Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Musik berfungsi untuk menentramkan pikiran dari beban kemanusiaan
dan menghibur manusia. Musik memberi rangsangan pertumbuhan fungsi-
fungsi otak seperti fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta
analisis intelek dan fungsi kesadaran (Satiadarma, 2004). Musik memberi
nuansa yang bersifat menghibur, menumbuhkan suasana yang menenangkan
dan menyenangkan seseorang, sehingga musik tidak hanya berpengaruh
terhadap kecerdasan berfikir saja tetapi juga kecerdasan emosi.Beberapa tabib
muslim menggunakan musik sebagai sarana penyembuhan suatu penyakit,
baik jasmani maupun rohani (Al Kinddhy, 1997)
Terapi musik mulai berkembang di Amerika Serikat dan diseluruh dunia.
Hal ini menunjukkan menunjukkan bahwa musik selain memiliki aspek
estetika, juga aspek terapetik, sehingga musik banyak digunakan untuk
membantu panyembuhan, menenangkan, dan memperbaiki kondisi fisiologis
pasien maupun tenaga medis dalam dunia kedokteran disebut Complementary
Medicine ( Halim, 2003).
Terapi musik sekarang digunakan secara komprehensif termasuk untuk
mengatasi rasa sakit, manajemen stres ataupun stimulasi pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Beberapa riset juga menunjukan bahwa musik terapi
efektif di gunakan untuk mengoptimalkan status kesehatan seseorang baik
fisik maupun mental.
2.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari terapi musik
2. Untuk mengetahui tujuan dari terapi musik
3. Untuk mengetahui sejarah terapi musik
4. Untuk mengetahui aplikasi terapi musik dalam keperawatan
3.1 Manfaat
BAB II
KONSEP TERAPI

A. Definisi Terapi Musik


Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental
dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre,
bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa sehingga tercipta musik
yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.
Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan
kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah
terapi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan memelihara kesehatan
fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual.
B. Aspek pendukung terapi musik
 Psikobiologi Suara
Keberhasilan terapi musik akan sangat ditentukan oleh
peran suara dan presepsi klien terhadap suara yang ia
dengar. Dalam proses terapi, bukan hanya jenis musik
yang akan berperan dalam membantu klien. Diperlukan
pengetahuan tentang sumber-sumber suara, cepat rambat
suara, batas-batas pendengaran sesuai usia klien, atau
juga pemahaman klien terhadap warna bunyi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efek biologis
dari musik dapat mengakibatkan :
1. Energy otot akan meningkat atau menurun sesuai dengan
stimuli irama
2. Tarikan nafas dapat menjadi cepat atau berubah teratur
3. Timbulnya berbagai efek pada nadi, tekanan darah dan
fungsi endokrin
4. Berkurangnya stimulus sensorik dalam berbagai tahapan
5. Kelelahan berkurang atau tertunda tetapi ketegangan otot
meningkat
6. Perubahan yang meningkatkan elektrisitas tubuh
7. Perubahan pada metabolisme dan biosintesis pada
berbagai proses enzim
 Elemen jenis music
1. Pitch
2. Tempo
3. Timbre
4. Dinamika
Rata-rata hitungan normal dalam setiap ketukan music
hampir sama dengan rata-rata detak jantung manusia
yaitu antara 72 sampai 80 ketukan per menit. Musik yang
simulativ biasanya dimainkan dengan tempo lebih cepat
dapat meningkatan detak jantung dan sebaliknya.
C. Tujuan Terapi Musik
Terapi musik secara umum bertujuan untuk :
1. Membuat hati dan perasaan seorang menjadi senang dan
terhibur
2. Membantu mngurangi beban penderitaan seseorang
3. Tempat penyaluran bakat seseorang
Tujuan terapi musik secara khusus adalah untuk
menumbuh kembangkan potensi-potensi yang ada pada
klien, serta memfungsikan sisa-sisa kemampuan yang ada
pada klien. Dengan demikian klien akan lebih percaya diri
dan merasa bisa beraktivitas seperti biasanya. Dengan
diberikannya teraphy musik diharapkan dapat
mengurangi atau menghilangkan ketegangan-ketegangan
klien pada aspek emosional, mental intelegency dan fisik
motorik. Dengan terapi musik dapat membantu
perkembangan, membangun, mendorong, menumbuhkan
percaya diri, membentuk kepribadian yang optimis,
pantang menyerah, dan dapat menerima kenyataan hidup
dengan apa adanya.
