Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PENETAPAN KADAR DISSOLVED OXIGEN

Hari / Tanggal : Selasa, 18 Februari 2020


Judul : Penetapan Kadar Oksigen terlarut
Tujuan : Untuk mengetahui kadarOksigen terlarut dalam suatu sampel air
Metode : Titrasi Iodometri

A. Prinsip
Oksigen terlarut dapat ditetapkan kadarnya dengan cara winkler. Prinsip dari PK
DO cara Winkler adalah reaksi pembebasan Iodium yang ekivalen dengan O2 yang ada
dengan mengukur I2 dengan larutan
B. Dasar Teori:
Garam adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang dalam kehidupan sehari-
hari banyak digunakan sebagai bahan tambahan bumbu pada makanan, sebagai pengawet
makanan seperti ikan asin, sawi asin, asinan buah-buahan, dan dasar pembuatan senyawa
kimia (NaOH, Na2SO4, NaHCO3, Na2CO3). Setiap manusia pada umumnya
mengkonsumsi garam dengan jumlahnya berbeda-beda tergantung kebiasaan masing-
masing individu. Oleh karena itu, penambahan iodium pada produk garam merupakan
cara yang sangat efektif dalam menutupi kekurangan tubuh manusia akan kebutuhan
iodium. Untuk menunjang program pemerintah dibidang kesehatan masyarakat, setiap
produsen garam diwajibkan menambahkan iodium pada produk garamnya. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh para ahli kesehatan, orang yang kekurangan iodium
dalam konsumsi makanannya dapat mengalami penyakit gondok. Sedangkan pada anak-
anak dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat.
Oleh karena itu kekurangan iodium pada masyarakat diharapkan tidak ada lagi bila
semua garam yang diproduksisudah mengandung iodium. Garam beriodium merupakan
istilah yang biasa digunakan untuk garam yang telah difortifikasi (ditambah) dengan
iodium. Di Indonesia, iodium ditambahkan dalam garam sebagai zat aditif atau suplemen
dalam bentuk kalium iodat (KIO3).
C. Alat
1. Buret
2. Stop Erlenmayer
3. Pipet Ukur
4. Pipet Volume
5. Pipet Tetes
6. Karet Penghisap
7. Beaker Glass
8. Neraca Analitik

D. Reagen
1. Na2S2O3
2. KIO3 0,1000 N
3. H2SO4
4. Serbuk KI
5. Amylum

E. Prosedur :
1. Standarisasi Na2S2O3
a. Pipet 10,0 ml KIO3 0,1000 N masukkan dalam Stop Erlenmayer
b. Tambahkan 5 ml H2SO4 2 N dan 5 mL KI 5%
c. Titrasi dengan Na2S2O3 hingga warna kuning muda (tetesan cepat, kocok
perlahan)
d. Tambahkan 1 ml indikator amylum biru
e. Lanjutkan titrasi dengan Na2S2O3hingga warna biru tepat hilang (tetesan
perlahan, kocok kuat)
f. Catat Volume Na2S2O3 yang dibutuhkan
2. Penetapan oksigen terlarut
a. Masukkan sampel air ke dalam botol winkler hingga tumpah
b. Tambahkan 1,0 ml MnSO4 dan 0,1 ml pereaksi oksigen
c. Tutup botol winkler, homogenkan, diamkan 15 menit di tempat gelap
3. Larutan dalam botol winkler di bagi 2
a. Bagian bening di pindahkan ke dalam stop erlenmeyer
1) Tambahkan dengan 1 ml H2SO4 pekat
2) Titrasi dengan Na2S2O3 hingga warna kuning muda (tetesan cepat, kocok
perlahan)
3) Tambahkan 1 ml indikator amylum biru
4) Lanjutkan titrasi dengan Na2S2O3 hingga warna biru tepat hilang (tetesan
perlahan, kocok kuat)
b. Bagian endapan tetap di dalam botol winkler
1) Tambahkan dengan 1 ml H2SO4 pekat
2) Titrasi dengan Na2S2O3 hingga warna kuning muda (tetesan cepat, kocok
perlahan)
3) Tambahkan 1 ml indikator amylum biru
4) Lanjutkan titrasi dengan Na2S2O3 hingga warna biru tepat hilang (tetesan
perlahan, kocok kuat)
Catat volume total Na2S2O3 yang dibutuhkan (baik beningan maupun endapan)
c. Menera botol winkler
1) Isi botol winkler dengan air hingga tumpah
2) Tutup botol, lalu buka dan beri tanda pada miniskus
3) Keluarkan air di dalam botol
4) Isi kembali botol dengan air menggunakan buret hingga tanda miniskus
5) Catat volume air volume tera

