Anda di halaman 1dari 6

Nama : Risdo Lambas Malau

Nim : 4193341039

Kelas : Pendidikan Biologi D 2019

AMPHIBIA ( Rana sp dan Buffo sp )

Buffo sp Rana sp

Amfibi adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar dan di
darat. Sebagian besar mengalami metamorfosis dari berudu (aquatis dan bernapas dengan
insang) ke dewasa (amphibius dan bernapas dengan paru-paru), namun beberapa jenis
amphibius tetap memilki insang selama hidupnya. Jenis-jenis sekarang tidak memiliki sisik
luar, kulit biasanya tipis dan basah (Brotowidjoyo, 1989). Amfibi umumnya didefinisikan
sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup didua alam yakni di air dan
daratan. Amphibia bertelur di air atau menyimpan telurnya di tempat yang lembab dan basah.
Ketika menetas larvanya yang dinamakan berudu yang hidup di air atau tempat basah
tersebut dan bernafas dengan insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian berubah
bentuk (bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa, yang umumnya hidup di daratan atau di
tempat-tempat yang lebih kering dan bernapas dengan paru-paru (Kimball, 1992).

Perbedaan Morfologi Katak dan Kodok


1. Kulit Katak dan Kodok :
Katak : Katak memiliki kulit yang halus dan cenderung lembap. Selain itu, kulit katak
berlendir dan terlihat berair. Warna kulit katak lebih bervariasi, mulai dari hijau, kuning, abu-
abu, cokelat, biru, dan merah.
Kodok: Kulit kodok pada umumnya kasar, berbintil-bintil dan kering. Karena itu, kodok
dapat bertahan lebih lama di tempat yang kering. Sebagian besar spesies kodok berwarna
coklat dan hitam. Kodok memiliki tekstur kulit kasar agar lebih bertahan lama di daerah
kering.
2. Tubuh Katak dan Kodok :
Katak : Katak sebagian besar memiliki tubuh ramping dan memanjang. Tubuh katak yang
atletis berguna untuk lompat dari pohon ke pohon.
Kodok : Kodok memiliki tubuh yang terlihat bulat dan berisi. Perut kodok lebih terlihat besar
dengan kepala terlihat lebih kecil. Kodok lebih banyak berdiam diri dan tidak terlalu lincah
dibandingkan katak.
3. Kaki Katak dan Kodok :
Katak : Ukuran kaki katak lebih panjang dan ramping dari pada kodok. Selain itu, pada
ujung jari-jari katak terdapat selaput yang berguna untuk menempel pada pohon dan
berebang. Kaki katak yang panjang memudahkannya untuk lompat lebih jauh.
Kodok : Sedangkan perbedaan kaki kodok lebih pendek dan terlihat lebih besar. Pada ujung
jari kaki kodok tidak terdapat selaput sebesar katak, tetapi kodok memiliki kuku kecil. Ini
memudahkan kodok untuk berjalan dan melompat.
4. Cara Begerak Katak dan Kodok :
Katak : Katak memiliki kaki panjang yang berguna untuk melompat lebih jauh dibandingkan
kodok. Katak juga jarang sekali terlihat berjalan di darat dibandingkan kodok.
Kodok : Kodok lebih suka berjalan dan lompat dengan jarak tidak terlalu jauh dibandingkan
katak. Selain itu kodok juga lebih sering terlihat berenang dan menggali tanah dibandingkan
katak yang suka melulompat dari pohon ke pohon.
5. Racun Katak dan Kodok :
Katak : Di Jepang, katak merupakan salah satu makanan favorit dan memiliki harga yang
lumayan mahal. Katak tidak memiliki racun dan bisa dikonsumsi dengan cara dimasak dan
dimakan hidup – hidup. Katak memiliki protein tinggi dan rasanya enak.
Kodok : Kodok memiliki racun dibagian kulitnya. Hal ini yang membuat kodok tidak bisa
dikonsumsi. Ada beberapa jenis kodok yang memiliki racun berbahaya dan bisa membunuh
manusia jika mengkonsumsinya.