D. Karakteristik Terapi Musik
Menurut Robbert (2002) dan Greer (2003) dalam Djohan (2006), music
mempengaruhi persepsi dengan cara:
1. Distraksi, yaitu pengalihan pikiran dari nyeri, musik dapat mengalihkan
konsentrasi klien pada hal-hal yang menyenangkan.
2. Relaksasi, musik menyebabkan pernafasan menjadi lebih rileks dan
menurunkan denyut jantung, karena orang yang mengalami nyeri denyut
jantung meningkat
3. Menciptakan rasa nyaman, pasien yang berada pada ruang perawatan
dapat merasa cemas dengan lingkungan yang asing baginya dan akan
merasa lebih nyaman jika mereka mendengar musik yang mempunyai
arti bagi mereka. Musik juga dapat menurunkan kadar hormon kortisol
yang meningkat pada saat stres. Musik juga merangsang pelepasan
hormon endorfin, hormon tubuh yang memberikan perasaan senang
yang berperan dalam penurunan nyeri (Berger,1992 dalam Djohan
2006).
E. Keunggulan Terapi Musik
Menurut Greer (2003) dalam Djohan (2006), keunggulan terapi musik
adalah:
1. Lebih murah daripada analgesia
2. Prosedur invansif, tidak melukai pasien,
3. Tidak ada efek samping,
4. Penerapannya luas, bisa diterapkan pada pasien yang tidak bisa
diterapkan terapi secara fisik untuk menurunkan nyeri.
F. Jenis-jenis musik terapi
1. Musik Jazz
Penelitian oleh Blaum pada tahun 2003 mendapatkan
hasil bahwa setelah para siswa mendengarkan music
jazz,mood mereka menjadi lebih ena, sehinnhha
membantu para siswa untuk belajar. Hasil penelitian ini
kemudian diterapkan oleh Norman L. Barber dan Jameson
L, Barber dengan memberikan CD Jazz for Succsess pada
mahasiswa tingkat pertama Universitas Massachusetts.
Mereka memberikan CD tersebut dengan tujuan agar
mahasiswa tingkat satu dapat mengatasi emosi negative
(marah,cemas, depresi, takut) kaena sulit menyesuaikan
diri dengan dunia peruliahan. Beberapa contoh music jazz
yang layak didengarkan: Norah Jones, Natalie Cole, Nat
King Cole, KLA Project dan lain-lain.
2. Musik Rock
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Leigh Riby dan
George Caldwell, Psikolog dari Glasgow Cladenian
University membuktikan bahwa siswa yang mendengarkan
music rock hanya membutuhkan sedikit kerja otak untuk
mengerjakan tugas dengan baik. Selain itu music rock
dapat meningkatkan produtivitasketikasedang bekerja.
Beberapa contoh muisik rock yang layak didengarkan:
Dream Theater, Rush, Hammerfall, Scorpion, SOAD, The
Queen, dan lain-lain.
3. Musik Klasik
Manfaat music klasik sudah banyak diketahui terutama
Efek Mozart. Terlepas dari banyaknya pro dan kontra
tentang Efek Mozart ini, beberapa penelitian menunjukkan
bahwa music Mozart bermanfaat dalam bidang kesehatan.
Samuel Halim dalam penelitiannya menemukan bahwa
efek Mozart dapat membantu penyembuhan penyakit
Alzheimer. Penelitian lain yang dilakukan oleh Campbell
menemukan bahwa music klasik bisa membantu
penyembuhan penyakit-penyakit, seperti stress, kanker,
dyslexia, dan tekanan darah tinggi beberapa cotoh music
klasik yang layak didengarkan: The Ultimate Mozart, Maksim, The
Most Relaxing Classical Album in The World Ever, dan lain-
lain.
