Anda di halaman 1dari 15

BAB II

DASAR TEORI

2.1. Pengertian Geolistrik

Geolistrik adalah metode geofisika aktif yang menggunakan arus

listrik untuk menyelidiki material di bawah permukaan bumi. Metode ini

dikenal dengan geolistrik, atau geoelectric. Istilah electrical resistivity, DC

resistivity, dan VES (vertical Electric Sounding) juga mengacu kepada

metode geofisika aktif ini. Revolusi dan evolusi dalam teknologi

instrumentasi dan teknik prosesing komputer telah menyumbangkan andil

yang sangat besar dalam perkembangan dari survey geolistrik ini.

Perkembangan terakhir dari multi-channel electrical resistivity system dan

computer-processing modeling telah meningkatkan fleksibilitas, kecepatan,

dan efesiensi pekerjaan di lapangan pada survey geolistrik konvensional.

Selain itu, perkembangan terakhir metode ini juga dapat memfasilitasi

aplikasi geofisika ini untuk menyelidiki lingkungan di bawah permukaan

bumi yang lebih kompleks. Sehingga dapat dikatakan bahwa survey geolistrik

dapat membantu dalam memotong waktu dan biaya yang diperlukan dalam

eksplorasi mineral.

Teknik pengukuran resistivity lapisan bumi dilakukan dengan

mengalirkan arus DC ke dalam bumi dan mengukur voltase (beda tegangan)

yang ditimbulkan di dalam bumi. Arus Listrik dan Tegangan disusun dalam

sebuah susunan garis linier. Beberapa susunan garis linier yang umum dipakai

adalah: dipole-dipole, pole-pole, schlumberger, dan wenner.

5
2.1.1. Metode Geolistrik

Metode geolistrik adalah salah satu metode yang cukup ampuh dan

banyak digunakan dalam dunia eksplorasi khususnya eksplorasi tambang, air

tanah, geoteknik, lingkungan, mitigasi dan lain lain. Ide dasar dari metode ini

adalah bahwa setiap material dalam hal ini adalah batuan memiliki daya

hantar yang berbeda-beda terhadap arus listrik yang melewatinya. Daya

hantar ini dipengaruhi oleh banyak variable diantaranya adalah porositas dan

permeabilitas batuan, kandungan air, kandungan mineral dan lain lain.

Dengan melakukan pengukuran geolistrik (resistivitas/IP), maka dapat

diprediksi batuan atau indikasi mineral-mineral penyusun batuan bawah

permukaan yang diteliti.

Ada 4 jenis metode konfigurasi elektroda (potensial dan arus) yang

umum digunakan dalam eksplorasi geolistrik tahanan jenis dengan faktor

geometri yang berbeda- beda seperti pada gambar 2.1. berikut.

6
(Sumber : Koebanu, Jofita. 2018)
Gambar 2.1. Jenis- jenis metode konfigurasi dalam geolistrik

1. Wenner

Wenner memiliki konfigurasi elektroda potensial berada di antara

elektroda arus yang tersusun dari A-M-N-B. Jarak elektroda satu dengan

yang lainnya adalah a dengan faktor geometrinya yaitu k=2πa.

Keterbatasan dari metode Wenner (Kastono, Delfina Martins.2015),

adalah untuk jarak A-M yang makin besar, daya tembus (penetrasi) makin

kecil, dan karena pengukuran setiap elektroda harus dipindahkan maka

membutuhkan tenaga bantuan yang lebih banyak, sehingga cukup

menyulitkan ketika di lapangan.

7
2. Schlumberger

Penggunaan metode Schlumberger pertama kali dilakukan oleh

Conrad Schlumberger pada tahun 1912. Kelebihan konfigurasi ini adalah

kemampuan untuk mendeteksi non-homogenitas lapisan batuan pada

permukaan dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi

jarak elektroda potensial (MN/2) dan sangat cocok untuk pengukuran

sounding yaitu penyelidikan resistivitas bawah permukaan ke arah

vertikal, dilakukan dengan cara pda titik ukuran yang tetap, jarak

elektroda arus dan tegangan diubah serta diantara keempat metode ini

metode Schlumberger merupakan metode yang paling efisien dan mudah

dilaksanakan di lapangan serta sangan cocok untuk alat ukur seperti yang

digunakan pada penelitian ini yaitu Mc OHM. 2115 dengan akurasi tinggi

dan bisa mendisplay tegangan minimal 2 digit di belakang koma.

Prinsip kerja metode Schlumberger yaitu mengalirkan arus listrik

kedalam tanah dengan frekuensi yang rendah (0.1 - 1.0 Hz) melalui

sepasang elektroda A dan B, yang kemudian beda potensialnya diukur

pada sepasang elektroda potensial M dan N yang simetris terhadap A dan

B.

