Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Secara umum literasi didefinisikan sebagai kemampuan membaca,

menulis dan menggunakan bahasa lisan. Berbahasa merupakan sebuah model

penting untuk berkomunikasi dengan orang lain. Membaca dan menulis

merupakan bagian dari kemampuan berbahasa yang harus dikuasai karna hal

itu menjadi modal utama dalam pembelajaran terutama untuk anak-anak.

Minat pada anak tidak tumbuh secara otomatis, tetapi harus

ditumbuhkan oleh pendukungnya. Pada awalnya minat akan berubah-ubah

dari satu objek ke objek yang lain. Namun makin bertambah usia anak akan

semakin stabil minatnya. Begitu juga sebaliknya, jika minat baca seseorang

rendah maka tingkat kemampuan dalam memahami bacaannya juga rendah.

Seperti yang saya ketahui didalam sekolah pada saat melakukan Praktek

Lapangan sangat banyak siswa yang merendahnya tingkat minat baca

terhadap cerpen.

Masalah yang dihadapi anak dalam membaca adalah kurangnya

mengenali huruf disaat membaca demi kata yang seringkali disebabkan oleh

gagal menguasi keterampilan memahami makna kata, dan kurang lancar

membaca.

Berdasarkan wawancara yang diperoleh dari guru Bahasa Indonesia

Ibu Amrina, S.Pd di SMA N 1 Panti. Pembelajaran membaca cerpen pada

mata pembelajaran Bahasa Indonesia sering kali dianggap sebagai alat

formalitas saja. Dalam membaca cerpen siswa hanya melakukan pada saat
menjalankan tugas yang telah diberikan oleh guru. Namun, penggunaannya

tidak berjalan secara maksimal. Hal ini dapat dilihat dari nilai tugas, bisa juga

disebut kurangnya fasilitas buku kumpulan cerpen di perpustakaan sekolah

SMA N 1 Panti yang menyulitkan siswa ketika ingin membaca cerpen.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kurangnya Minat baca cerpen siswa kelas XI SMA N 1 Panti.

2. Kurangnya pemahaman siswa tentang menentukan unsur intrinsik dan

ekstrinsik, kelas XI SMA N 1 Panti.

C. Batasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini adalah Pengaruh Gerakan

Literasi Minat Baca Cerpen Pada Kelas XI SMA N 1 Panti.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah pada

penelitian adalah sebagai berikut: “Bagaimanakah Pengaruh Gerakan Literasi

terhadap Minat Baca Cerpen Kelas XI SMA N I Panti ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Untuk menambah minat baca cerpen kelas XI SMA N 1 Panti.

2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai unsur intrinsik

dan ekstrinsik cerpen kelas XI SMA N I Panti.


F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak sebagai

berikut :

1. Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat untuk

membantu siswa meningkatkan minat baca cerpen.

2. Bagi sekolah,hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah

pengetahuan dan juga menjadi pedoman dalam membimbing siswa agar

lebih terampil membaca terutama membaca cerpen.

3. Bagi penulis, khususnya hasil penelitian ini dapat menjadi bekal

pengetahuan dan pengalaman yang diterapkan dalam kehidupan sehari-

hari agar dapat meningkatkanminat membaca. Dan sebagai bahan

pertimbangan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian.


BAB II

KERANGKA TEORI

A. Kajian Teori

Pada bagian ini akan dijelaskan teori yang digunakan tentang Literasi

Minat Baca Cerpen. Teori- teori yang dimaksud adalah (1) Gerakan Literasi,

(2) Minat Baca, (3) Cerpen.

1. Literasi

a. Pengertian Literasi

Literasi merupakan Kemampuan dalam menggunakan keberagaman

bahasa seperti membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, melihat,

menyajikan, dan berpikir kritis tentang ide-ide atau gagasan merupakan

definisi dari literasi. Literasi bukan sekedar membaca buku dan menulis

saja. Namun pada era ini, literasi mulai dimaknai sebagai cara pandang

seseorang dalam mencerna dan menyikapi suatu informasi dan

pengetahuan sebagai sarana untuk memperbaiki kualitas diri. (Yunus ,

2018:1)

2. Minat

a. Pengertian Minat

Menurut Djaali (2006 : 121) Minat merupakan salah satu

faktor psikis yang membantu dan mendorong individual dalam

memberi stimulus untuk kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai

suatu tujuan yang hendak dicapai. Minat timbul apabila individu

tertarik kepada sesuatu yang mereka anggap penting bagi dirinya dan
dapat memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan. Minat adalah rasa

suka dan rasa keterkaitan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang

menyuruh.

Menurut Alisuf (2007:84) minat adalah suatu kecendrungan

untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus -

menerus”. Sedangkan menurut Abdul (2008:261) minat seseorang

terhadap sesuatu adalah kecendrungan hati yang tinggi, gairah atau

keinginan sesorang tersebut terhadap sesuatu.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas penelitian mengambil

pendapat Djaali, karena lebih relevan dengan penelitian ini, yaitu minat

merupakan salah satu factor psikis yang membantu dan mendorong

individual dalam memberi stimulus untuk kegiatan yang dilaksanakan

untuk mencapai suatu tujuan yang hendak dicapai.

b. Ciri- Ciri Minat

Menurut Slameto ( 2003 : 180) Ada beberapa ciri-ciri untuk

mengetahui bahwa seseorang mempunyai minat. menjelaskan sebagai

berikut:

1. Minat dapat diekspresikan melalui sesuatu yang menunjukan

bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada yang lain.

2. Minat dapat dimana estasikan melalui partisipasinya dalam suatu

aktifitas
3. Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung

untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap

subjektersebut.

Mengembangkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah

membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang

diharapkan untuk mempelajarinya dengan dirinya sendiri. Proses ini

menunjukan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan

tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan dan memuaskannya.

c. Macam-Macam Minat

Menurut Muhammad Sura (2000 : 36) Minat merupakan suatu

karakter afektif yang dapat mempengaruhi seseorang tertarik pada

suatu hal .Dilihat dari timbulnya minat dalam proses belajar mengajar

melalui tiga macam minat, yaitu:

1. Minat volunter, adalah minat yang timbul dengan sendirinya dari

pihak pelajar tanpa adanya pengaruh.

2. Minat involunter, adalah minat yang timbul dari dalam diri pelajar

dengan pengaruh situasi yang diciptakan oleh pengajar.

3. Minat nonvolunter, adalah minat yang timbul secara sengaja atau

diharuskan oleh para guru sehingga minat dalam diri siswa itu yang

sebelumnya tidak ada menjadi ada.

d. Faktor yang Mempengaruhi Minat


Menurut Slameto (2000:54) Banyak faktor yang mempengaruhi

timbulnya minat terhadap sesuatu,di mana secara garis besar dapat

dikelompokan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor Internal

Merupakan faktor yang ada dalam diri individu yang

sedang belajar. Misalnya, faktor jasmani dan faktor rohani

seseorang.

2. Faktor Eksternal

Merupakan faktor yang ada di luar diri individu yang

sedang belajar. Misalnya: keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Faktor-faktor tersebut sangat berkaitan dan mempengaruhi

satu sama lain. Seseorang peserta didik yang bersikap conserving

terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal)

umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang

sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seseorang peserta didik

yang berintegritas tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan

positif dari kedua orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan

memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil

belajar.

Berdasrkan pendapat para ahli di atas peneliti mengambil

pendapat Slameto, karena factor internal merupakan faktor yang ada

dalam diri individu yang sedang belajar. Sedangklan faktor eksternal

merupakan faktor yang ada di luar diri individu yang sedang belajar.
3. Hakikat Membaca

a. Pengertian Membaca

Menurut Tarigan (2008 : 7) membaca adalah suatu proses yang

dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan,

yang hendak disampaikan oleh penulis oleh media kata-kata atau

bahasa tulis. Suatu prose yang menuntut agar kelompok kata yang

merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas

dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui.

b. Tujuan Membaca

Menurut Tarigan (2008: 9-10) Tujuan utama membaca adalah

untuk mencari dan memperoleh informasi- Informasi yang diperoleh

itu untuk dipahami apa maknanya, bahkan lebih jauh dari itu.

Dalam prakteknya tujuan membaca dapat dibedakan sebagai

berikut: pertama, Membaca untuk memperoleh rincian atau fakta-fakta

yang lebih detail. Kedua,Membaca untuk memperoleh ide-ide utama.

