Anda di halaman 1dari 28

PETUNJUK TEKNIS

KEBUN BIBIT DESA


(KBD)
Penulis :
Bebet Nurbaeti
Susi Mindarti

Penyunting :
Nandang Sunandar

Deain/Layout :
Nadimin

KEMENTERIAN PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BBP2TP)
BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN JAWA BARAT

2014
Kebun Bibit Desa

KATA PENGANTAR

Petunjuk teknis Kebun Bibit Desa (KBD), disusun untuk memenuhi


banyaknya permintaan mengenai budidaya bibit sayuran tersebut.
Budidaya sayuran saat ini menunjukkan peningkatan yang pesat.
Sasaran petunjuk teknis Kebun Bibit Desa ini adalah para
penyuluh pertanian, para penyuluh swadaya, pelaku utama usahatani,
dan peminat lainnya, sebagai bahan informasi untuk penerapan
Teknologi Budidaya Sayuran dan bahan penyebaran informasi kepada
kelompoktani dan anggotanya.
Kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan Petunjuk Teknis ini, dan kami sangat
mengharapkan saran saran perbaikan Petunjuk ini pada masa yang
akan datang.
Harapan kami, semoga Petunjuk Teknis kebun Bibit Desa ini, dapat
dimanfaatkan dengan sebaik baiknya.

Bandung, Desember 2014


Kepala BPTP Jawa Barat,

Dr. Ir. Nandang Sunandar, MP

BPTP JABAR i
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

ii BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI ...................................................................................... iii
PENDAHULUAN ............................................................................... 1
PENGERTIAN ................................................................................... 2
TUJUAN ............................................................................................ 2
PRINSIP PENGELOLAAN ................................................................. 2
TAHAPAN PEMBANGUNAN DAN OPERASIONAL KBD .................. 4
1. Penyiapan Fasilitas .........................................................................................4
2. Pelaksanaan Pembibitan ..............................................................................6
HUBUNGAN KBD DENGAN PENGGUNA .......................................13
1. Kelembagaan/Organisasi ......................................................................... 13
2. Pelaksanaan Koordinasi ............................................................................ 13
3. Tata Kelola Pembukuan ............................................................................. 15
PEMBANGUNAN JEJARING KABI-KBD-KABD .............................17
PENGEMBANGAN FUNGSI KBD/KBI .............................................17
PENUTUP .......................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................19

BPTP JABAR iii


Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

iv BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

PENDAHULUAN

Benih/bibit merupakan salah satu sarana budidaya tanaman


yang mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam upaya
peningkatan produksi, dan kualitas hasil pertanian. Pada dasarnya
petani sudah biasa memproduksi benih untuk keperluan tanam
dilahannya sendiri. Akan tetapi proses yang demikian dianggap
belum tentu menjamin mutu benih, meskipun tuntutan jaminan
kejelasan sumber benih/bibit untuk mengurangi risiko gagal panen
menjadi perhatian mereka. Untuk itu ketika diterbitkan benih bina
yang diedarkan harus bersertifikat, maka makin jarang petani yang
menyimpan benih/bibit di rumah dan atau di pekarangannya.
Petani menyadari, bahwa benih menjadi salah satu input
produksi yang mempunyai kontribusi nyata terhadap peningkatan
produktivitas tanaman. Karena itu ketika benih bina yang diedarkan
harus bersertifikat, maka mereka berkeinginan benih yang tersedia
berkualitas tinggi, dan ketersediaannya memadai. Tetapi ternyata
ketika harus membangun Rumah Pangan Lestari (KRPL) di kawasan
mereka, dan dibutuhkan berbagai macam benih/bibit, baik benih/
bibit tanaman hortikultura (sayuran, buah, hias), tanaman pangan
non beras (talas, singkong, garut, ganyong, ubi jalar), kacang-
kacangan, tanaman hijauan pakan ternak, tanaman obat-obatan
dalam jumlah yang banyak dan tepat waktu, tanam tanaman
tersebut tidak dapat dipenuhi, maka Kebun Bibit Desa (KBD)
menjadi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan bibit di wilayah
KRPL tersebut. KBD menjadi fasilitas warga yang tercakup dalam
KRPL dalam penyediaan benih/bibit tanaman serbaguna yang
prosesnya dibuat oleh warga itu sendiri. Bibit yang dihasilkan KBD
digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga tersebut dalam
menerapkan KRPL, di samping menjadi sarana pembelajaran
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

