Anda di halaman 1dari 28

Dosen Pengampu : Dra Sri Sinto, M.

Si, Med

LAPORAN PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI

“ISOLASI, IDENTIFIKASI, DAN UJI SENSITIVITAS

BAKTERI PADA URINE”

KELOMPOK 7 :

MUSLIATI NABA

FATMAWATI

NURFADILA S YUSUF

EDY MASHUDI S

ZAKIYAH RAHMATUL HIKAMI

PROGRAM STUDI DIV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Identifikasi dan isolasi mikroba adalah salah satu tugas yang lazim

dilakukan di laboratorium mikrobiologi. Mikroba tidak memiliki ciri anatomi

yang nyata, sehingga identifikasi bakteri didasarkan pada morfologi, sifat biakan

dan sifat biokimiawi. Morfologi mikroorganisme berdasarkan bentuk, ukuran dan

penataan biasanya tidak cukup untuk melakukan identifikasi. Ciri lainnya seperti

sifat pewarnaan, pola pertumbuhan koloni, reaksi pertumbuhan pada karbohidrat,

dan penggunaan asam amino sangat membantu dalam identifikasi dan isolasi

mikroba. Bahan sampel yang biasa digunakan untuk identifikasi bakteri ialah

feses, urin, darah, sputum, muntahan, air, makanan, pus, dll.

Urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian

dikeluarkan dari dalam tubuh melalaui proses urinasi. Urin yang disekresi dalam

ginjal bersifat steril kecuali ginjal terinfeksi. Urin dalam kandung kemih yang

tidak terkontaminasi juga steril dalam keadaan normal. Namun, uretra

mengandung flora normal sehingga urin normal yang dikeluarkan mengandung

sedikit bakteri. Oleh karena itu penting untuk membedakan organisme yang

mengkontaminasi dengan organisme penting secara etiologis, hanya pemeriksaan

urin kuantitatif yang dapat memberikan hasil yang berarti. Identifikasi bakteri

pada urin biasanya digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri yang

sering menyebabkan infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih adalah istilah

umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada


saluran kemih. Infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh berbagai macam

mikroorganisme, terbanyak adalah bakteri. Penyebab ISK adalah pada umumnya

bakteri gram negative, yakni untuk bagian terbesar E. coli dan jarang Proteus,

Klebsiella, Enterobacter dan Pseudomonas (Muhammad, 2017).

Pemeriksaan laboratorium untuk identifikasi mikroorganisme biasanya

mencakup pemeriksaan mikroskopik terhadap materi baru yang belum maupun

yang sudah diwarnai serta persiapan kultur dengan keadaan yang cocok untuk

pertumbuhan berbagai macam organisme, termasuk jenis organiseme yang paling

mungkin menyebabkan penyakit berdasarkan bukti klinis. Jika suatu

mikroorganisme berhasil di isolasi maka identifikasi lengkap terhadap

mikroorganisme tersebut dapat dilakukan. Pewarnaan gram merupakan prosedur

yang sangat bermanfaat dalam mikrobiologi diagnostic. Pada bakteriologi

diagnostic, pemeriksaan kultur rutin perlu menggunakan bebearapa jenis media,

khususnya jika kemungkinan organismenya meliputi bakteri aerobic, anaerob

fakultatif, dan anaerob obligat. Media kultur yang digunakan untuk mendiagnosis

infeksi bakteri yaitu media gar, yang paling sering digunakan yaitu agar darah,

agar cokelat, agar Mac Conkey atau agar biru metilen-eosin (Erhadestria, 2017).

Berdasarkan uraian diatas, maka pada praktikum ini akan dilakukan isolasi

dan identifikasi bakteri serta uji sensitifitas terhadap bakteri yang terdapat pada

sampel urin

B. Tujuan Praktikum
1. Mengidentifikasi morfologi bakteri dari sampel urin.

2. Mengidenifikasi sifat-sifat biakan dan sifat kimiawi bakteri dari sampel

urin.