Ketiga, Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, struktur

organisasi cerita. Keempat, Membaca untuk menyimpulkan. Seperti

halnya membaca memperoleh ide-ide utama. Pembaca langsung

menarik kesimpulan dari ide-ide utama. Kelima, Membaca untuk

mengelompokan dan untuk mengklasifikasikan.

c. Teknik Membaca
Menurut Tarigan (2008:10-11) Terdapat dua teknik membaca

yang digunakan:

1) Membaca memindai (scanning)

Membaca memindai disebut juga membaca tetap

(scanning).Membaca memindai (scanning) ialah membaca sangat

cepat. Ketika seseorang membaca memindai, dia akan melampaui

banyak kata. Menurut Mikulecky, membaca memindai penting

untuk meningkatkan kemampuan membaca. Siswa yang

menggunakan teknik membaca memindai akan mencari beberapa

informasi secepat mungkin. Membaca memindai umumnya

digunakan untuk daftar isi buku atau majalah, indeks dalam buku

teks, jadwal, advertensi dalam surat kabar, buku petunjuk telepon,

dan kamus.

2) Membaca Layap (skimming)

Membaca layap (skimming) adalah membaca dengan cepat

untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan.Membaca

dengan cepat sering dibutuhkan ketika sedang membaca.Umumnya

tidak semua informasi ingin diketahui dan diingat.Kalau kita hanya

ingin menemukan sesuatu tentang buku atau artikel, kita bisa

melakukannya dengan membaca layap.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas peneliti mengambil

pendapat Tarigan, karena, membaca memindai (scanning) ialah

membaca sangat cepat. Ketika seseorang membaca memindai, dia


akan melampaui bnyak kata. Sedangkan membaca layap (

skimming) adalah membaca dengan cepat sering dibutuhkan ketika

sedang membaca.

4. Cerpen

a. Pengertian Cerpen

Hendry (1993 : 175) menyatakan sebagai berikut.


Cerpen merupakan bentuk yang paling banyak digemari dala
dunia kesusutraan Indonesia setelah perang dunia kedua.
Bentuk ini tidak saja digemari oleh pengarang yang dengan
sependek itu bisa menulis dan mengutarakan kandungan
pikiran yang dua puluh atau tiga puluh tahun sebelumnya
barangkali meski dilahirkan dalam sebuah roman, tetapi juga
diskusi oleh para pembaca yang ingin menikmati hasil sastra
dengan tidak usah mengorbankan terlalu banyak tempo.
Dalam beberapa bagian saja dalam satu jam, seseorang bisa
menikmati sebuah cerpen.
Nugroho ( 1993 : 176) menyatakan sebagai berikut.
cerita pendek merupakan cerita yang panjangnya sekitar
5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap
yang terpusat san lengkap pada dirinya sendiri. Dari
beberapa urasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa
cerita pendek merupakan cerita yang panjangnya kira-kira
17 halaman kuarto spasi rangkap, isinya padat, lengkap
memiliki kesatuan, dan mengandung efek kesan yang
mendalam.
Sudarman (2008:264) menyatakan sebagai berikut.
Cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan
bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan
sebagainya). Misalnya ketika mendaki gunung, tulisan yang
menuturkan tentang pendakian, menyangkut: pengalaman,
penderitaan, atau kejadian lainnya, baik itu sungguh-
sungguh maupun hanya bersifat rekaan belaka, dapat kita
ungkapkan dalam bentuk cerita.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, peneliti memilih

pendapat Hendry karena, cerpen merupakan bentuk yang paling

banyak digemari dalam kesustraan Indonesia setelah perang dunia

kedua. Bentuk ini tidak saja digemari oleh pengarang yang dengan
sependek itu bisa menulis dan mengutarakan kandungan pikiran yang

dua puluh atau tiga puluh tahun sebelumnya barangkali meski

dilahirkan dalam sebuah roman.

b. Ciri-Ciri Cerita Pendek

Menurut Suminto ( 2002 : 12 ) Cerita pendek adalah salah satu

bentuk cerita yang memiliki ciri khas sehingga dapat disebut cerpen

dan membedakannya dengan bentuk prosalainnya

Menurut Tarigan (1993:177) berpendapat bahwa cirri khas

cerpen adalah sebagai berikut. Pertama, Ciri cerita pendek adalah

singkat, padat, dan intensif. Kedua, Unsur utama cerita pendek adalah

adegan, tokoh, dan gerak. Ketiga, Bahasa cerita pendek harus tajam

sugestif, dan menarik perhatian. Keempat, Cerita pendek harus

mengandung interpretasi pengarang tentang konsep isinya mengenai

kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.Sebuah cerita

pendek harus menimbulkan suatu efek dalam pikiran pembaca.