BPTP JABAR 1
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

PENGERTIAN

Kebun Biit Desa (KBD) adalah: Tempat/area lahan beserta


perlengkapan pembibitannya. Dibangun dan dikelola atas
inisiatif atau partisipasi aktif masyarakat setempat, untuk
memproduksi bibit kebutuhan mereka sendiri, atau wilayah
di sekitarnya sehingga diperoleh kesinambungan budidaya
komoditas yang diusahakan, serta diperoleh keuntungan
ekonomi dalam pengelolaannya.

TUJUAN

Tujuan pembangunan Kebun Bibit Desa (KBD) adalah ;


1) Memproduksi bibit tepat jenis, tepat waktu, tepat jumlah,
tepat mutu,
2) Memperoleh keuntungan ekonomi dan berkembang
menjadi usaha komersial.

PRINSIP PENGELOLAAN

Kebun Bibit Desa (KBD) dibangun dengan prinsip, sebagai


berikut:

• Secara sosial
- Dibangun dari, oleh dan untuk kepentingan masyarakat
dalam kawasan tertentu, sesuai dengan kesepakatan
mereka sendiri
- Dikelola secara terorganisir oleh masyarakat sendiri dalam
semangat kekeluargaan dan mengedepankan musyawarah
mufakat.

2 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

• Secara teknis
- Menerapkan teknologi terbaru yang efektif dan efisien
dengan bimbingan petugas, serta memaksimalkan
pemanfaatan bahan baku lokal
- Memperhatikan kelestarian lingkungan dengan semaksimal
mungkin menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan.

• Secara ekonomi
- Pengelola KBD harus berorientasi kepada keuntungan
ekonomi (efisien). Hal tersebut untuk menjamin
keberlanjutan dan perkembangan KBD dan keuntungan
ekonomi itu sendiri.

BPTP JABAR 3
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

TAHAPAN PEMBANGUNAN DAN OPERASIONAL KBD

1. Penyiapan Fasilitas
• Sarana
Yang dimaksud sarana adalah; segala sesuatu
kebutuhan produksi bibit yang habis pakai. Sarana yang
diperlukan KBD adalah:
(1) Benih/bibit yang akan disemai atau diperbanyak
lebih lanjut
(2) Media tanam. Media tanam yang digunakan adalah
campuran tanah, pupuk kandang dan pasir halus/
sekam dengan perbandingan 1:1:1 dan atau komposisi
berbeda disesuaikan dengan jenis tanaman.
(3) Pupuk Organik dan an-organik
(4) Pestisida Nabati dan pestisida kimia
(5) Lainnya; sesuai kebutuhan
• Prasarana
Prasarana adalah segala sesuatu kebutuhan produksi
bibit yang tidak habis pakai, atau disebut juga peralatan.
Prasarana yang diperlukan KBD adalah:
(1) Lahan
- Lokasi KBD yang ideal adalah: (a) tidak ternaungi,
(b) dekat dengan sumber air (sungai atau sumur
yang sudah tersedia sebelumnya), dan (c)
tersedia lahan yang cukup di sekitarnya sehingga
mempermudah pengembangan KBD di masa
datang.
- Luas KBD yang dibangun disesuaikan dengan
4 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

kebutuhan, bergantung kepada volume bibit


yang akan diproduksi.
(2) Saung Bibit
Prasarana yang diperlukan, antara lain:
- Saung semi permanen, dengan atap dari plastik
UV
- Rak bibit dari bambu/kayu

(3) Prasarana pengairan


- Sumber air
- Instalasi pengairan
- Gembor/selang
(4) Gudang penyimpanan
Dibuat apabila diperlukan, untuk mengamankan
peralatan dan bahan-bahan kebutuhan KBD (pupuk
dan pestisida), dll.
(5) Prasarana lainnya (disesuaikan dengan kebutuhan ):
- Mesin atau alat prosessing media
- Kereta dorong
- Cangkul atau skop

BPTP JABAR 5
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

- Gergaji
- Kotak bibit, dll

2. Pelaksanaan Pembibitan
• Media Tanam
(1) Media tanaman untuk pembibitan di KBD dianjurkan
untuk menggunakan campuran tanah, pasir/sekam,
dan pupuk kandang yang sudah matang, dengan
perbandingan 1:1:1 atau komposisi lainnya sesuai
jenis tanaman.