3. Mengidentifikasi spesies bakteri yang terdapat pada sampel urin.

4. Menentukan tingkat kepekaan bakteri terhadap antibiotik


BAB II
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum dilakukan pada hari Selasa, 29 Januari 2019 sampai dengan hari

Jumat, 8 Februari 2019 di Laboratorium Mikrobiologi Universitas

Muhammadiyah Semarang.

B. Alat Praktikum

1. Lampu spiritus

2. Korek api

3. Kawat ose

4. Rak tabung

5. Tabung reaksi

6. Kapas

7. Pinset

8. Inkubator

9. Label

10. Mikroskop

11. Bak pewarnaan

12. Objek gelas

C. Bahan Praktikum

1. Sampel urine

2. Media MC

3. Media BAP
4. NaCl 0,95% steril

5. Reagen pewarnaan gram

6. Oil imercy

7. Media BHIA

8. Media uji biokimia (Indor, MR, VP, Citrat, Motil, Urea, TSIA, glukosa,

laktosa, sukrosa)

9. Larutan H2O2 3%

10. Reagen Erlich, Metil Red, α-nafthol dan KOH 40%

11. Disk antibiotik (Norfloxacin, Amoxylin, Cefotaxime)

12. Standar Mc Farland (BaCl2 1% : H2SO4 1%)

13. Media API 20E

D. Prosedur Kerja

Praktikum I

1. Pengecatan gram

a. Menyiapkan semiran dengan sampel feses, keringkan dan difiksasi.

b. Semiran digenangi dengan gram A selama 3-5 menit, cuci dengan air

mengalir

c. Setelah itu genangi dengan gram B selama 1 menit, cuci denga air

mengalir

d. Cuci dengan gram C (Asam alcohol) beberapa detik, bilas dengan air

mengalir

e. Kemudian genangi dengan gram D selama 3 menit dan bilas dengan

air mengalir
f. Keringkan dan lakukan pengamatan pada mikroskop dengan

perbesaran 100x.

1. Media kultur BAP dan MC

a. Disiapkan alat dan bahan

b. Sampel yang sudah diinkubasi di media BHI (feses), di kultur ke media

BAP dan MC dengan tekhnik menggores kuadran

c. Dibungkus media dengan kertas, lalu diinkubasi pada suhu 370 selama

24 jam

Praktikum II

1. Pengamatan pada media BAP dan MC

Jika koloni sudah terpisah-pisah pilih koloni yang berbeda-beda dan amati

morfologinya (warna, bentuk, ukuran, tepi, elevasi, konsistensi, sifat

hemolisa pada media BAP dan sifat fermentasi pada media MC).

Praktikum III

1. Lakukan pewarnaan sederhana

Pada media BAP jika yang didapatkan adalah bakteri berbentuk basil

maka tidak dilakukan uji selanjutnya.

2. Pembuatan Subkultur (Media MC)

a. NaCl fisiologis dimasukkan kedalam tabung reaksi

b. Sterilkan ose diatas nyala api kemudian ambil koloni 1 atau 2 pada

media MC dan masukkan kedalam larutan NaCl fisiologis.

c. Digores ke media MCA dengan penggoresan kuadran.

d. Di inkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.


Praktikum IV

1. Pengamatan pada media MC

Setelah didapatkan koloni yang terpisah pada media MC, dilakukan

pengamatan secara makroskopis yaitu warna, bentuk, tepian, elevasi,

konsistensi, ukuran, dan sifat fermentasi.

2. Penanaman pada media HIA

a. Ose jarum disterilkan diatas nyala api

b. Koloni pada media MC diambil dan kemudian digores diatas agar

miring media HIA.

c. Inkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC.