4. Aplikasi Terapi Musik
Terapi Musik berguna untuk mempengaruhi tubuh dan pikiransecara
keseluruhan. Terapi musik bekerja pada hardware sekaligus software dalam diri.
Banyak penelitian dari para dokter dan pakar pikiran mengenai efek terapi musik.
Sudah terbukti secara ilmiah bahwa musik berpengaruh terhadap kesehatan tubuh
dan mental seseorang.
Bonny mengembangkan sesi terapinya dalam format empat fase dan
serangkaian program music. Sampai hari ini telah terkumpul lebih dari 40
program musik. Sampai hari ini telah terkumpul lebih dari 40 musik yang
berdurasi 30-50 menit. Musik tersebut terdiri sampai delapan gerakan atau
berupa sebuah lagu utuh baik dalam format instrumental maupun vocal.
 Pelaksanaan kegiatan terapi musik secara umum diantaranya :
1. Kegiatan terapi musik diberikan dalam keadaan pasif (diam). Contoh
penderita duduk dengan tenang sambil mendengarkan lagu anak-anak
baik dari radio atau pelatih.
2. Kegiatan terapi musik yang diberikan dalam keadaan aktif (bergerak).
Contoh anak berlatih tepuk paha, tepuk lantai, dengan hitungan satu
dua tiga, diteruskan bernyanyi bersama.
3. Latihan ritmis dengan memukul alat drum, simbal, ring bel, dengan
irama sederhana.
4. Latihan notasi yaitu pengenalan solmilasi kemudian ditingkatkan
menjadi olah vokal serta latihan memainkan alat musik yang bernada
seperti angklung, piano, gamelan, seruling.
5. Musik dapat diperdengarkan setelah seseorang mengalami suatu
penyakit dan masalah yang sedang dihadapi.
 Sebelum memulai terapi musik :
a. Kaji apakah pasien ingin mendengarkan musik dan musik apa yang
disenangi.
b. Tawarkan berbagai jenis musik kepada pasien.
c. Apakah pasien ingin menggunakan headphones untuk
meminimalkan distraksi.
Untuk meningkatkan kualitas perawatan, terapi musik sebaiknya
menyesuaikan rencana pengobatan setiap pasien berdasarkan :
1) Tipe penyakit dan jenis gangguan
2) Tujuan pasien yang ingin dicapai
3) Tingkat kemampuan fungsional pasien
d. Memonitor perkembangan secara terus menerus dan memodifikasi
rencana tindakan keperawatan berdasarkan respon pasien.
 Strategi Pelaksanaan Terapi Modalitas (Terapi Musik)
1. Tujuan Pelaksanaan Terapi Musik
a. Klien mampu mengenali musik yang didengar
b. Klien memberi respon terhadap musik
c. Klien mampu menceritakan perasannya setelah mendengarkan
musik
2. Strategi pelaksanaan
a. Alat
1. Sound laptop
2. Lagu khusus
3. Metode
 Diskusi
 Sharing persepsi
4. Langkah kegiatan
1) Persipan
a) Membuat kontrak dengan klien yang sesuai dengan indikasi:
menarik diri, harga diri rendah, dan tidak mau bicara.