(2) Tidak dianjurkan menggunakan bahan kimia untuk


sterilisasi media
(3) Dianjurkan untuk mempunyai persediaan media
tanam yang sudah dicampur, sehingga dapat
digunakan sewaktu-waktu
• Cara Pembibitan
Cara pembibitan atau perbanyakan tanaman
disesuaikan dengan komiditas yang dikembangkan di
KBD. Berikut cara perbenihan/perbanyakan beberapa
komoditas:

6 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

Tabel 1. Cara semai/perbanyakan beberapa komoditas


No Kelompok/komoditas Cara semai/perbanyakan
1. Sayuran:
- Sayuran yang diperbanyak - Biji disemai lalu dipindah
dengan biji (sayuran buah, tanam (transplanting)
sayuran daun, sayuran
merambat)
- Sayuran umbi: kentang, - Perbanyakan dengan umbi
bawang merah, bawang dan/atau siung
putih
2. Tanaman buah :
- Tanaman buah yang Biji disemai lalu dipindah
diperbanyak dengan biji tanam (transplanting)
(melon, semangka, waluh)
- Tahunan: jeruk, mangga, Okulasi, tempel atau sambung,
pisang dll. multiplikasi bonggol
3. - Umbi-umbian - Memisahkan anakan atau
rimpang dari induknya,
- Umbi rimpang : Garut,
kemduain:
Ganyong
- Disemai terlebih dahulu,
- Atau langsung ditanam di
lahan dengan mengurangi
sedikit daunnya
- Umbi ubi: Talas, Suweg, - Menggandakan dengan
Bentoel, Mbote, Porang, membelah umbi induk
Uwi, Gadung berdasarkan mata tunas
- Ubi jalar dan Casava - Tanam stek
4. Kacang-kacangan - Tanam biji langsung
5. Biofarmaka (obat-obatan) - Biji, stek

(1) Pembibitan dari Biji/benih


- Siapkan tempat persemaian; dapat berupa kotak
kayu/trey

BPTP JABAR 7
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

- Media semai adalah campuran tanah dan kompos


yang telah dihaluskan (1:1)
- Isikan media semai (bila kurang gembur bisa
dicampur dengan sekam / pasir) ke tempat
persemaian
- Sebelum benih disebar/di tanam, rendam dalam
air hangat selama 1 malam, benih yg mengapung
dibuang
- Benih yang tenggelam, diangkat, kemudian
dikering anginkan
- Benih ditanam sedalam 1-4 cm, tergantung pada
ukuran benih
- Tutup kembali dengan media semai (tipis),
kemudian ditutup dengan kain goni/daun pisang/
kertas koran selama 2-3 hari.

(2) Pemeliharaan Bibit/Semai


- Setelah benih ditanam, segera lakukan
penyiraman.
- Benih yang disemai disiram minimal 1 kali sehari
pada pagi hari. Sebaiknya disiram 2 kali sehari,
pada padi dan sore hari.
8 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