Praktikum V

1. Uji katalase

Diatas kaca objek ditambahkan isolat murni bakteri dari media HIA,

kemudian ditetesi satu tetes H2O2 3% dan langsung diamati terbentuk atau

tidaknya gelembung – gelembung udara diatas slide. Jika ada gelembung

udara menunjukkan katalase (+), sedangkan tidak adanya gelembung

menunjukkan katalase (-).

2. Uji Biokimia

a. Dipanaskan ose lalu ambil isolat pada media BHIA (ose hanya satu

kali pemanasan) lalu tanam pada masing-masing media berikut

b. Penanaman dimulai dari media indol, MR, VP, Citrat, Motil, lalu di

ambil lagi isolat dari media HIA dengan ose tanpa pemanasan dan
dilanjutkan penanaman ke media Glukosa, Laktosa, Sukrosa, Urea, dan

terakhir di media TSIA.

1) Indol, MR, VP, glukosa, laktosa, sukrosa : Tabung dimiringkan,

isolat digores pada pinggir tabung

2) Citrat, urea : di gores

3) Motil : di tusuk 1 x

4) TSIA : di gores, lalu di tusuk

c. Inkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.

PRAKTIKUM VI

1. Pengamatan pada media biokimia

a. Indol
(+) Apabila terbentuk cincin merah muda setelah penambahan 3-5
tetes reagent erlich/kovac.
(-) Apabila tidak terjadi perubahan setelah penambahan reagent
erlich/kovac.
b. MR
(+) Jika terbentuk warna merah setelah penambahan 3-5 tetes reagent
Methyl Red.
(-) Tidak terjadi perubahan warna setelah penambahan reagent.
c. VP
(+) Jika terbentuk cincin merah setelah penambahan 3 tetes KOH 40%.
(-) Tidak terjadi perubahan warna setelah penambahan reagent.
d. Citrate
(+) Terjadi perubahan warna biru pada media.
(-) Tidak terjadi perubahan warna pada media (tetap berwarna hijau).
e. Motil
(+) Apabila terdapat pertumbuhan yang menyebar disekitar tusukan
atau media menjadi keruh.
(-) Tidak terjadi perubahan
f. Urea
(+) Jika terdapat warna merah muda pada permukaan media.
(-) Jika tidak terdapat warna merah muda pada permukaan media.
g. TSIA
1) Fermentasi
- Acid-Acid, apabila keseluruhan bagian media berwarna kuning.
- Alkali-Acid, apabila lereng berwarna merah dan pada bagian
dasar berwarna kuning.
- Alkali-Alkali, apabila keseluruhan bagian media berwarna
merah.
2) H2S
(+) Apabila terdapat endapan warna hitam pada media.
(-) Apabila tidak terdapat endapan warna hitam pada media.
3) Gas
(+) Apabila media sobek atau terangkat
(-) Apabila media tidak sobek atau terangkat
h. Gula-gula
(+) Jika warna media berubah menjadi kuning
(-) Jika warna media tidak berubah.
# Khusus pada media glukosa, jika terdapat gas pada tabung durham
maka gas (+) positif.
2. Uji API

a. Buat suspensi bakteri dengan NaCl fisiologis steril yang disesuaikan

dengan standar Mc. Farland.

b. Lembabkan wadah media API 20E dengan menggunakan NaCl

fisiologis steril.

c. Kemudian suspensi bakteri di pipet ke dalam media API 20E dengan

memperhatikan tanda dibawah tabung sbb :


[__] Tabung diisi penuh

___ Tabung diisi setengah sampai tanda batas lalu

ditambahkan parafin cair hingga penuh

Apabila tidak ada tanda maka diisi setengah sampai tanda

batas tanpa ditambahkan dengan parafin cair

d. Tutup wadah penyimpanan media dan inkubasi pada suhu 370C selama

24 jam.

e. Amati hasil inkubasi dan tentukan jenis bakteri dengan memasukan

hasil dengan cara online.