3. Pole-Pole

Konfigurasi Pole-pole adalah konfigurasi dengan salah satu elektroda

potensial dan elektroda arusnya dibentangkan dengan jarak tak hingga,

atau C1 dan P2 tak hingga, dimana jarak antara B-M adalah a. Faktor

geometri konfigurasi ini adalah k=2πa. Kelemahannya adalah karena

8
hanya satu elektroda arus dan satu elektroda potensial maka akan

menghasilkan terlalu banyak potensial yang tidak terukur.

4. Dipole-Dipole

Konfigurasi ini mempunyai susunan elektroda dengan jarak antara

elektroda arus dengan elektroda potensial sama dengan n kali jarak kedua

elektroda yang sama (A ke B atau M ke N). Faktor geometri yaitu k=πn(n+1)

(n+2)a. Kelemahan konfigurasi ini yaitu membutuhkan tenaga pekerja yang

banyak.

Metode Tahanan Jenis

Metode tahanan jenis terbagi menjadi 2 bagian (Dobrin, 1988) yaitu:

a. Metode Sounding

Metode sounding adalah penyelidikan perubahan resistivitas bawah

permukaan ke arah vertikal. Metode ini baik digunakan untuk

menentukan ketebalan lapisan lapuk, kedalaman benda anomali,

resistivitas suatu lapisan sedimen, serta batuan dasar yang letaknya

tidak terlalu dalam.

Tujuan: Memperkirakan variasi resistivitas sebagai fungsi dari

kedalaman.

Cara: Pengukuran dilakukan pada suatu titik dengan jarak elektroda

bervariasi.

Konfigurasi: Wenner

Schumberger

Sounding application:

i. Groundwater Exploration.

9
ii. Monitoring groundwater pollution.

iii. Mineral prospecting.

b. Metode Mapping

Metode mapping digunakan untuk mengetahui variasi resistivitas ke

arah lateral/horizontal. Biasanya metode ini digunakan untuk

mengetahui kontak batuan atau benda-benda dangkal.

Tujuan: Pengukuran untuk memperoleh informasi mengenai variasi

resistivitas secara lateral.

Cara: Seluruh elektroda dipindahkan menurut lintasan tertentu.

Konfigurasi: Pole – pole

Dipole – dipole

Wenner

Mapping application:

i. Groundwater mapping.

ii. Mineral prospecting.

iii. Geologic mapping.

2.1.2. Aplikasi Metode Geolistrik

Metode geolistrik ini dapat diaplikasikan untuk beberapa hal diantaranya

adalah untuk:

a. Eksplorasi pertambangan/mining misalnya

untuk mencari atau memetakan keberadaan mineral mangan (Mn), emas

(Au), tembaga (Cu), Galena, batubara, batu gamping/kapur dan lain-lain.

b. Eksplorasi Air Tanah (Groundwater)

misalnya untuk mencari lapisan-lapisan pembawa air (akuifer) atau

10
menyelidiki ketersediaan air tanah di suatu wilayah termasuk estimasi

kedalaman, sebaran, volume dan lain-lain.

c. Eksplorasi Panas bumi (geothermal), yaitu

mencari ketebalan lapisan penudung, zona rekahan dan lain-lain.

d. Eksplorasi di bidang Geoteknik banyak

digunakan di sector prasarana transportasi (mis. Investigasi lingkungan di

sekitar jalan raya/tol, rel kereta api ataupun dalam pembangunan bandara

udara), misalnya untuk memprediksi litologi bawah permukaan,

kedalaman batuan dasar (baserock/bedrock), estimasi lapisan lempung,

estimasi konduktivitas ataupun korosivitas suatu wilayah dan lain-lain.

e. Eksplorasi di bidang Lingkungan misalnya

untuk memetakan suatu daerah yang mengalami kontaminasi baik

kontaminasi oleh limbah industry, minyak, TPA dan lain-lain.

f. Eksplorasi pertanian, misalnya untuk

memetakan sebaran lahan produktif dan lahan kristis, ketersediaan air

bawah tanah, kelembaban, maupun klasifikasi tanah pertanian.

g. Mitigasi Bencana, misalnya memetakan

daerah rawah longsor, memetakan rongga-rongga bawah tanah, dan lain-

lain.