- Setelah 7-10 hari, bibit dipindahkan ke bumbunan


yg terbuat dari daun pisang atau plastik.
(3) Pembumbunan
- Benih sayuran tertentu perlu dibumbun (disapih)
sebelum dipindah ke lapang
- Wadah penyapihan : plastik es, daun pisang, pot
mungil, gelas air mineral
- Cabut bibit dengan hati2 agar perakarannya tidak
rusak, menggunakan pengungkit dari bambu,
kayu, atau garpu
- Media yang digunakan: tanah+pukan (1:1), bila
terlalu padat bisa ditambah sekam/pasir
- Wadah diisi media sebanyak ¾ bagian
- Masukkan bibit muda kemudian tambah media
hingga wadah penuh
- Susun dan simpan ditempat yang teduh, tapi kena
sinar matahari
- Siram dengan semprotan halus (hand sprayer)
- Jika persemaian dalam bumbunan sudah
berumur 1 minggu, lakukan pemupukan dengan
menyiramkan larutan pupuk NPK 5% (1 sendok
makan + 1 liter air). Setelah itu lakukan penyiraman
kembali dengan air, untuk mencuci pupuk yang
menempe di daun.
- Pengendalian organisme pengganggu tanaman
(OPT) terutama hama dan penyakit dilakukan
dengan cara fisik (dimusnahkan), menggunakan
pestisida nabati, atau dengan pestiida kimia. Akan

BPTP JABAR 9
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

tetapi pestisida kimia hanya dilakukan sebagai


alternatif terakhir, apabila serangan sudah diatas
ambang kemdali.

(4) Distribusi Bibit


- Distribusi bibit memprioritaskan pemenuhan
Rencana Kebutuhan Riil Bibit/benih (RKRB) yang
diajukan anggota. Distribusi bibit ke luar kawasan
hanya dilakukan apabila ada kelebihan setelah
terpenuhinya RKRB.
- Cara distribusi bibit kepada anggota dilakukan
sesuai dengan kesepakatan yang tertera dalam
RKRB
- Untuk sayuran, semai benih dilakukan 2 minggu
sebelum didistribusikan kepada anggota dan
disesuaikan untuk komoditas lainnya
- Sebaiknya jumlah benih yang disemai dilebihkan
sebanyak 5% untuk mengantisipasi bibit rusak/
mati saat proses penyemaian
- Batas toleransi maksimal bibit berada di KBD
adalah 3 minggu sejak dari tanam benih
- Bila ada persediaan benih yang sudah berumur 3
minggu, segera lakukan tindakan: (a) ditawarkan
10 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

kepada anggota yang masih membutuhkan;


(b) ditanam di lingkungan KBD sebagai sumber
tambahan pemasukan
(5) Penyusunan Kalender Tanam
- Kalender tanam disusun berdasarkan RKRB
anggota. Dengan demikian, bibit yang diproduksi
KBD akan memenuhi 5 (lima) tepat, yaitu tepat
waktu, jenis, mutu, jumlah dan pengguna/
komunitas) (Lihat contoh Lampiran 1)
- Setelah KBD menerima RKRB dari anggota, maka
disusunlah kalender tanam yang menyakut hal-
hal berikut:
Tabel 2. Kalender tanam
Bulan semai :
distribusi
Jenis Rencana semai Siap tanam Peruntukan/
No (Tanggal)
komoditas (Tanggal) pesanan
Tanggal Jumlah
1. Tomat
2. Cabai
3. Pakcoy
4. Dll.
Jumlah

(6) Tindakan Karantina


KBD dapat memasukkan bibit dari luar, baik
membeli, bantuan atau bekerjasama dengan pihak
lain. Sebelum dimasukan ke lingkungan KBD, bibit
dari luar tadi, sebaiknya dilakukan tindakan karantina,
yaitu:
- Ditampung sementara di suatu tempat, terutama
apabila diperlukan masa adaptasi atau pemindah-
BPTP JABAR 11
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

tanaman (transplanting) ke media lain.


- Disucihamakan dengan insektisida dan fungisida,
untuk mencegah terbawanya sumber hama/
penyakit baru ke lingkungan KBD
- Diletakkan di tempat yang sesuai dengan kondisi
bibit untuk proses adaptasi
- Diberi label yang mencantumkan: tanggal tanam,
komoditas dan varietas
- Dilakukan pencatatan identitas bibit, minimal
tentang: komoditas, bentuk (benih/ bibit) jumlah,
tanggal terima, tanggal kadaluwarsa, sumber
benih/bibit, harga (baik membeli maupun tidak
membeli)
- Setelah itu baru bisa dikumpulkan dengan bibit
lain yang ada di KBD.

