini perhitungan dengan media
transmisi Wifi.
Link budget merupakan parameter dalam merencanakan suatu jaringan
yang menggunakan media transmisi berbagai macam. Link budget ini
dihitung berdasarkan jarak antara transmitter (Tx) dan receiver (Rx). Link
budget juga dihitung karena adanya penghalang antara Tx dan Rx misal
gedung atau pepohonan. Link budget juga dihitung dengan melihat spesifikasi
yang ada pada antenna.
Pada penentuan serta perhitungan link budget yang akan dihitung adalah

24
 Free Space Loss
 Fresnel Zone Clearance
 RX Signal Level
 Fade Margin
Untuk lebih jelasnya pada bab ini juga akan disertakan contoh parameter
antenna yang dibutuhkan dalam perhitungan tersebut. Parameter tersebut antara
lain :
 Jarak (d) terjauh antara antenna pemancar (Tx) dengan antenna penerima
(Rx). Misal jarak tersebut sekitar beberapa Km, dan jarak ini harus kita
konversi ke mil.
 Frekuensi BS dan Antena penerima, ini merupakan frekuensi standart yang
telah ditentukan.
 TX Power  merupakan daya dari AP (Access Point) yang akan kita
gunakan.. Tidak menggunakan satuan watt, harus ke dBm. Untuk konversi
dari waat ke dBm akan disampaikan di bawah.
 TX Cable Loss ini merupakan loss atau kerugian yang terjadi karena kabel
yang kita gunakan.. Loss ini biasanya terjadi pada kabel antara penghubung
dari antenna ke AP. Yang biasa disebut dengan kabel pigtail. Kabel pigtail
biasanya terbuat dari kabel coaxial dan diusahakan jangan menggunakan
kabel pigtail yang terlalu panjang. Biasanya panjang pigtail di pasaran
sekitar 50 cm.
 TX Antenna Gain  merupakan daya terpancar dari antenna yang kita
gunakan.. Itulah yang dimaksud dengan Tx antenna gain).
 RX Antenna Gain  merupakan daya yang dihasilkan dari antenna penerima,
misal kita menggunakan antenna grid.
 RX cable Loss sebenarnya hamper sama dengan Tx kabel loss, hanya saja
ini terjadi pada daerah penerima atau antenna penerima.
 RX Sensitivity merupakan sensitivitas dari antenna penerima dalam hal
menangkap sinyal wifi dari antenna pemancar.

Gambaran link budget tersebut dapat dilihat di bawah ini.

25
Gambar 3.1 Link Budget

1. Free Space Loss (FSL)


Pada saat sinyal radio berpropagasi di udara akan mengalami redaman
dari udara. Besarnya redaman yang terjadi dapat dihitung secara empiris.
Redaman itulah yang disebut dengan Free Space Loss.
Free Space Loss (dB) = 20 Log10 (MHz) + 20 Log10 (Distance km) + 32,44

2. Fresnel Zone Clearance merupakan diameter antara antenna pemancar dengan


antenna penerima dimana diantara kedua antenna tersebut ada penghalang.
Maka Fresnel Zone Clearance (FZC) adalah diameter antara penghalang
dengan LOS antara Tx dan Rx. Untuk lebih jelasnya mengenai FZC, bisa
dilihat gambar di bawah ini.

Gambar 3.2 Fresnel Zone Clearance

Nilai FZC ini dihitung berdasarkan kondisi permukaan bumi yang datar.

26
3. Rx Sinyal Level (daya yang diterima) dapat dihitung dengan menambahkan
dan mengurani daya pancar (TX power) dengan berbagai parameter yang ada
dalam sebuah persamaan yang sederhana, yaitu,
Rx signal level = Tx power – Tx cable loss + Tx antenna gain – FSL+ Rx
antenna gain – Rx cable loss.

4. Setelah kita mempunyai semua data / parameter yang dibutuhkan kita dapat
menghitung Fade Margin untuk meyakinkan bahwa system yang kita kerjakan
akan bekerja secara benar. Pada dasarnya Fade Margin menghitung selisih
antara sinyal yang di terima dengan sensitifitas penerima. Maka rumusnya
adalah
Fade Margin = Rx signal level – Rx sensitivity

3.3.2. Line Of Sight


Pada umumnya, dimaksud dengan sistem radio link line of sight
(LOS) adalah hubungan telekomunikasi (jarak jauh) pita-lebar (broadband )
yang menggunakan perangkat radio pada frekwensi gelombang mikro
(microwave). Aplikasi secara umum, hubungan radio LOS ini merupakan
subsistem dari jaringan telekomunikasi, berupa jaringan terrestrial di daratan.
Jaringan tersebut akan membawa salah satu ataupun gabungan dari kanal
-kanal telepon, data, telegraph/teleks, faksimil, video, telemetri atau kanal-
kanal program lainnya. Gelombang yang ditransmisikan selain dalam bentuk
gelombang analog FM, juga dalam bentuk digital. Pada waktu kita akan
merencanakan suatu sistem jaringan radio LOS, hasil-hasil perhitungan di
atas kertas biasanya disusun dalam sebuah tabel yang kita sebut sebagai
Tabel Perhitungan Lintasan (Path Calculation Table). Ada 4 langkah
proses dalam merencanakan suatu radio link LOS, yaitu :
Rencana awal dan penentuan/pemilihan lokasi.
Menggambar profil lintasan (path profile).
Survey lapangan.
Analisa lintasan (path).

27
Langkah yang satu, saling terkait dengan langkah -langkah yang
lain. Dalam praktek, bisa saja diadakan pergeseran/perubahan lokasi jika
dipandang perlu, karena lintasan radio link tersebut kurang layak
disebabkan karena medan, faktor kualitas, dan atau faktor ekonomis kurang
menguntungkan.

Rencana Awal dan Pemilihan Lokasi


Suatu rute gelombang mikro LOS terdiri dari stasiun pemancar dan
stasiun penerima dan atau beberapa/stasiun pengulang (repeater), yang bisa
membawa informasi dalam bentuk gelombang analog maupun digital. Seorang
perencana pasti akan mencari tahu untuk memastikan, apakah subsistem LOS
ini adalah sistem yang terisolasi, seperti misalnya : sistem gelombang mikro
pribadi, jaringan dari studio ke pemancar, atau perluasan jaringan TV-Kabel
(CATV). Ataukah merupakan bagian dari jaringan telekomunikasi yang lebih
besar, dimana jaringan LOS ini merupakan tulang-punggung dari sistem
tersebut. Untuk itu harus diperhatikan hal-hal dibawah ini.

A. Persyaratan Dasar
Marilah kita anggap bahwa akan direncanakan suatu subsistem
gelombang mikro LOS untuk jaringan telekomunikasi. Kriteria perencanaan
akan didasarkan pada rencana/spesifikasi arus transmisi sesuai dengan aturan
badan telekomunikasi dunia. Untuk militer, standart yang benar adalah versi
MIL-STD-188. Untuk sistem tranmisi video dan kanal program yang lain,
mengikut EIA-250 dan rekomendasi CCIR. Suatu rencana transmisi, paling
tidak akan menyatakan kualitas sinyal sebagai berikut :
Untuk sinyal analog : Akumulasi noise dalam kanal suara untuk FDM.
S/N untuk program video dan program lain (misalnya : recomendasi
CCIR no.567. Pada jaringan referensi hipotetis merekomendasi S/N :57
dB untuk lebih 20 % per bulan dan 45 dB untuk lebih dari 0,1 % per
bulan).

28
Untuk sinyal digital : Bit error rate (BER), misalnya d alam rekomendasi
CCIR no.G.821 untuk ISDN. BER < 1x10 -6 harus kurang dari 10 % per
menit. BER > 1 x 10-6 harus lebih dari 90 % per menit.
Umur suatu sistem transmisi biasanya sekitar 15 tahun, walaupun
beberapa sistem masih bisa bekerja di atas waktu tersebut. Perencanaan
sistem harus mempertimbangkan perkembangan 15 tahun yang akan
datang, dengan rencana 5 tahunan untuk perbaikan dan penggantian.
Perencanaan yang demikian memang akan memakan beaya awal yang
relatif lebih besar, tetapi sebenarnya secara ekonomis akan menghemat,
karena umur sistem menjadi lebih panjang. Hal yang tidak boleh
dilupakan dalam perancangan yang menyangkut perkembangan di masa
yang akan datang adalah masalah kompalibilitas (kesesuaian) dengan
perangkat yang sudah ada, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi
sistem secara keseluruhan.

3.4 Prosedur Kerja


 Menentukan panjang lintasan antara lokasi A (Existing) dan B (New Site).
 Menghitung rugi feeder lokasi A dan B melalui loss feeder calculator via
web: www.timesmicrowave.com dengan menentukan jenis kabel feeder
yang digunakan.
 Menghitung nilai EIRP (Effective Isotropic Radiated Power)
 Menghitung nilai FSL (Free Space Loss)
 Menghitung nilai IRL (Isotropic Receive Level)
 Menghitung nilai RSL (Receive Signal Level)
 Menentukan besarnya Fade Margin yang terjadi.

3.5 Analisa Data

29
Gambar 3.3 Perhitungan Link budget

a. Sisi Lokasi A (Polinema)

Gambar 3.4 Tampilan feeder calculator Lokasi A

Diketahui :
Gain TX = …… dB
Diameter antenna = …… m
Po = …… dB
Connector Loss = 0,2 dB/pair
Feeder Loss = 62,2 dB

Sehingga menghasilkan nilai :


 FSL = ……… dB
 EIRP = ……… dB

30
 IRL = ……… dB
 RSL = ………. dB

b. Sisi Lokasi B (New Site)

Gambar 3.5 Tampilan Feeder Calculator Lokasi B


Diketahui :
Gain TX = ………. dB
Diameter antenna = ……….. m
Connector Loss = 0,2 dB/pair
Feeder Loss = 62,2 dB

Sehingga menghasilkan nilai :


 IRL = ………. dB
 RSL = ………. dB

31
Perhitungan pada Lokasi A (Tower Polinema)
EIRP = Po – Loss Connector – Loss feeder + GTX
FSL = 32,45 + 20log D(km) + 20 log F(MHz)
Rugi-rugi antenna = Po – feeder + Gain

Perhitungan pada Lokasi B


RSL = IRL + GR + LR  IRL + Gain antenna + Loss receiver
IRL = EIRP +FSL(dB) + Lg 0,6 dB
L
g

3.6. Kesimpulan

32