6. Habitat Katak dan Kodok


Katak : Perbedaan yang paling jelas adalah katak dan kodok adalah habitatnya. Katak lebih
banyak ditemukan di daerah dengan suhu lembab dan terdapat banyak air. Katak hidup di
pohon, sawah, hutan, sungai, dan rawa.
Kodok : Sedangkan habitat kodok adalah tanah yang tidak terlalu basah dan kering. Ada juga
beberapa jenis kodok yang bisa hidup di daerah kering dengan curah hujan rendah. Kodok
paling banyak kita temukan di sekitar rumah, apa lagi jika musim hujan datang.
7. Cara Berkembangbiak Katak dan Kodok
Katak : Cara berkembang biak katak dengan cara ovipar atau bertelur. Sebagian besar
spesies katak ditemukan bertelur di dedaunan dan pepohonan. Tetapi ada juga jenis katak
yang bertelur di air. Jumlah telur katak tidak sebanyak kodok.
Kodok : Cara berkembang biak kodok juga sama, yaitu bertelur. Kodok bertelur di air
dengan jumlah telur ratusan hingga ribuan. Kodok akan berkembang biak dimusim hujan.
Perbedaan katak dengan kodok secara anatomi ini sudah sangat beda.
ANATOMI
1. Sistem Peredaran Darah Katak
Sistem peredaran darah katak berupa system peredaran darah tertutup dan peredaran
darah ganda. Pada system peredaran darah ganda, darah melalui jantung dua kali dalam satu
kali peredaran. Pertama, darah dari jantung menuju ke paru-paru kemudian kembali ke
jantung. Kedua, darah dari seluruh tubuh menuju ke jantung dan diedarkan kembali ke
seluruh tubuh.
Jantung katak terdiri dari tiga ruang, yaitu dua atrium (atrium kanan dan atrium kiri)
dan sebuah ventrikel. Di antara atrium dan ventrikel terdapat klep yang mencegah agar darah
di ventrikel tidak mengalir kembali ke atrium.
Darah yang miskin oksigen dari berbagai jaringan dan organ-organ tubuh mengalir ke
sinus venosus menuju atrium kanan. Darah dari atrium kanan mengalir ke ventrikel,
kemudian menuju ke arteri pulmonalis dan masuk ke paru-paru. Di paru-paru, karbon
dioksida dilepaskan dan oksigen diikat. Dari paru-paru darah mengalir ke vena pulmonalis,
kemudian menuju atrium kiri. Peredaran darah yang terjadi ini merupakan peredaran darah
kecil. selanjuntnya, dari atrium kiri darah mengalir ke ventrikel. Di dalam ventrikel terjadi
pencampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang mengandung karbon
dioksida, meskipun dalam jumlah yang sedikit. Dari ventrikel, darah keluar melalui traktus
arteriosus (batang nadi) ke aorta yang bercabang ke kiri dan ke kanan. Masing-masing aorta
ini bercabang-cabang menjadi tiga arteri pokok, yaitu arterior (karotis) mengalirkan darah ke
kepala dank e otak, lengkung aorta mengalirkan darah ke jaringan internal dan alat dalam
tubuh, dan arteri posterior mengalirkan darah ke kulit dan paru-paru.
Darah katak terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah mengandung
air, protein, darah, dan garam-garam mineral. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit (sel darah
merah) dan leukosit (sel darah putih). Eritrosit pada katakmemiliki inti dan mengandung
hemoglobin untuk mengikat oksigen. Leukosit pada katak juga memiliki inti. Selain memiliki
sitem peredaran darah, katak juga memilki sistem peredaran limfe. System peredaran limfe
berperdan penting dalam pengambilan cairan tubuh ke dalam peredaran darah.

2. Sistem Pencernaan Katak


Saluran pencernaan amphibia, contohnya katak, terdiri dari mulut, kerongkongan,
lambung usus, dan kloaka. Lidah pada katak digunakan untuk menangkap mangsa. Makanan
dari mulut masuk ke dalam lambung melalui kerongkongan. Di dalam lambung makanan di
cerna, kemudian masuk ke dalam usus. Di usus, zat makanan diserap. Sisa makanan
dikeluarkan melalui kloaka. Kloaka merupakan muara tiga saluran, yaitu saluran pencernaan,
saluran ekskresi, dan saluran alat kelamin.

3. Sistem Pernapasan Katak


Alat pernapasan pada amphibia, misalnya katak, berupa paru-paru, kulit, dan insang.
Pada stadium larva (berudu), hewan ini bernapas dengan insang luar. Insang luar berupa tiga
pasang lipatan kulit yang banyak mengandung pembuluh kapiler darah. Oksigen yang larut
dalam air di sekeliling insang berdifusi ke dalam kapiler-kapiler darah dan berdar ke seluruh
jaringan tubuh. Karbondioksida dibawa kembali oleh darah ke alat pernapasan untuk
dikeluarkan dari tubuh.
Paru-paru katak berjumlah sepasang. Struktur paru-paru katak berupa kantong tipis
yang elastis, dilengkapi dengan lipatan-lipatan pada permukaan dinding dalamnya yang
berguna untuk memperluas permukaan. Pada permukaan dinding dalam terdapat kapiler-
kapiler darah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paruke jaringan-jaringan lain dan
melepas karbon dioksida ke paru-paru.