12 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

HUBUNGAN KBD DENGAN PENGGUNA

1. Kelembagaan/organisasi
• KBD dibangun dan dikelola atas inisiatif atau partisipasi
aktif masyarakat setempat, maka hendaknya KBD pun
diorganisir/dikelola oleh penduduk setempat.
• Organisasi minimal sebagai pengelola KBD adalah:
(1) Manajer/Ketua Pengelola KBD; bertugas: (a)
Penanggung jawab seluruh kegiatan KBD, dan (b)
Bertanggung jawab kepada anggota.
(2) Pelaksana Harian KBD (PLH); bertugas: (a)
Penanggung jawab pelaksanaan teknis KBD sehari-
hari, dan (b) Bertanggungjawab kepada Manajer/
Ketua KBD
(3) Pembina Teknis (Bintek). Yang dimaksud Bintek
adalah para petugas lapangan dari instansi terkait.
• organisasi dapat ditambah dengan Sekretaris, yang
bertugas melaksanakan pembukuan teknis, dan
bendahara yang bertugas mencatat dan mengeluarkan
pembiayaan yang diperlukan setelah memperoleh
persetujuan Manajer/Ketua KBD.

2. Pelaksanaan Koordinasi
• Kordinasi harian pengurus dengan anggota. Yang
dimaksud kordinasi harian pengurus dengan anggota
adalah: Pencatatan kebutuhan bibit anggota, baik jenis,
waktu, mutu dan jumlahnya, yang dituangkan dalam
RKRB (Lampiran 1, Teknik penyiapan pembibitan.

BPTP JABAR 13
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

• Kordinasi pengurus:
- Membahas kinerja KBD secara keseluruhan, baik
masalah teknis maupun keuangan
- Jika diperlukan, dapat mengundang Bintek
- Kordinasi pengurus sekurang-kurangnya dilakukan
2 kali dalam setahun, yaitu pada tengah dan akhir
tahun. Untuk kordinasi di akhir tahun dianjurkan untuk
mengundang anggota
- Hasil kordinasi dituangkan dalam sebuah catatan
khusus/ notulen, dengan format sekurang-kurangnya
sebagai berikut:
Tabel 3. Format notulen hasil kordinasi KBD
Tanggal :
Rencana tindak Target
No Uraian pembahasan
lanjut (waktu/volume)
1 2 3 4
1.
2.
3.
Keterangan kolom: (1) Nomor urut pembahasan, (2) Butir-butir pembahasan, (3)
Rencana tindakan yang dilakukan terhadap masalah yang
dibahas, dan (4) Kapan dan seberapa banyak (kalau ada) target
yang ingin dicapai dengan rencana tindakan tersebut.

• Pergantian pengurus. Pergantian pengurus dilakukan:


- Setiap 2 tahun sekali atau sesuai dengan kesepakatan
- Apabila terjadi keadaan khusus (pengurus meninggal
dunia atau hal-hal lain yang mengandung resiko tidak
berjalannya pengelolaan KBD), per gantian dapat
dilakukan atas usulan anggota maupun pengurus.

14 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

3. Tata Kelola Pembukuan


• Pembiayaan
Tidak dikeluarkan
No Tanggal Uraian Dikeluarkan (Rp)
(Rp)
Biaya Tetap
1. Sumur
2. Pompa air
3. Instalasi/selang
4. Gembor
5. Cangkul
6. Rumah bibit
7. Rak
8. Kotak bibit
9. Kereta dorong
10. Pemotong media
11. Gudang
Biaya tidak tetap
1. Tanah untuk
media tanam
2. Kantong plastik
3. Operasional
pompa
4. Pupuk
5. Pupuk kandang
6. Pasir halus
7. Pestisida
8. Tenaga kerja
9. dll.