3. Uji Sensitivitas

a. Bakteri murni dari media HIA di buat suspensi dengan NaCl 0,95%

yang disesuaikan dengan standar Mc. Farland.

b. Dari suspensi tersebut digores tebal ke dalam media MHA, dan di

tambahkan disk antibiotic (Norfloxacin, Amoxylin, Cefotaxime)

dengan jarak antar disk minimal 2 cm.

c. Diinkubasipada suhu 370C selama 24 jam.

d. Amati hasil uji sensitifitas apakah bakteri bersifat resistant atau sensitif

terhadap antibioik tersebut.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Hasil pengamatan pewarnaan gram

Warna : Merah 2

Bentuk : Basil
1. Monobasil
2. Diplobasil

Sifat : Gram Negatif (-)


1

2. Hasil Pengamatan media kultur MC dan BAP

MEDIA MC 1
Koloni 1
Warna : Merah
Bentuk : Bulat
Tepian : Rata
Elevasi : Cembung
Konsistensi : Smooth
Ukuran : 3 cm
Sifat : Laktosa Fermenter
Cepat (LFC) 2

Koloni 2
Warna : Kuning
Bentuk : Bulat
Tepian : Rata
Elevasi : Cembung
Konsistensi : Smooth
Ukuran : 4 cm
Sifat : Non Laktosa
Fermenter (NLF)
Media BAP
Warna : Abu-abu
Bentuk : -
Tepian : -
Elevasi : -
Konsistensi : -
Ukuran : -
Sifat : Anhaemolisis
*Koloni tidak terpisah-pisah
(ciri-ciri dari Proteus)

3. Hasil Pengamatan subkultur pada media MC

MEDIA MC
Koloni 1
Warna : Merah
Bentuk : Bulat
Tepian : Rata
Elevasi : Cembung
Konsistensi : Smooth
Ukuran : 5 cm
Sifat : Laktosa Fermented
Cepat (LFC)

Koloni 2
Warna :
Kuning
Bentuk :
Bulat
Tepian :
Rata
Elevasi :
Cembung
Konsistensi :
Smooth
Ukuran :
5 cm
Sifat :
Non Laktosa
Fermented (NLF)
*dari media MC di tanam ke media HIA (stok isolate murni)

4. Hasil Pengamatan Uji Katalase dan Uji Biokimia (dari media HIA)

UJI KATALASE

Ada gelembung

Katalase Positif
(+)
UJI BIOKIMIA

Koloni 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1. Indol : (+)

2. MR : (+)

3. VP : (-)

4. Citrat : (+)

5. Motil : (+)

6. Urea : (-)

A
7. TSIA : , H2S (-), Gas (-)
A

8. Glukosa : (+) , Gas (-)

9. Laktosa : (+)

10. Sukrosa : (+)


Koloni 2

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1. Indol : (-)

2. MR : (+)

3. VP : (-)

4. Citrat : (+)

5. Motil : (+)

6. Urea : (+)

Al
7. TSIA : , H2S (+), Gas (-)
Ac

8. Glukosa : (+) , Gas (-)

9. Laktosa : (-)

10. Sukrosa : (-)


5. Hasil Pengamatan Uji API 20E
UJI API 20 E (Koloni 1 LFC)

Hasil :
6. Hasil Pengamatan Uji Sensitifitas Antibiotik

1. Norfloxacin : Resisten 2 1

2. Amoxylin : Resisten

3. Cefotaxime : Resisten

*Tidak ada zona hambat


3

B. PEMBAHASAN

1. Hasil pengamatan pewarnaan gram

Pewarnaan gram merupakan salah satu teknik identifikasi yang

sangat penting dalam menentukan jenis bakteri. Bakteri digolongkan

menjadi dua yaitu bakteri yang dapat menyerap warna violet atau biru tua

disebut bakteri gram positif sedangkan bakteri yang dapat menyerap warna

merah disebut bakteri gram negatif.

Pada praktikum ini ditemukan koloni bakteri berwarna merah.

Artinya bakteri tersebut termasuk bakteri gram negative (-) dan berbentuk

basil (batang).

2. Hasil Pengamatan media kultur MC dan BAP

Media BAP merupakan medium yang diperkaya dan merupakan

medium diferensial. Semua bakteri dapat tumbuh pada media ini baik basil

maupun coccus. Medium BAP termasuk medium differensial karena dapat

membedakan bakteri berdasarkan kemampuan dalam menghemolisis sel

darah merah (Willey et al., 2009). Hemolisis merupakan proses dekstruksi


sel darah merah oleh toksin yang dihasilkan bakteri (eksotoxin) yang

disebut hemolisin (Leboffe & Pierce, 2011). Ada 3 tipe hemolisis yaitu, β-

hemolisis, α-hemolisis, γ-hemolisis. β-hemolisis mampu mendekstruksi sel

darah merah dan hemoglobin secara sempurna sehingga menghasilkan

zona jernih disekitar koloni. α-hemolisis mendekstruksi sel darah merah

tidak sempurna (sebagian) sehingga menghasilkan warna hijau di sekitar

koloni, sedangkan γ-hemolisis (non hemolisis) tidak mampu

mendekstruksi sel darah merah sehingga tidak mampu mengubah warna

medium disekitar koloni. (Leboffe & Pierce, 2011).

Pada praktikum ini yang tumbuh pada media diyakini sebagai

Proteus. Dimana koloni yang tumbuh tidak terpisah, berwarna keabu-

abuan dan tidak menghemolisis (anhaemolisis).

Medium MC merupakan medium selektif karena mengandung

garam empedu (bile salts) dan crystal violet yang mampu menghambat

pertumbuhan bakteri gram positif. Medium MC juga merupakan medium

diferensial karena mampu membedakan bakteri berdasarkan kemampuan

memfermentasi laktosa. (Leboffe & Pierce, 2011).

Koloni bakteri yang mampu memfermentasi laktosa akan

berwarna pink dan menghasilkan suasana asam dengan pH dibawah 6,8

dan untuk koloni bakteri yang tidak mampu memfermentasi laktosa, tidak

berwarna dan menghasilkan suasana basa dengan pH diatas 6,8. Warna

tersebut dikarenakan medium MC mengandung indikator pH berupa

Neutral red. Bakteri yang termasuk laktosa fermented cepat akan berwarna
pink, sedangkan bakteri yang termasuk laktosa fermented lambat

(fermentasi laktosa, tetapi membutuhkan waktu lama) akan berwarna pink

muda, dan bakteri non laktosa fermented akan berwarna transparan.

Pada praktikum ini ditemukan ada dua koloni bakteri yang

tumbuh. Koloni 1 berwarna merah artinya bakteri tersebut termasuk

bakteri LFC (Laktosa Fermented Cepat). Sedangkan pada koloni 2 koloni

berwarna kuning artinya bakteri tersebut termasuk bakteri non Laktosa

Fermented.

3. Hasil Pengamatan Uji Katalase dan Uji Biokimia (dari media BHIA)

Media BHIA adalah media penyubur yang berguna untuk

pertumbuhan berbagai macam bakteri baik bentuk cair maupun padat,

Media BHIA inidigunakan untuk mendapatkan stok isolate murni dari

media MC. Isolate murni dari media BHIA yang tumbuh di lakukan uji

katalase dan uji biokimia untuk mengidentifikasi jenis bakteri yang

tumbuh dari sampel urine.

Uji katalase berguna dalam mengidentifikasi kelompok bakteri

yang dapat menghasilkan enzim katalase. Uji katalase dilakukan dengan

cara meneteskan hidrogen peroksida (H2O2) pada gelas objek yang bersih.

Biakan dioleskan padagelas objek yang sudah ditetesi H2O2 3%. Suspensi

dicampur secara perlahan, hasil yang positif ditandai oleh terbentuknya

gelembung-gelembung udara (Hadioetomo, 1993).

