Anda di halaman 1dari 3

Fase 1 (Diagnosis sosial) :

Kepada warga peran tenaga kesehatan belum maksimal dalam menerapkan edukasi kepada
masyarakat, dan menurut tiga orang warga bahwa petugas kesehatan (yang sudah ditugaskan
adalah Bidan/Perawat) tidak stanby ditempat, sehingga akses timbal balik dengan tenaga
kesehatan tidak mereka rasakan. Hasil observasi pun peneliti dapatkan situasi lingkungan
warga sekitar Dusun Sangiang Tanjung belum maksimalnya pemeliharaan kebersihan
lingkungan sekitar rumah tinggal, khususnya untuk lingkungan wilayah yang padat
penduduknya. PHBS yang dilakukan warga juga belum maksimalnya untuk personal
hygiene.
Fase 2 (Diagnosis Epidemologi)
Hasil peneliti diperoleh dari Data demografi meliputi karakteristik warga meliputi umur, jenis
kelamin, pendidikan, penghasilan keluarga, pekerjaan dan jumlah anggota keluarga. distribusi
karakteristik responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Usia responden
rata-rata berada pada katagorik usia 20 - 40 tahun pada kelompok intervensi 18 orang (60%)
dan kelompok kontrol 18 orang (69,2%). Jenis kelamin terbanyak pada dua kelompok
didominasi perempuan sebanyak 27 orang (90%) pada kelompok intervensi, dan 26 orang
(100%) pada kelompok kontrol. Pendidikan responden terbanyak katagorik SD, kelompok
intervensi 18 orang (60%) dan pada kelompok kontrol 18 orang (69,2%). Penghasilan
keluarga rata-rata berada dikatagorik Rp 500.000 – Rp. 2.000.000 /bulan kelompok intervensi
sebanyak 23 orang (76,7%). Sedangkan kelompok kontrol terbanyak penghasilan > Rp.
2.000.000/bulan sebanyak 13 orang (50%). Pekerjaan responden dominan ibu rumah tangga
pada kelompok intervensi sebanyak 23 orang (76,66%), dan kelompok kontrol 20 orang
(76,9%). Total jumlah anggota keluarga pada responden rata-rata lebih dari 5 orang pada
kelompok intervensi sebanyak 21 reponden (70%), dan kelompok kontrol 21 responden
(80,76%). Disimpulkan data karakteristik responden berusia katagorik dewasa muda,
pendidikan rendah dan penghasilan terbatas, namun anggota keluarga dalam satu rumah
berjumlah antara 5 – 7 orang. Kondisi data demografi menggambarkan kehidupan keluarga
warga Dusun Sangiang Tanjung berada pada level menengah kebawah. Hal ini berdampak
kepada status kesehatan seseorang. Terbukti dari gambaran PHBS dan tingkat pengetahuan
warga Dusun Sangiang Tanjung seperti dijelaskan pada tabel 2, yang menggambarkan
kondisi PHBS warga Dusun Sangiang Tanjung, Kabupaen Lebak Banten.
Maka pada tabel 3 menjelaskan tentang harapan kelompok kontrol maupun kelompok
intervensi terhadap Kepala Desa maupun kepada Petugas Kesehatan Bidan atau Perawat,
warga dusun Sangiang Tanjung semua mengungkapkan hal yang senada dilengkapi fasilitasi
dusun untuk kepentingan PHBS dan petugas kesehatan hadir setiap hari di Puskesmas, agar
saat dibutuhkan warga petugas ada di Puskesmas.
Fase 3 (Diagnosis perilaku dan lingkungan)
Disimpulkan data karakteristik responden berusia katagorik dewasa muda, pendidikan rendah
dan penghasilan terbatas, kondisi data demografi menggambarkan kehidupan keluarga warga
Dusun Sangiang Tanjung berada pada level menengah kebawah. Hal ini berdampak kepada
status kesehatan seseorang. Terbukti dari gambaran PHBS dan tingkat pengetahuan
warga Dusun Sangiang Tanjung kesehatan seseorang. Terbukti dari gambaran PHBS dan
tingkat pengetahuan warga Dusun Sangiang Tanjung.