Kelima, Cerita pendek harus menimbulkan perasaan pada pembaca

bahwa jalan ceritalah yang pertama menarik perasaan, dan baru

kemudia nmenarik fikiran. Keenam, Cerita pendek mengandung detail

dan insiden yang terpilih dengan sengaja, dan bisa menimbulkan

pertanyaan dalam pikiran pembaca. Ketujuh, Dalam sebuah cerita

pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.

Kedelapan, Cerita pendek harus mempunyai seorang pelaku utama.

Kesembilan, Cerita pendek harus mempunyai satu efek atau kesan


yang menarik. Kesepuluh, Cerita pendek tergantung situasi. Kesebelas,

Cerita pendek memberikan impresi tunggal. Kedua belas, Cerita

pendek memberikan suatu kebulatan efek. Ketiga belas, Cerita pendek

menyajikan satu emosi. Keempat belas, Jumlah kata terdapat dalam

cerita pendek biasanya dibawah 10.000. kelima belas, kata, tidak boleh

lebih dari 10.000 kata.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas peneliti mengambil

pendapat Suminto, karena lebih relevan penelitian ini, yaitu cerita

pendek adalah salah satu bentuk cerita yang memiliki cirri khas

sehingga dapat disebut cerpen dan membedakanya dengan bentuk

prosa lainnya.

c. Pembagian Cerita Pendek

1) Berdasarkan jumlah kata Berdasarkan jumlah kata yang

dikandung oleh cerita pendek, makadapat dibedakan menjadi

dua jenis cerita pendek, yaitu:

a) Cerpen yang pendek (short short story)

Short short story adalah cerita pendek yang jumlah

kata-katanya padaumunya di bawah 5000 kata, maksimum

5.000 kata dan kira-kira 16 halaman kuarto spasi rangkap, yang

dapat dibaca dalam waktu kira-kira seperempat jam.

b) Cerpen yang panjang (long short story)

Long short story adalah cerita pendek yang jumlah kata-

katanyadi antara 5.000 sampai 10.000 kata, minimal 5.000


kata maksimum 10.000 kata atau kira-kita 33 halaman kuarto

spasi rangkap, yang dapat dibaca kira-kira setengah jam.

2) Berdasarkan nilai sastra kalau seseorang banyak membaca

cerita pendek, maka tahulah bahwa di antaranya ada yang

benar-benar bernilai sastra, yaitu memenuhi norma yang

dituntut oleh seni sastra di samping itu, ada pula beberapa yang

tidak bernilai sastra, tetapi lebih ditujukan untuk menghibur

saja.

Klasifikasi tersebut masing-masing disebut dengan istilah:

1) Cerpen Sastra, umumnya terdapat pada majalah sastra,Majalah

kebudayaan atau buku-buku kumpulan cerpen lebih

Cenderungcerpen sastra.

2) Menggunakan bahasa baku dan termakan kahidupan manusia

dengan segala persoalannya.

3) Cerpen hiburan, umumnya bertemakan cinta kasih kaum

remaja dengan menggunakan bahasa aktual. Peristiwa yang

Dilukis tampak seperti dibuat-buat.

d. Unsur-Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik atau unsur dalam adalah unsur sastra yang

mempengaruhi terciptanya karya satra itu dari dalam. Adapun yang

termasuk kedalam unsur-unsur intrinsik yaitu:


1) Tema

Menurut Euis menjelaskan tema adalah gagasan atau pesan

utama yang menyakani struktur isi cerita.Tema suatu peristiwa

mencakup segala persoalan, baik berpa masalah kemanusiaan,

kekuasaan, kasih sayang, dan sebagainya.Untuk mengetahui tema

suatu cerita, diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap berbagai

unsur karangan itu. Bisa saja temanya itu disisipkan pada unsur

penokohan, alur, ataupun latar. Tema juga seringkali disamarkan

dengan pengertian topik, akan tetapi tema merupakan suatu

gagasan sentral, tema sering juga disebut ide atau gagasan yang

menduduki tempat utama dalam pikiran pengarang dan sekaligus

menduduki tempat utama dalam cerita.

2) Penokohan

Menurut Burhan Nugianto (2005 : 225-229) Penokohan

adalah individu yang berperan dalam cerita atau individu rekaan

yang mengalami peristiwa atau berkelakuan didalam berbagai

peristiwa di dalam cerita. Dalam karya sastra khususnya fiksi

penulis menceritakan tokoh-tokoh dengan berbagai watak

penciptaan yang disebut penokohan. Untuk memberikan gambaran

mengenai tokoh-tokoh dalam sebuah karya fiksi, tokoh dibedakan

dalam beberapa jenis berdasarkan perbedaan sudut pandang dan

tinjauan, yaitu:
a) Tokoh rekaan dalam sejarah.

b) Protagonis dan antagonis.

c) Tokoh putih dan hitam.

d) Tokoh statis dan berkembang atau tokoh sederhana.

e) Tokoh kompleks atau tokoh bulat, yaitu tokoh yang memiliki

banyak karakter dan diungkapkan berbagai kemungkinan sisi

kehidupannya,sisi kepribadian dan jati dirinya.

3) Alur

Menurut Semi mengatakan didalam bukunya Antonomi

Sastra alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam

cerita yang disisi lain sebagai sebuah interelerasi fungsional yang

sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi.

Dengan demikian, alur itu merupakan perpaduan unsur-unsur yang

membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita

dasar yang amat penting dan alur itu mengatur bagaimana

tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain dengan hubungan

peristiwa yang semuanya terkait dalam suatu kesatuan waktu.

4) Latar

Latar atau setting adalah penggambaran mengenai

lingkungan tempat peristiwa yang terjadi.Yang termasuk dalam

latar ialah tempat,waktu, tahun, hari, bulan, dan lain-lain. Pelukisan

latar juga dapat dilakukan dengan cara sejalan dan dapat pula
digambarkan secara kontras. Maksudnya penggambaran ini untuk

menunjang suasana. Latar dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a) Latar tempat

Latar tempat ialah lokasi atau bangunan fisik lain yang

menjadi tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita.

b) Latar waktu

Latar waktu (masa) tertentu ketika peristiwa dalam cerita

itu terjadi yang berhubungan dengan masalah kapan terjadinya

peristiwa dalam sebuah karya fiksi.

c) Latar suasana

Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang

berkaitan dengan psikologis yang timbul dengan sendirinya

bersama dengan jalan ceritanya

5) Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah ciri khas seorang pengarang dalam

mengungkapkan ide atau gagasannya melalui cerita. Dengan

kata lain,gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan

gagasannya melalui bahasa yang digunakannya. Dengan

demikian, dalam gaya bahasa pengarang memiliki kata-kata

yang tepat dan menyusun kalimat dengan menggunakan gaya

tertentu sesuai dengan ciri khas kepribadiannya.


6) Sudut padang

Sudut pandang atau point of view disebut juga pusat

pengisahan,sudut pandang adalah posisi pencerita dalam

menyampaikan ceritanya atau selaku narator yang dapat

menjelaskan tokoh-tokoh dalam cerita yang mempunyai tempat

berpijak tertentu dalam hubungannya dengan cerita.

7) Amanat

Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang

kepada pembaca/penonton/pendengar. Pesan ini bisa berupa

harapan,nasihat,kritik, dan sebagainya. Ada beberapa cara

mengungkapkan amanat/pesan yaitu secara eksplisit, pengarang

mengungkapkan pesannya secara langsung (tertera dalam

cerita). Amanat secara implisit pengarang mengemukakan

pesannya secara tidak langsung.Dengan demikian,pembaca

sendiri yang harus jeli mencari makna yang tersirat dalam

sebuah cerita.

e. Unsur-unsur ekstrinsik

Segi kedua dari unsur karya sastra dalam hal ini, cerpen adalah

unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik itu merupakan unsur-unsur yang

membangun karya sastra itu dari luar yang mempunyai nilai dan

berpengaruh terhadap penciptaan suatu bentuk karya sastra. Unsur-

unsur kstrinsik itu antara lain meliputi: latar belakang pengarang,

keadaan sosioal budaya, ketika karya sastra itu diciptakan, kondisi


politik,agama,moral dan lain-lain. Karya sastra semakin bermakna

dengan adanya unsur-unsur tersebut.

Menurut Euis Horniati ( 2003 : 306) Unsur ekstrinsik dipihak

lain, adalah unsur yang berbeda diluar teks fiksi yang bersangkutan,

tetapi mempunyai pengaruh terhadap cerita yang dikisahkan, langsung

atau tidak langsung.

B. Penelitian Relevan

Penelitian relevan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : Pertama

dilakukan oleh Nurfazriah, dengn Judul Minat Membaca Cerpen Melalui

Website Pada Siswa SMP Negeri Satu Atap Pulau Pari Kepulauan Seribu.

Tahun Ajar 2018/2019, persamaan penelitian yang penulis lakukan saat ini

topiknya sama-sama berhubungan dengan minat baca cerpen. Sedangakn

perbedaannya terletak pada sempel dimana penulis menggunakan siswa kelas

XI SMA, sedangkan penelitian yang dilakukan Nurfazriah sempel yang

digunakan yaitu kelas IX SMP.