Pada praktikum ini, uji katalase menunjukkan adanya gelembung

artinya bakteri yang tumbuh dapat menghasilkan enzim katalase.


Uji biokimia bakteri merupakan suatu cara atau perlakuan yang

dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendeterminasi suatu biakan murni

bakteri hasil isolasi melalui sifat-sifat fisiologinya. Proses biokimia erat

kaitannya dengan metabolisme sel, yakni selama reaksi kimia yang

dilakukan oleh sel yang menghasilkan energi maupun yang menggunakan

energi untuk sintesis komponen-komponen sel dan untuk kegiatan selular,

seperti pergerakan. Suatu bakteri tidak dapat dideterminasi hanya

berdasarkan sifat-sifat morfologinya saja, sehingga perlu diteliti sifat-sifat

biokimia dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Uji

biokimia bertujuan untuk memperkecil kesalahan, karena beberapa spesies

memiliki sifat-sifat yang hampir sama. Beberapa jenis uji biokimia yang

digunakan dalam praktikum ini yaitu Indol, MR, VP, Citrat, motil, Urea,

TSIA, dan media gula-gula.

a. Uji indol

Uji indol digunakan untuk mengetahui apakah kuman

mempunyai enzim triptophanase sehingga kuman tersebut mampu

mengoksidasi asam amino triptophan membentuk indol. Adanya indol

dapat diketahui dengan penambahan reagen Ehrlich/Kovac‟s yang

berisi paradimetil amino bensaldehid. Interpretasi hasil: negatif (-):

Tidak terbentuk lapisan cincin berwarna merah pada permukaan

biakan, arinya bakteri ini tidak membentuk indol dari tripthopan

sebagai sumber karbon. Positif (+): Terbentuk lapisan cincin berwarna


merah pada permukaan biakan, artinya bakteri ini membentuk indol

dari triptophan sebagai sumber karbon.

Pada praktikum ini uji indol pada koloni 1 menunjukkan

terbentuknya cincin merah artinya bakteri yang tumbuh membentuk

indol dari triptofan sebagai sumber karbon. Pada koloni 2 tidak

membentuk cincin merah artinya bakteri tidak mampu mengoksidasi

asam amino triptofan sebagai sumber carbon.

b. Uji Methyl Red (MR)

Uji ini digunakan untuk mengetahui adanya fermentasi asam

campuran (metilen glikon). Interpretasi hasil: negatif (-): tidak terjadi

perubahan warna media menjadi merah setelah ditambah methyl red

1%. Positif (+): Terjadi perubahan warna media menjadi merah setelah

ditambahkan methyl red 1%. Artinya bakteri menghasilkan asam

campuran (metilen glikon) dari proses fermentasi glukosa yang

terkandung dalam media MR.

Pada praktikum ini uji MR pada koloni 1 dan 2 menunjukkan

adanya perubahan warna menjadi warna merah artinya bakteri

menghasilkan asam campuran (metilen glikon) dari proses fermentasi

glukosa.

c. Uji Voges-Preskauer (VP)

Uji ini digunakan untuk mengetahui pembentukan asetil metil

karbinol (asetoin) dari hasil fermentasi glukosa. Uji Voges Prokauer

jika bakteri mampu mengubah glukosa menjadi asam organik dan


alkohol, maka setelah ditambahkan dengan alfa naftol dan KOH 40%

maka media akan berubah menjadi merah.