2.2 Hukum Dasar Kelistrikan dan Resistivitas

Pada dasarnya metode geolistrik tahanan jenis mirip dengan sebuah rangkaian

listrik sederhana dengan sebuah baterai sebagai sumber tegangan dan sebuah

resistor sebagai hambatannya. Beda potensial pada ujung baterai

menyebabkan muatan-muatan elektron mengalir melalui kabel yang disebut

11
arus, besarnya arus yang mengalir disebut rapat arus sesuai prinsip Hukum

Ohm, seperti tampak pada 2.2

(Sumber :Wahyu Hidayat, dkk. 2013)


Gambar 2.2. Rangkaian Listrik Sederhana

Konsep dasar pengukuran resistivitas batuan dimodifikasi dari teori

pengukuran suatu batuan yang didefinisikan sebagai berikut (Telford, 1976) :

L A
R= ρ sehingga ρ=R
A L
dengan

R : tahanan (ohm)

ρ: resistivitas contoh batuan (ohm – meter)

L : panjang contoh batuan (meter)

A : luas penampang contoh batuan (meter2)

Namun perlu diingat bahwa tahanan tidak hanya bergantung pada material

namun juga geometri dari material tersebut. Batuan juga merupakan suatu

jenis material sehingga mempunyai sifat kelistrikan. Sifat konduktivitas

kelistrikan batuan dekat permukaan bumi sangat dipengaruhi oleh jumlah air,

salinitas air serta bagaimana cara air didistribusikan dalam batuan.

Konduktivitas listrik batuan terkadang juga sangat dipengaruhi oleh sifat air,

12
yakni elektrolit. Batuan berpori yang berisi air, nilai tahanan jenis listriknya

berkurang dengan bertambahnya kandungan air (Wahyu Hidayat, Indriati

Retno Palupi, Ardian Novianto. 2013)

Prinsip pengukuran tahanan jenis atau penelitian geolistrik adalah dilakukan

dengan cara memasukkan arus listrik searah melalui elektroda arus (A dan B)

dan potensial yang ditimbulkan pada elektroda potensial (M dan N). Tahanan

jenis semu yang dihasilkan oleh rambatan arus pada batuan direkam oleh alat

geolistrik seperti pada gambar 2.3.

(Sumber : Koebanu, Jofita. 2018)

Gambar 2.3. Prinsip geolistrik dan rambatan arus pada permukaan bumi.

Hubungan antara nilai tahanan jenis batuan dengan beda potensial dan arus

listrik yang diinjeksikan kedalam tanah adalah sebagai berikut:

dV
ρa= ×K
I
ρa = Nilai tahanan jenis semu (ΩM)

13
dV = Beda Potensial antara M dan N (mV)

I = Arus yang diijeksikan kedalam tanah (ma)

K = Faktor geometris yang tergantung kepada jarak bentangan (AB/2)


2
AB
π
( )2

=
( MN − MN4 )
2.2. Dasar Interpretasi 

Secara teoritis setiap batuan memiliki daya hantar listrik dan harga tahanan

jenis masing-masing. Batuan yang sama belum tentu mempunyai nilai

tahanan jenis yang sama. Sebaliknya harga tahanan jenis sama bisa dimiliki

oleh batuan-batuan berbeda. Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain:

komposisi litologi, kondisi batuan, komposisi mineral yang dikandung,

kandungan benda cair dan faktor eksternal lainnya. (Soenarto, 2003).

Beberapa aspek berpengaruh terhadap nilai tahanan jenis suatu batuan bisa

sebagai berikut :

a. Batuan sedimen yang bersifat lepas mempunyai nilai tahanan jenis

lebih rendah bila dibanding dengan batuan sedimen padu dan

kompak.

b. Batuan beku dan batuan metamorf mempunyai nilai tahanan jenis

yang tergolong tinggi.

14
c. Batuan yang basah dan mengandung air, nilai tahanan jenisnya

rendah dan semakin lebih rendah lagi bila yang dikandungnya

bersifat payau atau asin.

d. Kandungan logam yang berada di sekitar lokasi pendugaan sangat

berpengaruh terhadap nilai tahanan jenis batuan..

e. Faktor luar seperti kabel, tiang listrik dan saluran pipa logam dapat

mempengaruhi hasil pengukuran di lapangan.

2.4 Interpretasi Litologi Berdasarkan Tahanan Jenis

Bates dkk (1985), mengartikan litologi menjadi 2:

1. Litologi adalah deskripsi batuan pada singkapan berdasarkan

karakteristiknya, seperti: warna, komposisi mineral dan ukuran butir

sinaonim dengan Petrografi.

2. Litologi adalah karakteristik fisik dari batuan.

Batuan ialah segala macam material padat yang menyusun kulit bumi, baik

yang telah padu maupun masih lepas. Material padat dapat terjadi dari agregat

mineral yang tersusun oleh satu macam mineral maupun dari berbagai

mineral. Batu ialah material padat dari agregat mineral yang telah padu.

Mineral merupakan suatu unsur atau persenyawaan anorganik yang

terbentuk secara alami, yang memiliki struktur internal teratur, komposisi

kimia, bentuk kristal dan sifat fisik tertentu yang menjadi karakteristiknya.

