Anda di halaman 1dari 3

Genarasi Milenial dengan Berbagai Dampak Negatif dan Positif dari Sebuah Teknologi

Kita memang tidak pernah bisa lepas dari sosial media. Bahkan, sosial media sudah menjadi bagian dari
kita. Semua yang kita lakukan, tidak lepas dari posting-an sosial media. Mau makan, posting dulu. Mau
tidur, posting dulu, mau ngapa-ngapain juga posting dulu.

Maka dari itu tidak bisa dipungkiri semakin majunya teknologi yang bermunculan maka semakin banyak
pula munculnya berbagai macam Media sosial yang digunakan contohnya seperti facebook, twitter,
snapchat, instagram, whatsapp, line dan masi banyak lagi, yang menggunakannyapun beragam mulai
dari orang dewasa maupun anak-anak zaman now, yang biasa disebut generasi millennial atau generasi
micin.

Milenial sendiri adalah sebutan generasi masa kini yang aktif dalam bersosial media.Tapi apakah milenial
zaman sekarang sadar dengan kemudahan dalam bidang teknologi komunikasi dapat memberikan
kerugian selain manfaat bagi mereka? Atau mungkin anak milenial sudah terlena dengan itu semua?
sehingga generasi millennial dalam bermedia sosial seakan mengabaikan garis-garis kesopanan, dan
melebihi batas wajar dalam menggunakan media sosial.

Jika kita sadari media sosial memiliki dampak posiif maupun dampak negative bagi penggunanya
tergantung kita bagaimana menggunakannya, apakah kita menggunakannya dengan hal-hal yang baik,
atau kita menggunakannya dengan hal-hal yang tidak baik atau bisa jadi kita menggunakannya hanya
sesuai kebutuhan saja. Mungkin kita sendiri pernah menyalahgunakan media sosial tersebut tanpa kita
sadari,Melihat media sosial yang akhir-akhir ini banyak digunakan oleh masyarakat untuk bersosialisasi
atau hanya untuk sekedar eksis tanpa memikirkan dampak negative atau dampak positif yang akan
muncul.

Tetapi kita bisa lihat akhir-akhir ini media sosial seolah dipandang negative bahkan salah satu aplikasi di
media sosial harus di nonaktifkan karena banyak generasi millennial yang salah dalam menggunakan
media sosial itu sendiri, seharusnya orang tua mampu mengontrol putra putri mereka agar
menggunakan media sosial dengan baik dan bijak. Kita sebagai warganet tidak bisa menyalahkan media
sosial sepenuhnya karena yang perlu di perbaiki yaitu para pengguna dari media sosial itu sendiri apakah
sudah baik dalam menggunakan media atau bahkan masih menyalahgunai konten atau media tersebut.
Namun sekarang ini, kita masih melihat tarik ulur tentang siapa yang mesti bertanggung jawab dalam
pembentukan karakter anak di zaman sekarang. Keluarga ataupun sekolah pada beberapa kasus akhir-
akhir ini terlihat seolah ingin melempar tanggung jawab ketika muncul kasus-kasus destruktif tertentu
yang melibatkan anak. Apalagi ketika kita melihat sistem pengendalian sosial kita lebih banyak bersifat
represif baik oleh orang tua maupun sekolah ketimbang preventif.

Padahal pengendalian sosial preventif inilah cukup fundamental dalam konteks ini, mengingat bahwa
kita tak bisa mengabaikan faktor ketiga dalam kasus ini yakni media sosial. Media sosial memang cukup
besar pengaruhnya dalam membentuk kebiasaan dan apa yang dianggap menarik oleh anak. Mengingat
tingkat kedekatan anak generasi millenial terhadap apapun lebih dominan oleh teknologi gadget,
android dan sejenisnya. Meskipun kita tetap percaya bahwa orang tua tetap memiliki peran utama
dalam mendidik anak, namun realitasnya bahwa arus pengaruh media sosial jauh lebih kuat dari
kekuatan manapun.

Di sekolah misalnya, meski beberapa sekolah telah menetapkan aturan larangan membawa HP canggih
ke sekolah untuk memisahkan sejenak anak dari medsos, namun itu tidak serta merta mengalihkan lalu
lintas perbincangan anak dari dinamika medsos itu sendiri. Sekolah bahkan keluarga terancam
kehilangan pamor sebagai orang atau lembaga yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam nilai moral
anak.

Ini seperti menjadi tantangan baru generasi millenial anak yang hidup di zaman digital seperti sekarang
ini. Medsos mau tak mau akan menjadi tujuan utama anak menerima persepsi dengan mudah. Lantaran
ia sudah menjadi bagian dari pola hidup anak. Tidak sedikit dari gaya hidup anak, dibentuk sebagai hasil
imitasi yang ia dapatkan dari bermedia sosal. Melihat dari dampak positif yang ada, sisi lain yang patut
diperhatikan adalah dampak buruk pengaruh medsos yang tak terbatas ini dalam pertumbuhan
kepribadian anak zaman sekarang.

Di beranda media sosial kita bisa mengamati hal demikian, dari mereka yang dewasa sebelum
waktunya, imitasi gaya hidup ala sinetron, kebiasaan penggunaan kata-kata tak lazim atas nama trend,
hingga jebakan anak dalam pusaran SARA akibat lalu lintas informasi yang serba bebas diserap begitu
saja dengan polos. Bukan untuk menyalahkan media sosial, justru sebaliknya, media sosial adalah
produk zaman yang tak bisa ditolak.

Kebebasan sangat fundamental bagi anak dalam pembentukan kepribadiannya, namun kontrol publik
tetap tak bisa diabaikan, terlebih kontrol dari orang tua yang mau tak mau tetap masih menjadi harapan
sebagai pranata primer yang paling mendasar dalam perkembangan kepribadian sang anak. Kita semua
berharap media sosial mampu merubah yg buruk menjadi baik karena media sosial hanya pelengkap
dalam era yang modern ini, mari kita jadikan anak millennial sebagai anak yang mempunyai moral dan
integritas tinggi karena penggunaan media sosial yang baik dan bijak.