Pada praktikum ini uji VP pada koloni 1 dan 2 menunjukkan

hasil negative artinya bakteri tidak mampu mengubah glukosa menjadi

asam organic dan alcohol.

d. Uji Citrat

Media yang dipakai adalah Simons citrat. Tujuan dari uji ini

adalah untuk mengetahui apakah kuman menggunakan sitrat sebagai

sumber karbon. Pada media simons citarat berisi indikator BTB (Brom

Tynol Blue). Apabila bakteri menggunakan sitrat sebagai sumber

karbon maka media berubah menjadi basa dan berubah warna menjadi

biru. Interpretasi hasil: negatif (-): tidak terjadinya perubahan warna

media dari hijau menjadi biru. Artinya bakteri ini tidak mempunyai

enzim sitrat permease yaitu enzim spesifik yang membawa sitrat ke

dalam sel. Sehingga kuman tidak menggunakan sitrat sebagai salah

satu/satu-satunya sumber karbon. Positif (+): terjadinya perubahan

warna media dari hijau menjadi biru, artinya kuman menggunakan

citrat sebagai salah satu/satu-satunya sumber karbon.

Pada praktikum ini uji Citrat pada koloni 1 dan 2 menunjukkan

perubahan warna dari hijau menjadi biru. Artinya bakteri

menggunakan citrate sebagai salah satu sumber karbon.


e. Uji Motil

Tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui gerak kuman, bisa

memakai media MO (Motilitas Ornitin) atau SIM (Sulfida Indol

Motility). Pada media SIM selain untuk melihat motilitas bisa juga

untuk test indol dan pembentukan H2S. Negatif (-): terlihat adanya

penyebaran yang berwarna putih akar hanya pada bekas tusukan

inokulasi. Positif (+): terlihat adanya penyebaran yang berwarna putih

seperti akar di sekitar inokulasi. Hal ini menunjukkan adanya

pergerakan dari bakteri yang diinokulasikan, yang berarti bahwa

bakteri ini memiliki flagel.

Pada praktikum ini uji motil pada koloni 1 dan 2 menunjukkan

hasil positif dimana terdapat penyebaran yang berwarna pada bekas

dan sekitar tusukan. Artinya bahwa bateri tersebut memiliki flagel

sebagai alat gerak.

f. Urea

Urea broth merupakan media differensial yang dapat

membedakan bakteri penghasil eksoenzim yaitu enzim urease. Prinsip

uji urease yaitu media urea terdegradasi menjadi amoniak

menyebabkan lingkungan basa, maka media menjadi merah muda.

Pada praktikum ini uji urea pada koloni 1 menunjukkan hasil

negative artinya bakteri tidak menghasilkan enzim urease. Sedangkan

pada koloni 2 menunjukkan hasil positif dimana warna media


mengalami perubahan menjadi merah muda. Artinya bakteri

menghasilkan enzim urease.

g. TSIA

Tujuan dari test ini adalah untuk mengetahui kemampuan

kuman untuk memfermentasikan karbohidrat. Pada media TSIA berisi

3 macam karbohidrat yaitu glukosa, laktosa dan sukrosa. Indikatornya

adalah phenol red yang menyebabkan perubahan warna dari merah

orange menjadi kuning dalam suasana asam. Glukosa berada di dasar

media sedangkan laktosa dan sukrosa berada di bagian lereng.

Fermentasi pada TSIA juga disertai dengan pembentukan gas CO2

yang dapat dilihat dari pecahnya dan terangkatnya agar. Media TSIA

juga dapat digunakan untuk mengetahui pembentukan H2S yaitu

melihat apakah kuman memfermentasi metionin dan sistein (Asam

amino yang mempunyai gugus S). Pada media TSIA terdapat asam

amino metionin dan sistein, jika kuman memfermentasi kedua asam

amino ini, maka gugus S akan keluar dan gugus S akan bergabung

dengan H2O membentuk H2S. Selanjutnya H2S bergabung dengan

Fe2+ membentuk FeS berwarna hitam dan mengendap.