F. Hasil Perhitungan
1. Standarisasi Larutan Na2S2O3
Volume KIO3 0,1000 N (ml) Volume Na2S2O3 (ml)
10,00 0,00 ml – 11,00 ml
10,00 0,00 ml – 11,10 ml
Volume rata-rata 0,00 ml – 11,05 ml

Rumus :
V KIO3 x N KIO3 = V Na2S2O3 x N Na2S2O3
Vol . KIO 3 x N . KIO 3
N Na2S2O3 =
Vol. Na2 S 2O 3
10 ,0 x 0,1000
= 11 , 0 5
= 0,0904 N
2. PK Oksigen terlarut
Volume tera (ml) Volume Na2S2O3 (ml)
63,3 0,00 – 10,8
63,3 0,00 – 10,9

Kadar oksigen terlarut sampel 1


1000
= x (V.N) Na2S2O3 x 8
Vol . tera−4

1000
= x 10,8 x 0,0904 x 8
63,3−4
= 131, 7126 mg/L
Kadar oksigen terlarut sampel 2
1000
= x (V.N) Na2S2O3 x 8
Vol . tera−4

1000
= x 10,9 x 0,0904 x 8
63,3−4
= 132, 9322 mg/L
Kadar rata-rata
131,7126+132,9322
=
2
= 132,3224 mg/L

G. Pembahasan
Iodium adalah jenis elemen mineral mikro kedua sesudah besi yang dianggap
penting bagi kesehatan manusia walaupun jumlah kebutuhan tidak sebanyak zat-zat gizi
lainnya. Djokomoeldjanto (1993) menyatakan bahwa manusia tidak dapat membuat
iodium dalam tubuhnya seperti membuat protein atau gula, tetapi harus mendapatkannya
dari luar tubuh (secara alamiah) melalui serapan iodium yang terkandung dalam
makanan serta minuman. Iodium merupakan zat gizi yang penting bagi kehidupan
manusia, terutama untuk pertumbuhan dan kecerdasan (Prastyono 2009). Iodium
merupakan mineral yang termasuk unsur gizi esensial walaupun jumlahnya sangat sedikit
di dalam tubuh, yaitu hanya 0,00004% dari berat tubuh atau sekitar 15-23 mg. Itulah
sebabnya iodium sering disebut sebagai mineral mikro atau trace element (Siswono
2003).
Percobaan kali ini dilakukan pengujian kadar iodium yang terkandung dalam sampel
berupa garam-garaman. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode titrimetri.
Iodium diperlukan tubuh terutama untuk sintesis hormon tiroksin, yaitu suatu hormon
yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan,
perkembangan, dan kecerdasan. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu
lama, kelenjar tiroid akan membesar untuk menangkap iodium, yang lebih banyak dari
darah. Pembesaran kelenjar tiroid tersebutlah yang sehari-hari kita kenal sebagai
penyakit gondok (Siswono 2003).
Pada percobaan penentuan kadar KIO3 didapatkan hasil rata-rata kadar KIO3  yaitu
1,1981 ppm. Berdasarkan SNI 01-3556-2000 kandungan kalium iodat minimal 30-
80 ppm (mgKIO3/kg garam). Hasil ini menandakan bahwa kandungan
garam masih sesuai dengan ketetapan SNI 01-3556-2000.

H. Kesimpulan:
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa kadar KIO 3 dalam garam pada
sampel pertama 131, 7126 mg/L dan sampel ke dua yaitu 132, 9322 mg/L dengan hasil
rata- rata kadar KIO3 dalam garam adalah 132,3224 mg/L , hasil kandungan
garam masih sesuai dengan ketetapan SNI 01-3556-2000.

I. Daftar Pustaka:
http://eulisnani.blogspot.co.id/2013/01/penentuan-kadar-kio3-dalam-garam-dapur.html
http://bluishcaramelpillow.blogspot.co.id/2011/03/penetapan-kadar-iodium-m-
titrimetri.html
http://www.atlm.web.id/2016/11/laporan-praktikum-analisa-kadar-kalium.html

J. Lampiran Gambar
A B
Gambar 1. A) Warna Sebelum Titrasi pada Penetapan Kadar KIO3 pada Garam dan B)
Warna Setelah Titrasi pada Penetapan Kadar KIO3 pada Garam