b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2) Orientasi
a) Salam terapeutik
(1)Salam dari terapi kepada klien
(2)Evaluasi/validasi
(3)Menanyakan keadaan klien saat ini
b) Kontrak
(1)Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mendengarkan musik
(2)Terapis menjelaskan aturan main, sebagai berikut:
(a)Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta
ijin dari terapis
(b)Lama kegiatan 45 menit
(c)Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
c) Tahap kerja
(1)Terapis mengajak klien untuk saling memperkenalkan diri dimulai
dari terapis secara beraturan searah jarum jam
(2)Setiap kali seorang klien selesai memperkenalkan dirinya, terapis
mengajak semua klien untuk bertepuk tangan
(3)Terapis dan klien memakai papan nama
(4)Terapi menjelaskan bahwa akan diputar lagu, klien boleh bertepuk
tangan atau berjoged sesuai irama lagu. Setelah selesai klien akan
diminta menceritakan isi lagu tersebut dan perasaan klien setetlah
mendengar lagu
(5)Terapis memutar lagu, klien mendengar, boleh berjoged, atau
bertepuk tangan (kira-kira 15 menit). Musik boleh diulang
beberaoa kali. Terapis mengobservasi respon klien terhadap musik.
(6)Secara bergiliran, klien diminta menceritakan isi lagu dan
perasaannya. Sampai semua klien mendapat gilirannya
(7)Terapis memberikan pujian, setiap klien menceritakan perasaannya
dan mengajak klien lain bertepuk tangan
d) Tahap terminasi
(1)Evaluasi
(2)Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti terapi
(3)Terapis memberikan pujian atas keberhasilan klien
e) Evaluasi dan dokumentasi
(1)Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai
dengan terapi. Untuk terapi stimulasi sensori mendengar musik,
kemampuan klien yang diharapkan adalah mengikuti kegiatan,
respons terhadap musik, memberi pendapat tentang musik yang
didengar dan perasaan saat mendengarkan musik.
(2)Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat terapi pada catatan
proses keperawatan tiap klien
f) Pengorganisasian
(1)Leader
(2)Co leader
(3)Observer
(4)Fasilitatir
(5)Setting tempat

5. Pembahasan dalam pandangan Kesehatan, Agama dan Budaya


1. Terapi musik dalam kesehatan
Kata terapi berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang
untuk membantu atau menolong orang (Djohan dalam Dewi, 2009).
Terapi musik dapat digunakan dalam lingkup klinis, pendidikan, dan
sosial bagi klien atau pasien yang membutuhkan pengobatan, pendidikan
atau intervensi pada aspek sosial dan psikologis (Djohan dalam Dewi,
2009).
Terapi musik berperan sebagai salah satu teknik relaksasi untuk
memperbaiki, memelihara, mengembangkan mental, fisik, dan
kesehatan emosi (Djohan dalam Dewi, 2009). Selanjutnya Kemper dan
Danhauer dalam Dewi (2009) menjelaskan mengenai manfaat musik.
Musik selain dapat meningkatkan kesehatan seseorang juga dapat
meringankan dari rasa sakit, perasaan‐perasaan dan pikiran yang kurang
menyenangkan serta membantu untuk mengurangi rasa cemas.
Campbell dalam Dewi (2009) menjelaskan bahwa musik dapat
menyeimbangkan gelombang otak. Gelombang otak dapat dimodifikasi
oleh musik ataupun suara yang ditimbulkan sendiri. Kesadaran biasa
terdiri atas gelombang beta, yang bergetar dari 14 hingga 20 hertz.
Gelombang beta terjadi apabila kita memusatkan perhatian pada
kegiatan sehari‐hari di dunia luar, juga ketika kita mengalami perasaan
negatif yang kuat. Ketenangan dan kesadaran yang meningkat dicirikan
oleh gelombang alfa, yang daurnya mulai 8 hingga 13 hertz. Periode-
periode puncak kreativitas, meditasi dan tidur dicirikan oleh gelombang
theta, dari 4 hingga 7 hertz, dan tidur nyenyak, meditasi yang dalam,
serta keadaan tak sadar menghasilkan gelombang delta, yang berkisar
dari 0,5 hingga 3 hertz. Semakin lambat gelombang otak, semakin
santai, puas, dan damailah perasaan.
Campbell dalam Dewi (2009) selanjutnya menerangkan bahwa
musik memiliki beberapa manfaat, yaitu :
a. Musik menutupi bunyi dan perasaan yang tidak menyenangkan
b. Musik dapat memperlambat dan menyeimbangkan gelombang otak
c. Musik mempengaruhi pernapasan
d. Musik mempengaruhi denyut jantung, denyut nadi, dan tekanan
darah
e. Musik mengurangi ketegangan otot dan memperbaiki gerak serta
koordinasi tubuh
f. Musik juga mempengaruhi suhu badan
g. Musik dapat mengatur hormon‐hormon yang berkaitan dengan stres
h. Musik dapat memperkuat ingatan dan pelajaran
i. Musik mengubah persepsi kita tentang waktu
j. Musik dapat memperkuat ingatan dan pelajaran
k. Musik dapat meningkatkan produktivitas
l. Musik meningkatkan asmara dan seksualitas
m. Musik merangsang pencernaan
n. Musik meningkatkan daya tahan
o. Musik meningkatkan penerimaan tak sadar terhadap simbolisme
p. Musik dapat menimbulkan rasa aman dan sejahtera

Untuk dapat memanfaatkan peranan musik bagi kesehatan perlu dikaji


terlebih dahulu suatu musik dengan langkah sebagai berikut :
a. Jika musik belum terlalu dikenal, kenali musiknya terlebih dahulu,
kenali iramanya.
b. Ikuti iramanya, pejamkan mata, rasakan kesan yang
ditimbulkan, perhatikan bayangan yang muncul di dalam alam
pikiran.
c. Jika musik tersebut mengandung syair, coba mengerti dan
pahami syairnya.
d. Hindari musik keras dan hingar-bingar yang kurang beraturan. Hal
ini akan menghambat proses psikofisik ke keseimbangan.
e. Gunakan musik tradisional seperti bunyi tambur, genta dan
gamelan bertenaga untuk membangkitkan gairah hidup.
f. Gunakan senandung internal untuk memperoleh rasa kedamaian.
2. Terapi musik dalam sejarah peradaban islam
Seni musik yang berkembang begitu pesat di era keemasan
Islam, tak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam
legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801873  M)
dan  al-Farabi (872950 M) telah menjadikan musik sebagai alat
pengobatan atau terapi.
Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang
dilakukan seorang terapis dengan menggunakan musik untuk membantu
memulihkan kesehatan pasiennya. R. Saoud dalam tulisannya
bertajuk The Arab Contribution to the Musik of the Western World
menyebut  al-Kindi sebagai psikolog Muslim pertama yang
mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-
Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada
musik. ''Dengan terapi musik, al-Kindi mencoba untuk menyembuhkan
seorang anak yang mengalami  quadriplegic atau lumpuh total,'' papar
Saoud. Terapi musik juga dikembangkan ilmuwan Muslim lainnya yakni
al-Farabi (872-950 M). Alpharabius  begitu peradaban Barat biasa
menyebutnya  menjelaskan tentang terapi musik dalam risalah yang
berjudul  Meanings of Intellect .

Teori Terapi Musik Dalam Agama


Menurut Prof Nil Sari, masyarakat Turki pra-Islam meyakini
bahwa kosmos diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kata  ''ku'' /
''kok'' (suara). Mereka meyakini bahwa awal terbentuknya kosmos
berasal dari suara. Menurut kepercayaan Islam, seperti yang tertulis
dalam Alquran, Allah SWT adalah Pencipta langit dan bumi. ''...Dan
bila Dia berkehendak  (untuk menciptakan) sesuatu, maka  (cukuplah)
Dia hanya mengatakan kepadanya: 'Jadilah'. Lalu jadilah ia.''  (QS: al-
baqarah:117). Setelah Islam bersemi di Turki, masyarakat negeri itu,
masih tetap meyakini kekuatan suara. Inilah yang membuat peradaban
Islam di era Turki Usmani menyakini bahwa musik dapat menjadi
sebuah alat terapi yang dapat menyeimbangkan antara badan, pikiran
dan emosi  sehingga terbentuk sebuah harmoni pada diri seseorang.
Prof Nil Sari mengungkapkan, para ahli terapi musik di zaman
Ottoman menyakini bahwa pasien yang menderita penyakit tertentu atau
emosi seseorang dengan temperamen tertentu  dipengaruhi oleh ragam
musik tertentu. ''Para ahli musik di era Turki Usmani
menyatakan,  makam (tipe melodi) tertentu memiliki kegunaan
pengibatan tertentu juga,'' papar Prof Nil Sari.
Ada sekitar 80 ragam tipe melodi yang berkembang di
masyarakat Turki Usmani. Sebanyak 12 diantaranya bisa digunakan
sebagai alat terapi.  Menurut Prof Nil Sari,  dari teks-teks tua dapat
disimpulkan bawa jenis musik tertentu dapat mengobati penyakit tetentu
atau perasaan tertentu.
Pada era kejayaan Kesultanan Turki Usmani, terapi musik
biasanya digunakan untuk beberapa tujuan, seperti; pengobatan
kesehatan mental; perawatan penyakit organik, perbaikan harmoni
seseorang  yakni menyeimbangkan kesehatan antara badan, pikiran dan
emosi. Musik juga diyakini mampu menyebabkan seseorang tertidur,
sedih, bahagia dan bisa pula memacu intelijensia.
Prof Nil Sari mengungkapkan, para ilmuwan di era Turki
Usmani meyakini bahwa musik memiliki kekuatan dalam  proses alam,.
Musik dapat berfungsi meningkatkan  mood dan emosi secara
keseluruhan. Uniknya, para ilmuwan di era Ottoman sudah mampu
menetapkan jenis musik tertentu untuk penyekit tertentu. Misalnya, jenis
musik  huseyni dapat mengobati demam. Sedangkan, jenis
musik   zengule dan  irak untuk mengobati meningitis.
Masyarakat Barat baru mengenal terapi musik pada abad ke-17
M. Adalah Robert Burton lewat karya klasiknya berjudul  The Anatomy
of Melancholy yang mengembangkan terapi musik di Barat. Menurut
Burton, musik dan menari dapat menyembuhkan sakit jiwa, khususnya
melankolia.
Wahyu dan Santoso (2013) Terapi musik islami ditandai dengan
penggunaan jenis musik yang digunakan sebagai terapi yaitu musik
islami atau musik rohani yang dapay membuat klien “berpijak ke tanah”
dan membimbing ke arah perasaan damai yang mendalam serta
kesadaran rohani. Musik yang digunakan musik dengan tempo sekitar
60 ketukan permenit yang bersifat rileks, seperti jenis musik yang
bernuansa islami, religi atau rohani. Selain alunan musiknya yang lebih
bernuansa islami yang menggunakan media musik religi perlu
diperhatikan syairnya yaitu menggunakan syair yang membuat klien
merasa nyaman dan tidak menghukum, karena syair tidak sesuai akan
membuat tujuan terapi tidak berhasil.
DAFTAR PUSTAKA

Al Kindhy AFA 1997.Musik dari sudut pandang kosmologis


islam,(online),
(http://www.mkalm.com/capita/musik.htm, di akses
oktober 2015
Dewi, Mahargyantari P. Desember 2009.Studi Metaanalisis : Musik Untuk
Menurunkan Stres. Volume 36. No.2. 23 Oktober 2015.
Djohan. 2006. Terapi music, teori dan aplikasi. Yogjakarta : Galangpress
Halim, S. 2003. “Efek Mozart dan Terapi Musik dalam Dunia
Kesehatan”.
Richman S. (2010). Stroke Rehabilitation: Music Therapy. Wilson Terrace,
Glendale : Cinahl Information Systems (RU)
Suryana, Dayat. 2012. Terapi musik. Jakarta.
Wahyu, Utomo A. Santoso, Agus. 2013. Studi Pengembangan Terapi Musik
Islami Sebagai Relaksasi Untuk Lansia. Volume 03. No. 01.
http://jurnalbki.uinsby.ac.id/index.php/jurnalbki/article/download/7/5
27 Oktober 2015