Kedua dilakukan oleh Yesifa Hesti Kusumastuti, dengan Judul

Pengaruh Program Literasi Sekolah Dan Lingkungan Sekolah Terhadap Minat

Baca Siswa SD Islam Terpadu Qurrota A’Yun Ponorogo.persamaan penelitian

yang penulis lakukan saat ini topiknya sama-sama berhubungan dengan minat

baca cerpen. Sedangakn perbedaannya terletak pada sempel dimana penulis

menggunakan siswa kelas XI SMA, sedangkan penelitian yang dilakukan

Yesifa sempel yang digunakan yaitu kelas V SD.


C. Kerangka Konseptual

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara terhadap

masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji melalui penelitian di

lapangan. Berdasarkan masalah yang dikemukakan sebelumnya, hipotesis

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Ho: Tidak ada pengaruh minat baca cerpen dengan penggunaan pembelajaran

literasi.

H1: Terdapat pengaruh minat baca cerpen dengan penggunaan pembelajaran

literasi.
BAB III

METODELOGI PENILITIAN

A. Jenis dan Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan

metode eksprimen. Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode

penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk

meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan

instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan

untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Prof. Dr. Sugiono, 1988 : 8).

B. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek

yang mempunyai kualitas dan karekteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti (Prof. Dr. Sugiono, 1988:80). Berdasarkan pendapat di atas populasi

ini adalah seluruh siswa IPA Kelas XI SMA N 1 PANTI Kabupaten Pasaman

adalah 97 orang.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi penelitian (Prof. Dr. Sugiono, 1988:81).Sampel pada penelitian ini

adalah 48 orang.Teknik pengambilan sampel yang digunakan purposive

sampling, yaitu sampel yang bertujuan dilakukan dengan cara mengambil

subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas

adanya tujuan tertentu. Teknik puroisive sampling ini biasanya dilakukan

karena beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga,

dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Teknik
kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu pengambilan sampel bersdasarkan

perbandingan antara 2 buah kelas, dilakukan dengan cara kelas XI IPA 1

sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 3 sebagai kelas kontrol yang

menjadi sampel penelitian. Peneliti ingin mengambil kelas XI IPA 1 sebagai

kelas eksperimen dan XI IPA 3 sebagai kelas kontrol karena kelas IPA 1

menggunakan literasi pembelajaran dalam membaca cerpen sedangkan kelas

IPA 3 tidak menggunakan literasi pembelajaran. Jadi akan dibandingkan

kedua kelas tersebut mana yang lebih efektif dalam membaca cerpen. Untuk

lebih jelasnya mengenai populasi dan sampel penelitian ini, dapat dilihat pada

table 2 berikut ini.

Tabel 2
Jumlah Siswa IPA SMA N I PANTI
No Kelas Jumlah Siswa Sampel

1 XI IPA. 1 24orang Eksperimen


2 XI IPA. 2 25 orang _
3 XI IPA. 3 24orang Kontrol
4 XI IPA. 4 24 rang _

C. Variabel dan Data

Variable adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan

penelitian. Adapun variable dalam penelitian ini ada dua yaitu variable yang

berpengaruh terhadap variable lain. Variable bebas dalam penelitian ini adalah

pemberian perlakuan berupa penggunaan metode pembelajaran literasidalam

minat baca cerpen.Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil

menentukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik siswa. Berdasarkan variable

tersebut akan diperoleh data berupa hasil tes skor menentukan unsur-unsur
intrinsik dan ekstrinsik dalam cerpen siswa kelas IPA SMA N 1 PANTI

dengan menggunakan literasi. Data diperoleh dengan cara memberikan tes

kepada sampel.

D. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan langkah-langkah sebagai

berikut.Pertama, kelas ekperimen, yaitu kelas XI IPA.1 (1) mengambil absen,

(2) mengulang kembali materi tentang cerpen, (3) Guru memberikan tes

kepada siswa dengan menggunakan penggunaan Literasi yaitu mengaitkan

dengan kondisi factual, pemberian ilustrasi atau contoh (4) mengumpulkan

hasil kerja siswa, (5) member skor. Kedua, kelas control, yaitu kelas XI IPA 3

(1) Mengambil absensi, (2) mengulang kembali tentang materi cerpen, (3)

Guru memberikan tes kepada siswa dengan tema yang sudah ditentukan, (4)

mengumpulkan hasil kerja siswa, (5) member skor.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes.

Melalui tes dapat diukur tingkat minat baca siswa dalam membaca cerpen.

Menurut Thoha ( dalam Ellya Ratna, 2003,: 36), mengemukakan tes adalah

alat evaluasi berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang harus dikerjakan

untuk memperoleh respon sesuai dengan pertanyaan atau perintah tersebut.

F. Prosedur Penelitian

Prosedur yang akan dilakukan dalam penelitian ini ada tiga tahap dapat

dilihat sebagai berikut ini.


1) Tahapan Persiapan

Hal-hal dilakukan pada tahap persiapan yaitu: (1) mempersiapakan

surat izin penelitian, (2) menentukan jadwal penelitian, (3) menyusun

rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai materi yang akan

diajarkan, (4) mempersiapkan tes.

2) Tahap Pelaksanaan

Penelitian dilakukan pada jam pelajaran bahasa Indonesia dikelas

IPA SMA N 1 Panti, dan mengambil pokok bahasa minat baca cerpen.

Penelitian ini menggunakan dua sampel, pertama kelas kontrol yaitu tanpa

menggunakan literasi, sedangkan yang kedua pada kelas ekperimendengan

menggunkan literasi. Setelah melaksanakan proses pembelajaran, kedua

kelas sampel diberikan tes diakhir pembelajaran, yaitu tes unjuk kerja.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada masing-masing kelas dapat

dilihat pada table berikut:


Tabel 3
Langkah-langkah Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen danKontrol

Tahap Persiapan
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pendahuluan (15 menit) Pendahuluan (15 menit)
a. Salam pembuka, berdoa dan a. Salam pembuka,
mengambil absensi siswa berdoa dan mengambil
b. Guru memberikan apresiasi absensi siswa
dan motivasi kepada siswa b. Guru memberikan
c. Guru menyampaikan tujuan apresiasi dan motivasi
pembelajaran kepada siswa
c. Guru menyampaikan
tujuan pembelajaran

Kegiatan Inti (70 menit) Kegiatan Inti (70 menit)


a. Guru dan siswa bersama-sama a. Guru dan siswa sama-
mengulang kembali materi sama mengulang
tentang minat baaca cerpen. kembali materi tentang
b. Guru memberikan tes kepada minat baca cerpen.
siswa dengan menggunakan b. Guru memberikan tes
literasi yaitu mengaitkan kepada siswa dengan
dengan kondisi, faktual, menentukan unsur
pemberian ilustrasi observasi intrinsik dan ekstrinsik
di lapangan sekolah. cerpen.
Penutup (15 menit) Penutup (15 menit)
a. Guru membimbing siswa a. Guru membimbing
menyimpulkan materi yang siswa menyimpulkan
dipelajari. materi yang dipelajari.
b. Guru dan siswa menutup b. Guru dan siswa
pembelajaran dan berdoa. menutup pembelajarn
dan berdoa.

3) Tahap Penyelesaian

Pada tahap ini langkah penelitian yang dilakukan ialah mengontrol

data kedua kelas sampel, baik kelas eksperimen maupun kelas


kontrol.Kemudian penelitian diakhiri dengan analisis data dan penarikan

kesimpulan untuk dilaporkan.

4) Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul dilakukan penganalisisan data.Teknik

analisis data dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai

berikut.Pertama, mengoreksi hasil pekerjaan siswa terhadap menentukan

unsur- unsur intrinsik dan ekstrinsik yang ditulis siswa berdasarkan aspek

penilaian. Aspek-aspek yang dijadikan sebagai kriteria penulisan dalam

adalah sebagai berikut:

a) Pemberian skor berdasarkan objek

Skor 1, diberikan jika objek tidak terurut

Skor 2, diberikan jika sudah terurut tapi, belum tepat penyampaiannya

Skor 3,diberikan jika aturan penulisan kata dan tanda

baca sesuai

dengan ejaan

b) Pemberian skor berdasarkan ejaan dan tanda baca

Skor 1, diberikan jika siswa tidak memahami aturan

penulisan kata dan tanda baca sesuai dengan ejaan

Skor 2, diberikan jika ejaan dibuat sudah sesuai tapi,

tanda baca belum tepat

Skor 3, diberikan jika aturan penulisan kata dan tanda

baca sesuai dengan ejaan

c) Pemberian skor berdasarkan isi dan sesuai


Skor 1, diberikan jika pengembangan tema tidak ada

Skor 2, diberikan jika pengembangan tema kurang

Skor 3, diberikan jika tema dikembangkan dan isi tidak

keluar dari tema

Kedua, pemberian skor terhadap menentukan unsur-unsur intrisik dan

ekstrinsik cerpen yang ditulis siswa yaitu sebagai berikut:

1. Merubah skor menjadi nilai. Untuk mengubah skor mentah

menjadi nilai dapat digunakan rumus.

SM
N= xSMax
SI

Keterangan:

N : Tingkat penguasaan siswa

SM : Skor yang diperoleh

SI : Skor yang harus dicapai dalam tes

Smax : Skala yang digunakan 100%

Nurgiantoro (dalam Abdurrahman dan Elya Ratna, 2003:265)

2. Mencari nilai rata-rata dalam menentukan unsur- unsur intrisik dan

ekstrinsik cerpen siswa dengan rumus persentase.

FX
M =∑
N

Keterangan:

M : Mean (nilai rata-rata)

FX : Nilai dikalikan frekuensi

N : Jumlah sampel/siswa
3. Menentukan tingkat minat baca cerpen siswa dengan menggunakan

skala 10.

Tabel 1 pedoman pengkualifikasi dengan skala 10

Tingkat Penguasaan Nilai Ubah Skala Kualifikasi


10

96-100% 10 Sempurna

86-95% 9 Baik sekali

76-85% 8 Baik

66-75% 7 Lebih dari cukup

56-65% 6 Cukup

46-55% 5 Hampir cukup

36-45% 4 Kurang

Tabel Lanjutan

1 2 3

26-35% 3 Kurang sekali

16-25% 2 Buruk

0-15% 1 Buruk sekali

Nurgiantoro (dalam Abdurrahman dan Elya Ratna, 2003:265)

G. Uji Normalitas

Uji normatif bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok

sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.Untuk

digunakan uji liliefors dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Pengamatan X1,X2,…., Xn dijadikan bilangan

2. buku Z1,Z2,….,Zndengan menggunakan rumus


x 1−x
Zi =
s

X : rata-rata

S : Simpangan baku

Z1 : Nilai tengah

3. Dapat dihitung peluang F(Zi)=P(Z≤Zi)

4. Menggunakan harga S(Zi) yaitu propesi skor baku yang lebih kecil atau

sama dengan (Zi) dengan rumus:

banyaknyaz 1 , z 2 , z 3 , … .. zn ≤ zi
S(Zi)=
n

5. Hitung selisih F(Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.

6. Ambil harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak selisih

Tersebut.Sebutlah harga terbesar ini Lo.

7. Membandingkan Lo Dengan nilai Ltabel untuk uji nliliefors yang

terdapat pada tabel taraf nyata 0,05.Kriteria pengujian sebagai berikut.

Jika Lo < Ltabel, maka data berdistribusi normal

Jika Lo > Ltabel, Maka data tidak berdistribusi normal

H. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk menentukan apakah kelompok data

mempunyai varians yang homogen atau tidak dapat digunakan rumus yang

dikemukakan oleh sudjana (2002:249-250) adalah sebagai berikut ini.

Varianterbesar 2 2
F= atau s / s
varianterkecil 1 2

Dimana :

F= varians kelompok data


2
S = varians hasil belajar kelas eksperimen
1

2
S = varian hasil belajar kelas kontrol
2

Kriteria pengujiannya adalah:

Jika Fhitung<Ftabel maka varians homogen

Jika Fhitung >Ftabel maka varians tidak homogeny

I. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui apakah hipotesis yang

kita ajukan ini diterima atau ditolak. Menurut Sudjana (2002: 239-241) jika

kedua kelompok berdistribusi normal dan variansya homogen maka rumus

yang digunkan adalah uji-t yaitu:

X 1−X 2 2 2
2 ( n1−1 ) s 1 (n 2−1)s 2
T= 1 1 S=
S
√ +
n1 n2 n2 +n 2−¿ 2 ¿

Keterangan :

X1 : skor rata-rata yang lebih tinggi

X2 : skor rata-rata yang lebih rendah

n1 :jumlah siswa dalam kelas eksperimen

n2 :jumlah siswa dalam kelas kontrol

S : simpangan baku gabungan

Kriteria pengujian hopotesis :


Terima H1 jika th >t1-ɑ dengan derajat kebebasan (dk) = (n1+n2 -2) dan peluang

(1-ɑ), tolak H1 jika t mempunyai harga-harga lainnya.