• Prasarana
Mengingat pentingnya prasarana dan cukup besarnya
biaya yang dikeluarkan dalam pengadaannya, maka
prasarana perlu mendapat perhatian khusus dengan
menerapkan pencatatan dalam buku khusus yang disebut
“Buku Prasarana”. Buku ini berisi dua hal, yaitu:
BPTP JABAR 15
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

a. Riwayat dan status prasarana tertentu


b. Pemanfaatan prasarana.
Kedua hal di atas, dicatat dengan bentuk kolom
berikut:
Riwayat dan Status Prasarana
Nilai
Tgl Nama No kode
No pengadaan Sumber
pengadaan prasarana prasarana
(Rp)
1. Bantuan dari
2.

Penggunaan Prasarana
Nama Tgl
No Penggunaan Kondisi
prasarana penggunaan
1.
2.

16 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

PEMBANGUNAN JEJARING KBI-KBD-KBD

Kebun Bibit Induk (KBI) adalah Kebun Bibit yang dibangun


disetiap BPTP yang menjadi bagian dari UPBS BPTP. Benih/bibit
bersumber dari Balit Komoditas, dan/atau dari sumber lain.
Jejaring yang dibangun KBI-KBD-KBD : (1) perencanaan
perbenihan sesuai kalender tanam, (2) teknik distribusi benih/
bibit, (3) pengelolaan informasi (update data on-line system), (4)
peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan-pelatihan dan
studi banding, (5) sistem promosi bersama, (6) pameran dan
lomba KBD, (7) pertukaran material benih sumber/induk, (8)
monitoring dan evaluasi terpadu.

PENGEMBANGAN FUNGSI KBD/KBI

KBI dan KBD, selain berkembang menjadi unit komersial,


juga diharapkan berfungsi sebagai wahana edukasi; tempat
belajar siswa/mahasiswa, pelatihan, kebun wisata, dll.

BPTP JABAR 17
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

PENUTUP

Penggunaan benih bermutu terbukti sebagai salah satu


komponen teknologi budidaya tanaman yang beperan besar
terhadap peningkatan produktivitas. Dalam skala terbatas,
benih menjadi faktor penentu apakah petani mempunyai
kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pangan, minimal
untuk keluarganya. Keinginan masyarakat yang menjadikan
KRPL sebuah gerakan menuju kemandirian pangan keluarga,
dibatasi oleh kemampuan mereka dalam akses benih dan bibit
yang berkualitas.
Produksi benih berbasis wilayah dan sumberdaya lokal yang
dikelola dengan model KBD/KBI menjadi pilihan, meskipun
berbagai aspek lain harus dipertimbangkan, termasuk: (a) pilihan
tanaman dan aksesi/varietas, (b) sumber benih, (c) pelatihan
menjadi produsen benih, (d) kontrol kualitas, (e) biaya produksi
dan distribusi, (f ) prosessing, cleaning, kemasan, dan pemasaran
benih, dan (g) kelembagaan.

18 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2012. Buku


Saku Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari.
Kementeriaan Pertanian.
_________________________________________. 2012. Panduan
Operasional Pengelolaan kebun Bibit Desa (KBD) dan Kebun
Benih/Bibit Inti (Draft I). Kementeriaan Pertanian.
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.
2012. Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Model
Kawasan Rumah Pangan Lestari. Badan Litbang Pertanian.
Kementeriaan Pertanian.
Balai Penelitian tanaman sayuran. 2003. Pengelolaan Tanaman Terpadu
Tanaman sayuran. Pusat penelitian dan Pengembangan
Hortikultura. Badan Litbang Pertanian. Kementeriaan
Pertanian.
Ch. Lilies Sutarminingsih. Vertikultur Pola Bertanam Secara Vertikal.
2003. Kanisius Jakarta.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. 2011. Petunjuk
Teknis Budidaya Aneka Sayuran. Badan Litbang Pertanian.
Kementeriaan Pertanian.
____________________________________________. 2012. Petunjuk
Teknis Budidaya Sayuran di Pekarangan. Badan Litbang
Pertanian. Kementeriaan Pertanian
Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. 2010.
Leaflet Mengenal Tanama Pestisida Nabati. Badan Litbang
Pertanian. Kementeriaan Pertanian.

BPTP JABAR 19
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

20 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

BPTP JABAR 21
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kebun Bibit Desa

22 BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat