Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKONSERVASI (BIO4012)

ECOLOGICAL FOOTPRINT (EF)

Kelompok 6A : Gresia Puteri (1710422033), Annisa Lorenza(1710423005), Annisa Aryani Putri (1710423017), Yoseca
Aulia (1710423025), Firman Syukri (1710423028), Resa Elita (1710423029)

Laboratorium Teaching 3, Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas

PENDAHULUAN

Alam menyediakan kebutuhan hidup mendasar bagi umat manusia. Selain menyediakan material, alam mampu
menyerap limbah hasil ekstraksi dalam jumlah tertentu. Namun, semakin meningkatnya aktivitas manusia semakin
meningkat pula kebutuhannya. Untuk dapat hidup secara berkelanjutan, manusia harus menggunakan produk esensial
dan proses alamiah tidak lebih cepat daripada yang dapat diperbaharui, serta menghasilkan sampah tidak lebih cepat
daripada yang dapat diserap oleh alam. Wackernagel (2011) dari Global Footprint Network menghitung kecepatan
output dengan mengukur biokapasitas, yakni kemampuan alam untuk memperbarui sumber daya dan menyediakan
layanan ekologi. Hal ini menjadi peringatan bahwa kemanapun masa depan akan pergi, apakah manusia menghindari
bencana iklim atau justru meneruskannya, dengan cara-cara business as usual, peningkatan konsumsi, populasi
penduduk dan emisi CO2, akan mempercepat tekanan terhadap biokapasitas. Oleh karena itu penting bagi kita untuk
mengetahui seberapa besar jejak ekologis yang kita tinggalkan melalui aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Salah satu
cara dengan menghitung jejak karbon (Carbon Footprint) yang dihasilkan dari penggunaan kendaraan pribadi untuk
menggambarkan tingkat konsumsi maupun emisi CO2 yang dihasilkan dari aktivitas berkendara selama periode
tertentu, sebagai bagian dari Analisis Ecological Footprint.
Konsep yang disebut Ecological Footprint (EF) didasarkan pada pencarian indikator berkelanjutan, khususnya
mengukur pemanfaatan sumberdaya alam oleh manusia dikaitkan dengan daya dukung. Dalam kaitannya dengan
pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development), analisis jejak ekologi saat ini telah banyak digunakan sebagai
indikator keberlanjutan suatu lingkungan. Baik jejak ekologi maupun jejak karbon dapat digunakan untuk mengukur
besaran dampak yang dihasilkan dari aktivitas manusia dalam mengkonsumsi sumberdaya alam yang tersedia sehingga
dapat dijadikan alat untuk perencanaan menuju pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan (Rees dan
Wackernagel, 1996).
Hasilnya dapat memberi gambaran mengenai dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan dalam satuan
tertentu (lahan bioproduktif) dan dapat dihubungkan dengan daya dukung bumi (biokapasitas). Biokapasitas merupakan
langkah awal untuk menentukan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, sehingga faktor yang diukur adalah
berapa besar sumberdaya dalam satuan lahan bioproduktif yang digunakan untuk menghasilkan atau memproduksi
barang atau jasa yang dikonsumsi oleh sejumlah populasi tertentu dan untuk menyerap atau mengasimilasi limbah yang
dihasilkan menggunakan teknologi yang umum (Chambers et al.,, 2000 dalam Septiarani, 2010). Satuan yang biasa
digunakan adalah hektar dan dapat dihitung menurut individu, komunitas, perdesaan, perkotaan, provinsi, negara
bahkan populasi global secara keseluruhan. Ecological Footprint juga dapat menghitung konsumsi suatu organisasi,
aktivitas manusia tertentu atau barang dan jasa tertentu (Rees dan Wackernagel, 1996).

CARA KERJA

Praktikum Biokonservasi dengan objek Ecological footprint dilaksanakan pada Rabu. 23 Oktober 2019 di Laboratorium
Teaching III, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. Metode
yang digunakan pada praktikum ini yaitu metode kuantitatif (pengambilan data secara terukur). Adapun alat yang
digunakan selama pelaksanaan praktikum adalah laptop dan data EF Diary yang telah diisi selama sebulan. Adapun
tahap kerja dari praktikum ini yaitu mengisi EF Diary selama 1 bulan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan.
Selanjutnya dilakukan perhitungan Ecological footprint dengan EF Calculator untuk mendapatkan nilai hektar per
100% dan 25%. Terakhir dibandingkan dan dianalisis data EF 100% antar teman kelompok serta dibandingkan EF 25%
dengan cowok vs cewek per item.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun hasil yang didapat dari praktikum ini yaitu :
Tabel 1. Perbandingan EF 100% Kelompok 5A
No Nama Nilai EF 100%
1 Annisa Aryani Putri 3,4 hectare
2 Annisa Lorenza 2,5 hectare
3 Yoseca Aulia 1,2 hectare
4 Resa Elita 6,1 hectare
5 Firman Syukri 0,7 hectare