Pada praktikum ini, uji TSIA pada koloni 1 menunjukkan

perubahan warna dimana lereng dan dasar berwarna kuning

(Acid/Acid), tidak membentuk endapan hitam (H2S), dan tidak

membentuk gas pada media. Pada koloni 2 menunjukkan lereng


berwarna merah dan dasar berwarna kuning (Alkali/Acid), membentuk

H2S dan tidak membentuk gas.

h. Media Gula-gula

Pada uji gula-gula digunakan media yang terdiri dari pepton,

akuades dan ditambah gula tertentu seperti glukosa, laktosa, sukrosa,

maltosa, galaktosa, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui

kemampuan suatu organisme dalam memfermentasi berbagai macam

gula. Selain itu pada media gula-gula juga terdapat indikator phenol

red, yang berfungsi sebagai petunjuk jika terjadi fermentasi gula akan

terbentuk asam yang akan mengubah indikator phenol red dari merah

menjadi kuning. Sedangkan tabung durham berfungsi untuk

menampung gas CO2 sebagai hasil samping dari proses fermentasi. Uji

positif ditunjukan dengan perubahan warna menjadi kuning, adanya

gelembung udara pada tabung durham, menunjukan hasil samping dari

fermentasi.

Pada praktikum ini, uji gula-gula pada koloni 1 menunjukkan

hasil positif pada media glukosa, laktosa dan sukrosa dimana terjadi

perubahan warna menjadi warna kuning artinya bakteri mampu

memfermentasi glukosa, laktosa dan sukrosa. Sedangkan pada koloni 2

yang mengalami perubahan warna hanya pada media glukosa. Artinya

bakteri yang tumbuh hanya dapat memfermentasikan glukosa. Baik

pada koloni 1 dan koloni 2 tidak menunjukkan adanya gelembung pada

tabung durham.
4. Hasil Pengamatan Uji API 20E

Identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan cara konvensional dan

cara KIT identifikasi. Cara konvensional meliputi fisiologis maupun

biokimia. Ciri fisiologi ataupun biokimia merupakan kriteria yang penting

di dalam identifikasi spesies bakteri yang tak dikenal karena secara

morfologis biakan ataupun sel bakteri yang berbeda dapat tampak serupa,

tanpa hasil pengamatan fisiologis yang memadai mengenai organik yang

diperiksa maka penentuan spesiesnya tidak mungkin dilakukan.. Mikroba

dapat tumbuh pada beberapa tipe media memproduksi tipe metabolit

tentunya yang dideteksi dengan interaksi mikroba dengan reagen test yang

mana menghasilkan perubahan warna reagen (Murray2005).

Berdasarkan hasil pengamatan pada uji APIdan di identifikasi

secara online, diperoleh hasil identifikasi bakteri pada koloni 1 yaitu

Escherichia coli dengan persentase 99,5%.

5. Hasil Pengamatan Uji Sensitifitas Antibiotik

Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan

tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui

senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Prinsip dari metode ini

adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona

hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang

mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan

bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri.


Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang

terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif.

Resistensi adalah suatu keadaan dimana mikroorganisme mampu

menolak efek dari suatu antibiotik. Beberapa bakteri mempunyai

kemampuan alami untuk kebal atau resisten terhadap efek pengobatan. Hal

ini dapat terjadi karena bakteri mempunyai enzim atau plasmid yang dapat

merusak obat.

Pada praktikum ini, uji sensitivitas bakteri terhadap antibiotic

Norfloxacin, Amoxylin, dan Cefotaxime menunjukkan bahwa bakteri

resisten terhadap antibiotic tersebut ditandai dengan tidak adanya zona

hambat pada media. Artinya bakteri tersebut mempunyai enzim atau

plasmid yang dapat merusak obat.


BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum isolasi dan identifikasi bakteri pada sampel

Urine dengan urutan pengerjaan penanaman pada media BAP dan MC, pewarnaan

gram, uji katalase, uji biokimia, uji Sensitifitas dan uji API 20E, didapatkan hasil

pengamatan yaitu identifikasi mengarah kepada bakteri Escherichia coli(Koloni 1

pada media MC berwarna merah).