Perlu diketahui bahwa batuan merupakan konduktor yang kurang baik

(poor conductors). Namun pada kenyataannya batuan umumnya bersifat

porous (berpori-pori) dan pori-pori tersebut terisi oleh fluida (utamanya air),

15
yang menjadikan batuan sebagai konduktor elektrolitik. Jadi, resistivitas

batuan secara garis besar dapat dihubungkan dengan Hukum Archie, yang

mengasumsikan bahwa seluruh pori-pori terisi oleh air (saturasi).

Resistivitas (resistivity) dapat didefenisikan sebagai kuantitas yang dapat

mengkarakterisasi sifat kelistrikan, karena hanya bergantung pada jenis atau

material. Resistivitas juga sering disebut sebagai tahanan jenis yaitu

kemampuan suatu medium untuk menghambat arus listrik. Faktor yang dapat

mempengaruhi resistivitas batuan antara lain:

a. Kandungan mineral logam dan non logam

b. Kandungan fluida dan air garam

c. Perbedaan tekstur batuan

d. Perbedaan porositas batuan

e. Perbedaan permeabilitas batuan

f. Perbedaan temperatur

Berdasarkan harga sifat kelistrikannya, medium digolongkan menjadi tiga

jenis yaitu konduktor (ρ < 10-5 ohm-m), semi konduktor (10-5 ohm-m <ρ < 107

ohm-m) dan isolator (ρ > 107 ohm-m). Banyak peneliti/ilmuwan yang

membuat kisaran nilai resistivitas material/batuan penyusun kerak bumi

berdasarkan hasil uji laboratorium maupun dari hasil pengukuran di lapangan,

seperti yang ditampilkan pada Tabel 2.1 yang merupakan kisaran nilai

resistivitas material geologi menurut Telford (1976).

16
Tabel 2.1. Resistivitas mineral dan batuan (Telford, 1976)

Sumber :Telfrod tahun 1976

Nilai tersebut digunakan untuk membantu dalam melakukan interpretasi, akan

tetapi pada kenyataannya satu jenis batuan pada daerah yang berbeda dapat

memiliki nilai resistivitas yang berbeda. Sehingga kisaran nilai tersebut tidak

dapat digunakan secara baku di seluruh tempat dan dunia.

2.3. Air Tanah

Menurut Tood (dalam Tambunan R. 2012), air tanah merupakan air yang

berada di bawah permukaan tanah, baik yang tersimpan maupun mengalir, di

antara ruang-ruang kosong antar butiran, rekahan dan lubang bukaan. Media

tempat air tanah mengalir di bawah permukaan tanah karena ada media aliran

yang disebut akuifer, yang dibatasi oleh lapisan pembatas seperti :

a. Akuifug

17
Akuifug merupakan suatu lapisan pembatas berupa formasi, bagian

formasi atau batuan yang sepenuhnya kedap air sehingga tidak dapat

meloloskan air tanah, dapat juga dikatakan sebagai lapisan pembatas atas

dan bawah suatu pembatas akuifer.

b. Akuiklud

Merupakan lapisan pembatas berupa formasi, bagian formasi, atau batuan

yang kedap air sehingga dapat menyimpan air tapi sulit meloloskan air.

c. Akuitar

Akuitar merupakan lapisan pembatas berupa formasi, bagian formasi atau

batuan yang tembus air tapi tidak sebesar akuifer sehingga dapat menyerap

dan meloloskan air di waktu yang relatif lambat.

Berdasarkan litologi lapisan pembatasnya, akuifer dapat dibedakan

menjadi 4 macam, yaitu :

a. Akuifer Bebas

Merupakan lapisan jenuh air tanah yang dibatasi oleh permukaan dan

batas bagian bawah merupakan lapisan kedap air.

b. Akuifer Tertekan

Akuifer tertekan adalah lapisan jenuh air yang terjebak pada dua

lapisan kedap air.

c. Akuifer Sebagian Bebas

Merupakan lapisan jenuh air yang dibatasi oleh lapisan kedap air pada

bagian atas dan sedikit tembus air pada bagian bawah.

d. Akuifer Sebagian Tertekan

18
Merupakan lapisan jenuh air yang dibatasi oleh lapisan sedikit tembus

air pada bagian atas dan lapisan kedap air pada bagian dasar.

Pada mulanya air memasuki akuifer melewati daerah tangkapan yang

berada lebih tinggi daripada daerah buangan. Daerah tangkapan biasanya terletak

di gunung atau pegunungan dan daerah buangan pada daerah pantai. Air tersebut

bergerak ke bawah melalui pori-pori akuifer karena gravitasi. Batuan yang

berperan sebagai akuifer merupakan batuan yang harus memiliki porositas dan

permeabilitas.

19