Dari tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa nilai EF terbesar yaitu 6,1 hektar. Dan yang terendah adalah 0,7 hektar. Yang
berarti lahan yang kita perlukan untuk membuang sampah-sampah yang kita produksi sebesar nilai EF tersebut.
Semakin kecil nilai EF yang kita miliki akan memiliki efek positif karena individu tersebut tidak terlalu banyak
memproduksi sampah dari aktivitas yang dilakukan setiap harinya. Perbedaan nilai EF ini mengacu pada perbedaan
aktivitas dan kebutuhan masing-masing individu.
Menurut Wackernagel & Rees, (1996) Jejak ekologis adalah instrumen untuk menghitung (accounting tool),
yang memungkinkan bagi kita untuk mengestimasikan kebutuhan manusia terhadap konsumsi sumberdaya dan
asimilasi limbah pada sejumlah populasi manusia atau ekonomi, berkenaan dengan lahan produktif yang sesuai. Jadi
Jejak Ekologis merupakan ukuran “beban/muatan” dari sejumlah populasi tertentu terhadap lingkungan alam. Hal ini
mencerminkan luas lahan yang diperlukan untuk mendukung tingkat konsumsi sumber daya serta pembuangan limbah
yang dilakukan oleh populasi tersebut.
Daya dukung lingkungan (ekologi) dalam analisis jejak ekologi kita akan membandingkan antara jejak ekologi
dengan biokapasitas. Berdasarkan publikasi Living Planer Report (2006), perbandingan antara biocapacity (supply) dan
ecological footprint (demand) dapat mencerminkan carrying capacity atau daya dukung suatu wilayah. Dalam
perhitungannya, apabila ekologi lebih besar dibandingkan biokapasitas maka terjadi overshoot yang artinya daya
dukung lingkungan telah terlampaui. Dalam kondisi ini terjadi defisit ekologi (ecological deficit) atau berstatus tidak
sustainable.Sebaliknya jika tapak ekologi lebih kecil, maka terdapat sejumlah biokapasitas di alam yang tercadangkan
untuk menopang kehidupan yang akan datang (ecological debt) atau berstatus sustainable.

Tabel 2. Perbandingan EF 25%


No Item barang EF 25%
Annisa lorenza (EF 100% Firman Syukri (EF 100%
2,5Ha) 0,7 Ha)
1 Sayur, kentang dan buah 2,5 0,7
2 Nasi, sereal, mie, dll 2,5 0,7
3 Makan diluar (menu komplit) 2,5 0,7
4 Biaya Listrik 2,5 0,7
5 Taksi/kendaraan roda empat lain 2,5 0,7
6 Bensin (untuk kendaraan pribadi) 2,5 0,7
7 Katun 2,2 0,5
8 Wol 1,3 0,6
9 Sintetik 2,5 0,7
10 Laundry 2,5 0,7
11 Jasa Dokter/Asuransi Kesehatan 2,5 0,7
12 Pendidikan (spp, kos, dll) 2,5 0,7

Dari data tabel diatas nilai EF wanita lebih tinggi daripada pria yaitu sebesar 2,5 Ha sedangkan pada pria sebesar
0,7Ha. yang artinya wanita dalam melakukan aktivitasnya memerlukan luas lahan 2,5Ha untuk membuang sampah-
sampah yang diproduksinya dalam waktu 1 bulan. Adapun nilai EF yang lebih rendah dari 1Ha menunjukkan manusia
tersebut lebih ramah lingkungan sehingga sampah dari aktivitas sehari-harinya belum mencemari lingkungan. Dapat
disimpulkan dari data tersebut bahwa aktivitas yang dilakukan pria lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan
wanita. Perbedaan tersebut dikarenakan kebutuhan wanita yang lebih banyak daripada pria seperti biaya konsumsi
dalam perhari dan biaya kos. Dari 12 item yang diujikan menjadi 25%, nilai EF yang mengalami penurunan adalah
pada item katun dan wol, sedangkan pada item lain tidak ditemukan adanya perubahan nilai EF. Penurunan tersebut
sangat signifikan dikarenakan bahan baku pembuatan pakaian tersebut berasal dari alam.
Hasil ini sesuai dengan McNeil (1998) Pria dan wanita memiliki akses yang sama pada berbagai macam
fasilitas, seperti: makanan, listrik, kendaraan, ruang laboratorium, dan lain-lain. Meskipun demikian, nilai rata-rata
ecological footprint menunjukkan bahwa wanita memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Hal
tersebut memperkuat hipotesis, walaupun wanita memiliki perilaku pro-lingkungan yang baik dan jauh lebih sensitif
daripada pria, namun jika diberikan cukup akses maka wanita cenderung memiliki sifat yang lebih konsumtif. Melalui
uraian dari masing-masing komponen diketahui bahwa secara umum perbedaan Ecological Footprint antara pria dan
wanita terletak pada komponen makanan dan elektronik. Untuk komponen makanan, belum dapat ditegaskan bahwa
pria dan wanita memang memiliki tingkat konsumsi makanan yang berbeda karena konsumsi yang diukur hanya
makanan utama dan juga tidak menghitung secara akurat setiap jenis makanan yang dikonsumsi, melainkan
menggunakan estimasi berdasarkan rata-rata jumlah konsumsi per item. Wanita diketahui sangat sensitif terhadap
dampak buruk suatu makanan terhadap lingkungan, namun juga peka dengan dampak makanan terhadap kesehatan,
stamina, dan penampilan tubuh. Dengan begitu, mereka akan memperhatikan jenis- jenis makanan yang bergizi, rendah
lemak, dan nikmat untuk dikonsumsi dan menghindarkan makanan yang dapat mengganggu kesehatan tubuhnya.
Mengingat bahwa beberapa makanan bergizi memiliki nilai yang mahal dalam sistem produksi secara alami,
maka konsumi akan jenis makanan tersebut akan menyumbangkan nilai ecological footprint yang. Sedangkan dari segi
komponen elektronik, seperti HP dan Laptop. Dua peralatan elektronik tersebut diketahui melekat erat dengan remaja,
namun secara relatif wanita lebih memiliki keterkaitan yang erat dengan peralatan itu. Wanita lebih banyak
menghabiskan waktu untuk bersosialita dalam dunia internet dan juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk
memainkan laptop dibadingkan dengan pria selama di kampus. Pria umumnya cenderung lebih banyak melakukan
kegiatan yang aktif ataupun berkumpul dengan teman sebaya tinggi (M Lenzen and S A Murray, 2003).

KESIMPULAN
Nilai Ecological footprint antara pria dan wanita memiliki perbedaan signifikan. Hal ini dikarenakan adanya perilaku
konsumtif yang berbeda antara pria dan wanita, semakin tinggi nilai EF seseorang maka semakin tinggi pula produksi
sampah yang dihasilkan dimana artinya manusia tersebut memberikan banyak peluang pencemaran terhadap lingkungan
dari aktivitas yang dilakukannya. Dan apabila semakin rendah nilai EF seseorang maka semakin ramah lingkungan
aktivitas yang dilakukan karena kontribusi sampah yang dihasilkan sangat sedikit.

DAFTAR PUSTAKA
Septiarani, A. 2010. Analisis Water Footprint Produksi Kain Serat Rami (Studi Kasus Koppontren Darussalam,
Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut). Tesis. Universitas Padjadjaran, Bandung.
Living Planet Report. 2006. Global Footprint Network. WWF Global. United States.
M Lenzen and S A Murray. 2003. The Ecological Footprint – Issues dan Trends. The University of Sydney.
McNeil, Keith. 1998. Conducting Survey Research in the Social Sciences G - Reference, Information and
Interdisciplinary Subjects Series. University Press of America. United States.
Wackernagel, M. 2011. Why Waiting for Climate Consensus Could Waste Your Future. Artikel GC GMEF, Nairobi.
Rees, W. dan Wackernagel, M. 1996. Our Ecological Footprint. Canada: New Society Publishers.
Wackernagel, M., J. Kitzes, D. Moran., S. Goldfinger and M. Thomas. 2006. The Ecological Footprint of Cities and
Regions: Comparing Resource Availability with Resource Demand.