Fase 4 (Diagnosis pendidikan dan organisasi)
Berdasarakan laporan Kepala Dinkes Lebak Banten dokter Firman bahwa angka sanitasi di
Kabupaten Lebak baru 58% persen dari 1,2 juta jiwa penduduk, sedangkan, sisanya sebesar
42% perlu ditingkatkan penggunaan sanitasi dan air bersih untuk meminimalisasi kasus
diare.warga Lebak Banten, serta berdasarkan pengamatan masih ada warga Lebak masih
buang air besar belum pada jamban, tetapi masih di sungai, sehingga warga melakukan arisan
jamban (Sahabat Rakyat, 2017)
Saat ini, Lebak telah mempunyai 21 Puskesmas DTP dari 42 Puskesmas yang tersebar di 28
Kecamatan. Banyaknya puskesmas DTP diharapkan bakal mendekatkan pelayanan dasar
kesehatan kepada masyarakat, Menurut Sekretaris Bappeda Lebak, berdasarkan data dari
Dinkes, dari 1,2 juta jiwa penduduk baru 838.211 jiwa yang memiliki akses jamban
keluarga. Sisanya sebanyak 32,82 persen warga masih membuang hanjat besar di
kali atau sungai, kebun, dan ladang (Dinkes Lebak, 2019) Diharapkan peran pemerintah baik
instansi pemerintah daerah setempat maupun dinas kesehatan untuk memfasilitasi perilaku
hidup bersih penduduk Dusun Sangiang Tanjung misal disediakan Tempat Pembuangan
Sampah Akhir, agar masayrakat dusun tidak lagi membuang sampah di sungai, serta
bautakan kebijakan yang membuat petugas kesehatan untuk selalu standby di Puskesmas
Pembantu setiap harinya.
Fase 5 (Diagnosis administrasi dan kebijakan)
Salah satu kebijakan yang dapat mendukung proses perubahan perilaku sehat masyarakat
dusun Sangiang Tanjung adalah keterbatasan SDM tenaga kesehatan. Petugas kesehatan yang
didatangkan ke Puskesmas Pembantu Dusun Sangiang Tanjung terbatas hanya satu orang
diperbantukan di dusun ini, namun tidak dapat rutin standby di tempat, hal ini juga terkait
regulasi yang berjalan di Puskesmas Kecamatan Kalanganyar Lebak Banten. Padahal peran
perawat sebagai tenaga kesehatan sangat penting dalam keberhasilan Health Edcuation.
Berdasarkan kegiatan edukasi kesehatan yang dilakukan petugas kesehatan selama ini
dilakukan tanpa persiapan yang baik, sesuai pernyataan yang di rilis oleh WHO (2012) bahwa
health education selalu tidak mendapat perhatian dari kalangan tenaga kesehatan, karena
minat yang terbatas, kurangnya pemahaman tentang health education, kurangnya
pengetahuan dan definisi konsensus tentang konsep health education dan promosi kesehatan,
serta kesulitan menunjukkan efisiensi dan hasil nyata dari praktik health education.
Fase 6 (implementation)
Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan cara yang baik untuk
mencegah penyakit. Namun dalam penerapan PHBS pada warga di Dusun Sangiang Tanjung,
Kecamatan Kalanganyar Lebak Banten antara kelompok intervensi maupun kelompok kontrol
tidak ada perbedaan PHBSnya, hal ini banyak faktor diantaranya pendidikan yang rendah,
penghasilan keluarga yang rendah (digaris kemiskinan) dengan jumlah keluarga rata-rata
lebih dari lima orang.
Fase 7 (Evaluasi proses)