4. Mekanisme pernapasan katak


Pada saat katak berinspirasi atau menghirup oksigen dan berekspirasi mengeluarkan
karbom dioksida, mulut katak selalu dalam keadaan tertutup. Pernapasan pada katak diatur
oleh kontraksi dan relaksasi otot perut dan otot rahang bawah.
a. Inspirasi
Mula-mula tenggorokan bergerak ke bawah sehingga rongga mulut membesar. Hal ini
menyebabkan udara masuk melalui lubang hidung ke rongga mulut. Kemudian lubang hidung
tertutup oleh diikuti dengan berkontraksinya otot rahang bawah yang menyebabkan rongga
mulut mengecil. Dengan mengecilnya rongga mulut, udara terdorong masuk ke paru-paru. Di
paru-paru, oksigen diikat oleh kapiler darah lalu diedarkan ke seluruh tubuh.
b. Ekspirasi
Fase ini diawali dengan mengendurnya otot rahang bawah dan berkontraksinya otot
perut, sehingga paru-paru menegcil dan udara terdorong ke rongga mulut. Sementara itu,
celah tekak menutup sehingga terjadi kontraksi rahang bawah. Akibatnya, rongga mulut
mengecil sehingga mendorong udara kaya oksigen.
Pernapsan dengan kulit berlangsung pada ampbibia sewaktu di darat dan di air. Kulit katak
selalu basah agar dapat berfungsi sebagai alat pernapasan. Kulit katak sangat tipis,
mengandung kapiler darah dan dilengkapi dengan kelenjar-kelenjar penghasil lendir di bagian
dermis dan di bawah kulit.

5. Sistem Ekskresi Katak


Alat ekskresi utama pada katak adalah sepasang ginjal (opistonefros) yang terletak di
kanan dan kiri tulang belakang. Ginjal berwarna merah kecoklat-coklatan. Ginjal sebagai alat
penyaring akan mengeluarkan zat sisa, yaitu garam-garam mineral dan cairan dari darah.
Saluran ekskresi katak merupakan sepasang saluran yang akan bermuara di kloaka. Pada
katak jantan, saluran ginjal dan saluran kelaminnnya menyatu, sedangkan pada katak betina
tidak.
6. Sistem Saraf Katak
Sistem saraf amphibia terdiri dari otak. Pada amphibi, otak tengah sebagai pusat
penglihatan berkembang lebih baik sehingga amphibian memiliki penglihatan yang baik.
7. Sistem Indera Katak
Mata amphibia, misalnya katak memiliki kelopak mata. Mata katak memiliki selaput tidur
(membran niktitans) yang berfungsi melindungi mata dari gesekan ketika berda di air serta
menjaga mata agar tetap lembap ketika berada di darat.
8. Sistem Reproduksi Katak
Kelompok amphibia, misalnya katak, merupak jenis hewan ovipar. Katak betina dan
katak jantan tidak memiliki alat kelamin luar. Pembuahan katak juga terjadi di luar tubuh.
Pada saat kawin, katak betina dan katak jantan akan melakukan ampleksus, yaitu katak jantan
akan menempel pada punggung katak betina dan menekan perut katak betina. Kemuidan
katak betina akan mengeluarkan ovum ke dalam air. Setiap ovum yang dikeluarkan katak
betina diselaputi oleh selaput telur atau membran vitelin. Sebelumnya, ovum katak yang telah
matang dan berjumlah sepasang ditampung oleh suatu corong. Perjalanan ovum dilanjutkan
melalui saluran telur atau oviduk. Dekat opangkal oviduk pada katak betina dewasa, terdapat
saluran yang menggembung yang disebut kantung telur atau uterus. Oviduk katak betina
terpisah dengan ureter (saluran kemih). Oviduk berkelok-kelok dan bermuara di kloaka.
Segera setelah katak betina mengeluarkan ovum, katak jantan juga akan menyusul
mengeluarkan sperma. Soperma yang dihasilkan oleh testis yang berjumlah sepasang dan
disalurkan ke dalam saluran sperma (vas deferens). Vas deferens katak jantan bersatu dengan
ureter (saluran kemih). Dari vas deferens sperma bermuara di kloaka. Setelah terjadi
fertilisasi eksternal, ovum akan diselimuti oleh cairan kental, sehingga kelompok telur
tersebut berbentuk gumpalan telur.

Gumpalan telur yang telah dibuahi kemudian berkembang menjadi berudu. Berudu
awal yang keluar dari gumpalan telur bernafas dengan insang dan melekat pada tumbuhan air
dengan alat isap. Makanannya berupa pitoplankton sehingga berudu tahap awal merupakan
herbivor. Berudu awal berkembang lebih lanjut dari herbivor menjadi karnivor atau
insektivor (pemakan serangga). Bersamaan dengan itu mulai terbentuk lubang hidung dan
paru-paru, serta celah-celah insang mulai tertutup. Selanjutnya, celah insang digantikan
dengan anggota gerak depan.
Setelah tiga bulan sejak terjadi fertilisasi, mulailah terjadi metamorfosis. Anggota
gerak depan menjadi sempurna. Anak katak mulai berani muncul ke permukaan air, sehingga
paru-parunya mulai berfungsi. Pada saat itu, anak katak bernafas dengan dua organ, yaitu
insang dan paru-paru. Kelak fungsi insang berkurang dan menghilang, sedangkan ekor makin
memendek hingga akhirnya lenyap. Pada saat itulah metamorfosis katak selesai.

Penjabaran Reproduksi Katak :

1. Sistem Genitalia Amphibi Jantan


Pada amphibi jantan, testis berjumlah sepasang, berwarna putih kekuningan yang
digantungkan oleh mesorsium. Sebelah kaudal dijumpai korpus adiposum, terletak di bagian
posterior rongga abdomen. Saluran reproduksinya yaitu, Tubulus ginjal akan menjadi duktus
aferen dan membawa spermatozoa dari testis menuju duktus mesonefrus. Di dekat kloaka,
duktus mesonefrus pada beberapa spesies akan membesar membentuk vasikula seminalis
(penyimpan sperma sementara). Vesikula seminalis akan membesar hanya saat musim kawin
saja. Vasa aferen merupakan saluran-saluran halus yang meninggalkan testis, berjalan ke
medial menuju ke bagian kranial ginjal. Duktus wolf keluar dari dorsolateral ginjal, ia
berjalan di sebelah lateral ginjal. Kloaka kadang-kadang masih jelas dijumpai.

Pada urodela lebih panjang daripada salientia yang berbentuk oval sampai bulat dan
lebih kompak. Pada caecilian, strukturnya panjang seperti rangkaian manik-manik. Pada
salamander testis terlihat lebih pendek dengan permukaan yang tidak rata. Badan lemak
terlihat pada gonad jantan.
2. Sistem Genitalia Amphibi Betina
Pada betina, ovarium berjumlah sepasang, pada sebelah kranialnya dijumpai jaringan
lemak berwarna kuning (korpus adiposum). Baik ovarium maupum korpus adiposum berasal
dari plica gametalis, masing-masing gonalis, dan pars progonalis. Ovarium digantungkan
oleh mesovarium.
Saluran reproduksi berupa oviduk yang merupakan saluran berkelok-kelok. Oviduk
dimulai dengan bangunan yang mirip corong (infundibulum) dengan lubangnya yang disebut
oskum abdominal. Oviduk di sebelah kaudal mengadakan pelebaran yang disebut dutus
mesonefrus. Dan akhirnya bermuara di kloaka. (Buku SH II, diktat asistensi Anatomi
Hewan).
3. Pembuahan Eksternal
Sistem reproduksi pada amphibi, pembuahannya terjadi secara eksternal, artinya
penyatuan gamet jantan dan gamet betina terjadi di luar tubuh. Pada pembuahan eksternal
biasanya dibentuk ovum dalam jumlah besar, karena kemungkinan terjadinya fertilisasi lebih
kecil dari pada pembuahan secara internal.
Pada katak betina menghasilkan ovum yang banyak, kalau kita membedah katak
betina yang sedang bertelur, kita akan menjumpai bentukan berwarna hitam yang hampir
memenuhi rongga perutnya, itu merupakan ovarium yang penuh berisi sel telur, jumlahnya
mencapai ribuan.
Pada katak betina juga ditemukan semacam lekukan pada bagian leher, yang
berfungsi sebagai tempat ”pegangan” bagi katak jantan ketika mengadakan fertilisasi. Hal ini
diimbangi oleh katak jantan dengan adanya struktur khusus pada kaki depannya, yaitu
berupan telapak yang lebih kasar. Fungsinya untuk memegang erat katak betina ketika terjadi
fertilisasi.